Anda di halaman 1dari 24

Vol. V/No.

1/Maret 2010 1
Dari Redaksi
Penanggungjawab
Djemari Mardapi
P embaca yang budiman. Alhamdulillah, Buletin edisi perdana
tahun 2010 dapat hadir di tangan pembaca sesuai dengan
yang direncanakan. Pada edisi perdana ini yang menjadi fokus
Pemimpin Redaksi
utama adalah penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) dan Ujian
Edy Tri Baskoro
Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) dengan tema
Redaksi Eksekutif PRESTASI dan JUJUR. Ulasan tema ini terungkap dalam pesan
Weinata Sairin
dan pengarahan Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh
Dewan Redaksi tentang penyelenggaraan UN dan UASBN. Edisi kali ini juga
Abdi A. Wahab
Djaali mengulas Putusan Mahkamah Agung tentang UN serta berita
Farid Anfasa Moeloek kegiatan BSNP. Selamat membaca.
Furqon
Gunawan Indrayanto
Jamaris Jamna
Johannes Gunawan
Mungin Eddy Wibowo
Moehammad Aman Daftar Isi
Wirakartakusumah
Richardus Eko Indrajit
Teuku Ramli Zakaria 3-8 Peranan Strategis T.I.K. Bagi Perguruan
Zaki Baridwan Tinggi (Bagian Kedua)
Redaksi Pelaksana
Bambang Suryadi
9-10 Raih Prestasi Dengan Kejujuran Seru Mendiknas
dalam Penyelenggaraan UASBN dan UN
Sekretaris Redaksi 2009/2010
Ning Karningsih

Reporter
Gaguk Margono
11-12 Penyelenggaraan UN 2010 Titik Terang dari
Putusan MA, Panja DPR-RI, Mendiknas, dan
Kaharuddin Arafah BSNP

Keuangan
Neneng Tresnaningsih 13-22 Berita BSNP:
Rosmalina
- BSNP dan AusAid Sepakat Merlakukan
Distribusi/Sirkulasi Penjaminan Mutu Pendidikan
Nurul Najmah
Djuandi - Pelatihan dan Penulisan Soal UASBN
Reyman Aryo
- Kegiatan BSNP 2010
Alamat:
BADAN STANDAR NASIONAL
- Anggota Komisi D Bidang Pendidikan DPRD
PENDIDIKAN
Jember Beraudiensi dengan BSNP
Gedung D Lantai 2,
Mandikdasmen - Revisi Pos Ujian Nasional
Jl. RS. Fatmawati, Cipete
Jakarta Selatan
Telp. (021) 7668590
Fax. (021) 7668591
Email: info@bsnp-indonesia.org
Keterangan Gambar Cover
Website: http://www.bsnp-indonesia.org Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Model Riau mempersiapkan
diri sesaat menjelang Ujian Nasional

2 Vol. V/No. 1/Maret 2010


PERANAN STRATEGIS T.I.K.
BAGI PERGURUAN TINGGI
(Bagian Kedua)
PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT

Peranan Penunjang TIK dalam Pe­ sen, peneliti, manajemen, karyawan, ya­
nyelenggaraan Institusi yasan, komunitas, pemerintah, mitra,
dan lain sebagainya. Oleh karena itulah

J
ika kelima manfaat terdahulu sangat untuk menangani berbagai aktivitas ope­
terkait dengan pemanfaatan TIK da­ rasional dan administrasi yang cu­kup
lam proses mengajar belajar, maka rumit ini dibutuhkan bantuan tek­nologi.
lima peranan TIK berikutnya sangat erat Secara garis besar ada dua jenis aplikasi
hubungannya dengan manajemen penye­ yang dibutuhkan, masing-masing untuk
lenggaraan institusi perguruan tinggi. Ter­ keperluan “front office” dan “back office”.
dapat 5 (lima) peranan TIK ter­kait dengan Aplikasi “front office” adalah piranti TIK
proses penyelenggaraan dan pengelolaan yang diperlukan un­tuk membantu mana­
manajemen institusi pen­didikan tinggi, jemen dan tata kelola penyelenggaraan
masing-masing adalah: (i) TIK untuk men­ kegiatan bela­jar mengajar, yaitu dimulai
dukung aktivitas ope­ra­sional dan ad­ dari maha­siswa masuk melalui proses
ministrasi; (ii) TIK untuk membantu proses PMB (Penerimaan Mahasiswa Baru), hingga
pengambilan keputusan; (iii) TIK untuk yang bersangkutan diwisuda. Termasuk di
menunjang aktivitas komunikasi dan in­ dalamnya adalah:
teraksi antar pemangku kepentingan; l Aplikasi TIK yang terkait dengan infor­
(iv) TIK untuk memungkinkan terjadinya masi mengenai program studi dan
optimalisasi proses dan sumber daya; dan portofolio matakuliah yang ditawarkan
(v) TIK un­tuk menjalin kemitraan strategis perguruan tinggi, yang dapat diambil
dengan pihak eksternal. oleh mahasiswa baru dan lama;
l Aplikasi TIK untuk membantu ma­
1. TIK untuk Mendukung Aktivitas naje­men penerimaan mahasiswa ba­
Operasional dan Administrasi ru, dimulai dari pendaftaran, pengam­
Ada sebuah hasil kajian lembaga bilan nomor ujian, pelaksanaan test,
inde­penden yang menyimpulkan bah­­ pengumuman hasil, dan penerimaan
wa perguruan tinggi termasuk je­nis or­ resmi;
ganisasi yang kompleks. Alasan utamanya l Aplikasi TIK yang dipergunakan oleh
adalah karena da­lam lingkungan per­ manajemen dalam mengatur jadwal
guruan tinggi, terdapat banyak sekali je­ mata kuliah, alokasi ruangan, dan
nis pemangku kepentingan dengan ob­ jam mengajar dosen untuk seluruh
yektif yang berbeda-beda, walaupun di­ program studi pada tahun akademik
satukan oleh visi dan misi yang sama. yang bersangkutan;
Ka­takanlah diantara pemangku ke­pen­ l Aplikasi TIK untuk membantu maha­
tingan tersebut adalah: mahasiswa, do­ siswa dalam proses pengambilan mata

Manajemen Dosen Rekam Jejak Nilai Mahasiswa Manajemen Skripsi

Vol. V/No. 1/Maret 2010 3


kuliah yang diinginkan untuk setiap jelas untuk me­ningkatkan efisiensi dan
semester atau masa studi; efektivitas penyelenggaraan proses ope­
l Aplikasi TIK yang merekam seluruh ra­sional ma­na­jemen perguruan tinggi.
aktivitas penyelenggaraan mata ku­ Tanpa dilibatkannya TIK, akan sulit meng­
liah yang akan dan sedang ber­jalan, atur begitu banyaknya transaksi dan
terutama dalam kaitannya dengan inter­­aksi yang terjadi dalam lingkungan
absensi dosen dan mahasiwa, admi­ se­buah kampus berskala nasional atau
nistrasi tes dan ujian, hasil eva­luasi internasional.
studi, dan lain-lain;
l Aplikasi TIK untuk membantu proses 2. TIK untuk Membantu Proses
pencetakan dan distribusi hasil studi Pengambilan Keputusan
mahasiswa dan seluruh catatan pen­ Setiap harinya, banyak sekali proses
ting terkait dengan proses belajar pengambilan keputusan yang terjadi
meng­ajar yang ditekuninya; dan lain dalam lingkungan kampus. Pimpinan
sebagainya. perguruan tinggi seperti rektor, direk­tur,
Sementara itu yang termasuk dalam dekan, atau kepala unit harus berhadapan
ka­tegori “back office” adalah berbagai por­ dengan berbagai persoalan pelik yang
tofolio modul yang terkait dengan: membutuhkan pengambilan keputusan
l Aplikasi TIK yang dipergunakan untuk yang tepat dan cepat. Tentu saja proses
mengelola aset keuangan dan proses pengambilan keputusan yang cepat dan
akuntansi kampus; berkualitas membutuhkan sejumlah data
l Aplikasi TIK untuk membantu ma­ dan informasi yang tepat dan cukup.
najemen dalam mengelola sumber da­ Mengingat begitu banyaknya data dan
ya manusia yang berada dalam teri­tori informasi yang dimiliki serta perlunya data
perguruan tinggi; dan informasi terse­but diolah secukupnya,
l Aplikasi TIK yang dipakai untuk maka jelas dibutuhkan TIK yang sesuai.
mengelola sarana dan prasarana yang Fungsi TIK strategis berikutnya yang harus
dimiliki kampus; dimiliki oleh perguruan tinggi adalah
l Aplikasi TIK untuk mendukung ma­ sebagai alat bantu manajemen dalam
najemen dalam mengelola proses proses pengambilan keputusan1. Sistem
peng­adaan dan logistik; ini terdiri dari tiga komponen besar, yaitu:
l Aplikasi TIK yang dipergunakan untuk (i) sebuah sistem penyimpanan berbagai
mengelola berbagai data dan dokumen jenis data dan informasi yang dimiliki
administrasi atau rekam jejak penting perguruan tinggi; (ii) sebuah sistem
yang bersifat digital; pengolahan data dan informasi tersebut
l Aplikasi TIK untuk berbagai keper­ menjadi “pengetahuan” yang dibutuhkan
luan yang berkaitan dengan proses oleh beragam penggunanya; dan (iii) sebuah
pe­­ma­saran, komunikasi publik (ba­ sistem yang berfungsi untuk menyajikan
ca: public relations), dan berbagai hal hasil pengolahan tersebut menjadi sebuah
yang bersifat penciptaan citra kam­pus format yang mempermudah pengambilan
terhadap lingkungan eksternal; keputusan dalam mempelajari data dan
l Aplikasi TIK yang berfungsi untuk informasi yang direpresentasikan.
membantu berbagai unit independen Aplikasi TIK tersebut dibangun de­
yang ada dalam lingkungan kampus ngan sejumlah prinsip sebagai berikut:
seperti: perpustakaan, unit kegiatan l Setiap individu memiliki gaya peng­
ma­hasiswa, koperasi pegawai, pusat ambilan keputusan yang berbeda-be­
pela­tihan, inkubator bisnis, dan da, sehingga cara mempresentasikan
lain-lain; data, cara menyajikan informasi, dan
l Aplikasi TIK untuk membantu ma­ cara menganalisa data/informasi ter­
najemen dalam membuat laporan-la­ sebut haruslah disesuaikan dengan
poran yang bersifat rutin kepada pihak gaya setiap individu yang berbeda
internal maupun eksternal kampus; ter­sebut;
dan lain sebagainya. l Walaupun data dan informasi yang
Bagi perguruan tinggi di negara maju, dimiliki sangatlah banyak dan ber­
peranan TIK untuk membantu pro­­­ses sifat multi-dimensi, cara meng­or­gani­
administrasi dan operasional ini bukan­
lah merupakan hal yang isti­mewa, sudah
1 Dalam kenyataannya, di level staf maupun dosen
dianggap sebagai sebuah hal yang normal pun proses pengambilan keputusan yang cepat
(baca: taken for granted). Keberadaannya dan tepat sangatlah dibutuhkan.

4 Vol. V/No. 1/Maret 2010


Portofolio Dosen Grafik Portofolio Sumber Daya Analisa Skenario “What-If”

sasikan dan menya­jikannya ha­ruslah 3. TIK untuk Menunjang Aktivitas


seder­hana, namun dapat di-”drill Komunikasi antar Stakeholders
down” atau didetailkan sesuai dengan Dalam lingkungan akademik kam­pus
keperluan2; yang kondusif, komunikasi antar civitas
l Program yang dikembangkan ha­ akademika setiap harinya ter­jadi secara
rus­lah memungkinkan para peng­ masif dengan frekuensi yang sedemikian
ambilan dalam menjalankan se­jum­ tingginya. Dewasa ini, pemanfaatan tele­
lah skenario “what-if”, dalam arti pon genggam, black­berry, smartphone,
kata yang bersangkutan dapat me­ PDA (Personal Digital Assistant), notebook,
lakukan berbagai simulasi skenario dan piranti “digital portable” lainnya telah
pengambilan keputusan untuk melihat menjadi gaya hidup yang tak terpisahkan
keluaran atau output-nya; dalam kehidupan manusia moderen. Se­
l Apapun hasil dari keputusan yang cara langsung maupun tidak langsung,
diambil, demi terselenggaranya “good keber­adaannya telah menjadi “tulang pung­
governance”, harus terjadi pro­ses gung” teknologi komunikasi di dalam kam­
perekaman terhadap profil pengambil pus. Dengan kata lain, seluruh pemangku
keputusan, konteks lingkungannya, kepentingan mengharapkan tersedianya
data yang dilibatkan, dan hasil eva­ infrastruktur teknologi dan aplikasi TIK
luasinya; dan di kampus yang terkait de­ngan aktivitas
l Kecepatan ketersediaan sebuah data komunikasi, kooperasi, kolaborasi, dan
atau informasi tertentu harus di­se­ koordinasi secara vir­tual. Ada sejumlah
suaikan dengan kebutuhan riil dari komponen penting berhubungan dengan
pengambil keputusan terkait dalam hal ini.
konteks kondisi yang dihadapi. Pertama, adanya infrastruktur trans­
Dalam kaitan ini, kualitas data dan misi data, suara, gambar, dan video (baca:
informasi (baca: information quality) me­ broadband) - dengan tingkat “coverage”
rupakan kunci utama dari efektivitas 100% - dalam wilayah teritori kam­pus. Me­­
pengambilan keputusan. Data atau infor­ lalui backbone seperti fiber optic dan wire­
masi yang salah akan sangat mem­baha­ less (baca: hot spot) inilah mekanisme ko­
yakan karena dapat membuat pro­ses peng­ munikasi ini dapat terwujud. Tanpa adanya
ambilan keputusan menjadi tidak efektif infrastuktur yang handal - yang biasanya
dan beresiko tinggi. Oleh karena itulah diukur dengan melihat jenis teknologi,
prinsip “garbage-in, garbage-out” harus kualitas transmisi, besaran band­width,
benar-benar diper­hatikan oleh manajemen dan kinerja operator - maka mustahil ak­
kampus. Audit Informasi me­rupakan tivi­­tas komunikasi dalam kampus akan
salah satu cara yang dapat diambil untuk berjalan secara efektif dan efisien.
meyakinkan dan menjamin tersedianya Kedua, adanya kerjasama dengan ber­
data dan informasi yang berkualitas dalam bagai pihak penyedia jasa (baca: provider)
lingkungan TIK kampus. yang menyediakan berbagai layanan ko­
munikasi dengan menggunakan tulang
pung­gung infrastruktur ini. Tiga jejaring
utama seperti intranet (intra-kampus),
in­ternet (luar kampus), dan ekstra-net
2 Seperti halnya “dashboard” pada mobil untuk (an­tar kampus) haruslah tersedia untuk
merepresentasikan Sistem Informasi Manajemen
diim­plementasikan dalam lingkungan
Kampus

Vol. V/No. 1/Maret 2010 5


Electronic Mail Forum Diskusi Jajak Pendapat

perguruan tinggi. Intranet merupakan je­ rangsang setiap individu untuk mela­kukan
jaring yang menghubungkan setiap in­ kegiatan komunikasi. Con­toh konteks
dividu pemangku kepentingan da­lam ling­ yang dimaksud seperti: pengumpulan tu­
kungan pendidikan tinggi se­hing­ga yang gas melalui email, pengunduhan materi
bersangkutan dapat sa­ling berkomunikasi, ajar melalui portal, pelaksanaan jajak
berkolaborasi, berkoor­dinasi, dan ber­ pendapat (baca: polling) melalui internet,
koperasi. Sementara in­ternet adalah pengambilan mata kuliah secara virtual,
yang menghubungkan kam­pus dengan pertukaran informasi antar dosen dan
du­nia maya, tempat berkumpulnya se­ mahasiswa, pelaksanaan diskusi antar pe­
lu­ruh jejaring raksasa sebagai arena neliti, pe­nyelenggaraan e-seminar melalui
interaksi antar individu yang ada di web­cast, dan lain sebagainya.
seluruh dunia. Dan akhirnya ekstranet,
yang menghubungkan kam­pus dengan 4. TIK untuk Penjamin terjadinya
berbagai mitra kerjanya, seperti lembaga Optimalisasi Proses dan Sumber
pemerintahan, pusat penelitian, jejaring Daya
perpustakaan, dan lain sebagainya. Perubahan lingkungan dunia yang
Ketiga, adanya beragam aplikasi ko­ sedemikan cepat (baca: globalisasi) te­lah
munikasi yang diinstalasi pada jejaring membawa dampak yang luar biasa kepada
yang dimiliki. Aplikasi komunikasi stan­ dunia pendidikan. Terkait dengan berbagai
dar yang kerap dipergunakan untuk ko­ tantangan baru yang dihadapi, hampir se­
munikasi antara lain: electronic mail mua kampus-kam­pus besar dunia mencoba
(email), mailing list, chatting, newsgroup, kembali un­tuk meredefinisikan peran dan
dis­cussions, push mail, dan lain seba­ cara penyelenggaraannya. Konsep peru­
gainya. Sementara yang sudah agak bahan secara fundamental dan radikal
“advanced” antara lain: tele-conference, untuk mendapatkan peningkatan kinerja
web­cast, social networking, virtual class­ yang sig­nifikan (baca: BPR=Business Pro­
room, student second life, dan lain seba­ cess Reengineering) merupakan kun­ci
gainya. Tentu saja untuk dapat men­ keberhasilan berbagai perguruan ting­­­
jalankan aplikasi yang beragam ini per­gu­ gi dunia untuk tetap dapat relevan dan
ruan tinggi memerlukan sejumlah infra­ “sustainable” dalam menghadapi tan­
struktur komputer server yang tidak tangan global yang sedemikian dahsyat.
se­der­hana. Dari berbagai implementasi BPR yang
Keempat, adanya konten yang ingin berhasil, nampak jelas dilibatkannya TIK
diciptakan, dipertukarkan, dan diperkaya sebagai salah satu “tokoh sentral” atau
dalam lingkungan perguruan tinggi terkait, kunci sukses perubahan yang dijalankan.
baik yang bersifat tangi­ble dan formal, Paling tidak ada 2 (dua) peranan TIK yang
maupun intangible dan non-formal. Penge­ benar-benar dijalankan dalam konteks ini.
tahuan yang ber­sifat eksplisit (dokumen, Pertama adalah pemanfaatan TIK
pustaka, referensi, diktat, karya ilmiah, untuk menjamin terselenggaranya pro­ses
dan lain-lain) maupun tacit (pengetahuan, yang optimal. Proses yang dimaksud di sini
ide, inisiatif, gagasan, dan lain-lain) ini adalah seluruh aktivitas kerja atau “tasks”
merupakan materi yang biasa mengalir yang terjadi dalam ling­kung­an kampus,
dan dipertukarkan dalam setiap proses baik yang bersifat “core” atau proses inti,
komunikasi. maupun yang tergolong sebagai “non core”
Kelima, adanya konteks yang sede­ atau aktivitas penunjang. Banyak kampus-
mikian rupa sehingga mendorong dan me­ kampus baru yang berfikir ulang dalam

6 Vol. V/No. 1/Maret 2010


mendesain penyelenggaraan manajemen peringatan akademis, pembayaran
pendidikannya karena begitu banyaknya uang kuliah, pemutakhiran jadwal
kapabilitas TIK yang ditawarkan, yang ma­ta kuliah pengganti, perencanaan
dahulu secara konvensional ti­dak mungkin mata kuliah semester pendek, dan lain
dilakukan. Sebaliknya per­gu­ruan tinggi sebagainya.
yang telah lama berdiri melihat banyaknya Kedua adalah nilai tambah TIK yang
kesempatan yang dapat diambil untuk diberikan kepada perguruan tinggi da­
meningkatkan kinerja perguruan tingginya lam kaitannya dengan aktivitas opti­
dengan cara memanfaatkan TIK secara mali­­sasi sumber daya. Prinsip yang dita­
tepat. Bagi kampus yang telah lama berdiri, warkan dalam konteks ini bera­sal dari ke­
biasanya TIK berperan untuk merubah mampuan TIK untuk mendigitalisasikan
struktur dan tatanan proses kerjanya entitas fisik - seperti teks, gambar, suara,
sehingga dapat lebih optimal, dengan cara dan video - dan mendigitalisasikan proses
sebagai berikut: mau­­pun aktivitas fisik - seperti interaksi,
l Eliminasi sejumlah proses yang ko­mu­nikasi, dan transaksi. Dengan dapat
selama ini terjadi dan bersifat mem­ didigitalisasikannya sejumlah entitas atau
perpanjang rantai birokrasi serta tidak komponen fisik, maka:
memberikan nilai tambah apa pun bagi l Sebuah perguruan tinggi tidak harus
siapapun. Dengan adanya beraneka memiliki sarana fisik perpustakaan
ragam implementasi TIK, maka banyak yang besar dan mahal, karena yang
sekali proses yang dahulu dilakukan penting adalah adanya koleksi dan
saat ini dapat dihilangkan. Ambillah hak akses terhadap beranekaragam
contohnya pro­ses alokasi ruangan dan sum­ber referensi yang telah diubah
jad­wal mata kuliah yang dahulu mem­ bentuknya menjadi bentuk digital
butuhkan waktu seminggu lebih untuk (misalnya: e-book, e-journal, e-article,
menyusunnya namun saat ini sudah e-case, dan e-library);
dapat dilakukan oleh komputer dalam l Sebuah perguruan tinggi tidak selalu
hitungan detik. harus khawatir terhadap pengeluaran
l Simplifikasi serangkaian proses be­ yang begitu besar untuk membeli
rantai yang harus melewati “be­berapa ker­tas dan membayar tinta demi ke­
meja” menjadi serangkaian proses butuhan fotocopy karena hampir se­
yang ramping dan cepat. Misalnya mua berkas digital telah berupa file
de­ngan memanfaatkan aplikasi FRS yang dapat dipertukarkan dengan sa­
Online, maka kegiatan pengisian For­ ngat murah dan cepat;
mulir Rencana Studi tidak harus lagi l Sebuah perguruan tinggi tidak perlu
bertele-tele melalui mekanisme dosen lagi mengeluarkan biaya besar untuk
pembimbing, administrasi akademik, mendanai proses orientasi kampus
dan bagian keuangan, namun selu­ruh­ ka­rena dosen maupun mahasiswa
nya da­pat dilakukan langsung melalui ba­ru dapat melakukannya secara
kom­puter PC atau notebook karena man­­diri melalui CD-ROM yang telah
aplikasinya sudah berbasis web diper­siapkan;
(inter­net). l Sebuah perguruan tinggi tidak harus
l Integrasi berbagai proses yang tadi­ bingung dalam mengelola berbagai data,
nya berdiri sendiri sehingga akan sa­ informasi, dan pengetahuannya yang
ngat menghemat waktu, bia­ya, dan begitu banyak dan menumpuk karena
sumber daya dalam pelak­sanaannya. saat ini keseluruhannya dapat dipindai
Contohnya adalah pro­ses pengambilan (baca: di-scan) dan disimpan dalam for­
KHS (Kartu Hasil Studi) dan pengisian mat digital; dan lain sebagainya.
FRS untuk se­mester berikutnya yang Sementara itu yang terkait dengan ke­
selama ini berjalan secara berurutan mam­puan TIK dalam mendigitalisasikan
dapat dilak­sanakan langsung secara proses adalah sebagai berikut:
para­lel atau simultan. l Sebuah perguruan tinggi tidak harus
l Automatisasi proses manual yang mengeluarkan biaya besar untuk me­
da­pat digantikan dengan kom­pu­ter latih dosen atau karyawannya karena
atau TIK, seperti misalnya: peng­hi­ yang bersangkutan saat ini telah da­
tung­an Indeks Prestasi Kumulatif, pat mengikuti pelatihan secara ja­
ana­lisa pola distribusi nilai mata ku­ rak jauh melalui program e-learning,
liah tertentu, penentuan calon pe­ e-conference, e-seminar, dan lain
ne­rima bea siswa, pencetakan surat sebagainya;

Vol. V/No. 1/Maret 2010 7


5. Penjalin Kemitraan Strategis Geographical Information System),
dengan Pihak Eksternal dan lain sebagainya;
Dalam melaksanakan kegiatannya, l Sistem TIK yang secara otomatis me­
perguruan tinggi bermitra dengan cukup nyediakan berbagai data dan informasi
ba­nyak pihak, baik untuk keperluan yang dibutuhkan stake­holders eks­
“front office” dan “back office”-nya. ternal, misalnya melalui fasilitas portal
Ter­kait dengan hal ini, peranan TIK yang dapat diolah secara realtime dan
sangatlah dibutuhkan. Contohnya adalah online;
untuk administrasi sistem pembayaran. l Sistem TIK yang khusus dihubungkan
Biasanya untuk mempermudah maha­ ke Dikti dan Depdiknas untuk ke­
sis­wa, perguruan tinggi akan bekerja­ perluan pelaporan yang bersifat ru­
sama dengan dunia perbankan, sehing­ tin maupun ad-hoc, ataupun untuk
ga memungkinkan mahasiswa untuk me­ keperluan pemantauan penyeleng­­ga­ra­
lakukan pembayaran melalui ATM mau­ an pendidikan; dan lain seba­­­gainya.
pun internet banking, atau bah­kan dapat Intinya adalah, bahwa untuk menda­
dilakukan proses debet langsung dari patkan manfaat dari kerjasama dengan
rekening tabungan orang tua. Melalui pihak-pihak yang telah fasih dan intensif
sistem yang sama proses pembayaran gaji menggunakan TIK, perguruan tinggi yang
dosen dan karyawan dapat juga dilakukan bersangkutan harus membangun sistem
secara otomatis dan berkala, sesuai yang memadai agar manfaat tersebut
dengan kebijakan dan peraturan yang dapat dirasakan oleh segenap civitas
berlaku. Agar pro­ses pembayaran dapat akademika.
terintegrasi dengan penyelenggaraan Pengalaman memperlihatkan bahwa
perkuliahan, maka jelas perguruan tinggi terkait dengan hal ini, perguruan tinggi
yang ber­sangkutan harus memiliki sistem tidak selalu harus mengalokasikan da­na
TIK yang sesuai. yang besar untuk investasi sistem dimak­
Hal-hal lainnya yang perlu dipertim­
­ sud (baca: Capital Expenditure), karena
bangkan dalam pengembangan TIK untuk kebanyakan mekanisme kerjasama bi­sa
keperluan ini antara lain: dilakukan secara “gratis” - karena adanya
l Sistem TIK yang meghubungkan per­ manfaat yang saling dirasakan oleh kedua
guruan tinggi dengan perguruan tinggi belah pihak - atau melalui pendekatan
lainnya, sehingga dapat dila­kukan Operational Expenditure, alias perguruan
aktivitas “shared services” dan “shared tinggi hanya melakukan pembayaran
resources”, terutama dalam kaitannya per-­pemakaian atau per-transaksi (di­
dengan penggunaan secara bersama- mana investasi pengem­bangan sistem
sama sumber da­ya perpustakaan, ditanggung oleh pihak eksternal di luar
laboratorium, pu­­sat kom­putasi, kelas perguruan tinggi).
berbasis se­mi­nar, lokakarya publik,
dan lain sebagainya; Penutup
l Sistem TIK yang memungkinkan sis­
wa atau dosen berinteraksi lang­sung Pada akhirnya, belajar dari penga­
dengan industri swasta, misalnya da­ laman perguruan tinggi yang berhasil
lam proses seperti: simulasi bursa meningkatkan kinerjanya melalui peman­
saham di Bursa Efek Indonesia, pe­ faatan TIK, dapat diambil ke­sim­pulan
mantauan lalu lintas jalanan oleh bahwa sukses tidaknya “invasi” TIK dalam
Kepolisian, operasi katarak mata pada dunia pendidikan tinggi tergantung pada
Rumah Sakit Pondok Indah (baca: tele- kesiapan sumber daya manusia kampus
medicine), dan lain-lain; dalam merubah paradigma, pola pikir,
l Sistem TIK yang dipergunakan un­ dan peri laku sehari-harinya. Seorang
tuk membantu aktivitas penelitian bijak mengatakan: “Old Campus, plus
di­mana perguruan tinggi bekerja Information Technology, is equal to Old
sama dengan pemerintah, seperti: and Expensive Campus !”. Sebuah kampus
pe­mantauan kamera terhadap bebe­­ yang menerapkan TIK tanpa disertai dengan
ra­pa laboratorium hidup, ana­lisa perubahan pola pikir dan perilaku hanya
transportasi publik dengan meng­ akan bermuara pada penyelenggaraan
gunakan sensor pada setiap halte sebuah kampus kuno yang semakin mahal
busway, pemindaian geografis Indo­ biayanya. “Change” adalah kunci utama
nesia melalui satelit, penciptaan keberhasilan pemanfaatan TIK secara
data spasial oleh sistem GIS (baca: optimal di sebuah pendidikan tinggi. l

8 Vol. V/No. 1/Maret 2010


RAIH PRESTASI DENGAN KEJUJURAN
Seru Mendiknas dalam Penyelenggaraan
UASBN dan UN 2009/2010

P “
Dari kiri ke kanan,
enyelenggaraan Ujian Akhir Sekolah
Mansyur Ramly
Berstandar Nasional (UASBN) dan
Berprestasi tanpa ada
Kepala Balitbang, kejujuran adalah sia-sia, sedangkan
Muhammad Ujian Nasional (UN) memerlukan ko­
Nuh Menteri mitmen dan tanggungjawab bersama. kejujuran tanpa prestasi adalah
Pendidikan Dalam kontek ini prestasi dan kejujuran suatu kemunduran.
Nasional, dan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan.
Djemari Mardapi Berprestasi tanpa ada kejujuran adalah Jika kejujuran sudah hilang,
Ketua BSNP sia-sia, sedangkan kejujuran tanpa pres­ angka-angka atau nilai itu tidak

dalam acara tasi adalah suatu kemunduran. Jika ada bermakna karena merupakan
rapat koordinasi pemerintah daerah yang menargetkan
dengan ketua tingkat kelulusannya 90% itu bagus dan sah-
nilai semu.
penyelenggara sah saja, tetapi yang tidak boleh dilupakan
UASBN dan UN
tingkat provinsi.
dalam mencapai target itu harus ditempuh ---Menteri Pendidikan Nasional
melalui kejujuran. Jika kejujuran sudah Mohammad Nuh---
hilang, angka-angka atau nilai itu tidak
bermakna karena merupakan nilai semu. dan UN tahun pelajaran 2009/2010 ada­
Sehingga peta pendidikan yang diperoleh lah PRESTASI dan JUJUR. Dengan tema
juga semu. Demikian pesan Mohammad tersebut, dalam meraih prestasi, selu­ruh
Nuh Menteri Pendidikan Nasional dalam pemangku kepentingan (pelaku, pe­lak­
rapat koordinasi penyelenggaraan UASBN sana, pengambil kebijakan, dan masya­
dan UN di Jakarta (12/02/10). rakat) diharapkan untuk berikhtiar dan
Rapat koordinasi ini dihadiri oleh se­lu­ menyiapkan diri sebaik mungkin. Sehingga
ruh ketua penyelenggara UASBN dan UN pelaksaan UN lebih credible (dapat diper­
tingkat provinsi, pejabat eselon II dan III caya dan dipertanggungjawabkan), pres­
di lingkungan Balitbang Kementerian Pen­ ta­sinya memuaskan dengan kejujuran se­
didikan Nasional, Ketua, Sekretaris dan ang­ bagai ruhnya. Lebih lanjut Muhammad Nuh
gota BSNP. Sebagai agenda utama adalah pe­ menambahkan jika disuruh memilih mana
nandatanganan nota kesepahaman ten­tang yang penting jujur atau prestasi, maka
dana penyelenggaraan UASBN dan UN. jujur jauh lebih baik dari prestasi, tapi yang
Menurut Mendiknas prinsip kejujuran diinginkan adalah prestasi dan jujur.
harus dipegang teguh dalam kondisi Dalam pengarahannya, Menteri Pendi­
apapun. “Mohon dipegang betul prinsip dikan Nasional mengingatkan semua pe­
ke­jujuran ini dan jangan dikorbankan da­ serta rakor bahwa UN dan UASBN meru­
lam kondisi apapun. Kalau ruh kejujuran pakan kegiatan tahunan. Namun demikian
hilang, angka-angka atau nilai itu tidak jika permasalahan yang dihadapi dari
ber­makna”, ungkap mantan Rektor ITS ter­ ta­hun ke tahun tetap terjadi dan tidak
sebut seraya menambahkan tema UASBN teratasi artinya kita gagal dalam melakukan

Vol. V/No. 1/Maret 2010 9


Baris depan dari
kiri ke kanan
Nugaan Yulia
Wardhani Siregar
Kepala Puspendik,
Edy Tri Baskoro
Sekretaris BSNP,
dan Burhanuddin
Tola Kepala Pusat
Penelitian dengan
latar belakang
peserta rakor dari
33 provinsi.

pembelajaran. “Kita perlu belajar dari alasan lain dengan surat keterangan yang
pengalaman dan kesalahan-kesalahan dapat dipertanggungajwabkan.
yang ada jika ingin meningkatkan kualitas Ada beberapa perbedaan dalam penye­­
UASBN dan UN”, ujar mantan Menteri lenggaraan UN tahun 2010 diban­dingkan
Komunikasi dan Informasi pada masa de­ngan tahun 2009. “Tahun ini ada UN
kabinet bersatu I. Ulang­an bagi peserta yang belum lulus UN
Melalui forum koordinasi ini Men­ Utama. Peserta yang ikut ujian ulangan da­
dik­nas berharap supaya terjadi proses pat menempuh semua atau sebagian ma­ta
berbagi pengalaman antar provinsi dalam pelajaran yang nilainya kurang dari 5.50.
penyelenggaraan UASBN dan UN. Dengan Bagi mereka nilai yang digunakan untuk
demikian masalah yang terjadi di satu menentukan kelulusan adalah nilai yang
provinsi tidak terulang lagi di provinsi tertinggi. Semua nilai tersebut baik UN
lain. Untuk itu salah satu cara yang harus Utama maupun UN Ulangan tertera di dalam
kita lakukan adalah bersikap terbuka transkrip nilai”, ungkap Djemari Mar­dapi
(open minded). “Kita harus terbuka ter­ seraya menambahkan pada tahun 2010 ini
hadap masukan, saran, dan kritik yang pula jeda waktu antara satu mata pelajaran
kon­struktif dengan tidak menutup-nu­ dengan mata pelajaran lainnya adalah satu
tupi kelemahan yang ada. Kalau ini kita jam mengingat jeda waktu tiga puluh menit
la­kukan, insya Allah kita bisa melakukan pada tahun lalu dirasa tidak cukup.
perbaikan”, pesan Mendiknas. Lebih lanjut menurut Djemari ada
Dalam pengarahannya Mendiknas dua alasan mengapa UN tahun pelajaran
juga menjelaskan meskipun ada kontra­ 2009/2010 dimajukan. Pertama, pada ta­
versi tentang penyelenggaraan UN, pa­ hun ini UN dilaksanakan dua kali, yaitu
yung hukum penyelenggaraan UN sangat UN Utama dan UN Ulangan. Kedua, untuk
jelas. Oleh karena itu penyelenggaraan UN mem­beri kesempatan kepada peserta UN
harus sahih sehingga hasil yang dicapai Ulangan untuk mengikuti seleksi masuk
juga sahih (valid). perguruan tinggi pada tahun yang sama.
Sementara itu Ketua BSNP Djemari Dalam acara dialog dan tanya jawab
Mardapi menjelaskan bahwa UN Utama ketua penyelenggara UN dari Jawa Timur
SMA/MA, SMALB, dan SMK diselenggarakan meng­ungkapkan pemerintah daerah Jawa
dari tanggal 22 sampai dengan 26 Maret Timur sepakat melakukan ikrar ber­sama
2010, UN Susulan dari tanggal 29 Maret untuk meningkatkan mutu penye­leng­
sampai dengan 5 April, dan UN Ulangan ga­raan UASBN dan UN tahun pelajaran
dari tanggal 10 sampai dengan 14 Mei 2009/2010. “Ada surat edaran dari Gu­ber­
2010. Sedangkan UN Utama untuk SMP/ nur kepada Bupati/Walikota un­tuk melak­
MTs dan SMPLB dilaksanakan dari tanggal sanakan ikrar bersama sebagai upaya
29 Maret sampai dengan 1 April 2010, UN untuk menyelenggaraan UASBN dan UN
Susulan dari tanggal 5 sampai dengan 8 yang jujur dan kredibel sehingga prestasi
April 2010, dan UN Ulangan dari tanggal dan mutu pendidikan meningkat”, ungkap
17 sampai dengan 20 Mei 2010. Menurut Zainal Arifin sambil mengajak semua pe­
Ketua BSNP UN Susulan diberikan bagi serta dari provinsi lain untuk dapat mengi­
peserta didik yang saat pelaksanaan UN kuti terobosan yang dilakukan Pemerintah
Utama berhalangan karena sakit dan Daerah Jawa Timur. l

10 Vol. V/No. 1/Maret 2010


PENYELENGGARAAN UN 2010
Titik Terang dari Putusan MA, Panja DPR-RI, Mendiknas, dan BSNP.
Oleh Bambang Suryadi

B
adan Standar Nasional Pendidikan mental peserta UN, dan (e) meninjau
(BSNP) sebagai lembaga independen kembali Sistem Pendidikan Nasional.
telah menyelenggarakan Ujian Salah satu pertimbangan majelis ha­
Nasi­o­­­­nal (UN) se­jak tahun 2005 sampai kim menyatakan bahwa majelis sangat
seka­rang. Namun sejak tahun itu juga se­tuju konsep UN bertujuan baik, yaitu
penyelenggaraan UN masih belum dite­ untuk mengembangkan kemampuan
rima secara penuh oleh masyarakat. dan membentuk watak serta peradaban
Dengan pengertian lain masih ada sikap bang­sa yang bermartabat dalam rangka
pro dan kontra terhadap UN. Klimaks mencerdaskan kehidupan bangsa. Majelis
dari sikap kontroversi tersebut adalah hakim juga sependapat dengan tergugat
adanya gugatan terhadap UN. Pada bagian bahwa UN adalah untuk memperbaiki bang­
berikut ini akan dipaparkan secara singkat sa sehingga bangsa Indonesia dapat duduk
bagaimana kronologi gugatan terhadap sederajat dengan bangsa-bangsa di dunia.
UN tersebut terjadi. Menyikapi putusan tersebut, pa­­ra
tergugat me­lalui kuasa hu­kum­­­­nya menga­
Kronologi takan banding. Pa­da ting­­kat ban­ding, Pe­
Perkara itu bermula dari gugatan uji ngadilan Tinggi DKI da­lam putusan Nomor
materi terhadap Kepmendiknas No­mor 377/PDT/2007/PT.DKI menguatkan pu­
153/U/2003 tentang Ujian Akhir Nasio­ tusan Pengadilan Ne­­geri Jakarta Pusat tang­
nal (UAN). Mahkamah Agung melalui gal 21 Mei 2007 No­mor 228/Pdt.G/2006/
putusan Nomor 04G/Hum/2004 menolak PN.Jkt.Pst.
permohonan Hak Uji Materi dari para peng­ Para tergugat akhirnya menempuh
gugat. Salah satu pertimbangan para hakim jalur hukum terakhir, yaitu mengajukan
adalah bahwa UAN tidak bertentangan ka­sasi kepada Mahkamah Agung. Dalam
dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun putusannya Nomor 2596 K/PDT/2008,
2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Mahkamah Agung menolak permohonan
bahkan merupakan pelaksanaan Undang- kasasi tergugat, yang diputus pada 14
Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang September 2009.
Sisdiknas Pasal 35, Pasal 57, dan Pasal 58.
Dengan ditolaknya permohonan Hak DPR Bentuk Panitia Kerja UN
Uji Materi tersebut, BSNP menye­leng­ Dengan ditolaknya kasasi oleh MA,
garakan UN untuk pertama kalinya pada DPR menyepakati pembentukan Panitia
tahun pelajaran 2005/2006. Saat inilah Kerja Ujian Nasional (Panja UN) untuk
penyelenggaraan UN digugat oleh Tim mengevaluasi program tersebut. “Kita
Advokasi Korban Ujian Nasional (TEKUN). internal Komisi X akan membentuk panja
Perkara itu bermula dari “citizen law­ evaluasi menyeluruh UN,” kata Wakil Ketua
suit” (gugatan warga negara) yang dia­­ Komisi X Heri Akhmadi saat jumpa pers di
jukan Kristiono dan kawan-kawan ter­ Gedung DPR, Jakarta. Panja yang dibentuk
hadap presiden, wakil presiden, Menteri bukan hanya untuk soroti UN, tapi juga
Pendidikan Nasional, dan Ketua BSNP yang untuk program Kementerian Pendidikan
dinilai lalai memenuhi perlindungan hak Nasional yang lain. Misalnya Jardiknas,
asasi manusia (HAM) di bidang pendidikan. Data Statistik Pendidikan.
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat melalui Salah satu kegiatan panja adalah
putusan Nomor 228/Pdt.G/2006/PN.Jkt. mengadakan rapat dengar pendapat dengan
Pst Tanggal 21 Mei 2007 menolak gu­gat­ MA untuk menentukan sikap Komisi X
an primer dan menerima gugatan sub­ DPR terhadap kontroversi UN yang selama
sider. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ini terjadi di tengah masyarakat. Selain itu
memerintahkan kepada tergugat untuk juga untuk memastikan landasan hukum
(a) meningkatkan kualitas guru, (b) me­ penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) yang
lengkapi sarana dan prasarana sekolah, sebelumnya digugat.  
(c) memberikan akses informasi yang Ketua MA Harifin A Tumpa menjelaskan,
lengkap, (d) mengambil langkah kongkrit hasil rapat antara Panja UN dari Komisi X
untuk mengatasi dampak psikologis dan DPR dengan MA menegaskan bahwa UN

Vol. V/No. 1/Maret 2010 11


tetap dilaksanakan sesuai jadwal. ”Tidak Data dari Kementerian Pendidikan
ada larangan untuk menyelenggarakan Nasional menunjukkan bahwa pada tahun
UN,” tandasnya. Adapun soal perintah 2006 Departemen Pendidikan Nasional
pengadilan kepada tergugat (pemerintah) –sekarang Kementerian Pendidikan Nasio­
tentang perbaikan kualitas guru, sarana nal-- memberikan Rp 5 triliun untuk
dan prasarana serta informasi, lanjutnya, biaya operasional sekolah. Sebelumnya
tetap membolehkan UN berlangsung sam­ tidak sepeser pun ada anggaran untuk
bil terus dilakukan perbaikan. ”Ar­ti­nya itu. Setahun kemudian (2007) naik men­
apabila pemerintah sudah me­lakukan lang­ jadi Rp 12 triliun dan tahun 2008 naik
kah perbaikan,walau belum selesai, UN lagi menjadi 18 triliun. Sejak 2007,
tetap bisa dilaksanakan, sebab perbaikan Kementerian Pendidikan Nasional juga
itu tidak ada batasnya,” tegas dia. memberikan tunjangan profesi guru dari
Rully Chairul Azwar Wakil Ketua Ko­ semula hanya Rp. 1,2 triliun, tahun ini
misi X DPR mengatakan, putusan MA (2010) naik dan dialokasikan sebesar Rp
menegaskan bahwa UN tetap jalan. Dalam 15 triliun. Untuk rehabilitasi sekolah lima
amar putusannya, tidak ada perintah pe­ tahun lalu dianggarkan hanya Rp 625
nundaan atau pembatalan. ”Kami hanya miliar, tahun 2010 ini sudah melonjak
minta penjelasan resmi dari MA. Bukan menjadi Rp 10,7 triliun. Ini semua sejalan
untuk mencari keputusan baru,” jelasnya dengan dipenuhinya anggaran pendidikan
di Gedung MA seusai melakukan konsultasi sebagaimana diamanatkan dalam kon­
dengan Ketua MA Harifin A Tumpa. stitusi sebesar 20 persen dari APBN.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wa­ Ketua BSNP Djemari Mardapi mengakui
men­diknas) Fasli Jalal menjelaskan, Ketua dengan adanya Putusan MA sebagaimana
MA dalam konsultasi dengan Komisi X disebutkan di atas, di kalangan masyarakat
DPR-RI hanya menyampaikan makna da­ terdapat kebingungan dan simpang siur
ri amar putusan terdahulu dan bukan un­ tentang UN. “Opini publik yang beredar
tuk menentukan keputusan baru untuk adalah MA melarang penyelenggaraan
me­nunda, bahkan membatalkan UN. UN tahun 2010. Padahal dalam putusan
”MA sudah memberikan lampu hijau tersebut tidak ada larangan bagi BSNP
un­tuk UN.Yang penting sekarang ada­ untuk menyelenggarakan UN”, ungkap
lah perbaikan supaya peserta ujian ti­ Djemari Mardapi.
dak stres,informasi yang luas, ujian Di tengah keanekaragaman pendapat
ulang­an, dan standar kelulusan sama dan pandangan tentang penyelenggaraan
dengan tahun lalu,yakni 5,5,” tandasnya. UN dan untuk menghindari hal-hal yang
  tidak diinginkan karena ketidakjelasan
Sikap Mendiknas dan BSNP terha­ informasi, ungkap Djemari, maka perlu
dap putusan MA ditegaskan bahwa:
Menteri Pendidikan Nasional (Men­ 1. Putusan pengadilan tidak secara eks­
diknas), Mohammad Nuh, meninjau kem­ plisit menyatakan melarang penye­leng­
bali soal putusan Mahkamah Agung terkait garaan UN.
penyelenggaraan UN. Masalah tersebut 2. Pemerintah telah melakukan perbaik­
bukan sekedar menang atau kalah dalam an sarana dan prasarana, serta telah
putusan di MA tetapi lebih menuju kepada pula meningkatkan kualitas dan ke­se­
kemajuan pendidikan di Indonesia. jahteraan guru melalui program ser­
Menteri minta agar semua pihak ti­ tifikasi dan pelatihan bagi tenaga guru.
dak saling tuding soal UN ini. “Kami akan 3. Sejalan dengan perbaikan tersebut Maka
bicarakan masalah ini dengan unsur ter­ BSNP akan tetap menyelenggarakan
kait lainnya. Soal larangan UN boleh saja UN pada 2010 sesuai dengan jadwal
di­lakukan tetapi tetap harus ada upaya me­ yang ditetapkan dan hal itu juga telah
majukan pendidikan di Indonesia, mung­kin diatur dalam Peraturan Pemerintah
teknisnya yang akan dikaji lagi,” katanya. Nomor 19/2005 tentang Standar
Mansyur Ramly Kepala Balitbang Ke­ Nasional Pendidikan.
menterian Pendidikan mengatakan peme­ Penjelasan tersebut dimaksudkan un­
rintah telah mengambil langkah-langkah tuk menghindarkan diri agar para peserta
konkrit, misalnya untuk gangguan psi­ didik, para guru, orang tua dan siapapun
kologi pada anak, dengan melakukan per­ yang terkait dengan penyelenggaraan UN
baikan UN.”Jadi bukan UN ditolak, tapi tidak terjebak dalam suasana ketidak­
ada perbaikan. Sejak 2005, kita melakukan pastian. Dengan adanya kepastian tersebut,
perbaikan UN, mengurangi stres peserta diharapkan peserta didik, guru dan orang
didik dengan melakukan ujian ulang, yang tua serta penyelenggara UN sendiri dapat
tidak lulus bisa mengikuti ujian nasional,” mempersiapkan diri secara maksimal. l
jelasnya. (diolah dari berbagai sumber)

12 Vol. V/No. 1/Maret 2010


Berita BSNP*

BSNP dan AusAid Berdialog tentang


Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan

Dari kiri ke kanan,


Vivien Casteel,
Graham Dawson,
S ecara umum mutu pendidikan nasional
masih rendah dibanding negara Asia
lainnya meskipun Indonesia telah membuat
partisipasi murni pada tingkat SD dan SMP
telah meningkat secara dramatis dalam
decade terakhir—menyamai negara-negara
Soetarto dan
Ali Syaukah kemajuan besar dalam peningkatan ak­ Asia dengan pendapatan perkapita yang
dari tim AusAid ses terhadap pendidikan dasar. Untuk itu lebih tinggi”, ungkap Casteel. Akan tetapi
sedang berdialog penjaminan mutu pendidikan mutlak dila­ anak dari keluarga miskin lebih rendah
tentang Sistem kukan. Demikian salah satu poin penting ang­ka partisipasinya dan lebih sedikit
Penjaminan Mutu
yang dipresentasikan oleh tim dari AusAid yang menyelesaikan sekolahnya. Selain itu
Pendidikan di
BSNP (26/01/10). di hadapan anggota BSNP, Selasa (26/01/10). pencapaian murid SD dan SMP Indonesia
Tim AusAid terdiri dari empat orang yaitu dalam tes kognitif internasional jauh di
Vivien Casteel Senior Education Quality bawah Negara Asia lainnya.
Adviser, Graham Dawson Education Qua­ Menanggapi presentasi tersebut, BSNP
lity Assurance Model Adviser, Sutarto Hadi­ memberikan komitmen yang penuh un­tuk
prayitno Organisation and Planning Adviser, membantu pemerintah dan semua unit uta­
dan Ali Saukah Education Quality Standards ma dalam melakukan penjaminan mu­tu
Adviser. pendidikan nasional menjamin mutu pen­di­
Menurut Vivien Casteel hasil penelitian dikan nasional. “BSNP akan melakukan mo­
oleh Hanushek dan Woessmann, World Bank nitoring dan evaluasi implementasi standar
(2007) memberikan bukti empiris bahwa nasional pendidikan yang telah ditetapkan
mutu pendidikan (tidak hanya kuantitas menjadi Peraturan Menteri Pendidikan Na­
pen­didikan) membawa dampak signifikan sional, untuk menjamin mutu pendidikan
terhadap pendapatan individual dan pertum­ nasional”, ungkap Djemari Mardapi Ketua
buhan ekonomi nasional. BSNP sambil memberikan apresiasi terhadap
Indonesia, tambah Casteel, telah mem­ AusAid yang telah memberikan perhatian
* Bambang buat kemajuan besar dalam peningkatan sangat besar terhadap mutu pendidikan
Suryadi akses terhadap pendidikan dasar. “Angka nasional. l

Vol. V/No. 1/Maret 2010 13


Berita BSNP
PELATIHAN DAN PENULISAN SOAL UASBN

S alah satu cara meningkatkan mutu


Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional
(UASBN) adalah dengan meningkat kualitas
Provinsi sebagai penyelenggara UASBN untuk
disimpan di brangkas sebelum digandakan
oleh percetakan.
soal ujian. Mutu soal ditentukan oleh ke­mam­ Menurut Djemari Mardapi Ketua BSNP,
puan pembuat soal yaitu para guru sekolah/ penyelenggaraan UASBN tahun pelajaran
madrasah. Untuk itu, Badan Standar Nasional 2009/2010 diatur dalam Peraturan Menteri
Pendidikan (BSNP) bekerjasama dengan Pendidikan Nasional Nomor 74 tahun
Puspendik dan Dinas Pendidikan Provinsi 2009. Dalam Permendiknas tersebut yang
me­nyelenggarakan pelatihan dan penulisan dimaksud UASBN adalah ujian nasional yang
soal UASBN, dari tanggal 7 sampai 13 Maret dilaksanakan secara terintegrasi dengan
2010 untuk gelombang pertama dan dari pelaksanaan ujian sekolah/madrasah.
tanggal 14 sampai 20 Maret 2010 untuk Lebih lanjut, Djemari Mardapi
gelombang kedua. menjelaskan, dalam Pasal 10 Permendiknas
Pada gelombang pertama ada 17 pro­ Nomor 74 tahun 2009 disebutkan setiap
vinsi yang menyelenggarakan pelatihan dan paket soal UASBN terdiri atas 25% soal yang
penulisan soal UASBN dan provinsi lainnya ditetapkan oleh BSNP dan berlaku secara
Guru-guru SD/MI
aktif dan antusias
mengikuti
pelatihan dan
penulisan soal
UASBN

menyelenggarakannya pada gelombang nasional, serta 75% soal yang ditetapkan


kedua. Menurut Ketua BSNP Djemari Mar­ oleh penyelenggara UASBN tingkat provinsi
dapi, di setiap provinsi ada dua petugas berdasarkan kisi-kisi soal UASBN Tahun
dari Puspendik yang memberi pelatihan Pelajaran 2009/2010 yang ditetapkan oleh
dan penulisan soal. Sedangkan supervisi BSNP. Dengan demikian, soal yang ditulis
dilakukan oleh anggota BSNP. oleh para guru mengacu kepada kisi-kisi
Untuk menjaga kerahasiaan soal, se­tiap soal UASBN yang yang memuat SKL dan
guru yang mengikuti pelatihan dan penu­lisan kemampuan yang diujikan.
soal dikarantina selama kegiatan berlangsung. BSNP, tambah Djemari Mardapi, telah
”Mereka tidak boleh pulang selama kegiatan melakukan sosialisasi tentang UASBN di
berlangsung dan soal di­tulis dengan tangan”, seluruh provinsi pada bulan Desember 2009.
ungkap Djemari seraya menambahkan soal “Sosialisasi ini sengaja diselenggarakan
yang dibuat oleh guru ditelaah oleh dosen lebih awal supaya sekolah/madrasah dapat
dari perguruan tinggi. Soal yang sudah menyiapkan diri lebih dini untuk menghadapi
dirakit diserahkan kepada Dinas Pendidikan UASBN”, tambah Djemari Mardapi. l

14 Vol. V/No. 1/Maret 2010


Berita BSNP

KEGIATAN BSNP 2010


S ekretaris BSNP Edy Tri Baskoro menye­
butkan pada tahun 2010 BSNP telah
menetapkan 7 kegiatan, selain penye­
ini dimaksudkan untuk menghasilkan
standar pendidikan yang bermutu”, ujar Edy
sambil menambahkan komposisi tim ahli
lenggaraan ujian nasional. Ketujuh kegiatan juga mempertimbangkan asal daerah yaitu
tersebut adalah pengembangan standar Jakarta, Jawa, dan luar Jawa.
proses pendidikan tinggi, pemantauan Kegiatan penyusunan standar terdiri
implementasi standar Pendidikan Dasar dan atas sembilan tahapan, yaitu penyusunan
Menengah, evaluasi implementasi standar, desain, kajian bahan dasar, penyusunan draf
pengembangan standar dosen pendidikan standar, reviu dan perbaikan draf standar,
vokasi, pengembangan standar biaya SMK, validasi draf standar, analisis hasil validasi
pengembangan sandar sarana prasarana draf standar, pembahasan draf standar

Suasana rapat pendidikan vokasi pendidikan tinggi, dan dengan unit utama, uji publik draf standar,
pleno BSNP pengembangan paradigma pendidikan ting­ dan finalisasi standar.
untuk membahas
kegiatan tahun gi. Lebih lanjut, Edy Tri Baskoro mengatakan,
2010 Di setiap standar yang dikembangkan, diharapkan semua kegiatan penyusunan
tambah Edy Tri Baskoro, melibatkan anggota standar tersebut selesai pada bulan Oktober
BSNP dan tim ahli yang bersifat ad hoc yang tahun 2010. Dengan demikian pada akhir
semuanya berjumlah 20 orang. “Tim ahli ini tahun 2010 standar tersebut diharapkan
terdiri atas akademisi dari berbagai perguruan telah ditetapkan menjadi Peraturan Menteri
tinggi, praktisi pendidikan, pengamat, dan Pendidikan Nasional. l
asosiasi profesi. Variasi komposisi tim ahli

Vol. V/No. 1/Maret 2010 15


Berita BSNP
ANGGOTA KOMISI D BIDANG PENDIDIKAN
DPRD JEMBER BERAUDIENSI DENGAN
BSNP
S ebanyak 11 anggota DPRD Jember
beraudiensi dengan Ketua, Sekretaris,
dan anggota BSNP pada hari Selasa, 15
Acara yang berlangsung selama satu
setengah jam berjalan dengan penuh
keakraban meskipun dalam suasana formal.
Februari 2010 di Jakarta. Mereka adalah dari Suasana lebih menarik lagi pada saat
Komisi D Bidang Pendidikan yang mewakili tanya jawab. Salah satu pertanyaan yang
enam partai, yaitu Golkar, PPP, Demokrat, diungkapkan oleh anggota dewan adalah
PAN, PDIP, dan PKS. Tujuan audiensi ini adalah mengapa PKn dan mata pelajaran agama
untuk mendapatkan informasi dan panduan tidak diujikan dalam UN.
yang dapat dijadikan acuan jika ada aspirasi, Furqon, anggota BSNP menjelaskan
pengaduan, atau pertanyaan dari masyarakat menurut Peraturan Pemerintah Nomor
ke anggota dewan seputar pendidikan 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
nasional. “Kami perlu pedoman dan acuan Pendidikan, mata pelajaran yang diujikan
yang baku dari BSNP untuk menjawab secara nasional hanya kelompok mata
pertanyaan-pertnyaan seputar standar pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.
nasional pendidikan dan ujian nasional”, Ada lima kelompok mata pelajaran, yaitu
ungkap Sunardi ketua rombongan sam­bil budi pekerja dan akhlak mulia, termasuk di
menambahkan agenda yang dibahas da­lam dalamnya ada PKn dan agama, kelompok
audiensi adalah seputar standar nasional iptek, kelompok se­ni budaya, kelompok
pen­didikan, Ujian Akhir Sekolah Berstandar olah raga kesehatan, dan kelompok estetika.
Na­sio­nal (UASBN), ujian nasional (UN), ujian “Hanya kelompok iptek yang diujikan
kom­petensi SMK, dan standar kelulusan. secara nasional”, ungkap Furqon sambil me­
Menurut para anggota dewan yang nambahkan PKn dan Agama itu tujuan yang
menjadi salah satu kekhawatiran masyarakat sangat mulia adalah untuk pembentukan
Jember saat ini adalah ujian nasional.“Karena akhlak mulia dan kepribadian, sehingga
begitu cemas meng­hadapi ujian nasional, penilaiannya jika meliputi afektif dan akhlak,
mereka melakukan shalat hajat, istighatsah, tidak bisa diujikan lewat UN.
dan do’a bersama”, ungkap Abdul Ghafur Apakah seseorang itu berakhlak mulia
anggota dewan dari Partai PAN sambil atau tidak sulit untuk dinilai dalam waktu
menanyakan kemungkinan UN di­hapuskan dua atau tiga jam, tetapi memerlukan
karena menimbulkan kecemasan. waktu panjang melalui pengamatan dan
Menanggapi hal tersebut, Djemari pemantauan. Maka penilaiannya diserahkan
Mardapi menyatakan hasil penelitian kepada guru.
menunjukkan bahwa salah satu dampak UN DJaali anggota BSNP menambahkan
adalah menimbulkan kecemasan. Namun, yang dinilai pada mata pelajaran PKn dan
lanjut Djemari Mardapi, dalam psikologi Agama adalah aspek kognitif, sedangkan
kecemasan itu penting, tapi jangan sampai aspek lainnya dinilai secara terus menerus
menimbulkan stress. Temuan penelitian juga oleh guru melalui pengamatan. Dan
menunjukkan UN memacu semangat belajar ini menentukan kelulusan dari satuan
murid dan semangat mengajar guru. Dalam pendidikan dengan nilai minimal baik.“Sikap
konteks ini salah satu cara untuk mengurangi dan perilaku ini yang dinilai oleh guru. Ada
kecemasan UN tahun 2010 adalah dengan panduannya dalam melakukan penilaian.
adanya ujian ulangan. Yang diujikan nasional adalah aspek kognitif,
Dengan adanya penjelasan tersebut, praktiknya tetap di ujian sekolah. Soalnya
anggota dewan dapat memahami dan juga hanya multiple choise” ujar Djaali.
tidak khawatir lagi dengan kecemasan yang Terkait pungutan biaya untuk ujian
dihadapi siswa, guru, dan orang tua. “Adanya nasional yang ditanyakan oleh seorang

16 Vol. V/No. 1/Maret 2010


Berita BSNP

Komisi D Bidang perasaan deg-degan (cemas) itu wajar saja. anggota dewan, Mungin Eddy Wibowo
Pendidikan Mau nikah saja cemas, apalagi menghadapi menegaskan tidak ada pungutan biaya
DPRD Jember
beraudiensi UN”, ungkap Sunardi yang disambut tawa dalam penyelenggaran UN karena biaya
dengan angota oleh anggota dewan dan anggota BSNP. UN menjadi tanggungjawab pemerintah.
BSNP Lebih lanjut Djemari Mardapi Ketua BSNP “UN tanpa dipungut biaya. Perlu dibedakan
dalam penjelaskan menerangkan sejarah antara tryout dan ujian nasional. Try out
ujian nasional yang dimulai sejak tahun 1950 diinisiasi oleh sekolah. Siswa tidak wajib ikut
sampai sekarang. “Bentuk ujian nasional uji coba ujian. Jika siswa tidak mau ikut uji
seperti sekarang ini berdasarkan pengalaman coba, tidak masalah sehingga tidak perlu
pemerintah dalam menyelenggarakan membayar”, ungkap Mungin.
ujian nasional dengan nama yang beragam Masalah lain yang diangkat oleh ang­
seperti EBTA, EBTANAS, UAN, dan UN”, ungkap gota dewan adalah buku teks pelajaran
Djemari seraya menambahkan saat ujian seko­lah. “Mohon penjelasan adanya buku
nasional diserahkan kepada sekolah pada teks mata pelajaran yang gratis tetapi pa­da
tahun 1964, hampir semua peserta didik kenyataannya orang tua masih harus mem­
lulus dengan skor tinggi, tetapi lulusannya beli dengan harga tinggi”, tanya Ambarwati
tidak diterima di lembaga pendidikan anggota dewan dari Partai Demokrat.
pada jenjang di atasnya karena tidak ada Menurut Djemari Mardapi, standar bu­
peningkatan mutu pendidikan. ku teks pelajaran untuk lima tahun. Ada
Khusus Ujian Akhir Sekolah Berstandar dua kelompok buku teks pelajaran, yai­
Nasio­nal (UASBN), menurut Djemari soal tu kelompok yang hak ciptanya sudah di­
UASBN 75% dibuat oleh daerah dan 25% be­li pemerintah dan kelompok yang hak
dibuat oleh pusat (BSNP dan Puspendik). ciptanya masih ada di penerbit.“peserta didik
“Yang menentukan kelu­lus­an masing- bebar memilih buku teks pelajaran”, ungkap
masing sekolah. Ada yang rendah, silahkan, Djemari Mardapi sambil menambahkan
tapi pada tahun berikutnya harus ada buku teks tersebut dapat diakses di situs pu­
peningkatan”, ungkap DJemari. sat perbukuan dan diunduh secara gratis.

Vol. V/No. 1/Maret 2010 17


REVISI POS UJIAN NASIONAL
M emperhatikan saran dan masukan dari
berbagai pihak dan mengingat masih
terdapat kesalahan dalam POS UN SMP/
LJUN dari Penyelenggara UN Tingkat
Kabupaten/Kota kepada perguruan
tinggi langsung setelah ujian berakhir
MTs, SMPLB, SMALB, dan SMK serta POS UN setiap harinya kecuali untuk kabupaten
SMA/MA yang disusun oleh BSNP, dengan ini yang terpencil” dirubah sehingga
disampaikan perbaikan dan revisi sebagai berbunyai “Pengiriman LJUN dari
berikut. Penyelenggara UN Tingkat Kabupaten/
Kota kepada Penyelenggara UN
I. POS UN SMP/MTs, SMPLB, Tingkat Provinsi langsung setelah ujian
SMALB, dan SMK berakhir setiap harinya kecuali untuk
kabupaten yang terpencil”.
A. BAGIAN I. PENYELENGGARA 2. Ketentuan A (Pengumpulan Hasil Uji­
UJIAN NASIONAL an) nomor 5 yang berbunyi “Penye­
leng­­gara UN Tingkat Kabupaten/Kota
1. Ketentuan Bagian I. B (Penyelenggara mengirimkan LJUN ke perguruan
UN Tingkat Provinsi) nomor 2.c. diubah ting­gi, disertai denganberita acara
sehingga berbunyi sebagai berikut: se­rah terima” dirubah sehingga ber­
mendata dan menetapkan sekolah/ bunyi “Penyelenggara UN Tingkat
madra­sah penyelenggara UN untuk Kabupaten/Kota mengirimkan LJUN ke
SMPLB, SMALB, dan SMK, dengan pro­ Penyelenggara UN Tingkat Provinsi,
sedur sebagai berikut disertai denganberita acara serah
2. Ketentuan Bagian I. C (Penyelenggara terima”.
UN Tingkat Kabupaten/Kota) nomor 3. Ketentuan A (Pengumpulan Hasil Ujian)
2.a. diubah sehingga berbunyi sebagai nomor 6 yang berbunyi “Perguruan
berikut: mendata dan menetapkan seko­ ting­gi memeriksa kesesuaian jumlah
lah/madrasah penyelenggara UN untuk am­plop yang berisi LJUN dengan jumlah
SMP/MTs dengan prosedur seba­gai ruangan dari setiap satuan pendidikan
berikut. penyelenggara UN dari setiap kabu­
3. Ketentuan Bagian I. C (Penyelenggara paten/kota” dirubah sehingga berbunyi
UN Tingkat Kabupaten/Kota) nomor “Penyelenggara UN Tingkat Provinsi
2.b. diubah sehingga berbunyi sebagai memeriksa kesesuaian jumlah amplop
berikut: mendata dan menetapkan calon yang berisi LJUN dengan jumlah ruang­
peserta UN untuk SMP/MTs; an dari setiap satuan pendidikan penye­
4. Ketentuan Bagian I. C (Penyelenggara lenggara UN dari setiap kabupaten/
UN Tingkat Kabupaten/Kota) nomor kota”.
2.c. diubah sehingga berbunyi sebagai 4. Ditambahkan satu sub topik , yaitu Pe­
berikut: mendata dan menetapkan calon nyimpanan dan Pemanfaatan Bahan
pengawas UN untuk SMP/MTs; Ujian:
a. Soal ujian yang sudah diujikan di­
B. BAGIAN IV. PELAKSANAAN simpan di satuan pendidikan penye­
UJIAN NASIONAL lenggara UN.
b. Batas waktu minimal untuk penyim­
1. Ketentuan Bagian IV. B (Penetapan Wak­
pan­an soal ujian adalah satu bulan
tu Pengumuman Hasil UN) nomor 1 dan
setelah soal diujikan.
2 dihapus (sudah termuat di Bagian VII
c. Jika sudah lewat dari satu bulan nas­
(Kelulusan Ujian Nasional) nomor 4, 6, 8,
kah soal dapat dimanfaatkan oleh pi­
dan 10.
hak sekolah.
d. LJUN yang sudah dipindai disimpan
C. BAGIAN V. PEMERIKSAAN di penyelenggara tingkat provinsi.
HASIL UJIAN NASIONAL
e. Batas waktu minimal untuk penyim­
pan­an LJUN adalah satu tahun sete­
1. Ketentuan A (Pengumpulan Hasil Ujian)
lah pemindaian.
nomor 4 yang berbunyi “Pengiriman

18 Vol. V/No. 1/Maret 2010


f. Jika sudah lewat dari satu tahun LJUN pelanggaran dan sanksi ujian nasional
dapat dimusnahkan. (nomor 6) sebagai berikut:
6. Jenis kecurangan atau pelanggaran
D. BAGIAN X. SANKSI dan sanksi ujian nasional adalah sebagai
Ditambahkan jenis kecurangan atau berikut:

No Pelaku Jenis Kecurangan/Temuan Sanksi/


Tindakan
1. Siswa Siswa menggunakan HP di ruang ujian setelah Tidak lulus pada
dilakukan pemeriksaan dan peringatan mata pelajaran
Siswa menyebarkan dan/atau membawa dan yang bersangkutan.
menggunakan jawaban soal UN ketika UN
berlangsung di ruang UN
Siswa bekerja sama dalam satu ruang ujian
setelah diberi peringatan sampai tiga kali oleh
pengawas
2. Guru Guru mengedarkan jawaban secara langsung Sesuai PP Nomor 30
Guru menyebarkan jawaban melalui SMS tahun 1980 tentang
Guru mata pelajaran yang diujikan berada di Peraturan Disiplin
lingkungan sekolah PNS
Guru mengerjakan jawaban soal cadangan di
sekolah
Guru menawarkan soal dan jawaban
3. Penyelenggara UN Penyelenggara UN di sekolah mengganti lembar Kalau kesalahan
Satuan Pendidikan jawaban bukan pada siswa
ujian diulang
Penyelenggara UN menyimpan bahan soal di Diberi peringatan
satuan pendidikan tanpa dijaga aparat, sementara dan dilaporkan ke
kunci ruangan dipegang oleh kepala sekolah/ Itjen
madrasah
Penyerahan LJUN terlambat Dibuat berita
acara dan diberi
peringatan
Anggota penyelenggara UN mengedarkan Dibuat berita
presensi pengawas ujian masuk ke ruang UN acara dan diberi
peringatan
Soal cadangan dibuka oleh penyelenggara UN Dibuat berita acara
dan dilaporkan ke
Itjen
4. Pengawas Ruang Pengawas ruang ujian tidak melem/melak amplop Diberi peringatan
Ujian LJUN di ruang ujian dan dibuat berita
acara
Pengawas membaca sisa soal dalam ruang ujian Diberi peringatan
Pengawas bercakap-cakap dalam ruang ujian Diberi peringatan
yang mengganggu suasana ujian
Pengawas membiarkan peserta ujian bekerjasama Diberi peringatan
dan dibuat berita
acara
Pengawas membantu memberikan jawaban Diberi peringatan
kepada peserta UN dan dibuat berita
acara
Pengawas mengerjakan sesuatu di luar tugas dan Diberi peringatan
fungsi kepengawasan di ruang ujian

Vol. V/No. 1/Maret 2010 19


5. Percetakan Jumlah naskah soal atau LJUN kurang Diberi peringatan
Melayout ulang master soal Diblock list
Salah pengepakan naskah UN, misalnya di sampul Diblock list
naskah soal Matematika ternyata di dalamnya soal
Bahasa Indonesia
Tidak mengikuti ketentuan pencetakan dalam Diblock list
POS Pencetakan UN

II. POS UN SMA/MA 2009/2010 3. Ketentuan Bagian III. C (Penggandaan


Bahan UN) nomor 3. a dan b diubah se­
E. BAGIAN I. PENYELENGGARA hingga berbunyi sebagai berikut: Peru­
UJIAN NASIONAL sahaan percetakan mendistribusikan ba­
han UN kepada Penyelenggara UNTingkat
1. Ketentuan Bagian I. B (Penyelenggara Kabupaten/Kota di bawah pengawasan
UN Tingkat Provinsi) nomor 2.c.1) yang Polri disertai dengan berita acara serah
berbunyi “mendata sekolah/madrasah terima. Jadwal pendistribusian bahan UN
yang memiliki kelas/tingkat tertinggi dan dilaksanakan sedekat mungkin dengan
mengidentifikasi sekolah/madrasah ber­ hari pelaksanaan Ujian.
dasarkan jenjang akreditasi serta as­pek- 4. Bagian III BAHAN UJIAN NASIONAL, poin
aspek yang dipergunakan sebagai ba­ C. Penggandaan Bahan UN pasal 2. Ayat
han penetapan sekolah/madrasah penye­ g, nomor 4) berbunyi: “naskah Soal UN
lenggara UN” dihapus dan diubah se­ dan LJUN cadangan masing-masing se­
hingga berbunyi “menetapkan sekolah/ banyak 6 eksemplar yang terdiri atas 3
madrasah penyelenggara UN dan sekolah/ eksemplar Paket A dan 3 eksemplar Paket
madrasah yang menggabung,dan di­tuang­ B, dimasukkan dalam amplop naskah soal
kan dalam surat keputusan dan mengi­ UN cadangan dan dilak” dirubah men­
rimkannya ke sekolah/madrasah penye­ jadi:“naskah Soal UN dan LJUN cadangan
lenggara UN; masing-masing sebanyak 10 eksemplar
2. Ketentuan Bagian I. B (Penyelenggara yang terdiri atas 5 eksemplar Paket A dan
UN Tingkat Provinsi) nomor 3.e. yang 5 eksemplar Paket B, dimasukkan dalam
berbunyi “menetapkan pengawas ruang amplop naskah soal UN cadangan dan
ujian UN bersama dengan Penyelenggara dilak”
UN Kabupaten/Kota” diubah sehingga 5. Bagian III BAHAN UJIAN NASIONAL, poin
berbunyi sebagai berikut: “menetapkan C. Penggandaan Bahan UN pasal 2. Ayat
pengawas ruang ujian berdasarkan ma­ g, nomor 6) berbunyi: “sekolah/madrasah
sukan dari Dinas Pendidikan dan Kandepag penyelenggara yang memiliki kurang
Kabupaten/Kota sebagai penyelenggara dari 5 ruang ujian, diberi 1 (satu) amplop
UN Kabupaten/Kota”. cadangan, sedangkan yang memiliki
3. Ketentuan Bagian I. B (Penyelenggara 5 ruang ujian atau lebih diberi 1 (satu)
UN Tingkat Provinsi) nomor 3.f yang ber­ am­plop cadangan setiap kelipatan 5
bunyi “ menggandakan bahan UN” dan ruang ujian dengan pembulatan ke atas”
3.g yang berbunyi “ mendistribusikan dirubah menjadi: “sekolah/madrasah
bahan UN” dihapus. penyelenggara UN yang memiliki kurang
dari 10 ruang UN, diberi 1 (satu) amplop
F. BAGIAN III. BAHAN UJIAN cadangan, sedangkan yang memiliki
NASIONAL 10 ruang UN atau lebih diberi 1 (satu)
amplop cadangan setiap kelipatan 10
2. Ketentuan Bagian III. C (Penggandaan ruang UN dengan pembulatan ke atas”
Ba­han UN) nomor 1. a, b, dan c, diubah 6. Bagian V. PEMERIKSAAN HASIL UJIAN
sehingga berbunyi sebagai berikut: Peng­ NASIONAL. Ditambahkan satu sub topik
gandaan bahan UN SMA/MA dilakukan , yaitu Penyimpanan dan Pemanfaatan
oleh percetakan yang ditetapkan oleh Bahan Ujian:
pe­nyelenggara tingkat provinsi sesuai g. Soal ujian yang sudah diujikan
dengan peraturan perundang-undangan di­sim­pan di satuan pendidikan
yang berlaku. penyelenggara UN.

20 Vol. V/No. 1/Maret 2010


h. Batas waktu minimal untuk penyim­ penyimpanan bahan ujian.
panan soal ujian adalah satu bulan d) memantau pelaksanaan UN di ruang
setelah soal diujikan. ujian, agar sesuai dengan tatacara
i. Jika sudah lewat dari satu bulan nas­ yang telah ditetapkan dalam POS
kah soal dapat dimanfaatkan oleh UN, dan dapat memasuki ruang ujian
pihak sekolah. jika diperlukan dengan catatan tidak
j. LJUN yang sudah dipindai disimpan mengganggu pelaksanaan ujian.
di penyelenggara tingkat provinsi. Hasil pengawasan dalam ruang uji­
k. Batas waktu minimal untuk penyim­ an dituliskan dalam berita acara
panan LJUN adalah satu tahun se­ dan ditandatangani oleh ketua Pe­
telah pemindaian. nye­lenggara UN Tingkat Satuan Pen­
l. Jika sudah lewat dari satu tahun didikan.
LJUN dapat dimusnahkan. e) menyaksikan serah terima bahan
ujian dari Sekolah/Madrasah kepada
G. BAGIAN IV. PELAKSANAAN para Pengawas ruangan ujian;
UJIAN NASIONAL f ) memeriksa amplop soal cadangan
di tingkat sekolah/madrasah dan
1. Ketentuan Bagian IV. C (Pengawas Ruang ha­nya dibuka bila diperlukan untuk
UN) nomor 1 yang berbunyi:“Dinas Pen­di­ mengganti soal yang cacat.
dikan kabupaten/kota bersama perguruan g) menyaksikan serah terima LJUN
tinggi sebagai penyelenggara UN Tingkat dalam amplop yang telah dilak dari
Kabupaten/Kota menetapkan pengawas Pengawas Ruang ke Penyelenggara
ruang UN di tingkat sekolah/madrasah” UN Tingkat Satuan Pendidikan;
diubah sehingga berbunyi sebagai h) mendampingi dan menyaksikan
berikut: Perguruan tinggi menetapkan Serah Terima LJUN dari sekolah/
pe­ngawas ruang UN di tingkat sekolah/ madrasah ke Penyelenggara UN
madrasah berdasarkan masukan dari Tingkat Kabupaten/Kota.
Dinas Pendidikan dan Kandepag kabu­
paten/kota sebagai penyelenggara UN 3. Setelah UN dilaksanakan
Ting­kat Kabupaten/Kota. a) memantau pengiriman LJUN dari
2. Ditambah Bagian IV F (Peranan Pengawas sekolah/madrasah ke Penyelenggara
Satuan Pendidikan) sebagai berikut: UN Tingkat Kabupaten/Kota;
b) melaporkan pelaksanaan kegiatan
F. Peranan Pengawas Satuan Pendidikan pemantauan ke penyelenggara UN
Ting­kat Kabupaten/Kota, dengan
1. Sebelum UN dilaksanakan melam­pirkan isian lembar kerja.
b) mempelajari Permendiknas tentang
UN dan POS UN; H. BAGIAN X. SANKSI
c) melapor kepada Penyelenggara UN
di Tingkat Sekolah/Madrasah; Ditambahkan jenis kecurangan atau
d) mengikuti rapat-rapat yang diseleng­ pelanggaran dan sanksi ujian nasional (no­
garakan oleh Penyelenggara Tingkat mor 6) sebagai berikut:
Sekolah/Madrasah.
7. Jenis kecurangan atau pelanggaran dan
2. Selama UN Berlangsung sanksi ujian nasional adalah sebagai
a) menyaksikan dan menandatangi be­ berikut:
rita acara serah terima bahan ujian
dari Penyelenggara Ujian Nasional
Ting­kat Kabupaten ke Sekolah/
Madrasah;
b) menyaksikan penyimpanan bahan
ujian dari Penyelenggara UN Tingkat
Sekolah/Madrasah kepada petugas
keamanan penyimpanan;
c) memeriksa kelayakan dan keamanan

Vol. V/No. 1/Maret 2010 21


No Pelaku Jenis Kecurangan/Temuan Sanksi/
Tindakan
1. Siswa Siswa menggunakan HP di ruang ujian setelah Tidak lulus pada
dilakukan pemeriksaan dan peringatan mata pelajaran yang
Siswa menyebarkan dan/atau membawa dan bersangkutan.
menggunakan jawaban soal UN ketika UN
berlangsung di ruang UN
Siswa bekerja sama dalam satu ruang ujian
setelah diberi peringatan sampai tiga kali oleh
pengawas
2. Guru Guru mengedarkan jawaban secara langsung Sesuai PP Nomor 30
Guru menyebarkan jawaban melalui SMS tahun 1980 tentang
Guru mata pelajaran yang diujikan berada di Peraturan Disiplin PNS
lingkungan sekolah
Guru mengerjakan jawaban soal cadangan di
sekolah
Guru menawarkan soal dan jawaban
3. Penyelenggara UN Penyelenggara UN di sekolah mengganti Kalau kesalahan bukan
Satuan Pendidikan lembar jawaban pada siswa ujian
diulang
Penyelenggara UN menyimpan bahan soal Diberi peringatan dan
di satuan pendidikan tanpa dijaga aparat, dilaporkan ke Itjen
sementara kunci ruangan dipegang oleh
kepala sekolah/madrasah

Penyerahan LJUN terlambat Dibuat berita acara dan


diberi peringatan
Anggota penyelenggara UN mengedarkan Dibuat berita acara dan
presensi pengawas ujian masuk ke ruang UN diberi peringatan
Soal cadangan dibuka oleh penyelenggara UN Dibuat berita acara dan
dilaporkan ke Itjen
4. Pengawas Ruang Pengawas ruang ujian tidak melem/melak Diberi peringatan dan
Ujian amplop LJUN di ruang ujian dibuat berita acara
Pengawas membaca sisa soal dalam ruang Diberi peringatan
ujian
Pengawas bercakap-cakap dalam ruang ujian Diberi peringatan
yang mengganggu suasana ujian
Pengawas membiarkan peserta ujian Diberi peringatan dan
bekerjasama dibuat berita acara
Pengawas membantu memberikan jawaban Diberi peringatan dan
kepada peserta UN dibuat berita acara
Pengawas mengerjakan sesuatu di luar tugas Diberi peringatan
dan fungsi kepengawasan di ruang ujian
5. Percetakan Jumlah naskah soal atau LJUN kurang Diberi peringatan
Melayout ulang master soal Diblock list
Salah pengepakan naskah UN, misalnya di Diblock list
sampul naskah soal Matematika ternyata di
dalamnya soal Bahasa Indonesia
Tidak mengikuti ketentuan pencetakan dalam Diblock list
POS Pencetakan UN

22 Vol. V/No. 1/Maret 2010


Selamat Menempuh

Ujian Nasional (UN) dan


Ujian Akhir Sekolah
Berstandar Nasional
(UASBN)
Tahun Pelajaran 2009/2010

Mari kita melaksanakan UN dan UASBN


dengan penuh kejujuran dan prestasi

BSNP

Vol. V/No. 1/Maret 2010 23


24 Vol. V/No. 1/Maret 2010