Anda di halaman 1dari 27

Seri Bahan Bacaan Kursus HAM untuk Pengacara X

Tahun 2005
Materi : Mekanisme Judicial Review

JUDICIAL REVIEW

Dian Rositawati, S.H.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat


Jl Siaga II No 31 Pejatien Barat, Jakarta 12510
Telp (021) 7972662, 79192564 Fax : (021) 79192519
Website : www.elsam.or.id Email : elsam@nusa.or.id
Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

Bab I

Pengertian Judicial Review


A. Pengantar Pemahaman
“Judicial Review” (hak uji materil) Judicial Review di negara-negara penganut
merupakan kewenangan lembaga peradilan aliran hukum civil law biasanya bersifat
untuk menguji kesahihan dan daya laku tersentralisasi (centralized system).3 Negara
produk-produk hukum yang dihasilkan penganut sistem ini biasanya memiliki
oleh ekesekutif legislatif maupun yudikatif kecenderungan untuk bersikap pasti
di hadapan konstitusi yang berlaku. terhadap doktrin supremasi hukum. Karena
Pengujian oleh hakim terhadap produk itu penganut sistem sentralisasi biasanya
cabang kekuasaan legislatif (legislative acts) menolak untuk memberikan kewenangan
dan cabang kekuasaan eksekutif (executive ini kepada pengadilan biasa, karena hakim
acts) adalah konsekensi dari dianutnya biasa dipandang sebagai pihak yang harus
prinsip ‘checks and balances’ berdasarkan menegakkan hukum sebagaimana yang
doktrin pemisahan kekuasaan (separation of tercantum dalam suatu peraturan
power)1. Karena itu kewenangan untuk perundangan. Kewenangan ini kemudian
melakukan ‘judicial review’ itu melekat pada dilakukan oleh suatu lembaga khusus yaitu
fungsi hakim sebagai subjeknya, bukan seperti Mahkamah Konstitusi.
pada pejabat lain. Jika pengujian tidak
dilakukan oleh hakim, tetapi oleh lembaga Di sisi lain, dalam sistem yang
parlemen, maka pengujian seperti itu tidak terdesentralisasi (desentralized system),
dapat disebut sebagai ‘judicial review’, seperti misalnya diterapkan di Amerika
melainkan ‘legislative review’2. Serikat, kewenangan melakukan judicial
review atas suatu peraturan dan konstitusi
diberikan pada organ pengadilan yaitu
1 Dalam sistem ‘judicial review’ oleh
Mahkamah Agung.4 Pertimbangan untuk
Mahkamah Konstitusi di Jerman malah
ditentukan pula adanya kewenangan Mahkamah
memberikan kewenangan ini pada
Konstitusi untuk menguji putusan Mahkamah pengadilan adalah sangat sederhana, karena
Agung. Dengan demikian, secara akademis, pengadilan memang berfungsi untuk
dapat dikatakan bahwa objek yang dapat diuji menafsirkan hukum dan untuk
melalui mekanisme ‘judicial review’ oleh hakim menerapkannya dalam kasus-kasus.
konstitusi itu dapat mencakup (i) legislative acts,
(ii) executive acts, dan juga (iii) judicial decisions. Sedangkan dalam sistem pembagian
Jimly Asshiddiqie, Catatan Kompilasi Peraturan kekuasaan (distribution or division of power)
tentang Mahkamah Konstitusi di 45 Negara, Fakultas
yang tidak mengidealkan prinsip ‘checks and
Hukum Universitas Indonesia, belum
diterbitkan.
balances’, pengujian semacam itu, jika
diperlukan, dianggap hanya dapat
2 Salah satu contoh bentuk pengujian dilakukan oleh lembaga yang membuat
legislatif terhadap produk eksekutif (executive aturan itu sendiri. Misalnya, suatu Undang-
acts) adalah pengujian oleh Dewan Perwakilan undang hanya dapat diuji oleh Presiden dan
Rakyat terhadap Peraturan Pemerintah Pengganti DPR yang memang berwenang
Undang-Undang (PERPU). Jika dalam satu
tahun, suatu Perpu tidak mendapat persetujuan
DPR, maka Perpu itu harus dicabut oleh 3 Daniele E. Finck, Judicial Review: The

Presiden. Karena itu, setiap perpu yang United States Supreme Court Versus the German
ditetapkan oleh Presiden diharuskan segera Constitutional Court, Boston College International
diajukan ke DPR untuk mendapatkan ‘legislative & Comparartive Law Review, 1997, page 2.
review’ dengan kemungkinan disetujui atau
ditolak oleh DPR. 4 Ibid., page.3

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 1


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

membuatnya sendiri. Usul mengenai Pengujian atau ‘review’ oleh hakim itu dapat
pencabutan suatu Undang-Undang bisa dilakukan secara institutional atau formal
datang dari mana saja, tetapi proses dan dapat pula dilakukan secara prosesual
perubahan ataupun pencabutan Undang- atau substansial. Suatu peraturan sebagai
Undang itu harus datang dari inisiatif institusi dapat dimohonkan pengujian
Presiden atau DPR sebagai lembaga yang kepada hakim, dan hakim dapat
mempunyai wewenang untuk itu. Itulah menyidangkan perkara ‘judicial review’ itu
sebabnya, selama ini dianut pendapat dalam persidangan yang tersendiri. Dalam
bahwa Mahkamah Agung berwenang hal demikian, dapat dikatakan bahwa
menguji materi peraturan di bawah pengujian materiel itu dilakukan secara
Undang-Undang, tetapi tidak berwenang institusional, dimana peraturan yang
menguji materi Undang-Undang terhadap bersangkutan secara keseluruhan dapat
Undang-Undang Dasar. dinyatakan tidak berlaku lagi secara hukum.
Tetapi, pengujian juga dapat dilakukan oleh
Pengujian judicial itu sendiri dapat bersifat hakim secara tidak langsung dalam setiap
formil atau materiel (formele toetsingsrecht en proses acara di pengadilan.
materiele toetsingsrecht)5. Pengujian formil
biasanya terkait dengan soal-soal prosedural Dalam mengadili sesuatu perkara apa saja,
dan berkenaan dengan legalitas kompetensi hakim dapat saja atau berwenang
institusi yang membuatnya. Hakim dapat mengesampingkan berlakunya sesuatu
membatalkan suatu peraturan yang peraturan atau tidak memberlakukan
ditetapkan dengan tidak mengikuti aturan sesuatu peraturan tertentu, baik seluruhnya
resmi tentang pembentukan peraturan yang (totalitas) ataupun sebagiannya. Mekanisme
bersangkutan. Hakim juga dapat demikian ini dapat pula disebut sebagai
menyatakan batal suatu peraturan yang ‘judicial review’ yang bersifat prosessual, atau
tidak ditetapkan oleh lembaga yang ‘judicial review’ yang bersifat substansial6.
memang memiliki kewenangan resmi untuk
membentuknya. Objek yang diuji oleh hakim dapat berupa
produk hukum yang ditetapkan oleh
Sedangkan pengujian materiel berkaitan lembaga legislatif (legislative acts) dan dapat
dengan kemungkinan pertentangan materi pula berupa produk eksekutif (executive
suatu peraturan dengan peraturan lain yang acts). Produk legislatif (legislative acts)
lebih tinggi ataupun menyangkut biasanya disebut undang-undang, wet atau
kekhususan-kekhususan yang dimiliki suatu law, tergantung bahasa yang digunakan di
aturan dibandingkan dengan norma-norma masing-masing negara. Disebut produk
yang berlaku umum. Misalnya, berdasarkan legislatif karena memang dalam proses
prinsip ‘lex specialis derogate lex generalis’, pembuatannya terlibat peran parlemen.
maka suatu peraturan yang bersifat khusus
dapat dinyatakan tetap berlaku oleh hakim,
6 ‘Review’ dapat dibedakan dari ‘appeal’.
meskipun isinya bertentangan dengan
materi peraturan yang bersifat umum. Seperti dikatakan oleh Brian Thompson, “If one
Sebaliknya, suatu peraturan dapat pula appeals a decision, one is claiming that it is
wrong or incorrect, and that the appellate
dinyatakan tidak berlaku jikalau materi
authority should change the decision”.
yang terdapat di dalamnya dinilai oleh Sedangkan pada ‘judicial review’, “the court is not
hakim nyata-nyata bertentangan dengan concerned with the merits of the case, whether
norma aturan yang lebih tinggi sesuai the decision was right or wrong, but whether it
dengan prinsip ‘lex superiore derogate lex was lawful or unlawful. Seperti dikatakan oleh
infiriore’. Lord Brightman : “Judicial review is concerned,
not with the decision, but with the decision-
making process”. Constitutional and Administrative
5 Tentang ini, baca Sri Soemantri, Hak
Law, Blackstone Press Ltd., London, 1993, hal.
Uji Material di Indonesia, Alumni, Bandung, 1997, 398. Juga John Alder, Constitutional and
hal.6-15. Administrative Law, London : MacMillan
Professional Masters, 1989, hal. 293.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 2


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

Kalaupun, produk legislatif tersebut tidak dan individuil. Tindakan atau kebijakan
dilakukan sepenuhnya oleh parlemen, pemerintahan yang merugikan atau
setidaknya produk dimaksud ditetapkan menimbulkan ketidakadilan dengan
oleh pemerintah bersama-sama parlemen. sendirinya dapat diuji oleh hakim, dan
proses pengujian itu juga disebut sebagai
Dalam tradisi ‘common law’ Anglo Amerika, ‘judicial review’7.
baik ‘legislaltive acts’ maupun ‘executive acts’
tersebut dapat berupa produk hukum yang Aspek administrasi negara dalam
mengatur (regels, regeling) dan dapat pula penggunaan upaya ‘judicial review’ itu di
berbentuk keputusan-keputusan lingkungan negara-negara yang mewarisi
administrasi negara yang tidak bersifat tradisi ‘common law’, makin lama bahkan
mengatur, melainkan hanya bersifat cenderung makin meningkat dapat
penetapan administratif (beschikking). dianggap sebagai ciri penting negara hukum
Karena itu, kebijakan dan keputusan- modern (constitutional democracy). Di
keputusan pejabat administrasi negara yang lingkungan negara-negara dengan tradisi
tidak berbentuk peraturan juga dapat diuji ‘civil law’ hal ini sebenarnya sudah sejak
kembali dan dibatalkan atau dinyatakan lama berkembang dengan dimasukkannya
tidak sah oleh pengadilan (hakim). elemen pengadilan administrasi negara
menjadi salah satu pilar konsepsi
Dalam sistem ‘civil law’ yang menganggap ‘Rechtsstaat’ (negara hukum) Eropa Barat.
adanya peradilan administrasi negara Karena itu, perkembangan pengertian
sebagai salah satu pilar penting Negara tentang mengenai fungsi Mahkamah
Hukum (Rechtsstaat), keputusan Konstitusi yang dianggap berwenang
administrasi negara yang tidak bersifat melakukan ‘judicial review’ terhadap
mengatur itu dianggap sebagai objek peraturan, baik dalam arti ‘legislative acts’
pengujian oleh hakim adminitrasi Negara maupun ‘executive acts’, sama sekali terpisah
(tata usaha Negara). Karena itu, yang dari perkembangan pengertian mengenai
termasuk dalam pengertian ‘judicial review’ jaminan keadilan bagi warga negara dalam
dalam sistem ‘civil law’, hanyalah produk konteks sistem peradilan tata usaha negara.
pengaturan saja, yaitu mulai dari Undang- Sedangkan dalam sistem ‘common law’,
undang sampai ke peraturan-peraturan kedua hal itu tercakup dalam
(regels) yang ada di bawahnya. Misalnya perkembangan ‘judicial review’ yang
saja, Keputusan Presiden yang bersifat dilakukan oleh Mahkamah Agung. Karena
mengatur dapat dijadikan objek ‘judicial itu, baik di Inggris maupun di Amerika,
review’, tetapi Keputusan Presiden mengenai pengertian ‘judicial review’ yang biasa
pengangkatan dan pemberhentian pejabat – dipahami lebih luas cakupan maknanya,
karena berisi norma yang konkrit dan yaitu termasuk gugatan berkenaan dengan
bersifat individual – tidak dapat dimintakan norma hukum yang konkrit dan individuil
‘judicial review’, tetapi oleh yang dirugikan
dapat diajukan gugatan ke pengadilan tata
7 Karena itu, seperti dikemukakan oleh
usaha negara. Sedangkan ‘judicial review’
dalam sistem ‘common law’ seperti Lee Bridges, George Meszaros, dan Maurice
Sunkin mengenai ‘judicial review’ di Inggris,
disebutkan di atas, mencakup objek
“Judicial review is the principal means by which
peraturan, baik ‘legislative acts’ maupun the courts …. Exercise supervision over the
‘executive acts’, dan juga objek tindakan- conduct of central and local government and
tindakan atau kebijakan administrasi negara other public authorities. Since undergoing
yang merugikan kepentingan individu substantial reform in 1977, the procedures for
warganegara. Dengan perkataan lain, judicial review have been widely seen by legal
‘judicial review’ dalam sistem ‘common law’ commentators as having ‘transformed the face of
mencakup pula mekanisme tuntutan yang administrative law’ and led to a ‘torrent’ of cases
biasa dikenal dalam sistem peradilan tata against public bodies being brought before the
courts”. Judicial Review in Perspective, The Glass
usaha negara yang berkenaan dengan
House, Cavendish Publ. Ltd., London, 1995, hal.
norma-norma hukum yang bersifat konkrit 1.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 3


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

seperti yang dikenal dalam sistem peradilan peraturan yang berada di atasnya. Karena
tata usaha negara8. Malah, ke arah inilah hubungan hirarkis antar peraturan
pengertian ‘judicial review’ itu cenderung perundang-undangan itu seyogyanya
berkembang, seperti dikatakan oleh Lee bersifat sistemik dan ‘inter-related’ secara
Bridges dan kawan-kawan : “Judicial review vertikal, maka dapat dikembangkan
has been increasingly celebrated, not least by the pemikiran bahwa subjek hakim penguji
judiciary itself, as a means by which the citizen (judicial review) seharusnya bersifat
can obtain redress against oppressive ‘integrated’ atau terpadu di satu institusi.
government, and as a key vehicle for enabling the Akan tetapi, karena dalam pengalaman di
judiciary to prevent and check the abuse of banyak negara, kemunculan ide
executive power”.9 pembentukan Mahkamah Konstitusi10 dapat
dipandang sebagai inovasi baru di bidang
Pedoman hukum yang dipakai untuk hukum yang dalam perkembangannya baru
melakukan pengujian tersebut oleh hakim dikaitkan dengan pengujian terhadap
adalah norma hukum yang lebih tinggi, atau konstitusionalitas undang-undang, maka
sekurang-kurangnya norma hukum yang subjek hakim penguji itu dibedakan antara
setingkat terutama apabila pengujian yang materi undang-undang dan peraturan di
dilakukan bersifat formil. Norma hukum bawah undang-undang.
yang paling tinggi adalah Konstitusi. Karena
itu, pengujian terhadap materi undang- Di beberapa negara, juga diterima adanya
undang dinilai berdasarkan norma dasar pengertian bahwa selain kewenangan uji
yang terkandung dalam konstitusi. Dengan materiel atas undang-undang, Mahkamah
kata lain, yang diuji adalah Konstitusi juga berwenang menyelesaikan
konstitusionalitas materi undang-undang, sengketa antara Pemerintah Pusat dan
konstitusionalitas dan legalitas prosedur Pemerintah Daerah ataupun antar
penetapan undang-undang, ataupun Pemerintah Daerah dalam menjalankan
legalitas kompetensi kelembagaan yang peraturan perundang-undangan ataupun
menetapkan undang-undang tersebut.
Sedangkan untuk materi peraturan di
bawah undang-undang, dinilai berdasarkan
undang-undang dan demikian pula 10 Pembentukan Mahkamah Konstitusi

peraturan di bawahnya dinilai berdasarkan ini dapat disebut sebagai gejala abad ke-20.
Sampai sekarang, baru 45 negara yang
membentuknya dan mengadopsikannya dalam
8 Jika dalam sistem ‘civil law’ peradilan
rumusan konstitusi. Ke-45 negara itu adalah :
tata usaha negara dianggap sebagai pilar negara Albania, Aljazair, Autria, Armenia, Azerbaijan,
hukum (Rechtsstaat), maka dalam sistem Belgia, Belarusia, Bolivia, Bosnia-Herzegovina,
‘common law’, ‘meskipun diakui sangat penting, Bulgaria, Chile, Colombia, Croatia, Czech,
menurut John Ferejohn, Jack N. Rakove dan Denmark, Ecuador, Germany, Georgia. Hungary,
Jonathan Riley, “it would be a mistake to identify Indonesia, Italy, Latvia, Lithuania, Malta,
or equate constitutionalism with judicial review. Marocco, Mesir, Moldova, Norwegia, Perancis,
Empowering courts to enforce constitutional Peru, Polandia, Portugal, Rumania, Russia, South
clauses is neither a necessary nor a sufficient Afrika, South Korea, Slovakia, Slovenia, Spain,
conditions for the development of a Swaziland, Swedia, Thailand, Turkey, dan
constitutional regime”, Constitutional Culture Venezuella. Ke-45 negara itu, ada yang menyebut
and Democratic Rule, Cambridge University mahkamah ini dengan sebutan ‘Constitutional
Prerss, 2001, hal.13. Court’, ada yang menyebutnya ‘Constitutional
Arbirage’ seperti di Belgia, dan ada pula yang
9 Lihat kata pengantar Lord Brown- tidak menyebutnya sebagai pengadilan,
Wilkinson dalam M. Superstone QC and J. melainkan dewan atau ‘Counseil Constitutionnel’
Goudie QC, Judicial Review, Butterworths, seperti di Perancis dan beberapa negara yang
London, 1992, dan F. Mount, The British dipengaruhi oleh sistem hukum Perancis. Lihat
Constitution Now, Mandarin, London, 1993, hal. Jimly Asshiddiqie, Mahkamah Konstitusi di
261. Lihat juga, John Ferejohn et.al. ibid., hal.7 Berbagai Negara, makalah Seminar Universitas
dan footnote 1. Islam Indonesia, Yogyakarta, 2002.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 4


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

dalam melaksanakan Undang-undang


Dasar.

B. Perkembangan Judicial Review di Indonesia


Dalam proses pembentukan UUD 1945 Namun kewenangan itu, terbatas pada
terjadi perdebatan tentang perlunya peraturan yang tingkatnya lebih rendah dari
Mahkamah Agung sebagai pemegang UU dan tidak mengatur penilaian UU
kekuasaan yudikatif untuk memiliki terhadap UUD. UU No. 14 Tahun 1985
kewenangan menilai apakah suatu tentang Mahkamah Agung juga
peraturan perundangan sesuai dengan menyebutkan hal yang kurang lebih sama.
konstitusi. Soepomo tidak sependapat
karena menurutnya kekuasaaan demikian Tahun 1993 diterbitkan Peraturan
terdapat pada negara yang menganut sistim Mahkamah Agung (PERMA) No. 1 Tahun
pemisahan kekuasaan (konsep trias politica). 1993 Tentang Hak Uji Materiil tertanggal 15
Sementara Rancangan UUD tidak, dan Juni 1993 sebagai reaksi terhadap
kekuasaan yudikatif tidak mengontrol permohonan judicial review yang diajukan
kekuasaan legislatif sebagai pembentuk harian Prioritas kepada MA terhadap
undang-undang. Menurut Supomo, di Peraturan Menteri Penerangan No.
negara-negara lain seperti Austria, Ceko- 01/Per/Menpen/1984 tentang Surat Izin
Slowakia dan Jerman, kewenangan tersebut Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) sekitar 7
dilaksanakan oleh suatu pengadilan yang bulan sebelumnya. Tahun 1999 MA
memang khusus menangani masalah mengeluarkan Surat Edaran MA No. 1
konstitusi. Akhirnya BPUPKI dan PPKI Tahun 1999 tentang Judicial Review dalam
menolak usul tersebut dan tidak rangka memperbaharui teknis pelaksanaan
memasukkannya ke dalam UUD sebagai judicial review yang sebelumnya diatur
bagian wewenang yudikatif MA. dalam PERMA No. 1 Tahun 1993. Perbedaan
prinsipil dengan aturan sebelumnya adalah
Dalam Konstitusi RIS yang diundangkan permohonan judicial review dapat juga
pada tahun 1949 disebutkan bahwa, diajukan terpisah dari suatu perkara
kewenangan untuk menilai apakah suatu (permohonan).
UU Negara Bagian bertentangan atau tidak
dengan UU Federal dan Konstitusi RIS Pada bulan Nopember 1997 F-PDI
diberikan kepada MA. Untuk merespon mengusulkan untuk memberi MA
perkembangan, di sekitar tahun 1956 – 1959 kewenangan melakukan judicial review
IKAHI dan MA mengusulkan bahwa MA terhadap UU, namun PAH II BP MPR
seharusnya memiliki kewenangan untuk menolak, dengan alasan MA tidak berhak
menyatakan suatu peraturan perundangan untuk melakukan judicial review terhadap
bertentangan dengan UUD. Kemudian ketentuan hasil lembaga tinggi negara. F-KP,
dalam pembahasan konstitusi bidang F-UD, F-PP, F- ABRI menyatakan bahwa
peradilan, Konstituante memutuskan untuk yang berhak melakukan judicial review
memuat pembentukan peradilan khusus terhadap UU adalah lembaga yang
yang terdiri dari Hakim Agung yang menghasilkan UU tersebut, yaitu
berwenang menilai peraturan perundangan. Pemerintah dan DPR.
Namun, dengan Dekrit 1959, Presiden
membubarkan Parlemen. Pada bulan Juli 2000 dalam Pembahasan
Amandemen Kedua UUD 45 oleh PAH I BP
Tahun 1970 UU 14 Tahun 1970 tentang MPR Tim ahli mengusulkan untuk segera
Kekuasaan Kehakiman memberikan dibentuk MK. Usul itu diterima dalam rapat
kewenangan kepada MA untuk menilai pleno ke-26. Dalam pasal 25B, Bab IX
kesesuaian suatu peraturan dengan tentang Kekuasaan Kehakiman dan
peraturan yang lebih tinggi (judical review). Penegakan Hukum dalam Rancangan

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 5


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

Amandemen Kedua UUD 45 yang disiapkan tidak bersifat tetap atau tidak rutin. Ketua
oleh PAH BP MPR, Mahkamah Konstitusi MA mendukung pendapat ini, pertentangan
direncanakan untuk mempunyai 3 aturan adalah persoalan hukum dan bukan
kewenangan : (i) menguji secara materiil politik sehingga yang memutus perkara
atas UU dan UUD; (ii) memutus atas adalah badan peradilan, bukan badan
pertentangan antar UU; (iii) memutus politik seperti DPR atau MPR.
sengketa kewenangan antar lembaga negara,
antara pemerintah pusat dengan daerah, Pada bulan September 2001 dalam
antar pemerintah daerah. Pembahasan Amandemen Ketiga UUD 1945,
seluruh fraksi dalam PAH I BP MPR setuju
Dalam kesepakatan finalisasi PAH I BP untuk memasukkan aturan tentang MK
MPR, 22 Juli 2000, PAH I menyepakati MK dalam Amandemen Ketiga UUD 45.
berada dalam lingkungan MA. Pada bulan Idealnya kewenangan pengujian materi
Agustus tahun 2000 dalam Sidang Tahunan peraturan perundang-undangan
I MPR Bab ini dibahas dalam ST I MPR, diintegrasikan saja menjadi kewenangan
namun tidak dicapai kesepakatan. Oleh Mahkamah Konstitusi. Sayangnya, perumus
karena itu, MPR menerbitkan TAP III/2000, kebijakan konstitusional negara kita tidak
yang menegaskan kembali bahwa judicial berpendapat demikian. Dalam perubahan
review atas UU dan UUD 45 serta TAP MPR terhadap rumusan Pasal 24 UUD 1945 hasil
ada di tangan MPR, sedang MA hanya Perubahan Ketiga yang disahkan pada
berwenang untuk menguji peraturan di bulan November 2001, kewenangan uji
bawah UU. materil oleh Mahkamah Konstitusi dibatasi
hanya sampai tingkat Undang-Undang,
PAH II BP MPR pada bulan Mei 2002 sedangkan peraturan di bawahnya tetap
menyusun rancangan perubahan Peraturan ditentukan sebagai kewenangan Mahkamah
Tata Tertib MPR dimana jika disetujui Agung. Dalam Pasal 24 A ayat (1)
dalam ST 2001, BP MPR akan memiliki Perubahan Ketiga UUD 1945 dinyatakan :
kewenangan melakukan uji materiil atas “Mahkamah Agung berwenang mengadili pada
UU, TAP MPR, dan UUD. Walaupun tingkat kasasi, menguji peraturan perundang-
mengakui MK yang seharusnya berwenang, undangan di bawah undang-undang terhadap
sebelum terbentuk BP sesuai TAP MPR undang-undang, dan mempunyai kewenangan
III/2000, BP MPR yang melaksanakannya. lainnya yang diberikan oleh undang-undang”11.
Kalaupun pandangan ini dapat dibenarkan,
maka pengujian oleh lembaga MPR ini Sedangkan Pasal 24 C ayat (1) menyatakan :
tidaklah dapat dikategorikan sebagai “Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili
‘judicial review’, karena sama sekali tidak pada tingkat pertama dan terakhir yang
dilakukan oleh hakim, melainkan oleh putusannya bersifat final untuk menguji
‘legislator’. Namun demikian, ketentuan undang-undang terhadap Undang-Undang
demikian ini sangatlah keliru karena Dasar, memutus sengketa kewenangan lembaga
memberikan wewenang kepada lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh
yang tidak tepat. Tim ahli MPR Undang-Undang Dasar, memutus pembubaran
menentangnya dengan alasan kewenangan partai politik, dan memutus perselisihan tentang
itu adalah milik lembaga peradilan dan MA hasil pemilihan umum”12.
dapat membentuk kompartemen baru.
Meskipun TAP MPR No. III/MPR/2000 Dengan demikian, pengujian terhadap
adalah sah adanya, tetapi dalam materi peraturan oleh Mahkamah Konstitusi
penerapannya, ketentuan mengenai hanya dibatasi menyangkut
‘legislative review’ yang dimaksudkan dalam
Pasal 5 ayat (1) tersebut tidak akan mungkin
11 Republik Indonesia, Putusan Sidang
dapat dilaksanakan, karena memang isinya
Tahunan MPR-RI Tahun 2001, Sekretariat
keliru total. Fungsi pengujian Undang-
jenderal MPR-RI, 2001, hal.13.
undang adalah fungsi yang bersifat
permanen dan rutin, sedangkan forum MPR 12 Ibid.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 6


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

konstitusionalitas undang-undang saja, dan Undang-Undang Dasar. Sebelum hakim


penyelesaian sengketa antara pusat dan Mahkamah Konstitusi itu ada, kewenangan
daerah ataupun antar pemerintah daerah melakukan pengujian itu dilimpahkan
tidak ditentukan sebagai kewenangan kepada Mahkamah Agung. Beberapa
Mahkamah Konstitusi. Penyelesaian permasalahan sehubungan dengan
sengketa yang diputus oleh Mahkamah pelaksanaan kewenangan MK oleh MA
Konstitusi dibatasi hanya menyangkut pada masa transisi tersebut akan dielaborasi
sengketa kewenangan antar lembaga negara lebih lanjut.
yang kewenangannya diberikan oleh

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 7


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

BAB II

Judicial Review dalam Perundangan-Undangan


di Indonesia
Seperti dimaklumi, dalam sistem yang eksekutif, tetapi juga terhadap produk
dianut oleh UUD 1945 selama ini, MPR putusan judicial atau hakim sendiri.
diberi kedudukan sebagai lembaga tertinggi
negara. Dari lembaga tertinggi MPR itulah Amandemen ketiga UUD 1945 telah
cabang-cabang kekuasaan negara dibagikan menetapkan kewenangan untuk mereview
ke lembaga tinggi negara yang berada di UU ada di Mahkamah Konstitusi sedang
bawahnya sesuai dengan prinsip pembagian kewenangan mereview peraturan
kekuasaan. Karena itu, hubungan antar perundang-undangan di bawah UU
cabang kekuasaan legislatif dan eksekutif diserahkan ke MA. Hal ini potensial
tidak didasarkan atas prinsip ‘checks and menimbulkan masalah. Kemungkinan
balances’, dan karena itu, produk lembaga munculnya persengketaan antara
legislatif bersama-sama eksekutif berupa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
Undang-Undang dinilai tidak dapat atau lebih-lebih lagi antar Pemerintah
dilakukan pengujian (judicial review) oleh Daerah, sangat mungkin timbul karena
cabang kekuasaan kehakiman. Kalaupun hal adanya keputusan-keputusan yang bersifat
itu hendak dilakukan, maka pengujian itu mengatur (regeling) ataupun keputusan-
dilakukan oleh lembaga yang membuat keputusan penetapan administratif
aturan itu sendiri. (beschikking) yang dianggap merugikan salah
satu pihak. Bentuk-bentuk keputusan
Pengujian terhadap produk hukum di hukum tersebut dapat berbentuk keputusan
Indonesia dibagi dua, yaitu terhadap gubernur, keputusan bupati, ataupun
undang-undang (legislative acts) dan peraturan daerah. Padahal tingkatannya
terhadap produk di bawah undang-undang jelas berada di bawah Undang-undang yang
(executive acts). Yang kurang mendapat seharusnya menjadi objek pengujian oleh
perhatian dalam studi ilmu hukum selama Mahkamah Agung, bukan Mahkamah
ini adalah pengujian terhadap produk atau Konstitusi. Akibatnya sangat mungkin
putusan hakim sendiri yang cenderung terjadi dis-harmonisasi dalam putusan
tidak dipahami berada dalam konteks Mahkamah Agung dan Mahkamah
pengertian ‘judicial review’ juga. Di Indonesia Konstitusi untuk hal-hal yang berkaitan
sendiri dikenal adanya lembaga Peninjauan namun dengan yurisdiksi berbeda. Jika
Kembali (PK) oleh Mahkamah Agung, keduanya dibedakan, maka secara teoritis
bahkan terhadap putusan kasasi yang dapat saja terjadi dimana untuk satu perkara
dibuatnya sendiri. Di Jerman, dikenal pula yang terkait, putusan Mahkamah Agung
adanya kewenangan Mahkamah Konstitusi justru saling bertentangan dengan putusan
untuk menguji kembali putusan Mahkamah Mahkamah Konstitusi. Misalnya, oleh
Agung dari segi konstitusionalitas tidaknya Mahkamah Agung, suatu Peraturan
putusan itu. Dengan perkataan lain, dalam Pemerintah dinyatakan bertentangan
pengertian ‘judicial review’ itu terdapat pula dengan Undang-undang, tetapi oleh
pengertian mengenai pengujian kembali, Mahkamah Konstitusi, Undang-undang
tidak saja terhadap produk legislatif dan yang bersangkutan justru dinyatakan
bertentangan dengan Konstitusi.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 8


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

1. PERMA NO. 2 TAHUN 2002


Pasal III Aturan Peralihan UUD 1945 dilakukan Presiden dan atau wakil Presiden
menegaskan, Mahkamah Konstitusi tidak dapat disamakan dengan hukum cara
dibentuk selambat-lambatnya 17 Agustus untuk melakukan uji materil teradap
2003, dan sebelum dibentuk segala Undang-Undang.
kewenangannya dilakukan Mahkamah
Agung (MA). Konsekuesi dari ketentuan Kedua, pembatasan waktu untuk melakukan
Pasal III Aturan Peralihan UUD 1945 adalah Judicial Review undang-undang terhadap
bahwa sebelum MK terbentuk, segala fungsi Undang-Undang Dasar. Dalam pasal 2
dan kewenangan Mahkamah Konstitusi huruf a PERMA No. 2 tahun 2002
(MK) dilaksanakan oleh MA. Untuk ditegaskan bahwa permohonan tentang
melaksanakan kewenangan MK selama menguji undang-undang terhadap UUD
masa transisi, MA telah mengeluarkan diajukan dalam tenggang waktu 90 hari
Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) sejak Undang-undang itu diundangkan.
Nomor 2 Tahun 2002 tentang Tata Cara Secara khusus pembatasan ini dapat
Penyelenggaraan Wewenang Mahkamah dikatakan tidak sejalan dengan ketentuan
Konstitusi dan Mahkamah Agung. yang ada dalam Pasal 24 C, dan secara
umum tidak sejalan dengan filosofi
Meski sudah ada aturan di tingkat konstitusi pemberian kewenangan kepada MK untuk
ternyata tidak mudah merumuskan MK ke menguji UU. Semestinya MA tidak
dalam bentuk yang lebih operasional. membatasai UU yang bisa dimohonkan
Bahkan ada beberapa ketentuan PERMA judicial review. Karena sesuai PERMA No. 2
No. 2 Tahun 2002 yang harus mendapat Tahun 2002 berarti hanya UU baru saja yang
perhatian mendalam, terutama dalam bisa diuji dan dikontrol publik melalui
mewujudkan kehadiran MK dalam arti yang mekanisme Judicial Review. Sejalan dengan
sesungguhnya. Dari beberapa kelemahan tahun-tahun Orde Baru dan reformasi yang
tersebut, beberapa hal yang berhubungan yang telah menghasilkan berbagai produk
dengan pelaksanaan kewenangan Judicial peraturan yang seringkali tidak sesuai
Review antara lain adalah sebagai berikut : dengan kebutuhan masyarakat banyak dan
seringkali lebih merupakan dorongan politis
Pertama, berdasar ketentuan Pasal 24 Ayat dan kepentingan tertentu saja, maka
(1) dan (2) UUD, MK memiliki berbagai pembatasan ini terkesan lebih sebagai upaya
macam wewenang, namun PERMA No 2 untuk mengamankan produk-produk politis
Tahun 2002 tidak mampu memberi belaka. Selain itu kesadaran hukum
perbedaan untuk tiap kewenangan MK masyarakat yang dinamis dan selalu
dalam merumuskan hukum acara yang berubah seharusnya juga perlu diberikan
seharusnya memiliki kekhasan sendiri- ruang, sehingga justru penting untuk tidak
sendiri. Misalnya hukum acara untuk membatasi peraturan-peraturan yang dapat
memberikan putusan mengenai pendapat diajukan pada proses Judicial Review.
DPR tentang dugaan pelanggaran yang

2. PERMA NO. 1 TAHUN 1999


Seperti kita ketahui, bahwa selain UU.13 Namun demikian, berdasarkan TAP
menjalankan kewenangan pada masa
transisi sebelum berdirinya MK, MA juga
13 Moh. Yamin sempat mengusulkan
berwenang untuk mengadili perkara judicial
review untuk peraturan-peraturan di bawah perlunya ada lembaga yang memiliki fungsi
Undang-Undang. UUD 1945 secara sengaja untuk melakukan judicial review, namun hal
tersebut ditolak oleh Soepomo dengan alasan
tidak memberikan kewenangan kepada MA
utama bahwa ide tersebut hanya sesuai bagi
untuk melakukan judicial review terhadap negara yang menganut sistem pemisahan

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 9


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

MPR No. III Tahun 1978, kewenangan hanya dapat diajukan jika pemohon
tersebut diberikan ke MA secara terbatas, telah menggunakan upaya hukum
yaitu hanya untuk me-review peraturan banding kecuali ditentukan lain oleh
perundang-undangan yang tingkatnya UU;16
berada di bawah UU (yaitu PP ke bawah).14 - Yang dapat mengajukan gugatan adalah
Selain itu, kewenangan yang serupa diatur badan hukum dan kelompok
pula dalam UU No. 14 Tahun 1970 (Pasal 26) masyarakat (Pasal 1 ayat [5]), sedang
dan UU No. 14 Tahun 1985 (Pasal 31). yang dapat mengajukan permohonan
adalah kelompok masyarakat (Pasal 1
Ketentuan dalan kedua UU tersebut masih ayat [7]);
bersifat umum. Kedua UU tersebut pada - Tenggang waktu permohonan atau
intinya hanya menyatakan bahwa MA gugatan judicial review adalah 180 hari
berwenang untuk menyatakan tidak sah setelah peraturan perundang-undangan
peraturan perundang-undangan di bawah tersebut berlaku (Pasal 2 ayat [4]);
UU yang bertentangan dengan peraturan - Dalam pemeriksaan gugatan, tergugat
perundang-undangan yang lebih tinggi. (pihak pembuat peraturan perundang-
Putusan tersebut diambil melalui undangan) harus didengar
persidangan tingkat kasasi dan instansi keterangannya (Pasal 9 ayat [4]) sedang
yang bersangkutan harus segera mencabut dalam hal permohonan, pihak pembuat
peraturan perundang-undangan yang peraturan perundang-undangan tidak
dinyatakan bertentangan tersebut. perlu didengar pendapatnya;
- Bila MA mengabulkan gugatan atau
Karena sifat pengaturan dalam TAP MPR perhomonan judicial review maka pihak
dan UU di atas yang terlalu umum dan yang membuat peraturan perundang-
(khususnya karena ketidakjelasan prosedur undangan harus mencabutnya (Pasal 9
judicial review), pada tahun 1993 MA ayat [2] dan 10 ayat [2]) dan bila pihak
mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung yang membuat peraturan perundang-
(PERMA) tentang Hak Uji Material (judicial undangan tersebut tidak mencabutnya
review). PERMA tersebut kemudian diubah maka 90 hari setelah putusan MA
pada Tahun 1999 dengan dikeluarkannya tersebut, peraturan perundang-
PERMA No. 1 Tahun 1999. Beberapa pokok undangan yang harus dicabut dianggap
pengaturan dalam PERMA tersebut adalah : tidak sah dan tidak berlaku umum
(Pasal 12 ayat [1] dan 13 ayat [1]).
- MA memeriksa dan memutus judicial
review berdasarkan gugatan atau
permohonan (Pasal 1 ayat [1]); Terdapat beberapa catatan kritis mengenai
- Gugatan atau permohonan judicial PERMA No. 1 Tahun 1999 tersebut yang
review diajukan langsung ke MA (Pasal 1 masih memuat kelemahan-kelemahan yaitu
ayat [3] dan [4]. Hal ini berbeda dengan sebagai berikut :
ketentuan dalam TAP III/MPR/1978,
UU No. 14/1970 dan UU No. 14/1985 Pertama, melanggar Pasal 6 Ketetapan MPR
yang menyatakan bahwa putusan hak III/MPR/2000, yang berbunyi sebagai
uji material (judicial review) diambil berikut : “Tata cara pembuatan peraturan
berhubungan dengan pemeriksaan di perundang-undangan, peraturan pemerintah,
tingkat kasasi.15 Pemeriksaan kasasi peraturan daerah dan pengujian peraturan
perundang-undangan oleh Mahkamah Agung
serta pengaturan ruang lingkup keputusan
kekuasaan (trias politica) dan Indonesia tidak presiden diatur lebih lanjut dengan undang-
menggunakan sistem tersebut. undang”.

14 Pasal 11.

15 Pasal 31 ayat (3) UU No. 14/1985,

Pasal 26 ayat (2) UU No. 14/1970. 16 Pasal 43 UU No. 14/1985

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 10


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

Pengujian peraturan perundang-undangan untuk sebuah UU yang telah lama berlaku


oleh Mahkamah Agung tidak dapat diatur telah memberikan dampak yang bisa jadi
dengan Peraturan Mahkamah Agung tetapi besar, akibatnya kepastian hukum tidak
harus dengan undang-undang. dapat dijamin. Apalagi bila dampak tersebut
telah membawa kerugian sehingga akan ada
Kedua, Pasal 10 PERMA 1 Tahun 1999 tidak implikasi keuangan negara (jika akan
mewajibkan hakim untuk mendengar pihak dikenal adanya ganti rugi dari negara bila
Termohon. Tidak adanya kewajiban ada kerugian pemohon dengan
mendengar pendapat pihak yang diundangkannya UU yang bertentangan
mengeluarkan peraturan atau pihak yang dengan konstitusi). Namun di sisi lain,
terkena dampak judicial review dalam hal dengan menetapkan jangka waktu tertentu,
judicial review diajukan dengan mekanisme akibatnya akan banyak peraturan yang
permohonan dapat dikatakan melanggar sudah berlaku lama dan ternyata
Asas Audi et Alteram Partem, yang artinya menimbulkan permasalahan namun tidak
keterangan pihak lawan juga harus dapat diajukan judicial review.
didengar.
Keempat, PERMA juga melanggar Asas
Ketiga, dalam PERMA diatur mengenai tentang Terminologi dan Sistematika (Het
jangka waktu untuk mengajukan judicial Beginsel van duidelijke terminologie en
review yaitu 180 hari. Pembatasan waktu duidelijke systimatiek) karena dalam PERMA
setidaknya memiliki 2 implikasi yaitu (1) No. 1 Tahun 1999 tidak dapat dibedakan
pembatasan hak memohon di satu sisi (2) antara terminologi gugatan dan
bila tidak ada pembatasan waktu, maka permohonan.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 11


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

BAB III
Mekanisme Beracara dalam Judicial Review

1. Prinsip-Prinsip Hukum Acara


Proses judicial review dalam perumusan perkara yang bersangkutan tersebut untuk
hukum acaranya terikat oleh asas-asas ditinjau kembali.
publik. Di dalam hukum acara dikenal dua
jenis proses beracara yaitu “contentious b. Putusan memiliki kekuatan mengikat
procesrecht” atau hukum acara sengketa dan (erga omnes)
“non-contentieus procesrecht” atau hukum
acara non-sengketa. Untuk judicial review, Kewibawaan suatu putusan yang
selain digunakan hukum sengketa dikeluarkan institusi peradilan terletak pada
(berbentuk gugatan) juga digunakan hukum kekuatan mengikatnya. Putusan suatu
acara non sengketa yang bersifat volunteer perkara judicial review haruslah merupakan
(atau tidak ada dua pihak putusan yang mengikat para pihak dan
bersengketa/berbentuk permohonan). Bila harus ditaati oleh siapapun. Dengan asas ini
menelaah asas-asas hukum publik yang maka tercermin bahwa putusan memiliki
salah satunya tercermin pada asas hukum kekuatan hukum mengikat dan karena sifat
acara peradilan administrasi, maka proses hukumnya publik maka berlaku pada siapa
beracara judicial review seharusnya juga saja – tidak hanya para pihak yang
terikat pada asas tersebut. Asas tersebut berperkara.
adalah :

a. Asas Praduga Rechtmatig

Putusan pada perkara judicial review


seharusnya merupakan putusan akhir dan
mempunyai kekuatan hukum tetap pada
saat putusan dibacakan dan tidak berlaku
surut. Pernyataan tidak berlaku surut
mengandung makna bahwa sebelum
putusan dibacakan, obyek yang menjadi
perkara – misalnya peraturan yang akan
diajukan judicial review - harus selalu
dianggap sah atau tidak bertentangan
sebelum putusan Hakim atau Hakim
Konstitusi menyatakan sebaliknya.
Konsekuensinya, akibat putusan Hakim
adalah “ex nunc” yaitu dianggap ada sampai
saat pembatalannya. Artinya, akibat
ketidaksahan suatu peraturan karena
bertentangan dengan peraturan yang lebih
tinggi tidaklah berlaku surut namun sejak
pernyataan bertentangan oleh lembaga
berwenang (MA atau MK) ke depan.
Namun perlu juga dipikirkan tentang
dampak yang sudah terjadi, terutama untuk
kasus-kasus pidana, misalnya
dimungkinkan untuk mengajukan kembali

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 12


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

2. Pengajuan Permohonan atau Gugatan


Dalam PERMA No. 1 Tahun 1999
disebutkan bahwa pengajuan judicial review PERMA No. 1 tahun 1999 mengatur batas
dapat dilakukan baik melalui gugatan waktu 180 hari suatu putusan dapat
mapun permohonan. Sedangkan dalam diajukan judicial review. Sedangkan dalam
PERMA No. 2 Tahun 2002 untuk berbagai PERMA No. 2 tahun 2002, jangka waktu
kewenangan yang dimiliki oleh MK (dan untuk mengajukan judicial review hanyalah
dijalankan oleh MA hingga terbentuknya 90 hari. Seperti telah dijelaskan sebelumnya,
MK) tidak disebutkan pembedaan yang jelas pembatasan ini menimbulkan permasalahan
untuk perkara apa harus dilakukan melalui mengingat produk hukum yang potensial
gugatan dan perkara apa yang dapat bermasalah adalah produk hukum pada
dilakukan melalui permohonan, atau dapat masa orde baru dan masa transisi. Selain itu
dilakukan melalui dua cara tersebut. pembatasan waktu ini juga menafikan
Akibatnya dalam prakteknya terjadi kesadaran hukum masyarakat yang tidak
kebingungan mengingat tidak diatur tetap dan dinamis.
pembedaan yang cukup signifikan dalam
dua terminologi ini.

3. Alasan Mengajukan Judicial Review


Baik dalam Amandemen ke III UUD 1945 Namun pada umumnya beberapa alasan
tentang wewenang MK dan MA atas hak uji yang dapat dijadikan alasan untuk
materiil, yang kemudian dituangkan lebih pengajuan judicial review adalah sebagai
lanjut sebelum keberadaan MK melalui berikut :
PERMA No. 2 Tahun 2002, maupun dalam
PERMA No. 1 Tahun 1999 tidak disebutkan Bertentangan dengan UUD atau
alasan yang jelas untuk dapat mengajukan peraturan lain yang lebih tinggi.
permohonan/gugatan judicial review. Dalam Dikeluarkan oleh institusi yang tidak
PERMA hanya disebutkan bahwa MA bewenang untuk mengeluarkan
berwenang menguji peraturan perundang- peraturan perundang-undangan yang
undangan di bawah undang-undang bersangkutan.
terhadap undang-undang atau dalam hal Adanya kesalahan dalam proses
pengajuan keberatan adalah alasan dugaan pembuatan peraturan perundang-
peraturan tersebut bertentangan dengan undangan yang bersangkutan.
undang-undang yang lebih tinggi. Terdapat perbedaan penafsiran
Sedangkan Amandemen hanya terhadap suatu peraturan perundang-
menyebutkan obyek judicial review saja dan undangan.
siapa yang berwenang memutus. Terdapat ambiguitas atau keragu-
raguan dalam penerapan suatu dasar
hukum yang perlu diklarifikasi.

4. Pihak yang Berhak Mengajukan Judicial Review


Dalam PERMA No. 1 Tahun 1999 tentang legal standing) dalam mengajukan
Hak Uji Materiil disebutkan bahwa permintaan pengujian UU adalah mereka
Penggugat atau Pemohon adalah badan yang memiliki kepentingan langsung dan
hukum, kelompok masyarakat. Namun mereka yang memiliki kepentingan yang
tidak dijelaskan lebih lanjut badan hukum tidak langsung. Rasionya karena sebenarnya
atau kelompok masyarakat yang dimaksud UU mengikat semua orang. Jadi sebenarnya
dalam PERMA ini seperti apa. Yang semua orang “harus” dianggap
seharusnya dapat menjadi pihak (memiliki berkepentingan atau punya potensi

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 13


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

berkepentingan atau suatu UU. Namun bila 1. Berbentuk organisasi kemasyarakatan


semua orang punya hak yang sama, ada dan berbadan hukum tertentu.
potensi penyalahgunaan hak yang akhirnya 2. Dalam Anggaran Dasar-nya
dapat merugikan hak orang lain. Namun menyebutkan bahwa pencapaian tujuan
karena pengajuan perkara dapat dilakukan mereka terhalang oleh perundang-
oleh individu maka sangat mungkin undangan.
dampaknya adalah pada menumpuknya 3. Yang bersangkutan telah melaksanakan
jumlah perkara yang masuk kegiatan sesuai dengan Anggaran
Dasar-nya.
Untuk itu di masa mendatang idealnya 4. Dalam hal pribadi juga dapat memiliki
dalam pengajuan perkara hak uji materil legal standing, maka ia harus
maka perlu diperhatikan bahwa yang membuktikan bahwa dirinya memiliki
berhak mengajukan permohonan/gugatan concern yang tinggi terhadap suatu
adalah kelompok masyarakat yang : bidang tertentu yang terhalang oleh
perundang-undangan yang
bersangkutan.

5. Putusan dan Eksekusi Putusan


Dalam PERMA No. 1 Tahun 1999 Dalam hal demikian maka dimungkinkan
disebutkan bahwa bila dalam 90 hari setelah dibuka kembali persidangan mengingat
putusan diberikan pada tergugat atau tuduhan didasarkan pada peraturan yang
kepada Badan/Pejabat TUN, dan mereka dianggap inkonstitusional; Alternatif kedua,
tidak melaksanakan kewajibannya, maka dapat diberikan kewenangan bagi MA
peraturan perundang-undangan yang ataupun MK (nantinya) untuk memutus
dimaksud batal demi hukum. Putusan dampak atas masing-masing putusan
dibacakan di sidang yang terbuka untuk apakah berdampak pada peraturan yang
umum, putusan yang sudah diambil timbul sejak pencabutan dilakukan (ex nunc)
mengikat. atau berdampak retroaktif (ex tunc).

Hal ini dapat diartikan bahwa jika Dalam hal pencabutan putusan secara ex
dinyatakan suatu UU - baik seluruh tunc, complaint individu terhadap suatu
pasalnya (berhubungan dengan keseluruhan peraturan yang bersangkutan harus
jiwanya) atau pasal-pasal tertentunya saja memiliki dampak umum (erga omnes),
bertentangan dengan UUD, maka putusan karena landasan hukum suatu putusan
tersebut wajib dicabut oleh DPR dan pengadilan atau penetapan administratif
Presiden dalam waktu tertentu. Jika tidak, telah dinyatakan batal demi hukum atau
maka UU tersebut otomatis batal demi dalam proses pembatalan. Dengan demikian
hukum. peraturan yang berlaku individu yang
didasarkan pada landasan hukum yang
Kurang lebih ada dua alternatif yang dapat serupa juga menjadi tidak berlaku.
ditawarkan untuk perbaikan di kemudian
hari, yaitu : Alternatif pertama, segala Di sini prinsip jaminan terhadap individu di
peraturan atau kelengkapan dari peraturan satu sisi dan prinsip kepastian hukum di sisi
yang diputuskan tidak konstitusional lain harus berjalan seimbang. Setidaknya
kehilangan pengaruhnya sejak hari dimana putusan dalam perkara kriminal harus
putusan tersebut dibuat. Dengan catatan dapat dibuka kembali oleh peradilan biasa
peraturan atau kelengkapan darinya dengan berdasarkan adanya pembatalan
sehubungan dengan hukum pidana dari norma hukum pidana yang menjadi
kehilangan pengaruhnya secara retroaktif. dasar dari putusan tersebut.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 14


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

BAB IV

Praktek Judicial Review di Indonesia

Mencermati perkembangan penerimaan dalam mewujudkan penyelenggaraan


publik terhadap substansi produk hukum negara yang bebas dan bersih korupsi,
yang dihasilkan dalam beberapa waktu kolusi dan nepotisme (KKN).
terakhir, judicial review menjadi pilihan yang
tidak mungkin dihindarkan untuk Untuk lebih mendalami bagaimana suatu
‘mengkoreksi’ kesalahan yang mungkin perkara Judicial Review berproses, maka
terjadi dalam sebuah produk hukum. perlu dipaparkan beberapa contoh kasus
Bahkan bagi banyak kalangan, pengajuan uji secara mendetail. Kasus di bawah ini dapat
materil menjadi kebutuhan yang mendesak. dijadikan contoh bagaimana Mahkamah
Agung memutuskan permohonan uji
Kecenderungan ke arah ini dapat dilihat materiel atas satu Peraturan Pemerintah
dari keinginan beberapa kelompok terhadap Undang-Undang. Peraturan
masyarakat untuk mengajukan permohonan Pemerintah No. 19 Tahun 2000 yang
dan gugatan uji materiil berbagai produk menjadi landasan terbentuknya Tim
hukum yang mereka nilai mengandung Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana
kontroversial kepada Mahakamah Agung. Korupsi dinyatakan oleh Mahkamah Agung
Beberapa diantaranya adalah sebagai bertentangan dengan Undang-Undang No.
berikut : 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi.
Pertama, Pengajuan hak uji materiil terhadap
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang- Untuk melihat berbagai kelemahan dalam
Undang (Perpu) No. 1 Tahun 2002 tentang pengajuan suatu kasus, maka akan dilihat
Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme bagaimana suatu kasus dengan logika dan
dan Perpu Nomor 2 Tahun 2002 tentang latar belakang yang kurang lebih sama
Pemberlakuan Perpu Nomor 1 Tahun 2002 ternyata diputus secara berbeda. Suatu
tentang Persitiwa Peledakan Bom Bali proses penyelesaian perkara tidak dapat
(selanjutnya ditulis Perpu Antiterorisme) dilihat hanya dari perspektif hukum saja,
oleh sejumlah tokoh organisasi non- namun perlu dicermati lebih lanjut konteks
pemerintah. Pengajuan ini dilakukan suatu perkara dan hal-hal yang
dengan pertimbangan bahwa Perpu melatarbelakangi perkara tersebut. Kasus
Antiterorisme dianggap tidak layak judicial review yang dipaparkan berikut
diterapkan karena banyak materinya dinilai selain menarik untuk dicermati dari
bertentangan dengan UUD 1945 dan perspektif hukum juga mengandung
undang-undang. muatan non hukum yang cukup kompleks.
Berkaca dari perkara ini, maka dapat terlihat
Kedua, Hal yang sama juga dilakukan oleh bahwa proses penyelesaian suatu perkara
Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggara tidak murni bergantung pada aturan-aturan
Negara (KPKPN) terhadap Undang-Undang normatif yang tersedia, namun lebih jauh
Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi lagi bergantung juga pada kepentingan yang
Pemberantasan Koruspi (KPK). Langkah bermain di dalamnya, dan kelemahan pada
hukum ini dilakukan oleh KPKPN karena sistem peradilan yang berpengaruh pada
Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 kualitas putusan.
dinilai telah menghilangkan amanat
Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1998

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 15


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

1. Kasus Indra Sahnun versus TGPTPK


Pada tanggal 4 September 2000, Indra sebagaimana dimaksud dalam Pasal 43 UU No.
Sahnun Lubis dan kawan-kawan 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak
mengajukan permohonan hak uji materil Pidana Korupsi”. Dengan demikian, Pasal 18
atas PP No. 19 Tahun 2000 tentang Tim PP telah mengidentikkan atau
Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana menggantikan Komisi Pemberantasan
Korupsi17 ke Mahkamah Agung yang Tindak Pidana Korupsi untuk sementara
dianggap bertentangan dengan UU No. 31 waktu dengan Tim Gabungan
Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Pidana Korupsi18. Pembentukan Komisi yang seharusnya
dilakukan dengan Undang-undang telah
Ada dua dalil yang dipergunakan oleh direduksikan oleh Pemerintah dengan
pemohon dalam permohonan pengujian membentuk Tim Gabungan dengan
terhadap materi Peraturan Pemerintah Peraturan Pemerintah.
tersebut. Pertama, ketentuan dalam PP No.
19/2000 tersebut dinilai oleh pemohon Atas dasar kedua dalil tersebut, majelis
melanggar ketentuan Pasal 27 UU No. 31 hakim Mahkamah Agung dimohon untuk :
Tahun 1999. Pasal ini berbunyi : “Dalam (i) mengabulkan permohonan para
menentukan tindak pidana yang sulit pemohon seluruhnya, (ii) menyatakan PP
pembuktiannya, maka dapat dibentuk tim No. 19 Tahun 2000 tidak sah dan tidak
gabungan dalam koordinasi Jaksa Agung”. berlaku untuk umum, (iii) memerintahkan
Pemerintah/Presiden untuk mencabut PP
Sedangkan dalam Konsideran PP No. 19 No. 19 Tahun 2000 dengan ketentuan
Tahun 2000 huruf ‘a’, dinyatakan : “Untuk apabila dalam tempo 90 hari setelah putusan
meningkatkan efisiensi dan efektifitas dikirimkan (disampaikan) ternyata tidak
pemberantasan tindak pidana korupsi, Pasal 27 dilaksanakan pencabutan, demi hukum, PP
UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan yang bersangkutan tidak mempunyai
Tindak Pidana Korupsi memerintahkan kekuatan hukum, dan (iv) menghukum
pembentukan Tim Gabungan di bawah pihak pemerintah untuk membayar biaya
koordinasi Jaksa Agung”. Dalam Pasal 6 ayat perkara19. Dalam putusannya, Majelis
(2) PP tersebut juga ditegaskan bahwa Hakim Mahkamah Agung mengabulkan
“Keanggotaan Tim Gabungan bersifat seluruh permohonan hak uji materil tersebut
permanen”. Padahal, menurut ketentuan dengan pertimbangan bahwa dalam
Pasal 27 UU di atas, pembentukan tim membuat suatu peraturan, tidak cukup
tersebut tidaklah mutlak dan sifatnya tidak hanya mendasarkan diri pada asas
harus permanen, melainkan cukup bersifat kemanfaatan/ kebutuhan/tujuan tertentu,
insidentil dan temporer. tetapi juga harus sesuai dengan prinsip
supremasi hukum, yaitu suatu peraturan
Kedua, Pasal 43 ayat (1) UU No. 31 Tahun baik secara formal maupun substansial tidak
1999 menyatakan : “Dalam waktu paling lama melanggar asas-asas kaedah hukum atau
2 (dua) tahun sejak UU ini mulai berlaku, tidak bertentangan dengan peraturan yang
dibentuk Komisi Pemberantasan Tindak Pidana lebih tinggi. Tegasnya, penerapan asas
Korupsi”. Dalam rangka pelaksanaan kemanfaatan (doelmatigheid) harus
ketentuan tersebut Pasal 18 PP No. 19/2000 didampingi dengan penerapan asas legalitas
menyatakan : “Tim gabungan melaksanakan (rechtsmatigheid), termasuk dalam kaitannya
tugas dan wewenangnya selama belum dibentuk dengan prinsip hirarki peraturan
Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi perundang-undangan yang tidak boleh
dilanggar. Sehubungan dengan itu, majelis
17 TLN-RI Tahun 2000 No. 3948.
19 Putusan Mahkamah Agung Republik
18 LN-RI Tahun 1999 No. 140. Indonesia No. 03P/HUM/2000, tertanggal 23
Maret 2001, Varia Peradilan, tahun 2001.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 16


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

hakim berpendapat bahwa Peraturan korupsi, melakukan penyadapan,


Pemerintah No. 19 Tahun 2000, baik dari mengusulkan pencekalan dan
segi formal maupun substansial materiil, merekomendasikan kepada atasan
mengandung materi muatan yang tersangka untuk pemberhentian sementara
bertentangan dengan Undang-undang. tersangka dari jabatannya. Padahal
Peraturan Pemerintah, secara hukum, tidak
Pertimbangan-pertimbangan yang diberikan dapat menambah ataupun mengurangi
oleh majelis hakim mengenai hal tersebut kewenangan-kewenangan yang seharusnya
mencakup sembilan dalil sebagai berikut. dituangkan dalam bentuk undang-undang.
Pertama, Pasal 6 ayat (2) PP menyatakan : Setiap hal yang dapat meniadakan ataupun
“Keanggotaan tim gabungan sebagaimana mengurangi hak-hak warga negara ataupun
dimaksud dalam ayat (1) bersifat tetap”. Pasal 7 yang membebani warga negara dengan
ayat (1) menyatakan : “Tim gabungan dalam kewajiban-kewajiban keuangan ataupun
melaksanakan tugas dan wewenangnya dibantu kewajiban lainnya yang kebebasannya
oleh sekretariat tim gabungan”. Pasal 13 ayat dijamin berdasarkan konstitusi, tidak boleh
(1) menyatakan : “Dalam rangka melaksanakan ditetapkan sendiri oleh pemerintah tanpa
tugas tim gabungan, ketua tim gabungan dapat mendapat persetujuan rakyat melalui wakil-
mengusulkan pembentukan satuan tugas wakilnya di parlemen. Karena itu,
penyidikan dan penuntutan kepada Jaksa pengaturan seperti itu harus dituangkan
Agung”. Padahal, Pasal 27 UU No. 31/1999 dalam bentuk undang-undang, bukan
mengandung makna bahwa tim gabungan dalam bentuk Peraturan Pemerintah.
itu bersifat tidak tetap, temporer, insidentil,
fakultatif, kasuistis, dan bukanlah suatu Keempat, di samping hal tersebut di atas,
keharusan untuk dibentuk. perluasan kewenangan juga diberikan oleh
Pasal 12 ayat (4) PP yang menentukan
Kedua, Pasal 5 PP menyatakan bahwa bahwa Ketua Tim Gabungan, dengan
keanggotaan tim gabungan mencakup unsur persetujuan Jaksa Agung, dapat
kepolisian, kejaksaan, instansi terkait dan menetapkan Surat Penghentian Pemeriksaan
unsur masyarakat. Keikutsertaan unsur Perkara (SP3). Padahal, hal ini jelas
masyarakat memang terkait dengan seharusnya diatur dalam undang-undang,
ketentuan Pasal 43 ayat (4) UU yang bukan dalam Peraturan Pemerintah. UU
menyatakan bahwa salah satu unsur telah menentukan sendiri secara eksklusif
anggota komisi pemberantasan tindak tentang pejabat yang berwenang melakukan
pidana korupsi berasal dari unsur penyidikan tersebut.
masyarakat, namun hal itu harus diatur
dengan undang-undang, bukan dengan Kelima, Pasal 6 ayat (2), Pasal 11 ayat (5) dan
Peraturan Pemerintah. Keikutsertaan unsur Pasal 12 ayat (4) PP memuat ketentuan yang
masyarakat dalam pelaksanaan fungsi mencerminkan pengertian bahwa Tim
penyidikan harus dituangkan dalam bentuk Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana
undang-undang, karena kewenangan Korupsi yang dimaksud dalam PP No.
penyidikan itu sendiri diatur dengan 19/2000 tersebut merupakan badan yang
undang-undang. bersifat tetap, seakan-akan sudah menjadi
Komisi yang bersifat permanen, yang
Ketiga, Pasal 11 ayat (5) PP menentukan seharusnya dituangkan pengaturannya
penambahan dan pemekaran kewenangan dalam undang-undang.
penyidik, sehingga mencakup pula
berwenang untuk meminta keterangan Keenam, tidak ada satu pasalpun dalam UU
mengenai keuangan tersangka pada bank, No. 31/1999 yang mendelegasikan (delegated
meminta bank memblokir rekening legislation) perluasan dan pemekaran
tersangka, membuka/memeriksa/menyita kewenangan melalui Peraturan Pemerintah.
surat dan kiriman melalui pos,
telekomunikasi atau alat lain yang Ketujuh, majelis hakim berpendapat bahwa
berhubungan dengan tindak pidana UU No. 31 Tahun 1999 merupakan

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 17


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

ketentuan primer yang tidak dapat TGPTPK itu bersifat tetap sekalipun
dikesampingkan baik dalam bentuk tidaklah terlalu prinsipil, sehingga harus
penambahan, pengurangan ataupun dengan dianggap bertentangan dengan UU. Apalagi
membuat peraturan pelaksanaan yang tidak sifat keanggotaan TGPTPK yang tetap justru
sesuai dengan perintah UU tersebut dengan diperlukan untuk membantu Jaksa Agung
ketentuan yang bersifat sekunder, yang berdasarkan kebutuhan yang penilaiannya
dalam hal ini melalui PP No. 19/2000. ditentukan oleh Jaksa Agung sendiri.
Banyak lagi argumen-argumen tandingan
Kedelapan, majelis hakim berpendapat yang juga masuk akal yang dapat diajukan
bahwa Pasal 18 PP No. 19 Tahun 2000 telah terhadap pertimbangan-pertimbangan
menyisihkan hakikat Pasal 43 ayat (1) UU majelis hakim tersebut.
No. 31 Tahun 1999 dan karenanya Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Namun demikian, argumen atau
menjadi benda yang terasing, karena telah pertimbangan-pertimbangan hukum yang
disubstitusikan keberadaannya oleh PP No. digunakan oleh majelis hakim dalam
19/2000 dengan Tim Gabungan. memutus perkara pengujian materiel
terhadap PP No. 19 Tahun 2000 itu harus
Kesembilan, majelis hakim menimbang agar diakui memang mempunyai dasar yang
hakikat UU No. 31/1999 tidak hilang maka logis, terutama jika pertimbangannya
PP No. 19/2000 harus dicabut dan materi melulu mendasarkan diri pada penerapan
kewenangan yang terdapat dalam PP prinsip ‘rechtsmatigheid’. Akan tetapi, seperti
tersebut dilembagakan menjadi kewenangan diakui sendiri oleh majelis hakim, prinsip
Komisi Pemberantasan Tindak Pidana ‘rechtsmatigheid’ itu harus diterapkan secara
Korupsi sebagaimana diamanatkan oleh UU berimbang dengan prinsip ‘doelmatigheid’.
No. 31/1999 untuk segera dibentuk. Setiap aturan hukum mengandung di dalam
dirinya tujuan yang hendak dicapai yang
Hubungan Kepentingan yang Terlibat dan diidealkan memberi manfaat (asas
Kedudukan Hakim kemanfaatan) bagi kehidupan bersama
dalam masyarakat. Nilai tujuan atau
Dalil-dalil yang digunakan oleh majelis manfaat ini tidak boleh terganggu atau
hakim untuk memutuskan mengabulkan diabaikan begitu saja hanya karena soal cara
permohonan pemohon, secara teknis hukum dan prosedur yang bersifat teknis. Namun,
memang dapat dinilai masuk akal dan sebaliknya, tujuan juga tidak boleh
sesuai dengan prinsip legalitas atau menghalalkan segala cara (the end may not
memenuhi unsur-unsur ‘rechtsmatigheid’ justify the means). Karena itu, penting sekali
yang lazim dan diakui dalam hukum. Sudah menemukan titik keseimbangan di antara
tentu, argumentasi yang bertentangan juga keduanya.
dapat saja dibangun untuk melawan dalil-
dalil yang dikembangkan oleh majelis Majelis Hakim dalam pertimbangannya
hakim. Misalnya, dapat ditelaah secara kritis mengemukakan : “…suatu peraturan
apakah benar TGPTPK identik atau perundang-undangan tidak cukup hanya
mengidentikkan diri dengan Komisi mendasarkan pada asas
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi kemanfaatan/kebutuhan/ tujuan tertentu,
sebagaimana dipahami oleh majelis hakim. namun juga harus sesuai dengan prinsip
Ketentuan mengenai Tim Gabungan itu supremasi hukum…”, dan juga menyatakan
sendiri diatur jelas dalam Pasal 27 UU No. : “…upaya pemberantasan korupsi harus
31 Tahun 1999, sedangkan Komisi diatur didukung sepenuhnya dan harus diberantas
dalam Pasal 43 UU yang sama. Kesimpulan secara tidak kepalang tanggung, tanpa
majelis hakim yang menyatakan bahwa memandang siapapun pelakunya, sesuai
TGPTPK berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat dengan asas kesamaan di depan hukum.
(2) adalah badan yang bersifat tetap, Namun, asas tujuan kemanfaatan harus
sepenuhnya merupakan penafsiran hakim didampingi dengan penerapan asas
yang sifatnya sangat relatif. Lagi pula, jika “legalitas”. Dari kedua pernyataan tersebut

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 18


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

jelas bahwa majelis hakim berada dalam tidak biasa dan tidak konvensional. Jika
posisi ingin memperjuangkan penerapan penanganan masalah kejahatan korupsi
asas legalitas di samping asas tujuan dan hanya dilakukan dengan tata cara dan
kemanfaatan yang diasumsikan telah prosedur yang biasa, maka hasilnya dinilai
menjadi landasan yang kokoh bagi tidak akan maksimal, atau malah tidak akan
berdirinya Tim Gabungan Pemberantasan menghasilkan apa-apa. Apalagi, perkara
Tindak Pidana Korupsi yang eksistensinya yang dihadapi menyangkut hukum pidana,
berdasarkan PP No. 19 Tahun 2000 digugat bukan perdata, yang dalam proses
oleh Indra Sahnun Lubis dan kawan-kawan. pembuktiannyapun cukup ditemukan
Dengan perkataan lain, secara psikologis, kebenaran yang bersifat formil saja. Dalam
majelis hakim mempunyai posisi dan pembuktian perkara pidana, para hakim
pandangan yang sejalan dengan perlu menggali dan menemukan kebenaran
kepentingan pemohon uji materiel dalam materiel di balik alat-alat bukti yang
upaya merumuskan keseimbangan antara tersedia. Karena itu, majelis hakim sudah
prinsip ‘doelmatigheid’ dan ‘rechtsmatigheid’. seharusnya mengutamakan lebih dulu asas
kemanfaatan dan kemuliaan tujuan
Sebaliknya, para pembela PP No. 19 Tahun pemberantasan tindak pidana korupsi itu,
2000 dapat pula mengemukakan argumen barulah mengimbanginya dengan jaminan
sebaliknya, yaitu prosedur dan tata cara penerapan asas legalitas.
teknis tidak seharusnya menjadi penghalang
untuk mencapai tujuan yang mulia Kedua logika pemohon keberatan terhadap
memberantas tindak pidana korupsi. PP No. 19/2000 dan logika pembela PP
Kejahatan korupsi di Indonesia dinilai telah tersebut, pada pokoknya, sama-sama dapat
berurat berakar dalam keseluruhan sendi dibenarkan secara hukum. Akan tetapi, para
kehidupan masyarakat Indonesia. Karena hakim haruslah benar-benar berdiri di
itu, bahayanya sudah melebihi dampak dan tengah-tengah dan menyelesaikan perkara
bahaya pelanggaran terhadap hak asasi yang menyangkut pertentangan
manusia. Kejahatan korupsi itu bahkan kepentingan di antara keduanya secara adil
dapat disetarakan dengan jenis pelanggaran (just), bebas (independent) dan tidak
hak asasi manusia yang berat (gross violation memihak (impartial). Oleh karena itu,
of human rights), yang biasa disebut sebagai penting sekali artinya untuk mendudukkan
kejahatan terhadap kemanusiaan. Jika, lebih dulu secara proporsional mengenai
penyelesaian terhadap kasus-kasus posisi hakimnya sendiri serta para pihak
pelanggaran terhadap hak asasi manusia yang terlibat dalam persengketaan.
yang berat memerlukan mekanisme Siapakah pemohon dan siapakah para
pengadilan yang bersifat khusus, yaitu hakimnya. Apakah ada hubungan
pengadilan hak asasi manusia, maka sudah kepentingan antara keduanya, dan apakah
seyogyanya pemberantasan terhadap tindak hubungan kepentingan yang terdapat antara
pidana korupsi ini dilakukan secara khusus kasus yang terjadi dengan para pemohon.
pula dengan dibentuknya pengadilan
khusus yang dilengkapi dengan institusi Pertama, apa sebenarnya yang menyebabkan
penyidik yang bersifat khusus pula. Indra Sahnun Lubis merasa sangat
berkepentingan sehingga mereka
Komisi Pemberantasan Tindak Pidana mengajukan permohonan keberatan
Korupsi yang dimaksud dalam Undang- terhadap PP No. 19 Tahun 2000 tersebut.
Undang No. 31 Tahun 1999 dan Tim Atas dasar kepentingan apa sehingga
Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana mereka merasa terdorong untuk
Korupsi yang dimaksud dalam Peraturan mengajukan permohonan. Apakah murni
Pemerintah No. 19 Tahun 2000 tidak lain atas dasar kepentingan hukum dalam arti
merupakan wadah khusus yang diperlukan norma yang bersifat umum (general norms)
dalam rangka penanganan kasus-kasus atau atas dasar kepentingan membela dan
tindak pidana korupsi dengan melindungi warga negara yang terancam
menggunakan cara-cara dan prosedur yang oleh eksistensi Tim Gabungan

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 19


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Upaya pengujian atas materi suatu


berdasarkan PP No. 19 Tahun 2000 tersebut. peraturan perundang-undangan malah
Jika pilihannya adalah yang terakhir, berarti seharusnya dibatasi, sehingga mekanisme
kepentingan hukum yang terlibat di ‘judicial review’ tidak dimanfaatkan oleh
dalamnya berkaitan dengan norma hukum pihak-pihak tertentu yang telah dinyatakan
yang nyata-nyata -- dengan meminjam sebagai terdakwa atau tersangka
istilah yang dipergunakan oleh Hans Kelsen berdasarkan peraturan perundang-
dalam pandangannya mengenai ‘stuffenbau- undangan tersebut. Dengan demikian,
theorie’ -- bersifat konkrit dan individual ‘judicial review’ benar-benar digunakan
(concrete and individual norms), bukan norma sebagai upaya hukum yang dimaksudkan
hukum yang bersifat umum (general untuk penataan sistem hukum agar
norms)20. harmonis dan sinergis antara satu sama lain,
baik secara horizontal maupun vertikal. Jika
Dipandang dari latar belakang pengajuan para pemohon terkait dengan kepentingan
permohonan keberatan atas PP No. 19 yang menyangkut norma yang konkrit dan
Tahun 2000 tersebut, kasus ini jelas-jelas individual, maka seyogyanya hakim
menyangkut kepentingan para pemohon menolak permohonan yang bersangkutan,
yang mewakili kepentingan 2 orang hakim dan menganjurkannya menyelesaikan
agung yang menjadi tersangka tindak perkaranya terlebih dulu melalui proses
pidana korupsi oleh TGPTPK. Sangat boleh peradilan biasa. Dengan demikian tidak
jadi, kedua hakim agung tersebut memang timbul ‘conflict of interests’ dalam upaya
tidak bersalah. Akan tetapi, ditinjau dari pembangunan dan penegakan sistem
segi prosedur objektifnya, kepentingan hukum yang berkeadilan.
hukum yang terkait dalam kasus ini
menyangkut norma hukum yang bersifat Kedua, ketua majelis hakim yang mengadili
konkrit dan individual (conrete and individual perkara ‘judicial review’ atas PP No. 19 tahun
norm), yaitu kepentingan 2 orang hakim 2000 itu adalah Prof. Dr. Paulus Effendi
agung yang disangka melakukan tindak Lotulung yang sebelumnya pernah berperan
pidana korupsi, dan tidak secara langsung sebagai penasehat hukum bagi kedua
berkaitan dengan materi muatan PP No. tersangka. Karena itu, mudah diduga bahwa
19/2000 yang berisi norma yang berlaku majelis hakim ini yang diketuai Paulus
umum (general norms). Oleh karena itu, Effendi Lotulung akan berpihak dan tidak
penyelesaian perkara yang menyangkut netral. Lebih-lebih, karena para tersangka
kepentingan hukum yang bersifat konkrit adalah hakim agung, sudah tentu majelis
dan individuil (concrete and individual norms) hakim Mahkamah Agung sendiri secara
ini seharusnya tidak diselesaikan melalui diam-diam akan berusaha keras membela
pengujian terhadap PP yang berisi norma kepentingan rekan sendiri melalui
umum (general norms), melainkan dilakukan penyidangan permohonan uji materiel
melalui proses peradilan biasa. Dalam terhadap materi PP No. 19/2000 tersebut,
proses peradilan itu sudah dengan sendiri sebelum perkara kedua hakim agung itu
majelis hakim juga dapat mengesampingkan sendiri disidangkan di pengadilan. Dengan
berlakunya suatu Peraturan Pemerintah begitu, proses peradilan terhadap kedua
yang dinilai oleh hakim bertentangan hakim agung tersebut dapat dihindarkan,
dengan Undang-Undang. Akan tetapi, karena dasar hukum institusi penyidik
putusan mengenai hal itu diambil oleh terhadap keduanya, yaitu PP No. 19 Tahun
hakim dalam proses peradilan terhadap 2000 telah dinyatakan tidak berlaku secara
kedua terdakwa hakim agung tersebut. hukum.

Pasal 42 ayat (1) dan (2) UU No. 14 Tahun


Hans Kelsen, General Theory of Law and
20
1985 jelas menentukan : “…seorang hakim
State, Cambridge University Press, 1949. Lihat tidak diperkenankan mengadili dimana ia
juga Pure Theory of Law, (translation by Max
berkepentingan baik langsung maupun
Knight), University of California Press, Berkeley,
LA, London, 1978, hal. 19.
tidak...”. Karena itu, Prof. Dr. Paulus Effendi

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 20


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

Lotulung, SH sebaiknya tidak era ‘Rechtsstaat’. Dalam proses transisi itu,


diperkenankan mengadili perkara ‘judicial sistem demokrasi yang dipraktekkan masih
review’ atas PP No. 19/2000 sebelum perkara harus disebut sebagai ‘transitional democracy’,
dua hakim agung itu sendiri diselesaikan. dan prinsip-prinsip keadilan yang
ditegakkan masih bersifat ‘transitional
Bahkan, majelis hakim dan Mahkamah justice’. ‘Rule of the game’ yang dipakai
Agung sendiri seharusnya menolak selama masa transisi itu juga bersifat
permohonan pengujian materiel atas PP No. transisional, alias belum sepenuhnya ideal.
19/2000 tersebut sebelum, perkara tuduhan Sistem hukum dan konstitusi yang
korupsi terhadap kedua orang hakim agung seharusnya dijadikan standard pengambilan
yang terlibat itu diselesaikan secara hukum. keputusan untuk mewujudkan keadilan itu
Bahkan selama status mereka berdua masih juga sedang mengalami reformasi dan
sebagai hakim agung, maka Mahkamah penataan kembali secara bertahap. Inilah
Agung sendiri tidak boleh dan tidak yang menjadi hakikat era reformasi politik,
mungkin bertindak sebagai hakim yang reformasi ekonomi, dan reformasi hukum
akan menjamin keadilan yang sejati. Prinsip- yang menjadi pesan gerakan reformasi
prinsip ini penting dijadikan pegangan nasional sejak tahun 1998. Memang benar,
karena hakim haruslah bekerja secara masa transisi haruslah dibatasi secara tegas
merdeka (independent) dan tidak memihak waktunya. Akan tetapi, dari segi hokum,
(impartial). batas era transisi itu sangatlah jelas, yaitu
sampai dokumen hukum tertinggi, yaitu
Prinsip ‘Doelmatig’ dan ‘Rechtsmatig’ di naskah Undang-Undang Dasar selesai
Era Transisional diubah menjadi hukum dasar yang utuh.
Sejak tahun 1999 sampai dengan tahun 2001,
Dalam rangka mencapai atau menemukan UUD 1945 telah diubah tiga kali. Akan
titik keseimbangan antara prinsip tetapi, perubahan itu dilakukan secara
‘doelmatigheid’ dan ‘rechtsmatigheid’ seperti cicilan dan sepenggal-sepenggal, sehingga
yang dikemukakan di atas, selain faktor hasilnya belum belum bersifat utuh. Karena
subjek yang terlibat, yang juga penting itu, keseluruhan naskah UUD 1945 yang asli
diperhatikan adalah faktor kondisi ditambah tiga naskah Perubahan yang
lingkungan strategik yang mempengaruhi sudah disahkan, belum dapat difungsikan
proses penentuan keputusan yang adil dan sebagai satu kesatuan konstitusi yang
tepat. Di dalamnya terdapat konteks ruang mengandung hukum dasar yang utuh.
(space) dan waktu (time) yang sangat Sebelum konstitusi negara kita selesai
mempengaruhi. Yang dimaksud dengan dirumuskan menjadi hukum dasar yang
ruang disini dapat berupa ruang ke- utuh, sistem hukum Indonesia yang
Indonesiaan, ruang kedaerahan, ruang berdasarkan konstitusi belum dapat
lokasi, ataupun ruang persidangan dimana dikatakan utuh, dan karena itu masih
perkara pengujian materiel itu disidangkan. bersifat transisional21.
Sedangkan yang dimaksud dengan konteks
waktu disini dapat berupa waktu pagi,
siang, sore, atau malam; dan waktu harinya,
21 Secara akademis, keadaan Undang-
Undang Dasar 1945 yang berlaku sekarang
bulannya ataupun waktu dalam arti era dan
setelah tiga kali diubah memang tepat disebut
zaman. Yang terakhir inilah yang saya
bersifat transisional. Agak aneh jika ada
anggap paling relevan untuk dibahas disini, pendapat seperti yang dikemukakan oleh Dr.
berkenaan dengan kasus pengujian terhadap Adnan Buyung Nasution bahwa istilah
materi PP No. 19 Tahun 2000 terhadap UU ‘konstitusi transisi’ tidak dikenal dalam hukum.
No. 31 Tahun 1999. Istilah ‘transisi’ itu identik dengan istilah ‘interim’
atau ‘provisional’ untuk menunjuk pada sifat
Perkara ini disidangkan dalam suasana sementara dan peralihan. Banyak sekali negara
zaman dimana pemerintahan negara kita yang menggunakan naskah peralihan atau
naskah sementara sebelum naskah final
bersifat transisional dari otoritarian menuju
disahkan. Dalam sejarah Republik Indonesiapun
demokrasi, dan dari era ‘Rachtsstaat’ menuju
istilah seperti itu pernah dipakai yaitu dengan

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 21


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

Karena konstitusinya saja belum utuh dan berkenaan dengan itu. Jika berbagai PP yang
antara satu pasal dengan pasal lainnya dianggap bertentangan dengan UU
masih bersifat tumpang tindih dan bahkan dinyatakan tidak berlaku oleh Mahkamah
kadang-kadang ada yang bersifat saling Agung, sedangkan UU belum dapat diuji
bertentangan satu sama lain, maka materiel dalam waktu dekat ini, maka dapat
peraturan perundang-undangan di saja terjadi bahwa banyak PP yang dianggap
bawahnya juga masih belum bersifat utuh. bertentangan dengan ketentuan UU yang
Sekarang ini, banyak Peraturan Pemerintah memang seharusnya sudah diubah
yang bertentangan dengan Undang- berdasarkan ketentuan UUD yang baru,
Undang, baik karena kelemahan dalam dapat dengan mudah dinyatakan tidak
perumusan PP tersebut ataupun karena UU berlaku oleh Mahkamah Agung. Padahal
nya sendiri dirumuskan lebih belakangan mungkin saja Peraturan Pemerintah tersebut
daripada PP yang bersangkutan. Kadang- justru sesuai dengan semangat UUD yang
kadang ada pula Peraturan Pemerintah yang baru. Jika hal ini terjadi, maka dapat timbul
dirumuskan secara berbeda dari ketentuan kekacauan dalam sistem hukum Indonesia
suatu UU karena adanya kebutuhan yang yang sangat membahayakan masa depan
nyata di lapangan yang materinya tidak Negara Hukum kita.
mungkin dimasukkan ke dalam UU karena
UU sendiri baru disahkan. Dalam kasus- Contoh lain berkenaan dengan kondisi
kasus demikian, Peraturan Pemerintah kekacauan dan tidak harmonis peraturan
tersebut memang dapat dinilai bertentangan perundang-undangan negara kita di masa
dengan Undang-Undang. Akan tetapi, transisi ini yang berkaitan erat dengan kasus
karena UUD sendiri juga sedangkan yang dibahas disini adalah pertentangan
mengalami perubahan besar-besaran, dapat antara ketentuan UU No. 14 tahun 1985
pula terjadi bahwa UU yang dijadikan dasar dengan Peraturan Mahkamah Agung No. 1
untuk menilai Peraturan Pemerintah tahun 1999 tentang tata cara pelaksanaan
tersebut di atas, juga ternyata bertentangan hak uji materiel. Menurut ketentuan Pasal 31
dengan UUD yang baru saja diubah. ayat (3) UU No. 14 Tahun 1985, hak uji
materiel (judicial review) dilakukan melalui
Sebagai contoh, cukup banyak Peraturan pemeriksaan kasasi. Dengan demikian,
Pemerintah yang ditetapkan yang pengujian materiel dilakukan bertahap
bertentangan dengan UU No. 22 Tahun 1999 mulai dari pengadilan negeri, pengadilan
tentang Pemerintah Daerah. Misalnya PP tinggi, barulah sampai ke Mahkamah
No. 109 Tahun 2000 dan PP No. 110 Tahun Agung. Tetapi, Pasal 2 ayat (1) huruf ‘a’ dan
2000. Akan tetapi, dengan adanya Pasal 5 ayat (1) huruf ‘a’ menyatakan bahwa
perubahan terhadap ketentuan Pasal 18 ‘judicial review’ dapat dilakukan melalui
UUD 1945 yang telah disahkan berdasarkan permohonan langsung ke Mahkamah
Perubahan Kedua UUD 1945, maka dapat Agung. Padahal menurut ketentuan
dikatakan bahwa UU No.22 Tahun 1999 Ketetapan MPR No. III/MPR/2000,
itupun sudah bertentangan dengan UUD. Peraturan Mahkamah Agung (PERMA) jelas
Peraturan Pemerintah memang dapat diuji tidak boleh bertentangan dengan Undang-
oleh Mahkamah Agung. Tetapi, pengujian Undang. Selain itu, banyak pula hal-hal
terhadap materi UU, berdasarkan ketentuan yang diatur dalam Peraturan Mahkamah
Pasal 24 C ayat (1) Perubahan Ketiga UUD Agung (PERMA) ini yang seharusnya
1945, merupakan kewenangan Mahkamah menjadi materi muatan Undang-Undang
Konstitusi. Akan tetapi, dalam waktu dekat, ataupun yang bertentangan dengan
Mahkamah Konstitusi itu sendiri belum ketentuan Undang-Undang. Misalnya,
terbentuk, karena masih menunggu PERMA ini menentukan pembatasan waktu
dibentuknya Undang-Undang yang khusus pengajuan hak uji, yang berkaitan dengan
hak asasi manusia yang tidak boleh
dikurangi oleh suatu peraturan yang
UUDS 1950 yang dipakai sambil Konstituante
ditentukan sendiri oleh Mahkamah Agung.
dibentuk dan bekerja sampai tahun 1959 untuk
mempersiapkan UUD yang baru.
Semua ketentuan yang bertentangan

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 22


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

ataupun yang seharusnya dituangkan dalam penafsiran yang bersifat kontekstual. Sudah
UU tetapi ditentukan sendiri oleh sangat jelas bahwa di masa transisi ini,
Mahkamah Agung dalam bentuk PERMA, sistem hukum Indonesia sedang mengalami
semata-mata didasarkan atas pertimbangan penataan kembali, maka sudah dengan
asas tujuan dan manfaat, dengan sendirinya banyak sekali terdapat
mengabaikan asas legalitas. kekurangan disana-sini, sehingga prinsip
‘rechtsmatigheid’ tidak dapat sepenuhnya
Oleh karena itu, dalam masa transisi diandalkan atau dijadikan andalan dalam
konstitusional dewasa ini, para hakim mewujudkan keadilan. Karena itu, majelis
seyogyanya mempertimbangkan aspek- hakim sudah seharusnya mengutamakan
aspek yang menyangkut prinsip-prinsip prinsip ‘doelmatigheid’ dulu sebagai prioritas
keadilan transisional (transitional justice), pertama, sambil tetap berusaha menerapkan
termasuk dalam menguji materi Peraturan prinsip ‘rechtsmatigheid’ berdasarkan asas
Pemerintah No. 19 Tahun 2000 tentang Tim legalitas. Dengan demikian, hakim tidak
Gabungan Pemberantasan Tindak Pidana hanya menjadi mulut undang-undang
Korupsi. Keseimbangan dalam penerapan dalam arti formal, tetapi lebih jauh lagi
prinsip ‘doelmatigheid’ dan penerapan merupakan mulut, tangan, mata dan telinga
prinsip ‘rechtsmatigheid’ dapat ditemukan, serta sekaligus pencium rasa keadilan dalam
jika majelis hakim dapat mengembangkan arti yang lebih sejati.

2. Kasus Judicial Review atas PP No. 17 Tahun 1999 tentang BPPN

Sebagai bahan perbandingan, disini dapat Pemerintah No. 17 Tahun 1999 tentang
pula dibahas logika yang digunakan oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional
majelis hakim Mahkamah Agung dalam bertentangan dengan peraturan perundang-
memutuskan permohonan hak uji materil undangan yang lebih tinggi, dan dinyatakan
atas PP No. 17 Tahun 1999 tentang BPPN tidak berlaku umum serta tidak mempunyai
(Badan Penyehatan Perbankan Nasional) kekuatan hukum yang mengikat dan
tertanggal 1 Desember 1999 yang diketuai memerintahkan agar PP tersebut dicabut.
oleh Ketua Muda Mahkamah Agung M. Sedangkan dalam kasus pengujian atas PP
Yahya Harahap22. Dalam kasus ini, majelis No. 19 Tahun 2000, Mahkamah Agung
hakimnya dipimpin oleh Yahya Harapan, mengabulkan permohonan keberatan
SH. dengan hakim anggota yang terdiri atas pemohon seluruhnya, menyatakan PP No.
Achmad Syamsuddin, SH. dan Arbijoto, SH. 19 Tahun 2000 tidak sah dan tidak berlaku
untuk umum, memerintahkan Presiden
Posisi Yahya Harahap sebagai ketua majelis
untuk segera mencabut PP No. 19 Tahun
hakim dalam kasus ini sangat berbeda dari
2000, dengan ketentuan apabila dalam
posisi Yahya Harahap, yang dalam kasus
tempo 90 hari ternyata PP tersebut PP
permohonan uji materil atas PP No. 19
tersebut belum dicabut, maka demi hukum
Tahun 2000, tersangkut dengan
PP tersebut tidak mempunyai kekuatan
kedudukannya sebagai tersangka tindak
hukum, dan menghukum pemerintah
pidana korupsi.
membayar biaya perkara.
Dalam kasus pengujian atas PP No. 17
Alasan penolakan terhadap permohonan
Tahun 1999, Mahkamah Agung menolak
keberatan dari pemohon hak uji materil atas
permohonan keberatan hak uji materil yang
PP No. 17/1999 tersebut adalah : Pertama,
diajukan oleh DPP Asosiasi Advokat
meskipun PP No. 17 Tahun 1999
Indonesia (AAI) yang menuntut agar
memberikan kewenangan yang agak
Mahkamah Agung menyatakan Peraturan
menyimpang dari ketentuan formal UU
yang lebih tinggi, tetapi jika dikaitkan
22 Lihat Varia Peradilan No. 173, hal. 5- dengan “kebutuhan dalam keadaan darurat
22.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 23


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

dan bersifat ‘occasional’”, maka substansi memaksa, haruslah dilakukan dengan


dan materi yang terkandung dalam PP No. undang-undang. Karena itu, keberadaan
17 Tahun 1999 tersebut : (a) tidak sampai lembaga Badan Penyehatan Perbankan
mematikan hak perdata seseorang, (b) tidak Nasional dengan kewenangan yang sangat
sampai melanggar hak asasi manusia, (c) besar, tetapi hanya dibentuk dengan
tidak mematikan hak seseorang untuk Peraturan Pemerintah tidaklah dapat
mengajukan perlawanan atau gugatan diterima secara hukum. Karena itu, saran
kepada pengadilan terhadap BPPN, (d) (advice) majelis hakim Mahkamah Agung
tidak melanggar asas legalistik, (e) tidak agar PP tersebut ditingkatkan
melanggar prinsip demokrasi dan prinsip kedudukannya menjadi Undang-Undang,
egalitarianisme maupun praktek memang dinilai sangat tepat. Akan tetapi,
diskriminasi. karena majelis hakim memberikan toleransi
yang besar terhadap kenyataan bahwa
Kedua, kewenangan BPPN mengeluarkan
pembentukan Badan Penyehatan Perbankan
surat paksa - penyitaan, pelelangan, dan
Nasional tersebut sangat diperlukan dalam
pengosongan – masih mengacu kepada
keadaan yang bersifat mendesak atau
Pasal 195 dan Pasal 200 Hukum Acara
‘urgen’, darurat atau ‘emergensi’, dan bersifat
Perdata (HIR). Kewenangan BPPN tersebut
‘occasional demand’ dalam arti tidak
jika diuji dengan prosedur Hukum Acara
dimaksudkan bersifat permanen, melainkan
Perdata, masih berada dalam kerangka
hanya bersifat sementara, maka majelis
tertib hukum acara (scope of due process of
hakim menganggap bahwa permohonan
law).
keberatan atas PP No. 17/1999 tersebut
Ketiga, jika dihubungkan dengan tidak dapat diterima. Pertimbangan urgensi,
pertimbangan urgensi, emergensi dan emergensi, dan ‘occasional demand’ tersebut
‘occasional demand’, pemberian wewenang di atas, jelas sekali lebih mengutamakan
yang besar kepada BPPN bukan merupakan prinsip ‘doelmatigheid’ daripada prinsip
pelanggaran yang dapat dikategorikan ‘rechtsmatigheid’.
bertentangan dengan ‘fundamental law’
(natural justice). Kewenangan yang besar Pada masa-masa transisi menuju demokrasi
tersebut masih berada dalam batas-batas yang penuh (‘transition towards constitutional
toleransi hukum dan keadilan moral (moral democracy’) seperti yang dialami bangsa
justice). Indonesiia selama 4 tahun terakhir ini,
memang perlu disadari berlakunya prinsip
Keempat, di samping itu, melalui putusannya
‘transitional justice’ dalam pemahaman kita
itu, Mahkamah Agung menyampaikan
mengenai hukum dan sistem hukum yang
saran (advice) agar PP No. 17/1999 tersebut
dewasa ini juga tengah mengalami
secepatnya ditingkatkan menjadi Undang-
perubahan mendasar23. Oleh karena itu,
Undang, agar tidak menimbulkan hujatan
pertimbangan majelis hakim yang diketuai
dan sekaligus memperkokoh kedudukan
oleh Hakim Agung Muda M. Yahya
hukum BPPN sendiri, sehingga kekuasaan
Harahap dalam kasus pengujian materil atas
BPPN yang bersifat ‘extra-judicial’ dapat
PP No. 17/1999 tersebut dapat dinilai
terkait secara hukum sebagai ‘lex specialis’
bijaksana. Oleh karena itu, seharusnya,
berdasarkan Undang-Undang yang berlaku.
majelis hakim yang dipimpin oleh Prof. Dr.
Paulus Effendi Lotulung, SH. yang
Dalam keadaan normal dan dengan memeriksa permohonan pengujian materil
menerapkan prinsip ‘rechtsmatigheid’ yang atas PP No. 19 Tahun 2000 juga menerapkan
ketat pemberian kewenangan kepada suatu logika hukum yang sama, yaitu menolak
badan untuk melakukan segala tindakan
yang dapat memaksa warga negara untuk
mengalihkan hak dan kewajibannya atau 23 Contoh-contoh lain mengenai
membebani warga negara atau subjek penerapan prinsip keadilan transisional ini dapat
dibaca dalam buku terbitan Komisi Nasional Hak
hukum lainnya dengan hak-hak dan
Asasi Manusia berjudul : “Keadilan Dalam Masa
kewajiban-kewajiban yang bersifat
Transisi”, Jakarta : KOMNAS HAM, 2001.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 24


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

permohonan keberatan yang diajukan oleh demand’ berkenaan dengan keberadaan PP


Indra Sahnun Lubis dan kawan-kawan, dan No. 17 Tahun 1999, yang meskipun
memberikan saran (advice) agar pemerintah mengandung kekurangan dan kelemahan
dan Dewan Perwakilan Rakyat meningkat dari segi teknis hukum, dinilai oleh hakim
kedudukan materi yang diatur dalam PP tetap konstitusional dan dinyatakan sah
No. 19/2000 tersebut menjadi materi berlaku sebagai hukum. Tetapi dalam kasus
Undang-Undang. kedua, hakim justru berpegang teguh pada
prinsip ‘rechtsmatigheid’ secara kaku,
Sangat disayangkan bahwa prinsip logika sehingga kelemahan teknis sedikit saja dari
yang diterapkan dalam kasus pengujian PP No. 19 Tahun 2000 sudah cukup
materil atas PP No. 17 Tahun 1999 dan dijadikan alasan bagi hakim untuk
pengujian materil atas PP No. 19 Tahun menyatakannya bertentangan dengan
2000, berbeda satu sama lain. Dalam kasus Undang-Undang dan karena itu dinyatakan
pertama, prinsip ‘doelmatigheid’ lebih tidak berlaku mengikat untuk umum.
diutamakan, sedangkan dalam kasus kedua, Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
prinsip ‘rechtsmatigheid’lah yang lebih majelis hakim Mahkamah Agung telah
diutamakan. Dalam kasus pertama, majelis menggunakan standar ganda dalam
hakim mempertimbangkan dengan memberikan penilaian mengenai kedua
sungguh-sungguh perkembangan kasus pengujian materil atas kedua
kebutuhan hukum di masa transisi dengan Peraturan Pemerintah tersebut.
memberikan pertimbangan khusus
mengenai urgensi, emergensi, dan ‘occasional

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 25


Kursus HAM untuk Pengacara X, 2005
Bahan Bacaan
Materi : Mekanisme Judicial Review

DAFTAR PUSTAKA

1. Falakh, Fajrul Mohammad. “Menggagas “Constitutional Review” di Indonesia”. Kompas, 8


April 2000.

2. Isra, Saldi. “Menggugat Undang-Undang Antiterorisme”. Kompas, 10 Maret 2003.

3. Isra, Saldi. “Ihwal pengajuan Judicial Review”. Koran Tempo, 16 Januari 2003.

4. Konsorsium Reformasi Hukum Nasional. Pokok-Pokok Pikiran dan Rancangan Undang-Undang


Mahkamah Konstitusi. KRHN dan Kemitraan untuk Tata Pemerintahan di Indonesia, 2003.

5. Danielle E. Finck. Judicial Review : The United States Supreme Court versus the German
Cobstitutional Court. Boston College International & Comparative Law Review, 1997.

6. Daniels S. Dengler. The Italian Costitutional Court : Safeguard of The Constitution. Dickinson
Kournal Law, 2001.

7. Mahkamah Agung. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2002 tentang


Penyelenggaraan Wewenang Mahkamah Konstitusi oleh Mahkamah Agung. 2002.

8. Mahkamah Agung. Peraturan Mahkamah Agung Nomor 1 Tahun 1999 tentang Hak Uji
Materil. 1999.

9. Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi Peradilan. Draft Studi Pembaruan
Mahkamah Agung. Jakarta : 2003.

10. Jimly Ashshdiqqie. ‘JUDICIAL REVIEW’ (Telaah atas Putusan Mahkamah Agung Republik
Indonesia tentang Peraturan Pemerintah No. 19/2000 yang Bertentangan dengan Undang-Undang
No. 31 TAHUN 1999). Dictum Edisi 1. Lembaga Kajian dan Advokasi untuk Independensi
Peradilan : 2002.

11. Soemantri, Sri. Hak Uji Material di Indonesia. Alumni Bandung : 1997.

12. Ferejohn, John, et all. Constitutional Culture and Democratic Rule. Cambridge University Press
: 2001.

13. M. Superstone QC and J. Goudie QC. Judicial Review. Butterworths, London : 1992.

14. F. Mount. The British Constitution Now. Mandarin, London, 1993.

15. Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No. 03P/HUM/2000. Tertanggal 23 Maret
2001. Varia Peradilan : 2001.

Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat, ELSAM 26