Anda di halaman 1dari 20

PENDAHULUAN

Dalam Islam, konsep keimanan dapat dipadatkan pada konsep tauhid. Dengan kata
lain, tauhid adalah faham ketuhanan (teologi) Islam. Tauhid tersimpul dalam kredo
persaksian (syahadat) Muslim, “tidak ada tuhan selain Tuhan (itu sendiri).” Kalimat
tersebut terdiri dari dua konsep, yakni “menidak” (nafi), dan “meng-iya” atau
peneguhan (itbat). “Menidak” adalah tindakan khas manusia, sebuah pola
eksistensial (mengada). Inilah konsep destruksi tauhid: peruntuhan, dan
penghancuran segenap tuhan-tuhan palsu. Destruksi tauhid merupakan
keniscayaan, prasyarat mutlak untuk afirmasi, atau konstruksi tauhid: pengakuan
kepada Tuhan Yang Esa, Allah.

Tauhid, secara terminologis, mempunyai artian keesaan (berasal dari kata wahida
yang berarti satu atau esa). Secara religius, tauhid mempunyai artian pengakuan
atas keesaan Tuhan, peran Tuhan dalam semua ruang dan waktu dan pelaksanaan
keyakinan tersebut dalam kehidupan praktis-nyata. Diskusi tauhid melampaui
pembicaraan logis-rasional yang sering hanya mengambang pada tataran teori
tanpa nilai karena tanpa diikuti eksistensi pelaksanaan praktis. Tauhid pun tidak
hanya terbatas pada definisi serta perdebatan golongan filosof dan teolog(1)
mengenai inti pokok ketuhanan dalam islam, tetapi tauhid lebih kepada keyakinan
serta pengalaman religius yang mampu melingkupi wilayah transenden dan praktis
sekaligus secara bersamaan tanpa adanya konflik(2).

Sebagaimana telah diketahui secara umum bahwa tauhid merupakan sebuah ajaran
pokok dalam Islam yang selalu mendapatkan penekanan di awal keimanan
seseorang sebagai pintu gerbang keyakinan dan ketaqwaan selama kehidupannya.
Dari tauhid inilah memancar sinar-sinar nilai kehidupan yang menerangi, yang
mendorong manusia untuk berpikir dan berkreasi (beramal). Tauhid, dalam islam,
berangkat dari pengakuan atau syahadah akan keesaan Allah serta kerasulan Nabi
Muhammad sebagai penyampai pesan-pesan transendental Allah kepada manusia.
Dari kalimat singkat ini, berangkatlah nilai-nilai kehidupan yang menuju ke semua
pelosok nilai, baik individual ataupun kolektif komunitas. Bahwa inti sari dari islam
adalah tauhid yaitu sebuah pengakuan akan Allah sebagai Tuhan Yang Esa, Yang
Absolut dan Pencipta.

1
Muthahhari mendefinisikan pandangan-dunia tauhid adalah pemahaman bahwa
alam dapat maujud melalui kehendak bijak, dan bahwa tatanan kemaujudan berdiri
di atas dasar kebaikan dan rahmat, agar maujud-maujud dapat mencapai
kesempurnaan mereka (Muthahhari 1994, 19). Dengan kata lain, alam semesta ini
sumbunya satu (unipolar) dan orbitnya satu (uniaxial). Artinya, hakekat alam
semesta ini berasal dari Allah/Inna Lillah dan akan kembali kepada-Nya/Inna ilaihi
raji’un (Muthahhari 2002, 56).

Keyakinan terhadap keesaan Tuhan harus juga diartikan sebagai keesaan


kehidupan, yaitu tidak ada pemisahan antara spiritualitas dan materialisme, antara
yang bersifat ukhrawi dan duniawi, antara jiwa dan badan, antara langit dan bumi,
dan sebagainya. Sehingga, seluruh aspek kehidupan dalam kerangka tauhid
mempunyai tujuan bersatu dalam kehendak Tuhan dengan rasa ketundukan dan
kepatuhan terhadap syariat Allah dalam maknanya yang luas. Dengan kata lain,
pemahaman terhadap konsep tauhid harus dapat melahirkan sikap yang
menegasikan superioritas manusia atas manusia lain.

Ber-Tauhid kepada Allah ta'ala atau yang dikatakan meng-Esakan Allah ta'ala itu
adalah puncak dari pada segala amal ibadah tertinggi dan kemurnian dari pada inti
ajaran Islam yang dibawa Rasulullah Salalahu 'alaihi was-salam dan nabi-nabi
sebelum beliau yang merupakan jalan keselamatan untuk di dunia dan di akhirat.
Allah swt berfirman di dalam hadist Qudsyi: "Kalimah Laa ilaha illallah.... itu
benteng-Ku, barang siapa yang berada di dalam benteng-Ku aman sentausa."

Karena apa yang dimaksud dengan berada di dalam bentang Allah itu adalah bagi
orang-orang yang mangakui hak Tauhidnya kepada Allah ta'ala, yaitu orang-orang
yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apa pun baik secara terang-
terangan maupun tersembunyi. Jika tetap pandangannya itu, maka bebaslah si
hamba itu dari pada azab dunia maupun azab akhirat. Pasti!!! tidak akan sedikitpun
memberi mudharat apa-apa baik yang berada di langit maupun di bumi. Maka
selamatlah si hamba dari dunia sampai ke akhirat. Dan Si hamba itulah yang
dikatakan mu'min yang sebenar-benarnya mu'min, dan termasuk ke dalam
golongan Ahlus-sunnah wal-jamaah dan termasuk orang yang telah disucikan.
Oleh karena itu, Maha Suci Allah beserta hamba-Nya yang berada di dalam Nur
kalimah-Nya.

2
PEMBAHASAN

Keyakinan kepada Allah Yang Maha Esa (tauhid) merupakan pusat keimanan, karena
itu setiap aktivitas seorang muslim senantiasa dipertautkan secara vertikal kepada
Allah SWT.

Tauhid berarti keyakinan akan realitas tunggal (keesaan Tuhan), tanpa ada sekutu
baginya dalam zat, sifat dan perbuatan-Nya serta tidak ada yang menyamai-Nya.
Q.S.An-Nahl/16:23; “Tuhan adalah satu.” Demikian pula dalam Q.S.Al-Ikhlas/112:1;
“Katakanlah, Allah itu satu.” Dan dalam Q.S.Al-Syu’ara/42:11 ditegaskan bahwa:
“Tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.” Tauhid merupakan prinsip dasar
ajaran agama samawi (agama langit). Artinya semua nabi dan rasul yang diutus
Allah kepada umat mereka masing-masing membawa ajaran tauhid.

Selanjutnya, Murtadha Muthahhari, ulama-filosof Iran, membagi tauhid menjadi


dua, yaitu tauhid teoretis dan tauhid praktis. Tauhid teoretis terdiri dari: pertama,
tauhid dzati yakni meyakini bahwa Allah adalah wajib al-wujud, Maha Esa, tidak ada
dualitas atau pluralitas, dan tak memiliki kesamaan. (QS. 42:11, 112:4). Kedua,
tauhid sifati, yaitu meyakini ketunggalan sifat dengan zat-Nya. Ketiga, tauhid fi’li
adalah mempercayai bahwa Allah adalah pencipta, penguasa, dan pengatur kosmos
raya. Sedangkan tauhid praktis adalah tauhid dalam ibadah (tauhid fi al-ibadah).
Tauhid tipe ini memiliki dua sisi, yaitu sisi Allah dan sisi manusia. Sisi Allah adalah
bahwa tidak ada satu pun yang berhak disembah selain Allah. Sisi manusianya
adalah bahwa hamba-hamba (abid) tidak boleh menyembah sesembahan (ma’bud)

3
selain Allah. Jadi, secara praktis, manusia-tauhid adalah individu yang menjadikan
Allah sebagai alfa-omega, awal-akhir orientasi hidupnya.

Dari sisi lain, tauhid teoritis adalah rangkaian sistem pemikiran tertentu mengenai
Tuhan dan hubungan-Nya dengan alam dan manusia. Manusia Ilahi -yang dididik
dalam madrasah ketauhidan Islam- menganggap wujud dan zat Tuhan hanya satu,
esa dan tunggal, dan menganggap Dia sebagai Pencipta segala sesuatu, Pemilik
semua realitas, Yang Disembah oleh setiap makhluk dan hadir dalam seluruh
eksisitensi. Sekarang dengan memperhatikan suatu prinsip tentang pengaruh
pemikiran terhadap tindakan, tentunya keyakinan-keyakinan manusia terhadap
konsep ketauhidan dan keesaan Tuhan juga berpengaruh dalam setiap niat,
kecendrungan, motivasi dan tindakannya. Dalam artian lain, tauhid (pengesaan
Tuhan) akan memberikan warna khusus dalam kehidupan manusia, inilah yang
dimaksudkan dengan “Tauhid Praktis atau Tauhid Terapan”. Oleh karena itu, tauhid
dalam aspek perbuatan adalah buah sempurna dari pemikiran-pemikiran dan
keyakinan-keyakinan tauhid dalam perbuatan manusia.

Manusia Ilahi adalah manusia yang menerima konsekuensi logis dari akidah-
akidahnya tentang ketauhidan Tuhan. Hanya Tuhan yang dia sembah, hanya
kepada-Nya lah dia memohon pertolongan, hanya pada-Nya lah dia bertawakkal, dia
tidak taat pada siapapun kecuali pada-Nya dan setiap perbuatan yang dia lakukan
hanya untuk mendapatkan keridhaan-Nya.

Syahid Muthahhari, memiliki penjelasan yang indah mengenai perbedaan antara


tauhid teoritis dan tauhid praktis, serta hubungan keduanya. Setelah menjelaskan
pembagian tauhid teoritis, Beliau berkata, “Ketiga derajat yang telah kami jelaskan
diatas, tauhid teoritis dikategorikan sebagai sebuah pengetahuan. Adapun tauhid
dalam ibadah dikategorikan sebagai sesuatu yang “menjadi” atau yang “mewujud”.
Derajat tauhid tersebut adalah sebuah pemikiran dan keyakinan yang benar, dan
tahapan tauhid ini juga adalah bersifat “menjadi” dan “mengeksistensi” secara
benar. Tauhid teoritis adalah sebuah gagasan atau pandangan manusia tentang
wujud dan sifat Yang Maha Sempurna (baca: Tuhan), dan tauhid praktis adalah
sebuah gerakan atau tindakan praktis manusia untuk menyerap sifat-sifat
kesempurnaan dari Yang Maha Sempurna. Tauhid teoritis untuk membuktikan dan
menegaskan keesaan dan ketunggalan wujud Ilahi, sementara tauhid praktis adalah
untuk berproses “menjadi” manusia sempurna berdasarkan tauhid teoritis tersebut.

4
Tauhid teoritis adalah “memandang dan menggagas”, sedangkan tauhid praktis
adalah “berjalan dan bersuluk”.

Dengan demikian, kedua pembagian tauhid di atas merupakan satu kesatuan yang
tak terpisahkan. Pengetahuan tentang tauhid teoritis tidak akan memberi manfaat
tanpa tauhid praktis (tauhid ibadah). Seperi apa yang terjadi pada iblis (syaitan)
yang dilaknat oleh Allah karena tidak taat akan perintah Tuhan (sebagai bentuk
aktus tauhid ibadah), padahal iblis juga mengakui ketauhidan Allah secara teoritis.
Buktinya iblis atau syaitan pun ketika ia telah dilaknat dan dinyatakan kafir, ia pun
memohon kepada Allah agar diperpanjang umurnya hingga hari kebangkitan,
karena ia ingin menyesatkan manusia yang merupakan anak cucu Adam. Seperti
dalam Q.S.Al-A’raf/7:15. Bandingkan dengan Q.S.Al-Hasyar/59:16. Dalam ayat 16 ini
iblis berkata bahwa :

“(Bujukan orang-orang munafik itu adalah) seperti (bujukan) syaitan ketika dia
berkata kepada manusia : “Kafirlah kamu,” maka tatkala manusia itu telah kafir,
maka ia berkata: “Sesungguhnya Aku berlepas diri dari kamu, Karena
Sesungguhnya Aku takut kepada Allah, Rabb semesta alam.

Dalam ayat di atas, iblis menegaskan bahwa ia berlepas diri dari mereka yang
berlaku kufur, karena sesungguhnya ia juga takut kepadaAllah Rabb semesta alam.

A. Agama Samawi dan Prinsip-Prinsipnya

Ada berbagai pendapat yang berbeda-beda di antara para sosiolog, antropolog, dan
sejarahwan agama, berkaitan dengan kemunculan agama. Bagaimana pun juga dari
bukti-bukti yang diketemukan di dalam Islam, kemunculan agama adalah dianggap
bersamaan dengan kemunculan umat manusia. Manusia pertama di atas muka bumi
ini adalah Adam (as), Rasulullah, yang memproklamasikan monotheisme (al Tauhid).
Politheisme dan penyimpangan kebenaran yang kita lihat di sekitar kita adalah
merupakan akibat dari manusia yang mengikuti hawa nafsunya dan tidak mengikuti
pedoman yang benar.

Agama-agama monotheistik (Tauhidi), yang juga dikenal sebagai “agama yang


diturunkan dari langit (Samawi)”, mempunyai tiga prinsip umum mendasar:

5
1. Beriman/percaya kepada Satu Tuhan
2. Beriman/percaya kepada kehidupan abadi di akhirat, dan bahawa manusia akan
menerima ganjaran atau hukuman terhadap setiap perbuatan yang dilakukannya
semasa hidup di dunia.
3. Beriman/percaya kepada Rasul Utusan Tuhan, yang dikirimkan untuk
membimbing umat manusia ke arah kesempurnaan dan ke arah pencapaian
kebahagian di dunia dan di akhirat kelak.

Tiga prinsip fundamental ini mempersiapkan jawaban bagi pertanyaan-pertanyaan


berikut, yang dapat dipertanyakan oleh orang-orang berakal:

“Siapakah Sang Maha Pencipta?"


“Apakah tujuan akhir penciptaan”
“Dari manakah kita dapat mencari petunjuk agar dapat hidup dengan benar?

Bimbingan tersebut telah menjadi aman melalui turunnya wahyu, dan dikenal
sebagai ideologi keagamaan yang telah mewujudkan dirinya di dalam pandangan
dunia ketuhanan (illaahi).

Prinsip-prinsip keimanan/kepercayaan agama adalah terdiri dari akibat-akibat wajar,


implikasi-implikasi dan detail-detail, yang berbeda-beda yang membawa kepada
kemunculan agama yang berbeda-beda, mazhab dan aliran sekte.

Perbedaan dalam keimanan mengenai kenabian, dapat terlihat misalnya dalam


prinsip-prinsip Trinitas (sebagai keimanan Kristiani), dan perbedaan dalam
kepercayaan terhadap ‘Imamah’(kepemimpinan sosial-politik), yang telah mengarah
kepada perbedaan kepercayaan terhadap prinsip-prinsip suksesi (pergantian
kepemimpinan atas umat Islam) yang telah memisahkan antara kelompok Sunni
dan Syiah.

Point utama yang harus dipertimbangkan adalah monotheisme (Tauhiid); kenabian


(Nubuwah), dan hari kebangkitan (Ma’ad), yang merupakan prinsip dasar
(fundamental principles) dari semua agama samawi.

Akibat-akibat wajar (corollaries), bagaimanapun juga telah dianggap sebagai satu


bagian dari prinsip dasar. Sebagai contoh, kepercayaan terhadap Eksistensi dan
kesatuan Tuhan adalah sebuah prinsip dasar. Beberapa ulama Syiah mempercayai

6
bahwa keadilan (‘adl) dapat dianggap sebagai sebuah prinsip yang terpisah, namun
dalam kenyataannya hal itu sebenarnya adalah bagian dari prinsip pertama yang
telah disebut tadi. Contoh lain adalah bahwa ‘Imamah, yang dianggap oleh
beberapa ulama sebagai sebuah prinsip di dalam hak-hak miliknya, sementara
kenyataannya hal itu hanyalah kelanjutan dari prinsip kenabian.

Di atas landasan inilah istilah ‘prinsip-prinsip agama’ dapat dikategorikan ke dalam


bentuk umum dan bentuk particular. Bentuk umum, ‘prinsip agama’ (ushuludin)
berhadapan dengan ‘cabang-cabang’ (furu’din), dan penggunaan partikular istilah-
istilahnya adalah untuk sekte particular dan kepercayaan. Bentuk umum juga
memasukkan agama-agama samawi lainnya, yang berbagi prinsip-prinsip umum
(tauhid, nubuwah, ma’ad).

B. Nilai Tauhid Teoritis

Dengan memperhatikan hubungan antara tauhid teoritis dan tauhid praktis, boleh
jadi kita beranggapan bahwa nilai pemikiran-pemikiran tauhid praktis hanya pada
sisi pengaruh langsungnya terhadap perbuatan manusia, dan tauhid teoritis itu
sendiri tidak memiliki nilai substansial atau esensial terhadap bangunan tindakan
manusia. Nah, apakah anggapan seperti ini benar?

Apabila kita memperhatikan pandangan Islam terhadap kesempurnaan manusia,


maka anggapan di atas tentunya keliru. Berdasarkan konsep Islam tentang
manusia, manusia -baik dalam sisi pemikiran teroritis maupun dalam aspek tindakan
praktis- mampu sampai pada kesempurnaan tertentu. Dan masing-masing dari
kedua aspek manusia tersebut memiliki kesempurnaan dalam batasannya
tersendiri. Sebagai contoh, jiwa manusia memiliki sebuah keyakinan yang benar
dimana keyakinan tersebut sesuai dengan realitas objektifnya, dan hal ini bagi
fakultas akal teoritis, terhitung sebagai sebuah kesempurnaan, khususnya ketika dia
membandingkan dirinya ketika berada dalam kejahilan dan kebodohan. Oleh
karena itu, pengetahuan dan pemahaman kita terhadap ketinggian konsep Islam
mengenai ketauhidan dan keesaan Tuhan –dengan tanpa memperhatikan nilai
praktisnya– memiliki nilai yang sangat berharga dalam batasan teoritisnya
tersendiri, dan sebagian dari aspek kesempurnaan pemikiran manusia menjadi
terpenuhi.

7
C. Keluasan Tauhid Praktis

Setelah kita membahas mengenai makna dari tauhid praktis, termasuk


memperhatikan keluasan dan keragamannya terhadap perilaku-perilaku internal
dan eksternal manusia, dan akan terlihat dengan jelas bahwa tauhid praktis
memiliki wilayah yang cukup luas. Walaupun demikian adanya, biasanya dalam
pembahasan kalam dan teologi, hanya mencukupkan membahas hal-hal yang paling
penting saja berkenaan dengan tauhid praktis.

D. Tauhid dalam Ibadah

Yang paling penting dan fundamental dalam tauhid praktis adalah tauhid dalam
ibadah. Apabila bagian-bagian tauhid teoritis kita letakkan dalam wilayah
monoteisme, maka tauhid ibadah adalah monoteisme itu sendiri. Menyembah
sebuah eksistensi Yang Maha Esa dimana hanya Dia lah yang layak disembah.
Adalah bukan sesuatu yang berlebihan jika dikatakan bahwa tujuan akhir para Nabi
adalah tauhid dalam ibadah, monoteisme atau menyembah Tuhan Yang Maha Esa.
Hal ini sebagaimana firman Allah Swt, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus
rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah taghut.” (Qs. An-nahl: 36)

Dengan memperhatikan kecendrungan fitrah manusia untuk menyembah eksistensi


yang lebih mulia dan sempurna, maka salah satu tujuan yang paling penting dan
merupakan rencana agung agama Ilahi adalah menggiring manusia dalam
mendapatkan tempat bergantung yang hakiki dan menemukan suatu eksistensi
yang layak disembah, dan juga mencegah manusia pada sesuatu dapat menjauhkan
dirinya dari suatu hakikat sejati atau yang dapat mengotori kecendrungan tauhid
dari fitrah sucinya.

Tauhid adalah mengitikadkan bahwa Allah itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya.
Tauhid mencakup sikap, yaitu :

1. Tauhid Dzat

Yang dimaksud dengan zat adalah mengetahui bahwa Allah adalah Esa dalam zat-
Nya. Dia adalah Wujud Yang Maha Kaya dan tidak membutuhkan dat tidak
bergantung kepada apapun dan siapa pun. Seperti ditegaskan dalam Fatir/35:15:
8
“Hai manusia, kamulah yang membutuhkan Allah; dan Allah, Dialah yang Maha Kaya
(Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” Dia adalah zat Tunggal. Dialah
Pencipta dan Sumber segala sesuatu dan segala sesuatu akan kembali pula kepada-
Nya. Dialah Realitas yang menolak dualitas dan pluralitas dan tidak ada yang
menyerupai-Nya.

2. Tauhid sifat

Tauhid sifat berarti mengetahui bahwa zat-Nya adalah sifat-sifat-Nya itu sendiri.
Artinya berbagai sifat-Nya tidak terpisah satu sama lain. Dengan demikian, tauhid
sifat adalah menafikan adanya pluralitas atau kemajemukan pada zat itu sendiri.

3. Tauhid perbuatan

Tauhid perbuatan adalah meyakini bahwa alam raya dan segala sistemnya
merupakan perbuatan dan karya-Nya, timbul dari kehendaknya. Oleh karena itu,
segala yang ada pada alam raya ini pada hakekatnya tidak mandiri dan semuanya
tergantung pada-Nya sebagai sebab pertama.

4. Tauhid ibadah

Tauhid ibadah adalah ketaatan hanya ditujukan kepada Allah semata. Hidup dan
mati, setiap gerak dan diam atau semua aktifitas hanya ditujukan kepada Allah.

Uraian tentang tauhid teoritis dan praktis akan lebih jelas dan rinci, jika kita uraikan
bagaimana Allah memperkenalkan diri-Nya kepada manusia, seperti yang dipahami
dari Al-Qur’an? Tampaknya dalam Al-Qur’an dapat dipahami bahwa yang pertama-
tama Allah perkenalkan kepada manusia adalah perbuatan dan sifat-Nya. Kata yang
pertama ia gunakan untuk memperkenalkan dirinya adalah kata Rabb bukan kata
Allah.

E. Pengertian Rabb

1. Pengertian Rabb dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah

Rabb adalah bentuk mashdar, berasal dari “Rabba Yarubbu” yang berarti
mengembangkan sesuatu dari satu keadaan pada keadaan lain, sampai pada
keadaan yang sempurna.

9
Dari sudut makna etimologis, kata rabb menunjuk makna pokok memperbaiki dan
memelihara sesuatu, melazimi dan memelihara sesuatu, menghimpun sesuatu
dengan sesuatu yang lain. Kemudian dari makna pokok inilah terbentuk makna-
makna pencipta, pemelihara, pendidik, pengatur, pemilik, pemberi kebajikan.
Dengan demikian, jika kata rab itu disandarkan kepada Allah yang sangat
fungsional, yaitu Allah adalah Pencipta, Pemelihara, Pendidik, Pengatur, Pemilik, dan
pemberi kebajikan.

Berdasarkan makna tersebut dapat dipahami makna rabb dalam surah Al-A’raf
yang mengemukakan perjanjian Allah dengan manusia (di alam pra eksistensi).

Dalam ayat ini Allah bertanya: “Bukankah Aku Rabbm? Bukankah Aku Penciptamu,
Pemeliharamu, pemilikmu, pengaturmu, pendidikmu, dan pemberi kebajikan
kepadamu? Mereka (semua manusia) menjawab: “Benar, kami menyaksika.”

2. Pengertian Rabb dalam pandangan umat-umat yang sesat

Mengakui rububiyah Allah dan menerimanya adalah sesuatu yang fitri. Sedangkan
syirik adalah unsur yang datang kemudian. Baginda Rasul bersabda: “Setiap bayi
dilahirkan atas dasar fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya
Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”(HR.Al-Bukhari dan Muslim). Seandainya seorang
manusia diasingkan dan dibiarkan fitrahnya, pasti ia akan mengarah kepada tauhid
yang dibawa oleh para rasul, yang disebutkan oleh kitab-kitab suci dan ditunjukkan
oleh alam. Akan tetapi bimbingan yang menyimpang dan lingkungan yang atheis
itulah faktor penyebab yang mengubah pandangan si bayi. Dari sanalah seorang
anak manusia mengikuti bapaknya dalam kesesatan dan penyimpangan. Dan syirik
dalam tauhid rububiyah, yakni dengan menetapkan adanya dua pencipta yang
serupa dalam sifat dan perbuatannya, adalah mustahil. Akan tetapi sebagian kaum
musyrikin meyakini bahwa tuhan-tuhan mereka memiliki sebagian kekuasaan dalam
alam semesta ini. Setan telah mempermainkan mereka dalam menyembah tuhan-
tuhan tersebut.

Ada sekelompok orang yang diajak untuk menyembah orang-orang yang sudah mati
dengan jalan membuat patung-patung mereka, sebagaimana yang dilakukan oleh
kaum Nabi Nuh. Ada pula sekelompok lain yang membuat berhala-berhala dalam
bentuk planet-planet. Ada pula golongan yang menyembah api, yaitu kaum majusi.
Juga ada kaum yang menyembah sapi, seperti yang ada di India. Semua ini
10
penyebabnya karena mereka membayangkan dan menggambarkan benda-benda
tersebut mempunyai sebagian dari sifat-sifat rububiyah.

Sebagaimana halnya sebagian kaum musyrikin Arab dan Nasrani mengira tuhan-
tuhan mereka adalah anak-anak Allah. Kaum musyrikin Arab menganggap malaikat
adalah anak-anak perempuan Tuhan. Orang Nasrani menyembah Isa atas dasar
anggapan ia sebagai anak laki-laki Allah.

F. Hakikat Ibadah

Walaupun makna ibadah dan makna penyembahan sedikit banyaknya telah jelas
bagi kita, namun dengan memperhatikan perbedaan-perbedaan akan batasan
tauhid dalam ibadah sepanjang sejarah, ada baiknya jika kita menganalisa makna
“ibadah” sehingga kita bisa mendapatkan definisi yang lebih terperinci dari tauhid
dalam ibadah itu sendiri.

Dalam beberapa kamus bahasa arab, ibadah bermakna “penyerahan diri” dan
“pengungkapan kerendahan”. Berdasarakan hal ini, bisa kita ambil kesimpulan
bahwa ibadah adalah merendahkan diri, menyerahkan diri dan mengecilkan diri di
hadapan suatu eksistensi Yang Maha Sempurna (sebagai Yang Disembah). Makna ini
lebih universal dari makna ibadah itu sendiri (dalam istilah teologi dan agama), hal
ini dikarenakan walaupun makna ibadah didalamnya tersimpan makna penyerahan
diri dan perendahan diri, akan tetapi tidak semua penyerahan diri dan perendahan
diri adalah ibadah.

Salah satu bukti dari ungkapan di atas, bahwa manusia senantiasa –dengan hukum
akal praktis dan berdasarkan kemestian akhlak-akhlak universal– menjaga dirinya
untuk tunduk dan menjaga etika terhadap orang yang memiliki hak padanya.
Sebagai contoh, etika seorang murid ketika dia berhadapan dengan gurunya,
ketundukan seorang anak ketika dia berhadapan dengan orang tuanya, contoh
diatas pasti dibenarkan oleh setiap manusia yan berakal dan oleh siapa saja yang
memiliki hati nurani yang bersih.

Al-Quran sendiri memerintahkan kita untuk senantiasa menghormati kedua orang


tua kita, Allah Swt berfirman, “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua
dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, “Wahai Tuhan-ku, kasihilah mereka

11
berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidikku pada waktu kecil.” (Qs. Al-
isra: 24 )

Oleh karena itu, jika sekedar ungkapan penyerahan diri dan perendahan diri adalah
sebuah ibadah, maka akan berkonsekuensi pada; pertama, akal manusia
mengarahkan kita untuk menyembah selain-Nya, kedua, al-Quran mengajak
manusia untuk syirik dalam ibadah, atau dalam kata lain, dengan makna ibadah
tersebut akan mengarahkan sebagian besar orang-orang yang bertauhid
(muwahhid) keluar dari wilayah ketauhidan itu sendiri, atau siapa saja yang
menghormati kedua orang tuanya maka mereka dikategorikan sebagai orang-orang
yang musyrik (tak bertauhid). Padahal dalam al-Quran sendiri Allah Swt
memerintahkan kepada seluruh malaikat untuk sujud kepada Nabi Adam As, “Dan
(ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, “Bersujudlah kamu kepada
Adam!” Maka bersujudlah mereka kecuali Iblis.” (Qs. Al-baqarah: 34).

Begitu juga dalam kisah Nabi Yusuf As, saudaranya dan bahkan Nabi Ya’kub As dan
istirnya semuanya sujud kepada Nabi Yusuf As,“Dan ia menaikkan kedua ibu
bapaknya ke atas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya
sujud kepada Yusuf.” (Qs. Yusuf: 100).

Oleh karena itu, jika setiap penyerahan diri adalah ibadah, maka akan
mengharuskan bahwa al-Quran sendiri telah menyeru kepada malaikat untuk
berbuat syirik dalam ibadahnya, dan juga menggolongkan keluarga Nabi Yusuf As
bahkan ayahnya Nabi Ya’kub As sebagai orang–orang musyrik.

Dari pembahasan diatas, makna yang telah kami sebutkan diatas lebih luas dari
makna hakiki ibadah itu sendiri. Oleh karena itu, kita harus mencari batasan dalam
makna ibadah, sehingga kita mendapatkan makna ibadah yang lebih tepat.

Dengan memperhatikan penggunaan kata ibadah, jelaslah bahwa ibadah adalah


penyerahan, perendahan dan pengecilan diri yang didasari oleh sebuah keyakinan.
Sebuah keyakinan bahwa ketundukan dan penyerahan diri terhadap sebuah
eksistensi tertentu (baca: Tuhan), dikarenakan bahwa keberadaan tertentu tersebut
adalah layak untuk disembah. Karena Dia lah Pencipta keberadaan dan Pengatur
seluruh keberadaan. Dia pula sumber kehidupan atau menghidupkan, mematikan,
yang memberikan maghfirah (ampunan), pemberi rezki dan lain sebagainya. Dan

12
segala hal diatas Dia lakukan tanpa memerlukan bantuan dari sesuatu apapun
selain diri-Nya.

Dalam ibarat lain, hakikat ibadah adalah ketika kita berhadapan dengan sebuah
keberadaan dan eksistensi yang memiliki karekteristik diatas, maka kita merasa
bahwa diri kita adalah hamba dan tunduk serta berserah diri secara mutlak. Namun,
jika ketundukan manusia diperhadapkan kepada sebuah keberadaan tertentu, akan
tetapi tidak diiringi dengan sebuah keyakinan dan sikap penghormatan seperti
diatas, maka kita tidak bisa mengatakan hal tersebut sebagai “ibadah” atau
“menyembah”. Oleh karena itu, jelaslah apa sebenarnya yang dimaksud dengan
ibadah, dan makna inilah yang dipilih oleh para pemikir Islam. Imam Khomeini ra
juga memilih makna ibadah tersebut dalam kitabnya, Kasyful Asrar, “Ibadah dan
penyembahan yang bermakna memuji atau mengagungkan sebuah keberadaan
tertentu yang dia anggap sebagai Tuhan.

G. Defenisi Ibadah

Ibadah secara etimologi berarti merendahkan diri serta tunduk. Di dalam syara’,
ibadah mempunyai banyak defenisi, tetapi makna dan maksudnya satu. Defenisi itu
antara lain :

1. Ibadah adalah taat kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya melalui


lisan para rasul-Nya
2. Ibadah adalah merendahkan diri kepada Allah yaitu tingkatan tunduk yang
paling tinggi disertai dengan rasa mahabbah (kecintaan) yang paling tinggi.
3. Ibadah adalah sebutan yang mencakup seluruh apa yang dicintai dan diridhai
Allah, baik berupa ucapan atau perbuatan, yang zhahir maupun yang batin.
Ini adalah defenisi ibadah yang paling lengkap.

Ibadah itu terbagi menjadi ibadah hati, lisan, dan anggota badan. Rasa khauf
(takut), raja’ (mengharap), mahannah (cinta), tawakkal (ketergantunga), raghbah
(senang) dan rahbah (takut) adalah ibadah Qalbiyah (yang berkaitan dengan hati).
Sedangkan shalat, zakat, haji, dam jihad adalah ibadah badaniyah qalbiyah (fisik
dan hati). Serta masih banyak lagi acam-macam ibadah yang berkaitan dengan hati,
lisan, dan badan.

13
H. Paham-Paham yang Salah tentang Pembatasan Agama

Ibadah adalah perkara tauqifiyah. Artinya tidak ada suatu bentuk ibadah pun yang
disyari’atkan kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Apa yang tidak
disyari’atkan berarti bid’ah mardudah (bid’ah yang ditolak). Maksudnya amalannya
ditolak dan tidak diterima, bahkan ia berdosa karenanya, sebab amal tersebut
adalah maksiat, bukan ta’at.

Dalam ayat Al-Qur’an ada garis petunjuk bagi langkah manhaj yang benar dalam
pelaksanaan ibadah. Yaitu dengan beristiqamah dalam melaksanakan ibadah pada
jalan tengah, tidak kurang atau lebih, sesuai dengan petunjuk syari’at (sebagaimana
yang diperintahkan padamu). Kemudian Dia menegaskan lagi dengan firmanNya :
“Dan janganlah kamu melampaui batas.”

Ada golongan yang saling bertentangan dalam soal ibadah.

Golongan pertama : yang mengurangi makna ibadah serta meremehkan


pelaksanaannya. Mereka meniadakan berbagai macam ibadah dan hanya
melaksanakan ibadah-ibadah yang terbatas pada syi’ar-syi’ar tertentu, yang hanya
diadakan di mesjid-mesjid saja.

Golongan kedua : yang bersikap berlebih-lebihan dalam praktek ibadah sampai


pada batas ekstrim, yang sunnah mereka angkat sampai menjadi wajib.,
sebagaimana mubah mereka angkat menjadi haram.

1. TAUHID RUBUBIYAH

Yaitu menegaskan Allah Swt dalam segala perbuatan-Nya, dengan meyakini bahwa
Dia sendiri yang menciptakan segenap makhluk. Allah menciptakan semua
makhlukNya di atas fitrah pengakuan terhadap rububiyah-Nya. Bahkan orang-orang
musyrik yang menyekutukan Allah dalam ibadah juga mengakui keesaan rububiyah-
Nya. Jadi, jenis tauhid ini diakui semua orang. Tidak ada umat manapun yang
menyangkalnya. Bahkan hati manusia sudah difitrahkan untuk mengakui-Nya,
melebihi fitrah pengakuan terhadap yang lain-Nya. Adapun orang yang paling
dikenal pengingkarannya adalah Fir’aun. Namun demikian di hatinya masih tetap
meyakini-Nya. Sebagaimana dalam surah An-Naml : 14. “Dan mereka

14
mengingkarinya karena kezhaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati
mereka meyakini (kebenaran) nya.”

Tauhid rububiyah ini identik dengan tauhid teoritis yang telah diuraikan
sebelumnya.

2. TAUHID ULUHIYA

Tauhid Uluhiyah adalah mengesakan Allah dengan perbuatan para hamba


berdasarkan niat taqarrub yang disyari’atkan seperti doa. Nadzar, kurban, raja’
(pengharapan), takut, tawakkal, raghbah (senang), rannah (takut) dan inabah
(kembali/taubat). Dan jenis tauhid ini adalah inti dakwah para rasul, mulai rasul
yang pertama hingga yang terakhir. Tauhid uluhiyah ini digambarkan dalam kalimat
“la ilahillah Allah.” ‘tidak ada ilah kecuali Allah’.

Kewajiban awal bagi mukallaf adalah bersaksi laa ilaaha illallah (tidak ada Tuhan
yang berhak disembah kecuali Allah ), serta mengamalkannya. Allah berfirman:

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Allah
dan mohonlah ampunan bagi dosamu..”

Dan kewajiban pertama bagi orang yang ingin masuk Islam adalah mengikrarkan
dua kalimat syahadat.

Tauhid ini adalah inti dari dakwah para rasul, karena ia adalah asas dan pondasi
tempat dibangunnya seluruh amal. Tanpa merealisasikannya, semua amal ibadah
tidak aka diterima. Karena kalau ia tidak terwujud, maka bercokollah lawannya,
yaitu syirik. Sedangkan Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan
mengampuni dosa syirik”(An-Nisa’:48/116.

Tauhid ini identik dengan tauhid praktis.

PENUTUP

KESIMPULAN

15
Manusia melihat dunia tidak dengan “mata polos”. Dunia dilihat sudah melalui
“kacamata” paradigmatik tertentu. “Kacamata” untuk melihat dunia itu adalah
jahan bini, world view atau weltanschauung atau vision de monde atau pandangan
dunia. Rupa ekspresi pandangan dunia beraneka, mulai puisi, sajak-sajak, cerita-
cerita rakyat, pepatah-pepatah dan sebagainya. Jenis pandangan dunia pun banyak
macamnya. Mulai materialisme sampai idealisme memadati galeri pandangan dunia

Dalam Islam, tauhid bukan sekedar gugus keyakinan teologis, tetapi juga sebuah
bingkai epistemologis. Dengan kata lain, tauhid adalah teropong realitas, cara
memandang dunia. Oleh sebab itu, tauhid merupakan pandangan dunia.

Muthahhari mendefinisikan pandangan-dunia tauhid sebagai,” pemahaman bahwa


alam dapat maujud melalui kehendak bijak, dan bahwa tatanan kemaujudan berdiri
di atas dasar kebaikan dan rahmat, agar maujud-maujud dapat mencapai
kesempurnaan mereka.” Dengan kata lain, alam semesta ini sumbunya satu
(unipolar) dan orbitnya satu (uniaxial). Artinya, hakekat alam semesta ini berasal
dari Allah/Inna Lillah dan akan kembali kepada-Nya/Inna ilaihi raji’un. Ali Shariati
menjelaskan pula hal ini. Bagi Shariati:

”Pandangan dunia tauhid adalah pandangan terhadap seluruh alam semesta


sebagai satu kesatuan, bukan membagi-baginya menjadi dunia dan akhirat, dunia
fisik dan metafisik, substansi dan makna, atau materi dan jiwa. Ia berarti
memandang keseluruhan wujud sebagai suatu bentuk tunggal, suatu organisme
yang sadar dan hidup…banyak orang yang percaya pada tauhid, tetapi hanya
sebagai teori keagamaan-filsafat : Tuhan itu satu–hanya itu! Tapi saya memahami
tauhid sebagai pandangan dunia, sebagaimana saya juga memahami syirik
(politheisme) juga dari sudut pandang yang sama, yakni sebagai suatu pandangan
dunia yang menganggap alam semesta sebagai kombinasi yang tidak koheren,
penuh pembagian, kontradiksi dan ketidakselarasan, memiliki kutub-kutub yang
independen dan saling bertentangan, gerakan-gerakan yang bersimpangan, dan
esensi-esensi, terpisah-pisah dan tidak saling terkait, berikut keinginan-keinginan,
kalkulasi-kalkulasi, kriteria-kriteria, tujuan-tujuan dan kehendak-kehendak yang
terpisah dan tidak saling terkait. Tauhid melihat dunia sebagasi satu imperium;
syirik melihatnya sebagai suatu sistem feodal.”

16
Tauhid merupakan sebuah ajaran pokok dalam Islam yang selalu mendapatkan
penekanan di awal keimanan seseorang sebagai pintu gerbang keyakinan dan
ketaqwaan selama kehidupannya. Dari tauhid inilah memancar sinar-sinar nilai
kehidupan yang menerangi, yang mendorong manusia untuk berpikir dan berkreasi
(beramal). Tauhid, dalam islam, berangkat dari pengakuan atau syahadah akan
keesaan Allah serta kerasulan Nabi Muhammad sebagai penyampai pesan-pesan
transendental Allah kepada manusia. Dari kalimat singkat ini, berangkatlah nilai-nilai
kehidupan yang menuju ke semua pelosok nilai, baik individual ataupun kolektif
komunitas. Bahwa inti sari dari islam adalah tauhid yaitu sebuah pengakuan akan
Allah sebagai Tuhan Yang Esa, Yang Absolut dan Pencipta.

Demikianlah uraian tentang tauhid sebagai konsepsi ketuhanan dalam Islam


yang meliputi tauhid teoritis atau tauhid rububiyah dan tauhid praktis (tauhid
ibadah) atau tauhid uluhiyah. Kesatuan hubungan kedua tauhid ini dapat ditemukan
dalam falsafat kalimat azan yang sering dikumandangkan. Azan yang imulai dengan
takbir dan diakhiri dengan kalimat la ialaha illa Allah.Takbir menunjuk makna
kesadaran tauhid teoritis atau tauhid rububiyah yang puncaknya pada kalimat takbir
“Allah Maha Besar” dan kalimat terakhir azan menunjuk tauhid praktis (tauhid
ibadah) atau uluhiyah.

17
DAFTAR PERTANYAAN

18
19
20