Anda di halaman 1dari 18

Tugas Komunikasi Kesehatan

O
L
E
H

CICI ABDULAH
501090186
PH. IV.3

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS GORONTALO
2010

2
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT,karena dengan limpahan


rahmat dan hidayatnya sehingga penulis bisa menyelesaikan penyusunan Makalah
Komunikasi Kesehatan..

Dalam penyusunan Maklah ini kami menyadari bahwa makalah ini masih
jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran
yang sifatnya membangun, guna untuk kesempurnaan penulisan makalah-makalah
selanjutnya.

penulis juga menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak


yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini, semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi setiap yang membacanya.

Limboto, Desember 2010

Penulis

Cici Abdulah

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR ISI.................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1
BAB II PEMBAHASAN................................................................................ 2
A. DEFINISI.................................................................................... 2
B. EPIDEMIOLOGI ....................................................................... 4
C. ETIOLOGI ................................................................................. 4
D. PATOGENESIS.......................................................................... 5
E. CARA PENULARAN. ............................................................... 6
F. PENYEBAB................................................................................ 7
G. GEJALA KLINIS........................................................................ 7
H. KLASIFIKASI. .......................................................................... 8
I. DIAGNOSA................................................................................ 9
J. PENGOBATAN.......................................................................... 10
K. DIFERENSIAL DIAGNOSIS. ................................................... 10
L. TERAPI....................................................................................... 11
BAB III PENUTUP.......................................................................................... 12
A. KESIMPULAN......................................................... 12
B. SARAN .................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................... 14

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Skabies adalah penyakit kulit yang mudah menular. Orang jawa sering
menyebutnya gudig. Penyebabnya adalah Sarcoptes scabei. Cara penularan
penyakit ini adalah melalui kontak langsung dengan penderita atau tidak langsung
melalui alat-alat yang dipakai penderita, misal : baju, handuk, dll.
Gejala klinis yang sering menyertai penderita adalah : Gatal yang hebat
terutama pada malam hari sebelum tidur, Adanya tanda : papula (bintil), pustula
(bintil bernanah), ekskoriasi (bekas garukan), bekas-bekas lesi yang berwarna
hitam, Dengan bantuan loup (kaca pembesar), bisa dilihat adanya kunikulus atau
lorong di atas papula (vesikel atau plenthing/pustula)
Predileksi atau lokasi tersering adalah pada sela-sela jari tangan, bagian
fleksor pergelangan tangan, siku bagian dalam, lipat ketiak bagian depan, perut
bagian bawah, pantat, paha bagian dalam, daerah mammae/payudara, genital, dan
pinggang. Pada pria khas ditemukan pada penis sedangkan pada wanita di aerola
mammae. Pada bayi bisa dijumpai pada daerah kepala, muka, leher, kaki dan
telapaknya. Pemariksaan adanya skabies atau Sarcoptes scabei dengan cara :
Melihat adanya burrow dengan kaca pembesar Papula, vesikel yang dicurigai
diolesi pewarna (tinta) kemudian dicuci dengan pelarutnya sehingga terlihat alur
berisi tinta Melihat adanya sarcoptes dengan cara mikroskopis, yaitu ;
Atap vesikelnya diambil lalu diletakkan di atas gelas obyek terus ditetesi KOH
30%, ditutup dengan gelas penutup dan diamati dengan mikroskop.
Papula dikorek dengan skalpel pada ujungnya kemudian diletakkan pada gelas
obyek lalu ditutup dan diamati dengan mikroskop.
Meski sekarang sudah sangat jarang dan sulit ditemukan laporan terbaru
tentang kasus skabies diberbagai media di Indonesia (terlepas dari faktor
penyebabnya), namun tak dapat dipungkiri bahwa penyakit kulit ini masih
merupakan salah satu penyakit yang sangat mengganggu aktivitas hidup dan kerja
sehari-hari. Di berbagai belahan dunia, laporan kasus skabies masih sering
ditemukan pada keadaan lingkungan yang padat penduduk, status ekonomi

1
rendah, tingkat pendidikan yang rendah dan kualitas higienis pribadi yang kurang
baik atau cenderung jelek. Rasa gatal yang ditimbulkannya terutama waktu malam
hari, secara tidak langsung juga ikut mengganggu kelangsungan hidup masyarakat
terutama tersitanya waktu untuk istirahat tidur, sehingga kegiatan yang akan
dilakukannya disiang hari juga ikut terganggu. Jika hal ini dibiarkan berlangsung
lama, maka efisiensi dan efektifitas kerja menjadi menurun yang akhirnya
mengakibatkan menurunnya kualitas hidup masyarakat. (Kenneth, F,1995).
Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di puskesmas
seluruh Indonesia pada tahun 1986 adalah 4,6 % - 12,95 % dan skabies
menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. Di bagian Kulit dan
Kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988, dijumpai 704 kasus skabies yang
merupakan 5,77 % dari seluruh kasus baru. Pada tahun 1989 dan 1990 prevalensi
skabies adalah 6 % dan 3,9 % (Sungkar,S, 1995).

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
Skabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh infestasi dan
sensitisasi terhadap Sarcoptes scabiei varian hominis dan produknya.
(Handoko, R, 2001).
Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun terjadi epidemi skabies. Banyak
faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini, antara lain: sosial
ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya
promiskuitas, kesalahan diagnosis, dan perkembangan dermografik serta
ekologik. Penyakit ini dapat dimasukkan dalam P.H.S. (Penyakit akibat
Hubungan Seksual). (Haandoko, R, 2001).
Scabies adalah penyakit kulit yang disebabkan oleh tungau (mite)
Sarcoptes scabei, yang termasuk dalam kelas Arachnida. Tungau ini
berukuran sangat kecil dan hanya bisa dilihat dengan mikroskop atau bersifat
mikroskopis.
Penyakit Scabies sering disebut kutu badan. Penyakit ini juga mudah
menular dari manusia ke manusia , dari hewan ke manusia dan sebaliknya.
Scabies mudah menyebar baik secara langsung melalui sentuhan langsung
dengan penderita maupun secara tak langsung melalui baju, seprai, handuk,
bantal, air, atau sisir yang pernah digunakan penderita dan belum dibersihkan
dan masih terdapat tungau Sarcoptesnya.
Scabies menyebabkan rasa gatal pada bagian kulit seperti sela-sela jari,
siku, selangkangan. Scabies identik dengan penyakit anak pondok.
penyebabnya adalah kondisi kebersihan yang kurang terjaga, sanitasi yang
buruk, kurang gizi, dan kondisi ruangan terlalu lembab dan kurang mendapat
sinar matahari secara langsung. Penyakit kulit scabies menular dengan cepat
pada suatu komunitas yang tinggal bersama sehingga dalam pengobatannya
harus dilakukan secara serentak dan menyeluruh pada semua orang dan
lingkungan pada komunitas yang terserang scabies, karena apabila dilakukan

3
pengobatan secara individual maka akan mudah tertular kembali penyakit
scabies.
B. EPIDEMIOLOGI
Skabies ditemukan disemua negara dengan prevalensi yang bervariasi.
Dibeberapa negara yang sedang berkembang prevalensi skabies sekitar 6 % -
27 % populasi umum dan cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja.
(Sungkar, S, 1995).
Ada dugaan bahwa setiap sikius 30 tahun terjadi epidemi scabies. Banyak
factor yang menunjang perkembangan penyakit ini antara lain social ekonomi
yang rendah, hygiene yang buruk, hubungan seksual yang sifatnya
promiskuitas (ganti-ganti pasangan), kesalahan diagnosis dan perkembangan
demografi serta ekologi. Selain itu faktor penularannya bisa melalui tidur
bersama dalam satu tempat tidur, lewat pakaian, perlengkapan tidur atau
benda-benda lainnya.
Cara penularan (tranmisi):
1. Kontak langsung misal berjabat tangan, tidur bersama dan kontak
seksual.
2. Kontak tak langsung misalnya melalui pakaian, handuk, sprei, bantal
dan lain-lainnya.
Penularannya biasanya melalui sarcoptes scabiei betina yang sudah
dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes scabiei
var. animalis yang kadang-kadang menulari manusia, terutama pada mereka
yang banyak memelihara binatang peliharaannya misalnya anjing. (Adhi
Djuanda. 2007: 120)
C. ETIOLOGI
Sarcoptes scabiei termasuk filum Arthopoda , kelas Arachnida, ordo
Ackarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei var.
hominis. Kecuali itu terdapat S. scabiei yang lainnya pada kambing dan babi.
Secara morfologik merupakan tungau kecil, berbentuk oval, punggungnya
cembung dan bagian perutnya rata. Tungau ini transient, berwarna putih kotor,
dan tidak bermata. Ukurannya yang betina berkisar antara 330 – 450 mikron x
250 – 350 mikron, sedangkan yang jantan lebih kecil, yakni 200 – 240 mikron

4
x 150 – 200 mikron. Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki
di depan sebagai alat alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina
berakhir dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga
berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat.
Siklus hidup tungau ini sebagai berikut. Setelah kopulasi (perkawinan) yang
terjadi di atas kulit, yang jantan akan mati, kadang-kadang masih dapat hidup
dalam terowongan yang digali oleh yang betina. Tungau betina yang telah
dibuahi menggali terowongan dalam stratum korneum, dengan kecepatan 2 -3
milimeter sehari dan sambil meletakkan telurnya 2 atau 4 butir sehari sampai
mencapai jumlah 40 atau 50 . Bentuk betina yang telah dibuahi ini dapat hidup
sebulan lamanya. Telurnya akan menetas, biasanya dalam waktu 3-5 hari, dan
menjadi larva yang mempunyai 3 pasang kaki. Larva ini dapat tinggal dalam
terowongan, tetapi dapat juga keluar. Setelah 2 -3 hari larva akan menjadi
nimfa yang mempunyai 2 bentuk, jantan dan betina, dengan 4 pasang kaki.
Seluruh siklus hidupnya mulai dari telur sampai bentuk dewasa memerlukan
waktu antara 8 – 12 hari.(Handoko, R, 2001).
Telur menetas menjadi larva dalam waktu 3 – 4 hari, kemudian larva
meninggalkan terowongan dan masuk ke dalam folikel rambut. Selanjutnya
larva berubah menjadi nimfa yang akan menjadi parasit dewasa. Tungau
betina akan mati setelah meninggalkan telur, sedangkan tungau jantan mati
setelah kopulasi. ( Mulyono, 1986).
Sarcoptes scabiei betina dapat hidup diluar pada suhu kamar selama lebih
kurang 7 – 14 hari. Yang diserang adalah bagian kulit yang tipis dan lembab,
contohnya lipatan kulit pada orang dewasa. Pada bayi, karena seluruh kulitnya
masih tipis, maka seluruh badan dapat terserang. (Andrianto dan Tang Eng
Tie, 1989).
D. PATOGENESIS.
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau skabies, tetapi
juga oleh penderita sendiri akibat garukan. Dan karena bersalaman atau
bergandengan sehingga terjadi kontak kulit yang kuat, menyebabkan kulit
timbul pada pergelangan tangan. Gatal yang terjadi disebabkan oleh sensitisasi
terhadap sekret dan ekskret tungau yang memerlukan waktu kira-kira sebulan

5
setelah infestasi. Pada saat itu kelainan kulit menyerupai dermatitis dengan
ditemukannya papul, vesikel, urtika dan lain-lain. Dengan garukan dapat
timbul erosi, ekskoriasi, krusta dan infeksi sekunder. Kelainan kulit dan gatal
yang terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau.(Handoko, R, 2001).
E. CARA PENULARAN.
Penyakit scabies dapat ditularkan melalui kontak langsung maupun kontak
tak langsung. Yang paling sering adalah kontak langsung dan erat atau dapat
pula melalui alat-alat seperti tempat tidur, handuk, dan pakaian. Bahkan
penyakit ini dapat pula ditularkan melalui hubungan seksual antara penderita
dengan orang yang sehat. Di Amerika Serikat dilaporkan, bahwa scabies dapat
ditularkan melalui hubungan seksual meskipun bukan merupakan akibat
utama. (BrownT.Y. et al, 1999).
Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan kebersihan perseorangan dan
lingkungan, atau apabila banyak orang yang tinggal secara bersama-sama
disatu tempat yang relative sempit. Apabila tingkat kesadaran yang dimiliki
oleh banyak kalangan masyarakat masih cukup rendah, derajat keterlibatan
penduduk dalam melayani kebutuhan akan kesehatan yang masih kurang,
kurangnya pemantauan kesehatan oleh pemerintah, faktor lingkungan
terutama masalah penyediaan air bersih, serta kegagalan pelaksanaan program
kesehatan yang masih sering kita jumpai, akan menambah panjang
permasalahan kesehatan lingkungan yang telah ada. (Benneth, F.J., 1997).
Penularan scabies terjadi ketika orang-orang tidur bersama di satu tempat
tidur yang sama di lingkungan rumah tangga, sekolah-sekolah yang
menyediakan fasilitas asrama dan pemondokan, serta fasiltas-fasilitas
kesehatan yang dipakai oleh masyarakat luas. Di Jerman terjadi peningkatan
insidensi, sebagai akibat kontak langsung maupun tak langsung seperti tidur
bersama. Faktor lainnya fasilitas umum yang dipakai secara bersama-sama di
lingkungan padat penduduk. Dibeberapa sekolah didapatkan kasus pruritus
selama beberapa bulan yang sebagian dari mereka telah mendapatkan
pengobatan skabisid. (Meyer, J. et al, 2000).

6
F. PENYEBAB
Scabies disebabkan oleh Sarcoptes scabiei, tungau ini berbentuk
bundardan mempunyai empat pasang kaki . Dua pasang kaki dibagian anterior
menonjol keluar melewati batas badan dan dua pasang kaki bagian posterior
tidak melewati batas badan. Sarcoptes betina yang berada di lapisan kulit
stratum corneumdan lucidum membuat terowongan ke dalam lapisan kulit. Di
dalam terowongan inilah Sarcoptes betina bertelur dan dalam waktu singkat
telur tersebut menetas menjadi hypopi yakti sarcoptes muda dengan tiga
pasang kaki. Akibat terowongan yang digali Sarcoptes betina dan hypopi yang
memakan sel-sel di lapisan kulit itu, penderita mengalami rasa gatal, akibatnya
penderita menggaruk kulitnya sehingga terjadi infeksi ektoparasit dan
terbentuk kerak berwarna coklat keabuan yang berbau anyir.
G. GEJALA KLINIS
Gejala yang ditunjukkan adalah warna merah,iritasi dan rasa gatal pada
kulit yang umumnya muncul di sela-sela jari, siku, selangkangan, dan lipatan
paha. gejala lain adalah munculnya garis halus yang berwarna kemerahan di
bawah kulit yang merupakan terowongan yang digali Sarcoptes betina. Gejala
lainnya muncul gelembung berair pada kulit.
Ada 4 tanda cardinal (Handoko, R, 2001) :
a. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan karena
aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab dan panas.
b. Penyakit ini menyerang manusia secara berkelompok, misalnya dalam
sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena infeksi. Begitu
pula dalam sebuah perkampungan yang padat penduduknya, sebagian
besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau tersebut.
Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota keluarganya
terkena, walaupun mengalami infestasi tungau, tetapi tidak memberikan
gejala. Penderita ini bersifat sebagai pembawa (carrier).
c. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi yang
berwarna putih atau keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau berkelok,
rata-rata panjang 1 cm, pada ujung terowongan ini ditemukan papul atau
vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam kulitnya menjadi polimarf

7
(pustule, ekskoriasi dan lain-lain). Tempat predileksinya biasanya
merupakan tempat dengan stratum korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari
tangan, pergelangan tangan bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak
bagian depan, areola mammae (wanita), umbilicus, bokong, genitalia
eksterna (pria) dan perut bagian bawah. Pada bayi dapat menyerang
telapak tangan dan telapak kaki.
d. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostic. Dapat
ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.
Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda cardinal
tersebut.
H. KLASIFIKASI.
Terdapat beberapa bentuk skabies atipik yang jarang ditemukan dan sulit
dikenal, sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Beberapa bentuk
tersebut antara lain (Sungkar, S, 1995):
a. Skabies pada orang bersih (scabies of cultivated).
Bentuk ini ditandai dengan lesi berupa papul dan terowongan yang
sedikit jumlahnya sehingga sangat sukar ditemukan.
b. Skabies incognito.
Bentuk ini timbul pada scabies yang diobati dengan kortikosteroid
sehingga gejala dan tanda klinis membaik, tetapi tungau tetap ada dan
penularan masih bisa terjadi. Skabies incognito sering juga menunjukkan
gejala klinis yang tidak biasa, distribusi atipik, lesi luas dan mirip
penyakit lain.
c. Skabies nodular
Pada bentuk ini lesi berupa nodus coklat kemerahan yang gatal.
Nodus biasanya terdapat didaerah tertutup, terutama pada genitalia laki-
laki, inguinal dan aksila. Nodus ini timbul sebagai reaksi hipersensetivitas
terhadap tungau scabies. Pada nodus yang berumur lebih dari satu bulan
tungau jarang ditemukan. Nodus mungkin dapat menetap selama
beberapa bulan sampai satu tahun meskipun telah diberi pengobatan anti
scabies dan kortikosteroid.

8
d. Skabies yang ditularkan melalui hewan.
Di Amerika, sumber utama skabies adalah anjing. Kelainan ini
berbeda dengan skabies manusia yaitu tidak terdapat terowongan, tidak
menyerang sela jari dan genitalia eksterna. Lesi biasanya terdapat pada
daerah dimana orang sering kontak/memeluk binatang kesayangannya
yaitu paha, perut, dada dan lengan. Masa inkubasi lebih pendek dan
transmisi lebih mudah. Kelainan ini bersifat sementara (4 – 8 minggu)
dan dapat sembuh sendiri karena S. scabiei var. binatang tidak dapat
melanjutkan siklus hidupnya pada manusia.
e. Skabies Norwegia.
Skabies Norwegia atau skabies krustosa ditandai oleh lesi yang
luas dengan krusta, skuama generalisata dan hyperkeratosis yang tebal.
Tempat predileksi biasanya kulit kepala yang berambut, telinga bokong,
siku, lutut, telapak tangan dan kaki yang dapat disertai distrofi kuku.
Berbeda dengan skabies biasa, rasa gatal pada penderita skabies
Norwegia tidak menonjol tetapi bentuk ini sangat menular karena jumlah
tungau yang menginfestasi sangat banyak (ribuan). Skabies Norwegia
terjadi akibat defisiensi imunologik sehingga sistem imun tubuh gagal
membatasi proliferasi tungau dapat berkembangbiak dengan mudah.
f. Skabies pada bayi dan anak.
Lesi skabies pada anak dapat mengenai seluruh tubuh, termasuk
seluruh kepala, leher, telapak tangan, telapak kaki, dan sering terjadi
infeksi sekunder berupa impetigo, ektima sehingga terowongan jarang
ditemukan. Pada bayi, lesi di muka. (Harahap. M, 2000).
g. Skabies terbaring ditempat tidur (bed ridden).
Penderita penyakit kronis dan orang tua yang terpaksa harus tinggal
ditempat tidur dapat menderita skabies yang lesinya terbatas. (Harahap. M,
2000).
I. DIAGNOSA
Diagnosa scabies dilakukan dengan membuat kerokan kulit pada daerah
yang berwarna kemerahan dan terasa gatal. kerokan yang dilakukan sebaiknya
dilakukan agak dalam hingga kulit mengeluarkan darah karena Sarcoptes

9
betina bermukim agak dalam di kulit dengan membuat terowongan.
Untuk melarutkan kerak digunakan larutan KOH 10 persen. selanjutnya hasil
kerokan tersebut diamatai dengan mikroskop dengan perbesaran 10-40 kali.

J. PENGOBATAN
Pengobatan skabies yang terutama adalah menjaga kebersihan untuk
membasmi skabies (mandi dengan sabun, sering ganti pakaian, cuci pakaian
secara terpisah, menjemur alat-alat tidur, handuk tidak boleh dipakai bersama,
dll)
Obat antiskabies yang sering dipakai adalah :
1. Preparat yang mengandung belerang
2. Emulsi benzoate benzilicus 25%
3. Gamma benzene hexachloride 0,5%-1%
Pengobatan scabies dapat dilakukan dengan delousing yakni shower
dengan air yang telah dilarutkan bubuk DDT (Diclhoro Diphenyl
Trichloroetan). Pengobatan lain adalah dengan mengolesi salep yang
mempunyai daya miticid baik dari zat kimia organik maupun non organik
pada bagian kulit yang terasa gatal dan kemerahan dan didiamkan selama 10
jam.
Alternatif lain adalah mandi denga sabun sulfur/belerang karena
kandungan pada sulfur bersifat antiseptik dan antiparasit, tetapi pemakaian
sabun sulfur tidak boleh berlebihan karena membuat kulit menjadi kering.
Pengobatan scabies harus dilakukan secara serentak pada daerah yang
terserang scabies agar tidak tertular kembali penyakit scabies.
K. DIFERENSIAL DIAGNOSIS.
Diagnosis bandingnya adalah (Siregar, R.S,1996):
a. Prurigo, biasanya berupa papel-papel yang gatal, predileksi pada bagian
ekstensor ekstremitas.
b. Gigitan serangga, biasanya jelas timbul sesudah ada gigitan,
efloresensinya urtikaria papuler.
c. Folikulitis, nyeri berupa pustule miliar dikelilingi daerah yang eritem.

10
L. TERAPI.
Semua keluarga yang berkontak dengan penderita harus diobati termasuk
pasangan seksnya. Beberapa macam obat yang dapat dipakai pada pengobatan
scabies yaitu:
a. Permetrin.
Merupakan obat pilihan untuk saat ini , tingkat keamanannya cukup
tinggi, mudah pemakaiannya dan tidak mengiritasi kulit. Dapat digunakan
di kepala dan leher anak usia kurang dari 2 tahun. Penggunaannya dengan
cara dioleskan ditempat lesi lebih kurang 8 jam kemudian dicuci bersih
b. Malation.
Malation 0,5 % dengan daasar air digunakan selama 24 jam. Pemberian
berikutnya diberikan beberapa hari kemudian.(Harahap. M, 2000).
c. Emulsi Benzil-benzoas (20-25 %).
Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama tiga
hari. Sering terjadi iritasi dan kadang-kadang makin gatal setelah dipakai.
(Handoko, R, 2001).
d. Sulfur.
Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10 % secara umum aman dan
efektif digunakan. Dalam konsentrasi 2,5 % dapat digunakan pada bayi.
Obat ini digunakan pada malam hari selama 3 malam. (Harahap, M, 2000).
e. Monosulfiran.
Tersedia dalam bentuk lotion 25 %, yang sebelum digunakan harus
ditambah 2 – 3 bagian dari air dan digunakan selam 2 – 3 hari. (Harahap,
M, 2000).
f. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan).
Kadarnya 1 % dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena
efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan dan jarang terjadi
iritasi. Tidak dianjurkan pada anak di bawah 6 tahun dan wanita hamil
karena toksik terhadap susunan saraf pusat. Pemberian cukup sekali,
kecuali jika masih ada gejala ulangi seminggu kemudian.(Handoko, R,
2001).

11
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Tempat-tempat yang menjadi favorit bagi sarcoptes scabei tinggal adalah
daerah-daerah lipatan kulit, seperti telapak tangan, kaki, selakangan, lipatan
paha, lipatan perut, ketiak dan daerah vital.
Sarcoptes scabei betina yang berada di lapisan kulit stratum corneum dan
stratum lucidum membuat terowongan ke dalam lapisan kulit. Di dalam
terowongan inilah Sarcoptes betina bertelur dan dalam waktu singkat telur
tersebut menetas menjadi hypopi yakni sarcoptes muda dengan tiga pasang
kaki. Akibat terowongan yang digali Sarcoptes betina dan hypopi yang
memakan sel-sel di lapisan kulit itu, penderita mengalami rasa gatal, akibatnya
penderita menggaruk kulitnya sehingga terjadi infeksi ektoparasit dan
terbentuk kerak berwarna coklat keabuan yang berbau anyir. Sarcoptes tidak
tahan dengan udara luar. Kalau orang yang menderita kudisan dan sering
menggaruk pada kulit yang terkena tungau, tungau-tungau itu tetap dapat
bertahan hidup karena kerak yang copot dari kulit memproteksi (jadi payung)
tungau terhadap udara luar. Akibat lain kegiatan menggaruk tadi adalah
mundulnya infeksi sekunder, dengan munculnya nanah (pus) dalam luka tadi.
Hal ini akan menyulitkan pengobatan.
Gejala yang ditunjukkan adalah warna merah, iritasi dan rasa gatal pada
kulit yang umumnya muncul di sela-sela jari, siku, selangkangan, dan lipatan
paha. Gejala lain adalah munculnya garis halus yang berwarna kemerahan di
bawah kulit yang merupakan terowongan yang digali Sarcoptes betina. Gejala
lainnya muncul gelembung berair pada kulit.
Diagnosa pasti scabies dilakukan dengan membuat kerokan kulit pada
daerah yang berwarna kemerahan dan terasa gatal. Kerokan yang dilakukan
sebaiknya dilakukan agak dalam hingga kulit mengeluarkan darah karena
Sarcoptes betina bermukim agak dalam di kulit dengan membuat terowongan.

12
Untuk melarutkan kerak digunakan larutan KOH 10 persen. selanjutnya hasil
kerokan tersebut diamatai dengan mikroskop dengan perbesaran 10-40 kali.

B. SARAN
Semua pakaian, handuk, bantal, kasur harus dijemur dibawah sinar
matahari. Tujuannya agar tungau mati karena sinar matahari. Pakaian dicuci
dengan menggunakan cairan karbol. Dan bila semua telah dilakukan,
terpenting adalah mengubah cara hidup sehari-hari dengan tidak saling
meminjamkan pakaian dan barang pribadi lainnya ke orang lain. Dengan
begitu, scabies pasti akan musnah ditelan bumi, dan anak-anak pesantren pun
akan tersenyum bangga, bebas dari penyakit yang selama berabad-abad
identik dengan kehidupannya.
Tindakan yang sangat penting untuk pengobatan penyakit scabies ini
adalah memutus mata rantai penularan. Sehingga pengobatan penyakit
scabies biasanya dilakukan secara masal agar mata rantai penularan dapat
dibasmi secara cepat dan tuntas.

13
DAFTAR PUSTAKA

1. Ovedoff,david.2002.kapita selekta kedokteran.Bina Rupa aksara:Jakarta


Andi,Djuanda.1999.ilmu penyakit kulit dan kelamin.FK UII:Yogyakarta
2. http://drhandri.wordpress.com/2008/04/24/scabies-penyakit-kulit-khas-
pada-warga-pesantren/
3. (http://www.medinfo.co.uk/condition/scabies.html).
4. http://www.vet-indo.com/Kasus-Medis/Yang-Perlu-Anda-Tahu-tentang-
Scabies.html
5. http://library.med.utah.edu/kw/derm/pages/ni12_11.htm
6. http://www.stanford.edu/class/humbio103/ParaSites2004/Scabies/scabies.j
pg
7. http://ades.tmu.edu.tw/English/pcare/course/scabies/Scabies-2.jpg
8. http://www.k-state.edu/parasitology/625tutorials/Arthropods01.html

14