Anda di halaman 1dari 27

VISKOSITAS CAIRAN BERBAGAI LARUTAN

I. PENDAHULUAN

1. Tujuan Percobaan
-Untuk menentukan viskositas berbagai cairan dengan Metode Oswald.

-Mengetahui hubungan antara viskositas dengan fluiditas waktu alir dari cairan
atau berbagai larutan.
-Mengetahui hubungan antara koefisien viskositas, massa jenis, dan waktu antara
suatu cairan tertentu dengan cairan pembandingnya.
-Mengetahui dan memahami prinsip kerja dari percobaan viskositas berbagai
larutan dengan metode Ostwald.

2. Dasar Teori
Viskositas dapat dinyatakan sebagai tahanan aliaran fluida yang merupakan
gesekan antara molekul – molekul cairan satu dengan yang lain. Suatu jenis cairan
yang mudah mengalir dapat dikatakan memiliki viskositas yang rendah, dan
sebaliknya bahan – bahan yang sulit mengalir dikatakan memiliki viskositas yang
tinggi. Pada hukum aliran viskos, Newton menyatakan hubungan antara gaya – gaya
mekanika dari suatu aliran viskos sebagai : Geseran dalam ( viskositas ) fluida adalah
konstan sehubungan dengan gesekannya. Hubungan tersebut berlaku untuk fluida
Newtonian, dimana perbandingan antara tegangan geser (s) dengan kecepatan geser
(g) nya konstan. Parameter inilah yang disebut dengan viskositas. Aliran viskos dapat
digambarkan dengan dua buah bidang sejajar yang dilapisi fluida tipis diantara kedua
bidang tersebut. Suatu bidang permukaan bawah yang tetap dibatasi oleh lapisan fluida
setebal h, sejajar dengan suatu bidang permukaan atas yang bergerak seluas A. Jika
bidang bagian atas itu ringan, yang berarti tidak memberikan beban pada lapisan fluida
1
dibawahnya, maka tidah ada gaya tekan yang bekerja pada lapisan fluida. Suatu gaya
F dikenakan pada bidang bagian atas yang menyebabkan bergeraknya bidang atas
dengan kecepatan konstan v, maka fluida dibawahnya akan membentuk suatu lapisan –
lapisan yang saling bergeseran.Setiap lapisan tersebut akan memberikan tegangan
geser (s) sebesar F/A yang seragam, dengan kecepatan lapisan fluida yang paling atas
sebesar v dan kecepatan lapisan fluida paling bawah sama dengan nol. Maka kecepatan
geser (g) pada lapisan fluida di suatu tempat pada jarak y dari bidang tetap, dengan
tidak adanya tekanan fluida menjadi :

Pada fluida newtonian perbandingan antara besaran kecepatan geser dan


tegangan geser adalah konstan

Konsep Viskositas

Fluida, baik zat cair maupun zat gas yang jenisnya berbeda memiliki tingkat
kekentalan yang berbeda. Viskositas alias kekentalan sebenarnya merupakan gaya
gesekan antara molekul-molekul yang menyusun suatu fluida. Jadi molekul-molekul
yang membentuk suatu fluida saling gesek-menggesek ketika fluida tersebut mengalir.
Pada zat cair, viskositas disebabkan karena adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik
antara molekul sejenis). Sedangkan dalam zat gas, viskositas disebabkan oleh
tumbukan antara molekul.

Fluida yang lebih cair biasanya lebih mudah mengalir, contohnya air.
Sebaliknya, fluida yang lebih kental lebih sulit mengalir, contohnya minyak goreng,
oli, madu dkk. Hal ini bisa dibuktikan dengan menuangkan air dan minyak goreng di
atas lantai yang permukaannya miring. Pasti air ngalir lebih cepat daripada minyak
goreng atau oli. Tingkat kekentalan suatu fluida juga bergantung pada suhu. Semakin
tinggi suhu zat cair, semakin kurang kental zat cair tersebut. Misalnya ketika ibu
menggoreng paha ikan di dapur, minyak goreng yang awalnya kental menjadi lebih

2
cair ketika dipanaskan. Sebaliknya, semakin tinggi suhu suatu zat gas, semakin kental
zat gas tersebut.

Perlu diketahui bahwa viskositas alias kekentalan cuma ada pada fluida riil (rill
= nyata). Fluida riil/nyata tuh fluida yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari,
seperti air, sirup, oli, asap knalpot, dan lainnya. Fluida riil berbeda dengan fluida ideal.
Fluida ideal sebenarnya tidak ada dalam kehidupan sehari-hari. Fluida ideal hanya
model yang digunakan untuk membantu kita dalam menganalisis aliran fluida (fluida
ideal ini yang kita pakai dalam pokok bahasan Fluida Dinamis). Mirip seperti kita
menganggap benda sebagai benda tegar, padahal dalam kehidupan sehari-hari
sebenarnya tidak ada benda yang benar-benar tegar/kaku. Tujuannya sama, biar
analisis kita menjadi lebih sederhana.

Satuan Sistem Internasional (SI) untuk koofisien viskositas adalah Ns/m2 =


Pa.s (pascal sekon). Satuan CGS (centimeter gram sekon) untuk si koofisien viskositas
adalah dyn.s/cm2 = poise (P). Viskositas juga sering dinyatakan dalam sentipoise (cP).
1 cP = 1/100 P. Satuan poise digunakan untuk mengenang seorang Ilmuwan Perancis,
almahrum Jean Louis Marie Poiseuille (baca : pwa-zoo-yuh).

1 poise = 1 dyn . s/cm2 = 10-1 N.s/m2

Fluida Temperatur (o C) Koofisien Viskositas


Air 0 1,8 x 10-3
20 1,0 x 10-3
60 0,65 x 10-3
100 0,3 x 10-3
Darah (keseluruhan) 37 4,0 x 10-3
Plasma Darah 37 1,5 x 10-3
Ethyl alkohol 20 1,2 x 10-3
Oli mesin (SAE 10) 30 200 x 10-3
Gliserin 0 10.000 x 10-3
20 1500 x 10-3
60 81 x 10-3
Udara 20 0,018 x 10-3
Hidrogen 0 0,009 x 10-3
3
Uap air 100 0,013 x 10-3

Setiap zat cair mempunyai karakteristik yang khas, berbeda satu zat cair
dengan zat cair yang lain. Salah satunya adalah viskositas. Viskositas merupakan
tahanan yang dilakukan oleh suatu lapisan fluida terhadap suatu lapisan lainnya. Sifat
viskositas ini dimiliki oleh setiap fluida, gas, atau cairan. Viskositas suatu cairan
murni adalah indeks hambatan aliran cairan. Aliran cairan dapat dikelompokan
menjadi dua yaitu aliran laminar dan aliran turbulen. Aliran laminar menggambarkan
laju aliran kecil melalui sebuah pipa dengan garis tengah kecil. Sedangkan aliran
turbulen menggambarkan laju aliran yang besar dengan diameter pipa yang besar.
Penggolongan ini berdasarkan bilangan Reynoldnya.
Viskositas menentukan kemudahan suatu molekul bergerak karena adanya
gesekan antar lapisan material. Karenanya viskositas menunjukkan tingkat ketahanan
suatu cairan untuk mengalir. Semakin besar viskositas maka aliran akan semakin
lambat. Besarnya viskositas dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti temperatur, gaya
tarik antar molekul dan ukuran serta jumlah molekul terlarut. Fluida, baik zat cair
maupun zat gas yang jenisnya berbeda memiliki tingkat kekentalan yang berbeda.
Pada zat cair, viskositas disebabkan karena adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik
antara molekul sejenis). Sedangkan dalam zat gas, viskositas disebabkan oleh
tumbukan antara molekul.
Fluida yang lebih cair biasanya lebih mudah mengalir, contohnya air.
Sebaliknya, fluida yang lebih kental lebih sulit mengalir, contohnya minyak goreng,
oli, madu dll. Tingkat kekentalan fluida dinyatakan dengan koefisien viskositas (η ).

1
Kebalikan dari Koefisien viskositas disebut fluiditas, Φ = η , yang merupakan ukuran

kemudahan mengalir suatu fluida.


Viskositas cairan adalah fungsi dari ukuran dan permukaan molekul, gaya tarik
menarik antar molekul dan struktur cairan. Tiap molekul dalam cairan dianggap dalam
kedudukan setimbang, maka sebelum sesuatu lapisan melewati lapisan lainnya
diperlukan energy tertentu. Sesuai hokum distribusi Maxwell-Boltzmann, jumlah
molekul yang memiliki energy yang diperlukan untuk mengalir, dihubungkan oleh
4
factor e-E/RT dan viskositas sebanding dengan e-E/RT. Secara kuantitatif pengaruh suhu
terhadap viskositas dinyatakan dengan persamaan empirik,
E
η = A e-E/RT atau ln η = + nA
RT
A merupakan tetapan yang sangat tergantung pada massa molekul relative dan volume
molar cairan dan E adalah energi ambang per mol yang diperlukan untuk proses awal
aliran.
Untuk cairan tak terasosiasi, Batschinski mengemukakan persamaan empiric
yang mengaitkan koefisien viskositas dengan volume jenis pada suhu yang sama
sebagai :
c c
η= atau v = b + η = b + cφ
v −b
b dan c adalah tetapan yang bergantung pada jenis zat cair dan V adalah volume jenis
dalam cm9/g.
Cara menentukan viskositas suatu zat menggunakan alat yang dinamakan
viskometer. Ada beberapa tipe viskometer yang biasa digunakan antara lain :
1. Viskometer kapiler / Ostwald
Viskositas dari cairan yang ditentukan dengan mengukur waktu yang
dibutuhkan bagi cairan tersebut untuk lewat antara 2 tanda ketika mengalir karena
gravitasi melalui viskometer Ostwald. Waktu alir dari cairan yang diuji dibandingkan
dengan waktu yang dibutuhkan bagi suatu zat yang viskositasnya sudah diketahui
(biasanya air) untuk lewat 2 tanda tersebut (Moechtar,1990).
2. Viskometer Hoppler
Berdasarkan hukum Stokes pada kecepatan bola maksimum, terjadi
keseimbangan sehingga gaya gesek = gaya berat – gaya archimides. Prinsip kerjanya
adalah menggelindingkan bola ( yang terbuat dari kaca ) melalui tabung gelas yang
berisi zat cair yang diselidiki. Kecepatan jatuhnya bola merupakan fungsi dari harga
resiprok sampel (Moechtar,1990).
3. Viskometer Cup dan Bob
Prinsip kerjanya sample digeser dalam ruangan antaradinding luar dari bob dan
dinding dalam dari cup dimana bob masuk persis ditengah-tengah. Kelemahan
viscometer ini adalah terjadinya aliran sumbat yang disebabkan geseran yang tinggi di
5
sepanjangkeliling bagian tube sehingga menyebabkan penurunan konsentrasi.
Penurunan konsentras ini menyebabkab bagian tengah zat yang ditekan keluar
memadat. Hal ini disebut aliran sumbat (Moechtar,1990).
4. Viskometer Cone dan Plate
Cara pemakaiannya adalah sampel ditempatkan ditengah-tengah papan,
kemudian dinaikkan hingga posisi di bawah kerucut. Kerucut digerakkan oleh motor
dengan bermacam kecepatan dan sampelnya digeser di dalam ruang semitransparan
yang diam dan kemudian kerucut yang berputar (Moechtar,1990).
Gambar viskometer Ostwald :

Viskositas cairan juga dapat ditentukan berdasarkan jatuhnya benda melalui


medium zat cair, yaitu berdasarkan hukum Stokes. Dimana benda bulat dengan radius
r dan rapat d, yang jatuh karena gaya gravitasi melalui fluida dengan rapat dm/db,
akan dipengaruhi oleh gaya gravitasi sebesar :

F1 = 4/3 πr3 ( d-dm ) g

Metode bola jatuh menyangkut gaya gravitasi yang seimbang dengan gerakan
aliran pekat, dan hubungannya adalah :

2rb 2 ( db − d ) g
η=
gv
6
dimana b merupakan bola jatuh atau manik-manik dan g adalah konstanta gravitasi.
Apabila digunakan metode perbandingan, kita dapatkan :

η1 (db − d 1 ) t1
=
η2 (db − d 2 )t 2

Benda yang jatuh mempunyai kecepatan yang makin lama makin besar. Tetapi dalam
medium ada gaya gesek, yang makin besar bila kecepatan benda jatuh makin besar.
Pada saat kesetimbangan, besarnya kecepatan benda jatuh tetap. Menurut George G
Stokes, untuk benda bulat tersebut besarnya gaya gesek pada kesetimbangan adalah :

f2 = 6 π r ηv

f1 = f2

4
πr3 = ( d-dm )g = 6 π η r v
3

2r 2 ( d − dm ) g
η=
gv

Rumus tersebut berlaku bila jari-jari benda yang jatuh relative besar bila
dibandingkan dengan jarak antara molekul-molekul fluida.

Perbedaan antara viskositas cairan dengan viskositas gas adalah sebagai berikut :

Jenis Perbedaan Viskositas Cairan Viskositas Gas

Gaya gesek Lebih besar untuk Lebih kecil disbanding


mengalir viskositas cairan

Koefisien Lebih besar Lebih kecil


viskositas

Temperatur Temperatur Temperatur


naik,viskositas naik,viskositas naik
turun

Tekanan Tekanan Tidak tergantung


naik,viskositas
7
naik tekanan

Pengaruh Temperatur Pada Viskositas

Koefisien viskositas berubah-ubah dengan berubahnya temperature, dan


hubungannya adlah :

log η = A + B/T (a)

dimana A dan B adalah konstanta yang tergantung pada cairan. Persamaan di atas
dapat ditulis sebagai :

η = A’eksp ( -∆Evis/RT )

dimana A adalah konstanta yang tidak perlu. Dengan membandingakn dengan

∆Εvis
persamaan ( a ), B = dan untuk kebanyakan zat, ∆Evis = 0,3 ∆E(uap)
2,303 R

II. ALAT DAN BAHAN


~ Alat – alat :

1. Viskometer Ostwald 1 buah


2. Termostat 1 buah
3. Stopwatch 1 buah
4. Pipet ukur 25 mL 1 buah
5. Pipet filler 1 buah
6. Piknometer 1 buah

~ Bahan - bahan :

1. Akuades 20 mL
2. CCl4 20 mL

8
3. Aseton 20 mL
4. Etanol 20 Ml

III. CARA KERJA


1. Viskometer yang bersih dipergunakan.

2. Viskometer diletakkan dalam termostat pada posisi vertikal.

3. Sejumlah tertentu cairan (5 mL) dipipet ke dalam reservoir A (lihat


gambar)sehingga kalau cairan ini dibawa ke reservoir B dan permukaannya
melewati garis m, reservoir A kira-kira masih terisi setengahnya.

4. Dengan menghisap atau meniup (melalui sepotong selang karet) cairan A


dibawa ke B sampai sedikit di atas garis m, kemudian cairan dibiarkan mengalir
secara bebas. Waktu yang diperlukan cairan untuk mengalir dari m ke n dicatat.
Percobaan ini dilakukan berkali-kali.

5. Rapat massa cairan pada suhu yang bersangkutan ditentukan dengan


piknometer atau neraca Westpal.

6. Percobaan 1-5 di atas dilakukan untuk cairan pembanding (aquadest) dengan viskositas yang
sama.

IV. DATA PENGAMATAN

9
Larutan Waktu (s) Massa Piknometer + cairan (g)
Aquades 39,00
(air suling) 38.90 43,34
39,10
Etanol 34,70
34,50 42,41
34,30
Aseton 11,00
11,20 42,30
11,40
CCl4 21,00
20,60 45,89
21,00

Massa piknometer kosong + tutup : 38,49 g

Volume piknometer (cairan dalam piknometer) = 5 ml

V. PERHITUNGAN

1. Menentukan rapat massa cairan dari berbagai larutan

a. CCl4
Diketahui : Massa piknometer kosong = 38,49 g
Massa piknometer + CCl4 = 45,89 g
Massa CCl4 = (45,89-38,49) = 7,40 g
ρ air = 1 g/ml
Massa air = (43,34-38,49) = 4,85 g
Ditanya : ρ etanol = ?
10
Jawab :
m CCl 4
ρ CCl 4 = × ρ air
m air
7,40g
ρ CCl 4 = ×1 g/ml
4,85 g
ρ CCl 4 =1,5258 g/ml

b. Etanol

Diketahui : Massa piknometer kosong = 38,49 g


Massa piknometer + etanol = 42,41 g
Massa etanol = 4,02 g
ρ air = 1 g/ml
Massa air = (43,34-38,49) = 4,85 g
Ditanya : ρ etanol = ?
Jawab :
m etanol
ρ etanol = × ρ air
m air
4,02 g
ρ etanol = ×1 g/ml
4,85 g
ρ etanol = 0,8289 g/ml

c. Aseton

Diketahui : Massa piknometer kosong = 38,49 g


Massa piknometer + aseton = 42,30 g
Massa aseton = (42,30-38,49) = 3,81 g
ρ air = 1 g/ml
Massa air = (43,34-38,49) = 4,85 g
Ditanya : ρ aseton = ?
Jawab :

11
m aseton
ρ aseton = × ρ air
m air
3,81 g
ρ aseton = ×1 g/ml
4,85 g
ρ aseton = 0,7856 g/ml

2. Menentukan viskositas dan fluiditas cairan dari berbagai larutan


Untuk cairan CCl4
• Pengulangan pertama
Pada t air = 39,0 s dan t CCl 4 = 21,0 s.
Diketahui : t air = 39,0 s
t CCl 4 = 21,0 s
ρ air = 1 g/ml
ρ CCl4 = 1,5258 g/ml
η air = 1,005 cp
Ditanya : η CCl4 = ?
φ CCl4 = ?
Jawab :
ρ CCl 4 t CCl 4
η CCl = ⋅ ⋅η air
4
ρ air t air
1,5258 g/ml 21,0s
η CCl 4 = ⋅ ⋅1,005 cp
1 g/ml 39,0 s
η CCl 4 =1,5258 ⋅ 0,5385 ⋅1,005cp
η CCl 4 = 0,8258 cp
1
φ CCl =
4
η CCl 4

1
φ CCl 4 =
0,8258 cp
φ CCl 4 =1,2109 cp -1

• Pengulangan kedua
Pada t air = 38,90 s dan t CCl 4 = 20,6 s.
Diketahui : t air = 38,90 s
12
t CCl 4 = 20,60 s
ρ air = 1 g/ml
ρ CCl4 = 1,5258 g/ml
η air = 1,005 cp
Ditanya : η CCl4 = ?
φ CCl4 = ?
Jawab :
ρ CCl 4 t CCl 4
η CCl = ⋅ ⋅η air
4
ρ air t air
1,5258 g/ml 20.6 s
η CCl 4 = ⋅ ⋅1,005 cp
1 g/ml 38,9 s
η CCl 4 =1,5258 ⋅ 0,5296 ⋅1,005cp
η CCl 4 = 0,8121 cp
1
φ CCl =
4
η CCl 4

1
φ CCl 4 =
0,8121 cp
φ CCl 4 =1,2313 cp -1

• Pengulangan ketiga
Pada t air = 39,1 s dan t CCl 4 = 21,0 s.
Diketahui : t air = 39,1 s
t CCl 4 = 21,0 s
ρ air = 1 g/ml
ρ CCl4 = 1,5258 g/ml
η air = 1,005 cp
Ditanya : η CCl4 = ?
φ CCl4 = ?
Jawab :

13
ρ CCl 4 t CCl 4
η CCl = ⋅ ⋅η air
4
ρ air t air
1,5258 g/ml 21,0 s
η CCl 4 = ⋅ ⋅1,005 cp
1 g/ml 39,1 s
η CCl 4 =1,5258 ⋅ 0,5371 ⋅1,005cp
η CCl 4 = 0,8236 cp

1
φ CCl =
4
η CCl 4

1
φ CCl 4 =
0,8236 cp
φ CCl 4 =1,2142 cp -1

η1 +η 2 + η 3 (0,8258 + 0,8121 + 0,8256 ) cp


η = = = 0,8212 cp
3 3
φ + φ 2 + φ3 (1,2109 + 1,2313 + 1,2142 )
φ = 1 = = 1,2188 cp −1
3 3

Untuk Etanol
• Pengulangan pertama
Pada t air = 39,0 s dan t etanol = 34,7 s.
Diketahui : t air = 39,0 s
t etanol = 34,7 s
ρ air = 1 g/ml
ρ etanol = 0,8289 g/ml
η air = 1,005 cp
Ditanya : η etanol = ?
φ etanol = ?
Jawab :
ρ etanol t etanol
η etanol = ⋅ ⋅η air
ρ air t air
0,8289 g/ml 34,7 s
η etanol = ⋅ ⋅1,005 cp
1 g/ml 39,0 s
η etanol =0,8289 ⋅1,8897 ⋅1,005cp
η etanol =0,7412 cp

14
1
φ etanol =
η etanol
1
φ etanol =
0,7412 cp
φ etanol =1,3492 cp -1

• Pengulangan kedua
Pada t air = 38,9 s dan t etanol = 34,5 s.
Diketahui : t air = 38,9 s
t etanol = 34,5 s
ρ air = 1 g/ml
ρ etanol = 0,8289 g/ml
η air = 1,005 cp
Ditanya : η etanol = ?
φ etanol = ?
Jawab :
ρ etanol t etanol
η etanol = ⋅ ⋅η air
ρ air t air
0,8289 g/ml 34,5 s
η etanol = ⋅ ⋅1,005 cp
1 g/ml 38,9 s
η etanol =0,8289 ⋅ 0,8869 ⋅1,005cp
η etanol =0,7388cp
1
φ etanol =
ηetanol
1
φ etanol =
0,7388 cp
φ etanol =1,3535 cp -1

• Pengulangan ketiga
Pada t air = 39,1 s dan t etanol = 34,3 s.
Diketahui : t air = 39,1 s
t etanol = 34,3 s
ρ air = 1 g/ml
ρ etanol = 0,8289 g/ml

15
η air = 1,005 cp
Ditanya : η etanol = ?
φ etanol = ?
Jawab :
ρ etanol t etanol
η etanol = ⋅ ⋅η air
ρ air t air
0,8289 g/ml 34,3 s
η etanol = ⋅ ⋅1,005 cp
1 g/ml 39,1 s
η etanol =0,8289 ⋅ 0,8772 ⋅1,005cp
η etanol =0,7307cp
1
φ etanol =
η etanol
1
φ etanol =
0,7307 cp
φ etanol =1,3686 cp -1

η1 + η 2 + η 3 (0,7412 + 0,7388 + 0,7307 ) cp


η = = = 0,7369 cp
3 3
φ + φ 2 + φ 3 (1,3492 + 1,3535 + 1,3686 )
φ = 1 = = 1,3571cp −1
3 3
Untuk Aseton
• Pengulangan pertama
Pada t air = 39,0 s dan t aseton = 11,0 s.
Diketahui : t air = 39,0 s
t aseton = 11,0 s
ρ air = 1 g/ml
ρ aseton = 0,7856 g/ml
η air = 1,005 cp
Ditanya : η aseton = ?
φ aseton = ?
Jawab :

16
ρ aseton t aseton
η aseton = ⋅ ⋅η air
ρ air t air
0,7856 g/ml 11,0 s
η aseton = ⋅ ⋅1,005 cp
1 g/ml 39,0 s
η aseton =0,7856 ⋅ 0,2821 ⋅1,005cp
η aseton =0,2227 cp
1
φ aseton =
η aseton
1
φ aseton =
0,2227 cp
φ aseton =4,4903 cp -1

• Pengulangan kedua
Pada t air = 38,9 s dan t aseton = 11,2 s.
Diketahui : t air = 38,9 s
t aseton = 11,2 s
ρ air = 1 g/ml
ρ aseton = 0,7856 g/ml
η air = 1,005 cp
Ditanya : η aseton = ?
φ aseton = ?
Jawab :
ρ aseton t aseton
η aseton = ⋅ ⋅η air
ρ air t air
0,7856 g/ml 11,2 s
η aseton = ⋅ ⋅1,005 cp
1 g/ml 38,9 s
η aseton =0,7856 ⋅ 0,2879 ⋅1,005cp
η aseton =0,2273cp
1
φ aseton =
η aseton
1
φ aseton =
0,2273 cp
φ aseton =4,2995

• Pengulangan ketiga
Pada t air = 39,1 s dan t aseton = 11,4s.
17
Diketahui : t air = 39,1 s
t aseton = 11,4 s
ρ air = 1 g/ml
ρ aseton = 0,7856 g/ml
η air = 1,005 cp
Ditanya : η aseton = ?
φ aseton = ?
Jawab :
ρ aseton t aseton
η aseton = ⋅ ⋅η air
ρ air t air
0,7856 g/ml 11,4 s
η aseton = ⋅ ⋅1,005 cp
1 g/ml 39,1 s
η aseton =0,7856 ⋅ 0,2916 ⋅1,005cp
η aseton =0,2302 cp
1
φ aseton =
η aseton
1
φ aseton =
0,2302 cp
φ aseton =4,3440 cp -1

η1 + η 2 +η 3 (0,2227 + 0,2273 + 0,2302 ) cp


η = = = 0,2267 cp
3 3
φ + φ 2 + φ3 (4,4903 + 4,2995 + 4,3440 )
φ = 1 = = 4,3779 cp −1
3 3

II. RALAT KERAGUAN

Viskositas CCl 4

Percobaan η (cP) η (cP) (η −η ) (cP) (η −η ) 2 (cP)


1. 0,8258 - 4,6 x 10 −3 21,16 x 10 −3
2. 0,8121 0,8212 9,1 x 10 −3 82,81 x 10 −3
3. 0,8256 - 4,4 x 10 −3 19,36 x 10 −3
123,33 x 10
∑ (η −η ) 2
−3

18
∆η =
∑(η −η ) 2

=
12 ,333 x 10 −2
= 0,248 cP
n(n −1) (3 −1)
(η ± ∆η) = (0,8212 ± 0,248 )cP
∆η 0,248
Ralat nisbi = x 100 % = x100 % = 30 ,2 %
η 0,8212
Kebenaran prak . = 100 % − 30 ,2% = 69 ,8%

Fluiditas CCl 4

Percobaan Φ Φ ( Φ - Φ) ( Φ - Φ) 2
1. 1,2109 0,0079 62,41 x 10-6
2. 1,2313 1,2188 - 0,0125 156,25 x 10-6
3. 1,2142 0,0046 21,16 x 10-6
∑ ( Φ - Φ) 2 239,82 x 10-6

∆Φ =
∑(Φ − Φ) 2

=
239,82 x 10 -6
= 0,0109
n( n −1) (3 −1)
( Φ ± ∆Φ) = (1,2188 ± 0,0109 ) cP
∆Φ 0,0109
Ralat nisbi = x 100 % = x100 % = 0,89 %
Φ 1,2188
Kebenaran prak . = 100 % −11,79 % = 99 ,11 %

Viskositas etanol
Percobaan η (cP) η (cP) (η −η ) (cP) (η −η ) 2 (cP)
0,7369 18,49 x 10

1. 0,7412 -4,3 x 10-3


−6

2. 0,7388 -1,9 x 10-3 3,61 x 10

−6

19
38,44 x 10

3. 0,7307 6,2 x 10-3


−6

60,54 x 10

∑ (η −η ) 2
−6

∆η =
∑(η −η ) 2

=
60 ,54 x 10 −6
= 5,5 x10 −3 cP
n( n −1) (3 −1)
(η ± ∆η) = (0,7369 ± 5,5 x 10 −3 )cP
∆η 5,5 x 10 −3
Ralat nisbi = x 100 % = x100 % = 0,75 %
η 0,7369
Kebenaran prak . = 100 % − 0,75 % = 99 ,25 %

Fluiditas etanol
Percobaan Φ Φ ( Φ - Φ) ( Φ - Φ) 2
1. 1,3492 7,9 x 10 −3 62,41 x 10 −6
2. 1,3535 3,6 x 10 −3 12,96 x 10 −6
1,3571 132,25 x 10
3. 1,3686 -11,5 x 10 −3
−6

207,62 x 10
∑ ( Φ - Φ) 2 −6

∆Φ=
∑(Φ − Φ) 2

=
207 ,62 x 10 −6
= 0,01
n(n −1) (3 −1)
( Φ ± ∆Φ) = (1,3571 ± 0,01) cP
∆Φ 0,01
Ralat nisbi = x 100 % = x100 % = 0,74 %
Φ 1,3571
Kebenaran prak . = 100 % − 0,74 % = 99 ,26 %

Untuk ASETON
Viskositas aseton
Percobaan η(cP) η (cP) (η −η ) (cP) (η −η ) 2 (cP)
1. 0,2227 0,2267 4 x 10 −3 16 x 10 −6
20
2. 0,2273 -6 x 10 −3 36 x 10 −6
3. 0,2302 -3,5 x 10 −3 12,25 x 10 −6
∑ (η −η ) 2 64,25 x 10 −6

∆η =
∑(η −η ) 2

=
64 ,25 x 10 −6
= 5,6679 x10 −3 cP
n(n −1) (3 −1)
(η ± ∆η) = (0,2267 ± 5,6679 x10 −3 )cP
∆η 5,6679 x10 −3
Ralat nisbi = x 100 % = x100 % = 2,5%
η 0,2267
Kebenaran prak . = 100 % − 2,5% = 97 ,5%

Fluiditas aseton
Percobaan Φ Φ ( Φ - Φ) ( Φ - Φ) 2
1. 4,4903 -0,1124 0,0126
2. 4,2995 4,3779 0,0784 0,0061
3. 4,3440 0,0339 0,0011
∑ ( Φ - Φ) 2 0,0198

∆Φ =
∑(Φ − Φ) 2

=
0,0198
= 0,0994
n(n −1) (3 −1)
( Φ ± ∆Φ) = (4,3779 ± 0,0994 ) cP
∆Φ 0,0994
Ralat nisbi = x 100 % = x100 % = 2,27 %
Φ 4,3779
Kebenaran prak . = 100 % − 2,27 % = 97 ,73 %

VI. PEMBAHASAN

Pada percobaan kali ini telah dilakukan penentuan viskositas cairan berbagai
larutan. Dimana viskositas cairan merupakan fungsi dari ukuran dan permukaan
molekul, gaya tarik antarmolekul, dan struktur cairan. Tiap molekul dalam cairan
dianggap dalam kedudukan setimbang, sehingga sebelum suatu lapisan molekul dapat
melewati lapisan molekul dapat melewati lapisan molekul lainnya diperlukan suatu
energi tertentu. Cairan yang ditentukan viskositasnya dalam percobaan ini adalah
aseton, CCl4, etanol, dan aquadest sebagai pembanding.

21
Viskositas merupakan kekentalan zat cair, dapat didefinisikan sebagai sifat dari
zat cair untuk melawan tegangan geser (t) pada waktu bergerak atau mengalir dan
disebabkan juga oleh kohesi antar partikelnya. Dalam praktikum kali ini digunakan
metode Oswald dengan menggunakan suatu alat yang menggunakan suatu alat yang
bernama viskometer. Pertama – tama viskometer diletakkan dalam termostat pada
posisi vertikal, kemudian dimasukkan cairan melewati garis m dan reservoir A masih
terisi setengahnya. Dengan penghisap, cairan B dibawa sampai sedikit melewati garis m
dan dibiarkan mengalir secara bebas ke n. Dari sini kan diperoleh waktu yang
dibutuhkan untuk cairan mengalir dari m ke n dan data tersebut dicatat dalamdata
pengamatan. Percobaan diulangi sebanyak dua kali lagi untuk tiap – tiap cairan. Cairan
tersebut kemudian diukur suhunya.

Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh suhu untuk aquadest, aseton, etanol, dan
CCl4 adalah 300C. Setelah dilakukan perhitungan diperoleh nilai viskositas dan
fluiditas dari masing – masing cairan, dimana fluiditas merupakan kebalikan dari
viskositas. Data yang diperoleh dari perhitungan tersebut adalah sebagai berikut:

Larutan Waktu (s) Viskositas (η) Fluiditas (Φ)


Etanol 34,70 0,7412cp 1,3492
34,50 0,7388cp 1,3535
34,30 0,7307cp 1,3686
Aseton 11,00 0,2227cp 4,4903
11,20 0,2273cp 4,2995
11,40 0,2302cp 4,3779
CCl4 21,00 0,8258cp 1,2109
20,60 1,2313cp 1,2313
21,00 1,2188cp 1,2142

22
Dari data di atas terlihat bahwa semakin besar viskositas suatu cairan
maka semakin lama waktu cairan untuk mengalir. Begitu pula sebaliknya, semakin
kecil viskositasnya maka semakin sedikit waktu yang dibutuhkan oleh cairan untuk
mengalir. Telah diketahui bahwa fluiditas merupakan kebalikan dari

viskositas, sehingga semakin kecil fluiditas suatu cairan maka semakin lama waktu
yang diperlukan oleh cairan untuk mengalir. Dan sebaliknya, semakin besar
fluiditasnya maka semakin sedikit pula waktu yang diperlukan oleh cairan tersebut
untuk mengalir.

Dari data tersebut juga dapat diketahui bahwa larutan yang paing kental di
antara ketiga larutan yang ditentukan adalah etanol, kemudian CCl4, dan yang paling
encer adalah aseton.

Viskositas suatu larutan tidak hanya ditentukan oleh kekentalan suatu larutan
dan fluiditasnya, tetapi juga dipengaruhi oleh temperature. Dimana viskositas suatu
cairan akan turun seiring meningkatnya temperature. Begitu pula sebaliknya,
viskositas cairan akan naik jika temperature diturunkan. Salah satu hubungan
viskositas (η) dengan temperature (T) dinyatakan dalam persamaan berikut:

A
Log η = +B
T

Dimana A dan B merupakan tetapan.

Praktikum yang dilakukan untuk etanol dan CCl4 sudah cukup teliti dan
benar, ini dapat dilihat dari nilai persentase kebenaran praaktikum untuk penentuan
viskositas maupun penentuan fluiditas, yang nilainya hampir mendekati 100%,
sedangkan nilai persentase kebenaran praktikum aseton, baik penentuan viskositas
maupun penentuan fluiditas, hanya mencapai 97% saja. Hal ini dapat disebabkan
23
kekurang telitian praktikum dalam mengukur waktu yang diperlukan CCl4 untuk
mengalir dari batas m ke n dalam viskometer ostwald.

VII. KESIMPULAN

1. Viskositas suatu cairan dapat diukur dengan vikometer, diantaranya viskometer


Ostwald, viskometer Lehman, dan viskometer bola jatuh- Stokes. Tapi untuk
praktikum ini hanya digunakan viskometer Ostwald saja.

2. Setiap cairan memiliki viskositas yang berbeda-beda karena banyak pengaruh jenis
zat, komposisi campuran dan tekanan.

3. Makin kental suatu cairan, maka makin besar gaya yang dibutuhkan untuk mengalir
dari garis m ke n.

4. Semakin besar viskositasnya, maka semakin rendah fluiitasnya dan semaki kental
cairan tersebut.

5. Rata-rata nilai viskositas dari masing-masing larutan adalah

• Etanol = 0,7369 cp
• Aseton = 0,2267 cp
• CCl4 = 0,8212 cp
6. Rata-rata nilai fluiditas dari masing-masing larutan adalah
• Etanol = 1,3571
• Aseton = 4,3779
• CCl4 = 1,2188
7. Makin kental suatu cairan, makin besar gaya yang dibutuhkan untuk membuatnya
mengalir pada kecepatan tertentu.

24
VIII. LAMPIRAN
(JAWABAN PERTANYAAN)
1. Bilangan Reynold adalah suatu tetapan yang menjadi ukuran apakah suatu aliran
merupakan aliran turbulen atau laminar.
Hubungannya dengan aliran laminer bila nilai RN > 2100 maka aliran suatu tersebut
memiliki aliran laminer.

d vR
Dimana : RN =
η

R : jari-jari pipa

d : kerapatan cairan

v : kecepatan rata-rata cairan sepanjang pipa

η : viskositas

2. Cara lain yang dapat digunakan untuk menentukan viskositas cairan adalah dengan
metode bola jatuh. Metode ini menyangkut gaya gravitasi yang seimbang dengan
gerak alirannya pekat. Dimana benda yang jatuh mempunyai kecepatan yang
semakin besar, namun juga diimbangi dengan besarnya gaya gesek, saat setimbang
kecepatan benda jatuh tetap.
2rb 2 ( dh − d ) g
η=
gv

dimana : b adalah bola jatuh

g adalah gaya gravitasi

v adalah volumen

η adalah viskositas

dengan perbandingan digunakan rumus :

η1 (ab − d 1 )t1
=
η2 (ab − d 2 )t 2

25
DAFTAR PUSTAKA

Dogra,S.K.1990.Kimia Fisik dan Soal-Soal.UI-Press:Jakarta.

http://arto-maryanto.blogspot/2009/11/fluida-dan-viskositas.html. 9 April 2010.

Tim Laboratorium Kimia Fisika.2009.Penuntun Praktikum Kimia Fisika II. Jurusan


Kimia FMIPA UNUD: Bukit Jimbaran.

Chang, Raymond.2005.Kimia Dasar Konsep-konsep Inti .Erlangga : Jakarta


Sukarjo, Dr.1989.Kimia fisika.PT. Bina Aksara : Jakarta
Reid, C. Rober, dkk. 1991.Sifat Gas dan Zat Cair, Edisi Ketiga.PT.Gramedia
Pustaka:Jakarta.

26
27