Anda di halaman 1dari 199

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

LAPORAN PEMBINAAN
JABATAN FUNGSIONAL
AUDITOR TAHUN 2008

Nomor : Lap -999/K/JF/2009.


Tanggal : 1 September 2009
KATA PENGANTAR

T untutan masyarakat kepada Pemerintah untuk segera mewujudkan


kepemerintahan yang baik merupakan tuntutan untuk terselenggaranya
pemerintah yang bersih, efektif, efisien, dan taat kepada peraturan
perundang-undangan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan melalui suatu sistem
akuntabilitas. Dalam hal ini pengawasan intern pemerintah memegang peranan penting
untuk memberikan keyakinan bahwa penyelenggaraan pemerintahan dan
pertanggungjawaban melalui sistem akuntabilitas telah dapat dilaksanakan seperti yang
diharapkan. Pengawasan intern pemerintah merupakan unsur manajemen Pemerintah yang
penting dalam rangka mewujudkan kepemerintahan yang baik.

Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang meliputi BPKP, Inspektorat Jenderal
Departemen, Inspektorat Utama/Inspektorat pada Kementerian dan Lembaga Pemerintahan
Non Departemen (LPND), serta Badan Pengawas Daerah (Bawasda)/Inspektorat
Provinsi/Kabupaten/Kota sebagai pelaksana pengawasan intern pemerintah harus mampu
merespon berbagai permasalahan dan perubahan yang terjadi, baik politik, ekonomi, dan
sosial melalui suatu program dan kegiatan yang ditetapkan dalam suatu kebijakan
pengawasan nasional yang berlaku secara menyeluruh untuk APIP Pusat dan Daerah.

Untuk dapat menciptakan hasil pengawasan APIP yang handal dan memenuhi
kebutuhan pemerintah, diperlukan auditor intern pemerintah yang profesional, berdaya guna
dan berhasil guna. Hal ini selaras dengan reposisi dan revitalisasi peran Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai Auditor Presiden yang profesional dan kredibel
yang berkomitmen mendorong terciptanya tata kepemerintahan yang baik dan pemerintahan
yang bersih, peningkatan pelayanan publik, dan percepatan pemberantasan korupsi. Untuk
itu, BPKP selaku Instansi Pembina Jabatan Fungsional Auditor (JFA) di lingkungan APIP terus
berupaya mengembangkan kapasitas pengawasan intern pemerintah yang professional dan
kompeten melalui program-program pembinaan aspek profesionalisme, sistem karier dan
sistem prestasi kerja sehingga terwujud auditor APIP yang profesional dan kompeten. Cita-

i
cita tersebut menjadi tujuan pembinaan yang tercermin dalam pernyataan visi dan misi,
tujuan, serta kegiatan dan kebijakan dari masing-masing unit kerja BPKP yang terlibat dalam
pembinaan JFA.

Perkembangan lingkungan pembinaan pada tahun 2008, terkait dengan terbitnya


Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 tanggal 28 Agustus 2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur
Negara (Permenpan) Nomor: PER/220/M.PAN/7/2008 tanggal 4 Juli 2008 tentang Jabatan
Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya, Peraturan Bersama Kepala BPKP dan Kepala BKN
Nomor : PER-1310/K/JF/2008 dan Nomor : 24 Tahun 2008 tanggal 11 November 2008 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya telah menggeser
paradigma profesi dan tuntutan kompetensi auditor intern pemerintah saat ini. Dengan
terbitnya PP Nomor 60/2008, diperlukan peranan APIP yang efektif dalam memperkuat dan
menunjang efektivitas pelaksanaan sistem pengendalian intern di lingkungan instansi
pemerintah. Peranan APIP harus dapat memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan,
kehematan, efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan tugas dan fungsi
instansi pemerintah; memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas manajemen
resiko dalam menyelenggarakan tugas dan fungsi instansi pemerintah; serta memelihara dan
meningkatkan kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah.
Tugas APIP untuk melakukan pengawasan intern atas penyelenggaraan tugas dan
fungsi intansi pemerintah termasuk akuntabilitas keuangan negara, dilakukan melalui audit,
reviu, evaluasi, pemantauan dan kegiatan pengawasan lainnya, secara independen dan
obyektif. PP Nomor 60/2008 mempertegas pelaksanaan audit intern di lingkungan instansi
pemerintah hanya dapat dilakukan oleh pejabat yang mempunyai tugas melaksanakan
pengawasan dan telah memenuhi syarat kompetensi keahlian auditor melalui keikutsertaan
dan kelulusan program sertifikasi. PP Nomor 60/2008 juga memperkuat dasar hukum bagi
BPKP selaku Instansi Pembina JFA dalam menetapkan kebijakan yang berkaitan dengan
program sertifikasi auditor.
Laporan Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor Tahun 2008 ini merupakan wujud
akuntabilitas BPKP dalam mempertanggungjawabkan pembinaan auditor selama tahun 2008
di lingkungan APIP kepada para pemangku kepentingan auditor. Untuk mengetahui

ii
keberhasilan pembinaan JFA dan keseimbangan dalam penyajian data kinerja, laporan ini
mencakup pula masukan dari persepsi/pendapat auditor dan pimpinan unit kerja APIP yang
dijaring melalui kuesioner.

Kami berharap laporan ini dapat menjadi sarana evaluasi atas pencapaian kinerja
BPKP dan masukan bagi Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Badan
Kepegawaian Negara (BKN), LAN, unit kerja APIP, dan instansi terkait lainnya dalam upaya
meningkatkan profesionalisme dan kinerja auditor intern pemerintah.

Kepada semua pihak yang telah menyumbangkan pikiran dan tenaganya dalam
penyusunan Laporan Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor Tahun 2008, kami sampaikan
terima kasih.

Jakarta, 1 September 2009


P.T. Kepala Badan Pengawasan
Keuangan dan Pembangunan,

KUSWONO SOESENO

iii
RINGKASAN EKSEKUTIF

P embinaan Jabatan Fungsional Auditor (JFA) merupakan


mewujudkan auditor intern pemerintah yang profesional dan kompeten
dalam menjalankan fungsi pengawasan atas
upaya

penyelenggaraan
pemerintahan umum dan pembangunan. Pembinaan yang dilaksanakan secara konseptual,
konsisten dan berkelanjutan pada gilirannya diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil
pengawasan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) sehingga APIP mampu
memberikan kontribusi positif dalam upaya pencapaian tujuan penyelenggara pemerintahan
dan pembangunan.

Penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem


Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), telah menggeser paradigma profesi dan tuntutan
kompetensi auditor intern pemerintah saat ini. Kompetensi auditor intern pemerintah
tersebut, harus dapat memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan,
efisiensi dan efektivitas pencapaian tujuan, dapat memberikan peringatan dini dan
meningkatkan efektivitas manajemen resiko, serta dapat memelihara dan meningkatkan
kualitas tata kelola penyelenggaraan tugas dan fungsi instansi pemerintah.

Kompetensi auditor intern pemerintah diwujudkan melalui pola pembinaan


jabatan fungsional pegawai negeri sipil auditor yang diterapkan BPKP selama ini, dengan tiga
pilar pembinaan yaitu Profesionalisme, Sistem Karier, dan Sistem Prestasi Kerja. Ketiga pilar
tersebut merupakan arah, tujuan dan ruang lingkup pembinaan JFA yang dilaksanakan oleh
Badan Pembangunan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai Instansi Pembina JFA.

Sejak dibentuknya JFA pada tahun 1996 sampai dengan akhir tahun 2008, unit
APIP yang telah menerapkan JFA sebanyak 220 unit dengan jumlah auditor secara
keseluruhan sebanyak 8.645 orang. Jumlah tersebut terdiri dari:

• APIP Pusat, yang terdiri dari BPKP dengan 3.907 auditor, 23 Inspektorat Jenderal (Itjen)
Departemen/Kementerian dengan 1.243 auditor, dan 15 Inspektorat Utama/Inspektorat

iv
Lembaga Pemerintahan Non Departemen (LPND) dengan 386 auditor (63,93% unit dari
seluruh 60 Itjen Departemen/Unit Pengawasan Kementerian/LPND yang ada termasuk
BPKP), dan

• APIP Daerah, sejumlah 181 Badan Pengawas Daerah (Bawasda)/Inspektorat


Provinsi/Kabupaten/Kota (34,67% unit dari seluruh 522 Bawasda/Inspektorat) dengan
3.109 auditor.

Dibandingkan dengan tahun 2007, jumlah unit kerja APIP yang menerapkan JFA mengalami
penambahan sebanyak 6 unit, dengan penambahan jumlah auditor 290 orang. Hal tersebut
menunjukkan JFA terus berkembang walaupun diperlukan upaya kebijakan dalam
pembinaan pada tingkat stratejik (Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan
Badan Kepegawaian Negara) dan manajerial (instansi pembina).

Secara umum permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan pengangkatan ke dalam JFA di
lingkungan Itjen Departemen, Inspekorat Utama/Inspektorat Kementerian/LPND adalah:
o Kementerian/Lembaga lebih menerapkan jabatan fungsional kekhususan yang ada di
lingkungan tugas dan fungsinya, seperti Jaksa pada Kejaksaan Agung, Agen pada
Badan Intelijen Negara;
o Ketersediaan calon PNS yang memenuhi persyaratan untuk diusulkan pengangkatan
ke dalam JFA serta formasi yang ada;
o Beberapa lembaga belum memiliki unit pengawasan tersendiri dan beberapa unit
APIP bentukan baru menggunakan tenaga auditor BPKP sebagai tenaga dipekerjakan,
seperti pada Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan Kementerian Negara
Pemuda dan Olahraga.
Sedangkan permasalahan yang terkait dengan belum siapnya beberapa pemerintah daerah
untuk menerapkan jabatan fungsional khususnya JFA, adalah sebagai berikut:
o Belum siapnya pimpinan daerah untuk berkomitmen menerapkan reformasi birokrasi
dan paradigma profesionalisme Auditor;
o Keengganan PNS Daerah untuk menduduki jabatan fungsional karena masih kuatnya
persepsi jabatan struktural lebih ”bergengsi” dan ”nyaman” dibandingkan jabatan
fungsional;
o Penerbitan Permendagri Nomor 57/2007 dan Nomor 64/2007 yang memunculkan
jabatan fungsional baru, Pengawas Pemerintah dan menggemukkan struktur

v
organisasi Bawasda/Inspektorat Daerah yang justru bertolak belakang dengan
Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah
yang merupakan kebijakan reformasi brirokrasi menuju organisasi
Bawasda/Inspektorat Daerah yang ramping dan mendorong pembentukan jabatan
fungsional Auditor; dan
o Adanya upaya pembentukan Jabatan Fungsional Pengawas Pemerintah (JFP2) di
lingkungan Bawasda/Inspektorat Daerah (mengacu pada Peraturan Pemerintah
Nomor 79 Tahun 2005 pasal 24 dan Permendagri Nomor 64 tahun 2007) yang
berpotensi tumpang tindih dalam disiplin ilmu dan pelaksanaan tugas dengan jabatan
fungsional yang telah ada (Auditor) sehingga menimbulkan kebingungan Pemerintah
Daerah untuk menerapkan JFP2 atau JFA.

Pembinaan profesionalisme auditor, dilaksanakan terutama melalui


penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan (diklat) fungsional JFA dan diklat teknis substansi
auditor. Pada tahun 2008, telah dilaksanakan diklat sertifikasi JFA sebanyak 2.225 peserta
diklat untuk berbagai jenjang. Dengan demikian sejak tahun 1996 hingga akhir 2008 diklat
sertifikasi JFA yang telah diselenggarakan bagi peserta sebanyak 33.325 calon auditor/auditor
APIP seluruh Indonesia. Ujian Sertifikasi JFA telah diselenggarakan terhadap 4.648 orang
yang terdiri dari peserta diklat tahun 2008 dan peserta diklat sebelumnya yang belum lulus
dan masih berhak ujian. Tingkat kelulusan sertifikasi JFA untuk seluruh unit APIP pada tahun
2008 yaitu 88,92% yang dihitung berdasarkan jumlah peserta yang mengikuti ujian pada
tahun 2008 baik peserta ujian utama maupun peserta ujian ulangan. Hal ini menunjukkan
bahwa tingkat kelulusan sertifikasi JFA relatif cukup tinggi. Sertifikat kelulusan yang
diterbitkan pada tahun 2008 sebanyak 1.923 sertifikat sehingga secara kumulatif sejak 1996 s.d.
2008 telah diterbitkan 18.343 sertifikat kelulusan Sertifikasi JFA untuk berbagai jenjang
jabatan.

Pada tahun 2008 ini telah disahkan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan
Aparatur Negara (Permenpan) Nomor PER/220/M.PAN/7/2008 tentang Jabatan Fungsional
Auditor dan Angka Kreditnya dan Peraturan Bersama Kepala BPKP dan Kepala BKN Nomor :
PER-1310/K/JF/2008 dan Nomor : 24 Tahun 2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan
Fungsional Auditor Dan Angka Kreditnya sebagai revisi Keputusan Menteri Negara
Pendayagunaan Aparatur Negara (Kepmenpan) Nomor 19/1996 dengan memperhatikan

vi
masukan dari Kementerian PAN, dan BKN serta didasarkan serangkaian pengkajian, baik
dari berbagai profesi auditor serta berbagai praktik jabatan fungsional lain serta permintaan
masukan termasuk dari lingkungan intern BPKP. Pembinaan JFA pada masa yang akan
datang akan memfokuskan pada pembinaan auditor di lingkungan APIP karena BPK akan
membentuk jabatan fungsional tersendiri yaitu jabatan fungsional pemeriksa keuangan
negara sesuai UU Nomor 15/2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan Dan Tanggung Jawab
Keuangan Negara dan UU Nomor 15/2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan.

Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pembinaan JFA, BPKP telah


memfasilitasi pembentukan Komite Sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor (JFA) melalui
Keputusan Kepala BPKP Nomor: KEP- 1329 /K/2007. Komite Sertifikasi JFA merupakan
wadah formal yang mewakili pemangku kepentingan JFA yang bertugas memberi masukan
atau pertimbangan yang bersifat stratejik tentang arah dan pengembangan kompentensi
auditor kepada Pimpinan Instansi Pembina JFA dan pada tahun 2008 telah diselenggarakan
dua kali sidang Komite.

Usulan Perpanjangan Batas Usia Pensiun Auditor secara resmi kembali diajukan
oleh Instansi Pembina JFA kepada Menpan yang disertai naskah akademis dan rancangan
Peraturan Presiden melalui Surat No: S-1415/K/JF/2008 tanggal 16 Desember 2008 sebagai
bahan pembahasan dan pemrosesan lebih lanjut oleh Menpan. Usulan tersebut merubah usia
pensiun Auditor Utama menjadi 62 tahun, Auditor Madya 60 tahun, dan untuk jenjang
Auditor Muda hingga Auditor Terampil adalah 58 tahun.

Pembinaan Sistem Karier Auditor dilakukan melalui kegiatan utama yang


mencakup: fasilitasi pengangkatan dalam JFA, sosialisasi dan bimbingan teknis dalam rangka
pembinaan karier, kajian batas usia pensiun dan penyesuaian tunjangan jabatan fungsional
auditor. Sistem Prestasi Kerja Auditor merupakan penjabaran dari pola penilaian prestasi
kerja PNS, dimana kinerja auditor ditetapkan dalam angka kredit. Pembinaan yang dilakukan
antara lain berupa Fasilitasi Penilaian Angka Kredit Terpusat, Bimbingan Teknis Penilaian
Angka Kredit, Diklat Peningkatan Kompentensi Tim Penilai Angka Kredit.

Untuk mendukung pelaksanaan kegiatan pembinaan JFA kualitas infrastruktur


pembinaan terus dikembangkan :

vii
• Untuk mendukung kualitas penyelenggaraan diklat fungsional dan teknis substansi bagi
auditor pada tahun 2008 Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan (Pusdiklatwas)
BPKP telah diakreditasi oleh Lembaga Administrasi Negara untuk menyelenggarakan
diklat fungsional JFA tingkat Pengendali Teknis dan Pengendali Mutu dan beberapa diklat
teknis substansi. Sedangkan untuk diklat penjenjangan Ketua Tim dan Anggota Tim telah
diakreditasi pada tahun 2006. Disamping itu Pusdiklatwas juga telah memperoleh
sertifikat ISO 9001 : 2000 dari konsultan TUV Nord sebagai perwujudan atas jaminan
kualitas penyelenggaraan diklat. Dengan demikian Pusdiklatwas telah dapat dinyatakan
sebagai lembaga penyelenggara pendidikan dan pelatihan berkompeten dalam
menyelenggarakan diklat fungsional dan diklat teknis substansi bagi auditor.

• Infrastruktur aspek penunjang yang dikembangkan adalah penyelenggaraan forum


komunikasi JFA yang dalam tahun 2008 telah dilaksanakan sebanyak empat kali secara
berkala baik untuk Bawas/Inspektorat Daerah maupun intern BPKP sendiri, sistem
informasi auditor berupa database dan web-site BPKP yang dapat diakses secara luas.

Pembinaan JFA yang dilaksanakan dengan penuh komitmen secara umum telah
bermanfaat bagi para auditor dan pemangku kepentingan. Hal ini dapat tergambar dari hasil
penelitian persepsi pembinaan yang diukur dengan Skala Likert menunjukkan hasil yang
cukup baik, yaitu sebesar 6,46 dari skala 1,0 s.d. 10,0.

Dari berbagai rangkaian pembinaan menunjukkan capaian kinerja yang terus


meningkat selama periode dua belas tahun, namun disadari masih diperlukan kebijakan
pemerintah untuk mendorong penerapan JFA lingkup APIP Daerah yang sampai saat ini
belum menerapkan JFA. Disamping itu berbagai kendala dalam peningkatan sertifikasi dan
diklat fungsional memerlukan dukungan para pembina kepegawaian dalam hal rekrutmen
calon auditor dan peningkatan infrastruktur disesuaikan dengan perubahan lingkungan yang
dinamis.

Permasalahan yang dihadapi dalam pembinaan JFA ini menyangkut munculnya


Pejabat Pengawas Pemerintah (PP Nomor 79/2005) yang mempunyai tugas dan fungsi yang
sama dengan JFA, adanya dua jabatan fungsional yang sama dengan nama berbeda dan
instansi pembina yang berbeda pula. Kondisi ini akan menimbulkan dampak inefisiensi dan
pemborosan keuangan negara dalam rangka peningkatan kualitas hasil pengawasan serta

viii
memberikan pengaruh kontra produktif atas kepercayaan masyarakat terhadap kelembagaan
di pemerintahan.

Di masa mendatang berbagai kegiatan dilaksanakan meliputi: penyusunan dan


pemutakhiran berbagai ketentuan pelaksanaan teknis JFA, sosialisasi dan bimbingan teknis
ketentuan JFA, upaya peningkatan penyelenggaraan dan pembinaan diklat fungsional dan
diklat teknis substansi auditor melalui penyusunan standar kompetensi auditor, revisi pola
diklat, modul-modul dan sarana diklat, pengembangan sistem prestasi kerja auditor, dan
penyempurnaan sistem informasi JFA. Upaya perbaikan kualitas pembinaan yang
berkelanjutan tersebut tentunya perlu diiringi dengan peningkatan kerjasama dengan instansi
pembina lainnya yaitu Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, Badan
Kepegawaian Negara (BKN), Lembaga Administrasi Negara (LAN), dan para pemangku
kepentingan lainnya.

ix
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR i
RINGKASAN EKSEKUTIF iv
DAFTAR ISI x
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR DIAGRAM xiii
DAFTAR FOTO xiv
DAFTAR LAMPIRAN xvi

PENDAHULUAN 1–8
A. LATAR BELAKANG PEMBINAAN JFA 1–4
B. POSISI AUDITOR INTERN PEMERINTAH 4–7
C. SISTEMATIKA PENYAJIAN 7–8

PELAKSANAAN KEGIATAN PEMBINAAN JFA 9 – 64


A. MENINGKATKAN PROFESIONALITAS AUDITOR 11 – 36
1. Menetapkan Kebijakan Pendidikan dan Pelatihan Fungsional 11 – 12
2. Menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Fungsional 13 – 18
3. Melaksanakan Sertifikasi Keahlian dan Keterampilan 18 – 26
4. Mengkoordinasikan dan Menyelenggarakan Pelatihan Teknis 26 – 32
dalam rangka Pengembangan Profesi
5. Fasilitasi Penyelenggaraan Seminar dan Lokakarya 32 – 33
6. Menyusun Kurikulum Diklat dengan mengacu pada Standar 33 - 33
Kompetensi Jabatan
7. Melaksanakan Pembinaan Diklat Fungsional dan Berkoordinasi 33 – 34
dengan Lembaga Administrasi Negara selaku Instansi Pembina
Diklat PNS
8. Menyusun Standar Kompetensi Jabatan Fungsional Auditor 34 – 35
9. Memfasilitasi Penyusunan Standar dan Kode Etik Profesi Auditor 35 – 36

B. MEWUJUDKAN SISTEM KARIER JFA YANG EFEKTIF 36 – 54


1. Penyusunan dan Penyempurnaan Ketentuan dan Pedoman JFA 39 – 40
2. Sosialisasi dan Bimbingan Teknis dalam Penerapan JFA 40 – 41
3. Fasilitasi Pengangkatan dalam Jabatan 42 – 45

x
Halaman
4. Menyelenggarakan Sistem Informasi JFA 45 – 47
5. Evaluasi dan Monitoring Penerapan JFA 47 - 48
6. Menyelenggarakan Forum Komunikasi JFA 48 – 51
7. Meningkatkan Tunjangan Auditor 52 - 52
8. Mengajukan Usulan Perpanjangan Batas Usia Pensiun Auditor 52 – 53

C. SISTEM PRESTASI KERJA BERBASIS ANGKA KREDIT 54 – 58


1. Menyusun Standar dan Prosedur serta Petunjuk Teknis dalam 54 – 55
Penilaian Angka Kredit
2. Fasilitasi Penilaian Angka Kredit Terpusat bagi seluruh Auditor 56 – 57
Ahli Madya dan Auditor Ahli Utama di lingkungan APIP
3. Monitoring dan Evaluasi Penilaian Angka Kredit 57 – 58

D. INFRASTRUKTUR PEMBINAAN JFA 59 – 66


1. Aspek Kelembagaan 59 – 65
2. Aspek Penunjang 65 – 66

EVALUASI DAN LANGKAH-LANGKAH PEMBINAAN JFA KE DEPAN 67 – 83

A. EVALUASI PEMBINAAN JFA 67 – 75


B. LANGKAH PEMBINAAN JFA KE DEPAN 75 – 83

PENUTUP 84 – 85
DAFTAR ISTILAH
LAMPIRAN-LAMPIRAN

xi
DAFTAR TABEL

TABEL Halaman

1. Jumlah Auditor Per 31 Desember 2008 dan Per 31 Desember 2007………... 5

2. Jumlah Auditor Per Jenjang Jabatan Tahun 2005 - 2008 ………...………..... 6

3. Pola Karier Auditor ………...……….....………...……….....………...………. 10

4. Jumlah Peserta Diklat Sertifikasi JFA Per APIP Tahun 2008 ..................... 15

5. Jumlah Peserta Diklat Sertifikasi JFA APIP Periode: 1996 sd 2008 ........... 16

6. Tingkat Kelulusan Ujian Sertifikasi JFA APIP Tahun Ujian 2008 ................. 19

Tingkat Kelulusan Sertifikasi JFA Berdasrkan Kelas Diklat Periode: 2007 22


7.
s.d. 2008 ............................. ............................. ............................. ........................

8. Penerbitan STTPP Sertifikat Kelulusan JFA Tahun 2008............................... 23

9. Jumlah Peserta Diklat Teknis Substansi Auditor Tahun 2008 ....................... 27

Persetujuan Pengangkatan Ke Dalam JFA Per Jenjang Jabatan JFA Tahun 43


10.
2008 ........................................................................................................................

11. Nilai Tunjangan Auditor....................................................…......................... 53

12. DUPAK Yang Diterima Tim Penilai Pusat Tahun 2008 .................................. 57

13. PAK Yang Diterbitkan Tim Penilai Pusat Tahun 2008 ............................. 57

14. Hasil Pengukuran Persepsi Pimpinan dan Auditor APIP Terhadap 68


Kinerja Pembinaan JFA Oleh BPKP ............................. .............................

xii
DAFTAR DIAGRAM

DIAGRAM Halaman

1. Jumlah Auditor per 31 Desember 2008 …………………………………… 4

2. Rincian Auditor yang Aktif per Jenjang Jabatan dan Pendidikan Per 31 12
Desember 2008 ………………………………………

3. Jumlah Peserta Diklat Sertifikasi JFA Tahunan Per APIP Periode 2004 17
s.d. 2008 ………………………………………………………………..........

4. Tingkat Kelulusan Sertifikasi JFA Periode Tahun Ujian 2004 s.d. 2008.. 20

5. Tingkat Kelulusan Sertifikasi JFA Per APIP Periode Tahun Ujian 2004 21
s.d. 2008 ………………………………………………………………..........

6. Penerbitan STTPP Sertifikasi JFA APIP Periode: 1996 s.d. 2003 …........ 23

7. Penerbitan STTPP Sertifikasi JFA APIP Periode: 2004 s.d. 2008 …........ 24

8. Penerbitan STTPP Sertifikasi JFA Per APIP Periode: 2004 s.d. 2008 …... 25

9. Jumlah Peserta Diklat Teknis Subtansi Auditor Periode: 2004 s.d. 2008 27

10. Tanya Jawab JFA On-line Tahun 2008 …... …... …... …... …... …... …... 47

xiii
DAFTAR FOTO

FOTO Halaman

1. Sekretaris Utama BPKP, Kuswono Soeseno (pakaian batik merah) 18


didampingi oleh Kepala Pusdiklatwas BPKP, Agus Witjaksono
(pakaian jas hitam) sedang melakukan penanggalan tanda peserta dan
penyerahan Sertifikat Telah Mengikuti Diklat Sertifikasi JFA
Pembentukan Auditor Ahli dan Pembentukan Auditor terampil di
Lingkungan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah Daerah pada
tanggal 11 April 2008 di Gedung Pusdiklatwas BPKP, Ciawi, Bogor ….

2. Suasana pelaksanaan Ujian Sertifikasi JFA di gedung Perwakilan 26


BPKP Provinsi Sumatera Barat, Padang pada tanggal 3 – 6 November
2008 .……… .……… .……… .……… .……… .……… .……… .………

3. Kepala Pusdiklatwas BPKP, Agus Witjaksono (duduk no. 4 sebelah 29


kiri) didampingi Kepala Perwakilan BPKP DKI Jakarta 1, Irsan
Gunawan (duduk no. 5 sebelah kiri) berfoto bersama dengan para
peserta diklat setelah acara pembukaan Diklat Audit Proyek/Kegiatan
Berbantuan PHLN bagi Pegawai BPKP Perwakilan BPKP DKI Jakarta
1, pada tanggal 26 Februari 2008 di Gedung Pusdiklatwas BPKP,
Ciawi, Bogor .……… .……… .……… .……… .……… .……… .………

4. Direktur Pengawasan BUMD pada Deputi BPKP Bidang Akuntan 30


Negara, Kasminto (kanan), dalam acara pembukaan Kegiatan Review
Certified Internal Auditor bagi pegawai di lingkungan BPKP, pada
tanggal 14 Oktober 2008 di Gedung Pusdiklatwas BPKP, Ciawi,
Bogor……...... ................................................................................................

5. Deputi Kepala BPKP Bidang Investigasi, Suradji (sebelah kiri) 31


didampingi Kepala Pusdiklatwas BPKP, Agus Witjaksono, sedang
mengetuk palu tanda pembukaan Diklat Investigasi di lingkungan
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah Daerah, pada tanggal 8
September 2008 di Gedung Pusdiklatwas BPKP, Ciawi, Bogor .………

6. Kepala BPKP, Didi Widayadi (kanan) bersama Kepala Badan 40


Kepegawaian Negara, Edy Topo Ashari (kiri), menandatangani
Peraturan Bersama Kepala BPKP dan Kepala BKN Nomor PER-1310/
K/JF/2008 ; Nomor:24 Tahun 2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan

xiv
Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya pada tanggal 11
November 2008 di Jakarta. .......................................................................

7. Deputi BPKP Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang 50


Polsoskam, Iman Bastari (paling kanan) memberikan cendera mata
kepada para nara sumber Forum Komunikasi JFA
Bawasda/Inspektorat Daerah Wilayah Jawa – Kalimantan pada
tanggal 4 – 6 Agustus 2008 di Hotel Horizon, Bandung, Provinsi Jawa
Barat ……...... ……......……......……......……......……......……......……......

8. Para sumber Forum Komunikasi JFA Bawasda/Inspektorat 51


Provinsi/Kabupaten/Kota Wilayah Jawa – Kalimantan pada tanggal 4
– 6 Agustus 2008 di Hotel Horizon, Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Dari kiri-ke kanan, Condro Imantoro, Kepala Pusbin JFA, Agus
Witjaksono, Kepala Pusdiklatwas dan Arif, Kepala Subbid pada
Pusdiklawas ……......……......……......……......……......……......…….......

9. Sekretaris Utama BPKP, Kuswono Soeseno, (kanan) didampingi Kepala 51


Pusbin JFA, Condro Imantoro, (tengah) dan Plh. Kepala Perwakilan BPKP
Provinsi Jawa Barat sedang memukul gong tanda dibukanya Forum
Komunikasi JFA Bawasda/Inspektorat Daerah Wilayah Bali, Sulawesi, Nusa
Tenggara, Maluku, Papua pada tanggal 20 Oktober 2008 di Hotel Horizon,
Bandung, Provinsi Jawa Barat. ..……......……......……......……......…….....

10. Para peserta Forum Komunikasi JFA Bawasda/Inspektorat 52


Provinsi/Kabupaten/Kota Wilayah Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara,
Maluku, dan Papua yang diselenggarakan pada tanggal 20 – 21
Oktober 2008 di Hotel Horizon, Bandung, Provinsi Jawa Barat tampak
antusias mendengarkan pemaparan .……......……......……......…….......

11. Suasana pelaksanaan kegiatan Outbond yang diikuti para peserta 61


Diklat Sertifikasi JFA Pembentukan Auditor Ahli dan Pembentukan
Auditor Terampil bagi pegawai di lingkungan Departemen
Perdagangan yang diselenggarakan sejak tanggal 9 s.d. 30 Juni 2008 di
Gedung Pusdiklatwas BPKP, Ciawi, Bogor ...……......……......……......

12. Pengarahan dan Pembukaan Sidang Komite Sertifikasi JFA Pertama 63


tahun 2008 oleh Kepala BPKP, Didi Widayadi (tengah) , didampingi
oleh Ketua Sidang Komite Sertifikasi JFA, Kuswono Soeseno (kiri) dan
Wakil Ketua Sidang Komite Sertifikasi JFA, D.Negarayati Siregar ........

13. Suasana Sidang Komite Sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor kedua 65


tahun 2008, pada sessi pembahasan materi sidang Standar
Kompetensi Auditor. .................... .............................................................

xv
DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN

1. Bezetting Pejabat Fungsional Auditor Unit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah


Per 31 Desember 2008 ………………………………………………………………………

2. Bezetting Pejabat Fungsional Auditor Unit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah


Per 31 Desember 2007 ………………………………………………………………………

3. Realisasi Penyelenggaraan Diklat Sertifikasi JFA Tahun 2008 ......................................

4. Realisasi Peserta Diklat Sertifikasi JFA Per APIP Periode: 1996 s.d. 2008 .....................

5. Tingkat Kelulusan Sertifikasi JFA APIP Periode 2004 s.d. 2008 ....................................

6. Tingkat Kelulusan Sertifikasi JFA APIP Berdasarkan Kelas Diklat Periode 2007 s.d.
2008 ...... .................................... .................................... .................................... .....................

7. Penerbitan STTPP Sertifikasi JFA APIP Periode 1996 s.d. 2003 ...................................

8. Penerbitan STTPP Sertifikasi JFA APIP Periode 2004 s.d. 2008 ...................................

9. Jenis dan Jumlah Peserta Diklat Teknis Substansi Pengawasan Yang


Diselenggarakan Pusdiklatwas BPKP Tahun 2008 ........................................................

10. Pelaksanaan Kegiatan Diklat Teknis Substansi Pengawasan Yang Diselenggarakan


Pusdiklatwas BPKP Periode 2004 s.d. 2008 ....................................................................

11. Jasa / Produk Pengawasan BPKP Tahun 2008 .................................................................

12. Unit Kerja Yang Dievaluasi Penilaian Angka Kreditnya Periode: 2006 s.d. 2008 ........

xvi
Pendahuluan

PENDAHULUAN

D
A. LATAR BELAKANG PEMBINAAN JFA
alam rangka menjamin pelaksanaan tugas pemerintahan umum dan
pembangunan yang berdaya guna dan berhasil guna diperlukan
adanya Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang profesional, bertanggung
jawab, jujur dan adil. Untuk mewujudkan hal tersebut pemerintah melakukan reformasi
manajemen PNS antara lain melalui pembentukan struktur organisasi instansi
pemerintah yang mengarah pada paradigma ’miskin struktur kaya fungsi’ yang
memberi peluang pembentukan jabatan fungsional PNS serta pembinaan PNS
berdasarkan sistem karier dan sistem prestasi kerja. Untuk memfasilitasi upaya tersebut
pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan
Fungsional Pegawai Negeri Sipil dan Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang
Rumpun Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil.

Sebagai bagian dari upaya pembentukan Jabatan Fungsional Pegawai Negeri Sipil
tersebut, maka dengan Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara
(Kepmenpan) Nomor 19/1996 Tanggal 2 Mei 1996 yang telah diperbaharui dengan
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Permenpan) Nomor
PER/220/M.PAN/7/2008 Tanggal 4 Juli 2008 dibentuklah Jabatan Fungsional Auditor
(JFA). Pembentukan JFA dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan tersedianya PNS
yang ditugaskan secara penuh waktu untuk melaksanakan tugas pengawasan secara
profesional dan untuk menjamin pembinaan profesi, karier, kepangkatan dan jabatan
dalam rangka meningkatkan mutu pengawasan di lingkungan Instansi Pemerintah.

Kedudukan JFA menjadi sangat strategis karena menjadi tulang punggung aparat
pengawasan intern pemerintah yang mempunyai peran penting dalam pengendalian
manajemen pelaksanaan tugas pemerintahan umum dan pembangunan, dalam lingkup
pengawasan intern pemerintah.

Untuk lebih menjamin terlaksananya pembinaan JFA secara efisien, efektif dan
berkesinambungan diperlukan suatu instansi pembina JFA yang memiliki kapasitas
untuk melakukan pembinaan. Sehubungan dengan hal tersebut dalam Permenpan
Nomor PER/220/M.PAN/7/2008 Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan

1
Pendahuluan
(BPKP) ditetapkan sebagai Instansi Pembina JFA di lingkungan Aparat Pengawasan
Intern Pemerintah (APIP).

Ruang lingkup pembinaan JFA di lingkungan APIP tersebut meliputi BPKP, Inspektorat
Jenderal (Itjen) Departemen, Inspektorat Utama/Inspektorat Kementerian/LPND, dan
unit kerja lembaga lainnya yang melaksanakan tugas pengawasan intern serta Badan
Pengawas/Inspektorat Daerah (Provinsi/ Kabupaten/Kota). Adapun tugas pembinaan
JFA meliputi “Penetapan dan pengendalian terhadap standar profesi yang meliputi
kewenangan penanganan, prosedur pelaksanaan tugas dan metodologinya. Dalam
pembinaan tersebut termasuk di dalamnya penetapan petunjuk teknis yang
diperlukan”.

Tugas pokok Instansi Pembina adalah membina Jabatan Fungsional Auditor menurut
Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (Permenpan) nomor
220/2008 tentang Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya, dengan fungsi sebagai
berikut:
a. pengembangan dan penyusunan metodologi, standar, dan pedoman teknis
pengawasan;
b. penyusunan pedoman formasi jabatan;
c. pengembangan dan penyusunan standar kompetensi jabatan;
d. fasilitasi penyusunan dan penetapan kode etik Auditor;
e. penetapan kebijakan/pembinaan diklat fungsional meliputi penyusunan pedoman
diklat, pengembangan kurikulum diklat, bimbingan dan koordinasi
penyelenggaraan serta evaluasi diklat;
f. penyelenggaraan sertifikasi Auditor;
g. pengembangan sistem informasi jabatan;
h. fasilitasi pembentukan dan pengembangan organisasi profesi;
i. fasilitasi penerbitan buletin/majalah profesi yang bergerak di bidang pengawasan;
j. fasilitasi penyelenggaraan reviu rekan sejawat (peer review);
k. evaluasi dan fasilitasi pengusulan tunjangan jabatan;
l. evaluasi dan monitoring penerapan standar dan kode etik auditor, pedoman teknis
pengawasan dan administrasi jabatan;
m. sosialisasi dan bimbingan penerapan metodologi, standar, pedoman teknis
pengawasan, kode etik auditor, dan organisasi profesi;
n. mengatur ketentuan standar pendidikan Auditor;
o. menjabarkan rincian dari unsur dan sub unsur kegiatan Auditor yang dapat dinilai
angka kreditnya;
p. mengatur ketentuan dan prosedur kenaikan jabatan Auditor;
q. mengatur ketentuan tentang kriteria bidang, pedoman penulisan, publikasi, dan
pengujian karya tulis ilmiah pengawasan;
r. menetapkan tata kerja tim penilai angka kredit auditor dan tata cara penilaian angka
kredit Auditor;
s. mengatur kualifikasi pendidikan Auditor;
t. memberikan persetujuan teknis secara tertulis untuk pengangkatan ke dalam
Auditor;

2
Pendahuluan
Dalam rangka melaksanakan amanah sebagai Instansi Pembina JFA dan mengantisipasi
kebutuhan pembinaan JFA di lingkungan APIP, BPKP secara bertahap meningkatkan
kapasitas organisasinya, antara lain dengan membentuk dua Pusat setingkat eselon II
yaitu Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor dan Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Pengawasan yang masing-masing mempunyai peran penting dalam
pembinaan JFA. (Surat Keputusan Kepala BPKP No. KEP-06.00.00-080/K/2001 tentang
Organisasi dan Tata Kerja BPKP).

Pusat Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor (Pusbin JFA) mempunyai peran dalam
pembinaan JFA secara keseluruhan kecuali dalam penyelenggaraan pendidikan dan
pelatihan. Hal ini tercermin dalam tugas pokoknya, yaitu:

Melaksanakan penelaahan dan penyusunan peraturan, standar, pedoman, program


pembinaan, dan pelaksanaan sertifikasi serta evaluasi pelaksanaan sertifikasi, angka
kredit, dan efektivitas tim penilai JFA di lingkungan BPKP dan APIP lainnya

Untuk melaksanakan tugas tersebut, Pusbin JFA menyelenggarakan fungsi:


• Penyusunan rencana dan program pembinaan JFA;
• Penelaahan dan penyusunan peraturan, standar dan pedoman JFA;
• Penyusunan materi ujian JFA;
• Pengelolaan data JFA;
• Pelaksanaan seleksi dan penentuan kelulusan peserta pendidikan dan pelatihan
JFA; dan
• Evaluasi dan penyusunan laporan kegiatan sertifikasi, penilaian angka kredit,
dan efektivitas tim penilai.

Sedangkan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan (Pusdiklatwas) BPKP


mempunyai peran dalam hal meningkatkan mutu sumber daya manusia pengawasan
melalui pendidikan dan pelatihan (diklat). Peran tersebut nampak dalam tugas pokok
yang diemban yaitu:

Menyelenggarakan, membina dan mengkoordinasikan seluruh kegiatan pendidikan


dan pelatihan pengawasan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku dan kebijakan yang ditetapkan oleh Kepala BPKP

3
Pendahuluan
Untuk melaksanakan tugas tersebut, Pusdiklatwas BPKP menyelenggarakan fungsi:

• Penyusunan program (diklat) kedinasan, fungsional, dan teknis;


• Perencanaan, penyusunan dan pengembangan materi diklat fungsional dan
teknis;
• Perencanaan kebutuhan dan pembinaan widyaiswara dan instruktur;
• Penyelenggaraan, pembinaan, dan koordinasi kegiatan diklat pembentukan, dan
penjenjangan JFA serta diklat teknis;
• Penetapan persyaratan dan pemberian akreditasi penyelenggaraan diklat
pembentukan dan penjenjangan JFA; dan
• Evaluasi pelaksanaan hasil diklat serta penyusunan laporannya.

Tugas BPKP selaku Instansi Pembina JFA terutama dilaksanakan oleh Pusbin JFA dan
Pusdiklatwas BPKP sesuai dengan tingkat kewenangannya. Namun demikian
mengingat cakupan pembinaannya yang cukup luas, beragam dan tersebar mulai
tingkat pemerintah pusat sampai tingkat pemerintah daerah, maka untuk menjamin
pembinaan yang efisien dan efektif dalam pelaksanaannya didukung oleh seluruh unit
kerja BPKP termasuk 25 unit Perwakilan BPKP di seluruh Indonesia.

U
B. POSISI AUDITOR INTERN PEMERINTAH
ntuk memberikan gambaran cakupan pembinaan disajikan komposisi
auditor per 31 Desember 2008 sebanyak 8.645 orang sebagaimana pada
Diagram 1.

DIAGRAM 1

JUMLAH AUDITOR PER 31 DESEMBER 2008

Bawasda;
BPKP; 3.907; 
3.109; 35,96%
45,19%

Itjen 
Dept/LPND; 
1.629; 18,84%

BPKP Itjen Dept/LPND Bawasda

4
Pendahuluan
Perbandingan jumlah auditor per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 per unit APIP
Pusat dan Daerah dapat dilihat pada Tabel 1 berikut ini.

TABEL 1
JUMLAH AUDITOR PER 31 DESEMBER 2008 DAN 31 DESEMBER 2007

JUMLAH AUDITOR PER 31 DESEMBER 2008 DAN 31 DESEMBER 2007

Posisi 31 Desember 2007 Posisi 31 Desember 2008 Kenaikan Kenaikan


Kenaikan
(Penurunan) (Penurunan)
No Unit APIP Jumlah Jumlah (Penurunan)
Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Jumlah Unit Jumlah Unit
Unit APIP Unit APIP Jumlah PFA
Unit APIP PFA Unit APIP PFA APIP APIP JFA
JFA JFA
1 2 3 4 5 6 7 8 9 =3 -6 10 = 4 - 7 11 = 5 - 8

I. APIP Pusat
I.A. 1. Inspektorat Kementerian Koordinator 3 0 0 3 0 0
0 0 0
2. Inspektorat Jenderal Departemen 20 20 1.565 20 20 1.218 0 0 (347)
3. Inspektorat Kementerian Negara 10 2 20 10 3 25 0 1 5
4. Unit Pengawasan pada Lembaga 5 0 0 5 0 0
Setingkat Menteri 0 0 0
5. Inspektorat Utama/Inspektorat Lembaga 21 14 396 22 15 386
Pemerintah Non Departemen 1 1 (10)
59 36 1.981 60 38 1.629 1 2 (352)
I.B. 1. BPKP 1 1 3.614 1 1 3.907 0 0 293
Sub Jumlah APIP Pusat 60 37 5.595 61 39 5.536 1 2 (59)

II. APIP Daerah


1. Badan Pengawas/ Inspektorat Provinsi 33 19 816 33 19 780 0 0 (36)
2. Badan Pengawas/ Inspektorat 369 123 1.480 396 126 1.789
Kabupaten 27 3 309
3. Badan Pengawas/ Inspektorat Kota 90 35 464 93 36 540 3 1 76
Sub Jumlah APIP Daerah 492 177 2.760 522 181 3.109 30 4 349

Jumlah 552 214 8.355 583 220 8.645 31 6 290

Rincian lebih lanjut jumlah auditor per 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007
berdasarkan unit APIP dapat dilihat pada Lampiran 1 dan Lampiran 2.

Jumlah Auditor per jenjang jabatan dalam empat tahun terakhir (sejak tahun 2005 sampai
dengan tahun 2008) berdasarkan unit APIP adalah sebagaimana pada Tabel 2 berikut ini.

5
Pendahuluan
TABEL 2
JUMLAH AUDITOR PER JENJANG JABATAN
TAHUN 2005 – 2008

Itjen Dep/LPND
Jenjang Jabatan
2005 2006 2007 2008
Auditor Ahli Utama 0 0 5 3
Auditor Ahli Madya 548 522 551 410
Auditor Ahli Muda 781 733 744 708
Auditor Ahli Pertama 295 313 293 240
Auditor Penyelia 201 177 201 110
Auditor Pelaksana Lanjutan 156 154 142 117
Auditor Pelaksana 41 45 45 41
Jumlah Auditor 2.022 1.944 1.981 1.629

BPKP
Jenjang Jabatan
2005 2006 2007 2008
Auditor Ahli Utama 0 0 0 0
Auditor Ahli Madya 507 450 692 887
Auditor Ahli Muda 1321 1.286 1.239 1.307
Auditor Ahli Pertama 659 659 493 520
Auditor Penyelia 674 640 665 652
Auditor Pelaksana Lanjutan 603 584 391 408
Auditor Pelaksana 97 135 134 133
Jumlah Auditor 3.861 3.754 3.614 3.907

APIP Daerah
Jenjang Jabatan
2005 2006 2007 2008
Auditor Ahli Utama 0 0 0 0
Auditor Ahli Madya 222 189 226 226
Auditor Ahli Muda 814 795 814 986
Auditor Ahli Pertama 365 370 375 459
Auditor Penyelia 605 553 608 591
Auditor Pelaksana Lanjutan 523 502 526 620
Auditor Pelaksana 210 210 211 227
Jumlah Auditor 2.739 2.619 2.760 3.109

Total
Jenjang Jabatan
2005 2006 2007 2008
Auditor Ahli Utama 0 0 5 3
Auditor Ahli Madya 1.277 1.161 1.469 1.523
Auditor Ahli Muda 2.916 2.814 2.797 3.001
Auditor Ahli Pertama 1.319 1.342 1.161 1.219
Auditor Penyelia 1.480 1.370 1.474 1.353
Auditor Pelaksana Lanjutan 1.282 1.240 1.059 1.145
Auditor Pelaksana 348 390 390 401
Jumlah Auditor 8.622 8.317 8.355 8.645

6
Pendahuluan
Jumlah Auditor per 31 Desember 2008 sebanyak 8.645 orang dapat dirinci lebih lanjut
berdasarkan keaktifannya sebagai berikut:
Unit APIP Aktif Tidak Aktif Total
1. BPKP 3.498 409 3.907 Orang
2. Itjen Departemen/LPND 1.370 259 1.629 Orang
3. Bawasda 2.478 631 3.109 Orang
Jumlah 7.346 1.299 8.645 Orang

Auditor yang memiliki status Tidak Aktif sejumlah 1.299 orang adalah jumlah Auditor
yang dibebaskan sementara dari jabatannya dengan rincian sebagai berikut:
Itjen/
Alasan Pembebasan Sementara BPKP Bawasda Jumlah
LPND
1. Cuti di Luar Tanggungan Negara 2 - - 2 Orang
2. Menjalani Hukuman Disiplin 4 1 - 5 Orang
3. Penugasan di Luar JFA 334 256 630 1.220 Orang
4. Tidak Tercapainya Angka Kredit 54 1 - 55 Orang
5. Tugas Belajar 15 1 1 17 Orang
Jumlah 409 259 631 1.299 Orang

C. SISTEMATIKA PENYAJIAN
Laporan Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor Tahun 2008 merupakan media untuk
mengkomunikasikan pencapaian kinerja BPKP dan sebagai wujud pertanggungjawaban
BPKP selaku Instansi Pembina JFA kepada para pemangku kepentingan. Dalam laporan
ini diuraikan tugas dan fungsi yang harus dilaksanakan oleh Instansi Pembina dan
realisasinya melalui strategi dan kegiatan pembinaan. Permasalahan dan kendala dalam
pembinaan juga diuraikan dengan dilengkapi langkah-langkah strategis peningkatan
pembinaan di masa yang akan datang.

Data yang dipergunakan dalam proses penyusunan Laporan Pembinaan Jabatan


Fungsional Auditor Tahun 2008 merupakan data pembinaan JFA selama periode 1
Januari 2008 sampai dengan 31 Desember 2008 yang bersumber dari Deputi Pengawasan,
Pusbin JFA dan Pusdiklatwas BPKP. Dengan demikian Laporan Pembinaan Jabatan
Fungsional Auditor Tahun 2008 mencerminkan pertanggungjawaban kinerja BPKP yang
berkesinambungan dalam membina JFA di lingkungan APIP.

Adapun sistematika penyajian laporan pembinaan JFA ini dapat digambarkan dalam
bagan berikut ini:

7
Pendahuluan
• Bab Pendahuluan

Bab ini secara ringkas menjelaskan latar belakang pembinaan JFA, posisi auditor
intern pemerintah dan sistematika penyajian laporan.

• Bab Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA

Bab ini menjelaskan tentang pembinaan JFA selama tahun 2008 yang mencakup
aspek profesionalisme, sistem karier, dan sistem prestasi kerja, serta
infrastruktur pembinaan JFA. Sub bab Profesionalisme menguraikan
pelaksanaan kegiatan pendidikan profesi, pendidikan profesi yang berkelanjutan,
organisasi profesi, standar profesi, kode etik profesi, dan peer-review. Sub bab
Sistem Karier membahas fasilitas pengangkatan dalam JFA dan tunjangan
auditor. Sub bab Sistem Prestasi Kerja memaparkan kegiatan fasilitasi penilaian
angka kredit terpusat, bimbingan teknis angka kredit, peningkatan kompetensi
tim penilai angka kredit JFA dan evaluasi penilaian angka kredit JFA. Materi
ketiga sub bab tersebut dilengkapi dengan hasil penelitian oleh Pusat Pembinaan
JFA atas persepsi para pemangku kepentingan atas pelaksanaan tugas dan
kegiatan pembinaan JFA. Sedangkan pada sub bab infrastruktur pembinaan JFA
dibahas tentang pelaksanaan aspek kelembagaan dan penunjang.

• Bab Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA Ke Depan

Bab ini menyajikan hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut
dalam pembinaan JFA. Sub bab Evaluasi menguraikan hasil penelitian oleh Pusat
Pembinaan JFA atas persepsi para pemangku kepentingan atas manfaat
pembinaan JFA dan simpulan permasalahan yang timbul dalam pembinaan JFA.
Sub bab Langkah-langkah Pembinaan JFA Ke Depan menguraikan tindak lanjut
yang perlu dilakukan dalam mengatasi permasalahan pembinaan JFA dan
mengantisipasi perubahan ke depan.

• Penutup

Menguraikan harapan BPKP selaku Instansi Pembina JFA.

8
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA

PELAKSANAAN KEGIATAN
PEMBINAAN JFA

P embinaan JFA sebagai bagian dari pembinaan Pegawai Negeri Sipil


(PNS) bertujuan untuk mempersiapkan auditor APIP yang berkualitas
dengan karakteristik profesional, berdaya guna dan berhasil guna
dalam melaksanakan tugas pemerintahan umum dan pembangunan. Sebagai upaya
untuk mencapai tujuan pembinaan JFA tersebut telah ditetapkan strategi umum dalam
bentuk tugas dan kegiatan, serta kebijakan dalam lingkup tiga pilar pembinaan JFA
sebagaimana tertuang dalam peraturan perundangan tentang kepegawaian, yaitu:

1. Meningkatkan profesionalitas auditor;

2. Mewujudkan sistem karier JFA yang efektif; dan

3. Mewujudkan sistem prestasi kerja berbasis angka kredit yang efisien dan efektif

Uraian berikutnya di dalam bab ini akan menjelaskan pelaksanaan masing-masing


tugas dan kegiatan, serta kebijakan tersebut oleh BPKP termasuk hasil penelitian
terhadap persepsi auditor dan instansi pemerintah terhadap pelaksanaan pembinaan
JFA.

Keterkaitan ketiga aspek peningkatan profesionalisme, sistem karier dan sistem


prestasi kerja nampak dalam pola karier yang dikembangan dalam Peraturan Menteri
Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor PER/220/M.PAN/7/2008 tentang
Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya, dan peraturan pelaksanaannya,
sebagaimana dapat dirangkum dalam Tabel 3 berikut ini.

9
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
TABEL 3
POLA KARIER AUDITOR
Persyaratan
Jabatan AK. Diklat
Jabatan Gol. Peran AK Masuk
Fungsional Kum. Sertifikasi
Diklat
II/b 40
Auditor
II/c 60
Pelaksana
II/d 80
Pembentukan
Auditor Auditor III/a 100 Anggota
Auditor Entry level
Terampil Pelaksana Tim
III/b 150 Trampil
Lanjutan
Auditor III/c 200
Penyelia III/d 300
Auditor III/a 100 Anggota Pembentukan
Entry level
Pertama III/b 150 Tim Auditor Ahli
Auditor III/c 200 Penjenjangan
Ketua Tim 175
Muda III/d 300 Ketua Tim
Auditor IV/a 400 Penjenjangan
Auditor Pengendali
Ahli IV/b 550 Pengendali 350
Madya Teknis
IV/c 700 Teknis
IV/d 850 Penjenjangan
Auditor Pengendali
Pengendali 775
Utama IV/e 1050 Mutu
Mutu

Pola karier JFA dalam Tabel 3 dapat dijelaskan sebagai berikut:

a) Dalam JFA terdapat jenjang jabatan terampil dan ahli dengan pola pembinaan yang
memiliki keterkaitan dan keserasian antara jabatan, pangkat, diklat, serta
pengalaman dalam karier jabatan yang diukur dari perolehan angka kredit, sebagai
upaya untuk membentuk, mempertahankan dan meningkatkan profesionalisme
dan kompetisi yang sehat dalam pelaksanaan tugas auditor;
b) Pemenuhan sertifikasi dan pencapaian angka kredit kumulatif sebagai persyaratan
kenaikan jabatan dan kenaikan pangkat tersebut sejalan dengan karakteristik JFA
sebagaimana diamanatkan dalam PP No. 16 Tahun 1994, yang mensyaratkan
adanya keahlian dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas yang bersifat mandiri.
Keahlian dan keterampilan di bidang pengawasan diperoleh melalui pengalaman
dalam karier jabatan yang tergambar dalam pencapaian angka kreditnya dan
peningkatan kompetensi melalui diklat;
c) Pelaksanaan tugas yang bersifat mandiri JFA diartikan sebagai tim mandiri yang
berimplikasi adanya peran auditor yang berbeda dalam sebuah tim mandiri yaitu
Pengendali Mutu, Pengendali Teknis, Ketua Tim, dan Anggota Tim. Perbedaan

10
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
peran dalam sebuah tim mandiri ini tentu saja membutuhkan persyaratan
kompetensi yang berbeda pada masing-masing peran;
d) Pemenuhan persyaratan kompetensi yang berbeda tersebut meliputi pendidikan
formal, diklat Sertifikasi JFA dan pendidikan profesi berkelanjutan, sebagaimana
diatur dalam Pasal 11 ayat 1 dan Pasal 12 ayat 1 PP Nomor 101 Tahun 2000 tentang
Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil; dan
e) Dalam mengikuti diklat Sertifikasi JFA secara berjenjang dipersyaratkan adanya
pengalaman kerja yang diwujudkan dalam pemenuhan angka kredit sejumlah
tertentu.

T
A. MENINGKATKAN PROFESIONALITAS AUDITOR
ugas dan kegiatan pembinaan JFA yang telah dilakukan dalam rangka
mewujudkan auditor yang profesional adalah sebagai berikut:

1. Menetapkan Kebijakan Pendidikan dan Pelatihan Fungsional


Dalam pelaksanaan JFA, PNS yang diangkat dalam jabatan mempunyai latar
belakang pendidikan formal yang beragam.

Hal tersebut sangat terkait dengan penerapan JFA di Itjen Departemen, Inspektorat
Utama/Inspektorat Kementerian/LPND dan Bawas/Inspektorat Daerah melalui
proses inpassing maupun pengangkatan pertama dan perpindahan ke dalam JFA.

Itjen Departemen, Inspektorat Utama/Inspektorat Kementerian/LPND dan


Bawas/Inspektorat Daerah mengijinkan rekrutmen auditor dari tingkat Sekolah
Lanjutan Tingkat Atas dan tanpa pembatasan bidang akademis. Sementara itu, di
lingkungan BPKP kualifikasi pendidikan untuk auditor adalah D-III, D-IV, S1, S2,
dan S3 jurusan Akuntansi dan Manajemen sesuai Surat Edaran Deputi Bidang
Administrasi Nomor SE-06.04.00-1485/DI/1999 tanggal 23 Desember 1999 tentang
Pelaksanaan Jabatan Fungsional Auditor di Lingkungan BPKP. Sedangkan
kualifikasi pendidikan untuk unit pengawasan lainnya di lingkungan APIP
ditentukan oleh pimpinan unit organisasi masing-masing setelah mendapat
persetujuan Kepala BPKP.

Disamping latar belakang pendidikan formal, persyaratan pengangkatan dalam


JFA adalah keikutsertaan diklat dan kelulusan sertifikasi auditor. Penyelenggaraan
diklat sertifikasi termasuk kurikulum dan metode diklat sertifikasi diatur dalam

11
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Pola Pendidikan dan Pelatihan Auditor Bagi Aparat Pengawasan Fungsional
Pemerintah yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala BPKP No. KEP – 06.04.00-
847/K/1998 tanggal 11 November 1998. Pola diklat auditor yang digunakan saat
ini disusun oleh tim yang anggotanya terdiri dari pejabat di lingkungan Itjen
Departemen, Inspektorat Utama/Inspektorat Kementerian/LPND, BPKP dan
Inspektorat Wilayah Provinsi.

Dalam pola diklat, diklat sertifikasi JFA disusun berdasarkan konsep pembentukan
kompetensi minimal untuk melaksanakan jabatan sedangkan diklat teknis
subtsansi disiapkan untuk meningkatkan profesionalisme auditor dalam rangka
pelaksanaan tugas pengawasan sesuai tugas dan fungsi organisasi.

Jumlah auditor yang aktif per 31 Desember 2008 berdasarkan jenjang jabatan dan
jenjang pendidikan dapat dilihat pada Diagram 2.

DIAGRAM 2
RINCIAN AUDITOR YANG AKTIF PER JENJANG
JABATAN DAN PENDIDIKAN
PER 31 DESEMBER 2008

S .2, 469, 
6.38% S L TA , 1,068, 
D.I, 1, 0.01%
14.54%

D.III, 1,317, 
D.IV /S 1, 4,491,  17.93%
61.14%

S L TA D .I D .III D .IV/S 1 S .2

Catatan :
• Auditor Ahli yang berlatar belakang pendidikan SLTA dan D-III adalah
auditor yang berasal dari pengangkatan melalui inpassing pada pejabat
eselon III yang telah memenuhi pangkat/golongan IV.
• Auditor Terampil yang berlatar belakang pendidikan S1/D-IV dan S2
adalah auditor yang akan alih jabatan ke Ahli.

12
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
2. Menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Fungsional
Diklat Fungsional Auditor atau lebih dikenal dengan nama Diklat Sertifikasi JFA
diselenggarakan secara berjenjang untuk memenuhi persyaratan kompetensi
minimal bagi auditor untuk melaksanakan tugas sesuai jenjang peran dan
jabatannya. Keberhasilan diklat dilegalisasi melalui lulus ujian sertifikasi JFA pada
setiap jenjang diklat. Dengan demikian dalam persyaratan peserta diklat
ditentukan bahwa seorang auditor tidak dapat mengikuti diklat jenjang yang
tinggi apabila belum lulus sertifikasi diklat jenjang sebelumnya. Hal ini
menegaskan sesuai pola karier auditor pada Tabel 3, bahwa selama karier auditor
dalam jabatan auditor sejak diangkat sampai terminasi akan mengikuti beberapa
kali diklat sertifikasi JFA sesuai kenaikan jabatan yang dilaluinya. Jenis dan jenjang
diklat sertifikasi JFA adalah sebagai berikut.

1) Diklat Sertifikasi Pembentukan Auditor


Diselenggarakan dalam rangka sertifikasi bagi mereka yang akan diangkat
sebagai Auditor dengan tujuan untuk menyaring calon Auditor dan
memberikan pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang diperlukan untuk
melaksanakan tugas auditor secara profesional.
Diklat ini terdiri dari:

• Diklat Sertifikasi Pembentukan Auditor Terampil, dimaksudkan untuk


menyaring calon auditor dengan tingkat pendidikan minimal sarjana muda
(DIII) atau SLTA, sebagai persyaratan pengangkatan ke dalam jabatan
auditor terampil.

• Diklat Sertifikasi Pembentukan Auditor Ahli, dimaksudkan untuk menyaring


calon auditor dengan tingkat pendidikan minimal sarjana (S1)/D-IV,
sebagai persyaratan pengangkatan ke dalam jabatan Auditor Ahli Pertama.

2) Diklat Sertifikasi Pindah Jalur


Diselenggarakan bagi auditor yang akan melakukan alih jabatan dari Auditor
Terampil ke dalam jenjang jabatan Auditor Ahli.

3) Diklat Sertifikasi Penjenjangan Auditor


Diselenggarakan untuk menyiapkan dan meningkatkan kompetensi Auditor
dari peran yang lebih rendah ke jenjang peran yang lebih tinggi dengan tujuan

13
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
agar Auditor memiliki kompetensi minimal untuk dapat melaksanakan tugas
sesuai dengan peran dan jabatannya. Diklat ini terdiri dari:

• Diklat Sertifikasi Penjenjangan Peran Ketua Tim, dirancang untuk menyiapkan


dan meningkatkan peran Auditor dari Anggota Tim menjadi Ketua Tim,
sebagai persyaratan jabatan Auditor Muda.

• Diklat Sertifikasi Penjenjangan Peran Pengendali Teknis, dirancang untuk


menyiapkan dan meningkatkan peran Auditor dari Ketua Tim menjadi
Pengendali Teknis, sebagai persyaratan jabatan Auditor Madya.

• Diklat Sertifikasi Penjenjangan Peran Pengendali Mutu, dirancang untuk


menyiapkan dan meningkatkan peran Auditor dari Pengendali Teknis
menjadi Pengendali Mutu, sebagai persyaratan jabatan Auditor Ahli Utama.

4) Diklat untuk Pengangkatan Inpassing


Bagi PNS yang akan diangkat menjadi Auditor melalui inpassing dalam jabatan
tertentu diwajibkan mengikuti diklat sertifikasi yang terdiri dari diklat
matrikulasi (tanpa ujian) untuk jenjang peran di bawahnya dan diklat dengan
ujian sertifikasi sesuai dengan peran dalam jabatannya. Diklat matrikulasi
dapat juga digantikan dengan mekanisme Ujian Bebas Matrikulasi (UBM),
yaitu mengikuti dan lulus ujian tanpa mengikuti diklat terlebih dahulu.
Sebagai contoh seorang auditor yang diangkat melalui inpassing dalam jabatan
Auditor Ahli Muda dengan peran ketua tim, maka yang bersangkutan
diwajibkan mengikuti diklat matrikulasi ahli anggota tim dan diklat sertifikasi
penjenjangan ketua tim. Diklat matrikulasi ahli anggota tim dapat digantikan
dengan program ujian bebas matrikulasi.

Penyelenggaraan diklat sertifikasi JFA dilaksanakan oleh BPKP (Pusdiklatwas


BPKP) selaku Instansi Pembina JFA sebagaiman diamanatkan PP Nomor 101
Tahun 2000.

Di bawah ini akan diuraikan mengenai perkembangan diklat sertifikasi JFA yang
telah dilaksanakan oleh Pusdiklatwas BPKP.

Peserta Diklat Sertifikasi JFA Tahun 2008

Untuk tahun 2008, Pusdiklatwas BPKP telah mendiklatkan sebanyak 2.225 orang
peserta diklat untuk berbagai jenjang diklat sertifikasi JFA sebagaimana dapat
dilihat pada Tabel 4 berikut ini.

14
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
TABEL 4
JUMLAH PESERTA DIKLAT SERTIFIKASI JFA PER APIP
TAHUN 2008

Itjen Dep.
No Tingkat BPKP Bawasda Jumlah
/LPND
I. Diklat Pembentukan dan Penjenjangan
1 Pembentukan Auditor Terampil 60 108 195 363
2 Pindah Jalur 54 0 0 54
3 Pembentukan Auditor Ahli 0 248 804 1.052
4 Penjenjangan Auditor Ketua Tim 125 144 320 589
5 Penjenjangan Auditor Pengendali Teknis 23 110 34 167
6 Penjenjangan Auditor Pengendali Mutu 0 0 0 0
Sub Jumlah 262 610 1.353 2.225
II. Diklat Matrikulasi
1 Matrikulasi Ahli 0 0 0 0
2 Matrikulasi Ketua Tim 0 0 0 0
3 Matrikulasi Pengendali Teknis 0 0 0 0
Sub Jumlah 0 0 0 0
Jumlah 262 610 1.353 2.225

Dari Tabel 4 terlihat bahwa: untuk tahun 2008, dari 2.225 peserta diklat, sebanyak
262 peserta berasal dari auditor BPKP (11,78%) dan sisanya sebanyak 1.960 peserta
berasal dari auditor APIP lainnya (88,22%). Hal itu menunjukkan kebijakan
pembinaan dan komitmen yang penuh dari BPKP selaku Instansi Pembina untuk
meningkatkan kompetensi auditor APIP menuju auditor yang profesional.

Adapun rekapitulasi pelaksanaan diklat sertifikasi JFA per jenjang untuk tahun
2008 yang meliputi jenjang diklat, tanggal pelaksanaan diklat, lokasi diklat, jumlah
kelas, dan jumlah peserta dapat dilihat pada Lampiran 3.

Peserta Diklat Sertifikasi JFA Periode 1996 s.d. 2008

Selama kurun waktu 1996 hingga akhir 2008, Pusdiklatwas BPKP telah
mendiklatkan sebanyak 33.325 orang peserta diklat untuk berbagai jenjang diklat
sertifikasi JFA sebagaimana dapat dilihat pada Tabel 5.

15
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
TABEL 5
JUMLAH PESERTA DIKLAT SERTIFIKASI JFA APIP
PERIODE: 1996 s.d. 2008
Peserta Diklat Sertifikasi JFA
No Jenis Diklat 1996 sd 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jml
Org Org Org Org Org Org Org

A. BPKP
1. Pembentukan Auditor Terampil 3.028 8 58 89 42 60 3.285
2. Pindah Jalur 1.297 124 92 81 60 54 1.708
3. Pembentukan Auditor Ahli 1.201 2 30 1 3 0 1.237
4. Penjenjangan Auditor Ketua Tim 2.235 114 186 147 120 125 2.927
5. Penjenjangan Auditor Pengendali Teknis 762 169 175 139 130 23 1.398
6. Penjenjangan Auditor Pengendali Mutu 26 0 11 0 0 0 37
Sub Jumlah 8.549 417 552 457 355 262 10.592
7. Pengembangan Peran Ketua Tim 144 0 0 0 0 0 144
8. Matrikulasi Ahli 15 0 0 0 0 0 15
9. Matrikulasi Ketua Tim 1 0 0 2 0 0 3
10. Matrikulasi Pengendali Teknis 10 0 0 0 1 0 11
Sub Jumlah 170 0 0 2 1 0 173
Jumlah BPKP 8.719 417 552 459 356 262 10.765

B. Itjen Dep./LPND
1. Pembentukan Auditor Terampil 314 49 30 117 67 108 685
2. Pindah Jalur 51 7 24 2 0 0 84
3. Pembentukan Auditor Ahli 888 175 167 369 127 248 1.974
4. Penjenjangan Auditor Ketua Tim 704 133 96 130 82 144 1.289
5. Penjenjangan Auditor Pengendali Teknis 508 155 125 79 78 110 1.055
6. Penjenjangan Auditor Pengendali Mutu 24 0 21 0 0 0 45
Sub Jumlah 2.489 519 463 697 354 610 5.132
7. Pengembangan Peran Ketua Tim 0 0 0 0 0 0 0
8. Matrikulasi Ahli 0 0 0 4 0 0 4
9. Matrikulasi Ketua Tim 65 4 7 6 0 0 82
10. Matrikulasi Pengendali Teknis 16 0 0 0 0 0 16
Sub Jumlah 81 4 7 10 0 0 102
Jumlah Itjen Dep./LPND 2.570 523 470 707 354 610 5.234

C. Bawasda
1. Pembentukan Auditor Terampil 4.851 672 497 290 447 195 6.952
2. Pindah Jalur 92 73 96 77 97 0 435
3. Pembentukan Auditor Ahli 3.016 805 721 625 897 804 6.868
4. Penjenjangan Auditor Ketua Tim 465 72 394 337 333 320 1.921
5. Penjenjangan Auditor Pengendali Teknis 9 57 61 164 139 34 464
6. Penjenjangan Auditor Pengendali Mutu 1 0 0 0 0 0 1
Sub Jumlah 8.434 1.679 1.769 1.493 1.913 1.353 16.641
7. Pengembangan Peran Ketua Tim 0 0 0 0 0 0 0
8. Matrikulasi Ahli 13 115 102 20 19 0 269
9. Matrikulasi Ketua Tim 0 77 211 103 21 0 412
10. Matrikulasi Pengendali Teknis 0 0 1 2 1 0 4
Sub Jumlah 13 192 314 125 41 0 685
Jumlah Bawasda 8.447 1.871 2.083 1.618 1.954 1.353 17.326

JUMLAH TOTAL 19.736 2.811 3.105 2.784 2.664 2.225 33.325

16
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Rincian jumlah peserta diklat sertifikasi JFA per unit APIP per tahun sejak tahun
1996 hingga akhir tahun 2008 disajikan pada Lampiran 3.

Peserta Diklat Sertifikasi JFA Periode 2004 s.d. 2008

Untuk periode 2004 s.d. 2008 secara tahunan dapat digambarkan dalam Diagram 3
di bawah ini jumlah peserta diklat untuk berbagai jenjang diklat sertifikasi JFA
yang telah didiklatkan Pusdiklatwas BPKP.

DIAGRAM 3
JUMLAH PESERTA DIKLAT SERTIFIKASI JFA TAHUNAN PER APIP
PERIODE 2004 S.D. 2008
Realisasi Peserta Diklat Sertifikasi JFA 2004 s.d. 2008

2083
1954
1871
1618
Jumlah Peserta

1353

707 BPKP
552 610
523 Itjen Dep./LPND
417 470 459
356354 Bawasda
262

2004 2005 2006 2007 2008


Tahun

Dari Diagram 3 terlihat bahwa selama periode 2004 s.d. 2008 terdapat
kecenderungan peningkatan proporsi jumlah peserta diklat sertifikasi JFA yang
berasal dari APIP non BPKP dari jumlah peserta seluruh APIP, yaitu 85,17% (2004),
82,22% (2005), 83,51% (2006), 86,64% (2007), dan 88,22% (2008). Kondisi ini
mencerminkan komitmen BPKP selaku Instansi Pembina JFA untuk
meningkatkankan kompetensi minimal jabatan bagi para Auditor Itjen
Dep/Inspektorat LPND dan Bawasda/Inspektorat Daerah. Hal tersebut didukung
oleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa bahwa frekuensi penyelenggaraan
Diklat Sertifikasi JFA menurut pimpinan APIP sudah cukup sesuai, dengan urutan dari
yang paling sesuai adalah Itjen Departemen/Unit Pengawasan LPND, BPKP, dan
kemudian Bawasda. Sedangkan ketepatan waktu ditetapkan sebagai peserta keikutsertaan

17
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
dalam Diklat Sertifikasi JFA juga menunjukkan sudah cukup sesuai, dengan urutan dari
yang paling sesuai adalah Itjen Departemen/Unit Pengawasan LPND, Bawasda, dan
kemudian BPKP.

Salah satu tolok ukur keberhasilan penyelenggaraan diklat adalah peserta diklat
dapat memperoleh manfaat dari diklat tersebut dimana materi diklat memang
terkait dengan pelaksanaan tugas selaku auditor. Dari hasil penelitian
menunjukkan bahwa kesesuaian materi diklat sertifikasi fungsional auditor dengan
pelaksanaan tugas pengawasan secara keseluruhan sudah cukup sesuai, dengan urutan dari
yang paling sesuai adalah Itjen Departemen/Unit Pengawasan LPND, BPKP, dan
kemudian Bawasda.

Foto 1. Sekretaris Utama BPKP, Kuswono Soeseno (pakaian batik merah)


didampingi oleh Kepala Pusdiklatwas BPKP, Agus Witjaksono (pakaian jas hitam)
sedang melakukan penanggalan tanda peserta dan penyerahan Sertifikat Telah
Mengikuti Diklat Sertifikasi JFA Pembentukan Auditor Ahli dan Pembentukan
Auditor terampil di Lingkungan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah Daerah
pada tanggal 11 April 2008 di Gedung Pusdiklatwas BPKP, Ciawi, Bogor

3. Melaksanakan Sertifikasi Keahlian dan Keterampilan


Ujian sertifikasi diwajibkan bagi peserta diklat pada setiap jenjang diklat dengan
kesempatan ujian maksimal empat kali, yang terdiri dari satu kali ujian utama dan
tiga kali ujian ulangan dalam waktu dua tahun setelah mengikuti diklat. Apabila
dalam jangka waktu tersebut belum lulus maka peserta ujian dinyatakan tidak

18
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
lulus/gugur, dan peserta diwajibkan mengikuti kembali program diklat secara
penuh dari awal.
Peserta dinyatakan lulus apabila memenuhi nilai lulus (passing grade) sebagai
berikut :
- Nilai setiap Mata Ajaran Inti minimal 70; dan
- Nilai setiap Mata Ajaran Penunjang minimal 60.
Terhadap auditor yang tidak lulus setelah habis hak ujiannya, masih diberikan
kesempatan ujian sertifikasi dengan syarat harus kembali mengikuti diklat
sertifikasi pada jenjangnya dan sesuai prosedur pengusulan diklat yang ditetapkan.
Dengan demikian nyata bahwa di satu sisi BPKP selaku Instansi Pembina JFA
peduli terhadap seluruh stakeholdersnya dengan mempertahankan kompetensi
minimal auditor melalui sertifikasi JFA, di sisi lain BPKP senantiasa memberi
berbagai kesempatan bagi Auditor APIP untuk mau berupaya agar dapat
mencapai sertifikasi JFA sesuai kebutuhannya.

Pada tahun 2008, diselenggarakan Ujian Sertifikasi JFA sebanyak 3 kali yang
berlokasi di 25 Provinsi, yaitu tanggal 10 – 13 Maret 2008, tanggal 21 - 24 Juli 2008,
dan tanggal 3 – 6 November 2008. Peserta ujian adalah para Pejabat Fungsional
Auditor, Pejabat Struktural di bidang pengawasan maupun Pemeriksa Non JFA se-
APIP untuk berbagai jenjang sertifikasi keahlian dan keterampilan.

Tingkat Kelulusan Sertifikasi JFA Tahun 2008

Tingkat kelulusan sertifikasi JFA APIP pada tahun 2008 yaitu 88,92%. Tingkat
kelulusan ini dihitung berdasarkan jumlah peserta yang mengikuti ujian pada
tahun 2008 baik peserta ujian utama maupun peserta ujian ulangan. Rincian tingkat
kelulusan sertifikasi JFA APIP tahun 2008 disajikan pada Tabel 6 berikut ini.

TABEL 6
TINGKAT KELULUSAN SERTIFIKASI JFA APIP TAHUN UJIAN 2008

Peserta Peserta Peserta Tidak Jumlah Peserta % Tingkat


No APIP Lulus dan Tidak
Ujian Lulus Lulus Lulus Kelulusan

1 2 3 4 5 6=4+5 7 = 4 / 6 x 100%
1 Itjen Departemen/LPND 1348 371 44 415 89.40
2 Bawasda 4017 1004 147 1151 87.23
3 BPKP 773 222 8 230 96.52
Jumlah 6138 1597 199 1796 88.92

19
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Tingkat Kelulusan Sertifikasi JFA Tahun 2004 - 2008
Perkembangan tingkat kelululusan sertifikasi JFA tahun 2004 sampai dengan tahun
2008 dapat dilihat pada Diagram 4 di bawah ini. Tingkat kelulusan ini dihitung
berdasarkan jumlah peserta yang mengikuti ujian pada tahun yang bersangkutan.

DIAGRAM 4
TINGKAT KELULUSAN SERTIFIKASI JFA
PERIODE TAHUN UJIAN 2004 S.D. 2008

93.48% 91.75%
100.00% 88.92%

90.00% 78.23% 77.14%


80.00%
Persentase Kelulusan

70.00%
60.00%
50.00%
40.00%
30.00%
20.00%
10.00%
0.00%
2004 2005 2006 2007 2008
Tahun

Tingkat kelulusan sertifikasi JFA tahun 2004 sampai dengan tahun 2008 di atas jika
dirinci per unit APIP per tahun maka akan terlihat sebagaimana pada Diagram 5
berikut ini.

20
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
DIAGRAM 5
TINGKAT KELULUSAN SERTIFIKASI JFA PER APIP
PERIODE TAHUN UJIAN 2004 S.D 2008

120.00%

0%
100.00
98.72%

100.0

97.03%

96.52%
95.51%
%
94.23

%
100.00%

%
90.92

%
89.40
%

87.23
85.31

%
%

80.28
79.71

%
72.38
80.00%

71.00
Persentase Kelulusan

60.00%

40.00%

20.00%

0.00%
2004 2005 2006 2007 2008
BPKP ITJEN DEP/LPND Bawasda

Lebih lanjut rincian perkembangan tingkat kelulusan sertifikasi JFA periode tahun
ujian 2004 s.d. 2008 dapat dilihat pada Lampiran 5. Dalam Lampiran 5 tersebut
dapat dilihat bahwa jumlah peserta ujian sertifikasi selama lima tahun terakhir
adalah sebanyak 24.678 orang. Jumlah peserta ujian menggambarkan keikutsertaan
seseorang dalam ujian, sedangkan jumlah yang lulus sebanyak 10.107 orang.

Adanya peserta diklat sertifikasi JFA yang ternyata tidak lulus ujian adalah sesuatu
hal yang wajar dalam praktek sertifikasi pada umumnya. Hasil tingkat kelulusan
sertifikasi JFA periode 2004 s.d. 2008 tersebut menunjukkan bahwa persentase
kelulusan bagi Bawasda lebih rendah daripada BPKP dan Itjen Dep/LPND. Hal
tersebut diduga akibat lemahnya proses rekrutmen auditor yang dilakukan oleh
Bawasda. Beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat kelulusan antara lain faktor
input yaitu rekrutmen calon peserta kurang selektif, dan latar belakang pendidikan
yang bervariasi yang mungkin tidak sesuai dengan profesi auditor. Dalam hal ini
rekrutmen auditor yang dilakukan BPKP sudah lebih baik, yaitu dengan
melakukan penerimaan dari D-III Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN) dan
D-IV STAN dan Strata S-1 akuntansi/manajemen/ekonomi dengan persyaratan

21
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
indeks prestasi kumulatif (IPK) minimal 3,00 dan melalui ujian tertulis serta
wawancara.

Perkembangan Kelulusan Sertifikasi JFA Periode 2007 – 2008 Berdasarkan Kelas


Diklat Sertifikasi JFA

Berdasarkan data statistik peserta Diklat Sertifikasi JFA dan Ujian Sertifikasi JFA
tahun 2007 s.d. 2008 yang diikuti oleh Auditor APIP pada Tabel 7 berikut ini, dapat
diketahui dari 4.684 peserta diklat, sebanyak 4.520 orang yang mengikuti ujian.
Tingkat kelulusan Sertifikasi JFA berdasarkan kelas diklat menunjukkan
pencapaian yang relatif tinggi, yaitu 1.260 peserta atau sekitar 95,37% dan hanya 98
orang yang tidak lulus sama sekali atau 4,63%. Sisanya sebanyak 2.402 orang masih
mempunyai sisa hak ujian atau belum menggunakan hak ujian mereka secara
penuh yaitu sebanyak empat kali ujian selama dua tahun.

TABEL 7
TINGKAT KELULUSAN SERTIFIKASI JFA
BERDASARKAN KELAS DIKLAT PERIODE: 2007 S.D. 2008

KELULUSAN 

% BELUM 
PESERTA 

%  TIDAK
PERIODE

BELUM 

% LULUS 
UTAMA
LULUS 

LULUS 

TIDAK 

 LULUS
LULUS
LULUS

LULUS

LULUS

UTAMA
UJIAN

JML 
UJUL
NO


10= 
1 2 3 4 5 6 7 8 9=4/(6+8) 11 10= 8/(6+8)
6/(6+8)
2007
1 TERAMPIL       542     95       204     299       193     50 17,53% 55,17% 35,61% 9,23%
2 AHLI    1.052   175       355     530       509     13 16,63% 50,38% 48,38% 1,24%
3 PINDAH JALUR       174     80         47     127         44       3 45,98% 72,99% 25,29% 1,72%
4 KETUA TIM       483     89       246     305       160     18 18,43% 63,15% 33,13% 3,73%
5 PENGENDALI TEKNIS       285     78       131     209         62     14 27,37% 73,33% 21,75% 4,91%
6 PENGENDALI MUTU        ‐    ‐        ‐      ‐        ‐    ‐ 0 0 0 0
SUB JUMLAH    2.536   517       983  1.470       968     98 20,39% 57,97% 38,17% 3,86%
2008
1 TERAMPIL       325     50         80     130       195    ‐ 15,38% 40,00% 60,00% 0,00%
2 AHLI       845   107       117     224       621    ‐ 12,66% 26,51% 73,49% 0,00%
3 PINDAH JALUR       146     42         25        67         79    ‐ 28,77% 45,89% 54,11% 0,00%
4 KETUA TIM       491     72         48     120       371    ‐ 14,66% 24,44% 75,56% 0,00%
5 PENGENDALI TEKNIS       177       2           7          9       168    ‐ 1,13% 5,08% 94,92% 0,00%
6 PENGENDALI MUTU        ‐    ‐        ‐      ‐        ‐    ‐ 0 0 0 0
SUB JUMLAH    1.984   273       277     550    1.434    ‐ 13,76% 27,72% 72,28% 0,00%
JUMLAH    4.520   790    1.260  2.020    2.402     98 17,48% 44,69% 53,14% 2,17%

Lebih rinci data tingkat kelulusan serifikasi JFA periode 2007 - 2008 per unit APIP
disajikan pada Lampiran 6.

Penerbitan STTPP Sertifikasi JFA Tahun 2008

22
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Sertifikat lulus yaitu Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP)
Sertifikasi JFA yang telah diterbitkan pada tahun 2008 sebanyak 1.923 sertifikat.
Jumlah tersebut merupakan sertifikat yang diterbitkan pada periode ujian bulan
November 2007, Maret 2008 dan Juli 2008. Rincian penerbitan STTPP Sertifikasi JFA
adalah sebagaimana pada Tabel 8 berikut ini.

TABEL 8
PENERBITAN STTPP SERTIFIKASI JFA TAHUN 2008

No Uraian Jumlah
1. Peserta Lulus 2007 yang belum diterbitkan STTPP 810
2. Peserta Lulus 2008: 1.597
• Periode Maret 2008 : 511
• Periode Juli 2008 : 602
• Periode November 2008 : 484
3. Jumlah STTPP yang akan diterbitkan 2.407
4. STTPP yang diterbitkan tahun 2008 1.923
5. STTPP yang akan diterbitkan tahun 2009 484

Penerbitan STTPP Sertifikasi JFA Periode: 1996 s.d. 2008

Jumlah STTPP yang diterbitkan selama tahun 1999 s.d. 2003 sebanyak 4.371 STTPP
yang terdiri dari BPKP 2.884 STTPP, Itjen 1.338 STTPP dan Bawasda 149 STTPP
sebagaimana terlihat pada Diagram 6 berikut ini.

DIAGRAM 6
PENERBITAN STTPP SERTIFIKASI JFA APIP
PERIODE: 1996 s.d. 2003

BAWASDA  
149 
ITJEN  
1,338 

BPKP  
2,884  

BPKP ITJEN BAWASDA

23
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Rincian penerbitan STTPP periode tahun 1999 s.d. 2003 dapat dilihat pada
Lampiran 7.

Pada periode 2004 s.d. 2008 jumlah STTPP yang diterbitkan adalah sebanyak 10.107
STTPP yang terdiri dari BPKP 2.111 STTPP, Itjen 2.385 STTPP dan Bawasda 5.611
STTPP sebagaimana disajikan pada Diagram 7 berikut ini.

DIAGRAM 7
PENERBITAN STTPP SERTIFIKASI JFA APIP
PERIODE: 2004 s.d. 2008

APIP  
2,385 

BAWASDA 
 5,611  

BPKP 
 2,111 

APIP BPKP BAWASDA

Berikut ini adalah jumlah STTPP yang diterbitkan per tahunan per APIP untuk
periode 2004 s.d. 2008 sebagaimana disajikan pada Diagram 8 berikut ini.

24
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
DIAGRAM 8
PENERBITAN STTPP SERTIFIKASI JFA PER APIP
PERIODE: 2004 s.d. 2008

1,400 1,355
1,260

1,200 1,131

1,004
1,000
861

800
577
575
600 523 517
474
448
385 404
371
400
222

200


2004 2005 2006 2007 2008

ITJEN BPKP BAWASDA

Rincian penerbitan STTPP periode tahun 2004 s.d. 2008 dapat dilihat pada
Lampiran 8.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi pimpinan maupun Auditor APIP,


pembinaan Auditor bersertifikat telah berperan dengan baik dalam meningkatkan
kompetensi auditor dan kualitas hasil pengawasan APIP, dengan urutan yang paling
baik adalah Itjen Departemen/Unit Pengawasan LPND, Bawasda, dan kemudian BPKP.

Upaya yang telah dilakukan dalam rangka meningkatkan tingkat kelulusan peserta
ujian, yaitu:
- Pusbin JFA memperbaharui release “Contoh Soal dan Jawaban Ujian Sertifikasi
JFA” pada situs http://www.bpkp.go.id. Contoh soal dan jawaban ujian
sertifikasi JFA yang direlease tersebut meliputi seluruh mata pelajaran pada
seluruh jenjang diklat.
- Penyusunan soal Ujian Sertifikasi JFA dengan mempertimbangkan aspek
kognitif/tingkatan berfikir yang berdasarkan pada teori Taxonomy Bloom.

25
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA

Foto 2. Suasana pelaksanaan Ujian Sertifikasi JFA di gedung Perwakilan BPKP


Provinsi Sumatera Barat, Padang pada tanggal 3 – 6 November 2008.

4. Mengkoordinasikan dan Menyelenggarakan Pelatihan Teknis dalam rangka


Pengembangan profesi
Dalam rangka memelihara dan meningkatkan kompetensi auditor sesuai dengan
prinsip profesionalisme, BPKP telah menyelenggarakan kegiatan meliputi diklat
teknis substansi auditor, pelatihan di kantor sendiri (PKS) dan seminar/lokakarya
baik di lingkungan internal maupun eksternal BPKP.

a. Diklat Teknis Substansi Auditor


Diklat teknis substansi auditor dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan
peningkatan dan persyaratan kompetensi teknis yang diperlukan untuk
melaksanakan tugas auditor sesuai kebutuhan organisasi. Penyelenggaraan
dan pembinaan diklat ini mengacu pada Pasal 12 PP Nomor 16 Tahun 1994 dan
ditegaskan PP Nomor 101 Tahun 2000. Sesuai ketentuan, penyelenggaraan dan
pembinaan diklat dilaksanakan oleh instansi teknis serta jenis, jenjang,
kurikulum dan metode diklat teknis ditetapkan oleh instansi teknis yang
bersangkutan, berkoordinasi dengan instansi pembina jabatan fungsional dan
instansi pembina diklat (Lembaga Administrasi Negara).

26
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
a.1. Diklat Teknis Substansi Auditor BPKP
Jumlah peserta Diklat Teknis Substansi Auditor yang diselenggarakan
Pusdiklatwas BPKP pada tahun 2008 sebagaimana pada Tabel 9 berikut
ini.

TABEL 9
JUMLAH PESERTA DIKLAT TEKNIS SUBSTANSI AUDITOR
TAHUN 2008

Unit APIP Jumlah Diklat Jumlah Peserta

BPKP 30 1.396
Itjen Dep./LPND/Bawasda 37 3.936

67 5.332

Secara rinci jenis diklat teknis substansi auditor yang telah


diselenggarakan bagi BPKP dan APIP Non BPKP untuk tahun 2008
disajikan pada Lampiran 9.

Jumlah peserta diklat teknis substansi auditor tahunan untuk periode 2004
hingga tahun 2008 disajikan pada Diagram 9 berikut ini.

DIAGRAM 9
JUMLAH PESERTA DIKLAT TEKNIS SUBSTANSI AUDIITOR
PERIODE: 2004 s.d. 2008

Rincian kegiatan diklat teknis substansi auditor sejak tahun 2004 hingga
tahun 2008 dapat dilihat pada Lampiran 10. Secara ringkas dalam periode

27
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
2004 s.d. 2008 terlihat bahwa penyelenggaraan diklat memenuhi
kecenderungan perubahan paradigma APIP terkait dengan perubahan
lingkungan dan ketentuan perundang-undangan dan praktek Auditor
Intern yang berlaku secara internasional.

• Sejak tahun 2004, bagi BPKP, ditekankan untuk memenuhi kompetensi


di bidang Audit Barang dan Jasa, Audit Investigasi, Audit Kinerja
Sektor Publik, dan Sistem Akuntansi Keuangan Daerah. Sedangkan
bagi APIP non BPKP ditekankan untuk memenuhi kompetensi di
bidang Teknik dan Penyusunan Evaluasi LAKIP, Manajerial
Pengawasan, Pengadaan Barang dan Jasa Keppres 80/2003, Audit
Prosedur Pengadaan Barang dan Jasa Keppres 80/2003, Audit Barang
dan Jasa, dan Audit Investigasi;
• Tahun 2005, untuk BPKP, tambahan kompetensi baru di bidang Good
Corporate Governance (GCG), Penyidikan, dan Laboratorium Audit
Investigasi. Untuk APIP non BPKP, kompetensi di bidang Akuntabilitas
Kinerja Instansi Pemerintah;
• Tahun 2006, untuk BPKP, tambahan kompetensi baru di bidang
Aplikasi Pengolahan Data Renwas/Simonev. Untuk APIP non BPKP,
Satuan Pengawasan Intern;

• Tahun 2007, untuk BPKP, tambahan kompetensi baru di bidang


Penyusunan dan Reviu Laporan Keuangan Lembaga/Kementerian,
Manajemen Resiko, dan Audit PHLN. Untuk APIP non BPKP tambahan
kompetensi baru di bidang Penyusunan dan Reviu Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah; dan
• Tahun 2008, untuk BPKP tambahan kompetensi baru di bidang Audit
BOS KITA, SIMAK BMN, SIM Data Renwas. Untuk APIP non BPKP
tambahan kompetensi baru di bidang Audit Pendapatan Asli Daerah,
Evaluasi Perencanaan Anggaran, Audit PNPM Mandiri, Audit Sarana
dan Prasarana, Audit Kepegawaian, Kertas Kerja Audit, dan Penulisan
LHA Yang Efektif.

Diklat teknis substansi auditor yang diselenggarakan oleh Pusdiklatwas


BPKP tersebut juga diikuti oleh auditor dari APIP lainnya. Para narasumber
berasal dari Deputi Pengawasan BPKP. Adapun jenis dan waktu

28
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
pelaksanaan Diklat Teknis Substansi Auditor telah dituangkan di dalam
Katalog Diklat dan Kalender Diklat yang diperbarui secara periodik dan
disebarluaskan ke seluruh unit kerja APIP baik melaui media cetak (buletin)
maupun media elektronik (situs internet).

Berdasarkan penelitian kami, menurut pimpinan dan Auditor APIP,


keikutsertaan auditor untuk mengikuti diklat teknis substansi cukup baik.

Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa menurut Auditor APIP, materi diklat
teknis substansi diikuti sudah sesuai dengan pelaksanaan tugas pengawasan anda,
dengan urutan dari yang paling sesuai adalah Itjen Departemen/Unit Pengawasan
LPND, BPKP, dan kemudian Bawasda. Di lain pihak, persepsi pimpinan APIP,
penyelenggaraan diklat teknis substansi untuk auditor cukup sesuai kebutuhan, dengan
urutan dari yang paling sesuai adalah Itjen Departemen/Unit Pengawasan LPND,
BPKP, dan kemudian Bawasda.

Foto 3. Kepala Pusdiklatwas BPKP, Agus Witjaksono (duduk no. 4 sebelah kiri)
didampingi Kepala Perwakilan BPKP DKI Jakarta 1, Irsan Gunawan (duduk
no. 5 sebelah kiri) berfoto bersama dengan para peserta diklat setelah acara
pembukaan Diklat Audit Proyek/Kegiatan Berbantuan PHLN bagi Pegawai
BPKP Perwakilan BPKP DKI Jakarta 1, pada tanggal 26 Februari 2008 di
Gedung Pusdiklatwas BPKP, Ciawi, Bogor

29
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA

Foto 4. Direktur Pengawasan BUMD pada Deputi BPKP Bidang Akuntan


Negara, Kasminto (kanan), dalam acara pembukaan Kegiatan Review Certified
Internal Auditor bagi pegawai di lingkungan BPKP, pada tanggal 14 Oktober
2008 di Gedung Pusdiklatwas BPKP, Ciawi, Bogor

a.2. Diklat Teknis Substansi Auditor Departemen/LPND


Perencanaan dan penyelenggara diklat ini dilaksanakan oleh masing-
masing instansi teknis, dalam hal ini departemen/LPND dan pemerintah
daerah, sesuai kompetensi teknisnya dengan target peserta adalah auditor
yang berasal dari Instansi APIP yang bersangkutan dan dapat diikuti oleh
auditor dari Instansi lainnya yang diusulkan oleh Kepala/Pimpinan Unit
Organisasinya. Penyelenggaraan diklat ini didasarkan bahwa kewajiban
seluruh APIP untuk memelihara dan mengembangkan kecakapan
auditornya (proficient). Materi-materi yang ada dalam diklat teknis ini
merupakan materi substansi atau teknis operasional yang diatur oleh
masing-masing unit kerja pengawasan, sesuai dengan perkembangan
lingkungan audit dan kegiatan operasional pada masing-masing Instansi.
Masing-masing instansi teknis mempunyai kewajiban mengatur dan
menetapkan jenis, jenjang, kurikulum, dan metode diklat teknis
sebagaimana dinyatakan dalam PP 101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan
Pelatihan Jabatan PNS.

30
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA

Foto 5. Deputi Kepala BPKP Bidang Investigasi, Suradji (sebelah kiri)


didampingi Kepala Pusdiklatwas BPKP, Agus Witjaksono, sedang mengetuk
palu tanda pembukaan Diklat Investigasi di lingkungan Aparat Pengawasan
Intern Pemerintah Daerah, pada tanggal 8 September 2008 di Gedung
Pusdiklatwas BPKP, Ciawi, Bogor

b. Pelatihan di Kantor Sendiri (PKS)


PKS merupakan kegiatan pelatihan secara teratur/terjadual untuk
meningkatkan kemampuan pegawai dalam rangka menunjang tugas-tugas unit
kerja, yang penyelenggara dan pesertanya berasal dari pegawai unit kerja yang
bersangkutan. PKS tersebut dapat diselenggarakan atas prakarsa semua lapisan
pegawai, baik pimpinan ataupun staf. Pelaksanaan PKS tersebut terkait erat
dengan adanya kewajiban auditor untuk mengumpulkan angka kredit
pengembangan profesi yang antara lain diperoleh melalui PKS.

1) PKS di Lingkungan BPKP


Penyelenggaraan PKS di lingkungan BPKP, diatur dengan Keputusan
Kepala BPKP Nomor KEP-1246/K/SU/2004 tentang Pedoman Pelatihan di
Kantor Sendiri. Pedoman PKS tersebut memuat prosedur perencanaan,
pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi PKS.

Setiap unit esselon II di lingkungan BPKP, baik di daerah maupun di pusat,


wajib menyusun rencana tahunan PKS dan melaksanakan PKS minimal

31
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
setahun 40 jam per pegawai, serta melaporkan dan melakukan evaluasi
hasil pelaksanaannya secara triwulanan. Untuk mendukung
penyelenggaraan PKS pada setiap unit kerja telah dibentuk satuan tugas
(satgas) PKS.

Jumlah akumulasi jam PKS rata-rata per pegawai BPKP pada tahun 2008
adalah 44,5 jam atau 111,25% dari standar setahun sebesar 40 jam per
pegawai.

2) PKS di Lingkungan APIP Lainnya


PKS pada unit kerja APIP direncanakan dan dilaksanakan oleh masing-
masing unit kerja APIP sesuai kebutuhannya.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik menurut pimpinan maupun Auditor


APIP, kesempatan dan keikutsertaan auditor dalam Pelatihan di Kantor Sendiri (PKS)
sudah baik, dengan urutan dari yang paling baik adalah BPKP, Itjen Departemen/Unit
Pengawasan LPND, dan kemudian Bawasda. Penelitian juga menunjukkan bahwa
kesesuaian materi PKS yang diikuti dengan tugas pengawasan sudah baik dan materi-
materi PKS memang bermanfaat, dengan urutan dari yang paling baik/bermanfaat adalah
BPKP, Itjen Departemen/Unit Pengawasan LPND, dan kemudian Bawasda.

5. Fasilitasi Penyelenggaraan Seminar dan Lokakarya

BPKP selaku Instansi Pembina JFA melalui unit-unit kerjanya senantiasa


mendorong dan memfasilitasi pelaksanaan seminar dan lokakarya dalam rangka
memperluas cakrawala pengawasan bagi auditor.
Berikut ini seminar-seminar dan diskusi-diskusi panel yang telah diselenggarakan
oleh BPKP selama tahun 2008:
• Workshop GCG/ UU Perseroan Terbatas;
• Workshop Document Management System ;
• Workshop Business Intelligence Tools;
• Workshop Sispedap;
• Workshop “Melayani dengan Hati”; dan
• Workshop Blade Center and Storage System Center

Di sisi lain upaya-upaya yang telah dilakukan oleh BPKP tersebut belum
sepenuhnya mendapatkan dukungan dari unit kerja di lingkungan APIP.

32
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Hasil penelitian menunjukkan bahwa keikutsertaan auditor untuk mengikuti
seminar/lokakarya yang berkaitan dengan pengawasan cukup baik, dengan urutan paling
baik adalah Itjen Departemen/Unit Pengawasan LPND, BPKP, dan kemudian Bawasda.

6. Menyusun Kurikulum Diklat dengan Mengacu pada Standar Kompetensi


Jabatan

Dalam Pola Diklat Auditor telah dicantumkan kurikulum diklat yang mengacu
pada analisis kebutuhan diklat (training needs analysis) berdasarkan pada uraian
tugas masing-masing peran dalam jabatan auditor. Seiring dengan upaya
standarisasi pedidikan dan pelatihan jabatan fungsional sebagaimana diamanatkan
dalam PP Nomor 101 Tahun 2000, dan dalam rangka mengantisipasi perubahan
lingkungan kediklatan maka untuk masa datang akan dilakukan pemutakhiran
dan fleksibilitas dalam penyusunan kurikulum diklat.

Seiring dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara


(Permenpan) nomor 220/2008 tentang Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya,
maka sedang diupayakan revisi terhadap Keputusan Kepala BPKP nomor: KEP –
06.04.00-847/K/1998 tanggal 11 November 1998 tentang Pola Pendidikan dan
Pelatihan Auditor Bagi Aparat Pengawasan Fungsional Pemerintah. Dorongan
untuk melakukan revisi pola diklat juga muncul sejalan dengan semakin
beragamnya unit kerja yang menerapkan JFA dan sebagai upaya untuk
meningkatkan profesionalisme auditor semakin kompleksnya tugas-tugas
pengawasan intern pemerintah dalam rangka mengantisipasi perubahan antara
lain perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta peraturan terkait.
Selama tahun 2008 telah dilakukan penyusunan draft revisi pola diklat dan telah
dipaparkan pada Sidang Komite Sertifikasi JFA II Tahun 2008.

7. Melaksanakan Pembinaan Diklat Fungsional dan Berkoordinasi dengan


Lembaga Administrasi Negara selaku Instansi Pembina Diklat PNS

Pembinaan diklat fungsional sesuai pasal 28 PP No. 101 tahun 2000 dilakukan
melalui penyusunan pedoman diklat, pengembangan kurikulum diklat, bimbingan
dalam penyelenggaraan diklat dan evaluasi diklat. Pusdiklatwas BPKP sebagai unit
penyelenggaraan diklat telah melaksanakan kegiatan tersebut dengan
berkoordinasi dengan Lembaga Administrasi Negara meliputi:
a. Menerbitkan buku pedoman penyelenggaraan diklat;

33
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
b. Menerbitkan kalender diklat tahunan yang disusun berdasarkan potensi
peserta diklat pada masing-masing jenjang diklat sertifikasi dan jenis diklat
teknis substansi;
c. Mengembangkan materi diklat sertifikasi dan diklat teknis substansi
dengan menerbitkan modul ajar untuk masing-masing jenjang diklat dan
membuat CD base references. Materi diklat tersebut secara berkala
disesuaikan dengan perubahan lingkungan disiplin ilmu/pengetahuan
terkait;
d. Pengembangan kompetensi widyaiswara melalui diklat TOT pengajaran
dan substansi, seminar dan in-house training (pelatihan di kantor sendiri),
pendidikan pasca sarjana dan forum komunikasi widyaiswara;
e. Pengembangan sarana dan prasarana diklat meliputi penyediaan LCD dan
komputer yang build-in di kelas, mess yang representatif dan sarana
olahraga dan kesehatan; dan
f. Pengembangan penyelenggaraan diklat dengan supervisi Pusdiklatwas
dalam bentuk diklat mandiri, diklat semi mandiri dan diklat regional.
Untuk mendukung pengembangan penyelenggaraan diklat tersebut
dilakukan pengiriman widyaiswara untuk mengajar diklat di daerah dan
diklat TOC dan MOT bagi staf pelaksanaan dan supervisi diklat.

8. Menyusun Standar Kompetensi Jabatan Fungsional Auditor

Selama tahun 2008 telah dilakukan lima kali kegiatan/tahapan, yaitu:

a. Penyusunan Matriks Kompetensi Auditor

Matriks kompetensi auditor disusun sebagai dasar perumusan Standar


Kompetensi Auditor APIP. Matriks ini disusun dengan memperhatikan tugas
pokok auditor dan jenjang jabatan auditor yang diatur dalam Permenpan
Nomor: PER/220/M.PAN/7/2008 (pengganti Kepmenpan Nomor 19/1996)
dan merujuk pada praktik internal audit yang berlaku secara internasional (The
Certified Government Auditing Professional/CGAP, yaitu sertifikasi yang
diterbitkan The Institute of Internal Auditors/IIA). Kompetensi auditor mencakup
ukuran kemampuan yang harus dimiliki untuk dapat melakukan tugas-tugas
dalam jabatan auditor yang mencakup pengetahuan, keterampilan/keahlian
dan sikap perilaku. Ketiga unsur kompetensi auditor tersebut dijabarkan untuk
per jenjang jabatan auditor, yang terdiri dari kompetensi dasar, kompetensi
lanjutan dan kompetensi khusus untuk penugasan khusus.

34
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
b. Penyusunan Proposal Seminar Standar Kompetensi Auditor

Proposal ini terkait dengan pengembangan standar kompetensi auditor yang


telah memasuki tahap penyusunan matriks kompetensi auditor. Untuk menjadi
sebuah standar, diperlukan proses limited hearing, public hearing, pertimbangan
hukum, hingga akhirnya standar disahkan. Atas pertimbangan tersebut,
dipandang perlu untuk melakukan seminar guna mendekatkan auditor dan
pengguna jasa auditor terhadap pentingnya kompetensi auditor. Tujuan
seminar agar standar kompetensi yang dirumuskan mendapatkan respon yang
positif untuk perbaikan.

c. Permintaan masukan kepada Inspektorat Jenderal Departemen dan LPND serta


Bawasda Seluruh Indonesia sebagai Bahan dalam Penyusunan Standar
Kompetensi Auditor

Pusbin JFA melakukan penyusunan Matriks Kompetensi Auditor APIP per


jenjang jabatan auditor yang masing-masing jabatan memerlukan bidang
kompetensi yang berbeda. Atas matriks tersebut telah dimintakan masukan
kepada unit APIP.

d. Penyusunan Draf Pertama Standar Kompetensi Auditor

Draf pertama Standar Kompetensi Auditor yang disusun menjelaskan latar


belakang, tujuan dan fungsi Standar Kompetensi Auditor, mengatur ruang
lingkup, landasan dan referensi, sistematika, pengertian-pengertian, auditor
APIP masa depan, prinsip-prinsip dasar yang mengatur tentang kewajiban
auditor, kewajiban APIP dan kerangka konseptual Standar Kompetensi Auditor.
Standar Kompetensi Auditor ini disusun untuk tiap jenjang jabatan auditor
yang mencakup kompetensi minimal dan dipetakan dalam Matriks Kompetensi
Auditor APIP.

e. Pengolahan masukan dalam rangka penyusunan Standar Kompetensi Auditor

Permintaan masukan telah dikirimkan pada akhir Oktober 2008 dan unit APIP
yang telah memberikan masukan sebanyak 11 unit. Masukan antara lain, yaitu
perlu diperjelas mengenai auditor APIP masa depan terkait PP Nomor 60/2008.

9. Memfasilitasi Penyusunan Standar dan Kode Etik Profesi Auditor

a. Standar Profesi
Standar profesi auditor APIP yang saat ini berlaku adalah Standar Audit
Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang ditetapkan berdasarkan
Peraturan Menpan No. PER/05/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008.
Standar Audit APFP merupakan prinsip-prinsip dasar dan persyaratan yang

35
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
diperlukan auditor maupun APIP dalam menjalankan tugas dan fungsi
pengawasan.

Standar Audit APFP ini wajib menjadi acuan dalam menetapkan batas-batas
tanggung jawab pelaksanaan tugas audit yang dilakukan oleh APFP dan
auditornya sesuai jenjang dan ruang lingkup tugas auditnya. Tujuan standar
audit ini adalah untuk menjamin mutu koordinasi, perencanaan, pelaksanaan,
dan pelaporan audit. Standar ini juga bertujuan untuk mendorong efektivitas
tindak lanjut serta konsistensi penyajian laporan hasil audit yang bermanfaat
bagi pemakainya.

b. Kode Etik Profesi


Kode etik APIP yang saat ini berlaku adalah Kode Etik Aparat Pengawasan
Intern Pemerintah (APIP) yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Menpan No.
PER/04/M.PAN/03/2008 tanggal 31 Maret 2008.

S
B. MEWUJUDKAN SISTEM KARIER JFA YANG EFEKTIF
istem karier yang tergambar dalam pola pembinaan dalam JFA
sebagaimana disajikan pada Tabel 3 mengidentifikasikan alur
pengembangan karier auditor melalui promosi (kenaikan pangkat dan
jabatan), dan diklat yang dibangun dengan berbasis sistem prestasi kerja dalam
bentuk pencapaian angka kredit.

Secara garis besar sistem karier JFA tersebut diuraikan sebagai berikut:

Pengangkatan ke dalam JFA didasarkan atas kecakapan yang bersangkutan


(kompetensi/sertifikasi entry level). Di samping itu, pengangkatan ini juga harus
mempertimbangkan formasi jabatan, kecukupan beban kerja pada unit kerja yang
bersangkutan serta kualifikasi pendidikan yang sesuai dengan tugas auditor.
Terdapat tiga mekanisme dalam pengangkatan PNS ke dalam JFA, yaitu:

• Pengangkatan Pertama

Merupakan pengangkatan pertama kali ke dalam JFA bagi PNS yang


melaksanakan tugas pengawasan yang mensyaratkan PNS/calon auditor
memperoleh sertifikasi dan angka kredit kumulatif tertentu sesuai dengan
jenjang jabatan dan pangkatnya.

36
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
• Pengangkatan Perpindahan

Merupakan pengangkatan ke dalam JFA dengan pemindahan dari jabatan


struktural atau jabatan fungsional lainnya ke dalam JFA (mutasi diagonal)
setelah memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan, yaitu sertifikasi sesuai
dengan jenjang jabatannya. Dengan kemungkinan adanya perpindahan secara
diagonal dari jabatan struktural dan jabatan fungsional lain ke dalam JFA atau
sebaliknya pada jenjang golongan ruang yang sama, memberikan peluang bagi
auditor yang telah mencapai pangkat dan jabatan tertentu berpindah ke jabatan
struktural/jabatan fungsional lain dengan persyaratan sesuai ketentuan yang
berlaku dan kembali lagi menjadi auditor sesuai kebutuhan organisasi.

• Pengangkatan melalui Inpassing (penyesuaian dalam jabatan)

Merupakan pengangkatan ke dalam JFA melalui penyesuaian bagi para PNS


yang telah dan masih bertugas di bidang pengawasan berdasarkan
keputusan/persetujuan pejabat yang berwenang. Ini merupakan ketentuan
khusus pada saat terjadi perubahan ketentuan yang memerlukan penyesuaian
bagi PNS yang terkena dampak ketentuan tersebut dan pelaksanaannya
dibatasi waktu yang ditetapkan pembina PNS.

Mekanisme pengangkatan dalam JFA yang diuraikan di atas mengisyaratkan


perlunya sistem rekrutmen PNS untuk dapat menyaring kelayakan dan kepatutan
(fit and proper) yang menyangkut potensi kemampuan dan kemauan PNS untuk
diangkat dan dikembangkan sebagai auditor sesuai kebutuhan organisasi.

• Kenaikan Pangkat dan Jabatan

Kenaikan pangkat diperoleh setelah mencapai sejumlah angka kredit kumulatif


tertentu dan masih berada di dalam jenjang jabatan yang sama. Konsepsi
tersebut dibangun searah dengan amanat Peraturan Pemerintah Nomor 99
Tahun 2000 tentang Kenaikan Pangkat Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah
diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2002, yang antara lain
menyatakan bahwa di dalam jabatan fungsional diberikan kenaikan pangkat
pilihan, yaitu kenaikan pangkat yang diberikan atas dasar kepercayaan dan
penghargaan yang diberikan kepada PNS atas prestasi kerjanya yang tinggi.
Dengan demikian, seorang auditor tidak berhak memperoleh kenaikan pangkat
secara reguler.

37
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Karena kenaikan pangkat merupakan penghargaan dan setiap penghargaan
baru mempunyai nilai apabila kenaikan pangkat tersebut diberikan tepat pada
orang dan tepat pada waktunya, maka di dalam JFA telah digunakan Sistem
Perhitungan dan Penetapan Angka Kredit sebagai media pengukuran prestasi
kerja auditor. Dengan sistem tersebut, kenaikan pangkat dan jabatan auditor
berorientasi pada penilaian prestasi kerja yang obyektif, sehingga seorang
auditor dapat menduduki pangkat dan jabatan maksimal sesuai dengan
kompetensi dan prestasi kerja yang dicapai (reward). Di sisi lain, pembinaan
tersebut juga mewajibkan auditor untuk mengumpulkan angka kredit
kumulatif minimal yang ditentukan dalam jangka waktu yang ditentukan,
dimana sanksi (punishment) yang dikenakan bagi auditor apabila tidak
memenuhi hal tersebut adalah Pembebasan Sementara dan sanksi lebih lanjut
adalah Pemberhentian dari JFA.

Kenaikan jabatan dapat diperoleh selain terpenuhinya sejumlah angka kredit


kumulatif tertentu juga terpenuhi persyaratan sertifikasi sesuai dengan peran
dalam jenjang jabatannya. Pemenuhan sertifikasi sebagai persyaratan kenaikan
jabatan tersebut merupakan upaya untuk membentuk dan meningkatkan
kompetensi dalam setiap jenjang jabatan sebagaimana telah diuraikan pada
kebijakan pertama di atas.

Sistem karier dalam JFA di atas dirancang sedemikian rupa untuk mewujudkan
potensi, kompetensi dan profesionalisme, dan minat auditor dalam pekerjaan/jabatan
secara optimal sehingga diharapkan dapat memacu auditor dalam memanfaatkan
kemampuannya untuk melakukan pekerjaan, dan meningkatnya kinerja dalam
suasana kompetisi yang sehat sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan pula
produktivitas dan kualitas kerja organisasi. Pembinaan sistem karier ini perlu
didukung dengan peraturan dan ketentuan yang mutakhir termasuk standar formasi,
prosedur baku dalam pengangkatan dan kenaikan dalam pangkat dan jabatan,
kesejahteraan dan tunjangan auditor dan bimbingan teknis dan fasilitasi dalam
pengangkatan dalam JFA.
Tugas dan kegiatan pembinaan JFA yang telah dilakukan dalam rangka mewujudkan
kebijakan tersebut adalah sebagai berikut:

38
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
1. Penyusunan dan Penyempurnaan Ketentuan dan Pedoman JFA

Selama tahun 2008 BPKP telah memfasilitasi penyusunan menyempurnakan


beberapa ketentuan dan pedoman JFA.

a. Peraturan Menpan tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya

Pada tanggal 4 Juli 2008 telah disahkan Peraturan Menpan Nomor:


PER/220/M.PAN/7/2008 sebagai revisi Keputusan Menpan Nomor 19 tahun
1996 tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya karena sudah
tidak sesuai lagi dengan perkembangan profesi dan tuntutan kompetensi
Auditor saat ini.

b. Peraturan Bersama Kepala BPKP dan Kepala BKN Tentang Petunjuk


Pelaksanaan Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya

Pada tanggal 11 November 2008 telah disahkan Peraturan Bersama Kepala


BPKP dan Kepala BKN Nomor: PER-1310/K/JF/2008 dan Nomor: 24 Tahun
2008 sebagai perubahan atas Keputusan Bersama Kepala BAKN, Sekjen BPK
dan Kepala BPKP Nomor: 10 Tahun 1996, Nomor: 49/SK/S/1996 dan Nomor:
Kep-386/K/1996 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Auditor
dan Angka Kreditnya untuk tertib administrasi dan kelancaran dalam
pelaksanaan Peraturan Menpan Nomor: PER/220/M.PAN/7/2008.

c. Draft Petunjuk Teknis Penerapan JFA dan Angka Kreditnya

Sebagai petunjuk teknis pelaksanaan Peraturan Menpan Nomor:


PER/220/M.PAN/7/2008 dan Peraturan Bersama Kepala BPKP dan Kepala
BKN Nomor: PER-1310/K/JF/2008 dan Nomor: 24 Tahun 2008 telah disusun
empat draft Peraturan Kepala BPKP tentang Penilaian dan Penetapan Angka
Kredit, Organisasi dan Tata Kerja Tim Penilai Angka Kredit, serta
Pengangkatan dalam Jabatan Auditor, Pembebasan Sementara, Pengangkatan
Kembali, dan Pemberhentian dalam dan dari Jabatan Auditor.

d. Draft Juknis Inpassing

Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor: 41 tahun 2007 tentang


Organisasi dan Perangkat Daerah telah disusun draft Juknis Inpassing, namun
masih menunggu Permenpan tentang Inpassing.

39
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
e. Pedoman Teknis Pengawasan

Sejalan dengan pelaksanaan pembinaan JFA, BPKP telah ditetapkan sebagai


Instansi Pembina Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) sebagaimana
dinyatakan dalam PP Nomor 60 Tahun 2008. BPKP sudah menghasilkan
berbagai produk pedoman teknis pengawasan yang dapat digunakan oleh
APIP untuk meningkatkan kinerja pengawasannya sebagaimana dapat dilihat
pada Lampiran 11.

Foto 6. Kepala BPKP, Didi Widayadi (kanan) bersama Kepala Badan


Kepegawaian Negara, Edy Topo Ashari (kiri), menandatangani Peraturan
Bersama Kepala BPKP dan Kepala BKN Nomor PER-1310/K/JF/2008 ;
Nomor:24 Tahun 2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional Auditor
dan Angka Kreditnya pada tanggal 11 November 2008 di Jakarta.

Berbagai ketentuan dan pedoman JFA tersebut telah melalui serangkaian


mekanisme penyusunan yang meliputi inventarisasi permasalahan, pengkajian,
pembahasan dan pemaparan (due process) dengan melibatkan
narasumber/pembahas dari unit kerja intern dan ekstern BPKP yang kompeten di
bidang manajemen kepegawaian. Mekanisme tersebut dirancang sedemikian rupa
sehingga diharapkan dapat menghasilkan ketentuan dan peraturan JFA yang
aplikatif dan solutif serta mudah dipahami oleh pihak-pihak pemangku

40
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
kepentingan. Di samping itu, ketentuan dan pedoman pada huruf b s.d. e di atas
telah didistribusikan kepada unit kerja di lingkungan APIP yang telah menerapkan
JFA dan telah ditayangkan dalam situs http://www.bpkp.go.id.

2. Sosialisasi dan Bimbingan Teknis Dalam Penerapan JFA

Dalam rangka mengefektifkan pembinaan dan pengembangan JFA pada unit kerja
di lingkungan APIP maka BPKP telah melaksanakan kegiatan sosialisasi dan
bimbingan teknis penerapan JFA secara terencana dan berkesinambungan.
Pelaksanaan sosialisasi dan bimbingan teknis melalui:

- pemaparan langsung di unit kerja APIP;

- pemaparan pada Diklat Sertifikasi JFA dengan sesi ’Penjelasan JFA dan Pola
Diklat Auditor ’ dan Diklat Tim Penilai Angka Kredit Auditor;

- memberikan konsultasi di Pusbin JFA;

- memberikan konsultasi melalui jawaban surat, e-mail, rubrik tanya jawab pada
warta pengawasan; dan

- memberikan konsultasi melalui situs http://www.bpkp.go.id yang lebih


dikenal sebagai Forum Tanya Jawab JFA on-line.

Materi yang disampaikan adalah berkaitan dengan penerapan ketentuan dan


pedoman JFA, serta solusi terhadap suatu permasalahan ke-JFA-an (kepegawaian
termasuk jabatan fungsional dan kediklatan) dari sisi auditor maupun instansi
auditor. Kegiatan tersebut dilaksanakan oleh seluruh potensi SDM di Pusbin JFA,
Pusdiklatwas, dan Satgas Pembinaan JFA yang terdapat di setiap perwakilan BPKP.
Kegiatan tersebut mendapatkan respon yang sangat positif dari auditor khususnya
dan unit kerja di lingkungan APIP pada umumnya.

Adapun rekapitulasi pelaksanaan kegiatan tersebut oleh Pusbin JFA pada tahun
2008 sebanyak 190 kali dengan rincian sebagai berikut:

ƒ 6 kali sosialisasi ketentuan JFA pada unit kerja APIP: 3 di unit BPKP, 1 di
Itjen Departemen/Kementerian/LPND dan 2 Bawas/Inspektorat Daerah;

ƒ 63 kali mengajar ketentuan JFA pada diklat JFA di: 11 unit BPKP, 19 Itjen
Departemen/Kementerian/LPND, dan 33 Bawas/Inspektorat Daerah;

ƒ 106 kali konsultasi permasalahan JFA yang berasal dari: 3 unit BPKP, 27
Itjen Departemen/Kementerian/LPND dan 76 Bawas/Inspektorat Daerah;
dan

41
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
ƒ 15 kali bimbingan teknis/asistensi penilaian angka kredit pada unit kerja
APIP: 4 di Perwakilan BPKP, 6 di Itjen Departemen/Kementerian/LPND, 5
Bawas/Inspektorat Daerah.

Tanggal 31 Mei 2007 diluncurkan Forum Tanya Jawab JFA on-line di situs BPKP
untuk memfasilitasi para pejabat fungsional auditor dalam mengkonsultasikan
permasalahan dan memperoleh informasi seputar ke-JFA-an (angka kredit,
kepegawaian, pendidikan dan pelatihan). Melalui forum ini dapat dilihat hasil
tanya jawab dan dapat mengirimkan pertanyaan seputar ke-JFA-an. Pengelolaan
Forum Tanya Jawab JFA online tersebut melibatkan Pusbin JFA, Pusdiklatwas, Biro
Kepegawaian dan Organisasi serta Biro Hukum dan Humas selaku penanggung
jawab situs BPKP. Selama periode 2008 jumlah pertanyaan yang masuk sebanyak
230 buah.

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa menurut pimpinan APIP, hasil sosialisasi
dan bimtek ketentuan/peraturan JFA bagi auditor sudah baik, dengan urutan paling baik
adalah Itjen Departemen/Unit Pengawasan LPND, Bawasda, dan selanjutnya BPKP.
Namun persepsi Auditor APIP, sosialisasi dan bimtek ketentuan/peraturan JFA diterima
dengan cukup baik , dengan urutan paling baik adalah Bawasda, Itjen Departemen/Unit
Pengawasan LPND, dan selanjutnya BPKP.

3. Fasilitasi Pengangkatan Dalam Jabatan

Peranan BPKP dalam memfasilitasi pengangkatan seorang PNS/calon PNS ke


dalam JFA adalah melakukan pengujian administratif terhadap kelengkapan
berkas dan pemenuhan persyaratan sesuai dengan ketentuan. Hal tersebut sesuai
dengan Permenpan Nomor: PER/220/M.PAN/7/2008 pasal 27 ayat (6) dan pasal
29 ayat (6) yang menyatakan bahwa pengangkatan sebagai auditor baik melalui
pengangkatan pertama atau pengangkatan perpindahan dari jabatan lain harus
mendapatkan persetujuan dari Instansi Pembina. Persetujuan Instansi Pembina
(Kepala BPKP) tersebut dalam bentuk pertimbangan teknis Instansi Pembina
kepada Pejabat Yang Berwenang Mengangkat PNS ke dalam JFA (pejabat pembina
kepegawaian) berkaitan dengan persyaratan administratif dan teknis sesuai
ketentuan yang berlaku.

Pada tahun 2008 telah diproses 107 surat usulan pengangkatan ke dalam JFA untuk
376 calon auditor dari 58 unit kerja APIP. Dari jumlah tersebut 355 orang disetujui

42
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
untuk diangkat, 21 orang tidak dapat disetujui karena melebihi batas usia
maksimal 5 tahun sebelum pensiun dan belum lulus sertifikasi. Setelah berlakunya
Peraturan Menpan Nomor: PER-220/M.PAN/7/2008, pengangkatan ke dalam JFA
tidak lagi disyaratkan lulus sertifikasi. Rincian jumlah PNS yang disetujui untuk
diangkat dalam jabatan Auditor adalah sebagaimana pada Tabel 10 berikut ini.

TABEL 10
PERSETUJUAN PENGANGKATAN KE DALAM JABATAN AUDITOR
PER JENJANG JABATAN TAHUN 2008

Unit APIP
No Jabatan Itjen Inspektorat Bawasda/ Jumlah
Departemen LPND Inspektorat
1 A. Pelaksana 40 2 28 70
2 A. Pel. Lanjutan 4 0 9 13
3 A. Penyelia 1 0 2 3
4 A. Ahli Pertama 104 7 125 236
5 A. Ahli Muda 21 1 6 28
6 A. Ahli Madya 5 0 0 5
7 A. Ahli Utama 0 0 0 0
Jumlah 175 10 170 355

Penerapan JFA

Penerapan JFA dilaksanakan bertahap sesuai tingkat kesiapan Itjen Departemen,


Inspektorat Utama/Inspektorat Kementerian/LPND dan Badan Pengawas/Inspektorat
Daerah dalam melaksanakan reformasi birokrasi - melalui organisasi APIP yang
ramping dan kaya fungsi serta penyerapan paradigma profesionalisme – di lingkungan
BPKP mulai tahun 1996, Itjen Departemen, Inspektorat Utama/Inspektorat
Kementerian/LPND tahun 2001 - 2002 dan Badan Pengawas/Inspektorat Daerah tahun
2003.

Jumlah auditor di lingkungan Aparat Pengawasan Intern Pemerintah untuk seluruh


jenjang jabatan pada 31 Desember 2008 berjumlah 8.645 orang. Jumlah tersebut masih
jauh di bawah kebutuhan auditor menurut perhitungan formasi sekitar 42.513 orang
sehingga terdapat kekurangan sebanyak 33.868 auditor. Apabila kekurangan tersebut
dapat terpenuhi dari konversi SDM pengawasan non auditor dengan potensi sejumlah

43
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
10.677 orang, maka kekurangan JFA tersebut menjadi sebanyak 23.191 auditor. Kecilnya
tingkat kesediaan diangkat dalam jabatan fungsional auditor, di samping karena
komitmen dan kekurangsiapan untuk menerapkan reformasi birokrasi/kelembagaan
terutama di lingkungan pemerintah daerah, adalah karena kecilnya tingkat
kesejahteraan dibanding beban dan risiko jabatan, dan batas usia pensiun yang tidak
disamakan dengan jabatan fungsional tertentu lainnya. Hal ini tentunya berdampak
pada penyediaan auditor yang profesional yang memungkinkan peningkatan kualitas
hasil pengawasan yang diharapkan agar dapat mendukung pencapaian tujuan
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan secara efektif. Lebih lanjut akan
dijelaskan penerapan JFA dan hambatannya baik pada APIP Pusat maupun APIP
Daerah di bawah ini.

• APIP Pusat yang telah menerapkan JFA per 31 Desember 2008 sebanyak 39 unit
dari sejumlah 61 Itjen Departemen, Inspektorat Utama/Inspektorat
Kementerian/LPND atau 63,93%. Secara umum permasalahan yang muncul dalam
pelaksanaan pengangkatan ke dalam JFA di lingkungan Itjen Departemen,
Inspekorat Utama/Inspektorat Kementerian/LPND adalah:
o Kementerian/Lembaga lebih menerapkan jabatan fungsional kekhususan yang
ada di lingkungan tugas dan fungsinya, seperti Jaksa pada Kejaksaan Agung,
Agen pada Badan Intelijen Negara;
o Ketersediaan calon PNS yang memenuhi persyaratan untuk diusulkan
pengangkatan ke dalam JFA serta formasi yang ada;
o Beberapa lembaga belum memiliki unit pengawasan tersendiri dan beberapa
unit APIP bentukan baru menggunakan tenaga auditor BPKP sebagai tenaga
perbantuan, seperti pada Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat dan
Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.

• Jumlah APIP Daerah yang menerapkan JFA per 31 Desember 2008 masih sangat
rendah yaitu sebanyak 181 unit kerja dengan jumlah 3.109 auditor atau 37,67% dari
jumlah unit kerja Bawas/Inspektorat Daerah sebanyak 522 unit kerja dengan
perkiraan jumlah kebutuhan formasi auditor untuk seluruh Bawas/Inspektorat
Daerah sejumlah 27.088 auditor. Hal tersebut disebabkan adanya permasalahan
yang terkait dengan belum siapnya beberapa pemerintah daerah untuk
menerapkan jabatan fungsional khususnya JFA, sebagai berikut:

44
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
o Belum siapnya pimpinan daerah untuk berkomitmen menerapkan reformasi
birokrasi dan paradigma profesionalisme Auditor;
o Keengganan PNS Daerah untuk menduduki jabatan fungsional karena masih
kuatnya persepsi jabatan struktural lebih ”bergengsi” dan ”nyaman”
dibandingkan jabatan fungsional;
o Penerbitan Permendagri Nomor 57/2007 dan Nomor 64/2007 yang
memunculkan jabatan fungsional baru, Pengawas Pemerintah dan
menggemukkan struktur organisasi Bawasda/Inspektorat Daerah yang justru
bertolak belakang dengan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 tentang
Organisasi Perangkat Daerah yang merupakan kebijakan reformasi birokrasi
menuju organisasi Bawasda/Inspektorat Daerah yang ramping dan mendorong
pembentukan jabatan fungsional Auditor; dan
o Adanya upaya pembentukan jabatan fungsional Pengawas Pemerintah di
lingkungan Bawasda/Inspektorat Daerah (mengacu pada Peraturan Pemerintah
Nomor 79 Tahun 2005 pasal 24 dan Permendagri Nomor 64 tahun 2007) yang
berpotensi tumpang tindih dalam disiplin ilmu dan pelaksanaan tugas dengan
jabatan fungsional yang telah ada (Auditor) sehingga menimbulkan
kebingungan Pemerintah Daerah untuk menerapkan Pengawas Pemerintah atau
Auditor.

Terhadap masalah ini, langkah-langkah yang dilakukan oleh BPKP selaku Intansi
Pembina JFA adalah:

o BPKP pada tahun 2009 akan melaksanakan program pengangkatan ke dalam JFA
melalui perpindahan dengan perlakuan khusus bagi staf pengawas/pejabat
fungsional umum di lingkungan APIP yang belum menerapkan JFA dan program
pengangkatan JFA melalui mekanisme inpassing bagi mantan pejabat struktural di
lingkungan Bawasda/Inspektorat Daerah yang tidak menjabat lagi karena
penerapan PP Nomor 41 Tahun 2007. Pusbin JFA sudah melakukan pembahasan
dengan pihak pejabat Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan BKN dan
mengajukan usulan Inpassing JFA dalam rangka penerapan PP Nomor 41/2007
tentang Organisasi Perangkat Daerah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa layanan pemrosesan usulan pengangkatan ke dalam


JFA cukup baik, dengan urutan paling baik adalah BPKP, Itjen Departemen/Unit Pengawasan
LPND, dan selanjutnya Bawasda.

45
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
4. Menyelenggarakan Sistem Informasi JFA

a. Sistem Informasi JFA

BPKP telah memiliki pengelolaan database auditor yang mampu menyediakan


profil auditor sehingga terlihat rincian auditor per unit organisasi, provinsi,
jenjang jabatan, pangkat, latar belakang pendidikan, pencapaian angka kredit
periodik secara berkala, up-to-date dan terintegrasi.

b. Media Komunikasi

Untuk mengkomunikasikan kegiatan pengawasan dan pembinaan JFA di


lingkungan APIP dan sekaligus sebagai media pengembangan profesi di bidang
karya tulis ilmiah, BPKP menerbitkan majalah Warta Pengawasan dan situs
http://www.bpkp.go.id. Majalah yang terbit setiap tiga bulan sekali ini telah
memperoleh Surat Tanda Terbit (STT) dari Dirjen PPG No. 958/SK/DItjen
PPG/STT/1982 tanggal 20 April 1982 dan telah memperoleh Nomor ISSN 0854-
0519. Materi yang disajikan antara lain kegiatan pengawasan di seluruh
Indonesia, ringkasan hasil penelitian di bidang pengawasan, dan rubrik
Konsultasi JFA. Majalah ini disebarluaskan ke seluruh perwakilan BPKP,
lembaga-lembaga tinggi negara, Departemen, LPND, Itjen Departemen,
Inspektorat Utama/Inspektorat Kementerian/LPND, Bawas/Inspektorat
Daerah, sejumlah LSM, PTN dan sejumlah PTS, serta pelanggan tetap. Warta
Pengawasan dapat diakses melalui situs
http://www.bpkp.go.id/warta/index.php dan dihubungi melalui e-mail
warta_pengawasan@bpkp.go.id.

Selama tahun 2008 telah dilakukan update konten yang dikategorikan dalam
beberapa kategori yaitu:

1) Kategori Berita
Berita yang ditayangkan selama tahun 2008 antara lain berita yang terkait
dengan perubahan peraturan ke-JFA-an, kegiatan diklat peningkatan
kompetensi pembina JFA bagi pegawai di lingkungan Pusbin JFA,
persiapan inpassing ke dalam JFA dan kegiatan lain yang terkait dengan ke-
JFA-an.

2) Kategori Ketentuan JFA


Secara reguler dilakukan upload peraturan baru yang terbit di tahun 2008,
antara lain:

46
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
- Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor
PER/220/M.PAN/7/2008 tentang Jabatan Fungsional Auditor dan
Angka Kreditnya.
- Peraturan Bersama Kepala BPKP dan BKN Nomor PER-
1310/K/JF/2008 dan Nomor 24 Tahun 2008 tentang Petunjuk
Pelaksanaan Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya.
- Surat Kepala Pusbin JFA Nomor 838/JF/1/2008 tentang Batas Usia
Calon Peserta Diklat Sertifikasi JFA Pembentukan Auditor Trampil dan
Pembentukan Auditor Ahli.

3) Kategori Konsultasi JFA


Kegiatan yang dilakukan dalam kategori ini adalah pengelolaan Forum
Tanya Jawab JFA On-line. Forum ini berisikan pertanyaan-pertanyaan yang
diajukan Auditor, Pejabat Struktural di lingkungan pengawasan dan
kepegawaian dan dijawab oleh Pusbin JFA. Selama tahun 2008 terdapat 230
pertanyaan yang dijawab, sebagaimana disajikan pada Diagram 10 berikut
ini.

DIAGRAM 10
TANYA JAWAB JFA ON-LINE TAHUN 2008

Hasil penelitian menunjukkan bahwa content situs instansi pembina dalam www.
bpkp.go.id. bermanfaat bagi pimpinan APIP, namun Auditor APIP mempunyai persepsi
cukup bermanfaat, dengan urutan paling bermanfaat adalah BPKP, Itjen Departemen/Unit
Pengawasan LPND, dan selanjutnya Bawasda.

Penelitian juga menunjukkan bahwa konsultasi JFA On-Line pada situs


www.bpkp.go.id cukup bermanfaat bagi pimpinan dan Auditor APIP, dengan urutan

47
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
paling bermanfaat adalah BPKP, Itjen Departemen/Unit Pengawasan LPND, dan
selanjutnya Bawasda.

5. Evaluasi dan Monitoring Penerapan JFA


Dalam rangka pengendalian penerapan JFA oleh Instansi Pembina JFA, BPKP
melaksanakan evaluasi dan monitoring penerapan JFA dalam bentuk antara lain:

a. Rapat dan koordinasi dengan instansi pemangku kepentingan: Kementerian


Negara PAN, BKN, LAN, dan instansi pengguna di lingkungan APIP.

b. Kajian dan penelitian yang berkaitan pendidikan dan pelatihan profesi


untuk kebutuhan kompetensi auditor BPKP.

c. Evaluasi berkala yang dilaksanakan oleh Pusbin JFA dan Pusdiklatwas


BPKP dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsi.

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut dapat diperoleh identifikasi dan mapping


permasalahan dan faktor-faktor yang berpengaruh dalam penerapan JFA yang
bermanfaat dalam penyusunan kebijakan dalam rangka peningkatan kualitas
pembinaan JFA.

6. Menyelenggarakan Forum Komunikasi JFA


Selama tahun 2008 telah diselenggarakan 4 kali Forum Komunikasi JFA yaitu
Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian di Lingkungan BPKP dan Forum
Komunikasi JFA di lingkungan Bawasda/Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota
yang dilaksanakan dalam tiga tahap, yaitu tahap I untuk wilayah Jawa-Kalimantan,
tahap II wilayah Sumatera, dan tahap III wilayah Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi,
Maluku, dan Papua. Jadi kegiatan Forkom JFA Bawasda dipecah dalam 3 tahap
yang disesuaikan dengan regionalnya.

• Forum Komunikasi JFA dan Kepegawaian BPKP Tahun 2008 dengan tema
“Peningkatan Kompetensi dan Pembaharuan Manajemen Sumber Daya
Manusia dalam Mendukung Keberhasilan Peran dan Fungsi BPKP Baru”
diselenggarakan di Hotel Sahid Kusuma Raya, Kota Surakarta, Provinsi Jawa
Tengah pada tanggal 24 s.d 27 November 2008. Kegiatan ini diikuti oleh 191
peserta yang berasal dari seluruh unit kerja di lingkungan BPKP.

• Forum Komunikasi JFA Bawasda/ Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota


Tahun 2008 dengan tema ”Melalui Peningkatan Kompetensi dan Sinergi

48
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Pembinaan JFA Kita Bangun Profesionalitas Auditor Inspektorat Daerah untuk
Mendukung Terwujudnya Kepemerintahan yang Baik dan Bersih”.

Pelaksanaan Forum Komunikasi JFA Bawasda/Inspektorat


Provinsi/Kabupaten/Kota bertempat di Hotel Horizon, Bandung, Provinsi
Jawa Barat, dengan jadwal dibagi menjadi tiga tahap, yaitu :

ƒ Wilayah Jawa – Kalimantan, pada tanggal 4 – 6 Agustus 2008;

ƒ Wilayah Sumatera, pada tanggal 15 – 17 Oktober 2008;

ƒ Wilayah Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua pada tanggal 20


- 21 Oktober 2008.

Berbeda dengan forum tahun 2007 yang penyajiannya membahas


permasalahan penerapan JFA dari masing-masing unit APIP, dalam forum JFA
Bawasda/Inspektorat tahun 2008 lebih dititikberatkan pada aspek strategis
penerapan JFA dengan menghadirkan para nara sumber dari Kementerian
PAN, BKN, Badan Diklat Departeman Dalam Negeri, Bawasda Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta, Bawasda Kabupaten Karo, Pusdiklatwas BPKP, dan
Pusbin JFA BPKP.

Hasil yang dicapai dalam penyelenggaraan forum tersebut adalah:


a. Pimpinan Inspektorat diharapkan dapat memberikan gambaran kepada
pejabat pembina kepegawaian daerah mengenai PP Nomor 41 tahun 2007
sebagai salah satu upaya reformasi birokrasi daerah untuk mengefisienkan
dan mengefektifkan fungsi strategis kegiatan pengawasan.
b. Pelaksanaan PP Nomor 41 tahun 2007 seharusnya dapat memperkuat posisi
APIP Inspektorat Daerah dengan memberikan quality assurance dalam
pengawasan atas penyelenggaraan pemerintahan daerah, termasuk
melakukan berbagai jasa konsultansi, bimbingan, supervisi untuk
membantu penyelenggaraan pemerintahan daerah yang akuntabel.
c. Arah reformasi birokrasi dapat lebih mengedepankan aspek profesional dan
fungsional, serta mendorong tumbuhnya jabatan fungsional di daerah,
dengan meniadakan jabatan eselon IV di bawah Irban dalam Struktur
Organisasi Inspektorat Daerah.
d. BKN akan menegakkan kepatuhan dalam pelaksanaan peraturan
kepegawaian, dan pelaksanaan penataan organisasi perangkat daerah
berdasarkan PP Nomor 41/2007.
e. BPKP akan membantu memfasilitasi Bawasda dalam proses seleksi calon
auditor melalui Assesment Center.

49
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
f. Pelaksanaan diklat, khususnya substantif akan diusahakan lebih banyak
praktek dibandingkan teori.
g. Perlu dilakukan sinergi kebijakan dan program diklat di antara pihak-pihak
yang terlibat dalam pembinaan kompetensi dan profesionalisme APIP.
h. Sinergi diklat teknis di lingkungan APIP Daerah dengan lembaga diklat
teknis terkait untuk pengetahuan dasar teknis, sedangkan diklat teknis
pengawasan di lingkungan APIP Daerah dikoordinasikan melalui Bawas
Propinsi untuk diteruskan ke Pusdiklatwas BPKP
i. Peningkatan kompetensi teknis dan profesionalisme APIP di jajaran
Depdagri dan APIP Daerah difokuskan pada substansi yang diatur dalam
Permendagri Nomor 37 tahun 2008 tentang rumpun diklat teknis substantif
pemerintahan daerah.
j. Setiap badan diklat yang terakreditasi, baik Pusat maupun Daerah dapat
melakukan diklat PNS Auditor.

Penelitian kami menunjukkan bahwa hasil forum komunikasi JFA bermanfaat cukup
bermanfaat bagi pimpinan APIP, dengan urutan paling bermanfaat adalah Itjen
Departemen/Unit Pengawasan LPND, BPKP, dan selanjutnya Bawasda.

Foto 7. Deputi BPKP Bidang Pengawasan Instansi Pemerintah Bidang Polsoskam,


Iman Bastari (paling kanan) memberikan cendera mata kepada para nara sumber
Forum Komunikasi JFA Bawasda/Inspektorat Daerah Wilayah Jawa –
Kalimantan pada tanggal 4 – 6 Agustus 2008 di Hotel Horizon, Bandung,
Provinsi Jawa Barat

50
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA

Foto 8. Para sumber Forum Komunikasi JFA Bawasda/Inspektorat


Provinsi/Kabupaten/Kota Wilayah Jawa – Kalimantan pada tanggal 4 – 6
Agustus 2008 di Hotel Horizon, Bandung, Provinsi Jawa Barat. Dari kiri-ke
kanan, Condro Imantoro, Kepala Pusbin JFA, Agus Witjaksono, Kepala
Pusdiklatwas dan Arif, Kepala Subbid pada Pusdiklawas.

Foto 9. Sekretaris Utama BPKP, Kuswono Soeseno, (kanan) didampingi Kepala


Pusbin JFA, Condro Imantoro, (tengah) dan Plh. Kepala Perwakilan BPKP
Provinsi Jawa Barat sedang memukul gong tanda dibukanya Forum Komunikasi
JFA Bawasda/Inspektorat Daerah Wilayah Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara,
Maluku, Papua pada tanggal 20 Oktober 2008 di Hotel Horizon, Bandung,
Provinsi Jawa Barat.

51
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA

Foto 10. Para peserta Forum Komunikasi JFA Bawasda/Inspektorat Daerah Wilayah Bali,
Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua tanggal 20 – 21 Oktober 2008 di Hotel
Horizon, Bandung, Provinsi Jawa Barat tampak antusias mendengarkan pemaparan.

7. Meningkatkan Tunjangan Auditor


Sesuai pasal 13 PP No. 16 tahun 1994, kepada PNS yang menduduki jabatan
fungsional dan telah ditetapkan angka kreditnya diberikan tunjangan jabatan
fungsional. Upaya untuk mengusulkan tunjangan Jabatan Fungsional Auditor
melalui Kementerian Negara PAN telah berhasil dengan diterbitkannya Keputusan
Presiden Nomor 23 Tahun 2002 tentang Tunjangan Jabatan Fungsional Auditor.
Kemudian dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan produktivitas kerja
Pejabat Fungsional Auditor, pada tahun 2007 Pemerintah menaikkan tunjangan
auditor dengan menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 66 Tahun 2007
tentang Tunjangan Jabatan Fungsional Auditor dengan rincian sebagaimana dapat
dilihat pada Tabel 11 berikut ini.

52
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
TABEL 11
NILAI TUNJANGAN AUDITOR
Besar
No Jabatan Fungsional Jabatan Tunjangan
(Rp)
1. Auditor Ahli Auditor Utama 1.200.000,00
Auditor Madya 900.000,00
Auditor Muda 600.000,00
Auditor Pertama 300.000,00

2. Auditor Terampil Auditor Penyelia 425.000,00


Auditor Pelaksana Lanjutan 265.000,00
Auditor Pelaksana 240.000,00

Upaya peningkatan kesejahteraan auditor termasuk tunjangan JFA selalu menjadi


perhatian instansi pembina. Hal ini dilakukan secara bertahap dengan melakukan
kajian pengusulan kenaikan tunjangan JFA dan berkoordinasi dengan instansi
terkait, dengan memperhatikan beban tugas dan bobot jabatan termasuk risiko
pekerjaan dan persyaratan keahlian dan keterampilan dibandingkan dengan
jabatan fungsional lainnya.

8. Mengajukan Usulan Perpanjangan Batas Usia Pensiun Auditor


BPKP selaku Instansi Pembina JFA bermaksud mengusulkan dan mengupayakan
perpanjangan batas usia pensiun (BUP) Auditor Madya menjadi 60 tahun dan
Auditor Utama menjadi 62 tahun. Naskah akademis Usulan BUP Auditor Madya
dan Auditor Utama ini merupakan kajian kedua sebagai perbaikan atas kajian
pertama yang sebelumnya telah dikirimkan ke Menpan melalui surat Kepala BPKP
Nomor S-963/K/JF/2007 tanggal 16 Agustus 2007. Perbaikan ini merupakan
kelanjutan hasil pembahasan dengan pihak Menpan, BKN, dan Sekretaris Kabinet
pada tanggal 25 Oktober 2007 dan telah disesuaikan dengan naskah akademis
perpanjangan BUP Perencana yang telah selesai dibahas dan dalam proses
persetujuan oleh pihak Menpan, BKN, dan Sekretaris Kabinet.

Dalam naskah akademis pertama sebelumnya diusulkan usia pensiun Auditor


Madya 58 tahun dan Auditor Utama 60 tahun, sedangkan dalam naskah akademis
yang kedua usulan usia pensiun Auditor Madya menjadi 60 tahun dan Auditor
Utama 62 tahun. Naskah akademis kajian perpanjangan BUP Auditor yang kedua

53
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
ini kemudian dikirim Kepala BPKP ke Menpan dengan surat Nomor S-
1415/K/JF/2008 tanggal 16 Desember 2008 tentang Usulan Perpanjangan BUP
Auditor.

M
C. SISTEM PRESTASI KERJA BERBASIS ANGKA KREDIT
edia pengukuran prestasi kerja auditor adalah dengan menggunakan
sistem perhitungan dan penetapan angka kredit. Hal tersebut sesuai
dengan amanat PP 16 tahun 1994 pasal 8 ayat (1) yang menyatakan
bahwa penilaian prestasi kerja auditor ditetapkan dengan angka kredit
oleh pejabat yang berwenang setelah mendapat pertimbangan dari Tim Penilai. Angka
Kredit adalah satuan nilai dari tiap butir kegiatan dan/atau akumulasi nilai butir-butir
kegiatan yang harus dicapai oleh auditor dalam rangka pembinaan karier yang
bersangkutan. Sistem perhitungan dan penetapan angka kredit tersebut dirancang
sedemikian rupa sehingga dapat menghasilkan suatu media pengukuran yang
memenuhi kriteria berikut:

− spesifik, yaitu teridentifikasi 44 butir kegiatan auditor yang dikelompokkan sesuai


dengan jenjang jabatan dan perannya yang menunjukkan tanggung jawab dan
wewenang auditor dalam tim mandiri, kegiatan tersebut meliputi unsur
pendidikan, unsur pengawasan, dan unsur pengembangan profesi sebagi unsur
utama serta unsur penunjang pengawasan;
− terukur, yaitu setiap kegiatan auditor memiliki satuan angka kredit atau satuan
nilai dari tiap butir kegiatan yang berbeda-beda sesuai dengan tingkat
kompleksitas kegiatan;
− terencana, yaitu penetapan satuan angka kredit tersebut didasarkan pada jam kerja
efektif seorang auditor dalam melaksanakan tugas pengawasan (1.250 jam dalam
setahun), sehingga auditor tersebut memiliki target/kejelasan waktu yang akurat
dalam merencanakan dan meniti jenjang kariernya; dan
− orientasi hasil, yaitu angka kredit dapat diberikan bila auditor telah selesai
melaksanakan penugasan yang diberikan dengan menunjukkan bukti yang
menyatakan bahwa penugasan yang dilaksanakan telah memperoleh suatu hasil.

Dalam sistem perhitungan dan penetapan angka kredit auditor tersebut juga mencakup
prosedur sebagai berikut:

54
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
− Prosedur pengumpulan dan pengusulan angka kredit
Merupakan rangkaian kegiatan yang melibatkan auditor, atasan langsung auditor,
dan Pejabat Pengusul Angka Kredit. Pengumpulan angka kredit ini merupakan
kegiatan yang dilakukan terus-menerus dan sesegera mungkin dengan waktu yang
telah ditetapkan.
− Prosedur penilaian dan penetapan angka kredit
Merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Sekretariat Tim Penilai
Angka Kredit dan Pejabat Yang Berwenang Menetapkan Angka Kredit. Penilaian
angka kredit merupakan kegiatan yang dilakukan dalam rangka penetapan jumlah
angka kredit yang diperoleh auditor atas kegiatan dan penugasan yang telah
dilaksanakan.

Program dan kegiatan dalam pembinaan aspek sistem prestasi kerja meliputi
penyusunan dan pemutakhiran ketentuan, standar, prosedur dan petunjuk teknis,
fasilitasi penilaian angka kredit terpusat, evaluasi penilaian angkat kredit setempat dan
bimbingan teknis dalam penerapan sistem.

Tugas dan kegiatan pembinaan JFA yang telah dilakukan dalam rangka mewujudkan
kebijakan tersebut adalah sebagai berikut:

1. Menyusun Standar dan Prosedur serta Petunjuk Teknis dalam Penilaian Prestasi
Kerja
Untuk menunjang kelancaran proses penilaian dan penetapan angka kredit auditor
di lingkungan APIP, telah ditetapkan Prosedur Kegiatan Baku Penilaian dan
Penetapan Angka Kredit bagi Jabatan Fungsional Auditor di Lingkungan Aparat
Pengawasan Intern Pemerintah melalui Keputusan Kepala BPKP Nomor KEP-
817/K/JF/2002 Tanggal 3 Desember 2002.

Prosedur ini merupakan acuan bagi pejabat yang berwenang menetapkan, pejabat
pengusul, tim penilai angka kredit, dan auditor di lingkungan APIP dalam proses
penilaian dan penetapan angka kredit JFA, sehingga diharapkan dapat:

− mewujudkan penetapan angka kredit secara tepat waktu sebagai dasar untuk
kenaikan jabatan dan pangkat, bahan perencanaan keikutsertaan diklat; dan

− menjamin tercapainya keseragaman dan transparansi dalam proses penilaian


dan penetapan angka kredit sesuai ketentuan yang berlaku.

55
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Untuk memberikan acuan bagi auditor dalam penulisan karya tulis ilmiah yang
berkualitas guna memperoleh angka kredit pengembangan profesi telah
diterbitkan Keputusan Kepala BPKP Nomor KEP-911/K/JF/2005 tanggal 6
Oktober 2005 tentang Pedoman Penyusunan dan Pengujian Karya Tulis Ilmiah di
Bidang Pengawasan.

Dalam rangka menjamin konsistensi dan keseragaman penilaian angka kredit


dilakukan monitoring melalui evaluasi penerapan dan perhitungan angka kredit
pada APIP secara berkelanjutan. Untuk mendukung pelaksanaan evaluasi tersebut
diterbitkan Pedoman Evaluasi atas Penilaian Angka Kredit JFA.

Hasil penelitian persepsi pimpinan dan Auditor APIP menunjukkan bahwa:

- Penerapan sistem penilaian angka kredit baik, dengan urutan paling baik adalah Itjen
Departemen/Unit Pengawasan LPND, Bawasda, dan kemudian BPKP;

- Prestasi kerja dapat tercermin melalui perolehan angka kredit dengan cukup baik,
dengan urutan paling baik adalah Itjen Departemen/Unit Pengawasan LPND, BPKP,
dan kemudian Bawasda;

- Relevansi kinerja dengan pengusulan Auditor untuk mengikuti Diklat Sertifikasi JFA
berikutnya cukup baik, dengan urutan paling baik adalah Itjen Departemen/Unit
Pengawasan LPND, BPKP, dan kemudian Bawasda;

- Sistem penilaian prestasi kerja dengan angka kredit memotivasi Auditor dalam
melaksanakan tugas pengawasan cukup baik, dengan urutan paling baik adalah Itjen
Departemen/Unit Pengawasan LPND, BPKP, dan kemudian Bawasda;

2. Fasilitasi Penilaian Angka Kredit Terpusat bagi seluruh Auditor Madya dan
Auditor Utama di lingkungan APIP
Penilaian Terpusat adalah penilaian angka kredit untuk seluruh Auditor Madya
dan Auditor Utama di lingkungan APIP yang dilakukan oleh Tim Penilai Pusat
yang berkedudukan di BPKP. Bertambahnya jumlah Auditor Madya dan Auditor
Utama di lingkungan APIP berdampak pada peningkatan jumlah Daftar Usulan
Penilaian Angka Kredit (DUPAK) yang diterima oleh Sekretariat Tim Penilai Pusat.
DUPAK yang diterima pada tahun 2008 sebanyak 2.266 DUPAK, dengan rincian
semester I (Januari) tahun 2008 sebanyak 1.046 berkas, semester II (Juli) tahun 2008
sebanyak 1.220 berkas (sudah termasuk 3 berkas DUPAK periode Semester I tahun
2008 yang diproses pada periode semester II tahun 2008). Berikut ini adalah jumlah

56
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
DUPAK yang diterima Tim Penilai Pusat selama tahun 2008 sebagaimana disajikan
pada Tabel 12 berikut ini.

TABEL 12
DUPAK YANG DITERIMA TIM PENILAI PUSAT TAHUN 2008

Pemrosesan DUPAK
Unit Organisasi
Januari 2008 Juli 2008 Jumlah
- BPKP 556 666 1.222
- Itjen Departemen/ 395 415 810
Inspektorat LPND
- Bawasda/Inspektorat 95 139 234
Prov/Kota/Kab
Jumlah 1.046 1.220 2.266

Penetapan Angka Kredit (PAK) yang telah diterbitkan pada tahun 2008 sebanyak
1.975 PAK, dengan rincian semester I (Januari) 2008 sebanyak 1.036 berkas,
sedangkan semester II (Juli) 2008 sebanyak 939 PAK. Sisa 281 berkas DUPAK
penilaian semester II (Juli) 2008 (1220 – 939 = 281) terdiri dari 6 berkas
dikembalikan kepada pejabat pengusul karena auditor yang bersangkutan dalam
jabatan dan pangkat yang tidak sesuai ketentuan serta belum mengikuti Diklat
Sertifikasi Penjenjangan Pengendali Teknis dan 275 berkas masih dalam proses.
Berikut ini adalah jumlah PAK yang diterbitkan Tim Penilai Pusat selama tahun
2008 sebagaimana disajikan pada Tabel 13 berikut ini.

TABEL 13
PAK YANG DITERBITKAN TIM PENILAI PUSAT TAHUN 2008

Penerbitan PAK
Unit Organisasi
Januari 2008 Juli 2008 Jumlah
- BPKP 553 486 1.039
- Itjen Departemen/ 395 359 754
Inspektorat LPND
- Bawasda/Inspektorat 88 94 182
Prov/Kota/Kab
Jumlah 1.036 939 1.975

57
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
3. Monitoring dan evaluasi penilaian angka kredit
Untuk menjamin agar proses penilaian angka kredit ini sesuai ketentuan,
transparan dan konsisten dilakukan kegiatan evaluasi penilaian angka kredit JFA.
Pelaksanaan evaluasi penilaian angka kredit JFA dilakukan oleh Pusbin JFA. Ruang
lingkup evaluasi meliputi:

• organisasi penilaian angka kredit;


• ketaatan penyampaian DUPAK;
• kelengkapan berkas DUPAK;
• kegiatan pejabat pengusul angka kredit;
• kegiatan sekretariat tim penilai angka kredit;
• kegiatan tim penilai angka kredit;
• penggunaan hari pengawasan (HP) dalam satu tahun; dan
• perkembangan tingkat perolehan angka kredit.

Kegiatan evaluasi dilaksanakan secara bertahap dengan mempertimbangkan


tingkat penerapan penilaian prestasi kerja berbasis angka kredit dan ketersediaan
anggaran.

Pada tahun 2008 dilaksanakan pada 29 unit kerja terdiri dari: 4 Inspektorat Jenderal
Departemen, 1 Bawasda/Inspektorat Provinsi, 18 Bawasda/Inspektorat Kabupaten,
dan 6 Bawasda/Inspektorat Kota. Rincian unit kerja yang dievaluasi disajikan pada
Lampiran 12.

Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa:

- Kinerja tim penilai angka kredit yang menilai DUPAK Auditor cukup baik.

- Ketepatan waktu penerbitan SK Penetapan Angka Kredit bagi auditor cukup baik.

- Ketepatan waktu kenaikan pangkat Auditor (normal 4 tahun) cukup baik.

- Penggunaan hari pengawasan dalam menyelesaikan penugasan pengawasan oleh


Auditor cukup efisien.

Penelitian indikator-indikator di atas umumnya konsistensi unit APIP dalam memberikan


penilaian cukup baik, dengan urutan paling baik adalah Itjen Departemen/Unit
Pengawasan LPND, BPKP, dan selanjutnya Bawasda.

58
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA

U
D. INFRASTRUKTUR PEMBINAAN JFA
ntuk mendukung pembinaan JFA dibutuhkan infrastruktur, yang
meliputi aspek kelembagaan dan aspek penunjang.

1. Aspek Kelembagaan

a. Biro Kepegawaian dan Organisasi BPKP


Pada periode awal terbentuknya JFA pembinaan auditor dilakukan melalui
Biro Kepegawaian dan Organisasi dan Pusdiklatwas BPKP. Biro Kepegawaian
dan Organisasi merupakan unit teknis yang diberi tugas untuk melakukan
pembinaan JFA sebelum Pusbin JFA dibentuk. Pusdiklatwas BPKP
menyelenggarakan diklat sertifikasi jabatan auditor sejak tahun 1996 saat
terbentuknya JFA. Sejak tahun 2001 pembinaan JFA di lingkungan BPKP tetap
dilakukan oleh Biro Kepegawaian dan Organisasi BPKP.

b. Pusbin JFA BPKP


Pada tahun 2001, BPKP membentuk Pusat Pembinaan JFA sebagai unit kerja
setingkat eselon II yang ditugaskan untuk melaksanakan tugas pembinaan
auditor. Penyelenggaraan diklat sertifikasi kepada seluruh auditor pemerintah
baik di lingkungan BPKP maupun APIP lainnya, ditangani Pusdiklatwas BPKP
bersama dengan Pusbin JFA, demikian pula kegiatan penyusunan kurikulum
diklat sertifikasi JFA dan penentuan kelulusan peserta ujian sertifikasi JFA.

Organisasi Pusbin JFA terdiri dari:


- 1 (satu) orang eselon II yaitu Kepala Pusat;
- 2 (dua) orang eselon III yaitu Kepala Bidang Program dan Sertifikasi dan
Kepala Bidang Evaluasi;
- 6 (enam) orang eselon IV yaitu Kepala Sub Bidang Program, Kepala Sub
Bidang Data dan Informasi, Kepala Sub Bidang Sertifikasi, Kepala Sub
Bidang Evaluasi Sertifikasi, Kepala Sub Bidang Evaluasi Angka Kredit, dan
Kepala Sub Bagian Tata Usaha;
- 37 Auditor;
- 2 Pranata Komputer, 1 Analis Kepegawaian, dan 1 Arsiparis; dan
- 28 Pejabat Fungsional Umum.

59
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
c. Pusdiklatwas BPKP
Pusdiklatwas BPKP sejak tahun 1996 menyelenggarakan diklat sertifikasi JFA,
baik untuk JFA di lingkungan BPKP, Bawas/Inspektorat Daerah maupun
Inspektorat Jenderal Departemen/Inspektorat Utama LPND.

Pusdiklatwas BPKP telah memperoleh akreditasi dari Lembaga Administrasi


Negara untuk penyelenggaraan diklat fungsional auditor berikut ini:
- Diklat Pembentukan Auditor Terampil;
- Diklat Pembentukan Auditor Ahli;
- Diklat Pembentukan Auditor Ketua Tim;
- Diklat Penjenjangan Auditor Pengendali Teknis;
- Diklat Penjenjangan Auditor Pengendali Mutu, dan
- Diklat Teknis Manajerial Pengawasan.
Selain itu Pusdiklatwas BPKP telah memperoleh ISO 9001 : 2000 dari TUV Nord
dengan Certificate Registration No. 16.100.0315 tanggal 27 Agustus 2007. TUV
Nord ISO 9001 : 2000 adalah suatu standar international untuk sistem
manajemen kualitas, yang menetapkan persyaratan-persyaratan dan
rekomendasi untuk desain dan penilaian dari suatu sistem manajemen kualitas,
yang bertujuan untuk menjamin bahwa organisasi akan memberikan produk
(barang dan/atau jasa) yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan yang
bertujuan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Sertifikat tersebut telah
dilengkapi dengan Sertifikat IWA2 yang merupakan standar sistem manajemen
mutu di bidang pendidikan dan pelatihan. Sertifikat IWA2 telah diserah-
terimakan pada tanggal 14 Mei 2008.

Selain itu, petugas penyelenggara diklat sertifikasi sebagian besar telah


mengikuti pelatihan yang memadai yaitu Training Officers Course (TOC),
Management of Training (MOT) dan pelatihan lainnya yang diperlukan.
Widyaiswara Pusdiklatwas BPKP seluruhnya telah mengikuti pelatihan wajib
yang berupa Training of Trainers (TOT) Instruktur dan TOT Substansi. Jumlah,
kualifikasi dan tingkatan para Widyaiswara cukup banyak untuk mendukung
penyelenggaraan diklat sertifikasi JFA yang diselenggarakan setempat atau di
kampus Pusdiklatwas.

Jumlah Widyaiswara per 31 Desember 2008 adalah 25 (dua puluh lima) orang
yang terdiri dari: 3 orang Widyaiswara Utama, 13 orang Widyaiswara Madya, 3

60
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
orang Widyaiswara Muda, 1 orang Widyaiswara Pertama, dan 5 orang calon
Widyaiswara.

Di samping itu, keberhasilan penyelenggaraan diklat ini juga didukung oleh


infrastruktur fisik seperti gedung dan ruang kelas, sarana dan prasarana yang
semakin lengkap dan beragam, sesuai dengan perkembangan teknologi.

Untuk menjaga kebugaran dan menciptakan keakraban serta semangat


teamwork bagi peserta diklat, dilaksanakan kegiatan outbound selama satu hari
pada awal penyelenggaraan diklat serta setiap pagi hari juga dilaksanakan
kegiatan senam pagi di halaman kompleks gedung Pusdiklatwas BPKP, Ciawi,
Bogor.

Dengan kekuatan sarana prasarana, fasilitas dan sumber daya manusia


penyelenggara yang dimilikinya, di masa yang akan datang diharapkan
Pusdiklatwas BPKP senantiasa siap menghadapi tantangan tugas
menyelenggarakan diklat-diklat fungsional khususnya untuk auditor.

Foto 11. Suasana pelaksanaan kegiatan Outbond yang diikuti para peserta Diklat
Sertifikasi JFA Pembentukan Auditor Ahli dan Pembentukan Auditor Terampil
bagi pegawai di lingkungan Departemen Perdagangan yang diselenggarakan
sejak tanggal 9 s.d. 30 Juni 2008 di Gedung Pusdiklatwas BPKP, Ciawi, Bogor

d. Satuan Tugas Pembinaan JFA


Mengingat luas dan sebaran lokasi pembinaan di lingkungan unit pengawasan
di daerah, pada setiap Perwakilan BPKP dibentuk Satuan Tugas (Satgas)

61
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Pembinaan JFA yang bertugas mengefektifkan pembinaan dan pengembangan
JFA di lingkungan Bawasda/Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota.

e. Komite Sertifikasi JFA


Untuk senantiasa mampu memelihara dan meningkatkan mutu layanannya
memenuhi kepentingan seluruh pengguna JFA dalam koridor pembinaan
kepegawaian, arah dan pengembangan kompetensi auditor perlu ditentukan
berdasarkan interaksi seluruh stakeholders pengawasan fungsional yang
meliputi Kementerian Negara PAN, Badan Kepegawaian Negara, Lembaga
Administrasi Negara, beberapa Itjen Departemen dan Badan
Pengawas/Inspektorat Provinsi dalam suatu wadah formal dengan mekanisme
kerja yang tertata baik. Pada tanggal 16 November 2007 BPKP memfasilitasi
pembentukan Komite Sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor (JFA) sebagai
wadah formal yang mewakili kepentingan seluruh stakeholders yang bertugas
memberi pertimbangan atau masukan yang bersifat stratejik tentang arah dan
pengembangan kompetensi auditor kepada Pimpinan Instansi Pembina JFA.
Masukan stratejik antara lain berupa penentuan unsur kompetensi
pengetahuan, unsur kompetensi sikap, unsur kompetensi perilaku,
pengembangan kurikulum/pola diklat JFA baik diklat fungsional (diklat
sertifikasi) maupun diklat teknis substansi, serta pola rekrutmen auditor.

Melalui penentuan arah dan pengembangan kompetensi secara partisipatif oleh


seluruh stakeholder diharapkan selain kepentingan stakeholders selalu terjaga,
komitmen pembinaan auditor oleh seluruh aparatur terkait dapat optimal.

Selama tahun 2008 telah dilakukan dua kali sidang Komite, yaitu:

Sidang Komite yang pertama tahun 2008 dilaksanakan pada tanggal 27 Mei
2008 diikuti anggota komite sertifikasi sebanyak 17 orang, diikuti pula oleh
para undangan sebanyak 16 orang meliputi Sekretaris Itjen
Departemen/Inspektur LPND dan Kepala Bawasda/Inspektur Provinsi dan
pejabat di lingkungan BPKP dengan nara sumber dari Menpan dan BKN.

Sidang Komite Sertifikasi JFA pertama tahun 2008 menyepakati bersama tiga
hal berikut:

- Mendukung dan memahami terhadap seluruh isi ketentuan dan pasal


rancangan Permenpan tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka

62
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Kreditnya dengan catatan bahwa permasalahan yang diajukan peserta
berkaitan dengan konsep Permenpan tersebut akan menjadi masukan
dalam penyusunan petunjuk teknis/petunjuk pelaksanaan peraturan
Menpan tersebut.

- Memberikan dukungan kepada Instansi Pembina untuk menyiapkan Pola


Rekrutmen Auditor Berbasis Kompetensi yang dimaksudkan untuk
menjadi pedoman teknis bagi pejabat yang berwenang dalam penyusunan
formasi jabatan fungsional auditor yang meliputi jumlah dan susunan serta
kualifikasi dan kompetensi auditor sesuai dengan kebutuhan masing-
masing APIP.

- Mengusulkan agenda sidang komite sertifikasi auditor kedua tahun 2008


yang meliputi :
a. Pedoman Rekrutmen JFA;
b. Standar Kompetensi Jabatan;
c. Pola Diklat Auditor; dan
d. Usulan dari Anggota Sertifikasi.

Foto 12. Pengarahan dan Pembukaan Sidang Komite Sertifikasi JFA Pertama tahun
2008 oleh Kepala BPKP, Didi Widayadi (tengah) , didampingi oleh Ketua Sidang
Komite Sertifikasi JFA, Kuswono Soeseno (kiri) dan Wakil Ketua Sidang Komite
Sertifikasi JFA, D.Negarayati Siregar .

63
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
Sidang Komite Sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor yang kedua tahun 2008
diselenggarakan tanggal 11 November 2008 diikuti 13 anggota komite dan 67
undangan dari Setitjen Departemen/Inspektur LPND dan pejabat di
lingkungan Menpan, BKN dan BPKP serta Depkeu.

Hasil sidang adalah rekomendasi komite kepada Instansi Pembina JFA antara
lain:
- Memperhatikan masukan Depkeu yaitu perlunya auditor APIP melakukan
praktik internal auditing modern; dan kelompok kompetensi substansi, risk
management, internal control, akuntansi dan pelaporan keuangan pemerintah,
auditing dan komunikasi; pengembangan JFA ke depan, pola pembinaan
yang ‘the best auditor gets the right position’;

- Segera menyelesaikan perumusan Standar Kompetensi Auditor;

- Segera menyelesaikan perumusan Pola Diklat dan Sertifikasi Auditor;

- Menindaklanjuti upaya sinergi diklat teknis substansi;

- Terus mendorong penerapan JFA dengan melibatkan pihak Menpan dan


BKN; dan

- Mengusulkan kenaikan tunjangan JFA.

Usulan agenda sidang komite berikutnya adalah:

- Fasilitasi upaya pembentukan organisasi profesi ‘Internal Auditor


Pemerintah’;

- Sistem rekrutmen dan seleksi auditor; dan

- Perumusan pedoman formasi auditor.

64
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA

Foto 13. Suasana Sidang Komite Sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor kedua tahun
2008, pada sessi pembahasan materi sidang Standar Kompetensi Auditor.

2. Aspek Penunjang
Untuk mendukung pelaksanaan pembinaan dan pengembangan JFA, BPKP
memiliki prasarana bangunan, yaitu:

1) Gedung Kantor Pusat, Jl. Pramuka No 33, Jakarta Timur.

2) Gedung Pusdiklatwas BPKP, di Ciawi, Bogor yang mencakup gedung


perkantoran, ruang kelas dan mes penginapan peserta diklat.
o 10 ruangan kelas, dengan kapasitas masing-masing 30 orang;
o Mess sebanyak 87 kamar dengan kapasitas 206 tempat tidur;
o Perpustakaan;
o Laboratorium komputer; dan
o Ruang presentasi dan diskusi.

Untuk dapat menampung seluruh peserta diklat yang semakin hari semakin
meningkat, saat ini sedang dilakukan pembangunan gedung perluasan Unit
Pusdiklatwas BPKP. Menurut rencana gedung yang dibangun meliputi 4 ruang
kelas dan ruang asrama yang dapat menampung sekitar 120 peserta diklat.

65
Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan JFA
3) Gedung Assessment Center, Jl. Pramuka No. 33, Jakarta Timur.
4) Perwakilan BPKP sebanyak 25 Perwakilan yang tersebar pada 24 provinsi.

Untuk mendukung profesionalisme auditor, BPKP juga memiliki perpustakaan


pada masing-masing unit kerja dengan sebagian besar buku-buku di bidang
akuntansi, auditing dan pengawasan.

66
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan

EVALUASI DAN LANGKAH-LANGKAH


PEMBINAAN JFA KE DEPAN

A. EVALUASI PEMBINAAN JFA


eberhasilan pembinaan JFA dapat diukur dari tingkat
kepuasan instansi pemerintah terhadap pemanfaatan
auditor yang telah dibina dari aspek profesionalisme,
sistem karier dan sistem prestasi kerja. Untuk mengetahui
seberapa jauh keberhasilan pembinaan JFA oleh BPKP,
Pusat Pembinaan JFA telah melakukan penelitian dilakukan dengan menggali
persepsi/pendapat auditor APIP dan atasannya (pimpinan unit kerja APIP) melalui
kuesioner dengan skala pengukuran/penilaian (Skala Likert) 1-10 dengan rincian:
angka 9-10 adalah Sangat Baik, 7-8 Baik, 5-6 adalah Sedang, 3-4 adalah Kurang, 1-2
adalah Sangat Kurang.

Berdasarkan hasil pengolahan data penelitian terhadap seluruh pimpinan APIP dan
auditor di lingkungan APIP mengenai pembinaan Jabatan Fungsional Auditor yang
telah dilakukan BPKP selaku instansi pembina diperoleh hasil bahwa kinerja
pembinaan Pusbin JFA secara umum adalah dinilai 6,42 (cukup baik). Dengan
melakukan analisis variansi untuk menguji perbedaan jawaban responden dengan
tingkat kesalahan 5% (Untuk uji perbedaan analisis variansi digunakan statistik F),
ternyata tidak ada perbedaan pandangan pimpinan dengan auditor. Pembinaan JFA
yang dilakukan BPKP tidak berbeda secara signifikan menurut pandangan pimpinan
maupun oleh auditor.

Secara bertingkat, pimpinan Itjen Departemen/Inspektorat Utama/Inspektorat


Kementerian/LPND memberikan penilaian yang tertinggi 6,83 (baik) dilanjutkan
dengan pimpinan BPKP 6,50 (baik). Nilai terendah diberikan oleh pimpinan Bawasda
6,44 (cukup baik).

Sedangkan penilaian yang diberikan auditor APIP berdasarkan latar belakang instansi
baik menurut auditor BPKP maupun Itjen Departemen/Inspektorat
Utama/Inspektorat Kementerian/LPND dan Bawasda adalah auditor Itjen
Departemen/Inspektorat Utama/Inspektorat Kementerian/LPND memberikan

67
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
penilaian yang tertinggi 6,60 (baik) dilanjutkan dengan auditor BPKP 6,50 (baik). Nilai
terendah diberikan oleh auditor Bawasda 6,16 (cukup baik). Hasil ukuran kinerja
pembinaan yang dilakukan oleh BPKP dari sudut pandang Pimpinan APIP dan
Auditor APIP adalah sebagaimana pada Tabel 14 berikut ini.

TABEL 14
HASIL PENGUKURAN PERSEPSI PIMPINAN DAN AUDITOR APIP
TERHADAP KINERJA PEMBINAAN JFA OLEH BPKP

Instansi APIP
Itjen Departemen/
No Indikator Inspektorat Utama/
BPKP Bawasda Rata-rata
Inspektorat
Kementerian/LPND

Pandangan Pimpinan APIP


1. Pembinaan
cukup cukup baik cukup
Profesionalisme Auditor
2. Penerapan Sistem
baik cukup baik baik
Penilain Angka Kredit
3. Peningkatan
cukup baik baik baik
Profesionalisme Auditor
4. Efisiensi dan Efektivitas
Pelaksanaan Tugas cukup baik baik baik
Auditor
Gabungan baik cukup baik baik

Pandangan Auditor APIP


1. Pembinaan
baik cukup baik cukup
Profesionalisme Auditor
2. Pembinaan Sistem
cukup cukup baik cukup
Prestasi Kerja
3. Pembinaan Sistem Karir baik cukup cukup cukup
Gabungan baik cukup baik cukup

Hasil penelitian secara rinci dapat dilihat pada penjelasan masing-masing kegiatan
pembinaan sebagaimana telah diuraikan dalam Bab Pelaksanaan Kegiatan Pembinaan
JFA.

Dari hasil penelitian tingkat kepuasan instansi pemerintah terhadap pembinaan JFA
menunjukkan bahwa BPKP dinilai berhasil dalam mengemban amanatnya selaku Instansi
Pembina JFA, dalam rangka mewujudkan auditor yang profesional, berdaya guna dan berhasil
guna. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas hasil pengawasan oleh APIP
untuk menyediakan jasa konsultasi dan quality assurance dalam pengendalian
pencapaian tujuan pemerintahan umum dan pembangunan.

68
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
Namun demikian, diakui masih tersedia cukup ruang perbaikan untuk dapat
meningkatkan kualitas pembinaan, terutama terkait dengan penyediaan solusi atas
permasalahan pembinaan JFA dan mengantisipasi perubahan peraturan perundang-
undangan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta lingkungan pengawasan makro dan
global lainnya.

Perubahan peraturan perundang-undangan, ilmu pengetahuan dan teknologi serta


paradigma pengawasan intern internasional berdampak terhadap kebijakan, tugas dan
kegiatan pembinaan JFA, terutama sebagai berikut:

1. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian


Intern Pemerintah yang terkait dengan kompetensi Auditor APIP

Pasal 11, perwujudan peran Aparat Pengawas Intern Pemerintah yang


efektif sekurang-kurangnya harus:

i. memberikan keyakinan yang memadai atas ketaatan, kehematan,


efisiensi, dan efektivitas pencapaian tujuan penyelenggaraan
tugas dan fungsi intansi pemerintah;

ii. memberikan peringatan dini dan meningkatkan efektivitas


manajemen resiko dalam penyelenggaraan tugas dan fungsi
intansi pemerintah; dan

iii. memelihara dan meningkatkan kualitas tata kelola


penyelenggaraan tugas dan fungsi intansi pemerintah.

Pasal 51, pelaksanaan audit intern di lingkungan instansi pemerintah


dilakukan oleh pejabat yang mempunyai tugas melaksanakan
pengawasan dan yang telah memenuhi syarat kompetensi keahlian
sebagai Auditor. Syarat kompetensi tersebut dipenuhi melalui
keikutsertaan dan kelulusan program sertifikasi. Kebijakan program
sertifikasi auditor ditetapkan oleh Instansi Pembina JFA.

Pasal 59, pembinaan penyelenggaraan SPIP dilakukan oleh BPKP yang


meliputi:

i. Penyusunan pedoman teknis penyelenggaraan SPIP;

ii. Sosialisasi SPIP;

iii. Diklat SPIP;

69
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
iv. Pembimbingan dan konsultansi SPIP; dan

v. Peningkatan kompetensi Auditor APIP.

2. Evaluasi Program Pengelolaan SDM Aparatur (sebagai bagian dari RPJMN


Tahun 2004 – 2009)

Sasaran pembangunan nasional bidang penciptaan tata pemerintahan yang


bersih dan berwibawa sebagaimana tertuang dalam Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2004-2009 adalah terciptanya
pemerintahan yang bersih, berwibawa, profesional, dan bertanggungjawab,
yang diwujudkan dengan sosok dan perilaku birokrasi yang efisien dan efektif
serta dapat memberikan pelayanan prima kepada seluruh masyarakat. Untuk
mewujudkan hal tersebut, prioritas diletakkan pada pembangunan aparatur
negara melalui pelaksanaan reformasi birokrasi yang berdasarkan pada
prinsip-prinsip tata kepemerintahan yang baik (good public governance), yaitu
suatu konsepsi tentang penyelenggaraan pemerintahan yang mengedepankan
prinsip-prinsip antara lain: keterbukaan dan transparansi, akuntabilitas,
efektivitas dan efisiensi, responsivitas, menjunjung tinggi supremasi hukum,
demokrasi, dan membuka partisipasi masyarakat.
Peningkatan kinerja aparatur negara melalui reformasi birokrasi memiliki
posisi yang sangat strategis terhadap keberhasilan pencapaian tujuan
bernegara. Upaya peningkatan kinerja terus dilakukan melalui berbagai
langkah strategis pada setiap aspek dan telah menunjukan banyak kemajuan
yang secara umum ditandai dengan adanya perbaikan sistem penyelenggaraan
negara dan pemerintahan di pusat maupun daerah yang lebih kreatif, dinamis
dan responsif terhadap berbagai permasalahan bangsa dan masyarakat.
Meskipun demikian, hingga saat ini kinerja aparatur negara dirasakan masih
belum optimal dalam mendukung keberhasilan pembangunan di berbagai
bidang. Oleh karena itu, upaya reformasi birokrasi perlu terus dilanjutkan
untuk mempercepat peningkatan kinerja aparatur negara dan mewujudkan
tujuan pembangunan nasional.

Salah satu program yang terkait dengan sasaran penciptaan tata pemerintahan
yang bersih dan berwibawa adalah Program Pengelolaan SDM Aparatur.
Program Pengelolaan SDM Aparatur bertujuan untuk meningkatkan sistem

70
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
pengelolaan dan kapasitas SDM aparatur dalam melaksanakan tugas
pemerintahan dan pembangunan.
Hasil-hasil yang telah dicapai dari berbagai kegiatan yang dilakukan, antara
lain:
1. Tersusunnya naskah akademik RUU Kepegawaian Negara yang meliputi
manajemen kepegawaian pada tingkat eksekutif, legislatif, dan yudikatif,
serta penyelenggara negara lainnya. RUU ini merupakan payung hukum
bagi pembangunan sistem manajemen kepegawaian berbasis kinerja;
2. Terlaksananya penyusunan dan penyempurnaan berbagai peraturan
perundang-undangan di bidang SDM aparatur, yaitu: penyusunan
Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang penilaian prestasi kerja
PNS sebagai pengganti PP No. 10/1979 tentang Penilaian Pelaksanaan
Pekerjaan PNS, RPP tentang Peraturan Disiplin PNS sebagai pengganti PP
Nomor 30/1980, RPP tentang Pemberhentian PNS sebagai pengganti PP
Nomor 32/1979, Rancangan Perpres tentang Penilaian, pengangkatan,
pemindahan dan pemberhentian dari dan dalam jabatan struktural, dan
Rancangan Perpres tentang Diklat Prajabatan bagi Calon Pegawai Negeri
Sipil (CPNS);
3. Perbaikan remunerasi yang layak dan adil bagi aparatur negara antara lain
dengan pemberian gaji ke-13 baik di instansi pusat maupun di daerah,
kenaikan gaji pokok pegawai rata-rata 15 persen, kenaikan tunjangan
struktural rata-rata 22,2 persen, dan kenaikan tunjangan fungsional rata-
rata 32,2 persen;
4. Terselenggaranya pusat penilaian PNS (assessment center) yang telah diuji
coba di Badan Kepegawaian Negara (BKN);
5. Tersusunnya pedoman penyusunan standar kompetensi jabatan struktural
maupun fungsional PNS dan pedoman pelaksanaan evaluasi jabatan dalam
rangka penyusunan klasifikasi jabatan nasional PNS, yang keduanya
merupakan acuan bagi instansi pusat dan daerah dalam menyusun standar
kompetensi dan evaluasi jabatan pada tiap-tiap instansi.
Permasalahan yang dihadapi pemerintah dalam upaya pencapaian sasaran
RPJMN 2004-2009 terkait Program Pengelolaan SDM Aparatur adalah belum
optimalnya kinerja SDM aparatur yang disebabkan oleh belum meratanya
kompetensi aparatur dan belum memadainya remunerasi dan

71
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
kesejahteraannya. Selain itu, sistem pembinaan SDM aparatur belum berbasis
pada kinerja (merit system) dan belum didukung dengan peraturan
perundangundangan yang memadai sebagai landasan sistem pembinaannya.
Dalam satu tahun waktu tersisa dari pelaksanaan RPJMN 2004-2009, maka
upaya-upaya yang dilakukan adalah percepatan pelaksanaan reformasi
birokrasi dan Meningkatkan kinerja/profesionalitas dan kesejahteraan PNS;

3. Capaian Kinerja BPKP selama kurun waktu RPJMN 2004 s.d. 2009

PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah telah


memberikan peran baru yaitu capacity building (expertise), current issues, clearing
house, dan check and balances. Capacity building berkaitan dengan peran
mendukung manajemen pemerintahan mencakup pelaksanaan pengawasan
intern, antara lain melalui audit, evaluasi, reviu dan kegiatan pengawasan
lainnya serta pembinaan dalam rangka penguatan sistem pengendalian intern,
antara lain melalui sosisalisasi, pendampingan dan peningkatan kapasitas SDM,
serta penelitian dan pengembangan di bidang pengawasan. Current issues
menyangkut isu strategis, nasional, lintas sektoral dan beresiko tinggi serta
kasus-kasu besar yang mendapat perhatian luas dari masyarakat. Clearing house
merupakan kegiatan pengawasan untuk memberikan pertimbangan secara
teknis maupun hukum atas suatu masalah atau kasus/perkara dan
menghindari kegamangan/keraguan kementerian/lembaga dan juga
pemerintah daerah dalam melaksanakan tugasnya, melalui mekanisme
kerjasama yang telah disepakati oleh Kejaksaan RI, Kepolisian Negara RI, dan
BPKP. Check and balances dilakukan untuk memberikan second opinion sebagai
penyeimbang terhadap temuan ekstern auditor (BPK) dalam konteks pelurusan
terhadap pelaksanaan tugas di lingkungan kementerian/lembaga.

Kegiatan pembinaan penyelenggaraan Sistem Pengendalian Intern yang telah


dilakukan BPKP adalah sebagai berikut:

- Penyelesaian Pedoman Teknis Penyelenggaraan SPIP, tingkat


penyelesaaian 62% (22 pedoman)

- Sosialisasi SPIP, untuk internal BPKP telah selesai dilaksanakan,


sedangkan untuk eksternal telah dilakukan pada 19
Kementerian/Lembaga dan 6 Pemerintah Daerah.

72
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
- Kegiatan Bimtek SPIP

- Diklat SPIP, masih untuk internal BPKP.

Terkait dengan capacity building (SDM aparatur), BPKP telah mengembangkan


kompetensi pengelola keuangan negara dan auditor intern pemerintah melalui
berbagai kegiatan diklat, berupa diklat fungsional, diklat teknis substansi
auditor, dan pembinaan terhadap seluruh Auditor APIP.

4. Peraturan-Peraturan Kepala LAN mengenai kediklatan

Selama tahun 2008, Kepala LAN telah menerbitkan beberapa peraturan yang
terkait dengan kediklatan yang selama ini dilakukan oleh badan/pusat diklat
termasuk Pusdiklatwas, yaitu:

• Peraturan Kepala LAN Nomor 2 Tahun 2008 Tentang Pedoman Akreditasi


Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Pemerintah.

• Peraturan Kepala LAN Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Standar Kompetensi


Widyaiswara.

• Peraturan Kepala LAN Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Pedoman Sertifikasi


Widyaiswara.

5. Usulan Revisi Peraturan Pemerintah tentang Jabatan Fungsional PNS

Terdapat usulan revisi PP Nomor 16 Tahun 1994 tentang Jabatan Fungsional


PNS, menyangkut pasal 4 yang menyatakan bahwa Presiden menetapkan
rumpun jabatan fungsional atas usul Menteri yang bertanggungjawab di
bidang pendayagunaan aparatur negara. Usulan revisi PP Nomor 16/1994
Menteri yang bertanggungjawab di bidang pendayagunaan aparatur negara
menetapkan rumpun jabatan fungsional.

Adapun permasalahan yang timbul dalam pembinaan JFA, terutama sebagai berikut:

1. Tingkat penerapan JFA di lingkungan pemerintah daerah masih relatif rendah,


yaitu 181 unit kerja dengan jumlah 3.109 auditor atau 37,67% dari jumlah unit
kerja Bawas/Inspektorat Daerah sebanyak 522 unit kerja dengan perkiraan
jumlah kebutuhan formasi auditor sejumlah 27.088 auditor untuk seluruh
Bawas/Inspektorat Daerah. Hal tersebut disebabkan adanya permasalahan
yang terkait dengan belum siapnya beberapa pemerintah daerah untuk
menerapkan jabatan fungsional khususnya JFA, sebagai berikut:

73
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
a. Belum siapnya pimpinan daerah untuk berkomitmen menerapkan reformasi
birokrasi dan paradigma profesionalisme Auditor.
b. Keengganan PNS Daerah untuk menduduki jabatan fungsional karen masih
kuatnya persepsi jabatan struktural lebih ”bergengsi” dan ”nyaman”
dibandingkan jabatan fungsional;
c. Penerbitan Permendagri Nomor 57/2007 dan Nomor 64/2007 yang
memunculkan jabatan fungsional baru, Pengawas Pemerintah dan
menggemukkan struktur organisasi Bawasda/Inspektorat Daerah yang
justru bertolak belakang dengan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun
2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah yang merupakan kebijakan
reformasi brirokrasi menuju organisasi Bawasda/Inspektorat Daerah yang
ramping dan mendorong pembentukan jabatan fungsional Auditor.
d. Adanya upaya pembentukan jabatan fungsional Pengawas Pemerintah di
lingkungan Bawasda/Inspektorat Daerah (mengacu pada Peraturan
Pemerintah Nomor 79 Tahun 2005 pasal 24 dan Permendagri Nomor 64
tahun 2007) yang berpotensi tumpang tindih dalam disiplin ilmu dan
pelaksanaan tugas dengan jabatan fungsional yang telah ada (Auditor)
sehingga menimbulkan kebingungan Pemerintah Daerah untuk
menerapkan Pengawas Pemerintah atau Auditor.

Terhadap masalah ini, BPKP pada tahun 2009 akan melaksanakan program
pengangkatan ke dalam JFA melalui perpindahan dengan perlakuan khusus
bagi staf pengawas/pejabat fungsional umum di lingkungan APIP yang belum
menerapkan JFA dan program pengangkatan JFA melalui mekanisme inpassing
bagi mantan pejabat struktural di lingkungan Bawasda/Inspektorat Daerah
yang tidak menjabat lagi karena penerapan PP Nomor 41 Tahun 2007. Pusbin
JFA sudah melakukan pembahasan dengan pihak pejabat Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan BKN dan mengajukan usulan Inpassing
JFA dalam rangka penerapan PP Nomor 41/2007 tentang Organisasi Perangkat
Daerah.

2. Tingkat kelulusan sertifikasi JFA APIP pada tahun 2008 yaitu 88,92%. Tingkat
kelulusan ini dihitung berdasarkan jumlah peserta yang mengikuti ujian pada
tahun 2008 baik peserta ujian utama maupun peserta ujian ulangan. Tingkat
kelulusan Auditor Bawas/Inspektorat Daerah 87,23% lebih rendah

74
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
dibandingkan dengan Auditor pada Itjen Departemen, Inspektorat
Utama/Inspektorat Kementerian/LPND 89,40% dan BPKP 96,52%. Hal ini
terutama disebabkan belum diterapkannya sistem rekrutmen secara merata
untuk menyeleksi calon auditor yang memiliki potensi kemampuan dan
kemauan (fit and proper) yang searah dengan keahlian dan keterampilan yang
dibutuhkan dalam JFA. Termasuk dalam hal ini beragamnya latar belakang
pendidikan formal belum menggambarkan kombinasi yang optimal antara
jurusan akuntansi/manajemen dengan disiplin ilmu pendukung tugas pokok
dan fungsi APIP.

3. Penyelenggaraan diklat teknis substansi masih perlu ditingkatkan dalam hal


koordinasi perencanaan pengadaan diklat antara unit kerja APIP dengan Badan
Diklat/Pusdiklat Departemen/LPND dan Badan Diklat
Provinsi/Kabupaten/Kota Pemerintah Daerah. Terhadap masalah ini, BPKP
akan menyurati pimpinan Itjen Departemen, Inspektorat Utama/Inspektorat
Kementerian/LPND dan Bawasda/Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota
untuk menegaskan bahwa mereka selaku pimpinan instansi teknis bertanggung
jawab untuk menyelenggarakan diklat teknis substansi bidang pengawasan
keteknisan, termasuk metode dan kurikulum serta tenaga kediklatannya.

4. Beberapa ketentuan utama JFA yang terkait dengan sistem karier, sistem
prestasi dan profesionalisme perlu disesuaikan dengan perkembangan terakhir.

Dengan memperhatikan permasalahan dalam pembinaan dan mengantisipasi


perubahan, diperlukan langkah-langkah pembinaan ke depan sebagaimana diuraikan
berikut ini.

B. LANGKAH PEMBINAAN JFA KE DEPAN


PKP memandang perubahan lingkungan
pengawasan yang semakin cepat sebagai dinamika
kehidupan organisasi yang harus ditindaklanjuti
dengan menyesuaikan posisi dan perannya sehingga
dapat memberikan layanan terbaik bagi para
pemangku kepentingan. Agenda reformasi birokrasi
bidang sumber daya manusia yang dilaksanakan pemerintah, antara lain melalui
Permenpan 220/2008 tentang JFA dan Angka Kreditnya dan PP 60/2008 tentang
Sistem Pengendalian Intern Pemerintah membawa perubahan yang sangat strategis

75
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
bagi pembinaan Auditor APIP. Peraturan Pemerintah nomor 60/2008 tentang Sistem
Pengendalian Intern Pemerintah memberi amanat kepada BPKP untuk melakukan
pembinaan atas penyelenggaraan sistem pengendalian intern instansi pemerintah di
pusat dan daerah dan menyelenggarakan program sertifikasi Auditor secara lebih
ekstensif dan intensif sebagai bagian dari penguatan sistem pengendalian intern
pemerintah. Terbitnya PermenPAN nomor Per/220/M.PAN/7/2008 tanggal 4 Juli
2008 tentang Jabatan Fungsional Auditor dan Angka Kreditnya juga memberi arah
baru bagi BPKP sebagai instansi pembina JFA menuju pada manajemen SDM berbasis
kompetensi dan kinerja terutama dalam penyusunan ketentuan mengenai
penyelenggaraan sertifikasi dan peningkatan kompetensi bagi auditor APIP.
BPKP memfokuskan pembinaannya pada tiga aspek utama yaitu kompetensi, kinerja
dan karier. Pembinaan tersebut dilakukan melalui sistem sertifikasi jabatan yang
mencakup kediklatan, penilaian angka kredit dan fasilitasi pengangkatan dalan jabatan.
Program sertifikasi auditor juga merupakan tindak lanjut dari terbitnya PP 60/2008
tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah yang memberi amanat kepada BPKP
untuk melakukan pembinaan atas penyelenggaraan sistem pengendalian intern
instansi pemerintah di pusat dan daerah. Program sertifikasi auditor dilakukan sebagai
bagian dari penguatan sistem pengendalian intern pemerintah.
Amanat di bidang pembinaan SPIP dan JFA yang dipercayakan kepada BPKP dan
semakin luasnya pembinaan JFA menuntut adanya pengembangan produk dan
layanan pembinaan JFA serta pembaruan dalam penyelenggaraan pembinaan.
Tuntutan tersebut dapat dipenuhi dengan baik apabila diiringi dengan peningkatan
kapasitas organisasi dan kapasitas SDM pembinaan JFA. Langkah pembinaan JFA ke
depan dikembangkan keseimbangan strategi dengan perspektif sebagai berikut:

1. Pengembangan produk dan jasa pembinaan JFA


Sebagai wujud dari reformasi dalam penyelenggaraan pembinaan, pengembangan
produk dan jasa pembinaan disusun dengan memperhatikan kewenangan dan
peran yang dimiliki oleh BPKP sebagai instansi pembina berdasarkan pasal 5
Permenpan 220/2008 yang diperkaya dengan penajaman fungsi existing dan
pengembangan fungsi ke depan. Dari ketiga hal tersebut dapat dielaborasi bahwa
pembinaan JFA oleh BPKP dilakukan berdasarkan dua konsep utama yaitu tiga
pilar pembinaan dan manajemen SDM Berbasis Kompetensi dan Kinerja melalui:
a. Penyusunan dan Pengembangan Kebijakan Pembinaan
1) Standar Kompetensi

76
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
Rumusan kemampuan kerja yang mencakup aspek pengetahuan,
ketrampilan dan/atau keahlian serta sikap kerja yang relevan dengan
pelaksanaan tugas dan syarat jabatan yang ditetapkan sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku
2) Pola Sertifikasi
Seluruh kegiatan yang dilakukan oleh Pusbin JFA untuk menetapkan
bahwa seseorang memenuhi persyaratan kompetensi yang ditetapkan,
mencakup permohonan, evaluasi, keputusan sertifikasi, pembinaan
kompetensi dan penilaian kinerja.
3) Pola Rekrutmen dan Seleksi
Rangkaian program rekrutmen dan seleksi auditor yang disusun secara
sistematis dan berkelanjutan yang dimaksudkan untuk menjadi pedoman
teknis bagi pejabat yang berwenang dalam mendapatkan jumlah dan
susunan serta kualifikasi dan kompetensi auditor sesuai dengan kebutuhan
disertai dengan proses penetapan satu atau lebih pegawai yang akan
diangkat dalam jabatan auditor terampil dan/atau auditor ahli pada jenjang
tertentu
4) Pola Diklat
Rangkaian program diklat yang disusun secara sistematis dan berkelanjutan
yang harus diikuti oleh seorang Auditor sebagai syarat untuk dapat
melaksanakan tugas sesuai dengan jenjang jabatan auditor dan peran dalam
tim mandiri pengawasan yang merupakan bagian tidak terpisahkan dalam
pembinaan karir Auditor.
5) Pola Pengembangan Profesi Berkelanjutan
Rangkaian program pengembangan profesi yang disusun secara sistematis
dan berkelanjutan yang perlu diikuti oleh seorang Auditor sebagai upaya
mempertahankan dan meningkatkan kompetensi dan kinerjanya.
Pedoman yang perlu dibangun atau dikembangkan antara lain:
(1) Pedoman Pelaksanaan Peran Serta Pengembangan Profesi di Bidang
Keilmuan,
(2) Pedoman Perolehan Gelar Profesi Pengawasan,
(3) Pedoman Pelaksanaan Peran Serta Pengembangan Profesi di Bidang
Standar, Kode Etik, Buletin dan Organisasi Profesi,

77
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
(4) Pedoman fasilitasi pembentukan dan pengembangan organisasi
profesi, dan
(5) Pedoman fasilitasi penerbitan buletin/majalah profesi.
(6) Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah Bidang Pengawasan
(7) Pedoman Penyelenggaraan Pelatihan di Kantor Sendiri
6) Sistem dan Prosedur Penilaian Angka Kredit
Metode pelaksanaan pengukuran, pengakuan, dan penilaian angka kredit
auditor. Pedoman yang perlu dibangun atau dikembangkan antara lain:
(1) Pedoman Penyusunan DUPAK dan Laporan Angka Kredit
(2) Pedoman Penilaian Angka Kredit
(3) Pedoman Penyusunan Tim Penilai Angka Kredit
(4) Pedoman Evaluasi Penilaian dan Penetapan Angka Kredit JFA di
Lingkungan APIP
(5) Pedoman Evaluasi atas Penetapan Angka Kredit bagi Auditor yang
Naik Pangkat Kurang Dari Tiga Tahun
b. Layanan Bina Karier

Layanan Bina Karier difokuskan pada penyediaan sistem dimana auditor dapat
merencanakan kariernya berdasarkan pola karier yang jelas dan promosi serta
mutasi berdasarkan kriteria yang berbasis kompetensi dan kinerja. Pola karier dan
promosi jabatan dicerminkan dalam penyelenggaraan sertifikasi auditor.
1) Penyelenggaraan sertifikasi jabatan
Program sertifikasi jabatan auditor yang telah berjalan selama ini
dikembangkan sesuai dengan arah dan substansi yang terkandung dalam
Permenpan 220/2008 yaitu setiap kenaikan pangkat dan jabatan harus
didahului dengan peningkatan kompetensi yang dibuktikan dengan
kelulusan dalam program sertifikasi.
Perkembangan ini sedang dalam proses perumusan ketentuan dalam rangka
revisi Pola Diklat Auditor.
2) Penyelenggaraan sertifikasi teknis pengawasan
Tuntutan stakeholders terkait peningkatan kompetensi auditor APIP
ditindaklanjuti dengan program sertifikasi teknis pengawasan dalam rangka
membentuk auditor yang mempunyai kompetensi spesialisasi keahlian
tertentu. Beberapa jenis spesialisasi yang akan dikembangkan antara lain:
(1) Auditor Spesialisasi Audit atas Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

78
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
(2) Auditor Spesialisasi Akuntansi Forensik dan Audit Investigatif
(3) Auditor Spesialisasi Audit atas Penerimaan Negara dan Daerah
(4) Auditor Spesialisasi Reviu atas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat
dan Daerah
(5) Auditor Spesialisasi Evaluasi Program dan Kebijakan Keuangan dan
Pembangunan
3) Fasilitasi pengangkatan dalam jabatan dan kenaikan jabatan auditor
Layanan ini telah berjalan dengan cukup baik namun terdapat beberapa
keluhan menyangkut kecepatan penerbitan surat persetujuan teknis. Untuk
itu layanan ini direncanakan akan didesentralisasikan ke Perwakilan BPKP
setelah terlebih dahulu terwujud peningkatan kapasitas organisasi dan
pengembangan kapasitas SDM pembinaan JFA di Perwakilan BPKP.
c. Layanan Bina Kompetensi

Pengembangan layanan ini difokuskan pada penyelenggaraaan diklat jabatan,


diklat teknis pengawasan dan sinergi kompetensi teknis.
1) Penyelenggaraan diklat jabatan dan diklat teknis pengawasan
Penyelenggaraan diklat ke depan diarahkan pada implementasi distance
learning dengan memanfaatkan teknologi komunikasi informasi (e-learning)
dan mewujudkan sinergi penyelenggaraan diklat teknis substansi di seluruh
lembaga diklat APIP.
Auditor diarahkan untuk memiliki keahlian teknis substansi tertentu melalui
penyelenggaraan Diklat Teknis Auditor yang terdiri dari Diklat Teknis
Umum Pengawasan, Diklat Sertifikasi Teknis Spesialisasi Pengawasan dan
Diklat Teknis Penunjang Pengawasan.
2) Sinergi Kompetensi Teknis melalui Knowledge Acqusition dan Knowledge
Distribution di bidang Teknis Pengawasan
Diklat sertifikasi Jabatan Fungsional Auditor hanya membekali auditor
dengan kompetensi dasar minimal yang diperlukan untuk melaksanakan
tugas-tugas pengawasan intern pemerintah. Kompetensi tersebut tidak cukup
mengingat tugas-tugas pengawasan sangat kompleks, beragam dan spesifik
sehingga diperlukan tambahan kompetensi teknis substansi pengawasan
yang selama ini dilakukan melalui Diklat Teknis Substansi baik yang
diselenggarakan oleh BPKP maupun masing-masing APIP. Dengan semakin
banyaknya auditor yang memerlukan tambahan kompetensi dan semakin

79
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
cepatnya perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi maka diperlukan
penyelenggaraan diklat teknis subtansi yang semakin banyak dan semakin
intensif. Di sisi lain anggaran diklat semakin terbatas dan biaya
penyelenggaran diklat semakin tinggi sehingga akses auditor terhadap
perolehan kompetensi teknis substansi juga semakin terbatas.
Untuk itu diperlukan suatu terobosan dalam metode perolehan pengetahuan
teknis substansi (knowledge acqusition) dan penyebarluasannya (knowledge
distribution) sehingga auditor di seluruh APIP mempunyai kesempatan untuk
memiliki kompetensi teknis yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas-tugas
pengawasan baik secara mandiri melalui kegiatan pengembangan profesi
maupun secara institusional melalui kegiatan in house training dan kemudian
menerapkan pengetahuan (knowledge implementation) yang diperolehnya
tersebut agar pelaksanaan tugas pengawasan semakin efisien dan efektif.
Terobosan tersebut terbangun dari kerangka konseptual sinergi kompetensi
teknis substansi yang terdiri dari tiga pilar, yaitu:
(1) Sinergi Kompetensi Teknis Substansi dalam Knowledge Acqusition
(2) Sinergi Kompetensi Teknis Substansi dalam Knowledge Distribution
(3) Pembentukan Lembaga Pelaksana Peran Knowledge Provider dan
Knowledge Distributor
d. Layanan Bina Kinerja

Layanan ini terfokus pada fasilitasi penilaian dan penetapan angka kredit,
monitoring dan evaluasi penilaian angka kredit yang dilaksanakan unit APIP dan
bimbingan teknis penilaian angka kredit. Pengembangan layanan ini diarahkan
pada pembangunan sistem dan prosedur penilaian dan penetapan angka kredit
yang lebih komprehensif dan efisien dengan menggunakan teknologi informasi
dan komunikasi (ICT).
e. Layanan Komunikasi, Informasi dan Edukasi

Layanan ini terkait dengan kegiatan yang bersifat pemberian informasi dan
edukasi dalam penerapan JFA melalui sosialisasi, bimbingan teknis, monitoring
dan evaluasi. Kompleksitas permasalahan dalam penerapan JFA perlu diatasi
dengan intensifikasi fasilitasi penerapan JFA dan efisiensi kegiatan sosialisasi
melalui penyelenggaraan forkom JFA regional. Pengembangan layanan ini ke

80
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
depan diarahkan pada fasilitasi penyebarluasan pedoman pengawasan yang
disusun BPKP untuk dapat digunakan oleh APIP lain.

1) Fasilitasi penerapan JFA


Fasilitasi penerapan JFA pada Inspektorat Provinsi dan Kabupaten/Kota
mencakup fasilitasi pengangkatan dalam jabatan, kediklatan, pembentukan
organisasi JFA dan penilaian angka kredit. Fasilitasi juga dilakukan dengan
melaksanakan kegiatan yang bersifat komunikasi, informasi dan edukasi
dengan sosialisasi dan workshop regional guna menyebarluaskan kebijakan
pembinaan JFA.
Kegiatan fasilitasi ke depan diarahkan untuk didesentralisasikan ke
Perwakilan BPKP agar pembinaan JFA dapat lebih intensif dan ekstensif
tentunya setelah terlebih dahulu dilakukan penguatan kelembagaan dan
peningkatan kapasitas SDM pembinaan JFA di Perwakilan BPKP.
2) Penyediaan informasi JFA
Pembangunan dan pengembangan sistem informasi JFA diarahkan untuk
menyediakan informasi yang mutakhir (realtime), cepat dan valid guna
menjadi bahan dalam pengambilan keputusan oleh Pimpinan APIP
(baperjakat) terkait manajeman karier auditor.
Informasi JFA dibangun dalam suatu sistem yang berbasis ICT yang
menghubungkan Pusbin JFA, Pusdiklatwas, dan Perwakilan BPKP. Data
diinput oleh unit APIP, divalidasi oleh Perwakilan BPKP, dan dikompilasi
oleh Pusbin JFA.
3) Fasilitasi penyebarluasan dan implementasi pedoman pengawasan oleh APIP
BPKP sebagai Instansi Pembina SPIP menerima amanat untuk menyusun
berbagai pedoman umum maupun pedoman teknis pelaksanaan pengawasan
intern pemerintah. Pedoman yang diterbitkan oleh kedeputian di lingkungan
BPKP dan/atau Puslitbangwas perlu disebarluaskan agar dapat
diimplementasikan oleh seluruh APIP secara efektif. Untuk itu Pusbin JFA
yang selama ini telah memiliki jaringan ke seluruh APIP di pusat dan daerah
memposisikan diri sebagai fasilitator penyebarluasan dan penerapan
pedoman pengawasan yang diterbitkan oleh BPKP.
2. Perbaikan business process dan delivery service pembinaan JFA

81
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
Pelayanan Pusbin JFA kepada auditor APIP dapat diklasifikasikan menjadi dua
yaitu pelayanan utama dan pelayanan pendukung. Pelayanan utama adalah
pelayanan yang langsung berdampak pada karier auditor sedangkan pelayanan
pendukung adalah pelayanan yang bersifat komunikasi, informasi dan edukasi.
a. Implementasi Manajemen Mutu
Proses penyelenggaraan sertifikasi diarahkan untuk berstandar internasional
yaitu dengan mengimplementasikan ISO 9001 : 2000. Dengan demikian
kepuasan pelanggan/stakeholders akan selalu dikedepankan dengan tetap
mematuhi ketentuan perundang-undangan. Inovasi dalam pembinaan JFA
terus dilakukan dengan meningkatkan kompetensi sumber daya manusia
pembinaan JFA dan melakukan penyempurnaan di segala bidang secara
berkesinambungan.
b. Implementasi Manajemen Risiko
Terdapat risiko-risiko yang cukup tinggi dalam penyelenggaraan pembinaan
JFA terutama pada area ujian sertifikasi dan penilaian angka kredit. Untuk itu
Pusbin JFA sangat berkepentingan untuk mengelola risiko tersebut sampai
tingkat yang minimal sehingga kepentingan stakeholders akan selalu terjaga.
c. Layanan Berbasis ICT
Salah satu dimensi pelayanan prima adalah pelayanan yang cepat dan murah.
Agar kedua dimensi tersebut dapat terwujud perlu dukungan teknologi
informasi dan komunikasi yang memadai. Sarana dan sumberdaya yang cukup
perlu disediakan agar produk dan jasa pembinaan JFA dapat di-deliver kepada
auditor, pimpinan APIP dan stakeholders lain secara lebih efisien dan efektif.
Beberapa aspek yang akan diterapkan antara lain:
y Penetapan dan penilaian angka kredit dengan dokumen digital
y Informasi kediklatan dan penyelenggaraan sertifikasi mulai dari
pendaftaran peserta diklat sampai dengan pengumuman hasil USJFA
melalui website
y Penyelenggaraan e-learning
y Database JFA yang mencakup informasi karier, kompetensi dan kinerja
3. Pengembangan kapasitas organisasi pembinaan JFA
Perlunya pengembangan organisasi dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu 1) ketentuan
perundang-undangan yang berubah dan memberikan arah yang baru bagi
pembinaan JFA, 2) permasalahan terkini yang masih sama namun mengalami

82
Evaluasi dan Langkah-Langkah Pembinaan JFA ke Depan
peningkatan kompleksitas dan semakin berisiko tinggi bagi pencapaian tujuan
peningkatan profesionalisme internal auditor, dan 3) Perkembangan dalam best
practises pengelolaan sertifikasi profesi serta pentingnya mengimplementasikan
manajemen risiko dan manajemen kualitas pada proses pembinaan JFA.
Pengembangan kapasitas organisasi pembinaan JFA meliputi organisasi
Pusdiklatwas, Puslitbangwas, Pusbin JFA, dan Perwakilan BPKP.
4. Pengembangan kapasitas SDM pembinaan JFA
Pengembangan kapasitas SDM pembinaan JFA diwujudkan dengan meninjau
ulang strategi penyumberdayaan dan strategi pengembangan. Pengembangan
SDM ke depan diarahkan pada:
a. Pembentukan assessor sebagai pelaksana uji kompetensi baik dalam proses
sertifikasi jabatan auditor maupun sertifikasi teknis substansi pengawasan.
b. Komposisi SDM yang berlatar belakang multidisiplin pada tiga tingkatan yaitu:
1) SDM Strategis : Auditor yang berlatar belakang pendidikan Magister
Manajemen SDM
2) SDM manajerial : Auditor yang memiliki sertifikat sebagai Certified HRM
atau certified HRD Professional
3) SDM operasional : Auditor, Analisis Kepegawaian dan Pranata Komputer
c. Pengembangan budaya kerja agar SDM yang mengelola fungsi pembinaan JFA
dapat berperan sebagai fasilitator dan pelayan.

83
Penutup

PENUTUP

aporan Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor Tahun 2008 ini


disusun dengan memperhatikan perkembangan perjalanan
pembinaan JFA sejak tahun 1996 sampai dengan akhir tahun 2008.

Laporan ini telah memuat pelaksanaan tiga pilar strategi pembinaan


JFA yang dilakukan BPKP selaku Instansi Pembina JFA, yaitu
Profesionalisme, Sistem Karier dan Sistem Prestasi Kerja, serta infrastruktur yang diperlukan
untuk menghasilkan sumber daya manusia aparatur pengawasan yang profesional, berdaya
guna dan berhasil guna sehingga dapat mewujudkan kepemerintahan yang baik. Hal ini pada
gilirannya akan mendorong terwujudnya masyarakat profesi di bidang pengawasan, yang
terdiri tingkat-tingkat kompetensi auditor sesuai dengan peran dan jabatannya di lingkungan
APIP. Dengan tersedianya strata mulai Anggota Tim, Ketua Tim, Pengendali Teknis dan
Pengendali Mutu akan dapat menyediakan kemudahan dalam upaya sinergi pengawasan
berbasis kompetensi (Competency based synergy) antar unit APIP yang sangat dibutuhkan
dalam meningkatkan pengendalian penyelenggaraan pemerintahan umum dan
pembangunan yang semakin kompleks.

Evaluasi yang dilaksanakan terhadap pembinaan JFA menggambarkan capaian kinerja


yang baik. Demikian pula tingkat kepuasan instansi pemerintah atas profesionalisme auditor
yang telah dibina dalam meningkatkan kualitas hasil pengawasan di lingkungan APIP
menunjukkan tingkat kepuasan yang cukup baik. Adanya kendala dan hambatan yang terjadi
dipandang masih wajar dalam dinamika kegiatan pembinaan. Penerapan JFA di lingkungan
pemerintah daerah dan tingkat kelulusan sertifikasi yang relatif perlu ditingkatkan serta
antisipasi terhadap perubahan dapat dicatat sebagai agenda untuk pembinaan ke depan.
Mengantisipasi hal tersebut, berbagai langkah ke depan telah disiapkan untuk memperbaiki
pembinaan JFA. Disamping rencana tindak yang telah disiapkan oleh Instansi Pembina, upaya
peningkatan profesionalisme pejabat fungsional termasuk auditor, nampaknya perlu

84
Penutup
didukung komitmen dari para pengambil keputusan penyelenggaraan umum pemerintahan
dan pembangunan dan para penentu kebijakan terutama yang menyangkut percepatan
reformasi manajemen pegawai negeri sipil menuju organisasi fungsional dan penanganan
pembinaan auditor yang komprehensif, partisipatif, transparan dan akuntabel.

Besar harapan kami, Laporan Pembinaan Jabatan Fungsional Auditor Tahun 2008 ini
dapat memberikan informasi yang berguna bagi Menpan, BKN, dan LAN-RI dalam rangka
merumuskan dan menetapkan kebijakan pembinaan sumber daya aparatur di bidang
pengawasan khususnya dan jabatan fungsional PNS pada umumnya.

85
Lampiran 1

BEZETTING PEJABAT FUNGSIONAL AUDITOR


UNIT APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH (APIP)
INSPEKTORAT KEMENTERIAN KOORDINATOR / ITJEN DEPARTEMEN / INSPEKTORAT UTAMA / INSPEKTORAT KEMENTERIAN NEGARA / LEMBAGA PEMERINTAH NON DEPARTEMEN

BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN


BADAN PENGAWAS / INSPEKTORAT PROVINSI / KABUPATEN / KOTA

PER 31 DESEMBER 2008


UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL
YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20

A. INSPEKTORAT JENDERAL / INSPEKTORAT UTAMA / INSPEKTORAT

I INSPEKTORAT KEMENTERIAN KOORDINATOR


1 1 Kementerian 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Koordinator Polkam
dan HAM
2 2 Kementerian 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Koordinator
Perekonomian
3 3 Kementerian 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Koordinator
Kesejahteraan
Sub Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

II INSPEKTORAT JENDERAL DEPARTEMEN


4 1 Departemen Dalam 1 11 11 8 30 0 30
Negeri
5 2 Departemen Luar 1 6 17 3 26 1 1 27
Negeri
6 3 Departemen 1 2 2 9 9 11
Pertahanan

Hal 1 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
7 4 Departemen Hukum 1 6 10 3 19 0 19
dan Hak Azasi
Manusia
8 5 Departemen 1 5 14 8 27 3 3 6 33
Keuangan
9 6 Departemen Energi 1 15 22 27 64 1 11 12 76
dan Sumber Daya
Mineral

10 7 Departemen 1 18 18 2 38 5 5 43
Perindustrian
11 8 Departemen 1 6 24 30 4 1 5 35
Perdagangan
12 9 Departemen 1 49 39 20 108 0 108
Pertanian
13 10 Departemen 1 2 27 10 12 51 9 1 10 61
Kehutanan
14 11 Departemen 1 25 49 16 90 5 2 7 97
Perhubungan
15 12 Departemen 1 12 15 17 44 1 1 1 3 47
Kelautan dan
Perikanan
16 13 Departemen 1 52 22 9 83 15 2 17 100
Tenaga Kerja dan
Transmigrasi
17 14 Departemen 1 15 35 5 55 2 1 3 58
Pekerjaan Umum
18 15 Departemen 1 8 18 4 30 1 1 2 32
Kesehatan

Hal 2 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
19 16 Departemen 1 63 120 19 202 19 19 4 42 244
Pendidikan
Nasional
20 17 Departemen Sosial 1 9 29 3 41 0 41

21 18 Departemen 1 16 78 14 108 5 5 113


Agama
22 19 Departemen 1 1 13 2 16 5 4 9 25
Komunikasi dan
Informatika
23 20 Departemen 1 6 11 1 18 0 18
Kebudayaan dan
Pariwisata
Sub Jumlah 20 2 350 555 175 1.082 66 54 16 136 1.218

III INSPEKTORAT KEMENTERIAN NEGARA


24 1 Kementerian 1 1 5 1 7 3 3 10
Negara Lingkungan
Hidup

25 2 Kementerian 0 0 0
Negara
Pemberdayaan
Perempuan

26 3 Kementerian 3 3 0 3
Negara
Pendayagunaan
Aparatur Negara

Hal 3 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
27 4 Kementerian 0 0 0
Negara
Pembangunan
Daerah Tertinggal

28 5 Kementerian 0 0 0
Negara Badan
Usaha Milik Negara

29 6 Kementerian 0 0 0
Negara Perumahan
Rakyat

30 7 Kementerian 1 1 1 0 1
Negara Pemuda
dan Olah Raga
31 8 Kementerian 1 9 9 2 2 11
Negara Koperasi
dan Usaha Kecil
Menegah

32 9 Kementerian 0 0 0
Negara Riset dan
Teknologi
33 10 Kementerian 0 0 0
Negara
Perencanaan
Pembangunan

Sub Jumlah 3 0 1 17 2 20 2 0 3 5 25

IV UNIT PENGAWASAN PADA LEMBAGA SETINGKAT MENTERI

Hal 4 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
34 1 Sekretariat Negara 0 0 0 0

35 2 Sekretariat Kabinet 0 0 0 0

36 3 Kejaksaan Agung 0 0 0 0
37 4 Tentara Nasional 0 0 0 0
Indonesia
38 5 Kepolisian Negara 0 0 0 0
Republik Indonesia

Sub Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

V INSPEKTORAT
UTAMA /
INSPEKTORAT LPND

39 1 Arsip Nasional 1 3 5 8 4 4 8 16
Republik Indonesia
(ANRI)
40 2 Badan Intelijen 0 0 0 0
Negara (BIN)
41 3 Badan 1 4 4 1 1 5
Kepegawaian
Negara (BKN)
42 4 Badan Koordinasi 1 1 37 68 31 137 19 35 10 64 201
Keluarga
Berencana
Nasional (BKKBN)

43 5 Badan Koordinasi 1 1 6 7 2 1 3 10
Penanaman Modal
(BKPM)

Hal 5 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
44 6 Badan Koordinasi 1 2 1 3 0 3
Survey dan
Pemetaan Nasional
(BAKORSURTANAL)

45 7 Badan Meteorologi, 1 5 5 7 4 11 16
Klimatologi, dan
Geofisika (BKMG)

46 8 Badan 1 2 1 4 7 0 7
Pengawasan Obat
dan Makanan
(BPOM)

47 9 Badan Pengawas 0 0 0 0
Tenaga Nuklir
(BAPETEN)

48 10 Badan Pengkajian 1 7 15 2 24 1 3 1 5 29
dan Penerapan
Teknologi (BPPT)

49 11 Badan Pertanahan 1 4 16 4 24 0 24
Nasional (BPN)

50 12 Badan Pusat 1 2 6 8 2 7 3 12 20
Statistik (BPS)
51 13 Badan Standarisasi 0 0 0 0
Nasional (BSN)

Hal 6 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
52 14 Badan Tenaga 1 2 7 2 11 4 1 5 16
Nuklir Nasional
(BATAN)
53 15 Badan Nasional 0
Penempatan dan
Perlindungan TKI
(BNP2TKI)

54 16 Lembaga 1 1 1 0 1
Administrasi Negara
(LAN)
55 17 Lembaga Ilmu 1 1 4 2 7 1 7 8 15
Pengetahuan
Indonesia (LIPI)
56 18 Lembaga 1 8 5 13 3 1 4 8 21
Penerbangan dan
Antariksa Nasional
(LAPAN)

57 19 Badan 0 0 0 0
Perencanaan
Pembangunan
Nasional
(BAPPENAS)

58 20 Perpustakaan 0 0 0 0
Nasional Republik
Indonesia (PNRI)
59 21 Lembaga Sandi 1 0 2 2 2
Negara
(LEMSANEG)

Hal 7 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
60 22 Lembaga 0 0 0 0
Ketahanan
Nasional
(LEMHANNAS)

Sub Jumlah 15 1 59 136 63 259 42 63 22 127 386

JUMLAH 38 3 410 708 240 1.361 110 117 41 268 1.629


INSPEKTORAT
JENDERAL /
INSPEKTORAT
UTAMA /
INSPEKTORAT

61 B. BADAN 1
PENGAWASAN
KEUANGAN DAN
PEMBANGUNAN
(BPKP)

1 Sekretariat Utama 62 81 34 177 19 13 1 33 210


2 Deputi 35 63 7 105 25 7 2 34 139
Pengawasan
Instansi Pemerintah
Bidang
Perekonomian

Hal 8 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
3 Deputi 34 27 7 68 10 4 1 15 83
Pengawasan
Instansi Pemerintah
Bidang Politik, Sosial
dan Keamanan

4 Deputi 22 29 9 60 7 8 2 17 77
Pengawasan
Bidang
Penyelenggaraan
Keuangan Daerah

5 Deputi Bidang 40 54 9 103 3 8 1 12 115


Akuntan Negara
6 Deputi Bidang 29 45 11 85 12 7 1 20 105
Investigasi
7 Inspektorat 4 11 18 33 2 3 5 38
8 Pusat Pendidikan 7 15 8 30 3 1 4 34
dan Pelatihan
Pengawasan
9 Pusat Penelitian 9 14 5 28 2 2 30
dan
Pengembangan
Pengawasan

10 Pusat Informasi 5 8 7 20 4 3 7 27
Pengawasan

Hal 9 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
11 Pusat Pembinaan 6 16 12 34 3 1 4 38
Jabatan Fungsional
Auditor

12 Perwakilan BPKP 24 20 18 62 8 8 3 19 81
Propinsi Nanggroe
Aceh Darussalam

13 Perwakilan BPKP 69 51 7 127 29 27 2 58 185


Propinsi Sumatera
Utara
14 Perwakilan BPKP 19 21 19 59 9 12 21 80
Propinsi Sumatera
Barat
15 Perwakilan BPKP 25 38 16 79 7 20 27 106
Propinsi Riau
16 Perwakilan BPKP 19 23 11 53 11 15 3 29 82
Propinsi Jambi
17 Perwakilan BPKP 24 34 31 89 22 17 3 42 131
Propinsi Sumatera
Selatan
18 Perwakilan BPKP 14 20 13 47 7 7 3 17 64
Propinsi Bengkulu
19 Perwakilan BPKP 16 27 29 72 11 12 23 95
Propinsi Lampung
20 Perwakilan BPKP 43 105 19 167 73 21 94 261
Propinsi Daerah
Khusus Ibukota
Jakarta I

Hal 10 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
21 Perwakilan BPKP 44 66 24 134 69 34 5 108 242
Propinsi Daerah
Khusus Ibukota
Jakarta II

22 Perwakilan BPKP 42 72 23 137 48 25 4 77 214


Propinsi Jawa Barat

23 Perwakilan BPKP 48 80 29 157 47 32 3 82 239


Propinsi Jawa
Tengah
24 Perwakilan BPKP 30 38 24 92 25 13 38 130
Propinsi Daerah
Istimewa
Yogyakarta

25 Perwakilan BPKP 54 104 25 183 57 11 4 72 255


Propinsi Jawa Timur

26 Perwakilan BPKP 16 23 8 47 2 9 1 12 59
Propinsi Kalimantan
Barat
27 Perwakilan BPKP 22 31 14 67 22 4 7 33 100
Propinsi Kalimantan
Selatan

28 Perwakilan BPKP 18 31 12 61 13 13 5 31 92
Propinsi Kalimantan
Timur
29 Perwakilan BPKP 21 17 24 62 22 27 3 52 114
Propinsi Bali

Hal 11 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
30 Perwakilan BPKP 15 21 7 43 14 1 1 16 59
Propinsi Nusa
Tenggara Timur
31 Perwakilan BPKP 23 26 11 60 28 12 8 48 108
Propinsi Sulawesi
Selatan
32 Perwakilan BPKP 10 16 4 30 6 5 6 17 47
Propinsi Sulawesi
Tengah
33 Perwakilan BPKP 12 19 7 38 4 14 14 32 70
Propinsi Sulawesi
Utara
34 Perwakilan BPKP 7 18 7 32 6 6 23 35 67
Propinsi Sulawesi
Tenggara
35 Perwakilan BPKP 5 9 14 14 1 6 21 35
Propinsi Maluku
36 Perwakilan BPKP 14 34 11 59 8 7 21 36 95
Propinsi Papua
JUMLAH BADAN 1 0 887 1.307 520 2.714 652 408 133 1.193 3.907
PENGAWASAN
KEUANGAN DAN
PEMBANGUNAN
(BPKP)

C. BADAN PENGAWAS / INSPEKTORAT PROVINSI / KABUPATEN / KOTA


1 1 Nanggroe Aceh 1 1 1 7 33 20 60 6 8 5 19 79
Darussalam
2 2 Kab.Aceh Barat 0 1 0 1 1 1 1 2
3 3 Kab.Aceh Barat 0 1 0 0 0 0
Daya

Hal 12 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
4 4 Kab.Aceh Besar 1 1 1 1 1 1 1 2
5 5 Kab.Aceh Jaya 0 1 0 0 0 0
6 6 Kab.Aceh Selatan 1 1 1 3 5 8 4 1 5 13

7 7 Kab.Aceh Singkil 1 1 1 1 1 2 0 2
8 8 Kab.Aceh Tamiang 1 1 1 0 1 1 1

9 9 Kab.Aceh Tengah 1 1 1 1 4 1 6 2 1 3 9

10 10 Kab.Aceh Tenggara 0 1 0 0 2 1 3 3

11 11 Kab.Aceh Timur 1 1 1 6 1 7 4 1 5 12
12 12 Kab.Aceh Utara 1 1 1 5 9 2 16 5 5 3 13 29
13 13 Kab.Bener Meriah 0 1 0 0 0 0

14 14 Kab.Bireuen 1 1 1 0 1 1 1
15 15 Kab.Gayo Lues 0 1 0 0 0 0
16 16 Kab.Nagan Raya 0 1 0 0 0 0
17 17 Kab.Pidi 0 1 0 1 1 0 1
18 18 Kab.Pidie Jaya 0 1 0 0 0 0
19 19 Kab.Simeulue 0 1 0 0 0 0
20 20 Kota Banda Aceh 1 1 1 2 3 5 1 1 2 7

21 21 Kota Langsa 1 1 1 3 1 4 0 4
22 22 Kota Lhokseumawe 0 1 0 0 0 0

23 23 Kota Sabang 1 1 1 6 6 2 1 4 7 13
24 24 Kota Subulussalam 0 1 0 0 0 0

Sub Jumlah 12 1 1 18 8 5 3 0 19 72 26 117 28 21 12 61 178

Hal 13 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
25 1 Sumatera Utara 1 1 1 2 30 14 46 15 10 25 71
26 2 Kab.Asahan 1 1 1 3 1 4 2 3 5 10 14
27 3 Kab.Batubara 0 1 0 0 0
28 4 Kab.Dairi 0 1 1 1 1 1 2
29 5 Kab.Deli Serdang 1 1 1 0 3 3 3
30 6 Kab.Humbang 0 1 0 0 0
Hasundutan
31 7 Kab.Karo 0 1 2 2 0 2
32 8 Kab.Labuhan Batu 1 1 1 1 1 3 3 4

33 9 Kab. Labuhan Batu 0 1


Selatan
34 10 Kab. Labuhan Batu 0 1
Utara
35 11 Kab.Langkat 1 1 1 7 2 9 4 4 13
36 12 Kab.Mandailing 0 1 1 1 0 1
Natal
37 13 Kab.Nias 0 1 1 1 1 1 2 3
38 14 Kab.Nias Selatan 0 1 0 0 0
39 15 Kab. Nias Utara 0 1
40 16 Kab. Nias Barat 0 1
41 17 Kab.Padang Lawas 0 1 0 0 0

42 18 Kab.Padang Lawas 0 1 0 0 0
Utara
43 19 Kab.Pakpak Barat 0 1 0 0 0

44 20 Kab.Samosir 0 1 0 0 0
45 21 Kab.Serdang 0 1 0 0 0
Bedagai

Hal 14 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
46 22 Kab.Simalungun 0 1 1 1 0 1
47 23 Kab.Tapanuli 1 1 1 3 9 12 3 2 1 6 18
Selatan
48 24 Kab.Tapanuli 0 1 0 0 0
Tengah
49 25 Kab.Tapanuli Utara 0 1 1 1 1 1 2

50 26 Kab.Toba Samosir 0 1 0 0 0
51 27 Kota Binjai 0 1 0 0 0
52 28 Kota Gunung Sitoli 0 1 0 0 0

53 29 Kota Medan 0 1 1 1 1 1 2 3
54 30 Kota Padang 0 1 0 0 0
Sidempuan
55 31 Kota Pematang 0 1 1 1 2 2 3
Siantar
56 32 Kota Sibolga 0 1 0 1 1 1
57 33 Kota Tanjung Balai 1 1 1 1 3 4 7 7 11

58 34 Kota Tebing Tinggi 0 1 1 1 1 1 2


Sub Jumlah 7 1 1 25 5 8 1 0 7 57 22 86 14 37 17 68 154

59 1 Sumatera Barat 1 1 1 1 5 3 9 2 4 2 8 17
60 2 Kab.Agam 1 1 1 4 1 5 6 1 7 12
61 3 Kab.Dharmas Raya 0 1 0 0 0

62 4 Kab.Kepulauan 0 1 0 0 0
Mentawai
63 5 Kab.Lima Puluh 0 1 1 1 1 1 2
Kota

Hal 15 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
64 6 Kab.Padang 0 1 1 1 1 1 2 3
Pariaman
65 7 Kab.Pasaman 0 1 0 0 0
66 8 Kab.Pasaman Barat 0 1 0 0 0

67 9 Kab.Pesisir Selatan 0 1 1 1 0 1

68 10 Kab.Sawah Lunto 0 1 0 0 0
Sijunjung
69 11 Kab.Solok 1 1 1 2 2 7 6 1 14 16
70 12 Kab.Solok Selatan 0 1 0 0 0
71 13 Kab.Tanah Datar 1 1 1 1 5 3 9 7 4 11 20
72 14 Kota Bukit Tinggi 1 1 1 3 4 1 8 10 1 1 12 20
73 15 Kota Padang 1 1 1 1 11 5 17 5 7 3 15 32
74 16 Kota Padang 1 1 1 1 5 1 7 3 3 6 13
Panjang
75 17 Kota Pariaman 0 1 0 0 0
76 18 Kota Payakumbuh 1 1 1 2 5 1 8 9 2 1 12 20

77 19 Kota Sawah Lunto 1 1 1 1 1 1 3 1 1 2 5

78 20 Kota Solok 1 1 1 2 1 3 1 6 1 8 11
Sub Jumlah 10 1 1 12 3 7 6 0 13 44 17 74 52 31 15 98 172

79 1 Riau 0 1 0 0 0
80 2 Kab.Bengkalis 0 1 0 0 0
81 3 Kab.Indragiri Hilir 0 1 0 0 0
82 4 Kab.Indragiri Hulu 0 1 0 2 2 2
83 5 Kab.Kampar 0 1 1 1 1 1 2 3
84 6 Kab. Kepulauan 0 1 0 0 0
Anambas

Hal 16 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
85 7 Kab.Kuantan 0 1 0 0 0
Singingi
86 8 Kab.Pelalawan 0 1 2 2 0 2
87 9 Kab.Rokan Hilir 0 1 0 0 0
88 10 Kab.Rokan Hulu 0 1 0 0 0
89 11 Kab.Siak 0 1 0 0 0
90 12 Kota Dumai 0 1 0 2 2 4 4
91 13 Kota Pekanbaru 0 1 0 0 0
Sub Jumlah 0 1 0 10 0 2 0 0 0 3 0 3 3 5 0 8 11

92 1 Kepulauan Riau 0 1 0 0 0
93 2 Kab.Karimun 0 1 0 0 0
94 3 Kab.Lingga 0 1 0 0 0
95 4 Kab.Natuna 0 1 0 0 0
96 5 Kota.Batam 0 1 0 0 0
97 6 Kab.Bintan 0 1 0 0 0
98 7 Kota Tanjung 0 1 0 0 0
Pinang
Sub Jumlah 0 1 0 4 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

99 1 Sumatera Selatan 1 1 1 1 11 3 15 1 14 2 17 32
100 2 Kab.Banyuasin 0 1 0 0 0
101 3 Kab.Empat Lawang 0 1 0 0 0

102 4 Kab.Lahat 0 1 0 0 0
103 5 Kab.Muara Enim 1 1 1 4 1 5 5 4 9 14
104 6 Kab.Musi Banyuasin 1 1 1 1 1 1 1 2

105 7 Kab.Musi Rawas 1 1 1 1 1 2 5 1 6 8


106 8 Kab.Ogan Ilir 0 1 0 0 0

Hal 17 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
107 9 Kab.Ogan 0 1 0 0 0
Komering Ilir
108 10 Kab.Ogan 1 1 1 1 2 3 9 7 16 19
Komering Ulu
109 11 Kab.Oku Selatan 0 1 1 1 1 2 3 4
110 12 Kab.Oku Timur 0 1 0 0 0
111 13 Kota Lubuk Linggau 0 1 0 0 0

112 14 Kota Pagar Alam 0 1 0 0 0


113 15 Kota Palembang 0 1 2 2 1 1 3
114 16 Kota Prabumulih 0 1 0 0 0
Sub Jumlah 5 1 1 11 4 4 0 0 2 21 6 29 17 33 3 53 82

115 1 Bengkulu 0 1 0 0 0
116 2 Kab.Bengkulu 1 1 1 2 7 9 5 6 4 15 24
Selatan
117 3 Kab. Bengkulu 0 1 0 0 0
Tengah
118 4 Kab.Bengkulu Utara 1 1 1 4 4 7 1 1 9 13

119 5 Kab.Kaur 0 1 0 0 0
120 6 Kab.Kepahyang 0 1 0 0 0
121 7 Kab.Lebong 0 1 0 0 0
122 8 Kab.Muko-Muko 0 1 0 0 0
123 9 Kab.Rejang Lebong 1 1 1 1 1 3 3 4

124 10 Kab.Seluma 0 1 0 0 0
125 11 Kota Bengkulu 0 1 0 0 0
Sub Jumlah 3 1 0 9 3 1 0 0 2 12 0 14 12 10 5 27 41

126 1 Jambi 0 1 0 0 0

Hal 18 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
127 2 Kab.Batanghari 0 1 1 1 1 3 2 2 5
128 3 Kab.Bungo 1 1 1 1 2 3 6 3 3 9
129 4 Kab.Kerinci 1 1 1 2 2 4 4 4 8
130 5 Kab.Merangin 0 1 0 2 2 2
131 6 Kab.Muaro Jambi 0 1 1 1 1 1 2 3
132 7 Kab.Sarolangun 0 1 0 0 0
133 8 Kab.Tanjung 0 1 0 0 0
Jabung Barat
134 9 Kab.Tanjung 0 1 0 0 0
Jabung TImur
135 10 Kab.Tebo 0 1 0 0 0
136 11 Kota Sungai Penuh 0 1 0 0 0

137 12 Kota Jambi 1 1 1 6 9 15 5 6 11 26


Sub Jumlah 3 1 0 9 2 2 1 0 9 14 6 29 5 18 1 24 53

138 1 Lampung 1 1 1 1 12 16 29 3 8 9 20 49
139 2 Kab.Lampung Barat 1 1 1 1 4 5 10 1 1 2 12

140 3 Kab.Lampung 0 1 2 2 1 1 3
Selatan
141 4 Kab.Lampung 0 1 3 3 0 3
Tengah
142 5 Kab.Lampung Timur 0 1 1 1 1 1 2

143 6 Kab.Lampung Utara 1 1 1 3 8 3 14 6 5 4 15 29

144 7 Kab. Mesuji 0 1


145 8 Kab.Tanggamus 0 1 1 1 2 0 2
146 9 Kab.Tulang Bawang 0 1 1 1 0 1

Hal 19 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
147 10 Kab. Tulang 0 1
Bawang Barat
148 11 Kab.Way Kanan 0 1 1 1 1 1 2
149 12 Kota 0 1 1 1 1 1 2
Bandarlampung
150 13 Kab. Pesawaran 0 1 0 0 0
151 14 Kab. Prisewu 0 1
152 15 Kota Metro 1 1 1 2 2 4 2 3 1 6 10
Sub Jumlah 4 1 1 12 2 2 1 0 5 36 27 68 12 20 15 47 115

153 1 Bangka-Belitung 0 1 0 0 0
154 2 Kab.Bangka 0 1 0 0 0
155 3 Kab.Bangka Barat 0 1 0 0 0

156 4 Kab.Bangka 0 1 0 0 0
Selatan
157 5 Kab.Bangka 0 1 0 0 0
Tengah
158 6 Kab.Belitung 0 1 0 0 0
159 7 Kab.Belitung Timur 0 1 0 0 0

160 8 Kota Pangkal 0 1 1 1 1 1 2


Pinang
Sub Jumlah 0 1 0 6 0 1 0 0 0 1 0 1 1 0 0 1 2

161 1 DKI Jakarta 1 1 1 53 3 56 15 18 33 89

162 1 Jawa Barat 1 1 1 1 22 24 47 2 16 2 20 67


163 2 Kab.Bandung 0 1 1 4 5 1 1 6
164 3 Kab.Bandung Barat 0 1 0 0 0

Hal 20 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
165 4 Kab.Bekasi 1 1 1 6 7 13 5 1 6 19
166 5 Kab.Bogor 1 1 1 5 8 3 16 8 4 4 16 32
167 6 Kab.Ciamis 1 1 1 9 4 13 7 2 1 10 23
168 7 Kab.Cianjur 1 1 1 1 3 1 5 6 2 1 9 14
169 8 Kab.Cirebon 1 1 1 1 8 1 10 8 6 6 20 30
170 9 Kab.Garut 0 1 1 1 1 1 2
171 10 Kab.Indramayu 0 1 1 1 1 1 2 3
172 11 Kab.Karawang 1 1 1 3 1 4 0 4
173 12 Kab.Kuningan 1 1 1 10 3 13 6 1 2 9 22
174 13 Kab.Majalengka 1 1 1 2 2 6 6 8
175 14 Kab.Purwakarta 1 1 1 1 1 2 9 3 5 17 19
176 15 Kab.Subang 0 1 1 1 2 1 1 2 4
177 16 Kab.Sukabumi 0 1 2 1 3 1 1 2 5
178 17 Kab.Sumedang 0 1 1 1 2 1 1 3
179 18 Kab.Tasikmalaya 1 1 1 3 7 1 11 3 1 1 5 16
180 19 Kota Bandung 1 1 1 5 4 9 2 2 1 5 14
181 20 Kota Banjar 1 1 1 1 1 0 1
182 21 Kota Bekasi 1 1 1 10 3 13 4 5 9 22
183 22 Kota Bogor 0 1 4 7 1 12 3 1 4 16
184 23 Kota Cimahi 0 1 0 0 0
185 24 Kota Cirebon 1 1 1 1 7 8 10 1 1 12 20
186 25 Kota Depok 0 1 1 1 0 1
187 26 Kota Sukabumi 0 1 1 1 0 1
188 27 Kota Tasikmalaya 1 1 1 0 0 0
Sub Jumlah 16 1 1 17 10 9 5 0 19 119 57 195 82 49 26 157 352

189 1 Jawa Tengah 1 1 1 27 8 35 1 6 7 42


190 2 Kab.Banjarnegara 1 1 1 1 7 5 13 6 6 19

191 3 Kab.Banyumas 1 1 1 1 3 4 2 2 6
192 4 Kab.Batang 1 1 1 2 2 0 2

Hal 21 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
193 5 Kab.Blora 0 1 1 1 2 0 2
194 6 Kab.Boyolali 0 1 1 1 0 1
195 7 Kab.Brebes 0 1 1 1 1 1 2 3
196 8 Kab.Cilacap 1 1 1 6 3 9 3 3 2 8 17
197 9 Kab.Demak 1 1 1 4 7 11 1 7 4 12 23
198 10 Kab.Grobogan 1 1 1 1 1 1 3 4 5
199 11 Kab.Jepara 0 1 0 3 3 3
200 12 Kab.Karanganyar 1 1 1 4 5 9 3 2 5 14
201 13 Kab.Kebumen 1 1 1 2 1 3 5 5 8
202 14 Kab.Kendal 1 1 1 3 11 14 6 3 9 23
203 15 Kab.Klaten 1 1 1 3 2 5 3 2 5 10 15
204 16 Kab.Kudus 1 1 1 1 1 1 3 2 13 15 18
205 17 Kab.Magelang 1 1 1 1 12 13 2 9 11 24
206 18 Kab.Pati 1 1 1 12 12 5 6 11 23
207 19 Kab.Pekalongan 1 1 1 3 2 5 6 5 1 12 17
208 20 Kab.Pemalang 1 1 1 1 2 2 5 6 1 7 12
209 21 Kab.Purbalingga 1 1 1 2 2 2 6 3 3 1 7 13
210 22 Kab.Purworejo 1 1 1 5 7 12 4 5 9 21
211 23 Kab.Rembang 1 1 1 2 2 4 4 2 6 10
212 24 Kab.Semarang 0 1 2 2 0 2
213 25 Kab.Sragen 1 1 1 4 2 3 9 1 1 10
214 26 Kab.Sukoharjo 1 1 1 0 1 1 2 2
215 27 Kab.Tegal 1 1 1 0 1 1 1
216 28 Kab.Temanggung 0 1 0 1 1 1
217 29 Kab.Wonogiri 1 1 1 3 12 3 18 5 2 7 25
218 30 Kab.Wonosobo 1 1 1 3 2 5 1 1 6
219 31 Kota Magelang 1 1 1 7 2 9 1 2 2 5 14
220 32 Kota Pekalongan 1 1 1 2 2 5 1 6 8
221 33 Kota Salatiga 1 1 1 2 6 3 11 7 1 8 19
222 34 Kota Semarang 1 1 1 5 21 6 32 2 3 2 7 39

Hal 22 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
223 35 Kota Surakarta 0 1 1 1 0 1
224 36 Kota Tegal 1 1 1 3 7 4 14 7 2 9 23
Sub Jumlah 29 1 1 29 23 6 5 0 32 152 89 273 88 82 29 199 472

225 1 DI Jogjakarta 1 1 1 21 11 32 1 18 4 23 55
226 2 Kab.Bantul 1 1 1 2 5 4 11 6 5 1 12 23
227 3 Kab.Gunung Kidul 1 1 1 7 4 11 1 1 2 13

228 4 Kab.Kulon Progo 1 1 1 2 6 4 12 6 3 5 14 26


229 5 Kab.Sleman 1 1 1 1 3 2 6 0 6
230 6 Kota Jogjakarta 1 1 1 0 0 0
Sub Jumlah 6 1 1 4 4 1 1 0 5 42 25 72 14 27 10 51 123

231 1 Jawa Timur 0 1 0 0 0


232 2 Kab.Bangkalan 0 1 1 1 0 1
233 3 Kab.Banyuwangi 1 1 1 10 10 1 1 11
234 4 Kab.Blitar 0 1 3 1 4 2 2 6
235 5 Kab.Bojonegoro 0 1 2 2 1 1 3
236 6 Kab.Bondowoso 0 1 1 1 1 1 2
237 7 Kab.Gresik 0 1 1 1 2 2 3
238 8 Kab.Jember 0 1 2 2 1 1 3
239 9 Kab.Jombang 1 1 1 2 4 6 4 5 1 10 16
240 10 Kab.Kediri 0 1 1 1 2 1 1 3
241 11 Kab.Lamongan 0 1 1 1 1 1 2
242 12 Kab.Lumajang 1 1 1 2 2 1 5 3 3 8
243 13 Kab.Madiun 0 1 2 1 3 0 3
244 14 Kab.Magetan 0 1 0 1 1 1
245 15 Kab.Malang 0 1 1 1 1 1 2
246 16 Kab.Mojokerto 0 1 0 0 0
247 17 Kab.Nganjuk 0 1 0 1 1 1
248 18 Kab.Ngawi 0 1 0 1 1 1

Hal 23 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
249 19 Kab.Pacitan 0 1 0 0 0
250 20 Kab.Pamekasan 0 1 0 0 0
251 21 Kab.Pasuruan 0 1 1 1 2 2 3
252 22 Kab.Ponorogo 0 1 0 1 1 1
253 23 Kab.Probolinggo 1 1 1 1 1 1 1 2
254 24 Kab.Sampang 0 1 2 2 4 0 4
255 25 Kab.Sidoarjo 0 1 1 1 2 2 3
256 26 Kab.Situbondo 1 1 1 1 11 1 13 2 4 6 19
257 27 Kab.Sumenep 0 1 1 1 2 2 3
258 28 Kab.Trenggalek 1 1 1 3 3 1 1 4
259 29 Kab.Tuban 0 1 1 1 2 1 1 2 4
260 30 Kab.Tulungagung 0 1 0 1 1 1
261 31 Kota Batu 0 1 0 0 0
262 32 Kota Blitar 0 1 0 0 0
263 33 Kota Kediri 0 1 0 2 2 2
264 34 Kota Madiun 0 1 0 0 0
265 35 Kota Malang 0 1 1 1 2 0 2
266 36 Kota Mojokerto 0 1 1 1 0 1
267 37 Kota Pasuruan 0 1 0 0 0
268 38 Kota Probolinggo 0 1 0 0 0
269 39 Kota Surabaya 1 1 1 4 5 9 7 6 13 22
Sub Jumlah 7 1 0 29 6 9 1 0 12 47 18 77 24 29 7 60 137

270 1 Banten 0 1 0 0 0
271 2 Kab Tangerang 1 1 1 2 2 1 1 3
272 3 Kab.Lebak 0 1 0 0 0
273 4 Kab.Pandeglang 0 1 0 0 0
274 5 Kab.Serang 0 1 0 0 0
275 6 Kota Cilegon 0 1 0 0 0
276 7 Kota Serang 0 1 0 0 0

Hal 24 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
277 8 Kota Tangerang 0 1 0
Selatan
278 9 Kota Tangerang 0 1 0 0 0
Sub Jumlah 1 1 0 4 1 4 0 0 0 2 0 2 0 1 0 1 3

279 1 Bali 0 1 0 0 0
280 2 Kab.Badung 0 1 0 0 0
281 3 Kab.Bangli 0 1 0 2 2 2
282 4 Kab.Buleleng 1 1 1 0 2 2 1 5 5
283 5 Kab.Gianyar 0 1 0 0 0
284 6 Kab.Jembrana 1 1 1 3 4 7 5 5 12
285 7 Kab.Karangasem 1 1 1 0 0 0
286 8 Kab.Klungkung 0 1 0 0 0
287 9 Kab.Tabanan 1 1 1 2 2 1 1 2 4
288 10 Kota Denpasar 1 1 1 5 10 15 2 2 17
Sub Jumlah 5 1 0 8 4 1 1 0 8 14 2 24 10 5 1 16 40

289 1 NTB 1 1 1 3 11 5 19 3 7 1 11 30
290 2 Kab.Bima 1 1 1 1 1 2 3 2 5 7
291 3 Kab.Dompu 1 1 1 3 6 9 7 1 1 9 18
292 4 Kab.Lombok Barat 0 1 2 2 1 1 3

293 5 Kab.Lombok 1 1 1 3 7 2 12 3 3 15
Tengah
294 6 Kab.Lombok Timur 1 1 1 8 2 10 7 2 1 10 20

295 7 Kab. Lombok Utara 0 1 0

296 8 Kab.Sumbawa 1 1 1 1 2 3 2 1 3 6
297 9 Kab.Sumbawa 0 1 0 0 0
Barat

Hal 25 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
298 10 Kota Bima 0 1 0 0 0
299 11 Kota Mataram 0 1 1 1 1 1 2
Sub Jumlah 6 1 1 8 5 2 0 0 9 34 15 58 22 16 5 43 101

300 1 NTT 1 1 1 5 8 3 16 1 17 18 34
301 2 Kab.Alor 1 1 1 4 2 6 8 4 1 13 19
302 3 Kab.Belu 1 1 1 3 2 5 4 2 6 11
303 4 Kab.Ende 1 1 1 2 2 5 2 1 8 10
304 5 Kab.Flores TImur 0 1 0 0 0
305 6 Kab.Kupang 1 1 1 0 9 9 9
306 7 Kab.Lembata 0 1 0 0 0
307 8 Kab.Manggarai 1 1 1 3 2 5 9 2 2 13 18
308 9 Kab.Manggarai 0 1 0 0 0
Barat
309 10 Kab.Manggarai 0 1 0 0 0
Timur
310 11 Kab.Nagekeo 0 1 0 0 0
311 12 Kab.Ngada 1 1 1 2 4 3 9 7 2 9 18
312 13 Kab.Rote Ndao 0 1 0 0 0
313 14 Kab. Sabu Raijua 0 1
314 15 Kab.Sikka 1 1 1 1 1 1 3 0 3
315 16 Kab.Sumba Barat 0 1 1 1 2 2 3
316 17 Kab.Sumba Barat 0 1 0 0 0
Daya
317 18 Kab.Sumba Tengah 0 1 0 0 0

318 19 Kab.Sumba Timur 0 1 0 0 0


319 20 Kab.Timor Tengah 1 1 1 1 1 4 6 6 6 12 18
Selatan
320 21 Kab.Timor Tengah 0 1 1 1 2 2 3
Utara

Hal 26 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
321 22 Kota Kupang 0 1 2 2 0 2
Sub Jumlah 9 1 1 20 8 1 0 0 16 25 15 56 49 39 4 92 148

322 1 Kalimantan Barat 1 1 1 3 5 3 11 3 1 4 15


323 2 Kab.Bengkayang 0 1 0 0 0
324 3 Kab.Kapuas Hulu 1 1 1 1 1 5 1 2 8 9
325 4 Kab.Kayong Utara 0 1 0 0 0

326 5 Kab.Ketapang 1 1 1 4 2 6 6 5 11 17
327 6 Kab.Kubu Raya 0 1 0 0 0
328 7 Kab.Landak 0 1 0 0 0
329 8 Kab.Melawi 0 1 0 0 0
330 9 Kab.Pontianak 1 1 1 1 4 5 1 1 1 3 8
331 10 Kab.Sambas 0 1 0 0 0
332 11 Kab.Sanggau 0 1 1 1 1 1 2
333 12 Kab.Sekadau 0 1 0 0 0
334 13 Kab.Sintang 1 1 1 3 3 6 1 7 10
335 14 Kota Pontianak 0 1 0 1 1 2 2
336 15 Kota Singkawang 1 1 1 0 3 1 4 4
Sub Jumlah 6 1 1 12 4 2 1 0 4 11 12 27 13 21 6 40 67

337 1 Kalimantan Selatan 1 1 1 1 7 6 14 3 3 6 20

338 2 Kab.Balangan 0 1 0 0 0
339 3 Kab.Banjar 1 1 1 1 1 4 2 2 8 9
340 4 Kab.Barito Kuala 1 1 1 4 1 5 0 5
341 5 Kab.Hulu Sungai 1 1 1 1 1 6 1 7 8
Selatan
342 6 Kab.Hulu Sungai 0 1 1 1 1 1 2
Tengah

Hal 27 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
343 7 Kab.Hulu Sungai 1 1 1 1 1 1 1 2
Utara
344 8 Kab.Kotabaru 1 1 1 0 2 2 2
345 9 Kab.Tabalong 0 1 0 0 0
346 10 Kab.Tanah Bumbu 0 1 0 0 0

347 11 Kab.Tanah Laut 0 1 1 1 1 1 2


348 12 Kab.Tapin 0 1 1 1 2 2 3
349 13 Kota Banjar Baru 1 1 1 1 1 3 2 3 8 9
350 14 Kota Banjarmasin 0 1 0 0 0
Sub Jumlah 7 1 1 11 5 2 1 0 2 15 9 26 17 10 9 36 62

351 1 Kalimantan Tengah 1 1 1 8 2 1 11 2 2 13

352 2 Kab.Barito Selatan 0 1 0 0 0

353 3 Kab.Barito Timur 0 1 0 0 0


354 4 Kab.Barito Utara 1 1 1 1 1 2 2 4 5
355 5 Kab.Gunung Mas 1 1 1 1 2 2 5 1 1 2 7
356 6 Kab.Kapuas 0 1 1 1 2 1 1 3
357 7 Kab.Katingan 0 1 0 0 0
358 8 Kab.Kotawaringin 1 1 1 1 2 3 8 3 11 14
Barat
359 9 Kab.Kotawaringin 0 1 1 1 1 1 2
TImur
360 10 Kab.Lamandau 0 1 0 0 0
361 11 Kab.Murung Raya 0 1 0 0 0

362 12 Kab.Pulang Pisau 0 1 0 0 0


363 13 Kab.Seruyan 0 1 0 0 0
364 14 Kab.Sukamara 0 1 0 0 0

Hal 28 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
365 15 Kota Palangkaraya 1 1 1 0 1 2 3 3

Sub Jumlah 5 1 1 13 3 1 1 0 10 9 4 23 9 7 8 24 47

366 1 Kalimantan Timur 1 1 1 7 13 20 10 3 13 33


367 2 Kab.Berau 0 1 0 0 0
368 3 Kab.Bulungan 0 1 0 0 0
369 4 Kab.Kutai Barat 0 1 2 2 0 2
370 5 Kab.Kutai 0 1 0 0 0
Kartanegara
371 6 Kab.Kutai Timur 0 1 0 0 0
372 7 Kab.Malinau 0 1 0 0 0
373 8 Kab.Nunukan 0 1 1 1 1 1 2
374 9 Kab.Pasir 0 1 1 1 0 1
375 10 Kab.Penajam Paser 0 1 0 0 0
Utara
376 11 Kab.Tana Tidung 0 1 0 0 0
377 12 Kota Balikpapan 1 1 1 3 6 1 10 4 2 6 16
378 13 Kota Bontang 0 1 0 0 0
379 14 Kota Samarinda 1 1 1 4 11 2 17 5 1 6 23
380 15 Kota Tarakan 0 1 0 0 0
Sub Jumlah 3 1 1 10 0 4 2 0 7 28 16 51 9 11 6 26 77

381 1 Sulawesi Utara 1 1 1 12 9 21 1 13 10 24 45


382 2 Kab.Bolaang 0 1 0 0 0
Mangondow Utara

383 3 Kab.Bolaang 0 1 1 1 0 1
Mongondow

Hal 29 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
384 4 Kab. Bolaang 0 1
Mangondow Timur

385 5 Kab. Bolaang 0 1


Mangondow
Selatan
386 6 Kab.Kep. Siau 0 1 0 0 0
Tagulandang Biaro

387 7 Kab.Kepulauan 0 1 0 0 0
Talaud
388 8 Kab.Minahasa 0 1 3 3 1 1 4
389 9 Kab.Minahasa 0 1 0 0 0
Selatan
390 10 Kab.Minahasa 0 1 0 0 0
Tenggara
391 11 Kab.Minahasa 0 1 0 0 0
Utara
392 12 Kab.Sangihe 0 1 1 1 1 1 2 3
393 13 Kota Bitung 0 1 1 1 1 1 2
394 14 Kota Kotamobagu 0 1 0 0 0

395 15 Kota Menado 0 1 0 1 1 2 2


396 16 Kota Tomohon 0 1 0 0 0
Sub Jumlah 1 1 1 11 0 4 0 0 0 17 10 27 3 17 10 30 57

397 1 Gorontalo 0 1 0 0 0
398 2 Kab.Boalemo 0 1 0 0 0
399 3 Kab.Bone Bolango 0 1 0 0 0

Hal 30 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
400 4 Kab.Gorontalo 1 1 1 2 4 6 3 9 4 16 22
401 5 Kab.Gorontalo 0 1 0 0 0
Utara
402 6 Kab.Pahuwato 0 1 0 0 0
403 7 Kota Gorontalo 1 1 1 2 1 3 1 1 4
Sub Jumlah 2 1 0 5 1 1 1 0 0 4 5 9 4 9 4 17 26

404 1 Sulawesi Tengah 0 1 0 0 0


405 2 Kab.Banggai 1 1 1 3 3 6 3 4 1 8 14
406 3 Kab.Banggai 0 1 0 2 2 2
Kepulauan
407 4 Kab.Buol 0 1 2 2 0 2
408 5 Kab.Donggala 0 1 1 1 1 1 2 3
409 6 Kab.Morowali 0 1 0 0 0
410 7 Kab.Parigi Moutong 0 1 0 0 0

411 8 Kab.Poso 0 1 0 0 0
412 9 Kab. Sigi 0 1
413 10 Kab.Tojo Una- Una 0 1 0 0 0

414 11 Kab.Toli - Toli 1 1 1 3 3 5 1 2 8 11


415 12 Kota Palu 0 1 1 1 2 2 3
Sub Jumlah 2 1 0 10 2 1 0 0 0 10 3 13 11 8 3 22 35

416 1 Sulawesi Tenggara 1 1 1 2 10 5 17 11 1 12 29

417 2 Kab.Bombana 0 1 0 0 0
418 3 Kab.Buton 0 1 0 0 0
419 4 Kab.Buton Utara 0 1 0 0 0
420 5 Kab.Kolaka 1 1 1 1 1 4 1 5 6
421 6 Kab.Kolaka Utara 0 1 0 0 0

Hal 31 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
422 7 Kab.Konawe 1 1 1 7 7 0 7
423 8 Kab.Konawe 1 1 1 0 0 0
Selatan
424 9 Kab.Konawe Utara 0 1 0 0 0

425 10 Kab.Muna 1 1 1 0 1 1 1
426 11 Kab.Wakatobi 0 1 0 0 0
427 12 Kota Bau-Bau 1 1 1 0 1 1 1
428 13 Kota Kendari 0 1 0 0 0
Sub Jumlah 6 1 1 10 4 2 1 0 2 11 12 25 4 12 3 19 44

429 1 Sulawesi Selatan 1 1 1 1 16 16 33 2 8 3 13 46


430 2 Kab.Bantaeng 0 1 0 0 0
431 3 Kab.Barru 1 1 1 2 3 2 7 4 5 9 16
432 4 Kab.Bone 1 1 1 5 8 2 15 4 2 6 21
433 5 Kab.Bulukumba 1 1 1 3 6 1 10 3 1 4 14
434 6 Kab.Enrekang 1 1 1 2 5 3 10 3 4 2 9 19
435 7 Kab.Gowa 0 1 1 1 0 1
436 8 Kab.Janeponto 0 1 0 0 0
437 9 Kab.Luwu 0 1 1 1 2 3 3 5
438 10 Kab.Luwu Timur 0 1 0 0 0
439 11 Kab.Luwu Utara 1 1 1 3 6 1 10 6 2 8 18
440 12 Kab.Maros 1 1 1 4 9 1 14 3 5 1 9 23
441 13 Kab.Pangkajene 1 1 1 4 9 3 16 3 7 2 12 28
Kepulauan
442 14 Kab.Pinrang 1 1 1 7 2 9 2 1 3 12
443 15 Kab.Selayar 1 1 1 3 3 2 1 3 6
444 16 Kab.Sindenreng 1 1 1 1 2 3 3 2 5 8
Rappang
445 17 Kab.Sinjai 1 1 1 5 1 6 1 1 7
446 18 Kab.Soppeng 1 1 1 5 6 1 12 2 2 4 16

Hal 32 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
447 19 Kab.Takalar 1 1 1 1 3 4 6 4 10 14
448 20 Kab.Tana Toraja 1 1 1 2 11 13 6 6 1 13 26
449 21 Kab. Toraja Utara 0 1
450 22 Kab.Wajo 1 1 1 2 4 1 7 5 5 12
451 23 Kota Makasar 1 1 1 2 10 3 15 4 2 6 21
452 24 Kota Palopo 1 1 1 1 1 0 1
453 25 Kota Pare-Pare 1 1 1 1 1 1 3 6 3 1 10 13
Sub Jumlah 19 1 1 21 15 3 3 0 38 117 39 194 61 58 14 133 327

454 1 Sulawesi Barat 0 1 0 0 0


455 2 Kab.Majene 0 1 1 1 0 1
456 3 Kab.Mamasa 0 1 0 0 0
457 4 Kab.Mamuju 1 1 1 3 5 8 4 3 7 15
458 5 Kab.Mamuju Utara 0 1 0 0 0

459 6 Kab.Polewali 1 1 1 4 4 8 4 2 6 14
Mamasa
Sub Jumlah 2 1 0 5 2 0 0 0 4 9 4 17 8 3 2 13 30

460 1 Maluku 1 1 1 1 1 1 9 3 13 14
461 2 Kab.Kep. Aru 0 1 0 0 0
462 3 Kab.Buru 0 1 0 0 0
463 4 Kab. Buru Selatan 0 1
464 5 Kab. Maluku Barat 0 1
Daya
465 6 Kab.Maluku Tengah 1 1 1 4 3 7 1 8 5 14 21

466 7 Kab.Maluku 0 1 0 0 0
Tenggara
467 8 Kab.Maluku 0 1 0 0 0
Tenggara Barat

Hal 33 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
468 9 Kab. Morotai 0 1
469 10 Kab.Seram Bagian 0 1 0 0 0
Barat
470 11 Kab.Seram Bagian 0 1 0 0 0
Timur
471 12 Kota Ambon 0 1 0 0 0
472 13 Kota Tual 0 1 0 0 0
Sub Jumlah 2 1 1 10 1 2 0 0 0 4 4 8 2 17 8 27 35

473 1 Maluku Utara 0 1 0 0 0


474 2 Kab.Halmahera 1 1 1 4 4 1 1 2 6
Barat
475 3 Kab.Halmahera 0 1 1 1 2 0 2
Selatan
476 4 Kab.Halmahera 0 1 0 0 0
Tengah
477 5 Kab.Halmahera 0 1 0 0 0
Timur
478 6 Kab.Halmahera 0 1 1 1 2 1 1 3
Utara
479 7 Kab.Kepulauan 0 1 0 0 0
Sula
480 8 Kota Ternate 1 1 1 1 1 1 3 3 7 8
481 9 Kota Tidore 0 1 0 0 0
Kepulauan
Sub Jumlah 2 1 0 6 1 2 1 0 1 1 7 9 1 5 4 10 19

482 1 Papua 0 1 0 0 0
483 2 Kab.Asmat 0 1 0 0 0
484 3 Kab.Biak Numfor 0 1 0 0 0
485 4 Kab.Boven Digoel 0 1 0 0 0

Hal 34 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
486 5 Kab. Deiyai 0 1
487 6 Kab.Dogiyai 0 1 0 0 0
488 7 Kab. Intan Jaya 0 1
489 8 Kab.Jayapura 0 1 0 0 0
490 9 Kab.Jayawijaya 0 1 0 0 0
491 10 Kab.Keerom 0 1 0 0 0
492 11 Kab.Lanny Jaya 0 1 0 0 0
493 12 Kab.Mamberamo 0 1 0 0 0
Raya
494 13 Kab.Mamberamo 0 1 0 0 0
Tengah
495 14 Kab.Mappi 0 1 0 0 0
496 15 Kab.Merauke 0 1 1 2 3 1 1 2 5
497 16 Kab.Mimika 0 1 0 0 0
498 17 Kab.Nabire 0 1 0 0 0
499 18 Kab.Nduga 0 1 0 0 0
500 19 Kab.Paniai 0 1 0 0 0
501 20 Kab.Pegunungan 0 1 0 0 0
Bintang
502 21 Kab.Puncak 0 1 0 0 0
503 22 Kab.Puncak Jaya 0 1 0 0 0
504 23 Kab.Sarmi 0 1 0 0 0
505 24 Kab.Supriori 0 1 0 0 0
506 25 Kab. Tambrauw 0 1
507 26 Kab.Tolikara 0 1 0 0 0
508 27 Kab.Waropen 0 1 0 0 0
509 28 Kab.Yahukimo 0 1 0 0 0
510 29 Kab.Yalimo 0 1 0 0 0
511 30 Kab.Yapen 0 1 0 0 0
Waropen

Hal 35 - 36
Lampiran 1

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT MENERAPK

PELAKS LANJ

PELAKSANA
NO PENGAWASAN AN Jumlah

PERTAMA

PENYELIA
JUMLAH

JUMLAH
NO

MADYA
UTAMA

MUDA
Urut INTERN PEMERINTAH JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
(APIP) FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
AL
AUDITOR
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20
512 31 Kota Jayapura 0 1 1 1 2 0 2
Sub Jumlah 0 1 0 29 0 1 0 0 0 2 3 5 1 1 0 2 7

513 1 Irian Jaya Barat 0 1 0 0 0


514 2 Kab.Fak-Fak 0 1 0 0 0
515 3 Kab.Kaima 0 1 0 0 0
516 4 Kab.Manokwari 0 1 0 0 0
517 5 Kab.Raja Ampat 0 1 0 0 0
518 6 Kab.Sorong 0 1 3 3 0 3
519 7 Kab.Sorong Selatan 0 1 0 0 0

520 8 Kab.Teluk Bentuni 0 1 0 0 0


521 9 Kab.Teluk 0 1 0 0 0
Wondama
522 10 Kota Sorong 0 1 0 0 0
Sub Jumlah 0 1 0 8 0 1 0 0 0 0 3 3 0 0 0 0 3

JUMLAH BADAN
PENGAWAS /
INSPEKTORAT 181 33 19 396 126 93 36 0 226 986 459 1.671 591 620 227 1.438 3.109
PROVINSI /
KABUPATEN / KOTA

583 JUMLAH APIP 220 33 19 396 126 93 36 3 1.523 3.001 1.219 5.746 1.353 1.145 401 2.899 8.645

Hal 36 - 36
Lampiran 2

BEZETTING PEJABAT FUNGSIONAL AUDITOR


UNIT APARAT PENGAWASAN INTERN PEMERINTAH (APIP)

INSPEKTORAT KEMENTERIAN KOORDINATOR / ITJEN DEPARTEMEN / INSPEKTORAT UTAMA / INSPEKTORAT KEMENTERIAN NEGARA / LEMBAGA PEMERINTAH NON
DEPARTEMEN
BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN
BADAN PENGAWAS / INSPEKTORAT PROVINSI / KABUPATEN / KOTA

PER 31 DESEMBER 2007

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20

A. ITJEN / INSPEKTORAT UTAMA / INSPEKTORAT

I INSPEKTORAT
KEMENTERIAN
KOORDINATOR
1 1 Kementerian
Koordinator Polkam
dan HAM 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
2 2 Kementerian
Koordinator
Perekonomian 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 3 Kementerian
Koordinator
Kesejahteraan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

II INSPEKTORAT JENDERAL DEPARTEMEN


4 1 Departemen Dalam
Negeri 1 19 25 21 65 2 5 2 9 74

Hal 1 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


5 2 Departemen Luar
Negeri 1 1 7 10 18 3 2 8 13 31
6 3 Departemen
Pertahanan 1 0 3 3 3
7 4 Departemen Hukum
dan Hak Azasi
Manusia 1 23 21 12 56 12 3 15 71
8 5 Departemen
Keuangan 1 30 75 76 181 22 13 10 45 226
9 6 Departemen Energi
dan Sumber Daya
Mineral 1 17 19 19 55 4 10 14 69
10 7 Departemen
Perindustrian 1 21 18 1 40 8 8 48
11 8 Departemen
Perdagangan 1 16 20 36 13 13 49
12 9 Departemen
Pertanian 1 1 57 37 19 114 1 1 115
13 10 Departemen
Kehutanan 1 3 44 7 2 56 1 4 1 6 62
14 11 Departemen
Perhubungan 1 29 45 14 88 11 5 16 104
15 12 Departemen
Kelautan dan
Perikanan 1 15 18 15 48 1 1 1 3 51
16 13 Departemen Tenaga
Kerja dan
Transmigrasi 1 64 22 5 91 27 3 30 121
17 14 Departemen
Pekerjaan Umum 1 14 27 1 42 3 3 45

Hal 2 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


18 15 Departemen
Kesehatan 1 16 25 5 46 2 1 3 49
19 16
Departemen
Pendidikan Nasional 1 68 129 19 216 25 19 5 49 265
20 17 Departemen Sosial 1 10 16 2 28 1 1 29
21 18
Departemen Agama 1 24 70 13 107 8 8 115
22 19 Departemen
Komunikasi dan
Informatika 1 3 15 1 19 7 4 11 30
23 20 Departemen
Kebudayaan dan
Pariwisata 1 4 3 1 8 0 8
Sub Jumlah 20 4 475 599 236 1.314 151 73 27 251 1.565

III INSPEKTORAT KEMENTERIAN NEGARA


24 1
Kementerian Negara
Lingkungan Hidup 1 1 5 1 7 3 3 10
25 2
Kementerian Negara
Pemberdayaan
Perempuan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
26 3
Kementerian Negara
Pendayagunaan
Aparatur Negara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 3 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


27 4
Kementerian Negara
Pembangunan
Daerah Tertinggal 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 5 Kementerian Negara
Badan Usaha Milik
Negara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29 6
Kementerian Negara
Perumahan Rakyat 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
30 7 Kementerian Negara
Pemuda dan Olah
Raga 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 8
Kementerian Negara
Koperasi dan Usaha
Kecil Menegah 1 8 8 2 2 10
32 9
Kementerian Negara
Riset dan Teknologi 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
33 10
Kementerian Negara
Perencanaan
Pembangunan 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 2 0 1 13 1 15 2 0 3 5 20

Hal 4 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


IV
UNIT
PENGAWASAN
PADA LEMBAGA
SETINGKAT
MENTERI

34 1 Sekretariat Negara 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
35 2 Sekretariat Kabinet 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
36 3 Kejaksaan Agung 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
37 4 Tentara Nasional
Indonesia 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
38 5 Kepolisian Negara
Republik Indonesia 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

V INSPEKTORAT UTAMA / INSPEKTORAT LPND


39 1 Arsip Nasional
Republik Indonesia
(ANRI) 1 3 5 8 4 4 8 16
40 2 Badan Intelijen
Negara (BIN) 0 0
41 3
Badan Kepegawaian
Negara (BKN) 1 3 3 2 2 5
42 4
Badan Koordinasi
Keluarga Berencana
Nasional (BKKBN) 1 1 50 69 35 155 23 39 9 71 226

Hal 5 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


43 5 Badan Koordinasi
Penanaman Modal
(BKPM) 1 2 5 7 2 1 3 10
44 6

Badan Koordinasi
Survey dan Pemetaan
Nasional
(BAKORSURTANAL) 1 2 1 3 0 3
45 7
Badan Meteorologi
dan Geofisika (BMG) 1 4 4 7 4 11 15
46 8 Badan Pengawasan
Obat dan Makanan
(BPOM) 1 2 1 3 6 0 6
47 9 Badan Pengawas
Tenaga Nuklir
(BAPETEN) 1 1 1 0 1
48 10 Badan Pengkajian
dan Penerapan
Teknologi (BPPT) 1 11 13 1 25 1 3 1 5 30
49 11 Badan Pertanahan
Nasional (BPN) 1 5 19 1 25 0 25
50 12 Badan Pusat Statistik
(BPS) 1 2 6 8 4 7 3 14 22
51 13 Badan Standarisasi
Nasional (BSN) 0
52 14
Badan Tenaga Atom
Nasional (BATAN) 1 9 1 10 2 2 1 5 15

Hal 6 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


53 15 Lembaga
Administrasi Negara
(LAN) 0 0
54 16 Lembaga Ilmu
Pengetahuan
Indonesia (LIPI) 1 2 3 2 7 1 6 7 14
55 17
Lembaga
Penerbangan dan
Antariksa Nasional
(LAPAN) 1 2 2 4 2 6 8
56 18
Badan Perencanaan
Pembangunan
Nasional
(BAPPENAS) 0 0
57 19
Perpustakaan
Nasional Republik
Indonesia
(PERPUSNAS) 0 0
58 20
Lembaga Sandi
Negara (LEMSANEG) 0 0
59 21
Lembaga Ketahanan
Nasional
(LEMHANNAS) 0 0
Sub Jumlah 14 1 75 132 56 264 48 69 15 132 396

Hal 7 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


JUMLAH ITJEN /
INSPEKTORAT
UTAMA /
INSPEKTORAT 36 5 551 744 293 1593 201 142 45 388 1981

60 B. BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN (BPKP)


1 Sekretariat Utama 27 71 34 132 18 11 1 30 162
2

Deputi Pengawasan
Instansi Pemerintah
Bidang
Perekonomian 26 60 7 93 25 5 1 31 124
3

Deputi Pengawasan
Instansi Pemerintah
Bidang Politik, Sosial
dan Keamanan 23 25 6 54 10 3 1 14 68
4

Deputi Pengawasan
Bidang
Penyelenggaraan
Keuangan Daerah 16 29 9 54 6 6 2 14 68
5 Deputi Bidang
Akuntan Negara 25 51 8 84 4 8 1 13 97
6 Deputi Bidang
Investigasi 18 38 10 66 11 7 1 19 85
7 Inspektorat 4 10 18 32 2 2 4 36

Hal 8 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


8 Pusat Pendidikan dan
Pelatihan
Pengawasan 3 14 6 23 3 1 4 27
9
Pusat Penelitian dan
Pengembangan
Pengawasan 8 12 5 25 1 0 0 1 26
10 Pusat Informasi
Pengawasan 2 6 8 16 4 1 5 21
11 Pusat Pembinaan
Jabatan Fungsional
Auditor 7 15 12 34 4 1 5 39
12 Perwakilan BPKP
Propinsi Nanggroe
Aceh Darussalam 17 19 20 56 7 7 10 24 80
13 Perwakilan BPKP
Propinsi Sumatera
Utara 61 60 7 128 30 28 1 59 187
14 Perwakilan BPKP
Propinsi Sumatera
Barat 18 20 16 54 11 13 24 78
15 Perwakilan BPKP
Propinsi Riau 21 37 16 74 8 20 28 102
16 Perwakilan BPKP
Propinsi Jambi 17 20 9 46 8 17 3 28 74
17 Perwakilan BPKP
Propinsi Sumatera
Selatan 16 38 30 84 23 17 40 124
18 Perwakilan BPKP
Propinsi Bengkulu 7 22 12 41 9 6 5 20 61

Hal 9 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


19 Perwakilan BPKP
Propinsi Lampung 11 25 27 63 11 11 22 85
20
Perwakilan BPKP
Propinsi Daerah
Khusus Ibukota
Jakarta I 42 99 18 159 79 20 1 100 259
21
Perwakilan BPKP
Propinsi Daerah
Khusus Ibukota
Jakarta II 40 62 24 126 70 30 7 107 233
22
Perwakilan BPKP
Propinsi Jawa Barat 40 74 20 134 54 24 4 82 216
23
Perwakilan BPKP
Propinsi Jawa Tengah 50 78 29 157 49 29 3 81 238
24
Perwakilan BPKP
Propinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta 24 38 21 83 24 12 36 119
25
Perwakilan BPKP
Propinsi Jawa Timur 49 110 24 183 59 12 4 75 258
26 Perwakilan BPKP
Propinsi Kalimantan
Barat 12 22 8 42 3 8 1 12 54
27
Perwakilan BPKP
Propinsi Kalimantan
Selatan 16 26 15 57 19 6 2 27 84

Hal 10 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


28 Perwakilan BPKP
Propinsi Kalimantan
Timur 14 27 12 53 13 13 5 31 84
29 Perwakilan BPKP
Propinsi Bali 17 15 24 56 24 27 4 55 111
30 Perwakilan BPKP
Propinsi Nusa
Tenggara Timur 10 18 4 32 13 1 8 22 54
31 Perwakilan BPKP
Propinsi Sulawesi
Selatan 16 26 13 55 28 10 7 45 100
32 Perwakilan BPKP
Propinsi Sulawesi
Tengah 7 10 4 21 5 5 11 21 42
33 Perwakilan BPKP
Propinsi Sulawesi
Utara 8 16 6 30 4 15 10 29 59
34 Perwakilan BPKP
Propinsi Sulawesi
Tenggara 4 12 3 19 6 6 19 31 50
35 Perwakilan BPKP
Propinsi Maluku 4 9 13 12 2 9 23 36
36 Perwakilan BPKP
Propinsi Papua 12 25 8 45 8 7 13 28 73

JUMLAH BADAN
PENGAWASAN
KEUANGAN DAN 1 0 692 1.239 493 2.424 665 391 134 1.190 3.614
PEMBANGUNAN
(BPKP)

Hal 11 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20

C. BADAN PENGAWAS / INSPEKTORAT PROVINSI / KABUPATEN / KOTA


1 1
Nanggroe Aceh
Darussalam 1 1 1 9 38 20 67 7 9 5 21 88
2 2 Kab.Aceh Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
3 3
Kab.Aceh Barat Daya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
4 4 Kab.Aceh Besar 1 1 1 1 1 0 1
5 5 Kab.Aceh Jaya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
6 6 Kab.Aceh Selatan 1 1 1 3 5 8 5 1 6 14
7 7 Kab.Aceh Singkil 1 1 1 1 1 2 1 1 3
8 8 Kab.Aceh Tamiang 1 1 1 0 1 1 1
9 9 Kab.Aceh Tengah 1 1 1 1 3 1 5 3 3 8
10 10
Kab.Aceh Tenggara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
11 11 Kab.Aceh Timur 1 1 1 6 1 7 5 5 12
12 12 Kab.Aceh Utara 1 1 1 4 8 1 13 4 6 3 13 26
13 13 Kab.Bener Meriah 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
14 14 Kab.Bireuen 1 1 1 0 1 1 1
15 15 Kab.Gayo Lues 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
16 16 Kab.Nagan Raya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
17 17 Kab.Pidi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
18 18 Kab.Pidie Jaya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
19 19 Kab.Simeulue 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
20 20 Kota Banda Aceh 1 1 1 3 2 5 1 1 2 7
21 21 Kota Langsa 1 1 1 3 1 4 0 4
22 22
Kota Lhokseumawe 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
23 23 Kota Sabang 1 1 1 1 5 6 2 1 4 7 13
24 24 Kota Subulussalam 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 12 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


Sub Jumlah 12 1 1 18 8 5 3 0 23 71 24 118 30 18 12 60 178

25 1 Sumatera Utara 1 1 1 3 33 13 49 3 17 10 30 79
26 2 Kab.Asahan 1 1 1 1 1 2 2 2 4 8 10
27 3 Kab.Batubara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
28 4 Kab.Dairi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
29 5 Kab.Deli Serdang 1 1 1 0 0 0 0 0 0 1 0 1 1
30 6 Kab.Humbang
Hasundutan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
31 7 Kab.Karo 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
32 8 Kab.Labuhan Batu 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
33 9 Kab.Langkat 1 1 1 6 2 8 1 4 5 13
34 10 Kab.Mandailing
Natal 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
35 11 Kab.Nias 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
36 12 Kab.Nias Selatan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
37 13
Kab.Padang Lawas 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
38 14 Kab.Padang Lawas
Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
39 15 Kab.Pakpak Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
40 16 Kab.Samosir 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
41 17
Kab.Serdang Bedagai 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
42 18 Kab.Simalungun 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
43 19
Kab.Tapanuli Selatan 1 1 1 4 9 13 4 3 1 8 21
44 20
Kab.Tapanuli Tengah 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 13 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


45 21
Kab.Tapanuli Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
46 22 Kab.Toba Samosir 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
47 23 Kota Binjai 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
48 24 Kota Medan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
49 25 Kota Padang
Sidempuan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
50 26 Kota Pematang
Siantar 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
51 27 Kota Sibolga 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
52 28 Kota Tanjung Balai 1 1 1 1 2 3 7 7 10
53 29 Kota Tebing Tinggi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 6 1 1 21 4 7 1 0 7 50 18 75 17 27 15 59 134

54 1 Sumatera Barat 1 1 1 4 3 7 2 4 2 8 15
55 2 Kab.Agam 1 1 1 1 4 5 6 1 7 12
56 3
Kab.Dharmas Raya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
57 4 Kab.Kepulauan
Mentawai 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
58 5
Kab.Lima Puluh Kota 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
59 6 Kab.Padang
Pariaman 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
60 7 Kab.Pasaman 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
61 8
Kab.Pasaman Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
62 9 Kab.Pesisir Selatan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
63 10 Kab.Sawah Lunto
Sijunjung 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 14 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


64 11 Kab.Solok 1 1 1 2 2 7 5 12 14
65 12 Kab.Solok Selatan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
66 13 Kab.Tanah Datar 1 1 1 1 3 2 6 8 4 12 18
67 14 Kota Bukit Tinggi 1 1 1 2 4 1 7 10 1 11 18
68 15 Kota Padang 1 1 1 1 10 5 16 5 7 3 15 31
69 16
Kota Padang Panjang 1 1 1 1 5 6 4 2 6 12
70 17 Kota Pariaman 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
71 18 Kota Payakumbuh 1 1 1 3 4 1 8 9 1 1 11 19
72 19 Kota Sawah Lunto 1 1 1 1 1 1 3 1 1 4
73 20 Kota Solok 1 1 1 2 2 1 4 1 6 8
Sub Jumlah 10 1 1 12 3 7 6 0 12 37 13 62 52 25 12 89 151

74 1 Riau 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
75 2 Kab.Bengkalis 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
76 3 Kab.Indragiri Hilir 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
77 4 Kab.Indragiri Hulu 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
78 5 Kab.Kampar 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
79 6
Kab.Kuantan Singingi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
80 7 Kab.Pelalawan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
81 8 Kab.Rokan Hilir 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
82 9 Kab.Rokan Hulu 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
83 10 Kab.Siak 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
84 11 Kota Dumai 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
85 12 Kota Pekanbaru 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 0 1 0 9 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

86 1 Kepulauan Riau 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
87 2 Kab.Karimun 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 15 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


88 3 Kab.Lingga 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
89 4 Kab.Natuna 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
90 5 Kota.Batam 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
91 6 Kab.Bintan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
92 7
Kota Tanjung Pinang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 0 1 0 4 0 2 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

93 1 Sumatera Selatan 1 1 1 4 20 4 28 4 15 2 21 49
94 2 Kab.Banyuasin 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
95 3
Kab.Empat Lawang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
96 4 Kab.Lahat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
97 5 Kab.Muara Enim 1 1 1 4 1 5 4 5 9 14
98 6
Kab.Musi Banyuasin 1 1 1 1 1 0 1
99 7 Kab.Musi Rawas 1 1 1 1 1 3 1 4 5
100 8 Kab.Ogan Ilir 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
101 9 Kab.Ogan Komering
Ilir 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
102 10 Kab.Ogan Komering
Ulu 1 1 1 4 3 7 10 7 17 24
103 11 Kab.Oku Selatan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
104 12 Kab.Oku Timur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
105 13
Kota Lubuk Linggau 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
106 14 Kota Pagar Alam 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
107 15 Kota Palembang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
108 16 Kota Prabumulih 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 16 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


Sub Jumlah 5 1 1 11 4 4 0 0 9 27 6 42 18 30 3 51 93

109 1 Bengkulu 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
110 2
Kab.Bengkulu Selatan 1 1 1 3 7 10 5 6 4 15 25
111 3
Kab.Bengkulu Utara 1 1 1 4 4 8 1 1 10 14
112 4 Kab.Kaur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
113 5 Kab.Kepahyang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
114 6 Kab.Lebong 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
115 7 Kab.Muko-Muko 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
116 8
Kab.Rejang Lebong 1 1 1 1 1 3 3 4
117 9 Kab.Seluma 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
118 10 Kota Bengkulu 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 3 1 0 8 3 1 0 0 3 12 0 15 13 10 5 28 43

119 1 Jambi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
120 2 Kab.Batanghari 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
121 3 Kab.Bungo 1 1 1 1 1 2 2 3
122 4 Kab.Kerinci 1 1 1 1 2 3 3 3 6
123 5 Kab.Merangin 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
124 6 Kab.Muaro Jambi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
125 7 Kab.Sarolangun 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
126 8 Kab.Tanjung Jabung
Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
127 9 Kab.Tanjung Jabung
TImur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
128 10 Kab.Tebo 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
129 11 Kota Jambi 1 1 1 5 8 13 7 3 10 23

Hal 17 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


Sub Jumlah 3 1 0 9 2 1 1 0 5 9 3 17 7 8 0 15 32

130 1 Lampung 1 1 1 1 15 16 32 3 8 10 21 53
131 2
Kab.Lampung Barat 1 1 1 1 4 5 10 1 1 1 3 13
132 3 Kab.Lampung
Selatan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
133 4 Kab.Lampung
Tengah 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
134 5
Kab.Lampung Timur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
135 6
Kab.Lampung Utara 1 1 1 3 6 3 12 7 4 3 14 26
136 7 Kab.Pesawaran 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
137 8 Kab.Tenggamus 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
138 9
Kab.Tulang Bawang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
139 10 Kab.Way Kanan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
140 11
Kota Bandarlampung 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
141 12 Kota Metro 1 1 1 1 2 2 5 2 3 1 6 11
Sub Jumlah 4 1 1 9 2 2 1 0 6 27 26 59 13 16 15 44 103

142 1 Bangka-Belitung 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
143 2 Kab.Bangka 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
144 3 Kab.Bangka Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
145 4
Kab.Bangka Selatan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
146 5
Kab.Bangka Tengah 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 18 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


147 6 Kab.Belitung 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
148 7
Kab.Belitung Timur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
149 8
Kota Pangkal Pinang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 0 1 0 6 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

150 1 DKI Jakarta 1 1 1 0 0 0 0 36 3 39 21 24 45 84

151 1 Jawa Barat 1 1 1 1 28 25 54 3 21 3 27 81


152 2 Kab.Bandung 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
153 3
Kab.Bandung Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
154 4 Kab.Bekasi 1 1 1 5 6 11 6 2 8 19
155 5 Kab.Bogor 1 1 1 3 9 3 15 10 2 8 20 35
156 6 Kab.Ciamis 1 1 1 8 3 11 8 1 1 10 21
157 7 Kab.Cianjur 1 1 1 3 1 4 5 2 1 8 12
158 8 Kab.Cirebon 1 1 1 1 6 7 8 5 6 19 26
159 9 Kab.Garut 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
160 10 Kab.Indramayu 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
161 11 Kab.Karawang 1 1 1 1 1 0 1
162 12 Kab.Kuningan 1 1 1 4 4 7 1 1 9 13
163 13 Kab.Majalengka 1 1 1 1 1 7 7 8
164 14 Kab.Purwakarta 1 1 1 1 2 1 4 11 3 2 16 20
165 15 Kab.Subang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
166 16 Kab.Sukabumi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
167 17 Kab.Sumedang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
168 18 Kab.Tasikmalaya 1 1 1 2 4 6 4 1 1 6 12
169 19 Kota Bandung 1 1 1 3 3 6 3 3 1 7 13
170 20 Kota Banjar 1 1 1 1 1 0 1

Hal 19 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


171 21 Kota Bekasi 1 1 1 10 2 12 4 6 10 22
172 22 Kota Bogor 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
173 23 Kota Cimahi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
174 24 Kota Cirebon 1 1 1 3 6 9 10 1 11 20
175 25 Kota Depok 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
176 26 Kota Sukabumi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
177 27 Kota Tasikmalaya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 15 1 1 17 10 9 4 0 11 91 44 146 86 48 24 158 304

178 1 Jawa Tengah 1 1 1 1 31 8 40 5 8 13 53


179 2 Kab.Banjarnegara 1 1 1 8 5 13 6 6 19
180 3 Kab.Banyumas 1 1 1 2 2 3 3 5
181 4 Kab.Batang 1 1 1 2 2 1 1 3
182 5 Kab.Blora 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
183 6 Kab.Boyolali 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
184 7 Kab.Brebes 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
185 8 Kab.Cilacap 1 1 1 4 3 7 1 4 4 9 16
186 9 Kab.Demak 1 1 1 4 7 11 2 8 4 14 25
187 10 Kab.Grobogan 1 1 1 0 1 4 5 5
188 11 Kab.Jepara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
189 12 Kab.Karanganyar 1 1 1 4 5 9 2 2 4 13
190 13 Kab.Kebumen 1 1 1 1 1 0 1
191 14 Kab.Kendal 1 1 1 3 9 12 5 2 1 8 20
192 15 Kab.Klaten 1 1 1 2 2 4 4 1 5 10 14
193 16 Kab.Kudus 1 1 1 1 1 2 2 13 15 17
194 17 Kab.Magelang 1 1 1 1 12 13 3 10 13 26
195 18 Kab.Pati 1 1 1 5 5 5 5 10 15
196 19 Kab.Pekalongan 1 1 1 3 1 4 7 5 1 13 17
197 20 Kab.Pemalang 1 1 1 2 2 1 5 6 1 7 12
198 21 Kab.Purbalingga 1 1 1 1 3 1 5 4 4 1 9 14

Hal 20 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


199 22 Kab.Purworejo 1 1 1 7 5 12 6 4 10 22
200 23 Kab.Rembang 1 1 1 2 2 4 4 2 6 10
201 24 Kab.Semarang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
202 25 Kab.Sragen 1 1 1 5 3 8 0 8
203 26 Kab.Sukoharjo 1 1 1 1 1 0 1
204 27 Kab.Tegal 1 1 1 0 1 1 1
205 28 Kab.Temanggung 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
206 29 Kab.Wonogiri 1 1 1 4 12 3 19 7 2 9 28
207 30 Kab.Wonosobo 1 1 1 2 2 4 1 1 5
208 31 Kota Magelang 1 1 1 2 6 2 10 3 1 4 14
209 32 Kota Pekalongan 1 1 1 4 4 4 1 1 6 10
210 33 Kota Salatiga 1 1 1 1 2 3 2 2 5
211 34 Kota Semarang 1 1 1 5 20 6 31 2 3 2 7 38
212 35 Kota Surakarta 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
213 36 Kota Tegal 1 1 1 3 7 2 12 8 1 9 21
Sub Jumlah 29 1 1 29 23 6 5 0 29 139 75 243 85 84 26 195 438

214 1 DI Jogjakarta 1 1 1 2 21 7 30 3 19 3 25 55
215 2 Kab.Bantul 1 1 1 3 5 4 12 7 5 1 13 25
216 3 Kab.Gunung Kidul 1 1 1 7 4 11 1 1 2 13
217 4 Kab.Kulon Progo 1 1 1 2 5 4 11 6 2 5 13 24
218 5 Kab.Sleman 1 1 1 3 2 5 0 5
219 6 Kota Jogjakarta 1 1 1 5 5 5 5 10
Sub Jumlah 6 1 1 4 4 1 1 0 7 41 26 74 17 32 9 58 132

220 1 Jawa Timur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0


221 2 Kab.Bangkalan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
222 3 Kab.Banyuwangi 1 1 1 8 8 0 8
223 4 Kab.Blitar 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
224 5 Kab.Bojonegoro 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 21 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


225 6 Kab.Bondowoso 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
226 7 Kab.Gresik 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
227 8 Kab.Jember 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
228 9 Kab.Jombang 1 1 1 2 4 6 2 6 1 9 15
229 10 Kab.Kediri 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
230 11 Kab.Lamongan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
231 12 Kab.Lumajang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
232 13 Kab.Madiun 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
233 14 Kab.Magetan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
234 15 Kab.Malang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
235 16 Kab.Mojokerto 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
236 17 Kab.Nganjuk 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
237 18 Kab.Ngawi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
238 19 Kab.Pacitan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
239 20 Kab.Pamekasan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
240 21 Kab.Pasuruan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
241 22 Kab.Ponorogo 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
242 23 Kab.Probolinggo 1 1 1 1 1 0 1
243 24 Kab.Sampang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
244 25 Kab.Sidoarjo 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
245 26 Kab.Situbondo 1 1 1 1 10 1 12 2 3 5 17
246 27 Kab.Sumenep 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
247 28 Kab.Trenggalek 1 1 1 1 1 0 1
248 29 Kab.Tuban 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
249 30 Kab.Tulungagung 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
250 31 Kota Batu 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
251 32 Kota Blitar 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
252 33 Kota Kediri 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
253 34 Kota Madiun 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
254 35 Kota Malang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 22 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


255 36 Kota Mojokerto 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
256 37 Kota Pasuruan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
257 38 Kota Probolinggo 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
258 39 Kota Surabaya 1 1 1 4 5 9 1 8 7 16 25
Sub Jumlah 6 1 0 29 5 9 1 0 2 25 10 37 5 17 8 30 67

259 1 Banten 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
260 2 Kab Tangerang 1 1 1 0 0 0 0
261 3 Kab.Lebak 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
262 4 Kab.Pandeglang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
263 5 Kab.Serang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
264 6 Kota Cilegon 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
265 7 Kota Serang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
266 8 Kota Tangerang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 1 1 0 4 1 3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

267 1 Bali 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
268 2 Kab.Badung 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
269 3 Kab.Bangli 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
270 4 Kab.Buleleng 1 1 1 0 1 1 1 3 3
271 5 Kab.Gianyar 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
272 6 Kab.Jembrana 1 1 1 4 4 8 7 7 15
273 7 Kab.Karangasem 1 1 1 0 1 1 1
274 8 Kab.Klungkung 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
275 9 Kab.Tabanan 1 1 1 2 2 0 2
276 10 Kota Denpasar 1 1 1 5 9 14 5 5 19
Sub Jumlah 5 1 0 8 4 1 1 0 9 13 2 24 14 1 1 16 40

277 1 NTB 1 1 1 1 1 2 10 2 12 14
278 2 Kab.Bima 1 1 1 1 1 2 2 2 4 6

Hal 23 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


279 3 Kab.Dompu 1 1 1 3 5 8 9 9 17
280 4 Kab.Lombok Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
281 5
Kab.Lombok Tengah 1 1 1 2 6 8 3 3 11
282 6
Kab.Lombok Timur 1 1 1 2 6 2 10 7 2 1 10 20
283 7 Kab.Sumbawa 1 1 1 1 1 3 1 4 5
284 8
Kab.Sumbawa Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
285 9 Kota Bima 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
286 10 Kota Mataram 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 6 1 1 7 5 2 0 0 8 18 5 31 22 15 5 42 73

287 1 NTT 1 1 1 2 8 3 13 4 19 23 36
288 2 Kab.Alor 1 1 1 5 2 1 8 8 1 1 10 18
289 3 Kab.Belu 1 1 1 1 3 2 6 5 5 11
290 4 Kab.Ende 1 1 1 2 2 7 1 8 10
291 5 Kab.Flores TImur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
292 6 Kab.Kupang 1 1 1 0 10 10 10
293 7 Kab.Lembata 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
294 8 Kab.Manggarai 1 1 1 2 2 4 9 2 11 15
295 9
Kab.Manggarai Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
296 10 Kab.Manggarai
Timur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
297 11 Kab.Nagekeo 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
298 12 Kab.Ngada 1 1 1 4 3 3 10 8 8 18
299 13 Kab.Rote Ndao 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
300 14 Kab.Sikka 1 1 1 1 1 0 1
301 15 Kab.Sumba Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 24 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


302 16 Kab.Sumba Barat
Daya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
303 17
Kab.Sumba Tengah 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
304 18 Kab.Sumba Timur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
305 19 Kab.Timor Tengah
Selatan 1 1 1 2 1 3 6 11 5 16 22
306 20 Kab.Timor Tengah
Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
307 21 Kota Kupang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 9 1 1 19 8 1 0 0 17 21 12 50 62 25 4 91 141

308 1 Kalimantan Barat 1 1 1 2 5 3 10 3 1 4 14


309 2 Kab.Bengkayang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
310 3 Kab.Kapuas Hulu 1 1 1 0 5 5 5
311 4 Kab.Kayong Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
312 5 Kab.Ketapang 1 1 1 4 2 6 4 5 9 15
313 6 Kab.Kubu Raya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
314 7 kab.Landak 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
315 8 Kab.Melawi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
316 9 Kab.Pontianak 1 1 1 3 3 1 1 2 5
317 10 Kab.Sambas 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
318 11 Kab.Sanggau 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
319 12 Kab.Sekadau 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
320 13 Kab.Sintang 1 1 1 3 3 5 5 8
321 14 Kota Pontianak 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
322 15 Kota Singkawang 1 1 1 1 1 1 3 1 5 6
Sub Jumlah 6 1 1 12 4 2 1 0 3 9 11 23 10 17 3 30 53

Hal 25 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


323 1
Kalimantan Selatan 1 1 1 3 4 7 3 3 6 13
324 2 Kab.Balangan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
325 3 Kab.Banjar 1 1 1 1 1 2 5 2 2 9 11
326 4 Kab.Barito Kuala 1 1 1 4 1 5 0 0 0 0 5
327 5 Kab.Hulu Sungai
Selatan 1 1 1 1 1 2 6 1 7 9
328 6 Kab.Hulu Sungai
Tengah 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
329 7 Kab.Hulu Sungai
Utara 1 1 1 1 1 1 1 2
330 8 Kab.Kotabaru 1 1 1 0 2 2 4 4
331 9 Kab.Tabalong 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
332 10 Kab.Tanah Bumbu 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
333 11 Kab.Tanah Laut 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
334 12 Kab.Tapin 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
335 13 Kota Banjar Baru 1 1 1 1 1 4 1 1 6 7
336 14 Kota Banjarmasin 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 7 1 1 11 5 2 1 0 2 9 7 18 16 8 9 33 51

337 1
Kalimantan Tengah 1 1 1 6 2 8 1 1 9
338 2 Kab.Barito Selatan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
339 3 Kab.Barito Timur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
340 4 Kab.Barito Utara 1 1 1 0 1 1 1
341 5 Kab.Gunung Mas 1 1 1 1 1 2 1 1 2 4
342 6 Kab.Kapuas 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
343 7 Kab.Katingan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
344 8 Kab.Kotawaringin
Barat 1 1 1 1 1 2 11 2 13 15

Hal 26 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


345 9 Kab.Kotawaringin
TImur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
346 10 Kab.Lamandau 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
347 11 Kab.Murung Raya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
348 12 Kab.Pulang Pisau 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
349 13 Kab.Seruyan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
350 14 Kab.Sukamara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
351 15 Kota Palangkaraya 1 1 1 0 1 1 1
Sub Jumlah 5 1 1 13 3 1 1 0 8 4 0 12 12 3 3 18 30

352 1 Kalimantan Timur 1 1 1 7 12 19 11 3 14 33


353 2 Kab.Berau 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
354 3 Kab.Bulungan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
355 4 Kab.Kutai Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
356 5 Kab.Kutai
Kartanegara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
357 6 Kab.Kutai Timur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
358 7 Kab.Malinau 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
359 8 Kab.Nunukan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
360 9 Kab.Pasir 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
361 10 Kab.Penajam Paser
Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
362 11 Kab.Tana Tidung 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
363 12 Kota Balikpapan 1 1 1 4 7 1 12 6 1 1 8 20
364 13 Kota Bontang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
365 14 Kota Samarinda 1 1 1 4 11 2 17 4 1 5 22
366 15 Kota Tarakan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 3 1 1 10 0 4 2 0 8 25 15 48 10 12 5 27 75

367 1 Sulawesi Utara 1 1 1 1 12 11 24 1 16 10 27 51

Hal 27 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


368 2 Kab.Bolaang
Mangondow Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
369 3 Kab.Bolaang
Mongondow 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
370 4 Kab.Kep. Siau
Tagulandang Biaro 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
371 5 Kab.Kepulauan
Talaud 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
372 6 Kab.Minahasa 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
373 7 Kab.Minahasa
Selatan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
374 8 Kab.Minahasa
Tenggara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
375 9
Kab.Minahasa Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
376 10 Kab.Sangihe 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
377 11 Kota Bitung 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
378 12 Kota Kotamobagu 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
379 13 Kota Menado 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
380 14 Kota Tomohon 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 1 1 1 9 0 4 0 0 1 12 11 24 1 16 10 27 51

381 1 Gorontalo 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
382 2 Kab.Boalemo 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
383 3 Kab.Bone Bolango 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
384 4 Kab.Gorontalo 1 1 1 2 4 6 3 9 5 17 23
385 5
Kab.Gorontalo Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
386 6 Kab.Pahuwato 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
387 7 Kota Gorontalo 1 1 1 0 1 1 1

Hal 28 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


Sub Jumlah 2 1 0 5 1 1 1 0 0 2 4 6 4 9 5 18 24

388 1 Sulawesi Tengah 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0


389 2 Kab.Banggai 1 1 1 2 3 5 3 3 1 7 12
390 3 Kab.Banggai
Kepulauan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
391 4 Kab.Buol 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
392 5 Kab.Donggala 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
393 6 Kab.Morowali 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
394 7
Kab.Parigi Moutong 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
395 8 Kab.Poso 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
396 9
Kab.Tojo Una- Una 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
397 10 Kab.Toli - Toli 1 1 1 3 3 7 1 3 11 14
398 11 Kota Palu 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 2 1 0 9 2 1 0 0 0 5 3 8 10 4 4 18 26

399 1
Sulawesi Tenggara 1 1 1 3 10 5 18 2 11 1 14 32
400 2 Kab.Bombana 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
401 3 Kab.Buton 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
402 4 Kab.Buton Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
403 5 Kab.Kolaka 1 1 1 1 1 4 1 5 6
404 6 Kab.Kolaka Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
405 7 Kab.Konawe 1 1 1 7 7 0 7
406 8
Kab.Konawe Selatan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
407 9 Kab.Konawe Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
408 10 Kab.Muna 1 1 1 1 1 1 1 2

Hal 29 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


409 11 Kab.Wakatobi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
410 12 Kota Bau-Bau 1 1 1 0 1 1 1
411 13 Kota Kendari 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 5 1 1 10 3 2 1 0 4 11 12 27 6 12 3 21 48

412 1 Sulawesi Selatan 1 1 1 3 16 16 35 2 9 3 14 49


413 2 Kab.Bantaeng 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
414 3 Kab.Barru 1 1 1 3 3 1 7 5 4 9 16
415 4 Kab.Bone 1 1 1 5 5 3 13 4 2 6 19
416 5 Kab.Bulukumba 1 1 1 4 6 1 11 3 1 4 15
417 6 Kab.Enrekang 1 1 1 3 5 2 10 3 5 2 10 20
418 7 Kab.Gowa 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
419 8 Kab.Janeponto 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
420 9 Kab.Luwu 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
421 10 Kab.Luwu Timur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
422 11 Kab.Luwu Utara 1 1 1 3 7 1 11 6 1 7 18
423 12 Kab.Maros 1 1 1 4 9 1 14 3 4 1 8 22
424 13 Kab.Pangkajene
Kepulauan 1 1 1 4 8 2 14 3 5 2 10 24
425 14 Kab.Pinrang 1 1 1 4 7 1 12 2 1 3 15
426 15 Kab.Selayar 1 1 1 2 5 7 4 1 5 12
427 16 Kab.Sindenreng
Rappang 1 1 1 2 1 3 5 2 7 10
428 17 Kab.Sinjai 1 1 1 4 4 1 1 5
429 18 Kab.Soppeng 1 1 1 5 6 1 12 4 2 6 18
430 19 Kab.Takalar 1 1 1 1 1 7 2 9 10
431 20 Kab.Tana Toraja 1 1 1 2 10 12 6 4 1 11 23
432 21 Kab.Wajo 1 1 1 0 0 0 0 0
433 22 Kota Makasar 1 1 1 2 11 4 17 2 4 2 8 25
434 23 Kota Palopo 1 1 1 1 1 1 1 2 3

Hal 30 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


435 24 Kota Pare-Pare 1 1 1 2 1 1 4 7 1 2 10 14
Sub Jumlah 19 1 1 20 15 3 3 0 48 106 34 188 68 47 15 130 318

436 1 Sulawesi Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0


437 2 Kab.Majene 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
438 3 Kab.Mamasa 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
439 4 Kab.Mamuju 1 1 1 4 5 9 3 2 5 14
440 5 Kab.Mamuju Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
441 6 Kab.Polewali
Mamasa 1 1 1 5 3 8 5 2 7 15
Sub Jumlah 2 1 0 5 2 0 0 0 4 10 3 17 8 2 2 12 29

442 1 Maluku 1 1 1 0 5 3 8 8
443 2 Kab.Buru 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
444 3 Kab.Kep. Aru 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
445 4
Kab.Maluku Tengah 1 1 1 4 3 7 1 8 6 15 22
446 5 Kab.Maluku
Tenggara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
447 6 Kab.Maluku
Tenggara Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
448 7 Kab.Seram Bagian
Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
449 8 Kab.Seram Bagian
Timur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
450 9 Kota Ambon 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
451 10 Kota Tual 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 2 1 1 7 1 2 0 0 0 4 3 7 1 13 9 23 30

452 1 Maluku Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 31 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


453 2
Kab.Halmahera Barat 1 1 1 4 4 1 1 2 6
454 3 Kab.Halmahera
Selatan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
455 4 Kab.Halmahera
Tengah 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
456 5 Kab.Halmahera
Timur 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
457 6
Kab.Halmahera Utara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
458 7
Kab.Kepulauan Sula 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
459 8 Kota Ternate 1 1 1 1 1 2 3 5 6
460 9 Kota Tidore
Kepulauan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 2 1 0 6 1 2 1 0 0 0 5 5 0 3 4 7 12

461 1 Papua 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
462 2 Kab.Asmat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
463 3 Kab.Biak Numfor 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
464 4 Kab.Boven Digoel 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
465 5 Kab.Jayapura 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
466 6 Kab.Jayawijaya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
467 7 Kab.Keerom 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
468 8 Kab.Mamberamo
Raya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
469 9 Kab.Mappi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
470 10 Kab.Merauke 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
471 11 Kab.Mimika 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
472 12 Kab.Nabire 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 32 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


473 13 Kab.Paniai 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
474 14 Kab.Pegunungan
Bintang 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
475 15 Kab.Puncak Jaya 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
476 16 Kab.Sarmi 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
477 17 Kab.Supriori 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
478 18 Kab.Tolikara 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
479 19 Kab.Waropen 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
480 20 Kab.Yahukimo 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
481 21
Kab.Yapen Waropen 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
482 22 Kota Jayapura 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 0 1 0 20 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

483 1 Irian Jaya Barat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0


484 2 Kab.Fak-Fak 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
485 3 Kab.Kaima 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
486 4 Kab.Manokwari 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
487 5 Kab.Raja Ampat 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
488 6 Kab.Sorong 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
489 7
Kab.Sorong Selatan 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
490 8 Kab.Teluk Bentuni 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
491 9
Kab.Teluk Wondama 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
492 10 Kota Sorong 0 1 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0
Sub Jumlah 0 1 0 9 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Hal 33 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20

JUMLAH BADAN
PENGAWAS /
INSPEKTORAT
PROVINSI /
KABUPATEN /
KOTA
177 33 19 370 123 89 35 0 226 814 374 1415 609 527 211 1345 2760

552 JUMLAH APIP 214 33 19 370 123 89 35 5 1.469 2.797 1.160 5.432 1.475 1.060 390 2.925 8.355

Catatan:

I. Badan/Lembaga berikut ini bukan merupakan LPND lagi karena:

Badan Akuntansi Keuangan Negara (disingkat BAKUN) merupakan unit eselon I pada Departemen Keuangan Republik Indonesia yang pada tahun 2004 telah dilebur (reorganisasi) ke dalam
1 Direktorat Jenderal Perbendaharaan, dan fungsi pembinaan akuntansi dan pelaporan menjadi Direktorat Informasi dan Akuntansi

Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi atau Bappebti berdasarkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi merupakan salah satu unit
2 eselon I berada di bawah naungan Departemen Perindustrian dan Perdagangan.
Penggabungan kembali Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata didasarkan serangkaian Surat Keputusan Presiden nomor 29,
3 30, 31, 32 bertanggal 26 Mei 2003.
4 Lembaga Informasi Nasional telah digabung kembali dengan Departemen Komunikasi dan Informasi

II. Kabupaten Maumere sekarang termasuk bagian dari Kabupaten Sikka (ibukota Sikka)
III. Selama tahun 2007 terdapat 25 Daerah Tingkat II baru pemekaran yang terdiri dari 21 Kabupaten dan 4 Kota, dengan rincian sebagai berikut:
IV. Selama tahun 2007 terdapat penambahan 1 unit APIP Pusat dan 7 unit APIP Daerah (6 Kabupaten dan 1 Kota) yang menerapkan JFA:

No Kabupaten / Kota Provinsi


1 Kota Subulussalam Nanggroe Aceh Darussalam
2 Kab.Pidie Jaya Nanggroe Aceh Darussalam
3 Kab. Batubara Sumatera Utara No Unit APIP

Hal 34 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


Kab. Padang Lawas
4 Utara Sumatera Utara 1 Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN)

5 Kab. Padang Lawas Sumatera Utara

6 Kab. Empat Lawang Sumatera Selatan 1 Kab. Aceh Besar Nanggroe Aceh Darussalam
7 Kab. Pesawaran Lampung 2 Kab. Bireun Nanggroe Aceh Darussalam

8 Kab. Bandung Barat Jawa Barat 3 Kab. Deli Serdang Sumatera Utara
9 Kota Serang Banten 4 Kab. Sukoharjo Jawa Tengah
10 Kab. Nagekeo NTT 5 Kab. Tangerang Banten

11 Kab. Sumba Tengah NTT 6 Kab. Wajo Sulawesi Selatan


Kab. Sumba Barat
12 Daya NTT 7 Kota Gorontalo Gorontalo
Kab. Manggarai
13 Timur NTT

14 Kab. Kayong Utara Kalimantan Barat


15 Kab. Kubu Raya Kalimantan Barat
16 Kab. Tana Tidung Kalimantan Timur
Kab. Minahasa
17 Tenggara Sulawesi Utara
Kab. Bolaang
18 Mangondow Utara Sulawesi Utara
Kab. Kep. Siau
19 Tagulandang Biaro Sulawesi Utara
20 Kota Kotamobagu Sulawesi Utara

21 Kab.Gorontalo Utara Gorontalo

Hal 35 - 36
Lampiran 2

UNIT APIP Provinsi Kabupaten Kota AUDITOR AHLI AUDITOR TERAMPIL


YANG
UNIT APARAT
MENERAP

PELAKS LANJ

PELAKSANA
PENGAWASAN

PERTAMA

PENYELIA
NO KAN Jumlah

JUMLAH

JUMLAH
UTAMA

MADYA
NO INTERN

MUDA
Urut JABATAN Unit Unit Unit Unit Unit Unit AUDITOR
PEMERINTAH
FUNGSION APIP JFA APIP JFA APIP JFA
(APIP)
AL
AUDITOR

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 = (11 sd 14) 16 17 18 19 = (16 sd 18) 20


22 Kab.Buton Utara Sulawesi Tenggara

23 Kab.Konawe Utara Sulawesi Tenggara


24 Kota Tual Maluku
Kab. Mamberamo
25 Raya Papua

sumber: www.indonesia.go.id dan www.nttprov.go.id

Hal 36 - 36
Lampiran 3

REALISASI PESERTA DIKLAT SERTIFIKASI JFA PER APIP


PERIODE: 1996 s.d. 2008

Peserta Diklat Sertifikasi JFA

No Jenis Diklat 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jml

Org Org Org Org Org Org Org Org Org Org Org Org Org Org

A. BPKP

1. Pembentukan Auditor Terampil 1.830 639 307 158 11 68 12 3 8 58 89 42 60 3.285

2. Pindah Jalur 278 194 139 93 104 162 195 132 124 92 81 60 54 1.708

3. Pembentukan Auditor Ahli 626 178 88 95 141 51 11 11 2 30 1 3 0 1.237

4. Penjenjangan Auditor Ketua Tim 570 189 54 446 261 319 250 146 114 186 147 120 125 2.927

5. Penjenjangan Auditor Pengendali Teknis 13 0 1 51 70 382 140 105 169 175 139 130 23 1.398

6. Penjenjangan Auditor Pengendali Mutu 0 0 0 0 0 0 22 4 0 11 0 0 0 37

Sub Jumlah 3.317 1.200 589 843 587 982 630 401 417 552 457 355 262 10.592

7. Pengembangan Peran Ketua Tim 20 1 0 4 5 12 66 36 0 0 0 0 0 144

8. Matrikulasi Ahli 0 0 0 0 0 0 15 0 0 0 0 0 0 15

9. Matrikulasi Ketua Tim 0 0 0 0 0 0 0 1 0 0 2 0 0 3

10. Matrikulasi Pengendali Teknis 0 0 0 0 0 0 6 4 0 0 0 1 0 11

Sub Jumlah 20 1 0 4 5 12 87 41 0 0 2 1 0 173

Jumlah 3.337 1.201 589 847 592 994 717 442 417 552 459 356 262 10.765

B. Itjen Dep./LPND

1. Pembentukan Auditor Terampil 120 167 27 49 30 117 67 108 685

2. Pindah Jalur 51 0 7 24 2 0 0 84

3. Pembentukan Auditor Ahli 471 268 149 175 167 369 127 248 1.974

4. Penjenjangan Auditor Ketua Tim 311 281 112 133 96 130 82 144 1.289

5. Penjenjangan Auditor Pengendali Teknis 117 207 184 155 125 79 78 110 1.055

6. Penjenjangan Auditor Pengendali Mutu 0 24 0 21 0 0 0 45

Sub Jumlah 1.019 974 496 519 463 697 354 610 5.132

7. Pengembangan Peran Ketua Tim 0 0 0 0 0 0 0 0

8. Matrikulasi Ahli 0 0 0 0 4 0 0 4

9. Matrikulasi Ketua Tim 0 65 4 7 6 0 0 82

10. Matrikulasi Pengendali Teknis 0 16 0 0 0 0 0 16

Sub Jumlah 0 0 81 4 7 10 0 0 102

Jumlah 1.019 974 577 523 470 707 354 610 5.234

Hal 1 - 2
Lampiran 3

Peserta Diklat Sertifikasi JFA

No Jenis Diklat 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Jml

Org Org Org Org Org Org Org Org Org Org Org Org Org Org

C. Bawasda

1. Pembentukan Auditor Terampil 1.467 1.812 312 147 524 589 672 497 290 447 195 6.952

2. Pindah Jalur 25 8 27 32 73 96 77 97 0 435

3. Pembentukan Auditor Ahli 141 619 304 574 532 846 805 721 625 897 804 6.868

4. Penjenjangan Auditor Ketua Tim 20 104 147 148 40 6 72 394 337 333 320 1.921

5. Penjenjangan Auditor Pengendali Teknis 9 57 61 164 139 34 464

6. Penjenjangan Auditor Pengendali Mutu 1 0 0 0 0 0 1

Sub Jumlah 20 1.712 2.578 641 877 1.123 1.483 1.679 1.769 1.493 1.913 1.353 16.641

7. Pengembangan Peran Ketua Tim 0 0 0 0 0 0 0

8. Matrikulasi Ahli 1 12 115 102 20 19 0 269

9. Matrikulasi Ketua Tim 0 77 211 103 21 0 412

10. Matrikulasi Pengendali Teknis 0 0 1 2 1 0 4

Sub Jumlah 0 0 0 0 0 1 12 192 314 125 41 0 685

Jumlah 20 1.712 2.578 641 877 1.124 1.495 1.871 2.083 1.618 1.954 1.353 17.326

D. TOTAL APIP

1. Pembentukan Auditor Terampil 1.830 639 1.774 1.970 323 335 703 619 729 585 496 556 363 10.922

2. Pindah Jalur 278 194 139 93 129 170 273 164 204 212 160 157 54 2.227

3. Pembentukan Auditor Ahli 626 178 229 714 445 1.096 811 1.006 982 918 995 1.027 1.052 10.079

4. Penjenjangan Auditor Ketua Tim 570 209 158 593 261 778 571 264 319 676 614 535 589 6.137

5. Penjenjangan Auditor Pengendali Teknis 13 0 1 51 70 499 347 298 381 361 382 347 167 2.917

6. Penjenjangan Auditor Pengendali Mutu 0 0 0 0 0 0 22 29 0 32 0 0 0 83

Sub Jumlah 3.317 1.220 2.301 3.421 1.228 2.878 2.727 2.380 2.615 2.784 2.647 2.622 2.225 32.365

7. Pengembangan Peran Ketua Tim 20 1 0 4 5 12 66 36 0 0 0 0 0 144

8. Matrikulasi Ahli 0 0 0 0 0 0 16 12 115 102 24 19 0 288

9. Matrikulasi Ketua Tim 0 0 0 0 0 0 0 66 81 218 111 21 0 497

10. Matrikulasi Pengendali Teknis 0 0 0 0 0 0 6 20 0 1 2 2 0 31

Sub Jumlah 20 1 0 4 5 12 88 134 196 321 137 42 0 960

Jumlah 3.337 1.221 2.301 3.425 1.233 2.890 2.815 2.514 2.811 3.105 2.784 2.664 2.225 33.325

Hal 2 - 2
Lampiran 4
REALISASI PENYELENGGARAAN DIKLAT SERTIFIKASI JFA
TAHUN 2008

A. Diklat Sertifikasi JFA Sesuai Kalender Diklat Tahun 2008

Nama Diklat
No Unit Kerja Waktu Kelas Peserta Keterangan
Lokasi Jenjang
I. 1 Ciawi Trampil BPKP 2 - 25 Feb 2 60
2 Ciawi Pindah Jalur BPKP 11 - 29 Feb 1 24
3 Ciawi Pindah Jalur BPKP 9 - 27 Juni 1 30
4 Ciawi Ketua Tim BPKP 25 Maret - 10 April 1 34
5 Ciawi Ketua Tim BPKP 31 Juli - 16 Agust 1 31
6 Ciawi Ketua Tim BPKP 18 Nov - 4 Des 2 60
7 Ciawi Pengendali Teknis BPKP 16 - 30 April 1 23

II. 1 Bandung Trampil Bawasda 26 Mei - 11 Juni 1 34


2 Palembang Trampil Bawasda 3 - 19 Juni 1 18
3 Surabaya Ahli Bawasda 1 - 22 April 1 36
4 Banjarmasin Ahli Bawasda 1 - 22 April 1 35
5 Padang Ahli Bawasda 8 - 29 Okt 1 34
6 Medan Ahli Bawasda 10 Juni - 1 Juli 1 30
7 Makassar Ahli Bawasda 9 - 30 Juni 1 31
8 Semarang Ahli Bawasda 24 Juni - 14 Juli 1 33
9 Denpasar Ahli Bawasda 26 Juni - 14 Juli 1 30
10 Pontianak Ahli Bawasda 8 - 29 April 1 30
11 Denpasar Ketua Tim Bawasda 15 - 30 Okt 1 19
12 Semarang Ketua Tim Bawasda 30 Juni - 15 Juli 1 32
13 Bandung Ketua Tim Bawasda 30 Juni - 15 Juli 1 36
14 Surabaya Ketua Tim Bawasda 15 - 30 Okt 1 29
15 Ciawi Trampil Bawasda 25 Maret - 11 April 1 24 Semi Mandiri
16 Ciawi Trampil Bawasda 25 Agus - 11 Sep 1 26 Semi Mandiri
17 Ciawi Trampil Bawasda 18 Nov - 5 Des 1 17 Semi Mandiri
18 Ciawi Ahli Bawasda 24 Maret - 14 April 2 63 Semi Mandiri
19 Ciawi Ahli Bawasda 25 Ags - 16 Sep 1 25 Semi Mandiri
20 Ciawi Ahli Bawasda 25 Agus - 16 Sep 2 53 Semi Mandiri
21 Ciawi Ketua Tim Bawasda 25 Maret - 10 April 1 35 Semi Mandiri
22 Ciawi Ketua Tim Bawasda 25 Agus - 10 Sep 1 33 Semi Mandiri
23 Ciawi Ketua Tim Bawasda 18 Nov - 4 Des 2 41 Semi Mandiri
24 Ciawi Pengendali Teknis Bawasda 21 Mei - 4 Juni 1 34 Semi Mandiri

III. 1 Ciawi Trampil Itjen 12 - 29 Feb 1 18


2 Ciawi Ahli Itjen 24 Maret - 15 April 1 36
3 Ciawi Ahli Itjen 5 - 27 Juni 2 60
4 Ciawi Ahli Itjen 25 Agust - 16 Sep 1 32
5 Ciawi Ketua Tim Itjen 12 - 28 Feb 1 30
6 Ciawi Ketua Tim Itjen 10 - 26 Juni 1 34
7 Ciawi Pengendali Teknis Itjen 16 - 30 April 1 36
8 Ciawi Pengendali Teknis Itjen 31 Juli - 14 Agst 1 30

Jumlah A 45 1.316

Hal 1 - 2
Lampiran 4
B. Diklat Sertifikasi JFA Sesuai Dana Mandiri Tahun 2008

Inspektorat Jendral Departmen / Inspektorat LPND


No
Departemen / LPND Jenjang Waktu Lokasi Kelas Peserta
I. 1 Departemen Perhubungan Trampil 12 Maret - 1 April Jakarta 1 20
2 Departemen Keuangan Trampil 23 Juni - 1 Juli Jakarta 1 20
3 Departemen Luar Negeri Trampil 1 - 18 Juli Jakarta 2 50
4 Departemen Kesehatan Ahli 11 Feb - 3 Maret Jakarta 1 29
5 Departemen Pekerjaan Umum Ahli 5 - 21 Mei Jakarta 1 20
6 Biro Pusat Statistik Ahli 28 April - 22 Mei Jakarta 1 24
7 Departemen Perdagangan Ahli 9 - 30 Juni Ciawi 1 27
8 BNP2TKI Ahli 3 - 24 Nov Ciawi 1 20
9 Departemen Kesehatan Ketua Tim 4 - 19 Juli Jakarta 1 20
10 Departemen Luar Negeri Ketua Tim 11 - 29 Ags Jakarta 1 22
11 Departemen Diknas Ketua Tim 1 - 16 Sep Jakarta 1 38
12 Departemen Diknas Pengendali Teknis 1 - 14 Sep Jakarta 2 44
Sub Jumlah 14 334

Bawasda
No
Penyelenggara Jenjang Tanggal Lokasi Kelas Peserta
II. 1 Perw. BPKP Sulut Trampil 16 Jan - 6 Feb Manado 1 18
2 Perw. BPKP NTT Trampil 7 - 23 April Kupang 1 25
3 Perw. BPKP Papua Trampil 14 - 27 Mei Papua 1 33
4 Perw. BPKP Sulut Ahli 16 Jan - 6 Feb Manado 1 17
5 Perw. BPKP SulSel Ahli 14 April - 8 Mei Makassar 1 35
6 Pusdiklatwas (*) Ahli 9 - 30 Juni Ciawi 0 1
7 Perw. BPKP Papua Ahli 14 Mei - 5 Juni Papua 1 46
8 Perw. BPKP DKI II Ahli 30 Juni - 19 Juli Banten 1 23
9 Pusdiklatwas Ahli 14 Juli - 5 Ags DKI - Ciawi 1 30
10 Perw. BPKP Jatim Ahli 4 Juni - 12 Juli Magetan 1 28
11 Perw. BPKP KalSel Ahli 15 Juli - 6 Ags Banjar Baru 1 30
12 Perw. BPKP SulSel Ahli 5 - 27 Ags Musi Rawas 1 25
13 Perw. BPKP Jatim Ahli 8 - 29 Okt Lumajang 1 35
14 Perw. BPKP Jatim Ahli 22 Okt - 22 Nov Tuban 1 35
15 Perw. BPKP NAD Ahli 10 Okt - 1 Nov Aceh 2 50
16 Perw. BPKP Jabar Ahli 10 Nov - 4 Des Bandung 1 38
17 Perw. BPKP SuMut Ahli 28 Okt - 20 Nov Karo, Medan 1 11
18 Perw. BPKP Jabar Ketua Tim 7 - 25 April Bandung 1 25
19 Perw. BPKP SulSel Ketua Tim 14 - 29 April Makassar 1 18
20 Pusdiklatwas Ketua Tim 7 - 23 Ags DKI - Ciawi 1 28
21 Perw. BPKP KalTim Ketua Tim 20 - 31 Okt Samarinda 1 24
Sub Jumlah 21 575

Jumlah B 35 909

Total Penyelenggaraan Diklat Sertifikasi JFA (Rutin + Mandiri) = Jumlah A+B 80 2.225

Catatan: (*) peserta bawasda yang ikut diklat departemen perdagangan

Hal 2 - 2
Lampiran 5

TINGKAT KELULUSAN UJIAN SERTIFIKASI JFA APIP


PERIODE TAHUN UJIAN 2004 S.D. 2008

BPKP
TAHUN 2004 )* TAHUN 2005 )* TAHUN 2006 TAHUN 2007 TAHUN 2008 TOTAL JUMLAH
NO JENJANG DIKLAT Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak
Lulus % )* Lulus % Lulus % Lulus % Lulus % Lulus %
Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus
1 Auditor Terampil 8 6 - 100,00% 61 54 - 100,00% 167 68 - 100,00% 97 69 1 98,57% 147 50 - 100,00% 480 247 1 99,60%
2 Auditor Ahli 126 94 2 97,92% 184 119 - 100,00% 66 17 - 100,00% 12 7 3 70,00% 4 3 - 100,00% 392 240 5 97,96%
3 Pindah Jalur - - 0,00% - - - 0,00% 144 85 1 98,84% 112 64 5 92,75% 145 58 1 98,31% 401 207 7 96,73%
4 Ketua Tim 115 165 3 98,21% 186 177 - 100,00% 366 181 2 98,91% 235 145 6 96,03% 300 68 3 95,77% 1.202 736 14 98,13%
5 Pengendali Teknis 132 117 100,00% 101 221 - 100,00% 327 170 13 92,90% 235 119 4 96,75% 177 43 4 91,49% 972 670 21 96,96%
6 Pengendali Mutu 3 3 100,00% 11 6 - 100,00% 2 2 100,00% - - 0,00% - - - 0,00% 16 11 - 0,00%
Jumlah 384 385 5 98,72% 543 577 5 99,14% 1.072 523 16 97,03% 691 404 19 95,51% 773 222 8 96,52% 3.463 2.111 48 97,78%
ITJEN DEP/LPND
TAHUN 2004 TAHUN 2005 TAHUN 2006 TAHUN 2007 TAHUN 2008 TOTAL JUMLAH
NO JENJANG DIKLAT Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak
Lulus % Lulus % Lulus % Lulus % Lulus % Lulus %
Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus
1 Auditor Terampil 49 7 - 100,00% 30 49 - 100,00% 250 41 27 60,29% 380 87 35 71,31% 239 82 8 91,11% 948 266 70 79,17%
2 Auditor Ahli 182 163 5 97,02% 186 175 - 100,00% 424 141 28 83,43% 747 248 41 85,81% 505 171 25 87,24% 2.044 898 99 90,07%
3 Pindah Jalur - - 9 0,00% - - - #DIV/0! 68 24 3 88,89% 41 9 3 75,00% 60 24 2 92,31% 169 57 17 77,03%
4 Ketua Tim 133 84 15 84,85% 135 135 - 100,00% 390 115 28 80,42% 276 81 27 75,00% 343 55 8 87,30% 1.277 470 78 85,77%
5 Pengendali Teknis 156 207 - 100,00% 94 203 - 100,00% 437 119 26 82,07% 269 92 21 81,42% 201 39 1 97,50% 1.157 660 48 93,22%
6 Pengendali Mutu 13 13 - 100,00% 21 13 - 100,00% - - 0,00% - - 0,00% - - 0,00% 34 26 - 100,00%
Jumlah 533 474 29 94,23% 466 575 57 90,98% 1.569 440 112 79,71% 1.713 517 127 80,28% 1.348 371 44 89,40% 5.629 2.377 312 88,40%
Bawasda
TAHUN 2004 TAHUN 2005 TAHUN 2006 TAHUN 2007 TAHUN 2008 TOTAL JUMLAH
NO JENJANG DIKLAT Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak
Lulus % Lulus % Lulus % Lulus % Lulus % Lulus %
Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus
1 Auditor Terampil 672 192 35 84,58% 497 416 121 77,47% 1.218 400 263 60,33% 910 177 119 59,80% 779 154 59 72,30% 4.076 1.339 597 69,16%
2 Auditor Ahli 885 642 43 93,72% 791 709 92 88,51% 1.394 522 152 77,45% 1.572 488 73 86,99% 1.975 508 50 91,04% 6.617 2.869 410 87,50%
3 Pindah Jalur - - 0,00% - - 0,00% 180 71 20 78,02% 243 90 68 56,96% 194 59 13 81,94% 617 220 101 68,54%
4 Ketua Tim 74 24 8 75,00% 360 113 1 99,12% 1.052 275 61 81,85% 853 269 163 62,27% 798 207 14 93,67% 3.137 888 247 78,24%
5 Pengendali Teknis 57 3 100,00% 61 22 3 88,00% 379 87 21 80,56% 371 107 39 73,29% 271 76 11 87,36% 1.139 295 74 79,95%
6 Pengendali Mutu - - 0,00% - - 0,00% - - 0,00% - - 0,00% - - 0,00% - - - 0,00%
Jumlah 1.688 861 86 90,92% 1.709 1.260 217 85,31% 4.223 1.355 517 72,38% 3.949 1.131 462 71,00% 4.017 1.004 147 87,23% 15.586 5.611 1.429 79,70%
APIP
TAHUN 2004 TAHUN 2005 TAHUN 2006 TAHUN 2007 TAHUN 2008 TOTAL JUMLAH
NO JENJANG DIKLAT Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak Peserta Tidak
Lulus % Lulus % Lulus % Lulus % Lulus % Lulus %
Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus Ujian Lulus
1 Auditor Terampil 729 205 35 85,42% 588 519 121 81,09% 1.635 509 290 63,70% 1.387 333 155 68,24% 1.165 286 67 81,02% 5.504 1.852 668 73,49%
2 Auditor Ahli 1.193 899 50 94,73% 1.161 1.003 92 91,60% 1.884 680 180 79,07% 2.331 743 117 86,40% 2.484 682 75 90,09% 9.053 4.007 514 88,63%
3 Pindah Jalur - - 9 0,00% - - - 0,00% 392 180 24 88,24% 396 163 76 68,20% 399 141 16 89,81% 1.187 484 125 79,47%
4 Ketua Tim 322 273 26 91,30% 681 425 1 99,77% 1.808 571 91 86,25% 1.364 495 196 71,64% 1.441 330 25 92,96% 5.616 2.094 339 86,07%
5 Pengendali Teknis 345 327 - 100,00% 256 446 3 99,33% 1.143 376 60 86,24% 875 318 64 83,25% 649 158 16 90,80% 3.268 1.625 143 91,91%
6 Pengendali Mutu 16 16 - 100,00% 32 19 - 100,00% 2 2 - 100,00% - - - 0,00% - - - 0,00% 50 37 - 100,00%
Jumlah 2.605 1.720 120 93,48% 2.718 2.412 217 91,75% 6.864 2.318 645 78,23% 6.353 2.052 608 77,14% 6.138 1.597 199 88,92% 24.678 10.099 1.789 84,95%
Keterangan :
1 Untuk tahun 2004 dan 2005, data Diklat Pindah Jalur tergabung dengan Diklat Pembentukan Ahli
2 Persentase lulus = Lulus / (Lulus + Tidak Lulus)
Persentase lulus tidak memperhitungkan peserta yang belum lulus, karena dianggap masih memiliki kesempatan untuk lulus ujian.

Hal 1 - 1
Lampiran 6

TINGKAT KELULUSAN SERTIFIKASI JFA BERDASARKAN KELAS DIKLAT PERIODE: 2007 S.D. 2008

% KELULUSAN 
PESERTA 

% BELUM
MATRIK 

%  TIDAK
PESERTA

% LULUS
 UTAMA
& LAIN2

UTAMA
LULUS 
DIKLAT

BELUM

 LULUS
 LULUS

 LULUS
 LULUS

 LULUS
 UJIAN

LULUS

TIDAK
 UJUL

JML
NO PERIODE

1 2 4 5 6 7 8 9 10 11 12 = 7/(9+11) 13 = 9/(9+11) 14 15 = 11/(9+11)

BPKP
2007
1 TERAMPIL            42             ‐            42          23         19         42        ‐      ‐ 54,76% 100,00% 0,00% 0,00%
2 AHLI              3             ‐              3            2            1            3        ‐      ‐ 66,67% 100,00% 0,00% 0,00%
3 PINDAH JALUR            60             ‐            60          37         18         55            5      ‐ 67,27% 100,00% 8,33% 0,00%
4 KETUA TIM          121             ‐            60          40         49         59        ‐          1 66,67% 98,33% 0,00% 1,67%
5 PENGENDALI TEKNIS          131             ‐            60          29         26         55            1          4 49,15% 93,22% 1,67% 6,78%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH          357             ‐          225        131       113       214            6          5 59,82% 97,72% 2,67% 2,28%
2008
1 TERAMPIL            60             ‐            60          16         32         48         12      ‐ 33,33% 100,00% 20,00% 0,00%
2 AHLI          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
3 PINDAH JALUR            54             ‐            54          28            8         36         18      ‐ 77,78% 100,00% 33,33% 0,00%
4 KETUA TIM            65             ‐            65          31            6         37         28      ‐ 83,78% 100,00% 43,08% 0,00%
5 PENGENDALI TEKNIS            23             ‐            23         ‐            4            4         19      ‐ 0,00% 100,00% 82,61% 0,00%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH          202             ‐          202          75         50       125         77      ‐ 60,00% 100,00% 38,12% 0,00%

2007‐2008
1 TERAMPIL          102             ‐          102          39         51         90         12      ‐ 43,33% 100,00% 11,76% 0,00%
2 AHLI              3             ‐              3            2            1            3        ‐      ‐ 66,67% 100,00% 0,00% 0,00%
3 PINDAH JALUR          114             ‐          114          65         26         91         23      ‐ 71,43% 100,00% 20,18% 0,00%
4 KETUA TIM          186             ‐          125          71         55         96         28          1 73,20% 98,97% 22,40% 1,03%
5 PENGENDALI TEKNIS          154             ‐            83          29         30         59         20          4 46,03% 93,65% 24,10% 6,35%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH          559             ‐        427       206      163      339        83        5 59,88% 98,55% 19,44% 1,45%

ITJEN
2007
1 TERAMPIL            84             ‐            84          21         33         54         17        13 31,34% 80,60% 20,24% 19,40%
2 AHLI          126             ‐          126          26         46         72         44        10 31,71% 87,80% 34,92% 12,20%
3 PINDAH JALUR              8             ‐              8            2            3            5            1          2 28,57% 71,43% 12,50% 28,57%
4 KETUA TIM            91                 3            88          10         35         45         38          5 20,00% 90,00% 43,18% 10,00%
5 PENGENDALI TEKNIS            85             ‐            85          12         52         64         19          2 18,18% 96,97% 22,35% 3,03%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH          394                 3          391          71       169       240       119        32 26,10% 88,24% 30,43% 11,76%
2008
1 TERAMPIL          113             ‐          113          30         36         66         47      ‐ 45,45% 100,00% 41,59% 0,00%
2 AHLI          218                 2          216          41         43         84       132      ‐ 48,81% 100,00% 61,11% 0,00%
3 PINDAH JALUR            38             ‐            38          12            7         19         19      ‐ 63,16% 100,00% 50,00% 0,00%
4 KETUA TIM          176             ‐          176            9         12         21       155      ‐ 42,86% 100,00% 88,07% 0,00%
5 PENGENDALI TEKNIS          110             ‐          110         ‐            2            2       108      ‐ 0,00% 100,00% 98,18% 0,00%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH          655                 2          653          92       100       192       461      ‐ 47,92% 100,00% 70,60% 0,00%

2007‐2008
1 TERAMPIL          197             ‐          197          51         69       120         64        13 38,35% 90,23% 32,49% 9,77%
2 AHLI          344                 2          342          67         89       156       176        10 40,36% 93,98% 51,46% 6,02%
3 PINDAH JALUR            46             ‐            46          14         10         24         20          2 53,85% 92,31% 43,48% 7,69%
4 KETUA TIM          267                 3          264          19         47         66       193          5 26,76% 92,96% 73,11% 7,04%
5 PENGENDALI TEKNIS          195             ‐          195          12         54         66       127          2 17,65% 97,06% 65,13% 2,94%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH      1.049                 5     1.044       163      269      432      580      32 35,13% 93,10% 55,56% 6,90%

BAWASDA
2007
1 TERAMPIL          416             ‐          416          51       152       203       176        37 21,25% 84,58% 42,31% 15,42%
2 AHLI          923             ‐          923        147       308       455       465          3 32,10% 99,34% 50,38% 0,66%
3 PINDAH JALUR          106             ‐          106          41         26         67         38          1 60,29% 98,53% 35,85% 1,47%
4 KETUA TIM          336                 1          335          39       162       201       122        12 18,31% 94,37% 36,42% 5,63%
5 PENGENDALI TEKNIS          140             ‐          140          37         53         90         42          8 37,76% 91,84% 30,00% 8,16%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH      1.921                 1      1.920        315       701    1.016       843        61 29,25% 94,34% 43,91% 5,66%
2008
1 TERAMPIL          178             ‐          152            4         12         16       136      ‐ 25,00% 100,00% 89,47% 0,00%
2 AHLI          629             ‐          629          66         74       140       489      ‐ 47,14% 100,00% 77,74% 0,00%
3 PINDAH JALUR            54             ‐            54            2         10         12         42      ‐ 16,67% 100,00% 77,78% 0,00%
4 KETUA TIM          250             ‐          250          32         30         62       188      ‐ 51,61% 100,00% 75,20% 0,00%
5 PENGENDALI TEKNIS            44             ‐            44            2            1            3         41      ‐ 66,67% 100,00% 93,18% 0,00%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH      1.155             ‐      1.129        106       127       233       896      ‐ 45,49% 100,00% 79,36% 0,00%
2007‐2008
1 TERAMPIL          594             ‐          568          55       164       219       312        37 21,48% 85,55% 54,93% 14,45%
2 AHLI      1.552             ‐      1.552        213       382       595       954          3 35,62% 99,50% 61,47% 0,50%
3 PINDAH JALUR          160             ‐          160          43         36         79         80          1 53,75% 98,75% 50,00% 1,25%
4 KETUA TIM          586                 1          585          71       192       263       310        12 25,82% 95,64% 52,99% 4,36%
5 PENGENDALI TEKNIS          184             ‐          184          39         54         93         83          8 38,61% 92,08% 45,11% 7,92%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH      3.076                 1     3.049       421      828  1.249  1.739      61 32,14% 95,34% 57,04% 4,66%

Hal 1 - 2
Lampiran 6

% KELULUSAN 
PESERTA 

% BELUM
MATRIK 

%  TIDAK
PESERTA

% LULUS
 UTAMA
& LAIN2

UTAMA
LULUS 
DIKLAT

BELUM

 LULUS
 LULUS

 LULUS
 LULUS

 LULUS
 UJIAN

LULUS

TIDAK
 UJUL

JML
NO PERIODE

1 2 4 5 6 7 8 9 10 11 12 = 7/(9+11) 13 = 9/(9+11) 14 15 = 11/(9+11)

TOTAL APIP
2007
1 TERAMPIL          542             ‐          542          95       204       299       193        50 27,22% 85,67% 35,61% 14,33%
2 AHLI      1.052             ‐      1.052        175       355       530       509        13 32,23% 97,61% 48,38% 2,39%
3 PINDAH JALUR          174             ‐          174          80         47       127         44          3 61,54% 97,69% 25,29% 2,31%
4 KETUA TIM          548                 4          483          89       246       305       160        18 27,55% 94,43% 33,13% 5,57%
5 PENGENDALI TEKNIS          356             ‐          285          78       131       209         62        14 34,98% 93,72% 21,75% 6,28%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
SUB JUMLAH      2.672                 4      2.536        517       983    1.470       968        98 32,97% 93,75% 38,17% 6,25%
2008
1 TERAMPIL          351             ‐          325          50         80       130       195      ‐ 38,46% 100,00% 60,00% 0,00%
2 AHLI          847                 2          845        107       117       224       621      ‐ 47,77% 100,00% 73,49% 0,00%
3 PINDAH JALUR          146             ‐          146          42         25         67         79      ‐ 62,69% 100,00% 54,11% 0,00%
4 KETUA TIM          491             ‐          491          72         48       120       371      ‐ 60,00% 100,00% 75,56% 0,00%
5 PENGENDALI TEKNIS          177             ‐          177            2            7            9       168      ‐ 22,22% 100,00% 94,92% 0,00%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
SUB JUMLAH      2.012                 2      1.984        273       277       550    1.434      ‐ 49,64% 100,00% 72,28% 0,00%
JUMLAH      4.684                 6      4.520        790    1.260    2.020    2.402        98 37,30% 95,37% 53,14% 4,63%

2007‐2008
1 TERAMPIL          893             ‐          867        145       284       429       388        50 30,27% 89,56% 44,75% 10,44%
2 AHLI      1.899                 2      1.897        282       472       754    1.130        13 36,77% 98,31% 59,57% 1,69%
3 PINDAH JALUR          320             ‐          320        122         72       194       123          3 61,93% 98,48% 38,44% 1,52%
4 KETUA TIM      1.039                 4          974        161       294       425       531        18 36,34% 95,94% 54,52% 4,06%
5 PENGENDALI TEKNIS          533             ‐          462          80       138       218       230        14 34,48% 93,97% 49,78% 6,03%
6 PENGENDALI MUTU          ‐             ‐          ‐         ‐        ‐        ‐        ‐      ‐ 0,00% 0,00% 0,00% 0,00%
JUMLAH      4.684                 6     4.520       790  1.260  2.020  2.402      98 37,30% 95,37% 53,14% 4,63%

Hal 2 - 2
Lampiran 7
PENERBITAN STTPP SERTIFIKASI JFA APIP
PERIODE: 1996 s.d. 2003

TOTAL APIP
NO. PERIODE DIKLAT 1999 2000 2001 2002 2003 Jumlah
1 TERAMPIL        35         73         123         73         49                353 
2 AHLI          7         54         449         79       218                807 
3 PINDAH JALUR      537       148         147         75       212             1.119 
4 KETUA TIM      231       129         474       158       174             1.166 
5 PENGENDALI TEKNIS           ‐         63         134       380       322                899 
6 PENGENDALI MUTU           ‐            ‐              ‐           9         18                  27 
TOTAL JUMLAH      810       467     1.327       774       993             4.371 

BPKP
NO. PERIODE DIKLAT 1999 2000 2001 2002 2003 Jumlah
1 TERAMPIL        35         73           23         53           9                193 
2 AHLI          7         54         108         20         12                201 
3 PINDAH JALUR      537       148         147         70       193             1.095 
4 KETUA TIM      231       129         278       122       106                866 
5 PENGENDALI TEKNIS         ‐           63           56       240       158                517 
6 PENGENDALI MUTU         ‐            ‐              ‐             9           3                  12 
TOTAL JUMLAH      810       467         612       514       481             2.884 

ITJEN
NO. PERIODE DIKLAT 1999 2000 2001 2002 2003 Jumlah
1 TERAMPIL         ‐            ‐    100 20 27               147 
2 AHLI         ‐            ‐    341 59 77               477 
3 PINDAH JALUR         ‐            ‐    0 5 12                 17 
4 KETUA TIM         ‐            ‐    196 36 68               300 
5 PENGENDALI TEKNIS         ‐            ‐    78 140 164               382 
6 PENGENDALI MUTU         ‐            ‐              ‐            ‐    15                 15 
TOTAL JUMLAH         ‐            ‐           715       260       363             1.338 

BAWASDA
NO. PERIODE DIKLAT 1999 2000 2001 2002 2003 Jumlah
1 TERAMPIL         ‐            ‐              ‐            ‐           13                  13 
2 AHLI         ‐            ‐              ‐            ‐         129                129 
3 PINDAH JALUR         ‐            ‐              ‐            ‐             7                     7 
4 KETUA TIM         ‐            ‐              ‐            ‐              ‐                    ‐   
5 PENGENDALI TEKNIS         ‐            ‐              ‐            ‐              ‐                    ‐   
6 PENGENDALI MUTU         ‐            ‐              ‐            ‐             ‐                      ‐   
TOTAL JUMLAH         ‐            ‐              ‐            ‐         149                149 

Hal 1 - 1
Lampiran 8

PENERBITAN STTPP SERTIFIKASI JFA APIP PERIODE 2004 S.D. 2008

JENJANG  TAHUN 2004 TAHUN 2005 TAHUN 2006 TAHUN 2007 TAHUN 2008 TOTAL


NO
DIKLAT Itjen BPKP BAWAS TOTAL Itjen BPKP BAWAS TOTAL Itjen BPKP BAWAS TOTAL Itjen BPKP BAWAS TOTAL Itjen BPKP BAWAS TOTAL Itjen BPKP BAWAS TOTAL
1 Auditor Terampil   7   6   192   205   49   54   416   519   41   68   400   509   87   69   177   333   82   50   154   286   266   247   1.339   1.852
2 Auditor Ahli  163   94   642   899  175   119   709  1.003  141   17   522   680  248   7   488   743  171   3   508   682   898   240   2.869   4.007
3 Pindah Jalur   ‐   ‐   24   85   71   180   9   64   90   163   24   58   59   141   57   207   220   484
4 Ketua Tim   84   165   24   273  135   177   113   425  115   181   275   571   81   145   269   495   55   68   207   330   470   736   888   2.094
5 Pengendali Teknis  207   117   3   327  203   221   22   446  119   170   87   376   92   119   107   318   39   43   76   158   660   670   295   1.625
6 Pengedali Mutu   13   3   16   13   6   19   8   2   ‐   10   ‐   ‐   ‐   ‐  ‐   ‐   ‐   ‐   34   11   ‐   45
Jumlah   474   385   861  1.720  575   577  1.260  2.412  448   523   1.355  2.326  517   404   1.131  2.052  371   222  1.004  1.597  2.385  2.111   5.611  10.107

Hal 1 - 1
Lampiran 9

JENIS DAN JUMLAH PESERTA DIKLAT TEKNIS SUBSTANSI PENGAWASAN


YANG DISELENGGARAKAN PUSDIKLATWAS BPKP
TAHUN 2008
2008
No Jenis Diklat
BPKP Non BPKP Jumlah

1 Akuntansi Pemerintah Daerah - 26 26


2 Analisis Pemecahan Masalah - 79 79
3 Anggaran Berbasis Kinerja 22 - 22
4 Arsiparis 30 26 56
5 Audit BOS KITA 116 - 116
6 Audit Investigatif - 370 370
7 Audit Investigatif PBJ - 40 40
8 Audit Kepegawaian - 93 93
9 Audit Kinerja - 40 40
10 Audit Kinerja Sektor Korporat 31 - 31
11 Audit Pendapatan Asli Daerah - 116 116
12 Audit Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah 60 245 305
13 Audit PNBP - 30 30
14 Audit PNPM Mandiri - 97 97
15 Audit Proyek/Kegiatan Berbantuan PHLN 195 30 225
16 Audit Sarana dan Prasarana - 94 94
17 Auditing Tk. Menengah - 37 37
18 Bagi Hasil Migas 43 - 43
19 Dasar-dasar Audit - 67 67
20 Eskalasi dan Investasi dalam PBJ 28 - 28
21 Evaluasi LAKIP - 57 57
22 Evaluasi Perencanaan Anggaran - 74 74
23 Forensic Audit 32 - 32
24 IPMA 40 - 40
25 Kertas Kerja Audit - 112 112
26 Key Performance Indicator 31 - 31
27 LAKIP - 29 29
28 Manajemen Pengawasan - 118 118
29 Manajemen Risiko 58 - 58
30 Master of Ceremony 36 - 36
31 Mind Shifting 48 - 48
32 Pembentukan Auditor Investigatif 27 - 27
33 Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah 139 1.076 1.215
34 Pengelolaan BMD - 40 40
35 Pengelolaan data hasil Pengawasan 30 30 60
36 Pengembangan SDM Pengawasan - 30 30
37 Peningkatan Kompetensi Auditor Inspektorat 37 - 37
38 Peningkatan Kompetensi Pembinaan JFA 23 - 23
39 Peningkatan Kompetensi Peneliti 27 - 27
40 Peningkatan Kompetensi Pengelola Website 35 - 35
41 Peningkatan Kompetensi Sekretaris 33 - 33
42 Penulisan LHA yang efektif - 100 100
43 Penyusunan dan Evaluasi LAKIP - 40 40
44 Penyusunan dan Reviu Laporan Keuangan Pemda - 151 151
45 Policy Evaluation (PE) - 26 26
46 Reviu CIA 30 - 30
47 Reviu Laporan Keuangan K/L - 90 90
48 Reviu Laporan Keuangan Pemda 33 101 134
49 Reviu RKA-KL - 40 40
50 Risk Based Audit - 44 44
51 SAKIP dan LAKIP 34 - 34
52 SIM Data Renwas 60 - 60
53 SIMAK BMN 80 - 80
54 SIMDA 37 - 37
55 Sistem Akuntansi Instansi 15 60 75
56 Sistem Akuntansi Keuangan Daerah / SAKD 21 - 21
57 Sistem Pengendalian Intern Pemerintah 37 135 172
58 Teknik Manajemen Keuangan Daerah - 40 40
59 Teknik Akuntansi - 39 39
60 Teknik Penyusunan ABK Pemda - 40 40
61 Teknologi Informasi 25 - 25
62 Tim Penilai Angka Kredit JFA - 100 100
63 TOT Outbound 24 - 24
64 TOT Satgas SPIP 26 - 26
Jumlah 1.543 3.962 5.505

Hal 1 - 1
Lampiran 10a

Pelaksanaan Kegiatan Diklat Teknis Substansi Pengawasan


Yang Diselenggarakan Oleh Pusdiklatwas BPKP
Tahun 2004

Jumlah
No Nama Diklat
Peserta

A BPKP
1 Diklat Multi Media 24
2 Sosialisasi Pengadaan Barang dan Jasa 64
3 Policy Evaluation 60
4 Audit PHLN (2 angk) 61
5 Diklat Penelitian Lanjutan 30
6 Diklat GCG 53
7 Diklat Audit Investigasi 92
8 Diklat pengawasan DIII STAN 59
9 Diklat tim PAK 34
10 Diklat Risk Management Audit 26
11 Diklat Investigasi lanjtn 65
12 Diklat SAKD 153
13 Diklat PAT 28
14 TOT instruktur JFA 64
15 Diklat manajerial pengawasan 30
16 Diklat SAP SAI 63
17 Diklat SAK 33
18 Diklat RASP 28
19 EDP Audit 81
20 Diklat Prolap 30
21 Kapita Selekta 285
22 Aplikasi Program RKA KL 58
23 Evaluasi LAKIP 31
24 Audit kinerja sektor publik 85
25 Manajemen Proyek 30
26 Peningkatan kompetensi widyaiswara 30
27 Sosialiasi audit barang dan jasa 769
28 Diklat Manajemen Pengawasan* 57
29 Peningkatan Kompt tim AK Itjen* 62
Sub Jumlah BPKP 2485

Hal 1 - 2
Lampiran 10a

B APIP NON BPKP


1 Sosialisasi Pengadaan Barang dan Jasa Depkeu 64
2 Sosialisasi Pengadaan Barang dan Jasa Bakorsutanal 61
3 Auditing Menengah MA 40
4 Diklat Peningkatan Kompetensi Auditor Depdagri 64
5 Auditing Menengah POLRI 39
6 Sosialiasi pengadaan barang/jasa Keppres 80/2003 Pemda Banten 111
7 Audit prosedur pengadaan barang jasa Keppres 80/2003 Depdagri 96
8 Evaluasi LAKIP Deppreindag 28
9 Manajemen Proyek Depperindag 30
10 Teknik dan penyusunan evaluasi LAKIP Bawasda DKI 214
11 Auditing SPI PAM Jaya 18
12 Audit kinerja dan investigasi Itjen Deplu 23
13 Diklat manajerial pengawasan Bawasda 144
14 Dasar-dasar Auditing POLRI 35
15 Audit Barang dan Jasa Bawasda DKI 150
16 Audit Barang IKMN Deperindag 25
17 Audit Operasional Bawaskab Tlg Agung 30
18 Dasar-dasar Auditing Depdagri 65
19 Audit Investigasi Bawasda DKI 118
20 Dikpim III Pemda Gorontalo 2
21 LAKIP Itjen Dephut 36
22 SAKIP Itjen Dephut 36
23 Tim Penilai AK -Bawasda 63
24 SAKD Bawasda Bogor 26
25 Auditing lanjutan MA 31
26 Audit inventarisasi BKMD Depdagri 50
Sub Jumlah APIP Non BPKP 1599

Jumlah APIP 4084

Hal 2 - 2
Lampiran 10b

Pelaksanaan Kegiatan Diklat Teknis Substansi Pengawasan


Yang Diselenggarakan Oleh Pusdiklatwas BPKP
Tahun 2005

No Nama Diklat Jumlah Peserta

A BPKP
1 Diklat Penyidikan Angk I, II,III,IV dan V 583
2 Diklat Penyidikan Eksekutif (Es II) 21
3 Training Official Course (TOC) 30
4 Diklat Procurement Post Review 62
5 Diklat audit PHLN 31
6 TOT Instruktur 167
7 Diklat Tim PAK 31
8 Diklat Audit Pengadaan Barang dan Jasa 60
9 Diklat Peningkatan Kompetensi Peneliti 34
10 Orientasi ajun khusus DIII STAN 31
11 Diklat SAP 70
12 Diklat APBD berbasis kinerja 32
13 Kapita Selekta 262
14 Diklat Good Corporate Governance (GCG) 198
15 Diklat Budaya Kerja 67
16 Diklat Sistim akuntansi Keuangan Daerah (SAKD) 31
17 Diklat Audit Khusus KPS 30
18 Diklat SAMBN 62
19 Diklat SAI 87
20 Diklat ABK dan SIMDA 35
21 Audit Kinerja Sektor Publik 0
22 Diklat Policy Evaluation 31
23 Laboratorium Audit Investigasi 66
24 Audit Investigasi 0
25 Perancangan Program dan Ev. Diklat 29
26 Manajemen Pengawasan bagi Eselon III 30
27 Manajemen of Training 29
Sub Jumlah BPKP 2109

Hal 1 - 3
Lampiran 10b

No Nama Diklat Jumlah Peserta

B APIP NON BPKP


1 Diklat Pelaksanaan APBN Menko Kesra 29
2 Diklat Auditing Tk Dasar POLRI 35
3 Diklat Dasar2 auditing Depdagri 68
4 Diklat Internal Audit PT Pelindo 35
5 Diklat Auditing Tk Dasar POLDA Sumut 24
6 Manajemen Audit Dep Kelautan 28
7 Pengadaan Barang Jasa Sek Wapres 24
8 Audit Investigasi Depdiknas 35
9 Audit Investigasi Bawasda DKI 29
10 EDP Audit DKP 30
11 Pengembangan KT Bawasda se-Indonesia 27
12 Manajemen Pengawasan-Bawasda 23
13 Audit Investigasi-Bawasda 25
14 Dasar-dasar Audit-Bawasda 66
15 Anggaran Pemerintah Berbasis Kinerja-Itjen Bawasda 19
16 Tim PAK JFA-Itjen Bawasda 105
17 Anggaran Pemda Berbasis Kinerja-Itjen Bawasda 25
18 Audit Pengadaan barang & Jasa-Dep. Budpar 60
19 Audit Pengadaan barang & Jasa- Dep. Hut 30
20 Audit Pengadaan barang & Jasa Badiklat Prov. Jateng 35
21 Audit Pengadaan barang & Jasa-kementrian UPW 24
22 Audit Investigasi- Bawasko Bogor 16
23 Audit Investigasi- Dept Hut 22
24 Teknik Auditor - TNI 53
25 Auditing Tk. Menengah- Polri 35
26 Managerial Pengawasan - Dep. Dalam Negeri 55
27 Tim Penilai Angka Kredit- Bawasda Dep. Dagri 49
28 Auditing Tk dasar - ANRI 25
29 Audit Pengadaan Barang Jasa- Bawasda 150
30 Manajerial Pengawasan II - Bawasda 30
31 Audit Investigasi - Itjen BUMN Bawasda 28
32 AKIP 60
33 APBJ-ANRI 21
34 ABK-Bawasda DKI 30
35 Laporan Hasil Audit - Dept. Kehutanan 30
36 ABK-DKP 30
37 ABK- Bakorsurtanal 23
38 APBJ- Depdagri 30
39 Investigasi Perindustrian 30
40 ABK Dept. Perindustrian 30
41 APBJ-DKP 30

Hal 2 - 3
Lampiran 10b

No Nama Diklat Jumlah Peserta

42 ABMR Dept. Kehutanan 30


43 Audit Investigasi Barikda Boyolali 40
44 Audit Investigasi Bawasda Sumsel 35
Sub Jumlah APIP Non BPKP 1658

Jumlah APIP