Anda di halaman 1dari 7

KRISIS AIR, ILLEGAL LOGGING DAN

PENEGAKAN HUKUM LINGKUNGAN DI INDONESIA

I Gusti Ayu Ketut Rachmi Handayani

Abstract
The protection and preservation of the environment is now perceived as being of crucial importance to
the future of mankind, and public bodies both national and international are taking significant steps to-
wards the establishment of legislation which will promote the protection of the environment. The number of
critical watershed in Indonesia increases from time to time. In 1980’s there were only 22 areas, but in
1990’s it increased into 35 areas and in 2003 it already reached into 69 areas. Almost 70% of these critical
areas locate in Java island. One of the weaknesses in the integrated watershed management in Indonesia
is the decreasing quality of law enforcement, especially for the regulations pertaining to water resources,
spatial planning, and conservation of natural resources together with the ecosystem.

Key Words: Water Crisis, Illegal Logging, Environmental Law Enforcement

A. Pendahuluan program dan kegiatan. Akibatnya kualitas


Sumber daya alam dan lingkungan tidak lingkungan pun menurun sedemikian parah
pernah lepas dari berbagai kepentingan seperti hingga kualitas kehidupan mencapai tingkat
kepentingan negara, kepentingan pemilik yang membahyakan kehidupan manusia.
modal, kepentingan rakyat maupun Berbagai bencana yang terjadi saat ini sudah
kepentingan lingkungan itu sendiri. Perebutan sulit dikategorikan sebagai bencana alam.
kepentingan ini selalu menempatkan pihak Pada awal tahun 2004 saja, berbagai bencana
masyarakat sebagai pihak yang dikalahkan. lingkungan yang terjadi telah merenggut nyawa
Terbatasnya akses masyarakat dalam lebih dari 2.000 orang. Nyawa mereka hilang
pengelolaan sumber daya alam, dan tidak akibat dari kelangkaan air bersih, banjir, tanah
seimbangnya posisi tawar masyarakat longsor dan sebagainya. Sebut saja bencana
merupakan contoh klasik dalam kasus-kasus banjir bandang, tanah longsor dan masih
konflik kepentingan tersebut (I Gusti Ayu Ketut, banyak lagi. Semuanya ini berkaitan erat
2005, 4). dengan penurunan kualitas lingkungan yang
Menurunnya kualitas lingkungan hidup semakin buruk.(Boehmer, 1994, 69-85).
dalam 5 tahun terakhir semakin No Forest, No Water, No Future. Hilang
memprihatinkan. Sebetulnya sebelum hutan, hilang air hilanglah masa depan.
reformasi bergulir sistem pengelolaan Demikian pepatah yang mengumpamakan
lingkungan sudah mulai efektif. Namun pentingnya air bagi masa depan. Air adalah
perubahan tatanan ekonomi, sosial dan politik sumber kehidupan yang mutlak diperlukan oleh
yang disertai dengan perubahan sistem semua makhluk hidup. Pengelolaan yang tidak
pemerintahan dari sentralistik menjadi otonomi baik terhadap sumber daya air akan
melemahkan kepemerintahan termasuk upaya menyebabkan bencana bagi makhluk hidup.
pelestarian fungsi lingkungan hidup. Kelebihan air akan menyebabkan banjir,
Pelemahan sitem pengelolaan lingkungan genangan dan tanah longsor. Kekurangan air
menimbulkan pelanggaran kaidah-kaidah dan akan menyebabkan bencana kekeringan.
peraturan pelestarian lingkungan hidup, baik Menurut proyeksi FAO, pada tahun 2030 nanti,
pada tingkat kebijakan sampai dengan tingkat bumi kita akan dihuni oleh 8,3 milyar manusia

44 Yustisia Edisi Nomor 69 Sept. - Desember 2006 Krisis Air, Illegal Logging, dan Penegakan ...
dan kebutuhan akan air akan meningkat kehilangan kemampuannya bahkan jati dirinya
sebesar 14%. Betapa sengsaranya kita ketika untuk menyediakan air dengan kualitas yang
terjadi kekritisan dan hilangnya sumber daya baik dan dengan kuantitas yang cukup (I Gusti
air di beberapa tempat di Indonesia (Ilyas, 1993, Ayu Ketut, 2005, 4). Lalu pertanyaannya,
65). Bukti kekritisan air yang ada adalah pada bagaimana upaya pengelolaan sumber daya
tahun 2002, dari 26 telaga yang ada di air yang harus dilaksanakan ? Bagaimana
Paranggupito Wonogiri hanya tinggal 3 telaga upaya yang harus dilakukan organisasi
yang masih ada airnya. Akibatnya sebanyak pengelola seperti PDAM dalam menyikapi
4.503 kepala keluarga atau sekitar 20.756 kekritisan sumber daya air? Perubahan
warga 8 desa di Kecamatan Paranggupito paradigma apa yang harus terjadi di tataran
Wonogiri kekurangan air. Bahkan 350 hektare masyarakat, pemerintahan maupun pengelola
tanaman padi di Sukoharjo gagal panen akibat air?
minimnya air irigasi. Bahkan 350 hektare
tanaman padi di Sukoharjo gagal panen akibat
minimnya air irigasi. B. Bencana lingkungan
Pengolaan sumber daya air yang ada, Bencana lingkungan yang saat ini
sampai saat ini masih mengalami beberapa menonjol karena intensitas dan sebaran
permasalahan mendasar. Di tengah dampaknya antara lain adalah: (1) Perusakan
permasalahan yang ada ini sumber daya air hutan dan lahan yang terjadi karena
yang semakin hari semakin langka penebangan liar (illegal logging) di Jawa,
ketersediaannya ini justru menggugah usaha Kalimantan, Sumatera, Papua serta daerah-
bagi para pemodal untuk meraup keuntungan daerah lainnya telah menimbulkan kekeringan
yang lebih besar. Sementara masyarakat di musim kemarau; banjir dan tanah longsor di
kebanyakan masih terlena, kurang peduli, dan musim hujan; serta hilangnya keanekaragaman
pasrah pada pengelolaan sumber daya air yang hayati yang tidak ternilai harganya. Perusakan
apa adanya. Berdasarkan data BPS 80% hutan dan lahan juga disebabkan oleh
rakyat Indonesia pada awal abad ke 21 ini pembukaan lahan dengan pembakaran yang
belum diakses air bersih. Ironis dan aneh menyebabkan kebakaran hutan dan usaha
memang, Indonesia yang merupakan negara pertambangan yang mengabaikan kaidah-
yang terletak di daerah tropis dengan hutan kaidah pelestarian fungsi lingkungan hidup; (2)
tropisnya yang luas mengalami krisis air. Pencemaran air (darat) akibat pembuangan
Menurut teori, dalam hal sumber daya air limbah domestik, limbah B3 serta limbah usaha
asalkan kita mampu mengelolanya ketika dari sector industri dan pertambangan.
musim hujan dan kemarau sumber daya air Pencemaran air mengakibatkan air yang
yang ada akan tetap aman. Pola pertanian debitnya sudah sangat langka, menjadi langka
destruktif, aksploitasi hutan dan perluasan karena penurunan kualitasnya, sehingga air
pemukiman adalah penyebab hilangnya tidak lagi dapat memenuhi persyaratan untuk
sumber-sumber air utama seperti danau dan berbagai penggunaan; (3) Masalah urban
mata air (Kartawinata, 1990). Selain itu bermunculan seperti penimbunan sampah dan
semakin menyusutnya luasan hutan kita limbah domestik, pencemaran udara (oleh
menyebabkan kelebihan air (banjir dan longsor) emisi kendaraan bermotor), kelangkaan air
pada waktu hujan dan kurang air pada waktu bersih dan keterbatasan lahan (kesesakan).
kemarau. Masalah ini disebabkan oleh tingginya laju
Tidak adanya program, baik formal urbanisasi, kurangnya fasilitas umum dan
maupun inisiatif masyarakat guna memelihara pelanggaran peraturan peruntukan ruang; (4)
keberfungsian sumur juga mempengaruhi krisis Perusakan, pencemaran laut dan pantai yang
air yang terjadi. PDAM sebagai satu-satunya mencakup perusakan hutan mangrove, abrasi
perusahaan yang memproduksi air dibiarkan pantai, pencemaran air laut, pengerukan pasir

Yustisia Edisi Nomor 69 Sept. - Desember 2006 Krisis Air, Illegal Logging, dan Penegakan ... 45
darat, dan perusakan terumbu karang telah wilayahnya. Boleh dikata pemerintah setempat
menimbulkan kerusakan lingkungan laut dan dan masyarakat tidak memperoleh apa-apa dari
pantai. Kehidupan nelayan yang bergantung keberadaan pertambangan tersebut.
pada kondisi laut dan pantai sangat terkena Ironisnya memang. Mereka yang memiliki
dampak negatifnya; (5) Dampak lingkungan lahan, tetapi orang lain yang seenaknya
global seperti rusaknya lapisan ozon, mengeruk harta karun atas lahan yang dimiliki
peningkatan suhu bumi dan sebagainya telah pemerintah daerah itu. Akibatnya muncul
menimbulkan dampak lingkungan secara glo- kecemburuan sosial dari masyarakat setempat
bal. Penanganan dampak ini menuntut terhadap pertambangan di wilayah itu. Dalam
kerjasama internasional. hitungannya, kontribusi pertambangan kurang
Menurut Direktur Pengelolaan DAS dan dari 3% GNP. Ini belum jelas berapa persen
Rehabilitasi Lahan Departemen Kehutanan RI, yang dimanfaatkan untuk kesejahteraan rakyat
luas kerusakan hutan dan lahan di Indonesia karena ditarik ke pusat. Kalau kita lihat ke
43 juta Ha (24 juta Ha di kawasan hutan dan sentral pertambangan di Freeport, kita lihat
19 juta Ha di luar kawasan hutan). Sedangkan terjadi kesenjangan. Di sana tidak ada
laju deforestasi tahun 1982-1990 sebesar peningkatan kesejahteraan, padahal ketika
900.000 Ha/tahun. Di tahun 1985-1997 laju pertambangan masuk digembor-gemborkan
kerusakan hutan sebesar 1,6 juta Ha/tahun, akan memberikan keuntungan bagi
di luar P. Jawa, Bali, NTT, NTB, Maluku dan masyarakat. Tapi kenyataannya justru di
Irian Jaya. Lebih parah lagi laju kerusakan hutan pertambangan itu terdapat kantong-kantong
dan lahan pada tahun 1997-2000 untuk 5 pulau kemiskinan.
besar yaitu Sumatera, Kalimantan Sulawesi, Ini sebetulnya paradoks. Di satu sisi
Maluku dan Irian Jaya, di kawasan hutan pertambangan dianggap sebagai primadona
sebesar 2,83 juta Ha/tahun dan di luar kawasan yang mendorong pertumbuhan ekonomi, tapi
hutan 0,68 juta Ha/tahun. kenyataannya hanya mitos. Tidak terjadi.
Masalah-masalah lingkungan ini semua Ketika pertambangan masuk, seolah-olah
menyebabkan penurunan kesehatan dan ekonomi meningkat, karena perusahaan
potensi ekonomi, serta perubahan tatanan tersebut menyumbang pajak, menyumbang
sosial. Kesenjangan antara yang miskin dari pendapatan produksi yang besar,
dengan yang kaya terus menganga, akibat meningkatkan PAD, tetapi sebetulnya tak
turunnya daya dukung lingkungan. Masalah- terjadi.
masalah lingkungan ini bersifat tak terpulihkan Belum lagi ketika perusahaan tersebut
sehingga menimbulkan kerugian dan selesai menambang, terjadilah drop yang
kehilangan yang hermanen ( Bartleet, A.G., MC sangat drastis. Akhirnya muncul fenomena
Nurse, R. B., Chetri and S Khaerel, 1993, 49- ghost town atau kota hantu.
69). Undang-undang nomor 7 tahun 2004
Tentang Sumber Daya Air dan Dampak
Pemberlakuannya
C. Pendapatan yang cukup besar Belum lagi pertanyaan tersebut diatas
Otonomi daerah memang meniupkan terjawab, telah disyahkan UU No. 7 Tahun 2004
harapan baru bagi daerah untuk memperoleh Tentang Sumber Daya Air yang membuat
pendapatan yang cukup besar dari sumber banyak pihak terhenyak karena menyisakan
daya alam yang dimilikinya. Salah satunya setumpuk permasalahan. Pemberlakukan
adalah di sektor pertambangan non migas. undang-undang tersebut di tengah otonomi
Daerah seperti Kalimantan Timur maupun di daerah memungkinkan pengelolaan sumber air
Papua misalnya, ketika zaman orde baru, oleh pihak swasta. Dengan adanya undang-
mereka hanya menyaksikan kemewahan undang tersebut bukan mustahil perebutan
kehidupan pertambangan yang berada di sumber-sumber air akan terjadi. Perkelahian

46 Yustisia Edisi Nomor 69 Sept. - Desember 2006 Krisis Air, Illegal Logging, dan Penegakan ...
fisik dan jebol menjebol saluran air sering mendatangi gedung DPRD Kabupaten
terjadi. Kasus perselisihan antara PDAM Solo Semarang.(Solo Pos 17 maret 2005). Warga
dengan petani Boyolali adalah salah satu yang mengatasnamakan diri Gerakan Rakyat
contoh yang menggambarkan permasalahan Kebondalem Menuntut Adil tersebut menuntut
yang terjadi akibat adanya undang-undang agar sumber air Tuk Umbul yang berada di
tersebut. Konflik tersebut berawal dari rencana Desa mereka bisa kembali dipergunakan untuk
PDAM Solo menarik air bersih dari umbul kepentingan umum dan tak didominasi
Sungsang, Banyudono Boyolali guna perseorangan.
memenuhi kebutuhan air bersih bagi penduduk Konflik yang terus terjadi di tengah kondisi
Kota Solo. Proyek PDAM yang dituangkan sumber daya air yang kritis (Hasil penelitian
dalam MoU antara Pemkot Solo dan Pemkab yang ditulis oleh Ayu dalam Disertasinya
Boyolali ditentang oleh para petani yang selama menunjukkan terdapat trend kenaikan jumlah
ini memanfaatkan air umbul Sungsang untuk Daerah Aliran Sungai yang kritis dari tahun ke
pengairan lahan pertanian mereka. Para petani tahun. Tahun 1980an baru sekitar 22 DAS
itu cemas bahwa proyek PDAM Solo akan kritis, Tahun 1990an meningkat menjadi 35
mengurangi jatah air untuk areal sawah seluas DAS kritis dan tahun 2000-an meningkat tajam
560 hektare yang meliputi wilayah Desa menjadi 69 DAS kritis dan hampir 75% DAS
Jebungan, Jipang, Sambon, Dukuh, kritis tersebut berada di Pulau Jawa) adalah
Guwokajen, dan Kemiri. Persoalan ini sebuah tantangan yang harus dijawab agar
mengakibatkan terjadinya ketegangan antara keberadaan sumber daya air secara kuantitas
Pemkab Boyolali dan Pemkot Solo (Solo Pos, dan kualitas terjaga.
27 April 1999). Perang air bukan mustahil dapat PDAM Solo sebagai salah satu institusi
terjadi antara PDAM dengan PDAM lain atau pelayan pulik di Kota Solo juga mengalami
antara PDAM dengan lembaga lain. Di sisi lain problem kekritisan air sebagai pasok bagi
PDAM bisa bangkrut kalau tidak menata konsumennya. Sampai-sampai ada kontroversi
dirinya dengan pola managemen yang lebih tentang bisa tidaknya air Bengawan Solo
efisien. sebagai salah satu sumber air baku bagi
Otonomi daerah yang dilaksanakan juga masyarakat Solo. Solopos beberapa waktu lalu
memberikan beberapa konsekwensi dalam memberitakan bahwa sejumlah ikan di Daerah
pengelolaan sumber air. Dalam hal ini Aliran Sungai (DAS) Sungai Bengawan Solo
Pemerintah Daerah dapat mengundang inves- tercemar logam berat berupa tembaga (Cu),
tor baik lokal maupun asing untuk mengelola Kadmium (Cd) dan Timbal (Pb), untuk itu
sumber daya air. Adalah hal yang menggiurkan masyarakat di sekitar Sungai Bengawan Solo
ketika harga 1 liter air mineral atau air dalam diimbau tidak mengambil ikan di sungai
kemasan telah melebihi harga 1 liter BBM. tersebut untuk konsumsi sehari-hari. Hal itu
Wajar saja ketika Pemerintah Daerah yang didasarkan pada penelitian yang dilakukan
notabene sedang giat-giatnya meningkatkan mahasiswa D III Kesehatan Lingkungan
PAD lebih tertarik pada investor asing yang Fakultas Kedokteran UMS Ristiyana Eko
sanggup membayar dengan dollar ketimbang Setyarini (Solo Pos, 26 Pebruari 2005).. Hanya
investor lokal yang hanya sanggup membayar ikan sapu-sapu yang mampu hidup di kawasan
dengan rupiah. Namun bagaimana dengan tersebut, namun jika masyarakat
saudara-saudara kita di Solo yang juga sangat mengkonsumsi ikan sapu-sapu yang berada
membutuhkan air dan sangat bergantung dari di Sungai Bengawan Solo akan menimbulkan
daerah sekitar seperti Karanganyar, Boyolali, dampak bagi kesehatan, diantaranya
Klaten dan lainnya ? Masih menyangkut kerusakan hati, penyakit ginjal, gangguan
tentang konflik air baru-baru ini sekitar seribuan lambung, kerapuhan tulang, pigmentasi,
warga Desa Kebondalem kecamatan Jambu kerusakan saraf otak, anemia, kelumpuhan dan
Kabupaten Semarang berunjuk rasa dengan berkurangnya haemoglobin darah.

Yustisia Edisi Nomor 69 Sept. - Desember 2006 Krisis Air, Illegal Logging, dan Penegakan ... 47
Di sisi lain hasil penelitian yang dilakukan PDAM juga telah membangun sebanyak 24
Pegiat Ekologi Gita Pertiwi Ir. Nugroho sumur dalam.
Widiarto, MSi mengatakan air permukaan
Sungai Bengawan Solo berpotensi dan layak
untuk menjadi air baku bersih untuk memenuhi D. Lemahnya penegakan hukum
kebutuhan air bersih warga Solo. Hal itu lingkungan
didasarkan pada penelitian yang dilakukan Gita Salah satu penyebab parahnya kondisi
Pertiwi terhadap dua sungai yang mengarah lingkungan akibat dari pencemaran dan
pada sungai Bengawan Solo yaitu Sungai perusakan lingkungan saat ini adalah lemahnya
Premulung dan Kali Anyar. (Solo Pos, 29 penegakan hukum lingkungan oleh aparat
Pebruari 2005). Untuk Sungai Premulung pada penegak hukum baik di tingkat pusat maupun
musim kemarau terdapat debit air 3,2 meter daerah. Penegakan hukum lingkungan pun
kubik per detik, sedang Kali Anyar terdapat menjadi salah satu Program Kementrian LH.
4,33 meter kubik per detik. Sementara untuk Di sisi lain menurut Direktur Pengelolaan DAS
debit saat musim hujan, sungai Premulung dan Rehabilitasi Lahan, Dr. Harry Santoso pada
mengalami kenaikan menjadi 34,4 meter kubik waktu memberikan Kuliah Umum di Fakultas
per detik dan 36,7 meter kubik per detik. Hukum UNS tanggal 23 Mei yang lalu yang
Nugroho menambahkan dari hasil juga masih dalam rangka menyambut Hari
penelitian tersebut diperoleh bahwa air Lingkungan ini, salah satu kebijakan prioritas
Bengawan Solo hanya baru layak dari segi Departemen Kehutanan sampai Tahun 2009
teknis. Pasalnya untuk tingkat kelayakan adalah “Pemberantasan Pencurian Kayu (Il-
tersebut harus meliputi dari tiga aspek yaitu legal Loging) di Hutan Negara dan
aspek teknis, lingkungan dan ekonomi. Secara Perdagangan Kayu Illegal (Illegal Trade) (Hari
teknis memang layak untuk menjadi air baku Santoso, 2005).
air bersih, karena terdapat tekonologi yang Sudah saatnya pelaksanaan Penegakan
dapat digunakan untuk mengelola air Hukum Lingkungan yang konsisten merupakan
Bengawan Solo tersebut menjadi air baku air bentuk perlindungan kepada masyarakat dari
bersih. Dari aspek ekonomi harus melihat pencemaran dan kerusakan lingkungan.
tentang kajian mengenai harga yang harus Jumlah perkara pencemaran dan kerusakan
dipatok setelah air Bengawan Solo tersebut lingkungan yang telah ditindaklanjuti melalui
diolah. Kajian tersebut, lanjutnya harus upaya penegakan hukum oleh Kementrian LH
dilakukan secara matang. Sedang untuk aspek dalam tahun 2001-2004 mencapai 77 perkara.
lingkungan, bisa dilihat bahwa selama ini warga Penegakan hukum ke-77 perkara pencemaran
Solo menggunakan mata air dan sumur dalam dan kerusakan lingkungan hi-dup tersebut
untuk konsumsi air bersih, kedepan apabila dilakukan dengan cara: pertama, 6 perkara
sudah menggunakan air permukaan seperti air dilakukan melalui penyelesaian sengketa di
Bengawan Solo apakah warga Solo bisa luar pengadilan (mediasi); kedua, 10 perkara
menerima hal tersebut. diselesaikan melalui penegakan hukum
Perkembangan tekonologi memang perdata; ketiga, 61 perkara dilakukan melalui
memperlihatkan bahwa teknologi pengelolaan penegakan hukum pidana.
air permukaan untuk air baku bisa memberikan Ironisnya AMDAL yang diharapkan
jawaban untuk mengatasi kekurangan air di sebagai perangkat kebijakan yang
wilayah Solo. Hingga saat ini per hari PDAM dipersiapkan untuk mengurangi dampak
baru memiliki debit air sebanyak 820 liter per lingkungan suatu kegiatan sejak tahap
detik untuk mencukupi sekitar 52.000 perencanaan kegiatan dan bertujuan mencegah
pelanggan. Untuk mengatasi berbagai laju pencemaran dan kerusakan lingkungan
kekurangan, lanjut Singgih selain belum dapat diharapkan. Untuk melihat sejauh
mengandalkan mata air di daerah Klaten, mana penerapan AMDAL dalam era otonomi

48 Yustisia Edisi Nomor 69 Sept. - Desember 2006 Krisis Air, Illegal Logging, dan Penegakan ...
daerah, Kementrian Lingkungan hidup telah pemerintah dapat juga dilihat bagaimana
mengevaluasi terhadap 75 dokumen AMDAL . penguasa negeri ini memandang masalah
Evaluasi ini menunjukkan sebagian besar lingkungan dan sumber daya alam yang hanya
dokumen AMDAL gagal menyajikan substansi sekedar administratif.
esensial yang harus ada di dalamnya dan tidak Diperlukan pendekatan pengelolaan
konsisten dalam mengevaluasi dampak yang sumber daya alam yang komprehensif agar
dikaji. Sebanyak 68% dokumen AMDAL perebutan pemanfaatan sumber daya alam
tersebut dikategorikan jelek. Hanya sebagian tidak terjadi. Ketiadaan dasar hukum dan
kecil dokumen yang menunjukkan mutunya mekanisme penyelesaian sengketa lingkungan
bagus, sehingga dapat digunakan sebagai dan sumber daya alam akan membahayakan
bahan pertimbangan dalam pengambilan berbagai pihak, bukan saja stabilitas
keputusan yang baik. keamanan semakin rawan, tetapi juga
Hasil evaluasi tersebut menunjukkan, percepatan pengurasan lingkungan dan
meski-pun secara kelembagaan institusi sumber daya alam akan semakin tinggi.
AMDAL telah telah mencapai taraf mapan, Ditambah lagi konflik yang terjadi
tetapi masih memerlukan perbaikan terus kecenderungannya tidak saja antara pemodal
menerus agar lebih meningkatkan peranan besar dengan rakyat setempat, tetapi telah
AMDAL dalam pengelolaan lingkungan hidup. berkembang menjadi konflik horizontal yaitu
Fenomena yang terjadi saat ini pemerintah antara sesama masyarakat, seperti dalam
daerah berlomba-lomba “menjual” kekayaaan kasus perang air (water wars) di beberapa
alamnya dengan alasan untuk meningkatkan tempat akibat terjadinya krisis air.
Pendapatan Asli Daerah. Ada 2 hal yang harus diingat PDAM
khususnya oleh pihak manajemen PDAM
sendiri. Pertama, trilogi air dan kedua, adalah
E. Penutup Tariff. Trilogi air yaitu aman, isi dan rutin. Aman
Ada beberapa hal yang bisa digunakan erat kaitannya dengan mutu atau kualitas air,
Pemerintah sebagai bahan refleksi. Pertama, isi atau volume air per orang per hari atau
Kita telah memiliki Undang-Undang No. 23 kapasitas umumnya 120 liter per orang per
Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan hari, rutin atau keajegan artinya air harus
sebagai Umbrella Act (Undang-Undang tersedia 24 jam sehari terus menerus tiada
Payung) bagi peraturan-peraturan lainnya yang henti.
juga mengatur mengenai lingkungan dan Tarif air erat kaitannya dengan pelanggan.
seharusnya mengedepankan kepentingan Bahkan dapat mempengaruhi minat siapa saja,
rakyat sebagai pemilik tanah dan air. Namun untuk jadi pelanggan atau tidak, ataupun
masalah utama pengelolaan lingkungan adalah berhenti jadi pelanggan lantaran tidak puas atas
tidak pernah ada niat yang sungguh-sungguh tariff dan layanannya. Permasalahan
dari pemerintah untuk peduli tentang masalah ketidakpuasan atas tariff, sebenarnya tidak
lingkungan. Kedua, Perlindungan lingkungan hanya pelanggan saja yang berkeluh kesah
masih minoritas ketimbang semangat tetapi juga PDAM mengeluh lantaran tarifnya
mengeksploitasi. Ini dapat dilihat dari rendah benar dan lama tidak naik-naik.
seperangkat aturan tentang sumber daya alam, Alasannya masuk akal. Realistis PDAM sudah
yang diterbitkan sekedar untuk mengatur keluar biaya. Biaya ini untuk mengolah air baku
eksploitasi ketimbang konservasi. Ketiga, yang tidak layak minum menjadi air yang
Bapedal walaupun mempunyai kewenangan mudah-mudahan layak minum dengan ragam
melakukan investigasi, naum tidak dilengkapi variasi system pengolah, mulai dari yang
dengan hak mengeksekusi, sehingga apapun sederhana sampai yang rumit sekaligus
temuan Bapedal tetap dapat diabaikan oleh mahal.
para perusak lingkungan. Ketidakseriusan

Yustisia Edisi Nomor 69 Sept. - Desember 2006 Krisis Air, Illegal Logging, dan Penegakan ... 49
PDAM telah berupaya mengubah air pajaknya telah dibayarkan, tetap saja milik
bakunya yang kotor, keruh dan kaya bakteri rakyat menurut Pasal 33 UUD 1945
menjadi air yang diharapkan bersih sehingga amanademen Ke IV. Pasal ini merupakan pi-
mampu meniadakan problem kesehatan lar bersandar bagi rakyat. Maka, wajiblah
seperti diare, tifus, gagal ginjal, dan kerusakan pemerintah untuk turun tangan agar maksud
hati. Dan ini tentu saja membutuhkan biaya Pasal ini tidak diselewengkan. Dan UU No. 7
operasi rawat instalasi. Komponen ongkos ini Tahun 2004 seharusnya mengedepan kan
pun ikut menentukan besar kecilnya tariff air. kepentingan rakyat sebagai pemilik tanah dan
Namun perlu diingat, bahwa air meskipun air.

F. DAFTAR PUSTAKA

Ayu K. R. H., I Gusti. 2005. Upaya Penegakan Hukum Lingkungan (Refleksi Hari Lingkungan Hidup Sedunia
5 Juni). Harian SOLOPOS.
Ayu K. R. H., I Gusti. 2005.PDAM dan Krisis Air di Solo (Refleksi Hari Air 23 Maret).Harian SOLOPOS.
Bartleet A G, MC Nurse, R B Chetri dan S Khaerel. 1993. Towards Effective Community Forestry Through
Forest User Groups. Journal of World Forest Management 7 (1).
Boehmer – Christiansen S.. 1994, Policy and Environmental Management. Journal of Environmental
Planning and Management 37(1).
Ilyas, Muhamad Arif, Efendi, Rustam. 1993. Pemanfaatan Sumber Daya Air Sungai Pulau Jawa Hampir
Mendekati Kritis. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pengairan. No. 28, Pusat Penelitian dan
Pengembangan Pengairan.
Kartawinata. 1990. Bentuk-Bentuk Eksploitasi Sumber Daya Alam. Laporan Penelitian BPTP-DAS Surakarta.
Tidak diterbitkan.
Santoso, Hary. 2005. Pemberantasan Illegal Logging di Hutan Negara dan Perdagangan Kayu Illegal, makalah
disampaikan pada kuliah tamu FH UNS.
Solopos 27 April 1999
Solopos 26 Februari 2005

50 Yustisia Edisi Nomor 69 Sept. - Desember 2006 Krisis Air, Illegal Logging, dan Penegakan ...