Anda di halaman 1dari 74

Iran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Republik Islam Iran
Islamic Republic of Iran
‫جمهوری اسلمی ايران‬
Jomhūrī-ye Eslāmī-ye Īrān

Bendera

Motto: Esteqlāl, āzādī, jomhūrī-ye eslāmī


(Persia: "Kemerdekaan, Kebebasan, Republik Islam")
Lagu kebangsaan: Sorūd-e Mellī-e Īrān

Ibu kota
Teheran
(dan kota terbesar)
Bahasa resmi Persia
Pemerintahan Republik Islam
- Pemimpin Agung Ali Khamenei
- Presiden Mahmoud Ahmadinejad
Revolusi
Luas
- Total 1,648,195 km2 (17)
- Air (%) 0,7%
Penduduk
- Perkiraan 2005 68.017.860 (18)
- Sensus - -
- Kepadatan 41/km2 (128)
PDB (KKB) Perkiraan 2005
- Total US$518,7 miliar (19)
- Per kapita US$7.594 (75)
Mata uang Rial (IRR)
Zona waktu (UTC+3:30)
- Musim panas (DST) (UTC+4:30)
Domain internet .ir
Kode telepon 98

Iran (atau Persia) (bahasa Persia: ‫ )ایران‬adalah sebuah negara Timur Tengah yang
terletak di Asia Barat Daya. Meski di dalam negeri negara ini telah dikenal
sebagai Iran sejak zaman kuno, hingga tahun 1935 Iran masih dipanggil Persia di
dunia Barat. Pada tahun 1959, Mohammad Reza Shah Pahlavi mengumumkan
bahwa kedua istilah tersebut boleh digunakan. Nama Iran adalah sebuah kognat
perkataan "Arya" yang berarti "Tanah Bangsa Arya".

Iran berbatasan dengan Azerbaijan (500 km) dan Armenia (35 km) di barat laut
dan Laut Kaspia di utara, Turkmenistan (1000 km) di timur laut, Pakistan (909
km) dan Afganistan (936 km) di timur, Turki (500 km) dan Irak (1.458 km) di
barat, dan perairan Teluk Persia dan Teluk Oman di selatan.

Pada tahun 1979, sebuah Revolusi Iran yang dipimpin Ayatollah Khomeini
mendirikan sebuah Republik Islam teokratis sehingga nama lengkap Iran saat ini
adalah Republik Islam Iran (‫)جمهوری اسلمی ایران‬.

Daftar isi
[sembunyikan]

• 1 Sejarah
o 1.1 Sejarah awal, Kekaisaran Media dan Kekaisaran Achaemenid
(3200 SM – 330 SM)
o 1.2 Kekaisaran Iran Ketiga: Kekaisaran Parthia (248 SM – 224 M)
o 1.3 Kekaisaran Iran Keempat: Kekaisaran Sassania (226–651)
o 1.4 Islam Persia dan Zaman Kegemilangan Islam Persia (700–1400)
o 1.5 Islam Syi'ah, Kekaisaran Safawi, Dinasti Qajar/Pahlavi dan Iran
Modern (1501 – 1979)
o 1.6 Revolusi Islam dan Perang Iran-Irak (1979-88)
• 2 Pemerintahan dan politik
o 2.1 Pemimpin Agung
o 2.2 Eksekutif
o 2.3 Majelis Wali
o 2.4 Majelis Kebijaksanaan
o 2.5 Parlemen
o 2.6 Kehakiman
o 2.7 Majelis Ahli
o 2.8 Dewan Kota Setempat
• 3 Geografi
o 3.1 Iklim
• 4 Ekonomi
• 5 Komunikasi dan pengangkutan
• 6 Pembagian administrasi
• 7 Demografi
• 8 Kota-kota utama
• 9 Militer
• 10 Budaya
• 11 Lihat pula
• 12 Rujukan

• 13 Pranala luar

[sunting] Sejarah
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Iran
Lihat juga Kekaisaran Persia

[sunting] Sejarah awal, Kekaisaran Media dan Kekaisaran


Achaemenid (3200 SM – 330 SM)

Dari tulisan-tulisan sejarah, peradaban Iran yang pertama ialah Proto-Iran, diikuti
dengan peradaban Elam. Pada milenium kedua dan ketiga, Bangsa Arya hijrah ke
Iran dan mendirikan kekaisaran pertama Iran, Kekaisaran Media (728-550 SM).
Kekaisaran ini telah menjadi simbol pendiri bangsa dan juga kekaisaran Iran, yang
disusul dengan Kekaisaran Achaemenid (648–330 SM) yang didirikan oleh Cyrus
Agung.

Cyrus Agung juga terkenal sebagai pemerintah pertama yang mewujudkan


undang-undang mengenai hak-hak kemanusiaan, tertulis di atas artefak yang
dikenal sebagai Silinder Cyrus. Ia juga merupakan pemerintah pertama yang
memakai gelar Agung dan juga Shah Iran. Di zamannya, perbudakan dilarang di
kawasan-kawasan taklukannya (juga dikenal sebagai Kekaisaran Persia.) Gagasan
ini kemudian memberi dampak yang besar pada peradaban-peradaban manusia
setelah zamannya.
Kekaisaran Persia kemudian diperintah oleh Cambyses selama tujuh tahun (531-
522 M) dan kemangkatannya disusul dengan perebutan kuasa di mana akhirnya
Darius Agung (522-486 M) dinyatakan sebagai raja.

Ibu kota Persia pada zaman Darius I dipindahkan ke Susa dan ia mulai
membangun Persepolis. Sebuah terusan di antara Sungai Nil dan Laut Merah turut
dibangun dan menjadikannya pelopor untuk pembangunan Terusan Suez. Sistem
jalan juga turut diperbaharui dan sebuah jalan raya dibangun menghubungkan
Susa dan Sardis. Jalan raya ini dikenal sebagai Jalan Kerajaan.

Selain itu, pen-syiling-an dalam bentuk daric (syiling emas) dan juga Shekel
(syiling perak) diperkenalkan ke seluruh dunia. Bahasa Persia Kuno turut
diperkenalkan dan diterbitkan di dalam prasasti-prasasti kerajaan.

Di bawah pemerintahan Cyrus Agung dan Darius yang Agung, Kekaisaran Persia
menjadi sebuah kekaisaran yang terbesar dan terkuat di dunia zaman itu.
Pencapaian utamanya ialah sebuah kekaisaran besar pertama yang mengamalkan
sikap toleransi dan menghormati budaya-budaya dan agama-agama lain di
kawasan jajahannya.

[sunting] Kekaisaran Iran Ketiga: Kekaisaran Parthia (248 SM –


224 M)

Parthia bermula dengan Dinasti Arsacida yang menyatukan dan memerintah


dataran tinggi Iran, yang juga turut menaklukkan wilayah timur Yunani pada awal
abad ketiga Masehi dan juga Mesopotamia antara tahun 150 SM dan 224 M.
Parthia juga merupakan musuh bebuyutan Romawi di sebelah timur, dan
membatasi bahaya Romawi di Anatolia. Tentara-tentara Parthia terhagi atas dua
kelompok berkuda, tentara berkuda yang berperisai dan membawa senjata berat,
dan tentara berkuda yang bersenjata ringan dan kudanya lincah bergerak.
Sementara itu, tentara Romawi terlalu bergantung kepada infantri, menyebabkan
Romawi sukar untuk mengalahkan Parthia. Tetapi, Parthia kekurangan teknik
dalam perang tawan, menyebabkan mereka sukar mengawal kawasan taklukan.
Ini menyebabkan kedua belah pihak gagal mengalahkan satu sama lain.

Kekaisaran Parthia tegak selama lima abad (Berakhir pada tahun 224 M,) dan raja
terakhirnya kalah di tangan kekaisaran lindungannya, yaitu Sassania.

[sunting] Kekaisaran Iran Keempat: Kekaisaran Sassania (226–651)

Ardashir I, shah pertama Kekaisaran Sassania, mula membangun kembali


ekonomi dan militer Persia. Wilayahnya meliputi kawasan Iran modern, Irak,
Suriah, Pakistan, Asia Tengah dan wilayah Arab. Pada zaman Khosrau II (590-
628) pula, kekaisaran ini diperluas hingga Mesir, Yordania, Palestina, dan
Lebanon. Orang-orang Sassanid menamakan kekaisaran mereka Erānshahr (atau
Iranshæhr, "Penguasaan Orang Arya".)
Kekaisaran Sassania pada zaman kegemilangannya.

Sejarah Iran seterusnya diikuti dengan konflik selama enam ratus tahun dengan
Kekaisaran Romawi. Menurut sejarawan, Persia kalah dalam Perang al-
Qādisiyyah (632 M) di Hilla, Iraq. Rostam Farrokhzād, seorang jenderal Persia,
dikritik kerana keputusannya untuk berperang kengan orang Arab di bumi Arab
sendiri. Kekalahan Sassania di Irak menyebabkan tentara mereka tidak keruan dan
akhirnya ini memberi jalan kepada futuhat Islam atas Persia.

Era Sassania menyaksikan memuncaknya peradaban Persia, dan merupakan


kekaisaran Persia terakhir sebelum kedatangan Islam. Pengaruh dan kebudayaan
Sassania kemudian diteruskan setelah pemelukan Islam oleh bangsa Persia.

[sunting] Islam Persia dan Zaman Kegemilangan Islam Persia (700–


1400)

Setelah pemelukan Islam, orang-orang Persia mulai membentuk gambaran Islam


Persia, di mana mereka melestarikan gambaran sebagai orang Persia tetapi pada
masa yang sama juga sebagai muslim. Pada tahun 8 M, Parsi memberi bantuan
kepada Abbassiyah memerangi tentara Umayyah, karena Bani Umayyah hanya
mementingkan bangsa Arab dan memandang rendah kepada orang Persia. Pada
zaman Abbassiyah, orang-orang Persia mula melibatkan diri dalam administrasi
kerajaan. Sebagian mendirikan dinasti sendiri.

Pada abad kesembilan dan kesepuluh, terdapat beberapa kebangkitan


ashshobiyyah Persia yang menentang gagasan Arab sebagai Islam dan Muslim.
Tetapi kebangkitan ini tidak menentang identitas seorang Islam. Salah satu
dampak kebangkitan ini ialah penggunaan bahasa Persia sebagai bahasa resmi
Iran (hingga hari ini.)

Pada zaman ini juga, para ilmuwan Persia menciptakan Zaman Kegemilangan
Islam. Sementara itu Persia menjadi tumpuan penyebaran ilmu sains, filsafat dan
teknik. Ini kemudian mempengaruhi sains di Eropa dan juga kebangkitan
Renaissance.

Bermula pada tahun 1220, Parsi dimasuki oleh tentera Mongolia di bawah
pimpinan Genghis Khan, diikuti dengan Tamerlane, dimana kedua penjelajah ini
menyebabkan kemusnahan yang parah di Persia.
[sunting] Islam Syi'ah, Kekaisaran Safawi, Dinasti Qajar/Pahlavi
dan Iran Modern (1501 – 1979)

Parsi mulai berganti menjadi Islam Syiah pada zaman Safawi, pada tahun 1501.
Dinasti Safawi kemudian menjadi salah sebuah penguasa dunia yang utama dan
mulai mempromosikan industri pariwisata di Iran. Di bawah pemerintahannya,
arsitektur Persia berkembang kembali dan menyaksikan pembangunan monumen-
monumen yang indah. Kejatuhan Safawi disusuli dengan Persia yang menjadi
sebuah medan persaingan antara kekuasaan Kekaisaran Rusia dan Kekaisaran
Britania (yang menggunakan pengaruh Dinasti Qajar). Namun begitu, Iran tetap
melestarikan kemerdekaan dan wilayah-wilayahnya, menjadikannya unik di
rantau itu. Modernisasi Iran yang bermula pada lewat abad ke-19, membangkitkan
keinginan untuk berubah dari orang-orang Persia. Ini menyebabkan terjadinya
Revolusi Konstitusi Persia pada tahun 1905 hingga 1911. Pada tahun 1921, Reza
Khan (juga dikenal sebagai Reza Shah) mengambil alih tahta melalui perebutan
kekuasaan dari Qajar yang semakin lemah. Sebagai penyokong modernisasi, Shah
Reza memulai pembangunan industri modern, jalan kereta api, dan pendirian
sistem pendidikan tinggi di Iran. Malangnya, sikap aristokratik dan
ketidakseimbangan pemulihan kemasyarakatan menyebabkan banyak rakyat Iran
tidak puas.

Pada Perang Dunia II, tentara Inggris dan Uni Soviet menyerang Iran dari 25
Agustus hingga 17 September 1941, untuk membatasi Blok Poros dan menggagas
infrastruktur penggalian minyak Iran. Blok Sekutu memaksa Shah untuk melantik
anaknya, Mohammad Reza Pahlavi menggantikannya, dengan harapan
Mohammad Reza menyokong mereka.

Malangnya, pemerintahan Shah Mohammad Reza bersifat otokratis. Dengan


bantuan dari Amerika dan Inggris, Shah meneruskan modernisasi Industri Iran,
tetapi pada masa yang sama menghancurkan partai-partai oposisi melalui badan
intelijennya, SAVAK. Ayatollah Ruhollah Khomeini menjadi oposisi dan
pengkritik aktif terhadap pemerintahan Shah Mohammad Reza dan kemudian ia
dipenjarakan selama delapan belas bulan. Melalui nasihat jenderal Hassan
Pakravan, Khomeini dibuang ke luar negeri dan diantar ke Turki dan selepas itu
ke Irak.

[sunting] Revolusi Islam dan Perang Iran-Irak (1979-88)

Protes menentang Shah semakin meningkat dan akhirnya terjadilah Revolusi Iran.
Shah Iran terpaksa melarikan diri ke negara lain setelah kembalinya Khomeini
dari pembuangan pada 1 Februari 1979. Khomeini kemudianvmengambil alih
kekuasaan dan membentuk pemerintahan sementara, pada 11 Februari yang
dikepalai Mehdi Bazargan sebagai perdana menteri. Setelah itu, Khomeini
mengadakan pungutan suara untuk membentuk sebuah Republik Islam.
Keputusan undian menunjukkan lebih dari 98% rakyat Iran setuju dengan
pembentukan itu. Sistem pemerintahan baru yang dibentuk berasaskan undang-
undang Islam, sayangnya hanya diterapkan sebagian.

Tetapi, hubungan Iran dengan Amerika menjadi keruh setelah revolusi ini,
terutama saat mahasiswa-mahasiswa Iran menawan kedutaan Amerika pada 4
November 1979, atas alasan kedutaan itu menjadi pusat intelijen Amerika.
Khomeini tidak mengambil tindakan apapun mengenai tidakan ini sebaliknya
memuji mahasiswa-mahasiswa itu. Sebagai balasan, Iran menginginkan Shah
Mohammad Reza Pahlavi dikembalikan ke Iran, tetapi ini tidak mereka setujui.
Setelah 444 hari di dalam tawanan, akhirnya para tawanan itu dibebaskan sebagai
tindak lanjut Deklarasi Aljir.

Pada saat yang sama, Saddam Hussein, presiden Irak saat itu, mengambil
kesempatan di atas kesempitan setelah revolusi Iran dan juga kekurangan
popularitas Iran di negara-negara barat, untuk melancarkan perang atas Iran.
Tujuan utama peperangan ini ialah menaklukkan beberapa wilayah yang dituntut
Irak, terutamanya wilayah Khuzestan yang kaya dengan sumber minyak. Saddam
pula ketika itu mendapat sokongan dari Amerika, Uni Soviet dan beberapa negara
Arab lain. Tentara Iran pula yang suatu masa dahulu merupakan sebuah tentara
yang kuat, telah dibubarkan saat itu. Walau bagaimanapun, mereka berhasil
mencegah bahaya tentara Irak seterusnya menaklukkan kembali wilayah Iran yang
ditaklukkan Irak. Dalam peperangan ini puluhan ribu nyawa, baik penduduk
awam maupun laskar Iran, menjadi korban. Jumlah korban diperkirakan antara
500.000 hingga 1.000.000.

[sunting] Pemerintahan dan politik


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pemerintahan dan politik Iran
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Hubungan luar negeri Iran

Iran adalah salah satu di antara anggota pendiri PBB dan juga kepada OKI dan
juga GNB. Sistem politik di Iran berasaskan konstitusi yang dinamakan "Qanun-e
Asasi" (Undang-undang Dasar)

[sunting] Pemimpin Agung


Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Agung Iran

Pemimpin Agung Iran bertanggung jawab terhadap "kebijakan-kebijakan umum


Republik Islam Iran". Ia juga merupakan ketua pasukan bersenjata dan badan
intelijen Iran dan mempunyai kuasa mutlak untuk menyatakan perang. Ketua
kehakiman, stasiun radio dan rangkaian televisi, ketua polisi dan tentara dan enam
dari dua belas anggota Majelis Wali Iran juga dilantik oleh Pemimpin Agung.
Majelis Ahli bertanggung jawab memilih dan juga memecat Pemimpin Agung
atas justifikasi kelayakan dan popularitas individu itu. Majelis ini juga
bertanggung jawab memantau tugasan Pemimpin Agung.

[sunting] Eksekutif

Orang kedua terpenting dalam Republik Islam Iran adalah presiden. Setiap
presiden dipilih melalui pemilihan umum dan akan memerintah Iran selama empat
tahun. Setiap calon presiden mesti mendapat persetujuan dari Majelis Wali Iran
sebelum pemilu dilaksanakan agar mereka 'serasi' dengan gagasan negara Islam.
Tanggung jawab presiden adalah memastikan konstitusi negara diikuti dan juga
mempraktikkan kekuasaan eksekutif. Tetapi presiden tidak berkuasa atas perkara-
perkara yang di bawah kekuasaan Pemimpin Agung.

Presiden melantik dan mengepalai Kabinet Iran, dan berkuasa membuat keputusan
mengenai administrasi negara. Terdapat delapan wakil presiden dan dua puluh
satu menteri yang ikut serta membantu presiden dalam administrasi, dan mereka
semua mesti mendapat persetujuan badan perundangan. Tidak seperti negara-
negara lain, cabang eksekutif tidak memiliki kekuasaan dalam pasukan bersenjata,
tetapi presiden Iran berkuasa melantik Menteri Pertahanan dan Intelijen dan harus
mendapat persetujuan Pemimpin Agung dan badan perundangan.

[sunting] Majelis Wali

Majlis Wali Iran mempunyai dua belas ahli undang-undang, dan enam dari
mereka dilantik oleh Pemimpin Agung. Ketua Kehakiman akan mencadangkan
enam aanggota selebihnya dan mereka akan dilantik secara resmi oleh parlemen
Iran atau Majles. Majelis ini akan menafsirkan konstitusi dan mempunyai hak
veto untuk keputusan dan keanggotaan parlemen Iran. Jikalau terdapat undang-
undang yang tidak sesuai dengan hukum syariah, maka akan dirujuk kembali oleh
parlemen.

[sunting] Majelis Kebijaksanaan

Majelis Kebijaksanaan berkuasa untuk menyelesaikan konflik antara parlemen


dengan Majelis Wali Iran. Badan ini juga turut menjadi penasihat Pemimpin
Agung.

[sunting] Parlemen

Majles-e Shura-ye Eslami (Majlis Perundingan Islam) mempunyai 290 anggota


yang dilantik dan akan bertugas selama empat tahun. Semua calon Majles dan ahli
undang-undang dari parlemen haruslah mendapat persetujuan Majelis Wali.

[sunting] Kehakiman

Pemimpin Agung akan melantik ketua kehakiman Iran, dan ia pula akan melantik
Mahkamah Agung dan juga ketua penuntut umum. Terdapat beberapa jenis
mahkamah di Iran termasuk mahkamah umum yang bertanggung jawab atas
kasus-kasus umum dan kejahatan. Terdapat juga "Mahkamah Revolusi" yang
mengadili beberapa kasus tertentu termasuk isu mengenai keselamatan negara.

[sunting] Majelis Ahli

Majelis Ahli yang bermusyawarah selama seminggu setiap tahun mempunyai 86


anggota yang ahli dalam ilmu-ilmu agama. Mereka diundi secara umum dan akan
bertugas selama delapan tahun. Majelis ini akan menentukan kelayakan calon-
calon presiden dan anggota parlemen. Majelis ini juga akan mengundi untuk
jabatan Pemimpin Agung dan juga berkuasa untuk memecatnya.

[sunting] Dewan Kota Setempat

Majelis setempat akan dipilih secara umum untuk bertugas selama empat tahun di
semua kota dan desa. Kekuasaan majelis ini luas, dari melantik pimpinan kota
hinggal menjaga kepercayaan rakyat.

[sunting] Geografi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Geografi Iran

Iran berbatasan dengan Azerbaijan (panjang perbatasan: 432 km) dan Armenia
(35 km) di barat laut, Laut Kaspia di utara, Turkmenistan (992 km) di timur laut,
Pakistan (909 km) dan Afganistan (936 km) di timur, Turki (499 km) dan Irak
(1.458 km) di barat, dan akhirnya Teluk Persia dan Teluk Oman di selatan. Luas
tanah total adalah 1.648.000 km² (daratan: 1.636.000 km², perairan: 12.000 km²).

Lansekap Iran didominasi oleh barisan gunung yang kasar yang memisahkan
basin drainage atau dataran tinggi yang beragam. Bagian barat yang memiliki
populasi terbanyak adalah bagian yang paling bergunung, dengan barisan seperti
Pegunungan Kaukasus, Pegunungan Zagros dan Alborz, yang terakhir merupakan
tempat titik tertinggi Iran, Gunung Damavand pada 5.604 m. Sebelah timur terdiri
dari gurun di dataran rendah yang tak dihuni seperti Dasht-e Kavir yang asin,
dengan danau garam yang kadang muncul.

Ladang lapang luas ditemukan di sepanjang pesisir Laut Kaspia dan di ujung utara
Teluk Persia, di mana Iran berbatasan dengan sungai Arvand (Shatt al-Arab).
Plain yang lebih kecil dan terputus ditemukan di sepanjang pesisir Teluk Persia,
Selat Hormuz, dan Laut Oman. Iklim Iran kebanyakan kering atau setengah
kering, meskipun ada yang subtropis sepanjang pesisir Kaspia. Iran dianggap
sebagai salah satu dari 15 negara yang membentuk apa yang disebut sebagai
tempat lahirnya kebudayaan manusia.

[sunting] Iklim

Lanskap Iran memiliki beberapa iklim yang berbeda. Di sisi utara negeri itu
(dataran pesisir Kaspia) suhu amat rendah membekukan dan tetap lembab selama
beberapa tahun terakhir. Suhu musim panas jarang mencapai 29 °C. Penguapan
tahunan adalah 680 mm di bagian timur dataran dan lebih dari 1700 mm di sisi
barat dataran. Di barat, permukiman-permukiman di lereng Pegunungan Zagros
mengalami rendahnya suhu. Daerah-daerah itu memiliki musim dingin yang
hebat, dengan rerata suhu harian membekukan dan curah saljunya keras. Lembah
timur dan tengahnya kering, yang curah hujannya kurang dari 200 mm dan
bergurun. Suhu musim panas rata-rata melebihi 38 °C. Dataran pesisir Teluk
Persia dan Teluk Oman di Iran selatan memiliki musim dingin yang sejuk dan
mengalami musim panas yang lembab dan panas. Penguapan tahunan berkisar
dari 135 mm hingga 355 mm.

[sunting] Ekonomi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ekonomi Iran

Ekonomi Iran adalah campuran Ekonomi Perencanaan Sentral dengan sumber


minyak dan perusahaan-perusahaan utamanya dimiliki pemerintahan, dan juga
terdapat beberapa perusahaan swasta. Pertumbuhan ekonomi Iran stabil semenjak
dua abad yang lalu.

Pada awal abad ke-21, persenan sektor jasa dalam pengeluaran negara kasarnya,
PNK, adalah yang tertinggi, diikuti dengan pertambangan dan pertanian. 45%
belanja negara adalah hasil pertambangan minyak dan gas alam, dan 31% dari
cukai. Pada 2004, PNK Iran diperkirakan sebanyak $163 milyar atau $2.440 per
kapita.

Rekan dagang Iran adalah Cina, Rusia, Jerman, Perancis, Italia, Jepang dan Korea
Selatan. Sementara itu, semenjak lewat 90-an, Iran mulai meningkatkan kerjasama
ekonomi dengan beberapa negara berkembang termasuk Suriah, India dan Afrika
Selatan.

[sunting] Komunikasi dan pengangkutan


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Komunikasi dan pengangkutan Iran

Peta menunjukkan jalan raya dan jalan kereta api utama di Iran.
Jaringan jalan raya di Iran adalah salah satu yang terbaik di dunia, dan
menghubungkan kota-kota utama dan kawasan-kawasan luar kota. Pada 2002,
Iran mempunyai 178.152 km jalan raya dan 66% beraspal. Sementara itu terdapat
30 pengguna kereta bagi setiap 1000 penduduknya. Jalan KA di Iran sepanjang
6.405 km (3.980 mil). Pelabuhan utama Iran ialah pelabuhan Bandar Abbas yang
terletak di Selat Hormuz. Pelabuhan ini dihubungkan dengan sistem jalan raya dan
jalan kereta api untuk pengangkutan kargo. Jaringan kereta api Tehran-Bandar
Abbas dibangun pada 1995 yang menghubungkan Bandar Abbas dengan seluruh
Iran dan Asia Tengah melewati Tehran dan Mashad. Pelabuhan-pelabuhan lain
ialah pelabuhan Bandar Anzali di Laut Kaspia, pelabuhan Bandar Turkmen juga
berhadapan dengan Laut Kaspia, dan pelabuhan korramshahr dan pelabuhan
Bandar Khomeyni di Teluk Parsi. Kota-kota utama di Iran juga dihubungkan
dengan Pengangkutan Udara. Iran Air adalah maskapai penerbangan kebangsaan
Iran yang bertanggung jawab dalam pengangkutan udara di Iran dan luar Iran.
Sistem transit pula terdapat di semua bandar-bandar utama sedangkan Tehran,
Mashad, Shiraz, Tabriz, Ahwaz dan Isfahan sedang dalam proses membangun
jalan kereta api bawah tanah.

[sunting] Pembagian administrasi

Iran terbagi atas tiga puluh provinsi yang diperintah seorang gubernur (‫استاندار‬,
ostāndār). Peta di sebelah tidak menunjukkan provinsi Hormozgan, (#20 di dalam
daftar) yang merupakan sebuah pulau:

1. Tehran 11. Hamadān 21. Sistan dan Baluchestan


2. Qom 12. Kermanshah 22. Kermān
3. Markazi 13. Īlām 23. Yazd
4. Qazvin 14. Lorestān 24. Isfahan
5. Gīlān 15. Khūzestān 25. Semnān
6. Ardabil 16. Chaharmahal dan Bakhtiari 26. Māzandarān
7. Zanjan 17. Kohgiluyeh dan Boyer-Ahmad 27. Golestān
8. Azarbaijan Timur 18. Bushehr 28. Khorasan Utara
9. Azarbaijan Barat 19. Fārs 29. Razavi Khorasan
10. Kurdistan 20. Hormozgān 30. Khorasan Selatan

[sunting] Demografi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Demografi Iran

Persebaran agama di Iran.

Iran adalah sebuah negara yang berbilang suku dan agama. Etnik mayoritas ialah
etnik Persia (51% dari rakyatnya,) dan 70% rakyatnya adalah bangsa Iran,
keturunan orang Arya. Kebanyakan penduduk Iran bertutur dalam bahasa yang
tergolong dalam keluarga Bahasa Iran, termasuk bahasa Persia. Kumpulan
minoritas Iran ialah Azeri (24%), Gilaki dan Mazandarani (8%), Kurdi (7%), Arab
(3%), Baluchi (2%) Lur (2%) Turkmen (2%), dan juga suku-suku lain (1%).
Penutur ibu Bahasa Iran diperkirakan sebanyak 40 juta di Iran, dan jumlah
keseluruhannya (merangkumi negara-negara lain) adalah 150-200 juta.

Penduduk Iran pada tahun 2006 ialah 70 juta. Sebanyak dua pertiga jumlah
penduduknya di bawah umur 30 tahun dan persenan penduduk yang melek huruf
86%. Tingkat pertambahan penduduknya semenjak setengah abad yang lalu tinggi
dan diperkirakan akan menurun di masa depan.

Kebanyakan penduduk Iran adalah muslim, di mana 90% Syiah dan 8% Sunnah
Wal Jamaah. 2% lagi adalah penganut agama Baha'i, Mandea, Hindu,
Zoroastrianisme, Yahudi dan Kristen. Zoroastrianisme, Yahudi dan Kristian
diakui oleh pemerintah Iran dan turut mempunyai perwakilan di parlemen. Agama
Baha'i tidak diakui.

[sunting] Kota-kota utama


Iran mempunyai tingkat pertumbuhan penduduk di kawasan kota tertinggi di
dunia. Dari tahun 1950 hingga tahun 2002, persenan penduduk kota meningkat
dari 27% hingga 60%[1][2]. PBB memperkirakan pada tahun 2030, populasi di kota
akan mencapai 80% dari jumlah keseluruhan penduduk Iran[2]. Tumpuan migrasi
dalam negeri pula ialah Teheran yang merupakan kota terbesar di Iran. Teheran
mempunyai penduduk sebanyak 7.160.094 dan kawasan metropolisnya pula
sebanyak 14 juta. Kebanyakan industri Iran bertumpu di kota ini. Di antaranya
ialah industri otomobil, elektronik dan listrik, pembuatan senjata api, tekstil, dan
industri kimia. Berikut adalah 8 kota terbesar Iran beserta jumlah penduduknya.

Teheran Masyhad Karaj Isfahan


7.314.000 2.463.393 1.602.350 1.600.554

Baghe Eram Shiraz


Tabriz View.jpg
edit.jpg
Tabriz
Shiraz
1.496.319
1.307.552
Qom Ahvaz
1.081.745 832.969

[sunting] Militer
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Militer Iran

Militer Iran terbagi atas dua pasukan yaitu pasukan militer negara dan pasukan
militer revolusi. Pasukan militer revolusi berjumlah 545.000 jiwa.[3] Kedua-dua
pasukan bersenjata ini diletakkan dibawah kuasa Menteri Pertahanan dan Logistik
Pasukan Bersenjata Iran. [4]

Tentara nasional Iran mempunyai 420.000 batalyon yang terbagi atas tiga
kelompok utama yaitu Angkatan Darat Iran sebanyak 350.000 pasukan, Angkatan
Laut Iran sebanyak 18.000 pasukan dan Angkatan Udara Iran sebanyak 52.000
pasukan.[5] Angkatan revolusi mempunyai 125.000 pegawai yang terbagi atas lima
cabang yaitu Pasukan Qods (pasukan khusus), Basij (paramiliter), Angkatan Laut
Revolusi, Angkatan Udara Revolusi dan Angkatan Darat Revolusi.[6]

Angkatan Basij adalah tentara paramiliter yang mempunyai anggota penuh 90.000
laskar dan juga 30.000 laskar simpanan ditambah dengan 11 juta lelaki dan
perempuan yang mampu dalam mobilitas.[7]
Kekuatan tentara Iran dirahasiakan dari pengetahuan umum. Namun, pada tahun
lepas, Iran mengumumkan pembangunan beberapa senjata seperti peluru kendali
Fajr-3, peluru kendali Kowsar, peluru kendali Fateh-110, peluru kendali Shahab-3
dan beberapa pembangunan jentera militer.

Peluru kendali Fajr-3 berada di antara pembangunan ketentaraan Iran yang paling
berjaya buat masa ini, yang dibuat di Iran sendiri dan menggunakan bendalir
minyak untuk pembakaran bahan api. Julat peluru berpandu ini dirahasiakan.

[sunting] Budaya
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Budaya Iran

Iran mempunyai sejarah yang panjang dalam kesenian, musik, puisi, filsafat dan
ideologi.

Kebudayaan Iran telah lama mempengaruhi kebudayaan-kebudayaan lain di


Timur Tengah dan Asia Tengah. Malahan, Bahasa Persia merupakan bahasa
intelektual selama milenium kedua Masehi. Kebanyakan hasil tulisan Persia
diterjemahkan ke dalam Bahasa Arab semasa kekholifahan Islam. Pada zaman
awal Islam di Persia, kebanyakan karya Persia ditulis dalam Bahasa Arab. Tetapi,
ketika zaman pemerintahan Umayyah, orang-orang Persia ditindas oleh bangsa
Arab. Ini menyebabkan banyak tokoh intelektual Persia mulai menggunakan
bahasa Persia dalam tulisan mereka. Salah satu karya ini ialah kitab Shahnameh
hasil tulisan Ferdowsi, sebuah karya mengenai sejarah negara Iran.

Kesusasteraan Iran juga tidak kurang hebatnya. Sastrawan Iran yang terkenal ialah
Rumi dan Saadi. Mereka merupakan ahli Sufi dan banyak menyumbang dalam
puisi-puisi Sufi.

Sejarah Masuk dan Perkembangan Islam di Brunei Darussalam

Islam telah masuk di Brunei Darussalam diperkirakan pada abad ke


13 Masehi, yaitu ketika Sultan Muhammad Shah pada tahun 1368 telah
memeluk islam. Akan tetapi jauh sebelum itu, sebenarnya terdapat bukti
bahwa islam telah berada di Brunei Darussalam ini. Misalnya dengan
diketemukannya batu nisan seorang China yang beragama Islam dengan
catatan tahun 1264 Masehi, Namun pada masa ini, Islam belum cukup
berkembang secara meluas. Barulah ketika Awang Khalak Betatar
memeluk Islam dengan gelar Sultan Muhammad Shah, islam mulai
berkembang secara luas.
Ada tiga teori yang menyebutkan tentang munculnya kerajaan
Brunei Darussalam; Pertama, munculnya Kesultanan Melayu yaitu ketika
Malaka jatuh ketangan Portugis pada tahun 1511 Masehi. Kedua,
kesultanan Melayu Islam Brunei muncul tidak lama selepas jatuhnya
kerajaan Melaka kira-kira pada awal abad ke-15 Masehi. Ketiga,
kesultanan Melayu Islam Brunei muncul pada tahun 1371 Masehi yaitu
sebelum munculnya Kerajaan Islam Malaka.

Terlepas dari Teori tersebut, Brunei Darussalam adalah sebuah


Negara kecil dengan sisten monarichi yang memegang teguh kebudayaan
melayu. Merdeka secara penuh diperolehnya pada 1 Januari 1984. Luas
wilayah Brunei modern adalah 5.765 Km2, dengan jumlah penduduk
323.600 sebelum tahun 2000.

System politik yang berlaku di Brunei adalah monarchi absolute, di


mana kepala Negara juga menjadi kepala pemerintahan. Karena dinegara
ini tidak ada lembaga legislasi dan pelaksanaan pemilu, maka boleh
dikatakan tidak suburnya system demokrasi. Perdana Menteri Brunei
adalah Sultan Hasanah Bolkiah.

Negeri ini berpenduduk mayoritas muslim dipimpin oleh Perdana


Menteri sultan Hasanah Bolkiah. Sebagai Negara monarchi, kepala
Negara sekaligus pemimpin islam. Dengan kata lain, PM sekaligus
merangkap ketua lembaga keagamaan yang mengatur lalu lintas
kehidupan beragama dan dibantu oleh mufti. Sementara itu, lembaga
eksekutif terdiri dari PM dan dibantu oleh 12 kementrian.

Kerajaan Islam Melayu ; Fenomena Malayu Islam Braja (MIB)

Sri Baginda Sultan Haji Hassanal Bolkiah Mu’izzaddin Wadaulah, Sultan


dan yang di-pertuan Brunei Darussalam yang mengawali bagaimana
pentingnya MIB pada tahun 1991. Menurutnya, MIB merupakan “identitas
dan citra yang kokoh ditengah-tengah Negara-negara non-sekuler lainnya
di dunia”. Maka wajar, ketika kerajaan ini menyambut tahun 1991, diiringi
dengan berbagai perayaan peristiwa-peristiwa keagamaan.

Oleh karena itu, ideology resmi Negara atau falsafah kehidupan


bernegara tercantum dalam MIB tersebut. Hal ini, bisa dilihat dengan
pernyataan sebuah surat kabar resmi pemerintah yang menggambarkan
sebagai berikut”..Kerajaan Islam Melayu menyerukan kepada masyarakat
untuk setia kepada Rajanya, melaksanakan Islam dan menjadikannya
sebagai jalan hidup serta jalan kehidupan dengan mematuhi segala
karakteristik dan sifat dasar bangsa Melayu sejati Brunei Darussalam,
termasuk menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa Utama..”.

Munculnya MIB ini, barangkali sangat berpengaruh oleh kentalnya


ajaran islam yang diamalkan masyarakatnya, sehingga berpengaruh
sampai dalam kehidupan bernegara. Sejak awal kemerdekaannya, Brunei
dikenal sebagai Negara yang berpenduduk mayoritas muslim. Terkait
dengan ini, Islam di Brunei sejak awal kedatangannya sampai saat ini
masih eksis. Atau hal ini, muncul karena peran yang sangat dominan dari
etnis Melayu dalam mengembangkan institusi-institusi Islam dan
Kesultanan Melayu. Karena hal ini, bisa dilihat dari semakin menguatnya
beberapa bukti bahwa inti dari MIB adalah hasil elaborasi dari lembaga
adat dan tradisi Melayu Brunei.

Dari sebuah hasil penelitian pada tahun 1984 oleh Departemen Sastra
Melayu Universitas Brunei Darussalam, menyebutkan bahwa beberapa
perubahan social yang terjadi di Brunei dapat dikategorikan sebagai
berikut:

1. Penduduk Brunei Darussalam seluruhnya, baik secara cultural


maupun psikologis, sedang mengatasi keragaman yang ada
ditengah-tengah mereka, disebabkan oleh kondisi geografis dan
histories di Brunei Darussalam sendiri.
2. Kebijakan-kebijakan pemerintah mengenai hukum dan ketertiban,
kesejahteraan, pendidikan, dan pembangunan ekonomi telah
mendominasi kehidupan seluruh rakyat Brunei Darussalam.
3. Sebagai akibat dari proses-proses social diatas, penduduk Brunei
Darussalam semakin memilih pola hidup bersama.

Pada poin pertama diatas, yaitu adanya pluralitas etnik, diakui oleh
Neville dalam penelitiannya “Penduduk yang diakui sebagai Melayu,
meliputi : Melayu Lokal, Dusun, Murut, Kedayah, Bisayah, dan komunitas-
komunitas lainnya dalam warga pribumi Brunei Darussalam, ditambah
dengan warga Malaysia dan Indonesia”. Sementara pada poin kedua,
mempertegas adanya proses birokratisasi dalam pemerintahan Brunei
Darussalam. Sedangkan pada poin ketiga, memunculnya fenomena
bahwa perlunya pembangunan sebuah ideology nasional dan
mengartikulasikan budaya Nasional. Sebagai sebuah kesimpulan dalam
penelitian tersebut, ditulis bahwa “Karena pemerintahan mendukung kuat
terhadap konsep Kerajaan Islam Melayu, maka kultur khas Brunei
Darussalam harus diusahakan dengan berlandaskan pada prinsip-prinsip
ini”.

Ada hal yang menarik di Negara Brunei Darussalam ini, misalnya


Pertama, larangan gerakan Islam al-Arqam, Kedua, larangan kepada
orang-orang asing manapun yang menjadi ancaman keharmonisan
system keagamaan di Brunei Darussalam. Darul Arqam yang berpusat di
Suburd, Malaysia, maka mulanya dilarang oleh pemerintahan Malaysia,
tetapi pada kenyataannya kelompok ini telah memberikan kontribusi yang
cukup besar bagi perkembangan ekonomi umat islam. Usaha ini, juga
mengindikasikan semakin kuatnya keinginan pemerintah Brunei
Darussalam untuk membedakan diri antara “islam Brunei” dengan “islam
Bukan Brunei”. Atau dapat diinterpretasikan bahwa Pemerintah Brunei
Darussalam ingin menciptakan garis pemisah antara yang dipandang
sebagai islam pribumi dengan islam yang dianggap dari luar dan tidak
sama dengan Islam Pribumi.

Pada perkembangan selanjutnya, Islam menjadi posisi yang sangat


penting dalam Pemerintah Brunei Darussalam, baik sebagai ideology
nasional maupun sebagai prinsip hidup yang mengatur kehidupan sehari-
hari. Larangan pemerintah atas peredaran minum-minuman keras hingga
perhatiannya terhadap proses Islamisasi melalui berbagai aktifitas
keislaman, mengindikasikan perhatian komitmen Pemerintah Brunei
Darussalam terhadap islam, baik sebagai agama maupun sebagai kultur
Melayu Pemerintah Brunei Darussalam. Akan tetapi, pelarangan ajaran-
ajaran islam “sempalan” maupun ajaran islam dari “luar”, menempatkan
sampai saai ini, hanya satu anggota cabinet yang berasal dari kelompok
Islam, dan amat minim yang bisa duduk di parlemen, akibat dari
pemerataan penduduk Melayu-muslim dengan China sehingga sulit bagi
muslim untuk menjadi calon legislative.

Secara umum dapat dikatakan bahwa dari sisi politik muslim


Singapura masih menyisakan persoalan. Namun demikian, dilihat dari
realitas yang terjadi ditengah masyarakat, isu politik boleh dikatakan tidak
terlalu menarik bagi mereka, karena mereka berada pada posisi minoritas.
Strategi perjuangan politis masih dianggap belum dapat membawa
banyak keuntungan bagi masa depan merek

http://d-
tha.blogspot.com/2009/07/sejarah-
masuk-dan-perkembangan-
islam.htmMenengok Islam di
Brunei Darussalam
A_Dharmawan
Thu, 23 Jun 2005 23:58:50 -0700

Islam di Brunei Darussalam

June 16, 2005

Saudara, yang segera terbayang dari benak kita jika mendengar


perkataan
Brunei Darusalam tentunya adalah nuansa ke-Islaman yang sangat
kental di
tengah gemilang kehidupan disana hasil emas hitam yang mengalir
tanpa henti
di negeri kecil di Kepulauan Kalimantan tersebut. Penduduk Brunei
Darusalam
hanya berjumlah 370 ribu orang dengan pendapatan berkapita sekitar
23,600
dollar Amerika atau sekitar 225 juta rupiah ini, 67 persennya
beragama
Islam. Budha 13 persen, Kristen 10 persen dan kepercayaan lainnya
sekitar 10
persen. Islam adalah agama resmi kerajaan Brunei Darusalam yang
dipimpin
oleh Sultan Hasanal Bolkiah. Sultan Bolkiah mengikrarkan negaranya
Brunei
Darusalam sebagai negara Islam-Melayu-Beraja.

Saudara dilihat dari sejarahnya, Brunei adalah salah satu kerajaan


tertua di
Asia Tenggara. Sebelum abad 16, Brunei memainkan peranan penting
dalam
penyebaran Islam di Wilayah Kalimantan dan Filipina. Sesudah
merdeka di
tahun 1984, Brunei kembali menunjukkan usaha serius bagi
memulihkan nafas
keislaman dalam suasana politik yang baru. Di antara langkah-
langkah yang
diambil ialah mendirikan lembaga-lembaga moden yang selaras dengan
tuntutan
Islam. Disamping menerapkan hukum syariah dalam perundangan
negara, berdiri
pula Pusat Kajian Islam serta lembaga keuangan Islam. Dosen dari
Universitas
Brunei Darusalam, Dr Haji Awang Asbol Bin Haji Mail memberi
penjelasan
mengenai peran negara dalam perkembangan Islam.

"Di Brunei memang kerajaan memainkan peranan penting, dia ada satu
pusat
dakwah, kita cuba menerapkan falsafah Islam Melayu kerajaan,
memang selaras
dengan Islam, memang sudah di buat kemudian di sambung lagi oleh
Sultan
Hassanal Bolkiah, mlah setiap keramaian Islam, pegawai2 pekerjaan
di
wajibkan datang, di jemput seperti Maulud Nabi, Quran, Isra
Mikraj."

Meskipun demikian, langkah mengembangkan Islam dalam sendi-sendi


masyarakat
di Brunei dilaksanakan dengan hati hati agar proses itu berjalan
seimbang.
Proses pengislaman itu diatur sedemikian rupa hingga tidak
memberikan dampak
pada keamanan. Sesudah itu, proses tersebut ditekankan pada bisa
pendidikan.
Sementara yang ketiga, kerajaan Brunei Darusalam menegaskan bahwa
proses
pengembangan Islam mestilah terjadi keseimbangan antara keperluan
duniawi
dan Ukhrawi. Itulah sebabnya, dampak tragedy 11 September tidak
begitu
dirasakan di kalangan masyarakat Brunei.

"Kita di Brunei agak sensitif, bukan jenis terbuka, kerajaan tidak


mahu kita
membuat benda yang boleh mengancam keselamatan. Kerajaan
mempastikan Islam
itu bergerak terus, terutama sekali dalam bidang education. Dalam
dakwah2,
kerajaan sudah mengatakan, dalam kita memahami Islam, hanya tidak
pada
akhirat, kita mesti melihat dunia juga."

Dr Haji Awang Asbol Bin Haji Mail, dosen Universitas Brunei


Darussalam.

Saudara, Secara umum, muslim di Brunei menganut Mazhab Syafiin


dalam urusan
Fiqih dan ahlusunnah waljamaah di bidang akidah. Dasar ini sengaja
diatur
oleh negara untuk mengelakkan perbedaan pendapat yang mungkin
terjadi
dikalangan Muslim Brunei sekiranya pemikiran lain masuk. Sementara
itu,
dakwah modern yang digagas oleh aliran tarikat meraih keberhasilan
di
Brunei. Dan selaras dengan kedudukan Islam sebagai agama resmi
negara yang
menopang falsafah “ Melayu-Islam-Beraja”, kerajaan Brunei
Darusalam
mendirikan juga lembaga kajian Islam. Profesor Iik Arifin Mansur
Noor,
seorang Indonesia yang mengajar sejarah di Universitas Brunei
Darusalam,
menjelaskan hubungan lembaga Islam dan kerajaan, seperti sebuah
kehidupan
antara Bapak dan anak.

"Kalau di Brunei ini, memang negara kecil, hidup seperti bapak


dengan anak,
kerana kecil mudah di atur, seperti Islamisasi, memperkuat imej
negara
Brunei Islam. yang menjadi masalah tentu kadang-kadang orang
memaksa simbol
itu sehingga meninggalkan substancenya, seperti kalau kita lihat
Universiti
di Brunei, ada faculty of Islamic Studies, jadi digalakkan
fakulti-fakulti
ini ada interactions, yang di Islamic studies juga tahu discipline
lain,
yang belajar sains juga mengerti apa prinsip2 Islam mengenai
sains, di
anggap sebagai satu discourse yang baik bukan dipaksakan."

Salah satu discourse atau perdebatan yang hangat diperbincangkan


di Asia
Tenggara adalah mengenai Islamisation of Knowledge atau Islamisasi
ilmu
pengetahuan. Idenya adalah bagaimana ilmu pengetahuan yang ada
dimuka bumi
ini ditonjolkan segi ke Islamannya. Pandangan ini memicu
perdebatan hangat
karena ada yang mengatakan ilmu yang sesuatu yang netral. Person
atau
individu Islamlah yang kemudian mewarnainya hingga tidak perlu
lagi ada
cabang ilmu seperti Sosiologi yang di Islamkan dan sebagainya.

"Sebagai satu konsep, bagi saya, pemikir seperti Ghazali, pemikir


seperti
Ibn Khaldun, bertanyakan apakah ilmu itu samawi, bagaimana ilmu
samawi, ilmu
itu penting bagi Islam, yang menjadi masalah orang Islam
mempertanggungjawabkan sewaktu dia mempelajari ilmu2 ini,
bagaimana sebagai
seorang Muslim memahaminya. Islamisasi knowledge itu bukan sesuatu
yang
mengejutkan, itu memang selalu ada, untuk memperkaya discourse,
wacana
memang perlu, yang menjadi masalah kalau discourse seperti ini
dipaksakan,
jangan sampai mengalahkah disiplin2 yang sebenarnya tidak ada
masalah dengan
Islam, kalau kita mempelajari biologi, bagaimana seorang itu yang
sudah
mencapai ilmu sedemikian rupa, adakah dia akan menginjak. Kalau
ingin
menjadi specialist, perlu menjadi specialist dalam biology tapi
menjadi
orang Islam yang benar, masalahnya bukan ilmu sociology menjadikan
ilmu
Islam, tapi orang yang mempelajari itu, menjadi Muslim yang
bertanggung
jawab terhadap ilmunya dan bertanggung jawab terhadap dirinya
orang Islam
yang benar."
Beliau bagaimanapun melahirkan kebimbangan kemungkinan pendekatan
kurang
terbuka menimbulkan masalah-masalah tersendiri bagi Brunei.
Misalnya, orang
mungkin akan lebih memberikan perhatian kepada simbol-simbol,
tetapi
meremehkan isu prinsip. Yang menjadi masalah tentu kadang-kadang
orang
memaksa simbol itu sehingga meninggalkan substancenya.

Profesor Iik Arifin Mansur Noor, mengatakan perdebatan semacam ini


juga
berlangsung di Brunei. Namun yang dilakukan di Universitas Brunei
Darusalam,
satu satunya perguruan tinggi di Brunei adalah memastikan bahwa
siswa siswa
yang belajar di Pusat Kajian Islam disana berinteraksi satu sama
lain dengan
mahasiswa dari fakultas lain, sehingga mereka mendapatkan
pandangan yang
komprehensif.

Seperti kalau kita lihat Universiti di Brunei, ada faculty of


Islamic
Studies, jadi digalakkan faculty-faculty ini ada interactions,
yang di
Islamic studies juga tahu discipline lain, yang belajar sains juga
mengerti
apa prinsip-prinsip Islam mengenai sains, di anggap sebagai satu
discourse
yang baik bukan dipaksakan."

Dengan model pendidikan ini, maka perdebatan mengenai Islamisation


of
Knowledge dapat dijadikan wacana yang menurut Profesor IIk Arifin
Mansurnoor, seorang Indonesia yang mengajar di universitas Brunei
Darusalam,
akan menghasilkan seorang akademisi dan praktisi yang Islami.

"Islamisasi knowledge itu bukan sesuatu yang mengejutkan, itu


memang selalu
ada, untuk memperkaya discourse, wacana memang perlu, yang menjadi
masalah
kalau discourse seperti ini dipaksakan, jangan sampai mengalahkah
disiplin-disiplin yang sebenarnya tidak ada masalah dengan Islam,
kalau kita
mempelajari biologi, bagaimana seorang itu yang sudah mencapai
ilmu
sedemikian rupa, adakah dia akan menginjak. Kalau ingin menjadi
specialist,
perlu menjadi specialis dalam biology tapi menjadi orang Islam
yang benar,
masalahnya bukan ilmu sosiologi menjadikan ilmu Islam, tapi orang
yang
mempelajari itu, menjadi Muslim yang bertanggung jawab terhadap
ilmunya dan
bertanggung jawab terhadap dirinya orang Islam yang benar."

lTernyata Naskah Kuno Aceh Banyak


di Brunei Darussalam
Ditulis oleh Admin pada tanggal:10/05/2010 di Dapunta Online: Nusantara,
Headline, Sejarah | 0 Comment |

Dapunta Online – RATUSAN


NASKAH Aceh yang tersimpan rapi di Brunei Darussalam sekitar lima tahun lalu
menunggu tindakan pemerintah Indonesia mengambilnya agar menjadi koleksi
bagi generasi muda dan masyarakat peduli terhadap peninggalan sejarah langka
tersebut.

Seorang kolektor naskah kuno Aceh, Tarmizi A. Hamid SP, di Banda Aceh,
Selasa, mengatakan bahwa semua naskah kuno bernilai sejarah tersebut milik
masyarakat yang dibawa saat mengikuti pameran dunia Islam di Brunei
Darussalam sekitar akhir tahun 2004.

“Naskah itu milik saya dan milik kita masyarakat. Ketika itu kita ikut pameran
dunia Islam. Pameran itu sendiri diikuti dari berbagai negara, termasuk dari
Provinsi Aceh,” kata Tarmizi yang kini sedang berupaya mengembalikan ratusan
naskah kuno itu ke Aceh.

Menurut dia, upaya mengembalikan naskah tersebut dapat dilakukan karena


ketika benda bernilai sejarah itu diserahkan bersifat sementara terkait dengan
bencana alam gempa bumi dan tsunami 26 Desember 2004 yang
meluluhlantakkan Aceh dan menghilangkan ratusan ribu nyawa masyarakat.

“Sangat dimungkinkah naskah itu kita kembalikan ke Aceh. Saya mengharapkan


dukungan untuk mengembalikan naskah ini sesegera mungkin ke Aceh. Saya
membantu melakukan hubungan dengan Pemerintah Kerajaan Brunei Darussalam
karena memang saya yang bawa ke sana,” kata Tarmizi.
Upaya mengembalikan sekitar 150 naskah kuno Aceh itu penting dilakukan
mengingat ribuan naskah yang tersimpan rapi di Pusat Dokumentasi dan
Informasi Aceh (PDIA) hancur dan hilang ditelan bencana tsunami yang melanda
sebagian wilayah provinsi tersebut.

“Naskah kuno ini menjadi penting artinya bagi masyarakat Aceh karena tidak
sedikit naskah yang tersimpan di PDIA kini sudah dibawa tsunami. Saya berharap
semua naskah kuno Aceh yang sekarang tersimpan di Brunei Darussalam dapat
segera kembali ke daerah ini,” katanya.

Tarmizi mengatakan, berbagai naskah kuno Aceh di Brunei Darussalam itu bisa
dijadikan koleksi berharga bagi generasi muda dan pemerhati sejarah, karena
memiliki nilai Islami dan sangat relevan dan mendukung pemberlakuan syariat
Islam di provinsi ujung paling barat di Indonesia tersebut.

Mayoritas naskah kuno tersebut ditulis dalam bahasa Arab melayu dan sebagian
lainnya berbahasa Arab. Pengetahuan dalam naskah kuno itu juga aneka ragam,
termasuk masalah kajian perkembangan masa depan yang diprediksi penulis
naskah tersebut, tambahnya.

Tarmizi mengatakan, tidak sedikit kandidat doktor negeri jiran, Malaysia yang
melakukan kajian dan penelitian bagi penulisan disertasi untuk menyelesaikan
program studi S3. Mereka rata-rata datang untuk mengkaji sekitar 200 naskah
kuno yang kini tersimpan di rumahnya. [*] ANT/DPT

http://www.dapunta.com/ternyata-naskah-kuno-aceh-banyak-di-brunei-
darussalam.html

Agama Islam di Malaysia (Malaka)

Sekitar abad ke-14 agama Islam masuk ke Malaysia dibawa oleh pedagang
dari Arab, Persia, Gujarat dan Malabar. Disamping itu, ada seorang ulama
bernama Sidi Abdul Aziz dari Jeddah yang mengislamkan pejabat pemerintah
Malaka dan kemudian terbentuklah kerjaan Islam di Malaka dengan rajanya yang
pertama Sultan Permaisura. Setelah beliau wafat diganti oleh Sultan Iskandar
Syah dan penyiaran Islam bertambah maju, pada masa Sultan Mansyur Syah
(1414-1477 M). Sultan suka menyambung tali persahabatan dengan kerajaan lain
seperti Syam, Majapahit, dan Tiongkok.

Kejayaan Malaka dapat dibina lagi sedikit demi sedikit oleh Sultan Aludin
Syah I, sebagai pengganti Muhammad Syah. Kemudian pusat pemerintahannya
dari Kampar ke Johor (Semenanjung Malaka). Sultan Alaudin Syah I dikenal
sebagai Sultan Johor yang pertama dan negeri Johor makin nertambah ramai
dengan datangnya para pedagang dan pendatang. Sampai sekarang perkembangan
agama Islam di Malaysia makin bertambah maju dan pesat, dengan bukti
banyaknya masjid-masjid yang dibangun, juga terlihat dalam penyelenggaraan
jamaah haji yang begitu baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa perkemabangan
Islam di Malaysia, tidak ada hambatan. Bahkan, ditegaskan dalam konstitusi
negaranya bahwa Islam merupakan agama resmi negara. Di kelantan, hukum
hudud (pidana Islam) telah diberlakukan sejak 1992. kelantan adalah negara
bagian yang dikuasai partai oposisi, yakni Partai Al-Islam se-Malaysia (PAS)
yang berideologi Islam. Dalam pemilu 1990 mengalahkan UMNO dan PAS
dipimpin oleh Nik Mat Nik Abdul Azis yang menjabat sebagai Menteri Besar
Kelantan.

f. Agama Islam di Brunei Darussalam

Agama Islam di Brunei dapat berkembang dengan baik tanpa ada hambatan-
hambatan. Bahkan, agama Islam di Brunei merupakan agama resmi negara. Untuk
pengembangan agama Islam lebih lanjut telah didatangkan ulama-ulama dari luar
negeri, termasuk dari Indonesia. Masjid-masjid banyak didirikan. Umat Islam di
Brunei menikmati kehidupan yang benar-benar sejahtrera sesuai dengan namanya
Darussalam (negeri yang damai).

Pendapatan perkapita negara ini termasuk tertinggi di dunia. Pendidikan dan


perawatan kesehatan diberikan secara cuma-cuma oleh pemerintah. Negara Brunei
Darussalam merupakan negara termuda di Asia Tenggara (merdeka tahun 1984
dari Inggris). Penduduk Brunei Darussalam mayoritas beragama Islam.

Sejarah Islam DI Malaysia (SIAT)

A.Sejarah perkembangan

Sebenarnya tidak adanya kejelesan mengenai kapan islam tersebar di Malaysia.


Sehingga menimbulkan berbagai macam teori:

Wan Husain Azmi, mengungkapkan sebuah teori:


Islam pertama kali sampai di Malaysia pada abad pertama hijriah. Pada abad
pertama hijriah orang islam arab telah sampai di gugusan melayu
Fatmi mengatakan:
Islam datang pertama kali sekitar abad 8 hijriah.atau pada abad ke 14 masehi. Ia
menemukan batu bersurat di Trengganu pada tahun 702 hijriah/1302 M
Sekitar abad ke-14 agama Islam masuk ke Malaysia dibawa oleh pedagang dari
Arab, Persia, Gujarat dan Malabar. Disamping itu, ada seorang ulama bernama
Sidi Abdul Aziz dari Jeddah yang mengislamkan pejabat pemerintah Malaka dan
kemudian

terbentuklah kerjaan Islam di Malaka dengan rajanya yang pertama Sultan


Permaisura. Setelah beliau wafat diganti oleh Sultan Iskandar Syah dan penyiaran
Islam bertambah maju, pada masa Sultan Mansyur Syah (1414-1477 M). Sultan
suka menyambung tali persahabatan dengan kerajaan lain seperti Syam,
Majapahit, dan Tiongkok
Majun mengatakan;
Islam tiba di Malysia pada abad ke 15 dan 16 Masehi, Namun teori dari fatmi dan
majun belum Valid. Penemuan batu nisan di tanjung inggris, Kedah. Pada tahun
1965. Tertulis nama Syekh Abdul Qadir Ibnu Khusyen Stah 1965 m abad ke 9 M.
Ia adalah seorang da’I keturunan Persia. Pada abad ke 3 h atau 10 m islamisasi di
Malaysia tidak lepas dari peranan raja-raja Melaka. Sultan Muhammad syah.
Adalah orang yang pertam kaali masuk islam
.Kejayaan Malaka dapat dibina lagi sedikit demi sedikit oleh Sultan Aludin Syah
I, sebagai pengganti Muhammad Syah. Kemudian pusat pemerintahannya dari
Kampar ke Johor (Semenanjung Malaka). Sultan Alaudin Syah I dikenal sebagai
Sultan Johor yang pertama dan negeri Johor makin nertambah ramai dengan
datangnya para pedagang dan pendatang. Sampai sekarang perkembangan agama
Islam di Malaysia makin bertambah maju dan pesat, dengan bukti banyaknya
masjid-masjid yang dibangun, juga terlihat dalam penyelenggaraan jamaah haji
yang begitu baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa perkemabangan Islam di
Malaysia, tidak ada hambatan. Bahkan, ditegaskan dalam konstitusi negaranya
bahwa Islam merupakan agama resmi negara. Di kelantan, hukum hudud (pidana
Islam) telah diberlakukan sejak 1992. kelantan adalah negara bagian yang
dikuasai partai oposisi, yakni Partai Al-Islam se-Malaysia (PAS) yang berideologi
Islam. Dalam pemilu 1990 mengalahkan UMNO dan PAS dipimpin oleh Nik Mat
Nik Abdul Azis yang menjabat sebagai Menteri Besar Kelantan.
Anggapan umum bahwa Islam wujud buat pertama kali di Malaysia pada abad ke-
10 di Terengganu yang merupakan negeri Melayu pertama untuk memeluk Islam.
Dapatan ini berdasarkan Tugu Peringatan Batu yang ditemui di Kuala Berang,
Terengganu.
Pada tahun 1303, Sultan Muzaffar Shah I (abad ke-12) dari Kedah memeluk Islam
dan menjadi raja Melayu pertama yang diketahui untuk berbuat demikian.
Bagaimanapun, adalah pemelukan Islam oleh Sultan Megat Iskandar Shah,
sebelum itu dikenali sebagai Parameswara, yang merupakan peristiwa penting
dalam pemelukan Islam oleh orang-orang Melayu di Malaysia. Baginda telah
memeluk Islam selepas perkahwinannya dengan seorang puteri dari Pasai.

Bentuk-bentuk Islam di Malaysia :

Sunni Islam
Ajaran Shafi'i yang merupakan salah satu cabang kepada Sunni, merupakan
mazhab yang utama di Malaysia. Bentuk ajaran lain dianggap menyeleweng bagi
di kebanyakan tempat di Malaysia. Pun begitu, di sesetengah kawasan terpencil,
masih ada elemen Shamanism dalam ajaran Islam mereka. Masjid sudah menjadi
kelaziman di merata tempat di seluruh negara dan suara Azan dapat didengari dari
kubah-kubah masjid 5 kali setiap hari. Pihak kerajaan dan institusi perbankan
akan ditutup selama dua jam pada hari Jumaat bagi menghormati pekerja-pekerja
yang perlu menunaikan solat secara jemaah di masjid-masjid. Di sesetengah
negeri seperti Kelantan, Terengganu dan Kedah, mereka memilih hari Jumaat dan
Sabtu dan bukan Sabtu dan Ahad sebagai hari cuti umum.
Islam Hadhari

Istilah "Islam Hadhari" atau Islam progresif telah diperkenalkan oleh Perdana
Menteri Malaysia, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi, untuk menegaskan
peranan utama pengetahuan dalam Islam. Ketekunan, kejujuran, pentadbiran yang
baik, serta kecekapan diberikan nilai yang sama. Ia juga merayu kepada orang-
orang Islam agar menjadi menyeluruh, bertoleransi, dan berpandangan ke luar.

Islam Hadhari bertujuan untuk mencapai sepuluh prinsip utama:


• Keimanan dan ketaqwaan kepada Ilahi.
• Kerajaan adil dan beramanah.
• Rakyat berjiwa merdeka.
• Penguasaan ilmu pengetahuan.
• Pembangunan ekonomi yang seimbang dan komprehensif.
• Kehidupan berkualiti.
• Pembelaan hak kumpulan minoriti dan wanita.
• Keutuhan budaya dan moral.
• Pemeliharaan dan pemuliharaan alam semula jadi.
• Kekuatan Pertahanan dan Perpaduan.

Abdullah Mohd Zain, Menteri dalam Jabatan Perdana Menteri, berkata bahawa
"Ia menekankan kebijaksanaan, sifat praktik, dan keharmonian," dan menambah
bahawa "Ia menggalakkan kesederhanaan atau pendekatan seimbang terhadap
kehidupan, tanpa menyimpang daripada asas-asas al-Quran, serta contoh-contoh
dan pepatah-pepatah Nabi Muhammad.

B.Cara Penyebaran Islam Di Malaysia

Setelah pengenalan awal Islam, telah menyebarkan agama Islam oleh ulama
setempat atau ulama 'dari satu ke daerah lain. Mereka biasa latihan ini adalah
untuk membuka pusat pelatihan agama disebut "pondok" atau pondok kecil dari
tempat tidur dibangun untuk para siswa.

Selain memberi kuliah di rumah, rumah doa, atau mesjid, mereka juga
melaksanakan tugas-tugas seperti yang bekerja di padi ladang, kebun dan
pekerjaan lain craftwork dan sesuai dengan kemampuan masing-masing. Peran ini
ulama 'yang tidak hanya dari guru tetapi juga dengan penasihat untuk keluarga
dan masyarakat desa. Mereka memainkan peran yang cukup luas satu karena
keahlian dan kemampuan mereka di lebih dari satu bidang aktivitas manusia.
Setelah lulus, maka murid akan kembali ke tanah air mereka, yang sering jauh di
beberapa pelosok tanah air, membentuk link dalam satu rantai antara ulama 'dan
lainnya.

Islam di kepulauan Melayu pada umumnya dan Malaysia khususnya mengikuti


Shafi Madhab (sekolah pemikiran). Namun banyak umat Islam di Malaysia yang
tidak mengikuti sekolah tertentu. Di Perlis, negara yang menetapkan konstitusi
Perlis mengikuti Qur'an dan Sunnah dan tidak madhab tertentu. Banyak umat
Islam di Perlis sehingga tidak mengikuti madhab apapun, seperti halnya dengan
pengikutnya dan anggota dari Organisasi Muhammadiyah di Indonesia.

The unifying faktor yang membuat ikatan yang kuat di antara mereka adalah
keseragaman dari sistem pengajaran, tidak hanya untuk Suci buku dan bahasa
yang digunakan sama, tetapi juga masalah sosial-politik, walaupun di Indonesia
dengan Belanda merupakan kekuatan kolonial dan di Malaysia (atau Malaya)
British. Apakah yang penjajah Portugis, Belanda atau Inggris Christionisation
mencoba berbagai cara, terutama melalui sistem pendidikan.

Ada beberapa factor menyebabkan Islam kuat di Malaysia

1. Karena islam dijadikan identitas melayu


2. Posisi islam dalam konstitusi dan undang-undang Malaysia 1 agustus 1957
Malaysia merdeka dari inggris Islam menjadin agama resmi kerajaan
3. Kebijakan pemerintah setelah berakhirnya konflik etnik(1969) tentang masalah
ekonomo dengan membuat system ekonomi baru yaitu ekonomi berbasis islam
4. Adanya dukungan kuat dari pemerintah

Malaya dicapai setelah kemerdekaan pada 31 Agustus 1957, perkembangan


pendidikan agama di sekolah subsidi pemerintah merupakan hasil dari upaya
berkelanjutan pada bagian dari masyarakat Melayu. Hal ini dapat dilihat di
Islamic College dan National University of Malaysia.

C. Tokoh – Tokoh Islam Di Malaysia


Banyak tokoh - tokoh dari luar negeri datang ke malaka seperti dari Afghanistan,
Melebar, Hindustan dan terutama dari tanah arab untuk menyebarkan ilmu
pengetahuan islam, melanjutkan insitusi-institusi tersebut. Antara mereka seperti
Sayyid Abd a-Azis, Maulana Abu Bakar , Maulana Yusuf, Qadi Menus,Qadi
Menawar Syah, Maulana Sadar Johan dan lain-lain
beberapa ulama 'menjadi guru di Masjid Al-Haram. Pada saat ini satu ulama 'dari
Kedah, Muhammad bin Abdul Kadir, dan dua orang guru dari Petani di sana.
Muhammad ayah juga seorang guru di Masjid Al-Haram.

Sidi Abdul Aziz


Beliau berasal dari Jeddah ,beliau adalah salah satu ulama yang mengislamkan
pejabat pemerintah Malaka
Sultan Permaisura
Beliau merupakan raja pertama yang memimpin kerjaan islam malaka.
Sultan Iskandar Syah
Beliau merupakan pengganti dari raja islam malaka
Sultan Mansyur Syah ( 1414 - 1477 M )
Beliau merupakan penggganti dari Sultan Iskadar Syah,dimasa pemimpinannya
penyiaran Islam bertambah maju

Sultan Muzaffar Shah I


dari Kedah memeluk Islam dan menjadi raja Melayu pertama yang diketahui
untuk berbuat demikian. Bagaimanapun, adalah pemelukan Islam oleh Sultan
Megat Iskandar Shah, sebelum itu dikenali sebagai Parameswara, yang
merupakan peristiwa penting dalam pemelukan Islam oleh orang- orang Melayu
di Malaysia. Baginda telah memeluk Islam selepas perkahwinannya dengan
seorang puteri dari Pasai.

Sultan Aludin Syah I


sebagai pengganti Muhammad Syah. Kemudian pusat pemerintahannya dari
Kampar ke Johor ( Semenanjung Malaka ). Sultan Alaudin Syah I dikenal sebagai
Sultan Johor yang pertama

PENUTUP

KESIMPULAN
a. Islam adalah agama rasmi Malaysia. Menurut kepada rajah banci 2000, kira-
kira 60.4 peratus daripada populasi ini mengamalkan Islam; 19 peratus Buddha; 9
peratus Kristian; 6 peratus Hindu; dan 3 peratus Konfusianisme, Taoisme, dan
agama tradisional Cina lain
b. agama Islam masuk ke Malaysia Sekitar abad ke-14 ,dibawa oleh pedagang dari
Arab, Persia, Gujarat dan Malabar
c. Agama islam di Malaysia terbagi manjadi beberapa aliran,diantaranya :
Sunni Islam ,Ajaran Shafi'i yang merupakan salah satu cabang kepada Sunni,
merupakan mazhab yang utama di Malaysia. Dan
Islam Hadhari, Istilah "Islam Hadhari" atau Islam progresif telah diperkenalkan
oleh Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Abdullah Ahmad Badawi, untuk
menegaskan peranan utama pengetahuan dalam Islam
d. Tokoh – tokoh Islam di Malaysia antara lain: Sidi Abdul Aziz, Sultan
Permaisura,Sultan Iskandar Syah,Sultan Mansyur Syah,Sultan Muzaffar Shah I,
dan Sultan Aludin Syah I

DAFTAR PUSTAKA

• Laman web Harkah


• Islamhadhari.net
• http://www.fiqhiah.blogspot.com

Diposkan oleh ARIEF SETIAWAN di 11.19

http://mahasiswategalkuliah.blogspot.com/2009/06/sejarah-islam-di-
malaysia.html

ISLAM DAN NEGARA;PENERAPAN SYARIAT ISLAM DI


PAKISTAN

Oleh: Muhammad Nasir

Ketua Divisi Organisasi Majelis Sinergi Islam dan Tradisi Indonesia


(Magistra Indonesia)-Padang/ Mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam
PPs IAIN Imam Bonjol Padang

Pendahuluan

Islam dari pengalaman sejarahnya tidak mengenal negara yang berdasarkan


kebangsaan atau etnis. Sekalipun yang memerintah dari etnis tertentu seperti Arab
atau Turki, tetapi umat tidak memandang pada kebangsaan tersebut. Sampai awal
abad ke 20 umat Islam masih berkeyakinan bahwa mereka berada dibawah sebuah
pemerintahan Khalifah yakni pemerintahan yang mendasarkan pada kesatuaan
agama dengan tanpa memperhatikan batas teritorial. Persoalan lainnya yang tidak
kalah pentingnya dari sekedar perdebatan tentang negara adalah bagaimana
sebuah negara Islam dapat menerapkan ajaran Islam (Syari’ah) dalam institusi
negara.

Penerapan syari’at Islam merupakan problem kontemporer pada beberapa negara


yang berpenduduk muslim. Syari’at Islam diyakini sebagai satu panduan tentang
tata cara yang benar dalam menyelenggarakan kehidupan muslim, termasuk dalam
hal bernegara. Namun pada waktu tertentu, penerapan syari’at Islam justru
menjadi perdebatan yang panjang khususnya ketika hal itu berkaitan dengan satu
sistem pemerintahan modern yang disebut negara.

Jika syari’at Islam sudah menjadi kosa kata yang Islami dalam artian berasal dari
khasanah peristilahan (musthalahat) Islam, maka negara bukanlah peristilahan
yang berasal dari Islam. Sebagai rujukan standar, tidak satupun kata ini ditemukan
dalam al-Qur’an maupun Sunnah Nabi Muhammad SAW. Apalagi jika menjadi
satu frasa Negara Islam.

Meskipun demikian, perkembangan berikutnya, negara Islam setelah mengalami


rekonstruksi sedemikian rupa telah menjadi perbendaharaan bahkan cita-cita
tersendiri bagi umat Islam. Tidak heran, beberapa negeri berpenduduk muslim
mulai berupaya mewujudkan suatu pemerintahan yang berdaulat dengan nama
negara Islam. Misalnya, Republik Islam Pakistan yang akan dibahas dalam
makalah ini.

Pembentukan negara Islam secara zahir membawa konsekwensi diterapkannya


Syari’at Islam (baik formal ataupun informal) kedalam institusi negara dan
kehidupan warga negara. Pertanyaan mendasarnya, apakah konsekwensi ini juga
merupakan alasan untuk mendirikan negara Islam pada waktu itu, atau hanya
sebatas menciptakan negara bagi penduduk Pakistan yang mayoritas beragama
Islam?

Pakistan sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim sejak didirikan pada


tahun 1947 tidak luput dari perdebatan ini. Pakistan layak diangkat sebagai satu
studi kasus mengingat akarnya yang kuat sebagai sebuah negeri yang dahulunya
menjadi bagian imperium besar Islam di India yaitu Kerajaan Mughal.
Sepanjang perjalanannya, Pakistan telah mengalami berbagai peristiwa yang
cukup menyedihkan untuk dicatat, apalagi jika dikaitkan dengan identitasnya
sebagai negara yang dibangun dengan identitas Islam. Mengingat sejarah
kebesarannya dan ketragisan inilah, makalah ini secara serba ringkas menulis
berbagai peristiwa yang berkaitan dengan upaya penerapan syari’at Islam di
negara tersebut. Istilah lain yang mungkin digunakan dalam penulisan makalah ini
adalah Islamisasi yang dalam hemat penulis terdengar lebih lembut (soft)
sekaligus lebih gampang diucapakan dibanding penerapan syariat Islam.

Profil Singkat Negara Pakistan


Nama negara: Pakistan
Bentuk Pemerintahan: Republik Islam Pakistan
Ibukota : Islamabad
Populasi: 165.803.560 jiwa (2007) / 97% muslim
Ekspor Utama: Tekstil, beras, kulit, produk, olahraga, dll
Impor Utama: Minyak bumi, permesinan,peralatan transportasi, dll.
Bahasa: Urdu (resmi), Sind, Punjabi,Inggris

Di timur, Pakistan berbatasan dengan India. Di barat, berbatasan dengan Iran dan
Afghnistan: Di utara, dengan Afghanistan dan Cina. Di selatan, dengan laut Arab
dan teluk Oman. Luas Pakistan adalah 703.943 Km; yang terbagi atas empat
propinsi: Baluchistan, Sindh, Punjab dan wilayah Barat Daya. Pakistan
bertetangga dengan dua negara besar di dunia: India dan Cina. Pakistan menjalin
hubungan baik dengan Barat di satu pihak, sedangkan disisi lain dengan Cina
Komunis.

Berdirinya Republik Islam Pakistan tidak lepas dari peran seorang pengacara
muslim Muhammad Ali Jinnah. Pada awalnya, berdirirnya Pakistan merupakan
problem tersendiri, terutama dalam mencari alasan atau raison d’etre Pakistan
merdeka. Apakah the founding fathers Pakistan bermaksud mendirikan Negara
Islam atau tengah berupaya membangun Tanah Air bagi orang Islam? Lebih dari
itu, apakah kekhawatiran sebagai warga minoritas di India yang mayoritas Hindu
dapat dijadikan alasan berdirinya Pakistan merdeka.

Elan dasar pendirian "Republik Islam" ini, seperti terartikulasikan dalam gagasan
pendiri-pendirinya adalah kehendak komunitas muslim --sebagai bangsa terpisah
di anak benua India-- untuk membentuk negara di mana mereka mampu
menerapkan ajaran Islam dan hidup selaras dengan petunjuknya.

Berbagai teori telah dimunculkan tentang alasan-alasan pokok berdirinya Pakistan


sebagai sebuah negara dengan identitas Islam. Pada 23 Maret 1947 Liga Muslim
India (All Indian Moslem League) mengeluarkan resolusi yang terkenal dengan
nama Resolusi Pakistan. Dalam resolusi tersebut, kaum Muslim India dipimpin
Muhammad Ali Jinnah, yang juga Bapak Negeri Pakistan, berjanji
memperjuangkan terbentuknya negara muslim.

Pendirian Liga Muslim mengawali munculnya gerakan nasionalisme India, pada


awalnya merupakan respon terhadap gerakan nasionalisme Hindu yang disuarakan
Partai Kongres Nasional India. Liga Muslim didirikan oleh sekelompok
intelektual Muslim India yang pada perkembangannya menuntut terbetuknya
pemerintahan sendiri. Tokoh yang terkenal dari organisasi ini adalah Muhammad
Ali Jinnah.

Di bawah kepemimpinan Jinnah, ide negara Pakistan semakin berkembang dan


pada tahun 1940 menjadikan pembentukan Pakistan sebagai tujuan perjuangan.
Tujuan itu menjadi kenyataan saat Pakistan diproklamirkan sebagai negara
merdeka pada 14 Agustus 1947, dan kenyataannya, Pakistan merdeka sehari lebih
cepat dari India yang dimerdekakan 15 Agustus 1947

Berdirinya Pakistan didasarkan atas realitas bahwa masyarakat muslim yang


meliputi wilayah Sind, Punjab, Baluchistan, provinsi di Barat Laut dan Benggala
merupakan sebuah bangsa yang berhak atas wilayah mereka sendiri. Meskipun
banyak yang meragukan klaimnya sebagai sebuah bangsa, namun sesuatu yang
pantas diberi nilai adalah kenyataan geografis Pakistan yang merupakan anak
benua India yang nyaris lepas dari peradaban induknya, yaitu India.

Pakistan dibentuk oleh elit-elit muslim yang memobilisasi sumberdaya Muslim


India Barat Laut untuk menentang kebijakan Inggris yang berseberangan dengan
kepentingan kelompok muslim. Kemungkinan lainnya adalah teori Francis
Robinson yang menyatakan terbentuknya Pakistan dari faktor ideologi terutama
doktrin Ummah yang mendorong elit-elit muslim mengupayakan perlindungan
budaya muslim dan otonomi yang lebih besar bagi kaum muslim di Provinsi
Kesatuan Barat Laut dan Bengal.

Senada dengan Robinson, David Taylor mengesankan terbentuknya Pakistan


sebagai ekspresi politik muslim kelas atas (elit) yang memahami kenyataan
berbedanya identitas keagamaan dan sosial politik mereka dengan kekuatan-
kekuatan lainnya di anak benua India.

Tuntutan kaum elit ini menurutnya selain mewakili permasalahan kaum elit
Pakistan, juga didukung oleh kesadaran komunal akan pentingnya negara bagi
komunitas Muslim. Selain itu ia juga menemukan fakta dalam kasus-kasus
tertentu yang melibatkan massa yang menuntut pemenuhan kebutuhan asasinya
sebagai orang Islam juga tidak bisa disepelekan. Artinya, dalam waktu-waktu
tertentu, tuntutan elit bisa senada dengan tuntutan arus bawah muslim.

Sementara itu dengan pertanyaan yang hampir sama dengan Robinson, Karen
Amstrong menilai pendirian Pakistan justru diilhami cita-cita sekuler modern.
Sejak masa Aurengzeb, Muslim di India merasa sedih dan tidak aman, mereka
mengkhawatirkan identitas mereka dan berkem¬bangnya kekuasaan mayoritas
Hindu.

Hal ini semakin parah setelah pemisahan India dari Inggris pada tahun 194¬7
ketika kekerasan komunal memuncak di kedua belah pihak dan ribuan orang
tewas. Jinnah ingin membangun arena politik yang tidak menekan atau membatasi
identitas religius Muslim. Akhirnya ia mempertanyakan: “apa maknanya negara
Islam yang menggunakan sebagian besar simbol-simbol Islam untuk tujuan
"sekuler"?

Esposito juga berkesimpulan: “aspirasi Islam memang merupakan raison d'etre-


berdirinya Pakistan, tetapi meskipun terdapat persetujuan umum mengenai
pentingnya suatu tanah air Islam, namun apa yang dimaksud tidak begitu jelas.
Perbedaan pandangan dan pendekatan antara kaum modernis dan tradisionalis
merupakan halangan yang cukup besar, dan belum pernah diusahakan secara
sistematis untuk menjelaskan ideologi Islam Pakistan dan bagaimana
melaksanakan ideologi itu secara konsisten.

Dari beberapa teori ini, paling tidak yang paling memungkinkan adalah bahwa
gagasan nasionalisme yang datang dari barat telah membantu mempercepat
kelahiran Pakistan sebagai negara bangsa. Dalam hal ini, Badri Yatim
menyebutkan, gagasan nasionalisme merupakan modal utama umat Islam dalam
perjuangannya untuk mewujudkan negara merdeka, yang bebas dari pengaruh
politik Barat.

Praktek Islamisasi Pakistan

Periode 1947-1970

Sebagaimana disinggung di atas, Islam merupakan raison d'etre dari dibaginya


India dan di¬dirikannya Pakistan sebagai suatu negara-bangsa yang berdiri sendiri
tahun 1947. Walaupun Is¬lam telah digunakan untuk memobilisasikan dan
mempersatu¬kan orang Islam di waktu gerakan kemerdekaan, namun sedikit
sekali terdapat konsensus mengenai masalah-masalah fundamen¬tal seperti:
"Apakah artinya kalau dikatakan bahwa Pakistan ada¬lah sebuah negara Islam
modern? Bagaimana menggambarkan watak keislamannya dalam ideologi dan
lembaga-lembaga nega¬ra?"

Dengan memperhatikan periode tahun 1947-1970 ternyata bahwa hasilnya amat


tidak memuaskan. Tidak adanya kestabilan politik dan perbedaan yang tajam
antara golongan tradisionalis dan mo¬dernis sedikit sekali memberikan
sumbangan kepada perkem¬bangan suatu ideologi Islam yang mapan yang dapat
berguna se¬bagai dasar dari persatuan nasional di tengah-tengah perbedaan-
¬perbedaan bahasa dan regional yang amat luas terdapat di Pakis¬tan.

Kesimpulan yang diambil kebanyakan pengamat Pakistan adalah, dari periode


1947 hingga 1970 tersebut, Pakistan lebih banyak berdebat tentang bagaimana
ideology Islam itu dapat diterapkan dalam negara. Perdebatan itu meliputi tokoh
modernis, nasionalis sekuler dan kelompok Islamis tradisionalis yang
menginginkan syari’at Islam diterapkan secara ketat.

Misalnya, Abul A'la Maududi (1903-1979) mewakili kaum tradisionalis,


mendesak dite¬rapkannya norma-norma Syariah yang lebih ketat, sehingga pada
tahun 1956, sebuah konstitusi secara resmi menjadikan Pakistan sebagai Republik
Islam. Ini mewakili sebuah aspirasi yang kini hidup kembali dalam institusi-
institusi politik negara tersebut. Sementara Fazlur Rahman mewakili kaum
modernis memberikan gambaran tentang negara Islam yang lebih modern
berdasarkan kedaulatan rakyat.
Pemerintahan Jenderal Muham¬nad Ayub Khan (1958-1969) adalah contoh
khusus sekularisme berlebihan sekaligus dictator militer. Dia menasionalisasi
sumbangan-sumbangan religius (auqah), nembatasi pendidikan madrasah, dan
mengembangkan sistem hukum sekuler. Tujuannya adalah menjadikan Is¬am
sebagai agama sipil, yang bisa dikendalikan negara, tetapi keinginan ini
menyebabkan ketegangan dengan para ahli agama Islam dan menyebabkan
jatuhnya pemerin¬tahan Khan.

Selama tahun 1970-an, kekuatan para ahli agama Islam menjadi kekuatan oposisi
utama melawan pemerintahan, dan sebagai seorang beraliran kiri dan sekularis
Perdana Menteri Zulfikar Ali Bhutto (1971-1977) meredakan gerakan mereka
dengan melarang judi dan alkohol, Tetapi pada periode ini akhirnya Pakistan tetap
digerakkan dengan semangat sekuler.

Hal ini melegitimasi kenyataan, meskipun Pakistan menyatakan dirinya sebagai


negara Islam, tidak satupun program yang pernah disusun untuk menerapkan
Islam. Dalam rentang waktu 30 tahun itu, tidak heran muncul tudingan bahwa
Islamisasi tidak lebih hanya sebagai contoh penggunaan Islam sebagai alat oleh
rezim yang berkuasa untuk menegakkan keabsahan politiknya.

Periode 1971-sekarang

Islamisasi mula-mula muncul sebagai kebijakan negara yang lahir di bawah


pemerintahan Partai Rakyat Pakistan yang dipimpin oleh Zulfikar Ali Bhutto
(1971-1977). Ali Bhutto datang membawa tawaran baru, yaitu mengawinkan
Islam dengan Sosialisme. Upaya ini mendapat sambutan hangat dari rakyat
Pakistan.

Bhutto mempergunakan ungkapan-ungkapan keagamaan yang mampu


membangkitkan emosi, seperti misalnya Musawat-i¬ Muhammadi (persamaan
Muhammad) dan Islami Musawat (persamaan Islam) sebagai bagian dari
ke¬pandaian mengucapkan pidato politik untuk membe¬narkan kebijakan
pemerintahannya yang bersifat sosialis dan untuk memperoleh dukungan massa
bagi kebijakannya.

Pada tahun 1974 pemerintahannya juga bertanggung jawab atas terjadinya


kampanye panjang pada dasawarsa itu sehingga pengikut sekte Ahmadiyyah
menganggap pendiri sekte itu, Mirza Ghulam Ahmad, sebagai nabi, dan dengan
demikian mereka menolak pilar Islam bahwa Muhammad ada¬lah utusan Tuhan
yang terakhir.

Setelah parlemen mengeluarkan peraturan hukum yang menyatakan bahwa


Ahmadiyyah adalah minoritas non-muslim dan ketetapan dalam Undang Undang
tahun 1973 yang mengharuskan jabatan presiden dan perdana menteri dipegang
oleh orang-orang Islam, sumpah jabatan di¬ubah agar penegasan bahwa
Muhammad adalah nabi yang terakhir bisa dimasukkan ke dalamnya.

Ketika agitasi anti pemerintah (dipimpin oleh Persekutuan Nasional Pakistan yang
pemimpin-pe¬mimpinnya menggunakan Islam untuk menggerak kan orang-orang
melawan pemerintahan Bhutto) pecah di pusat-pusat pertokoan utama, pemerintah
berusaha untuk mengakhiri keadaan ini dengan mengumumkan reformasi ,
“Islam” dengan menentu¬kan Jum’at dan bukannya Minggu sebagai hari libur
umum mingguan dan mengumumkan langkah-lang¬kah yang melarang
pemakaian alkohol, perjudian dan pacuan kuda. Manifesto pemilihan Partai
Rakyat Pakistan tahun 1977 juga memasukkan persetujuan partai untuk:

1.Menjadikan pengajaran al Quran sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari


pendidikan umum.
2.Mengembalikan masjid ke tempat tradisionalnya selaku pusat terpenting
masyarakat.
3.Mendirikan Akademi Ulama Negeri untuk mendi¬dik Imam dan Khatib di
masjid-masjid.
4.Menjadikan tempat keramat orang suci yang ter¬hormat sebagai pusat
pengajaran Islam.
5.Meningkatkan fasilitas untuk orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji.
6.Memperkokoh Institut Penelitian Islam di Islam¬abad.

Akan tetapi program Islamisasi ini menurut Riaz Hassan tidak lebih hanya
sekadar respon untuk menenangkan kelompok urban yang menentang kebijakan
ekonominya. Program ini secara kasat mata tidak lebih pada pengakuan dan
perbaikan aspek simbolis Islam sebagaimana awal pendiriannya.

Ali Bhutto akhirnya dijatuhkan melalui kudeta Angkatan Bersenjata di bawah


pimpinan Jenderal Zia ul-Haq Juli 1977 dengan alasan tingkah lakunya yang tidak
Islami dan keakrabannya dengan isu demokrasi kebarat-baratan, kemudian ia
digantung dengan tuduhan terlibat konspirasi untuk membunuh ayah politisi
Ahmed Reza Kasuri.

Ali Bhutto kemudian digantikan oleh Ziaul-Haq, yang mengembalikan aturan


pakaian tradisional Muslim dan memberlakukan kembali hukuman yang Islami
dan hukum komersial. Tetapi Presi¬den Zia sendiri juga menjauhkan Islam dari
masalah¬-masalah politik dan ekonomi yang didukung oleh kebijakan¬-kebijakan
sekularis.

Secara populer, upaya Islamisasi Pakistan itu ia sebut dengan Nizam-i- Islami.
Usaha yang dikampanyekan oleh Zia ul-Haq dalam rangka Islamisasi antara lain:

1.Menegaskan kembali tujuan negara (objektif resolution) Pakistan, yaitu Islam.


Konsekwensinya sistem (ajaran) Islam harus diterapkan di negara Pakistan;
2.Pembentukan mahkamah-mahkamah Syar’iyyah, yang bertujuan meletakkan
supremasi syari’ah di atas hukum positif. Pada kasus tertentu ia juga melakukan
penyesuaian hukum-hukum positif dengan hukum Islam;
3.Membangun prinsip negara kesejahteraan (welfare state) dengan membentuk
pemungutan zakat dan ‘usyr (pajak yang dipungut dari hasil pertanian);
4.Serta menyatakan perang terhadap sistem perekonomian yang berbasis riba.

Bagaimanapun, kampanye dan program Nizam-i-Islami itu tidak lebih sebagai


pendekatan politik penerapan hukum Islam yang pada akhirnya disikapi secara
politis oleh kelompok oposisi. Sementara itu disisi yang lain, respon rakyat
terhadap program itu biasa-biasa saja. Akhirnya program itu tidak lebih hanya
perdebatan kalangan elit Pakistan.

Dalam hal politik luar negeri, Zia ul-Haq memberi dukungan penuh kepada
Mujahidin Afghanistan yang berjuang melawan invasi militer Uni Soviet (1979-
1989). Namun, pada 1988, Zia ul-Haq tewas saat helikopter yang ditumpanginya
bersama Duta Besar Amerika Serikat di Pakistan meledak. Sejak wafatnya dalam
kecelakaan pesawat pada tahun 1988, politik Pakistan didominasi ketegangan
etnik, permusuhan, dan skandal-skandal korupsi di antara anggota kelas-kelas elit
dan para ahli agama Islam tidak lagi berpengaruh. Islam masih menjadi identitas
Pakistan dan ada pada semua kehidupan masyarakat, tetapi tetap tidak
berpengaruh pada kehidupan.

Pasca Ziaul Haq, sepertinya program Islamisasi tidak begitu populer lagi di
Pakistan. Pakistan tidak lebih seperti negara-negara berkembang lainya yang
penuh dengan intrik politik, perdebatan panjang antara Islam dan demokrasi dan
yang tak kalah beratnya, internasionalisasi Pakistan, terutama soal nuklir dan
terorisme. Tidak heran Pakistan belakangan menjadi barometer keamanan bagi
negara muslim di kawasan lainnya, termasuk Asia Tenggara.

Sekilas pemerintahan setelah Zia ul Haq, muncul Benazir Bhutto, putri mendiang
Zulfikar Ali Butho, yang menjadi perdana menteri wanita pertama di Republik
Islam Pakistan. Terpilihnya Benazir Bhuto merupakan kejutan bagi umat Islam
dan juga bagi banyak negara non muslim.

Pemimpin perempuan merupakan suatu yang masih diperdebatkan terutama di


Pakistan yang pada Era Zia ul-Haq diharamkan. Benazir Bhuto telah menjadi
zaman peralihan dari era perdebatan mengenai identitas Islam kepada wacana
hubungan Islam dan demokrasi (termasuk masalah gender), sekaligus menjadi
tanda bagi kemenangan demokrasi atas rezim militer.

Platform demokrasi yang ingin ditegakkan oleh Dinasti Bhutto adalah mengkritisi
dominasi militer. Akibatnya Benazir selalu berseberangan dengan para jenderal
militer. Salah satu janji Benazir jika dia memenangi pemilu dan menjadi PM
kembali adalah mengefisiensikan dana militer. Sebuah pilihan demokratis namun
tidak populer bagi kalangan militer.

Pada 1990 Benazir digulingkan oleh Presiden Ghulam Ishaq Khan dan lagi-lagi
didukung oleh militer karena dituduh korupsi namun ia tidak pernah diadili.
Tahun 1993 ia terpilih kembali sebagai Perdana Menteri hingga 1996. Pada tahun
1996, Presiden Farooq Leghari menaggalkan jabatan Benazir atas tuduhan skandal
korupsi.

Benazir digantikan Nawaz Sharif, seorang pengikut setia Zia ul-Haq. Sharif
menjadi PM setelah Partai Liga Muslimin Pakistan yang dipimpinnya menang
pemilu dan mempunyai kursi mayoritas di parlemen. Dalam perjalanan
pemerintahannya, Sharif bersitegang dengan militer yang kemudian dikudeta oleh
Musharraf yang saat itu duduk dalam struktur Dewan Keamanan Nasional.

Beberapa pemimpin senior militer lalu mendukung Musharraf dalam kudeta


damai terhadap Sharif. Kepemimpinan Musharraf pun tetap bertahan setelah
didukung dengan partai-partai di Pakistan. Yang menarik justru pada tahun 2006,
Nawaz Sharif memutuskan berkoalisi dengan Benazir Bhutto, rival lamanya,
dalam Aliansi untuk Pemulihan Demokrasi, demi menggulingkan Musharraf.

Kepemimpinan Musharraf tidak luput dari konflik. Bentrokan berdarah di


sejumlah wilayah Pakistan awal Maret 2007 merupakan klimaks dari krisis politik
yang menimpa Presiden Pervez Musharraf. Dia memecat Ketua Mahkamah
Agung Iftikhar Muhammad Chaudhry karena dituduh menyalahgunakan
kekuasaan.

Pihak oposisi menuduh pemecatan itu dilatarbelakangi kekhawatiran Musharraf


kalau Chaudhry akan menghalangi niatnya menjadi presiden untuk ketiga kali.
Chaudhry juga dikhawatirkan mengubah konstitusi untuk melucuti posisi rangkap
Musharraf sebagai panglima angkatan bersenjata. Pemecatan Chaudhry memicu
protes luas dari para pengacara dan partai-partai oposisi di seluruh negeri, walau
aksi mendukung Musharraf pun dilakukan partai propemerintah Mutahida Qami
Movement (MQM). Bentrokan pun tidak terhindarkan.

Kelompok oposisi, baik dari kubu mantan PM Benazir Bhutto yakni Partai Rakyat
Pakistan dan kelompok pendukung mantan PM Nawaz Sharif banyak yang
menjadi korban akibat bentrokan itu.

Terakhir sebagai kesudahan karir politik Benazir Bhutto, 27 Desember 2007 ia


terbunuh oleh serangan tembakan dan bom bunuh diri di Rawalpindi sesaat
setelah ia berkampanye untuk posisi PM yang ke tiga kalinya.

Era Perves Musharraf (1999) adalah bukti terkini tentang betapa rumitnya
mengurus sebuah negara modern yang diberi nama Republik Islam Pakistan itu.
Dalam konstitusinya tercantum dasar filosofi mewah tentang kedaulatan Allah
atas alam semesta dan syariah sebagai sumber hukum tertinggi. Dalam realitas,
baik gagasan kedaulatan Allah maupun syariah ternyata tidak mampu menolong
nasib Pakistan berhadapan dengan konflik suku yang beragam dan sengketa
politik yang sering berkuah darah itu.
Penutup

Pakistan merupakan salah satu contoh yang bagus untuk kasus kontroversi
penegakan Syari’at Islam yang juga marak di bebera negara berpenduduk muslim
lainnya, termasuk Indonesia. Apakah formalisasi Syari’at Islam melalui jalur
politik (negara) adalah kehendak komunitas muslim atau bagian wacana yang
dilontarkan elit politik, patut juga dipertimbangkan.

Tuntutan pemberlakuan syariat Islam yang dikemukakan sejumlah daerah di


Indonesia beberapa waktu lalu telah menarik perhatian kalangan yang
berkepentingan dengannya. Ketidakjelasan konsep syariat di balik usulan itu telah
menyeret masyarakat ke dalam ajang kontroversi yang akut.

Gagasan tentang Islam yang hendak diimplementasikan di dalam negara Pakistan


juga terukir jelas dalam benak para pendirinya --yakni Islam yang "lebih dekat
kepada semangat aslinya dan semangat zaman modern." Tetapi, pemimpin-
pemimpin komunitas muslim tradisional mempersepsinya sebagai Islam yang
berorientasi ke belakang dalam rumusan-rumusan "Islam sejarah."

Akibatnya, sejak berdirinya Republik Islam Pakistan pada 3 Juni 1947, negara ini
mengalami kesulitan serius dalam mendefinisikan keislamannya. Perdebatan-
perdebatan yang berkepanjangan dalam Majelis Konstituante --demikian pula
hasil kompromi antara kubu tradisionalis dan modernis yang terjelma dalam
Konstitusi Pertama (1956), Konstitusi Kedua (1962) ataupun amandemen-
amandemennya yang tidak memuaskan seluruh pihak-- dengan jelas
merefleksikan hal ini.

Ketika sampai kepada hukum Islam, kesulitan yang sama juga dihadapi kaum
muslim Pakistan. Dalam benak kaum modernis, hukum Islam --agar bisa
diterapkan-- mesti dimodernisasi selaras dengan perkembangan dan kebutuhan
zaman. Sementara kaum tradisionalis menuntut bahwa fiqh, yang dihasilkan para
mujtahid lewat deduksi dan derivasi dari Alquran dan Sunnah Nabi, harus
diberlakukan tanpa kecuali.

Kontroversi sengit tentang riba dan bunga bank, pendayagunaan zakat, program
keluarga berencana, hukum kekeluargaan Islam, dan lainnya, merupakan
cerminan betapa sulitnya kaum muslim Pakistan mendefinisikan syariat Islam
untuk konteks negeri mereka.

Akibatnya adalah kekacauan dan kerancuan dalam definisi "Islam" yang


menyertai pengalaman kenegaraan Pakistan. Kompromi-kompromi yang dicapai
tentu saja tidak selaras dengan modernisasi yang dikehendaki kubu modernis
ataupun status quo yang hendak dipertahankan kelompok tradisionalis. Ajang
kontroversi pun akhirnya melebar kepada aksi-aksi penjarahan, pembakaran,
terorisme dan pembunuhan --bahkan sampai pada penetapan kaum Ahmadiyah
Qadian sebagai minoritas non-muslim!

Pengalaman ideologis Pakistan telah memberikan gambaran suram tentang Islam,


seakan-akan agama itu mengajarkan kepada pemeluknya "membakar, menjarah,
membantai" pihak-pihak yang berseberangan, bukan "demokrasi, kemerdekaan,
persamaan, toleransi dan keadilan sosial"

Dapat diduga bahwa pengalaman traumatis yang sama akan dialami masyarakat
muslim Indonesia jika tuntutan penerapan syariat Islam mendapat angin segar.
Kemajemukan Islam di negeri ini, yang tidak jarang bersifat antagonistis,
merupakan indikatornya. Karena itu, banyak yang harus dipelajari secara bijak
dari pengalaman Pakistan.

Meskipun demikian, Menjadikan Pakistan sebagai bukti bahwa Islam tidaklah


bisa masuk dalam instrumen politik kenegaraan, tidaklah tepat. Itu tidak lebih
sebuah kegagalan dalam memasukkan Islam ke dalam instrumen politik,
kegagalan dalam berdemokrasi dan kegagalan dalam mengatasi konflik.[*]

Padang, Januari-Februari-Mei 2008)

DAFTAR BACAAN

Al Abdah, Muhammad, Mengapa Zia ul-Haq Dibunuh? (terj), Yogyakarta:


Pustaka al Kautsar, 1990
Ahmed, Akbar S., Rekonstruksi Sejarah Islam di Tengah Pluralitas Agama dan
Peradaban, (terj), Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru, 2003
Armstrong, Karen, Islam: A Short History (terj), Surabaya: Ikon Teralitera, 2004
Donohue, John J. dan John L Esposito (ed), Islam dan Pembaharuan, Ensiklopedi
Masalah-masalah, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1995
Esposito, John L (ed), Identitas Islam pada Perubahan Sosial Politik, (terj),
Jakarta: Bulan Bintang, 1986
Hassan, Riaz, Islam: Dari Konservatisme sampai Fundamentalisme, Jakarta: CV
Rajawali, 1985
Hunter, Shireen T. (ed.), Politik Kebangkitan Islam: Keragaman dan Kesatuan,
Yogyakarta: Tiara Wacana, 2001
Kompas, Jum’at, 28 Desember 2007
Nasution, Harun dan Azyumardi Azra (ed), Perkembangan Modern dalam
Islam,Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1985
Panji Masyarakat No. 598, 1-10 Januari 1989
Smith, Anthony D., Nasionalisme, Teori, Ideologi dan Sejarah, (terj), Jakarta:
Erlangga, 2003
Ajid Thohir dan Ading Kusdiana, Islam di Asia Selatan…, Bandung: Humaniora,
2006
Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam, Dirasah Islamiyah II, Jakarta:
RajaGrafindo Persada, 2006
The World Factbook 2007 dan sumber lainnya
http://islamlib.com/id/index.php?page=article&id=97

http://nasirsalo.blogspot.com/2008/05/oleh-muhammad-nasir-pendahulua-n-
islam.html

kistan, Negeri Islam Yang Sarat


Konflik
In Berita | 5 comments | permalink

Oleh : Kukuh

12 Presiden dan 22 Perdana Menteri bergantian memimpin Pakistan yang baru 60


tahun Merdeka. Bandingkan dengan Indonesia, yang sudah 62 tahun Merdeka
baru memiliki 5 Presiden. Jika mengukur stabilitas dan ketenangan Negara dari
lamanya pergantian Pemerintahan, maka jelas Indonesia masih relatip lebih stabil
dibanding Pakistan yang tak pernah sepi dari konflik.Di Negara Yang lebih stabil
saja rakyatnya banyak yang sengsara, lantas bagaimana rasanya hidup sebagai
Rakyat diNegara yang sering konflik seperti Pakistan?

1. Agama Islam di Pakistan

Perlu diketahui bahwa Pakistan merupakan Negara yang memisahkan diri dari
India. Pada Abad ke- 13 s/d 15 agama Islam berkembang dengan pesat di India,
dengan bukti adanya kerajaan-kerajaan Islam di India dan bangunan-bangunan
tempat ibadah.

Pada waktu kritis Kerajaan Moghul, para pedagang Belanda, Prancis, Inggeris dan
Portugis masuk India. Kemudian pada perkembangan selanjutnya India resmi
dijajah Inggeris. Pada tahun 1947, Inggeris memberi kemerdekaan kepada India
dan sekaligus berakhirnya kejayaan Islam di India. Pada tahun itu juga umat Islam
kemudian mendirikan negara baru yang terpisah dari India, yaitu Pakistan. Arti
penting negara ini dalam sejarah dan perkembangan Islam terutama disebabkan
dua hal. Pertama, perjuangan politiknya berlangsung pada waktu yang sama
dengan perjuangan orang Hindu di India. Perjuangan itu bertujuan untuk
mendirikan negara tersendiri bagi umat Islam.

Kedua, Pakistan berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan


filsafat serta berhasil melahirkan sejumlah lembaga pengkajian Islam dan
intelektual muslim berkaliber international.islam di Pakistan dapat
berkembang dengan pesat sehingga Pakistan merupakan negara dengan penduduk
Islam terbesar kedua di dunia. Bahkan hukum Islam telah diperlakukan di
Pakistan. Sayid Qutub, tokoh Ihkwanul Muslim Mesir, pernah mengatakan bahwa
kini telah muncul dua kekuatan besar Islam, yakni Indonesia (Asia Tenggara) dan
Pakistan (Asia Selatan). Kekuatan militer negara Pakistan ini juga diperhitungkan
oleh dunia dengan adanya dugaan bahwa negara Pakistan mempunyai
kemampuan persenjataan nuklir. Bahkan, Amerika menilai Pakistan, sebagai
negara ”Bom Islaam” (Islamic Bomb).

Ide tentang pembentukan negara tersendiri bagi Umat Islam, bermula dari Sayid
Ahmad Khan, kemudian dicetuskan oleh Muhammad Iqbal dan akhirnya direlisasi
oleh Muhammad Ali Jinnah. Pada tahun 1947 Inggis menyerahkan kedaulatan
kepada dua Dewan konstitusi, yaitu tanggal 14 Agustus 1947 untuk Pakistan dan
tanggal 15 Agustus bagi India. Sejak itulah Pakistan lahir sebagai negara Islam.
Muhammad Ali Jinnah diangkat sebagai gubernur jendral dengan gelar ”Quaidi-
Azam” atau pemimpin besar.

Sejak berdirinya negara Pakistan, umat Islam mencoba menerapkan konsep Islam
sebenarnya negara Islam itu. Persoalan itu merupakan bahan polemik yang
berkepanjangan di pemerintahan diajukan oleh Majelis Nasional dengan
berpedoman kepada Rancangan Undang-Undang hasil sidang Liga muslim pada
bulan Maret 1940, yaitu harus sesuai dengan Al-Qur’an dan hadist.

Sistem pemerintahan yang dirumuskan Liga Muslim tahun 1940 itu disahkan
menjadi konstitusi tahun 1956. Dalam konstitusi itu negara bernama”Republik
Islam Pakistan”. Konstitusi ini kemudian ditinjau kembali sehingga lahir
konstitusi tahun 1962, yang cara Iantara lain menghilangkan kata ”Islam” dan
sebagai imbalannya mendirikan dua lembaga, yaitu Dewan Penasihat Ideologi
Islam dan Lembaga Penelitian Islam. Hal ini terjadi
Pakistan mendapat kemerdekaan dari Inggris, 14 Agustus 1947, dengan nama
Islam-i Jumhuriya-e Pakistan (Republik Islam Pakistan).Tahun 1971 timbul
perang saudara antara Pakistan Barat yang dipimpin Presiden Yahya Khan dan
Pakistan Timur yang dipimpin Mujibur Rahman. Dengan bantuan penuh India,
serta kelompok persekongkolan lainnya, Pakistan Timur berhasil melepaskan diri
dari Republik Islam Pakistan. Berdirilah Republik Bangladesh. Republik Islam
Pakistan kehilangan satu sayap terpenting, berupa penyusutan wilayah geografis.

Setelah tragedi perpecahan Pakistan Barat-Pakistan Timur, Republik Islam


Pakistan tetap selalu dirundung masalah. Selain sengketa abadi dengan India, baik
mengenai perbatasan maupun “kepemilikan” Khasmir, juga sengketa internal
yang senantiasa mengguncang sendi-sendi pemerintahan. Tahun 1974, Jenderal
Yahya Khan dikudeta oleh Zulfikar Ali Butho. Juli 1977, Jenderal Ziaul Haq
mengambil alih kekuasaan. Ali Butho dihukum gantung (4 April 1979).Tanggal
17 Agustus 1988, Zia-ul-Haq beserta beberapa pejabat militer Pakistan tewas
dalam ledakan pesawat udara.Konon , ini juga ulah sabotase terhadap Kepala
Negara Islam .

Yang terbaru, dua kali percobaan pembunuhan terhadap Presiden Pakistan


Desember 2003, menambah daftar panjang kekacauan Negri berbahasa Urdu itu.
Jenderal Pervez Musharraf, diancam bom berkekuatan besar. Pertama, bom
meledak di sebuah jembatan Kota Rawalphindi, beberapa menit setelah
rombongan presiden lewat di tempat itu. Jembatan hancur lebur, namun tidak ada
korban jiwa. Kedua, dua pelaku bom bunuh diri secara nekat menerobos
rombongan presiden yang akan pulang ke kediamannya di Rawalphindi. Sebanyak
14 nyawa melayang, terdiri atas dua polisi pengawal, selebihnya para pejalan kaki
dan orang-orang yang sedang membeli BBM.

Benarkah itu semua karena Pakistan memilih menjadi Negara Republuk Islam?
Faktanya, Pakistan memang berdiri untuk mengantisipasi aspirasi Umat Islam
India, yang jumlahnya ketika itu mencapai 133,5 juta jiwa , namun terus hidup
dibawah ketidak adilan dan tekanan Warga Hindu yang merupakan Mayoritas
penduduk India.

Fakta yang lain,dalam perkembangan berikutnya, karena menyandang nama


Republik Islam, Pakistan juga menjadi tempat “Pelarian Politik” para petualang
Islam garis keras yang sering mengaku “Jihad” membela sesama Muslim yang
konflik di berbagai Negara atas alasan yang beraneka macam. Para Mujahidin
antar Negara yang ingin membela Afganistan difasilitasi Pakistan- jaman Zia ul
Haq berkuasa. Pejuang Muslim di Filipina Selatan, ternyata juga berhubungan erat
dengan kelompok Militan Pakistan. Bahkan beberapa anak muda Indonesia yang
kemudian ditangkap POLRI karena dicap “teroris” juga memperoleh pendidikan
di Pakistan.

Yang juga sudah deketahui oleh semua Badan Intelejen Dunia, Osama bin Laden
ternyata juga bekerja sama erat dengan Kepala Intelejen Pakistan- ISI (Inter-
Services Inteligence) Letjen Hameed Gul, dikenal sebagai idiolog Islam garis
keras dalam tubuh militer. Ia disebut sebagai penerus pemikiran almarhum
Presiden Zia Ul Haq.

Kehadiran Osama di Afganistan sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari kerja


sama dengan pimpinan ISI tersebut. Osama dan Letjen Hameed Gul memang
mempunyai gagasan yang hampir mirip mengenai internasionalisasi Islam, seperti
halnya Zia Ul Haq. Dalam kacamata Letjen Hameed Gul, jika komunisme saja
membentuk front internasional, maka umat Islam juga mampu melakukan hal
yang sama, yakni front Islam internasional.

Tradisi mengakomodir Kelompok Arab Islam garis keras sesungguhnya mulai


intensip dilakukan saat Zia ul Haq berkuasa.Kelompok Islam Garis Keras ini
sering disebut “Afgan Al Arab”- karena populernya perjuangan Mujahidin
Afganistan ketika itu.

Presiden Pakistan Zia ul Haq saat itu memberi perhatian dan fasilitas yang luar
biasa terhadap pejuang Ikhwan dan Afgan Al Arab pada umumnya. Ketika
pemimpin tertinggi Ikhwanul Muslimin (Mursyid), Muhammad Hamid Abu
Nasser, mengunjungi Pakistan dan Kota Peshawar untuk mengontrol para pejuang
Ikhwan, Presiden Zia ul Haq menyediakan pesawat khusus buat pemimpin
Ikhwan tersebut untuk berkeliling di seantero negeri Pakistan. Pemimpin Ikhwan
yang sekarang, Mustafa Masyhur (saat itu masih menjabat wakil Mursyid
Ikhwan), juga sering bolak-balik Cairo-Peshawar.
Tidak sedikit pimpinan Ikhwan yang berdomisili di Peshawar, menempati vila-
vila mewah berkat fasilitas yang diberikan Pemerintah Pakistan serta dana yang
mengucur dari negara-negara Arab Teluk.
Pada paruh kedua tahun 1980-an, aktivis Islam radikal Mesir dalam jumlah besar
mulai masuk Pakistan dan Afganistan. Gerakan Islam radikal Mesir semacam
“Jamaah Islamiah” dan “Tanzim Jihad” mendirikan kamp-kamp di Afganistan.

Dua organisasi radikal tersebut merupakan sempalan dari Ikhwanul Muslimin.


Pada tahun 1987, tiba di Peshawar dan lalu masuk ke Afganistan, tiga pimpinan
Jamaah Islamiah yaitu Muhammad Syauqi Islambuli (saudara kandung
Muhammad Islambuli yang membunuh Presiden Anwar Sadat), Ali Abdul Fatah,
dan Rifai Taha.

Pemimpin tertinggi Jamaah Islamiah, Dr Sheikh Omar Abdurrahman,


mengunjungi mereka dan kader-kader Jamaah Islamiah yang lain di Kota
Peshawar pada tahun 1988 dan tahun 1990.
Pada akhir tahun 1990, kader-kader Jamaah Islamiah mulai ikut latihan militer di
dalam Afganistan sendiri di bawah pengarahan pemuda Mesir bernama Suheib,
yang kemudian tewas dalam satu pertempuran melawan pasukan Uni Soviet tahun
1991.

Permainan “api Konflik” gaya Zia ini makin runyam ketika Afghanistan kembali
terjerembab kejurang perang saudara, yang terbelah dalam dua faksi besar. Yakni,
aliansi Utara yang didukung Iran dan Rusia. Sementara kelompok Taliban
didukung oleh Pakistan dan Arab Saudi.

Tahun 1997 dan 1998 ratusan tank, artileri, bahkan sejumlah helikopter dan
pesawat pengebom, dipasok ke Aliansi Utara. Iran dan Rusia paling banyak
mengeluarkan uang untuk belanja mesin perang tersebut.

Sebaliknya, Taliban juga mendapat suplai yang tidak kalah besarnya dari Arab
Saudi dan Pakistan. Permintaan Taliban atas 400 mobil Datsun pikap yang
digemarinya, dalam sekejap dipenuhi Arab Saudi. Pangeran Turki bin Faisal,
kepala badan intelijen Arab Saudi, Istakhbarat, berulang kali terbang ke Kabul
untuk mengetahui keperluan Taliban.

Akan tetapi, di balik semua itu pemicu pergolakan ini lebih pada perebutan
kepentingan Pakistan dan Iran atas sumber minyak dan gas alam di Kysgyzstan
dan Uzbekistan. Kedua negara ini disebut-sebut mempunyai deposit migas yang
sangat besar dan baru sebagian kecil yang dieksplorasi.
Persoalan yang dihadapi perusahaan penambangan di sini adalah memasarkan
komoditas tersebut.

Iran dan Pakistan menghendaki agar negaranya menjadi terminal utama, dengan
membangun pipa migas melalui Afganistan. Dalam hal inilah siapa yang
memenangkan pertarungan di Afganistan akan memenangkan negaranya dalam
menampung migas dari Asia Tengah tersebut.

Akan tetapi, peta politik kemudian berubah ketika terjadi peledakan Kedubes AS
di Kenya dan Tanzania, yang menewaskan 220 orang pada Agustus 1998.
Washington secara resmi menuding Osama bin Laden berada di belakang
peristiwa tersebut. Tiga belas hari setelah pernyataan tersebut, 70 rudal Cruise
ditembakkan ke kamp-kamp latihan Al Qaeda di sekitar Khost dan Jalalabad.

Bulan November tahun itu juga, Pemerintah AS menjanjikan 5 juta dollar bagi
siapa saja yang dapat memberi informasi bagi tertangkapnya Osama bin Laden.
Selain itu, Presiden Clinton memerintahkan perburuan Osama. Namun, sebuah
tim kecil yang dibentuk untuk menamatkan Osama dan sempat bermarkas di
Peshawar, kota di Pakistan yang berbatasan dengan Afganistan, gagal
menjalankan tugasnya setelah terjadinya kudeta militer oleh Jenderal Pervez
Musharraf atas pemerintahan PM Nawaz Sharif di Pakistan.

Di tengah mendidihnya suhu politik Afganistan, Arab Saudi buru-buru menarik


dukungannya pada Taliban dan membatalkan semua rencana bantuannya.
Pakistan dengan sendirinya gamang, namun untuk mundur amat sulit. Apalagi
Letjen Hameed Gul, Kepala ISI Pakistan, dikenal sebagai idiolog Islam garis
keras dalam tubuh militer. Ia disebut sebagai penerus pemikiran almarhum
Presiden Zia Ul Haq.

Resiko lain yang harus ditanggung Pakistan dengan menyandang sebutan Negeri
Islam, sekurangnya ia tak memiliki BOLIWOD yang melahirkan Bintang-Bintang
Film ternama India, yang dulu merupakan Negeri “Induk semangnya”. Pakistan
juga tak melahirkan lagi seniman musik kelas dunia dengan dominasi suara
gendang yang mengilhami aliran musik “dang dut” di Indonesia. Bahkan Pakistan
juga tak mampu mencetak pemain bulutangkis dunia sekelas Prakash Padukone
dari India.

Tapi mungkin Pakistan masih boleh berbangga, karena negeri itu merupakan salah
satu pemilik senjata nuklir dari antara segelintir negara dunia ketiga
lainnya.Pakistan tentu juga harus bersyukur karena masih memiliki sastrawan,
negarawan, dan Ilmuwan Muslim kaliber Dunia yang bisa disejajarkan dengan
tokoh dunia lainnya.

Sebut saja nama Iqbal, penyair, filsuf, pemikir, dan negarawan yang sangat Islami,
yang karya-karyanya selalu dikaji dan dikenang sepanjang zaman. Atau Maulana
Maududi, pemikir sekaligus praktisi politik Islam kontemporer (1903-1979),
pendiri partai “Jamiat Islami” yang sangat berpengaruh hingga ke luar negeri.
Atau MM Syarif (1893-1965), pendiri Pakistan Philosophical Congress dan editor
buku sejarah filsafat Islam History of Muslim Philosophy, serta banyak lagi. Dan
tak mungkin terlupakan nama Dr. Abdus Salam (lahir 1926), sarjana Islam ahli
nuklir pertama, penerima hadiah Nobel bidang fisika (1979).
Kini, ketika Pervez Musharaf berkuasa, iapun terus membuat kebijakan yang
menegangkan urat saraf lawan-lawan politiknya. Menilik langkah-langkahnya,
Pervez justru akan menghabisi politisi penting sipil lewat tuduhan korupsi dan
penyalahgunaan utang. Kebetulan, utang para pengusaha besar dan (sebagian)
politisi itu mencapai 4 miliar dollar, cukup untuk modal memperbaiki
perekonomian yang morat-marit. Pervez hanya memberi waktu sebulan untuk
melunasi, atau mereka akan dipenjara.

Tentu saja mayoritas tidak bisa memenuhi deadline itu, sehingga menjadi buron,
termasuk mantan PM Benazir Bhutto maupun keluarga Nawaz Sharif yang
kemudian ditangkapi. Yang paling mengkhawatirkan adalah bila pengadilan di
bawah pengawasan militer itu menyimpulkan Nawaz Sharif layak dihukum mati,
sebagaimana bunyi salah satu tuntutan.

Sidang itu sendiri tidak bisa dipantau publik, sehingga benar dan salah sulit diuji
secara fair. Sejelek apapun prestasinya, Sharif memiliki pendukung cukup banyak,
yang potensial menjadikan Pakistan semakin kacau bila pemimpinnya diusik
secara tidak adil. (Akhirnya, Nawaz diasingkan ke Mesir, tidak jadi dihukum
mati).

Pakistan juga akan memasuki episode ketidakpastian baru, karena dua kekuatan
politik yang selama ini saling bersaing akan bergabung melawan militer, yakni
kubu Nawaz dan Benazir. Sebelum kudeta, Pervez dinilai sebagai jenderal lugu.
Tetapi ia kini adalah kepala pemerintahan yang direstui oleh Presiden.
Sebagaimana Zia dulu, sekali berkuasa, ia akan semakin kuat. Bukti dari janjinya
masih ditunggu, yaitu apakah ia akan mengalah kepada sipil, atau memilih untuk
`dikalahkan’ lewat people’s power.( Sunting Edit : kukuh dari berbagai sumber,
16620072246)

e. Agama Islam di Malaysia (Malaka)

Sekitar abad ke-14 agama Islam masuk ke Malaysia dibawa oleh pedagang dari
Arab, Persia, Gujarat dan Malabar. Disamping itu, ada seorang ulama bernama
Sidi Abdul Aziz dari Jeddah yang mengislamkan pejabat pemerintah Malaka dan
kemudian terbentuklah kerjaan Islam di Malaka dengan rajanya yang pertama
Sultan Permaisura. Setelah beliau wafat diganti oleh Sultan Iskandar Syah dan
penyiaran Islam bertambah maju, pada masa Sultan Mansyur Syah (1414-1477
M). Sultan suka menyambung tali persahabatan dengan kerajaan lain seperti
Syam, Majapahit, dan Tiongkok.

Kejayaan Malaka dapat dibina lagi sedikit demi sedikit oleh Sultan Aludin Syah I,
sebagai pengganti Muhammad Syah. Kemudian pusat pemerintahannya dari
Kampar ke Johor (Semenanjung Malaka). Sultan Alaudin Syah I dikenal sebagai
Sultan Johor yang pertama dan negeri Johor makin nertambah ramai dengan
datangnya para pedagang dan pendatang. Sampai sekarang perkembangan agama
Islam di Malaysia makin bertambah maju dan pesat, dengan bukti banyaknya
masjid-masjid yang dibangun, juga terlihat dalam penyelenggaraan jamaah haji
yang begitu baik. Sehingga dapat dikatakan bahwa perkemabangan Islam di
Malaysia, tidak ada hambatan. Bahkan, ditegaskan dalam konstitusi negaranya
bahwa Islam merupakan agama resmi negara. Di kelantan, hukum hudud (pidana
Islam) telah diberlakukan sejak 1992. kelantan adalah negara bagian yang
dikuasai partai oposisi, yakni Partai Al-Islam se-Malaysia (PAS) yang berideologi
Islam. Dalam pemilu 1990 mengalahkan UMNO dan PAS dipimpin oleh Nik Mat
Nik Abdul Azis yang menjabat sebagai Menteri Besar Kelantan.

f. Agama Islam di Brunei Darussalam

Agama Islam di Brunei dapat berkembang dengan baik tanpa ada hambatan-
hambatan. Bahkan, agama Islam di Brunei merupakan agama resmi negara. Untuk
pengembangan agama Islam lebih lanjut telah didatangkan ulama-ulama dari luar
negeri, termasuk dari Indonesia. Masjid-masjid banyak didirikan. Umat Islam di
Brunei menikmati kehidupan yang benar-benar sejahtrera sesuai dengan namanya
Darussalam (negeri yang damai).

Pendapatan perkapita negara ini termasuk tertinggi di dunia. Pendidikan dan


perawatan kesehatan diberikan secara cuma-cuma oleh pemerintah. Negara Brunei
Darussalam merupakan negara termuda di Asia Tenggara (merdeka tahun 1984
dari Inggris). Penduduk Brunei Darussalam mayoritas beragama Islam.

Sumber : http://hbis.wordpress.com/2007/12/11/perkembangan-islam-di-dunia/

Bangladesh
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Akurasi Terperiksa
Langsung ke: navigasi, cari

Koordinat: 23°N 90°E / 23°LU 90°BT

Republik Rakyat Bangladesh


গগগগগগগগগগগগগগ গগগগগগগগ
Gônoprojatontri Banglādeśh
Bendera

Lagu kebangsaan: Amar Shonar Bangla


Bangla Emasku

Ibu kota Dhaka


(dan kota terbesar) 23°42′N 90°21′E / 23.7°LU 90.35°BT

Bahasa resmi Bangla (বাংলা)


Pemerintahan Republik parlementer[1]
- Presiden Zillur Rahman
- Perdana Menteri Sheikh Hasina Wajed
- Kepala parlemen Ad.Abdul Hamid
Kemerdekaan dari Pakistan
- Deklarasi kemerdekaan 26 Maret 1971
- Hari Kemenangan 16 Desember 1971
Luas
- Total 147,570 km2 (94)
- Air (%) 6.9
Penduduk
- Perkiraan 2009 162.221.000[2] (7)
- Kepadatan 1.099,3/km2 (9)
PDB (KKB) Perkiraan 2009
- Total $241,295 miliar[3]
- Per kapita $1.465[3]
PDB (nominal) Perkiraan 2009
- Total $94,507 miliar[3]
- Per kapita $573[3]
Gini (2000) 33.4 (sedang)
IPM (2007) ▲ 0.543[4] (sedang) (146)
Mata uang Taka (BDT)
Zona waktu BST (UTC+6)
Lajur kemudi kiri
Domain internet .bd
Kode telepon 880

Republik Rakyat Bangladesh (bahasa Bengali: গণপজাতনী বাংলােদশ) adalah sebuah


negara di Asia Selatan yang berbatasan dengan India di barat, utara dan timur,
Myanmar di tenggara, dan Teluk Benggala di selatan. Bangladesh, bersama
dengan Benggala Barat di India, membentuk kawasan etno-linguistik Benggala.
Bangladesh (বাংলােদশ) secara harfiah bermakna "Negara Bangla". Ibu kota dan kota
terbesar Bangladesh ialah Dhaka.

Perbatasan Bangladesh ditetapkan melalui pemisahan India pada tahun 1947.


Negara ini merupakan sayap timur Pakistan (Pakistan Timur) yang terpisah dari
sayap barat sejauh 1.600 kilometer. Diskriminasi politik, bahasa, dan ekonomi
menimbulkan perpecahan antara kedua sayap, yang berujung pada meletusnya
perang kemerdekaan tahun 1971 dan pendirian negara Bangladesh. Tahun-tahun
setelah kemerdekaan ditandai dengan kelaparan, bencana alam, kemiskinan, huru-
hara politik, korupsi, dan kudeta militer.

Bangladesh memiliki jumlah penduduk terbesar kedelapan di dunia dan


merupakan salah satu negara terpadat di dunia dengan tingkat kemiskinan yang
tinggi, namun pendapatan per kapita Bangladesh telah meningkat dua kali lipat
sejak tahun 1975 dan tingkat kemiskinan turun 20% sejak awal tahun 1990-an.
Negara ini dimasukan sebagai salah satu bagian dari "Next Eleven". Ibu kota
Dhaka dan wilayah urban lainnya menjadi penggerak utama dibalik pertumbuhan
ini.[5]

Secara geografis, negara ini berada di Delta Gangga-Brahmaputra yang subur.


Bangladesh mengalami banjir angin musim tahunan, dan siklon kerap terjadi.

Daftar isi
[sembunyikan]

• 1 Sejarah
o 1.1 Abad ke-20
• 2 Pemerintahan dan politik
• 3 Hubungan luar negeri dan militer
• 4 Pembagian administratif
• 5 Geografi dan iklim
o 5.1 Flora dan fauna
• 6 Ekonomi
• 7 Demografi
o 7.1 Agama
• 8 Budaya
• 9 Olahraga
• 10 Lihat pula
• 11 Referensi

• 12 Pranala luar

[sunting] Sejarah
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sejarah Bangladesh dan Sejarah
Benggala

Somapura Mahavihara di Paharpur, Bangladesh, merupakan vihara Buddha


terbesar di Asia Selatan. Vihara ini didirikan oleh Dharmapala dari Benggala.

Reruntuhan Bara Sardar Bari, bangunan di Sonargaon, bekas ibu kota Isa Khan.

Sisa peradaban di Benggala Raya dapat ditilik kembali ke masa empat ribu tahun
yang lalu,[6] ketika wilayah tersebut dimukimi oleh orang Dravida, Tibeto-Burma,
dan Austro-Asiatik. Asal kata "Bangla" atau "Benggala" tidak diketahui, tetapi
kata tersebut diduga berasal dari kata Bang, suku berbahasa Dravidia yang tinggal
di wilayah tersebut sekitar tahun 1000 SM.[7]
Kerajaan Gangaridai dibentuk sekitar abad ke-7 SM, yang selanjutnya disatukan
dengan Bihar di bawah Kekaisaran Magadha, Nanda, Maurya, dan Sunga.
Benggala kemudian menjadi bagian dari Kekaisaran Gupta dan Harsha dari abad
ke-3 hingga abad ke-6. Setelah kejatuhannya, Shashanka mendirikan sebuah
kerajaan, dan ia dianggap sebagai raja independen pertama dalam sejarah
Bangladesh.

Setelah mengalami periode anarkisme, Dinasti Pala yang beragama Buddha


menguasai wilayah ini selama empat ratus tahun, yang selanjutnya digantikan
oleh Dinasti Sena yang beragama Hindu. Islam masuk ke Benggala pada abad ke-
12 melalui pedagang Arab. Misionaris Sufi dan penaklukan Muslim membantu
penyebaran agama Islam di wilayah ini.[8]

Bakhtiyar Khilji, seorang jenderal Bangsa Turkik, mengalahkan Lakshman Sen


dari Dinasti Sena dan menaklukan sebagian besar wilayah Benggala pada tahun
1204. Wilayah ini dikuasai oleh dinasti-dinasti Sultan dan tuan-tuan tanah
Bhuiyan selama beberapa ratus tahun kemudian. Pada abad ke-16, Kemaharajaan
Mughal menguasai Benggala dan Dhaka menjadi pusat provinsial penting dalam
pemerintahan Mughal.

Pedagang Eropa datang pada abad ke-15, dan pengaruh mereka berkembang
hingga Perusahaan Hindia Timur Britania menguasai Benggala setelah
Pertempuran Plassey tahun 1757.[9] Pemberontakan berdarah tahun 1857 – dikenal
sebagai Pemberontakan Sepoy – menyebabkan penyerahan kekuasaan kepada
mahkota kerajaan dengan viceroy sebagai pelaksana pemerintahan.[10] Selama
masa penjajahan, kelaparan melanda anak benua India berkali-kali, seperti
kelaparan di Benggala pada tahun 1943 yang menewaskan 3 juta orang.[11]

[sunting] Abad ke-20


Pidato bersejarah Sheikh Mujibur Rahman pada 7 Maret 1971.

Antara tahun 1905 hingga 1911, dilakukan usaha untuk memisahkan provinsi
Benggala menjadi dua zona, dengan Dhaka sebagai ibu kota zona timur.[12] Ketika
India dibagi pada tahun 1947, Benggala dibagi berdasarkan garis religius. Bagian
barat Benggala masuk ke wilayah India, dan bagian timur bergabung dengan
Pakistan sebagai provinsi yang disebut Benggala Timur (nantinya menjadi
Pakistan Timur).[13]

Pada tahun 1950, reformasi tanah dilakukan di Benggala Timur dengan


dihapuskannya sistem zamindar feudal.[14] Pemerintahan Pakistan saat itu
didominasi oleh Pakistan Barat. Gerakan Bahasa Bengali pada tahun 1951
merupakan tanda awal perpecahan antara Pakistan Barat dan Timur.[15]

Ketidakpuasan terhadap pemerintah pusat terus meningkat pada dekade-dekade


berikutnya, dan Liga Awami muncul sebagai suara politik penduduk berbahasa
Bengali. Mereka meminta otonomi pada tahun 1960-an dan pada tahun 1966,
pemimpin pergerakan Sheikh Mujibur Rahman dipenjara. Ia dilepaskan pada
tahun 1969 setelah meletusnya pemberontakan rakyat.

Pada tahun 1970, Siklon Bhola menyerang pantai Pakistan Timur. Siklon ini
menewaskan hingga setengah juta jiwa,[16] namun pemerintah pusat tidak serius
menangani bencana ini. Pada tahun 1970, Liga Awami memenangkan suara
terbanyak dalam pemilihan parlemen,[17] namun Sheikh Mujibur Rahman dilarang
berkuasa, sehingga kemarahan rakyat berbahasa Bengali semakin meningkat.

Setelah pembicaraan dengan Mujib, Presiden Yahya Khan menangkapnya pada 26


Maret 1971, dan melancarkan Operasi Searchlight.[18] Target utama operasi
tersebut adalah kaum intelektual dan orang Hindu.[19] Operasi ini menewaskan
banyak orang.[20]

Sebelum ditangkap, Sheikh Mujibur Rahman secara resmi menyatakan


kemerdekaan Bangladesh dan mengarahkan semua orang untuk bertempur hingga
semua tentara Pakistan berhasil diusir. Pemimpin Liga Awami mendirikan
pemerintahan dalam pembuangan di Kolkata, India. Pemerintahan dalam
pembuangan secara resmi diambil sumpahnya di Mujib Nagar, distrik Kustia,
Pakistan Timur, pada 17 April 1971 dengan Tajuddin Ahmad sebagai perdana
menteri pertamanya.

Perang Kemerdekaan Bangladesh berlangsung selama sembilan bulan. Mukti


Bahini (Tentara Pembebasan) melancarkan perang gerilya besar-besaran terhadap
tentara Pakistan. Pejuang kemerdekaan Bangladesh mendapatkan bantuan penuh
dari India. Mukti Bahini dan India berhasil mencapai kemenangan terhadap
Pakistan pada 16 Desember 1971, dengan 90.000 orang ditawan oleh India.
Jatiyo Smriti Soudho, didirikan untuk mengenang korban Perang Kemerdekaan
Bangladesh.

Setelah merdeka, Bangladesh menjadi negara demokrasi parlementer, dengan


Mujib sebagai perdana menteri. Pada pemilihan parlemen tahun 1973, Liga
Awami mendapatkan suara terbanyak.

Kelaparan menimpa seluruh negeri antara tahun 1973 hingga 1974.[11] Pada awal
tahun 1975, Mujib berusaha menerapkan kekuasaan sosialis satu partai melalui
BAKSAL yang baru dibentuk. Pada 15 Agustus 1975, Mujib dengan kebanyakan
anggota keluarganya dibunuh.[21]

Kudeta-kudeta berdarah terus berlangsung hingga Jenderal Ziaur Rahman


berkuasa. Ia mengembalikan sistem multi partai dan mendirikan Partai Nasionalis
Bangladesh (PNB). Kekuasaan Zia berakhir setelah ia dibunuh pada tahun 1981.
[21]
Penguasa utama Bangladesh selanjutnya adalah Jenderal Hussain Muhammad
Ershad, yang memperoleh kekuasaan melalui kudeta tak berdarah tahun 1982. Ia
terpaksa mengundurkan diri pada tahun 1990 setelah meletusnya revolusi besar-
besaran.

Sejak saat itu, sistem pemerintahan Bangladesh kembali menjadi demokrasi


parlementer. Istri Zia, Khaleda Zia, memimpin Partai Nasionalis Bangladesh
menuju kemenangan pada pemilihan umum tahun 1991 dan menjadi perdana
menteri perempuan pertama dalam sejarah Bangladesh. Liga Awami yang
dikepalai oleh Sheikh Hasina Wajed (putri Mujib) memenangkan pemilu 1996,
namun kalah kepada Partai Nasionalis Bangladesh pada tahun 2001.

Pada 11 Januari 2007, setelah terjadinya kekacauan politik, pemerintahan


pemelihara (caretaker) ditunjuk untuk mengatur pemilihan umum selanjutnya.
Perilaku korupsi merajalela di Bangladesh.[22] Pemerintah pemelihara baru
menjadikan pemberantasan korupsi sebagai prioritas utama. Akibatnya, banyak
politikus, pejabat penting, pejabat kecil dan anggota partai yang ditangkap atas
tuduhan korupsi. Pemerintah pemelihara mengadakan pemilu yang adil dan bersih
pada 29 Desember 2008.[23] Sheikh Hasina Wajed memenangkan pemilu dan
diambil sumpahnya sebagai Perdana Menteri pada 6 Januari 2009.[24]

[sunting] Pemerintahan dan politik


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Politik Bangladesh
Simbol nasional Bangladesh

Lagu kebangsaanAmar Shonar Bangla

Hewan Harimau Benggala

Burung Kucica kampung

Ikan Hilsa

Bunga Lili Air Putih

Buah Cempedak

Olahraga Kabaddi

Kalender Kalender Bengali

Jatiyo Sangshad Bhaban, gedung parlemen Bangladesh

Bangladesh merupakan negara kesatuan yang memiliki sistem pemerintahan


demokrasi parlementer.[25] Presiden ialah kepala negara. Kedudukannya banyak
diisi dengan menghadiri upacara-upacara kenegaraan.[26] Kendali pemerintahan
sesungguhnya dipegang Perdana Menteri, yang merupakan kepala pemerintahan.
Presiden dipilih oleh badan legislatif setiap 5 tahun dan memiliki kekuasaan yang
normalnya terbatas. Kekuasaan presiden bertambah selama masa jabatan
pemerintahan pemelihara.

Pemerintahan pemelihara bertanggung jawab dalam mengendalikan transisi


menuju pemerintahan baru. Pejabat pemerintahan pemelihara haruslah non-
partisan dan memiliki waktu tiga bulan untuk menyelesaikan tugasnya. Sistem ini
pertama kali dipraktekan pada 1991 dan dilembagakan pada 1996 sebagai
amandemen ke-13 dari konstitusi.[27]

Perdana Menteri dipilih melalui upacara pemilihan oleh presiden dan harus
menjadi anggota parlemen, memimpin kepercayaan mayoritas anggota parlemen.
Kabinet terdiri atas para menteri yang dipilih oleh Perdana Menteri dan diangkat
oleh presiden. Parlemen unikameral Bangladesh, Jatiyo Sangshad, dipilih oleh
rakyat melalui pemilihan suara terbanyak dari konstitusi wilayah tunggal untuk
menduduki jabatannya selama 5 tahun. Hak pilih universal berlaku untuk seluruh
warganegara saat usianya menginjak 18 tahun.

Konstitusi Bangladesh ditulis pada 1972 dan telah mengalami empat belas
amandemen. Hukum lainnya yang berlaku di negara itu dibuat oleh parlemen
yang merupakan turunan dari konstitusi.[27] Badan peradilan tertinggi ialah
Mahkamah Agung. Hakim-hakim agung diangkat oleh presiden. Institusi
peradilan dan penegakan hukum di Bangladesh lemah.[28] Pemisahan peradilan
dari pemerintahan dilakukan pada 1 November 2007. Diperkirakan pemisahan ini
akan membuat badan peradilan menjadi lebih kuat. Hukum-hukum di Bangladesh
banyak berdasarkan pada hukum adat Inggris, namun hukum privat seperti
pernikahan dan warisan berdasar pada yang termaktub dalam kitab suci, dan
sehingga lingkup agama satu bisa jadi berbeda penegakan hukumnya dengan
lingkup agama lainnya.

Dua partai utama di Bangladesh ialah Partai Nasionalis Bangladesh (PNB) dan
Liga Awami. PNB bersekutu dengan partai Islam seperti Jamaat-e-Islami
Bangladesh dan Islami Oikya Jote, sedangkan Liga Awami bersekutu dengan
partai kiri dan sekular. Pemain penting lainnya ialah Partai Jatiya, dikepalai oleh
mantan penguasa militer Ershad. Persaingan Liga Awami-BNP telah memahit dan
memuncak dengan terjadinya demonstrasi, kekerasan, dan pembunuhan. Politik
mahasiswa khususnya kuat di Bangladesh, peninggalan dari masa gerakan
pembebasan. Hampir semua partai memiliki sayap mahasiswa aktif, dan
mahasiswa telah dipilih ke parlemen.

Dua partai Islam, Jagrata Muslim Janata Bangladesh (JMJB) dan Jamaat-ul-
Mujahideen Bangladesh (JMB) yang dianggap radikal, dilarang pada Februari
2005. Beberapa serangan bom berskala kecil yang terjadi sejak 1999 diduga
dilakukan oleh kedua kelompok tersebut. Anggota-anggota partai yang dicurigai
sebagai pelaku telah ditahan. Pemerintah Bangladesh dipuji oleh pemimpin-
pemimpin dunia akan posisi anti terorisnya yang kuat.

[sunting] Hubungan luar negeri dan militer


BNS Bangabondhu.

Bangladesh memiliki kebijakan luar negeri yang moderat dan bergantung pada
diplomasi multinasional. Pada tahun 1974, negara ini bergabung dengan
Persemakmuran dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan telah terpilih sebagai
anggota tidak tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1978–
1979 dan 2000–2001. Pada tahun 1980-an, Bangladesh memainkan peran penting
dalam pendirian South Asian Association for Regional Cooperation (SAARC)
untuk meningkatkan hubungan dengan negara-negara Asia Selatan lainnya.

Hubungan luar negeri Bangladesh yang paling penting adalah hubungan dengan
India. Hubungan India dengan Bangladesh berawal baik karena India membantu
Bangladesh mencapai kemerdekaannya. Seiring waktu, hubungan antar kedua
negara menjadi berayun-ayun karena berbagai alasan. Sumber ketegangan utama
antara Bangladesh dengan India adalah Bendungan Farakka.[29] Pada tahun 1975,
India membangun bendungan di Sungai Gangga, 11 mil (18 km) dari perbatasan
dengan Bangladesh. Bangladesh menuduh bendungan itu mengalihkan air dari
Bangladesh, dan menimbulkan bencana.[29] Di sisi lain, India khawatir dengan
gerakan separatis anti-India dan militan Islam, dan juga masuknya imigran ilegal.
[30]
Pada tahun 2007, kedua negara setuju untuk menyelesaikan masalah
keamanan, ekonomi dan perbatasan secara kooperatif.[31]

Bangladesh memiliki hubungan yang hangat dengan Republik Rakyat Cina.


Antara tahun 2006 hingga 2007, perdagangan antar kedua negara meningkat
28.5% dan telah dibuat persetujuan untuk memberikan akses bebas tarif bagi
berbagai komoditas Bangladesh yang akan masuk ke pasar Cina. Kerja sama
antara militer Bangladesh dan RRC juga meningkat, dengan dilakukannya
penandatanganan persetujuan militer.

Kini, Angkatan Bersenjata Bangladesh memiliki sekitar 200.000 personel aktif,[32]


17.000 personel angkatan udara,[33] dan 24.000 personel angkatan laut.[34] Saat ini
Bangladesh tidak terlibat dalam perang manapun, namun negara ini telah
menyumbangkan 2.300 tentara dalam Perang Teluk I tahun 1991 dan juga
menyumbangkan tentara bagi misi penjaga perdamaian PBB di seluruh dunia.
Pada Mei 2007, tentara Bangladesh terlibat dalam misi perdamaian di Republik
Demokratik Kongo, Liberia, Sudan, Timor Leste dan Pantai Gading.[35] Kini,
Bangladesh adalah penyumbang tentara penjaga perdamaian terbesar ke-2.[36]
[sunting] Pembagian administratif
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pembagian administratif Bangladesh

Divisi-divisi di Bangladesh.

Bangladesh terbagi menjadi tujuh divisi (bibhag)[37][38] yang dinamai menurut ibu
kota masing-masing: Barisāl (বিরশাল), Chittagong (চটগাম), Dhaka (ঢাকা), Khulna
(খুলনা), Rajshahi (রাজশাহী), Sylhet (িসেলট), dan Rangpur (রংপুর).

Divisi terbagi menjadi distrik (zila). Terdapat 64 distrik di Bangladesh. Masing-


masing distrik terbagi menjadi upazila (sub distrik) atau thana (stasiun polisi).
Setiap stasiun polisi, kecuali yang terdapat di daerah metropolitan, dibagi lagi
menjadi beberapa kesatuan. Kesatuan-kesatuan ini terdiri dari banyak desa-desa.
Di wilayah metropolitan, stasiun polisi terbagi menjadi ward, yang dibagi lagi
menjadi mahallas. Tidak ada pejabat terpilih pada tingkat divisi, distrik atau
upazila, dan pemerintahan hanya terdiri dari pejabat pemerintahan. Pemilihan
langsung yang memilih seorang ketua dan beberapa anggota diadakan di setiap
kesatuan (ward).

Dhaka adalah ibu kota dan kota terbesar di Bangladesh. Kota utama lainnya
adalah Chittagong, Khulna, Rajshahi, Sylhet, Barisal, Bogra, Comilla,
Mymensingh dan Rangpur. Di kota-kota tersebut diadakan pemilihan wali kota,
sementara munisipalitas lainnya memilih seorang ketua. Wali kota dan ketua
memiliki masa jabatan selama lima tahun.

Populasi kota Populasi metro


Kota
(perkiraan 2008)[39] (perkiraan 2008)[39]
Dhaka 7.000.940 12.797.394
Chittagong 2.579.107 3.858.093
Khulna 855.650 1.388.425
Rajshahi 472.775 775.495
Sylhet 463.198 -
Barisal 210.374 -
Rangpur 251.699 -

[sunting] Geografi dan iklim


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Geografi Bangladesh

Citra Bangladesh dari satelit.

Pemandangan Cox's Bazar di pagi hari.


Kapal di Jaflong, Sylhet.

Bangladesh terletak di Delta Sungai Gangga-Brahmaputra. Delta ini terbentuk


oleh pertemuan Sungai Gangga (nama setempat Padma atau Pôdda), Brahmaputra
(Jamuna atau Jomuna), Meghna, dan anak-anak sungai yang berhubungan dari
Himalaya. Tanah aluvial yang diendapkan oleh sungai-sungai itu telah
menciptakan daratan yang amat subur.

Sebagian besar Bangladesh berada 12 meter di bawah permukaan laut, dan


dipercaya sekitar 50% tanah akan banjir jika permukaan laut naik hingga 1 m.[40]
Titik tertinggi di Bangladesh berada di pegunungan Mowdok pada ketinggian
sekitar 1.052 m (3.451 kaki).[41]

Iklim Bangladesh bersifat tropis, dengan musim dingin yang sejuk dari Oktober
hingga Maret, musim panas yang panas dan kering dari Maret hingga Juni. Musim
hujan yang hangat dan lembab berlangsung dari Juni ke Oktober dan memasok
sebagian besar curah hujan negeri itu. Bencana alam, seperti banjir, siklon tropis,
dan badai tornado terjadi hampir tiap tahun,[42] ditambah dengan pengaruh
deforestasi, degradasi tanah dan erosi.

Cox's Bazar, sebelah selatan kota Chittagong, memiliki garis pantai yang tak
terputus sepanjang 120 kilometer (75 mil).

Pada September 1998, Bangladesh mengalami banjir terparah dalam sejarah dunia
modern. 300.000 rumah dan 9.700 kilometer (6.027 mi) jalan terendam. Lebih
dari 1.000 jiwa tewas dan 30 juta menjadi tuna wisma. Dua per tiga Bangladesh
terendam banjir. Penyebab dari banjir ini adalah curah hujan yang tinggi,
mencairnya salju di Pegunungan Himalaya, dan penebangan hutan.[43]

Bangladesh kini dianggap sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap
perubahan iklim. Dipercaya pada dekade berikutnya, peningkatan permukaan air
laut akan menimbulkan 20 juta pengungsi akibat perubahan iklim.[44][45]

Air di Bangladesh sering terkontaminasi dengan arsenik karena kandungan


arsenik yang tinggi pada tanah. Lebih dari 77 juta orang terekspos terhadap racun
arsenik.[46][47]

[sunting] Flora dan fauna

Sebagian besar garis pantainya terdiri dari hutan berawa yang dinamakan
Sundarbans (Bengali: সুনরবন Shundorbôn), yaitu sebuah hutan bakau terbesar di
dunia dan merupakan rumah bagi beragam flora dan fauna, di antaranya termasuk
Harimau Benggala. Pada 1997, kawasan ini dinyatakan terancam.[48] Kucica
kampung adalah burung nasional Bangladesh dan dikenal sebagai Doyel atau
Doel (bahasa Bengali: োদােয়ল). Bunga nasional negara ini adalah lili air, yang
dikenal sebagai Shapla. Buah nasional Bangladesh adalah cempedak, yang dalam
bahasa Bengali dikenal sebagai Kathal.

[sunting] Ekonomi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Ekonomi Bangladesh

Dua per tiga penduduk Bangladesh bekerja di sektor pertanian.

Bangladesh masih merupakan negara berkembang, meski telah dilakukan usaha


berlanjut untuk meningkatkan prospek ekonomi dan demografi.[49] Pendapatan per
kapita pada 2008 tercatat sebesar $520,[38] namun, seperti yang dicatat Bank Dunia
pada Laporan Negeri Juli 2005-nya, negara ini telah membuat kemajuan pesat
dalam pengembangan manusia dengan berfokus pada pemberantasan tingkat buta
huruf yang berhasil, memperoleh kesetaraan gender dalam sekolah, dan
mengurangi pertumbuhan penduduk.

Yute pernah menjadi mesin ekonomi negara ini. Saham pasar ekspor dunianya
memuncak pada masa Perang Dunia II dan akhir tahun 1940-an pada 80%[50] dan
bahkan di awal 1970-an terhitung sekitar 70% penerimaan ekspornya, namun
produk polipropilena mulai menggantikan produk yute di seluruh dunia dan
industri yute mulai mengalami kemunduran. Selain yute, Bangladesh
memproduksi padi, teh, dan sesawi dalam jumlah yang signifikan.

Meski dua pertiga penduduk Bangladesh adalah petani, lebih dari tiga perempat
penerimaan ekspor Bangladesh berasal dari industri garmen.[51] Industri ini mulai
menarik investor asing pada 1980-an karena upah buruh yang murah dan nilai
tukar mata uang asing yang rendah. Pada 2002, nilai ekspor industri garmen
tercatat sebesar $5 miliar.[52] Industri ini kini memperkerjakan sekitar 3 juta orang,
90% di antaranya adalah perempuan. Pemasukan mata uang asing juga diperoleh
dari penduduk Bangladesh yang tinggal di negara lain.[53]
Bashundhara City, mall terbesar di Asia Selatan.

Jembatan Jamuna, salah satu jembatan terpanjang di dunia.

Rintangan bagi pertumbuhan adalah badai siklon dan banjir yang sering datang,
perusahaan milik negara yang tidak efisien, fasilitas pelabuhan yang salah urus,
pertumbuhan angkatan kerja yang tidak seimbang dengan ruang kerja,
penggunaan sumber daya energi yang tidak efisien (seperti gas alam), listrik yang
tak mencukupi, perwujudan reformasi ekonomi yang lambat, pertarungan politik,
dan korupsi. Menurut Bank Dunia Juli 2005: "Di antara hambatan paling
signifikan bagi Bangladesh untuk berkembang ialah buruknya pemerintahan dan
lemahnya lembaga masyarakat."[54]

Walaupun berbagai rintangan menghalang, sejak 1990 negeri ini telah mencapai
tingkat pertumbuhan tahunan rata-rata 5%. Pada Desember 2005, Goldman Sachs
menamakan Bangladesh sebagai salah satu "Next Eleven" (Sebelas Berikutnya).[55]
Bangladesh juga mengalami peningkatan tajam dalam investasi asing langsung.
Sejumlah perusahaan multinasional, termasuk Unocal Corporation dan Tata
merupakan penyumbang investasi utama, dengan prioritas penanaman modal
dalam sektor gas alam. Pada Desember 2005, bank sentral Bangladesh
mencanangkan perkembangan PDB sekitar 6,5%.[56]

Satu sumbangan penting bagi pengembangan ekonomi ialah pencanangan kredit


mikro oleh Muhammad Yunus (dianugerahi penghargaan Nobel Perdamaian pada
2006) melalui Bank Grameen. Dari akhir 1990-an, Bank Grameen memiliki 2,3
juta anggota, bersama dengan 2,5 juta anggota organisasi lain yang serupa.[57]

Untuk meningkatkan perkembangan ekonomi, pemerintah merancang beberapa


zona pemrosesan ekspor untuk menarik investasi asing, yang diatur oleh
Bangladesh Export Processing Zone Authority.

[sunting] Demografi
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Demografi Bangladesh

Peta persebaran bahasa di Bangladesh.

Seorang perempuan Mande pada hari Adivasi.

Jumlah penduduk Bangladesh diperkirakan berkisar antara 142 hingga 159 juta,
sehingga menjadikannya negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-7 di dunia.
Dengan luas sebesar 144,000 km² (56.000 mil²), kepadatan penduduk Bangladesh
sangatlah tinggi, yakni sekitar 1.099,3/km². Pertumbuhan penduduk Bangladesh
berada di antara yang tertinggi dunia pada 1960-an dan 1970-an, namun dengan
dilakukannya pengendalian penduduk, pada tahun 1980-an pertumbuhan
penduduk melambat. Penduduk Bangladesh relatif muda, dengan 60% dari jumlah
penduduk merupakan kelompok berusia 0-25 tahun, sementara jumlah kelompok
berusia 65 tahun ke atas hanya 3% saja. Angka harapan hidup penduduk negara
ini adalah 63 tahun.[58]

Kelompok etnis mayoritas di negara Bangladesh adalah orang Bengali (98% dari
populasi).[59] Sisanya merupakan migran Bihari dan kelompok suku asli. Terdapat
13 kelompok suku yang tinggal di Chittagong Hill Tracts, dengan yang terbanyak
ialah suku Chakma. Sejak lahirnya Bangladesh, di kawasan tersebut sering terjadi
ketegangan antar etnis.[60] Kelompok suku terbanyak di luar Hill Tracts itu ialah
Santhal dan Garo (Achik). Selain itu juga terdapat suku Kaibartta, Meitei, Munda,
Oraon, dan Zomi.

Perdagangan manusia telah menjadi masalah di Bangladesh[61] dan imigrasi ilegal


menjadi penyebab perselisihan dengan Myanmar[62] dan India.[63]

Bahasa resmi dan yang paling banyak dituturkan di Bangladesh adalah bahasa
Bengali atau Bangla,[64] sebuah bahasa Indo-Arya yang berasal dari bahasa
Sanskerta (seperti Hindi, Punjabi, dan Gujarati serta beberapa bahasa lainnya).
Bahasa ini ditulis menggunakan aksaranya sendiri. Bahasa Inggris digunakan
sebagai bahasa kedua di antara kelas menengah ke atas[65] dan di pendidikan
tinggi. Sejak Keputusan Presiden tahun 1987, bahasa Bengali digunakan pada
semua korespondensi resmi kecuali korespondensi asing.[65]

Tingkat kesehatan dan pendidikan kini meningkat seiring dengan berkurangnya


tingkat kemiskinan. Sebagian besar orang Bangladesh tinggal di pedesaan dan
bertani. Kesehatan menjadi masalah utama, dikarenakan kontaminasi air
permukaan, arsenik yang terkadung dalam air tanah,[66] dan serangan penyakit
seperti malaria, leptospirosis dan demam berdarah. Tingkat melek huruf di
Bangladesh sekitar 41%.[67] Tingkat buta huruf telah menurun karena banyak
program yang diperkenalkan di negeri ini. Di antara yang berhasil ialah program
makanan untuk pendidikan yang diperkenalkan pada tahun 1993,[68] dan program
beasiswa untuk perempuan di tingkat pendidikan dasar dan menengah.[69]

[sunting] Agama

Agama di Bangladesh

Agama Persen

Islam   89.7%

Hindu   9.2%

Buddha   0.7%
Kristen   0.3%

Animisme   0.1%

Dua agama utama di Bangladesh adalah Islam (89,7%) dan Hindu (9,2%).[70]
Aliran Islam yang paling banyak dianut adalah aliran Sunni, sementara sisanya
adalah Syi'ah, Ahmadiyyah atau Sufi.[71] Mayoritas kelompok Bihari menganut
aliran Islam Syiah. Kelompok agama lain adalah Buddha (0.7%, kebanyakan
Theravada), Kristen (0.3%, kebanyakan Katolik Roma), dan animisme (0.1%).

Bangladesh adalah negara Muslim terbesar ke-4 setelah Indonesia, Pakistan, dan
India. Islam merupakan agama negara, tetapi agama lain juga boleh dianut.[72]
Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mengakui negara ini sebagai negara Islam yang
demokratis dan moderat.[73][74]

[sunting] Budaya
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Budaya Bangladesh

Peragaan tari tradisional Bangladesh.

Bangladesh memiliki budaya yang mencakup unsur kuno dan modern, yang
melambangkan sejarah panjang. Teks tertulis awal dalam bahasa Bengali adalah
Charyapada dari abad ke-8. Sastra Bengali di abad pertengahan merupakan sastra
keagamaan (seperti Chandidas), atau adaptasi dari bahasa lain (misalnya Alaol).
Sastra Bengali mencapai ekspresi penuhnya pada abad ke-19. Lambang
terbesarnya adalah penyair Rabindranath Tagore dan Kazi Nazrul Islam.
Bangladesh juga memiliki tradisi panjang dalam sastra rakyat, contohnya
Maimansingha Gitika, Thakurmar Jhuli, atau cerita-cerita yang berkaitan dengan
Gopal Bhar.

Tradisi musik Bangladesh berdasarkan pada lirik (Baniprodhan), dengan sedikit


diiringi instrumen. Tradisi Baul ialah peninggalan musik rakyat Bangla yang unik.
Tradisi musik Bangladesh lainnya bermacam-macam menurut wilayah.
Gombhira, Bhatiali, Bhawaiya adalah beberapa bentuk musik yang banyak
dikenal. Musik rakyat Bengal sering diiringi dengan ektara, instrumen dengan satu
dawai. Instrumen lainnya adalah dotara, dhol, suling, dan tabla. Bentuk tarian
Bangladesh berasal dari tradisi rakyat, khususnya dari kelompok suku asli, dan
juga tradisi tari India.[75]

Perayaan Pohela Baishakh di Dhaka.

Setiap tahunnya, Bangladesh membuat sekitar 80 film.[76] Film Hindi juga cukup
terkenal.[77] Sekitar 200 koran dan 1.800 majalah diterbitkan di Bangladesh,
namun jumlah pembaca reguler rendah dan hanya dibawah 15% penduduk.[78]
Penduduk Bangladesh mendengarkan berbagai program radio dari Bangladesh
Betar, stasiun radio milik negara, atau stasiun radio swasta seperti Radio Foorti,
ABC Radio, Radio Today, dan Radio Amar. Selain itu, terdapat layanan radio dari
BBC dan Voice of America. Saluran televisi yang dominan di Bangladesh adalah
Bangladesh Television, namun dalam tahun-tahun terakhir saluran swasta terus
berkembang.

Tradisi kuliner Bangladesh berhubungan erat dengan masakan India dan Timur
Tengah, namun masakan Bangladesh juga memiliki ciri khas tersendiri. Nasi dan
kari adalah kegemaran tradisional. Penduduk Bangladesh membuat daging manis
dari produk susu, contohnya Rôshogolla, Chômchôm dan Kalojam.

Sari (shaŗi) merupakan pakaian yang biasa dikenakan perempuan Bangladesh.


Salwar kameez (shaloar kamiz) juga cukup populer. Di daerah urban, beberapa
perempuan mengenakan pakaian Barat. Di antara para lelaki, pakaian Eropa
banyak disukai. Mereka juga mengenakan kurta-paejama (seringkali pada acara
religius) dan lungi.

Kedua Id, Idul Fitri dan Idul Adha, adalah hari raya besar dalam kalender Islam.
Hari-hari sebelum Idul Fitri disebut Chãd Rat (malam bulan), dan sering
dirayakan dengan petasan. Hari libur Muslim lainnya juga dirayakan. Festival
utama Hindu ialah Durga Puja, Kali Puja dan Saraswati Puja. Buddha Purnima,
yang memperingati Siddhartha Gautama, ialah salah satu festival Buddha
terpenting. Sedangkan Natal, disebut Bôŗodin (hari besar) dalam bahasa Bengali,
diperingati penduduk beragama Kristen. Festival sekuler terpenting ialah Pohela
Boishakh atau Tahun Baru Bengali. Perayaan-perayaan penting lainnya adalah
Nobanno, Poush parbon (festival Poush) dan hari raya nasional seperti Shohid
Dibosh.

[sunting] Olahraga

Tim Bangladesh kembali ke ruang ganti di Stadion Kriket Sher-e-Bangla, Dhaka.

Kabaddi adalah olahraga nasional Bangladesh, namun kriket dan sepak bola lebih
populer. Pada tahun 1997, tim nasional kriket Bangladesh memenangkan ICC
Trophy yang membuat mereka dapat berpartisipasi dalam Piala Dunia Kriket
1999. Dalam penampilan pertama mereka di Piala Dunia, Bangladesh
mengalahkan Pakistan dan Skotlandia pada babak pertama. Pada tahun 2000, tim
kriket Bangladesh mendapatkan status Test cricket.

Olahraga lain yang populer adalah hoki lapangan, tenis, bulu tangkis, bola tangan,
voli, catur, menembak dan karambol. Dewan Pengawas Olahraga Bangladesh
mengatur dua puluh sembilan federasi olahraga yang berbeda. Pada tahun 2011,
Bangladesh akan menjadi tuan rumah Piala Dunia Kriket, bersama dengan India
dan Sri Lanka.

http://warawirijelajah.blogspot.com/2009/12/bangladesh-republik-rakyat-
bangladesh.html

Republik Irak
Republik Irak terletak di sebelah Barat Daya Benua Asia. Ibu kota Irak adalah
Bagdad. Negeri ini memiliki luas wilayah lebih kurang sekitar 438.317 Km2.
Jumlah penduduknya ber¬dasarkan data statistik tahun 1419 H/1998 M
men¬ca¬pai 25,000.000 jiwa, dengan persentase kaum muslimin sebanyak 97%,
se¬ba¬gian adalah pengikut Sunni dan seba¬gian lainnya adalah pengikut Syiah,
yang sebagian besar berada di wilayah selatan. Di samping itu, juga terdapat
sedikit orang-¬orang Nasrani dan Yahudi. Sumber daya alam terbesar dalam
meno¬pang keuangan negaranya berasal dari minyak bumi.

Sejarah Irak
Irak merupakan sebuah negeri yang sangat kegeri ini telah ber¬diri se¬jumlah
peradaban kuno klasik. Di antaranya peradaban Sumerian (3700-2350 SM),
Kekaisaran Akkadiyah I (2350-2200 SM), Kekaisaran Ba¬bi¬lonia (1895-1595
SM) yang diserang oleh al-Kasyi, kemudian Kekaisaran Asyuriyah (1153-612
SM) yang diserang oleh Persia, Hailini dan Romawi (539 SM-635 M).
Sejak keberhasilan pasukan Sa'ad bin Abi Waqqash menguasai Qa¬di¬siyah pada
tahun 14 H/635 M, maka sejak saat itu Irak berada dalam wilayah pemerintahan
Islam. Dengan demikian, berakhirlah sejarah kekai¬saran Per¬sia. Dalam
perjalanan sejarah selanjutnya, Irak kemudian tunduk di bawah raja-raja Islam,
seperti dinasti bani Umayyah dan Abbasiyah. Setelah itu, da¬tang se¬rangan
bangsa Mongol untuk menaklukkan dinasti Abbasiyah pada tahun 656 H/1258 H,
sehingga Bagdad, sebagai pusat pemerintahan Abba¬si¬yah han¬cur. Penguasa
sesudahnya yang berhasil menguasai Irak adalah bangsa Turki Us¬mani. Pada
masa ini Irak benar-benar berada di bawah pe¬ngaruh kekuasaan Turki Usmani,
sehingga Irak tidak dapat mengembalikan kejayaannya seperti pada masa
pemerintahan dinasti Abbbasiyah, karena Turki Usmani berkuasa cukup lama,
yaitu mulai tahun 941-1337 11 / 1534-1918 M.
Kemudian pada tahun 1339 H/1920 M Irak berada di bawah otonomi Inggris.
Sebagai penguasa lokal, pada tahun 1339 H/1921 M, Inggris meng¬angkat Faishal
bin Husein sebagai Raja Irak dengan Perdana Menterinya Nuri Said. Keduanya
telah bersama-sama menghadapi revolusi orang-orang Kurdi pada tahun1922-
1932 M. setelah mengalami perjalanan sejarah pan¬jang, akhir¬nya Irak
memperoleh kemerdekaanya pada tahun 1531 H/1932 M.
Setelah Faishal wafat, kedudukannya digantikan oleh anaknya ber¬na¬ma Ghazi.
Kemudian oleh anaknya yang lain yaitu Faishal. Pada tahun 1377 H/ 1985 M
terjadi revolusi dipimpin oleh Abdul Karim Qasim yang meng¬ha¬puskan sistem.
kerajaan. Dia membunuh raja dan seluruh anggota keluar¬ga¬nya kemudian dia
mendirikan sistem republik. Akan tetapi, pada tahun 1382 H/1963 M terjadi lagi
Revolusi yang didukung penuh oleh Partai Ba’ats, se¬hingga sistem republik yang
diterapkan Abdul Karim tidak berhasil. Partai Ba’ats ini merupakan partai sosialis
dan yang mengendalikan kekuasaan di Irak adalah Ahmad Hasan Bakar, lalu
Saddam Husein sekitar 1401-1409 H/ 1980-1988 M.
Sepanjang tahun 1401-1409 H/1980-1988 M. Irak terlibat perang me¬la¬wan
Iran. Perang ini baru berakhir setelah Dewan Keamanan PBB campur tangan.
Kemudian dilakukan kesepakatan bersama untuk mengadakan gen¬cat¬an sejata
antara kedua belah pihak. Dalam Perang Iran-Irak, jumlah kur¬ban tewas
se¬ki¬tar 1 (satu) juta orang.
Kemudian pada bulan Muharram tahun 1411 H/1990 M Irak meng¬invasi
( menguasai) wilayah Kuwait. Atas permintaan negara-negara Teluk, terutama
Arab Saudi, PBB di bawah komando Amerika Serikat dan Arab Saudi,
me¬lancarkan serangan ke Irak. Serangan ini didukung oleh kekuatan
internasi¬on¬al terdiri dari 30 negara. Dengan cara ini, ahkirnya Kuwait
ber¬ha¬sil dibe¬bas¬kan setelah 7 (tujuh) bulan diduduki. Sebagai akibatnya,
Irak me¬nerima sanksi in¬ternasional dalam bidang ekonomi dan militer.
Meskipun begitu, Irak di ba¬wah kepemimpinan Saddam Husein, terus
melakukan per¬lawanan, hingga akhirnya ia tertangkap dan dihukum gantung
oleh tentara Amerika pada ta¬hun 2006 M.
http://akademika-odiemha.blogspot.com/2009/12/perkembangan-islam-di-dunia-
modern.html

Pakistan.
Pakistan merupakan sebuah negara yang berada di anak benua In¬dia di sebelah
selatan Benua Asia. Pakistan bertetangga dengan India, Af¬gha¬nis¬tan, dan Iran.
Ibu kotanya adalah Islamabad. Luas wilayahnya men¬capai 800. 000 km2,
dengan jum¬lah penduduk berdasarkan data statistik tahun 1419 H/ 1998 M
diperki-ra¬kan mencapai sekitar 138.000.000 jiwa. Ma¬yoritas mereka adalah
penduduk kampung yang menyandarkan kehi¬dup¬annya pada per¬ta¬nian.
Sebagian be¬sar mereka buta huruf (sekitar 85% ). Mayoritas penduduk negeri ini
adalah muslim. Penganut Sunni diper¬kira¬kan sekitar 98 %, sisanya adalah
peng¬ikut Syiah, dan Hindu. Etnik besar yang ada di Pakistan adalah Punjab,
Pushstun, dan Mindih. Sedang bahasa-bahasa terpenting di sana adalah Urdu,
Inggris, Punjabi, dan Pushtu
Islam di Anak Benua India
Pada masa pemerintahan al-Walid bin Abdul Malik terjadi per¬luas¬an wilayah
ke anak benua India atau Sind. Pada masa itu, al-Hajjaj bin Yu¬suf al-Saqafi
menjabat sebagai gubernur Persia. Pada tahun 93-96 H/711- 714 M Hajjaj
mengirim jenderal Muhammad bin Qasim ats-Saqafi untuk menak¬luk¬kan India.
Usaha ini terus dilakukan hingga masa pemerintahan dinasti Ghaznawi di bawah
kepemimpinan Sultan Mahmud al-Ghaznawi (388-421 H/998-1030 M). Dengan
kekuatan besar, sekitar 17.000 pasukan, ia pergi me¬naklukkan India. Usahnya ini
berhasil, dan ia dapat meng¬han¬cur¬kan dan me¬nundukkan kerajaan. Setelah
itu, ia berusaha menyebarkan Islam di negeri tersebut.
Setelah itu, muncul pula kekuasaan baru, yaitu dinasti Ghawriyah (543- 613
H/1148-1215 M). Sultan Syihabuddin Muhammad al-Ghawri ber¬hasil
membukukan kemenangan-¬kemenangan besar, dan menaklukkan kota-kota lain
di India pada tahun 588 H/1192 M.
Pakistan dan seluruh Anak Benua India jatuh di bawah penjajahan Inggris sejak
abad ke-12 H/18 M. Rakyat India melalui Muhammad Ali Jinnah menuntut
kemerdekaan dengan cara memiasahkan diri. Perjuangan itu berhasil, sehingga
Muhammad Ali Jinnah membentuk negara Pakistan pada tahun 1367 H/1947 M.
Pemisahan diri ini menyisahkan petaka, kare¬na terjadi perselisihan di wilayah
Jammu dan Kashmir, yang mayoritas muslim. Perselisihan ini menimbulkan
perang saudara antara India dan Pakistan pada tahun 1368 H/1948 M.
Dalam perjalanan sejarahnya, negeri ini pernah mengalami sejum¬lah kudeta
militer dan juga kekacauan politik. Sejak kemerdekaannya telah ber¬kuasa
sejumlah pemimpin, di antaranya adalah Muhammad Ali Jinah, Khwajah
Nizhamuddin, Ghulam Muhammad, Jenderal Iskandar Mirza, Jen¬deral Ayub
Khan, Jenderal Yahya Khan, dan Fadlullah Chuodry. Pada masa Fadlullah,
Dzulfikar Ali Bhutto diangkat sebagai Perdana Menteri.
Pada tahun 1391 H/1971 M Pakistan Timur memisahkan diri dan me-nyatakan
merdeka dengan nama Bangladesh di bawah dukungan India. Pada tahun 1400
H/1979 M telah terjadi kudeta damai di bawah pimpinan Zia Ul Haq, dan Presiden
Dzulfikar Ali Bhuto dihukum pancung. Zia Ul haq kemu¬dian dibunuh dalam
peristiwa peledakan pesawat yang terjadi pada tahun 1409 H/1988 M. Benazhir
Bhutto lalu terpilih sebagai perdana menteri wani¬ta pertama Pakistan dengan
Ghulam Ishaq Khan sebagai presidennya.
Setelah tersebarnya kerusakan dan perekonomian mengalami ke¬me¬rosotan,
pemerintah akhirnya mencopot Benazhir dan memilih. Nawaz Syarif sebagai
perdana menteri pada tahun 1411 H/1990 M. Setelah krisis politik yang melanda
negeri ini pada tahun 1414 H/ 1993 M, Presiden Ghulam Ishaq Khan dan Perdana
Menterinya, Nawaz Syarif meletakkan jabatan. Setelah pemilihan umum Benazir
Bhutto memperoleh kemenangan dan kembali me¬megang kekuasaan untuk yang
kedua kalinya. Namur, ke¬mudian ia kembali dipecat pada tahun 1996 M dengan
tuduhan menim¬bul¬kan kerusakan. Pada pemilu tahun 1418 H/1997 M Nawaz
Syarif terpilih kembali sebagai Perdana Menteri sampai dikudeta oleh Jenderal
Pervez Musharraf. Tampaknya ke¬lu¬arga Bhuto ingin terus berkuasa, sehingga
Be-nazir Bhuto yang digulingkan mencoba mengikuti pemilihan umum,
mes¬kipun kemudian ia tewas dalam sebuah serangan bersenjata ketika akan
melakukan kampanye pemilihan presiden Pakistan pada tahun 2006.
Krisis terbesar yang diderita Pakistan sejak kemerdekaannya, di an¬ta¬ranya
adalah pertikaian dan peperangan melawan India dalam mem¬pe¬re¬but¬kan
wilayah Kashmir. Dalam sejarahnya, telah terjajdi 3 kali perang antara dua negeri
ini, yakni pada tahun 1949 M, 1965 M, dan 1997 M. Dua negara ini mempunyai
senjata nuklir. Sehingga, pertikaian di antara mereka meng¬an¬cam dunia
seluruhnya. Pada tahun 1420 H/1999 M berkobar pe¬perangan se¬ngit di antara
kedua kelompok ini di Kashmir yang meng¬aki¬batkan ratusan orang terbunuh di
sana. Bangladesh.
Bangladesh merupakan Republik Islam yang dikelilingi tanah India, dahulu
merupakan bagian dari Pakistan. Ibu kota Bangladesh adalah Dha¬ka. Sejak
kemerdekaan Pakistan tahun 1367 H/1947 M namanya ber¬ganti men¬ja¬di
Pakistan Timur. Luas wilayahnya mencapai 147.500 kM2 , dengan jumlah
penduduk berdasarkan data statistik tahun 1419 H/1998 M men¬capai 125.
200.000 jiwa. Persentase kaum muslimin di negeri ini men¬ca¬pai lebih dari
85%, mayoritasnya adalah pengikut Sunni. Ada sedikit peng¬ikut Syiah, dan yang
lainnya adalah pemeluk Hindu, Budha, clan Nasrani. Pen¬duduk negeri ini
menyandarkan perekonomiannya pada pertanian. Mereka mayoritas ber¬asal dari
Bengali (95%). Bahasa yang dipergunakan oleh pen¬duduk adalah bahasa Bengali
(sebagai bahasa resmi) dan bahasa Inggris.
Islam telah masuk ke wilayah ini pada saat penyebarannya di anak benua India
karena wilayah ini terletak di tempat yang sama dengan India. Ketika
kemerdekaan India dan Pakistan terjadi pada tahun 1367 H/1947 M, Pakistan
muncul dalam keadaan terbagi dua dengan pusat kekuasaan ber¬ada di Pakistan
barat. Kecemburuan muncul di Pakistan Timur karena ti¬dak ada¬nya persamaan
yang penuh dengan wilayah Pakistan barat yang kemudian berubah menjadi pem-
berontakan pada tahun 1386 H/1966 M. Maka, ber¬ko¬barlah perang saudara
antara Pakistan Timur (Bangladesh) dengan Pakistan barat. India kemudian
berpihak kepada Bangladesh serta mengikutkan ten¬taranya dalam perang
melawan Pakistan. Bangladesh memperoleh ke¬mer¬de¬kaannya dari Pakistan
pada tahun 1391 H/1971 M.
Setelah itu, Mujiburrahman Husein terpilih sebagai presidennya. Se¬telah
pembunuhannya pada tahun 1395 H/1975 M kekuasaan diserahkan ke¬pada
Ahmad Khandakar Musytaq. Negeri ini mengalami ketidakstabilan po¬litik serta
sejumlah kudeta. Secara berturut-turut penguasa-penguasa yang pernah
memerintah negeri ini adalah Dhiyaur Rahman (1975-1981 M), Ab¬dusattar
(1981-1982 M), dan Husein Muhammad Irsyad (1982-1990 M). Pada tahun 1412
H/1991 M Begum Khalidah Dhiya Rahman terpilih men¬jadi Perdana Menteri
pertama Bangladesh dengan Abdurrahman Biswas sebagai presidennya. Pada
pemilu tahun 1417 H/1996 M. Hasinah Wajid meme¬nang¬kan pemilu dan
dinobatkan sebagai perdana menteri. Sedang¬kan, Qadhi Syi¬habuddin Ahmad
sebagai presiden republik ini.

19. Maladewa.
Maladewa merupakan Republik yang terdiri atas sejumlah kepu¬lau¬an (lebih
dari 1.000 pulau). Negeri ini terletak di Samudera Hindia di se¬belah Barat Daya
India. Ibu kotanya bernama Mali. Luas negeri ini hanya 302 km2. Jumlah pendu-
duknya berdasarkan data statistik tahun 1419 H/ 1998 M sebanyak 300.000 jiwa,
seluruhnya beragama Islam. Mereka adalah pengikut mazhab Sunni (100 %).
Mereka hidup dari hasil menangkap ikan dan mem¬produksi buah kelapa. Asal
mereka adalah dari Adrafidyan dan Arab Afrika. Bahasa Inggris merupakan
bahasa resmi pemerintahan. Pari¬wisata merupa¬kan pendapatan utama negeri
ini.
Islam dan Sejarah Maladewa
Dalam sejarahnya, Islam masuk ke sana lewat jalur perdagangan dan dakwah,
juga melalui kontak pribadi dengan orang-orang Arab. Pada masa dahulu
Maladewa mengikuti kepulauan Srilangka. Seorang dai Islam ber¬nama Syaikh
Hafizh bin Barakat yang berasal dari Maroko berhasil meng¬ajak raja negeri ini
Ahmad Sanurazih masuk Islam pada tahun 548 H/ 1153 M. Kemudian diikuti oleh
sebagian besar penduduknya.
Pada tahun 744 H/1343 M seorang pengelana terkenal, Ibnu Ba¬tu¬tah pernah
menjadi hakim di negeri ini. Portugis menguasai negeri ini pada ta¬hun 931
H/1553 M. Kemudian wilayah ini tunduk kepada orang-orang Ma¬labar. Lalu,
dijajah oleh Inggris pada tahun 1305 H/1887 M, dan meng¬ga¬bungkannya ke
dalam Srilangka. Maladewa memisahkan diri pada tahun 1385 H/1965 M. Ibrahim
Muhammad kemudian menjadi perdana men¬te¬ri¬nya. Setelah itu,
kedudukannya digantikan oleh Ma'mun Abdul Qayyum pa¬da tahun 1398 H/1978
M yang terpilih sampai lima kali (1978-1983-1988¬1993-1998 M). Kekuasaannya
yang baru akan terus berjalan hingga tahun 2003 M/ 1423 H.

20. Malaysia.
Malaysia merupakan kerajaan federal yang terletak di Asia Tenggara. Ibu kotanya
adalah Kuala Lumpur. Dahulu wilayah ini masuk ke dalam Se¬menanjung
Melayu. Luas wilayahnya sekitar 329.758 km2. Berdasarkan data statistik tahun
1419 H/1998 M jumlah pen¬dud¬uk Malaysia diperkirakan se¬ki¬tar mencapai
22 juta jiwa. Mayoritas mereka berasal dari unsur etnis Me¬layu. Persentase kaum
muslimin sebanyak 56 %, umumnya mereka adalah pengikut Sunni. Pemeluk
Nasrani sebanyak 20 %, di samping itu juga terdapat penganut Budha dan
Konfusius. Di wilayah ini juga berlangsung aktivitas kristenisasi.
Islam di Malaysia
Diperkirakan agama Islam masuk ke wilayah ini lewat jalan peda¬gang-pedagang
Arab. Disebutkan bahwa mereka sampai di Malaka pada tahun 675 H/1276 M.
Raja Malaka masuk Islam melalui tangan mereka, dan mengganti namanya
menjadi Muhammad Syah, lalu diikuti oleh rakyatnya. Malaka me¬rupakan
kerajaan Islam pertama di sana. Islam kemudian tersebar di kawasan-¬kawasan
yang berdekatan dengannya, di antaranya sampai ke Indonesia dan Filipina. Para
ulama bergerak untuk melakukan dakwah di sana.
Pada abad ke-10 H/16 M, Portugis menginvasi Malaysia, kemudian diikuti oleh
orang-orang Belanda (1051-1210 H/1641-1795 M). Lalu, Malaysia tunduk kepada
penjajahan Inggris pada tahun 1230 H/1814 M. Orang-orang Jepang sempat
menguasai negeri ini selama Perang Dunia 11. Kemudian wila¬yah ini kembali
kepada Inggris setelah perang usai. Malaysia kemudian meng¬umumkan
kemerdekaannya pada tahun 1377 H/1957 M dan men¬di¬ri¬kan Fe¬derasi
Malaysia yang terdiri dari 11 provinsi. Sabah dan Serawak serta Singa¬pura
tergabung ke dalam wilayah ini. Kemudian Malaysia mengu¬mumkan ne¬geri itu
sebagai Monarki Konstitusional pada tahun 1383 H/1962 M.
Pada tahun 1385 H/1965 M Singapura dan Brunei Darussalam me¬na¬rik diri
dari Federasi ini. Kemudian pada tahun 1389 H/1969 M Tengku Abdur¬rahman
diamanahkan sebagai Perdana Menteri. Setelah itu, kedu¬duk¬annya digantikan
oleh Datuk Aun (1976-1981 M), dan Mahatir Muhammad (1981-2005). Kini
jabatan Perdanan Mewnteri dijabat oleh Abdullah Ahmad Badawi.

21. Brunei Darussalam.


Negeri ini terletak di sebelah utara pulau Kalimantan. Ibu kotanya ada¬lah Bandar
Sribegawan. Lu¬as¬nya hanya 5.770 km2. Negeri ini terkenal de¬ngan karet dan
padinya. Minyak merupakan sumber 99% dari pereko¬no¬mi¬annya. Jumlah
pen¬du-duknya ber¬dasarkan data statistik tahun 1419 H/1990 M seba¬nyak
330.000 jiwa dan 77 % beragama. Islam. Pertama kalinya minyak dite¬mukan di
negeri ini pada tahun 1348 H/1929 M yang menjadikannya sebagai negara kaya.

Islam di Brunei Darussalam


Penguasanya (Awang Aktatar) mengunjungi Malaka pada tahun 828 H/1424 M.
Lalu, dia memeluk Islam dan men¬datangkan para dai ke nege¬ri¬nya, kemudian
tersebarlah Islam di sana. Keluarga Sultan Saifuddin telah me¬merintah Brunei
sejak abad ke-9 H/15 M. Pada tahun 1306 H/1888 M Brunei tunduk di bawah
Inggris. Tahun 1382 H/1962 M Inggris mengga¬bungkannya ke dalam Federasi
Malaysia, ti-dak lama kemudian negeri ini memisahkan diri dari Federasi
Malaysia. Pa¬da tahun 1387 H/1975 M Sultan Umar menyerahkan kekuasaan
kepada anak¬nya Hasanal Bolkiah.
Pada tahun 1395 H/1975 M Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluar¬kan
keputusan penarikan mundur Inggris dari Brunai. Namun, Sultan belum me-
laksanakan keputusan ini, kecuali setelah perjanjian tahun 1400 H/1979 M,
setelah Malaysia beritikad menghormati kemerdekaan Brunai. Hasanal Bolki¬ah
masih tetap menjadi Sultan negeri itu hingga sekarang.