Anda di halaman 1dari 7

I Look at What I Write: Jonathan Safran Foer

Berbagi Pengalaman Menulis

Siapakah Jonathan Safran


Foer? Dia penulis muda
keturunan Ukraina. Lahir
di Washington D.C. pada
21 Februari 1977. Ia
belajar filsafat di
Universitas Princeton.
Selesai kuliah, ia
melakukan perjalanan ke
Ukraina untuk bertemu
perempuan yang
menyelamatkan kakeknya dari kekejaman Nazi. Perjalanan tersebut
menginspirasinya menulis novel pertamanya berjudul Everything is
Illuminated (2002). Karena sambutan luas pembaca, novel tersebut
diadaptasi dalam film dengan judul yang sama pada 2005. Novel keduanya
berjudul Extremely Loud & Incredibly Close (2005). Buku ketiganya berupa
non-fiksi tentang perjalanannya mengunjungi peternakan di pabrik-pabrik di
Amerika berjudul Eating Animals (2009). Dalam buku ini kita bisa tahu
bagaimana peternak di pabrik-pabrik memperlakukan hewan dengan tidak
beradab. Kata Foer, “peternak pabrik berbicara tentang keinginannya
memberi makanan bagi dunia. Tapi itu bukan yang mereka lakukan. Mereka
memberi makanan pada dunia dengan barang yang sangat murah. Peternak
(di rumah-rumah) sejak awal memberi makan dunia dengan sangat sukses
tanpa menyiksa hewan atau merusak lingkungan secara sistematis”. Buku
terakhir ini diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Gramedia dengan judul
yang sama. Dari membaca novel pertama, film dan buku terakhirnya ini, kita
akan tahu kalau Foer seorang vegetarian (on-off).

Alih-alih bakatnya berkembang mengikuti pola terlambat panas (late


bloomers), Foer disebut oleh Malcolm Gladwell sebagai penulis yang memiliki
kecepatan berkarya (precocity). Bakat menulisnya tampak sejak usia muda.
Foer melakukan perjalanan ke Ukraina untuk menulis novelnya pada usia 19
tahun. Saat mahasiswa, ia sempat diajar oleh sastrawan Joyce Carol Oates
dalam mata kuliah creative writing. Oates mengungkapkan kalimat padanya
yang terus diingatnya dan mengubah jalan hidupnya, “Tampaknya Kau
punya bakat yang kuat dan menjanjikan bersanding dengan sesuatu yang
sangat penting dalam kualitas tulisan, yakni energi”.

Ada satu lagi ciri khasnya, Foer suka mengoleksi benda apa saja yang
menurutnya bernilai untuk dikoleksi. Dalam penulisan, ia mengoleksi
berbagai halaman kosong dari para penulis, baik didapat dari arsip mereka
maupun sengaja menyurati mereka untuk mengirimkan halaman kosong.
Beberapa halaman kosong itu ia koleksi dari Isaac Bashevis Singer, Joyce
Carol Oates, dan beberapa penulis kontemporer. Halaman-halaman kosong
itu ia beri bingkai lalu dipajang di tembok rumahnya.

“Kegembiraan dan kengerian dari halaman kosong, hampa dan tak terbatas,
merupakan sumber kecemasan dan inspirasi bagi semua penulis.” Begitu
kata Foer. Katanya pula, “Halaman kosong juga seperti sebuah cermin.
Sebagai penulis muda—saya merenung bagaimana meneruskan menulis
setelah upaya pertama saya (maksudnya, setelah berhasil menerbitkan buku
pertama)—merasa begitu antusias dan menderita menyadari ada halaman
kosong di depan saya. Bagaimana saya bisa mengisinya? Apakah saya ingin
mengisinya? Apakah saya menjadi penulis karena saya ingin menjadi penulis
atau karena saya memang seorang penulis? Saya memandang halaman
kosong hari demi hari mencari diri saya sendiri, seperti Narcissus.”

Sebelumnya, mohon maaf seribu maaf, saya belum membaca kedua


novelnya. Saya baru membaca (belum selesai) Eating Animals. Tapi saya
benar-benar menikmati film yang diangkat dari novelnya itu (saking asyiknya
saya sampai menontonnya tiga kali). Kalau toh Anda belum membaca buku-
buku Foer, atau baru mendengar namanya, semoga tidak mengurangi
kemauan kita belajar menulis darinya.

Berikut ini saya kutip beberapa perbincangannya tentang menulis dalam


beberapa wawancara. Berharap tidak mengurangi maksud yang disampaikan
Foer, saya mengelompokkannya dalam beberapa kiat. Selamat membaca,
semoga bermanfaat.
1. Berpikirlah terbuka

“Menjadi penulis itu menjadi terbuka… Jadi menulis harus punya sesuatu
untuk dilakukan dengan hanya mengetikkannya. Hal itu harus dilakukan
dengan bagaimana Anda sampai pada halaman-halaman dua puluh menit
itu. Bagaimana kata-kata itu sampai pada Anda? Hanya dengan menjadi
terbuka dan gagasan bahwa sesuatu mungkin menarik, hanya dengan
mau menerima atas sesuatu yang Anda tidak berpikir akan menjadi milik
Anda tetapi mungkin sangat baik bagi Anda.”

“Sering ketika Anda menulis… Anda tahu seorang penulis menemukan


sesuatu dalam tulisannya dengan cara yang sama seperti yang dilakukan
pembaca. Anda memperhatikan sesuatu, sesuatu datang, seperti pola-
pola yang Anda tidak bermaksud menaruhnya di sana. Saya sering
mendapati diri saya terkejut. Lalu Anda bisa memutuskan untuk entah itu
merasakannya, dan mengejanya dengan lebih jelas, membetulkannya,
atau membiarkannya apa adanya. Tidak selalu, tapi sangat sering saya
berpikir cara yang terbaik adalah dengan membiarkannya apa adanya.”

2. Biarkan keingintahuan menggerakkan Anda


“Saya menulis karena saya merasa terdorong untuk melakukannya. Saya
bukan seperti penulis yang punya buku yang ingin diisi atau novel yang
ingin ditulis… Saya merasa sangat sulit untuk tersandung pada suatu
subjek yang menarik. Sehingga, ketika sesuatu datang, saya tidak
mempertanyakan terlalu banyak apakah saya sebaiknya melakukannya.
Eating Animal adalah hasil ikutan yang sama dari insting dan
keingintahuan saya.”

“Saya tentu tidak pernah punya semacam outline untuk buku saya atau
rencana akan sampai ke mana. Faktanya, saya tidak pernah menulis
sampai akhir buku. Paling tidak sampai saya cukup jauh memasukinya
yang saya menyadari bahwa ini benar-benar novel dan ada
pertanggungjawaban tertentu pada bentuknya. Tapi, untuk waktu yang
lama saya berpikir hal itu mungkin jadi beberapa surat untuk seorang
teman. Saya pikir mungkin sejenis non-fiksi. Saya pikir itu mungkin
memoir atau kumpulan cerita. Saya pikir itu mungkin jadi sesuatu yang
lepas dan tidak berhubungan dan tidak pernah
ditempatkan di antara dua sampul. Sehingga
saya mengizinkannya untuk tumbuh dengan
sangat intuitif. Sungguh memalukan bahwa
orang ingin menjadi penulis…”

3. I look at what I write


“Saya mulai menulis dengan tidak ada apa-apa dan
malangnya saya biasanya mengakhirinya dengan tidak ada apa-apa, dalam
masa proses dari hari ke hari, masih sebagai halaman kosong. Saya tidak
pernah punya karakter sebelum saya mulai menulis. Saya tidak pernah
punya moral. Saya tidak pernah punya kisah untuk diceritakan. Saya tidak
pernah punya beberapa suara yang saya temukan dan ingin saya bagi.
Auden, dalam puisinya mengatakan, “I look at what I write so I can see what
I think” (Saya melihat apa yang saya tulis sehingga saya bisa tahu apa yang
saya pikirkan). Dalam proses menulis saya, ini sangat benar. Saya tidak
punya pikiran bahwa saya mencoba untuk mengartikulasikannya. Hanya
melalui tindakan menulis saya mencoba menemukan pikiran saya. Jadi hal
ini bisa cukup menakutkan karena ada semacam keyakinan, saya kira,
bahwa Anda harus punya, baik dalam diri Anda maupun dalam prosesnya,
sesuatu yang baik yang akan hadir dari mengisi halaman kosong.

“Dan sangat sering cara tersebut, baik saat ini atau nanti, Anda tersandung
sesuatu. Suatu ide yang Anda tidak tahu kalau Anda punya, atau perasaan
bahwa Anda tidak tahu bahwa Anda punya. Tak ada penyingkapan semacam
itu dan saya tidak tahu tempat lain dalam hidup untuk menemukannya.”

4. Tulislah sesuatu yang Anda sendiri ingin membacanya

“Harus ada semacam perasaan dimana para penulis selalu menulis buku
yang mereka ingin membacanya…yang menyiratkan bahwa buku itu
belum pernah ditulis sebelumnya. Ini adalah semacam buku yang saya
ingin membacanya, ingin memilikinya, menyesal jika tidak memilikinya.”

5. Biarkan ketidakpuasan menggelayuti Anda


“Saya pikir (menyelesaikan sebuah buku) itu seperti 51 persen kelegaan,
mungkin. Saya tidak tahu apakah kepuasan itu suatu kata yang tepat.
Dan yang 49 persen itu ketidakpuasan luar biasa. Anda tahu kan, “Bung,
ini tidak bagus. Lagi.” Anda tahu? Bahwa saya mulai berpikir saya sedang
berupaya mengekspresikan 100 persen dari apapun yang ingin saya
ekspresikan, dan ternyata hasilnya hanya 10 persen. Lalu saya katakan
dengan buku berikutnya, mungkin saya bisa melakukan 11 persen—dan
hasilnya Anda mendapatkan 2 persen. Hal itu seperti kembalian yang
berkurang. Itu seperti Anda peduli lebih banyak dan lebih banyak tentang
kembaliannya. Bahwa 2 persen terasa sungguh-sungguh signifikan.”

6. Menulislah mumpung masih muda


“Saya sungguh berpikir lebih mudah menulis ketika Anda muda. Dan saya
berpikir lebih mudah menulis sesuatu yang lebih sedikit yang Anda tahu
tentang apa yang Anda harapkan. Ini tidak mengatakan bahwa Anda lalu
bisa membuat buku yang lebih baik. Karena jika Anda bisa menulis seperti
penulis senior, makin matang bagi penulis untuk memenuhi harapan-
harapan itu lalu Anda benar-benar melakukan sesuatu yang luar biasa.”

“Saya merasakan sangat kuat bahwa ada sesuatu dalam diri saya,
sesuatu yang ingin saya ekspresikan. Saya yakin setiap orang merasakan
keadaan semacam ini khususnya anak muda. Seperti harus menjadi
seseorang yang saya merasa bagus di bidang itu. Saya merasa hal itu
membakar diri saya atau sesuatu yang saya ingin mencoba
melakukannya dengan sangat keras. Saya tak bisa merasakan apa itu
sebenarnya. Lalu dengan menulis saya menyadari tak terlalu banyak
bahwa saya dilahirkan menjadi penulis, tetapi bahwa menulis lebih
banyak sebagai aktivitas fleksibel daripada yang saya pikir sebelumnya.
Bahwa desakan menulis adalah desakan saya. Menulis dibatasi oleh
keterbatasan saya. Sungguh sesuatu yang menggairahkan.”

7. Karena menulis adalah kesendirian, menulis butuh energi


besar
“Hal tersulit dalam menulis adalah bahwa Anda sendirian saat menulis.
Dan saya mengartikannya dalam beberapa cara berbeda. Satu bahwa
Anda tidak punya teman sebaya yang sejati; tak ada teman kantor untuk
bersendau gurau atau bos. Tak ada seseorang yang memaksa Anda
melakukannya, yang (justru) membuat Anda sangat sulit untuk
melakukannya. Anda juga sendirian dengan pekerjaan Anda. Tahu kan, ini
tidak hanya sukar, tapi juga sepenuhnya tak mungkin untuk tahu apakah
Anda sedang mengerjakan sesuatu yang baik atau buruk, karena tidak
ada ukuran yang objektif. Di banyak pekerjaan lain, orang secara teratur
mendapat umpan balik untuk mengetahui keadaannya. Tapi dengan
menulis, Anda bisa melakukan sesuatu yang hebat (terrifically) dan dunia
mengatakan Anda melakukan sesuatu yang buruk (terribly), atau Anda
melakukan apa yang Anda tahu sebagai sesuatu yang buruk dan dunia
mengatakan Anda melakukan sesuatu yang baik. Jadi Anda sendirian
dalam keadaan itu. Hal itu membuat sangat sulit mengerahkan semua
energi yang dibutuhkan.”

8. Bekerja keraslah
“Menjadi penulis itu berarti bekerja lebih
keras. Setiap waktu adalah bekerja keras.
Saya pernah membaca W.G Sebald
mengatakan kalau menjadi penulis itu tidak
seperti menjadi dokter. Menjadi penulis tidak
seperti usus buntu yang Anda angkat yang
ke-10 kali lebih mudah daripada pertama kali
dan (juga lebih mudah lagi) yang ke-20 kali. (Saking mudahnya) Anda bisa
memakai kain penutup mata. Menjadi penulis itu bekerja keras sepanjang
waktu. Anda lebih menyadari atas apa yang Anda pilih. Itu bukan keadaan
bahwa seorang penulis menciptakan sesuatu yang tidak ada. Itu lebih
sebagai suatu keadaan bahwa apa yang Anda baca dan apa yang anda tulis
dan apa yang anda hidupi, Anda menyadari di dalamnya ada cerita yang
berbeda yang bisa diceritakan, dieksplorasi. Dan Anda hanya bisa memilih
satu saja dalam satu waktu.”

9. Banyak-banyaklah membaca
“Saya lebih perhatian pada berpikir tentang sesuatu daripada membuat
sesuatu. Jika saya harus memilih, jika saya bisa hanya sebagai pembaca
atau penulis, saya lebih suka menjadi pembaca. Membaca adalah satu
dari banyak hal yang paling bernilai dalam hidup saya.”

“Satu dari masalah paling buruk yang sedang berlangsung saat ini adalah
betapa sedikitnya anak muda yang membaca. Ini sepenuhnya kesalahan
kita. Buku tidak dibawa oleh anak muda seperti halnya film atau musik.
Ini tidak berarti mereka tidak mampu membaca buku-buku yang njlimet,
karena mereka lebih mampu daripada banyak orang tua. Masalahnya
adalah sesuatu yang tertanam dalam budaya kita saat ini, yakni budaya
menulis.”

“Anak muda lebih banyak mendengarkan musik daripada membaca buku.


Dan orang yang mendengar Brittany Spears, selera mereka bervariasi
sampai mereka tua dan mereka terbuka terhadap perbedaan dan ada
ruang bagi perbedaan-perbedaan itu. Karena setiap orang punya CD
player dan rak untuk CD. Dengan buku, anak muda tidak terbawa dalam
kebiasaan membaca. Membaca dianggap sebagai tindakan perbaikan diri.
Bekerja. Pekerjaan rumah. Mungkin seperti sesuatu yang Anda tidak
cukup cerdas untuk melakukannya dan menikmatinya.”

10.Menulislah dengan cara Anda sendiri


“Anda tahu kan, hal terbesar tentang menulis atau seni pada umumnya
adalah bahwa Anda bebas. Anda membuat dan Anda melakukan apa
yang Anda ingin dan tak ada seorang pun yang menjadi bos Anda. Satu
hal yang bisa menjadi bos Anda adalah keadaan bahwa Anda sedang
bekerja dan saya ingin ketika saya menyelesaikan hasilnya, saya ingin
mengatakan bahwa saya bebas. Anda tahu kan, ‘Saya melakukan ini
hanya dengan cara yang saya ingin melakukannya.’”

11.Jika kesuksesan dalam menulis itu seperti memenangkan


lotere, maka beli dulu loterenya: menulislah!
Mereka berpikir, “Jika saya menulis novel seperti itu maka saya akan
sukses”. Tapi itu tidak benar. Saya adalah setengah tingkat dari tidak
pernah memublikasikan buku saya. Saya hanya mendapat tunggangan
yang hebat. Saya benar-benar mendapat keberuntungan. Saya seperti
beruntung mendapat lotere.[]