Anda di halaman 1dari 3

Nama : Gigih Endra Utama Putra

NIM : 10206244029
Jurusan : Pendidikan Seni Rupa / FBS

Nostalgia dan Sengketa Istimewa Yogjakarta


Jujur, sebenarnya tulisan ini bukanlah sepenuhnya hasil pemikiran saya. Ini adalah
hasil baca dari indera pendengaran dan penglihatkan yang hasilnya tervisualisasikan dalam
kata-kata. Serta tidak lupa saya mencoba berdiskusi dengan para ahli dan orang tua, agar
masalah ini dapat di lihat dari sudut pandang yang lebih dewasa.

Tentang keistimewaan Yogyakarta, adalah wajar bila tema ini diangkat. Dosen mata
kuliah Bahasa Indonesia, sepertinya tahu betul mengenai topik yang sedang hangat di media.

Entah apa yang ingin dirubah dengan pemerintahan Yogyakarta yang damai dan
harmonis, berpadu indah meski penuh dengan multikultural. Serambi Madinah itulah sebutan
untuk Yogyakarta yang kemarin saya baca melalui koran. Kerapian Yogyakarta akan selalu
tercermin dengan kearifan lokal serta ramah senyum dari pejalan kaki dan pedagang kaki
lima. Bahasan ini membuat saya ingat tentang lagu dari Kla Project, Yogyakarta.

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu


Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat
Penuh selaksa makna
Terhanyut akan nostalgia saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja

Di persimpangan , langkahku terhenti


Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera,
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri di tengah deru kotamu

Walau kini kau telah tiada tidak kembali


Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Izinkanlah aku untuk selalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati, tak terobati

Memanasnya isu tentang kasus pemerintahan Yogyakarta oleh Presiden Soesilo


Bambang Yudhoyono tentang pemerintahan Republik Indonesia yang tak seharusnya berjalan
melalui sistem monarki. Pemerintah mencoba mengganti sistem pemerintahan monarki yang
rajanya adalah Sultan Hamengkubuwono X menjadi gubernur. Sistem monarki di nilai tidak
masuk dalam ranah demokrasi di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Sedangkan hari ini 13 Desember 2010 , di alun-alun Yogyakarta banyak para aktivis-
aktivis yang menyuarakan aspirasinya. Mulai dari mahasiswa sampai dengan rakyat sipil.
Dan di sana ada yang unik, spanduk dari Gerakan Rakyat Mataram (Geram) terbentang
panjang berukuran sekitar 5 meter. Bertuliskan SBY: Sumber Bencana Yogyakarta dengan
huruf “SBY” berwarna merah dan yang lainnya berwarna hitam, terlihat sangat mencolok dan
kontroversional. Ada juga rontek yang bertuliskan “Esbeye, karepmu piye?”

1
Di lihat dari situasinya, aksi ini dipicu karena sidang paripurna DPRD Yogyakarta
yang agendanya membahas masalah tersebut berlangsung hari ini. Penetapan Sri Sultan
Hamengkubuwono X dan Sri Pakualam IX sebagai Gubernur dan Wakil gubernur DIY. Saya
pun sebenarnya diajak oleh teman untuk melakukan aksi di jalan, tapi berhubung jam kuliah
yang padat dengan sangat kecewa saya hanya bisa mendoakan, semoga ditemukan jalan yang
terbaik bagi kota kita, Yogyakarta. Amin.

Tentang kebijakan ini, menurut saya pemerintah kurang begitu bisa menempatkan
prioritas tentang masalah-masalah yang seharusnya dihadapi oleh bangsa. RUU tentang
sistem monarki sebaiknya di tempatkan pada urutan sekian jauh dibawah, masih banyak
urusan yang lebih penting daripada sistem monarki. Pemerintahan yang kurang bijak akan
membawa amarah bagi warga dan masyarakat.

Masalah penting yang harus diprioritaskan, misalnya tentang korban pengungsian


dari ganasnya merapi yang hari ini masih berkecamuk. Tentang terhambatnya aliran sungai
code yang membanjiri sebagian wilayah Yogyakarta. Atau tentang pemulihan-pemulihan
berbagai sudut kerusakan di Indonesia akibat bencana.

Ada cerita waktu teman saya mudik, motornya mogok karena genangan air yang
membanjiri jalan setinggi 0,7 meter (di daerah Ambarukmo). Kita dapat mengambil hikmah,
tentunya hal tersebut sangatlah merepotkan, yang semula lalu lintas lancar kini harus
terhambat. Yang semula tenteram kini harus panik dan resah. Ini adalah isyarat bencana alam
yang harusnya dapat menyadarkan kita, khususnya pemerintah agar dapat berlaku lebih arif.
Itulah sedikit kesimpulan dari buku yang saya baca: Tarbawi edisi 239 tentang “Logika-
Logika Alam yang Kadang Gagal Kita Pahami.”

Dari sisi lain, tampaknya pemerintah kurang begitu paham mengenai sejarah
berdirinya Daerah Istimewa Yogyakarta. Yogyakarta yang dulunya bekas ibukota NKRI
adalah kerajaan yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengkubowo. Bersumber dari ayah saya
(Tarmanto) beliau bercerita bahwa Sri Sultan menolak menjadi bagian NKRI. Sultan menolak
dan dengan berbagai bujukan dan perjanjian, pada ujungnya setuju menjadi bagian NKRI
dengan syarat tertentu. Tapi dari media internet ada yang menyebutkan bahwa Yogyakarta
adalah daerah pertama yang dengan suka rela menyatakan bergabung dengan NKRI. Untuk
lebih jelas tentang sejarah daerah istimewa Yogyakarta bisa di cari di google.com.

Salah satu yang tersurat di dalam UU no.3 Tahun 1950, saya lupa bunyinya, intinya
adalah Yogyakarta di jadikan daerah Istimewa. Maksud daerah istimewa di sini adalah
mempunyai subtansi yang tidak terikat oleh aturan umum. Daerah istimewa mempunyai ciri
khas yang berbeda, punya nilai historis yang tinggi, dan punya andil yang berbeda dalam hal
kekuasaan. Tentunya subtansi dan historisnya akan berbeda jika dibandingkan dengan daerah
istimewa lain yaitu Nangroe Aceh Darussalam, dan Irian Jaya.

Dalam topik ini, Yogyakarta menjadi bagian dari NKRI tapi tetap Sultan
Hamengkubuwono yang menjadi raja sekaligus gubernurnya. Dengan kata lain tetap
menjalankan sistem keraton atau ke-monarki-annya tapi tetap terikat dengan ke-demokrasi-an
Republik Indonesia.

2
Mengutip petuah dari guru saya, “sejarah adalah cahaya masa lampau”. Saya baru
menyadari makna indah kata tersebut. Intinya kita bisa belajar dari sejarah. Semua
permasalahan dapat dipelajari melalui sejarah, semuanya, semuanya. Bahkan konflik,
perseteruan, kemiskinan, bencana, kekuasaan, perang dan fenomena lainnya yang terus
terulang dalam sejarah dapat kita pelajari dan kita kuak tabir hikmahnya. Melalui alasan
inilah pemerintah seharusnya bisa menghargai dan belajar dari sejarah.

Pembahasan ini akan terus mengalir seiring fenomena yang terus berjalan. Tapi
berhubung keterbatasan ruang dan waktu, saya cukupkan sekian opini “bodoh” ini. Semua
pendapat di atas adalah sebagian kecil dari pemikiran di kepala yang sulit diungkapkan dan
terlihat rancu. Tapi saya berharap tulisan ini dapat dicerna dan dapat ditangkap makna tanpa
adanya salah paham. Sekian dan terima kasih.

Jazakallah Khairon Katsyiron.