Anda di halaman 1dari 2

Iseng-iseng dari Bunga Kenanga

Saat itu Yayat masih berumuran 7 tahunan. Pada hari itu,


di kebun yang sepi Yayat terus mengumpulkan bunga kenanga.
Sebenarnya ia tak suka dengan bunga, lantas untuk apa ia
punguti bunga itu? Apalagi itu adalah bunga kenanga yang di
ambil dari tempat pohon angker di desanya .
Tanpa dia sadari di belakang tidak jauh dari ia berada telah
berdiri seorang nenek-nenek yang memecah suara dengan
melontarkan kata-kata.
“Nak, cepet pulang sana!, jangan main disekitar itu,
angker….!” Yayat langsung membalikkan tubuhnya kea rah
sumber suara.
“Waduh… Mbok Darmi!” bisik Yayat dalam hati.
Tanpa bosa-basi ia berlari menghilang begitu saja, dan tak
lupa membawa bunga yang telah ia punguti dengan susah payah
dari kebun mbok Darmi. Kemudian Yayat merangakai bunga itu
menjadi sebuah kalung yang cukup ia pakai di lehernya. Ia lepas
kalung itu dan menyimpannya di kamar, tepat di bawah bantal di
atas tempat tidurnya.
Rupanya Yayat telah merencanakan sesuatu, ia ingin
membuktikan tahayul yang menyebar di desanya. Konon jika
bunga itu dipakai untuk tidur, maka mahkluk besar hitam dan
menyeramkan akan mengganggu tidurnya.
Malam yang telah Yayat tunggu-tunggu itu telah tiba.
Yayat sengaja tidur lebih awal, karena ia ingin cepat-cepat
membuktikan kebenaran tahayul itu.
Yayat mulai merebahkan tubuhnya. Pikirannya melayang-
layang tak karuan. Perasaan yang tidak nyaman mulai
membayanginya. Ia mulai tidak percaya diri. Apalagi suasana
malam itu begitu begitu pengap dan sunyi. Ranting-ranting
pohon yang terkena angin terdengar memukul-mukul atap
rumahnya. Menambah mencengkram perasaan tidak enak. Yayat
memutuskan menghentikan acaranya itu, karena perasaan takut
sangat menghantuinya. Tetapi belum sempat ia beranjak dari
temppat tidurnya, lampu di rumahnya padam. Jantung Yayat
terentak kaget, seakan berhenti sedetik untuk merasakan
ketegangan saat itu. Yayat mencoba menenangkan dirinya. Ia
mulai memperhatikan dan merasakan yang ada di sekelilingnya,
namun kegelapan menutupi pandangannya.
“Krieeet…..”. Bunyi pintu yang dibuka dengan cara yang
halus dan perlahan.
“ astghfirullah haladzim!” kata-kata yang keluar dari mulut
Yayat.
Tiba-tiba Yayat merasakan sesuatu yang menuju dan
mendekati Yayat. Sesosok bayangan yang tidak jelas dilihat
Yayat. Ia membawa sesuatu di salah satu tangannya.

Cerpen Pengalaman oleh Eko Pamungkas XIIA2 - 13 1


“Ampun-ampun?”. Bisik-bisik yang diucapkan mulut Yayat.
Yayat terpojok dalam sudut kamarnya. Keringat dingin
terus keluar dari tubuhnya. Tiba-tiba bayangan itu
menodongkan sesuatu benda di tangannya ke arah Yayat,
bersamaan dengan cahaya yang menyorot kearah mukanya.
“AAaaa………..mpuuuuun!!!”. Yayat berteriak sekeras-
kerasnya untuk melepaskan rasa takut dan terkejutnya.
“Tenang nak ini Papa….”.
“Papa…?”. Balas Yayat dengan sedikit rasa tidak percaya.
Ia langsung memeluk erat tubuh Papanya. Ia telah merasa
agak tenang. Rupanya beliau telah memahami ketakutan yang
dirasakan anaknya. Kemudian mereka duduk berhadapan. Yayat
menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan ia kerjakan,
walaupun dalam keadaan lampu mati……
Sejak itulah si Yayat tidak mau mencoba hal-hal mistis
seorang diri. Baying-bayang hal itu pun masih teringat sampai
sekarang.

Cerpen Pengalaman oleh Eko Pamungkas XIIA2 - 13 2