P. 1
19_makalah

19_makalah

|Views: 1,294|Likes:
Dipublikasikan oleh Arief Rismawan

More info:

Published by: Arief Rismawan on Dec 14, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2012

pdf

text

original

LAPORAN

KAJIAN KEBIJAKAN PERENCANAAN TENAGA KESEHATAN

DIREKTORAT KESEHATAN DAN GIZI MASYARAKAT DEPUTI BIDANG SUMBER DAYA MANUSIA DAN KEBUDAYAAN BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL 2005

Tim Peneliti dan Penyusun Rekomendasi: Dedi M. Masykur Riyadi, Arum Atmawikarta; Dadang Rizki Ratman, Taufik Hanafi, Yosi Diani Tresna, Sularsono, Destri Handayani, Pungkas Bahjuri Ali, Khabib Mualim, Penulis Buku: Pungkas Bahjuri Ali, Dadang Rizki Ratman, Sularsono Tim Pendukung: Nurlaily Aprilianti; Erna Rosita Dikeluarkan oleh: Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas); Tahun 2005

2

PENGANTAR

Dokumen ini merupakan laporan kajian tentang Kebijakan Perencanaan Tenaga Kesehatan, yang dilakukan pada tahun 2005 di 7 propinsi dan meliputi 32 kabupaten/kota. Kajian ini dilakukan oleh Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas. Kajian ini dilakukan karena Bappenas memerlukan masukan tentang kebijakan tenaga kesehatan. Dengan mengetahui proses perencaaan kebutuhan, pendidikan dan pelatihan serta pendayagunaan tenaga kesehatan, diharapkan dapat memberikan masukan bagi Bappenas dan atau instansi pemerintah lainnya dalam mempertajam penyusunan kebijakan pembangunan kesehatan khususnya di bidang ketenagaan kesehatan di masa mendatang. Kami mengucapkan terimakasih kepada para nara sumber yaitu Bapak Abdurachman (Kepala Pusbangkes Depkes), Dedi Ruswendi (Kepala Biro Kepegawaian Depkes), Setiawan Soeparan (Kepala Pusdikanakes Depkes), dan Bapak Untung Suseno (Kepala Purat Perencanaan Tenaga Kesehatan Depkes) beserta staf, serta seluruh pihak yang telah membantu pengumpulan data. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada responden dan pihak-pihak yang membantu kami dalam memperoleh data, yaitu Depkes Pusat, Dinas Kesehatan di 7 propinsi, Dinas Kesehatan di 32 kabupaten/kota, Bappeda, Kepala Puskesmas dan seluruh tenaga kesehatan di Puskesmas dan jaringannya. Laporan kajian ini masih jauh dari sempurna. Namun dari analisis yang dilakukan, sudah dirumuskan beberapa kesimpulan dan rekomendasi yang dapat digunakan untuk perbaikan kebijakan perencanaan tenaga kesehatan di masa yang akan datang. Kritik dan saran sangat diharapkan untuk lebih menyempurnakan laporan kajian ini. Terima kasih.

Jakarta, Desember 2005 Tim Peneliti

3

PENGANTAR Kualitas pelayanan publik sangat ditentukan oleh sistem dan tenaga pelayanan. Ketenagaan pelayanan seringkali menghadapi kendala dalam hal jumlah, sebaran, mutu dan kualifikasi, sistem pengembangan karir, dan kesejahteraan tenaga pelaksana pelayanan. Permasalahan yang muncul dalam tataran mikro operasional memunculkan persepsi rendahnya kualitas pelayanan, yang berawal dari kesenjangan antara aturan dan standar yang ada dengan pelaksanaan pelayanan yang tidak dapat menerapkannya. Pemahaman terhadap kedaaan nyata yang dihadapi di lapangan sangat penting untuk menelaah kembali landasan kebijakan, aturan, dan standar untuk meningkatkjan kualitas pelayanan. Laporan ini menyampaikan hasil kajian mirko ketenagaan dalam pelayanan kesehatan publik di tingkat kabupaten/kota, kecamatan dan di unit pelayanan kesehatan masyarakat terdepan, puskesmas. Hasil kajian ini dipandang penting sebagai sumber informasi bagi pengambil keputusan untuk memahami permasalahan, mengatasinya dan sebagai sumber pembelajaran bagi pengambil keuputusan lainnya. Kajian menunjukkan antara lain terdapatnya kesenjangan (gap) antara kebijakan ketenagaan pemerintah pusat dengan implementasinya di daerah dan telaahan terhadap ragam upaya pemerintah kabupaten/kota mengatasi persoalan ketenagaan pelayanan publik yang mereka hadapi. Dalam konteks pembangunan sumber daya manusia, sudah pada tempatnya bila melihat ketenagaan pelayanan dalam kerangka keterkaitan sistem kesehatan nasional, sistem pendidikan nasional dan sistem lainnya. Pengelolaan ketenagaan kesehatan harus dilakukan dengan mempertimbangkan kaitannya dengan sistem pendidikan dan ketenagakerjaan secara menyeluruh. Sangat mungkin bahwa ketenagaan kesehatan yang dilaporkan pada buku ini merupakan gambaran persoalan serupa dalam ketenagaan di bidang lain sehingga jawaban pemecahan persoalan harus diupayakan secara menyeluruh terutama melalui telaahan di bidang ketenagakerjaan dan pendidikan. Semoga diagnosis yang dilakukan melalui kajian ini tepat dan dapat ditindaklanjuti dengan resep dan rekomendasi yang tepat pula. Diharapkan laporan kajian ini dapat menjadi masukan dan bahan berguna untuk pengembangan kebijakan implementatif dalam penagagan ketenagaan untuk meningkatkan pelayanan publik. Masukan dan saran perbaikan perbaikan kami nantikan. Terimakasih. Jakarta, Desember 2005 Deputi Men PPN Bidang Sumber Daya Manusia dan Kebudayaan

Dedi M. Masykur Riyadi

4

ABSTRAK Kajian ini dilakukan untuk mengetahui jumlah, mutu dan penyebaran tenaga kesehatan terutama di Puskesmas dan jaringannya, kebijakan perencanaan, pengadaan, penempatan dan pelatihan tenaga kesehatan beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Kajian menggunakan desain cross sectional dan dilakukan di 7 propinsi, mencakup 32 kabupaten/kota dengan responden dinas kesehatan, kepala puskesmas dan tenaga kesehatan puskesmas. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur, diskusi, FGD dan survei. Analisa univariate dilakukan untuk mengetahui kecenderungan sebaran dan statistik deskriptif. Secara umum perencanaan dilakukan untuk hampir semua jenis tenaga, walaupun lebih dari separuh kab/kota tidak menerapkan pedoman perencanaan yang ditetapkan, dengan alasan utama kurangnya sosialisasi. Kekurangan tenaga terjadi pada semua jenis tenaga kesehatan, dengan persentase tertinggi pada epidemiolog, teknis medis, rontgen, penyuluh kesehatan masyarakat dan dokter spesialis. Masalah utama ketenagaan adalah terbatasnya formasi dan kemampuan pendanaan, serta proses pengadaan dan penempatan yang kurang memuaskan. Ketenagaan di daerah tertinggal dan terpencil ditandai dengan rasio tenaga kesehatan per puskesmas yang lebih kecil, jangkauan desa terpencil yang lebih luas, dan proporsi pegawai PNS yang lebih sedikit, dukungan pustu dan polindes yang lebih sedikit, harapan terhadap insentif yang sangat tinggi, serta rencana kepindahan yang lebih tinggi. Jenis insentif yang paling diharapkan oleh petugas Puskesmas adalah gaji/tunjangan yang lebih baik, peningkatan karir, dan penyediaan fasilitas. Dalam hal perencanaan, kajian merekomendasikan sosialisasi yang lebih intensif tentang metode perencanaan. Dalam hal pengadaan, kebijakan nasional pengadaan dokter di Puskesmas yang masih banyak yang kosong perlu mendapat prioritas. Untuk meningkatkan tenaga kesehatan di kecamatan terpencil, perlu diperhatikan masalah insentif, fasilitas serta kemudahan karir. Peran serta pemda dalam ketenagaan kesehatan di Puskesmas lebih ditingkatkan lagi terutama pemberian insentif yang lebih baik, sehingga tenaga kesehatan di Puskesmas dapat bekerja lebih baik dan merasa betah bekerja di daerah.

5

......11 Kerangka Konsep............................................. PENDAHULUAN ................................................................................. C......................................................................................15 Pengumpulan dan Analisa Data ............ Tempat dan Waktu Kajian ..15 A........ B....................53 DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ B................................................. C...15 Ruang Lingkup Kegiatan .. D..................................................... C..................18 A..................... B..3 ABSTRAK ......................................................................................................................................................................................................49 Peran Puskesmas Bagi Penduduk Miskin....................................................... HASIL DAN PEMBAHASAN......................................................................................................................................................................................... B......................................... E...................30 Distribusi Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Di Wilayah Tertinggal......... F.............................................................................................13 BAB II.............................. B..........55 6 ..........................................................6 DAFTAR TABEL ............................................................................................................................................................................................................................................. Kesimpulan ................................................................................................................................................................................... KEBIJAKAN UMUM KETENAGAAN KESEHATAN DI INONESIA.............................10 Tujuan dan Output .................................................................................................................................................................................................................... D................................... E........................................................................................................... C. G...........................11 Perumusan Masalah dan Pertanyaan Kajian.......................................................19 PendayagunaanTenaga Kesehatan .......9 BAB I..............DAFTAR ISI PENGANTAR .............................................50 BAB V.................................................................................18 Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan....................................... Definisi Tenaga Kesehatan..........................................7 DAFTAR SINGKATAN ....................................................................................... RUANG LINGKUP DAN METODOLOGI...........20 BAB IV.......................................................................................................... ........................................................................5 DAFTAR ISI........................47 Tanggapan Masyarakat......................................................................... Kondisi Umum Tenaga Kesehatan Di Tingkat Nasional........................................................................................................... KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ........................................... D.................................................................................................................................45 Pembinaan Karir Tenaga Kesehatan.............................................................................................................................23 Kebijakan Tenaga Kesehatan........16 BAB III.............................................................. D...........................................................................23 A..........................................................................................................................................................................................................................40 Distribusi Tenaga Kesehatan di Puskesmas di Kapasitas Fiskal Daerah ................52 Rekomendasi........ Latar Belakang ...............10 A..................52 A...............15 Desain Kajian.................................................18 Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan .........15 Sampel dan Variabel Kajian............

..............................24 Jenis.16 Tenaga Kesehatan Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Berdasarkan Kelompok .19 Persepsi Responden Tentang Latar Belakang Pendidikan ....31 Persentase Kabupaten Kota yang merasakan Kesenjangan ....................47 Tabel 4............42 kecamatan terpencil dan tidak terpencil Tabel 4.5 Tabel 4...............18 Frekwensi Pelatihan Yang Pernah Diikuti Responden...15 Insentif yang diterima tenaga kesehatan dari Pemda menurut kapasitas..................19 Jenis Tenaga Kesehatan di Indonesia Tahun 2005 Jenis tenaga kesehatan dan rasio terhadap penduduk ..........17 Alasan Rencana Kepindahan Tenaga Kesehatan di Puskesmas ...........................8 Tabel 4...9 Daftar Lokasi (Sampel) Kajian Kebijakan Perencanaan .16 Persentase tenaga kesehatan yang mengharapkan insentif .48 7 ....47 Tabel 4..................34 Antara usulan dengan ketersediaan Tenaga Kesehatan Kebutuhan dan Ketersediaan Tenaga Kesehatan di Kabupaten .......28 Jumlah Staf Puskesmas Menurut Beban Kerja......23 dibandingkan dengan sasaran Indonesia Sehat 2010 Rasio Tenaga Kesehatan Di Berbagai Negara...........7 Tabel 4.........14 Ketersediaan tenaga Puskesmas di daerah menurut kapasitas...13 Persentase tenaga kesehatan Puskesmas yang mempunyai rencana...........10 Perbandingan rasio tenaga kesehatan per puskesmas menurut kategori .............................6 Tabel 4.............34 Lokasi kajian Masalah Utama Dalam Pengadaan Nakes di Kabupaten Tertinggal .......DAFTAR TABEL Tabel 2............11 Perbandingan rasio tenaga kesehatan puskesmas menurut kategori ................12 Perbandingan rata-rata distribusi tenaga dan fasilitas kesehatan ..46 fiskal daerah Tabel 4......41 kab/kota tertinggal dan tidak tertinggal Tabel 4.......3 Tabel 4..............43 di Kecamatan Terpencil dan Tidak terpencil Tabel 4...1 Tabel 3.............21 Insentif Yang Paling Banyak Diharapkan oleh Responden dari Pemda.45 pindah dan alasan kepindahannya Tabel 4.48 Jabatan Kepala Puskesmas Tabel 4........1 Tabel 4........................................46 dan jenis insentif yang diharapkan Tabel 4.....................................................20 Alasan Pindah Tenaga Kesehatan Puskesmas ..........................................46 Tabel 4..............1 Tabel 4......................41 Tabel 4........... Jumlah dan Rasio Ketenagaan Puskesmas Tahun 2004 (Nasional.4 Tabel 4...........2 Tabel 4.............................36 Jenis kemampuan dan kompetensi profesi tenaga kesehatan .........................35 dan Tak Tertinggal Kriteria Penempatan tenaga kesehatan di lokasi kajian.....39 Tabel 4..............

.................................... 81 Tahun 2004 pada ........ ......29 Gambar 4.....000 penduduk..............DAFTAR GAMBAR Gambar 1...32 daerah kajian Gambar 4.26 Gambar 4..........25 Gambar 4..26 Gambar 4........12 Gambar 4...........3 Penyebaran Perawat per propinsi Tahun 2003-2004.........7 Alasan tidak dilaksanakannya SK Menkes No.............9 Persepsi Responden tentang ketersediaan tenaga kesehatan di Puskesmas .........................1 Penyebaran Dokter Spesialis per propinsi Tahun 2003-2004.................2 Penyebaran Dokter Umum per propinsi Tahun 2003-2004.........6 Rasio Dokter Umum terhadap Puskesmas menurut propinsi ...........33 Tenaga Kesehatan di Daerah Penelitian yang telah menggunakan pedoman Gambar 4................Persentase tenaga kesehatan yang mengharapkan peningkatan insentif ............................................25 Gambar 4.............12 Gambar 1........2 Kerangka konsep kajian..................................8 Hambatan Utama Dalam Perencanaan Kebutuhan ...44 dan jenis insentif yang diharapkan menurut keterpencilan kecamatan 8 .....4 Penyebaran Bidan per propinsi Tahun 2003-2004 ..........1 Kerangka Sistem Kesehatan Nasional......24 Gambar 4.........10.....................................5 Rasio Dokter Umum Puskesmas dan RS per 100.......36 Gambar 4.

DAFTAR SINGKATAN AKABA AKB AKI ASKES BKD BPS CPNS DRG DSP GAKY INPRES IDI IBI ISFI JPSBK KESLING KIA KS MDGs PDGI PERSAGI PERMENKES PKPS-BBM PNS PPNI POLTEKES POLINDES POSYANDU PTT PUSKESMAS PUSTU RPJM RS SDKI SKM SKN SKRT SMAK SMF SPK SPRG SPSS SUSENAS WHO WISN = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = = Angka Kematian Balita Angka Kematian Bayi Angka Kematian Ibu Asuransi Kesehatan Badan Kepegawaian Daerah Badan Pusat Statistik Calon Pegawai Negeri Sipil Dokter Gigi Daftar Susunan Pegawai Gangguan Akibat Kurang Yodium Instruksi Presiden Ikatan Dokter Indonesia Ikatan Bidan Indonesia Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan Kesehatan Lingkungan Kesehatan Ibu dan Anak Kartu Sehat Millenium Development Goals Persatuan Dokter Gigi Indonesia Persatuan Ahli Gizi Indonesia Peraturan Menteri Kesehatan Program Kompensasi Pengurangan Subsidi Bahan Bakar Minyak Pegawai Negeri Sipil Persatuan Perawat Nasional Indonesia Politeknik Kesehatan Pondok Bersalin Desa Pos Pelayanan Terpadu Pegawai Tidak Tetap Pusat Kesehatan Msyarakat Puskesmas Pembantu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Rumah Sakit Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Sarjana Kesehatan Masyarakat Sistem Kesehatan Nasional Survei Kesehatan Rumah Tangga Sekolah Menengah Analis Kimia Sekolah Menengah Farmasi Sekolah Perawat Kesehatan Sekolah Pengatur Rawat Gigi Statistic Programme for the Social Science Survai Sosial Ekonomi Nasional World Health Organization Work Load Indicator Staff Need 9 .

000 kelahiran hidup (1960) menjadi 46 per 1.1 persen (2003). MDG merupakan suatu kesepakatan global. perilaku dan gaya hidup.000 kelahiran hidup (2002-2003). Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan adalah meningkatkan kesadaran.2 tahun (2001). jika dibandingkan dengan negaranegara tetangga. dan sosial). kota-desa. faktor genetis.000 kelahiran hidup (2002-2003). sebagai “benchmarks” untuk mengukur perkembangan dalam pencapaian Deklarasi Millenium 2000. (4) menghentikan penyebaran penyakit HIV/AIDS.8 persen tahun 2002. Usia harapan hidup meningkat dari 45 (1967b) menjadi 66.5 persen tahun 1989 menjadi 25. (5) mengurangi separuh proporsi penduduk yang tidak memiliki akses terhadap air bersih yang aman dan sanitasi dasar. 2002). serta memiliki derajat kesehatan yang optimal di seluruh wilayah Republik Indonesia (Indonesia Sehat 2010). Selain itu. status kesehatan dan gizi masyarakat Indonesia masih tertinggal. paling tidak terdapat enam subsistem yang turut menentukan 10 . dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal yang ditandai oleh penduduknya berperilaku sehat dan dalam lingkungan sehat. (3) mengurangi tiga per empat angka kematian ibu. Prevalensi anemia gizi besi pada ibu hamil masih tinggi yaitu sekitar 45 persen (2003).000 kelahiran hidup (1986) menjadi 307 per 100. dan pelayanan kesehatan. menurut Sistem Kesehatan Nasional (Depkes.000 kelahiran hidup (2002-2003). (2) mengurangi dua per tiga angka kematian bayi dan angka kematian balita. kemauan. terjadi disparitas yang cukup mencolok antar wilayah. Indikator kesehatan dan gizi yang telah dicapai selama ini masih jauh dari sasaran yang telah ditargetkan dalam Millennium Development Goals (MDGs). Dalam system kesehatan itu sendiri. Walaupun telah menunjukan berbagai perbaikan.6 persen. Berbagai faktor atau determinan yang mempengaruhi derajat kesehatan antara lain adalah lingkungan (fisik. menurunnya angka kematian ibu melahirkan. yang mempunyai pengaruh langsung pada derajat kesehatan di Indonesia antara lain adalah: (1) mengurangi prevalensi gizi kurang dan meningkatkan konsumsi kalori. menurunnya angka kematian bayi dan anak balita. biologik. Beberapa target MDG yang ingin dicapai pada akhir tahun 2015. Prevalensi gizi kurang (underweight) pada balita.3 persen dan balita yang kurus (wasting) sebesar 16. PENDAHULUAN A. angka kematian balita (AKABA) menurun dari 216 per 1. dan (6) meningkatkan akses terhadap obat esensial (Bappenas.BAB I. Hal ini dapat dilihat dari berbagai indikator kesehatan masyarakat antara lain meningkatnya umur harapan hidup. dan angka kematian ibu (AKI) melahirkan menurun dari 450 per 100. memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata. Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001 menunjukkan anak balita yang pendek (stunting) sekitar 34. dan prevalensi GAKY pada anak sekolah sebesar 11. malaria dan penyakit menular lainnya. telah menurun dari 37. dan tingkat sosial ekonomi. angka kematian bayi (AKB) menurun dari 128 per 1. Derajat kesehatan masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu menunjukkan perbaikan. dan menurunnya prevalesi gizi kurang pada anak balita. 2004).000 kelahiran hidup (1960) menjadi 35 per 1.

11 . dan manajemen kesehatan. Dalam subsistem SDM kesehatan. terdistribusi secara adil. dan (2) Tersusunnya rekomendasi kebijakan jumlah. B. pembiayaan kesehatan. dibawah ini digambarkan kerangka keterkaitan berbagai subsitem dalam SKN. pembiayaan kesehatan. sumber daya manusia (SDM) kesehatan. obat dan perbekalan kesehatan. 2004). Tujuan dan Output Tujuan utama kajian ini adalah untuk mengetahui jumlah. Keluaran (output) kajian kebijakan perencanaan bidang kesehatan antara lain meliputi: (1) Tersedianya profil tenaga kesehatan terutama di Puskesmas berdasarkan wilayah geografis dan sosial ekonomi. untuk menjamin terselenggaranya pembangunan kesehatan guna meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya (Depkes. tenaga kesehatan merupakan unsure utama yang mendukung subsistem kesehatan lainnya. serta termanfaatkan secara berhasil-guna dan berdayaguna. sumberdaya manusia (SDM) kesehatan. obat dan perbekalan kesehatan. Derajat kesehatan masyarakat ditentukan sistem kesehatan yang dilaksanakan. sistem ekonomi. mutu dan penyebaran ketenagaan kesehatan di Puskemas dan jaringannya sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan. sistem lingkungan dan sebagainya. Sistem kesehatan dipengaruhi oleh berbagai sistem lain di luar sistem kesehatan seperti sistem pendidikan. Sistem kesehatan terdiri dari 6 subsistem yang satu sama lain saling berkaitan yaitu subsistem upaya kesehatan. pemberdayaan masyarakat. Subsistem SDM kesehatan bertujuan pada tersedianya tenaga kesehatan yang bermutu secara mencukupi. pemberdayaan masyarakat. Kerangka Konsep Untuk memberi gambaran secara ringkas tentang peran subsistem tenaga kesehatan dalam sistem kesehatan nasional (SKN). mutu dan penyebaran tenaga kesehatan terutama di Puskesmas dan jaringannya serta faktor-faktor yang mempengaruhinya dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat termasuk penduduk miskin. dan manajemen kesehatan.kinerja sistem kesehatan nasional yaitu subsistem upaya kesehatan. C. yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan. Yang dimaksud dengan tenaga kesehatan adalah semua orang yang bekerja secara aktif dan profesional di bidang kesehatan.

Jumlah & Jenis tenaga terpenuhi . bahasan akan lebih diarahkan pada ketenagaan di Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar pada strata pertama.Proses Perencanaan .2 Kerangka Konsep Kajian Kebijakan Depkes: .Rekrutmen & Penempatan .Outcome Gambar 1.Sistem Insentif Kondisi yang diharapkan .1 Kerangka Sistem Kesehatan Nasional • Status Kesehatan • Responsiveness Subsistem Upaya Kesehatan Subsistem SDM Kesehatan Pemberdayaan Masyarakat Sumberdaya Obat dan Perbekalan Kesehatan Manajemen Kesehatan Output Tingkat Kesehatan Responsiveness Pembiayaan Kesehatan Distribusi Biaya Adaptasi dari SKN 2004 Dalam kajian fokus pembahasan akan diarahkan terhadap subsistem SDM kesehatan.Pengembangan profesi berjalan dengan baik Pelayanan Kesehatan Lebih Baik Faktor Lingkungan Strategis Desentralisasi Geografis Kemampuan Fiskal Status Kesehatan Meningkat 12 . Gambar 1.Jumlah belum memadai .Terdapat tiga unsur pokok dalam subsistem SDM kesehatan yaitu perencanaan.Berkualitas/Kompeten .Pelatihan .Distribusi merata .Diklat . Pada Gambar 1. Karena luasnya ruang lingkup ketenagaan. pendidikan dan pelatihan.2 dibawah ini dijelaskan kerangka konsep kajian.Kompetensi kurang .Pengembangan profesi belum baik Kebijakan Kab/Kota: .Pendayagunaan Kondisi saat ini .Perencanaan . serta pendayagunaan kesehatan.Distribusi tidak merata .

2% masyarakat yang bertempat tinggal di Pulau Jawa dan Bali menyatakan tidak/kurang puas terhadap pelayanan rawat jalan yang diselenggarakan oleh rumah sakit pemerintah. Sebagian besar tenaga dokter (69%) bekerja disektor pemerintah.5 dan sekitar 60-70% dokter tersebut bertugas di Pulau Jawa. kemampuan fiskal daerah dan keaadaan geografis suatu wialayh cakupan.000 penduduk di Indonesia sebesar 32. teutama berkaitan dengan jumlah dan jenisnya yan mencukupi. Sistem penghargaan dan sanksi. dan (3) pusat pelayanan tingkat dasar.26 %). Begitu pula halnya dengan tenaga perawat dan bidan. (2) pusat pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan. pendidikan dan pelatihan serta pendayagunaan tenaga.0).5). Penduduk perdesaan lebih banyak memanfaatkan 13 .39%) dan praktek petugas kesehatan(18. misalnya. mutu dan pengembangan profesi. Dampak dari kebijakan yang diharapkan adalah pelayanan kesehatan yang lebih baik. sedangkan tertinggi di DKI (70. Susenas 2004. dan kualitasnya meningkat serta pengembangan profesi yang tertata. Sekitar dua per tiga dari jumlah provinsi mempunyai rasio dokter dibawah rata-rata nasional. Dalam implementasinya kebijakan tersebut dipengaruhi baik secara positif maupun negatif oleh lingkungan strategis antara lain pelaksanaan desentralisasi. Keadaan ini perlu diperbaiki antara lain melalui perumusan kebijakan ketenagaan kesehatan yang meliputi perencanaan kebutuhan tenaga. Pengembangan organisasi profesi di bidang kesehatan sebagai mitra pemerintah dalam meningkatkan profesionalisme tenaga kesehatan belum berjalan dengan baik. terendah di Maluku (7. (Depkes. Jika kebijakan dan implementasi berjalan dengan baik maka diharapkan berbagai permasalah kesehatan.51%). Sedangkan rasio perawat dengan penduduk adalah 108 per 100. peningkatan karier. menemukan sekitar 23.6 % Puskesmas tidak memiliki tenaga dokter. D. menunjukkan fasilitas kesehatan yang relatif banyak dimanfaatkan penduduk untuk berobat jalan adalah Puskesmas/Pustu (37. dokter gizi. distibusi.000 penduduk di Indonesia adalah 15. terendah di Provinsi Maluku (17. Puskesmas bertanggung jawab atas masalah kesehatan di wilayah kerjanya. dan bidan) secara merata terutama di daerah terpencil. Rata-rata bidan per 100. Jumlah tenaga kesehatan belum mencapai jumlah yang diinginkan. kompetensi tenaga yang kurang memadai dan pengembangan profesi yang masih belum sesuai harapan. puskesmas merupakan ujung tombak penyelenggara pelayanan kesehatan strata pertama. sistem sertifikasi. registrasi dan lisensi belum berjalan dengan baik.Ketenagaan kesehatan nasional saat ini menghadapi berbagai masalah kecukupan. yang pada akhirnya akan memperbaiki status kesehatan masyarakat. Kompetensi tenaga kesehatan belum sesuai dengan kompetensi yang diharapakan apalagi jika dibandingkan dengan standar internasional.000 penduduk.3. Terdapat tiga fungsi utama puskesmas yaitu sebagai: (1) pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan. 2005) Kebijakan penempatan tenaga kesehatan dengan sistem pegawai tidak tetap (PTT) yang dilaksanakan pada tahun 90-an belum mampu menempatkan tenaga kesehatan (dokter umum. Dalam sistem pelayanan kesehatan di Indonesia. distribusinya kurang merata. rata-rata jumlah dokter per 100. Berdasarkan Health System Performance Assessment 2004. praktek dokter (24. Perumusan Masalah dan Pertanyaan Kajian Jumlah tenaga kesehatan di Indonesia masih belum mencukupi. Susenas 2001. pendidikan dan pelatihan. Pada tahun 2003 sekitar 10.8). distribusi semakin baik.

Puskesmas/Pustu (42. Bagaimana peran Puskesmas dalam pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin? 8. pelayanan yang diperoleh juga krang optimal karena banyaknya Puskesmas yang kekurangan tenaga kesehatan. Bagaimana tanggapan masyarakat terhadap pelayanan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas? 7. Bagaimana pembinaan karir tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas? 6. 2004) kebijakan pembangunan kesehatan diarahkan untuk mendukung peningkatan kesejahteraan rakyat melalui peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Puskesmas yang berada di daerah tertinggal sering mengalami kekurangan berbagai jenis tenaga.42%) (BPS. sebagian besar pengguna Puskesmas adalah penduduk miskin.40%). Khusunya. Pada umumnya. 2004). Bagaimana ketersediaan tenaga kesehatan di Puskesmas dan jaringannya? 3. bagamiana kebijakan perencanaan tenaga kesehatan dalam upaya untuk menjawab pemasalahan di atas. maka perlu dikaji. dan praktek petugas kesehatan (23. 2) peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga medis. Bagaimana mutu tenaga kesehatan yang tersedia? 4. dan 3) pengembangan jaminan kesehatan bagi penduduk miskin. Faktor-faktor apa yang menjadi penghambat dan pendukung dalam pelaksanaan tugas tenaga kesehatan di Puskesmas? 14 . Bagaimana kebijakan Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam hal ketenagaan kesehatan di Puskesmas? 2. Dengan melihat berbagai permasalahan ketenagaan kesehatan tersebut. selain kemampuan masyarakat yang kurang karena kemiskinan. Paling tidak terdapat tiga kebijakan RPJM yang fokusnya berkaitan dengan peningkatan pelayanan di Puskesmas dan ketenagaan kesehatan upaya yaitu: 1) peningkatan jumlah jaringan dan kualitas Puskesmas. sedangkan pengguna Rumah Sakit adalah penduduk mampu. kajian diharapkan dapat menjawab beberapa pertanyaan berikut: 1. Bagaimana distribusi tenaga kesehatan di Puskesmas di wilayah tertinggal dan terpencil? 5. Sebagai implikasinya. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) tahun 2004-2009 (RI.

Nusa Tenggara Barat dan Papua. distribusi dan kualitas. sedangkan kawasan timur diwakili oleh Provinsi Sulawesi Selatan. Diskusi dan seminar tentang kebijakan ketenagaan kesehatan. dan penyusunan laporan 1 bulan.BAB II. Sampel dan Variabel Kajian Pemilihan sampel provinsi kajian dipilih secara purposif dengan memperhatikan karakterisik wilayah yaitu yang sering dibagi ke dalam wilayah barat dan wilayah timur. Melakukan analisis data dan menyusun laporan penelitian. pelaksanaan pengumpulan dan analisis data 5 bulan. Pengumpulan data tentang peran Puskesmas dalam pelayanan kesehatan bagi penduduk miskin. Sumatera Barat. Jawa Tengah. Desain Kajian Disain kajian adalah cross sectional. dan DI Yogyakarta. Pengumpulan data ketenagaan kesehatan di Puskesmas meliputi jumlah. 15 . D. Tempat dan Waktu Kajian Kajian dilaksanakan di 7 provinsi. 7. dan tenaga kesehatan. 6. 3. Pengumpulan data tentang persepsi masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang diberikan oleh tenaga kesehatan di Puskesmas. Mempelajari pembinaan karir bagi tenaga kesehatan di Puskesmas yang dilaksanakan saat ini. kabupaten. pendidikan dan pelatihan dan pendayagunaan tenaga kesehatan dengan sampel kajian di beberapa provinsi. 5. 2. Kajian dilaksanakan selama 8 bulan pada tahun 2005. Kajian dilakukan di 7 propinsi terpilih yang ditentukan berdasarkan katagorisasi rasio tenaga kesehatan dan penduduk di Puskesmas serta mewakili karakteristik wilayah Indonesia bagian Barat. dengan persiapan salama 2 bulan. dan Wilayah Timur. yaitu dengan memotret keadaan ketenagaan kesehatan dari segi perencanaan kebutuhan. dan 9. Kawasan barat diwakili oleh Provinsi Jawa Barat. 8. Selanjutnya di setiap Kabupaten/Kota terpilih secara proporsional dipilih sejumlah Puskesmas yang menggambarkan daerah perkotaan dan daerah perdesaan Untuk melakukan kajian ini dilaksanakan beberapa kegiatan sebagai berikut: 1. Ruang Lingkup Kegiatan Kajian ini difokuskan untuk ketenagaan kesehatan di Puskesmas dan jaringannya. Focus Group Discussion (FGD). puskesmas. C. Pengumpulan data tentang faktor-faktor yang mempengaruhi ketenagaan kesehatan di Puskesmas. Pada setiap propinsi di ambil beberapa Kabupaten/Kota berdasarkan tingkat kemajuannya. RUANG LINGKUP DAN METODOLOGI A. mencakup 32 kabupaten/kota. 4. Diseminasi hasil penelitian melalui seminar dan workshop. dan 88 puskesmas. B.

Jawa Barat 3. Data sekunder berupa data dan informasi dari berbagai lietartur yang berasal dari Buku Profil Kesehatan (Indonesia. NTB 3. Didasarkan atas kemampuan fiskal. Jawa Tengah 4. Sedangkan yang menjadi responden terdiri dari staf Dinas Kesehatan Popinsi dan Kabupaten/Kota sebanyak 42 orang. Provinsi. Propinsi a. Kabupaten). dan tenaga kesehatan di puskesmas sebanyak 193 orang. Kawasan Barat 1. hambatan yang ditemui. kapasitas fiskal sedang 9 kab/kota dan kapasitas fiskal rendah 21 kab/kota. dan sistem insentif yang digunakan serta minat untuk bertugas di daerah. Papua JUMLAH 3 3 3 32 0 2 0 8 3 1 3 24 0 0 1 2 1 1 2 9 2 2 0 21 8 10 3 42 15 13 5 84 10 6 5 193 Dalam kajian ini dikumpulkan dan dianalisis berbagai variabel penting dari ketiga unsur pokok subsistem SDM kesehatan yaitu perencanaan kebutuhan. Keseluruhan jumlah responden kajian ini adalah sebanyak 319 responden. BPS (Kabupaten Dalam Angka. serta bukubuku lain yang relevan. yaitu kapasitas fiskal tinggi 2 Kab/kota. Sulawesi Selatan 2.Pemilihan Kabupaten/Kota juga dilaksanakan secara purposif dengan memperhatikan kapasitas fiskal dan dan ketertinggalan wilayah. kewenangan penempatan tenaga. pendidikan dan pelatihan. pelatihan tenaga. Kab/Kota Kriteria Wilayah tertinggal Tak tertinggal Kapasitas Fiskal tinggi sedang rendah Dinkes Jumlah Responden Kapala Puskesmas Tenaga Kesehatan No. jenis tenaga. Kawasan Timur 1. periode penyusunan rencana. Kepala Puskesmas sebanyak 84 orang. proses pengajuan kebutuhan. kriteria penentuan lokasi penempatan tenaga. dan pendayagunaan tenaga kesehatan. koordinasi penyusunan rencana. Tabel 2. E. sumber pembiayaan untuk pelatihan tenaga. rekrutmen tenaga di daerah. sistem informasi untuk penyususan rencana. yaitu 8 kabupaten tertinggal dan 24 kab/kota tidak tertinggal. DIY 3 12 5 3 1 2 1 2 2 10 4 1 0 0 1 0 1 4 0 0 2 8 4 3 1 10 8 2 11 13 17 10 40 43 67 22 b. Pengumpulan dan Analisa Data Data yang dikumpulkan meliputi data sekunder dan data primer. Sumatera Barat 2. Selain itu dilakukan nara sumber yang kompeten dalam kebijakan SDM Kesehatan antara lain Kepala Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Susenas). Menurut katagori daerah. antara lain: unit kerja penyusun rencana.1 Daftar Lokasi (Sampel) Kajian Kebijakan Perencanaan Tenaga Kesehatan Jml. jenis pelatihan yang dilaksanakan. dasar penyusunan rencana. Selain itu dikumpulkan pula kebutuhan dan ketersediaan tenaga. masalah yang dihadapi dalam pengadaan tenaga. Kepala Biro 16 . metoda penyusunan rencana.

Analisis univariate dilakukan terhadap setiap variabel yang dikumpulkan untuk mengetahui kecenderungan sebarannya dan untuk memperoleh statistik deskriptif. Data yang masuk dari lapangan diverifikasi kelengkapan dan konsistensinya. Kepala Pusat Pengembangan Kebijakan Kesehatan. Selanjutnya data di entri kedalam komputer dengan menggunakan program SPSS. Bappenas. 17 . Data primer yang dikumpulkan meliputi data dan infomasi yang berkaitan dengan perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan. Analisis hubungan antar variabel digunakan analisis deskriptif yaitu dengan membandingkan kebijakan yang ada dengan kenyataan yang terjadi pada saat kebijakan tersebut diimplementasikan. Pengelolaan data dilakukan di Direktorat Kesehatan dan Gizi Masyarakat. Kepala Puskesmas.Kepegawaian. Data primer dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner dan diskusi dengan responden Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. dan tenaga kesehatan yang bertugas di puskesmas. Hasil analisis data selanjutnya disajikan dalam bentuk tabel dan gambar. pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan dan pendayagunaan tenaga kesehatan. dan Kepala Pusat Perencanaan Tenaga Kesehatan.

serta rumah sakit. serta jenis dan jumlah yang sesuai. Health Service Demand. baik yang memiliki pendidikan formal kesehatan maupun tidak. 2004) antara lain mengatur tentang kebijakan perencanaan tenaga kesehatan untuk meningkatkan kemampuan para perencanan pemerintah. yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan atas permintaan akibat beban pelayanan kesehatan. yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan pada standar/rasio terhadap nilai tertentu. Definisi Tenaga Kesehatan Tenaga kesehatan adalah semua orang yang bekerja secara aktif dan profesional di bidang kesehatan. Ratios Method. dan kualifikasi tenaga kesehatan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan. masyarakat dan semua profesi disemua tingkatan. guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya. serta pendayagunaan kesehatan secara terpadu dan saling mendukung. 18 . Pada Kepmenkes tersebut disediakan pula menu tentang metode perencanaan tenaga kesehatan untuk dipilih sesuai dengan kemauan dan kemampuan. Health Service Target Method yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan atas sarana pelayanan kesehatan yang ditetapkan.850/Menkes/SK/XII/2000 Tahun 2000 (Depkes. 2004) antara lain mengatur tentang pedoman penyusunan perencanaan sumberdaya kesehatan di tingkat provinsi. 4. Dalam Peraturan Pemerintah ini dinyatakan antar lain bahwa pengadaan dan penempatan tenaga kesehatan dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan yang merata bagi masyarakat. tenaga kesehatan merupakan pokok dari subsistem SDM kesehatan. Health Need Method. Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN). Dalam hal perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan terdapat empat metoda penyusunan yang dapat digunakan yaitu. Perencanaan nasional tenaga kesehatan disusun dengan memperhatikan jenis pelayanan yang dibutuhkan. telah diterbitkan beberapa Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes). 81/Menkes/SK/I/2004 Tahun 2004 (Depkes. sarana kesehatan. dan pendayagunaan tenaga kesehatan. yaitu tatanan yang menghimpun berbagai upaya perencanaan. yaitu perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan yang didasarkan atas epidemiologi penyakit utama yang ada pada masyarakat. Unsur utama dari subsistem ini adalah perencanaan. 2004).(Depkes. 1. Perencanaan nasional tenaga kesehatan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. B. KEBIJAKAN UMUM KETENAGAAN KESEHATAN DI INONESIA A. jumlah. kabupaten/kota.BAB III. dan Rumah Sakit. Perencanaan tenaga kesehatan diatur melalui PP No.32 tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. pendidikan dan pelatihan. pendidikan dan pelatihan. Kepmenkes No. Sebagai turunan dari PP tersebut. Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan Yang dimaksud dengan perencanaan tenaga kesehatan adalah upaya penetapan jenis. 2. misalnya Puskesmas. Kepmenkes No. 3.

32 Tahun 1996 dan Kepmenkes No. jumlah dan kualifikasi yang telah direncanakan serta peningkatan kemampuan sesuai dengan kebutuhan pembangunan kesehatan (Depkes.1 dibawah ini.5 7 Kefarmasian 2.1192 Tahun 2004 (Depkes.6 23 Gizi 2. Ortotik Prostetik.6 457 64. yaitu dengan cara membagi nilai proyeksi dengan rasio. Teknik Radiologi. Kefarmasiaan.7 11 11. Membuat proyeksi nilai tersebut kedalam sasaran/ target tertentu. Keperawatan yang meliputi Sekolah Perawat Kesehatan. di India 1: 2000.1 20 Kesehatan Masyarakat 1. 2004) terdapat enam kelompok pendidikan tenaga kesehatan yaitu: 1.1 Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Berdasarkan Kelompok Jenis Tenaga Kesehatan di Indonesia Tahun 2005 Poltekes Non Poltekes Jumlah % Jumlah % 70. Berdasarkan PP No. Depkes.6 17 1. Contoh. dan Kesehatan Gigi 2. Kebidanan. Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kesehatan Pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan adalah upaya pengadaan tenaga kesehatan sesuai jenis. 2005 Kelompok 19 . Menghitung perkiraan. Analis Farmasi 3. kualifikasi.3 73 3. ratio tenaga kesehatan: tempat tidur di RS. Menentukan/memperkirakan rasio terhadap suatu nilai. C. 2. Kesehatan Masyarakat (Kesehatan Lingkungan) 4. Beberapa jenis tenaga kesehatan masih tergolong langka. dengan Puskesmas.9 19 10. dan Kardiovaksuler. Teknik Elektro Medik. 2005) Dari analisis perencanaan kebutuhan tenaga.5 3 Keterapian Fisik 10.0 18 Keteknisan Medis Jumlah 199 100 647 100 Sumber: Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. Teknik Gigi. Okupasi Terapi. misalnya 1:5000.Dalam prakteknya di Departemen Kesehatan lebih banyak menggunakan Ratios Method dengan proses perhitungan sebagai berikut: 1. jenis. Pendidikan Teknologi Transfusi Darah. 3. Keperawatan. dalam arti kebutuhannya besar tetapi jumlah tenaganya kurang karena jumlah institusi pendidikannya terbatas dan kurang diminati. misalnya rasio tenaga kesehatan dengan penduduk. Sekolah Pengatur Rawat Gigi. Distribusi institusi pendidikan tenaga kesehatan berdasarkan kelompok jenis tenaga kesehatan dapat dilihat pada Tabel 3. 2004). di Amerika 1:500 (Suseno. dengan jumlah tempat tidur RS. di Indonesia. Keterapian Fisik meliputi Fisioterapi. Jumlah Institusi pendidikan tenaga kesehatan seluruhnya 846 terdiri atas 199 Politeknik Kesehatan (Poltekes) dan 647 non Poltekes. secara umum dapat dikatakan tenaga kesehatan di Indonesia baik dari segi jumlah. meliputi Sekolah Menengah Farmasi.3 128 Keperawatan 11. Terapi Wicara. Tabel 3. Keteknisan Medis meliputi SMAK. dan mutu dan penyebarannya masih belum memadai. Analis Kesehatan. Akupuntur 6. Beberapa jenis tenaga kesehatan yang baru masih diperlukan pengaturannya. Perekam dan Informatika Kesehatan.8 70 9. Gizi 5.

Dalam hal peningkatan mutu lulusan tenaga kesehatan acuannya adalah PP No. Lembaga pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan di bidang kesehatan bisa pemerintah atau masyarakat. Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya juga berkewajiban untuk mematuhi standar profesi tenaga kesehatan. izin penyelenggaraan pendidikan akademik dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. dan bagian terbesar (511) adalah milik swasta. dan pengawasan tenaga kesehatan. Dalam PP ini dinyatakan bahwa tenaga kesehatan dihasilkan melalui pendidikan di bidang kesehatan. Pada tahun 2005 jumlah peserta didik seluruhnya sebanyak 146.833 non Poltekes. Izin penyelenggaraan pendidikan profesional dikeluarkan bersama oleh Departemen Kesehatan dan Departemen Pendidikan Nasional. Beberapa permasalahan klasik dalam pendayagunaan tenaga kesehatan antara lain: 20 . Meningkatkan mutu lulusan pendidikan tenaga kesehatan 2. 102 milik pemerintah daerah. 2005) D. Peningkatan mutu institusi pendidikan tenaga kesehatan diatur pada PP yang sama. 32 institusi milik pemerintah pusat. Memiliki bekal kemampuan dalam berhubungan dengan orang lain Bekerja dengan benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik Sanggup menggunakan wewenang secara arif dan bijaksana. PendayagunaanTenaga Kesehatan Pendayagunaan tenaga kesehatan adalah upaya pemerataan. Kebijakan dan pengelolaan antara Poltekes dan Non Poltekses belum sinkron 5. dan 109. dan Mampu berperan aktif sebagai perencana. 34 milik TNI. Penetapan UU No. pelaksana dan penggerak pembangunan. Penyelenggaraan pendidikan di bidang kesehatan harus dilaksanakan berdasarkan izin sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. Penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan yang dilakukan oleh Pemerintah belum sepadan dengan penyelenggaraan oleh swasta 6. 2. 3. pembinaan. Beberapa isu yang perlu mendapat perhatian dalam pendidikan tenaga kesehatan antara lain: 1. Selanjutnya. (Soeparan. Kemampuan produksi belum sejalan dengan daya serap tenaga lulusan 3. Perencanan kebutuhan tenaga kesehatan dengan produksi lulusan yang dihasilkan belum serasi 2. Meningkatkan kemitraan dan kemandirian institusi pendidikan tenaga kesehatan. Untuk mencapai tujuan tersebut maka dirumuskan empat strategi dasar yaitu: 1. telah berdampak terhadap penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan oleh berbagai instansi diluar Depdiknas termasuk Departemen Kesehatan.387 peserta didik poltekes.Menurut kepemilikannya. Produksi lulusan belum sesuai dengan mutu yang diinginkan oleh pengguna 4. Tujuan yang ingin dicapai oleh institusi pendidikan tenaga kesehatan adalah menghasilkan tenaga kesehatan yang profesional dengan karakteristik sebagai berikut: 1. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Meningkatkan mutu institusi pendidikan tenaga kesehatan 3. Perundangan antara yang dikeluarkan oleh Depkes dan Depdiknas belum selaras.220 orang terdiri dari 36. 4. 32 Tahun 1996 yang menetapkan bahwa tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan dan keterampilan di bidang kesehatan yang dinyatakan dengan ijazah dari lembaga pendidikan.

Kebijakan ini berpotensi menimbulkan permasalahan kompensasi gaji yang tidak cukup menarik dan peminatan cenderung ke provinsi yang besar dan kaya (misalnya Jabar. 4.A/Menkes/Per/SK/VIII/1999. 6. Provinsi-provinsi di kawasan timur Indonesia pada umumnya kurang peminat karena adanya alternatif pilihan di provinsi lain. 6.653 dokter dan 7. Dalam hal pendayagunaan dan penempatan tenaga dokter tercatat paling tidak tiga periode perkenmbangan kebijakan. 3. Dalam periode ini telah diangkat sebanyak 30.300 tenaga dokter dan dokter gigi dengan menggunakan formasi Inpres dan hampir semua Puskesmas terisi oleh tenaga dokter. 2. Daftar tunggu PTT untuk provinsi favorit terlalu lama Usia menjadi penghambat untuk melanjutkan pendidikan ke dokter spesialis Terjadi kelambatan pembayaran gaji Besarnya gaji tidak signifikan jika dibandingkan dengan dokter PNS Adanya persyaratan jabatan sebagai Kepala Puskesmas Ada anggapan melanggar hak azasi masusia (HAM) karena dianggap sebagai kerja paksa. 3. diangkat sebagai PNS dengan golongan kepangkatan III A atau dapat ditugaskan sebagai tenaga medis di ABRI. Pada tahun 2002 terjadi beberapa permasalahan dalam penempatan dokter PTT yaitu: 1. Diprioritaskan bagi dokter dan dokter gigi yang belum melaksanakan masa bakti 6. domisili. 5. 2. 2.057 orang. Pada perode mulai tahun 2005 pengangkatan dokter dan dokter gigi PTT mempunyai ciri sebagai berikut: Bukan merupakan suatu kewajiban. 4. Masa bakti dokter PTT selama 2 sampai 3 tahun. Dokter pasca PTT dapat diangkat kembali untuk provinsi yang kebutuhannya belum terpenuhi 7. Pada periode ini berhasil diangkat sekitar 8. Kepulauan Riau. 4. Jateng. Dalah hal penempatan dokter spesialis. 3. seleksi administratif berdasarkan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif). Pada periode tahun 1974-1992. Jumlah RS vertikal dan Daerah sebanyak 420 RS. DI Yogyakarta. sampai dengan Desember 2004 jumlah dokter spesialis (PNS) di seluruh wilayah Indonesia sebanyak 11. Masa bakti untuk PNS Inpres selama 5 tahun di Jawa.866 dokter gigi yang tersebar di seluruh tanah air. dan 3 tahun di luar Jawa. Dengan demikian hampir tidak ada pengangkatan tenaga dokter baru. tahun kelulusan dan lamanya menunggu dalam antrian 5. Jumlah dokter spesialis yang bertugas di RS milik 1. Kurang serasinya antara kemampuan produksi dengan pendayagunaan Penyebaran tenaga kesehatan yang kurang merata Kompetensi tenaga kesehatan kurang sesuai dengan kebutuhan pelayanan kesehatan Pengembangan karir kurang berjalan dengan baik Standar profesi tenaga kesehatan belum terumuskan dengan lengkap Sistem penghargaan dan sanksi tidak berjalan dengan semestinya. dan Kaltim). tetapi bersifat sukarela Tidak lagi memberlakukan kebijakan antrian/daftar tunggu Semua provinsi terbuka untuk pelaksanaan PTT sesuai kebutuhan Rekrutmen. 1170. tenaga medis harus melaksanakan kewajiban sebagai tenaga Inpres. Pengurangan lama masa bakti bagi daerah yang kurang diminati seperti daerah terpencil dan daerah pemekaran.1. 5. Sebagai gantinya pengangkatan tenaga medis dilakukan melalui program pegawai tidak tetap (PTT) yang didasarkan atas Permenkes No. Periode 1992-2002 ditetapkan kebijakan zero growth personel. 21 .

Beberapa permasalahan yang berkaitan dengan Bidan PTT antara lain pada umumnya mereka berharap dapat diangkat sebagai PNS (peningkatan status).868 orang. penempatan dokter spesialis harus terlebih dulu ditawarkan melalui pejabat pembina kepegawaian (PP No. Pengaturan ini memerlukan dukungan peraturan perundangan yang kuat. kompensasi gaji relatif tidak memadai. Seperti halnya dengan dokter. Rata-rata produksi dan penempatan tenaga dokter spesialis per tahun sebanyak 509 orang. terdapat kekurangan sebanyak 3. misalnya di provinsi NAD cukup menarik minat untuk bertugas di daerah. uji kompetensi dilakukan oleh setiap organisasi profesi. (Ruswendi.9 Tahun 2003). Pada akhir tahun 1999 diberlakukan kebijakan penundaan masa bakti bagi dokter spesialis yang langsung diterima pendidikan spesialis.470 orang. dan besaran gaji antara daerah terpencil dengan sangat terpencil relatif kecil sehingga tidak menarik. uji kompetensi. Sertifikasi dilakukan oleh institusi pendidikan. berarti kurang dari 50 % dari jumlah desa. pembinaan dan pengawasan tersebut dilakukan melalui sertifikasi. 2005) Pembinaan dan pengawasan praktik profesi tenaga kesehatan belum terlaksana dengan baik. 2. Pada masa mendatang. Sampai saat ini baru profesi kedokteran yang sudah memiliki UU Praktik Kedokteran. Tenaga kesehatan lainnya yang cukup penting adalah bidan. Sampai dengan bulan April 2005 keberadaan Bidan PTT di seluruh tanah air sebanyak 32. sedangkan pemberian lisensi dilakukan oleh pemerintah. Dengan adanya pengurangan masa bakti bagi dokter spesialis bagi daerah tertentu.Pemerintah sebanyak 7. Penugasan selama 3 tahun di daerah biasa dan 2 tahun di daerah terpencil Penugasan dapat diperpanjang dua kali di desa yang sama dan dimungkinkan untuk diangkat kembali sebagai bidan PTT sesuai kebutuhan. Sejak diterapkannya otonomi daerah. registrasi.461 orang. sebagai tenaga yang diharapkan berperan dalam penurunan angka kematian bayi dan kematian ibu melahirkan. pengangkatan tenaga bidan menggunakan sistem PTT dengan karakteristik kebijakan sebagai berikut: 1. 22 . dan pemberian lisensi. registrasi dilakukan oleh komite registrasi tenaga kesehatn.

3 0.913 pada tahun 2010. baik ditinjau dari segi jumlah.97 Sasaran rasio per 100.939 23.785 115. Tabel 4.2 2. 2005 Dibandingkan dengan negara-negara lain.156 94. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Untuk itu dalam Indonesia Sehat 2010. tenaga kesehatan (SDM Kesehatan) dapat diidentifikasikan belum mencukupi.54 3. dokter gigi. Depkes.5 59.000 penduduk tahun 2004 5.1 7. mutu maupun penyebarannya. rasio tenaga kesehatan terutama tenaga dokter. untuk memberikan pelayanan kepada sekitar 218 juta penduduk.1 Jenis tenaga kesehatan dan rasio terhadap penduduk di bandingkan dengan sasaran Indonesia Sehat 2010 Tabel 4. Jumlah ini masih belum mencukupi untuk dapat memberikan pelayanan yang lebih optimal. Jumlah dan Kualitas Sampai dengan tahun 2004 terdapat sekitar 274. jenis.049 235.1 Jenis tenaga kesehatan dan rasio terhadap penduduk di bandingkan dengan sasaran Indonesia Sehat 2010 Jenis Tenaga Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan Apoteker Asisten Apoteker SKM Sanitarian Ahli Gizi Rasio per 100.56 3.953 276. jumlah tenaga kesehatan akan ditingkatkan menjadi 1. dengan harapan lebih banyak tenaga kesehatan per penduduk.000 penduduk tahun 2010 6 40 11 117 100 10 30 49 40 22 Jumlah tenaga yang dibutuhkan tahun 2010 14. Kondisi Umum Tenaga Kesehatan Di Tingkat Nasional Secara umum sampai dengan tahun 2004. kualifikasi.1 menunjukkan rasio jenis tenaga kesehatan di Puskesmas dan Rumah Sakit pada tahun 2004 dengan kondisi yang ingin dicapai pada tahun 2010 untuk beberapa jenis tenaga kesehatan Tabel 4.69 3.611 94.907 Sumber: Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan.376 51.383 tenaga kesehatan yang bekerja di Rumah Sakit dan Puskesmas di seluruh Indonesia. perawat dan bidan terhadap jumlah penduduk di Indonesia masih rendah terlihat dari tabel berikut. 1.72 0. 23 .376 25.BAB IV.6 27. Rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk yang relatif masih kecil.594 70.108.

0 1998 Australia 47. Berbagai kajian (Bappenas.1 Penyebaran Dokter Spesialis per propinsi Tahun 2003-2004. Secara lengkap penyebaran tenaga dokter spesialis di Indonesia pada tahun 2003-2004 dapat di lihat pada gambar berikut : Gambar 4.0 1995 Amerika Sumber: Pusat Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Kualitas tenaga kesehatan juga masih perlu ditingkatkan.0 26.0 1996 Filipina 39.0 1990 Belanda 52. misalnya dokter yang dianggap kurang ramah.9 113.0 1998 Austria 58.1 1995 Kanada 93.0 972.Tabel 4.0 18. dapat dilihat dari masih banyaknya puskesmas yang tidak mempunyai dokter umum.0 18.1 163.9 27.1 9.000 populasi/tahun Dokter gigi Perawat Bidan Jml Thn Jml Thn Jml Thn 1998 1998 1997 1998 2001 1996 1997 1996 1996 1992 1996 830.0 1998 Finlandia 2.8 1997 Malaysia 47.0 240. BPS dan OCR Macro.0 744. 2003) juga menunjukkan bahwa sebagian masyarakat mempunyai persepsi bahwa tenaga kesehatan belum sepenuhnya memberikan kepuasan bagi pasien.2 Rasio Tenaga Kesehatan Di Berbagai Negara Negara Dokter Jml Thn Rata-rata per 100. Misalnya. misalnya.0 123.0 418.8 164.07 16.6 78. provinsi lain yang memiliki banyak dokter spesialis dibanding daerah lainnya adalah di provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 DKI Jkt Bengkulu DI Yogya Gorontalo Irja Barat NAD NTB Kalteng Lampung Maluku Banten Kalbar Kaltim Kalsel Babel Bali Riau NTT Jateng Malut Jatim Sulteng Sumut Sumbar Sumsel Papua Jambi Jabar Sulut Sultra Sulsel 24 .0 497.1 2.3 902. Saat ini. Distribusi Keterbatasan jumalh tenaga kesehatan semakini diperburuk oleh distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata. 2004. Akibatnya banyak puskesmas.0 1994 Indonesia 68. 2.0 50. atau lamanya waktu tunggu.6 229.0 1993 Inggris & Irlandia Utara 59. Bahkan akhir-akhir ini sering muncul keluhan dan pengaduan masyarakat atas dugaan terjadinya malpraktek dokter.162.2 302.1 251.2 1996 Jepang 8.3 1998 1997 1998 1994 1996 1997 1997 1996 1989 - 40. lebih dari dua per tiga dokter spesialis berada di Jawa dan Bali.0 1998 1998 1996 1998 1994 1996 1997 1991 1996 1989 1996 40. terutama di daerah terpencil yang hanya dilayani oleh perawat atau tenaga kesehatan lainnya. terbatasnya informasi kesehatan yang diberikan kepada pasien.7 229.6 65.0 897.6 193.0 532.8 164.0 43.

dan Jawa Timur. Irja Barat Kalbar Sulteng Sultra Kalteng Maluku Kaltim Papua Kalsel Sulsel Sulut Malut 25 . Sebagian besar tenaga perawat tersebut bertugas terutama di empat provinsi yaitu di Pulau Jawa yaitu di DKI Jakarta. Sedangkan di luar Jawa terutama berpusat di Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan.2 Penyebaran Dokter Umum per propinsi Tahun 2003-2004 2500 2000 1500 1000 500 DKI Jkt Jabar DI Yogya Jateng Jambi Jatim NTT 0 NAD Sumbar NTB Banten Riau Bengkulu Lampung Sumsel Bali Babel Sumut Gorontalo Pola penyebaran yang sama terjadi pada dokter umum. Jawa Tengah. Pusat-pusat distribusi tenaga kesehatan tersebut adalah di Pulau Jawa dan Bali serta di Provinsi Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Jawa Barat. Provinsi di Pulau Jawa yang relatif sedikit jumlahnya adalah Banten (provinsi baru) dan DI Yogyakarta. Gambar 4.3 Penyebaran Perawat per propinsi Tahun 2003-2004 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 DKI Jkt Jabar DI Yogya Jateng Jambi Jatim NTB NAD Sumbar Riau Bengkulu Lampung Sumsel Banten Bali Babel Sumut NTT Irja Barat Kalbar Sultra Kalteng Sulteng Maluku Papua Kalsel Kaltim Sulsel Malut Sulut Gorontalo Begitu pula halnya dengan pola penyebaran tenaga perawat.Gambar 4.

39 Riau 10.23 Jatim lebih menyebar.46 Sultra Propinsi Kalimantan Timur 8.4 tampak pola penyebaran tenaga bidan sedikit berbeda dengan tenaga perawat.00 Kalteng Dengan demikian 18.20 Indonesia penduduk (Gambar 4.09 Papua yang tertinggi adalah di 8.59 Sumut 9.44 Sulsel 9. namun bila dibandingkan dengan penduduk yang harus di layani.65 Malut dengan 4.30 Jabar dengan jumlah penduduk. 11. Jawa Barat.18 Bali bawah rata-rata nasional.Gambar 4.36 Kalbar contoh rasio tenaga dokter 6.56 Gorontal 12.000 6.23 dokter umum Sumbar 8.71 NTB maka distribusi tenaga 6.5) 7.69 DI Yogya per 100.39 Babel 8.09 Sulteng Rasio di Jawa Tengah.92 Irja Barat Jawa Timur dan Banten 12.59 dengan 18.3 dokter umum 10.31 Jateng 6.82 Lampung 7.90 NAD per 100. Gambar 4.5. 16.4 Penyebaran Bidan per propinsi Tahun 2003-2004 9000 8000 7000 6000 5000 4000 3000 2000 1000 0 NAD Sumbar Riau Sumut DKI Jkt Jabar DI Yogya Jateng Jambi Jatim NTB NTT Bengkulu Lampung Gorontalo Pada Gambar 4.40 Sumsel umum per 100.15 Jambi 11. Sebagai 6. Sumatera Utara.51 DKI Jkt 8.23 Kaltim walaupun secara nominal 0 2 4 6 8 10 12 14 16 18 20 jumlah dokter umum sebagain besar di Jawa dan Bali. NAD.000 penduduk Irja Barat Kalbar Banten Kalteng Sulteng Sultra Maluku Sumsel Papua Babel Bali Kalsel Kaltim Sulsel Sulut Malut 26 . 11. Jawa Tengah. 4.000 penduduk dan 9.000 penduduk.40 Banten 5.12 NTT 6.92 Sulut juga cukup rendah di 13. Rasio dokter umum Puskesmas dan Rumah Sakit per 100. maka tenaga dokter di Jawa masih lebih rendah di banding daerah-daerah lain. Beberapa provinsi yang memiliki tenaga bidan lebih banyak antara lain Provinsi Jawa Timur.58 Maluku 8.49 Kalsel terendah ada di Jawa Barat 9. Apabila menggunakan standar rasio antara tenaga kesehatan 4.20 Bengkulu 15. Sumatera Selatan dan Sulawesi Selatan.

Kualifikasi pendidikannya terbatas (D3 atau kurang). pengobat traditional. fisioterapis. sarjana farmasi traditional.75 tenaga kesehatan. kendala geografis. Disamping tenaga langka tersebut. Ketersediaan Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Jumlah Puskesmas di Indonesia pada tahun 2004 sebanyak 7.Tingginya rasio dokter umum terhadap jumlah penduduk di daerah luar Jawa masih belum menjamin bahwa tenaga kesehatan tersebut dapat melayani lebih banyak penduduk dibandingkan di Jawa. dan sistem informasi yang terfragmentasi. dan lainnya. refraksionis optisien. terdapat beberapa jenis tenaga baru yang belum ditentukan kategorinya pada PP 32/1996. 2.3). bahkan produksinya terus meningkat. Sebagai contoh walaupun rasio dokter di Irian Jaya Barat lebih tinggi lebih tinggi dibandingkan dengan Jawa Timur. 3. epidemiolog. pasar tidak siap. hukum kesehatan.010 Puskesmas Perawatan dan 5. terdiri dari 2.566 orang. masih banyak penduduk yang tidak terjangkau oleh dokter umum dengan mudah. dengan demikian rata-rata setiap puskesmas dilayani oleh 18. Sedangkan jumlah seluruh tenaga kesehatan yang bekerja di Puskesmas pada tahun yang sama sebanyak 141. antara lain kesehatan dan keselamatan kerja. dan audiologis.540 Puskesmas Non Perawatan. karena kendala akses penduduk terhadap fasilitas kesehatan. 3. terapis wicara. tetapi karena penyebaran penduduk yang tidak merata. A. Jenis Tenaga Untuk jenis tenaga kesehatan tertentu seperti perawat jumlahnya sudah relatif cukup. dan sarana transportasi. jenis dan kualifikasi tenaga yang ditempatkan di wilayah tertentu kurang/tidak tersedia akibat maldistribusi (misalnya dokter spesialis di daerah terpencil). jarak. Lulusannya sedikit. (Lihat tabel 4. Beberapa penyebab kelangkaan tenaga ini adalah insentif yang tidak menarik. Jumlah institusi pendidikannya kurang. yaitu: 1. 5. ahli human resource management. Contoh beberapa tenaga “langka” adalah analis kesehatan. kebutuhannya besar. administrasi medik. jenjang karir tidak jelas. 4.550 buah. non competence based. 27 . bidangnya tidak diminati. Jumlah tenaga kurang. Jumlah. Namun sebaliknya terdapat jenis tenaga lain yang dapat dikatakan sebagai tenaga “langka” karena berbagai faktor. radiographer.

18). sanitarian. Dengan menggunakan salah satu metode perencanaan kebutuhan tenaga seperti tercantum dalam SK Menkes No.89 0.127 6 D-3 Gizi 1.566 Sumber: Data Dasar Puskesmas Tahun 2004.44 18. yaitu promosi kesehatan. Jika dibandingkan data tahun 2004 (Tabel 4. 1 dokter gigi 1.Tabel 4. Departemen Kesehatan Dalam SKN 2004 dinyatakan sekurang-kurangnya Puskesmas melaksanakan enam jenis pelayanan kesehatan tingkat dasar.10 2.2). bidan.147 9 Bidan Puskesmas 15.717 8 D-3 Bidan 3. maka diperoleh gambaran bahwa untuk setiap puskesmas disarankan setidaknya terdapat 2 dokter umum.98 4.6 0.42).966 15 Asisten Apoteker 2.59 0.50 0. pemberantasan penyakit menular. dan asisten apoteker.815 Laboran 16 Analis 2.3) dengan rasio tenaga dokter umum (1. Untuk mencapai rasio ideal. perbaikan gizi. Jumlah dan Rasio Ketenagaan Puskesmas Tahun 2004 (Nasional) No.01 0.332 PTT 1.19).42 1.18 0. Sedangkan perawat umum dan bidan di Puskesmas perlu ditambahkan separuh dari jumlah yang telah ada.056 2 Dokter Gigi PNS 2. maka ketersediaan jumlah tenaga kesehatan di puskesmas masih belum memadai. kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana.21 0.468 14 Pelaksana Gizi 2.37 0.75 Dokter Umum Pegawai Negeri Sipil (PNS) 4. khususnya Model DSP Puskesmas Perdesaan.39 0.134 Non Analis 753 Lain-lain 17 18.28 0.28 0.049 11 Perawat Umum 33. 28 . yaitu metode Daftar Susunan Pegawai (DSP). perawat. Jika dilihat dari tugas pelayanan kesehatan yang harus dilaksanakan maka tenaga kesehatan yang minimal dimiliki oleh setiap Puskesmas adalah dokter umum. kesehatan lingkungan. ahli gizi. Permasalahan akan terlihat bila melihat ketersediaan dokter umum di Puskesmas.09 0.99 3.3 Jenis. Rasio dokter umum per Puskesmas penting untuk menjadi acuan.81/Menkes/SK/I/2004. dan 3 bidan di puskesmas.056 10 Bidan di Desa 30.878 Pegawai Tidak Tetap (PTT) 4. maka jumlah dokter umum dan dokter gigi di Puskesmas perlu ditingkatkan 2 kali lipat.42 0.599 7 D-3 Keperawatan 6.424 JUMLAH 141. dokter gigi (0. dan bidan (1.353 12 Perawat Gigi 4.446 3 SKM 647 4 Apoteker 68 5 D-3 Kesehatan Lingkungan 2. perawat umum (4. 1 Jenis Jumlah Rasio per Puskesmas 1. dan pengobatan dasar. untuk melihat sejauh mana fasilitas kesehatan yang menjadi ujung tombak pembangunan kesehatan masyarakat dapat berfungsi dengan baik. Data distribusi tenaga kesehatan di Puskesmas per propinsi juga menunjukkan adanya kesenjangan (disparitas) antar wilayah.531 13 Sanitarian 4. 6 perawat umum.

18 1.83 0. Kalaupun pada akhirnya dapat mengaksesnya. Gambar 4.47 1.84 0. upaya untuk daerah terpencil seperti ini perlu dilakukan dengan serius. rata-rata hanya satu dari 3 puskesmas yang memiliki dokter. dan azas keadilan. Meningkatkan fasilitas dan dokter umum di daerah seperti ini mungkin menjadi mahal dan tidak memberikan daya ungkit yang tinggi terhadap derajat kesehatan secara nasional.57 1.06 1.147 bidan D3.82 0. 29 .84 0.88 2. Rata-rata rasio bidan per puskesmas tidak termasuk bidan di desa) adalah 2.72 1. dengan rata-rata nasional sebesar 1.6. Di Papua misalnya.4) dan Papua (5.45 0.4).0) dan Gorontalo (0. Jika dilihat per propinsi. Data ini antara lain menunjukkan bahwa kebijakan penempatan seorang bidan untuk setiap desa secara nasional tidak atau belum terpenuhi. terdiri dari 3.56 0.15 1.49 1. artinya banyak Puskesmas yang tidak memiliki tenaga dokter umum.30 Yang perlu menjadi perhatian adalah pada daerah-daerah dengan rasio dokter per puskesmas yang kecil dan akses yang sulit.18 (Gambar 4.42 1.35 0.13 1. Akan tetapi sebagai upya untuk memenuhi amanat undangundang dasar.45 0. pemenuhan hak dasar rakyat akan kesehatan. dan 30. Jika dilihat per propinsi.86 0. terutama pelayanan kesehatan di daerah perdesaan adalah tenaga bidan.049 bidan di desa.06 1.36 1. Secara umum dapat digambarkan bahwa daerah dengan rasio lebih rendah dari 1 menunjukkan jumlah dokter lebih kecil dari jumlah Puskemas.39 1.05 1. Rasio tenaga bidan di desa per desa adalah 0.79 1. seperti di Papua dan Maluku. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat mengalami kesulitan untuk mengakses fasilitas kesehatan. pelayanan yang diterima belum memuaskan karena ketiadaan dokter umum.98 0.98 0.35 di Papua dan 2.4.26 1.30 di Kepulauan Riau.6).13 1.252 orang. Secara keseluruhan jumlah bidan tercatat sebanyak 48. sedangkan paling rendah adalah DKI Jakarta (0. Rasio dokter umum terhadap Puskesmas menurut propinsi Papua Maluku DKI Jakarta Irian Jaya Barat Nusa Tenggara Timur Jawa Barat Sumatera Barat Kalimantan Barat NAD Sulawesi Tenggara Sulawesi Utara Bangka Belitung Sumatera Selatan RIau Sulawesi Barat Kalimantan Selatan Sulawesi Selatan Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Barat INDONESIA Banten Maluku Utara Jambi Bengkulu Jawa Timur Kalimantan Tengah Lampung Gorontalo Jawa Tengah Bali Kalimantan Timur DI Yogyakarta Sumatera Utara Kepulauan Riau 0.056 bidan di puskesmas.63 1.47 0. Tenaga kesehatan yang mempunyai peran penting dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.99 1.Dengan kriteria ini dapat terlihat bahwa rasio dokter umum yang bertugas di Puskesmas terhadap jumlah Puskesmas berkisar antara 0.72 1. 15.4.8). maka propinsi yang rasionya paling tinggi adalah Sumatera Utara (6.51 1.

dengan rasio 0. Penyusunan Perencanaan didasarkan pada sasaran upaya kesehatan nasional dan Rencana Pembangunan Kesehatan menuju Indonesia Sehat 2010. tingkat wilayah (misalnya Nasional. Perencanan kebutuhan SDM kesehatan di tingkat institusi bisa di hitung dengan menggunakan metode Authorized Staffing List (Daftar Susunan Pegawai – DSP).8. Dalam PP tersebut antara lain dinyatakan: Perencanaan nasional tenaga kesehatan disusun dengan memperhatikan jenis pelayanan yang dibutuhkan. 1. baik lokal. adalah Authorized Staffing List (Daftar Susunan Pegawai atau DSP). Sementara itu. 4. 3. Disesuaikan dengan kebutuhan pembangunan kesehatan. dan pasca bencana). seimbang. dan dunia usaha.81/Menkes/SK/I/2004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumberdaya Manusia Kesehatan di Tingkat Provinsi. B. masyarakat. Health Service Target Method. Metode 30 . Kabupaten/Kota serta Rumah Sakit. WISN (Work Load Indicator Staff Need) atau Indikator Kebutuhan tenaga berdasarkan Beban Kerja.599 Gizi/D3 dan 2. dan selaras oleh Pemerintah.6. Jumlah ahli gizi yang bekerja di puskesmas pada tahun 2004 tercatat sebanyak 4. Health Service Demand.5).6.hanya satu propinsi. nasional.4 per puskesmas.966 Pelaksana Gizi). rasio sanitarian per puskesmas adalah 0. Tenaga kesehatan lainnya yang mempunyai tugas dan tanggungjawab yang penting dalam pelaksanaan program di puskesmas antara lain adalah ahli gizi. maupun global.815 orang. metode lain yang merupakan pengembangan dari ke-4 model tersebut. Perencanaan nasional tenaga kesehatan sebagaimana dimaksud ditetapkan oleh Menteri Kesehatan (pasal 6 ayat 4). Adapun prinsip dasar perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan adalah: 1. Pemilihan metode perhitungan kebutuhan SDM Kesehatan didasarkan pada kesesuaian metode dengan kemampuan dan keadaan daerah masing-masing.565 orang (1. sanitarian dan assisten apoteker. serasi. Selain 4 Metode dasar yang telah diuraikan sebelumnya. yaitu Health Need Method. dan Ratios Metho. Kabupaten/Kota).2 – 0. jenis dan jumlah yang sesuai (pasal 6 ayat 3). sedangkan propinsi lainnya berkisar antara 0. Kebijakan Tenaga Kesehatan Perencanaan Kebijakan perencanaan tenaga kesehatan secara nasional antara lain diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan. dan dalam kondisi bencana (pada saat prabencana. yaitu DKI Jakarta. 2. Pendayagunaan SDM-Kesehatan diselenggarakan secara merata. dan penyusunan kebutuhan tenaga untuk bencana. Jumlah tenaga assisten apoteker tercatat sebanyak 2. Provinsi. sarana kesehatan.468 orang. jumlah tenaga sanitarian tercatat sebanyak 4. rasio ahli gizi per puksesmas dengan ahli gizi adalah 0. Puskesmas. Kebijakan Pemerintah tentang perencanaan SDM kesehatan ditetapkan melalui Kepmenkes No. Rumah Sakit). Skenario/Proyeksi dari WHO. Tujuan pedoman ini adalah untuk membantu daerah dalam mewujudkan rencana penyediaan dan kebutuhan SDM Kesehatan dengan prosedur penyusunan rencana kebutuhan SDM kesehatan pada tingkat institusi (misalnya Poliklinik. yang rasio desa dengan bidan di desa tercatat di atas 1 (1. terjadi bencana.

diatur pula tentang jenis berbagai tenaga kesehatan untuk setiap model DSP Puskesmas tersebut. c) Puskesmas perkotaan dengan penduduk padat.000-50. f) Puskesmas perawatan di daerah strategis. Untuk hal tersebut diperlukan struktur organisasi Puskesmas yang ditetapkan oleh Pemerintah Daerah masing-masing dengan mengacu kepada SK Mendagri No. 23 Tahun 1994.000 Jumlah Staf (N: Orang) 16 21 30 40 >40 Dayaguna Staf/Hari (S) 6. b) Puskesmas di daerah perdesaan dengan penduduk sekitar 20. Pada Kepmenkes tersebut.ini bisa digunakan di berbagai unit kerja seperti rumah sakit. dan O = Output Puskesmas Jika nilai S kurang dari 5 maka ada dua alternatif yang dapat ditempuh yaitu memindahkan tenaga Puskesmas yang berlebihan ke Puskesmas yang membutuhkan atau meningkatkan output Puskesmas. Jumlah Staf Puskesmas Menurut Beban Kerja No 1 2 3 4 5 Output Puskesmas (O: Orang /Tahun) <30. dapat diatasi kekurangan tenaganya dengan sistem kontrak yang dananya berasal dari daerah. e) Puskesmas perawatan di daerah kepulauan.000 50.8 5.000-70. jika tidak dapat disediakan melalui pengangkatan PNS Daerah. selain mengatur tentang jumlah tenaga yang dibutuhkan. Dalam Kepmenkes tersebut telah diberikan beberapa contoh DSP Puskesmas dengan bermacam macam contoh model perhitungan: a) Puskesmas di daerah terpencil. diperlukan 27 tenaga.000 300. 2.8-8. Tabel 4.000-10.3 6.6 Bagi Puskesmas yang jumlah kunjungannya tinggi. puskesmas dan lain-lain.000 >100. diperlukan 41 tenaga. jumlah tenaga yang perlukan sekitar 17 orang.000 70.000 orang.4.7 5. Hasil survei di lokasi kajian menunjukkan bahwa pada dasarnya responden Dinas Kesehatan Propinsi dan Kabupaten/Kota melaksanakan kegiatan penyusunan rencana 31 . Menentukan jenis tenaga. 1. Prosedur perhitungan daftar Susunan Pegawai-DSP (Authorized Staffing List) adalah sebagai berikut. diperlukan 25 tenaga. Tabel dibawah ini menjelaskan kaitan antara output Puskesmas dengan jumlah staf yang diperlukan. tetapi jumlah tenaganya sedikit. N = Jumlah Staf. diperlukan sekitar 40 tenaga. diperlukan 38 tenaga.5-7.25 5. dimana : S = Dayaguna Staf /hari (serendah-rendahnya 5). d) Puskesmas Perawatan di daerah terpencil. Menghitung produktivitas Puskesmas secara kolektif dengan mengunakan rumus: S = O/ 300 x N.2-8.

81 Tahun 2004 pada daerah kajian Baru saja disosialisasi 5% Terpusat ke BKD 5% Keterbatasan Tenaga 11% Belum tahu 26% Belum ada sosialisasi 48% Belum Membaca SK 5% Sedangkan pada pada kabupaten/kota yang menggunakan pedoman penyusunan perencanaan kebutuhan SDM (47. ahli gizi.6%) tidak menerapkan Pedoman Penyusunan Perencanaan Kebutuhan SDM Kesehatan seperti tercantum dalam Surat Keputusan Menkes No. 2. perawat.8%) Walaupun telah digunakan di 47. Ratio Method (35. Dalam menyusun rencana kebutuhan tenaga. kemudian berturut-turut diikuti oleh terbatasnya data dan 32 .3%) Health Services Demand Method (29.81 Tahun 2004 dan hanya 47. 5. Dinas Kesehatan melakukan paling sedikit satu kali kegiatan penyusunan rencana kebutuhan tenaga kesehatan dan sebagian besar pelaksananya adalah Unit Kerja Eselon III (47.4% kabupaten/kotalokasi penelitian.7 Alasan tidak dilaksanakannya SK Menkes No. sanitarian.7%) Health Need Method (2. 3. bidan.4% yang melaksanakan pedoman. menyerahkan ke Badan Kepegawaian daerah. ada pula Dinas Kesehatan yang merencanakan kebutuhan tenaga dokter spesialis.1%). Alasan utama tidak digunakannya pedoman tersebut berturut-turut adalah belum adanya sosialisasi. dari seluruh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota di lokasi penelitian. belum tahu dan belum membaca surat keputusan (SK).9%) Berdasarkan beban kerja dan berdasarkan sarana kesehatan (8. yaitu belum ada sosialisasi tentang pedoman (47% kab/kota). Secara umum perencanaan kebutuhan sudah cukup lengkap karena meliputi hampir semua jenis tenaga kesehatan yang diperlukan di daerah. Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM). penerapan pedoman SK Menkes tersebut masih menghadapi kendala. asisten apoteker. Gambar 4. terapi fisik. Dalam periode satu tahun. keterbatasan tenaga.4%). lebih dari separuhnya (52. Selain tenaga-tenaga tersebut. metode yang paling sering digunakan berturut-turut adalah: 1.kebutuhan tenaga kesehatan di Puskesmas.4%) Health Services Target Method (14. dan terapi medis untuk ditempatkan di puskesmas perawatan. dokter gigi. Jenis tenaga yang direncanakan oleh hampir semua Dinas Kesehatan adalah tenaga dokter. 4. apoteker.

Dengan pendekatan dan pembagian peran antara pusat dan daerah ini.6%). sebagian besar usulan ditentukan bersama-sama oleh Dinas Kesehatan dan BKD. terbatasnya dana (32%.informasi (39% kab/kota). 81/2004 dapat dianggap sebagai standar perencanaan tenaga kesehatan. rencana kebutuhan tenaga diusulkan kepada pihak yang berwenang di masing-masing daerah. maka sosialisasi pedoman ini menjadi sangat diperlukan ke seluruh daerah. Pada daerah yang telah menerapkan pedoman sekalipun. formasi ini ditentukan setelah melakukan koordinasi antara Dinas Kesehatan dan BKD. Gambar 4. Sosialisasi ini dapat pula menjadi sarana untuk meningkatkan kapasitas tenaga perencana di daerah yang masih menjadi kendala besar bagi perencanaan. B/401/3/2005 0 3% 5 10 15 20 25 30 35 40 45 50 Dengan demikian. dan masalah lainnya seperti pembagian antar unit yang tidak jelas. Dalam hal ini. Hal ini bisa diartikan bahwa pada sebagian besar Kab/Kota. yaitu: (1) Dinas Kesehatan Kabupaten bersama-sama dengan Badan Kepegawaian Daerah (52. diharapkan perencanaan tenaga kesehatan dapat menjadi lebih baik.6%) wewenang formasi ada pada Dinas Kesehatan dan BKD.6%). Oleh karena itu. wewenang formasi ada pada 33 . pada sebagian besar Kab/Kota (52. (2) Dinas Kesehatan (44. Dalam proses selanjutnya. terbatasnya kapasitas tenaga perencana (37% kab/kota). tidak adanya sosialisasi ini masih menjadi hambatan/kendala utama. Akan tetapi pada sepertiga Kab/Kota (31. jika Kepmenkes No. Sementara itu kendala pendanaan serta data dan informasi menjadi tugas penting yang perlu diselesaikan oleh daerah. Demikian pula dalam hal formasi tenaga kesehatan. sosialisasi tentang pedoman masih menjadi alasan utama tidak diterapkannya pedoman penyusunan rencana kebutuhan tenaga SDM kesehatan. Dalam hal ini pemerintah pusat dan propinsi dapat mengambil peranannya. keterbatasan tenaga dan lain-lain. pihak yang berwenang menentukan usulan ini ternyata berbeda untuk masing-masing daerah.8. baik yang sudah ataupun yang belum menggunakannya.7%). dan (3) BKD (2. Hambatan Utama Dalam Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan di Daerah Penelitian yang telah menggunakan pedoman belum ada sosialisasi tentang pedoman terbatasnya data dan informasi terbatasnya kapasitas tenaga perencana terbatasnya dana 13% 13% 32% 37% 39% 47% Ya pembagian tugas antar unit yang tidak jelas Keterbatasan tenaga 3% 5% Belum Dilaksanakan SK Menpan No.6%). Berdasarkan hasil survey.

8 35.492) dan yang mengalami persentase kekurangan paling besar diantaranya adalah SKM.0 24. dengan demikian BKD mempunyai wewenang penuh terhadap formasi yang diusulkan oleh Dinas Kesehatan.1 40. Pengadaan Berdasarkan hasil survei lapangan.5.216 tenaga atau 66. Persentase kabupaten/kota yang merasakan kesenjangan antara usulan dengan ketersediaan tenaga kesehatan Jenis Kesenjangan Jumlah Jenis tenaga Distribusi Kualifikasi Persentase Kab/Kota menurut tingkat kesenjangan Sangat Kecil 5% 13% 13% 8% Kecil 50% 53% 53% 71% Besar 34% 24% 32% 18% Sangat Besar 11% 11% 3% 3% Dari tabel tersebut. 2.4 26. Tabel 4. sanitarian dan laboran. Dari tenaga keseahatan tersebut yang paling banyak dibutuhkan adalah bidan (4. perawat. Tabel 4.9 53. Pada Tabel 4.1 % yang tersedia.BKD. jenis.6 . Kekurangan ini dirasakan oleh Dinas Kesehatan dan petugas di Puskesmas.793 tenaga kesehatan (17 jenis tenaga) yang dibutuhkan pada tingkat Kabupaten/kota di lokasi penelitian. Kesenjangan besar dan sangat besar dalam dal jumlah dirasakan oleh 45% Kab/Kota. Perbedaan kewenangan dalam pengusulan dan penetapan formasi tenaga kesehatan manjadi salah satu faktor yang menyebabkan adanya kesenjangan antara usulan yang disampaikan dan formasi yang akhirnya ditetapkan dalam hal jumlah. distribusi dan kualifikasi. dapat terlihat bahwa ketidaksesuaian antara jumlah dan jenis tenaga yang diusulkan dengan formasi yang tersedia masih cukup dirasakan oleh sebagian besar kab/kota.6 dapat dilihat bahwa dari seluruh 13. diperoleh gambaran bahwa secara umum ketersediaan tenaga kesehatan di puskesmas masih dianggap tidak atau kurang mencukupi untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Kebutuhan dan ketersediaan tenaga kesehatan di kabupaten lokasi Kajian Jenis Tenaga Dokter Dokter Spesialis Dokter Gigi Bidan Perawat Apoteker Asistem Apoteker Ahli Gizi Sarjana Kes. hanya 9.6 47. Masy Kebutuhan 987 64 497 4565 4492 89 606 652 415 Ketersediaan 593 30 294 2951 3295 47 319 404 312 Kesenjangan (%) 39.2 47. dan kesenjangan jenis (35%) dan distribusi tenaga dirasakan 35% Kab/Kota. walaupun terasa. tapi dianggap cukup kecil oleh sebagian besar kab/kota.565) dan perawat (4.4 38.8 34 . Kesenjangan dalam hal kualifikasi.

5 75. dari 12 jenis tenaga kesehatan di puskesmas.8% dan 83.1% dari yang diusulkan. Sebagai ilustrasi. Tertinggal % 9.196 PTT atau masing-masing sebesar 63. lulusan yang terbatas dan lain-lain.7. Namun dengan keterbatasan formasi yang ada.6% kabupaten tak tertinggal). Sebanyak 63% kab/kota mengusulkan kebutuhan tenaga kesehatan PTT (dokter umum.793 530 72 68 1 36 82 0 79 9.6 0. Masalah Utama Dalam Pengadaan Nakes di Kabupaten Tertinggal dan Tak Tertinggal Masalah Utama Masalah Regulasi Masalah Peminat Terbatas Masalah Terbatasnya Lulusan Masalah Dana Terbatas Masalah Terbatasnya Formasi Masalah Lainnya Kab.085 PNS dan 1.2 63. Pengajuan PTT ke pemerintah pusat merupakan salah satu strategi dari pemerintah daerah untuk meningkatkan jumlah tenaga kesehatan di daerahnya.0 9.8 1. yang berhasil direalisasikan hanya 1.7). Masy.0 41. Sementara itu pada tahun yang sama 11 PNS dan 95 PTT memasuki masa pensiun atau menyelesaikan masa baktinya. Karenanya upaya ini dilanjutkan dengan perekrutan tenaga PTT Pusat tersebut menjadi PNS daerah.2 % kabupaten tertinggal dan 34. Sedangkan masalah berikutnya adalah keterbatasan dana (18.439 PTT. apabila tidak diimbangi dengan realisasi pengangkatan tenaga kesehatan yang lebih besar.9 100.5 33. Hal semakin memperburuk keadaaan tenaga kesehatan di daerah.2 Masalah utama yang dihadapi oleh kabupaten/kota dalam pengangkatan pegawai baru adalah keterbatasan formasi yang terjadi di 63.6 46. 35 . Tak Tertinggal % 9.1 33.1 18.2 1.0 Kab.Sanitarian Terapi Fisik Teknis Medis Rontgen Perawat Gigi Penyuluh Kes.2 66. kemudian di susul berturut-turut oleh masalah regulasi.2 % di daerah tidak tertinggal pada daerah penelitian. Tabel 4. dokter gigi dan bidan) ke pusat. Karena sebagian besar kabupaten/kota dihadapkan pada jumlah formasi yang terbatas.9 54.0 27.701 PNS dan 1.9 Dari tabel tersebut terlihat bahwa masalah utama pengadaan tenaga kesehatan baik yang di kabupaten tertinggal maupun tak tertinggal adalah terbatasnya formasi. seluruh kabupaten/kota lokasi penelitian mengajukan usulan pengangkatan tenaga kesehatan yang terdiri dari 1.216 28. pemerintah daerah kemudian mengajukan tambahan formasi berupa tenaga PTT ke Pemerintah Pusat.1 0. pada tahun 2004.6 5. Berbagai upaya dilakukan oleh daerah untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan. Ketiga masalah terakhir relatif hanya terjadi pada 15% kab/kota atau kurang (lihat Tabel 4. peminat yang terbatas.9 34.6 % kabupaten tertinggal dan 46. Epidemiolog Laboran Total 737 108 203 4 62 182 21 109 13.

5% 10.9% 44.0 20.4 % yang menyatakan cukup dan hanya 3. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Kekurangan ini terutama sekali dirasakan untuk tenaga Sarjana Kesehatan Masyarakat (75. lebih dari separuh Dinas Kesehatan tidak menggunakan Pedoman Kepmenkes No 81/2004 untuk melakukan perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan.6% Bidan PTT % Kab/kota yang Kriteria menggunakan kriteria Desa tidak ada bidan 84.0 60. Penempatan Dalam rangka pengadaan dan penempatan tenaga kesehatan. metode yang paling banyak digunakan adalah Ratio Method.7% 31.0 35. Dinas kesehatan menetapkan beberapa kriteria yang digunakan. Hal ini menunjukkan bahwa 36 . 58. Berikut ini adalah kriteria yang sering digunakan untuk menentukan penempatan tenaga dokter di puskesmas dan persentase kab/kota yang menggunakan kriteria tersebut.9 Persepsi Responden tentang ketersediaan tenaga kesehatan di Puskesmas Kurang Cukup Berlebih Sangat kurang 0. 35. Sementara itu bagi daerah yang telah mengikuti pedoman.2% 3.4%) dan Perawat (71.8 Kriteria penempatan tenaga kesehatan di lokasi kajian Dokter PTT Kriteria Puskesmas yang tidak ada dokter Rasio puskesmas terhadap Penduduk Cakupan pelayanan Puskesmas Puskesmas Daerah Terpencil Angka Kesakitan Lainnya % Kab/kota yang menggunakan kriteria 84.0 40.9%) seperti terlihat pada tabel sebelumnya.2%).8% 2. Dari hasil penelitian pada Puskesmas di 38 kabupaten. Bila dihubungkan dengan kriteria penempatan dokter.4% 58.2% 57.2 % Puskesmas di antaranya merasa bahwa ketersediaan tenaga kesehatan kurang.8 % yang menyatakan berlebih (gambar 4. Gambar 4.9).2%) bagi lokasi penempatan dokter dan bidan PTT adalah puskesmas yang tidak memiliki dokter atau bidan.2% Desa terpencil 50.9% Dari tabel di atas terlihat bahwa kriteria utama (84.5% 2. justru sebagian besar kab/kota secara sederhana mengidentifikasi puskesmas yang tidak mempunyai dokter. Perawat (73.0 50. Tabel 4.Masalah pengadaan ini tidak hanya dirasakan oleh Dinas Kesehatan.6% 10. tetapi juga di Puskesmas.9% Lainnya 7.0% Angka kesakitan 28.0 3. Penggunaan kriteria seperti ini menunjukkan bahwa masih banyak puskesmas yang tidak mempunyai dokter atau desa yang tidak mempunyai bidan.0 30.

Institusi atau lembaga yang melaksanakan kegiatan tersebut adalah sebagai berikut: 1) Sertifikasi dilakukan oleh Institusi Pendidikan.9% kab/kota menyatakan bahwa kewenangan ini berada pada BKD dan 2. 2) Registrasi dilakukan oleh komite registrasi tenaga kesehatan.6% kab/kota menyatakan kewenangan pada badan lain seperti Bupati. Kalaupun perencanaan dilakukan menggunakan metode sesuai Kepmenkes 81/2004. Pada umumnya peserta didik dari hasil pendidikan tenaga kesehatan dan pelatihan kesehatan masih terbatas. peningkatan kualitas institusi pendidikan dan pelatihan merupakan salah satu tantangan yang penting untuk dapat menjamin tersedianya tenaga kesehatan bermutu yang diperlukan. registrasi.4%) menyatakan bahwa kewenangan penempatan ada pada Dinas Kesehatan atau DInas Kesehatan dan BKD. Oleh sebab itu. Mutu Tenaga Kesehatan Secara umum kebijakan tentang tenaga kesehatan. maka bisa diduga bahwa penggunaan kriteria puskesmas tanpa dokter dan desa tanpa bidan masing-masing untuk penempatan dokter dan bidan. khususnya dalam Sub Sistem Sumberdaya Manusia Kesehatan. 7.32 Tahun 1996 tentang Tenaga Kesehatan. masih akan terus berlangsung hingga beberapa tahun mendatang. jika penempatan tenaga kesehatan terutama dokter tidak sesuai dengan kondisi lapangan. Rata-rata sekitar separuh reponden menyatakan ketidakpuasan terhadap ketersediaan informasi pendaftaran pegawai baru. menurut kepala Puskesmas dan tenaga kesehatan masih kurang memuaskan. pada saat prakteknya pengusulan tenaga dan penempatan menggunakan kriteria yang lebih sederhana yaitu kekurangan tenaga per individu puskesmas. antara lain dinyatakan bahwa: “pembinaan dan pengawasan praktek profesi dilakukan melalui sertifikasi.1 kab/kota menyatakan bahwa kewenangan ini berada pada Dinas Kesehatan. seleksi penerimaan. yaitu dengan melihat jumlah puskemas yang tidak mempunyai tenaga dokter. proses administrasi. Proses pengadaan dan penempatan pegawai baru saat ini. Seringkali kemandirian. penempatan. Permasalahan bisa muncul. khususnya yang berkaitan dengan kualitas atau mutu. 3) Uji kompetensi dilakukan oleh masing-masing organisasi profesi. pengadaan penerimaan pegawai baru dan proses mutasi. rasio dokter per puskesmas). Hal tersebut diatur melalui Departemen 37 . antara lain dapat dilihat pada Peraturan Pemerintah (PP) No.perencanaan kebutuhan tenaga kesehatan dilakukan dengan lebih sederhana. dan 4) Pemberian lisensi dilakukan oleh pemerintah.8 di atas. uji kompetensi. dan pemberian lisensi”. 4. akuntabilitas dan daya saing tenaga tersebut masih lemah. Survei menunjukkan bahwa sebagain besar repsonden (47. 42. dan 2) Setiap tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk mematuhi standar profesi tenaga kesehatan (Pasal 21) Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) Tahun 2004. Hal ini mungkin terjadi seandainya tidak ada koordinasi yang baik antara BKD dan Dinas Kesehatan. yang menunjukkan masih banyaknya puskesmas tanpa tenaga dokter. artinya tidak pada lokasi yang telah diusulkan oleh Dinas Kesehatan. Dengan melihat masih banyaknya daerah yang mempunyai rasio dokter per puskesmas kurang dari 1. Dalam PP ini antara lain dinyatakan: 1) Tenaga kesehatan wajib memiliki pengetahuan dan ketrampilan di bidang kesehatan yang dinyatakan dengan ijazah dari lembaga pendidikan (Pasal 3). (lihat gambar 4.

7%).3%) telah diakreditasi (Pusat Pendidikan Tenaga Kesehatan. pendokumentasian dan pengakuan terhadap tenaga kesehatan setelah dinyatakan memenuhi minimal kompetensi inti atau standar penampilan minimal yang ditetapkan.5%).1%). Fungsional (14. maka sebagian besar Dinas Kesehatan (76. Dalam tabel berikut digambarkan kondisi beberapa jenis kemampuan dan kompetensi profesi tenaga kesehatan.2%) dan sumber lainnya (11. sehingga secara fisik dan mental mampu melaksanakan praktek profesinya. Registrasi merupakan proses pendaftaran.5%) memiliki rencana tahunan untuk jenis pelatihan yang dibutuhkan. Jenis pelatihan tersebut antara lain meliputi Pelatihan Fungsional dan Manajerial (50%). dan Departemen Kesehatan (5. Penyelenggara pelatihan tenaga kesehatan di Puskesmas pada umumnya adalah Dinas Kesehatan Propinsi (36%). sebanyak 464 institusi (72.Kesehatan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 850/Menkes/SK/V/2000 Tentang Kebijakan Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2000-2010 Salah satu upaya yang ditempuh Departemen Kesehatan dalam rangka meningkatkan kualitas institusi pendidikan dan pelatihan.4% responden menyatakan pernah mengikuti pelatihan.9%). Data hasil akreditasi ini antara lan menunjukkan bahwa masih diperlukan banyak upaya dan kegiatan untuk lebih meningkatkan kualitas institusi pendidikan tenaga kesehatan. “uji kompetensi” ini dapat diberlakukan dengan menggunakan metode yang disepakati bersama antara Dinas Kesehatan dan organisasi profesi. dan Manajerial (5. Hasil survei lapangan juga menunjukkan bahwa sekitar 70. Secara kumulatif sampai dengan September 2005. Dengan mempertimbangkan pentingnya arti pendidikan dan pelatihan tenaga kesehatan.8%). Dalam masa transisi. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota (25.7%). Dalam rangka menunjang kelancaran pelaksanaan tugas di puskesmas sekitar 78. tetapi masih memerlukan orientasi/adapatsi ataupun pelatihan di puskesmas.1%). Hal ini berarti tidak semua lulusan pendidikan tenaga kesehatan secara otomatis langsung dapat menjalankan tugas dan fungsinya di Puskesmas. dari 642 institusi pendidikan tenaga yang tersebar di seluruh Indonesia. APBD Propinsi (38. sumber pembiayaan untuk kegiatan pelatihan adalah APBD Kab/Kota (44. serta kualitas tenaga kesehatan yang dihasilkannya adalah menerapkan standar dan melaksanakan akreditasi terhadap institusi pendidikan dan pelatihan. APBN (38. Sebagai bagian dari tahapan registrasi dan pengakuan kompetensi diberlakukan “uji kompetensi” yang yang dilaksanakan oleh organisasi profesi itu sendiri dan difasilitasi oleh Dinas Kesehatan. Adapun jenis pelatihan yang diikuti adalah sebagian besar merupakan pelatihan teknis fungsional (85. Departemen Kesehatan menetapkan bahwa bagi tenaga kesehatan yang lulus dari institusi pendidikan tenaga kesehatan dibawah pembinaan Departemen Kesehatan dapat langsung diregistrasi. 2005). 38 .2%). Untuk menunjang pelaksanaan pelatihan.6% responden menyatakan kesesuaian antara latar belakang pendidikan dengan tugas di puskesmas.

MTKP Jawa Tengah ini dibentuk sebagai upaya Pemerintah Propinsi Jawa Tengah untuk secara langsung maupun tak langsung.9 Jenis kemampuan dan kompetensi profesi tenaga kesehatan No Org. meningkatkan kualitas atau mutu pelayanan kesehatan bagi individu maupun masyarakat yang membutuhkan dan mempersempit kesenjangan yang ada antara harapan masyarakat dengan pelayanan yang diterimanya sampai saat ini. Etika Kepmen Std. Komp. Sebagai contoh. Menetapkan peraturan pelaksanaan guna kelancaran pelaksanaan tugas g. MTKP juga berfungsi untuk memberikan perlindungan dan kepastian 39 . Tugas MTKP Jawa Tengah adalah: a. dan pemberian lisensi. Menetapkan standar pendidikan kesehatan berkelanjutan d. Menyampaikan hasil pelaksanaan tugas tersebut huruf a sampai dengan huruf f kepada Gubernur. uji kompetensi. Melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan pelayanan praktik kesehatan f. di Propinsi Jawa Tengah. Tanggal 24 Maret 2004. telah dibentuk Majelis Tenaga Kesehatan Propinsi Jawa Tengah (MTKP Jawa Tengah) melalui Surat Keputusan Gubernur Jawa Tengah Nomor 24 Tahun 2004. Melakukan sertifikasi tenaga kesehatan c.Tabel 4. Pada era desentralisasi.Tehniker Gigi √ √ √ 11 Ik. Physioterapy √ √ 12 P A R I 13 P A F I 14 P P G I 15 Otorik Prostetik 16 Tehnisi Transfusi *) Sumber : Pusat Profesi Tenaga Kesehatan. upaya pembinaan dan pengawasan praktek profesi tersebut menjadi salah satu upaya yang penting untuk dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Mei 2004 Dari tabel tersebut terlihat bahwa masih diperlukan berbagai upaya dan langkahlangkah untuk lebih meningkatkan pembinaan dan pengawasan praktek profesi yang dilakukan melalui sertifikasi. Menapis dan merumuskan arah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pelayanan kesehatan yang digunakan dalam praktik sesuai keputusan organisasi profesi e. Melaksanakan registrasi tenaga kesehatan b. registrasi. dalam rangka memperbaiki kualitas pelayanan kesehatan.O 10 Ik. √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ DRAFT √ √ √ √ √ √ DRAFT √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ 1 IDI 2 PPNI 3 IBI 4 PDGI 5 ISFI 6 PERSAGI 7 HAKLI 8 IKATEMI 9 IROPIN/R. Profesi Std. Registrasi Sertifikasi Lisensi RUU Profesi Profesi Reg.

terutama Departemen Kesehatan yang selama ini menyusun dan menerbitkan berbagai pedoman pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan bagi daerah.10 dibawah ini ditampilkan perbandingan distribusi tenaga kesehatan di Puskesmas pada kabupaten tertinggal dan tidak tertinggal lokasi kajian. maupun bagi para petugas yang memberikan pelayanan profesi kesehatan. Sistim OSCA tersebut juga telah digunakan oleh 5 (lima) Institusi Tenaga Kesehatan Keperawatan dan selanjutnya akan digunakan secara menyeluruh untuk semua Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan di Jawa Tengah. Upaya terobosan yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Popinsi Jawa Tengah tersebut perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak. yaitu kajian kompetensi terstruktur dan obyektif bagi lima Organisasi Profesi tersebut. Distribusi Tenaga Kesehatan Di Puskesmas Di Wilayah Tertinggal Definisi kabupaten tertinggal pada kajian ini mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2004-2009 khususnya Bab 26. MTKP Jawa Tengah mempunyai kewenangan dalam hal: a. Menerbitkan dan mencabut sertifikasi registrasi tenaga kesehatan d. Persatuan Dokter Gigi Indonesia. Ikatan Bidan Indonesia. Data ini merupakan hasil kuesioner yang diisi oleh 29 puskesmas yang pada kabupaten tertinggal dan 37 puskesmas pada kabupaten tidak tertinggal 40 . C.hukum bagi masyarakat sebagai penerima pelayanan kesehatan. Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah telah berhasil menyusun Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Kesehatan Berkelanjutan dan Perangkat Uji Kompetensi dengan menggunakan Sistim OSCA (Objectve Structure Competencies Assessment). Meneliti kelengkapan dan keabsahan terhadap persyaratan registrasi tenaga kesehatan b. Bersama lima Organisasi Profesi Jawa Tengah (Ikatan Dokter Indonesia. 8 diantaranya masuk kabupaten tertinggal dan 25 kab/kota masuk kategori tidak tertinggal. Memantau dan memberikan sanksi administrasi terhadap pelanggaran pelaksanaan praktik kesehatan. dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia) dan Lembaga Penelitian Universitas Diponegoro. Pada tabel 4. Dalam rangka menjalankan tugasnya. Ikatan Sarjana Farmasi Indonesia. dalam kajian dari 32 kab/kota yang menjadi lokasi kajian ini. Dengan mengacu pada ketentuan ini. Menyetujui dan menolak permohonan registrasi tenaga kesehatan c. Mengesahkan standar kompetensi tenaga kesehatan yang sudah ditetapkan oleh masing-masing organisasi profesi e.

atau dengan kata lain menggunakan persepsi responden. rata-rata sebuah puskesmas di daerah tertinggal mempunyai tenaga kesehatan yang lebih sedikit yaitu 27. dibandingkan dengan kabupaten tidak tertinggal yaitu 33.51 0.95 0. lebih rendah dibandingkan 27.16 33.03 1. Namun pada kedua kategori terlihat bahwa rasio dokter umum lebih besar dari 1.66 1.30 9.05 0.28 0. Dalam hal ini tenaga kesehatan dan kepala Puskesmas diminta menggolongkan kecamatan asal mereka sebagai daerah terpencil atau tidak terpencil. pada kajian ini digunakan pula kategorisasi kecamatan terpencil dan tidak terpencil. Dari seluruh tenaga tersebut yang perbedaan yang relatif besar adalah pada tenaga bidan dan SKM.59 pada daerah tidak tertingggal.59 2. pada kabupaten tertinggal rasio tenaga kesehatan per puskesmas yang berstatus PNS adalah 19.79) sudah mendekati rasio yang diharapkan menurut perhitungan dengan metode DSP.08 0.21.Tabel 4.03 Dari tabel di atas terlihat bahwa untuk seluruh tenaga kesehatan.25 0. Namun rasio PTT dan honor daerah per puskesmas lebih tinggi pada daerah tertinggal.27 0.03 27. Pada kabupaten tertinggal.21 3. kategorisasi terpencil dilakukan sendiri oleh responden.72 10.79 5. 41 .59 0.70 1. . artinya secara rata-rata setiap puskesmas dilayani lebih dari 1 dokter.28 0.03 2.49 0. Tertinggal Kab/Kota Tidak tertinggal Menurut Jenis Tenaga Dokter Dokter Gigi Bidan Perawat Apoteker Ass Apoteker Ahli Gizi SKM Sanitarian Terapi Fisik Teknis Medis Laboran Perawat Gigi Total Tenaga Menurut status kepegawaian Pegawai Negeri Sipil (PNS) Pegawai Tidak tetap (PTT) Honor Daerah Wiyata 1.10. kecuali rasio tenaga teknis medis dan rasio perawat gigi. walaupun pada kenyataannya.79 0.00 0.48 0. Hampir seluruh jenis tenaga kesehatan pada kabupaten tertinggal mempunyai rasio tenaga per puskesmas yang lebih kecil daripada kabupaten tidak tertinggal.14 19.27 0. Dalam kajian. Selain pengelompokan kabupaten dalam kategori tertinggal dan tidak tertinggal. Jika dipilah menurut status kepegawaian.34 0.55 1.14 tenaga. Kecamatan terpencil maupun tidak terpencil dapat saja dapat terletak dalam wilayah administratif kab/kota tertinggal maupun tidak tertinggal.81 1. Hal ini mengindikasikan upaya untuk memenuhi kekurangan tenaga PNS dengan tenaga PTT dan honor daerah.14 0.11 1.00 0. kecamatan terpencil lebih banyak terletak di kabupaten tertinggal.35 11. Perbandingan rasio beberapa tenaga kesehatan per puskesmas menurut kategori kab/kota tertinggal dan tidak tertinggal Rasio tenaga kesehatan per Puskesmas Kab.55 27.03 tenaga. yaitu 2. rasio ini (1.0.31 0.

Dari tabel di atas dapat terlihat jumlah kecamatan yang dilayani oleh puskesmas di kecamatan terpencil bervariasi dari 0. Pangkep hingga satu puskesmas yang melayani 2 kecamatan (Makasar. Pangkep Layang. Temanggung Gemawang. Wamena). Pangkep Taraweang. 42 .085 n. dengan jumlah desa yang dilayani bervariasi dari 5 desa hingga 14 desa.12 berikut ini merupakan rangkuman dan kompilasi dari tabel sebelumnya dalam penyajian yang lebih memudahkan untuk membandingkan kondisi tenaga kesehatan di kecamatan terpencil dan tidak terpencil.21 kec/puskesmas).902 33.871 2. walaupun begitu jumlah desa yang dijangkau oleh puskesmas di kecamatan terpencil ratarata lebih kecil dibandingkan dengan kecamatan tidak terpencil. Tabel 4.5 Des/Kel 100 6 5 6 13 10 9 5 5 7 14 11 9 477 Desa Terpencil 58 6 5 2 5 6 9 1 3 11 10 36 Desa Ada Bidan 75 5 4 6 8 6 4 5 5 4 2 7 19 356 Pddk Dilayani 305. sehingga satu Puskesmas yang menjadi Responden hanya mencakup separuh dari wialyah kecamatan **) Untuk kepraktisan penyajian.696 45.973 9. dapat dilihat bahwa jumlah kecamatan yang dilayani oleh setiap Puskesmas lebih banyak pada Puskesmas di kecamatan terpencil (1. sehingga satu puskesmas harus menjangkau dua kecamatan.5* 1 2 2 2 48.a 434. Jayapura Hom-Hom. Sukabumi Buniwangi.a 1.738 29. Wamena B. Jayapura. Secara umum.11 Perbandingan rasio tenaga kesehatan puskesmas menurut kategori kecamatan terpencildan tidak terpencil JUMLAH PUSKESMAS Kec 14. Makasar Sentani. ditemukan terdapat 12 Puskesmas yang digolongkan ke dalam kecamatan terpencil dan 80 pusksemas di kecamatan tidak terpencil. polindes dan Posyandu.736 Pustu 28 2 1 4 2 4 4 2 2 3 1 3 139 Posyandu Polindes 402 50 33 46 58 55 30 18 16 30 30 17 19 2.11 di bawah ini.517 5. Fasilitas Puskesmas pada daerah terpencil ini pada umunya juga didukung oleh keberadaan puskesmas pembantu (kecuali di Surade.56 2 Pddk Miskin 64. Tabel 4.000 2. Jayapura Dosri.626 3.846 13. data puskesmas di kecamatan hanya disajikan jumlah totalnya dari 82 Kecamatan tidak terpencil.850 6. Sukabumi).284 4.Dalam tabel 4.5 kecamatan (artinya satu kecamatan terdapat 2 puskesmas) di Puskesmas Taraweang. Kecamatan Tidak Terpencil** 5 3 7 3 2 2 5 165 Ket *) Dalam satu kecamatan dilayani oleh dua Puskesmas.5 1 1 1 1 1 1 1 0.000 13.500 n. Sukabumi Surade.365 2. Kecamatan Terpencil Ciracap.000 6.836 29 2 A. Hal dapat diartikan bahwa pada daerah terpencil cenderung lebih banyak kecamatan yang belum mempunyai puskesmas.981 14.520 4. Dari hasil kajian. dapat dilihat perbandingan beberapa parameter tenaga kesehatan dan fasilitas tenaga kesehatan antara kecamatan terpencil dan tidak terpencil.427 8.714 7. Temanggung Tangaya.907 15.519 15.791. Sukabumi Tretep.101 3. Pangkep Baloci.

sementara puskesmas di kecamatan tidak tepencil hanya melayani 0.051 0. Padahal. dari Yeretuar harus menempuh 2 jam perjalanan hingga ke Pustu Napan Yaur.06 0.57 pustu dan 3.00 penduduk di kecamatan terpencil yang lebih tinggi (3.67 Jumlah Kec yang dilayani per Puskesmas Jumlah Desa yang dilayani per puskesmas Jumlah Penduduk per Puskesmas Ratio Puskesmas per 100. baik karena topografi maupun keterbatasan sarana dan prasana tarnsportasi dan komunikasi.75 2. Dibandingkan denga rata-rata nasional 3. 2004). Sebagai ilustrasi.42 4.46 angka ini menunjukkan bahwa rasio di kecamatan terpencil masih lebih baik Namun demikian.01 12.000 penduduk Jumlah Penduduk per Pustu Jumlah Penduduk Miskin per Puskesmas Jumlah Desa yang mempunyai Bidan Rasio Pustu per Puskesmas Rasio Polindes per Puskesmas Desa terpencil per Puskesmas 1.33 2.83 desa terpencil.908 5. dari distrik Yaur ke Puskesmas Yeretuar di Nabire harus ditempuh selama 6 jam dengan transportasi laut/air.43 polindes. Dengan demikian beban kerja puskesmas di kecamatan terpencil sebenarnya lebih besar 43 . sementara di daerah terpencil masing-masing 2. Di kecamatan yang tidak terpencil rata-rata satu puskesmas didukung oleh 2. Selain itu masih banyak daerah-daerah yang hanya dapat tempuh dengan transportasi air/ laut atau berjalan kaki berjam-jam lamanya hingga mencapai fasilitas pustu atau puskesmas. sama dengan daerah tidak terpencil. Walaupun jumlah penduduk yang dilayani lebih sedikit dan rasio puskesmas terhadap jumlah penduduk lebih kecil. Hal ini mengakibatkan persebaran penduduk yang tidak merata serta sulit dijangkau oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Tigaperempat desa di daerah terpencil mempunyai bidan.889 8.83 Demikian juga dengan jumlah penduduk yang harus dilayani di kecamatan terpencil lebih kecil daripada kecamatan tidak terpencil.75 2.33 25.357 0.90 8.21 8.01).93) di banding kecamatan tidak terpencil (3. Dengan demikian akses penduduk pada daerahdaerah seperti ini sangat terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa beban puskesmas di daerah terpencil apabila dilihat dari jumlah penduduk yang dilayani tidak lebih besar dari puskesmas di kecamatan tidak terpencil. Yang relatif masih kurang di kecamatan terpencil adalah jumlah Pustu dan Polindes.83 33.93 10.Tabel 4. puskesmas kecamatan terpencil harus melayani 4. Rasio puskesmas per 100.67 desa terpecil. kita harus lebih berhati-hati dalam menyikapi hal ini.33 pustu dan 2.06 polindes. Daerah yang digolongkan pada daerah terpencil pada umumnya adalah daerah yang sulit di capai dengan sarana tranportasi yang ada. bukan berarti akses penduduk terhadap puskesmas di daerah terpencil lebih baik.12 Perbandingan rata-rata distribusi tenaga dan fasilitas kesehatan di Kecamatan Terpencil dan Tidak terpencil Kecamatan Terpencil Kecamatan Tidak terpencil 0.57 3.452 3. dan dari Napar Yaur ke desa 2 jam (Pemda Nabire.177 3. Wilayah administratif daerah terpencil pada umumnya lebih luas daripada daerah tidak terpencil.

2 62. kendaraan. Sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan atau mempertahankan jumlah tenaga kesehatan khususnya di kecamatan terpencil. Hampir semua tenaga kesehatan mengharapkan insentif gaji/tunjangan yang lebih baik. Gambar 4. Tidak Terpencil 0 20 40 60 80 100 Persen Responden Dari gambar di atas dapat dilihat bahwa 3 jenis insentif yang paling diharapkan oleh tenaga kesehatan.2 69.1% yang mengharapkan peluang bekerja di fasilitas kesehatan lainnya. mengingat peluang untuk membuka praktek di luar atau bekerja di fasilitas kesehatan lain yang lebih kecil pada daerah terpencil. kendaraan. namun hanya 15% saja yang mengharapkan kemudahan ijin praktek dan hanya 5.4 5. tentunya dengan mempertimbangkan ketersediaan tenaga kesehatan yang tersedia.2 15.8 4. perlu diperhatikan masalah insentif yang seharusnya lebih baik daripada petugas di kecamatan yang tidak terpencil. pengangkatan PNS) dan percepatan masa bakti.1 8. Persentase tenaga kesehatan yang mengharapkan peningkatan insentif dan jenis insentif yang diharapkan menurut keterpencilan kecamatan Lainnya Lingkungan sosial budaya Peluang bekerja di fasilitas kes.dan memerlukan biaya operasional yang lebih tinggi di banding daerah tidak terpencil.5% tenaga kesehatan di daerah terpencil juga mengharapkan adanya kedekatan dengan keluarga. adalah gaji/tunjangan. Artinya sebanyak 36% tenaga kesehatan didaerah terpencil merasa tidak menerima insentif dari pemerintah. baik yang bertugas di kecamatan terpencil dan tidak terpencil. perlu dipertimbangkan upaya untuk meningkatkan jumlah pustu atau polindes di daerah seperti ini.10.3 92. Persentase ini lebih kecil dibandingkan dengan persentase tenaga kesehatan di daerah tidak terpencil. Hasil kajian ini justru menunjukkan bahwa insentif dari pemda lebih banyak diterima oleh tenaga di kecamatan tidak terpencil (93% tenaga kesehatan di kecamatan tidak terpencil menerima insentif dibandingkan dengan 64% pada tenaga kesehatan di daerah terpencil). lain Akses ke fasilitas umum Kedekatan dengan keluarga Kemudahan ijin praktek Peningkatan karir Fasilitas (rumah.4 20.3 92. 44 . pangkat. Akan tetapi besar insentif yang diterima masih belum sesuai dengan harapan tenaga kesehatan.5 15. Sebanyak 4 dari 10 tenaga kesehatan di kecamatan terpencil menyatakan mempunyai rencana untuk pindah ke wilayah lain. dan fasilitas lainnya). baik yang bekerja di kecamatan terpencil maupun tidak terpencil (77. Terpencil Kec.6 Kec.9% responden dari kecamatan tidak terpencil dan 76% dari kecamatan terpencil menyatakan insentif yang diberikan tidak sesuai dengan harapan mereka).3 6.7 10.1 20. Adapun bentuk insentif yang paling banyak diterima adalah insentif finansial. Sedangkan pada kecamatan yang tidak terpencil. Sekitar 20. kemudian diikuti fasilitas (rumah.8 0 0. Oleh karena itu. peningkatan status (karir. alat informasi. dan peningkatan karir. fasilitas. untuk mendekatkan akses masyarakat di daerah terpencil kepada fasilitas kesehatan. dll) Gaji/Tunjangan 12.3 59 66. alat info.

9% di kecamatan tidak terpencil. 2002).hanya 2 dari 10 yang mempunyai rencana untuk pindah ke wilayah lain.8 0. Sedangkan insentif yang lebih menarik hanya menjadi alasan bagi 10.6 0. kapasitas fiskal sedang 9 kab/kota dan kapasitas fiskal rendah 21 kab/kota. Persentase tenaga kesehatan Puskesmas yang mempunyai rencana pindah dan alasan kepindahannya Alasan Kepindahan Insentif Yang Lebih Menarik Pengembangan Karir Dekat Dengan Keluarga Keamanan Peningkatan Pendidikan Sekolah Persentase Responden Kec. D.8 35. dengan persentase tertinggi pada daerah dengan fiskal kapasitas rendah (65%). Tabel 4.1 1. Tidak Terpencil Kec.8 47. secara umum dapat dikatakan bahwa situasi ketenagaan di kabupaten tertinggal dan kecamatan terpencil ditandai dengan rasio tenaga kesehatan per puskesmas yang lebih kecil. Dari tabel tersebut terlihat bahwa ketersediaan tenaga di Puskesmas menurut persepsi responden di daerah dengan fiskal kapasitas rendah.6 Dua alasan utama rencana kepindahan adalah kedekatan dengan keluarga dan pengembangan karir. dukungan pustu dan polindes yang lebih sedikit. Di kecamatan terpencil.13. Terpencil 10. baik bagi tenaga di kecamatan terpencil maupun tidak terpencil. Hal terjadi kemungkinan karena pindah ke daerah baru tidak menjamin adanya peningkatan insentif yang lebih baik. Sebagai rangkuman. serta rencana kepindahan yang lebih tinggi. sedang dan tinggi relatif sama yaitu masih mengalami kekurangan. 45 . 538 tahun 2002 (Depkeu.14 di bawah ini ditampilkan perbandingan ketersediaan tenaga puskesmas di daerah dengan fiskal kapasitas rendah. fasilitas dan peningkatan karir yang sangat tinggi. masalah keamanan masih menjadi kendala yang cukup besar dan menjadi alasan tenaga kesehatan Puskesmas untuk pindah ke lokasi lain. proporsi PNS yang lebih sedikit dan honor daerah dan PTT yang lebih tinggi. Pada Tabel 4.9 5. jangkauan desa terpencil yang dilayani lebih luas.9% bagi tenaga di kecamatan tidak terpencil dan 5.9 41. harapan terhadap insentif finansial. Yang menarik diperhatikan adalah kenyataan walaupun hampir semua tenaga kesehatan mengharapkan peningkatakan insentif finansial.4 2. Akan tetapi justru kedekatan keluarga dan pengembangan karir menjadi lebih penting bagi tenaga kesehatan baik di daerah terpencil maupun tidak terpencil.8 11. namun insentif bukan menjadi alasan utama rencana kepindahan. Alasan rencana kepindahan tenaga kesehatan dapat dilihat pada tabel berikut. kab/kota lokasi penelitian dengan kapasitas fiskal tinggi terdapat 2 Kab/kota. Distribusi Tenaga Kesehatan di Puskesmas di Kapasitas Fiskal Daerah Pada kajian ini.3 41. menurut pembagian kemampuan fiskal oleh KMK Menteri Keuangan No.4 2. sedang dan tinggi pada lokasi kajian.

16.1 3.dll).0 64.16 Persentase tenaga kesehatan yang mengharapkan insentif dan jenis insentif yang diharapkan Janis Insentif yang Diharapkan Gaji/Tunjangan Peningkatan Karir Fasilitas (rumah. Tabel 4.8%. kendaraan.1 17.0 7.0 20. kendaraan.0 33.7 0 33.15 Insentif yang diterima tenaga kesehatan dari Pemda menurut kapasitas fiskal daerah Insentif yang Diterima dari Pemda Finansial Fasilitas (rumah.0 5.7 17. pangkat. 17.4 7. Sedangkan jenis insentif yang paling diharapkan oleh tenaga kesehatan adalah gaji/tunjangan.3 42.9 26.3 52.3%.9 33.7 46 . maupun rendah yaitu masing-masing 33.5 33.9 0. Tabel 4. Adapun jenis insentif yang paling banyak diterima adalah insentif dalam bentuk finansial.3 7. kendaraam.4 60. dll) Peningkatan Status (karir.0 53.15. alat infomasi.5 100.8 16.0 33.3 Sedangkan insentif yang diberikan oleh Pemda terhadap tenaga puskemas terutama diberikan pada tenaga kesehatan puskesmas yang terletak pada daerah dengan fiskal kapasitas rendah.8 8. kendaraan.9 0. pengangkatan PNS) Percepatan masa Bakti Lainnya Responden di daerah fiskal kapasitas (%) rendah sedang tinggi 82. sedang.7 100.0 88.0 50.4 15.0 68.8% dan 59% tenaga yang menerima insentif. fasilitas (rumah. Secara rinci jenis insentif yang diharapkan oleh tenaga kesehatan di puskesmas ditampilkan pada tabel 4. sedang.6 86.0 30.0 0. dll) Kemudahan Ijin Praktek Kedekatan Dengan Keluarga Akses Ke Fasilitas Umum Peluang Bekerja Di Fasilitas Kes. pangkat.4 33.9%.3 50. Hal ini terbukti dari hasil analisis bahwa insentif dari Pemda yang diterima tenaga kesehatan Puskesmas pada daerah fiskal kapasitas rendah lebih tinggi yaitu 62.3 5. maupun tinggi.14. dll) pada semua responden di daerah dengan fiskal kapasitas rendah. Lain Lingkungan Sosial Budaya Lainnya Responden di daerah fiskal kapasitas (%) rendah sedang tinggi 93.6%. Ketersediaan tenaga Puskesmas di daerah menurut kapasitas fiskal Ketersediaan Tenaga di Puskesmas Kurang Cukup Berlebih Responden di daerah fiskal kapasitas (%) Rendah Sedang Tinggi 65.6 31.Tabel 4.5 0.1 66. Secara rinci besarnya persentase masing-masing jenis insentif ditampilkan pada tabel 4.0 11. pengingkatan karir dan fasilitas (rumah. dan 19.3 0 0 Insentif yang diterima oleh tenaga kesehatan di puskesmas ternyata masih belum memenuhi harapan baik yang bermukim di daerah dengan fiskal kapasitas tinggi. dan lain-lain).0 1.0 5. alat info.3 0.0 20.8 2. sedangkan pada daerah fiskal kapasitas sedang dan tinggi. dan peningkatan status (karir. masing-masing 57.2 0.

jika dirinci menurut jenis pelatihan yang diikuti.79 16. frekuensi pelatihan pertahun yang paling banyak diikuti oleh petugas Puskesmas adalah 1-3 kali (51.1 0.79 11. KIA.7 1.7 16.17.7% dan terakhir daerah dengan fiskal kapasitas tinggi 25. sedangkan sisanya adalah pelatihan manajemen. Tabel 4. dan manajemen mutu. imunisasi. dan 6-10 kali ( 25. sanitasi.7%. kesehatan reproduksi. Puskesmas Pembantu (Pustu).7 Pembinaan Karir Tenaga Kesehatan Pembinaan karir tenaga kesehatan antara lain dapat berupa peningkatan kemampuan teknis dan kemampuan manajerial. Dilihat dari frekwensi pelatihan dapat diasumsikan bahwa kegiatan pembinaan karir melalui 47 .17.7 50.0 8. Berdasarkan data survei.9 18. Jenis pelatihan teknis fungsional yang diikuti antara lain mengenai pelatihan keperawatan. adanya peluang untuk tour of duty dan tour of area.4 100. Peningkatan kemampuan teknis selain dapat diperoleh melalui pendidikan formal. Alasan Rencana Kepindahan Tenaga Kesehatan di Puskesmas Alasan Pindah Pengembangan Karir Dekat Dengan Keluarga Insentif Yang Lebih Menarik Keamanan Lainnya E.0 Selanjutnya. Sedangkan pelatihan manjemen antara lain meliputi pelatihan manajemen puskesmas.50 50.1 25. dan gizi.0 41.40%) mengikuti pelatihan teknis fungsional. penyakit menular. 1 2 3 4 Frekwensi Pelatihan 1-3 kali 4-5 kali 6-10 kali Lebih dari 10 kali Jumlah Jumlah 95 34 46 8 % 51. Alasan kepindahan tenaga kesehatan sebagian besar untuk yang tinggal di daerah dengan fiskal kapasitas sedang dan tinggi yaitu pengembangan karir (50 % dan 41. Tabel 4.1 4.6 25.Rencana untuk pindah tenaga kesehatan di puskesmas. sebagian besar (66. dan berbagai pelatihan baik pelatihan teknis fungsional maupun pelatihan manajemen.0 1. tenyata banyak disampaikan oleh responden tenaga kesehatan yang tinggal pada daerah wilayah dengan fiskal kapasitas sedang sebanyak 66. Frekwensi Pelatihan Yang Pernah Diikuti Responden No.9%). disusul daerah dengan fiskal kapasitas rendah 26. Secara rinci alasan kepindahan tenaga kesehatan di puskesmas ditampilkan pada tabel 4.1 16. pengadaan barang dan jasa. serta pemberian insentif yang tepat.6%.93 11.00 11.1%). adannya peluang untuk menduduki jabatan tertentu.7%) sedangkan di daerah dengan fiskal kapasitas rendah adalah dekat dengan keluarga (50%). Responden di daerah fiskal kapasitas (%) Rendah sedang tinggi 37.18.

Alasan Pindah Tenaga Kesehatan Puskesmas No.19.20. dan penyediaan fasilitas (antara lain perumahan. Tabel 4.7 1. kendaraan.3%). Tabel 4.pelatihan relatif memadai. Begitu pula halnya dengan jenis pelatihan yang dilakukan sudah menunjang tugas pelayanan kesehatan yang menjadi tugas pokok Puskesmas. dan sekitar 36. Pendapat ini sudah menunjukkan kecenderungan yang berbeda dengan beberapa waktu yang lalu bahwa Puskesmas harus dipimpin oleh seorang dokter. sebagian besar (73%) menyatakan tidak merencanakan untuk pindah.1 1. 1 2 3 4 5 Alasan Pindah Insentif Yang Lebih Menarik Pengembangan Karir Dekat Dengan Keluarga Keamanan Lainnya Jumlah Jumlah 7 29 31 1 4 % 9. Puskesmas telah dipimpin oleh Sarjana Kesehatan Masyarakat. Persepsi Responden Tentang Latar Belakang Pendidikan Jabatan Kepala Puskesmas No.3 43.7 40. Saat ini di beberapa daerah. Dari responden yang menyatakan akan pindah. mungkin hal ini karena hambatan administrasi. sebagian besar (69%) menyatakan akan pindah setelah dua tahun.1%) dan pengembangan karir (40. Pertimbangan untuk pindah tempat kerja yang disampaikan oleh responden sebagian besar adalah alasan dekat dengan keluarga (43. Pembinaan karir juga dapat dilihat dari peluang untuk memperoleh jabatan di Puskesmas. Pemberian insentif yang tepat sesuai kebutuhan merupakan salah satu instrumen pembinaan pegawai.4 5. aperalatan komunikasi). 48 .7 % menyatakan Sarjana Kesehatan Masyarakat.9 100 Tour of duty (pindah tugas) dan tour of area (pindah tempat) merupakan salah satu instrumen untuk pembinaan pegawai.5%) menyatakan bahwa untuk menduduki jabatan Kepala Puskesmas latar belakang pendidikan yang diperlukan adalah dokter. 1 2 3 Latar Belakang Pendidikan Dokter Sarjana Kesehatan Masyarakat Lainnya Jumlah Jumlah 166 99 5 270 % 61. sisanya sarjana lain. Data survei menunjukkan terdapat tiga jenis insentif yang paling diharapkan oleh petugas Puskesmas di seluruh lokasi kajian diperoleh dari Pemerintah Daerah yaitu berupa pemberian gaji/tunjangan yang lebih baik. Sebagian besar responden (61. Insentif lainnya yang diharapkan dapat diperoleh adalah kemudahan mendapatkan izin praktek dan kedekatan dengan keluarga.0 Dari data tersebut nampak bahwa perpindahan tenaga antarpuskesmas tidaklah mudah.6 100. peningkatan karir. sedangkan sisanya (27%) merencanakan akan pindah.5 36. Data survei menunjukkan bahwa dari keseluruhan responden.

7 5. Pada survei tersebut ditemukan.6 65. praktek dokter (28%) dan praktek perawat dan bidan (25%).3 19. kendaraan). Penjelasan petugas tentang semua hal yang berkaitan dengan penyakit termasuk memberi kesempatan kepada responden untuk bertanya pada petugas jika informasi yang diberikan tidak jelas. Dalam Susenas 2004 dikumpulkan informasi tentang pemanfaatan fasilitas kesehatan dan penilaian nasyarakat tentang ketanggapan (responsiveness) pelayanan rawat jalan dan rawat inap. Diantara penduduk yang mengeluh sakit.9 0. Dari mereka yang rawat jalan. Proporsi terbesar yang menyatakan sangat puas/puas adalah mereka yang 49 .4 Sedangkan bagi tenaga kesehatan yang ditempatkan di daerah terpencil. Lama waktu menunggu untuk mendapatkan pelayanan (setelah pendaftaran sampai mendapat pelayanan) 2. dan peningkatatan status kepegawaian (misalnya kenaikan pangkat. pengangkatan sebagai CPNS) serta adanya percepatan masa bakti. Kepuasan pelayanan kesehatan yang meliputi kepuasan terhadap sikap tenaga kesehatan dalam mengobati/ memeriksa. Persentase tertinggi untuk lama waktu tunggu kurang dari 30 menit adalah praktek petugas kesehatan (85%).21. Insentif Yang Paling Banyak Diharapkan oleh Responden dari Pemda No. ketersediaan/ kelengkapan peralatan kesehatan dan obat-obatan yang diberikan 3. Poliklinik (69%).Tabel 4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Harapan Insentif Gaji/Tunjangan Peningkatan Karir Fasilitas (rumah. Rumah Sakit dan praktek dokter. Terdapat 5-13% yang memerlukan waktu tungggu lebih dari 60 menit yaitu di Puskesmas/Pustu.9 8. Puskesmas dan Pustu lebih banyak dimanfaatkan oleh penduduk yang bemukim di Kawasan Timur Indonesia (KTI). kendaraan. fasilitas (antara lain perumahan. Persentase responden yang menyatakan sangat puas/puas terhadap pelayanan rawat jalan berkisar antara 54-79%. penduduk yang mengeluh sakit sebulan terakhir sebanyak 27%.1 6. jenis insentif khusus yang paling banyak diharapakan adalah insentif finansial. F. Tanggapan Masyarakat Data dan informasi tentang tanggapan masyarakat terhadap pelayanan yang diberikan oleh Puskesmas diperoleh dari data sekunder yang berasal dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2004 substansi kesehatan dan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004. dll) Kemudahan Ijin Praktek Kedekatan Dengan Keluarga Peluang Bekerja Di Fasilitas Kes. sedangkan ke RS Pemerintah (5%). fasilitas pelayanan kesehatan yang paling banyak dimanfaatkan adalah Puskesmas (40%).2 63. sebesar 39 % melakukan rawat jalan. alat info.6 15. Lain Akses Ke Fasilitas Umum Lainnya Lingkungan Sosial Budaya Jumlah 250 176 171 53 43 22 18 16 1 % 92. Ketanggapan terhadap rawat jalan meliputi tiga domain yaitu: 1.

Dari sekitar 14% keluarga miskin yang sakit dalam satu bulan terakhir. Pada saat itu pemerintah sedang melaksanakan Program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK) sebagai respons terhadap krisis ekonomi. dan penjelasan petugas kesehatan yang berkaitan dengan penyakit. Penelitian Sudiro (1999) dilakukan untuk melihat pelayanan pelayanan kesehatan di Puskesmas untuk keluarga miskin. masih rendah jika dibandingkan dengan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. teman pada saat dirawat. tidak puas berbicara secara pribadi dan tidak ada kebebasan memilih fasilitas serta tenaga kesehatan (27%) dan lama waktu menunggu (26%). 50 . menurut survei ini ketanggapan Puskesmas/Pustu yang diukur melalui tiga domain yaitu lama waktu tunggu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Proporsi terbesar responden yang menyatakan pemberian penjelasan sangat jelas/jelas adalah RS Swasta (72%). praktek tenaga kesehatan lain (24%) dan praktek dokter (23%). (4) Keikutsertaan responden dalam pengambilan keputusan. kepuasan pelayanan kesehatan. Fasilitas yang diminati pada saat membutuhkan pelayanan rawat jalan adalah Puskesmas (36%). Pemberian penjelasan petugas kesehatan tentang penyakit menurut fasilitas kesehatan dinilai sangat jelas/jelas berkisar antara 40-72%. (3) Kejelasan petugas menerangkan segala sesuatu. dan (8) Kemudahan dikunjungi keluarga. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004. diikuti praktek dokter (70%).memanfaatkan pelayanan rawat jalan di RS Swasta (79%). RS Pemerintah (67%). praktek dokter (76%). Poliklinik (70%) dan RS Pemerintah (68%). Dapat disimpulkan. Dari kedua survei tersebut dapat disimpulkan bahwa ketanggapan Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan. G. Poliklinik (67%) dan Puskesmas/Pustu (52%). (7) Kebersihan ruang termasuk kamar mandi. (5) Dapat berbicara pribadi dengan petugas kesehatan. Pada rawat jalan persentase tertinggi untuk pengalaman/ketanggapan kurang baik adalah tidak dapat ikut mengambil keputusan tentang perawatan kesehatan dan pengobatan (33%). sedangkan di Puskesmas/Pustu (55.5%). kunjungan ke Puskesmas meningkat setiap bulannya yang disebabkan berkurangnya hambatan biaya untuk berobat. Hampir seluruh keluarga miskin yang berobat merasa puas terhadap pelayanan yang diberikan. (2) Keramahan petugas dalam menyapa dan berbicara. dua diantaranya dilakukan oleh Sudiro (1999) dan Bappenas (2004). khusunya kegiatan rawat jalan memberikan gambaran yang kurang memuaskan bagi masyarakat yang dilayaninya. (6) Kebebasan memilih fasilitas dan petugas kesehatan. rata-rata jumlah tenaga Puskesmas masih belum bekerja lebih berat dengan dilaksanakannya program JPSBK. Kepuasan dalam pelayanan kesehatan pada rawat jalan dan rawat inap dinilai dari 8 aspek pengalaman reponden yaitu: (1) Lama waktu menunggu. Peran Puskesmas Bagi Penduduk Miskin. Kajian tentang peran Puskesmas dalam pelayananan kesehatan bagi penduduk miskin telah banyak dilakukan. 86% diantaranya mencari pengobatan ke Puskesmas. Dari segi tenaga dapat disimpulkan. menunjukkan sebesar 80% keluarga miskin telah mendapatkan Kartu Sehat (KS). Dalam penelitiannya di 69 Puskesmas di Jawa Timur. menunjukkan sebagian besar penduduk (94%) usia 15 tahun atau lebih mendapatkan pelayanan rawat jalan.

5 kunjungan per orang per tahun. Kunjungan gakin ini merupakan salah satu sasaran utama dalam program pelayanan penduduk miskin dengan tujuan untuk mempertahankan atau bahkan bila mungkin meningkatkan akses masyarakat miskin kepada pelayanan kesehatan. Salah satu indikator kinerja yang digunakan adalah jumlah kunjungan per keluarga miskin (gakin) per tahun ke fasilitas pelayanan kesehatan. sama dengan akses penduduk secara umum. Pada tahun 2005. Askes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa contact rate penduduk miskin adalah sekitar 0. Dengan demikian secara umum dapat dikatakan bahwa program JPSBK/PKPS-BBM dapat mempertahankan akses penduduk miskin kepada pelayanan kesehatan. kebijakan pelayanan kesehatan bagi gakin yang dilaksanakan melalui Puskesmas pada prinsipnya melanjutkan kebijakan tahun-tahun sebelumnya. Dari kedua studi tersebut dapat disimpulkan bahwa peranan Puskesmas dalam memelihara akses penduduk miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar melalui pelaksanaan prgram JPSBK/PKPS-BBM cukup efektif. Angka ini kurang lebih sama dengan contact rate penduduk secara umum yang dihitung atas dasar analisis data Susenas. antara lain menilai kinerja program pelayanan kesehatan untuk keluarga miskin terutama yang dilaksanakan melalui Program JPSBK/PKPS-BBM. Perubahan kebijakan dan efektivitasnya perlu dikaji lebih lanjut. 51 .Penelitian Bappenas (2004). Yang berbeda adalah pelayanan kesehatan di RS yang dalam pelaksanaannya bekerjasama dengan PT.

6% kab/kota) merupakan wenangan BKD 5.61/2004 mengenai pedoman perencanaan. dengan alasan utama kurangnya sosialisasi. sebagian besar (52.2 % puskesmas di lokasi penelitian. Kebijakan nasional tentang tenaga kesehatan telah disusun dalam bentuk peraturan perundang-undangan. proporsi pegawai PNS yang lebih sedikit dan pegawai honor daerah dan PTT yang lebih tinggi. Secara nasional dilihat dari rasio terhadap jumlah penduduk. fasilitas dan peningkatan karir yang sangat tinggi. Pada kabupaten yang menggunakan pedoman dua metoda yang paling banyak digunakan adalah Ratio Method dan Health Services Demand Method. Laboran dan Sanitarian. dengan persentase tertinggi pada Sarjana Kesehatan Masyarakat. Banten. Daerah juga telah melakukan perencanaan untuk hampir semua jenis tenaga. namun jika dilihat dari rasio per penduduk. pengadaan. harapan terhadap insentif finansial. tetapi masih memerlukan orientasi/adaptasi ataupun pelatihan di puskesmas. Secara umum situasi ketenagaan di daerah tertinggal dan terpencil ditandai dengan rasio tenaga kesehatan per puskesmas yang lebih kecil. dan terbatasnya kapasitas perencana. 6. dukungan pustu dan polindes yang lebih sedikit. serta penempatan. karena kurangnya koordinasi antara Dinas Kesehatan dengan BKD. pada semua jenis tenaga kesehatan. Kriteria utama penempatan dokter umum dan bidan adalah puskesmas yang tidak mempunyai dokter dan desa yang tidak mempunyai bidan. Kesimpulan 1. 3. 4. 7. 2.6%) Kabupaten/Kota lokasi kajian tidak menerapkan Kepmenkes No. Menghadapi kekurangan ini sebagian besar kab/kota mengusulkan kebutuhan tenaga ke Pemerintah Pusat. Proses pengadaan dan penempatan yang kurang memuaskan juga dirasakan separuh dari responden. distribusinya lebih menyebar. Sebagian besar tenaga kesehatan berlokasi di Jawa dan Bali. meliputi aspek perencanaan kebutuhan.BAB V. terdapat kekurangan 66. Kalimantan Tengah. Jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga.6% kab/kota) ditentukan bersama oleh Dinas Kesehatan dan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) dan sepertiga (31. Sebagian besar responden tenaga kesehatan di puskesmas (70. dan NTB. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Sedangkan tiga provinsi dengan rasio terendah adalah Jawa Barat. Formasi yang tersedia. terbatasnya data dan informasi. Tiga provinsi dengan rasio tertinggi adalah Kalimantan Timur.1% tenaga kesehatan di puskesmas. jangkauan desa terpencil yang dilayani lebih luas. Permasalahan dapat timbul jika penempatan tidak sesuai dengan usulan. rasio ini juga masih jauh tertinggal. Kekurangan tenaga juga dirasakan oleh 58.6%) menyatakan kesesuaian antara latar belakang pendidikan dengan tugas di puskesmas. dan Bali. Terdapat kesenjangan antara jumlah (di 46% kab/kota) dan jenis (36% kab/kota) tenaga yang diusulkan dengan formasi yang tersedia. Dari 35 kab/kota lokasi kajian. Hal ini berarti tidak semua lulusan pendidikan tenaga kesehatan secara otomatis langsung dapat menjalankan tugas dan fungsinya di puskesmas. Masalah yang dihadapi terutama adalah keterbatasan formasi dan keterbatasan dana. khususnya untuk tenaga dokter umum Rumah Sakit dan Puskesmas. tenaga kesehatan di Indonesia masih belum mencukupi. 52 . Namun lebih dari separuh (52. serta rencana kepindahan yang lebih tinggi.

9. dan sekitar 36. perlu diperhatikan masalah insentif yang seharusnya lebih baik daripada petugas di kecamatan yang tidak terpencil. kepuasan pelayanan kesehatan. masih rendah jika dibandingkan dengan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. kendaraan. B. pemerintah pusat dan propinsi dapat membantu dalam sosialisasi metode perencanaan. 5. Oleh karena itu secara nasional kebijakan untuk pengadaan dokter Puskesmas ini dapat dijadikan suatu prioritas. Perlu dikembangkan sistem informasi tenaga kesehatan secara terpadu dan menyeluruh dalam rangka memanfaatkan data ketenagaan untuk perencanaan kebutuhan dan penyediaan tenaga kesehatan. pendayagunaan tenaga dan penyediaan tenaga. 3. peningkatan karir. misalnya dengan menajwab dua persamalah utama pengadaan tenaga kesehatan yaitu terbatasnya formasi dan terbatasnya dana. 2.5%) menyatakan bahwa untuk menduduki jabatan Kepala Puskesmas latar belakang pendidikan yang diperlukan adalah dokter. Insentif lainnya yang diharapkan dapat diperoleh adalah kemudahan mendapatkan izin praktek dan kedekatan dengan keluarga. alat) serta kemudahan karir. Untuk peningkatan akses masyarakat kepada tenaga dan fasilitas kesehatan di daerah terpencil. Sebagian besar responden (61. termasuk fasilitas (rumah. perlu dipetimbangkan kemungkinan untuk memperbanyak pustu dan polindes. Ketanggapan Puskesmas/Pustu yang diukur melalui tiga domain yaitu lama waktu tunggu untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Pendapat ini sudah menunjukkan kecenderungan yang berbeda dengan beberapa waktu yang lalu bahwa Puskesmas harus dipimpin oleh seorang dokter. Perlu dimantapkan keterkaitan perencanaan. Perubahan kebijakan dalam pelayanan kesehatan bagi masyarakat miskin dan efektivitasnya perlu dikaji lebih lanjut. Ketanggapan Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan. peningkatan kapasitas perencana dan pengumpulan data dan informasi.7% menyatakan Sarjana Kesehatan Masyarakat. Pemerintah daerah perlu melakukan pembagian tugas yang jelas.8. 11. 53 . dan penjelasan petugas kesehatan yang berkaitan dengan penyakit. 6. Untuk mengatasi berbagai kendala dalam perencanaan ketenagaan di daerah. pengadaan dan penempatan tenaga agar tercapai keserasian antara kebutuhan. Saat ini di beberapa daerah. peralatan komunikasi). Puskesmas telah dipimpin oleh Sarjana Kesehatan Masyarakat. dan menyediakan pendanaan. khususnya kegiatan rawat jalan memberikan gambaran yang kurang memuaskan bagi masyarakat yang dilayaninya. Untuk meningkatkan atau mempertahankan tenaga kesehatan di kecamatan terpencil. sisanya sarjana lain. 10.. dan penyediaan fasilitas (antara lain perumahan. sehingga kriteria penempatan yang digunakan daerah biasanya berdasarkan pada kekosongan tenaga dokter di Puskemas. Peranan Puskesmas dalam memelihara akses penduduk miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dasar melalui pelaksanaan program JPSBK/PKPS-BBM cukup efektif. 4. Hingga saat ini masih banyak puskesmas yang belum mempunyai dokter. Terdapat tiga jenis insentif yang paling diharapkan oleh petugas Puskesmas diperoleh dari Pemerintah Daerah yaitu berupa pemberian gaji/tunjangan yang lebih baik. Rekomendasi 1.

pelibatan pasien untuk pengambilan keputusan.7. registrasi dan lisensi tenaga kesehatan 8. terutama dalam sertifikasi. 54 . Ketanggapan pelayanan Puskesmas terhadap masyarakat perlu ditingkatkan melalui pemberian informasi yang baik. kebebasan memilih fasilitas kesehatan dan mempercepat waktu tunggu. Dalam rangka menjamin mutu tenaga kesehatan perlu dikembangkan upaya peningkatan mutu institusi pendidikan dan peran serta organisasi profesi serta masyarakat lainnya.

Statistis Kesejahteraan Rakyat 2004. 18. 2004. 2005. Kebijakan Penempatan Tenaga Kesehatan di Institusi Pelayanan Kesehatan. 2005. 11. 10. (Makalah disampaikan pada Pertemuan Kebijakan Perencanaan Tenaga Bidang Kesehatan di Hotel Jayakarta. September 1999. 2005. BPS dan ORC Macro. 16. 4 Agustus 20050 Badan Pusat Statistik (BPS). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2002-2003. (Makalah disampaikan pada Pertemuan Kebijakan Perencanaan Tenaga Bidang Kesehatan di Hotel Jayakarta. 2004. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2004. 14. 4 Agustus 2005) Soeparan. Peraturan Presiden RI No. 4 Agustus 2005) Ruswendi. 2005. 2005. Jakarta. Departemen Kesehatan RI. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2004Subtansi Kesehatan. Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1199/Menkes/Per/X/2004 Tentang Pedoman Pengadaan Tenaga Kesehatan Dengan Perjanjian Kerja di Sarana Kesehatan Milik Pemerintah. Jakarta. 2005. Jakarta. 13. 3. 2004. 2004. Abdurachman. 2005. Khusus. 7. 6.2005. Kabupaten/Kota Serta Rumah Sakit Departemen Kesehatan RI. 1999. Departemen Kesehatan RI. 2003. Jakarta: Badan Litbangkes. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. Sudiro. Laporan Kajian Kebijakan Perencanaan dan Pembiayaan: Pelayanan Kesehatan Bagi penduduk Miskin. Ed.DAFTAR PUSTAKA 1. Permasalahan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan (Makalah disampaikan pada Pertemuan Kebijakan Perencanaan Tenaga Bidang Kesehatan di Hotel Jayakarta. 15. 5. 8. Sistem Kesehatan Nasional Departemen Kesehatan RI. Pelayanan Kesehatan Puskesmas Dalam Program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPSBK). 9. (Makalah disampaikan pada Pertemuan Kebijakan Perencanaan Tenaga Bidang Kesehatan di Hotel Jayakarta. Rencana Strategis Departemen Kesehatan 20052009 Departemen Kesehatan RI. Jakarta: Badan Litbangkes. 55 . Jurnal Kedokteran dan Farmasi Medika. Profil Kesehatan Indonesia 2003. 2005.7 Tahun 2005 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009 Bappenas. Republik Indonesia. Untung. 2005. S. Kebijakan Pengadaan Tenaga Kesehatan Melalui Pendidikan Tenaga Kesehatan. 2004. 12. Jakarta. 4. 2. Kebijakan Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kesehatan. 1999. 17. Analisis Situasi dan Kecenderungan Pembangunan Kesehatan 2000-2005 (Rancangan 12 Desember 2005) Departemen Kesehatan RI. 2005 Departemen Kesehatan RI. 2005.81/ Menkes/SK/I/2004 tentang Pedoman Penyusunan Perencanaan Sumberdaya Manusia Kesehatan Di Tingkat Provinsi. Rencana Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat 2010 Departemen Kesehatan RI. Departemen Kesehatan RI. 4 Agustus 2005 Suseno. D.

Sekretariat Jenderal Departemen Kesehatan.850/Menkes/SK/V/2000 tentang Kebijakan Pengembangan Tenaga Kesehatan Tahun 2000-2010 Direktorat Kesehatan Komunitas. 538 tahun 2002 tentang Kapasitas Fiskal Pemerintah Indonesia. 56 . Departemen Keuangan. 24. Departemen Kesehatan RI. Kajian Kebijakan Pendayagunaan Tenaga Kesehatan Republik Indonesia.19. 22. 2002. 25. 1996. Peraturan Pemerintah RI Nomor 32 Tahun 1996 Tentang Tenaga Kesehatan Pemda Kabupaten Nabire. Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 21. Departemen Kesehatan RI. 2004. 2004 Pusat Kajian Pembangunan Kesehatan. Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat. Data Dasar Puskesmas Tahun 2004. Keputusan Menteri Keuangan No. 2004. 2004. 2004. Laporan Pertama Tujuan Pembangunan Millenium. 20. 23. Laporan Pelaksanaan Tugas Dinas Kesehatan Tahun 2004.

Hal ini semakin diperburuk dengan distribusi tenaga kesehatan yang masih belum merata. Banyak hal menarik yang muncul dari kajian ini baik yang menguatkan maupun yang bertolak belakang dengan berbagai asumsi dan data yang ada. Hasil kajian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi Bappenas dan atau instansi pemerintah lainnya dalam mempertajam penyusunan kebijakan pembangunan kesehatan khususnya di bidang ketenagaan kesehatan di masa mendatang. Kajian mencoba menengok kebijakan tenaga kesehatan di tingkat kabupaten/kota. Apa yang dipaparkan dalam buku ini. 57 . distribusi tenaga di wilayah tertinggal dan terpencil. khususnya di tingkat nasional. mutu. merupakan hasil kajian tentang kebijakan perencanaan tenaga kesehatan di berbagai propinsi dan kabupaten pada tahun 2005. Saat Indonesia masih mengalami kekurangan tenaga kesehatan baik dalam hal jenis maupun jumlahnya.Halaman belakang Tenaga kesehatan merupakan salah satu pilar atau sub sistem kesehatan nasional. kendala-kendala yang dihadapi. dan upaya-upaya yang telah dilakukan. yang sangat penting artinya dalam upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->