Anda di halaman 1dari 40

Asuhan Keperawatan pada Ny.

B dengan Neoplasma Kulit (Karsinoma Sel Basal)

Disusun guna memenuhi salah satu tugas mata kuliah Sistem Integumen

Disusun oleh:
Annisaa Citra Jeihan 220110090069
Astri Mutiar 220110090043
Bayu Jaya Adiguna 220110090126
Cici Feby 220110090054
Dwi Murbarani 220110090108
Evelin Aprilianty 220110090040
Febrina Viselita 220110090084
Lusita Indrayani 220110090020
Muhammad Ridwan 220110090047
Novi Amelia 220110090059
Tarina Eka Putri 220110090112
Yani Sri Mulyani 220110090073

FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2010
DAFTAR ISI
Daftar Isi............................................................................................................... 1
Kasus..................................................................................................................... 2
Step I..................................................................................................................... 2
Step II.................................................................................................................... 2
Step III................................................................................................................... 3
Step IV.................................................................................................................. 5
Step V.................................................................................................................... 5
Step VII................................................................................................................. 11
1. Konsep Dasar Neoplasma........................................................................... 11
a. Pengertian Neoplasma........................................................................... 11
b. Klasifikasi Neoplasma.......................................................................... 11
c. Faktor Pencetus Neoplasma.................................................................. 18
2. Pembahasan Kasus...................................................................................... 18
a. Pengertian KSB..................................................................................... 18
b. Klasifikasi KSB..................................................................................... 18
c. Etiologi KSB......................................................................................... 20
d. Patogenesis KSB................................................................................... 21
e. Manifestasi Klinis KSB......................................................................... 21
f. Diagnosa Banding.................................................................................. 24
g. Komplikasi KSB................................................................................... 25
h. Pemeriksaaan Diagnostik...................................................................... 25
i. Penatalaksanaan..................................................................................... 25
j. Patofisiologi........................................................................................... 28
k. Asuhan Keperawatan............................................................................ 29
1. Pengkajian....................................................................................... 29
2. Analisa Data.................................................................................... 32
3. Diagnosa Keperawatan.................................................................... 33
4. Rencana Asuhan Keperawatan........................................................ 33

Daftar Pustaka....................................................................................................... 39

KASUS II

Ny. B (45 tahun) datang ke rumah sakit dengan keluhan penyakit pada kulitnya. Dari hasil
pemeriksaan fisik, ditemukan benjolan pada kulit wajah, leher, kepala, dan terlihat agak
mengkilat berwarna kemerahan dengan pinggiran yang berwarna agak kehitaman. Ditemukan
juga nevi dan pigmentasi pada beberapa bagian kulit dan wajahnya. Berdasrkan hasil wawancara
didapatkan data bahwa kulitnya mudah lecet danberdarah serta lukanya sulit sembuh. Ny. B juga
menyatakan bahwa ia bekerja di luar ruangan yang memungkinkan dirinya terpajan secara
langsung oleh matahari. Klien juga mengatakan malu dengan keadaannya saat ini.

STEP I

1. Nevi ( Febrina )
Jawab : Tahi lalat (Lusita)
2. Pigmentasi ( Annisaa)
Jawab : Proses perwarnaan kulit. (all)

STEP II

1. Diagnosa medis ? (Astri)


2. Kenapa ada benjolan pada kulit wajah, leher, dan kepala ? (Annisaa)
3. Apa hubungan sinar matahari dengan penyakit ini ? (Dwi)
4. Kenapa kulit Ny. B mudah lecet dan berdarah, serta lukanya sulit sembuh ? (Tarina)
5. Kenapa di kulit wajah, leher, dan kepala terdapat nevi dan pigmentasi ? (Yani)
6. Apa diagnosa banding dari penyakit ini ? (Evelin)
7. Kenapa pinggiran benjolan berwarna kehitaman ? (Lusita)
8. Apa etiologi dari penyakit ini ? (Febrina)
9. Apakah benjoan ini menyebabkan gatal ? (Cici)
10. Kenapa benjolan terlihat mengkilat dan berwarna kemerahan ? (Annisaa)
11. Apa faktor pemberat yang memperparah penyakit ini ? (Cici)
12. Apakah penyakit ini merupakan penyakit menular ? atau kelainan akibat dari sering
terpajan matahari ? (Cici)
13. Apakah nevi muncul saat terpajan matahari saja atau selalu ada ? (Yani)
14. Bagaiman peran perawat dalam menghadapi masalah psikologis klien ? (Cici)
15. Apa komplikasi dari penyakit ini ? (Annisaa)
16. Penatalaksanaan ? (Febrina)
17. Askep ? (Astri)
18. Bagaiman patofisiologi kasus ini ? (all)
19. Penkes apa yang harus diberikan untuk klien ? (all)
20. Apa manifestasi klinis dari penyakit ini ? (all)
21. Adakah kemungkinan nevi dan pigmentasi di tempat lainnya ? (Cici)
22. Apakah perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium pada klien ini ? jika ada, pemeriksaan
apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya ? (Febrina)
23. Apakah benjolan berisi cairan, serum, pus atau padat ? (Cici)

STEP III

1. Neoplasma kulit (all)


2. Terpajan sinar matahari kelainan sel membelah terus menerus benjolan (Lusita)
3. –
4. –
5. Karena daerah-daerah tersebut merupakan bagian tubuh yang sering terpajan matahari.
(Lusita)
6. –
7. –
8. Sinar matahari. (all)
9. Tidak menimbulkan gatal melainkan biasanya menimbulkan nyeri.
10. –
11.  sering terpajan sinar matahari langsung
mengenakan pakaian pendek (all)
12. –
13. Bukan hanya saat terpajan sinar matahari saja tetapi selalu ada. (all)
14. Educator (menjelaskan bagaimana pencitraan diri yang positif. (Novi)
15. Nekrosis.
16. –
17. –
18. –
19.  Menggunakan tabir surya (sunblock)
 Menggunakan pakaian tertutup
 Menggunakan topi dan scraf. (Astri)

 Jelaskan diagnosa penyakitnya pada klien


 Jelaskan mengenai penanganan penyakit yang di derita klien
 Jelaskan bagaimana pencegahan penyakit yang sekarang di derita oleh klien. (Cici)
20.  Terdapat benjolan agak mengkilat berwarna kemerahan dengan pinggiran kehitaman.
 Terdapat nevi dan pigmentasi
 Kulit mudah lecet dan berdarah. (all)
21. –
22. –
23. Benjolannya padat. (Evelin)
STEP IV ( mind map )

NONFARMAKOLOGI

PENCEGAHAN FARMAKOLOGI

PENATALAKSANAAN
DIAGNOSA BANDING
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

KOMPLIKASI
PROSES PIGMENTASI
DEFINISI
PENKES
NEOPLASMA KULIT ETIOLOGI

ASPEK LEGAL ETIK


KLASIFIKASI

PATOGENESIS MANIFESTASI KLINIS


PATOFISIOLOGI

ASKEP

PENGKAJIAN PERENCANAAN KEPERAWATAN

ANALISA DATA

STEP V (LO)
1. Nevi ?
2. Pigmentasi ?
3. Diagnosa medis ?
4. Kenapa ada benjolan pada kulit wajah, leher, dan kepala ?
5. Apa hubungan sinar matahari dengan penyakit ini ?
6. Kenapa kulit Ny. B mudah lecet dan berdarah, serta lukanya sulit sembuh ?
7. Kenapa di kulit wajah, leher, dan kepala terdapat nevi dan pigmentasi ?
8. Apa diagnosa banding dari penyakit ini ?
9. Kenapa pinggiran benjolan berwarna kehitaman ?
10. Apa etiologi dari penyakit ini ?
11. Apakah benjoan ini menyebabkan gatal ?
12. Kenapa benjolan terlihat mengkilat dan berwarna kemerahan ?
13. Apa faktor pemberat yang memperparah penyakit ini ?
14. Apakah penyakit ini merupakan penyakit menular ? atau kelainan akibat dari sering
terpajan matahari ?
15. Apakah nevi muncul saat terpajan matahari saja atau selalu ada ?
16. Bagaimana peran perawat dalam menghadapi masalah psikologis klien ?
17. Apa komplikasi dari penyakit ini ?
18. Penatalaksanaan ?
19. Askep ?
20. Bagaimana patofisiologi kasus ini ?
21. Penkes apa yang harus diberikan untuk klien ?
22. Apa manifestasi klinis dari penyakit ini ?
23. Adakah kemungkinan nevi dan pigmentasi di tempat lainnya ?
24. Apakah perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium pada klien ini ?
25. jika ada, pemeriksaan apa yang harus dilakukan dan bagaimana caranya ? Apakah
benjolan berisi cairan, serum, pus atau padat ?

Jawaban LO

1. Tahi Lalat (Nevi) adalah pertumbuhan kulit yang kecil dan biasanya berwarna gelap,
yang berasal dari sel-sel penghasil pigmen (melanosit) di kulit. Ukuran tahi lalat
bervariasi, bisa mendatar atau menonjol, permukaannya bisa halus atau kasar
(menyerupai kutil) dan bisa berrambut. Biasanya berwarna coklat tua atau hitam, tetapi
bisa juga berwarna merah atau kuning-coklat. Hampir semua orang memiliki sekitar 10
buah tahi lalat, yang biasanya tumbuh pada masa kanak-kanak atau remaja. Sel-sel
pigmen memberikan respon terhadap perubahan kadar hormon, karena itu tahi lalat bisa
tumbuh, membesar atau bertambah gelap selama kehamilan berlangsung.

2. pigmentasi adalah perubahan warna kulit seseorang yang disebabkan adanya penyakit
atau perlukaan yang bisa menimbulkan perubahan warna yang lebih gelap
(hyperpigmentation) atau lebih terang (hypopigmentation).

3. Karsinoma Sel Basal (KSB)

4. Karena daerah tersebut adalah daerah yang terpajan langsung oleh sinar matahari yang
meriupakan penyebab utama kanker kulit.

5. Penyebab kanker kulit yang paling utama adalah sinar ultraviolet (UV) dari matahari.
Sinar UV yang berhasil masuk ke kulit bagian dermis merusak DNA sel kulit. Pada
keadaan normal, sel yang rusak tersebut dibuang oleh tubuh dan diganti dengan sel baru
yang sehat. Namun, karena UV yang masuk sangat banyak sehingga tubuh tidak mampu
memperbaiki diri lagi, sel yang rusak tidak mati tapi malah tumbuh merajalela mendesak
dan merusak sel yang normal. Sel yang merusak itulah yang disebut kanker.

6. Karena pada luka terdapat banyak pembuluh darah (di setiap vesikulanya itu ada
pembuluh darah berdarah, kulit tipis mudah lecet )

7. Karena seringnya terpapar sinar matahari maka kulit melakukan pertahanan dengan
membentuk melanin, namun karena terlalu lama terpajan sinar matahari sehingga terjadi
perubahan pigmen yang kemudian terbentuk frecel, noda kehitaman yang lama lama akan
membentuk nevi .

8.  Karsinoma sel skuamosa

 Nevus pigmentosus
 Melanoma Malignan

 Trichopitelioma

 Hyperplasia sebaceous

 Keratosis Seboroik

9. Pinggiran benjolan berwarna kehitaman karena seringnya terpajan sinar matahari.


10. Terpapar sinar matahari, dengan panjang gelombang 260-320 nm
Riwayat pengobatan radiologi sebelumnya untuk menyembuhkan penyakit kulit lain
Sering terkena zat arsen,nitrat, batu bara, dan parafin
Gangguan genetic yang jarang : syndrome nevus sel basal dan xeroderma pigmentosum
Trauma mekanis : ex. bekas suntikan, bekas luka bakar, dan iritasi kronis.
11. Benjolan tidak terasa gatal atau pun sakit, hanya lukanya sukar sembuh dan mudah
berdarah.

12. Karena adanya lesi jaringan mengakibatkan jaringan kulit mengelupas sehingga kulit
terlihat mengkilat dan kemerahan.

13. Sering terpajan sinar matahari dan riwayat pengobatan radiologi.

14. Penyakit ini bukan merupakan suatu penyakit yang menular melainkan kareena akibat
sering terpajannya kulit terhadap sinar matahari yang bersifat karsinogenik sehingga
merubah pertumbuhan sel menjadi sel kanker.

15. Penyebab nevi dan pigmentasi itu sinar UV dari pajanan matahari, namun nevi dan
pigmentasi selalu ada saat klien sudah terserang nevi dan pigmentasi tsb.

16. Terdapat pada pembahasan kasus.

17.  Dampak emosional

 Menjalar ke daerah sekitar

 Kecacatan post operasi


 Dapat berkembang menjadi kanker kulit yang lebih serius lagi

 Sangat sulit dihilangkan secara menyeluruh

18. Terdapat pada pembahasan kasus

19. Terdapat pada pembahasan kasus

20. Terdapat pada pembahasan kasus

21. PENCEGAHAN

 Gunakan pakaian yang dapat melindungi anda dari sinar matahari, terutama saat
beraktivitas di luar ruangan. Lindungi kulit dari cahaya matahari dengan
menggunakan topi, kemeja lengan panjang, celana panjang atau rok panjang

 Sinar matahari yang paling kuat adalah pada tengah hari, karena itu sebaiknya hindari
sinar matahari pada tengah hari. Hindari sinar matahari terutama saat siang hari, dari
pukul 10 pagi hingga 4 sore, karena pancaran sinar matahari paling kuat pada waktu
itu

 Gunakan tabir surya berkualitas tinggi, minimal dengan SPF 15, yang menghambat
sinar UV A dan UV B.

 Oleskan tabir surya minimal setengah jam sebelum bepergian dan oleskan sesering
mungkin.

 Periksalah kulit secara teratur untuk mengetahui adanya berbagai perubahan yang
mengarah kepada keganasan (pertumbuhan baru di kulit yang membentuk tukak,
mudah berdarah, sukar sembuh, berubah warna, ukuran, struktur, terasa nyeri,
meradang atau gatal).

22. Tempat predileksi terutama pada wajah ( pipi, dahi, hidung, lipatan nasobial, daerah
periorbital), leher, jarang pada lengan, tangan, badan, tungkai, kaki, dan kulit kepala.
Secara umum ditemukan kelainan sebagai berikut :

Benjolan kecil berwarna kemerahan lama kelamaan menghitam dan mengkilap.


Benjolan sering berdarah (karena mengandung pembuluh darah sub epidermis, dikenal
sebagai telangiektase), menginvasi dermis, merusak jaringan normal.
Kemungkinan terdapat hiperpigmentasi, ulserasi (lesi yang tidak tertangani)
23. Ya ada kemungkinan, karena penyebab nevi dan pigmentasi itu sinar UV dari pajanan
matahari, maka dapat mengenai daerah mana saja yang terpajan oleh matahari.

24. Tidak perlu . . dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik (gejala klinis) dan
pemeriksaan hispatologis (biopsi) sudah dapat menegakan diagnosa penyakit karsinoma
sel basal

25. Benjolan itu ada kemungkinan berisi pembuluh darah, dilihat dari anamnesa yang
menyatakan bahwa kulit Ny.B mudah lecet dan berdarah juga lukanya sulit sembuh
STEP VII (REPORTING)

1. KONSEP DASAR NEOPLASMA


a. Pengertian Neoplasma

Neoplasma merupkakan masa jaringan abnormal, tidak terkendali, dan tidak


terkoordinasi dengan jaringan normal, tumbuh terus menerus terus bertransformasi dan terus
membelah.

Tumor merupakan salah satu dari lima karakteristik inflamasi berasal dari bahasa latin,
yang berarti bengkak. Istilah umor ini digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan
biologikal jaringan yang tidak normal.

b. Klasifikasi

Menurut Brooker, 2001 pertumbuhan tumor dapat digolongkan sebagai ganas (malignant)
atau jinak (benigna). Namun, adapula yang disebut dengan neoplasma intermediet yang
merupakan titik tengah antara maligna dan benigna. Berikut penjelasannya :

a. Neoplasma ganas (Maligna)


Lebih sering dikenal sebagai kanker yang merupakan sebuah penyakit yang ditandai
dengan pembagian sel yang tidak teratur dan kemampuan sel-sel ini untuk menyerang
jaringan biologis lainnya, baik dengan pertumbuhan langsung di jaringan yang
bersebelahan (invasi) atau dengan migrasi sel ke tempat yang jauh (metastasis).
Pertumbuhan yang tidak teratur ini menyebabkan kerusakan DNA, menyebabkan mutasi
di gen vital yang mengontrol pembagian sel, dan fungsi lainnya (Tjakra, 1991).
Pada maligna terjadi diferensiasi sel berbagai tingkatan, tumbuh dengan cepat, dan
bermetastasis. Histopatologiknya inti atipik dan memiliki susunan yang tidak teratur.
Adapun beberapa jenis dari neoplasma yang terjadi pada kulit, yaitu :
 Karsinoma Sel Basal (KSB)
Sinonim dari penyakit ini adalah epitelioma sel basal, basalioma, dan ulkus
Rodens. Karsinoma sel basal merupakan neoplasma kulit yang sering ditemukan.
Karsinoma ini merupakan suatu neoplasma ganas kulit (kanker) yang berasal dari
pertumbuhan neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit. Dan adalah
kanker dengan pertumbuhan lambat, dengan beberapa macam pola pertumbuhan
sehingga memberi gambaran klinis yang bervariasi, bersifat invasive, serta jarang
mengadakan metastasis tapi dapat menyebabkan kerusakan local dan kecacatan
jika tidak diobati. KSB umumnya disebabkan oleh pajanan matahari yang sering.
Tempat predileksinya terutama terdapat pada wajah (pipi, dahi, hidung, lipatan
nasobial, dan daerah periorbital), leher. Meskipun jarang ditemukan pada lengan,
badan, tungkai, kaki, dan kulit kepala.
 Karsinoma Sel Skuamosa (KSS)
Sinonim dari penyakit ini adalah epitel sel skuamosa, karsinoma sel prickle, dan
karsinoma epidermoid. Karsinoma sel skuamosa adalah tipe terbesar kedua dan
mulai tumbuh dalam sel-sel skuamosa bagian epidermis kulit. Kanker jenis ini
tumbuh dan berkembang lebih cepat di bandingkan dengan sel basal dan
bermetastase sekitar 2%.
KSS ini merupakan keganasan sel keratinosit epidermis. Karsinoma ini juga dapat
tumbuh pada kulit yang normal (de novo) atau pad kulit yang sudah memiliki
kelainan sebelumnya. Kulit yang terkena tampak coklat kemerahan dan bersisisk
atau keropeng dan mendatar. Kelainan yang ditemukan berupa benjolan atau luka
yang tidak kunjung sembuh. Seperti KSB, pajanan sinar matahari merupakan
salah satu penyebab kanker ini. Selain itu juga disebabkan oleh system imun yang
buruk, virus, bahan kimia, dan jaringan parut. Tempat predileksinya pada daerah
kulit yang terpapar matahari, membrane mukosa, dan dapat terjasi pula pada
seluruh bagian tubuh.
 Melanoma Maligna (MM)
Melanoma maligna merupakan kanker kulit yang paling ganas dan berasal dari
sisitem melanositik kulit Melanoma bisa berawal sebagai pertumbuhan kulit baru
yang kecil dan berpigmen pada kulit yang normal. Paling sering tumbuh pada
kulit yang terpapar sinar matahari, tetapi hamper separuh kasus tumbuh dari tahi
lalat yang berpigmen. Melanoma mudah menyebar ke bagian tubuh yang jauh
(metastase), dimana akan terus tumbuh dan menghancurkan jaringan. Semakin
sedikit pertumbuhan melanoma ke dalam kulit, maka semakin besar peluang
untuk menyembuhkannya. Jika melanoma telah tumbuh jauh ke dalam kulit, akan
lebih mungkin menyebar melalui pembuluh getah bening dan pembuluh darah dan
bisa menyebabkan kematian dalam beberapa bulan atau tahun. Perjalanan
penyakit melanoma bervariasi dan tampaknya dipengaruhi oleh kekuatan
pertahanan oleh sistem kekebalan tubuh. Beberapa penderita yang keadaan
kesehatannya baik, bisa bertahan hidup selama bertahun-tahun meskipun
melanomanya telah menyebar.
Melanoma berasal dari melanosit, yang timbul dari puncak saraf dan bermigrasi
ke epidermis, uvea, meninges, dan mukosa ectodermal. Melanosit, berada di kulit
dan menghasilkan melanin pelindung, yang terkandung dalam lapisan basal
epidermis, di antara dermis dan epidermis. Melanoma dapat berkembang di atau
dekat lesi yang sudah ada sebelumnya atau di kulit yang tampak sehat. Sebuah
melanoma ganas yang berkembang dalam kulit yang sehat dapat dikatakan timbul
de novo, tanpa bukti adanya lesi sebelumnya. Banyak dari melanoma yang
diinduksi oleh radiasi matahari. Risiko terbesar yang disebabkan paparan sinar
matahari yang dapat menyebabkan melanoma dikaitkan dengan terbakar oleh
sinar matahari secara akut, intens, dan berselang. Risiko ini berbeda dibandingkan
dengan kanker sel skuamosa dan basal kulit, yang terkait dengan lama, paparan
sinar matahari jangka panjang. Melanoma juga dapat terjadi di daerah tidak
terbakar kulit, termasuk telapak tangan, telapak kaki, dan perineum.lesi tertentu
dianggap prekursor lesi melanoma, termasuk nevus diperoleh secara biasa, nevus
displastik, nevus kongenital, dan nevus biru selular.
Melanoma memiliki 2 fase pertumbuhan, radial dan vertikal. Selama fase
pertumbuhan radial, sel-sel ganas tumbuh dalam mode radial pada epidermis.
Dengan waktu berlangsung, sebagian besar melanoma ke fase pertumbuhan
vertikal, di mana sel-sel ganas menginvasi dermis dan mengembangkan
kemampuan untuk bermetastasis.

b. Neoplasma Intermediet
Merupakan penyakit kulit yang dapat berkembang menjadi noplasma ganas.
Histopatologikya hyperplasia dan kanker insitu. Contoh neoplasma intermediet yang
terjadi pada kulit diantaranya adlah kemerahan karena matahari, beberapa jenis tahi lalat
seperti tahi lalat yang besar sejak lahir, giant n pegmentosus, penyakit bowen,
leukoplakia, keratosis aktinik, dsb.
c. Neoplasma jinak (benigna)
Sel tumor pada tumor jinak bersifat tumbuh lambat, sehingga tumor jinak pada
umumnya tidak cepat membesar. Sel tumor mendesak jaringan sehat sekitarnya secara
serempak sehingga terbentuk simpai (serabut pembungkus yang memisahkan jaringan
tumor dari jaringan sehat). Oleh karena bersimpai maka pada umumnya tumor jinak
mudah dikeluarkan dengan cara operasi (Robin dan Kumar, 1995). Berikut beberapa jenis
neoplasma jinak yang serinbg ditemukan.
 Hemangioma
Hemangioma adalah tumor jinak pembuluh darah yang terdiri dari proliferasi sel-
sel endotel, yang dapat terjadi pada kulit, membran mukosa, dan organ-organ lain.
Secara histopatologis dibedakan menjadi hemangioma kapiler dan hemangioma
kavernosa.
- hemangioma kapiler
Hemangioma kapiler terdiri dari pembuluh darah kecil dan superfisial, lunak
serta hilang pada penekanan. Termasuk dalam kategori ini adalah nervus
flameus (Nervus Flameus yang terletak di medial dan Nervus Flameus yang
terletak di lateral), dan hemangioma strawberi.
- hemangioma kavernosa
hemangioma kavernosa mengenai pembuluh darah yang lebih besar dan lebih
dalam, serta warnanya lebih gelap dibanding hemangioma kapilaris.
 Kista
-Kista epidermal (Kista Epidermoid, Kista Epitelial, Kista Keratin )
Merupakan bentuk kista yang paling sering terjadi, berasal dari proliferasi sel-
sel epidermis dan berisi keratin. Kista ini sering ditemukan pada daerah yang
banyak kelenjar sebaseanya, seperti pada wajah, leher, dada, punggung, kulit
kepala.
Lesi berupa nodul bentuk kubah dengan diameter bervariasi, permukaannya
licin, mudah digerakkan dari dasarnya, tetapi biasanya melekat pada kulit di
atasnya. Dapat tunggal atau multipel, konsistensinya keras, dan hilang pada
penekanan. Kulit di atasnya tampak mormal, berwarna pucat atau kekuningan,
pertumbuhan lambat, dan asimtomatik. Isi kista berupa masa seperti keju dan
berbau.
- Kista Trikilemal ( Kista Pilaris, Kista Sebaseus )
merupakan suatu kista yang berisi keratin, tersusun oleh suatu epitel yang
mempunyai selubung luar akar rambut, dapat diturunkan secara autosomal
dominan. Biasanya terjadi pada kulit kepala. Secara klinis sulit dibedakan
dengan kista epidermal, tetapi kista ini lebih mudah dienukleasi dan isinya lebih
keratinosa dan tidak begitu berlemak, serta kurang berbau dibandingkan isi kista
epidermis.
- Milium
Merupakan kista keratin subepidermal yang kecil, terutama terjadi pada wajah,
khususnya periorbital. Berasal dari epidermis atau adneksa, dapat terjadi secara
primer atau sekunder. Pada suatu potongan serial, milium primer dapat tampak
berhubungan dengan suatu velus folikel rambut, sedangkan milium sekunder
tampak berhubungan dengan susunan epitel induk. Penyebab milia primer tidak
diketahui, kemungkinan berasal dari folikel pilosebaseus. Sedangkan milia
sekunder biasa terjadi dari retensi kista setelah berbagai dermatosis, dianggap
berasal dari folikel rambut, kelenjar keringat, kelenjar sebasea, atau epidermis.
-Kista Dermoid ( kista dermatoid brankhiogenik )
Merupakan kista yang berasal dari eksodermal, dindingnya dibatasi oleh epitel
skuamosa berlapis dan berisi apendiks kulit serta biasanya terdapat pada garis
fusi embrional. Lesi berupa nodul intrakutan atau subkutan, soliter, berukuran 1-
4 cm, mudah digerakkan dari kulit di atasnya dan dari jaringan di bawahnya.
Pada perabaan, permukaan halus, konsistensi lunak dan kenyal, dan secara
makroskopis isi kista berupa material keratin yang berlemak dengan rambut, juga
kadang – kadang tulang, gigi, atau jaringan saraf. Lokasi tumor biasanya pada
kepala dan leher, pada garis fusi embrionik, kadang juga pada ovarium.
-Steatokistoma Multipleks ( sebokistomatosis gunther, steatokistoma )
Merupakan suatu penyakit yang khas, ditandai dengan adanya kista dermis
multipel yang berisi sabun dan dibatasi oleh epitel yang berisi folikel sebasea.
Diturunkan secara autosomal dominan. Lesi dapat timbul saat lahir atau beberapa
saat kemudian. Secara klinis tampak nodul kistik asimtomatik dengan konsistensi
lunak sampai keras, melekat pada kulit di atasnya, berwarna kekuningan dengan
permukaan halus dan bila lesi ditusuk akan keluar cairan kuning berminyak
seperti keju. Ukurannya bervariasi, dari beberapa mm sampai 3 cm, namun
biasanya jarang lebih dari 1,5 cm. Pada umumnya lesi terletak pada daerah
sternum, lengan, dan daerah skrotum.
 Limfangioma
merupakan malformasi pembuluh limfatik yang biasanya terjadi setelah lahir,
secara klinis dan histopatologi diklasifikasikan menjadi 3 bentuk :
- Limfangioma sirkumskripta lokalisata ( limfangioma simpleks )
Lesi timbul saat bayi, beru[a bercak soliter, kecil, dengan diameter kurang dari 1
cm, terdiri dari vesikel – vesikel berdinding tebal, berisi cairan limfe, dan
menyerupai telur katak. Bila tercampur darah, lesi dapat berwarna keunguan.
Tampak adanya dilatasi kistik dari pembuluh limfe yang dindingnya dibatasi
oleh selapis endotel yang terdapat pada dermis bagian atas. Ketebalan epidermis
bervariasi, pada beberapa kista limfe, epidermisnya menipis; sedangkan yang
lain dapat menunjukkan akantosis, papilomatosis, hiperkeratosis, dan
pertumbuhan ke bawah ireguler.
- Limfangioma sirkumskriptum ( tipe klasik )
Lesi timbul saat lahir atau pada awal kehidupan, ditandai oleh satu atau
beberapa bercak besar dengan vesikel – vesikel jernih, dapat dalam jumlah
sangat banyak. Dinding vesikel tampak lebih tipis dan sering disertai edema
yang difus pada jaringan subkutis di bawahnya, bahkan kadang – kadang edema
seluruh ekstremitas yang terkena. Lokasi lesi sering pada daerah aksila, lengan,
dada lateral, sekitar mulut, dan lidah. Beberapa vesikel dapat berisi darah, dan
kadang – kadang permukaan lesi dapat verukosa. Tampak gambaran yang mirip
dengan limfangioma sirkumskripta lokalisata. Hanya derajat hiperkeratosis dan
papilomatosisnya lebih nyata, juga dilatasi pembuluh limfenya lebih luas
sampai dermis bagian bawah dan lemak subkutan. Pembuluh limfe pada lemak
subkutan sering berukuran besar dan dindingnya dilapisi otot.
- Limfangioma kavernosa
Lesi berupa suatu pembengkakan jaringan subkutan yang sirkumskripta atau
difus, dengan konsistensi lunak seperti lipoma atau kista. Paling sering dijumpai
disekitar dan di dalam mulut. Limfangioma kavernosa sering terdapat bersama –
sama limfangioma sirkumskripta. Bila mengenai pipi, lidah, biasanya murni
merupakan limfangioma kavernosa. Tapi bila terletak pada leher, aksila, dasar
mulut, mediastinum biasanya kombinasi, dan disebut higroma kistik. Ditandai
dengan adanya kista – kista yang besar dengan bentuk ireguler, dindingnya
terdiri atas selapis sel endotel dan terletak pada jaringan subkutan. Periendotel
jaringan konektif dapat tersusun oleh stroma yang longgar, atau padat, bahkan
dapat fibrosa.
 Dermatofibroma
Merupakan nodul dermal jinak yang dibentuk oleh proliferasi fokal fibroblas atau
histiosit. Lebih tampak sebagai proses reaktif daripada neoplasma yang
sebenarnya. Biasanya berhubungan dengan poliferasi ringan dari epidermis
diatasnya. Sering dijumpai pada orang dewasa usia pertengahan, tetapi dapat
terjadi pada semua usia dan wanita lebih banyak daripada pria. Tidak diketahui,
diduga dari proses reaktif terhadap trauma seperti tusukan jarum, garukan, atau
gigitan nyamuk.
 Keloid
Merupakan pertumbuhan yg berlebihan dari scar (jaringan sikatrik) akibat
penumpukan kollagen dan jaringan yg masih hidup setelah trauma.
 Granuloma piogenikum
 Keratosis seboroik
 Nevus pigmentosus
Merupakan sel-sel pigmen yg membentuk neoplasma jinak, dpt congenital atau
didapat (usia 1-35 th). nevus normal berbentuk teratur,batas tegas, warna seragam.
50% nevus bisa berubah menjadi melanoma maligna.
c. Faktor pencetus neoplasma
- Faktor internal : genetic, jenis kelamin, umur, dan ras
- Faktor eksternal : zat kimia, sinar UV, sinar radiasi (ex. Sinar X), virus, dan agen
biologi.

2. PEMBAHASAN KASUS
Diagnosa medis : Karsinoma Sel Basal (KSB)
a. Pengertian karsinoma Sel basal (KSB)
Karsinoma sel basal merupakan neoplasma kulit yang sering ditemukan. Karsinoma
ini merupakan suatu neoplasma ganas kulit (kanker) yang berasal dari pertumbuhan
neoplastik sel basal epidermis dan apendiks kulit. Dan adalah kanker dengan
pertumbuhan lambat, dengan beberapa macam pola pertumbuhan sehingga memberi
gambaran klinis yang bervariasi, bersifat invasive, serta jarang mengadakan metastasis.
Keganasan pada karsinoma ini adalh keganasan local.

b. Klasifikasi
Berdasarkan gambaran histopatologis Lever (1993) membagi Karsinoma Sel Basal dalam
2 golongan :
I. Differensiasi yaitu :
1. Jenis keratotik
Disebut juga tipe pilar karena berdifferensiasi ke arah rambut menunjukkan sel-sel
para keratotik dengan gambaran inti yang memanjang dan sitoplasma agak
eosinafilik dan dijumpai horn cyst (kista keratin). Sel parakeratonic dapat
membentuk susunan konsentris atau mengelilingi kista keratin.
2. Jenis differensiasi sebasea
Dulu disebut bentuk kistik, merupakan bentukbsolidbyang mengalami nekrobiosis.
Tetapi tidak terbukti secara histokimia bahwa bentuk tersebut adalah di fferensiasi
kelenjar sebasea.
3. Jenis Adenoid
Adanya gambaran struktur mirip kelenjar yang dibatasi jaringan ikat. Kadang-
kadang ditemukan lumen yang dikelilingi sel-sel bersekresi. Sel tersusun
berhadapan, melingkari pulau-pulau jaringan ikat sehingga tumor berbentuk seperti
renda. Dalam lumen dapat ditemukan semacam substansi koloid atau materi
granuler yang amorph. Akan tetapi belum ada bukti aktivitas sel yang bersifat
sekretoris pada tepi lumen.
II.Tidak berdifferensiasi yaitu :
Jenis solid
Merupakan gambaran histopalogik yang banyak ditemukan. Berupa pulau-pulau
sel dengan bentuk dan ukuran bermacam-macam, terdiri dari sel-sel basaloid, dengan
inti basofilik yang bulat atau lonjong, stioplasma sedikit, sel-sel pada tepi massa tumor
tersusun palisade. Bentuk solid ini juga dibagi 2 sub kelompok , yaitu :
1. Sirkumskrip
- Tampak parenkim tumor dengan berbagai bentuk dan ukuran pada dermis lebih
dari 90% parenkim tumor berhubungan dengan epidermis.
- Batas tepi tumor terdiri dari sel yang tersusun palisade (seperti pagar), sedangkan
sel didalam tumor tidak beraturan.
- Kadang-kadang terjadi disintegrasi sel pada pusat tumor sehingga terbentuk kista.
2. lnfiltrative
- Disebut sebagai karsinoma sel basal yang agresif
- Terdiri dari sel basaloid yang tersusun memanjang dengan ketebalan hanya
beberapa lapis dengan atau tanpa susunan palisade pada tepinya. Tumor ini dapat
mengadakan invansi dalam batas tumor tidak jelas, sel dan inti sel bentuk dan
ukurannya bervariasi.

Adapula beberapa pembagian jenis berdasarkan diferensiasi yang lain adalah :


a.Jenis adamontionoid, keratotik, kistik, adenoid, plexiform,dan pigmented (seldan
+ Helwing 1974).
b. Jenis superfisial dan morphealike.
Menurut Sloan (1974) mengemukakan bahwa pembagian jenis karsinoma sel
basal menurut diferensiasi kurang mempunyai arti prognostik. Maka, KSB
diklasifikasikan berdasarkan sifat pertumbuhannya antara lain bentuk:
a. Noduler, kelompok sel tumor secara keseluruhan memberi kesan berbatas tegas
dengan jaringan sekitar.
b. Noduler infiltratif, pada bagian tengah tampak tonjolan tumor dengan tepi
menunjukkan pertumbuhan infiltratif kecil.
c. Infiltratif, jaringan tumor menunjukkan pertumbuhan infiltratif tidak teratur.
- Selerosing, stroma menunjukkan jaringan ikat padat terdiri dari serabut kolagen
dan elastis.
- Non selerosing, kelompok sel tumor besar dengan jaringan ikat stroma tidak
begitu padat.
d. Multifokal, jaringan tumor berasal dari beberapat empat pada epidermis. Walaupun
dengan pewarnaan dopa 75 % KSB mengandung melanosit, akan tetapi hanya 25 %
saja yang mengandun pigmen melanin, KSB yang banyak mengandung pigmen
disebut KSB berpigmen. Bentuk morfea-like atau fibrosing merupakan varian KSB
dimana tumor terdiri dari sel yang tersusun memanjang dan terkadang hanya satu lapis
di dalam stroma yang tebal.

c. Etiologi
Sekitar 80 % dari kanker sel basal terjadi pada daerah terbuka yang biasanya terpapar
sinar matahari, seperti wajah, dan leher. Spectrum sinar matahari bersifat karsinogenik,
adalah sinar yang panjang gelombangnya berkisar 260 sampai 320 nm. Spectrum ini
terutama bertanggung jawab dalam membakardan membuat kulit menjadi coklat.
Umumnya lebih sering mengenai wanita, kulit putih, umur . 40 tahun (karena akumulasi
paparan sinar matahari). Adapun penyebab lain antara lain sebagai berikut :
 Riwayat pengobatan radiologi sebelumnya untuk menyembuhkan penyakit kulit
lain
 Sering terkena zat arsen,nitrat, batu bara, dan parafin
 Gangguan genetic yang jarang : syndrome nevus sel basal dan xeroderma
pigmentosum
 Trauma mekanis : ex. bekas suntikan, bekas luka bakar, dan iritasi kronis.

d. Patogenesis
Karsinoma sel basal dari epidermis dan adneksa struktur (folikel rambut, kelenjar
ekstrin). Terjadinya didahului dengan regenerasi dari kolagen yang sering dijumpai pada
orang yang sedikit pigmentnya dan sering mendapat paparan sinar matahari, sehingga
nutrisi pada epidermis terganggu dan merupakan prediksi terjadinya suatu kelainan kulit.
Melanin berfungsi sebagai energi yang dapat menyerap energi yang berbeda jenisnya dan
menghilang dalam bentuk panas. Jika energi masih terlalu besar dapat merusak sel dan
mematikan sel atau mengalami mutasi untuk selanjutnya menjadi sel kanker.
Beberapa peneliti mengatakan terjadinya karsinoma sel basal merupakan gabungan
pengaruh sinar matahari, tipe kulit, warna kulit dan faktor predisposisi lainnya.
Peningkatan radiasi ultraviolet dapat menginduksi terjadinya keganasan kulit pada
manusia melalui efek imunologi dan efek karsinogenik. Transformasi sel menjadi ganas
akibat radiasi ultraviolet diperkirakan berhubungan dengan terjadinya perubahan pada
DNA yaitu terbentuknya photo product yang disebut dimer pirimidin yang diduga
berperan pada pembentukan tumor. Reaksi sinar ultraviolet menyebabkan efek terhadap
proses karsinogenik pada kulit antara lain : lnduksi timbulnya menjadi sel kanker,
menghambat immunosurveillance dengan menginduksi limfosit T yang spesifik untuk
tumor tertentu.

e. Manifestasi Klinis
Tempat predileksi terutama pada wajah ( pipi, dahi, hidung, lipatan nasobial, daerah
periorbital), leher, jarang pada lengan, tangan, badan, tungkai, kaki, dan kulit kepala.
Seara umum ditemukan kelainan sebagai berikut :
 Benjolan kecil berwarna kemerahan lama kelamaan menghitam dan mengkilap.
 Benjolan sering berdarah (karena mengandung pembuluh darah sub epidermis,
dikenal sebagai telangiektase), menginvasi dermis, merusak jaringan normal.
 Kemungkinan terdapat hiper pigmentasi, ulserasi (lesi yang tidak tertangani)
Adapula manifestasi berdasarkan tipe dari KSB dan syndrome yang berkaitan dengan
KSB, yaitu sebagai berikut :
5 TIPE Karsinoma Sel Basal :
1. Tipe Nodula-ulseratif (Ulkus Rodens)
Lesi tampak sebagai lesi tunggal. Jenis ini dimulai dengan nodus kecil 2 - 4 mm,
translusen, warna pucat seperti lilin (waxy-nodulo). Dengan inspeksi yang teliti, dapat
dilihat perubahan pembuluh darah superficial melebar (telangiektasi). Permukaan
nodus mula-mula rata tetapi kalau lesi membesar, terjadi cekungan ditengahnya dan
pinggir lesi menyerupai bintil-bintil seperti mutiara (pearly border). Nodus mudah
berdarah pada trauma ringan. Jika tidak tertangani akan mengalami ulserasi ( Ulkus
rodens) dengan destruksi jaringan sekitar. Jika telah terjadi ulkus, bentuk ulkus
seperti kawah, berbatas tegas, dasar irreguler dan ditutupi oleh krusta. Pada palpasi
teraba adanya indurasi disekitar lesi terutama pada lesi yang mencapai ukuran lebih
dari 1 cm, biasanya berbatas tegas, tidak sakit atau gatal. Dengan trauma ringan atau
bila krusta diatasnya diangkat, mudah berdarah. Letaknya pada wajah terutama pipi,
lipatan nasobial, dahi, dan tepi kelopak mata.
2. Tipe pigmented
Gambaran klinisnya sama dengan nodula-ulseratif, adanya pada jenis ini berwarna
coklat atau berbintik-bintik atau homogen (hitam merata) kadang- kadang
menyerupai Melanoma. Banyak dijumpai pada orang dengan kulit gelap yang tinggal
pada daerah tropis.
3. Tipe morphea-like atau fibrosing
Merupakan jenis yang agak jarang ditemukan. Biasanya terdapat pada kepala dan
leher.Lesinya berbentuk flak sklerotik yang berwarna kekuningan dengan tepi yang
tidak jelas, kadang-kadang tepinya meninggi. Pada permukaannya tampak beberapa
folikel rambut yang mencekung sehingga memberikan gambaran seperti sikatriks.
Lesi tampak sebagai bercak sklerodermatosa. Kadang-kadang tertutup krusta yang
melekat erat. Jarang mangalami ulserasi. Tepi ini cenderung invasif kearah
dalam.Tepi ini menyerupai penyakit morphea atau skleroderma. Pertumbuhan perifer
diikuti oleh perluasan sklerosis di tengahnya.
4. Tipe superfisial
Umumnya multipel, terutama dijumpai pada badan, kadang-kadang pada leher dan
kepala. Berupa bercak kemerahan dengan skuama halus dan tepi yang meninggi. Lesi
dapat meluas secara lambat, tanpa mengalami ulserasi. Tampak sebagai plak
transparan eritematosa sampai berpigmen terang, bentuk oval sampai ireguler dengan
tepi berbatas tegas, dan sedikit meninggi. Biasanya dihubungkan dengan ingesti
arsenic kronis.
5. Tipe fibroepitelial
Berupa satu atau beberapa nodul yang keras dan sering bertangkai pendek,
permukaannya halus dan sedikit kemerahan. Terutama dijumpai dipunggung. Tipe ini
sangat jarang ditemukan.

3 Syndroma :

1. Sindroma epittalioma sel basal nevoid.

Dikenal sebagai sindroma Gorlin-Goltz Merupakan suatu sindroma yang diturunkan


secara autosomal dominan dengan penetrasi yang bervariasi dengan 5 gejala mayor :

- KSB multiple pada usia muda

- Kelainan kulit ; berupa nodul kecil yang multipel yang terdapat pada masa kanak-
kanak atau akhir pubertas, terutama dijumpai pada muka dan badan. Selama stadium
nevoid, ukuran dan jumlah nodur bertambah. Sering setelah umur dewasa, lesinya
mengalami ulserasi dan ke dalam stadium neoplastik dimana terjadi invasi, destruksi
dan multilasi. Kematian dapat terjadi karena invasi ke otak terdapat cekungan (pit's)
pada telapak tangan dan kaki

- Kelainan tulang : berupa kista pada rahang, kelainan pada tulang iga dan tulang
belakang (skoliosis, spina bifida).

- Kelainan sistem saraf : berupa perubahan menonjol dan retardasi mental

- Klasifikasi ektrofik dari falks serebri dan struktur lain.


2. Nevus sel basal unilateral linear dan generalized folicular basal cell nevi.

Merupakan jenis yang sangat jarang ditemui pada lesi yang linier, berupa nodul
disertai komedo dan kista epidermal dengan daerah atrofi stirae, distribusi
zosteriformis/linear, unilateral. Biasanya teradapat sejak lahir dan tidak meluas dengan
pening katan usia. Pada jenis generalized folicular ditemukan adanya kerontokan
rambut yang bertahap, akibat kerusakan folikel rambut akibat pertumbuhaun tumor.

3. Sindorma Bazex

- Atrophoderma folikuler : folikuler yang terbuka lebar terutama pada ekstremitas.

- Epitelioma sel basal : multiple pada wajah, saat remaja/awal dewasa(munul)


antihidrosis local atau hipohidrosis generalisata Hipotikosis congenital pada kulit
kepala.

f. Diagnosa Banding
 Karsinoma sel skuamosa : jenis kanker kulit dimana terjadi keganasan sel keratinosit
epidermis.
 Nevus pigmentosus : tumor jinak pada kulit yang paling umum dijumpai pada
manusia. Bercak berwarna yang terdapat pada lapisan terluar daripada kulit
(epidermis).
 Melanoma Malignan : kanker lulit yang paling ganas, tahi lalat terkadang terasa gatal
dan bila digaruk mengeluarkan darah.
 Trichopitelioma : infeksi jamur pada kulit atau rambut.
 Hyperplasia sebaceous : jenis prekanker yang muncul di daerah kulit berminyak.
 Keratosis Seboroik : bentuk jinak dari tumor kulit, asalnya tidak diketahui and
umumnya terjadi setelah usia 40 tahun. Tumor tampak sebagai kutil dengan berbagai
variasi warna. Biasanya tidak nyeri tapi dapat menjadi iritasidan gatal.

g. Komplikasi
 Jika tidak cepat ditangani maka akan menjalar ke daerah sekitar baik ke
otot,saraf,maupun tulang
 Invasi local, kerusakan jaringan, bermetastasis ke jaringan limfa dan seluruh tubuh.
 Sangat sulit dihilangkan secara menyeluruh bahkan dengan terapi yang tepat dan
benar dapat kambuh kembali ditempat yang sama
 Penyebaran sangat jarang 1: 1000 kasus
 Dapat berkembang menjadi kanker kulit yang lebih serius lagi seperti Karsinoma sel
skuama dan melanoma maligna.
 Jika lesi tidak tertangani dapat kehilangan hidung, telinga.
 Dampak emosional
 Kecacatan post operasi

h. Pemeriksaan Diagnostik
Biopsy. Ada tiga metode dalam melakukan biopsy, diantaranya adalah :
1. Metode shave biopsy, menggunakan pisau cukur steril yang bisa di manipolasi sesuai
kedalaman specimen biopsy
2. Biopsy jarum, manfaat untuk lesi datar dari morphea formis
3. Bopsy aspirasi, ditemukan sel atipik yang berkelompok dan tersusun secara palisade

i. Penatalaksanaan
 Karsinoma Sel Basal harus segera ditangani. Penanganannya termasuk kuretase
dengan elektrodesikasi, scalpel bedah, iradiasi, bedah kimia, dan bedah beku.

 Kanker sel basal kecil dengan diameter kurang dari 2 cm biasanya ditangani dengan
eksisi scalpel atau elektrodesikasi dan kuretase setelah dilakukan biopsy untuk
memastikan diagnosis. Angka kesembuhannya adalah 95%.

 Terapi sinar roentgen boleh diberikan pada pasien yang telah berusia 60 sampai 70
tahun dengan tumor yang sangat besar disekitar kelopak mata, daun telinga, atau bibir

Selain itu juga dapat dilakukan dengan cara:

- Preventatif:
Oleh karena sinar matahari predisposisi utama untuk terjadi kanker kulit maka perlu
diketahui perlindungan kulit terhadap sinar matahari, terutama bagi orang-orang yang
sering melakukan aktifitas diluar rumah dengan cara memakai sunscreens (tabir surya)
selama terpajan sinar matahari. Penggunaan tabir surya untuk kegiatan diluar rumah
diperlukan tabir surya dengan SPF yang lebih tinggi (>15-30). Adanya hubungan antara
terbentuknya berbagai radikal bebas antara lain akibat sinar UV pada beberapa jenis
kanker kulit, telah banyak dilaporkan. Pemakaian antioksidan dapat berfungsi untuk
menetralkan kerusakan atau mempertahankan fungsi dari serangan radikal bebas. Telah
banyak bukti bahwa terpaparnya jaringan dengan radikal bebas dapat mengakibatkan
berbagai gejala klinik atau penyakit yang cukup serius. Akibat reaksi oksidatif radikal
bebas di DNA menimbulkan mutasi yang akhirnya menyebabkan kanker. Diantara
antioksidan tersebut adalah ; betakaroten, vitamin E, dan vitamin C. hindari sinar
matahari pada jam 10.00-15.00, dan gunakan pakaian yang dapat melindungi tubuh dari
sinar matahari.
- Kuratif
1. Bedah eksisi
Bedah eksisi atau bedah skalpel pada KSB dini memberikan tingkat sembuhan yang
tinggi.
2. Radioterapi (radiasi ionisasi)
Penyinaran lokal diberikan lapangan radiasi meliputi tumor dengan 1 - 2 cm jaringan
sehat disekelilingnya. Penyinaran dilakukan dengan dosis 200 cGy per fraksi, 5 fraksi
dalam 1 minggu dengan total dosis 4000 cGy.
3. Kuretasi dan elektrodesikasi
Dilakukan pada tingkat yang dini, cara yang terbaik dengan cara cutting dan koagulasi
dibantu dengan curettage. Jika hendak mengambil spesimen jaringan untuk pemeriksaan
histopatologi, dilakukan dengan electro section (pure cutting). Terlebih dahulu diberi
marker 3 - 5 mm di luar tumor.
4. Bedah beku (cryosurgery)

Bedah beku adalah suatu metode pengobatan dengan menggunakan bahan yang dapat
menurunkan suhu jaringan tubuh dari puluhan sampai ratusan derajat Celcius di bawah
nol (subzero). Bedah beku memakai nitrogen cair, dan angka kesembuhannya sama
dengan kuretase dan elektrodesikasi.

Efek yang ingin dicapai :


a. Perubahan sel epidermal dan epidermolisis dengan pembekuan ringan dimana terjadi
vesikulasi (tampak vesikel atau bula), kemudian diikuti krustasi dan proses wound
healing tanpa jaringan parut dan kemungkinan hipopigmentasi.
b. Cryonecrosis, destruksi serta nekrosis sel dalam jaringan dermis dan jaringan
dibawahnya dengan cara pembentukan kristal es intra dan ekstra sel, akibatnya terjadi
kerusakan membran sel dan perubahan konsentrasi elektrolit, iskemik, respon
immunologik selama masa pencarian kristal es (thaw period).
5. Bedah kimia

 Bedah kimia Mohs berguna untuk mengobati kanker besar yang berinfiltrasi serta
sering kambuh, terutama di sekitar telinga, lipat nasolabial, dan mata.

 Pada bedah kimia, eksisi mikroskopik pada tumor dilakukan dengan memisahkan
tumor selapis demi selapis dengan scalpel; dibuat preparat irisan beku, dan
dibentuk peta dari tumor tersebut; kemudianlapisan bawah masing-masing irisan
beku yang telah diangkat tadi selanjutnya diperiksa untuk menemukan bukti
adanya kanker sel basal. Teknik ini adalah yang paling melelahkan, efektif dan
mahal, tetapi angka kesembuhannya melebihi 97%.

6. Terapi laser
7. Bedah mikrografik morfis
8.Terapi biologi dengan interferon
9.terapi patodinamik
j. Patofisiologi

Stratum korneum
Factor genetik
Pemaparan radiasi UV

Epidermis&absorsi
Riwayat
Akumulasi radiasi
melanoma

Merangsang Merangsang Reaksi ionisasi sel


pigmentasi karsinogenik mellanosit (statum Basale)

Kerusakan Gang.mitosis sel basal

DNA
Pertumbuhan sel basal
abnormal (basalioma)
Kerusakan
Sel
Nevus

Nevus bertambah tebal

Perubahan status Kulit mudah lecet


Invasi dan erosi jaringan
kesehatan dan berdarah
pengetahuan kulit
Perubahan penampilan

Ansietas
Kerusakan
Malu
integritas kulit
k. Asuhan Keperawatan
Gang. Citra diri
I. Pengkajian
Kemerahan
 Identitas
Nama : Nn. B
Umur : 45 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat :-
Suku :-
Agama :-
Pendidikan :-
Diagnosa medis : Karsinoma sel basal

 Riwayat kesehatan

a. Keluhan utama
Nn.B mengeluh penyakit pada kulitnya yang dari hasil pemeriksaan fisik
ditemukan benjolan pada kulit wajah, leher, dan kepala yang agak mengkilap
berwarna kemerahan dengan pinggiran yang agak menghitam.
b. Riwayat kesehatan sekarang
(P ) : Klien mengatakan bahwa selama ini dia bekerja di luar ruangan yang
memungkinkan dirinya terpajan secara langsung oleh sinar matahari.
( Menanyakan apa yang dilakukan klien untuk mengurangi keluhannya ? )
(Q & R ): Ditemukan benjolan pada kulit wajah, leher dan kepala yang agak
mengkilap berwarna kemerahan dengan pinggiran agak mengjitam.
Ditemukan juga nevi dan pigmentasi pada beberapa bagian kulit dileher dan di
wajahnya.
( S ) : Kulitnya mudah lecet dan berdarah dan lukanya sulit sembuh.
( T ) : - ( Menanyakan kapan klien mulai mengalami penyakit pada kulitnya ?)
c. Riwayat kesehatan dahulu
- ( Menanyakan apakah klien pernah mengalami ini sebelumnya ?)
- ( Menanyakan apakah klien seorang perokok ?)
- ( Menanyakan apa pekerjaan klien ?)
d. Riwayat kesehatan keluarga
( Menanyakan kepada klien apakah dari anggota keluarga ada yang
mengalami penyakit kulit sebelumnya ?)
e. Riwayat psikososial
Harga diri : Tidak terganggu
Ideal diri : Tidak terganggu
Identitas diri : Tidak terganggu
Gambaran diri : Terganggu, karena merasa malu dengan penyakit ini
Peran diri : Terganggu karena penyakit ini bisa menghambat kerja
klien
 Kebutuhan dasar
Pola makan : Normal
Pola minum : Normal
Pola nafas : Normal
Pola eliminasi : Normal
Pola tidur : Normal
Aktivitas : Tidak bisa melakukan aktivitas dengan maksimal terutama
bekerja dibawah terik matahari
 Pemeriksaan Fisik
a. Tanda-tanda vital
TB : -
BB : -
TD : - ( N = 100-130/60-90 mmHg )
HR : - ( N = 60 – 100 x / menit )
RR : - ( N = 12 -20 x / menit )
T : - ( N = 36,5 – 37,5 0 C )
b. Pemeriksaan head to toe
1. Kulit dan rambut
- Benjolan pada kulit wajah, leher dan kepala yang agak mengilap
berwarna kemerahan dengan pinggiran yang agak menghitam
- Nevi dan pigmentasi pada beberapa bagian kulit dileher dan wajahnya
- Kulit mudah lecet dan berdarah
2. Kepala
- Bentuk simetris, tidak ada nyeri tekan
3. Mata
- Bentuk bola mata bulat, simetris, sklera berwarna putih, konjungtiva
4. Telinga
- Simetris, tidak ada serumen pada lubang telinga
5. Hidung
- Simetris, tidak ada sekret, tidak ada lesi
6. Mulut
- Bentuk simetris, lidah bersih, gigi bersih
7. Leher
- Normal, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid
8. Paru-paru
- Simetris, resonan
9. Abdomen
- Datar, simetris
10. Ekstremitas 5 5
- Lengkap, normal 5 5

 Pemeriksaan diagnostik

1. Biopsi dari lesi-lesi yang dicurigai. Jenisnya meliputi penyayatan dimana


lapisan kulit diaras lesi diambil dengan cara insisi.

II. Analisa Data


DATA ETIOLOGI MASALAH
Do : Pertumbuhan sel basal abnormal Gangguan
Benjolan pada kulit Nevus integritas kulit
wajah, leher, dan kepala. Nevus bertambah tebal
Benjolan agak mengkilat Invasi dan erosi jaringan
kemerahan dengan Kulit mudah lecet dan berdarah
pinggiran agak Kerusakan jaringan kulit
kehitaman Kerusakan integritas kulit
Nevi dan pigmentasi
pada wajah dan beberapa
bagian kulit.
Ds :
Kulitnya mudah lecet
danberdarah serta
lukanya sulit sembuh

Do : Pertumbuhan sel basal abnormal Gangguan citra


Benjolan pada kulit Nevus diri
wajah, leher, dan kepala. Nevus bertambah tebal
Benjolan agak mengkilat Invasi dan erosi jaringan
kemerahan dengan Kulit mudah lecet dan berdarah
pinggiran agak Kerusakan jaringan kulit  Lesi jaringan
kehitaman Perubahan penampilan
Nevi dan pigmentasi Gangguan citra diri
pada wajah dan beberapa
bagian kulit.
Ds :
Kulitnya mudah lecet
danberdarah serta
lukanya sulit sembuh
 Klien juga mengatakan
malu dengan keadaannya
saat ini.

Pertumbuhan sel basal abnormal Ansietas


Nevus
Nevus bertambah tebal
Invasi dan erosi jaringan
Perubahan status kesehatan
Kurang pengetahuan
Ansietas

III. Diagnosa keperawatan


1. Gangguan integritas kulit b.d nodul, kemerahan dan luka pada wajah
2. Gangguan citra tubuh b.d benjolan mengkilap pada wajah
3. Anxietas b.d kurang informasi ditandai dengan masih terus terpajan meski sudah
ada tumor
4. Mekanisme koping tidak efektif b.d risiko kanker ditandai dengan cemas

IV. Rencana Asuhan Keperawatan


Nama Pasien/usia : Nn. B/ 45 tahun

Diagnosa : Karsinoma sel basal

Tanggal :-

DIAGNOSA
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN

1.Gangguan Setelah dilakuakn MANDIRI


integritas kulit b.d tindakan 1. Intraksikan untuk
nodul, kemerahan keperawatan memberitahu jika ada  Untuk mencegah
dan luka pada keadaan klien tanda infeksi perburukan
wajah mebaik dengan 2. Ajarkan cara kondisi
2.Gangguan citra criteria : perawatan luka  Meningkatkan
tubuh b.d benjolan 1.Gangguan 3. Berikan perawatan perawatan mandiri
mengkilap pada integritas kulit aseptic  Menurunkan
wajah teratasi selama 7 x risiko infeksi
3.Anxietas b.d 24 jam. 4. Kembangkan Menjaga
kurang informasi 2.Klien hubungan saling hubungan
ditandai dengan menunjukan sikap percaya antara klien terapeutik
masih terus terpajan yang positif dengan perawat
meski sudah ada menghadapi 5. Pantau kemampuan
tumor penyakitnya dalam klien untuk melihat Ketidakmampuan
Mekanisme koping 4 x 24 jam perubahan bentuk untuk melihat
tidak efektif b.d 3.Klien mampu dirinya bagian tubuhnya
risiko kanker melakukan mungkin
ditandai dengan tindakan mengindikasikan
cemas perawatan diri kesulitan dalam
untuk menurunkan koping
insidensi dan
bertambahnya 6. Dorong klien untuk Memberi jalan
gejala dalam 4 x mendiskusikan untuk
24 jam perasaan mengenai mengekspresikan
4.Klien mampu perubahan penampilan emosinya
mengidentifikasi 7. Berikan informasi Meningkatkan
strategi untuk tentang penyakit yang pemahaman
mengatasi diderita klien tentang penyakit
perasaannya dalam 8. Penkes tentang : Meningkatkan
4 x 24 jam  Pengetahuan koping dan
penyakit personal
 Pencegahan
 Perawatan diri Mempengaruhi
9. Diskusikan tentang keberhasilan
harapan klien untuk menilai tindakan
melakukan aktivitas hidup normal
normal
10. Izinkan klien untuk Memberi jalan
mengungkapkan untuk
perasaan terhadap mengekspresikan
kecemasan akan perasaan
penyakitnya Meningkatkan
11. Anjurkan penggunaan dukungan spiritual
sumber spiritual Meningkatkan
12. Perlihatkan rasa empati suasana terhadap
pada perasaan klien upaya penerimaan
Meningkatkan
koping terhadap
13. Fasilitasi klien dalam kehilang
kerjasama terhadap Meningkatkan
kehilangan personal ke rasa saling percaya
dalam citra tubuhnya Meningkatkan
14. Hindari untuk menutup harapan-harapan
kebenaran yang bermanfaat
15. Bantu untuk
mengidentifikasi
 untuk
bagian-bagian harapan
pengangkatan
hidup
tumor
KOLABORASI
1. Lakukan
pembedahan

 Aspek Legal Etik

Etik dalam keperawatan dihubungkan dengan hubungan antar masyarkat dan dengan
karakter serta sikap perawat terhadap oranglain. Etik berhubungan dengan peraturan
untuk perbuatan atau tindakan yang mempunyai prinsip benar dan salah serta prinsip
moralitas karena etika mempunyai tanggung jawab moral. Menyimpang dari kode etik
berartitidak memiliki perilaku yang baik dan tidak memiliki moral yang baik.
Pengetahuan keperawatan diperoleh melalui keterlibatan pribadi dan emosional dengan
oranglain dengan ikut terlibat dalam masalah moral mereka.(Cooper,1991)

Dalam kasus ini, prinsip etik yang harus diterapkan oleh perawat adalah :

 Autonomy(otonomi)

Prinsip ini didasarkan pada keyakinan individu mampu berpikir logis dan mampu
membuat keputusannya sendiri. Klien yang dapat dimintai persetujuan mengenai
tindakan apa saja yang akan dilakukan dalam tindakan keperawatan.

 Beneficience (berbuat baik)

Tujuan utama dari prinsip ini adalah untuk melakukan dan memberi tindakan yang baik
untuk klien. Tindakan keperawatan yang baik memerlukan pengkajian secara holistik.

 Justice(keadilan)

Prinsip etik ini mengharuskan perawat untuk bertindak adil terhadap semua klien yang
ditanganinya. Dalam praktik professional diwujudkan dengan bekerja untuk terapi sesuai
hukum, standar praktik dan keyakinan agar memperoleh kualitas pelayanan yang baik.
Maka dari itu, perawat harus melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan diagnosa
keperawatan dan diagnosa medis yang telah ditentukan.

 Non-maleficience(tidak merugikan)

Inti dari prinsip ini adalah ketika perawat melakukan tindakan keperawatan tidak
menimbulkan bahaya maupun cedera pada klien.

 Veracity(kejujuran)

Prinsip inni diperuntukan agar pemberi pelayanan kesehatan dapat menyampai informasi
dengan jujur dan membuat klien paham dengan informasi yang telah diberikan. Informasi
tersebut harus akurat, komprehensif dan objektif untuk memfasilitasi pemahamn klien,
mengatkan yang sebenarnya kepad klien selam menjalni perawatan.
 Confidentiality(kerahasiaan)

Prinsip ini ditujukan agar perawat tetap menegakkan privasi klien segal sesuatu yang
menjadi dokumen catatan kesehatan klien tidak boleh dibaca kecuali untuk melakukan
intervensi kepada klien.

Legal keperawatan
Legal berarti sah secara hokum perundangundangan. Legal keperawatan berarti sah
sesuai dengan UUD kesehatan dan kode etik profesi yang berlaku.
Aspek legalitas (sukamto1989) :

 Malpraktek : tidak melaksanakan pekerjaan lazim yang dilakukan profesi menurut


tolak ukur ilmu, sumpah, janiji ,dan kode etik.

 Negligence : kelalaian yang mencelakakan orang lain, kelalaian besar disebut


kematian.

 Duty : kewajiban yang harus dilakukan perawat kepada klien.

 Break of duty : melanggar standar.

 Causation : membuat kerugian

 Pendidikan kesehatan
PENCEGAHAN
1. Gunakan pakaian yang dapat melindungi anda dari sinar matahari, terutama saat
beraktivitas di luar ruangan. Lindungi kulit dari cahaya matahari dengan menggunakan
topi, kemeja lengan panjang, celana panjang atau rok panjang.
2. Sinar matahari yang paling kuat adalah pada tengah hari, karena itu sebaiknya hindari
sinar matahari pada tengah hari. Hindari sinar matahari terutama saat siang hari, dari
pukul 10 pagi hingga 4 sore, karena pancaran sinar matahari paling kuat pada waktu
itu.
3. Gunakan tabir surya berkualitas tinggi, minimal dengan SPF 15, yang menghambat
sinar UV A dan UV B.
4. Oleskan tabir surya minimal setengah jam sebelum bepergian dan oleskan sesering
mungkin.
5. Periksalah kulit secara teratur untuk mengetahui adanya berbagai perubahan yang
mengarah kepada keganasan (pertumbuhan baru di kulit yang membentuk tukak,
mudah berdarah, sukar sembuh, berubah warna, ukuran, struktur, terasa nyeri,
meradang atau gatal).

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, E.J. 2001 . Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC

Marek A. Stawiski dalam : Price, S.A. 1995 . Patofisiologi edisi 4 Jilid 2. Jakarta : EGC

Gale, danielle & Jane charette.2000. Rencana asuhan keperawatan onkologi. Jakarta : EGC

http://dokterbedahmalang.com/karsinoma-sel-basal/

http://www.tanyadokteranda.com/penyakit/2010/08/karsinoma-sel-basal