Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU REPRODUKSI TERNAK


ANATOMI DAN HISTOLOGI REPRODUKSI JANTAN

Disusun oleh :

Dhayu Dwi Purnamasari


09/285329/PT/5717
Kelompok : VIII

Asisten : Kiki Indah Lindawati

LABORATORIUM FISIOLOGI DAN REPRODUKSI TERNAK


BAGIAN REPRODUKSI TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2010
PENDAHULUAN

Reproduksi atau perkembangbiakan merupakan bagian dari ilmu


fisiologi. Secara umum reproduksi baru dapat berlangsung setelah hewan
mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin, dan hal ini diatur oleh
kelenjar-kelenjar endokrin dan hormon yang dihasilkan dalam tubuh
hewan. Hewan tingkat tinggi, termasuk ternak, bereproduksi secara
seksual, dan proses reproduksinya meliputi beberapa tingkatan fisiologik
yang meliputi fungsi-fungsi yang sangat komplek dan terintegrasi antara
proses yang satu dengan yang lainnya.
Organ-organ reproduksi jantan ini juga berhubungan erat dengan
saluran pengeluaran urine, yang terdiri dari ginjal dan vesica urinearia
serta saluran-salurannya sehingga secara alamiah apabila urine akan
dikeluarkan melalui penis maka katup pada keluarnya spermatozoa akan
menutup, begitu pula sebaliknya. Dengan demikian, jarang sekali terjadi
adanya kelainan pada saluran-saluran tempat pembuangan urine dan
spermatozoa karena sudah diatur sedemikian rupa.
Tujuan dari praktikum ini adalah, untuk mengetahui bagian-bagian
baik secara anatomi maupun histologi dari alat reproduksi ternak jantan,
fungsi dari masing-masing alat reproduksi ternak jantan, dan mengetahui
faktor-faktor yang mempengaruhi ukuran dan masing-masing alat
reproduksi ternak jantan.
Tinjauan Pustaka
Testes
Testes (testikel) agak bervariasi dari spesies ke spesies dalam hal
bentuk, ukuran dan lokasi, tetapi struktur dasarnya adalah sama. Sel
sperma dihasilkan oleh tubulus semineferus yang terdapat di dalam testis
yang berwarna kuning. Testis tersusun atas banyak sekali tubulus
semineferus yang dikelilingi oleh kapsul berserabut atau trabekula
melintas masuk dari tunica albuginea untuk membentuk kerangka atau
stroma, untuk mendukung tubulus semineferosa. Trabekula ini bergabung
membentuk korda fibrosa, yaitu mediastinum testis. Rete testis terdiri dari
saluran-saluran yang beranastomose dalam mediasinum testis. Saluran-
saluran ini terletak di antara tubulus semineferosa dan duktuli eferen yang
berhubungan dengan ductus epididymis dalam kepala epididymis
(Frandson, 1992).

Scrotum
Kantong scrotum terdiri dari beberapa lapisan. Dari luar, lapisan
pertama adalah kulit diliputi oleh bulu dan kelenjar keringat didalamnya.
Lapisan kedua adalah tunica dartos yang terletak sangat rapat dengan
kulit, kecuali pada bagian dorsal dari kantong scrotum. Lapisan ini terdiri
dari urat daging licin dan tenunan pengikat. Lapisan ketiga adalah tunica
vaginalis yang mempunyai pelebaran sampai peritoneum dari rongga
perut. Tunica vaginalis mempunyai dua lapisan yaitu lapisan visceral yang
membungkus testis dan epididymis dan lapisan pariental yang bersatu
dengan rongga scrotum. Tunica vaginalis mengeluarkan cairan pelicin.
Tunica albuginea yang mengadakan penjuliran ke dalam sehingga
membagi testis menjadi banyak lobus adalah lapisan paling dalam
(Handjopranjoto, 1995).
Tunica albuginea merupakan kapsula yang padat, terdiri dari
jaringan ikat padat tidak teratur. Materi utamanya adalah serabut kolagen
dan sedikit serabut elastis (Dellman dan Brown, 1992).
Epididymis
Kepala epididymis melekat pada bagian ujung dari testis dimana
pembuluh-pembuluh darah dan syaraf masuk. Badan epididymis sejajar
dengan aksis longitudinal dari testis dan ekor epididymis selanjutnya
menjadi ductus deferens yang rangkap dan kembali ke daerah kepala, di
mana kemudian sampai ke korda spermatik (Frandson, 1992). Fungsi
epididymis adalah sebagai tempat deposisi (penyimpanan) spermatozoa.
Sebagian besar disimpan pada cauda epididymis,, dimana spermatozoa
terkonsentrasi di bagian yang mempunyai lumen besar, kemudian
ditansportasikan dari bagian caput epididymis menuju bagian cauda
epididymis (Nuryadi, 2000).

Ductus Deferens
Ductus deferens merupakan kelanjutan dari ductus epididymis yang
setelah membuat lengkung tajam pada ujung ekor, kemudian berlanjut
lurus membentuk ductus deferens. Ujung terminal ductus deferens
membentuk ampula, mengandung kelenjar tubuloalveolar bercabang
sederhana dalam propria-submukosa (Dellman dan Brown, 1992).

Kelenjar tambahan
Kelenjar vesicularis disebut juga sebagai kelenjar seminal vesicles,
merupakan sepasang kelenjar yang mempunyai lobuler, mudah dikenali
karena mirip segerombol anggur, berbonggol-bonggol. Panjang kelenjar
ini sama pada beberapa jenis ternak seperti kuda, sapi dan babi yaitu
berkisar 13 sampai 15 cm. Sekresi kelenjar vesicular mengandung
beberapa campuran organik yang unik, yakni tidak dijumpai pada
substansi-substansi lain di mana saja ada tubuh. Campuran-campuran
anorganik ini di antaranya adalah fruktosa dan sorbitol, merupakan
sumber energi utama bagi spermatozoa sapi dan spermatozoa domba,
tetapi pada kuda dan babi konsentrasinya rendah. Sekresi kelenjar
vesicula juga mengandung dua larutan buffer, yaitu phosphate dan
carbonate buffer yang penting sekali dalam mempertahankan pH semen
agar tidak berubah, karena jika terjadi perubahan pH semen, hal ini dapat
berakibat jelek bagi spermatozoa (Nuryadi, 2000). Sedangkan menurut
Santoso (2010) sekresi kelenjar vesicula dapat diperoleh dengan mudah
postmortem dan merupakan suatu cairan keruh dan lengket. Sekresi
tersebut mengandung protein, kalium, asam sitrat, fruktosa dan beberapa
enzim dalam konsentrasi yang tinggi; kadang berwarna kuning karena
mengandung flavin. pHnya berkisar antara 5,7 sampai 6,2.
Kelenjar prostata sapi mengelilingi urethra dan terdiri dari dua
bagian: badan prostate dan prostate disseminatae atau prostate yang
cryptic. Badan prostate berukuran lebar 2,5 sampai 4 cm dan tebal 1,0
sampai 1,5 cm. Pars disseminate mengelilingi urethra pelvis. Di dorsal
ukurannya mencapai tebal 1,0 sampai 1,5 cm, panjang sampai 10 sampai
12 cm dan tertutup oleh otot uretra (Santoso, 2010).
Kelenjar cowperi terdapat sepasang, berbentuk bundar, kompak,
berselubung tebal dan pada sapi sedikit lebih kecil daripada kelenjar
cowperi kuda yang berukuran panjang 1,5 sampai 2 cm dan tinggi 2,5
sampai 5 cm. Kelenjar tersebut terletak di atas urethra dekat jalan
keluarnya dari cavum pelvis. Saluran sekretoris dari setiap kelenjar
bergabung membentuk satu saluran ekskretoris yang panjangnya 2
sampai 3 cm. Kedua saluran ekskretoris kelenjar cowperi mempunyai
muara kecil terpisah di tepi lipatan mukosa urethra (Santoso, 2010).
Sekresi kelenjar bulbouretheralis pada cairan semen hanya sedikit. Pada
sapi, sekresi kelenjar bulbourethralis membersihkan sisa-sisa urine yang
ada dalam urethra sebelum terjadi ejakulasi (Nuryadi, 2000).

Urethra
Urethra merupakan sebuah saluran tunggal yang membentang dari
persambungan dengan ampulla sampai ke pangkal penis. Fungsi urethra
adalah sebagai saluran kencing dan semen. Pada sapi dan domba
selama ejakulasi terjadi percampuran yang kompleks antara spermatozoa
yang padat asal ductus deferens dan epididymis dengan cairan sekresi
dari kelenjar-kelenjar tambahan dalam urethra yang berada di daerah
pelvis menjadi semen (Nuryadi, 2000).

Penis
Penis kurang lebih silinder pada semua hewan. Di depan scrotum,
penis terletak di dalam praeputium. Bagian ujung penis disebut gland
penis yang terletak bebas di dalam praeputium. Penis sapi dan domba
mempunyai lekukan berbentuk sigmoid di depan scrotum. Lekukan
sigmoid ini akan hilang dan berubah menjadi lurus apabila terjadi ereksi.
Badan-badan penis disusun oleh corpus cavernosum penis yang
mempunyai kapsul berurat tebal, tunica albuginea. Di bagian bawah pada
legokan yang agak besar pada corpus cavernosum penis terdapat ureter
yang dikelilingi oleh cavernosum urethra (Santoso, 2010).

Praeputium
Kata prepuce atau preputeum mempunyai arti sama dengan sarung
adalah ivaginato dari kulit yang membungkus secara sempurna pada
ujung bebas dari penis (Nuryadi, 2000). Bagian cranial penis dan gland
penis terletak dalam kantung terdiri dari lipatan kulit berbentuk buluh,
disebut praeputium, yang terdiri dari bagian luar dan bagian dalam
(Dellman dan Brown, 1992).
Ada beberapa faktor yang dapat memperberat terjadinya kelainan
genetik pada alat kelamin, seperti bangsa ternak, lokasi geografis dari
peternakan, musim, jenis kelamin, umur induk, dan beberapa macam zat
bersifat racun yang masuk dalam tubuh melalui pakan. Faktor genetik
yang menimbulkan kemajiran mencapai 0,2 sampai 3% dari seluruh kasus
kemajiran yang dilaporkan. Kelainan genetik ini selain mempengaruhi
bentuk alat kelamin juga fungsi alat kelamin menjadi berkurang atau
hilang sama sekali (Hardjopranjoto, 1995).
MATERI DAN METODE

Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum anatomi dan histologi
reproduksi jantan ini antara lain pita ukur, pisau bedah, gunting bedah,
mikroskop cahaya, preparat histologi testis, ductus epididymis, ductus
deferens, penis.
Bahan. Bahan yang digunakan pada praktikum anatomi reproduksi
jantan ini antara lain preparat basah organ reproduksi jantan ternak sapi.

Metode
Organ reproduksi sapi jantan diamati untuk kemudian diketahui
fungsi dari masing-masing organ reproduksi sapi jantan tersebut. Masing-
masing bagian organ reproduksi dibedakan, lalu dilakukan pengukuran
dengan seksama menggunakan pita ukur atau mistar ukur pada masing-
masing bagiannya. Selain itu organ reproduksi juga ditimbang
menggunakan timbangan.
Semua hasil pengukuran dicatat pada kertas kerja. Organ
reproduksi sapi jantan yang telah diamati, diketahui fungsi dari masing-
masing bagiannya, diukur, serta ditimbang beratnya.
Bagian-bagian yang diamati adalah : sel interstitial, sel Sertoli, dn
tubulus seminiferus pada histologi testis. Pembuluh darah dan lumen
epididymis pada histologi epididymis. Lumen, muscular circulair, sel
epithel, lamina propria, musculus longitudinal dalam, musculus
longitudinal luar, dan tunica serosa pada histologi Ductus Deferens.
Corpus cavernosum penis, tunica albuginea, urethra, dan corpus
cavernosum urethra (corpus spongiosum penis) pada histologi penis.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Gonad jantan atau testes


Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan testis memiliki panjang
20 cm, tebal 7 cm, keliling 17 cm, dan berat 200 gram. Testis pada sapi
mempunyai panjang berkisar 10 sampai 13 cm, lebar berkisar 5 sampai
6,5 cm dan beratnya 300 sampai 400 gram (Santoso, 2010). Frandson
(1992) berpendapat bahwa, testes (testikel) agak bervariasi dari spesies
ke spesies dalam hal bentuk, ukuran dan lokasi, tetapi struktur dasarnya
adalah sama. Sel sperma dihasilkan oleh tubulus semineferus yang
terdapat di dalam testis yang berwarna kuning. Testis tersusun atas
banyak sekali tubulus semineferus yang dikelilingi oleh kapsul berserabut
atau trabekula melintas masuk dari tunica albuginea untuk membentuk
kerangka atau stroma, untuk mendukung tubulus semineferus. Trabekula
ini bergabung membentuk korda fibrosa, yaitu mediastinum testis. Testis
terdiri dari saluran-saluran yang beranastomose dalam mediasinum testis.
Saluran-saluran ini terletak di antara tubulus semineferosa dan duktuli
eferen yang berhubungan dengan ductus epididymis dalam kepala
epididymis. Pada keadaaan normal, kedua testes adalah sama besar,
mempunyai konsistensi ketat tetapi tidak keras, dan dapat dengan bebas
bergerak ke atas dan ke bawah di dalam scrotum (Santoso, 2010).
Tunica albuginea merupakan kapsula yang padat, terdiri dari
jaringan ikat padat tidak teratur. Materi utamanya adalah serabut kolagen
dan sedikit serabut elastic. Banyak cabang arteria serta vena testikularis
membentuk lamina vaskulosa. Lapis ini berada cukup dalam pada tunica
albuginea babi dan kuda, dan superfisialis pada anjing dan domba.
Jaringan ikat yang mengisi ruang intertubula mengandung pembuluh
darah dan limfe, fibrosit, sel-sel mononuclear bebas dan sel-sel interstitial
endrokin (sel Leydig) (Dellman and Brown, 1992).
Sel Leydig ini menghasilkan hormon androgen testicular
(testosteron) pada babi jantan, juga mengandung banyak hormon
estrogen. Jumlah sel interstitial bervariasi pada spesies yang berbeda,
dan tergantung pula pada umur hewan. Pada sapi jantan dewasa, sel-sel
interstitial cukup banyak hampir 7% dari seluruh volume testis dan
jumlahnya lebih banyak lagi pada babi jantan (20-30% dari jaringan testis
dewasa) dan kuda jantan dewasa (Dellman and Brown, 1992). Tubuli
seminiferi konvoluti berbentuk buluh yang berliku-liku dengan diameter
200 sampai 400 μm dibalut oleh epitel banyak lapis mengandung dua
jenis sel dasar yang berbeda, yakni sel penunjang (sel Sertoli) dan sel-sel
spermatogenik (Dellman and Brown, 1992).
Fungsi testis antara lain menghasilkan spermatozoa dan
menghasilkan hormon androgen. Menurut Frandson (1992) testis
menghasilkan spermatozoa (sel-sel kelamin jantan, juga disebut sperma)
dan terstosteron atau hormon kelamin jantan. Fungsi testis juga sesuai
dengan pendapat Dellman dan Brown (1992), bahwa sel leydig
menghasilkan hormon androgen testicular (testosteron) pada babi jantan,
juga mengandung banyak hormon esterogen.

Tubulus
seminiferus
Testis
Visceral
vaginal
tunic

Tunica
albuginea

(Anonim, 2010)
Gambar 1. Testis

Scrotum (kantong testes)


Scrotum adalah kulit berkantong yang ukuran, bentuk dan
lokasinya menyesuaikan dengan testis yang dikandungnya. Kulit scrotum
sangat tipis, lembut dan relatif kurang berambut. Selapis jaringan
fibroelastik bercampur dengan serabut otot polos disebut tunica dartos.
Lapisan berikutnya adalah tunica vaginalis propia dan lapisan paling
dalam adalah tunica albuginea. Menurut Dellmann dan Brown (1992 )
tunica albuginea merupakan kapsula yang padat, terdiri dari jaringan ikat
padat tidak teratur. Materi utamanya adalah serabut kolagen dan sedikit
serabut elastik.
Fungsi scrotum selain menyokong juga mengatur temperatur testis
dan epididymis supaya tetap pada temperatur 4°C sampai 7 °C lebih
rendah dari temperatur tubuh. Suhu testes yang relatif konstan, 4 sampai
7°C dibawah suhu tubuh pada hewan jantan normal, dipertahankan oleh
fungsi thermogulatoris otot tunica dartos.

Epididymis
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapat berat
epididymis adalah 30 gram. Epididymis terdiri dari caput (kepala)
epididymis, corpus (badan) epididymis, cauda (ekor) epididymis. Hal itu
sesuai dengan pendapat Frandson (1992), bahwa kepala epididymis
melekat pada bagian ujung dari testis dimana pembuluh-pembuluh darah
dan syaraf masuk. Badan epididymis sejajar dengan aksis longitudinal dari
testis dan ekor epididymis selanjutnya menjadi ductus deferens yang
rangkap dan kembali ke daerah kepala, di mana kemudian sampai ke
korda spermatik.
Epididymis mamalia merupakan alat kelamin aksesori dinamik,
tergantung pada androgen tertikularis untuk memelihara status
diferensiasi epitel. Terdiri dari sejumlah (8 sampai 25) duktuli eferentes
dan ductus epididymis yang panjang dan berliku-liku. Secara
makroskopik, epididymis terdiri dari kepala, badan dan ekor terbungkus
oleh tunica albuginea tebal yang terdiri dari jaringan ikat pekat tidak
teratur, dibalut oleh lapis viseral tunica vaginalis (Dellman and Brown,
1992).
Epididymis mempunyai empat fungsi yaitu pengangkutan,
penyimpanan, pemasakan dan pengentalan konsentrasi sperma. Struktur
ini yang panjangnya diperkirakan sekitar 40 meter berperan untuk
menyalurkan sperma dari testis ke kelenjar kelamin aksesoris. Disini, air
diserap kembali guna meningkatkan konsentrasi. Pemasakan dicapai
karena ekskresi sel dan sperma disimpan terutama pada epididymis
bagian caudal (Blakely dan Bade, 1991).
Lumen
Pseudostratifi
Caput ed columnar
epithelium
Jewith
Corpus stereocilia (a
class of
Cauda microvilli)
Loose CT

Small artery

(Anonim, 2010)
Gambar 2. Anatomi dan Histologi Epididymis
Ductus deferens
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan ductus deferens
memiliki panjang 23 cm dan ampulla ductus deferens memiliki panjang 6
cm dan lebar 1 cm. Ductus deferens merupakan saluran lanjutan dari
epididymis. Di ujung ductus deferens saluran lambat laun membesar dan
disebut ampulla ductus deferens. Pembesaran ini terjadi karena adanya
kelenjar-kelenjar yang ada di dinding ductus deferens, sedangkan
lumennya sedikit meluas. Menurut Dellmann dan Brown (1992) ductus
deferens merupakan kelanjutan dari ductus epididymis yang setelah
membuat lengkung tajam pada ujung ekor, kemudian berlanjut lurus
membentuk ductus deferens. Ujung terminal ductus deferens membentuk
ampulla, mengandung kelenjar tubuloalveolar bercabang sederhana
dalam propria-submukosa.
Lipatan mukosa ductus deferens dibalut oleh epitel silinder banyak
lapis, sebelum mencapai akhir saluran, epitel berubah menjadi silinder
sebaris (Dellman and Brown, 1992).
Sel-sel basal yang berbentuk bulat atau polihedral menyebar
secara tidak teratur di antara sel-sel silinder. Pada ruminansia, epitel
kelenjar mengandung banyak glikogen, dan sel-sel basal mengandung
butir lipid dalam berbagai ukuran. Butir lipid juga terdapat pada sel-sel
silinder pada sapi. Lipid pada sel-sel basal bangsa sapi dapat bergabung
dan memberikan kesan bahwa sel tersebut adalah sel lemak (Dellman
and Brown, 1992).
Tunica muscularis pada bagian terminal ductus deferens terdiri dari
susunan bervariasi dari berkas otot polos, yang dikelilingi oleh jaringan
ikat dengan banyak pembuluh darah dari tunica adventicia (Dellman and
Brown, 1992).
Lumen bagian ductus deferens yang berkelenjar dan celah lebar
dari kelenjar ke dalam lumen mengandung sejumlah spermatozoa pada
semua hewan piaraan. Pada sapi terdapat jumah spermatozoa yang
cukup untuk paling tidak satu kali ejakulasi normal, setelah dilakukan
kastrasi atau vasektomi (Dellman and Brown, 1992).
Lumen
Ampulla
Ductus
Deferens Pseudostratifie
d columnar
Ductus epithelium
Deferens

Muscularis

Serosa

(Anonim, 2010)
Gambar 3. Anatomi dan Histologi Ductus Deferens

Kelenjar Vesicularis
Berdasarkan pengukuran yang telah dilakukan saat praktikum
panjang kelenjar vesicularis adalah panjang 10 cm, lebar 3 cm, tinggi 1 cm
dan berat 25 gram. Frandson (1992) berpendapat bahwa kelenjar
vesikuler (vesikula seminalis) adalah sepasang kelenjar yang biasanya
bermuara dengan ductus deferens melalui bermacam-macam ductus
ejaculatory ke dalam urethra pelvic kemudian ke caudal leher kandung
kemih. Vesikula seminalis pada sapi jantan, domba jantan, dan babi
merupakan kelenjar berbentuk lobus-lobus dengan ukuran yang cukup
besar.
Sekresi kelenjar vesicular mengandung beberapa campuran
organik yang unik, yakni tidak dijumpai pada substansi-substansi lain di
mana saja ada tubuh. Campuran-campuran anorganik ini di antaranya
adalah fruktosa dan sorbitol, merupakan sumber energi utama bagi
spermatozoa sapi dan spermatozoa domba, tetapi pada kuda dan babi
konsentrasinya rendah. Sekresi kelenjar vesicularis juga mengandung dua
larutan buffer, yaitu phosphate dan carbonate buffer yang penting sekali
dalam mempertahankan pH semen agar tidak berubah, karena jika terjadi
perubahan pH semen, hal ini dapat berakibat jelek bagi spermatozoa
(Nuryadi, 2000). Sedangkan menurut (Santoso, 2010) sekresi kelenjar
vesicularis dapat diperoleh dengan mudah postmortem dan merupakan
suatu cairan keruh dan lengket. Sekresi tersebut mengandung protein,
kalium, asam sitrat, fruktosa dan beberapa enzim dalam konsentrasi yang
tinggi; kadang berwarna kuning karena mengandung flavin. pHnya
berkisar antara 5,7 sampai 6,2.

Kelenjar Prostata
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan kelenjar 13prostata
memiliki panjang 6 cm, dan lebar 4 cm. Di dorsal ukurannya mencapai
tebal 1,0 sampai 1,5 cm, panjang sampai 10 sampai 12 cm dan tertutup
oleh otot urethra (Santoso, 2010).
Kelenjar ini pada sapi terdapat sepasang, dibedakan menjadi dua
bagian yaitu corpus prostata yang kelihatan dari luar berbentuk bulat dan
letaknya di belakang kelenjar vesicularis. Kelenjar prostata bagian kedua
adalah pars disseminate prostata yang letaknya tersebar kebelakang
sampai kelenjar Cowperi di bawah muscular urethra. Menurut Dellmann
dan Brown (1992) kelenjar prostata merupakan kelenjar tubuloalveolar,
berkembang dari epitel urethra pelvis. Secara topografik dibedakan dua
bagian, yaitu bagian padat kelenjar atau bagian luar (corpus prostatae)
dan bagian yang menyebar atau bagian dalam (pars disseminate
prostatae) bagian luar adalah yang hampir mengitari seluruh urethra
pelvic di daerah coliculus seminalis, dan yang menutup bagian dorsalnya
saja. Pars disseminate terletak dalam propia-submukosa urethra pelvic.
Menurut Frandson (1992) kelenjar prostata menghasilkan sekresi
alkalin yang membantu memberikan bau yang karakteristik pada cairan
semen, sedangkan Dellman dan Brown (1992) berpendapat salah satu
fungsi kelenjar prostata adalah menetralisasikan plasmamani, membuat
asam dengan akumulasi metabolit karbondioksida dan asam laktat, dan
untuk merangsang gerak aktif spermatozoa dalam ejakulat.

Kelenjar Cowperi (Glandula Bulbouretheralis)


Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan kelenjar
bulbouretheralis memiliki panjang 1,5 cm, lebar 1 cm, tinggi 1 cm, dan
berat 10 gram. Kelenjar cowperi terdapat sepasang, berbentuk bundar,
kompak, berselubung tebal dan pada sapi sedikit lebih kecil daripada
kelenjar cowper kuda yang berukuran panjang 1,5 sampai 2 cm dan tinggi
2,5 sampai 5 cm. Kelenjar tersebut terletak di atas urethra dekat jalan
keluarnya dari cavum pelvis. Saluran sekretoris dari setiap kelenjar
bergabung membentuk satu saluran ekskretoris yang panjangnya 2
sampai 3 cm. Kedua saluran ekskretoris kelenjar cowperi mempunyai
muara kecil terpisah di tepi lipatan mukosa urethra (Santoso, 2010).
Menurut Dellman dan Brown (1992) terdapat sepasang kelenjar
bulbouretheralis (kelenjar Cowper) terletak dorsolateral urethra dalam
rongga pelvis. Kelenjar ini dibalut oleh kapsula bersifat fibroelastik,
mengandung sejumlah serabut otot kerangka. Hasil sekresi yang bersifat
mukus dan mirip protein kelenjar bulbourethralis, disekresikan mendahului
proses ejakulasi pada ruminansia, berperan menetralisasikan lingkungan
urethra dan melumasi urethra serta vagina.
Kelenjar-kelenjar cowperi terdapat sepasang, berbentuk bundar,
kompak, berselubung tebal dan pada sapi sedikit lebih kecil. Kelenjar-
kelenjar tersebut terletak di atas urethra dekat jalan keluarnya dari cavum
pelvis. Kelenjar cowperi memiliki fungsi untuk membersihkan dan
menetralisir urethra dari bekas urine dan kotoran-kotoran lainnya sebelum
ejakulasi (Hafez, 1993).

Gambar 4. Anatomi Kelenjar Cowperi


Urethra
Urethra adalah saluran dari tempat bermuaranya ampulla ductus
deferens sampai ujung penis. Urethra merupakan saluran urogenitalis
yang berfungsi sebagai saluran untuk lewatnya urine dan semen. Urethra
berada di belakang pelvis, tepatnya berada berdekatan dengan
lengkungan ischial, bentuknya seperti lengkungan, dan meninggalkan
bagian penis, tertutup di dalam corpus cavernosum urethra (Sisson dan
Grossman, 1991).

Gambar 5. Anatomi Urethra dan Cavernosum penis


Penis
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan penis memiliki
panjang 22 cm. Gland penis sangat bervariasi dari spesies ke spesies.
Pada sapi jantan mempunyai gland berbentuk helm yang disebut galea
glandis dan urethra eksternal berlubang, lalu membuka ke dalam suatu
lekukan (Frandson, 1996). Penis memiliki dua fungsi yaitu
menyemprotkan sperma ke dalam alat reproduksi betina (alat kopulasi)
dan untuk lewatnya urine. Penis sapi termasuk dalam tipe fibro-elastik dan
bersifat agak aku walaupun dalam keadaan tidak ereksi. Sebagian besar
badan penis pada keadaan tidak ereksi berbentuk huruf S (flexura
sigmoidea) yang berbeda di sebelah dorsocaudal scrotum. Bagian ujung
atau gland penis terletak bebas dalam praeputium. Badan penis terdiri dari
corpus cavernosum penis yang relative besar dan diseliputi oleh suatu
sung fibrosa tebal berwarna putih. Corpus cavernosum penis berfungsi
untuk merelaks otot saat ereksi, sedangkan musculus retractor penis
berfungsi menegangkan (kontraksi) otot saat ereksi. Musculus retractor
penis menyebabkan ereksi dengan daya pompa dan penekanan terhadap
bagian bulbus corpus cavernosum penis yang terletak di bawah otot
tersebut.
Ruang antara tunica albuginea dan jalinan trabekula diisi oleh
jaringan erektil. Relaksasi sel-sel otot menyebabkan penis memanjang
dan keluar dari selubung praeputiumnya yang sering terjadi pada saat
kencing (Dellman and Brown, 1992).
Ruang cavernosum menerima suplai utama darah dari arteri
berbentuk mengulir (helical arragement), sering disebut arteria helisine
(arteria helicinae). Secara khas, tunica intima arteria tersebut memiliki otot
polos berbentuk epiteloid yang tampak menonjol ke dalam lumen mirip
bukit atau tonjolan yang mempersempit sebagian dari lumen. Bila otot
polos tersebut mengendur, aliran darah ke dalam kaverna meningkat
nyata dan menyebabkan terjadinya ereksi. Ruang cavernosum
dikosongkan oleh venula, beberapa di antaranya mulai tampak memiliki
vena dinding tebal (Dellman and Brown, 1992).

Praeputium

Penis

(Anonim, 2010)
Gambar 6. Anatomi dan Histologi Penis
Praeputium
Praeputium merupakan alat pelindung penis dari pengaruh luar dan
kekeringan. Praeputium adalah suatu invaginasi berganda dari kulit yang
berisi dan menyelubungi bagian bebas penis sewakti tidak ereksi dan
menyelubungi badan penis caudal dari gland penis sewaktu ereksi. Pintu
luar praeputium disebut orificium preputii. Fornix praeputii adalah daerah
dimana praeputium bertaut dengan penis tepat caudal dari gland penis.
KESIMPULAN

Dari hasil praktikum diperoleh kesimpulan yaitu anatomi reproduksi


jantan yaitu meliputi testis, epididymis, ductus deferens, urethra, penis dan
kelenjar aksesori. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan didapat
berat epididymis adalah 30 gram. Berdasarkan praktikum yang telah
dilakukan testis memiliki panjang 20 cm, tebal 7 cm, keliling 17 cm, dan
berat 200 gram. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan ductus
deferens memiliki panjang 23 cm dan ampulla ductus deferens memiliki
panjang 6 cm dan lebar 1 cm. Berdasarkan pengukuran yang telah
dilakukan saat praktikum panjang kelenjar vesicularis adalah panjang 10
cm, lebar 3 cm, tinggi 1 cm dan berat 25 gram. Berdasarkan praktikum
yang telah dilakukan kelenjar prostata memiliki panjang 6 cm, dan lebar 4
cm. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan kelenjar bulbouretheralis
memiliki panjang 1,5 cm, lebar 1 cm, tinggi 1 cm, dan berat 10 gram.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan penis memiliki panjang 22
cm. Hasil pengukuran dengan literatur menunjukkan bahwa alat-alat
reproduksi jantan tersebut normal. Ada beberapa faktor yang dapat
memperberat terjadinya kelainan genetik pada alat kelamin, seperti
bangsa ternak, lokasi geografis dari peternakan, musim, jenis kelamin,
umur induk, dan beberapa macam zat bersifat racun yang masuk dalam
tubuh melalui pakan. Faktor genetik yang menimbulkan kemajiran
mencapai 0,2 sampai 3% dari seluruh kasus kemajiran yang dilaporkan.
Histologi jantan yang diamati adalah histologi testis, histologi
epididymis, histologi ductus deferens, dan histologi penis. Histologi testis
terdiri dari membran basement, sel interstitial yang berfungsi
menghasilkan sperma, sel Sertoli, dan tubulus seminiferus. Epididymis
histologinya terdiri dari lumen epididymis, ductus deferens dan pembuluh
darah. Ductus deferens terdiri dari lumen, musculus circulair, sel epithel,
lamina propria, musculus longitudinal dalam, musculus longitudinal luar,
tunica serosa. Penis terdiri dari corpus cavernosum urethra, corpus
cavernosum penis, tunica albuginea, dan urethra.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2010. Gambar Histologi Alat Reproduksi jantan. Available at


www.veterinaryhistology.com. Diakses tanggal 5 Desember 2010.
Blakely, J dan H. Bade. 1991. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University
Press. Yogyakarta.
Dellman, H. D. dan E. M. Brown. 1992. Buku Teks Histologi Veteriner.
Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta.
Frandson, R. D. 1992. Anatomi dan Fisiologi Ternak. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Hafez, E. S. E. 1993. Reproduction in Farm Animals. 6th Edition. Lea and
Febiger. Philadelphia.
Hardjopranjoto, S. 1995. Ilmu Kemajiran Pada Ternak. Airlangga
University Press. Surabaya.
Nuryadi. 2000. Dasar-dasar Reproduksi Ternak. Universitas Brawijaya.
Malang.
Santosa, B. W. 2010. Sistem Reproduksi Sapi termasuk Perbandingan
dengan Ruminansia Lainnya. Available at bimashraff.blogspot.
com. Diakses tanggal 22 Oktober 2010.
Sisson, S dan J. Grossman. 1991. The Anatomy of The Domestic
Animals. Fourth Edition Academic Press. Inc. Departement of
Animal Science. The Ohio State University Colombus, Ohio.
Widayati, D.T., Kustono, Ismaya, dan S. Bintara. 2008. Bahan Ajar ilmu
dan Reproduksi Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Gadjah
Mada. Yogyakarta.
LAMPIRAN

Alat reproduksi sapi simpo umur


2 tahun

Kelenjar prostate

Kelenjar Cowperi

Kelenjar vesicularis

Kelenjar Cowperi
Ampulla Ductus Deferens

Ductus Deferens

Urethra

Corpus cavernosum penis


Musculus retractor penis

Testis

Tunica albuginea
Tunica vaginalis propia
Tunica dartos

Tubulus Seminiferus

Mediastenum testis
Praeputium

Penis

Caput
Epididymis
Corpus

Cauda