Anda di halaman 1dari 21

MORALITAS KATOLIK

Kebenaran Mengenai Kontrol atas


Kelahiran

Created By:

Name : Leonardo Pieky. R


Nim : 2008121099
Class : Marketing 12-7C
Lecture : Mr. Albertus

STIKOM The London School of Public Relations


Jakarta
Tahun 2010

A. Pengantar
Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karna atas rahmat dan izin-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah berjudul Kebenaran Mengenai Kontrol
atas Kelahiran.

1. Tujuan pembuatan makalah


Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas ujian akhir semester dalam mata
kuliah Pendidikan Katolik program Strata 1 Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi The
London School of Public Relations-Jakarta. Dalam makalah ini juga dituliskan
mengenai Pembahasan penting mengenai pandangan Gereja Katolik dalam
menanggapi kontrol atas kelahiran yang terjadi dewasa ini.
Gereja Katolik mengajarkan bahwa, kontrol terhadap kelahiran melalui
kontrasepsi merupakan tindakan yang tidak dapat dibenarkan secara moral. Hal ini
adalah sebuah ajaran yang jelas dan tidak dapat salah karena ajaran ini mengalir
keluar dari hukum kodrat sebagaimana diberikan kepada kita oleh Allah, Pencipta
semua orang, maka sifatnya mengikat bagi semua pria dan wanita (HV 18;
Katekismus, hlm. 2036).

2. Inti topic yang dibahas


Sebagai Negara yang berkembang pesat, pemerintah Indonesia melalui BKKBN
(Badan Kordinasi Keluarga Berencana) menggalakan program keluarga berencana
untuk menghindari ledakan penduduk yang akan terjadi di masa mendatang. Ledakan
penduduk ini akan berdampak terhadap berbagai aspek seperti lapangan pekerjaan
yang harus disediakan, penambahan anggaran pendidikan, kesehatan, kebutuhan
pangan, perumahan, dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Namun hal ini menimbulkan pertentangan terhadap ajaran Gereja Katolik yang
menyatakan tindakan kontrasepsi merupakan tindakan yang tidak bermoral. Oleh
karena itu, dalam makalah ini kami akan membahas tentang kebenaran mengenai
control atas kelahiran.
3. Cara pembahasan
Pembahasan akan diulas secara berurutan sebagai berikut:
a. Latar Belakang Kontrasepsi
• Pengertian kontrasepsi
• Sejarah kontrasepsi
• Kontrasepsi di Indonesia
b. Data riset jumlah peserta KB di Indonesia
c. Perumusan masalah
• Keberatan terhadap ajaran Gereja
• Pandangan para ahli
• Ajaran Gereja Katolik terhadap kontrasepsi
• Pemecahan masalah / solusi
d. Kesimpulan

B. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Kontrasepsi berasal dari kata Kontra yang berarti mencegah atau melawan,
sedangkan konsepsi adalah pertemuan antara sel telur yang matang dan sel sperma
yang mengakibatkan kehamilan, Maksud dari kontrasepsi adalah
menghindari/mencegah terjadinya kehamilan sebagai akibat pertemuan antara sel
telur matang dengan sel sperma tersebut.

Sejarah Kontrasepsi

• Dalam catatan sejarah, teknologi kontrasepsi telah dikenal sejak jaman kuno,
yaitu sejak 2700 SM ditemukannya buku resep di China yang menulis tentang
obat peluntur (abortifum), yang diduga merupakan teknologi kontrasepsi pertama
kali.
• Dalam sejarah Keluarga Berencana, di Mesir telah ditemukan beberapa resep
tentang Pasta vagina tahun 1850 SM, dan tampon vagina yang mengandung obat
pada 1550 SM. Obat tersebut terdiri atas akasia tanah, tanaman yang mengandung
Gom Arab yang karena proses fermentasi akan menghasilkan asam laktat yang
sampai sekarang dikenal sebagai spermisida.
• Perkembangan teknologi kontrasepsi pada awalnya berjalan sangat lambat.
Setelah secara sederhana seperti di atas berjalan sampai abad pertengahan, pada
tahun 1564, Fallopius merancang linen sebagai penutup glans penis dalam
melindungi kemungkinan tertular sifilis. Ternyata usahanya mengilhami
penemuan teknologi kontrasepsi modern. Pada 1843 kondom pertama yang
terbuat dari karet. Pada 1838, mangkok serviks (Cervical cap) pertama ditemukan
oleh F.A. Wide, gonekolog dari Jerman. Spermisida pertama dijual di London
tahun 1885. Antara tahun 1920 – 1930, dibuat tablet vagina yang dapat
melepaskan karbondioksida yang membentuk busa dalam vagina.
• IUD (Intra Uterine Devivice) atau AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahin) yang
pertama dikenalkan oleh Righter tahun 1909 terbuat dari logam, sempat populer
tahun 1929, karena efek samping berupa infeksi dan mortalitas yang tinggi,
penggunaannya sempat terhenti. Penemuan IUD oleh Ishihama dari Jepang tahun
1956 dan Oppenheimer dari Israel tahun 1959. Pada saat ini AKDR merupakan
salah satu kontrasepsi yang paling popular dan diterima oleh program Keluarga
Berencana di setiap negara. Sekitar 60 – 65 juta wanita di seluruh dunia
memakainya, dengan pemakai terbanyak di China. AKDR termasuk salah satu
kontrasepsi yang sangat efektif. AKDR mempunyai kemampuan mencegah
kehamilan yang dinilai sangat efektif. Selain kemudahan dalam pemasangan juga
mudah untuk lepas spontan (ekspulsi). Sebagian besar AKDR dilengkapi dengan
tali (ekor) agar mudah mendeteksi. Bahan dasarnya plastik, Jenisnya banyak yaitu
AKDR polos (inert IUD), AKDR yang mengandung tembaga (copper bearing
IUD), AKDR yang mengandung obat (medicated IUD)

Kontrasepsi di Indonesia

Di Indonesia kontrasepsi susuk (Norplent) diperkenalkan pertama kali tahun


1981. Dan pada tahun 1986 BKKBN menerima implant secara resmi sebagai obat
kontrasepsi. Di Indonesia. Implant yang dipasarkan oleh Population Cauncil dengan
nama Norplant dengan kontrasepsi subdermal yang menggunakan levonorgesttrel
(LNG) sebagai bahan aktifnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah
pemasangan implant terdapat peningkatan kadar LNG pada darah dengan cepat.
Gangguan perdarahan merupakan efek samping yang banyak dikeluhkan oleh para
pemakai Implant, baik berupa perdarahan bercak, menoragia, amenorea maupun haid
tidak teratur.

2. Tingkat Kesertaan ber-KB

Tingkat kesertaan ber-KB diukur dari angka persentase PUS yang menjadi
peserta KB. Hasil Pendataan Keluarga Tahun 2009 menunjukkan bahwa
secara nasional jumlah peserta KB tercatat sebanyak 30.813.854 peserta, dan
jumlah PUS sebanyak 43.451.896 pasangan, sehingga tingkat kesertaan ber-
KB dari seluruh pasangan usia subur (PUS) sebesar 70,91%, atau 7 dari 10
PUS pada tahun 2009 menjadi peserta KB.

Tingkat kesertaan ber-KB ini dilihat menurut provinsi hasil pendataan


keluarga tahun 2009 menunjukkan jarak sebar yang tinggi pula, yaitu terendah
di Provinsi Papua sebesar 29,39%, dan tertinggi di Bali sebesar 83,97%.
Provinsi lain yang tingkat kesertaan ber-KB cukup rendah antara lain Papua
Barat (43,99%), Maluku (55,99%), dan Maluku Utara (58,28%).

Angka perkembangan tingkat kesertaan ber-KB ini selama 2 (dua) tahun


terakhir, yaitu pada tahun 2008 dan 2009 dapat dilihat perkembangannya pada
Tabel . Dari Tabel tersebut dapat diungkapkan bawa tingkat kesertaan ber-KB
yang dicerminkan oleh angka persentase peserta KB terhadap PUS secara
nasional menunjukkan adanya sedikit kenaikan (0,39%) yaitu dari 70,55%
pada Pendataan Keluarga Tahun 2008 menjadi 70,91% pada Pendataan
Keluarga Tahun 2009

Tabel
PERKEMBANGAN TINGKAT KESERTAAN BER KB
HASIL PENDATAAN KELUARGA 2008 DAN 2009

JUMLAH PERSENTASE
TAHUN
PESERTA KB
PENDATAAN Peserta KB PUS THD PUS
(1) (2) (3) (4) = (2)/(3)
2008 29.841.240 42.299.699 70,55
2009 30.813.854 43.451.896 70,91

www.bkkbn.go.id

3. Rumuskan masalah
Pemerintah saat ini sedang menggalakan program Keluarga Berencana melalui
BKKBN dengan menekankan kepada masyarakat untuk menciptakan keluarga kecil
yang sejahtera untuk menghindari terjadinya ledakan penduduk yang akan memicu
dampak negative lainnya bagi negara.
Hal ini sangat bertentangan dengan ajaran moral Gereja. Untuk itu, bagaimanakah
kita sebagai orang Katolik menyikapi hal ini? Apakah yang seharusnya kita lakukan?
Dan bagaimana Gereja Katolik menyikapi hal tersebut?
Dalam bab berikutnya kita akan membahas lebih dalam segala kontroversi tentang
kontrasepsi, pendapat para ahli dan ajaran Gereja Katolik tentang masalah tersebut.

C. Pembahasan
1. Keberatan-keberatan atas ajaran Gereja mengenai kontrasepsi:
a. Larangan kontrasepsi tidaklah praktis
Dewasa ini hiburan sekular dan media iklan mempromosikan hedonisme dan
kebanyakan orang cenderung melakoninya sebagai sebuah sikap hidup, dan
lebih menyedihkan lagi, media seringkali menyiarkan berbagai konten berbau
budaya barat yang membuat masyarakat Indonesia berpikir seks adalah
sesuatu yang wajar, suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Hal ini
mencerminkan bahwa pengendalian diri adalah hal yang tidak mungkin dan
mempromosikan kontrasepsi sebagai sarana untuk memastikan ”seks yang
aman”.
b. Mitos mengenai kelebihan penduduk
Para pendukung pembatasan jumlah penduduk berargumen bahwa bumi ini
merupakan sebuah lingkungan yang terlalu rapuh, tempat yang terlalu sempit
dan sumber daya yang terlalu sedikit untuk menyokong pertumbuhan
penduduk. Hal ini sering dikaitkan akan berdampak pada peningkatan
kemiskinan, kejahatan, kelaparan, polusi dan segudang hal buruk lainnya.

c. Hal ini adalah sebuah keputusan pribadi


Banyak yang beranggapan bahwa hal ini merupakan keputusan pribadi dan
bersifat individual karena setiap orang mengetahui apa yang terbaik bagi
mereka. seperti gambaran masyarakat metropolis saat ini, dimana suami istri
sibuk dalam karir mereka sehingga mereka menunda untuk memiliki anak
dengan menggunakan kontrasepsi. Mereka beranggapan dengan adanya anak
maka akan menghambat karir mereka.

d. Kontrasepsi akan mengurangi aborsi


Sebagian besar pihak juga beranggapan bahwa jika Gereja menentang aborsi,
maka Gereja harus mendukung kontrasepsi. Mereka beranggapan bahwa
dengan kontrasepsi, mereka dapat melakukan ”seks yang aman” dan tingkat
aborsi terhadap bayi yang tidak diinginkan menjadi berkurang.

2. Pendapat para ahli


a. ” Pandangan Maltus”

Thomas Robert Maltus (1798) seorang ahli di bidang ekonomi yang juga
seorang pendeta terkenal di Inggris. Maltus saat itu berpandangan bahwa :
penduduk memiliki kemampuan luar biasa untuk berkembang. Jika
pertumbuhan penduduk tersebut tidak dikendalikan maka pertumbuhannya
akan mengikut deret pola ukur (2, 4, 8, 16, 32,...), sedangkan pertumbuhan
ekonomi dan pangan akan mengikuti deret pola hitung (1, 2, 3, 4, 5, ……)

Menurut Maltus ada 2 cara pengendaliannya, yaitu :

1) Positive Check : yaitu cara pengendalian yang tidak moralis dan tidak
dapat dikontrol seperti perang, wabah, atau perlakuan manusia lainnya
yang tidak berperikemanusiaan.
2) Preventive Check : yaitu dengan pengekangan moral dalam membatasi
kelahiran (birth control ). dan untuk ini cara yang dianjurkan adalah
dengan menunda atau pendewasaan perkawinan (PUP)
Maltus sendiri pada waktu itu konsekuen dengan apa yang diucapkannya yaitu
dengan menikah pada usia 35 tahun dan hanya punya 2 anak. Maltus sangat
yakin bahwa secara alamiah konsekuensi pertumbuhan penduduk yang tidak
bisa dikendalikan adalah kelaparan, alasannya adalah :

• Manusia memiliki kemampuan berkembang secara alamiah dan


tidak terbatas secara natural
• Sedangkan penigkatan makanan selalu tidak akan mengimbangi
pertumbuahn penduduk.
• Pertumbuhan penduduk yang pesat juga akan menciptakan
pengangguran (unemployment)

Pendapt Maltus sendiri banyak mendapatkan sanggahan dari berbagai pihak


karena Maltus tidak mempertimbangkan kemajuan tekhnologi.

b. Paham Marvist

Karl Marvist dan Friedrich Engels (1834) adalh generasi sesudah Maltus.
Paham Marvist umumnya tidak setuju dengan pandangan Maltus, karena
menurutnya paham Maltus bertentangan dengan nurani manusia.

Dasar Pegangan Marvist adalah :

1. Beranjak dari pengalaman bahwa manusia sepanjang sejarah akan


dapat menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.
2. Beda pandangan Marvist dan Maltus adalah pada “Natural
Resource” tidak bisa dikembangkan atau mengimbangi kecepatan
pertumbuhan penduduk.

3. Ajaran Gereja mengenai Kontrasepsi


Berikut adalah apa yang diajarkan Gereja melalui Tradisi dan Magisterium akan
sifat jahat dari kehendak untuk dengan sengaja menutup diri dari kemungkinan
untuk hamil yang biasanya dilakukan secara kontraseptif:

St Clement dari Alexandria, Uskup, Bapa Gereja Awal,


Karena didirikan secara ilahi untuk pertumbuhan manusia, bibit (ie: sperma) tidak
boleh dikeluarkan dengan sia-sia atau dirusak atau dibuang. (The Instructor of
Children 2:10:91:2 [191 masehi]).

Pius XI, Paus


Gereja Katolik, berdiri tegak ditengah-tengah kehancuran moral yang
mengelilinginya supaya dapat menjaga kemurnian dari kesatuan perkawinan yang
sedang dilecehkan oleh noda jijik tersebut [ie. mentalitas kontraseptif],
mengumandangkan suara melalui mulut kami memproklamirkan: penggunaan
apapun dari perkawinan yang dilakukan sedemikian rupa sehingga tindakan
perkawinan tersebut secara sengaja menghilangkan kemampuannya untuk
menghasilkan kehidupan adalah pelanggaran melawan hukum Allah dan kodrat,
dan mereka yang melakukan hal ini terkena dosa besar. Jika ada bapa pengakuan
atau Pastor yang menuntun umat yang dipercayakan kepadanya menuju ke
kesalahan ini atau membenarkan kesalahan tersebut dengan menyetujuinya atau
mendiamkan, biarlah si bapa pengakuan dan si pastor ingat bahwa dia
bertanggungjawab kepada Allah, sang Hakim Agung, atas pengkhianatan
kepercayaanNya. Dan biarlah mereka mengingat perkataan Kristus “Mereka
orang buta yang menuntun orang buta. Jika orang buta menuntun orang buta pasti
keduanya jatuh kedalam lubang.” (ensiklik “Casti Conubii,” abridged, 31 Dec
1930)

Yohanes Paulus II, Paus


Dalam tindakan yang mengekspresikan cinta mereka, pasangan dipanggil untuk
saling memberi diri mereka sendiri dalam totalitas pribadi mereka: tidak satupun
dari bagian mereka mesti dikecualikan dari pemberian ini. Ini adalah salah satu
alasan bagi kejahatan intrinsik dari kontrasepsi: [kontrasepsi] memperkenalkan
suatu pembatasan substansial dalam sikap saling memberi [pasangan suami istri],
memecahkan “hubungan tak terpisahkan” antara dua makna dari tindakan
perkawinan (ie: hubungan suami istri), yaitu prokreasi (berketurunan) dan
penyatuan, yang, seperti yang ditunjukkan Paulus VI, tertulis oleh Allah sendiri
dalam kodrat manusia (L'Osservatore Romano, Vatican,11 Maret 1998)

Ajaran yang ditunjukkan oleh para pengajar Gereja ini adalah ajaran tak
terputuskan dan tidak dapat salah Gereja bahwa kontrasepsi adalah sesuatu yang
bertentangan dengan kehendak ilahi Allah dalam memberikan manusia sebuah
“perkawinan.”

Didalam Kitab Suci sendiri Onan menjadi nama yang cukup terkenal karena
tindakan jahatnya yang sekarang diberi nama sesuai dengan namanya, Onani. Di
Kejadian 38:8-10, Onan diperintahkan oleh ayahnya untuk berhubungan dengan
janda kakaknya supaya rumah tangga sang kakak mempunyai keturunan. Onan
sadar bahwa keturunan hasil hubungannya dengan kakak iparnya, Tamar, tidak
akan menjadi miliknya. Kemudian Onan melakukan apa yang sekarang disebut
coitus interuptus. Dia menumpahkan spermanya ke tanah supaya tidak membuahi
rahim sang kakak ipar. Atas perbutan jahat ini Allah membunuh Onan.

Tindakan Allah yang membunuh Onan ini patut lebih dicermati. Sebenarnya
apakah alasan Allah membunuh Onan? Menurut Taurat sendiri hukuman bagi
orang yang tidak berkehendak untuk meneruskan keturunan saudaranya bukanlah
kematian tapi dipermalukan di hadapan para tetua oleh ipar yang menjadi janda
(Ulangan 25:7-10). Suatu hukuman yang jauh lebih ringan daripada dibunuh. Lalu
mengapa Onan dibunuh? Berikut jawaban dari St. Agustinus yang dikutip oleh
Paus Pius XI di ensiklik Casti Conubii:
“Hubungan intim bahkan dengan istri sendiri yang sah akan menjadi bertentangan
dengan hukum dan jahat ketika konsepsi calon manusia dihalangi. Onan, anak
Yudah, melakukan ini dan Tuhan membunuh dia karenanya.”
Jadi Onan dibunuh Allah karena dia telah melakukan suatu dosa yang lebih jahat
daripada sekedar tidak berkehendak untuk menyambung keturunan saudaranya.
Onan telah berkontrasepsi!

Mengapa kontrasepsi dilarang? Kontrasepsi dilarang karena kontrasepsi, baik alat


maupun metodenya, dibuat dengan mentalitas untuk menghilangkan peranan
Allah dalam penciptaan manusia. Manusia tidak diciptakan semata-mata oleh
hubungan suami istri. Manusia, terutama, tercipta karena Allah. Sehingga tanpa
campur tangan Allah tidaklah mungkin sebuah kehidupan baru tercipta seberapa
kali manusia melakukan hubungan suami istri. Namun dalam tatanan ilahinya
Allah mengatur supaya proses penciptaanNya dikerjakan melalui peran manusia
ciptaanNya dalam suatu “perkawinan” (yang telah Dia agungkan dengan
menjadikan perkawinan sebuah sakramen). Dengan kontrasepsi manusia secara
sengaja memilih untuk menggunakan alat atau metode kontraseptif yang
mencegah terjadinya penciptaan. Ini berarti menolak ajakan Allah untuk turut
serta dalam karya penciptaanNya dan menolak tatanan Ilahi yang dibuat Allah.
Suatu perbuatan yang sungguh jahat.

Perkawinan, sesuai kehendak Allah, mempunyai dua aspek yang saling berkaitan.
Aspek yang satu lebih utama dari aspek yang kedua (sekunder). Aspek utama dari
hubungan seksual adalah prokreasi (berketurunan). Aspek kedua dan sekunder
adalah penyatuan (unitive). Kedua aspek ini, sesuai amanat Gereja, tidak boleh
dipisahkan. Menginginkan aspek penyatuan saja membuat seseorang mempunyai
mentalitas kontrasepsi dan melepas tanggung-jawab atas seksualitasnya dan
seksualitas dari pasangannya. Menginginkan aspek prokreasi saja membuat
seseorang memperlakukan keturunan, yang adalah ciptaan agung Allah apapun
kondisinya, sebagai produk unggulan yang bisa dibuang kalau cacat dan
diproduksi massal kalau bermutu (contoh: proses bayi tabung, wanita yang
membeli sperma pilihan di bank sperma atau bangsawan yang istrinya tidak bisa
punya anak kemudian membayar wanita untuk ditiduri untuk kemudian diambil
anaknya).
Aspek prokreasi dan penyatuan pada kodratnya memang diciptakan Allah untuk
saling berkaitan dan tak terpisahkan. Kedekatan, keintiman dan kenikmatan yang
merupakan anugerah Allah bagi suami-istri dalam melakukan hubungan intim
menciptakan suatu kondisi yang ideal bagi penerusan keturunan dan pemeliharaan
keturunan. Seorang pria menemukan seorang wanita. Keduanya saling mencintai
dan menikah. Dalam pernikahan cinta mereka menjadi semakin nyata dan intim
dalam hubungan seksual yang menyatukan mereka menjadi satu daging (Kej
2:24). Dari situ lahirlah buah cinta mereka yang memang merupakan “buah” dari
“cinta” mereka. Sang buah cinta kemudian akan dibesarkan dalam suasana cinta
suami-istri, suatu suasana yang sempurna untuk perkembangan dan jiwa sang
anak dimana nanti bila dia dewasa dia juga akan meneruskan daur cinta ini ketika
dia menemui pasangannya sendiri.

Bersamaan dengan pelarangan keras atas mentalitas kontrasepsi Gereja juga sadar
akan saat-saat dimana kehamilan sebaiknya ditunda karena kondisi yang tidak
memungkinkan (ie: perang, wabah penyakit, wabah kelaparan, suami/istri sakit
parah etc). Paus Paulus VI mengatakan:

“Dalam hubungan dengan kondisi fisik, ekonomi, psikologi dan sosial, peran ke-
orang-tua-an yang bertanggungjawab dilaksanakan, baik oleh keputusan sengaja
dan dermawan untuk membesarkan keluarga yang besar, atau oleh keputusan,
yang dibuat atas motif yang serius dan dengan menghormati hukum moral, untuk
menunda sementara waktu, atau untuk satu waktu yang tak ditetapkan, sebuah
kelahiran baru.” (Humanae Vitae, Par.10)

4. Sanggahan-sanggahan terhadap Ajaran Gereja Katolik

o Larangan kontraspesi tidaklah praktis


Dewasa ini hiburan sekular dan media iklan mempromosikan hedonisme dan
kebanyakan orang cenderung melakoninya sebagai sebuah sikap hidup, dan lebih
menyedihkan lagi, media seringkali menyiarkan berbagai konten berbau budaya
barat yang membuat masyarakat Indonesia berpikir seks adalah sesuatu yang
wajar, suatu kebutuhan yang harus dipenuhi. Hal ini mencerminkan bahwa
pengendalian diri adalah hal yang tidak mungkin dan mempromosikan
kontrasepsi sebagai sarana untuk memastikan ”seks yang aman”.

Taggapan Gereja Katolik


Pengendalian diri memang sulit, tetapi dengan rahmat Tuhan hal ini menjadi
mungkin. Hedonisme, pengejaran pemuasan diri, adalah lawan dari cinta sejati,
karena cinta sejati tidaklah mementingkan diri sendiri atau pemuasan diri sendiri
(bdk. 1Kor 12:4-7), tetapi melibatkan sebuah pemberian diri total kepada orang
lain.

Hedonisme sering kali diibaratkan sebagai duri yang memisahkan antara aspek
pemersatu dan aspek proekreasi dari tindakan seksual. Hedonisme menginginkan
kenikmatan seksual tanpa tanggung jawab. Sedangkan tindakan seksual yang
menutup kemungkinan kehidupan baru merupakan sesuatu yang “egois” dan tidak
bersifat “mempersatukan”.

Tindakan seksual yang diciptakan oleh Allah sebagai ungkapan palaing tinggi dari
cinta perkawinan, secara tragis direduksikan oleh kontrasepsi menjadi sekadar
sarana untuk menggunakan orang lain demi pemuasan hasrat sendiri. Semua
orang ingin dicintai, tak seorang pun yang sungguh-sungguh untuk dimanfaatkan.

o Teori mengenai kelebihan penduduk


Para pendukung pembatasan jumlah penduduk berargumen bahwa bumi ini
merupakan sebuah lingkungan yang terlalu rapuh, tempat yang terlalu sempit dan
memiliki sumber daya yang terlalu sedikit untuk menyokong pertumbuhan
penduduk. Hal ini sering dikaitkan akan berdampak pada peningkatan
kemiskinan, kejahatan, kelaparan, polusi dan segudang hal buruk lainnya.

Taggapan Gereja Katolik


Allah memerintahkan manusia untuk “beranak cucu dan bertambah banyak”
melanjutkan dengan menambahkan “penuhilah Bumi” (Kejadian 1:28). Ini
seakan-akan mengatakan bahwa setelah Bumi penuh maka tidaklah dosa untuk
berhenti berketurunan.

Berdasarka data PBB tahun 2008, jumlah penduduk dunia mencapai 6,7 milyar
jiwa. Luas daratan di Indonesia kurang lebih 1,826,440,000,000m2. Jadi bila
seluruh penduduk dunia ditempatkan di Indonesia maka setiap orang, termasuk
bayi, akan mendapat tanah seluas 272m2. Dengan perkiraan kasar tersebut maka
pendapat bahwa Bumi sudah kepenuhan penduduk dan jumlahnya harus dikurangi
adalah omong kosong dan kebohongan terbesar.

o Hal ini adalah sebagai keputusan pribadi


Banyak yang beranggapan bahwa hal ini merupakan keputusan pribadi dan
bersifat individual karena setiap orang mengetahui apa yang terbaik bagi mereka.
seperti gambaran masyarakat metropolis saat ini, dimana suami istri sibuk dalam
karir mereka sehingga mereka menunda untuk memiliki anak dengan
menggunakan kontrasepsi. Mereka beranggapan dengan adanya anak maka akan
menghambat karir mereka.

Taggapan Gereja Katolik


Semua tindakan manusia sesungguhnya adalah hasil keputusan pribadi dan
melibatkan kebebasan pribadi. Walaupun demikian, kebebasan ini bukan berarti
membuat semua keputusan yang diambil adalah baik. Di saat kita bebas untuk
mengambil keputusan yang buruk, yang melukai relasi kita dengan Allah dan
sesama, kita telah berdosa.
Oleh karena itu manusia memiliki hati nurani. Hati nurani menjaga manusia
dalam pilihan-pilihan kebenaran dan bermoral yang terbentuk dari cahaya Kristus
dan Gereja-Nya. Namun dewasa ini, terbentuk hati nurani yang terbebas dari
moralitas yang obyektif. Dalam Katekismus (no.1792) mengutip sebuah ”gagasan
yang salah mengenai otonomi hati nurani” sebagai ”sumber dari keputusan-
keputusan yang salah dalam perbuatan moral”.

o Kontrasepsi akan mengurangi aborsi


Sebagian besar pihak juga beranggapan bahwa jika Gereja menentang aborsi,
maka Gereja harus mendukung kontrasepsi. Mereka beranggapan bahwa dengan
kontrasepsi, mereka dapat melakukan ”seks yang aman” dan tingkat aborsi
terhadap bayi yang tidak diinginkan menjadi berkurang.

Taggapan Gereja Katolik


Paus Yohanes Paulus II berpendapat mengenai hubungan antara aborsi dan
kontrasepsi sebagai berikut:
Kedua-duanya berakar dalam mentalitas hedonistis yang tidak mau menerima
tanggung jawab dalam perkara-perkara mengenai seksualitas, dan keduanya juga
menyiratkan sebuah konsep kebebasan yang berpusat pada diri sendiri, yang
menganggap prokreasi sebagai sebuah halangan menuju pencapaian pribadi.
Dengan demikian, kehidupan yang terlahir sebagai akibat dari relasi seksual
menjadi musuh yang dihindari entah apa pun bayarannya, dan aborsi menjadi
satu-satunya tanggapan pasti yang mungkin terhadap kontrasepsi yang gagal (EV
13).

5. Solusi
Bila memang ada “alasan yang serius” maka metode yang dianjurkan Gereja
karena tidak melawan hukum moral adalah KB Alami (KBA).
Pada saat ini banyak sekali kebingungan diantara umat Katolik, terutama
pasangan suami-istri atau calon pasangan suami-istri, akan perbedaan antara KBA
dan kontrasepsi. Seringkali mereka, atas berbagai alasan, memandang bahwa
KBA sama saja dengan kontrasepsi sehingga mereka merasa tidak berdosa karena
menggunakan pil-pil KB, KB suntik, kondom, melakukan vasektomi, melakukan
sterilisasi atau praktek kontrasepsi lainnya.

Untuk mengerti perbedaan antara KBA dan kontrasepsi perlu diketahui satu
prinsip dalam teologi moral Katolik. Menurut teologi moral, suatu tindakan
menjadi tidak bertentangan dengan moral bila tindakan itu didasari “niat” yang
bermoral dan dilakukan dengan “cara” yang bermoral. Sebagai contoh, tindakan
tokoh fiksi Robin Hood yang mencuri dari pejabat kaya dan membagikan
curiannya kepada rakyat yang tertindas dan miskin, merupakan tindakan yang
bertentangan dengan moral dan karena itu merupakan dosa. Semulia apapun
“niat” dari Robin Hood namun “cara” yang digunakannya jahat dan tidak sesuai
dengan moral yang bersih. Contoh sebaliknya adalah seorang pejabat yang
memberikan sumbangan besar kepada pihak kepolisian untuk urusan operasional
polisi agar anaknya yang sedang dalam penyelidikan atas kasus perkosaan bisa
dibebaskan. Disini, meskipun “cara” atau upaya yang dilakukan sang pejabat
untuk meringankan beban anaknya adalah perbuatan amal yang baik (membantu
polisi), namun “niat” ataupun alasan sejati dari perbuatannya adalah untuk
mempengaruhi proses hukum. Hal tersebut adalah sesuatu yang bertentangan
dengan moral. Karena itu, sebesar apapun nilai pemberian sang pejabat dan
seberapa terbantunya kepolisian, perbuatan sang pengusaha adalah dosa besar.

Contoh tersebut bisa digunakan untuk menjernihkan perbedaan antara kontrasepsi


dan KBA. Kontrasepsi pada dasarnya diciptakan dengan maksud untuk
menghalangi terciptanya kehidupan baru. Karena itu pemakaian kontrasepsi
sendiri adalah suatu “cara” yang jahat. Jadi, sekalipun suami-istri mempunyai
“niat” yang baik untuk menunda kehamilan yang didasarkan atas “motif yang
serius” (sesuai amanah Paus Paulus VI), namun bila mereka menggunakan “cara”
yang jahat (ie. kontrasepsi) maka tindakan mereka berlawanan dengan moral.

Berlainan dengan kontrasepsi, metode KBA tidak dibuat dengan niatan untuk
menghalangi terciptanya kehidupan baru. Metode KBA dijalankan sesuai dengan
kodrat manusia yang dirancang Alah sendiri. Allah memang tidak memberikan
perintah absolut bagi manusia untuk selalu berketurunan dalam kondisi apapun.

Metode KBA bekerja dengan menghormati rancangan ilahi Allah yang


memberikan masa tidak subur bagi wanita. Sesuai kodratnya wanita mengalami
masa tidak subur dan menopause. Ini adalah rancangan Allah untuk kodrat
manusia yang menunjukkan bahwa manusia memang tidak dirancang untuk selalu
berketurunan. Allah sendiri ketika memerintahkan manusia untuk “beranak cucu
dan bertambah banyak” melanjutkan dengan menambahkan “penuhilah Bumi”
(Kejadian 1:28). Ini seakan-akan mengatakan bahwa setelah Bumi penuh (dan ini
belum terjadi, lihat catatan di bawah) maka tidaklah dosa untuk berhenti
berketurunan meskipun masih tidak boleh memiliki mentalitas kontrasepsi.

Penghormatan KBA terhadap kodrat manusia yang dirancang Allah bisa


dibandingkan dengan kewajiban mendasar manusia untuk memelihara nyawa.
Meskipun manusia wajib memelihara nyawanya dan tidak menghilangkannya
dengan sia-sia lewat bunuh diri atau euthanasia, manusia juga tidak diwajibkan
Allah untuk memelihara nyawa dengan cara apapun. Karena itu upaya untuk
menghindari kematian yang wajar dengan metode medis yang tidak manusiawi
dan membebani merupakan sesuatu yang harus dihindarkan. Begitu juga dengan
penerusan keturunan, ada saat-saat dimana kehamilan bisa ditunda atas “motif
yang serius.” Dan memang menurut rancangan Allah sendiri, seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya, manusia memang tidak selalu mampu berketurunan (masa
tidak subur dan menopause). Penundaan kehamilan atas “motif yang serius”
memungkinkan manusia untuk bekerja dalam tatanan kodrat manusia tersebut
dengan memanfaatkan masa tidak subur wanita.
Bagaimanapun patut ditekankan bahwa KBA bisa digunakan dengan mentalitas
kontraseptif. Bila ini dilakukan maka penggunaan KBA sekalipun merupakan
dosa.besar. Satu pasangan suami-istri yang hidup sejahtera dan mampu untuk
memelihara 3-4 anak tapi memilih untuk menggunakan KBA dan memilih untuk
hanya mempunyai 2 anak dengan alasan agar bisa hidup berkecukupan, telah
melakukan dosa besar.

Namun, dilakukan dengan benar maka KBA tidak melanggar rancangan Allah
sehingga kasih karuniaNya bagi cinta sejati suami-istri beserta anak-anak mereka
yang merupakan berkah dari Allah akan semakin menguduskan keluarga suci
tersebut.

D. Kesimpulan
Rencana Allah bagi perkawinan
Sejak dari kekal sampai kekal, Allah Bapa yang mahabaik telah memberikan diri-Nya
secara penuh dan total. Pemberian ini begitu sempurna sehingga pemberian ini adalah
Putra Abadi, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah Benar dari Allah Benar
(pengakuan iman Nicea). Karena Putra adalah setara dengan Allah dan merupakan
cerminan sempurna dari Bapa, yang adalah mahakuasa dan mahakudus, Dia meniru
Bapa dan pada gilirannya memberikan Diri-Nya secara penuh dan total. Hasil dari
pemberian Diri antara Bapa dan Putra ini adalah Roh Kudus, Pribadi Ketiga dari
Trinitas dan perekat kesatuan cinta dalam Keallahan.

Kita telah diciptakan untuk meniru, dengan bantuan Allah, kehidupan Tritunggal
Mahakudus. Dalam perkawinan, suami dan istri dipanggil untuk memberikan diri
mereka secara utuh dan total dalam peniruan akan Trinitas yang pemberian Diri-Nya
adalah sempurna. Terletak pada inti perkawinan adalah relasi seksual antara suami
dan istri. Dan ketika suami dan istri memberikan dirinya secara penuh dan total
kepada satu sama lain, mereka meniru Allah dan dengan melakukan tindakan
perkawinan ini, mereka boleh diberkati dengan karunia anak.
Jika kita mengatakan tidak, berpaling dari pemberian diri ini dan dari sebuah
keterbukaan tindakan Allah, adalah sebuah dosa terhadap Allah, terhadap pasangan
dan terhadap bagian paling mendalam dan intim dari diri sendiri.

Oleh karena itu, kita sebagai orang Katolik harus menjauhi segala hal yang
berhubungan dengan kontrasepsi dan juga segala mentalitas kontrasepsi yang
menghilangkan peranan Allah dalam penciptaan manusia.

Saran dan harapan


Diharapkan bagi kita kaum muda (mahasiswa/i) khususnya yang beragama katholik
agar tidak menggunakan alat kontrasepsi, karena sudah sangat jelas dikatakan pada isi
makalah ini, bahwa penggunaan alat kontrasepsi itu tidak dibenarkan oleh gereja,
selain itu pemakaian alat kontrasepsi itu juga memiliki dampak negatif dikemudian
hari bagi kehidupan orang yang menggunakannya.

Dengan adanya makalah ini juga sangat ditekankan kepada kita, agar kita sebagai
mahasiswa/i penerus bangsa tidak terjerumus dan terjatuh kedalam kehidupan seks
bebas (free sex) karena hubungan seksual itu hanya dibenarkan kepada orang yang
sudah resmi dalam pernikahan.

Daftar pustaka

Buku
Katekismus Gereja Katolik, Nusa Indah, 1995.
Scott and Kiberly Hahn; ROME Sweet Home, Dioma, Agustus 2004.
Suprenant Leon .J, Jr & Philih .C. L Gray; Faith FACTS, Answers to Catholic Qusetions
Volume 1, Dioma, Oktober 2007.
Suprenant Leon .J, Jr & Philih .C. L Gray; Faith FACTS, Answers to Catholic Qusetions
Volume 2, Dioma, Desember 2007.

Website
http://www.bkkbn.go.id/Webs/Data.php
http://contrasepsitv.blogspot.com/2009/10/sejarah-kontrasepsi.html
http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=2524
http://www.jawaban.com/forum/viewtopic.php?
t=2732&sid=a145250959948bf293139f95afd9899a
http://media.isnet.org/iptek/100/Pincus.html
http://tuloe.wordpress.com/2009/06/20/dasar-dasar-ilmu-kependudukan/