Anda di halaman 1dari 56

KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA

NOVEL MIDAH SIMANIS BERGIGI EMAS


KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER
SKRIPSI
untuk memperoleh gelar Sarjana Sastra
Oleh
Nama : Erna Dwi Kotimah
NIM : 2150401012
Program Studi : Sastra Indonesia
Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2006
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang Panitia
Ujian Skripsi pada
hari :
tanggal :
Pembimbing I, Pembimbing II,
Drs. Agus Nuryatin, M. Hum. Dra. Nas Haryati S, M. Pd.
NIP 131813650 NIP 131125926
iii
PENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan siding Panitia Ujian Skripsi Jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri
Semarang
pada hari : Selasa
tanggal : 21 Februari 2006
Panitia Ujian Skripsi
Ketua, Sekretaris,
Prof. Dr. Rustono Drs. Agus Yuwono, M. Si.
NIP 131281222 NIP 132049997
Penguji I,
Drs. Mukh. Doyin, M. Si.
NIP 132106367
Penguji II, Penguji III,
Dra. Nas Haryati S, M. Pd. Drs. Agus Nuryatin, M. Hum.
NIP 131125926 NIP 131813650
iv
PERNYATAAN
Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar
hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian
atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini
dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Semarang, Februari 2006
Erna Dwi Kotimah
NIM 2150401012
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
Motto:
1. Seorang besar memiliki dua hati, satu hati menangis dan yang lain
bersabar.
2. Hal yang paling pahit dalam kepedihan kita hari ini adalah ingatan kita
akan kegembiraan di hari kemarin.
3. Apa yang kita rindukan dan tidak bisa kita peroleh itu lebih kita
sayangi ketimbang apa yang mudah kita peroleh.
(Kahlil Gibran)
Persembahan:
Karya kecil ini merupakan wujud dari
perjuangan selama ini yang kupersembahkan
untuk:
1. Bapak dan Ibu yang telah memberiku
kesempatan mengenal dunia lebih luas;
2. Adik-adikku (Tia, Puji, Dhono) yang
membawa sebagian tawaku;
3. D’Djiwakoe yang selalu pahami aku saat
tertawa dan menangis;
4. Guruku dan almamaterku.
vi
PRAKATA
Alhamdulillah, puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt, atas
segala limpahan rahmat, taufik , hidayah, serta inayah-Nya, karena penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul Kepribadian Tokoh Utama Novel Midah,
Simanis Bergigi Emas Karya Pramoedya Ananta Toer dalam rangka memenuhi
salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Strata I pada Jurusan Bahasa dan
Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
Penulis sadar bahwa skripsi ini tidak akan selesai tanpa bantuan dan
bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis
menyampaikan ucapan terima kasih kepada Drs. Agus Nuryatin, M. Hum.
(Pembimbing I) dan Dra. Nas Haryati S, M. Pd. (Pembimbing II) yang telah tulus,
ikhlas, dan penuh kesabaran memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis.
Ucapan terima kasih yang tulus juga penulis ucapkan kepada
1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk menyusun skripsi ini;
2. Dekan Fakultas Bahasa dan Seni dan Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra
Indonesia yang telah mengizinkan penulis melaksanan penelitian ini;
3. segenap Dosen Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan
ilmu yang bermanfaat;
4. Kristian, Juned, Ella, Restonk, Fajrun, Wiwok, Indra, Pujenk, Uyung, Oyi yang
membuatku merasa kaya di usia muda;
vii
5. Cah Sastra Angkatan ’01 (Bayu, Rofi, B-wok, Galuh, Mety, Wi2x, Amat,
Agus, Na2ng, Ne2ng, Hery, Fany, Heny, Retno, Midun dan Dika) semoga kita
selalu menjadi teman sepanjang masa;
6. teman-teman di Kost Anissa (mba Fajar, mba Ina, Ike, Viki, Eka, Lu2nk, Ni2x)
dan Ex Indrakila yang telah memberikan semangat kepada penulis;
7. semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu yang telah
membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini.
Mudah-mudahan segala amal dan kebaikan yang telah diberikan kepada
penulis mendapatkan ridho dan balasan dari Allah SWT.
Akhir kata, penulis berharap agar skripsi ini berguna bagi almamater
tercinta dan bermanfaat bagi yang membacanya.
Semarang, Februari 2006
Penulis
viii
SARI
Kotimah, Erna Dwi. 2006. Kepribadian Tokoh Utama Novel Midah Simanis
Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer. Skripsi. Jurusan Bahasa
dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri
Semarang. Pembimbing I: Drs. Agus Nuryatin, M. Hum, Pembimbing
II: Dra. Nas Haryati S, M. Pd.
Kata kunci: tokoh utama, psikoanalisa, kesadaran, ketidaksadaran
Penelitian ini menganalisis novel karya Pramoedya Ananta Toer yang
berjudul Midah Simanis Bergigi Emas. Novel ini berbicara tentang konflik
kejiwaan tokoh utama bernama Midah yang mengalami proses perkembangan
jiwa dalam pembentukan kepribadiannya. Pembentukan kepribadian Midah
dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman hidupnya, baik pengalamannya
sebagai pribadi maupun pengalamannya sebagai manusia pada umumnya.
Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah (1) bagaimanakah tipe
kepribadian tokoh utama novel Midah Simanis Bergigi Emas berdasarkan teori
psikoanalisa Carl Gustav Jung, dan (2) faktor-faktor apa sajakah yang
mempengaruhi kepribadian tokoh utama novel Midah Simanis Bergigi Emas.
Berkaitan dengan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan untuk
mendeskripsikan tipe kepribadian tokoh utama novel dan mendeskripsikan faktorfaktor
yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama novel Midah Simanis Bergigi
Emas karya Pramoedya Ananta Toer.
Metode yang digunakan di dalam penelitian ini adalah metode analisis
deskriptif dengan pendekatan psikologi. Analisis deskripsif digunakan untuk
mendapatkan deskripsi penokohan tokoh utama yang ada dalam novel Midah
Simanis Bergigi Emas. Berdasarkan penokohan tersebut maka dapat mengungkap
tipe kepribadian tokoh utama yang kemudian dikaji dengan menggunakan
pendekatan psikologi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa menurut teori psikoanalisa Carl
Gustav Jung, kepribadian meliputi dua alam yaitu kesadaran dan ketidaksadaran.
Tipe kepribadian tokoh utama novel Midah Simanis Bergigi Emas berdasarkan
kesadaran yaitu dipandang dari fungsi jiwa dan sikap jiwa. Dipandang dari fungsi
jiwa tipe kepribadian Midah adalah tipe perasa yaitu yakin membuat keputusan,
mengerti perasaan orang lain dan tak mau menimbulkan pertentangan, dan mudah
tersinggung. Sedangkan dipandang dari sikap jiwa Midah mempunyai kepribadian
tipe introvert yaitu tertutup, suka memendam perasaan, suka merenung dan
tenggelam ke dalam diri sendiri serta kesepian. Berdasarkan ketidaksadarannya,
Midah mempunyai tipe kepribadian pemikir dan intuitif. Berdasarkan tipe
introvert dan ekstravert tipe kepribadian Midah adalah tipe perasa introvert.
Kesadaran Midah bertipe perasa bersifat introvert sedangkan ketidaksadarannya
bertipe pemikir yaitu keras hati, dan memegang prinsip bersifat ekstravert.
Sedangkan fungsi pembantunya, pengindra yaitu menyukai seni musik keroncong
ix
berada di kesadaran dan fungsi intuitif yaitu berani, optimis, dan bijaksana berada
di ketidaksadaran.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, saran yang diberikan adalah penelitian
ini hendaknya dapat memberikan sumbangan pemikiran dan penelitian yang
berhubungan dengan psikologi sastra khususnya penelitian yang menggunakan
teori psikoanalisa Carl Gustav Jung. Penelitian tentang novel ini hendaknya juga
dikembangkan lebih lanjut selain menggunakan teori kepribadian, karena novel
Midah Simanis Bergigi Emas merupakan novel yang kaya akan tema kehidupan.
x
DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING.................................................................... ii
PENGESAHAN KELULUSAN...................................................................... iii
PERNYATAAN............................................................................................... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN................................................................... v
PRAKATA....................................................................................................... vi
SARI................................................................................................................. viii
DAFTAR ISI.................................................................................................... x
BAB I PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang Masalah .................................................................. 1
1. 2 Rumusan Masalah ........................................................................... 6
1. 3 Tujuan Penelitian............................................................................. 6
1. 4 Manfaat Penelitian........................................................................... 7
BAB II LANDASAN TEORETIS
2. 1 Psikologi Sastra ............................................................................... 7
2. 2 Teori Psikoanalisa Jung................................................................... 8
2. 2. 1 Struktur Kepribadian............................................................ 10
2. 2. 1. 1 Struktur Kesadaran .................................................. 10
2. 2. 1. 2 Struktur Ketidaksadaran .......................................... 15
2. 2. 2 Preferensi Tipe Kepribadian Manusia ................................. 20
2. 3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Manusia .............. 29
2. 4 Tokoh dan Penokohan ..................................................................... 36
2. 4. 1 Pengertian Tokoh................................................................. 36
xi
2. 4. 2 Jenis-jenis Tokoh ................................................................. 37
2. 4. 3 Pengertian Penokohan.......................................................... 38
2. 4. 4 Teknik Pelukisan Tokoh ...................................................... 38
BAB III METODE PENELITIAN
3. 1 Sasaran Penelitian............................................................................ 43
3. 2 Data dan Sumber Data Penelitian.................................................... 43
3. 3 Pendekatan Penelitian...................................................................... 44
3. 4 Teknik Analisis Data ....................................................................... 45
BAB IV TIPE KEPRIBADIAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA NOVEL
MIDAH SIMANIS BERGIGI EMAS
4. 1 Tipe Kepribadian Tokoh Utama ...................................................... 47
4. 1. 1 Tipe Kepribadian Midah Berdasarkan Kesadaran ............... 49
4. 1. 2 Tipe kepribadian Midah Berdasarkan Ketidaksadaran........ 64
4. 2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Tokoh Utama...... 76
4. 2. 1 Ketidaksadaran Pribadi ........................................................ 76
4. 2. 2 Ketidaksadaran Kolektif ...................................................... 84
BAB V PENUTUP
5. 1 Simpulan.......................................................................................... 90
5. 2 Saran ................................................................................................ 91
DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 92
SINOPSIS ........................................................................................................ 94
1
BAB I
PENDAHULUAN
1. 1 Latar Belakang Masalah
Karya sastra adalah ungkapan atau hasil kreativitas pengarang yang
menggunakan media bahasa dan diabadikan untuk kepentingan estetis. Di dalam
karya sastra dapat ternuansakan suasana kejiwaan pengarang baik secara pikir
maupun suasana rasa yang ditangkap dari gejala kejiwaan orang lain (Roekhan
dalam Aminuddin 1995:91). Seorang pengarang tidak hanya ingin
mengekspresikan pengalaman jiwanya, melainkan secara implisit ia juga
mendorong, mempengaruhi pembaca agar ikut memahami, menghayati, dan
menyadari masalah serta ide yang diungkapkan dalam karyanya lewat tokoh yang
mereka hadirkan.
Sastra mengandung fenomena-fenomena kejiwaan yang tampak lewat
perilaku tokoh. Perilaku tersebut akan mengarahkan pada suatu karakter tokoh
yang dibentuk oleh pengarang dalam menyampaikan ide cerita. Kemampuan
pengarang mendeskripsikan karakter tokoh cerita yang diciptakan sesuai dengan
tuntutan cerita dapat pula dipakai sebagai indikator kekuatan sebuah cerita fiksi.
Untuk menilai kepribadian atau karakter tokoh dapat dilihat dari apa yang
dikatakan dan apa yang dilakukan (Abrams dalam Fananie 2002: 87). Identifikasi
tersebut adalah didasarkan pada konsistensi atau keajegannya, dalam artian
konsistensi sikap, moralitas, perilaku, dan pemikiran memecahkan, memandang,
dan bersikap dalam menghadapi setiap peristiwa (Fananie 2002: 87). Dengan
2
bahasa yang agak berbeda, David Daiches (Fananie 2002: 87) menyebutkan
bahwa kepribadian tokoh cerita fiksi dapat muncul dari sejumlah peristiwa dan
bagaimana reaksi tokoh tersebut pada peristiwa yang dihadapinya. Dengan
demikian, karya sastra dapat didekati dengan menggunakan pendekatan psikologi.
Skripsi ini mengambil novel berjudul Midah, Simanis Bergigi Emas karya
Pramoedya Ananta Toer. Novel Midah Simanis Bergigi Emas ini adalah salah satu
novel karya Pramoedya Ananta Toer yang telah dterjemahkan ke dalam bahasa
Belanda. Novel Midah Simanis Bergigi Emas merupakan novel yang ditulis
dengan cita rasa bahasa khas Pramoedya. Novel ini ditulis pada tahun 50-an
dengan setting tempat Jakarta. Novel ini berbicara tentang konflik kejiwaan tokoh
utama yang bernama Midah yang mengalami proses perkembangan jiwa dalam
pembentukan kepribadiannya. Perkembangan kepribadian Midah dipengaruhi oleh
pengalaman-pengalaman hidupnya, baik pengalamannya sebagai pribadi maupun
pengalamannya sebagai manusia pada umumnya.
Midah adalah sosok wanita yang berani mendobrak apa yang menurut
masyarakat salah menjadi sesuatu yang benar menurutnya. Ia tidak sadar bahwa
dalam perkembangan jiwanya ia menjadi sosok wanita yang berani, optimis,
keras hati, yakin dalam membuat suatu keputusan dan memegang prinsip. Ia
mendobrak anggapan bahwa wanita adalah seorang yang terikat, baik oleh orang
tua, suami ataupun terhadap penilaian masyarakat. Midah mampu menepis semua
hal itu bahwa ia juga manusia yang mempunyai penilaian sendiri atas apa yang
telah dialaminya dan mempunyai hak untuk menentukan nasibnya sendiri.
Namun, pada akhirnya ia kalah secara moral. Ia yang telah hamil di luar nikah itu
3
merasa bersalah di hadapan masyarakat meski menurutnya hal itu adalah wajar
jika perempuan hamil dengan lelaki yang dicintainya. Pada akhirnya ia memilih
kehidupannya sendiri dengan segala keyakinannya dan meninggalkan lingkungan
masa kecilnya.
Penelitian ini mencoba meneliti tipe kepribadian Midah yang telah
dipengaruhi oleh pengalaman masa lalunya baik pribadi maupun pengalaman
masa lalu sebagai manusia biasa dalam menghadapi peristiwa-peristiwa di dalam
kehidupannya. Karena meneliti tipe kepribadian tokoh utama, penelitian ini
menggunakan teori psikoanalisa yakni salah satu aliran di dalam psikologi yang
menyelidiki tentang gejala ketidaksadaran pada jiwa seseorang. Teori
psikoanalisa yang diambil adalah teori dari Carl Gustav Jung karena menurut
penulis, teori inilah yang cocok dalam menemukan tipe kepribadian tokoh utama
dan menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama.
Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama meliputi faktor
ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran pribadi
tersebut meliputi ketidaksadaran akan pengalaman-pengalaman atau peristiwaperistiwa
pribadi dalam sejarah hidup yang selalu diingatnya. Ketidaksadaran
kolektif meliputi kepercayaan terhadap Tuhan, percaya terhadap hal-hal gaib atau
mistik dan ketidaksadaran berpikir filsafat yang dalam perjalanan kehidupan
seseorang merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam pembentukan
kepribadian.
Novel Midah Simanis Bergigi Emas ini telah diteliti oleh beberapa orang,
antara lain Hellwig (dalam Swastika 2003:2) dan Hae (2005). Hellwig dalam
4
bukunya yang berjudul Citra Perempuan dalam Sastra Indonesia membahas 25
novel dan tiga "cerita panjang" yang terbit di Indonesia dalam kurun waktu lima
dekade (1937-1986) (Swastika 2003:2).
Hellwig menilai novel Midah Simanis Bergigi Emas dari sudut gender dan
feminisme oleh pengarang laki-laki terhadap tokoh perempuan. Dalam novel ini
Pramoedya berbicara tentang seorang perempuan yang secara sadar memilih
kehidupan yang bebas berkaitan dengan seksualitas. Dalam novel ini Pramoedya
melakukan pendobrakan terhadap nilai feodal wanita Indonesia yakni tentang
wanita, lelaki dan seksualitas. Pramoedya telah melihat bahwa perempuan telah
menanggung beban yang paling berat atas kedua sistem nilai tersebut. Akan tetapi,
harus ditandai dengan tegas pula bahwa Pramoedya menampilkan perempuan
sebagai tokoh-tokoh yang melihat beban dan subordinasi yang mereka alami itu
bukan sesuatu yang alamiah, yang sudah seharusnya begitu (taken for granted).
Sebaliknya, mereka mengolah beban dan subordinasi itu menjadi energi untuk
membangun kekuatan, yang tidak saja dapat mengubah hidupnya, melainkan juga
hidup orang-orang lain di sekitarnya. Namun, sebagai penulis laki-laki, Hellwig
melihat bahwa Pramoedya tetap saja memberikan penilaian yang cenderung
negatif terhadap kebebasan ekspresi seksual tersebut.
Hae dalam artikelnya yang berjudul Surat Kepada Pramoedya
(www.mediaindo.com) membahas novel Midah Simanis Bergigi Emas tentang
pandangan Pramoedya terhadap predikat Haji. Hae mengatakan bahwa Pramoedya
sangat sinis dengan tokoh Haji dan cenderung menghukum tokoh yang
berpredikat haji. Haji yang dimaksud adalah Haji Terbus, si bandot tua dari
5
Cibatok yang selain tukang kawin, ia juga menyia-nyiakan tokoh Midah atau juga
ayah Midah yakni Haji Abdul yang terlalu memaksakan kehendaknya kepada
Midah tanpa mau mengerti keinginan Midah.
Dari beberapa penelitian di atas, dapat diketahui bahwa novel Midah
Simanis Bergigi Emas ini belum pernah dikaji dari sudut psikologi tokoh. Untuk
itu penelitian ini akan mencoba mengkaji novel tersebut dari sudut psikologi yaitu
tentang kepribadian tokoh utama dipandang dari sudut psikoanalisa.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas , maka permasalahan yang diangkat
adalah:
1. Bagaimanakah tipe kepribadian tokoh utama novel Midah Simanis Bergigi
Emas karya Pramoedya Ananta Toer berdasarkan teori psikoanalisa Carl
Gustav Jung?
2. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama novel
Midah Simanis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer?
1.3 Tujuan Penelitian
1. Mendeskripsikan tipe kepribadian tokoh utama novel Midah Simanis Bergigi
Emas karya Pramoedya Ananta Toer dilihat dari teori psikoanalisa Carl Gustav
Jung.
2. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama
novel Midah Simanis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer.
6
1. 4 Manfaat Penelitian
1. Penulis dapat menambah wawasan pengetahuan tentang dunia sastra dan
psikologi dalam kaitannya dengan dunia sastra.
2. Bagi penikmat sastra, penelitian ini diharapkan dapat mendorong para pembaca
agar lebih dalam memahami karya sastra secara keseluruhan.
3. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai pedoman ataupun
perbandingan bagi penelitian berikutnya.
7
BAB II
LANDASAN TEORETIS
Sasaran penelitian ini adalah kepribadian tokoh utama novel Midah
Simanis Bergigi Emas. Penelitian ini memaparkan teori psikologi sastra, teori
psikoanalisa Carl Gustav Jung, dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian
manusia. Psikologi dipaparkan di dalam pembicaraan yang berkaitan dengan
unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam suatu karya
sastra. Teori psikoanalisa Carl Gustav Jung digunakan sebagai teori dasar
penelitian ini dalam menemukan tipe kepribadian tokoh utama novel dan faktorfaktor
yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama.
2. 1 Psikologi Sastra
Pada hakikatnya sastra adalah hasil kreativitas pengarang yang
menggunakan media bahasa yang diabadikan untuk kepentingan estetis. Yang
berarti, di dalamnya ternuansakan suasana kejiwaan pengarang, baik suasana pikir
maupun suasana rasa yang ditangkap dari gejala kejiwaan orang lain (Roekhan
dalam Aminuddin 1995: 91).
Telaah mengenai aspek psikologis dalam karya sastra berarti mengenai
psikologi sastra. Psikologi sastra adalah kajian sastra yang memandang karya
sebagai aktivitas kejiwaan. Hal ini sesuai dengan penjelasan Roekhan bahwa
karya sastra itu lahir dari pengekspresian endapan pengalaman yang telah lama
8
ada dalam jiwa dan telah mengalami pengolahan jiwa secara mendalam melalui
proses berimajinasi (Aminuddin 1995: 91).
Sastra menyajikan ungkapan kejiwaan manusia dalam bentuk seni,
sedangkan psikologi mempelajari proses-proses kejiwaan manusia. Sastra lahir
dari ekspresi pengalaman yang telah mengalami proses konsep kemudian diolah
dengan suasana batinnya sendiri, dituangkan ke dalam karya sastra yang
terproyeksi lewat ciri-ciri para tokohnya.
Jatman (dalam Endraswara 2004:97) berpendapat bahwa karya sastra dan
psikologi memiliki pertautan yang erat, secara tak langsung dan fungsional.
Pertautan tak langsung karena antara baik sastra maupun psikologi memiliki objek
yang sama yaitu kehidupan manusia. Memiliki hubungan fungsional karena samasama
mempelajari keadaan kejiwaan orang lain. Yang membedakan adalah, jika
dalam psikologi gejala tersebut riil, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif.
2. 2 Teori Psikoanalisa Carl Gustav Jung
Psikologi secara harfiah berarti ilmu jiwa atau ilmu yang mempelajari
tentang gejala-gejala kejiwaan. Pada perkembangannya dalam sejarah arti
psikologi menjadi ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia. Ini disebabkan
karena jiwa yang mengandung arti yang abstrak itu sukar dipelajari secara
objektif. Kecuali itu keadaan jiwa seseorang melatarbelakangi timbulnya hampir
seluruh tingkah laku (Dirgagunarsa 1978: 9).
Mempelajari psikologi erat kaitannya dengan kejiwaan. Hal ini berarti ada
usaha untuk mengenal manusia, untuk memahami, menguraikan dan
9
menggambarkan tingkah laku, kepribadian manusia beserta aspek-aspeknya.
Sehingga setiap manusia secara individu mempunyai kepribadian yang berbedabeda
bila ditinjau dari berbagai aspek-aspek kepribadian atau personality traits.
Hal ini membedakan individu satu dengan individu lainnya yang bersifat unik dan
individual dari orang tersebut.
Carl Gustav Jung (1875-1961) adalah murid Freud yang terkenal dengan
pahamnya yaitu Analytical Psichology (psikologi analitis). Teori Jung dibedakan
dengan teori psikoanalisa Freud pada penekanannya yang lebih kuat pada tujuan
tingkah laku (teleologi).
Garis besar dari teori Jung adalah bahwa kepribadian seseorang terdiri dari
dua alam yaitu alam kesadaran dan alam ketidaksadaran. Kepribadian sangat
dipengaruhi oleh alam ketidaksadaran. Menurut Jung ketidaksadaran dibagi
menjadi dua yaitu ketidaksadaran pribadi (personal unconsciousness) dan
ketidaksadaran kolektif (collective unconsciousness). Isi ketidaksadaran pribadi
diperoleh melalui hal-hal yang diperoleh individu selama hidupnya sedangkan isi
dari ketidaksadaran kolektif diperoleh selama pertumbuhan jiwa keseluruhannya,
seluruh jiwa manusia melalui sensasi. Ketidaksadaran kolektif ini merupakan
warisan kejiwaan yang besar dari perkembangan kemanusiaan yang terlahir
kembali dalam struktur tiap individu (Budiningsih 2002:14).
Antara kesadaran dan ketidaksadaran menurut Jung sama pentingnya
dalam menentukan perilaku seseorang. Kehidupan alam kesadaran dan alam
ketidaksadaran sangat berlawanan. Misalnya jika seseorang yang kesadarannya
bertipe pemikir maka ketidaksadarannya bertipe perasa. Orang yang kesadarannya
10
ekstrovert maka ketidaksadaranya introvert, dan begitu selanjutnya (Suryabrata
2002: 163).
2. 2. 1 Struktur Kepribadian
Suryabrata (2002:156-157) mengatakan bahwa Jung berbicara tentang
psyche (kepribadian). Adapun yang dimaksud psyche adalah totalitas segala
peristiwa psikis baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Jadi, jiwa
manusia terdiri dari dua alam, yaitu:
1) kesadaran (alam sadar)
2) ketidaksadaran (alam tak sadar)
Keduanya saling mengisi dan berhubungan secara kompensatoris. Fungsi
dari kesadaran yaitu untuk penyesuaian terhadap dunia luar, sedangkan
ketidaksadaran yaitu penyesuaian terhadap dunia dalam. Batas antara kedua alam
ini tidak tetap, tetapi dapat berubah-ubah, artinya luas daerah kesadaran atau
ketidaksadaran itu dapat bertambah atau berkurang (Suryabrata 2002: 157).
2. 2. 1. 1 Struktur Kesadaran
Pusat dari kesadaran adalah ego yang terdiri dari ingatan, pikiran, dan
perasaan. Ego inilah yang memungkinkan seseorang menyesuaikan diri dengan
lingkungannya (Sarwono 1987:170). Kesadaran mempunyai dua komponen pokok
yaitu fungsi jiwa dan sikap jiwa, yang masing-masing mempunyai peranan
penting dalam orientasi manusia dalam dunianya.
11
a. Fungsi jiwa
Ialah suatu aktivitas kejiwaan yang secara teori tidak berubah
dalam lingkungan yang berbeda-beda. Jung membedakan empat pokok
fungsi jiwa yaitu dua rasional terdiri dari pikiran dan perasaan, sedangkan
dua irrasional terdiri dari pengindraan dan intuisi.
Fungsi rasional bekerja dengan penilaian: pikiran, menilai atas
dasar benar dan salah, sedangkan perasaan menilai atas dasar
menyenangkan dan tak menyenangkan. Kedua fungsi irrasional dalam
fungsinya tidak memberikan penilaian, melainkan hanya semata-mata
mendapat pengamatan: pengindraan, mendapatkan pengamatan dengan
sadar-indriah, sedang intuisi mendapat pengamatan secara tak sadarnaluriah.
Secara bagan dapat dikemukakan dengan tabel berikut ini.
Fungsi jiwa Sifatnya Cara bekerjanya
Pikiran
Perasaan
Pengindraan
Intuisi
Rasional
Rasional
Irrasional
Irrasional
Dengan penilaian: benar-salah
Dengan penilaian: senang-tak senang
Tanpa penialaian: sadar-indriah
Tanpa penilaian: tak-sadar-naluriah
Pada dasarnya tiap manusia memiliki keempat fungsi tersebut,
tetapi biasanya hanya salah satu fungsi saja yang paling berkembang
(dominan). Fungsi yang paling berkembang itu merupakan fungsi superior
dan menentukan tipe orangnya: ada tipe pemikir, tipe perasa, tipe
pengindra, dan tipe intuitif.
12
Berdasarkan fungsi jiwa manusia dapat dibagi menjadi empat tipe
kepribadian:
1. Kepribadian yang rasional (rational type)/ pemikir yaitu orang yang
banyak mempergunakan akalnya dalam melakukan sesuatu.
2. Kepribadian intuitif yaitu kepribadian yang sangat dipengaruhi oleh
firasat atau perasaan kira-kira. Orang dengan kepribadian ini bersifat
spontan.
3. Kepribadian emosional/ pengindra terdapat pada orang-orang yang
sangat dikuasai oleh emosinya, cepat menjadi sedih atau cepat menjadi
gembira, menilai segala sesuatu berdasarkan suka atau tidak suka.
4. Kepribadian sensitif/ perasa yaitu kepribadian yang dipengaruhi
terutama oleh pancaindera dan cepat sekali bereaksi terhadap rangsang
yang diterima oleh pancaindera (sensation).
Jika sesuatu fungsi superior, yaitu menguasai kehidupan alam
sadar, maka fungsi pasangannya menjadi fungsi inferior, yaitu ada dalam
ketidaksadaran, sedangkan kedua fungsi yang lain menjadi fungsi bantu
sebagian terletak dalam alam sadar dan sebagian lagi dalam alam tak sadar
(Suryabrata 2002:158-161).
b. Sikap Jiwa
Yang dimaksud sikap jiwa ialah arah energi psikis umum atau
libido yang menjelma dalam bentuk orientasi manusia terhadap dunianya.
Arah aktivitas energi psikis itu dapat ke luar ataupun ke dalam, dan
13
demikian pula arah orientasi manusia terhadap dunianya, dapat ke luar
ataupun ke dalam.
Tiap orang mengadakan orientasi terhadap dunia sekitarnya,
namun dalam caranya mengadakan orientasi itu orang yang satu berbeda
dari yang lainnya. Misalnya ada orang yang lekas menutup dirinya atau
menutup jendela kalau dirasanya hawa dingin, tetapi ada yang acuh tak
acuh saja, ada orang yang lekas mengagumi orang-orang yang baru mulai
naik bintangnya karena kebanyakan orang menyanjungnya, tetapi
sebaliknya ada yang karena ia berpendapat bahwa tidak semua yang
dikagumi oleh orang banyak itu memang pantas dikagumi. Apabila
orientasi terhadap segala sesuatu itu sedemikian rupa sehingga putusanputusan
dan tindakan-tindakannya kebanyakan dan terutama tidak dikuasai
oleh pendapat-pendapat subyektifnya, maka individu yang demikian itu
dikatakan mempunyai orientasi ekstrovert. Dan apabila orientasi ekstrovert
ini menjadi kebiasaan, maka individu yang bersangkutan mempunyai tipe
ekstrovert.
Jadi berdasarkan atas sikap jiwanya manusia dapat digolongkan
menjadi dua tipe kepribadian, yaitu:
(a) manusia-manusia yang bertipe ekstrovert,
(b) manusia-manusia yang bertipe introvert.
Orang yang ekstrovert terutama dipengaruhi oleh dunia obyektif,
yaitu dunia di luar dirinya. Orientasinya terutama tertuju keluar: pikiran,
perasaan, serta tindakannya terutama ditentukan oleh lingkungannya, baik
14
lingkungan sosial maupun lingkungan non-sosial. Dia bersikap positif
terhadap masyarakatnya: hatinya terbuka, mudah bergaul, hubungan
dengan orang lain lancar. Bahaya bagi tipe ekstrovert ini ialah apabila
ikatan kepada dunia obyektif, ia kehilangan dirinya atau asing terhadap
dunia subyektifnya sendiri.
Orang yang introvert terutama dipengaruhi oleh dunia
subyektifnya, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutama
tertuju ke dalam: pikiran, perasaan, serta tindakan-tindakannya terutama
ditentukan oleh faktor-faktor subyektif. Penyesuaiannya dengan dunia luar
kurang baik: jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan
orang lain, kurang dapat menarik hati orang lain. Penyesuaian dengan
batinnya sendiri baik. Bahaya tipe introvert ini ialah kalau jarak dengan
dunia obyektif terlalu jauh, sehingga orang lepas dari dunia obyektifnya.
Berdasarkan tipe ekstrovert dan introvert, Jung membagi lagi tipe
kepribadian menjadi delapan tipe yaitu empat tipe ekstrovert dan empat
tipe introvert (Suryabrata 2002: 161-163). Orang yang kesadarannya
bertipe pemikir maka ketidaksadarannya bertipe perasa. Orang yang
kesadarannya ekstrovert maka ketidaksadarannya bersifat introvert dan
begitu sebaliknya. Secara tabel dapat ditulis sebagai berikut.
15
Tipe Sikap
jiwa
Fungsi
jiwa
Ketidaksadarannya
Pemikir ekstrovert
Perasa ekstrovert
Pengindra ekstrovert
Intuitif ekstrovert
Ekstrovert Pikiran
Perasaan
Pengindraan
Intuisi
Perasa introvert
Pemikir introvert
Intuitif introvert
Pengindra introvert
Pemikir introvert
Perasa introvert
Pengindra introvert
Intuitif introvert
Introvert Pikiran
Perasaan
Pengindraan
Intuisi
Perasa ekstrovert
Pemikir ekstrovert
Intuitif ekstrovert
Pengindra ekstrovert
2.2. 1. 2 Struktur Ketidaksadaran
Ketidaksadaran mempunyai dua komponen, yaitu (1) ketidaksadaran
pribadi dan (2) ketidaksadaran kolektif.
a. Ketidaksadaran Pribadi
Ketidaksadaran pribadi berisikan hal-hal yang diperoleh individu
selama hidupnya. Ini meliputi hal-hal yang terdesak atau tertekan dan halhal
yang terlupakan. Ketidaksadaran pribadi terdiri dari pengalamanpengalaman
pribadi, harapan-harapan, dan dorongan-dorongan yang
pernah disadari tetapi tidak dikehendaki oleh ego sehingga terpaksa
didorong masuk ke ketidaksadaran (Sarwono 1987:170). Pada saat-saat
tertentu, ketidaksadaran pribadi ini bisa muncul kembali ke kesadaran dan
mempengaruhi tingkah laku.
16
Ketidaksadaran pribadi ini juga meliputi alam prasadar dan bawah
sadar. Prasadar adalah perbatasan antara ketidaksadaran pribadi dan
kesadaran, berisi hal-hal yang siap masuk ke kesadaran. Sedangkan bawah
sadar berisi kejadian-kejadian psikis yang terletak pada daerah perbatasan
antara ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif (Suryabrata
2002: 166).
b. Ketidaksadaran Kolektif
Ketidaksadaran kolektif adalah sistem yang paling berpengaruh
terhadap kepribadian dan bekerja sepenuhnya di luar kesadaran orang yang
bersangkutan. Sistem ini merupakan pembawaan rasial yang mendasari
kepribadian dan merupakan kumpulan pengalaman-pengalaman dari
generasi-generasi terdahulu, bahkan dari nenek moyang manusia waktu
masih berupa hewan (Sarwono 1987:170).
Jung merumuskan ketidaksadaran kolektif sebagai suatu warisan
kejiwaan yang besar dari perkembangan kemanusiaan, yang terlahir
kembali dalam struktur tiap-tiap individu, dan membandingkannya dengan
apa yang disebut oleh Levy Bruhl tanggapan mistik kolektif
(representations collectives) orang-orang primitif (Suryabrata 2002:167).
Menifestasi dari ketidaksadaran kolektif ini berupa symptom dan
komplek, mimpi, fantasi, khayalan, dan archetypus.
1. Symptom dan Kompleks
Symptom dan kompleks merupakan gejala-gejala yang masih dapat
disadari. Symptom adalah “gejala dorongan” daripada jalannya energi
17
normal, yang dapat berbentuk symptom kejasmanian maupun kejiwaan.
Symptom adalah tanda bahaya yang memberitahu bahwa ada sesuatu dalam
kesadaran yang kurang, dan karenanya perlu perluasan ke alam tak sadar.
Kompleks-kompleks adalah bagian kejiwaan kepribadian yang
telah terpecah dan lepas dari penilikan (kontrol) kesadaran dan kemudian
mempunyai kehidupan sendiri dalam kegelapan alam ketidaksadaran, yang
selalu dapat menghambat atau memajukan prestasi-prestasi kesadaran.
Kompleks terdiri dari unsur inti, yang umumnya tak disadari dan bersifat
otonom, serta sejumlah asosiasi-asosiasi yang terbentuk atas dasar inti
tersebut: asosiasi tergantung kepada disposisi individu beserta
pengalaman-pengalamannya. Kompleks bisa saja mengganggu
keseimbangan jiwa namun juga dapat menjadi perangsang agar lebih giat
dalam berusaha untuk sukses. Kompleks merupakan pengalaman
traumatis, misalnya ketidakmungkinan yang semu untuk menerima
keadaan diri sendiri dalam keseluruhannya
2. Mimpi, fantasi, khayalan
Mimpi sering timbul dari kompleks dan merupakan “pesan rahasia
dari sang malam”. Mimpi mempunyai hukum sendiri dan bahasa sendiri:
bahasanya bersifat lambang dan untuk memahaminya perlu ditafsirkan.
Mimpi menurut Jung mempunyai fungsi konstruktif, yaitu
mengkompensasikan keberat-sebelahan dari konflik yang mempunyai arti
profetis. Jung juga mengemukakan fantasi (phantasie) dan khayalan
(vision) sebagai bentuk manifestasi ketidaksadaran. Kedua hal ini
18
bersangkutan dengan mimpi, dan timbul pada waktu taraf kesadaran
merendah; variasinya boleh dikata tak terhingga, dari mimpi siang hari
hingga impian tentang keinginan-keinginan sampai pada khayalan khusus
orang-orang yang dalam keadaan ekstase.
3. Archetypus
Archetypus merupakan bentuk pendapat instinktif dan reaksi
instinktif terhadap situasi tertentu, yang terjadi di luar kesadaran.
Archetypus-archetypus ini dibawa sejak lahir dan tumbuh pada
ketidaksadaran kolektif selama perkembangan manusia (sebagai jenis), jadi
tak tergantung pada manusia perseorangan. Archetypus merupakan pusat
medan tenaga dari ketidaksadaran yang dapat mengubah sikap kehidupan
sadar manusia. Archetypus hanya dapat dibatasi secara formal, tidak secara
material; orang hanya dapat menggambarkannya tapi tak dapat
mencandranya (Suryabrata 2002: 166-169).
c. Beberapa Bentuk Khusus Isi Ketidaksadaran
Beberapa bentuk khusus isi ketidaksadaran tersebut adalah bayangbayang,
proyeksi atau imago, serta animus dan anima.
1. Bayang-bayang
Yaitu “segi lain” atau “bagian gelap” dari kepribadian, kekurangan
yang tak disadari. Terbentuk dari fungsi inferior serta sikap jiwa yang
inferior yang karena pertimbangan-pertimbangan moral atau pertimbangan
lain dimasukkan ke dalam ketidaksadaran, karena tidak serasi dengan
kehidupan alam sadarnya. Bayang-bayang merupakan pusat
19
ketidaksadaran, baik ketidaksadaran pribadi (hal-hal yang didesak ke
dalam ketidaksadaran hidup individu) maupun ketidaksadaran kolektif
(kecenderungan ke arah kegelapan pada tiap manusia). Bayang-bayang
merupakan tokoh archetypus, suatu pecahan kepribadian yang walaupun
merupakan bayang-bayang tetapi tidak terikat kepada individu.
2. Proyeksi: Imago
Proyeksi diartikan: dengan secara tidak sadar menempatkan isi-isi
batin sendiri pada obyek-obyek di luar dirinya. Bayang- bayang itu adalah
sifat-sifat atau kualitas-kualitasnya ketidaksadaran sendiri yang dihadapi
sebagai sifat-sifat atau kualitas-kualitas orang lain. Peristiwa-peristiwa ini
terjadi secara mekanis, tidak disadari. Jung menamakan isi kejiwaan yang
diproyeksikan kepada orang lain itu sebagai imago.
3. Animus dan anima
Imago yang terpenting pada orang dewasa adalah animus bagi
perempuan dan anima bagi laki-laki, yaitu sifat-sifat atau kualitas-kualitas
jenis kelamin lain yang ada dalam ketidaksadaran manusia. Tiap-tipa
manusia mempunyai sifat-sifat yang terdapat pada jenis kelamin lawannya:
laki-laki ketidaksadarannya adalah betina (anima) dan perempuan
ketidaksadarannya adalah jantan (animus) (Suryabrata 2002: 169-170).
Ego sebagai pusat dari kesadaran dan merupakan tempat kontak dengan
dunia luar mempunyai tugas untuk mengadakan keseimbangan antara tuntutan
dari luar dengan dorongan-dorongan yang datang dari ketidaksadaran pribadi
maupun ketidaksadaran kolektif.
20
Dalam tugasnya ini, ego sampai batas-batas tertentu dapat mempengaruhi
dunia luar dan menontrol ketidaksadaran pribadi. Tetapi ego tidak mempunyai
kekuatan untuk mempengaruhi ketidaksadaran kolektif, bahkan egolah yang
dipengaruhi oleh ketidaksaran kolektif itu. Kalau ego tidak berhasil menjaga
keseimbangan antara tuntutan dari dunia luar, dorongan ketidaksadaran pribadi
dan ketidaksadaran kolektif, maka ego akan menderita dan orang yang
bersangkutan akan menderita neurotik (Sarwono 1987: 170-171).
2. 2. 2 Preferensi dalam Tipe kepribadian Manusia
Preferensi dalam tipe kepribadian manusia berjumlah delapan antara lain
Ekstrovert, Introvert, Pengindra, Intuitif, Berpikir, Perasa, Penilai, dan Pengamat.
1. Orientasi Ekstrovert
Ekstrovert adalah suatu kecenderungan yang mengarahkan kepribadian
lebih banyak ke luar daripada ke dalam diri sendiri. Seorang ekstrovert memiliki
sifat sosial, lebih banyak berbuat daripada berkontemplasi (merenung dan
berpikir). Ia juga adalah orang yang penuh motif-motif, yang dikoordinasi oleh
kejadian-kejadian eksternal (Chaplin dalam Naisaban 2003:13). Ekstrovert diberi
ciri sebagai kecenderungan pada objek-objek dari luar diri, suatu kesiapan untuk
menerima kejadian-kejadian luar, suatu keinginan untuk mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekitar, suatu kebutuhan
untuk terlibat, punya kapasitas untuk bertahan, menikmati kesibukan, dan setiap
macam keributan di sekitarnya.
21
Jung percaya bahwa perbedaan tipe kepribadian manusia dimulai sejak
kecil. Jung mengatakan bahwa : “Tanda awal dari perilaku ekstrovert seorang
anak adalah kecepatannya dalam beradaptasi dengan lingkungan dan perhatian
yang luar biasa, yang diperankan pada objek-objek, khususnya pada efek yang
diperoleh dari dari objek-objek itu. Ketakutan pada objek-objek sangat kecil. Ia
hidup dan berpindah antara objek-objek itu dengan penuh percaya diri. Karena itu,
ia bebas bermain dengan mereka dan belajar dari mereka. Ia sangat berani.
Kadang ia mengarah ke sikap ekstrem sampai pada tahap resiko. Segala sesuatu
yang tak diketahuinya selalu memikat perhatian (Sharp dalam Naisaban 2003:14).
Walaupun setiap orang dipengaruhi data objektif, namun untuk orang
ekstrovert, pemikiran, keputusan dan seluruh perilakunya ditentukan oleh kondisi
objektif dibandingkan pandangan-pandangan pribadinya. Sebagai contoh ada
orang yang rela dirinya ditertawakan, dengan tujuan supaya orang lain tertawa.
Bentuk neurotik yang sering diderita yang sering diderita orang ekstrovert
adalah histeria. Hal ini terjadi sebagai suatu identifikasi objektif dengan pribadipribadi
dalam lingkungan yang dekat dan sebagai suatu penyesuaian diri terhadap
banyak kondisi eksternal yang perlu ditiru (Naisaban 2003:15). Histeria akan
semakin besar dan panjang untuk menarik perhatian orang lain dan untuk
menimbulkan kesan yang baik bagi orang lain. Mereka adalah orang yang suka
diperhatikan, suka menganjurkan, berlebihan dipengaruhi orang lain, suka
bercerita, yang kadang mengaburkan kebenaran. Histeria neurotik mulai sebagai
pernyataan berlebihan dari seorang berkarakter ekstrovert, lalu semakin rumit
lewat reaksi-reaksi kompensasi dari ketaksadaran (unconscious). Hal-hal ini
22
kemudian mengurangi pernyataan yang berlebihan dari seorang berkarakter
ekstrovert lewat symtom-symtom yang memaksa individu ke introvert (Naisaban
2003:16). Reaksi ini merupakan bentuk kompensasi antara ketaksadaran
(unconscious) dengan kesadaran (conscious) untuk menjaga keseimbangan psikis.
Sehingga walaupun seseorang normalnya ekstrovert, namun kadang kala
berperilaku introvert.
2. Orientasi Introvert
Introvert adalah suatu orientasi ke dalam diri sendiri.secara singkat
seorang introvert adalah orang yang cenderung menarik diri dari kontak sosial.
Minat dan perhatiannya lebih terfokus pada pikiran dan pengalamannya sendiri.
Menurut Jung, orang introvert memfokuskan libidonya ke dalam, dan tenggelam
ke dalam diri sendiri, khususnya pada saat-saat mengalami ketegangan dan
tekanan batin. Seorang introvert cenderung merasa mampu dalam upaya
mencukupi diri sendiri. sebaliknya, seorang ekstrovert membutuhkan orang lain
(Sharp dalam Naisaban 2003:18).
Pada sadarnya, kesadaran seorang introvert tentang kondisi-kondisi
eksternal dapat disadari dengan baik sekali. Namun faktor-faktor subjektif
diyakininya sebagai pendorong motivasiya. Jung menguraikan perilaku introvert
sebagai orang pendiam, menjauhkan diri dari kejadian-kejadian luar (tertutup),
tidak mau terlibat dengan dunia objektif, tidak senang berada di tengah orang
banyak, merasa kesepian dan kehilangan di tengah orang banyak. Ia melakukan
sesuatu menurut caranya sendiri, menutup diri terhadap pengaruh dunia luar. Ia
orang juga orang yang gampang cemburu dan iri hati. Orang tipe ini juga biasanya
23
tidak mudah menerima kritik dari orang lain, egois dan egosentris (Naisaban
2003: 19). Dalam kondisi kurang normal ia menjadi orang yang pesimis dan
cemas, karena dunia dan manusia siap menghancurkannya.dunianya adalah suatu
pelabuhan yang aman. Tempat tinggalnya (rumah) adalah yang teraman. Teman
pribadinya adalah teman yang terbaik.
Ciri introvert pada diri seorang anak adalah reflektif, tenggang rasa,
pemalu, dan bahkan takut pada objek baru. Ia cenderung mencurigai setiap hal
atau orang baru. Ia ingin caranya sendiri. Sedangkan ciri introvert yang tampak
dalam diri orang dewasa adalah kecenderungan menilai rendah hal-hal atau orang
lain. Semakin egonya besar, berjuang menyediakan keberdikarian dan
kebebasannya dari kewajiban dan superioritas maka semakin pula ia menjadi
budak data objektif. Kebebasan berpikir individu dibelenggu oleh ketergantungan
finansial, demam panggung di hadapan publik, kegagalan superioritas moralnya
dalam suatu kekacaubalauan inferioritas relasi.
Di sini ketidaksadaran mengambil alih relasi objektfnya. Dalam situasi
psikologis ini orang introvert dapat menggunakan tindakan pembelaan diri.
Sementara itu, ia membuat usaha yang sia-sia untuk memaksa dirinya, memaksa
kehendaknya pada objek. Hal ini menguras tenaga. Dalam kasus yang kurang
ekstrem, orang introvert lebih konservatif, memiliki kebiasaan yang cenderung
subjektif, egosentris berlebihan di sisi yang satu dan suatu dorongan kuat
ketidaksadaran di sisi yang lain (Naisaban 2003:20).
24
3. Fungsi Pengindra
Setiap orang memiliki pikiran yang terang mengenai bagaimana pengindra
berfungsi atau bekerja. Jelas bahwa tubuh dan pikiran memproses data lewat kerja
indra-indra. Kita mengatakan bahwa sebuah apel itu enak karena pernah
merasakan kemanisannya, merasakan air jusnya, menyaksikan buahnya yang bulat
merah atau kuning. Mata, jari, bibir, lidah dan telinga kita menjelaskan kepada
kita apa itu rasa apel. Orang-orang yang menggunakan fungsi Pengindra,
umumnya senang yang praktis dan realistis. Umumnya mereka percaya,
menghargai, mengarahkan energi pada saat sekarang dan di sini. Respons kepada
indra-indra, cepat fokus pada kehidupan mereka dan sesegera mungkin (Naisaban
2003:21).
Orang berfungsi pengindra selalu ingin segera melihat dan menyaksikan
hasil dari kerjanya. Perhatian kepada saat sekarang, ketidaksabaran dengan
penundaan, dan sensivitasnya pada seluk beluk fakta, menjadikan orang pengindra
sebagai orang yang meyakinkan. Ia siap berdebat untuk mempertahankan pokok
pikirannya atau rencana kegiatan yang ia lakukan.
Shadow (sisi gelap) dari orang pengindra menurut Jung (dalam Naisaban
2003:22) adalah bahwa ia kurang memiliki gambaran secara menyeluruh tentang
suatu hal. Kurang melihat konsekuensi masa depan dan kemungkinan adanya
agenda tersembunyi yang menyebabkan adanya tindakan kurang bijaksana dan
pandangan yang kurang luas. Walaupun ada sisi gelapnya, orang berfungsi
pengindra dikenal sebagai orang yang sangat baik dalam hidup komunitas,
memiliki rasa kebersamaan. Ia dianugerahi cinta, menemukan kesenangan di
25
dalam hal-hal khusus “saat sekarang”, seperti mencintai matahari terbenam bukan
sebagai suatu mimpi, melainkan keindahan warna yang ada dalam matahari tu
sendiri.
4. Fungsi Intuitif
Intuitif adalah suatu jalan merasakan, cara membawakan informasi kepada
budi dan jiwa. Cara ini adalah proses yang sering digunakan baik oleh pria
maupun wanita. Intuitif adalah juga suatu kemampuan atau kualitas yang sering
ditampilkan para tukang sihir, orang-orang kreatif, dan para nabi. Fungsi intuitif
menurut Jung (dalam Naisaban 2003:23) suatu fungsi merasakan, suatu fungsi
yang muncul dengan sendirinya secara alamiah seperti fungsi pengindra. Fungsi
ini digerakkan dari alam tak sadar manusia. Keduanya bekerja dalam setiap
pribadi manusia, namun satunya lebih kuat, lebih dominan, lebih jelas muncul
dalam perilaku setiap hari.
Individu yang menggunakan fungsi intuitif sebagai pola menerima
informasi akan menggunakan indra-indra sadarnya, dalam belajar tentang dunia,
namun bila individu itu ditanya bagaimana ia sampai tahu segala yang telah
ketahui maka ia kan heran dngan segala yang ia ketahui dan alami. Orang intuitif
sangat optimis dan punya antusiasme yang tinggi serta tidak meliki orientasi yang
kuat terhadap masa depan. Ia sangat gandrung berbicara mengenai proyek-proyek
baru, rencana baru, dan kadang gampang mempengaruhi orang lain, namun ia
gampang berpindah ke proyek atau pikiran baru sebelum selesai melaksanakan
yang lama. Hal ini terjadi karena orang intuitif selalu banyak memikirkan,
26
memimpikan hal yang baru sehingga mereka cepat bosan dengan apa yang mereka
kerjakan sekarang.
5. Fungsi Berpikir
Orang berfungsi berpikir biasanya bekerja atas dasar logika, objektivitas,
dan bermental analitis. Berpikir termasuk juga dalam fungsi penilai yang
didasarkan pada logika. Orang berfungsi berpikir biasanya impersonal, sangat
menjunjung tinggi logika, berusaha menemukan kriteria objktif sebelum
memutuskan sesuatu. Mereka adalah orang yang mampu bernegoisasi, sangat
tekun dengan kerjanya dan suka menganalisis. Mereka sulit mengungkapkan
perasaan, khususnya mereka yang bertipe pemikir-introvert. Dalam pekerjaan,
mereka umumnya kurang emosional, kurang tertarik pada perasaan orang lain,
kadang menyakiti orang lain tanpa mereka sadari, senang membuat analisis, dan
mengatur segala sesuatu dalam keadan yang teratur, senang memutuskan sendiri
dan kadang kurang memperhatikan keinginan orang lain, cenderung mempunyai
hubungan baik hanya dengan orang yang berpikiran sama, kadang tampak berhati
keras. Dalam pergaulan mereka umumnya tampak dingin, menekan emosi, kadang
melakukan permainan yang kurang adil, membutuhkan sistem yang teratur dalam
hidupnya dan cenderung mengkritik seseorang sebagai jalan menuju
perkembangan hidup (Naisaban 2003:26-27).
6. Fungsi Perasa
Fungsi perasa adalah proses rasional yang membuat keputusan atas dasar
sistem nilai. Proses ini akan mengalami kesulitan ketika nilai-nilai kehidupan itu
agak kabur dan saling bertentangan. Misalnya, ada pandangan bahwa tidak baik
27
memenjarakan orang seumur hidup. Tetapi membunuh juga perbuatan tidak baik.
Kalau pembunuh itu diadili pasti yang akan muncul adalah hukuman mati,
hukuman seumur hidup atau dibebaskan. Keputusan pertama dan kedua
berlawanan dengan keinginan perasa, namun keputusan nomor tiga, tidak adil
bagi masyarakat. Di sini ada pertentangan nilai, jadi tidak gampang bagi orang
berfungsi perasa untuk memutuskan. Situasi konflik ini sering membuat orang
perasa mengalami stress dan sakit. Namun di pihak lain, bila orang perasa yakin
akan nilainya maka ia akan sangat yakin pula dalam membuat keputusan. Salah
satu kebaikan dalam fungsi ini yakni mereka memiliki kemampuan untuk
mengerti perasaan-perasaan orang lain. Kemampuan empati ini diakui dan
disadari oleh fungsi-fungsi yang lain, walau sangat sulit bagi orang yang berfungsi
berpikir untuk memahaminya (Naisaban 2003:28).
Fungsi perasa sangat membutuhkan harmonisasi. Kebutuhan ini begitu
kuatnya sehingga kadang mereka sangat hati-hati dalam membaca kebutuhan dan
perilaku orang lain. Ia berusaha menghindari pertentangan, terkadang sulit untuk
menerima kritik, cenderung setuju dengan orang lain, sangat sulit baginya untuk
mengurus bisnis, kadang sulit mengungkapkan pikirannya secara logis, bahkan
terkesan semrawut. Mereka umumnya tidak mengalami kesulitan dalam
pergaulan, dan sangat simpatik.
7. Fungsi Penilai
Naisaban (2003:29) merumuskan seorang yang berfungsi penilai memiliki
karakter yang sistematis, rapi, kurang luwes, berkesan maju, bertanggung jawab,
dan tegas. Ia mempunyai rencana yang jelas, punya pendirian yang keras, gemar
28
membuat keputusan, senang kalau segala sesuatu berjalan lancar atau selesai pada
waktunya. Ia terkesan kurang luwes, memiliki keingnan untuk memiliki banyak,
memiliki kepribadian yang kuat, selalu berusaha menyelesaikan pekerjaan yang
dipercayakan kepadanya, dan punya tanggung jawab yang sangat tinggi. Kadang
kurang sabar, tidak mengganggu pekerjaan yang sedang berjalan walau urgen
sekalipun, kadang tidak memperhatikan hal baru yang perlu diselesaikan juga.
Kelemahannya adalah kaku, ortodoks, rule oriented dan terlalu cepat memutuskan
sesuatu.
8. Fungsi Pengamat
Karakter orang pengamat adalah toleran, terbuka, gampang menyesuaikan
diri, sangat mengerti orang lain, spontan, luwes, dan punya semangat ingin tahu
yang tinggi. Ia memiliki spontanitas yang tak terduga, sangat toleran dan memiliki
hidup yang optimis. Prestasi merupakan prioritas dalam hidupnya, karena itu ia
ingin tahu dan berusaha untuk menemukan keinginannnya dalam segala macam
situasi. Ia bukanlah orang yang sering mengadili orang lain, menerima orang lain
apa adanya. Kelemahannya adalah suka menunda keputusan dan terkadang
sampai tidak ada keputusan, penampilannya tidak selalu rapi dan kurang
terorganisasi, dan kadang terlambat menghadapi situasi. Ia sangat baik dalam
menyesuaikan diri dengan perubahan situasi, ingin mengetahui banyak hal tentang
suatu kerja, ingin dan senang dengan hal baru. Kelemahannya dalam kerja adalah
membiarkan segalanya terbuka bagi orang lain, mengalami kesulitan dalam
membuat keputusan, cenderung memula banyak hal tetapi sulit menyelesaikan
29
semuanya, cenderung menunda kerja yang kurang menyenangkan (Naisaban
2003:29-30).
2. 3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Manusia
Berdasarkan dari teori Jung di atas maka faktor yang berpengaruh dalam
pembentukan kepribadian adalah faktor ketidaksadaran pribadi dan
ketidaksadaran kolektif yang meliputi:
a. Ketidaksadaran pribadi
Ketidaksadaran pribadi meliputi hal-hal yang diperoleh individu selama
hidupnya yang akan berpengaruh di dalam tingkah lakunya. Hal-hal tersebut
meliputi:
1) Faktor Kedewasaan
Kedewasaan merupakan tingkat kematangan seseorang dalam memenuhi
tugas-tugas dimasa perkembangan masa kanak-kanak, masa remaja, dan remaja
akhir (Hurlock 1992: 25). Misalnya seorang anak kecil yang pada umur tertentu
yang seharusnya bisa mengenali orang-orang di sekelilingnya tetapi anak
tersebut ternyata belum mengenali mereka, maka anak tersebut dapat dikatakan
gagal dalam memenuhi tugasnya sebagai anak seumurnya atau tidak matang
dalam perkembangannya.
2) Faktor Motif cinta
Sanggup mencintai dan dicintai adalah hal esensial sebagai pertumbuhan
kepribadian. Kehangatan, persahabatan, ketulusan kasih sayang, peneriman
orang lain yang hangat sangat dibutuhkan manusia.
30
3) Faktor Frustasi
Frustasi merupakan keadaan sesorang yang merasakan kekecewaan akibat
kegagalan di dalam mengerjakan sesuatu atau akibat tidak berhasil dalam
mencapai suatu cita-cita.
4) Faktor Konflik
Konflik merupakan sikap sesorang yang menentang, berselisih maupun
cekcok terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain.
5) Faktor Ancaman
Yaitu sikap seseorang yang akan melakukan sesuatu terhadap suatu objek
baik berupa pertanda atau peringatan mengenai sesuatu yang akan terjadi
(Suryabrata 2002: 141-142).
b. Ketidaksadaran Kolektif
Ketidaksadaran kolektif adalah sistem yang paling berpengaruh terhadap
kepribadian dan bekerja sepenuhnya di luar kesadaran orang yang bersangkutan
dan merupakan suatu warisan kejiwaan yang besar dari perkembangan
kemanusiaan (Dirgagunarsa 1978: 72). Hal-hal tersebut meliputi filsafat,
agama, dan mistik.
1. Faktor Biologis
Faktor biologis berpengaruh dalam seluruh kegiatan manusia. Warisan
biologis manusia menentukan kejiwaannya. Kejiwaan yang merupakan bawaan
manusia, dan bukan pengaruh lingkungan (Rakhmat 1986: 41-45). Faktor
biologis ini misalnya kebutuhan biologis seseorang akan rasa lapar, rasa aman
dan hasrat seksual.
31
2. Filsafat
Filsafat adalah usaha untuk mengenal dan memahami dunia dalam hal
makna dan nilai-nilainya. Bidang filsafat sangatlah luas dan mencakup secara
keseluruhan sejauh mana dapat dijangkau pikiran manusia. Filsafat berusaha
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tentang asal mula dan sifat dasar alam
semesta tempat manusia hidup serta apa yang merupakan tujuan hidupnya
(Rahman Dkk 2003:45). Filsafat berusaha menyatukan hasil-hasil ilmu dan
pemahaman tentang moral, etika, estetika, dan agama.
Secara etimologis filsafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia. Philos
artinya suka, cinta atau kecenderungan pada sesuatu, sedangkan Sophia artinya
kebijaksaan. Dengan demikian secara sederhana filsafat dapat diartikan sebagai
cinta atau kecenderungan pada kebijaksanaan (Muntasyir dan Misnal Munir
2002:2).
Fungsi dari filsafat adalah mengatasi spesialisasi dan merumuskan suatu
pandangan hidup (lebensanscnhauung) dan pandangan dunia (weltanschauung)
yang didasarkan pengalaman kemanusiaan yang luas. Oleh karena itu, filsafat
merupakan salah satu bagian dari proses pendidikan secara alami dari makhluk
yang berpikir (Rahman Dkk 2003:46).
Menurut Socrates (dalam Rahman Dkk 2003:46), filsafat adalah cara
berpikir yang radikal dan menyeluruh atau cara berpikir yang mengupas
sesuatu sedalam-dalamnya dan berkelanjutan. Filsafat mendorong orang untuk
mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui. Dengan
demikian, filsafat berarti mengoreksi diri sendiri agar orang itu berani berterus
32
terang mengenai keterbatasan pengetahuannya dan kemampuannya. Berfilsafat
berarti pula berendah hati terhadap kesemestaan, menyadari akan
kedudukannya di tengah-tengah alam semesta. Adapun hal-hal yang menjadi
pokok kajian dari filsafat adalah: (a) logika, (b) etika, (c) estetika, (d)
metafisika, (e) politik.
Logika adalah kajian yang mencari mana yang benar dan mana yang
salah.sedangkan etika adalah kajian yang mencari mana yang baik dan mana
yang buruk. Estetika merupakan kajian untuk menentukan mana yang indah
dan mana yang jelek dan metafisika adalah kajian yang termasuk ke dalam teori
tentang ada atau tentang tidak ada, hakikat keberadaan suatu zat, hakikat
pikiran, dan kaitan antara pikiran dan zat. Metafisika juga mengkaji hal-hal
yang gaib, misteri, rahasia, samara-samar atau juga disebut ontologi, yakni ilmu
yang mempelajari tentang hakikat sesuatu. Politik ialah kajian mengenai
organisasi pemerintahan yang ideal, bagaimana memusatkan kekuasaan
(sentralisasi dan konsentrasi) serta membagi kekuasaan (desentralisasi dan
dekeonsentrasi).
3. Agama
Pada dasarnya manusia dibekali Tuhan instink atau intuisi, penginderaan
dan perasaan, akal, agama, taufiq dan ‘inayah. Karena akal (rasio) dan rasa
(perasaan) inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya dan
lebih tinggi derajatnya. Manusia menggunakan akalnya untuk mencari, meneliti
dan mempelajari rahasia-rahasia yang terkandung di dalam alam semesta.
Manusia juga mempunyai sifat dasar ingin tahu dan tak pernah puas yang
33
mendorong mereka untuk mempertanyakan berbagai macam realitas yang
dihadapinya kemudian berusaha mencari jawabnya sendiri. Apabila kemudian
ia merasa, ia sangat terbatas dan terikat terutama pada waktu mengalami
penderitaan atau kegagalan, maka dengan adanya kesadaran akan keterbatasan
itulah manusia mulai berfilsafat. Ia akan berpikir bahwa di luar manusia yang
terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas yang dijadikan bahan kemajuan
untuk menemukan kebenaran hakiki (Sudarsono dalam Mutadho 2001: 2).
Namun jika manusia hanya menggunakan akal yang bersifat nisbi dan
terbatas, tetap saja manusia tidak akan mampu menjangkau persoalan yang ada
di hadapannya secara tuntas. Karena keterbatasan akal itulah maka hasil
penetapannya pun hanyalah mencapai tingkat kebenaran relatif . Akal dapat
mengalami perubahan sehingga keputusannya pun dapat pula berubah.
Misalnya dalam Ilmu Pengetahuan yang pada umumnya mengandalkan analisa
data dan fakta yang bersifat empiris dan dapat diuji kebenarannya secara
empiris. Oleh karena itu konsepsi filsafat tentang persoalan apa saja terutama
yang menyangkut Tuhan (metafisika) tidak pernah memberikan kebenaran
yang bersifat abadi dan absolut, sehingga sama sekali tidak dapat dijadikan
sebagai pegangan hidup dan keyakinan.
Betapapun pintarnya manusia dan betapapun hebatnya akal mereka,
namun masih terlalu banyak hal-hal yang tidak dapat dipecahkan oleh akal
murni. Terlalu banyak hal-hal yang absurd di dunia ini yang tidak dapat
dijawab oleh logika biasa, sehingga persoalan-persoalannya harus
34
dikembalikan kepada agama dan kepada Tuhan untuk memperoleh jawaban
yang memberi kepuasaan.
Dengan demikian manusia memerlukan pegangan hidup yang bersifat
absolut dan mutlak, agar dia tidak terombang-ambing dalam ketidakpastian di
dalam hidupnya. Pegangan yang bersifat absolut itu tentunya hanya datang dari
Dzat yang bersifat absolut pula, yaitu Tuhan. Pegangan-pegangan yang bersifat
absolut itu langsung diturunkan oleh Tuhan YME melalui wahyu yang
diturunkan kepada utusan-utusan-Nya. Ajaran-ajaran di dalam wahyu itulah
yang kemudian disebut Agama. Kebenaran Agama bersifat eternal (abadi) dan
tidak mungkin mengalami perubahan. Tetapi tidak berarti bahwa dengan
sifatnya eternalnya itu agama akan menjadi kaku dan tidak dapat mengikuti
perkembangan zaman yang selalu berubah (Depag 1997:135).
Antara agama dan filsafat mempunyai kaitan timbal balik yang erat.
Filsafat dapat berfingsi sebagai alat memperkokoh kedudukan agama,
sedangkan Agama dapat menjadi dasar dan inspirasi bagi berbagai pemikiran
filosofis yang kuat dan benar. Selain itu, agama sekaligus akan berperanan
untuk menjadi kendali bagi pemikiran-pemikiran filosofis, sehingga tidak
menyimpang dari kebenaran sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Tuhan
YME.
Dengan demikian fungsi agama bagi manusia meliputi: a) sebagai sistem
kepercayaan, b) sebagai suatu sistem ibadah, c) sebagai sistem kemasyarakatan.
Agama sebagai suatu sistem kepercayaan akan memberikan pegangan yang
lebih kokoh tentang suatu masa depan yang pasti bagi manusia. Di samping itu
35
sistem kepercayaan yang benar dan dihayati dengan mendalam akan
menjadikan manusia sebagai seorang yang memiliki taqwa, yang akan
menjadikan motivator serta pengendali oleh setiap gerak langkahnya sehingga
tidak terjerumus kepada perbuatan-perbuatan hina dan merusak.
Agama sebagai suatu sistem ibadah, agama akan memberi petunjuk
kepada mausia tentang tata cara berkomunikasi dengan Tuhan menurut jalan
yag dikendaki-Nya sendiri. Karena menyimpang dari cara-cara yang telah
ditetapkan merupakan perbuatan yang tidak disukai oleh Tuhan. Ibadah sebagai
sistem komunikasi vertical antara hamba dengan makhluknya sangat besar efek
positifnya. Oleh karena melalui ibadah itu si hamba dapat langsung berdialog
dan bermunajat dengan Tuhannya, di mana dia akan mencurahkan segala
problema yang di hadapinya dalam hidup ini. sistem ini tidak diragukan lagi
akan manfaatnya yang dapat menetralisir keadaan jiwa manusia yang selalu
sibuk dalam urusan duniawiahnya, sehingga tercipta suasana optimisme dalam
hidup.
Agama sebagai suatu sistem kemasyarakatan maka agama akan memberi
pedoman-pedoman dasar dan ketentuan-ketentuan pokok yang harus dipegangi
oleh manusia dalam mengatur hubungan-hubungannya dengan sesame
manusia, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok masyarakat.
Manusia sebagai mahkluk sosial tidak dapat mengelakkan dirinya dari
hubungannya dengan sesame manusi. Dalam hubungannya dengan sesama
manusia, akan tercipta aturan-aturan dan hukum-hukum sendiri yang harus
36
disepakati, yang meliputi apa yang disebut hak dan kewajiban (Depag
1997:138-139).
4. Mistik
Mistik adalah hal-hal ghaib yang tidak terjangkau dengan akal manusia
biasa. Mistik merupakan subsistem yang ada dalam hampir semua agama dan
sistem religi untuk memenuhi hasrat manusia yang mengalami dan merasakan
emosi bersatu dengan Tuhan. Misalnya berdoa, berzikir, mengadakan
selametan dan sebagainya.
Mistisisme adalah falsafah hidup yang dimaksudkan untuk meningkatkan
jiwa seorang manusia, secara moral, lewat latihan-latihan tertentu, kadang
untuk pemenuhan fana dalam Realitas Yang Tertinggi serta pengetahuan
tentang-Nya secara intuitif, tidak secara rasional, yang buahnya ialah
kebahagiaan rohaniah, yang hakekat realitasnya sulit diungkapkan dengan katakata,
sebab karakternya bercorak intuitif dan subyektif (Murtadho 2002:19).
Jadi mistik merupakan bagian dari sikap manusia yang secara tidak sadar
mempercayai sesuatu yang tidak rasional sebagai cara untuk melepaskan
pikiran dan perasaan yang hasilnya akan mendatangkan kebahagiaan rohani
bagi manusia.
2. 4 Tokoh dan Penokohan
2. 4. 1 Pengertian Tokoh
Tokoh dan penokohan merupakan unsur yang penting dalam karya naratif.
Tokoh-tokoh tersebut tidak saja berfungsi untuk memainkan cerita, tetapi juga
37
berperan untuk menyampaikan ide, motif, plot dan tema. Tokoh cerita menurut
Abrams (dalam Nurgiyantoro 2000:165) adalah orang-orang yang ditampilkan
dalam suatu karya naratif, atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki
kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam
ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan. Sayuti (1996:43) juga
berpendapat bahwa tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa
dalam tindakan.
Tokoh menurut Aminuddin (1995:79) adalah tokoh yang mengemban
peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita.
Menurut Sudjiman (1990:79) tokoh adalah individu rekaan yang mengalami
peristiwa di dalam berbagai peristiwa dalam cerita.
Dari berbagai pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa tokoh adalah
individu rekaan dalam cerita yang mengalami peristiwa dalam tindakan.
2. 4. 2 Jenis-jenis Tokoh
Sebuah novel biasanya menghadirkan sejumlah tokoh di dalamnya.
Namun, dalam kaitannya dengan keseluruhan cerita, peranan masing-masing
tokoh tersebut tidak sama. Dilihat dari segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh
dalam sebuah cerita, dibagi menjadi tokoh utama (central character, main
character) dan tokoh tambahan (peripheral character).
a) Tokoh utama cerita (central character, main character) yaitu tokoh yang
diutamakan penceritannya dalam cerita. Tokoh ini biasanya ditampilkan
terus menerus sehingga terasa mendominasi sebagian besar cerita.
38
b) Tokoh tambahan (peripheral character) adalah tokoh yang mempunyai
peranan yang tidak penting dalam cerita dan kehadirannya hanya jika ada
keterkaitannya dengan tokoh utama (Nurgiyantoro 2000: 176-177).
2. 4. 3 Pengertian Penokohan
Penokohan atau perwatakan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita baik
keadaan lahirnya maupun keadaan batinnya, yang berupa pandangan hidupnya,
sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya, dan sebagainya (Suharianto 1982:31).
Perwatakan dalam suatu fiksi dapat dipandang dari dua segi. Pertama
mengacu pada suatu tokoh atau orang yang bermain dalam cerita, emosi dan
moral yang membentuk individu yang bermain dalam satu cerita (Stanson dalam
Baribin 1985:54). Jones dalam Nurgiyantoro (2000:165) penokohan adalah
pelukisan gambaran yang jelas tentang sesorang yang ditampilkan dalam sebuah
cerita.
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa penokohan adalah
pelukisan gambaran sesorang yang jelas yang ditampilkan dalam sebuah cerita
dan mempunyai sikap-sikap tertentu.
2. 4. 4 Teknik Pelukisan Tokoh
Menurut Nurgiyantoro (2000:194) secara garis besar teknik pelukisan
tokoh dalam suatu karya dapat dibedakan menjadi dua yaitu teknik ekspositori
(penjelasan) dan teknik dramatik. Istilah lain kedua teknik pelukisan tokoh di atas
adalah teknik pelukisan secara langsung dan pelukisan secara tidak langsung.
39
a) Teknik Ekspositori
Teknik ini sering disebut dengan teknik analitis, pelukisan tokoh
cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan
secara langsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang secara
tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan langsung disertai deskripsi
kediriannya, yang mungkin berupa sikap, sifat, watak, tingkah laku, atau
bahkan ciri fisiknya (Nurgiyantoro 2000:195). Bahkan sering dijumpai
dalam suatu karya fiksi, informasi tentang kedirian tokoh tersebut telah
diterima secara lengkap. Hal semacam ini biasanya terdapat pada tahap
perkenalan. Pengarang tidak hanya memperkenalkan latar dan suasana
dalam rangka “menyituasikan” pembaca, melainkan juga data-data
kedirian tokoh cerita.
b) Teknik Dramatik
Pada teknik dramatik ini tokoh ditampilkan mirip dengan ketika
ditampilkan pada drama, dilakukan secara tidak langsung. Artinya,
pengarang tidak mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta
tingkah laku tokoh. Pengarang membiarkan para tokoh cerita menunjukkan
kediriannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang dilakukan, baik secara
verbal lewat kata maupun nonverbal lewat tindakan atau tingkah laku, dan
melalui peristiwa yang terjadi .
Dalam Nurgiyantoro (2000:201) penampilan tokoh secara dramatik
dapat dilakukan melalui beberapa teknik, antara lain:
40
1. Teknik Cakapan
Percakapan yang dilakukan oleh tokoh cerita biasanya juga
dimaksudkan untuk menggambarkan sifat-sifat tokoh yang bersangkutan
(Nurgiyantoro 2000:201). Tetapi tidak semua percakapan mencerminkan
kedirian tokoh. Percakapan yang menggambarkan sifat-sifat tokoh
biasanya adalah percakapan yang baik, efektif, lebih fungsional.
2. Teknik Tingkah Laku
Teknik tingkah laku ini terwujud dari tindakan tokoh cerita yang
bersifat nonverbal atau fisik (Nurgiyantoro 2000:203). Apa yang dilakukan
tokoh dalam wujud tindakan dan tingkah laku, misalnya menunjukkan
reaksi, tanggapan, sifat, dan sikap dapat mencerminkan sifat-sifat kedirian
tokoh cerita.
3. Teknik Pikiran dan Perasaan
Keadaan dan jalan pikiran serta perasaan, apa yang melintas di
dalam pikiran dan perasaan, serta apa yang (sering) dipikir dan dirasakan
oleh tokoh, dalam banyak hal akan mecerminkan sifat-sifat kediriannya.
Perbuatan dan kata-kata merupakan pewujudan konkret tingkah laku
pikiran dan perasaan. Di samping itu, dalam bertingkah laku secara fisik
dan verbal, orang mungkin berlaku atau dapat berpura-pura, berlaku secara
tidak sesuai dengn yang ada dalam pikiran dan hatinya. Namun, orang
tidak mungkin dapat berlaku pura-pura terhadap pikiran dan hatinya
sendiri (Nurgiyantoro 2000:204).
41
4. Teknik Arus Kesadaran
Teknik arus kesadaran berkaitan erat dengan teknik pikiran dan
perasaan. Keduanya tak dapat dibedakan secara pilah, bahkan mungkin
dianggap sama karena memang sama-sama menggambarkan tingkah laku
batin tokoh. Arus kesadaran merupakan sebuah teknik narasi yang
berusaha menangkap pandangan dan aliran proses mental tokoh, antara
tanggapan indera bercampur dengan kesadaran dan ketaksadaran pikiran,
perasaan, ingatan, harapan, dan asosiasi-asosiasi acak (Abrams dalam
Nurgiyantoro 2000: 206).
Aliran kesadaran berusaha menangkap dan mengungkapkan proses
kehidupan batin, yang memang hanya terjadi di batin, baik yang berada di
ambang kesadaran maupun ketaksadaran, termasuk kehidupan bawah
sadar. Apa yang hanya ada di bawah sadar, atau minimal yang ada di
pikiran dan perasaan manusia, jauh lebih banyak dan komplek daripada
yang dimanifestasikan ke dalam perbuatan dan kata-kata.
5. Teknik Reaksi Tokoh
Teknik reaksi tokoh merupakan reaksi tokoh terhdap suatu
kejadian, masalah, keadaan, kata, dan sikap, tingkah laku orang lain, dan
sebagainya yang berupa “rangsang” dari luar diri tokoh yang bersangkutan.
6. Teknik Reaksi Tokoh Lain
Reaksi tokoh lain dimaksudkan sebagai reaksi yang diberikan oleh
tokoh lain terhadap tokoh utama, atau tokoh yang dipelajari kediriannya,
yang berupa pandangan, pendapat, sikap, komentar, dan lain-lain. Dengan
42
kata lain, penilaian kedirian tokoh (utama) cerita oleh tokoh-tokoh cerita
yang lain dalam sebuah karya (Nurgiyantoro 2000:209).
7. Teknik Pelukisan Latar
Pelukisan suasana latar dapat lebih mengintensifkan sifat kedirian
tokoh seperti yang telah diungkapkan dengan berbagai teknik yang lain.
Keadaan latar tertentu, dapat menimbulkan kesan yang tertentu pula di
pihak pembaca.
8. Teknik Pelukisan Fisik
Keadaan fisik sesorang sering berkaitan dengan keadaan
kejiwaannya atau paling tidak pengarang sengaja mencari dan
memperhubungkan adanya keterkaitan itu (Nurgiyantoro 2000:210).
Misalnya, bibir tipis yang merujuk pada sifat ceriwis dan bawel.
43
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Sasaran Penelitian
Sasaran penelitian skripsi ini adalah tipe kepribadian tokoh utama dan
faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama novel Midah Simanis
Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer menurut teori psikoanalisa Carl
Gustav Jung. Tipe kepribadian setiap individu berbeda-beda. Tipe kepribadian
adalah tipikal dari pribadi seseorang yang menjadi karakteristik orang tersebut
yang merupakan seluruh peristiwa kejiwaan di dalam diri seseorang dalam
menyesuaikan diri terhadap lingkungan.
3.2 Data dan Sumber Data Penelitian
Data yang diteliti meliputi kalimat-kalimat atau pernyataan-pernyataan
yang terdapat di dalam novel Midah Simanis Bergigi Emas karya Pramoedya
Ananta Toer yang mengandung informasi tentang tipe kepribadian tokoh utama
dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama.
Sumber data penelitian ini berupa novel Midah Simanis Bergigi Emas
karya Pramoedya Ananta Toer dengan tebal 134 halaman, diterbitkan oleh Lentera
Dipantara, cetakan pertama bulan juli tahun 2003.
44
3. 3 Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan untuk meneliti novel ini adalah pendekatan
Psikologi Sastra. Menurut Semi (1993:76) pendekatan psikologi sastra adalah
pendekatan yang bertolak dari asumsi bahwa karya sastra selalu saja membahas
tentang penilaian kehidupan manusia. Dalam pandangan Wellek, Warren dan
Hardjana (dalam Endraswara 2004:98), psikologi sastra mempunyai empat
kemungkinan penelitian. Pertama, penelitian terhadap psikologi pengarang
sebagai tipe atau sebagai pribadi. Peneliti berusaha menangkap kondisi kejiwaan
seorang pengarang pada saat menelurkan karya sastra. Kedua, penelitian proses
kreatif dalam kaitannya dengan kejiwaan. Psikologi ini berhubungan dengan
psikologi proses kreatif, yaitu bagaimana langkah-langkah psikologis ketika
mengekspresikan karya sastra menjadi fokus. Ketiga, penelitian hukum-hukum
psikologi yang diterapkan pada karya sastra. Dalam kaitan ini studi dapat
diarahkan pada teori-teori psikologi, misalnya psikoanalisis ke dalam sebuah teks
sastra. Keempat, penelitian dampak psikologis teks sastra kepada pembaca. Studi
ini lebih cenderung ke arah aspek-aspek pragmatik psikologis teks sastra terhadap
pembacanya.
Penelitian ini mengangkat permasalahan bagaimana tipe kepribadian tokoh
utama novel dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama
dipandang dari teori psikoanalisa Carl Gustav Jung. Karena menggunakan teori
psikologi yaitu teori psikoanalisa Jung untuk menganalisis tokoh novel, maka
penelitian ini termasuk penelitian dengan menggunakan cara yang ketiga, yakni
penelitian hukum-hukum psikologi yang diterapkan pada karya sastra.
45
3. 4. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode analisis
deskriptif. Metode ini bertujuan untuk mendapatkan deskripsi penokohan tokoh
utama yang ada dalam novel Midah Simanis Bergigi Emas. Berdasarkan
penokohan tersebut maka dapat mengungkap tipe kepribadian tokoh utama yang
kemudian dikaji dengan menggunakan pendekatan psikologi.
Data dianalisis dengan menggunakan metode analisis deskripsi dengan
pendekatan psikologi. Analisis dengan metode deskriptif dilakukan dengan cara
mengidentifikasikan dan mendeskripsikan unsur pembangun cerita yang berupa
tokoh dan penokohan. Data dianalisis bagian demi bagian sehingga menghasilkan
kepribadian tokoh utama.
Kajian tokoh dan penokohan yang telah dilakukan dengan metode
deskriptif selanjutnya akan dikembangkan pada analisis tipe kepribadian tokoh
utama dengan pendekatan psikologi menggunakan teori psikoanalisa Carl Gustav
Jung. Selain mengungkap tipe kepribadian tokoh utama, teori ini juga digunakan
untuk mengungkap faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama.
Adapun langkah-langkah konkret dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Membaca teks novel secara keseluruhan dan memahami isinya.
2. Mendalami teori yang akan digunakan dalam mengkaji novel.
3. Menentukan tokoh utama yang akan dikaji.
4. Menentukan penokohan tokoh utama.
5. Menganalisis penokohan tokoh utama menurut tipe kepribadian Jung.
46
6. Mendeskripsikan tipe kepribadian tokoh utama menurut tipe kepribadian Jung.
7. Menentukan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama.
8. Mendeskripsikan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama.
9. Menyimpulkan keseluruhan hasil analisis.
47
BAB IV
TIPE KEPRIBADIAN DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA
NOVEL MIDAH SIMANIS BERGIGI EMAS
Tipe kepribadian yang dibahas pada skripsi ini adalah tipe kepribadian
tokoh utama novel Midah, Simanis Bergigi Emas karya Pramoedya Ananta Toer
menurut teori psikoanalisa Carl Gustav Jung. Tokoh utama tersebut adalah Midah.
Tokoh Midah mendominasi keseluruhan cerita dan diutamakan penceritaannya
dalam novel ini. Selain itu, isi dari novel ini menceritakan perjalanan kehidupan
dan perkembangan kepribadian Midah. Kehidupan Midah dengan segala
permasalahan kehidupannya diceritakan pengarang secara runtut, yaitu dimulai
dari kehidupan masa kecil yang bahagia, kemudian Midah kehilangan
kebahagiannya itu yang akhirnya membuat Midah menjadi seorang yang
berkepribadian keras hati, memegang prinsip, optimis, berani dan bijaksana. Jadi,
tokoh atau pelaku utama yang terdapat dalam novel ini adalah Midah.
4. 1 Tipe Kepribadian Tokoh Utama
Pada bab dua telah dijelaskan bahwa menurut Jung kepribadian seseorang
terdiri dari dua alam yaitu alam kesadaran dan alam ketidaksadaran. Kesadaran
berfungsi untuk penyesuaian terhadap dunia luar sedangkan ketidaksadaran untuk
penyesuaian terhadap dunia dalam. Kepribadian juga dipengaruhi oleh alam
ketidaksadaran. Jung membagi ketidaksadaran menjadi dua yaitu ketidaksadaran
48
pribadi dan ketidaksadaran kolektif. Isi ketidaksadaran pribadi diperoleh melalui
hal-hal yang diperoleh individu selama hidupnya sedangkan isi dari
ketidaksadaran kolektif diperoleh selama pertumbuhan jiwa keseluruhannya,
seluruh jiwa manusia melalui sensasi. Ketidaksadaran kolektif ini merupakan
warisan kejiwaan yang besar dari perkembangan kemanusiaan yang terlahir
kembali dalam struktur tiap individu (Budiningsih 2002:14).
Antara kesadaran dan ketidaksadaran menurut Jung sama pentingnya
dalam menentukan perilaku. Keduanya berhubungan kompensatoris dan saling
berlawanan. Hal ini terlihat pada kepribadian Midah. pada kesadarannya Midah
bertipe kepribadian perasa dan introvert maka, ketidaksadaran Midah bertipe
pemikir dan ekstrovert.
Kedua komponen kesadaran yaitu fungsi jiwa dan sikap jiwa berada di
alam kesadaran Midah yang merupakan sifat dasar Midah dan tidak akan berubah
dalam menghadapi lingkungan yang berbeda-beda namun hanya berada di diri
Midah atau secara introvert (tertutup). Menurut kesadaran, yakni fungsi jiwa
Midah bertipe kepribadian perasa dan berdasarkan sikap jiwa Midah bertipe
kepribadian introvert. Ketidaksadaran Midah yakni ketidaksadaran pribadinya
bertipe pemikir bersifat ekstrovert dan ketidaksadaran kolektifnya bertipe intuitif.
Tipe inilah yang secara tidak disadari Midah keluar dari dirinya (ekstravert) yang
tampak pada sifatnya yang keras hati dan memegang prinsip meskipun pada
dasarnya Midah mempunyai sifat mengerti perasaan orang lain, dan tertutup.
Kepribadian Midah dipengaruhi oleh ketidaksadaran pribadi yaitu faktor
kedewasaan, motif cinta, faktor ancaman, faktor frustasi, dan faktor konflik.
49
Faktor-faktor ini diperoleh Midah sejak ketika ia mendapatkan perlakuan yang
tidak adil dari orang tuanya hingga ketika ia harus menanggung perbuatan yang
telah dilakukannya. Kepribadian Midah yang berani, optimis, dan bijaksana dalam
hidupnya juga dipengaruhi faktor ketidaksadaran kolektif antara lain faktor
biologis, faktor filsafat, faktor agama dan faktor mistik. Ketidaksadaran kolektif
ini merupakan pembawaan rasial dari perkembangan kemanusiaan yang terlahir
kembali dalam struktur tiap individu. Jadi faktor-faktor ini melekat di semua
orang dan ikut menentukan kepribadian seseorang namun seseorang itu tidak
menyadari bahwa kepribadiannya dipengaruhi oleh hal-hal tersebut.
Sifat-sifat Midah dan faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadiannya
secara rinci adalah sebagai berikut.
4. 1. 1 Tipe Kepribadian Midah Berdasarkan Struktur Kesadaran
Berdasarkan struktur kesadaran ini kepribadian Midah dilihat dari fungsi
jiwa dan sikap jiwa.
a. Berdasarkan Fungsi Jiwa
Midah merupakan seorang pribadi yang perasa yakni menilai atas dasar
menyenang dan tidak menyenangkan. Midah adalah seorang yang meyakini
bahwa apa yang telah ia putuskan adalah benar. Ia merasa yakin bahwa
keputusannya meninggalkan rumah suaminya, tak kembali ke rumah orang tuanya
dan menjadi penyanyi keroncong adalah keputusan yang tepat. Ia sangat mengerti
perasaan orang lain dan membutuhkan harmonisasi dalam hidup. Karena itu ia
lebih suka menghindari pertentangan. Misalnya, Midah tak mau ada pertentangan
50
antara ia dengan suami, ia dengan orang tua, ia dengan Ahmad dan ia dengan
masyarakat. Ia memilih untuk menghindar dari mereka dan mencoba menentukan
hidupnya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Ia memilih keluar dari rumah
orang tuanya dan juga berpisah dengan anak pertamanya. Midah juga mudah
tersinggung dan tidak mudah menerima kritikan dari orang lain. Hal ini
disebabkan, seorang perasa seperti Midah cenderung menuntut orang lain agar
mereka juga harus mengerti perasaannya karena Midah merasa telah mengerti
perasaan mereka.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fungsi jiwa yang
dominan (superior) dalam diri Midah adalah rasional perasa. Jadi, tipe kepribadian
Midah menurut fungsi jiwa adalah tipe perasa. Hal ini dibuktikan melalui sifatsifat
Midah sebagai berikut.
a. Yakin dalam Membuat Keputusan
Midah yakin bahwa keputusannya keluar dari rumah suaminya adalah
benar. Sebab ketika ia masih bersama suaminya ia menderita dan kesepian. Hal ini
dapat dilihat melalui teknik ekspositori yaitu pendeskripsian pengarang secara
langsung dalam kutipan berikut.
Di tangan lelaki ini Midah tak ubahnya dengan sejumput tembakau.
Ia bisa dipilin pendek dipilin panjang─dipilin dalam berbagai bentuk. Di
daerah, di mana dahulu bapaknya dilahirkan, ia merasa sebagai sebatang
tunggul terpancang di tengah-tengah padang. Apalagi setelah diketahuinya
bahwa Haji Terbus bukan bujang dan bukan muda. Bininya telah tersebar
banyak di seluruh Cibatok. Ini diketahuinya waktu ia mengandung tiga
bulan.
Waktu ia tak sanggup lagi menanggung segalanya, dengan diamdiam
ia kembali ke Jakarta (MSBE, hlm. 20-21).
51
Kutipan di atas menggambarkan keadaan Midah berada di tangan
suaminya. Ia selalu diperlakukan semena-mena seperti sejumput tembakau yang
dapat dipilin dalam berbagai bentuk. Midah juga kesepian bagaikan sebatang
tunggul yang terpancang di tengah padang. Apalagi ketika ia tahu suaminya
mempunyai banyak istri. Karena itu semua Midah akhirnya tidak tahan dan
memutuskan untuk pergi meninggalkan suaminya.
Midah juga yakin akan keputusannya untuk tidak pulang ke rumah karena
ia masih trauma dan takut kepada bapaknya. Hal ini ditunjukkan Midah dengan
perkataannya kepada ibu kosnya yang membujuk Midah agarmau pulang ke
rumah orang tuanya. Teknik pelukisan tokoh secara dramatik dengan teknik
cakapan menggambarkan sifat Midah yang bersikeras tidak mau pulang ke rumah
orang tuanya. Hal ini diungkapkan dalam kutipan berikut ini.
Anakku, apakah untungnya beretak-retak dengan orangtua sendiri.
pergilah padanya, Manis.
Ibu, aku tidak berani.
Mari aku antarkan.
Aku tak bisa lupa tamparan ayahku. Tapi bukan tamparan pada
pipiku yang kurasakan, tetapi tamparan yang mengenai hatiku.
Tidak bisa anakku. Engkau harus maafkan mereka. Kalau engkau
tahu bagaimana seorang tua harus membanting tulang mencari
penghasilan, engkau akan mengerti bagaimana keruh hatinya bila tak
dapat diterima apa yang sudah meminta banyak dari tenaganya. Orangtua
ingin kembali ke rumahnya yang damai, dimana ia beristirahat dengan
senang. Pekerjaan sehari melelahkan. Dan kalau di rumah terjadi yang
tidak menyenangkan, tidak menghiburnya, dia gampang marah. Maafkan
mereka.
Tentu saja aku maafkan.
Kalau begitu ayolah aku antarkan.
Aku takut. (MSBE, hlm. 111).
52
Dari kutipan di atas menunjukkan bagaimana ibu kos itu meyakinkan
Midah panjang lebar agar Midah mau pulang. Tetapi Midah tetap tidak mau
pulang dengan alasan takut.
Midah yang teguh dengan keputusannya juga terlihat ketika ia tetap
mempertahankan keputusannya menjadi seorang penyanyi meskipun ia ditentang
orang tuanya. Menurutnya menyanyi bukanlah suatu kesalahan. Hal ini dilukiskan
pengarang melalui teknik cakapan yaitu dialog antara Midah dengan ibunya
berikut ini.
Ijinkanlah aku pergi, seperti dahulu aku pergi meninggalkan rumah
ini. Jangan tahan aku, karena aku tahu benar apa yang akan aku perbuat.
Apakah engkau akan siksa hati bapakmu dengan nyanyianmu
melalui radio?
Menyanyi bukan kesalahan, ibu. Juga bukan dosa.
Jangan, Midah. Jangan pergi.
Anakmu mesti pergi, ibu.
Kutipan di atas menunjukkan bahwa keputusan Midah untuk menjadi
penyanyi sudah tak dapat dipatahkan lagi meskipun keputusannya itu tak disetujui
orang tuanya. Midah menganggap bahwa menyanyi bukanlah kesalahan dan dosa.
b. Mengerti Perasaan Orang Lain
Midah merupakan seorang yang mengerti akan perasaan orang lain karena
bagi seseorang bertipe perasa sepertinya, sangat membutuhkan harmonisasi dalam
hidup. Karena itu ia lebih cenderung mengerti dan mengalah untuk menghindari
adanya pertentangan dengan orang lain. Misalnya ketika ia mengalah dengan
keputusan Ahmad yang tidak mau bertanggung jawab atas bayinya. Ia lebih
memilih semua itu ditanggungnya sendiri daripada harus memaksa Ahmad untuk
bertanggung jawab karena ia tidak mau Ahmad dan keluarganya mendapat aib dan
53
Ahmad dimusuhi keluarganya. Hal ini ditunjukkan pengarang melalui teknik
cakapan yaitu perkataan Midah kepada Ahmad dalam kutipan berikut ini.
Aku tidak keberatan apabila engkau tak mau mengakui anakmu
sendiri. aku pun tidak keberatan kau tuduh bercampur dengan lelaki-lelaki
lain. Baiklah semua ini aku ambil untuk diriku sendiri. dan engkau, kak,
engkau boleh terpandang sebagai orang baik-baik untuk selama-lamanya.
Biarlah segala yang kotor aku ambil sebagai tanggung jawabku sendiri
(MSBE, hlm. 110).
Kutipan di atas menunjukkan Midah tidak mau memaksakan kehendaknya
kepada Ahmad. Ia memilih untuk mengalah dan biarlah yang jelek ia yang
tanggung agar Ahmad masih terpandang di mata orang sebagai pria baik-baik. Hal
ini dimaksudkan Midah agar Ahmad tidak mendapat jelek dari orang-orang.
Sifat Midah yang mengerti perasaan orang lain juga tercermin ketika ia
rela meninggalkan rumah orang tuanya untuk kedua kalinya agar orang tuanya
tidak ikut menanggung aib yang dibawanya dan tidak mendapat jelek dari
masyarakat. Hal ini dapat disimak melalui teknik pikiran dan perasaan Midah
berikut ini.
Hormat keliling kepada bapaknya, membuat Midah tak tertahankan
lagi mengingat kandungannya. Ah, cucunya yang kedua ini akan
merusakkan segala-galanya. Dan itu tidak boleh. Bapak juga punya hak
untuk memiliki kedamaian hati─bukan aku saja. Juga ibu berhak
memilikinya. Alangkah daif dan sekakarku kalau semua hendak kurampas
untuk diriku dan kandunganku belaka (MSBE, hlm. 123).
Kutipan di atas menunjukkan Midah tidak mau karenanya, bapaknya
menjadi tidak mempunyai kedamaian jiwa. Ia berpikir bahwa bukan ia saja yang
membutuhkan kedamaian jiwa, tapi juga bapaknya. Ia berpikir alangkah daif dan
sekakarnya ia jika hanya mementingkan dirinya dan bayinya.
54
c. Mudah Tersinggung
Seorang perasa seperti Midah juga mempunyai sifat mudah tersinggung
dan tidak mau menerima kritik dari orang lain. Ia tak mau begitu saja orang lain
menilai, atau berpendapat tentang dirinya dan apa yang telah menjadi
keputusannya. Karena ia merasa telah mengerti perasaan mereka, karena itu ia pun
menuntut agar mereka juga mengerti dan memahami perasaannya, bukan malah
menilai atau mengkritiknya. Sifat Midah yang mudah tersinggung ini ditunjukkan
engarang melalui teknik dramatik yaitu teknik reaksi tokoh lain. Riah pernah
bekerja di rumah Midah sebagai pembantu sejak Midah masih kecil sehingga ia
tahu betul sifat Midah. Ketika Riah mendengar niat Midah yang ingin bekerja
sebagai babu, ia tak menyetujuinya karena ia tahu sifat Midah yang mudah
tersinggung. Hal tersebut dapat disimak dalam kutipan di bawah ini.
Jadi babu aku bisa, akhirnya dengan suara rendah ia menjawab.
Itu tidak baik bagi dirimu. Engkau cantik, lagipula tidak bisa
diperintah orang. Engkau gampang tersinggung dan tidak cekatan (MSBE,
hlm. 23).
Kutipan di atas menunjukkan reaksi Riah yang tidak setuju dengan
keputusan Midah menjadi babu. Midah adalah orang yang mudah tersinggung,
karena itu ia tak bisa diperintah orang.
Sosok Midah yang mudah tersinggung juga ditunjukkan pengarang
melalui teknik dramatik yaitu teknik reaksi tokoh. Hal ini bisa dilihat lewat reaksi
Midah yang menarik tangannya dari tangan Ahmad ketika Ahmad mengatakan
bahwa mereka berbeda satu sama lain. Seperti dalam kutipan berikut.
Ia tak kuat menahan kesakitan dan kepahitan di dalam dadanya, dan
diletakkan tangannya di atas tangan pemuda itu.
55
Tapi engkau tahu, Manis, takkan mungkin aku jadi─ Ya, tahulah aku
sekarang, engkau cin─tapi itu tidak boleh. Kita berdua adalah orang dari
lain-lain sifat, asal, dan daerah.
Tangan Midah ditariknya kembali. Hanya terasa olehnya ucapan
pemuda yang terakhir itu merupakan hinaan baginya, hinaan untuk
membentengi diri pemuda di sampingnya (MSBE, hlm. 84).
Kutipan di atas menggambarkan betapa Midah sangat tersinggung dengan
ucapan Ahmad. Ia merasa telah dihina oleh Ahmad. Dan hinaan tersebut tidak lain
untuk melindungi diri Ahmad sendiri agar ia tak terlanjur mencintai Midah.
Dari uraian di atas dapat diambil simpulan bahwa fungsi jiwa yang
menjadi fungsi dominan (superior) dalam diri Midah adalah fungsi rasional
perasa. Fungsi ini menguasai kehidupan alam sadar Midah.
Selain fungsi yang dominan juga terdapat fungsi bantu. Fungsi bantu yang
berada di alam sadar Midah adalah fungsi pengindra. Fungsi pengindra yang ada
dalam diri Midah adalah rasa cinta Midah menjadi penyanyi seni musik
keroncong. Midah menemukan ketenangan jiwa, dan merasa hidup saat mengabdi
pada musik tersebut. Pengarang menggunakan teknik dramatik melalui teknik
tingkah laku yang tercermin lewat tingkah laku Midah yang terus mengikuti
rombongan keroncong ketika pertama kalinya Midah jatuh cinta pada kesenian
itu. Seperti dalam kutipan beikut ini.
Hingga berkilo-kilo jauhnya ia ikuti rombongan pengamen itu.
Bahkan dia sendiri, banyak lagi pemuda dan pemudi kecil berbuat seperti
dirinya. Dan dengan diam-diam mereka ini meneguk habis seluruh
rangkaian suara yang keluar dari rombongan pengamen itu. Bahkan canda
sindiran anggota-anggota rombongan satu sama lain seakan memberi
silaan kepada mereka untuk ikut serta dengan kehidupan mereka yang
lepas dari segala kesulitan: hidup yang hanya dipergunakan untuk
mengabdi pada kesukaan: kesukaan menyanyi, kesukaan membagi
kesukaan dengan para pendengarnya (MSBE, hlm.17).
56
Kutipan di atas menunjukkan sikap Midah yang rela membuntuti
rombongan pengamen keroncong dengan harapan ia bisa menyanyi dengan
mereka dan mengabdikan diri kepada musik keroncong.
b. Berdasarkan Sikap Jiwa
Berdasarkan sikap jiwa tipe kepribadian Midah adalah tipe introvert.
Midah merupakan sosok pendiam dan senang memendam perasaan. Perasaan iri,
cemburu dan kesepian ketika melihat kebersamaan orang tuanya dan adik-adiknya
tak pernah ia ungkapkan. Ketika menjalani segala penderitaan hidup di jalanan
pun ia tak pernah mengeluh kepada siapapun. Juga kepada Riah, mantan
pembantu di rumahnya yang siap menolongnya. Midah tidak mau melibatkan
orang lain dalam permasalahannya. Ia ingin menghadapi cobaan hidup sendirian
dan menyelesaikannya dengan caranya sendiri. Seperti ketika ia memutuskan
untuk selamanya pergi dari rumahnya dan berprofesi sebagai penyanyi. Midah
adalah sosok yang lebih sering merenung dan berbicara dalam hati. Ia lebih
senang mengingat kisah-kisah masa lalunya sendirian daripada harus
menceritakannya dengan orang lain. Ia tak pernah bercerita mengenai masa
lalunya dengan para anggota rombongan keroncong bahkan memberitahukan
nama aslinya pun tidak. Berdasarkan uraian di atas maka kepribadian Midah dapat
digolongkan ke dalam tipe introvert. Ciri-ciri sifat introvert Midah adalah sebagai
berikut:
57
a. Tertutup
Midah adalah pribadi yang tertutup. Ia tak pernah menceritakan siapa
sebenarnya dirinya, keluarganya, suaminya dan kesulitannya kepada orang lain.
Ketika ditanya oleh kepala rombongan keroncong mengenai keluarganya, Midah
mengaku tidak mempunyai keluarga. Hal ini ditunjukkan pengarang
menggunakan teknik dramatik melalui teknik cakapan yaitu dialog antara Midah
dengan kepala rombongan keroncong dalam kutipan berikut.
Ya, bagaimana pendapat keluargamu nanti, tanya kepala itu.
Tidak punya keluarga.
Tapi pakaianmu begitu baik. Engkau masih bercincin emas. Tasmu
dari kulit baik dan tidak begitu jelek.
Aku sendiri punya .
Kalau ada yang mengadukan kami pada polisi.
Diam-diam mereka meneruskan makan lagi. Tiba-tiba:
Siapa namamu? Pemimpin rombongan itu bertanya
Aku? Ah. Midah tidak bisa meneruskan. Sekaligus terbayang segalagalanya,
dan terutama yang tidak menyenangkan, dalam sanubarinya.
Ah. Mengapa malu menyebut nama? Seorang tukang yang bermata
satu mencoba menolong kebingungan Midah (MSBE, hlm.34).
Kutipan di atas menunjukkan sifat tertutup Midah lewat ucapan Midah
yang mengaku tak mempunyai keluarga. Hal ini disebabkan karena ia tak mau
orang lain tahu asal usulnya sekaligus ia ingin menutupi masa lalunya.
Sifat tertutup Midah juga ditunjukkan ketika Midah berada di rumah sakit
waktu melahirkan. Midah tak mau mengatakan siapa suaminya. Ia tak mau
mengingat suaminya lagi. Seperti ditunjukkan pengarang melalui teknik cakapan
yaitu dalam dialog Midah dengan suster pada kutipan berikut ini.
Seorang bidan berdiri di dekatnya. Ia memandanginya lama-lama.
Kemudian:
Siapa nama?
Midah─ kalau boleh berilah aku minum.
Di mana tinggal?
58
Di penginapan.
Suami?
Ah, berilah aku minum.
Midah tak kuasa menjawab. Sakit perutnya mulai mengaduk
kembali.
Aku di sini kerja, bukan main-main.
Dan Midah mendapat mendapat minum air dingin. Kemudian datang
bidan lain lagi, memandanginya lama-lama, kemudian:
Memang manis. Patut tak tahu lakinya.
Midah tidak menyambut (MSBE, hlm. 50-51).
Kutipan di atas menggambarkan Midah berusaha mengalihkan pertanyaan
suster tentang siapa suaminya. Meski dipaksa Midah tetap tidak mau mengatakan
siapa suaminya bahkan dikatakan tak bersuami oleh suster. Ia tak mau mengingat
masa lalunya lagi.
b. Suka Memendam Perasaan
Ketika tak mendapatkan kasih sayang lagi dari kedua orang tuanya, ia tak
pernah mengungkapkan perasaan iri, cemburunya kepada orang tuanya maupun
kepada orang lain. Ia hanya memendam perasaan itu di dalam hatinya. Seperti
ketika ia melihat emak berada di sisi adiknya ketika ia sembuh dari sakit. Hal
tersebut dideskripsikan secara langsung dalam kutipan berikut.
Waktu ia sembuh dari sakitnya, dengan pipi kempot dan kaki
gemetar melangkah, ia melihat siadik di sisi emak. Emak tertawa
kepadanya. Tapi mata Midah terbuka lebar─kosong dari segala kesan. Dan
bibirnya tidak terbuka. Cuma dalam hatinya terasa: itu dia yang merampas
segala-galanya yang menjadi milikku. (MSBE, hlm.16).
Kutipan di atas menggambarkan bagaimana Midah merasa cemburu, dan
iri terhadap kebersamaan emak dan adiknya.. Dan ia tak bisa berkata apa-apa
selain menatap mereka dengan pandangan kosong tanpa kesan. Ia hanya diam dan
berkata dalam hati bahwa adiknyalah yang merebut segala-galanya dari Midah.
59
Sifat Midah yang suka memendam perasaan juga tampak ketika ia tak
berani mengungkapkan perasaan cintanya kepada Ahmad. Hal ini digambarkan
pengarang lewat pikiran dan perasaan Midah pada kutipan berikut ini.
Biarlah hatiku goncang sendirian. Dan biarlah gunung dalam hatinya
tetap agung tidak tergnggu oleh apapun juga. Dan dengan demikian
mulailah Midah berkenalan dengan perasaan cinta. Perasaan sakit dan
pahit. Tapi walau bagaimanapun jua kesakitan dn kepahitan itu ia kasihi
dan ia berjanji akan tetap menyimpannya untuk selama-lamanya: sakit dan
pahit untuk selama-lamanya (MSBE, hlm. 83).
Midah sadar akan keadaan dirinya yang telah bersuami dan mempunyai
anak. Untuk itu ia berpikir ia tak pantas bersanding dengan Ahmad. Ia hanya
menyimpan rasa cintanya kepada Ahmad di dalam hati. Dan ia akan
menyimpannya rasa sakit dan pahit itu selama-lamanya.
c. Suka Merenung dan Tenggelam ke Dalam Diri Sendiri
Midah lebih suka merenung, berpikir dan tenggelam ke dalam dirinya
sendiri dibandingkan harus bercerita atau mengobrol dengan orang lain. Ia adalah
sosok pendiam. Ia lebih suka berbicara dengan dirinya sendiri dalam hati.
Misalnya ketika ia merenungkan dan mengingat semua kisah-kisah hidupnya. Ia
ingat Riah, anak dalam kandunganya, dan ingat orang tuanya. Hal ini
digambarkan melalui teknik ekspositori dengan deskripsi langsung oleh
pengarang di bawah ini.
Waktu kamar telah digelapkan, dan hanya ia sendiri tinggal jaga di
samping kepala rombongan, ia teringat segala-galanya yang telah terjadi.
Juga ia ingat pada Riah. Sekilas ingin ia mengunjungi perempuan yang
baik hati itu, tetapi niat itu ditelan bersama ludahnya. Ia merasa terpencil.
Ia raba perutnya dan ia merasa lebih kaya dari semua orang di atas dunia
ini. ia ingat pada kedua orangtuanya yang tidak pernah ia dengar kabar
beritanya lagi. Ia pun ingat pada suaminya yang menjadi raja di
kampungnya. Akhirnya ia ingat pada dirinya dan keluarganya (MSBE,
hlm. 47-48).
60
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Midah selalu merenung sendirian
membayangkan segala yang telah terjadi. Ia tak pernah bercerita dengan orang
lain di sekelilingnya.
Midah yang selalu berbicara dalam hati ditunjukkan pengarang melalui
teknik ekspositori pelukisan secara langsung dalam kutipan di bawah ini.
Dan ia tidak menyesal meninggalkan kekayaan itu. Dalam terlelap
itu ia bertemu sebentar dengan anaknya sendiri yang belum ia lahirkan. Ia
bercakap sebentar dan kemudian tersentak bangun (MSBE, hlm. 39).
Kutipan di atas menunjukkan Midah berbicara dengan anak dalam
kandungannya. Tetapi pada kenyataannya ia berbicara dengan dirinya sendiri.
d. Merasa Mampu Mencukupi Diri Sendiri
Midah merasa masalahnya itu hanya dirinya sendiri yang mengalami
sehingga hanya ia yang dapat menyelesaikannya. Ia tak mau melibatkan orang
lain. Ia melakukan sesuatu menurut caranya sendiri atau egosentris. Ia merasa
mampu untuk mempertahankan hidupnya. Misalnya ketika ia memutuskan
bergabung dengan rombongan keroncong dan ikut mengamen. Ia butuh pekerjaan
agar ia bisa bertahan hidup dan tidak merepotkan Riah lagi. Hal ini ditunjukkan
pengarang lewat teknik cakapan yaitu perkataan Midah kepada Riah seperti dalam
kutipan berikut ini.
Riah, jangan engkau kuatir─aku tidak akan memberatkan
tanggunganmu. Untuk beberapa hari ini biarlah aku coba-coba mencari
pekerjaan.
Kalau ketemu orangtuamu?
Emak tidak pernah keluar rumah kalau tidak pergi ke peralatan. Dan
bapak selalu ada di tokonya.
Matamu bersinar-sinar. Engkau punya jalan sendiri nampaknya.
Dan Midah terkenang pada rombongan kroncong. Kini tarikan untuk
memasuki kehidupan tanpa kesulitan itu makin terasa. Kehidupan yang
61
hanya mengabdi kepada kenikmatan, kegirangan, dan keriaan ditingkah
kroncong (MSBE, hlm.25).
Kutipan di atas menggambarkan Midah mempunyai rencana untuk
mempertahankan hidupnya yakni dengan menjadi pengamen musik keroncong.
Sifat Midah yang tidak mau melibatkan orang lain dalam hidupnya karena
ia merasa mampu mencukupi dirinya juga terlihat ketika Midah bertemu Riah di
jalan. Riah mengajak Midah untuk pulang saja karena Riah tidak tahan melihat
Midah hidup di jalanan menjadi pengamen dengan anak dalam gendongan. Tetapi
Midah tidak mau. Ia merasa mampu melindungi anaknya tersebut. Hal ini terlihat
dalam dialog antara Midah dengan Riah di bawah ini.
Anakku! Anakku! Di mana engkau tinggal sekarang?
Midah menutup dadanya dan berdiri.
Dimana saja aku tinggal, Riah. Engkau mau ke pasar?
Dan anakmu itu! Alangkah sehat. Engkau bawa-bawa ke mana-mana
juga dia?
Ya.
Mari pulang. Mari aku antarkan pulang ke rumah orang-tuamu.
Biarlah aku hidup begini.
Kalau begitu pulanglah ke rumahku.
Biarlah.
Mau ke mana lagi engkau ini?
Meneruskan perjalanan.
Riah memegangi lengan bajunya.
Jangan halangi aku. Biarlah aku pergi.
Setidak-tidaknya ia merasa aman dalam gendongan emaknya
(MSBE, hlm. 62-63).
Percakapan di atas menunjukkan sifat Midah yang tetap tidak mau
melibatkan orang lain meskipun ia dalam kesusahan. Ia mencoba hidup menurut
caranya sendiri.
Midah juga bertekad untuk membawa sendiri hidupnya, ia tak mau pulang
ke rumahnya. Ia tak mau orang tuanya ikut mencampuri kehidupannya lagi. Ia
62
merasa mampu membawa hidupnya sendiri. Karena itu ia tetap tidak mau pulang
ke rumah. Hal ini ditunjukkan pengarang melalui teknik dramatik yaitu teknik
cakapan. Seperti dalam dialog antara Midah dengan Riah dalam kutipan di bawah
ini.
Mau engkau aku antarkan pulang?
Midah menggeleng. Kemudian:
Biarlah aku bawa hidupku sendiri.
Engkau akan menyesal.
Biarlah kucoba dahulu (MSBE, hlm. 42)
Berdasarkan kutipan di atas dapat diketahui bahwa Midah adalah wanita
yang tidak mau menggantungkan hidupnya kepada orang lain. Ia ingin hidup
menurut caranya sendiri. Ia tak mau melibatkan orang lain.
e. Kesepian
Midah juga pribadi yang selalu kesepian yakni sejak ia merasa tak
mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tuanya lagi meskipun berada di
tengah keluarganya. Ia merasa tak mempunyai siapa-siapa lagi. Hal ini diuraikan
pengarang melalui teknik ekspositori yaitu deskripsi secara langsung dalam
kutipan di bawah ini.
Seminggu kemudian ia demam. Bapak hanya datang sebentar
membawakan kue. Dan emak masih terbujur saja di ranjang di dekat
siadik. Midah harus memulai yang baru─memulai tanpa dimanjakan,
tanpa duduk di pangkuan Bapak mendengarkan Umi Kalsum. Tanpa
segala-galanya. Ia terlepas seorang diri. Ia hendak kembali ke suasana
manis yang bertahun-tahun dihirupnya. Tapi suasana itu bukan miliknya
lagi─milik adiknya (MSBE, hlm.15).
Kutipan di atas menunjukkan betapa Midah merasa terlepas seorang diri
meskipun ia tinggal bersama orang tua dan adik-adiknya. Ia merasa suasana yang
manis dulu bukanlah miliknya lagi, tetapi kini milik adiknya.
63
Ketika telah bersuami pun Midah masih merasakan hal yang sama. Ia
diperlakukan suaminya sesuka hati. Ia merasa bagaikan sebatang tunggul
terpancang di tengah-tengah padang. Seperti yang dituturkan pengarang lewat
uraian berikut ini.
Di tangan lelaki ini Midah tak ubahnya dengan sejumput tembakau.
Ia bisa dipilin pendek dipilin panjang─dipilin dalam berbagai bentuk. Di
daerah, di mana dahulu bapaknya dilahirkan, ia merasa sebagai sebatang
tunggul terpancang di tengah-tengah padang. Apalagi setelah diketahuinya
bahwa Haji Terbus bukan bujang dan bukan muda. Ini diketahuinya waktu
ia mengandung tiga bulan (MSBE, hlm. 20-21).
Kutipan di atas menggambarkan keadaan Midah ketika berada di rumah
suaminya. Midah menderita dan kesepian. Apalagi ketika ia mengetahui bahwa
suaminya itu punya banyak istri.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa menurut sikap
jiwanya, tipe kepribadian Midah adalah tipe introvert. Hal ini tampak lewat ciriciri
sifat introvert yang berada di dalam diri Midah. Sifat-sifat tersebut adalah
tertutup, suka memendam perasaan, suka merenung dan tenggelam ke dalam diri
sendiri, merasa mampu mencukupi diri sendiri dan kesepian.
Tipe kepribadian tersebut dipandang dari sikap jiwa dan fungsi jiwa. Tipe
introvert Midah tampak pada sifat-sifatnya yang pemalu, tertutup, suka
memendam perasaan, suka merenung dan tenggelam ke dalam diri sendiri serta
kesepian. Sedangkan tipe perasa Midah memunculkan sifat Midah yang yakin
membuat keputusan, mengerti perasaan orang lain dan mudah tersinggung.
64
4. 2. 2. Tipe Kepribadian Midah berdasarkan Struktur Ketidaksadaran
a. Ketidaksadaran Pribadi
Fungsi yang menjadi fungsi pasangan dari fungsi superior merupakan
fungsi yang tidak berkembang (inferior). Fungsi yang menjadi fungsi inferior dari
kepribadian Midah yaitu fungsi pemikir. Fungsi ini berada dalam alam
ketidaksadaran dan sangat mempengaruhi tingkah laku Midah.
Fungsi berpikir ada dalam diri Midah tampak melalui sifat-sifatnya yang
keras hati, dan memegang prinsip. Sifat–sifat Midah tersebut terlihat dalam
kutipan-kutipan di bawah ini.
a. Keras Hati
Sifat keras hati Midah tercermin waktu ia dibujuk untuk pulang ke rumah
orang tuanya oleh Riah. Pengarang menggunakan teknik dramatik melalui teknik
cakapan. Seperti dalam percakapan antara Midah dengan Riah berikut ini.
Anakku! Anakku! Di mana engkau tinggal sekarang?
Midah menutup dadanya dan berdiri.
Dimana saja aku tinggal, Riah. Engkau mau ke pasar?
Dan anakmu itu! Alangkah sehat. Engkau bawa-bawa ke mana-mana
juga dia?
Ya.
Mari pulang. Mari aku antarkan pulang ke rumah orang-tuamu.
Biarlah aku hidup begini.
Kalau begitu pulanglah ke rumahku.
Biarlah.
Mau ke mana lagi engkau ini?
Meneruskan perjalanan.
Riah memegangi lengan bajunya.
Jangan halangi aku. Biarlah aku pergi.
Setidak-tidaknya ia merasa aman dalam gendongan emaknya
(MSBE, hlm. 62-63).
Kutipan di atas menyatakan bahwa Midah masih tetap tidak mau
pulang ke rumah meski keadaannya seperti itu, hidup di jalanan yang
selalu berpindah-pindah dan serba kekurangan.
65
Sifat keras hati Midah juga tampak ketika ibunya masih meminta Midah
untuk menangguhkan niatnya untuk pergi dari rumah untuk kedua kalinya dan
meninggalkan anak pertamanya bersama neneknya. Pengarang juga menggunakan
teknik dramatik melalui teknik percakapan. Hal ini tercermin dalam dialog antara
Midah dengan ibunya berikut ini.
Djali, Midah berbisik, ibu mau pergi. Engkau tinggal di sini dengan
nenek.
Anak itu tertawa.
Barangkali ibu datang lagi menengok engkau. Barang kali juga
tidak, Djali.
Midah, tak bisakah engkau menangguhkan niatmu?
Semua sudah kupikirkan baik-baik, ibu.
Nyonya tak bisa meneruskan (MSBE, hlm. 128).
Kutipan di atas menunjukkan ibu Midah masih mempertanyakan apakah
kemauan Midah untuk pergi dan meninggalkan anaknya masih bisa ditangguhkan.
Tetapi Midah menjawab bahwa keputusannya tersebut sudah ia pikirkan baik-baik
yang artinya Midah tetap dengan keputusan yang diambilnya yaitu pergi
meninggalkan rumah dan anak pertamanya, Djali agar ia dirawat neneknya secara
baik-baik.
b. Memegang Prinsip
Latar belakang kehidupan Midah yang menyedihkan, membuat Midah tak
mau lagi kehidupannya dicampuri orang lain. Ia senang memutuskan sesuatu
yang menurutnya benar walaupun keputusannya itu memunculkan banyak
penentang. Ia merasa apa yang telah menjadi keputusannya itu menimbulkan
kebahagiaan dan ketenangan di dirinya yang selama ini ia dambakan. Karena itu
apaun pendapat orang tentang dirinya, ia tetap pada keputusannya dan
menghadapi segala resikonya. Seperti dalam uraian pengarang melalui teknik
66
ekspositori yang menggambarkan Midah sebagai sosok yang terpancang kuat di
atas pendiriannya. Hal tersebut tampak dalam kutipan berikut ini.
Mempunyai pendirian sendiri adalah berhadapan dengan pendapat
umum. Bertambah kuat pendirian seseorang, bertambah banyak ia
memanggil penentang.
Dan Midah terpancang kuat di atas bumi pendiriannya (MSBE, hlm.
121).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Midah adalah sosok yang tetap
berdiri dengan segala pendiriannya meskipun orang lain menentangnya. Ia hanya
tahu bahwa apa yang telah dipilihnya adalah benar.
Midah menjadi sosok yang teguh pada prinsip telah berhasil hidup di
bawah keinginannya sendiri dengan segala keyakinan yang ada dalam dirinya.
Setelah keluar dari rumah orang tuanya, Midah menjadi seorang penyanyi yang
kehidupannya sangat bebas dengan para lelaki. Kesenangannya menyanyi,
kekecewaannya terhadap cinta, dan rasa rindunya terhadap Djali membuat Midah
memutuskan untuk menjalani hidupnya seperti itu. Pengarang menggunakan
teknik ekspositori melalui deskripsi secara langsung yang mengungkap
keputusan-keputusan yang telah diambil Midah. Seperti dalam kutipan berikut ini.
Bertambah jauh Midah melalui jalan hidupnya, terasa olehnya
bertambah tidak berarti kepahitan yang berulang-ulang menimpa dirinya.
Dengan anak kedua di tangan kanan ia mencoba, dan terus mencoba,
untuk menyanyi bagi dirinya, bagi anaknya yang kedua dan bagi Rodjali,
dan bagi semua orang yang sudi, dan bagi semua orang yang
mendengarnya. Hanya waktu ia menyanyi itu ia merasa dirinya berjasa
(MSBE, hlm. 131).
Kesusilaan dan ketertiban peradaban antara baik dan buruk yang
dibawanya dari rumahnya, kini tidak membangkitkan pikiran lagi
padanya. Dan tambah hebat rasa kangennya pada Djali, tambah sering
pula ia coba untuk bertemu dengan lelaki yang sonder cinta, dapat
mendesirkan darahnya.
Tetapi:
67
Selain bapak dan ibu dan dirinya, tak ada seorangpun di dunia
pernah mencoba mengetahui apa sesungguhnya yang terjadi dan telah
terjadi dalam jiwanya (MSBE, hlm. 132).
Kutipan di atas menunjukkan bagaimana Midah telah hidup dengan segala
prinsipnya. Setelah melalui perjalanan hidupnya yang berliku, Midah memutuskan
menjadi penyanyi sekaligus menjadi pelacur. Ia tak lagi mempedulikan mana yang
baik dan buruk. Dan selain orang tuanya dan dirinya, tak seorang pun mengetahui
apa alasan Midah memilih jalan hidup seperti itu.
Kehilangan kasih sayang dari orang tuanya, lari dari suaminya, menjadi
pengamen keroncong, akhirnya hamil di luar nikah merupakan kisah hidup dan
perjalanan hidup Midah yang membuatnya berada di bawah tekanan batin.
Keadaan seperti ini membuat Midah berada dalam keadaan tidak normal yang
kemudian menyebabkan Midah berada dalam kecemasan. Kecemasan ini
merupakan salah satu bentuk neurotik dari pribadi introvert. Neurotik ini muncul
karena secara psikis kesadaran Midah tak mampu mengimbangi tuntutan dari luar
dan ketidaksadaran pribadinya.
Kecemasan ini berada dalam alam prasadar atau ketidaksadaran pribadi
Midah yang mempengaruhi perilakunya. Hal ini terlihat saat Midah bingung
menjawab pertanyaan ketika ia ditanya namanya oleh kepala rombongan
keroncong (tuntutan dari luar) dan ketika ia ingat konflik antara ia dan
keluarganya (ketidaksadaran pribadi) Alam prasadar Midah tersebut kemudian
masuk ke kesadaran Midah bahwa ia harus menutupi jatidirinya agar ia tak
ditemukan keluarganya. Kesadaran Midah ini membuat Midah tidak menjawab
68
pertanyaan tersebut. Hal ini tercermin lewat tingkah laku Midah ketika ditanya
oleh kepala rombongan keroncong mengenai namanya dalam kutipan berikut.
Siapa namamu? Pemimpin rombongan itu bertanya.
Aku? Ah. Midah tidak meneruskan.
Ah. Mengapa malu menyebut nama? Seorang tukang gitar yang
bermata satu mencoba menolong kebingungan Midah.(MSBE, hlm. 34).
Kutipan di atas menunjukkan bagaimana tingkah laku Midah yang
kebingungan ketika ia ditanya namanya. Ia bingung karena cemas jika nanti ia
memberitahukan namanya, ia akan mudah ditemukan keluarganya.
Bentuk neurotik lain yang dialami Midah adalah rasa tidak nyaman Midah
(ketidaksadaran pribadi) terhadap anggapan masyarakat mengenai kehamilannya
yang di luar nikah (tuntutan dari luar). Ia merasa masyarakat sekelilingnya
menghukum bayi dalam perutnya. Hal ini terlihat dalam uraian pengarang dalam
kutipan berikut ini.
Midah ingat pada semua orang yang menengoknya. Dengan kejap
mata mereka terasa olehnya menghukum perutnya, kandungannya,
cintanya. Dan itu tetap tak tertahankan olehnya (MSBE, hlm. 123).
Alam prasadar Midah yang berupa rasa tidak nyaman itu akhirnya masuk
ke kesadaran Midah bahwa ia harus keluar dari rumah orang tuanya tersebut agar
nama baik orang tuanya yang haji itu tidak tercemar karena ia mengandung anak
di luar nikah. Hal ini tercermin dalam perkataan Midah kepada ibunya seperti
dalam kutipan di bawah ini.
Aku hendak pergi, bu. Biarlah bapak dan ibu hidup tenang di sini.
Tambah lama aku tambah yakin, bahwa aku tidaklah sebaik orangtuaku.
Dan apakah hasilnya keyakinan itu untuk dirimu sendiri?
Bahwa tidak sepatutnya aku merusakkan nama baik orangtuaku
sendiri (MSBE, hlm. 124).
69
Kutipan di atas menunjukkan Midah menyadari bahwa keberadaannya di
rumah akan merusak nama baik orang tuanya. Selain itu ia juga menyadari bahwa
ia harus menyelamatkan anak buah cintanya tersebut dari anggapan masyarakat.
Ibu, pada suatu kali aku akan melahirkan anak tiada bapak. Apabila
anak itu turun ke atas dunia, dan dia menjerit─apakah akan rasa ibu,
apakah akan kata bapak, dan apakah akan cerita orang-orang lain. Aku
sendiri tidak berani mengira-irakan, bakalnya aku cinta pada anak ini. aku
kira bakal lebih cinta padanya daripada Djali. Dia adalah anak yang akan
dilahirkan dengan cinta ibunya dan dia diadakan oleh cinta orangtuanya.
(MSBE, hlm. 124-125).
Midah menyadari bahwa apa yang dilakukannya dengan Ahmad
merupakan suatu kesalahan di mata masyarakat. dan ia pun menyadari dampak
dari perbuatannya itu bagi keluarganya dan juga bayinya. Meskipun Midah
memandang apa yang dilakukannya tersebut bukanlah suatu kesalahan tetapi
semata karena cinta. Tetapi kenyataannya, di tengah masyarakat Midah telah
kalah secara moral. Maka dari itu ia memutuskan untuk pergi dari rumah orang
tuanya.
b. Ketidaksadaran Kolektif
Fungsi intuitif ini merupakan fungsi pembantu kedua setelah fungsi
pengindra. Fungsi intuitif berada di alam ketidaksadaran. Fungsi ini muncul
secara alamiah dalam perilaku hidup manusia setiap hari atau dalam istilah Levy
Buhl adalah mistik kolektif. Fungsi intuitif yang ada dalam perilaku Midah ini
berupa kompleks dan archetypus. Kompleks dan archetypus tersebut antara lain
berupa perilaku Midah yang bercakap-cakap dengan anaknya yang masih berada
dalam kandungannya, mengusap perutnya, dan berdoa, yang mengakibatkan
70
Midah lebih berani, lebih optimis dan bijaksana menghadapi cobaan hidup. Halhal
tersebut dapat disimak dalam kutipan berikut ini.
a. Berani
Sikap berani Midah ditunjukkan waktu ia mencoba memikat rombongan
pengamen. Midah mengikuti kemana pun rombongan itu berjalan dengan berbagai
pikatan agar ia diterima menjadi anggota rombongan. Hal tersebut ditampakkan
pengarang melalui teknik ekspositori yaitu uraian secara langsung pada kutipan
berikut.
Midah mencoba tersenyum oleh pandangan itu. Tetapi pikatannya
belum lagi berhasil. Dan dalam hatinya ia berjanji akan memperbaiki
usahanya. Kembali ia mengusap perut dan berbisik penuh kepercayaan:
Tidak, Nak. Engkau tidak akan emak rusakkan. Tidak raja, tidak
Dengan kepercayaan diri ia melangkah lambat-lambat mengikuti
rombongan itu (MSBE, hlm. 30).
Dari kutipan di atas menunjukkan bahwa ketika Midah sedang berusaha
memikat rombongan keroncong agar ia diterima menjadi usahanya, ia mengusap
perutnya dan kembali berbisik kepada bayinya dengan harapan memperoleh
keberanian dan setelah itu ia mulai mengikuti rombongan itu.
Keberanian Midah juga ditunjukkan waktu Midah berada di rumah sakit
dalam keadaan tak berdaya. Namun, perawat rumah sakit tak menghiraukannya
dan tak memberi pertolongan kepadanya. Tak peduli sikap perawat tersebut ia
dengan lantang memanggil perawat tersebut agar menolongnya. Hal ini
ditampilkan pengarang dengan menggunakan teknik deskripsi secara langsung
seperti dalam kutipan berikut ini.
Midah tidak menyambut. Sakit dalam perutnya berlumba dengan
teriak anak-anak yang baru dating mengunjungi dunia. Ada ia rasa
perutnya pecah dan anaknya akan datang. Ia berzikir. Dalam zikir ia minta
71
ampun pada Tuhannya, pada kedua orangtuanya, juga pada suaminya.
Dalam hatinya ia terus-menerus berseru bahwa ia tidak pernah berdosa.
Dan waktu anak itu tak dapat ia tahan lagi, ia pun berteriak sekuat tenaga.
Nona, anakku…..anakku……(MSBE, hlm. 50).
Kutipan di atas menunjukkan dalam rasa sakitnya Midah terus berdzikir
kepada Tuhan agar diampuni segala dosanya. Dan setelah itu dengan lantang
Midah memanggil perawat yang tak mengacuhkannya.itu untuk menolongnya.
Keberanian Midah yang lain juga ditunjukkan pengarang ketika Midah
pertama kali pulang ke rumahnya setelah lama ia tak kembali. Ia masih taku
kepada bapaknya. Ia takut masuk ke rumahnya. Tetapi kemudian ia meminta
kekuatan kepada Tuhan. Seperti dalam kutipan berikut ini.
Anakku! Ia belum juga berani mengetuk pintu. Potongan-potongan
hidup yang terenggut oleh waktu dan compang-camping bersebaran ke
mana-mana datang kembali berduyun-duyun dalam kepalanya.
Tuhan, beri aku kekuatan.
Ya, aku beri engkau kekuatan, masuklah, ia dengar suara sayupsayup
dari hatinya sendiri.
Tetapi ia belum berani.
Tuhan, berilah aku kekuatan.
Sebelum ia sempat berpikir tangannya telah mencekam kenop pintu
itu dan digoncang-goncangkan (MSBE, hlm. 114).
Kutipan di atas menunjukkan sikap Midah yang menjadi berani masuk ke
dalam rumahnya setelah ia meminta kekuatan kepada Tuhan. Midah yakin bahwa
Tuhan akan memberi kekuatan dan melindungi dirinya dari apapun juga.
b. Optimis
Sikap optimis Midah ini tampak ketika ia akan memulai menentukan
hidupnya sendiri tanpa campur tangan orang lain. Sikap optimis Midah ini
ditampakkan langsung oleh pengarang melalui teknik ekspositori. Seperti dalam
kutipan berikut.
72
Dan untuk engkau, katanya kepada makhluk yang bersanggar di
bawah jantungnya, segala-galanya tersedia untuk memilih sendiri yang
kauhendaki.
Dengan keputusan itu hilang lenyap seluruh kesedihannya, perasaan
akan kegoyahan nasibnya, ketakutan dan keliarannya. Ia sendiri kini telah
memilih yang dianggapnya sebaik-baiknya untuk dirinya. Dan ia merasa
di depannya telah tersedia jalan yang akan dilaluinya (MSBE, hlm. 26).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa setelah Midah berbicara dengan anak
dalam kandungannya dalam hati, ia memperoleh kemantapan, dan keberanian
dalam menjalani cobaan hidup selanjutnya.
Optimisme Midah juga terlihat ketika ia mengikuti rombongan keroncong
dari tempat satu ke tempat yang lain. Sikap optimisme ini ditunjukkan pengarang
dengan teknik dramatik yaitu teknik tingkah laku dan arus kesadaran seperti
dalam kutipan berikut ini.
Kembali ia usap perutnya, berbisik:
Kita sekarang berjalan lagi, Nak. Engkau adalah makhluk yang
membawakan kejayaan bagi orangtua. Engkau membawakan keselamatan,
rejeki, dan kebahagiaan.
Barulah ia mulai dengan usahanya. (MSBE, hlm. 28).
Kutipan di atas menyatakan bahwa setelah Midah mengusap-usap
perutnya, Midah pun yakin untuk memulai usahanya yaitu mencari rombongan
keroncong.
b. Bijaksana
Selain kompleks, wujud dari ketidaksadaran perilaku Midah adalah
archetypus. Archetypus ini merupakan medan tenaga ketidaksadaran yang mampu
mengubah sikap kehidupan sadar manusia. Hal tersebut terdapat dalam sikap
Midah yang memaafkan kesalahan orang lain sebab ia menyadari bahwa dirinya
73
dan diri orang yang dimaafkan tersebut adalah manusia yang sama-sama tempat
khilaf dan kesalahan. Hal ini tercermin dalam kutipan berikut ini.
Begitu dihinakan! Teriak hatinya. Sedang mereka tidaklah
mengemis. Mereka membagi keriangannya kepada pendengarnya dan
minta perhatian dari si pendengar dengan sekedar penghargaan.
Kemudian ia mengerti, bahwa tidak semua orang sudi beriang
dengan rombongan orang asing yang tak dikenalnya.
Pengertian itu membuat ia memaafkan. Dan ia ingat dirinya sendiri.
Mungkin aku pun sering menyinggung perasaan orang karena tak adanya
pengertian padaku. Ia mulai mengingat-ingat. Akhirnya yang mula-mula
teringat adalah bapaknya sendiri yang untuk selama-lamamnya takkan
dilupakannya: tindakan yang satu itu! Tindakan yang merampas
kesenangan daripadanya. Dan apa yang diperbuatnya sendiri hingga
menyinggung perasaan orang lain tak dapat ia mengenangnya kembali.
Berkali-kali ia mencoba, tetapi tidak bias. Kemudian ia menghibur dirinya
dengan ucapan yang biasa itu: kekhilafan sudah sifatnya manusia. Dan
dengan itu selesailah pemikirannya (MSBE, hlm. 29).
Kutipan di atas menggambarkan sikap Midah yang menjadi bijaksana
dalam hidup dengan memaafkan kesalahan orang lain. Ketidaksadaran Midah
yang mengingat peristiwa-peristiwa yang pernah dilakukannya yang menyinggung
orang lain membawa tenaga baru ke alam sadarnya yang membuat ia menjadi
sosok yang memaafkan. Ia sadar bahwa ia juga pernah berbuat khilaf seperti yang
dilakukan orang di restoran tersebut karena ia juga manusia yang merupakan
tempat berbuat salah dan khilaf.
Midah juga menunjukkan sikap bijaksananya ketika ia hidup di tengahtengah
rombongan keroncong. Ia berpikir bahwa seorang dikatakan miskin hanya
ditentukan oleh kebutuhan. Dan ia merasa tidak miskin lagi ketika meninggalkan
suaminya dan segala kekayaannya. Sebab ketika ia masih bersama suaminya ia
miskin kebebasan dan keceriaan yang sekarang justru diperolehnya ketika ia
bersama rombongan keroncong dan hidup di jalanan. Hal ini diungkapkan
74
langsung oleh pengarang melalui teknik ekspositori seperti dalam kutipan di
bawah ini.
Sekarang ia berpikir, adakah dirinya kini miskin atau kaya. Tiba-tiba
tergelimang senyum pada bibirnya yang menggairahkan lelaki itu.
Sesungguhnya pengertian miskin itu telah hilang lenyap setelah ia
meninggalkan suaminya. Kemiskinan baru ada setelah ada perbandingan
dengan keliling, kemiskinan hanya ditentukan oleh kebutuhan. Dan
anakku ini, anak yang tidak akan kunodai dengan kesalahan susila ini, dia
tidak akan miskin, karena ia tidak lari pada kebutuhan, tetapi kebutuhan
yang lari kepadanya. Dia tidak akan kaya, karena kekayaan dilahirkan oleh
kemiskinan keliling, dan dia tidak akan memiskinkan kelilingnya. Dia
akan jadi sebagai aku, jadi penyanyi yang mengajak semua orang ikut
girang, ikut merasakan apa yang dirasakan juga oleh orang lain─perasaan
murni (MSBE, hlm. 38).
Dari kutipan di atas dapat dilhat sikap Midah yang bijaksana dalam
menilai kemiskinan. Bahwa kemiskinan hanya ditentukan oleh kebutuhan dan ia
tidak merasa miskin setelah meninggalkan suaminya yang kaya itu tetapi justru ia
kini merasa kaya secara jiwa.
Berdasarkan tipe introvert dan ekstrovert kepribadian Midah dapat ditulis
dapat ditulis dengan tabel berikut ini.
75
Fungsi pembantu
Tipe
Sikap jiwa
Fungsi jiwa
Ketidak
sadarannya kesadaran Ketidak
sadaran
Perasa
Introvert
Introvert Perasa Pemikir
ekstrovert
Pengindra Intuitif
􀂃 Tertutup
􀂃 Suka
memendam
perasaan
􀂃 Suka
merenung
tenggelam
ke dalam
diri sendiri
􀂃 kesepian
􀂃 yakin
membuat
keputusan
􀂃 mengerti
perasaan
orang lain
􀂃 mudah
tersinggung
􀂃 keras hati
􀂃 memegang
prinsip
􀂃 mencintai
seni (musik
keroncong)
􀂃 berani
􀂃 optimis
􀂃 bijaksana
Kedua komponen kesadaran yaitu fungsi jiwa dan sikap jiwa berada di
alam kesadaran Midah yang merupakan sifat dasar Midah dan tidak akan berubah
dalam menghadapi lingkungan yang berbeda-beda namun hanya berada di diri
Midah atau secara introvert (tertutup). Jika menurut kesadaran Midah bertipe
kepribadian perasa introvert, maka ketidaksadaran Midah bertipe pemikir
ekstrovert. Tipe inilah yang secara tidak disadari Midah keluar dari dirinya
(ekstravert) yang tampak pada sifatnya yang keras hati dan memegang prinsip.
Sedangkan dua fungsi lain sebagai fungsi pembantu yaitu fungsi pengindra dan
intuitif juga turut mempengaruhi kepribadian Midah.
Fungsi pengindra Midah yakni kesukaannya terhadap musik keroncong
berada di alam kesadaran. Midah paham dan sadar bahwa ia sangat menyukai
musik keroncong dan merasa tenang dan bahagia mengabdi pada musik tersebut.
Sehingga meskipun pilihannya tersebut banyak yang menentang, namun ia
76
bersikeras untuk menjalaninya. Dan sikap Midah yang keras hati ini tidak disadari
Midah muncul begitu saja sebagai wujud pembelaan terhadap apa yang
disenanginya. Sedangkan fungsi pembantu satunya yakni fungsi intuitif Midah
berada di alam ketidaksadaran. Fungsi ini tampak pada perilaku Midah yang tidak
disadarinya. Sebagai contoh selalu mengusap-usap perutnya ketika ia butuh
kekuatan. Hal ini memunculkan sifat berani, optimis dan bijaksana dalam diri
Midah ketika ia menjalani berbagai penderitaan hidup.
4. 2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Tokoh Utama
Dari analisis di atas diketahui bahwa tipe kepribadian Midah adalah tipe
perasa dan introvert. Kepribadian Midah tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor
yang meliputi faktor ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif.
4. 2. 1 Ketidaksadaran Pribadi
Faktor ketidaksadaran pribadi berupa faktor kedewasaan, faktor frustasi,
faktor konflik, dan faktor ancaman.
1. Faktor Kedewasaan
Midah telah dewasa dan menjadi seorang ibu. Ia lebih berpikir secara
dewasa dan bisa menentukan hidupnya sendiri. Midah tumbuh menjadi pribadi
yang keras hati dan berusaha membawa hidupnya sendiri tanpa bantuan orang
lain. Dan ia pun yakin bisa melindungi anaknya sendiri. Hal ini ditunjukkan dalam
dialog pada kutipan beikut ini.
Mari pulang. Mari aku antarkan pulang ke rumah orang-tuamu.
Biarlah aku hidup begini.
Kalau begitu pulanglah ke rumahku.
Biarlah.
77
Mau ke mana lagi engkau ini?
Meneruskan perjalanan.
Riah memegangi lengan bajunya.
Jangan halangi aku. Biarlah aku pergi.
Setidak-tidaknya ia merasa aman dalam gendongan emaknya
(MSBE, hlm. 62-63).
Kutipan di atas menggambarkan bertekad Midah yang merasa mampu
membawa hidupnya sendiri tanpa campur tangan Riah, atau campur tangan orang
lain karena Midah merasa bisa dan sanggup menanggung sendiri hidupnya dan
memberi perlindungan kepada bayinya.
Kedewasaan Midah juga membuatnya sangat memegang prinsip. Ia
merasa bisa memilih dan menentukan apa yang terbaik untuk ia dan bayinya.
Karena itu, meskipun keputusannya sering tidak disetujui orang lain, ia tetap
dengan keputusannya. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.
Mempunyai pendirian sendiri adalah berhadapan dengan pendapat
umum. Bertambah kuat pendirian seseorang, bertambah banyak ia
memanggil penentang.
Dan Midah terpancang kuat di atas bumi pendiriannya. Wanita ini
akhirnya menjadi pemeluk kepercayaan cinta yang fanatic. Ah, mengapa
tidak kalau cinta menjadi satu-satunya harapan baginya─harapan akan
berkahnya kedamaian jiwa! (MSBE, hlm. 121).
Kedewasaan dan pengalaman pribadi Midah juga membuatnya menjadi
pribadi yang bijaksana. Seperti tersirat dalam kutipan berikut ini.
Siapa yang tidak akan merenung-renung dalam memasuki dunia
baru yang tidak dikenalnya sebelumnya? Dan Midah bukanlah orang yang
luar biasa. Ia yang selalu hidup di antara kekayaan, baik orangtuanya
sendiri maupun suaminya─kekayaan─yang begitu biasa dengan
kegampangan hidup─kekayaan itu pula yang menerbitkan pikiran-pikiran
baru padanya. Dan ia tidak menyesal meninggalkan kekayaan itu (MSBE,
hlm. 39).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa karena pengalaman hidup Midah
berubah menjadi wanita yang mengerti bahwa kekayaan bukanlah segala-galanya.
78
Dan Midah tidak menyesal telah meninggalkan masa lalunya yang penuh
kegampangan itu.
2. Motif cinta
Motif cinta ini mempengaruhi Midah menjadi seorang pribadi yang yakin
membuat keputusan dan keras hati. Midah tidak terlalu menuntut Ahmad untuk
bertanggung jawab atas kehamilannya dan memutuskan untuk memelihara sendiri
anaknya itu. Midah ikhlas dengan keputusan Ahmad yang tidak mau mengakui
kehamilannya tersebut. Ia menyadari ketika berhubungan intim dengan Ahmad
perasaan Midah adalah murni karena Midah mencintai Ahmad. Selama hidupnya
baru kali ini Midah merasakan cinta pada seorang laki-laki. Sehingga Midah lebih
memilih pergi dari rumahnya menyelamatkan anaknya tersebut daripada anaknya
dianggap jelek oleh masyarakat. Seperti ditunjukkan dalam kutipan berikut ini.
Tapi ini! Dia harus kuselamatkan! Harus! Dia tidak boleh dihina
orang, sekalipun seluruh dunia akan menamainya anak haram. Dia anakku
yang ada karena cinta, karena kerelaan, karena aku butuh dicintai,
sekalipun akhirnya hanya aku sendiri yang mencintai orang yang
sebenarnya tidak cinta kepadaku. Tapi ini semua lebih baik daripada hidup
dengan hati kosong dan keras dibatukan oleh segala-galanya (MSBE, hlm.
126).
Berdasarkan kutipan tersebut menunjukkan bahwa Midah sangat
menyayangi bayinya itu karena lahir dari buah cintanya dengan Ahmad sehingga
Midah melindunginya seperti itu.
Rasa cinta Midah terhadap musik keroncong juga mempengaruhi
kehidupan Midah sehingga ia berkeras hati untuk menjadi seorang penyanyi
keroncong. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan di bawah ini.
79
Ah itu musik! Itu lagu! Itu kebebasan, keriangan,
kebahagiaan─terkurung dalam kumpulan manusia yang tergilas nafsunafsunya
(MSBE, hlm. 29).
Kutipan di atas menunjukkan sikap Midah terhadap musik keroncong. Ia
menganggap bahwa di dalam musik keroncong terdapat kebebasan, keriangan,
dan kebahagiaan sehingga Midah ingin sekali mengabdikan dirinya untuk musik
tersebut.
Faktor cinta ini juga mempengaruhi sifat Midah yang mengerti perasaan
orang lain. Dalam hal ini adalah perasaan Ahmad dan kedua orang tuanya. Midah
tidak mau Ahmad menjadi cemar namanya dan tidak diakui keluarganya karena
dia. Karena itu ia lebih memilih mengalah dan tidak menuntut Ahmad
mengawininya. Seperti dalam kutipan berikut ini.
Aku tidak akan kawin dengannya. Dia hanya satu-satunya milik
orangtuanya. Dan aku tak akan dia tercemar (MSBE, hlm. 119).
Kutipan di atas menunjukkan Midah tidak akan menikah dengan Ahmad
karena ia tidak mau Ahmad dibenci orang tuanya dan tercemar namanya karena ia
dan kehamilannya.
3. Faktor Frustasi
Setelah tak mendapatkan kasih sayang orang tuanya, Midah masih
mencoba untuk merebut kasih sayang tersebut. Tetapi apapun usaha Midah, ia tak
sanggup lagi merebutnya kembali. Perhatian dan kasih sayang orang tuanya hanya
untuk adik-adiknya. Hal ini menyebabkan Midah menjadi sosok yang suka
memendam perasaan dan pribadi yang kesepian. Seperti dalam kutipan berikut ini.
Kelahiran siadik bukan saja menggoncangkan iman bapak! Juga hati
Midah goncang karenanya. Tak cukup kata-kata padanya untuk
mengucapkan itu. Hanya dalam hatinya timbul perasaan yang tidak enak.
80
Sejak kelahiran siadik, ia tidak mendapat perhatian dari bapak. Juga tidak
dari emak. Berbagai lagak dan lagu ia perlihatkan, tapi semua luput
(MSBE, hlm. 15).
Kutipan di atas menggambarkan bagaimana perasaan Midah ketika ia tak
lagi mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Midah sangat
tergoncang dan perasaannya itu hanya ia sendiri yang tahu. Ia tak pernah
menceritakan isi hatinya kepada siapapun. Dan ia merasa kesepian mengalami
semua itu. Frustasi yang dialami Midah ini menyebabkan ia tumbuh menjadi
seorang yang introvert.
4) Faktor Konflik
Konflik-konflik yang di alami Midah juga membentuk kepribadian Midah
yakni membuatnya menjadi seorang yang introvert dan seorang yang yakin dalam
membuat keputusan. Karena tak mendapatkan kasih sayang dan perhatian lagi dari
orang tuanya, Midah mencari kesenangan lainnya untuk mengobati rasa
kesepiannya dengan membeli kaset keroncong. Tetapi, kesenangan barunya
tersebut dirusak oleh bapaknya dan kemudian ia dipukuli. Hal ini membuat Midah
sakit hati dan takut kepada bapaknya. Seperti dalam kutipan berikut ini.
Ia masih ingat betapa sakit hatinya terhadap ayahnya atas
tindakannya dahulu: piringan-piringan hitam kroncong yang dicintainya
ditarik dengan kasarnya kemudian dibantingkan ke lantai: pecah belah
(MSBE, hlm. 26).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Midah masih sangat sakit hati
terhadap perlakuan bapaknya tersebut. Sehingga membuat Midah takut dengan
bapaknya dan kemudian memutuskan untuk tidak kembali ke rumah bapaknya.
Faktor konflik juga terjadi antara Midah dengan masyarakat. Midah
merasa bahwa ia tak diterima oleh masyarakat karena mengandung anak di luar
81
nikah. Hal ini membuat Midah tidak nyaman yang akhirnya memilih menghindari
pertentangan itu sekaligus menghindari hinaan bagi bayinya dan bagi orang
tuanya. Hal ini terangkum dalam kutipan berikut ini.
Ibu, sebelum anak ini lahir, tidaklah susah untuk berjanji demikian.
Tapi sekali ia lahir, sepanjang hidupnya dia akan mengotori hati ibu dan
bapak. Dan itu aku tak suka.
Kutipan di atas menunjukkan usaha Midah agar anak dalam kandungannya
itu tidak mengotori hati orang tuanya. Baik mengotori hati orang tuanya karena
bayi itu anak haram, juga mengotori hati orang tuanya karena anggapan miring
masyarakat karena bayi itu kepada orang tuanya. untuk menghindari konflik
tersebut Midah lebih baik mengalah dan yakin untuk meninggalkan rumah orang
tuanya.
Konflik antara Midah dengan orang tuanya juga membuat Midah
berkepribadian tertutup kepada siapapun. Ia tidak mau orang lain tahu asalusulnya
bahkan namanya agar ia tak ditemukan oleh orang tuanya maupun
suaminya. Hal ini terlihat dalam kutipan berikut.
Ya, bagaimana pendapat keluargamu nanti, tanya kepala itu.
Tidak punya keluarga.
Tapi pakaianmu begitu baik. Engkau masih bercincin emas. Tasmu
dari kulit baik dan tidak begitu jelek.
Aku sendiri punya .
Kalau ada yang mengadukan kami pada polisi.
Diam-diam mereka meneruskan makan lagi. Tiba-tiba:
Siapa namamu? Pemimpin rombongan itu bertanya
Aku? Ah. Midah tidak bisa meneruskan. Sekaligus terbayang segalagalanya,
dan terutama yang tidak menyenangkan, dalam sanubarinya.
Ah. Mengapa malu menyebut nama? Seorang tukang yang bermata
satu mencoba menolong kebingungan Midah (MSBE, hlm.34).
Kutipan di atas menunjukkan sikap Midah yang tidak mau mengaku
tentang keluarganya dan juga namanya. Hal ini disebabkan karena Midah tidak
82
mau orang lain tahu keluarganya dan konflik antara ia dengan orang tuanya dan
suaminya sehingga ia lari dari rumah suaminya dan tak kembali ke rumah orang
tuanya.
Konflik antara Midah dengan orang tuanya juga menyebabkan Midah
lebih suka merenung dan tenggelam ke dalam diri sendiri. Ia lebih suka berpikir
tentang masalahnya dengan orang tuanya daripada harus menceritakannya kepada
orang lain. Seperti dalam kutipan berikut ini.
Waktu kamar telah digelapkan, dan hanya ia sendiri tinggal jaga di
samping kepala rombongan, ia teringat segala-galanya yang telah terjadi.
Juga ia ingat pada Riah. Sekilas ingin ia mengunjungi perempuan yang
baik hati itu, tetapi niat itu ditelan bersama ludahnya. Ia merasa terpencil.
Ia raba perutnya dan ia merasa lebih kaya dari semua orang di atas dunia
ini. ia ingat pada kedua orangtuanya yang tidak pernah ia dengar kabar
beritanya lagi. Ia pun ingat pada suaminya yang menjadi raja di
kampungnya. Akhirnya ia ingat pada dirinya dan keluarganya (MSBE,
hlm. 47-48).
Kutipan tersebut menunjukkan Midah yang tengah merenungi atas apa
yang telah terjadi antara ia dengan orang tua dan suaminya. Persoalan tersebut ia
simpan sendirian dalam hati. Ia tak mau melibatkan orang lain dalam masalahnya.
5) Faktor Ancaman
Midah menyadari bahwa masyarakat tak akan mengerti dirinya dan apa
yang dirasakannya. Meskipun bagi Midah anak yang dalam kandungannya
tersebut adalah anak yang ia dambakan karena lahir dari cinta. Mereka hanya tahu
bahwa apa yang dibawa Midah merupakan sesuatu yang buruk dan memalukan.
Tetapi Midah tetap berkeras hati mempertahankan bayinya tersebut .Hal ini
tercermin dalam kutipan di bawah ini.
Hampir-hampir ia tak sanggup berhadapan dengan para
tetangganya yang datang menengok.
83
Mereka semua musuh! Musuh kepercayaannya. Musuh
pendiriannya! Musuh kedamaian jiwa yang dengan susahpayah ia pupuk.
Ia dapat mengira-ira apa saja yang dipercakapkan mereka atas
dirinya. Ia pun sudah bisa mengira-ngirakan bahwa mereka, karena sifat
berkuasanya, akan membuat dirinya menjadi aduan yang bisa dibuat kue
sekehendak hati mereka. Tidak mengherankan kalau ia lebih suka
menyembunyikan dirinya di dalam kamar (MSBE, hlm. 122).
Kutipan di atas menunjukkan Midah menyadari bahwa masyarakat di
sekelilingnya tidak bisa menerima keadaan Midah yang tengah hamil. Mereka
menganggap apa yang dilakukan Midah merupakan perbuatan yang sangat
memalukan dan tidak pantas. Karena itu masyarakat menunjukkan sikap tidak
senang dan selalu menggunjingkan Midah. Dan hal ini menurut Midah merupakan
suatu ancaman, baik bagi bayinya maupun bagi orang tuanya. karena itu meskipun
orang tuanya tidak menyetujui keputusan Midah untuk keluar dari rumah, Midah
tetap berkeras hati untuk memilih untuk keluar saja dari rumah orang tuanya. Hal
ini tampak pada kutipan berikut.
Midah menyatakan kandungan hatinya. Ia tak boleh mengganggu
kedamaian orangtuanya karena hal-hal yang tak disetujui orang banyak
ada padanya.
Midah, apalagi yang hendak kau perbuat ini?
Aku hendak pergi, bu. Biarlah bapak dan ibu hidup tenang di sini.
Tambah lama aku tambah yakin, bahwa aku tidaklah sebaik orangtuaku
(MSBE, hlm. 123).
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Midah tetap pada pendiriannya
untuk keluar dari rumah orang tuanya demi mempertahankan bayinya. Ia yakin
bahwa jalan inilah yang terbaik untuknya, untuk bayinya dan untuk orang tuanya.
84
4. 2. 2 Ketidaksadaran Kolektif
Ketidaksadaran kolektif ini meliputi faktor biologis, faktor filsafat, faktor
agama dan faktor mistik.
a. Faktor Biologis
Salah satu faktor yang mendasari Midah mengerti perasaan orang lain
adalah faktor biologis. Faktor ini merupakan faktor kejiwaan yang merupakan
bawaan manusia, dan bukan pengaruh lingkungan. Faktor ini tampak ketika
Midah tidak terlalu menuntut Ahmad untuk bertanggung jawab atas kehamilannya
karena sewaktu berhubungan badan dengan Ahmad Midah sadar bahwa semua itu
adalah kebutuhan biologis Midah mengingat ia pernah bersuami. Hal ini
ditunjukkan dalam kutipan di bawah ini.
Kau telah pernah kawin. Engkau telah punya anak. Tidak mungkin
itu karena cinta. Kalau engkau tahu, Midah, bagaimana rasa hatiku.
Engkau telah nodai rumahtanggaku………..(MSBE, hlm. 112).
Kutipan di atas menyebutkan Midah terpengaruh akan kebutuhan
biologisnya sehingga ia menerima ajakan Ahmad untuk berhubungan badan.
Pengaruh kebutuhan biologis ini juga ditunjukkan dalam kutipan di bawah ini.
Genderang perang berdentaman di hati Midah. Segala
perjuangannya, cinta, kekuatan, dan kelemahannya menghadapi hidup dan
hawa nafsunya sendiri ia ceritakan, berderet berbaris memasuki sanubari
kedua orangtuanya (MSBE, hlm. 119).
Berdasarkan kutipan tersebut menunjukkan bahwa selain cinta, hal lain
yang membuat Midah akhirnya mau berhubungan intim dan mau bertanggung
jawab atas anaknya adalah kebutuhan biologis yaitu hawa nafsu Midah.
85
2. Faktor Filsafat
Berpikir secara bijaksana juga mewarnai pembentukan kepribadian Midah.
Ia menjadi seorang yang bijaksana, yang memandang hidup tidak hanya sebatas
kulit arinya saja. Seperti ketika Midah menyikapi kesulitan hidupnya bersama
rombongan keroncong. Ia merasakan perbedaan antara hidup di tengah kekayaan
dengan hidup di tengah kemiskinan. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan di bawah
ini.
Sekarang ia berpikir, adakah dirinya kini miskin atau kaya. Tiba-tiba
tergelimang senyum pada bibirnya yang menggairahkan lelaki itu.
Sesungguhnya pengertian miskin itu telah hilang lenyap setelah ia
meninggalkan suaminya. Kemiskinan baru ada setelah ada perbandingan
dengan keliling, kemiskinan hanya ditentukan oleh kebutuhan. Dan
anakku ini, anak yang tidak akan kunodai dengan kesalahan susila ini, di
tidak akan miskin, karena ia tidak lari pada kebutuhan, tetapi kebutuhan
yang lari kepadanya. Dia tidak akan kaya, karena kekayaan dilahirkan oleh
kemiskinan keliling, dan dia tidak akan memiskinkan kelilingnya. Dia
akan jadi sebagai aku, jadi penyanyi yang mengajak semua orang ikut
girang, ikut merasakan apa yang dirasakan juga oleh orang lain─perasaan
murni (MSBE, hlm. 38).
Kutipan di atas menunjukkan sikap Midah yang lebih bijaksana
memandang hidup. Ketika hidup di tengah kekayaan ia tidak pernah merasakan
senang, bahagia, dan sebebas ketika ia berada di tengah rombongan keroncong
yang hidup serba kekurangan. Hidup di tengah orang-orang tersebut membuat
Midah merasa lebih kaya jiwa dan berpikir bahwa kemiskinan ada hanya
ditentukan oleh kebutuhan. Bukan hanya kekayaan materi yang menjadikan orang
bahagia, tetapi apa yang dinikmati dan menimbulkan kebahagiaan, itulah
kekayaan. Hal ini dikarenakan ia telah merasakan pahit manis berada di antara
kekayaan dan kemiskinan. Dan ia bertekad akan menjadikan anaknya kelak
86
seperti dirinya, menghibur semua orang dan menjadikan mereka kaya dengan
menyanyi.
Perjalanan hidup Midah juga mengajari Midah untuk menjadi seorang
pemaaf. Sebab ia menyadari bahwa manusia pada dasarnya tidak pernah luput dari
kesalahan. Begitu juga dirinya. Hal ini ditunjukkan dalam kutipan berikut ini.
Pengertian itu membuat ia memaafkan. Dan ia ingat dirinya sendiri.
Mungkin aku pun sering menyinggung perasaan orang karena tak adanya
pengertian padaku. Ia mulai mengingat-ingat. Akhirnya yang mula-mula
teringat adalah bapaknya sendiri yang untuk selama-lamamnya takkan
dilupakannya: tindakan yang satu itu! Tindakan yang merampas
kesenangan daripadanya. Dan apa yang diperbuatnya sendiri hingga
menyinggung perasaan orang lain tak dapat ia mengenangnya kembali.
Berkali-kali ia mencoba, tetapi tidak bias. Kemudian ia menghibur dirinya
dengan ucapan yang biasa itu: kekhilafan sudah sifatnya manusia. Dan
dengan itu selesailah pemikirannya (MSBE, hlm. 29).
Kutipan di atas menggambarkan sikap Midah yang menjadi bijaksana
memaafkan kesalahan orang lain. Karena ia menyadari bahwa sudah hakikat
manusia bahwa mereka tak pernah luput dari kekhilafan.
3. Faktor Agama
Midah lahir dari keluarga yang taat beragama. Midah dibekali oleh orang
tuanya dengan pengetahuan agama. Hal ini masih melekat di hati Midah meskipun
Midah telah keluar dari rumahnya dan meninggalkan orangtuanya. Midah masih
ingat akan Tuhan dan menyebabkan ia lebih berani dalam menjalani kesulitan
hidup sebab ia yakin akan selalu diberi keselamatan oleh Tuhan. Hal ini
ditunjukkan dalam kutipan berikut.
Jangan dengarkan dia, orang itu menasehati Midah. Mau engkau ikut
rombongan?
Midah mengangguk, dan dalam hatinya ia bersyukur kepada
Tuhannya─Tuhan bapaknya juga (MSBE, hlm. 33).
87
Kutipan di atas menggambarkan Midah masih mempunyai iman sekalipun
ia telah berpisah dengan orangtuanya. Ia percaya bahwa ia telah diselamatkan
Tuhan sehingga ia mengucap syukur untuk Tuhan-Nya. Dan Midah yakin bahwa
Tuhanlah tempatnya menenangkan pikiran dan jiwa.
Faktor agama juga membuat Midah untuk tidak menggugurkan anak yang
berada di dalam perutnya. Ia sadar apa yang dilakukannya dengan Ahmad
merupak suatu dosa dan ia tak mau menambah dosa lagi dengan menggugurkan
bayinya. Untuk itu ia bertekad mempertahankan bayi itu dan memberanikan diri
untuk berkata jujur kepada orang tuanya walaupun apa yang terjadi.
Anakku, buatku sendiri itu bukanlah dosa sekiranya engkau cinta
benar-benar kepadanya. Tapi agama ada hukum, dan hukum itu
menyalahkan perbuatanmu.
Bila aku bersalah, hukumlah aku. Tapi aku sanggup melepaskan
cintaku kepadanya. Dan anak yang kukandungkan ini adalah anak yang
dirahmati cinta (MSBE, hlm. 119).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa apapun hukuman dari orang tuanya ia
sanggup menerimanya dan ia pun sanggup melepas cintanya kepada Ahmad. Tapi
jika untuk menggugurkan bayinya Midah tidak mau karena bagi Midah anak
tersebut merupakan anak yang dirahmati cinta yakni cintanya kepada Ahmad.
4. Faktor Mistik
Midah percaya dan yakin bahwa dengan berdoa ia akan selamat karena ia
merasa lebih dekat dengan Tuhan. Dengan keyakinan seperti itu, Midah lebih
berani dan lebih optimis akan keputusan yang diambilnya nanti. Seperti dalam
kutipan di bawah ini.
Midah terus-menerus memohon kepada Tuhannya agar selalu
selamat, agar anak yang dikandungnya tidak diganggu oleh siapapun juga.
Dan waktu tengah malam telah lama lewat dan kepala rombongan itu jatuh
88
tertidur sambil merangkulnya ia masih tetap mendoa, dan terus mendoa
sehingga akhirnya pun jatuh tertidur pula (MSBE, hlm. 43).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa Midah terus menerus berdoa agar ia
diberi keselamatan oleh Tuhan. Dengan berdoa, Midah menjadi lebih tenang dan
akhirnya tertidur.
Midah juga selalu bercakap-cakap dengan bayi yang masih berada di
dalam kandungannya. Midah percaya bahwa anak dalam kandungannya
merupakan titipan dari Tuhan yang dibekali keselamatan, rejeki, dan kebahagiaan.
Dengan keyakinan seperti itu Midah lebih optimis dan berani dalam menjalani
hidup. Seperti dalam kutipan berikut ini.
Kita sekarang berjalan lagi, Nak. Engkau adalah makhluk yang
membawakan kejayaan bagi orangtua. Engkau membawakan keselamatan,
rejeki, dan kebahagiaan.
Barulah ia mulai dengan usahanya.
Kutipan di atas menyatakan Midah menghimpun kekuatan agar ia kuat
menghadapi semuanya karena percaya bayi dalam kandungannya membawa
keselamatan, rejeki, dan kebahagiaan untuknya.
Midah juga selalu mengelus-elus perutnya untuk memperoleh keberanian.
Hal ini tertuang dalam kutipan berikut.
Midah mencoba tersenyum oleh pandangan itu. Tetapi pikatannya
belum lagi berhasil. Dan dalam hatinya ia berjanji akan memperbaiki
usahanya. Kembali ia mengusap perut dan berbisik penuh kepercayaan:
Tidak, Nak. Engkau tidak akan emak rusakkan. Tidak raja, tidak
(MSBE, hlm. 30).
Kutipan di atas menunjukkan bahwa selain bercakap dengan bayinya dan
berdoa, Midah juga melakukan ritual mistik mengusap perutnya saat ingin
memperoleh kekuatan.
89
Berdasarkan uraian di atas dapat diambil simpulan bahwa faktor-faktor
yang mempengaruhi Midah adalah faktor ketidaksadaran pribadi dan
ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran pribadi meliputi faktor kedewasaan,
faktor motif cinta, faktor frustasi, faktor konflik, dan faktor ancaman.
Ketidaksadaran kolektif meliputi faktor biologis, faktor filsafat, faktor agama dan
faktor mistik.
90
BAB V
PENUTUP
5. 1 Simpulan
Berdasarkan hasil analisis dapat ditarik simpulan sebagai berikut:
1. Tipe kepribadian tokoh utama novel Midah Simanis Bergigi Emas berdasarkan
teori Carl Gustav Jung adalah dari fungsi jiwa Midah mempunyai kepribadian
tipe perasa yaitu yakin membuat keputusan, mengerti perasaan orang lain dan
tak mau menimbulkan pertentangan, dan mudah tersinggung. Dipandang dari
sikap jiwa kepribadian Midah mempunyai kepribadian tipe introvert yaitu
tertutup, suka memendam perasaan, suka merenung dan tenggelam ke dalam
diri sendiri serta kesepian. Berdasarkan ketidaksadarannya, ketidaksadaran
pribadi Midah bertipe pemikir yaitu keras hati, dan senang memutuskan
sendiri. Berdasarkan ketidaksadaran kolektif Midah bertipe intuitif yaitu berani,
optimis, dan bijaksana. Berdasarkan tipe introvert dan ekstravert, tipe
kepribadian Midah adalah tipe perasa introvert. Kesadaran Midah bertipe
perasa dan introvert bersifat introvert sedangkan ketidaksadarannya bertipe
pemikir dan intuitif bersifat ekstravert. Sedangkan fungsi pembantunya, yaitu
pengindra berada di kesadaran dan fungsi intuitif berada di ketidaksadaran.
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh utama adalah faktor
ketidaksadaran pribadi dan ketidaksadaran kolektif. Ketidaksadaran pribadi
meliputi faktor kedewasaan, faktor motif cinta, faktor frustasi, faktor konflik,
91
dan faktor ancaman. Ketidaksadaran kolektif meliputi faktor biologis, faktor
filsafat, faktor agama dan faktor mistik.
5. 2 Saran
Penelitian ini hendaknya dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi
penelitian selanjutnya yang berhubungan dengan psikologi sastra khususnya
penelitian yang menggunakan teori psikoanalisa Carl Gustav Jung. Penelitian
tentang novel ini hendaknya juga dikembangkan lebih lanjut selain menggunakan
teori kepribadian, karena novel Midah Simanis Bergigi Emas merupakan novel
yang kaya akan tema kehidupan.
92
DAFTAR PUSTAKA
Aminuddin. 1995. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru
Algesindo.
Baribin, Raminah. 1985. Kritik dan Penilaian Sastra. Semarang: IKIP Semarang
Press.
Budiningsih. 2002. Psikologi Kepribadian. Semarang: Universitas Negeri
Semarang.
Departemen Agama Republik Indonesia. 1997. Islam untuk Disiplin Ilmu Filsafat.
Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan kelembagaan Agama Islam.
Dirgagunarsa, Singgih. 1978. Pengantar psikologi. Jakarta: Mutiara.
Endraswara, Suwardi. 2004. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka
Utama Widyatama.
Fananie, Zainuddin. 2002. Telaah Sastra. Surakarta: Universitas Muhammadiyah.
Hae, Zen. 2003. Surat Kepada Pramoedya. www.mediaindo.com (01 November
2005).
Hurlock, Ellizabeth. 1992. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Murtadho, M. 2002. Islam Jawa. Yogyakarta: LAPERA Pustaka Utama.
Muntasyir, Rizal dan Misnal Munir. 2002. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Naisaban, Ladislaus. 2003. Psikologi Jung: Tipe Kepribadian Manusia dan
Rahasia Sukses dalam Hidup (Tipe Kebijaksanaan Jung). Jakarta:
Grasindo.
Nurgiyantoro, Burhan. 2000. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah
MadaUniversity Press.
Rachman Dkk, Maman. 2003. Filsafat Ilmu. Semarang: Universitas Negeri
Semarang.
Rakhmat, Jalaluddin. 1986. psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Karya.
93
Sarwono, Wirawan Sarlito. 1987. Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta.: Raja
Grafindo Persada.
Sayuti, Suminto A. 1996. Apresiasi Prosa Fiksi. Jakarta: Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan.
Semi, Atar. 1993. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.
Sudjiman, Panuti. 1990. Memahami Cerita Rekaan. Bandung: Angkasa
Suharianto, S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.
Suryabrata, Sumadi. 2002. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Swastika, Alia. 2003. Perempuan dalam Sastra Indonesia Perjalanan dari Objek
ke Subjek. www. mediaindo. com (01 November 2005).
94
SINOPSIS
MIDAH SI MANIS BERGIGI EMAS
Midah lahir dari keluarga yang taat beragama dan kaya. Ia anak seorang
Haji yaitu Haji Abdul. Midah kecil sangat dimanja dan disayang kedua orang
tuanya karena ia adalah anak tunggal. Ayahnya yang fanatik musik Arab selalu
memangku Midah setiap kali pulang dari tokonya. Namun, situasi berubah ketika
Midah mempunyai adik yang mulai membanyak. Ia mulai disepelekan. Perhatian
bapaknya sudah sepenuhnya kepada adik-adiknya. Ia tak lagi dipangku-pangku. Ia
tak lagi ditemani ayahnya untuk mendengarkan lagu Umi Kalsum. Midah
sekarang seperti terkucil di rumahnya. Adik-adiknya telah merampas semuanya.
Karena tidak betah, Midah sering keluar rumah dan biasanya pulang sore
atau bahkan malam hari. Begitu seterusnya. Tapi bapaknya cuek saja. Apalagi
ibunya. Situasi tidak berubah sama sekali. Ini makin membetahkan Midah untuk
bermain-main di jalanan. Di jalanan inilah Midah tertarik dengan pengamen
keliling. Terutama lagu-lagu keroncong yang mereka bawakan. Midah senang
sekali dengan kroncong. Ia ternyata sudah bosan dengan Umi Kalsum. Dibelinya
beberapa piringan hitam keroncong dan disetelnya di rumah. Midah hafal semua
isi piringan keroncong itu dengan singkat. Ketika bapaknya pulang dari toko dan
mendengar musik keroncong tersebut, ia marah-marah dan menghajar Midah
habis-habisan. Ia menganggap bahwa musik yang sedang disetel itu adalah musik
haram. Di antara rasa takut berkecamuk di hati, Midah menyimpan rasa benci
kepada bapaknya itu. Ibunya pun hanya diam tak berbuat apa-apa melihat Midah
95
dihajar seperti itu. Di hadapan bapaknya, ibunya tak memiliki kekuatan. Ia
kemudian minta perlindungan kepada pembantunya, yaitu Riah.
Suatu hari, bapaknya menikahkan Midah dengan laki-laki pilihan
bapaknya. Ia adalah seorang yang berharta, taat beragama dan berasal dari
Cibatok, desa bapaknya. Laki-laki itu bernama Haji Terbus. Setelah tiga bulan
perkawinan, Midah lari suaminya itu. Ternyata suaminya tersebut tak hanya
menguasainya, tetapi juga mempunyai banyak istri. Midah lari dari suaminya
dalam keadaan hamil. Ia tak berani pulang k erumah, ia takut dengan bapaknya. Ia
singgah sebentar ke rumah Riah. Riah menyarankan Midah untuk pulang ke
rumah saja karena Riah tahu Midah tidak akan bisa hidup di luar sana. Tetapi
Midah tetap tidak mau. Ia bertekad untuk hidup sendiri dengan cara apa pun.
Midah mempunyai semangat hidup untuk dirinya maupun untuk bayi di dalam
kandungannya.
Dengan membawa uang yang dibawa dari suaminya, ia mulai
mengembara. Ia kemudian menjadi anggota keroncong keliling untuk menghidupi
dirinya dan bayinya. Midah merahasiakan identitas dirinya dan juga namanya.
Hidup di tengah-tengah rombongan pengamen keroncong begitu berat dirasakan
Midah. Mulai dari dipandang sinis oleh masyarakat, hingga ketika ia akan
diperkosa oleh laki-laki rombongan keroncong. Ia tidur berpindah-pindah dan
bercampur menjadi satu antara laki-laki dan perempuan. Ia merasakan begitu
bebasnya kehidupan mereka. Berbeda sekali dengan kehidupannya yang dahulu.
Namun, ia mencoba kuat menghadapi itu semua dan percaya bahwa anak di dalam
kandungannya itu membawa berkah dan keselamatan untuknya.
96
Ketika ia akan melahirkan anaknya tak seorang pun yang membantunya.
Berbekal uang hasil dari menyanyi keroncong selama ini ia mendatangi sebuah
rumah sakit. Namun pihak rumah sakit sangsi apakah nantinya ia bisa membayar
atau tidak. Tapi Midah tak kuat lagi, ia ambruk di rumah sakit itu. Setelah sadar ia
kemudian melahirkan anaknya. Ketika ditanya oleh suster, ia tetap saja
merahasiakan siapa dirinya. Hanya namanya saja yang disebutkan sedangkan
suami atau keluarganya ia tak mau menjawab. Ia dianggap sebagai wanita tidak
baik oleh suster.
Suatu hari Riah melihat Midah di jalanan. Tetapi Midah menghindar. Riah
kemudian melapor ke rumah Haji Abdul. Mendengar Midah menjadi penyanyi
keliling dan ternyata ia sudah mempunyai cucu, ia hanya bisa berdoa agar Midah
selalu diberi keselamatan.
Setelah keluar dari rumah sakit, Midah bergabung lagi dengan rombongan
pengamen itu. Ia kemudian bertemu dengan seorang polisi bernama Ahmad.
Mereka akhirnya jatuh cinta. Midah kemudian hamil dengan polisi itu. Tetapi
polisi tersebut tak mau bertanggung jawab karena alasan orang tuanya. Midah
paham dan tak menuntut.
Sedangkan waktu itu, ibu Midah sibuk mencari-cari keberadaan Midah
dan akan membawa Midah pulang ke rumah. Ketika Midah sedang bekerja,
anaknya diambil di rumah kontrakannya dan dibawanya pulang. Ia senang sekali
bertemu dengan cucunya itu, begitu juga Haji Abdul di rumah.
Ketika pulang bekerja dan mengetahui bayinya telah diambil ibunya,
Midah menyusul ke rumah. Ia disambut dengan suka cita oleh keluarga dan
97
disuruh untuk tinggal saja. Tetapi Midah tidak mau. Ia telah telah membawa aib di
dalam perutnya. Ia tidak mau hanya karena dia, bapaknya yang dihormati di
kampungnya itu mendapat celaan dari masyarakat. Midah keluar dari rumahnya
dan menjadi seorang penyanyi terkenal. Ia pun terus menjalani kehidupan bebas
dengan laki-laki.