Anda di halaman 1dari 8

I.

Pendahuluan

Kaum muslimin mengakui sepenuh hati bahwa Alqur’an merupakan petunjuk


bagi manusia. Namun demikian diakui juga bahwa tidak semua kaum muslimin secara
langsung dapat memahami alqur’an sebagai petunjuk hidup. Oleh karena itu, bantuan
penafsiran dan penakwilan terhadap Alqur’an sangat dibutuhkan. Di sini kelihatanlah
peran mufassirin untuk memberikan penafsiran-penafsiran agar Alqur’an dapat difahami
dan diamalkan sebagai petunjuk hidup yang aplikatif bagi manusia.

Israiliyat merupakaan isu yang berkaitan erat dengan Tafsir bi al-Ma’tsur


(Tafsir berdasarkan Hadits dan Riwayat). Keberadannya diselah-selah penafsiran al-
Qur’an bisa menimbulkan perusakan ajaran Islam tanpa disadari oleh umat, khususnya
Israiliyat yang merusak aqidah

lafazh israiliyat meskipun secara lahiriyah menunjukkan warna Yahudi didalam


tafsir dan tampak pula tsaqofah yahudi didalamnya namun yang dimaksudkan dalam
lafazh itu adalah lebih luas darinya. Lafazh itu mencakup warna-warna Yahudi dan
Nasrani dalam tafsir sehingga tafsir itu terpengaruhi oleh tsaqofah yang berasal dari
Yahudi dan Nasrani.

Dan lafazh Israiliyat digunakan untuk mencakup keduanya walaupun pengaruh


Yahudi lebih dominan daripada Nasrani. Pengaruh Yahudi ini lebih masyhur dan banyak
tersebar luas dikarenakan banyaknya ulama dan perkara-perkara mereka serta pembauran
mereka dengan kaum muslimin sejak awal kemunculan Islam hingga islam tersebar di
banyak negeri di dunia dan menjadikan manusia masuk kedalam agama Allah dengan
berbondong-bondong.

‫ فففإن‬،‫ من باب التغليب للجففانب اليهففودى علففى الجففانب النصففرانى‬،"‫وإنما أطلقنا على جميع ذلك لفظ "السرائيليات‬
‫ وشفدة اختلطهفم‬،‫ وظهفور أمرهففم‬،‫ وذلففك لكففثرة أهلفه‬،‫الجففانب اليهففودى هفو الففذى اشفتهر أمفره فكفثر النقفل عنفه‬
‫بالمسلمين من مبدأ ظهور السلم إلى أن بسط رواقه على كثير من بلد العالم ودخل الناس فى دين ال أفواجًا‬1

Yahudi memiliki tsaqofah keagamaan, begitu pula dengan Nasrani dan kedua
tsaqofah itu memberikan pengaruh didalam tafsir hingga batas tertentu. Adapun Yahudi
maka tsaqofahnya bersandar pertama kali kepada Taurat, sebagaimana diisyaratkan oleh
Al Qur’an:

‫ِإّنا َأنَزْلَنا الّتْوَراَة ِفيَها ُهًدى َوُنوٌر‬2

Adapun Nasrani maka tsaqofah mereka bersandar—umumnya—kepada Injil. Al


Qur’an telah menjelaskan bahwa injil adalah diantara kitab-kitab langit yang diturunkan
kepada para Rasul, sebagaimana firman-Nya dalam Al-quran Surat Al-Maidah ayat 27:

1
Muhammad Husain Az-Zahabi, At-Tafsir wa Al-Mufassirun. Bab Al-Israiliyyat,
Maktabah Syamilah hal.9
2
Alquranul Karim, Surat Al-Maidah ayat 44
1
‫جيَل‬
ِ ‫ن َمْرَيَم َوآَتْيَناُه اِلن‬
ِ ‫سى اْب‬
َ ‫سِلَنا َوَقّفْيَنا ِبِعي‬ َ ‫ُثّم َقّفْيَنا‬3
ُ ‫عَلى آَثاِرِهم ِبُر‬

Ada dua Pendekatan yang digunakan dalam menafsirkan Alqur’an, yaitu at-tafsiru
bi al-ma’sur dan at-tafsiru bi al-ra’yi. at-tafsiru bi al-ma’sur terdiri dari 3 macam, yaitu
tafsir Alqur’an bi Alqur’an, tafsir Alqur’an bi Al-sunnah dan tafsir Alqur’an bi Atsar Al-
shahabi. Sedangkan tafsir bi Ar-ra’yi dalam penafsiran Alqura’n dengan menggunakan
akal atau itihad. Masing-masing pendekatan memiliki kelemahan dan kelebihan. Salah
satu kelemahan yang dimiliki tafsir yang menggunakan pendekatan al-ma’sur adalah
masuknya unsur-unsur israiliyat kedalamnya.

II.Pengertian

Kata Israiliyat secara terminologi merupakan bentuk jamak dari kata israiliyah,
yaitu merupakan suatu nama yang dinisbahkan kepada israil yang artinya hamba tuhan.
Kata tersebut berasal dari bahasa Ibrani. Maka yang dimaksud dengan israil adalah Nabi
ya’qub bin Ishaq bin Ibrahim as. Hal ini berdasarkan sebuah hadist riwayat abu Daud At-
tayalisi dari Abdullah bin Abbas ra. Yang artinya: “Sekelompok orang Yahudi telah
datang kepada Nabi, lalu Nabi bertanya kepada mereka : Tahukan kamu sekalian bahwa
sesungguhnya Israil itu adalah Nabi Ya’qub ? Mereka menjawab,benar! Lalu Nabi
berdoa: Ya Tuhanku ! saksikanlah pengakuan mereka ini”.

Setelah itu, dalam Alquran kata Israil juga dipakai dengan nama Nabi Ya’qub as.
Dan kepadanya juga bangsa Yahudi dinisbahkan, sehingga mereka disebut Bani Israil.4

‫ل الّتْوَراُة‬
َ ‫ل َأن ُتَنّز‬
ِ ‫سِه ِمن َقْب‬
ِ ‫عَلى َنْف‬
َ ‫ل‬
ُ ‫سَراِئي‬
ْ ‫حّرَم ِإ‬
َ ‫ل َما‬
ّ ‫ل ِإ‬
َ ‫سَراِئي‬
ْ ‫ل ّلَبِني ِإ‬
ّ ‫حـ‬
ِ ‫ن‬
َ ‫طَعاِم َكا‬ ّ ‫ُك‬5
ّ ‫ل ال‬

Sedangkan Secara Etimologi israiliyat, menurut Az-zahabi, adalah:

‫ إل أّنففا‬،‫ وما كان للثقافة اليهودية من أثر ظاهر فيفه‬،‫السرائيليات وإن كان يدل بظاهره على اللون اليهودى للتفسير‬
‫ ومففا تففأثر بفه‬،‫ فنريد به ما يعففم اللهففون اليهففودى واللففون النصففرانى للتفسففير‬،‫نريد به ما هو أوسع من ذلك وأشمل‬
‫التفسير من الثقافتين اليهودية والنصرانية‬

“Kisah dan Dongeng kuno yang menyusup kedalam tafsir dan Hadist, yang
sumber periwayatannya kembali kepada sumber Yahudi, Nashrani atau yang
lain.”

3
Alquranul Karim, Surat Al-Maidah ayat 27
4
Drs. Abu Anwar, M.Ag, Ulumul Qur’an sebuah Pengantar. (sinar grafika offset,2005),
hal:106
5
Alquran Surah ‘Ali ‘Imran ayat 93
2
Menurut Ahmad Khalil, israiliyat adalah kisah-kisah dan riwayat-riwayat dari ahli
kitab, baik yang berhubungan dengan ajaran mereka maupun yang tidak ada
hubungannya. Ahmad Khalil mengatakan bahwa israiliyat merupakan pemabaharuan dari
berabagai agama dan kepercayaan yang menyusup ke Jazirah Arab Islam yang mereka
dapati dari negeri-negeri yang mereka (yahudi) singgahi selama perjalannnya ke timur
maupun ke barat.

Jadi, kalau dilihat dari pengertian-pengertian itu maka unsur-unsur yahudi lebih
banyak dan kuat dalam israiliyat dibandingkan dengan yang lainnya. Hal ini mungkin
saja dikarenakan perannya lebih menonjol dalam membawakan kisah-kisah tersebut pada
permulaan islam.

Dari beberapa pengertian diatas, dapat diatarik suatu pengertian bahwa yang
dimaksud israiliyat adalah semua unsur yang berasal dari kisah yahudi , nashrani dan
yang lainnya serta bentuk-bentuk kebudayaan mereka yang masuk dalam tafsir Alquran.

III. Masuknya Israiliyat dalam Tafsir Alqur’an

Term israiliyat dalam tafsir Alquran erat sekali hubungannya dengan masyarakat
Arab Jahiliyah. Di antara penduduk Arab itu terdapat masyarakat Yahudi yang pertama
kali memasuki jazirah arabia karena adanya desakan dan siksaan dari titus, seorang
panglima romawi, sekitar tahun 70 Masehi.

Di samping itu, pedagang Arab jahiliyah banyak melakukan perjalanan dagang


(ar-rihlah) pada musim dingin ke negeri Yaman dan pada musim panas ke negeri Syam.
Di ke dua tempat tersebut banyak penduduk yang terdiri dari Ahli Kitab. Pertemuan
antara pedagang Arab Jahiliyah dengan Ahli Kitab ini menjadika pendorong masuknya
kisah-kisah Yahudi kedalam bangsa Arab.

Selanjutnya pada waktu Nabi Hijrah dari Mekkah ke Madinah, didapatinya


kontak dagang mereka masih berjalan lancar, bahkan di madinah itu sendiri banyak
kelompok Yahudi yang tinggal disana, seperti kelompok Bani Nadhir, bani Qoinuqa’,
Bani Quraizhah. Dari kelompok-kelompok mereka ini ada yang masuk Islam, bahkan
termasuk dari kalangan pemimpin mereka yang pandai.

Pada periode ini ada dua kemungkinan berkembangnya bibit israiliyat, yaitu
kontak langsung kaum muslimin dengan orang-orang Yahudi Ahli Kitab, dan dari
kalangan pemimpin Yahudi yang mnasuk Islam. Indikasi bakal masuknya israiliyat ini
ditandai dengan danya suatu majlis pengajian kitab-kitab agama serta ulasan-ulasannya
yang disebut dengan Midras. Pengajia-pengajain ini diadakan oleh pendeta-pendeta
Yahudi. Dan bahkan dari kalangan Shahabat ada yang mendatangi midras ini untuk
mendengarkan apa yang ditela’ah dalam majlis tersebut. Bahkan ada suatu riwayat yang
mengatakan bahwa Nabi pernah melihat Umar bin khattab yang baru saja keluar dari
3
Midras, lalu Nabi menegurnya, “ apakah engkau ragu-ragu terhadap ajaran Islam, wahai
Ibnu Khattab? Lalu Umar menjawab, “demi Allah yang berkuasa atas diriku, aku benar-
benar telah datang ajaran itu dalam keadaan putih bersih”.

Dari uaraian diatas, dapat difahami bahwa masuknya Israiliyat ke dalam Tafsir
Alqur’an sudah ada sejak zaman Shahabat. Hal ini dimungkinan, karena adanya sepuluh
Shahabat terkemuka dalam bidang Tafsir, sebagaimana yang dikemukakan oleh As-
Suyuthi dalam Al-itqan. Dan diantara sepuluh orang shahabat tersebut adalah Umar bin
Khattab, yang pernah mengunjungi Midras. Namun demikian para Shahabat tidak cepat
atau gegabah dalam mengambil kisah-kisah israiliyat ini, karena mereka senantiasa ingat
terhadap pesan Rasulullah:

“janganlah kamu benarkan orang-orang Ahli kitab, dan janganlah kamu dustakan
mereka. Katakanlah olehmu, kami beriman kepada Allah dan apa-apa yang diturunkan
kepada kami, da juga apa-apa yang diturunkan kepada kamu.”

IV. Pandangan Ulama tentang Israiliyat

Ada beberapa ulama memberikan pendapat tentang pengambilan atau periwayatan


israiliyat dalam tadsir Al-qur’an, di antaranya :

1. Ibnu Taimiyah (1263 – 1328)

Ibnu Taimiyah dalam kitabnya “Muqaddimah fi Ushuli At-Tafsir” yang dikutip oleh
Dr.Husein Az-Zahabi, membagi cerita-cerita Israliyat kepada tiga macam, yaitu cerita-
cerita yang dibenarkan oleh islam, cerita-cerita yang bertentangan dengan Islam, dan
cerita-cerita yang Islam tidak membenarkannya, tetapi juga tidak menyalahkannya.
Menurutnya yang boleh diterima hanyalah cerita-cerita israiliyat yang pertama,
penerimaan bukan untuk I’tiqad akan tetapi hanya untuk isytisyhad. Sementara dua lainya
pada intinya tidak boleh di ambil.

2. Ibnu Katsir ( w. 774 H)

Ibnu Katsir membagi Israiliyat kepada 3 macam, yaitu:

a. Cerita-Cerita yang sesuai kebenarannya dengan Al-qur’an, berarti cerita itu benar,
dalam hal ini cukuplah Alqur’an yang menjadi pegangan. Kalaupun diambil cerita
tersebut hanyalah sebagai bukti adanya saja, bukan untuk dijadikan pegangan dan
hujjah.

b. Cerita yang terang-terangn dusta, karena menyalahi ajaran kita, cerita serupa ini
harus ditinggalkan, karena bisa merusak aqidah kaum muslimin.

c. Cerita yang didiamkan (maskut ‘anhu), yaitu cerita-cerita yang tidak ada
keternagn kebenaran dalam Al-qur’an, akan tetapi juga tidak bertentangan dengan
4
Al-qur’an. Cerita serupa ini tidak boleh dipercaya dan tidak boleh pula pula kita
dustakan. Misalnya nama-nama Ashabul Kahfi dan jumlahnya.

Alasan Ibnu Taimiyah dan Ibnu Katsir sama, yaitu hadis Nabi yang diriwayatkan oleh
Bukhari dari Abdullah bin ‘Amr bin Ash :

‫ى متعمدًا فليتبوأ مقعده من النار‬


ّ ‫ وَمن كذب عل‬،‫حَرج‬
َ ‫حّدثوا عن بنى إسرائيل ول‬
َ ‫ و‬،‫بّلغوا عنى ولو آية‬

3. Ibnul ‘Arabi (w. 543 H)

Menurutnya bhawa riwayat dari bani israil yang boleh diriwayatkan dan dimuat
dalam tafsir Alquran adalah hanya terbatas pada cerita mereka sendiri, sedangkan riwayat
mereka yang menyagkut orang lain masih sangat perlu dipertanyakan dan membuuthkan
penelitain yang lebih cermat.

V. Tokoh – Tokoh Israiliyat

Kisah-kisah Israiliyat dalam tafsir Alqur’an,berkembangnya tidak terlepas dari


adanya tokoh-tokoh Yahudi dan Nashrani yang sudah masuk Islam, seperti Abdullah bin
Salam, Ka’ab Al-Akhbari, Wahab bin Munabbih, dan Abdul Malik bin Al-Aziz bin Juraij
( Ibnu Juraij)

Untuk lebih jelasnya tentang para tokoh tersebut dapat dilihat pada urain berikut ini :

1. Abdullah bin Salam

Nama lengkapnya Adalah :

‫ وهففو مففن ولففد‬،‫ حليففف بفن عففوف مففن الخففرزج‬،‫ عبد ال بن سلم بن الحارث السرائيلى النصارى‬،‫هو أبو يوسف‬
‫يوسف بن يعقوب عليهما السلم‬

Beliau juga termasuk dalah satu sepuluh sahabat yang dijamin masuk surge,
menurut hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari, Abdullah bin Salam ini termasuk orang
yahudi yang trepandai, sebagaimana pengakuan orang yahudi sendiri dihadapan
Rasulullah.

Sesungguhnya Abdulllah bin Salam termsuk ahli surga sebagaimana sabda Nabi,
namun Azzahabi memberikan peringatan agar berhati-hati dalam mengambil sikap
terhadapap orang Yahudi dan Nasharani, begitu juga juga dengan Abdullah bin Salam,
artinya jangan menerima ataupun menolak semuanya terhadap apa-apa yang
diriwayatkannnya.

2. Ka’ab al-Akhbari (w. 32 H)

Nama lengkapnya Adalah :

5
‫ من آل ذى رعين‬،‫ المعروف بكعب الحبار‬،‫ كعب بن ماتع الحميرى‬،‫هو أبو إسحاق‬

Dia adalah orang Yahudi yang berasal dari Yaman. Tentang masuk islamnya ada
yang mengatakan pada Umar bin Khattab, ada yang mengatakan pada masa Abu Bakar
da nada juga yang mengatakan apda masa Rsulullah, Ia Hijrah belakangan, dan pernah
ikut perang melawan Romawi pada masa Umar bin Khattab. Pada masa Ustman dia
pindah ke Syam sampai meninggal.

Sebelum muslim ia dikenal sebagai pendeta yang banyak mengetahui tentang Taurat.
Dan setelah Muslim dia tidak meningglakn ajaran lamanya, sehingga timbul berbagai
komentar terhadapnya tentang kejujuran dan keadilannya.

3. Wahab Ibnu Munabbih (w. 110 H)

Nama lengkapnya Adalah :

‫ اليمانى الصنعانى‬،‫ وهب بن منّبه بن سيج بن ذى كنار‬،‫هو أبو عبد ال‬

Beliau termasuk ulama Tabi’in yang terpilih. Lahir pada masa Khalifah Usman
bin Affan pada tahun 34 H. Wahab adalah termasuk orang yang luas pengetahuannya,
banyak membaca Taurat dan Injil, dia banyak mengetahui kisah-kisah lama.

Rasyid Ridha meragukan kejujuran dan keadilan Wahab bin Munabbih, sebagaimana dia
meragukan Ka’ab Al-Ahbari diatas.

4. Ibnu Juraij

‫ عبد الملك بن عبد العزيز بن جريج‬- ‫ أو أبو الوليد‬- ‫هو أبو خالد‬

Dia adalah seorang hamba sahaya yang lahir pada tahun 80 H, dia berasal dari
Romawi, dan menjadi ulama besar di Makkah. Dia terkenal sebagai tokoh Israiliyat pada
masa Tabi’in. dia juga pengarang buku pertama du Hijjaz dan selalu berkelana dari suatu
negri ke negeri lain untuk menimba ilmu. Dalam kitab-kitab Tafsir klasik banyak
mengambil riwayat Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Riwayatnya itu ada
yang sahih ada pula yang tidak sahih.

Kondisi yang seperti itu menimbulkan penilaian yang berbeda terhadapnya,. Ada
yang mengatakan bahawa Ibnu Juraij adalah orang yang terpercaya. Ada pula yang
mengatakan sebalaiknya. Anggapan yang pertama berdasarkan pada riwayat-riwayat
yang sahih, dan anggapan yang kedua berdasarkan pada riwayat yang tidak sahih.

VI. Contoh Israiliyat

Di antara kitab tafsir yang memuat banyak kisah-kisah Israiliyat adalah kitab
Tafsir Ath-Thabari dan Ibnu Katsir. Dalam kitab Tafsir Ath-Thabari memuat tidak

6
kurang dari 20 tema israiliyat, dan dari sekian banyak itu hanya satu riwayat yang dapat
diklasifikasikan sejalan dengan Islam. Yang sejalan dengan Islam itu adalah riwayat yang
menceritakan sifat Nabi yang tidak kasar, tidak keras, pemurah dan penyayang.
Sementara dalam kitab Tafsir Ibnu Katsir terdapat tidak kurang 40-an kisah israiliyat.
Kisah-kisah yang sejalan dengan Islam hanya satu.

Di antara contoh-contoh Israiliyat yang dapat di kemukakan adalah:

1. Kisah Nabi Sulaiman

Israiliyat Yang terdapat dalam Tafsir Att-Thabari, dari Basyir dari Yazid dari Said dari
Qataedah yang berkaitan dengan kisah Nabi Sulaiman :

َ ‫سدًا ُثّم َأَنا‬


‫ب‬ َ‫ج‬
َ ‫سّيِه‬
ِ ‫عَلى ُكْر‬
َ ‫ن َوَأْلَقْيَنا‬
َ ‫سَلْيَما‬
ُ ‫َوَلَقْد َفتَّنا‬

Israiliyat itu menjelaskan bahwa ada seseorang berkata pada Nabi Sulaiman bahwa di
dasar laut terdapat setan yang bernama Syahr Al-Maridhah ( batu durhaka ), lalu Nabi
Sulaiman mencarinya dan ternyata di sisi laut terdapat sumber mata air yang memancar
satu kali dalam seminggu. Pancaran ini sangat jauh dan kemudian sebahagiannya menjadi
arak. Nabi Sulaiman dating pada saat Pancarannya berubah menjadi arak. Dan ia berkata,
“ sesungguhnya engakau (arak) adalah minuman yang sangat nikmat hanya saja engkau
menyebabkan orang yang sabar mendapat musibah dan orang bodoh bertambah
kebodohannya”. Lalu Nabi Sulaiman pulang, tetapi dalam perjalannanya ia merasa
dahaga yang sangat dan kembali ketempat tersebut, Ia meminum arak hingga hilanglah
kesadarannya. Dalam kondisi seperti itu, ia melihat cincinnya dan merasa terhina
karenanya, lalu dilemparlah cincin itu ke laut dan dimakan oleh seekor ikan, sehingga
hilanglah seluruh kerajaannya, Setan lalu dating menyeruipainya dan duduk di atas
singgasana Nabi Sulaiman.

2. Kisah Nabi Isma’il

Israiliyat yang berkaitan dengan kisah penyembelihan Nabi Ismail, yaitu berasal dari
Ka’ab bin Akhbar yang menyebutkan bahwa yang disembelih itu adalah Ishaq bukan
Ismail. Israiliyat ini menurut Ibnu Katsir merupakan tipuan dan dusta karena
bertentangan denagn Nash Alqur’an sendiri. Orang Yahudi lebih suka menyebut Ishaq
karena ia adalah nenek moyangnya, sedangkan Ismail adalah nenek moyang orang Arab.

3. Kisah Awal Surat Qaf

Israiliyat yang dikuti oleh Ibnu Katsir tentang awal Surat Qaf ialah Qaf adalah
sebuah nama gunung yang mengelilingi bumi. Namun menurut Ibnu Katsir pendapat ini
merupakan israiliyat yang tidak perlu dibenarkan dan didustakan.

4. Kisah Haurt dan Marut


7
Israiliyat yang disampaikan oleh Abu Hatim, dari bapaknya, dari Hisyam Ar-Razi,
dari Ibnu Al-mubarak, dari Ma’ruf, dari Abu Ja’far Muhammad bin Ali mengenai Harut
dan Marut. Israiliyat itu menjelasakan bahwa kedua malaikat itu adalah kawan Malaikat
Sijil. Setiap hari selasa, Sijil membuka Ummul Kitab. Ketika membaca kisah penciptaan
Adam, ia memberitahukan kepada Harut dan Marut. Dan ketika Allah mengatakan akan
menciptakan khalifah di muka bumi, mereka pun protes, menurut Ibnu Katsir, Israiliyat
itu berlebihan dalam menggambarkan sosok malaikat.

VII. Penutup

Kesimpulan

Berdasarkan deskripsi para tokoh israiliyat dan pandangan ulama terhadap Israiliyat
dapat disimpulkan bahwa israiliyat ada 3 macam:

1. Riwayat Israiliyat yang diketahui kesahihannya, seprti yang langsung di nukil dari
Nabi Muhammad, mengenai sahabat Nabi Musa yang bernama Nabi Khaidir

2. Riwayat yang diketahui kebohongannya, bertentangan dengan ajaran Islam dan


akal fikiran yang sehat wajib ditolak.

3. Riwayat Israiliyat yang Maskut ‘anhu, hendaknya umat Islam harus tawaqquf.