Anda di halaman 1dari 5

LET’S

Bukan membaca sebuah buku terbitan Pro-U, tetapi membaca pengumuman


lomba melalui Website Pro-U.Ada satu hal yang kemudian terbesit dalam ingatan
saya.Kisah hidup yang sebenarnya cukup panjang untuk diceritakan, namun bisa menjadi
lebih pendek dari bait puisi karena banyak yang disembunyikan.Way of life to be the
Winner(Way to Win).
Bertandang jauh pada kurun yang telah lampau, tak pernah ada salahnya.Bermain
sekejap dalam memoar peristiwa yang mungkin menyakitkan pun tak pernah keliru.Saya
rasa itu pantas sepanjang kemampuan manusia untuk membaca makna dibalik peristiwa
masih tajam.Sepanjang ada pelajaran yang ingin dipetik, dan diwujudkan menjadi buah
yang harum wanginya, manis rasanya, dan sedap sajiannya.
Menghadapi ujian hidup tidak cukup hanya menuliskan jawaban dengan
benar, tetapi lebih dari itu Bagaimana menemukan cara baru menghadapi
kehidupan(Solikhin Abu Izzudin, 1428H:41)
Permulaan bermain dalam usia SMA selalu diwarnai ceria.Mungkin banyak yang
berpendapat demikian karena SMA bukan masa yang mudah dilupa.Bersemi, mungkin
adalah kata yang paling tepat untuk menggambarkan bagaimana para pencari jati diri itu
telah menemukan sosoknya.Begitupun dengan diri saya.Ada satu keasyikan yang
membuat saya sadar tentang siapa saya, dan untuk misi apa saya ada.Hmmm..terdengar
sangat Lebay kawand.Tapi harus diungkapkan bagaiman lagi?
Kenyataannya, saya bukan orang yang pandai bermain lisan.Lidah ini selalu kelu
untuk bicara terlampau banyak dan terbuka, pada orang-orang yang tidak saya kenal dan
tidak mengenal saya.Sebisa mungkin saya selalu menghindar dari kumpulan orang-orang
yang paling suka berbicara.Terlebih diantara orang-orang yang ‘omdo’.Just talk no
action.tampaknya, persepsi ini telah mengawali karier kesendirian saya dalam pergaulan
selama tahun-tahun sejarah di SMA.Pendiam, tertutup, misterius, dan segala macam label
yang mebuat saya merasa lebih nyaman jika berada dalam kesendirian.(Eitss..tapi tunggu
dulu,bukan berarti secara otomatis saya terkucilkan Lho.Saya masih tetap punya teman
kok..masih tetap disapa dan masih tetap berorganisasi, meski tanpa ruh kesungguhan).
Nah, coba tebak!Kalau teman-teman jadi saya, apa yang ingin teman-teman
lakukan.Di tengah-tengah keramaian yang hiruk pikuk:
“Eh tahu nggak, di-tuuut-ada diskon gede-gedean lho!”
“Nanti siang jadi makan-makan khan?”
“Ya Ampun dia tuh ganteng banget.Aku ngefansss..”
“Lihat sinetron tadi malam nggak?bla…bla…bla…”
“Jeng!ulangan nanti contekin ya!”
“Waduh lupa belum belajar nih!kemalaman lihat konser!”
Teman-teman ingat?jika sudah begitu apa yang ingin teman-teman lakukan?
Berkumpul bersama teman-teman Rohis?Sudah pasti.Tapi lagi-lagi saya terbentur dengan
persepsi mematikan.Less talk.
Tidak banyak yang bisa saya lakukan dalam kelompok Rohis.Hanya ada
mendengar dan datang pada syuro-syuro dan kegiatan keislaman.Bagus,tetapi tanpa ruh
tak akan ada artinya.
Saya mulai benar-benar terganggu.Ada keinginan untuk berdamai dengan kondisi
dan mulai membaur tanpa harus melebur.Mulai kagum dengan orang-orang yang pandai
berbicara di depan public dan mampu menggaet simpati dari gaya bicaranya.Ingin
berubah sebagaimana baja hitam merubah dirinya.Tidak ada yang pernah tahu
pergumulan batin ini.Saya benar-benar dikungkung oleh dilemma dan kegelisahan.
Sejak itu mulailah saya tertarik membaca buku-buku inspiratif..Menggugah
hidup.Seven Habits, Change now dan buku-buku lain yang nampaknya menarik dan
mampu membuka pintu kungkungan dilemma yang saya alami.
Tapi kawand, ada satu buku yang beberapa kata-katanya masih tertulis rapih
dalam barisan notes kecil milik saya.Tercatat tanpa tanggal pada tahun 2007 lalu:
I
Tiga penyebab kebinasaan:

Kekikiran yang dipatuhi;

Hawa nafsu yang dituruti;

Dan ketakjuban terhadap diri sendiri.(H.R.Thabrani)

-Way to win hal.62-


Maka saya mulai diingatkan.pada kondisi hati semacam apa saya harus
melangkah, jiwa seperti apa saya harus berakhlak, dan perasaan hina pada siapa saya
harus letakkan.
II
Adapun sebaik-baik kamu adalah:

Yang belajar al-qur’an dan mengajarkannya;

Yang panjang umur dan baik amalnya;

Yang paling baik akhlaknya;

Yang paling menyayangi keluarganya;

Yang bermanfaat bagi sesama.(sebuah hadist)

-way to win hal.65-


Kutipan ini mulai membuat saya sadar akan orientasi hidup yang tidak lebih dari
untuk mengabdi(beribadah).Tentang pengabdian yang menomor satukan akhlak terhadap
sesama makhluk.Sebab Rasul SAW pun diutus tidak lain hanyalah untuk
menyempurnakan akhlak manusia.Maka saya mulai menyibukkan diri untuk belajar
tentang sebuah pedoman.(way of life-Al Qur’an).Belajar untuk memanfaatkan
umur.Belajar untuk menyayangi, belajar untuk berbuat bagi siapapun dan semuanya
adalah dalam rangka penyempurnaan akhlak.Meski siapapun akan sadar bahwa
kesempurnaan akhlak Rasul tak akan pernah sanggup digapai, setinggi apapun ia
meniti.Berawal dari detik itu saya mulai berubah.Tidak sepenuhnya.
III

Kegagalan kita terjadi karena:

Saat rencana dan gagasan hanya jadi sekadar mimpi,

Tanpa ada langkah untuk realisasi.

-way to win hal.66-


Sebelumnya saya memiliki mimpi.Mimpi untuk menjadi penulis yang ‘baik’.Tapi
saya selalu takut untuk mengawang.apa kata orang tentang tulisan saya, bagaimana sikap
orang setelah tahu bagaimana buruknya tulisan saya, dan segala macam persepsi negative
yang bersumber dari imajinasi rasa takut tanpa sebab.Maka saya mulai bereksperimen
menjelajahi segala macam tulisan.Saya mulai benar-benar menemukan keasyikan saat
menumpahkan tinta untuk menjadi cetak biru dalam sejarah kehidupan saya
pribadi.Hanya untuk saya saja.Tetapi realita menjawab lain.Saya tertakdir untuk
mengikuti beberapa kali lomba menulis dan saya menang.Meski bukan pemenang utama,
tapi setidaknya, angka dua telah mulai membuka lembaran baru dalam hidup saya.Saya
mulai mencoba terbuka meski masih dalam tinta.Saya mulai tersenyum.dan setidaknya
detik ini telah berbeda jauh lebih baik dibanding apa yang saya rasakan dulu.Benar-benar
sakura telah berkembang.
Yang terakhir kawand, ini adalah catatan terpanjang dalam notes kecil
saya.Begini tulisannya:
IV

Hadiah Nasihat

“Sesungguhnya Alloh menghendaki agar setiap Muslim bagaikan

singa.Maka jangan sekali-kali Muslim bagaikan kucing.Sesungguhnya Dienul

Islam adalah agama kepahlawanan, yang membentuk manusia berjiwa jantan,

ksatria dan merdeka.Maka jadilah Muslim yang merdeka.Keislaman dalam

dirinya adalah laksana lautan, maka tinggalkanlah segala fatamorgana yang

ada.”

(abdul Qadir Abu Faris, Tashawur Islami, hlm.69)

-way to win hal.93-


Berubahlah kawan sebagaimana kucing menjadi singa.Saya pun tidak setangguh
yang kawan-kawan bayangkan.Hingga detik ini, sedikit banyak saya masih sama dengan
yang dulu.Saya hanya mencoba bersikap lembut pada diri saya sendiri.Berusaha bersabar
karena berubah tak semudah membalikkan telapak tangan.
Semoga kawan, generasi-generasi muslim muda akan bangkit.Sebagaimana singa
yang terbangun dari tidur panjangnya.Menggoyang kesadaran kafir.Menciutkan
kepengecutan Munafiq.Dan semoga Alloh SWT menjadikan kita termasuk dalam jajaran
pengikut Muhammad Rasululloh SAW yang paling setia, dan lurus aqidahnya.Amiin.
BIODATA PENULIS

Nama : Maryam Lathifah

Alamat: Bintaran Kulon MGII/13 RT01/RW01 kel.wirogunan,

kec.Mergangsan Yogyakarta

No.Telp/HP: (0274)8256048

Link Kisah postingan:

http://www.facebook.com/note.php?created&&note_id=454894366641