Anda di halaman 1dari 8

KETERKAITAN GREEN BANK DENGAN PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Oleh: Sakariza Qori Hemawan 1

Pembangunan berkelanjutan (sustainable development) akhir-akhir ini menjadi


salah satu isu global yang sangat popular. Indonesia merespon hal tersebut dengan
komitmen untuk menerapkan pembangunan yang berbasiskan pada 3P atau profit,
planet dan people. Komitmen tersebut dipertegas antara lain melalui deklarasi yang
dilakukan di Tampak Siring, Bali. Melalui deklarasi tersebut pemerintah Indonesia
berkomitmen untuk lebih serius menjalankan konsep pembangunan berkelanjutan. Hal itu
ditandai dengan rencana kerja pemerintah yang didominasi semangat untuk lebih peduli
terhadap lingkungan. Sementara itu, dalam konteks pembangunan nasional, perbankan
memegang peran yang krusial dalam pembiayaan pembangunan tersebut Oleh karena
itu guna mencapai pembangunan berlanjutan yang berbasis 3P, diperlukan adanya bank
yang menerapkan bisnis hijau (green business) dalam operasionalisasinya maupun
melalui produk dan jasa yang ditawarkan kepada masyarakat atau disebut Green Bank.
Namun demikian, ternyata hingga saat ini belum ada satupun bank yang mendeklarasikan
sebagai Green Bank di Indonesia. Tulisan singkat ini akan mengulas, mengapa hal itu
terjadi dan seberapa besar implementasi Green Bank di Indonesia?

I. Pembangunan Berkelanjutan

Pembangunan kadang menimbulkan ‘konflik kepentingan’ antara kesejahteraan


ekonomi dengan pelestarian lingkungan, baik lingkungan alam (nature) maupun sosial
masyarakat (society). Hal itu diperkuat dengan fakta yang menunjukkan bahwa masih
banyak negara yang melakukan pembangunan dengan mengorbankan faktor lingkungan
demi mengejar keuntungan secara ekonomi saja (single bottom line development).

Pembangunan yang hanya berorientasi pada maximizing growth bersifat


eksploitatif dan berdimensi jangka pendek. Sementara itu pembangunan nasional harus
berorientasi jangka panjang atau dikenal dengan pembangunan berkelanjutan agar
selaras, serasi dan seimbang antara 3 (tiga) pilar utama pembangunan dikenal dengan 3P
yaitu ekonomi (profit), lingkungan (planet) dan sosial (people). Dengan demikian
pembangunan berkelanjutan harus mengedepankan ketiga faktor tersebut (triple
bottom line development) seperti yang dijelaskan pada Gambar 1 berikut ini.

1
Praktisi Perbankan

Economic Review ● No. 219 ● Maret 2010 1


Ekonomi

• Pertumbuhan
• Stabilitas
• Efisiensi

9 Internalisasi 9 Pemberdayaan
9 Valuasi 9 Keadilan dlm
generasi

• Sumberdaya alam • Kemiskinan


• Pencemaran 9 Keadilan antar
generasi • Kesenjangan
• Keanekaragaman 9 Partisipasi • Budaya
hayati masyarakat

Lingkungan Sosial

Gambar 1. Tiga Pilar Pembangunan Berkelanjutan


Sumber : Sudariyono, Seminar Nasional – LEAD Indonesia, Jakarta, 2010

Tabel 1. Arahan Presiden RI untuk Pembangunan 2010 - 2014


No. Arahan Presiden Triple Bottom Line

1 Pertumbuhan ekonomi harus lebih tinggi Profit


2 Pengangguran harus menurun dengan menciptakan lapangan kerja People
lebih banyak
3 Kemiskinan harus makin menurun People
4 Pendapatan per kapita harus meningkat People
5 Stabilitas ekonomi harus terjaga Profit
6 Pembiayaan dalam negeri harus lebih kuat dan meningkat People
7 Ketahanan pangan dan air meningkat Planet
8 Ketahanan energi meningkat Planet
9 Daya saing ekonomi nasional makin menguat dan meningkat Profit
10 Perkuat Green economy atau ekonomi ramah lingkungan Planet
Sumber : Rapat Kerja Presiden Istana Tampaksiring, Bali pada 19 – 21 April 2010

Konsep pembangunan berkelanjutan tersebut disadari oleh pemerintah saat ini,


sehingga dalam Rapat Kerja yang dilakukan di Istana Tampak Siring Bali pada 19 – 21 April
2010, Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menekankan 10 arahan guna
mendorong pembangunan ekonomi nasional untuk periode 2010 – 2014. Arahan yang
dikenal dengan Deklarasi Tampak Siring tersebut sarat dengan spirit pembangunan
berkelanjutan, yang ditandai dengan filosofi triple bottom line dalam pembangunan lima
tahun mendatang seperti dijelaskan pada Tabel 1 diatas.

Deklarasi tersebut diperkirakan akan kurang memiliki dukungan politis (dari


parlemen) yang cukup kuat. Hal itu disebabkan oleh potensi pergantian rezim di
Indonesia yang cukup besar, sementara arahan mempunyai jangka waktu yang relatif
pendek dan masih perlu ditindaklanjuti dengan ketentuan, peraturan maupun instruksi

Economic Review ● No. 219 ● Maret 2010 2


lebih lanjut. Namun demikian deklarasi tersebut dipastikan akan mendapat dukungan
baik secara nasional maupun dari dunia global, karena :

9 Berorientasi pada pembangunan berkelanjutan atau menggunakan pola


pembangunan yang berpihak pada pertumbuhan (pro-growth), berpihak pada rakyat
(pro-poor), penyediaan tenaga kerja (pro-job) dan pembangunan lingkungan (pro-
environment).

9 Selaras dengan komitmen Indonesia pada dunia internasional untuk menurunkan


emisi karbon 26% (berasal dari 14% sektor tata guna lahan dan kehutanan, 6%
sektor energi serta 6% sektor limbah), sehingga tidak ada pilihan lain agar Indonesia
harus lebih serius menggarap ekonomi hijau.

Ekonomi hijau (salah satu butir dalam deklarasi) merupakan visi yang
meninggalkan praktek ekonomi yang hanya mementingkan keuntungan jangka pendek
dan berdampak negatif pada lingkungan, menjadi praktek ekonomi yang ramah
lingkungan (environmental sound economy). Dengan demikian dapat dipastikan bahwa
Indonesia akan menjadi negara yang berorientasi pada pembangunan berkelanjutan yaitu
pembangunan yang dapat memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa harus
mengorbankan kemampuan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya sendiri
(World Commission of Environment and Development, WCED, 1987).

II. Peran Perbankan

Indonesia termasuk negara yang memiliki pertumbuhan pembangunan relatif


pesat. Hal tersebut ditunjukkan oleh indikator pertumbuhan ekonomi rata-rata 5% per
tahun dan kondisi perekonomian makro Indonesia yang kondusif dalam beberapa tahun
terakhir, yang tentunya tidak lepas dari peran perbankan sebagai penggerak ekonomi
nasional.

Tabel 2. Kinerja Perbankan Indonesia


Indikator Kinerja 2006 2007 2008 2009
KEUANGAN (Rp. Miliar):
Aset 1.693.850 1.986.501 2.310.557 2.534.106
Laba (EBT) 40.555 49.859 48.158 61.784
Kredit 792.297 1.002.012 1.307.688 1.437.930
DPK (Dana Pihak Ketiga) 1.287.102 1.510.834 1.753.292 1.973.042
Dana Murah 671.939 844.126 928.587 1.071.333
FBI (Fee Based Income) 38.081 43.616 60.286 64.430
RASIO (%) :
NIM (Net Interest Margin) 5,8 5,7 5,7 5,6
CAR (Capital Adequacy Ratio) 21,3 19,3 16,8 17,4
ROA (Return on Asset) 2,6 2,8 2,3 2,6
LDR (Loan to Deposit Ratio) 61,6 66,3 74,6 72,9
NPL (Non Performing Loan) 6,1 4,1 3,2 3,3
BOPO (Biaya Opr / Pend Opr) 87,0 84,1 88,6 86,6
Sumber : Statistik BNI, 2010

Economic Review ● No. 219 ● Maret 2010 3


Perbankan Indonesia memiliki kinerja meningkat, direpresentasikan oleh trend
beberapa indikator kinerja yang terus membaik, seperti disampaikan pada Tabel 2
tersebut. Secara singkat tabel tersebut menjelaskan bahwa pertama, perbankan
Indonesia berada dalam momentum pertumbuhan yang dapat dilihat dari peningkatan
secara pesat pada aset, kredit, dana pihak ketiga dll, dan kedua, fungsi intermediasi
telah berjalan (LDR>70%).

Peran perbankan dalam pembangunan tidak diragukan lagi. Namun pertanyaan


kritis adalah sejauh mana perbankan turut andil dalam pembangunan berkelanjutan.
Meski tidak ada data yang mendukung, diyakini bahwa kontribusi perbankan masih
relatif rendah dalam hal penerapan bisnis hijau (green business).

Menurut Glen Croston (2009) 2 bisnis hijau merupakan konsep bisnis yang
menguntungkan karena dapat memberi keuntungan dan skala ekonomi yang memadai
sehingga sangat bermanfaat bagi kelangsungan usaha secara keseluruhan. Dalam
konteks perbankan, bisnis hijau terutama dipersepsikan dengan penyaluran kredit yang
ramah lingkungan atau dikenal dengan istilah kredit hijau (green lending). Kredit hijau
dapat diartikan sebagai fasilitas pinjaman dari lembaga keuangan kepada debitur yang
bergerak di sektor bisnis yang tidak berdampak pada penurunan kualitas lingkungan
maupun kondisi sosial masyarakat.

Permasalahannya adalah perbankan Indonesia umumnya masih enggan untuk


memberi perhatian lebih besar terhadap permasalahan lingkungan. Hal itu terkait dengan
paradigma lama yang menyebutkan bahwa bank sebagai entity business, dimaksudkan
untuk mencetak laba setinggi-tingginya. Hal tersebut diperparah dengan persepsi
bahwa peduli terhadap lingkungan hanya membebani perusahaan (just another cost).

Fenomena perbankan tersebut juga dialami oleh sebagian besar perusahaan di


Indonesia. Menurut Rofikoh Rokhim (2009)3 hanya sebagian kecil perusahaan di
Indonesia yang menerapkan bisnis hijau dalam model bisnisnya, dan itupun belum
optimal. Hal itu juga sesuai dengan hasil survei Asian Corporate Governance Association
(ACGA), pada 2008, yang menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan di Asia adalah
yang paling kurang memberikan perhatian pada penerapan Good Corporate Governance
(GCG) termasuk di dalamnya terkait dengan prinsip dan praktek pengelolaan lingkungan
yang baik. Bahkan perusahaan di Indonesia mendapatkan nilai di bawah rata-rata untuk
kawasan Asia (menempati posisi 135 dari total 175 negara). Kondisi ini jauh berbeda jika
dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan di negara-negara kawasan lain yang
memasukkan isu lingkungan dalam blue print bisnis mereka.

2
Croston, Glen, 2009, Starting Green : From Business Plan to Profit, Enterpreneur Media Inc. Canada
3
Rokhim, Rofikoh, 2010; Green Business : Strategi Pembangunan Berkelanjutan Bagi Perusahaan. Makalah Seminar
Nasional Green Business; A Global New Deal, A Shifting of Economics Paradigm, Jakarta.

Economic Review ● No. 219 ● Maret 2010 4


III. Green Bank di Indonesia

Bank dan lingkungan selama ini dianggap sebagai dua sisi yang berbeda, bahkan
dalam banyak hal dinilai saling bertentangan. Menurut pandangan konvensional, bank
adalah profit making institution sehingga kepedulian terhadap lingkungan bukan
merupakan kompetensi utama bank. Alasannya, sebagai services intitution operasional
bank tidak berdampak langsung terhadap lingkungan, seperti halnya perusahaan
tambang, transportasi dan manufaktur.

Sementara itu, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan kemungkinan


bahaya dari perubahan iklim (climate change) maupun perubahan lingkungan yang
ekstrim, dewasa ini tumbuh gaya hidup baru (life style global) yaitu kepedulian terhadap
lingkungan. Bank sebagai institusi bisnis seyogyanya merespon hal tersebut dengan
merubah paradigma berbisnis (shifting paradigm) yaitu dengan melakukan Green
Business.

Revenue Intangible

Short Term Long Term

Cost Risk

Gambar 2. Green Business Framework


Sumber : Esty & Winston (2009)

Daniel Esty dan Andrew C Winston, dalam buku yang berjudul ‘How smart company use
environmental strategy to innovate create value and build competitive advantage’,
menjelaskan bahwa perusahaan yang melakukan bisnis hijau akan menjadi lebih lestari
(sustain), seperti dijelaskan dalam Gambar 2 di atas.

Dengan menggunakan pola pikir gambar diatas, maka bank yang berorientasi
jangka pendek hanya mampu meningkatkan pendapatan (revenue) yang bersifat
tangible dan mengurangi biaya (cost) saja. Sementara itu bank yang berorientasi jangka
panjang, akan melakukan bisnis hijau, tidak hanya menekan biaya namun juga mampu
menekan potensi risiko. Selain itu tidak hanya mendapatkan keuntungan keuangan saja
namun juga akan mendapatkan keuntungan jauh lebih besar dari sisi intangible misal
citra positif dan kepercayaan dari stake holders yang pada akhirnya tentu akan
berpengaruh pada peningkatan kinerja.

Economic Review ● No. 219 ● Maret 2010 5


Dalam konteks bisnis perbankan, bisnis hijau dapat memuat beberapa aspek
antara lain:

1) Memiliki budaya kerja ramah lingkungan (green attitude), seperti melakukan


pengelolaan sampah (waste management) yang produktif dan melakukan efisiensi
antara lain ditunjukkan oleh semakin berkurangnya biaya listrik, kertas, air dan bahan
bakar secara konsisten.

2) Memiliki eco product, misal portfolio kredit yang cukup besar pada sektor ramah
lingkungan dan produk tabungan yang berafiliasi dengan rekening organisasi
lingkungan (LSM, pemerintah, swasta) serta dipercaya khususnya oleh lembaga
pemerintah maupun internasional untuk mengelola dana yang akan dialokasikan
untuk usaha atau proyek peningkatan kualitas hidup masyarakat dan lingkungan
hidup.

3) Kepuasan pegawai meningkat karena sejalan dengan meningkatnya visi pegawai


yang memiliki gaya hidup hijau. Selain itu pegawai akan ditantang untuk
meningkatkan inovasi dan kreativitas guna menciptakan eco product yang bernilai
tambah dan berbeda (product differentiation) dibandingkan produk pesaing. Kedua
hal tersebut akan meningkatkan motivasi dan keterikatan (engagement) sehingga
berdampak pada rendahnya turn over pegawai.

4) Kinerja. Adanya value dari produk tersebut akan meningkatkan loyalitas pelanggan
sehingga berdampak positif pada keberlanjutan kinerja.

Bank yang menerapkan bisnis hijau disebut Green Bank yaitu bank yang
berorientasi pada sustainability dalam rangka mendukung pembangunan berkelanjutan.
Permasalahannya adalah sampai saat ini ternyata belum ada satupun bank di Indonesia
yang mendeklarasikan dirinya atau memposisikan sebagai Green Bank, karena :

1) Regulasi. Belum adanya undang-undang atau peraturan yang tegas menyebabkan


bank-bank di Indonesia masih enggan untuk mendorong dunia usaha agar lebih
peduli lingkungan. Contoh paling sederhana adalah masih sedikit bank yang
menambahkan persyaratan spesifik terkait dengan lingkungan. Hal itu dipandang
hanya akan mempersulit penyaluran kredit, dibanding bank lain pada umumnya.
Singkatnya hanya akan menciptakan ‘unequal playing field’ saja, sehingga calon
debitur akan beralih pada bank lain.

2) Insentif. Tidak adanya ketentuan dan insentif dalam hal penyaluran kredit hijau,
menyebabkan bank hanya akan memprioritaskan debitur yang bernilai bisnis murni
saja.

3) Masyarakat. Kecenderungan sebagian besar masyarakat bermitra dengan bank


adalah ditinjau dari sisi tingkat bunga. Artinya nasabah dana akan menempatkan
dananya pada bank yang bersedia memberi rate tinggi, sedang debitur cenderung
akan memilih bank yang memberi suku bunga rendah.

Economic Review ● No. 219 ● Maret 2010 6


4) Stake holders. Sebagian besar para pemangku kepentingan dalam perbankan
Indonesia masih belum menekankan arti pentingnya bank untuk lebih peduli dengan
lingkungan. Berbeda dengan di negara-negara lain, para stake holders selalu memberi
‘tekanan’ agar bank secara serius dan konsisten menerapkan bisnis hijau.

5) Sumberdaya manusia. Banker pada umumnya berlatar belakang bisnis sehingga yang
menjadi orientasi utama adalah profit. Sehingga lebih banyak berorientasi pada sisi
ekonomi dibanding keuntungan dalam perspektif lingkungan dan masyarakat. Selain
itu masih terbatasnya referensi, kemampuan dan pengetahuan pegawai untuk
melakukan inovasi yang berkaitan dengan eco product.

Meski masih banyak permasalahan yang harus diantisipasi, keberadaan Green Bank di
Indonesia sudah mendesak. Hal itu terkait dengan 2 (dua) alasan utama yaitu:

1) Mendukung keberlanjutan dalam pembangunan. Suatu hal yang mustahil jika konsep
pembangunan berkelanjutan tidak didukung secara menyeluruh oleh pihak-pihak
yang terkait. Perbankan memiliki posisi sentral antara pihak yang surplus dana dan
pihak yang membutuhkan dana. Dengan demikian perbankan mempunyai ‘posisi
tawar’ dan peranan strategis untuk mengedukasi dan mendorong (encourage)
masyarakat untuk turut serta mensukseskan pembangunan berkelanjutan.

2) Potensi bisnis. Bank diharapkan mencetak laba, sehingga harus mampu


mengantisipasi potensi bisnis baru yang akan muncul. Adanya gaya hidup ’hijau’ akan
berdampak multiplier pada meningkatnya permintaan (demand) produk-produk
ramah lingkungan sebagai potensi bisnis baru. Dengan demikian jika bank
memposisikan dirinya sebagai Green Bank maka akan mendapatkan lebih banyak
keuntungan bisnis, misal dengan cara mendukung bisnis hijau melalui pembiayaan
pada produk dan bisnis yang ramah lingkungan.

IV. Implementasi Green Bank

Beberapa contoh bank yang telah memposisikan diri sebagai Green Bank adalah
Standard Chartered Bank (Inggris), HSBC (Hongkong), Credit Agricole Bank (Perancis),
Doha Green Bank (Qatar) The Co-operative Bank (Inggris) dan Rabobank (Belanda).
Tidak hanya di negara maju, di negara berkembang pun banyak bermunculan Green Bank
misalnya, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), Development Bank of the
Philippines (DBP) dan Banco Real of Brazil yang mendapat sustainable bank award pada
tahun 2008 mengalahkan Rabobank.

Implementasi atau best practices dari contoh Green Bank tersebut adalah cukup
lengkap, baik secara internal - eksternal, maupun yang terkait dengan bisnis - non bisnis.
Namun demikian secara ringkas dapat disederhanakan menjadi sebagai berikut :

Economic Review ● No. 219 ● Maret 2010 7


1) Internal : menerapkan program efisiensi dan R3 (Reduce, Reused, Recycle) antara lain
dengan mengoptimalkan daya inovasi dan kreativitas pegawai serta dengan
memanfaatkan piranti teknologi.

2) Eksternal : mengedukasi stake holders melalui program ramah lingkungan dan


menawarkan eco-product pada pelanggan.

9 Corporate Social Responsibility (CSR) : melakukan kegiatan dalam rangka


meningkatkan kualitas lingkungan dan pemberdayaan masyarakat atau terlibat
dalam sosialisasi green business.

9 Kredit : penyaluran kredit pada sektor atau industri ramah lingkungan seperti
energi terbarukan (renewable energy), produk organik, industri kreatif yang
memanfaatkan limbah, produk efisien (high end product), pengolah limbah, serta
pertanian dan kehutanan, memberikan insentif bunga kepada debitur yang
memiliki bisnis model yang ramah lingkungan, menerapkan prinsip sustainability
dalam analisa kelayakan kredit debitur secara bertahap sebagai bagian klausul
kredit serta dipercaya menjadi bank penyalur kredit two steps loan dari
lembaga-lembaga dunia untuk proyek lingkungan.

9 Dana : menyediakan produk giro, tabungan atau deposito yang berafiliasi dengan
rekening komunitas lingkungan.

V. Kesimpulan

Green Bank adalah sesuatu yang dapat dikatakan ’sederhana’, yaitu merubah
paradigma konvensional atau ’business as usual’ dengan paradigma lebih hemat, bersih,
peduli dan bertanggungjawab kepada lingkungan hidup. Dengan menggarap potensi
bisnis baru dari gaya hidup hijau, bank konvensional akan mendapat nilai tambah secara
tangible yaitu meningkatnya kinerja keuangan karena lebih efisien dalam operasinya
sebagai dampak dari meningkatnya loyalitas dan kepuasan nasabah dan mendapatkan
dana murah dari organisasi yang bergerak dalam aktivitas lingkungan kemasyarakatan
baik nasional maupun internasional. Sementara itu, secara intangible adalah
meningkatnya citra positif perusahaan sekaligus menekan potensi risiko, khususnya
risiko reputasi.

Economic Review ● No. 219 ● Maret 2010 8