Anda di halaman 1dari 8

Candi Mendut - http://www.walubi.or.id/wacana/wacana_061.

shtml

jam 7.21 pagi 27 september

Candi Mendut didirikan oleh Raja pertama dari wangsa Syailendra pada tahun 824
Masehi, berdasarkan prasasti Karang Tengah tahun 824 Masehi,bernama Indra
dengan gelar Cri Sanggramadananjaya. Candi ini menghadap Barat Daya. Mendut
(=Venuvana) yang berarti hutan bambu. Sejarah Candi Mendut dibangun lebih
dahulu, dibanding Candi Borobudur dan sering Candi Mendut ini dipergunakan untuk
upacara keagamaan Buddha.

Satu-satunya ruang dalam candi terdapat altar yang meliputi tiga arca/rupang,
letaknya Arca yang satu menghadap pintu masuk, terlihat dari tengah adalah rupang
arca Buddha Sakyamuni dengan mudra Cakra, disebelah kanan rupang Bodhisattva
Avalokitesvara bermahkota Buddha Amitabha dan di sebelah kiri, terdapat rupang
Bodhisattva Vajravani. Jumlah stupa yang ada disekeliling candi sebanyak 48 buah.
Tinggi candi 26,4 m. Candi ini telah diketemukan kembali tahun 1836.

Tahun 1897-1904 kembali ditata ulang sambil diperbaiki. Dan tahun 1908 diadakan
perbaikan-perbaikan renovasi oleh Th. Van Erp, dilanjutkan tahun 1925. Sejumlah
stupa yang telah dirapihkan, dipasang untuk disusun kembali. Ornamen dinding luar
candi terpahat relief Avalokitesvara Bodhisattva yang terlihat begitu sangat indah,
disamping ada Bodhisattva Maitreya, Vajrapani dan Manjusri. Pada bagian ruang
pintu terdapat pula relief kalpataru bidadari yang melukiskan Hariti dan Atawaka
(Suaka peninggalan sejarah dan purbakala-Jawa Tengah).

Candi Mendut : Sulit Punya Anak Memohon ke Dewi


Kesuburan
http://www.indospiritual.com/artikel_candi-mendut---sulit-punya-
anak-memohon-ke-dewi-kesuburan.html

7.26 pagi 27 september

Candi ini terletak di desa Mendut, Mungkid, Magelang. Terletak sekitar dua kilometer
tenggara ibu kota Kabupaten Magelang. Candi Mendut berdekatan dengan Candi
Pawon serta Candi Borobudur. Tiga candi ini biasanya masuk jadi satu paket
kunjungan wisata. Baik wisatawan domestik maupun dari manca negara. Banyak
orang masih percaya, kekeramatan Candi Mendut memberi tuah. Bahkan dipercaya
tuah itu berkhasiat pengobatan.

SEBAGAI candi Buddha yang monumental, setiap kali berlangsung peringatan Hari
Raya Waisak, upacara dipusatkan di ketiga candi ini. “Ketika upacara Tri Suci
Waisak berlangsung, prosesi dimulai dari candi ini lalu ke candi Pawon dan
diteruskan menuju Borobudur,” kata Maryono (50), salah satu karyawan Dinas
Purbakala.
Menurutnya, bangunan candi Mendut ditemukan 1836 dalam keadaan tertimbun
semak belukar. Penggalian dan pembersihan terus dilakukan secara bertahap. Dan
bersamaan dengan perbaikan candi Borobudur, 1908, berhasil disusun kembali
sebagian atap candi. Beberapa stupa kecil juga dapat dipasang lagi.

“Para ahli memperkirakan candi tersebut dibangun pada abad ke-9 Masehi oleh
Dinasti Syailendra,” jelas Maryono.

Keunikan Mendut dibanding candi-candi lain di Jawa bahkan di Indonesia, antara lain
pada pintu masuknya yang menghadap ke barat laut. Sebab kebanyakan candi
menghadap ke timur. Selain itu di bilik candi terdapat 3 arca dengan ukuran cukup
besar. Masing-masing terbuat dari bongkahan batu utuh.

Tiga arca tersebut makin menguatkan kekaguman betapa hebat karya seni nenek-
moyang bangsa Indonesia. Ketiga arca tersebut adalah Arca Dyani Buddha
Cakyamuni, menghadap ke barat dalam posisi duduk. Kedua kakinya menyiku ke
bawah pada landasan teratai. Kedua Arca Bodhisatva Avalokitesvara, menghadap ke
selatan, juga posisi duduk dengan kaki kiri dilipat ke dalam sedang kaki kanan
menjulur ke bawah. Dan yang ketiga adalah Arca Bodhisatva Vajrapani, menghadap
ke utara, dengan posisi duduk pula. Kaki kanan dilipat dengan telapak kaki
menyentuh paha sedang kaki kiri menjulur ke bawah. “Vajrapani dan Avalokitesvara
disebut-sebut sebagai pengiring atau pengawal Buddha Cakyamuni,” tandas Maryono.

Relief-relief yang terukir indah juga bisa ditemukan di beberapa dinding candi. Misal
di sebelah kiri pintu masuk ke bilik candi terlihat relief Hariti. Tergambarkan Hariti
sedang duduk sambil memangku anak. Di sekelilingnya terdapat beberapa anak yang
sedang bermain.

Banyak yang bercerita, Hariti awalnya raksasa yang gemar makan manusia. Namun
setelah bertemu Sang Budha ia bertobat dan berubah menjadi pelindung anak-anak.
Bahkan dikenal dengan Dewi Kesuburan (Fertility Goddes). Karena Dewi Kesuburan
itulah barangkali yang mendorong beberapa pasangan yang belum diberi momongan
sering ziarah ke Candi Mendut. Pak Maryono mengaku pernah ketemu pasutri yang
berasal dari Jakarta dan doanya agar diberi keturunan bisa terkabulkan “Mereka
pernah bercerita, sudah 5 tahun menikah namun belum punya anak. Tidak berapa
lama setelah berdoa di dalam bilik candi Mendut bisa punya keturunan,” jelas
Maryono.

Dito (46) teman satu kantor Pak Maryono menambahkan, orang-orang yang
berkunjung ke Candi Mendut berasal dari berbagai tempat serta agama. Begitu juga
yang berdoa atau meditasi di candi tersebut bisa berasal dari bermacam agama. Atau
lintas agama. “Yang penting keyakinan, keikhlasan dan kemantapan mereka saat
berdoa pada Tuhan,” tutur Dito.

Ditambahkan, orang Jepang pernah ada yang berdoa mohon kesembuhan dari sakit
lumpuhnya. Ketika benar-benar sembuh, 1985 balik lagi ke Mendut dan membangun
prasasti berbahasa Jepang, diletakkan di luar pagar barat Candi Mendut.

“Selain membangun prasasti, menurut kabar orang Jepang tersebut juga mengadakan
upacara pernikahan putranya di Yogyakarta,” tambah Dito.
Dari Candi Mendut berjalan sekitar 1,5 kilometer ke arah selatan akan ditemukan
candi Pawon. Di dalam candi tersebut juga ada bilik namun tak ada arca atau patung
satu pun. Dan banyak yang tidak tahu fungsi candi tersebut. “Karena letaknya di
antara Candi Mendut dan Borobudur, bisa jadi sebagai tempat istirahat ketika
melakukan perjalanan ziarah,” ungkap Ny. Ngatini (41) warga sekitar Candi Pawon.

Hal-hal aneh di sekitar candi tersebut, menurutnya, warga sekitar candi tak banyak
menemui. “Kami yang biasa ngedep candi itu malah tak menemui, namun entah kalau
orang-orang yang datang dari jauh. Meski datang dari jauh, jika orang biasa saya rasa
tak mudah bisa menjumpai. Kalau yang punya indera ke-6 bisa jadi menemukannya,”
paparnya.

Candi Mendut
http://artikel-notes.blogspot.com/2010/04/candi-
mendut.html
7.31 pagi September 27
A. Candi Mendut

Candi Mendut merupakan candi yang terletak paling timur dari garis lurus tiga
serangkai candi (Borobudur, Pawon, Mendut). Candi ini didirikan oleh dinasti
Syailendra dan berlatar berlakang agama Budha, dimana hal ini ditunjukkan dengan
adanya bentuk stupa sebanyak 48 buah pada bagian atasnya.Tidak diketahui secara
pasti kapan candi ini didirikan. Namun seorang arkeologi Belanda menyebutkan
bahwa di dalam prasasti yang ditemukan di desa karangtengah bertarikh 824M
dikemukakan bahwa raja Indra telah membangun bangunan suci bernama venunava
yang artinya adalah hutan bambu. Jika hal ini benar maka bisa dipastikan Candi
Mendut didirikan pada abad ke 8 Masehi.

Di dalam Candi Mendut terdapat 3 (tiga) patung besar.

1. Cakyamuni yang sedang duduk bersila dengan posisi tangan memutar roda dharma.

2. Awalokiteswara sebagai Bodhi Satwa membantu umat manusia


Awalokiteswara merupakan patung amitabha yang berada di atas mahkotanya,
Vajrapani. Ia sedang memegang bunga teratai merah yang diletakkan di atas telapak
tangan.

3. Maitreya sebagai penyelamat manusia di masa depan


Arca-arca Budha yang berada di dalam bilik Candi Mendut ini adalah, Arca Dyani
Budha Cakyamuni atau Vairocana, Arca Budha Avalokitesvara atau Lokesvara, dan
Arca Bodhisatva Vajrapani. Arca Dyani Budha Cakyamuni menghadap ke barat (yang
berada di tengah), duduk dengan posisi kedua kakinya menyiku ke bawah, menapak
pada landasan berbentuk bunga teratai. Sikap tangan ‘dharmacakramudra’ yang
bermakna sedang memutar ‘roda kehidupan’.

Arca Bodhisatva Avalokitesvara berada di sebelah utara arca Dyani Budha


Cakyamuni, menghadap ke selatan. Arca ini digambarkan dalam posisi duduk, kaki
kiri dilipat kedalam dan kaki kanan menjuntai ke bawah. Sikap tangannya,
‘varamudra’ yang bermakna sedang memberi atau menyampaikan ajaran. Pengarcaan
Budhisatva Avalokitesvara ini mengenakan pakaian kebesaran dengan perhiasan-
perhiasan di telinga, leher dan kelat bahu, serta memakai mahkota. Arca Bodhisatva
Vajrapani yang terletak di sebelah kiri arca Budha Sakyamuni menghadap ke utara,
digambarkan dengan mengenakan pakaian kebesaran seperti arca Bodhisatva
Avalokitesvara. Pengarcaannya dengan posisi duduk, kaki kanan dilipat dengan
telapak kaki menyentuh paha, kaki kiri menjuntai ke bawah.
Bangunan candi Mendut berdiri di atas ‘basement’ (dasar candi) setinggi 3,70 meter
sehingga tampak anggun, kokoh dan berwibawa. Ukuran dasar candi 13,70 meter x
13,70 meter. Jumlah tataran naik candi ada 14 trap, menghadap ke barat laut. Arah
hadap ini tidak lazim untuk candi-candi di Jawa Tengah. Karena pada umumnya
candi-candi di Jawa Tengah menghadap ke timur. Di atas basement ada lorong yang
mengelilingi badan candi selebar 2,48 meter. Bagian atap candi terdiri tiga tingkat
dengan hiasan stupa-stupa kecil berjumlah 48 buah. Dari gambar rekonstruksi, di
candi ini semula ada puncak candi. Namun sayang, bagian puncak candi yang indah
itu sampai kini belum berhasil direkonstruksi. Batu batu bangunan dan ornamen candi
yang belum bisa disusun kembali kini tertata rapi di pelataran candi sebelah utara.
Kini tinggi bangunan candi ini 26,50 meter.

Candi Mendut memang lain dengan candi-candi yang ada di Indonesia. Sebagai candi
Budha, candi ini mempunyai daya tarik tersendiri. Tidak saja keberadaan arca Budha
ukuran besar, candi ini juga dihiasi dengan relief-relief yang menggambarkan ceritera-
ceritera Jataka, yang sarat dengan makna ajaran-ajaran hukum ‘Sebab dan Akibat.’
Relief-relief itu terpahat di panel-panel luar sayap tangga bagian bawah. Relief di
sebelah kanan menggambarkan ceritera, kura-kura yang dalam keadaan bahaya
diselamatkan oleh dua ekor burung bangau. Ternyata burung bangau itu menipu kura-
kura. Penyelamatannya, si kura-kura menggigit sebatang kayu dibawa terbang dua
ekor burung bango itu untuk dibawa ke sebuah telaga. Karena si kura-kura ditipu, dia
berani melawan burung itu dengan menggigit lehernya. Maka matilah burung-burung
itu karena perbuatan jahatnya. Relief ceritera fabel (ceritera dengan tokoh hewan)
lainnya di panel lain, mengisahkan tentang seekor kera yang ditolong dan
diseberangkan seekor buaya. Si kera naik di punggung buaya. Sebenarnya si buaya
ingin memakan hati kera. Di tengah sungai buaya berhenti, dan ingin merobek perut
kera dengan giginya yang tajam. Namun dengan cerdiknya si kera mengatakan kepada
buaya bahwa hatinya ditinggal di seberang sungai. Dan buaya bodoh itu percaya
omongan kera, yang kemudian diperintah kera untuk terus membawanya sampai ke
seberang sungai. Setibanya di seberang sungai, si kera meloncat menyelamatkan diri.

Di relief lain menggambarkan ceritera, seekor gajah yang menjadi ganas ketika berada
di tengah-tengah mereka yang sedang dihukum karena kejahatan. Tetapi gajah itu
menjadi lembut dan jinak ketika berada di dekat para pertapa, para bhiku, yang
suasananya tenang dan teduh. Dan masih banyak lagi relief ceritera fable dari kisah
Jataka yang dipahatkan di candi ini. Karena candi ini dulu dibangun tidak hanya
sebagai tempat pemujaan dan samadi, tetapi juga sebagai tempat untuk memperdalam
ajaran-ajaran Budha bagi umatnya.
Di sebelah kanan pintu masuk ke bilik candi (sisi utara), ada sebuah relief Kuvera.
Relief ini menggambarkan dewa Kuwera, Dewa Kekayaan. Penggambarannya, ada
seorang lelaki yang yang duduk dikelilingi anak-anak. Di bawahnya ada kendi-kendi
yang penuh dengan uang. Konon, Kuvera pada mulanya adalah raksasa bengis
pemakan manusia. Tetapi setelah bertemu dengan sang Budha dan diberi ajaran moral
dan budi pekerti luhur, dia bertobat dan berubah perangai menjadi pelindung anak-
anak. Di sisi kiri (sisi selatan) pintu masuk ke bilik candi, terpahatkan relief Hariti
yang duduk memangku anak. Di sekeliling Hariti ada banyak anak sedang bermain.
Seperti Kuvera, awal mulanya Hariti juga raseksi pemakan manusia, dan setelah sadar
dan bertobat berubah menjadi pelindung anak-anak setelah berjumpa dan diberi ajaran
kebaikan oleh sang Budha. Bahkan Hariti juga dikenal sebagai Dewi Kesuburan.
Candi yang berlokasi di Kelurahan Mendut kawasan Kota Mungkid ini kira-kira 3
kilometer di sebelah timur candi Borobudur. Sampai kini tidak diketahui dengan pasti,
kapan candi ini dibangun. Drs. Soediman dalam buku panduan berbahasa Inggeris,
‘Chandi Mendut. Its relationship with Pawon and Borobudur’ menuliskan, dalam
desertasi ahli purbakala Belanda, J.G. de Casparis menghubungkan candi ini dengan
Raja dari wangsa Syailendra, Indra. Dalam prasasti Karangtengah yang berangka
tahun 824 M pada masa pemerintahan Raja Samaratungga menyebutkan bahwa Raja
Indra, ayahanda Raja Samaratungga, telah mendirikan bangunan suci bernama
‘Venuvana’, yang bermakna hutan bambu. Dan menurut Bhiku Sri Pannyavaro
Mahathera dalam narasi di film video dokumenter “Permata yang terlupakan, candi-
candi Budhis di Jawa” menyebutkan, nama asli candi ini adalah ‘Venuvana Mandira’,
yang berarti istana di tengah hutan bambu.

Ketika ditemukan kembali pada tahun 1834, candi ini tertutup tanah dan semak
belukar. Seperti halnya Candi Borobudur, candi ini diperkirakan juga menjadi korban
mahapralaya letusan dahsyat Gunung Merapi tahun 1006 M. Sehingga rusak porak
poranda tertimpa material vulkanis Merapi. Dan selama berabad-abad candi ini
‘tenggelam’ ditelan jaman, seiring dengan perpindahan pusat kerajaan dari Jawa
Tengah ke Jawa Timur.
Upaya membersihkan dan menyusun kembali candi ini dilakukan pada masa
penjajahan Belanda tahun 1897. Pada tahun 1901 sampai dengan 1904, Brandes tidak
puas dengan hasil itu dan berupaya untuk merekonstruksi. Tetapi pekerjaan itu
dihentikan sebelum selesai. Sehingga upaya untuk merekonstruksi candi ini diambil
alih oleh Van Erp pada tahun 1908, bersamaan dengan upaya merekonstruksi Candi
Borobudur. Dia berhasil merekonstruksi candi ini sampai pada tahap menyusun
sebagian atap candi. Pada tahun 1925 beberapa stupa kecil hiasan atap candi berhasil
dipasang kembali.

B. Relief-relief

Di bawah ini pembicaran mendetail beberapa relief akan disajikan.

1. Relief 1 (Brahmana dan seekor kepiting)

Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra
atau jataka. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini:

Maka adalah seorang brahmana yang datang dari dunia bawah dan bernama
Dwijeswara. Ia sangat sayang terhadap segala macam hewan.

Maka berjalanlah beliau untuk bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan


seekor kepiting di puncak gunung yang bernama Astapada, dibawa di pakaiannya.
Maka kata sang brahmana: “Kubawanya ke sungai, sebab aku merasa kasihan.” Maka
iapun berjalan dan berjumpa dengan sebuah balai peristirahatan di tepi sungai. Lalu
dilepaslah si kepiting oleh sang brahmana. Si Astapada merasa lega hatinya.
Sedangkan sang brahmana beristirahat di balai-balai ini. Ia tidur dengan nikmat,
hatinya nyaman.

Adalah seekor ular yang berteman dengan seekor gagak dan merupakan ancaman bagi
sang brahmana. Maka kata si ular kepada kawannya si gagak: “Jika ada orang datang
ke mari untuk tidur, ceritakan padaku, aku mangsanya.”

Si gagak melihat sang brahmana tidur di balai-balai. Segeralah keluar si ular katanya:
“Aku ingin memangsa matanya kawan.” Begitulah perjanjian mereka.

Si kepiting yang dibawa oleh sang brahmana mendengar. Lalu kata si kepiting di
dalam hati: “Aduh, sungguh buruk kejahatan si gagak dan ular. Sama-sama buruk
kelakuannya.” Terpikir olehnya bahwa si kepiting berhutang budi kepada sang
brahmana. Ia ingin melunasi hutangnya, maka pikirnya. “Ada siasatku, aku akan
berkawan dengan keduanya.” Maka ujar si kepiting, “Wahai kedua kawanku, akan
kupanjangkan leher kalian, supaya lebih nikmat kalau kalian ingin memangsa sang
brahmana.” – “Aku setuju dengan usulmu, dengan segera.” Begitulah kata si gagak
dan si ular keduanya. Kedua-keduanya ikut menyerahkan leher mereka dan disupit di
sisi sana dan sini oleh si kepiting dan keduanya langsung putus seketika. Matilah si
gagak dan si ular.

2. Relief 2 (Angsa dan kura-kura)

Pada relief ini terdapat lukisan cerita hewan atau fabel yang dikenal dari Pancatantra
atau jataka. Cerita lengkapnya disajikan di bawah ini. Namun cerita yang disajikan di
bawah ini agak berbeda versinya dengan lukisan di relief ini:

Ada kura-kura bertempat tinggal di danau Kumudawati. Danau itu sangat permai,
banyak tunjungnya beranekawarna, ada putih, merah dan (tunjung) biru.

Ada angsa jantan betina, berkeliaran mencari makan di danau Kumudawati yang asal
airnya dari telaga Manasasara.Adapun nama angsa itu, si Cakrangga (nama) angsa
jantan, si Cakranggi (nama) angsa betina. Mereka itu bersama-sama tinggal di telaga
Kumudawati.

Maka sudah lamalah bersahabat dengan kura-kura. Si Durbudi (nama) si jantan,


sedangkan si Kacapa (nama) si betina.

Maka sudah hampir tibalah musim kemarau. Air di danau Kumudawati semakin
mengeringlah. [Kedua] angsa, si Cakrangga dan si Cakranggi lalu berpamitan kepada
kawan mereka si kura-kura; si Durbudi dan si Kacapa. Katanya:

“Wahai kawan kami meminta diri pergi dari sini. Kami ingin pergi dari sini, sebab
semakin mengeringlah air di danau. Apalagi menjelang musim kemarau.Tidak
kuasalah kami jauh dari air. Itulah alasannya kami ingin terbang dari sini, mengungsi
ke sebuah danau di pegunungan Himawan yang bernama Manasasana. Amat murni
airnya bening dan dalam. Tidak mengering walau musim kemarau sekalipun. Di
sanalah tujuan kami kawan.” Begitulah kata si angsa.Maka si kura-kurapun
menjawab, katanya:

“Aduhai sahabat, sangat besar cinta kami kepada anda, sekarang anda akan
meninggalkan kami, berusaha untuk hidupmu sendiri.

Bukankah (keadaannya) sama kami dengan anda, tidak bisa jauh dari air? Ke mana
pun anda pergi kami akan ikut, dalam suka dan duka anda. Inilah hasil persahabatan
kami dengan kalian.

Angsa menjawab: “Baiklah kura-kura. Kami ada akal. Ini ada kayu, pagutlah olehmu
tengah-tengahnya, kami akan memagut ujungnya sana dan sini dengan isteriku.
Kuatlah kami nanti membawa terbang kamu, [hanya] janganlah kendor anda
memagut, dan lagi jangan berbicara. Segala yang kita atasi selama kami
menerbangkan anda nanti, janganlah hendaknya anda tegur juga. Jika ada yang
bertanya jangan pula dijawab. Itulah yang harus anda lakukan, jangan tidak mentaati
kata-kata kami. Apabila anda tidak mematuhi petunjuk kami tak akan berhasil anda
sampai ke tempat tujuan, akan berakhir mati.”Maka demikianlah kata angsa.

Lalu dipagutlah tengah-tengah kayu itu oleh si kura-kura, ujung dan pangkalnya
dipatuk oleh angsa, di sana dan di sini, laki bini, kanan kiri.Segera terbang dibawa
oleh angsa, akan mengembara ke telaga Manasasara, tempat tujuan yang
diharapkannya. Telah jauh terbang mereka, sampailah di atas ladang
Wilanggala.Maka adalah anjing jantan dan betina yang bernaung di bawah pohon
mangga. Si Nohan nama si anjing jantan, si Babyan nama si betina. Maka
mendongaklah si anjing betina, melihat si angsa terbang, keduanya sama
menerbangkan kura-kura. Lalu katanya.“Wahai bapak anakku, lihatlah itu ada hal
yang amat mustahil. Kura-kura yang diterbangkan oleh angsa sepasang!”Lalu si
anjing jantan menjawab: “Sungguh mustahil kata-katamu. Sejak kapan ada kura-kura
yang dibawa terbang oleh angsa? Bukan kura-kura itu tetapi tahi kerbau kering,
sarang karu-karu! Oleh-oleh untuk anak angsa, begitulah adanya!” Begitulah kata si
anjing jantan.

Terdengarlah kata-kata anjing itu oleh kura-kura, marahlah batinnya. Bergetarlah


mulutnya karena dianggap tahi kerbau kering, sarang karu-karu.

Maka mengangalah mulut si kura-kura, lepas kayu yang dipagutnyam jatuhlah ke


tanah dan lalu dimakan oleh serigala jantan dan betina.Si angsa malu tidak dipatuhi
nasehatnya. Lalu mereka melanjutkan perjalanan melayang ke danau Manasasara.

3. Relief 3 (Dharmabuddhi dan Dustabuddhi)

Cerita ini mengenai dua orang sahabat anak para saudagar. Suatu hari Dharmabuddhi
menemukan uang dan bercerita kepada kawannya Dustabuddhi. Lalu mereka berdua
menyembunyikan uang ini di bawah sebuah pohon. Setiap kali mereka membutuhkan
uang, Dharmabuddhi mengambil sebagian dan membagi secara adil. Tapi
Dustabuddhi tidak puas dan suatu hari mengambil semua uang yang tersisa. Ia lalu
menuduh Dharmabuddhi dan menyeretnya ke pengadilan. Tetapi akhirnya
Dustabuddhi ketahuan dan dihukum.

4. Relief 4 (Dua burung betet yang berbeda)

Relief ini melukiskan cerita dua burung betet bersaudara namun berbeda kelakuannya
karena yang satu dididik oleh seorang penyamun. Sedangkan yang satu oleh seorang
pendeta.

C. Kronologi Penemuan

* 1836 – Ditemukan dan dibersikan


* 1897 – 1904 kaki dan tubuh candi diperbaiki namun hasil kurang memuaskan.
* 1908 – Diperbaiki oleh Theodoor van Erp. Puncaknya dapat disusun kembali.
* 1925 – sejumlah stupa disusun kembali.