Anda di halaman 1dari 38

PUTUSAN

Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008

Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia selanjutnya disebut Komisi


yang memeriksa dugaan pelanggaran terhadap Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun
1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat selanjutnya
disebut Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 dalam tender pengadaan alat kedokteran
Polysomnograph (selanjutnya disebut PSG) di RS Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi
DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007, yang dilakukan oleh: -----------------------------------------
1. PT. Tiara Kencana, dengan alamat kantor di Wisma Tiara Lt. 5 Jalan Raya Pasar
Minggu KM 18 No. 17 Jakarta Selatan 12510, selanjutnya disebut Terlapor I; -----------
2. PT. Bhakti Wira Husada, dengan alamat kantor di Jalan Tebet Utara I No. 20 Jakarta
Selatan 12820, selanjutnya disebut Terlapor II; -----------------------------------------------
3. PT. Ilong Prayatna, dengan alamat kantor di Jalan Balikpapan I No. 3B Jakarta Pusat
10130, selanjutnya disebut Terlapor III;--------------------------------------------------------
4. PT. Kamara Idola, dengan alamat kantor di Jalan Pelepah Hijau V Blok TS. 2/2
Jakarta Utara, selanjutnya disebut Terlapor IV; -----------------------------------------------
5. Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Rumah Sakit Duren Sawit Dinas Kesehatan
Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007, selanjutnya disebut Panitia, dengan
alamat kantor di Jalan Duren Sawit Baru, Jakarta Timur, selanjutnya disebut Terlapor
V; ------------------------------------------------------------------------------------------------------

telah mengambil Putusan sebagai berikut: -----------------------------------------------------------

Majelis Komisi:------------------------------------------------------------------------------------------
Setelah membaca surat-surat dan dokumen-dokumen dalam perkara ini; -------------------
Setelah mendengar keterangan para Terlapor;----- ----------------------------------------------
Setelah membaca Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan (selanjutnya disebut LHPL); ---
Setelah membaca Berita Acara Pemeriksaan (selanjutnya disebut BAP); -------------------

TENTANG DUDUK PERKARA

1. Menimbang bahwa pada tanggal 28 Desember 2007, Sekretariat Komisi menerima


Laporan tentang adanya dugaan pelanggaran terhadap Undang-undang Nomor 5 Tahun
1999 berkaitan dengan tender pengadaan alat kedokteran Polysomnograph (selanjutnya

1
disebut PSG) di RS Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun
Anggaran 2007 (vide bukti A1);-------------------------------------------------------------------
2. Menimbang bahwa setelah melakukan klarifikasi dan penelitian atas Laporan tersebut,
maka Komisi menyatakan Laporan tersebut telah lengkap dan jelas (vide bukti A3); -----
3. Menimbang bahwa berdasarkan Laporan yang lengkap dan jelas tersebut, Komisi
menerbitkan Penetapan Nomor 149/KPPU/PEN/VII/2008 tanggal 11 Juli 2008 tentang
Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008, untuk melakukan
Pemeriksaan Pendahuluan terhitung sejak tanggal 11 Juli 2008 sampai dengan 25
Agustus 2008 (vide bukti A4);---------------------------------------------------------------------
4. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Pemeriksaan Pendahuluan, Direktur Eksekutif
menerbitkan Surat Tugas Nomor 648/SET/DE/ST/VII/2008 tanggal 11 Juli 2008 yang
menugaskan Sekretariat Komisi sebagai Tim Pemeriksa dalam Pemeriksaan
Pendahuluan Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008 (vide bukti A5); -----------------------------
5. Menimbang bahwa setelah melakukan Pemeriksaan Pendahuluan, Tim Pemeriksa
menemukan adanya indikasi kuat pelanggaran Pasal 22 Undang-undang Nomor 5
Tahun 1999 (vide bukti A20); ---------------------------------------------------------------------
6. Menimbang bahwa berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Pendahuluan, Tim
Pemeriksa merekomendasikan kepada Rapat Komisi agar Pemeriksaan Pendahuluan
dilanjutkan ke tahap Pemeriksaan Lanjutan (vide bukti A20); --------------------------------
7. Menimbang bahwa atas dasar rekomendasi Tim Pemeriksa, Komisi menyetujui dan
menerbitkan Penetapan Komisi Nomor 182/KPPU/PEN/VIII/2008 tanggal 26 Agustus
2008 tentang Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008 terhitung sejak
tanggal 26 Agustus 2008 sampai dengan tanggal 24 November 2008 (vide bukti A21); -
8. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Pemeriksaan Lanjutan, Direktur Eksekutif
menerbitkan Surat Tugas Nomor 808/SET/DE/ST/VIII/2008 tanggal 26 Agustus 2008
yang menugaskan Sekretariat Komisi sebagai Tim Pemeriksa dalam Pemeriksaan
Lanjutan Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008 (vide bukti A22); ---------------------------------
9. Menimbang bahwa dalam proses Pemeriksaan Pendahuluan dan Pemeriksaan Lanjutan,
Tim Pemeriksa telah mendengar keterangan dari para Terlapor dan para Saksi (vide
bukti B1-B22); ---------------------------------------------------------------------------------------
10. Menimbang bahwa identitas serta keterangan para Terlapor dan para Saksi telah dicatat
dalam BAP yang telah ditandatangani oleh para Terlapor dan para Saksi
(vide bukti B1-B22); --------------------------------------------------------------------------------
11. Menimbang bahwa dalam Pemeriksaan Pendahuluan dan Pemeriksaan Lanjutan, Tim
Pemeriksa telah meneliti, menilai sejumlah surat, dan/atau dokumen, BAP, serta
mendapatkan bukti-bukti lain yang diperoleh selama Pemeriksaan (vide bukti B1-B22,
C1-C75);-----------------------------------------------------------------------------------------------

2
SALINAN

12. Menimbang bahwa setelah melakukan Pemeriksaan Lanjutan, Tim Pemeriksa membuat
LHPL yang berisi:------------------------------------------------------------------------------------
12.1 Pokok Perkara --------------------------------------------------------------------------------
Adanya dugaan pelanggaran Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999
tentang persekongkolan dalam tender pengadaan alat kedokteran
Polysomnograph (selanjutnya disebut PSG) di RS Duren Sawit Dinas Kesehatan
Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007, dalam bentuk: ------------------------
12.1.1 Persekongkolan Horizontal------------------------------------------------------
12.1.1.1. Terdapat persekongkolan secara horizontal yang dilakukan
oleh para peserta tender dalam mengatur pemenang tender,
dimana dalam setiap proses tender para Terlapor I, II, III
dan IV diwakili oleh pihak yang tidak terdaftar sebagai
karyawan Terlapor I, II, III dan IV; -------------------------------
12.1.2 Persekongkolan Vertikal---------------------------------------------------------
12.1.2.1. Terdapat persekongkolan secara vertikal antara Panitia
dengan peserta tender dalam bentuk Panitia telah
mengarahkan spesifikasi teknis barang yang ditenderkan ke
merk tertentu sehingga menguntungkan pemenang tender
yang didukung pabrikan merk tersebut; --------------------------
12.2 Fakta dalam Pemeriksaan; ------------------------------------------------------------------
12.2.1 Obyek Tender; --------------------------------------------------------------------
12.2.1.1. Bahwa Objek Tender dalam perkara ini adalah tender
pengadaan alat kedokteran Polysomnograph di RS Duren
Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun
Anggaran 2007 yang dibiayai dari Anggaran Belanja
Tambahan Pemerintah DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007
(vide bukti C24, C27, C28, C29); ---------------------------------
12.2.1.2. Nilai Pengadaan PSG adalah sebesar Rp. 1.206.300.000,-
(satu milyar dua ratus enam juta tiga ratus ribu rupiah)
dengan Kualifikasi Peserta Tender adalah Golongan Non
Kecil (vide bukti C28); ---------------------------------------------
12.2.2 Sistem Tender ---------------------------------------------------------------------
12.2.2.1. Metode pengadaan menggunakan Proses Pascakualifikasi
dimana proses penilaian dilakukan setelah memasukkan
penawaran (vide bukti C24, C27, C28, C29); -------------------
12.2.2.2. Sistem Penilaian menggunakan sistem nilai (merit point
system) (vide bukti C24); ------------------------------------------

3
Bobot
1.
Evaluasi administrasi
20 %
2.
Evaluasi teknis
12.2.2.3. Komposisi penilaian dokumen penawaran dapat dilihat pada
40 %
3. bagan(vide bukti C24): ---------------------------------------
Evaluasi harga
40 %
TOTAL
100 %

12.2.2.4. Metode penyampaian dokumen dilakukan dengan 1 (satu)


sampul (penyampaian dokumen penawaran terdiri dari
persyaratan administrasi, teknis dan penawaran harga
dimasukkan dalam satu sampul) (vide bukti C24); -------------

12.2.3 Kronologis Tender ---------------------------------------------------------------


12.2.3.1. 5 November 2007, Panitia melaksanakan pengumuman
lelang di Surat Kabar Harian Media Indonesia dan di Papan
Pengumuman RS Duren Sawit (vide bukti C27). -------------
12.2.3.2. 6 s.d 14 November 2007, Masa pendaftaran dan
pengambilan dokumen lelang. Pada tahap ini tercatat 9
perusahaan yang mendaftar. Nama-nama orang yang
mendaftar adalah (vide bukti C25, C41): ---------------------
No Nama Nama Perusahaan
1 Agus Salim PT Putra Lakopo Perkasa
2 Ir. RNGT Tri Retno PT Tiara Kencana
3 Debby Armeiyanti PT Ilong Prayatna
4 Julius TS PT Bhakti Wira Husada
5 Hasan CV Lami
6 Jequara F CV Buray Indah
7 Pardin Panggabena PT Amarta Mitra Selaras
8 Herry Novia PT Kamara Idola
9 Edward PT Sarana Medika Oktindo

12.2.3.3. 15 November 2007, Panitia melaksanakan penjelasan


pekerjaan (Aanwijzing) yang diikuti oleh 8 perusahaan(vide
bukti C19, C20, C22). ---------------------------------------
No Nama Nama Perusahaan Keteranga
n
1 Ida PT Bhakti Wira Husada Marketing
2 Tri PT Tiara Kencana Purchasing
3 Hary S PT Putra Lakopoperkasa Marketing
4 Mulyani PT Kamara Idola Staff
5 Rasda PT Ilong Pratama Marketing
6 Daniel T PT Amarta Mitra Selaras Marketing
7 Jequard F CV Bumi Indah Staf
8 Edward PT Sarana Medica Optindo Staf

4
SALINAN

12.2.3.4. Terdapat beberapa perubahan baik pada persyaratan


administrasi maupun teknis dan hal tersebut termuat dalam
risalah aanwijzing(vide bukti C19); -------------------------
12.2.3.5. Nilai OE: Rp. 1.201.500.000,-. (Satu Miliar Dua Ratus Satu
Juta Lima Ratus Ribu Rupiah) (vide bukti C19) ----------------
12.2.3.6. 20 November 2007, Panitia melaksanakan proses
pemasukan dan pembukaan dokumen penawaran. (vide
bukti C13, C15, C41) -----------------------------------------
12.2.3.7. Pada tahap ini hanya diikuti oleh 6 perusahaan. Berikut
adalah hasil evaluasi yang dilaksanakan oleh panitia(vide
bukti C9, C10, C13): -----------------------------------------
No Nama Perusahaan Harga Skor % Skor % Skor % Total % Ket
Penawaran Evaluasi Evaluasi Evaluasi Skor
(Rp) Administras Teknis Harga (a+b+c)
i (a) (b) (c)
1 PT Bhakti Wira 1.197.982.500 19 40 32.5 91.5 Spesifikasi
Husada sesuai
dengan
lampiran
RKS
2 PT Tiara Kencana 1.198.150.000 19 40 32.5 91.5 Spesifikasi
sesuai
dengan
lampiran
RKS
3 PT Ilong Prayatna 1.199.850.000 19 40 32.5 91.5 Spesifikasi
sesuai
dengan
lampiran
RKS
4 PT Kamara Idola 1.200.300.000 19 40 32.5 91.5 Spesifikasi
sesuai
dengan
lampiran
RKS

5 PT Putra Lakopo 1.025.310.000 19 26 37.5 82.5 Spesifikasi


Perkasa tidak sesuai
dengan
lampiran
RKS
6 PT Amarta Mitra 1.134.980.000 19 26 35 80 Spesifikasi
Selaras tidak sesuai
dengan
lampiran
RKS
12.2.3.8. 20 November 2007, Panitia menyampaikan Laporan Hasil
Pelelangan Pengadaan Alat Kedokteran PSG RS Duren
Sawit kepada Direktur RS Duren Sawit(vide bukti C8); -----
12.2.3.9. 20 November 2007, Panitia mengusulkan penetapan calon
pemenang pelelangan pengadaan PSG RS Duren Sawit
kepada Direktur RS Duren Sawit. (vide bukti C7) ------------

5
12.2.3.10. Berdasarkan evaluasi penilaian dari Panitia tersebut diatas
diperoleh 3 calon pemenang dengan urutan sebagai
berikut(vide bukti C7, C41): ----------------------------------
No Calon Pemenang Nama Perusahaan Harga Penawaran
(Rp)
1 Pertama PT Bhakti Wira Husada 1.197.982.500,00
2 Kedua PT Tiara Kencana 1.198.150.000,00
3 Ketiga PT Ilong Prayatna 1.199.850.000,00
12.2.3.11. 26 November 2007, Direktur Rumah Sakit menetapkan
pemenang pelelangan pekerjaan pengadaan alat kedokteran
polysomnograph (PSG) Rumah Sakit Duren Sawit Propinsi
DKI Jakarta(vide bukti C6). ----------------------------------
12.2.3.12. 27 November 2007, Panitia mengumumkan pemenang
lelang pengadaan alat kedokteran Polysomnograph. Adapun
pemenang pelelangan adalah PT Bhakti Wira Husada
dengan harga penawaran Rp. 1.197.982.500,- (satu milyar
seratus sembilan puluh tujuh juta sembilan ratus delapan
puluh dua ribu lima ratus rupiah) (vide bukti C5, C41).--------.
12.2.3.13. 29 November 2007, Direktur RS Duren Sawit menunjuk
pemenang lelang pengadaan alat kedokteran
Polysomnograph(vide bukti C4, C41). ---------------------------
12.2.3.14. 30 November 2007, Penandatanganan surat perjanjian
(kontrak) antara Direktur RS Duren Sawit dan Direktur PT
Bhakti Wira Husada (vide bukti C1, C2, C41). -----------------
12.2.3.15. 30 November 2007, PT Amarta Mitra Selaras melakukan
sanggahan yang pada pokoknya menyatakan sebagai
berikut(vide bukti C42): --------------------------------------
12.2.3.15.1. Bahwa spek teknis yang tertera pada RKS
mengarah ke merk Biologic, Type Sleep Scan
Vision. -----------------------------------------
12.2.3.15.2. Bahwa terdapat pemalsuan identitas saat
aanwijzing karena PT Ilong Prayatna diwakili
oleh Sdr. Rasda (Product Manager PT Tiara
Kencana), PT Bhakti Wira Husada diwakili
oleh Sdri. Ida (Staf Administrasi PT Tiara
Kencana) dan PT Kamara Idola yang diwakili
oleh Sdri. Mulyani (Staf PT Tiara Kencana).
Pemalsuan identitas juga terjadi pada saat
proses penawaran harga karena PT Bhakti
Wira Husada diwakili oleh Sdri. Indah (Staff

6
SALINAN

Administrasi PT Tiara Kencana) dan PT


Kamara Idola diwakili oleh Sdri. Mulyani
(Staf PT Tiara Kencana). -------------------------
12.2.3.15.3. Bahwa penawaran harga dari PT Tiara
Kencana selaku distributor tunggal produk
PSG merk Biologic lebih mahal dari
penawaran PT Bhakti Wira Husada selaku
pemenang lelang, padahal PT Tiara Kencana
adalah pemilik barang dan barang yang
ditawarkan pun sama. -----------------------------
12.2.3.15.4. Bahwa registrasi Depkes/AKL dari PT
Bhakti Wira Husada nama alat tertulis EEG
sedangkan yang dibutuhkan adalah PSG dan
tipenya tertulis Sleepscan TM Netlink yang
seharusnya Sleep Scan Vision. -------------------
12.2.3.15.5. Bahwa spesifikasi yang terdapat di RKS
sama persis dengan spesifikasi yang tertulis
pada brosur EEG merk Biologic yang
ditawarkan PT Bhakti Wira Husada, sehingga
dapat disimpulkan Panitia telah mengarah ke
1 (satu) merk barang atau mengarah ke salah
satu peserta.-----------------------------------------
12.2.3.16. 14 Desember 2007, Direktur Rumah Sakit Duren Sawit
memberikan jawaban atas surat sanggahan dari PT Amarta
Mitra Selaras sebagai berikut (vide bukti C43): ----------------
12.2.3.16.1. Bahwa proses lelang yang dilaksanakan telah
mengacu kepada ketentuan dan saat
aanwijzing RKS telah dibahas secara
terbuka;---------------------------------------------
12.2.3.16.2. Bahwa pengadaan alat kedokteran PSG
merupakan satu paket dengan pengadaan alat
sebelumnya yaitu sleep analyzer sehingga
harus compatible dan spesifikasi harus
selaras. ----------------------------------------
12.2.3.16.3. Bahwa Panitia telah melakukan verifikasi
terhadap identitas dan data peserta pada saat
aanwijzing dan SPH, dan hasil verifikasinya

7
para peserta lelang tersebut sudah memenuhi
kriteria mewakili perusahaannya masing-
masing; ----------------------------------------
12.2.3.16.4. Bahwa Panitia melakukan evaluasi atas dasar
metodologi dan analisa harga yang
menyatakan PT Bhakti Wira Husada
mendapat nilai tertinggi, dan PT Tiara
Kencana sebagai peringkat ke-2 dan PT Ilong
Prayatna sebagai peringkat ke-3. --------------

12.2.4 Hasil Pemeriksaan -------------------------------------------------------------


12.2.4.1. Pemeriksaan Terlapor I (PT Tiara Kencana) (vide bukti B1,
B10) -------------------------------------------------------------------
12.2.4.1.1. Bahwa Terlapor I merupakan distributor
farmasi dan alat kesehatan. Terlapor juga
merupakan sole agent dari berberapa merk
kesehatan seperti: Micro Med, KAMMIN,
DNS, Biologic, Olympic Medika dan Smithan
Nephew. -----------------------------------------
12.2.4.1.2. Bahwa PT Bhakti Wira Husada, PT Ilong
Prayatna dan PT Kamara Idola merupakan
pelanggan dari Terlapor I.-----------------------
12.2.4.1.3. Bahwa menurut Terlapor I, PT Bhakti Wira
Husada dapat menawarkan harga lebih rendah
karena PT Bhakti Wira Husada menanggung
sendiri PPN, biaya dokumen dan keuntungan
distributornya dikurangi. ------------------------
12.2.4.1.4. Bahwa PT Tiara Kencana tidak mengetahui
harga penawaran dari peserta tender yang lain
hingga pembukaan dokumen penawaran. -------
12.2.4.1.5. Bahwa menurut Terlapor I spesifikasi teknis
alat dalam tender ini mendekati alat yang
bermerk Biologi dan di Indonesia hanya
Terlapor I yang menjadi sole agentnya. ---------
12.2.4.1.6. Bahwa PSG merupakan alat diagnostik yang
berbasis pada Electric Ensephalo Graph atau
EEG ditambahkan software analisis PSG. ------

8
SALINAN

12.2.4.1.7. Bahwa EEG dimungkinkan untuk


menggunakan merk yang berbeda dengan PSG
namun pada beberapa kasus ada berberapa alat
yang tidak kompatibel terhadap PSG merk
Biologic. ----------------------------------------
12.2.4.1.8. Bahwa semua tenaga ahli PSG disediakan oleh
Terlapor I, karena itu dalam dokumen
penawaran Terlapor II, III dan IV kesemuanya
sama dengan tenaga ahli dari Terlapor I. -------
12.2.4.1.9. Bahwa pesaing dari PSG Biologic adalah
Nihon Kohden (Jepang), Nickolite (USA) dan
Compumedic (Australia).------------------------
12.2.4.1.10. Bahwa Terlapor I menseleksi perusahaan-
perusahaan yang meminta surat dukungan,
apakah perusahaan tersebut bisa dipercayai
atau tidak. ---------------------------------------
12.2.4.1.11. Bahwa PT Tiara Kencana memiliki staff
marketing tetap dan staff marketing freelance
dimana untuk staff marketing tetap diberikan
gaji tetap sedangkan freelance hanya diberikan
fee untuk hasil kerja. --------------------------------
12.2.4.1.12. Bahwa staff marketing tetap tidak boleh
menerima fee dari perusahaan lain dan jika hal
tersebut terjadi kemungkinan staff tersebut
bermaksud mencari insentif dalam bekerja
dengan membantu distributor dalam pemasaran
barang. ------------------------------------------
12.2.4.1.13. Bahwa alasan Terlapor I mengikuti tender ini
untuk memastikan agar produk Terlapor I
menang dalam tender tersebut. ------------------
12.2.4.1.14. Bahwa Terlapor I pernah menggunakan
perusahaan lain untuk mengikuti suatu tender,
hal tersebut dikarenakan walaupun spesifikasi
dapat dipenuhi oleh Terlapor I namun dari sisi
adminitratif lainnya tidak dapat dipenuhi oleh
Terlapor I maka Terlapor I akan menggunakan

9
perusahaan lain untuk mengikuti tender
tersebut. -----------------------------------------
12.2.4.1.15. Bahwa Terlapor I mengakui menggunakan
perusahaan lain dalam mengikuti tender PSG di
RS Duren Sawit dikarenakan jika Terlapor I
(sebagai prinsipal alat kesehatan)
memenangkan tender akan menciptakan
keraguan bagi rekanan Terlapor I dalam
meminta surat dukungan kedepan. --------------

12.2.4.2. Pemeriksaan Terlapor II (PT Bhakti Wira Husada) (vide


bukti B2, B11): -----------------------------------------------
12.2.4.2.1. Bahwa Terlapor II bergerak di bidang
perdagangan obat-obatan alat kesehatan,
laboratorium dan bahan kimia. ------------------
12.2.4.2.2. Bahwa Terlapor II dari tenaga freelance yang
bekerja di perusahaan lain dan yang
mengetahui proses tender adalah Ibu Dwikanti
Tutik dan Sdr. Sabdali. --------------------------
12.2.4.2.3. Bahwa Terlapor II mengetahui spesifikasi alat
yang ditenderkan merupakan alat dengan merk
Biologic berdasarkan referensi yang dimiliki.
12.2.4.2.4. Bahwa Terlapor II dan Terlapor I sering
berhubungan bisnis dalam rangka meminta
surat dukungan, penawaran harga dan
dukungan administrasi dan teknis. Terlapor II
juga memiliki hubungan dekat dengan istri
Direktur Utama Terlapor I.----------------------
12.2.4.2.5. Bahwa yang menetapkan harga penawaran
Terlapor II adalah Direktur Utama, Ibu
Dwikanti Tutik dan Bapak Sabdali. -------------
12.2.4.2.6. Bahwa Terlapor II mengetahui Terlapor I
mengikuti tender berdasarkan laporan staf saat
mengikuti pembukaan dokumen penawaran.----
12.2.4.2.7. Bahwa Terlapor II mendapatkan perlakuan
istimewa dari Terlapor I dalam bentuk
kemudahan mendapatkan surat dukungan dan
penawaran harga dalam waktu 1-2 hari. --------

10
SALINAN

12.2.4.2.8. Bahwa Terlapor II sering mendapatkan


infomasi tender dari karyawan prinsipal seperti
Terlapor I. --------------------------------------------
12.2.4.2.9. Bahwa keuntungan dari Terlapor II adalah
sebesar 5-10% keuntungan kotor dan 2-3%
keuntungan bersih. ------------------------------
12.2.4.2.10. Bahwa Terlapor II mengetahui tender ini dari
Ibu Ida dan Julius merupakan tenaga marketing
freelance dari PT Bhakti Wira Husada. ---------
12.2.4.2.11. Bahwa tenaga marketing freelance, yang juga
merupakan staff marketing Terlapor I,
memberikan informasi, mendaftar, mengikuti
aanwijzing, dan memasukkan dokumen
penawaran. Hal tersebut dilakukan dengan
mendapatkan kuasa dari Terlapor II sebagai
staff marketing. ---------------------------------
12.2.4.2.12. Bahwa tenaga freelance bekerja dengan
inisiatif sendiri dan mendapatkan fee sebesar
Rp. 2.700.000,- (dua juta tujuh ratus ribu
rupiah). ------------------------------------------------
12.2.4.2.13. Bahwa staff Terlapor II pernah mengikuti
tender dengan membawa bendera perusahaan
Terlapor I. ---------------------------------------
12.2.4.2.14. Bahwa dalam tender ini Terlapor II
memperoleh keuntungan sebesar Rp.
26.000.000,- (dua puluh enam juta rupiah). -----
12.2.4.2.15. Bahwa Terlapor II melakukan strategi
menawarkan harga alat dengan keuntungan
yang minim, dengan harapan memperoleh
pengalaman perusahaan yang akan
meningkatkan Kemampuan Dasar (KD)
Terlapor II. --------------------------------------
12.2.4.2.16. Bahwa Tim Pemeriksa memperoleh keterangan
tertulis dari Terlapor II yang pada pokoknya
berisi: -------------------------------------------
a. Terlapor II tidak benar jika dikatakan
bersekongkol melakukan pengaturan tender

11
dengan Terlapor I, Terlapor III, dan
Terlapor IV. Masalah kesamaan barang
selalu dapat terjadi pada setiap tender
karena peserta tender akan berusaha
mencari/menawarkan barang yang sesuai
atau setara dengan yang dipersyaratkan
dalam RKS; --------------------------------
b. Soal personel Terlapor II yang bernama Ida
dan Indah dikatakan sebagai staf
administrasi Terlapor I memang dalam
kesehariannya yang bersangkutan mungkin
bekerja disana, tetapi hal yang biasa jika
kami sebagai Trader memiliki beberapa
(bahkan banyak) mitra kerja freelance, yang
membantu kami dalam mengurus, mencari
proyek serta outsourcing.
c. Soal spesifikasi teknis mengarah kepada
merek Biologic juga bukan suatu hal yang
salah, pihak rumah sakit sebagai pengguna
alat tentunya punya hak dan pengalaman
dalam memilih suatu alat sesuai
kebutuhannya.
d. Bahwa sebagai pemenang tender kami tidak
merugikan keuangan negara, karena dengan
harga penawaran sebesar Rp.
1.197.982.500,- (Satu milyar Seratus
Sembilan puluh tujuh juta sembilan ratus
delapan puluh dua ribu lima ratus rupiah)
jauh dibawah harga patokan yang
ditetapkan Biro Perlengkapan Propinsi DKI
Jakarta sebesar Rp. 1.550.000.000,- (satu
milyar lima ratus lima puluh juta rupiah).

12.2.4.3. Pemeriksaan Terlapor III (PT Ilong Prayatna) (vide bukti


B3, B12) --------------------------------------------------------------
12.2.4.3.1. Bahwa Terlapor III bergerak dalam bidang
pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan
kedokteran. --------------------------------------

12
SALINAN

12.2.4.3.2. Bahwa Direktur Terlapor III tidak mengetahui


banyak mengenai tender karena telah
ditugaskan stafnya yang bernama Maratoga
Pane. --------------------------------------------
12.2.4.3.3. Bahwa Direktur Terlapor III tidak mengenal
Rasda, Turni Setyawati yang mewakili
Terlapor III dalam proses tender. ---------------
12.2.4.3.4. Bahwa Terlapor III setelah melihat RKS,
spesifikasi PSG adalah barang dari Terlapor I
dengan merk Biologic. --------------------------
12.2.4.3.5. Bahwa Terlapor III tetap mengikuti proses
tender walaupun mengetahui bahwa Terlapor I
mengikuti tender karena menjaga nama baik
perusahaan yang telah meminta surat dukungan
kepada Terlapor I. -------------------------------
12.2.4.3.6. Bahwa Terlapor III mengambil presentase
keuntungan sebesar 10%. -----------------------
12.2.4.3.7. Bahwa setelah pembukaan dokumen, Direktur
Terlapor III mengetahui bahwa harga yang
dibuka sesuai dengan penawaran harga yang
dibuat oleh Terlapor III.-------------------------
12.2.4.3.8. Bahwa Terlapor III tidak menerima surat
penetapan pemenang. ---------------------------
12.2.4.3.9. Bahwa Terlapor III hanya menugaskan staff
yang bernaman Maratoga untuk mengikuti
proses tender dan tidak pernah memberikan
surat kuasa kepada orang lain. ------------------
12.2.4.3.10. Semua dokumen Terlapor III tidak mengetahui
persis siapa yang memasukkan dokumen
penawaran dan hanya memberikan dokumen
penawarah kepada Maratoga. -------------------
12.2.4.3.11. Terlapor III tidak mengenal dan mengetahui
nama-nama yang mewakili Terlapor III dalam
proses tender.------------------------------------
12.2.4.3.12. Bahwa Terlapor III pernah dihubungi oleh
Terlapor I untuk tidak mundur dalam proses
tender dan tetap mengikuti proses tender. -------

13
12.2.4.3.13. Bahwa menurut keterangan Terlapor III, pihak
yang mengambil dokumen penawaran Terlapor
III adalah karyawan dari Terlapor I. ---------------

12.2.4.4. Pemeriksaan Terlapor IV (PT Kamara Idola) (vide bukti


B4, B13); -------------------------------------------------------------
12.2.4.4.1. Bahwa Terlapor IV bergerak di bidang
pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan. -----
12.2.4.4.2. Bahwa Direktur Terlapor IV menugaskan
stafnya untuk mendaftar yaitu Banjar Aruan
dan setelah menerima surat dari KPPU,
ternyata Terlapor IV tidak memasukkan
penawaran sendiri namun diwakilkan oleh
pihak lain. ---------------------------------------
12.2.4.4.3. Bahwa dalam proses tender, Terlapor IV
diwakili oleh Iwan yang merupakan karyawan
dari Terlapor I. ----------------------------------
12.2.4.4.4. Bahwa Terlapor IV menugaskan staf yang
bernama Banjar Aruan sebagai perwakilan
perusahaan.--------------------------------------
12.2.4.4.5. Bahwa Terlapor IV mengakui bahwa Terlapor
IV hanya sebagai pendamping administrasi dari
Terlapor I. ---------------------------------------
12.2.4.4.6. Bahwa Terlapor IV mendapatkan pengganti
sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah)
sebagai biaya administrasi dalam mengikuti
proses tender dari Terlapor I.--------------------

12.2.4.5. Pemeriksaan Terlapor V (Panitia Pengadaan Barang dan


Jasa Rumah Sakit Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi
DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007) (vide bukti B5, B14)-----
12.2.4.5.1. Bahwa perencanaan pengadaan alat PSG
dilakukan oleh dokter yang membutuhkan alat,
kemudian diajukan ke seksi pelayanan medik,
dilanjutkan ke bagian perencanaan untuk dibuat
dokumen perencanaan kemudian diserahkan ke
Direktur Rumah Sakit untuk diserahkan ke
Pemda guna mendapatkan pengesahan. ---------

14
SALINAN

12.2.4.5.2. Bahwa pengajuan alat PSG diajukan pada


anggaran rutin 2007 namun baru terealisasi
pada anggaran perubahan Tahun 2007. ---------
12.2.4.5.3. Bahwa Panitia tidak mengetahui jika
spesifikasi teknis hanya mengearah pada merk
tertentu. Panitia hanya berpatokan kepada
dokumen perencanaan dan Buku Patokan
Harga Satuan Barang atau Jasa Lainnya
Propinsi DKI Jakarta periode 2007 (“Buku
Patokan”) BAB II.7 No. 1622. ------------------
12.2.4.5.4. Bahwa Panitia merasa setiap barang yang tidak
sesuai dengan buku patokan adalah salah. ------
12.2.4.5.5. Bahwa Panitia menetapkan Harga Perkiraan
Sendiri (HPS) berdasarkan hasil rapat. ----------
12.2.4.5.6. Bahwa Panitia memberikan nilai tertinggi
yakni 17 untuk perusahaan yang memasukkan
alat PSG dengan merk Biologic dan
memberikan nilai 3 untuk perusahaan yang
memasukkan alat PSG dengan merk lain. --------
12.2.4.5.7. Bahwa ketika aanwijzing, Panitia menghapus
tipe/model Sleepscan Vision dalam spesifikasi
teknis, karena mengarah pada merk tertentu. ---
12.2.4.5.8. Bahwa Panitia tidak megenal peserta tender
yang memasukkan penawaran. ------------------
12.2.4.5.9. Bahwa kewenangan dari bagian penunjang
medik adalah mengawasi farmasi, gizi,
pemeliharaan rumah sakit, rontgen, dan alat-
alat kesehatan lainnya yang habis pakai. Dan
untuk alat kedokteran dibawahi oleh bagian
pelayanan medik.--------------------------------
12.2.4.5.10. Bahwa Panitia telah menerima spesfikasi alat
yang mengarah pada merk Biologic semenjak
disahkannya Belanja Modal seperti yang
tercantum pada Dokumen Pelaksanaan
Perubahan Anggaran Satuan Kerja Provinsi
DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007 yang
ditandatangani oleh Direktur Rumah Sakit. -----

15
12.2.4.5.11. Bahwa Panitia menyerahkan dokumen
penawaran alat Full PSG dari Terlapor I pada
tanggal 14 Juni 2006. Dokumen tersebut
ditandatangani oleh Product Manager Terlapor
I yang bernama Rasda, yang pada proses
tender mewakili Terlapor III. -------------------
12.2.4.5.12. Bahwa Panitia menyerahkan dokumen Surat
Kuasa dari masing-masing perusahaan yang
mengikuti tender. Ketika melihat surat kuasa
dari Terlapor III dan IV, Tim mendapati bahwa
tanda-tangan direktur Terlapor III dan IV
berbeda dengan tanda-tangan yang asli, karena
itu Tim menduga bahwa tanda-tangan tersebut
dipalsukan. --------------------------------------

12.2.4.6. Pemeriksaan Saksi : DRA. Dwikanti B. Hastuti dan Safdali


Hidayat (vide bukti B17) -------------------------------------------
12.2.4.6.1. Bahwa antara Terlapor II memiliki hubungan
dekat dengan Terlapor I, dengan memperoleh
keistimewaan seperti perusahaan sering
dipinjam oleh Terlapor I dalam mengikuti
proses tender, dan diskon yang besar. -----------
12.2.4.6.2. Bahwa saksi mengenal Iwan, pihak yang
mewakili Terlapor IV sebagai Project Manager
Terlapor I. ---------------------------------------

12.2.4.7. Pemeriksaan Saksi : dr. Agus Solichien (vide bukti B18)------


12.2.4.7.1. Bahwa saksi merupakan dokter saraf dan
satuan pengawas internal yang bertugas
mengaudit ISO atau mutu dari rumah sakit.-----
12.2.4.7.2. Bahwa saksi mengajukan surat untuk
pengadaan full PSG sebagaimana surat
tertanggal 4 Mei 2006 (vide bukti C50). --------
12.2.4.7.3. Bahwa alat yang dibutuhkan adalah PSG dan
EEG yang bisa memonitor epylepsi. Saksi
hanya mengetahui Biologic karena
menggunakan Biologic untuk EEG semenjak

16
SALINAN

1996. Namun Saksi mempersilahkan kepada


pelayanan medik untuk mencari merek lain. ----
12.2.4.7.4. Bahwa saksi pernah dimintai keterangan alat
oleh Panitia mengenai keunggulan masing-
masing merek alat. ------------------------------
12.2.4.7.5. Bahwa Biologic dapat melakukan PSG dan
EEG monitoring namun softwarenya kurang
canggih, Weinmann hanya bisa melakukan
PSG saja namun softwarenya sudah cukup
canggih, dan compumedic memiliki
keunggulan kecanggihan alat. -------------------
12.2.4.7.6. Bahwa Saksi pernah ditawarkan alat PSG oleh
Terlapor I, dan juga Weinmann. ----------------
12.2.4.7.7. Bahwa menurut saksi, alat Biologic lebih
efisien dan Weinmann lebih canggih dan
praktis digunakan.-------------------------------
12.2.4.7.8. Bahwa Tim Pemeriksa mendapatkan surat
permohonan alat full PSG dari Saksi kepada
Kasi Pelayanan Medik RS Duren Sawit, namun
dalam surat tersebut tidak tercantum merek
PSG (vide bukti C50). ---------------------------
12.2.4.8. Pemeriksaan Saksi Ahli: Kepala Biro Perlengkapan
Pemerintah Prop. DKI Jakarta (vide bukti B19)-----------------
12.2.4.8.1. Dalam Keputusan Gubernur Nomor 108 Tahun
2003 dan Pergub 37 Tahun 2007, keperluan
barang dan jasa diterbitkan buku patokan
harga satuan yang secara reguler atau berkala
ditetapkan keputusan Gubernur setiap 6 bulan.
12.2.4.8.2. Bahwa menurut Keputusan Gubernur Nomor
108 Tahun 2003 dan Keppres 80 Tahun 2003,
Panitia tidak wajib mengacu kepada buku
patokan harga Pemprov DKI Jakarta. -----------
12.2.4.8.3. Panitia tidak akan disalahkan jika tidak
mengikuti buku patokan baik dari segi merek
maupun harganya. Hal yang terpenting bahwa
harga tidak boleh melewati pagu yang telah
ditetapkan.---------------------------------------

17
12.2.4.8.4. Bahwa maksud dan tujuan dikeluarkannya
buku patokan sudah disosialisasikan kepada
setiap instansi terkait di DKI Jakarta. -----------
12.2.4.8.5. Bahwa dalam menentukan HPS Panitia harus
tetap mengacu pada: ----------------------------
1. Harga pasar setempat menjelang proses
pengadaan -------------------------------------
2. Agen tunggal atau pabrikan -----------------
3. Data BPS -------------------------------------
4. Kontrak sejenis -------------------------------
5. Harga yang dikeluarkan instansi
berwenang -------------------------------------

12.2.4.9. Pemeriksaan Saksi: Daniel J. Andreas Tarigan(vide bukti


B21) -------------------------------------------------------------------
12.2.4.9.1. Bahwa saksi adalah staf marketing PT Amarta
Mitra Selaras. -----------------------------------
12.2.4.9.2. Bahwa Saksi merupakan perwakilan dari PT
Amarta Mitra Selaras dan membawa surat
kuasa direktur. ----------------------------------
12.2.4.9.3. Bahwa waktu anwijzing, beberapa peserta
tender meminta agar spesifikasi alat
dikeluarkan dan mencoba membuktikan bahwa
spesifikasi alat di RKS sama persis dengan
spesifikasi alat Biologic. ------------------------
12.2.4.9.4. Bahwa Panitia tidak bisa menghapus
spesifikasi tersebut karena sudah disahkan oleh
Dewan (DPRD) sehingga tidak bisa diganti. -----
12.2.4.9.5. Bahwa Panitia tidak pernah menyebutkan
bahwa tender telah diatur, namun penafsiran
beberapa peserta dalam hal spesifikasi alat
yang tidak bisa diganti.--------------------------

18
SALINAN

12.3 Analisis: --------------------------------------------------------------------------------------


Berdasarkan fakta-fakta yang didapat selama Pemeriksaan Lanjutan, Tim
Pemeriksa, menganalisis sebagai berikut : ----------------------------------------
12.3.1 Tentang Dugaan Persekongkolan Vertikal oleh Terlapor I. -----------
12.3.1.1. Bahwa Terlapor V dalam tender ini telah menyusun spesifikasi
teknis yang mengarah pada merk tertentu yakni merk Biologic
yang hanya bisa disediakan oleh Terlapor I. ------------------------
12.3.1.2. Bahwa sebenarnya dokter yang menggunakan alat tersebut tidak
pernah mengajukan spesifikasi teknis dari alat PSG yang
diusulkan.---------------------------------------------------------
12.3.1.3. Bahwa Terlapor V menyusun spesifikasi teknis berdasarkan
surat dari Biro Perlengkapan Provinsi DKI Jakarta No.
5429/073 tanggal 31 Oktober 2007 dan Dokumen Pelaksanaan
Perubahan Anggaran Satuan Kerja Propinsi DKI Jakarta Tahun
Anggaran 2007 yang ditandatangani oleh Direktur RS Duren
Sawit dr. Asiah Suroto Gunari M.Sc. -----------------------------
12.3.1.4. Bahwa dalam keterangan Saksi Ahli dari Biro Perlengkapan
Prov. DKI Jakarta menyatakan tidak ada kewajiban panitia
untuk mengacu pada buku patokan harga Pemprov DKI Jakarta.
12.3.1.5. Bahwa Panitia dalam menetapkan HPS tidak mengacu pada 5
acuan sesuai dengan Keppres 80 Tahun 2003 dan Kepgub 108
tahun 2003, namun hanya berdasarkan keputusan rapat internal
panitia. ------------------------------------------------------------
12.3.1.6. Bahwa dengan demikian tim menyimpulkan bahwa panitia telah
melakukan kesalahan dan melanggar ketentuan dalam Keppres
80 Tahun 2003 mengenai spesifikasi yang mengarah dan
penentuan harga HPS. --------------------------------------------------
12.3.1.7. Bahwa dengan adanya pelanggaran Keppres 80 Tahun 2003
mengenai spesifikasi yang mengarah dan penentuan harga HPS
mengakibatkan dalam tender pengadaan PSG terdapat peserta
tender yang diuntungkan dan merugikan peserta tender yang
lain. ------------------------------------------------------------------------
12.3.1.8. Bahwa hal ini dibuktikan dengan pemberian nilai yang lebih
tinggi kepada peserta tender yang menawarkan alat PSG dengan
merk Biologic dibandingkan dengan peserta tender yang
menawarkan alat PSG dengan merk non Biologic. --------------

19
12.3.1.9. Bahwa dengan demikian Tim menyimpulkan Terlapor V telah
menimbulkan hambatan bagi peserta tender yang menawarkan
alat PSG dengan merk non Biologic untuk bersaing menjadi
pemenang tender. -------------------------------------------------
12.3.1.10. Bahwa Tim Pemeriksa menyimpulkan hambatan tersebut
merupakan bentuk persekongkolan vertikal yang dilakukan oleh
Terlapor V dan Terlapor I, II, III dan IV untuk mengatur dan
menentukan Terlapor II sebagai pemenang tender.---------------

12.3.2 Tentang Persekongkolan Horizontal yang dilakukan Terlapor III


dan IV; ----------------------------------------------------------------------------
12.3.2.1. Bahwa Tim Pemeriksa menemukan fakta Terlapor III dan
Terlapor IV diwakili oleh orang-orang yang bukan
merupakan staf Terlapor III dan Terlapor IV. Orang-orang
tersebut adalah (vide bukti C55): ----------------------------------
1) PT Ilong Prayatna : Debby Armeiyanti ( mewakili saat
pendaftaran), Rasda (mewakili saat aanwijzing), Turni
Setyawaty (mewakili saat pembukaan surat
penawaran);---------------------------------------------------
2) PT Kamara Idola : Hery Noviar (mewakili saat
pendaftaran), Mulyani (mewakili saat aanwijzing dan
pembukaan dokumen penawaran). ------------------------
Nama-nama yang disebutkan diatas bukan merupakan staf
atau karyawan Terlapor III dan Terlapor IV yang ditugaskan
untuk mengikuti proses tender. Khusus untuk Rasda, Tim
Pemeriksa mendapati bahwa orang tersebut merupakan
Product Manager dari PT Tiara Kencana. (vide bukti C63) --
12.3.2.2. Bahwa berdasarkan pengakuan saksi Banjar Aruan yang
menyatakan ada seseorang yang bernama Iwan yang
merupakan staf dari Terlapor I yang bersedia membantu
Terlapor IV dalam mengikuti proses tender. Namun dalam
daftar hadir semua proses tender tidak tercantum nama Iwan
(vide bukti C9, C13, C19, C25). -----------------------------------
12.3.2.3. Bahwa berdasarkan pengakuan saksi Maratoga Pane, dia
merupakan karyawan yang biasa ditugasi untuk mengikuti
proses tender, namun dalam tender ini saksi tidak mengikuti
sama sekali semua proses tender. Tetapi dalam fakta
terdapat dokumen penawaran Terlapor III yang ditanda

20
SALINAN

tangani oleh Direktur Terlapor III, namun tidak diketahui


sama sekali oleh saksi. ----------------------------------------------
12.3.2.4. Bahwa berdasarkan fakta adanya pemalsuan surat kuasa
Terlapor III dan IV menunjukkan bahwa Terlapor III dan IV
dalam tender ini hanya berfungsi sebagai pendamping dan
tidak sungguh-sungguh. Hal sesuai dengan pengakuan dari
Terlapor III dan IV. -------------------------------------------------
12.3.2.5. Bahwa Tim Pemeriksa menyimpulkan Terlapor III dan IV
terlibat dalam persekongkolan horizontal untuk mengatur
dan menentukan Terlapor II sebagai pemenang tender. --------
12.3.3 Tentang Persekongkolan Horizontal yang dilakukan Terlapor III
dan IV; ----------------------------------------------------------------------------
12.3.3.1. Bahwa Terlapor I dan Terlapor II memiliki hubungan erat,
sehingga Terlapor II mendapatkan kemudahan-kemudahan
dalam melakukan bisnis dengan Terlapor I termasuk
kemudahan dalam memperoleh surat dukungan dan
memperoleh potongan harga yang cukup besar dari Terlapor
I dalam setiap pembelian barang. ---------------------------------
12.3.3.2. Bahwa Terlapor II juga pernah menggunakan bendera
Terlapor I dalam mengikuti suatu tender. Hal ini
menunjukkan bahwa adanya hubungan kedekatan yang erat
antara Terlapor I dan Terlapor II. ---------------------------------
12.3.3.3. Bahwa Terlapor I mengakui menggunakan perusahan lain
untuk memenangkan suatu tender sebab jika yang
memenangkan tender adalah Terlapor I maka Terlapor I
akan kehilangan kepercayaan dari para rekanan distributor. --
12.3.3.4. Bahwa dengan demikian Tim menyimpulkan Terlapor I
mengikuti tender untuk memastikan alat PSG yang
diageninya memenangkan tender dan agar tidak kehilangan
kepercayaan dari para rekanan Terlapor I menawarkan harga
diatas Terlapor II. ---------------------------------------------------
12.3.3.5. Bahwa Tim menyimpulkan adanya persekongkolan
horizontal antara Terlapor I dan Terlapor II untuk mengatur
dan atau menentukan Terlapor II sebagai pemenang tender.
12.4 Kesimpulan ----------------------------------------------------------------------------------
Bahwa berdasarkan analisis terhadap fakta-fakta dan alat bukti surat dan atau
dokumen yang diperoleh selama Pemeriksaan Lanjutan, Tim Pemeriksa

21
menyimpulkan terdapat cukup bukti terjadinya persekongkolan vertikal dan
horisontal untuk mengatur dan atau menentukan pemenang tender dalam tender
pengadaan alat kedokteran Polysomnograph di RS Duren Sawit Dinas
Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007 yang dibiayai dari
Anggaran Belanja Tambahan Pemerintah DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007.
13. Menimbang bahwa berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan, Tim Pemeriksa
merekomendasikan kepada Rapat Komisi agar dilakukan Sidang Majelis Komisi (vide
bukti A41); --------------------------------------------------------------------------------------------
14. Menimbang bahwa selanjutnya, Komisi menerbitkan Penetapan Komisi Pengawas
Persaingan Usaha Nomor 230/KPPU/PEN/XI/2008 tanggal 25 November 2008 tentang
Sidang Majelis Komisi Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008 dalam jangka waktu
selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja terhitung mulai tanggal 25 November
2008 sampai dengan 13 Januari 2009 (vide bukti A42); ----------------------------------------
15. Menimbang bahwa untuk melaksanakan Sidang Majelis Komisi, Komisi menerbitkan
Keputusan Komisi Nomor 353/KPPU/KEP/XI/2008 tanggal 25 November 2008 tentang
Penugasan Anggota Komisi sebagai Majelis Komisi dalam Sidang Majelis Komisi
Perkara Nomor 49/KPPU-L/2008 (vide bukti A43); --------------------------------------------
16. Menimbang bahwa untuk membantu Majelis Komisi dalam Sidang Majelis Komisi,
maka Direktur Eksekutif Sekretariat Komisi menerbitkan Surat Tugas Nomor
1139/SET/DE/ST/XI/2008 tanggal 25 November 2008 (vide bukti A44); -------------------
17. Menimbang bahwa dalam dalam Sidang Majelis Komisi pada tanggal 17 Desember
2008, Terlapor I tidak hadir untuk menyampaikan Pendapat atau Pembelaan terhadap
Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan, namun pada tanggal 19 Desember 2008, Majelis
Komisi menerima Pendapat atau Pembelaan terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan
Lanjutan Terlapor I secara tertulis yang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut
(vide bukti A50, C70); -------------------------------------------------------------------------------
17.1 Terlapor I tidak pernah berpikir untuk bersekongkol dengan Panitia, karena kami
juga tidak kenal dengan baik, mungkin pernah bertemu untuk urusan lain.
Karena usaha Terlapor I dalam bidang farmasi dan alat kesehatan sejak tahun
1974 dan para pelanggan antara lain adalah rumah sakit, instalasi pelayanan
kesehatan lainnya, para dokter spesialis, dan dokter umum. ---------------------------
17.2 Terlapor I berkedudukan sebagai agen tunggal harus melaksanakan total
marketing, sehingga Terlapor I mengutamakan purna jual daripada menjual; ------
17.3 Kelebihan Terlapor I dapat dibuktikan bahwa alat EEG, Epilepsi monitoring dan
PSG sudah terpasang lebih dari 150 unit di seluruh Indonesia; -----------------------
17.4 Bahwa Terlapor I sudah sejak tahun 2006 menawarkan alat PSG merek Biologic
Inc. USA yang diageni ke banyak user dan sudah melakukan demo alat,

22
SALINAN

sehingga biasanya user sudah yakin dan percaya bahwa alat PSG yang
ditawarkan oleh Terlapor I adalah alat yang dibutuhkan dan memenuhi
spesifikasi yang diharapkan user; ---------------------------------------------------------
17.5 Terlapor I memantau proses pengusulan dari user kepada Direktur rumah sakit,
dan dari Direktur kepada Pemda DKI, dan menyayangkan anggaran yang
diberikan turun jauh dibawah harga standar;---------------------------------------------
17.6 Terlapor I hanya memberikan surat dukungan alat PSG kepada: ---------------------
a. Rekanan yang benar-benar Terlapor I mengenal karakternya, jujur,
konsekuen, dan tidak akan berkhianat atau membocorkan harga dan kondisi
yang Terlapor I tawarkan;--------------------------------------------------------------
b. Terlapor I hanya akan memberikan kepada 3 (tiga) rekanan atau maksimum
4 (empat) rekanan yang kami anggap betul-betul jujur, konsekuen dan
memegang janji tidak akan memboikot atau mundur untuk menawarkan alat; -
c. Terlapor I akan memberikan harga yang sama dan dukungan penuh kepada
perusahaan yang diberikan dukungan; -----------------------------------------------
d. Terlapor I tidak akan memberikan surat dukungan kepada perusahaan yang
tidak dikenal dengan baik. -------------------------------------------------------------
17.7 Terlapor I terkejut mengapa Terlapor II berani menurunkan harga dengan
mengurangi margin atau keuntunganyang sebenarnya juga menjadi hak penuh
Terlapor II sendiri.---------------------------------------------------------------------------
17.8 Kondisi penawaran Terlapor II lebih murah dari Terlapor I merupakan
perhitungan dan keputusan Terlapor II yang jitu dan tepat serta murni keputusan
bisnis. -----------------------------------------------------------------------------------------
17.9 Terlapor I berkesimpulan :
a. Laporan yang disampaikan Pelapor adalah tidak benar; ---------------------------
b. Terlapor I menyangkal dengan tegas bahwa Terlapor I tidak pernah
bersekongkol secara vertikal dengan Terlapor maupun secara horizontal
dengan rekanan lain; --------------------------------------------------------------------
c. Mengikuti proses Perkara 49/KPPU-L/2008 sangat melelahkan dan sangat
menyita waktu untuk berproduktivitas yang lebih penting dalam era krisis
global.-------------------------------------------------------------------------------------
18. Menimbang bahwa dalam dalam Sidang Majelis Komisi pada tanggal 17 Desember
2008, Terlapor II hadir untuk menyampaikan Pendapat atau Pembelaan secara tertulis
terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutanyang pada pokoknya menyatakan sebagai
berikut (vide bukti A51, C71);----------------------------------------------------------------------

23
18.1 Bahwa Terlapor II menyangkal keras tuduhan bahwa Terlapor II telah
melakukan persekongkolan vertikal maupun persekongkolan horizontal
sehingga dianggap melanggar asal 22 UU No. 5 Tahun 1999 -------------------------
18.2 Bahwa Terlapor II tidak mengenal personil Terlapor V baik sebelum
pelaksanaan tender maupun dalam proses tender;---------------------------------------
18.3 Bahwa kedekatan Terlapor II dengan Terlapor I tidak semerta-merta dapat
disimpulkan telah terjadi persekongkolan untuk memenangkan Terlapor II,
karena hubungan bisnis yang saling percaya adalah modal utama kami sebagai
Trader. Jadi dengan strategi peyusunan harga yang kompetitif, aspek
administrasi yang bagus serta dukungan teknis yang lengkap, tidak ada gunanya
dan tidak memungkinkan bagi kami untuk melakukan persekongkolan dengan
pihak-pihak lain, baik secara vertikal maupun horizontal: -----------------------------
18.4 Bahwa tanggapan Terlapor II terhadap Hasil Pemeriksaan adalah;-------------------
18.4.1.1. Pada point E No. 1 angka xiii, dimana Terlapor II awalnya tidak tahu
kalau Terlapor I juga ikut serta dalam tender tersebut kami baru tahu
pada saat pembukaan penawaran harga;-------------------------------------
18.4.1.2. Poin E No. 1 angka xiv, dimana strategi ini adalah suatu hal yang
lazim dalam praktek marketing agar produknya laku terjual, akan
tetapi tidak bisa langsung disimpulkan bersekongkol, bisa saja hal ini
merupakan suatu konsorsium. ------------------------------------------------
18.4.1.3. Poin E No. 1 angka xv, dimana Terlapor I menggunakan perusahaan
lain adalah tidak termasuk dengan Terlapor II, buat apa kami ikut
tender jika kami tahu Terlapor I sebagai prinsipal ikut bermain
sendiri, tentunya kami tidak ingin keikutsertaan kami menjadi suatu
yang sia-sia; ---------------------------------------------------------------------
18.4.1.4. Poin E No. 2 angka viii, dimana surat kuasa yang kami serahkan
kepada Panitia Lelang, kami mendapat informasi tentang tender di
RS Duren Sawit dari Marketing Freelance kami saudara Yulius dan
Ibu Ida, dimana penggunaan tenaga freelance adalah suatu yang
sudah biasa pada perusahaan demi menekan over-head cost. ------------
18.4.1.5. Poin E No. 2 angka ix,x,xi,xii,xiii,xiv,xv, dimana keuntungan sebesar
Rp. 26 juta adalah merupakan strategi kami untuk memenangkan
tender, karena kami melihat merit point untuk faktor harga adalah 40,
sehingga jika kami lulus dalam evaluasi administrasi dan mendapat
poin teknis yang tinggi, kami memiliki peluang yang besar dalam
memenangkan tender.----------------------------------------------------------

24
SALINAN

19. Menimbang bahwa dalam dalam Sidang Majelis Komisi pada tanggal 17 Desember
2008, Terlapor III tidak hadir untuk menyampaikan Pendapat atau Pembelaan terhadap
Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan, namun pada tanggal 18 Desember 2008, Majelis
Komisi menerima Pendapat atau Pembelaan terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan
Lanjutan Terlapor III secara tertulis yang pada pokoknya menyatakan sebagai
berikut(vide bukti A52, C72); ----------------------------------------------------------------------
19.1 Bahwa Terlapor III sangat tidak sependapat jika dinyatakan sebagai pihak yang
ikut melakukan persekongkolan horizontal dan vertikal dengan Terlapor I; --------
19.2 Bahwa Terlapor III memang mengenal Terlapor I, tetapi untuk kasus ini
Terlapor III sama sekali tidak terlibat dalam persekongkolan baik vertikal
maupun horizontal; --------------------------------------------------------------------------
19.3 Bahwa adalah fakta hukum, pihak-pihak yang terlibat dalam proses tender
tersebut bukanlah pihak yang mewakili hak dan kepentingan Terlapor III,
sehingga hal yang terjadi adalah menjadi tanggung jawab pribadi masing-masing
karena Terlapor III meragukan keabsahan kuasa; ---------------------------------------
19.4 Bahwa kelanjutan prosedur dan proses lelang, sehingga memenangkan Terlapor
I adalah diluar pengetahuan Terlapor III; ------------------------------------------------
19.5 Bahwa dugaan yang menyangkut Terlapor III dikesampingkan karena tidak ada
keterlibatan Terlapor III baik secara vertikal maupun horizontal yang telah
menimbulkan kerugian bagi pihak lain; --------------------------------------------------
19.6 Bahwa fakta yang disampaikan Terlapor III uraikan diatas adalah fakta-fakta
yang diketahui oleh Terlapor III. ----------------------------------------------------------
20. Menimbang bahwa dalam dalam Sidang Majelis Komisi pada tanggal 17 Desember
2008, Terlapor IV hadir untuk menyampaikan Pendapat atau Pembelaan secara tertulis
terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutanyang pada pokoknya menyatakan sebagai
berikut(vide bukti A53, C73); ----------------------------------------------------------------------
20.1 Permohonan maaf kami sebesar-besarnya atas adanya kelalaian kami sebagai
pimpinan untuk tidak mengikuti secara profesional tender alat kedokteran PSG
di Rumah Sakit Duren sawit tahun Anggaran 2007; ------------------------------------
20.2 Terlalu percaya kepada staf yang menyatakan bahwa alat tersebut hanya
mengarah pada spesifikasi tertentu yang kebetulan diageni oleh PT Tiara
Kencana; --------------------------------------------------------------------------------------
20.3 Pengalaman ikut tender di RS Fatmawati tahun 2007, karena kami menawarkan
merek yang berbeda tetapi spesifikasi sama, dan sewaktu pembukaan
penawaran, Terlapor IV dikatakan gugur secara teknis oleh Panitia. Walaupun
harga yang kami tawarkan adalah harga terrendah dan spek yang sama; ------------

25
20.4 Demikian permohonan maaf kami sampaikan dengan ikhlas dan atas tegurannya
kami ucapkan terima kasih, semoga KPPU membuat negara tercinta ini semakin
baik untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia;-------------------------
21. Menimbang bahwa dalam dalam Sidang Majelis Komisi pada tanggal 17 Desember
2008, Terlapor V hadir untuk menyampaikan Pendapat atau Pembelaan secara tertulis
terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutanyang pada pokoknya menyatakan sebagai
berikut(vide bukti A54, C74, C75); ----------------------------------------------------------------
21.1 Bahwa kami sebagai anggota Panitia pengadaan barang dan jasa merasa belum
pernah mendapatkan sosialisasi tentang Patokan Harga Satuan barang/jasa dari
Biro Perlengkapan sejak tahun 2006; -----------------------------------------------------
21.2 Panitia memahami bahwa harga dan merek tidak wajib mengikuti buku patokan
namun selama ini ada kesan kuat yang dirasakan oleh anggota Panitia bahwa
harga dan merek harus mengacu kepada buku patokan harga satuan yang
dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta; -------------------------------------------------------
21.3 Berkaitan dengan pemeriksaan rutin tahunan yang dilakukan oleh Bawasda
selalu ditekankan bahwa barang atau jasa yang dibeli melalui proses lelang
umum/penunjukkan langsung/ pemilihan langsung harus mengacu kepada buku
patokan harga satuan yang dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta; -----------------------
21.4 Panitia menyusun spesifikasi berdasarkan DASK RS Duren Sawit dan Buku
Patokan Harga yang dikeluarkan Biro Perlengkapan Pemprov DKI Jakarta; -------
21.5 Dalam menetukan pemenang, Panitia telah meminta masukan dari user tentan
kegunaan dan kualitas dari semua alat yang ditawarkan, dan menurut user
kebutuhan rumah sakit adalah PSG dan EEG; -------------------------------------------
21.6 Kemudian Terlapor V mengirimkan data tambahan dengan surat No.
1745/073.53, yang isinya pada pokoknya: -----------------------------------------------
a. Panitia Pengadaan barang dan jasa tidak ikut proses perencanaan alat PSG
sehingga tidak mempunyai kompetensi untuk menjelaskan proses
perencanaan; -----------------------------------------------------------------------------
b. Panitia Pengadaan barang dan jasa hanya bertugas dalam melaksanakan
lelang sesuai dengan perintah Direktur rumah sakit; -------------------------------
c. Mekanisme usulan permintaan barang dan jasa dari unit-unit di rumah sakit
dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku di rumah sakit. -----------------
d. Bahwa data-data terkait dengan perencanaan terdokumentasi di bagian
perencanaan dan yang berhak mengeluarkan adalah bagian perencanaan
rumah sakit Duren Sawit. --------------------------------------------------------------
22. Menimbang bahwa selanjutnya Majelis Komisi menilai telah mempunyai bukti dan
penilaian yang cukup untuk mengambil keputusan; ---------------------------------------------

26
SALINAN

TENTANG HUKUM

1. Berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Lanjutan, surat, dokumen, dan alat bukti
lainnya, Majelis Komisi menilai dan menyimpulkan ada tidaknya pelanggaran yang
dilakukan oleh para Terlapor sebagai berikut:---------------------------------------------------
1.1. Tentang Identitas Para Terlapor;--------------------------------------------------------
1.1.1. Terlapor I: PT. Tiara Kencana, merupakan pelaku usaha berdasarkan
peraturan perundang-undangan Republik Indonesia berupa suatu perseroan
terbatas yang didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas
Nomor 18 tanggal 6 Desember 1972 yang dibuat oleh Notaris Drs. Anwar
Makarim dengan Akta Perubahan Terakhir Nomor 09 tanggal 9 Mei 2005
yang dibuat oleh Notaris Silvia Veronica, S.H., yang melakukan kegiatan
usaha di distributor, grosir, komisioner, agen, pedagang besar obat-obatan,
farmasi, alat-alat kedokteran dan alat-alat keperluan rumah sakit, termasuk
bidang leveransir, bidang pemborong bangunan, bidang perindustrian,
bidang pertanian, perkebunan, perikanan darat, perikanan laut, dan
peternakan, bidang pengangkutan barang dan penumpang, bidang
ekspedisi dan pergudangan, yang berkedudukan di Wisma Tiara Lt. 5 Jalan
Raya Pasar Minggu KM 18 No. 17 Jakarta Selatan 12510 (vide bukti B1,
C36); ------------------------------------------------------------------------------------
1.1.2. Terlapor II: PT. Bhakti Wira Husada, merupakan pelaku usaha
berdasarkan peraturan perundang-undangan Republik Indonesia berupa
suatu perseroan terbatas yang didirikan berdasarkan Akta Pendirian
Perseroan Terbatas Nomor 39 tanggal 25 Juni 1969 yang dibuat oleh
Notaris Soeleman Ardjasasmita, dengan Akta Perubahan Terakhir Nomor
17 tanggal 28 Oktober 2005 yang dibuat oleh Notaris Elliza Asmawel,
S.H., yang melakukan kegiatan usaha di bidang perindustrian seperti
industri farmasi dan alat-alat dan atau barang-barang perlengkapan
kesehatan, menjalankan perdagangan umum, bidang pengangkutan, bidang
stuwadoring, menjalankan usaha dan bertindak sebagai perwakilan atau
peragenan dari perusahaan-perusahaan baik dalam negeri maupun luar
negeri, yang berkedudukan di Jalan Tebet Utara I No. 20 Jakarta Selatan
12820 (vide bukti B2, C35); ---------------------------------------------------------
1.1.3. Terlapor III: PT. Ilong Prayatna, merupakan pelaku usaha berdasarkan
peraturan perundang-undangan Republik Indonesia berupa suatu perseroan
terbatas yang didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas
Nomor 76 tanggal 27 Juli 1989 yang dibuat oleh Notaris Chufran Hamal,

27
S.H., dengan Akta Perubahan Terakhir Nomor 130 tanggal 21 Nopember
1990 yang dibuat oleh Notaris Chufran Hamal, S.H., yang melakukan
kegiatan usaha di bidang leveransir, supplier, grosir, distributor,
komisioner, bidang perdagangan umum, bidang jasa kecuali jasa hukum,
bidang industri termasuk kerajinan tangan, bidang pertanian, perkebunan,
kehutanan, pertambangan, perikanan darat dan laut serta pertambakan,
bidang pengangkutan umum, bidang percetakan, yang berkedudukan di
Jalan Balikpapan I No. 3B Jakarta Pusat 10130 (vide bukti B3, C37); --------
1.1.4. Terlapor IV: PT. Kamara Idola, merupakan pelaku usaha berdasarkan
peraturan perundang-undangan Republik Indonesia berupa suatu perseroan
terbatas yang didirikan berdasarkan Akta Pendirian Perseroan Terbatas
Nomor 10 tanggal 31 Agustus 1998 yang dibuat oleh Notaris Hamdan
Syarif, dengan Akta Perubahan Terakhir Nomor 2 tanggal 6 Februari 2004
yang dibuat oleh Notaris Lies Herminingsih, S.H., yang melakukan
kegiatan usaha di bidang farmasi, perdagangan umum, pembangunan,
industri, transportasi, jasa, percetakan, perbengkelan, desain, agrobisnis,
yang berkedudukan di Jalan Pelepah Hijau V Blok TS. 2/2 Jakarta Utara
(vide bukti B4, C38); -----------------------------------------------------------------
1.1.5. Terlapor V: Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Rumah Sakit Duren
Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007,
dengan alamat kantor di Jalan Duren Sawit Baru, Jakarta Timur (vide bukti
B5, C8, C9, C13, C41); --------------------------------------------------------------
1.2. Tentang Objek Tender ---------------------------------------------------------------------
1.2.1. Bahwa Objek Tender dalam perkara ini adalah tender pengadaan alat
kedokteran Polysomnograph (selanjutnya disebut PSG) di Rumah Sakit
Duren Sawit Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007
yang dibiayai dari Anggaran Belanja Tambahan Pemerintah DKI Jakarta
Tahun Anggaran 2007 (vide bukti C11);-------------------------------------------
1.2.2. Nilai Pengadaan PSG adalah sebesar Rp. 1.206.300.000,- (satu milyar dua
ratus enam juta tiga ratus ribu rupiah) dengan Kualifikasi Peserta Tender
adalah Golongan Non Kecil; --------------------------------------------------------
1.3. Tentang Spesifikasi yang Mengarah pada Merek Tertentu ------------------------
1.3.1. Bahwa berdasarkan LHPL, Tim Pemeriksa menyatakan spesifikasi teknis
pada tender a quo, mengarah kepada merek tertentu yaitu merek Biologic; -
1.3.2. Bahwa alat kesehatan merek Biologic, hanya diageni oleh satu perusahaan
prinsipal yaitu Terlapor I; -----------------------------------------------------------
1.3.3. Bahwa Tim Pemeriksa menemukan fakta dalam evaluasi tender Terlapor V
memberikan nilai yang lebih tinggi kepada peserta tender yang

28
SALINAN

menawarkan merek Biologic dibandingkan dengan peserta tender yang


menawarkan merek selain merek Biologic; --------------------------------------
1.3.4. Bahwa berdasarkan LHPL, Tim Pemeriksa memperoleh fakta bahwa
dokter sebagai pengguna alat Polymsonograph (PSG) tidak pernah
mencantumkan merek tertentu pada surat permohonan pengadaan alat
kesehatan kepada pihak rumah sakit;----------------------------------------------
1.3.5. Bahwa berdasarkan LHPL, Panitia menyatakan bahwa spesifikasi telah
ditentukan semenjak perencanaan dan mengacu pada Dokumen
Pelaksanaan Perubahan Anggaran Satuan Kerja Propinsi DKI Jakarta
Tahun Anggaran 2007 Rumah Sakit Duren Sawit dan Buku Patokan Harga
Satuan Barang atau Jasa Lainnya Propinsi DKI Jakarta periode 2007
(selanjutnya disebut Buku Patokan). Panitia khawatir akan disalahkan jika
tidak mengikuti Buku Patokan; ----------------------------------------------------
1.3.6. Bahwa berdasarkan kesaksian Kepala Biro Perlengkapan Pemerintah
Propinsi DKI Jakarta, Buku Patokan hanya berfungsi sebagai rujukan dan
Panitia Tender tidak harus mengacu pada Buku Patokan. Panitia Tender
tetap harus mengikuti ketentuan Keppres 80 Tahun 2003; ---------------------
1.3.7. Bahwa Panitia Tender dalam pembelaan tertulisnya menyatakan: ------------
1.3.7.1. Bahwa Panitia merasa belum pernah mendapatkan sosialisasi
tentang Patokan Harga Satuan barang/jasa dari Biro Perlengkapan
sejak tahun 2006; ---------------------------------------------------------
1.3.7.2. Bahwa Panitia merasa adanya kesan kuat harga dan merek harus
mengacu kepada buku patokan harga satuan yang dikeluarkan
Pemprov DKI Jakarta;----------------------------------------------------
1.3.7.3. Bahwa dalam pemeriksaan rutin tahunan yang dilakukan oleh
Bawasda selalu ditekankan bahwa barang atau jasa yang dibeli
melalui proses lelang umum/penunjukkan langsung/ pemilihan
langsung harus mengacu kepada buku patokan harga satuan yang
dikeluarkan Pemprov DKI Jakarta; -------------------------------------
1.3.7.4. Panitia menyusun spesifikasi berdasarkan DASK RS Duren Sawit
dan Buku Patokan Harga yang dikeluarkan Biro Perlengkapan
Pemprov DKI Jakarta;----------------------------------------------------
1.3.7.5. Dalam menetukan pemenang, Panitia telah meminta masukan dari
user tentang kegunaan dan kualitas dari semua alat yang
ditawarkan, dan menurut user kebutuhan rumah sakit adalah PSG
dan EEG (Electroencephalography); -----------------------------------
1.3.7.6. Panitia Pengadaan barang dan jasa tidak ikut proses perencanaan
alat PSG sehingga tidak mempunyai kompetensi untuk
menjelaskan proses perencanaan; ---------------------------------------
1.3.8. Bahwa Terlapor I dalam pembelaan tertulisnya menyatakan: -----------------

29
1.3.8.1. Terlapor I tidak pernah berpikir untuk bersekongkol dengan
Panitia, karena Terlapor I juga tidak kenal dengan baik, mungkin
pernah bertemu untuk urusan lain. Karena usaha Terlapor I dalam
bidang farmasi dan alat kesehatan sejak tahun 1974 dan para
pelanggan antara lain adalah rumah sakit, instalasi pelayanan
kesehatan lainnya, para dokter spesialis, dan dokter umum; --------
1.3.8.2. Terlapor I sudah sejak tahun 2006 menawarkan alat PSG merek
Biologic Inc. USA yang diageni ke banyak user dan sudah
melakukan demo alat, sehingga biasanya user sudah yakin dan
percaya bahwa alat PSG yang ditawarkan oleh Terlapor I adalah
alat yang dibutuhkan dan memenuhi spesifikasi yang diharapkan
user; -------------------------------------------------------------------------
1.3.8.3. Terlapor I memantau proses pengusulan dari user kepada Direktur
rumah sakit, dan dari Direktur kepada Pemda DKI, dan
menyayangkan anggaran yang diberikan turun jauh dibawah
harga standar;--------------------------------------------------------------
1.3.9. Bahwa Terlapor II dalam pembelaan tertulisnya menyatakan: ------------------
1.3.9.1. Terlapor II menyangkal keras tuduhan bahwa Terlapor II telah
melakukan persekongkolan vertikal; -----------------------------------
1.3.9.2. Bahwa Terlapor II tidak mengenal personil Terlapor V baik
sebelum pelaksanaan tender maupun dalam proses tender; ---------
1.3.10. Bahwa Majelis Komisi menilai bahwa spesifikasi teknis yang mengarah
kepada PSG merk Biologic telah tercantum dalam Dokumen Pelaksanaan
Perubahan Anggaran Satuan Kerja Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran
2007 Rumah Sakit Duren Sawit dan Buku Patokan dimana Terlapor V hanya
mengacu pada dokumen-dokumen tersebut dalam menyusun spesifikasi
teknis dalam RKS; ---------------------------------------------------------------------
1.3.11. Bahwa Majelis Komisi menilai Terlapor V tidak terlibat dalam penyusunan
spesifikasi teknis dalam tender a quo; -----------------------------------------------
1.3.12. Bahwa Majelis Komisi menilai Terlapor V seharusnya dalam menyusun
spesifikasi teknis tetap tidak mengarah pada merk tertentu sesuai dengan
ketentuan Keppres 80 Tahun 2003; --------------------------------------------------
1.3.13. Bahwa karena Terlapor V tidak terlibat dalam penyusunan spesifikasi teknis
maka Majelis Komisi menyimpulkan Terlapor V tidak terlibat dalam
persekongkolan vertikal untuk memenangkan Terlapor II dalam tender
perkara a quo; --------------------------------------------------------------------------
1.4. Tentang Peminjaman Perusahaan Terlapor III dan Terlapor IV; -----------------
1.4.1. Bahwa berdasarkan laporan LHPL Tim Pemeriksa menemukan fakta
Terlapor III dan Terlapor IV diwakili oleh orang-orang yang bukan
merupakan staf Terlapor III dan Terlapor IV. Orang-orang tersebut adalah :

30
SALINAN

1.4.1.1. PT Ilong Prayatna : Debby Armeiyanti yang mewakili saat


pendaftaran, Rasda yang mewakili saat aanwijzing, Turni
Setyawaty yang mewakili saat pembukaan surat penawaran; ---------
1.4.1.2. PT Kamara Idola : Hery Noviar yang mewakili saat pendaftaran,
Mulyani mewakili saat aanwijzing dan pembukaan dokumen
penawaran; -------------------------------------------------------------------
1.4.2. Bahwa nama-nama yang disebutkan diatas bukan merupakan staf atau
karyawan Terlapor III dan Terlapor IV yang ditugaskan untuk mengikuti
proses tender. Khusus untuk Rasda, Tim Pemeriksa memperoleh fakta
bahwa yang bersangkutan adalah Product Manager dari PT Tiara Kencana; --
1.4.3. Bahwa menurut keterangan Terlapor III, pihak yang mengambil dokumen
penawaran Terlapor III adalah karyawan dari Terlapor I; ------------------------
1.4.4. Bahwa Terlapor IV mengakui bahwa Terlapor IV hanya sebagai pendamping
dan mendapatkan pengganti sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah)
sebagai biaya administrasi dalam mengikuti proses tender dari Terlapor I; ----
1.4.5. Bahwa Terlapor III menyampaikan pembelaan tertulis sebagai berikut: -------
1.4.5.1. Terlapor III memang mengenal Terlapor I, tetapi untuk kasus ini
Terlapor III sama sekali tidak terlibat dalam persekongkolan baik
vertikal maupun horizontal;------------------------------------------------
1.4.5.2. Pihak-pihak yang terlibat dalam proses tender tersebut bukanlah
pihak yang mewakili hak dan kepentingan Terlapor III, sehingga
hal yang terjadi adalah menjadi tanggung jawab pribadi masing-
masing karena Terlapor III meragukan keabsahan kuasa; -------------
1.4.5.3. Bahwa kelanjutan prosedur dan proses lelang, sehingga
memenangkan Terlapor I adalah diluar pengetahuan Terlapor III; ---
1.4.5.4. Bahwa dugaan yang menyangkut Terlapor III dikesampingkan
karena tidak ada keterlibatan Terlapor III baik secara vertikal
maupun horizontal yang telah menimbulkan kerugian bagi pihak
lain; ---------------------------------------------------------------------------
1.4.6. Bahwa Terlapor IV dalam pembelaan tertulisnya menyatakan: -----------------
1.4.6.1. Permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas adanya kelalaian
sebagai pimpinan untuk tidak mengikuti secara profesional tender
alat kedokteran PSG di Rumah Sakit Duren sawit tahun Anggaran
2007; --------------------------------------------------------------------------
1.4.6.2. Pengalaman ikut tender di RS Fatmawati tahun 2007, karena kami
menawarkan merek yang berbeda tetapi spesifikasi sama, dan
sewaktu pembukaan penawaran, Terlapor IV dikatakan gugur
secara teknis oleh Panitia. Walaupun harga yang kami tawarkan
adalah harga terendah dan spesifikasi yang sama; ----------------------

31
1.4.7. Bahwa Majelis Komisi menilai adanya pengakuan Terlapor IV yang
menyatakan perusahaan telah dipinjam oleh Terlapor I dan diberi imbalan
sebesar Rp. 1.000.000,- (satu juta rupiah) merupakan merupakan bukti
Terlapor IV telah dipinjam oleh Terlapor I sebagai pedamping; ----------------
1.4.8. Bahwa Majelis Komisi menilai Terlapor III dalam aanwijzing diwakili oleh
Sdr. Rasda yang merupakan Product Manager Terlapor I yang mewakili
Terlapor III dalam aanwijzing merupakan bukti Terlapor III telah dipinjam
oleh Terlapor I sebagai pedamping; -------------------------------------------------
1.4.9. Bahwa Majelis Komisi menilai tindakan Terlapor III dan Terlapor IV
menyerahkan dokumen tender kepada pihak yang bukan merupakan
karyawan Terlapor III dan Terlapor IV merupakan bukti Terlapor III dan
Terlapor IV bersekongkol dengan Terlapor I dan Terlapor II untuk
memenangkan Terlapor II sebagai pemenang tender perkara a quo;------------
1.4.10. Bahwa Majelis Komisi menyimpulkan adanya bukti yang cukup Terlapor III
dan Terlapor IV meminjamkan perusahaan kepada Terlapor I untuk
mengikuti tender sebagai bentuk persekongkolan horizontal yang dilakukan
Terlapor I, Terlapor III dan Terlapor IV untuk memenangkan Terlapor II
menjadi pemenang tender perkara a quo; -------------------------------------------
1.5. Tentang Kedekatan Terlapor I dan Terlapor II; --------------------------------------
1.5.1. Bahwa berdasarkan laporan LHPL Tim Pemeriksa menyatakan Terlapor I
dan Terlapor II memiliki hubungan yang erat sehingga Terlapor II
mendapatkan kemudahan-kemudahan dalam melakukan bisnis dengan
Terlapor I termasuk kemudahan dalam memperoleh surat dukungan dan
memperoleh potongan harga yang cukup besar dari Terlapor I dalam setiap
pembelian barang;----------------------------------------------------------------------
1.5.2. Bahwa selain mendapatkan potongan harga dan surat dukungan, kedua
Terlapor pernah saling meminjamkan perusahaan untuk mengikuti tender;---
1.5.3. Bahwa Terlapor II mengetahui tender dari tenaga pemasaran lepas Terlapor I
dan Terlapor II membayar kepada tenaga pemasaran tersebut fee sebesar
Rp. 2.700.000,- (dua juta tujuh ratus ribu rupiah);---------------------------------
1.5.4. Bahwa Terlapor II dalam mengikuti tender menekan tingkat keuntungan
dengan tujuan untuk memperoleh pengalaman pekerjaan sehingga
meningkatkan kemampuan dasar (KD) Terlapor II; -------------------------------
1.5.5. Bahwa Terlapor II dalam tender ini hanya memperoleh keuntungan sekitar
Rp. 26.000.000,- (dua puluh enam juta rupiah); -----------------------------------
1.5.6. Bahwa Terlapor I dalam pembelaan tertulisnya menyatakan: -------------------
1.5.6.1. Terlapor I terkejut mengapa Terlapor II berani menurunkan harga
dengan mengurangi margin atau keuntungan yang sebenarnya juga
menjadi hak penuh Terlapor II sendiri;-----------------------------------

32
SALINAN

1.5.6.2. Kondisi penawaran Terlapor II lebih murah dari Terlapor I


merupakan perhitungan dan keputusan Terlapor II yang jitu dan
tepat serta murni keputusan bisnis; ---------------------------------------
1.5.7. Bahwa Terlapor II dalam pembelaan tertulisnya menyatakan:-------------------
1.5.7.1. Terlapor II menyangkal keras tuduhan bahwa Terlapor II telah
melakukan persekongkolan vertikal maupun persekongkolan
horizontal sehingga dianggap melanggar Pasal 22 UU No. 5 Tahun
1999; --------------------------------------------------------------------------
1.5.7.2. Bahwa kedekatan Terlapor II dengan Terlapor I tidak semerta-
merta dapat disimpulkan telah terjadi persekongkolan untuk
memenangkan Terlapor II, karena hubungan bisnis yang saling
percaya adalah modal utama Terlapor II sebagai Trader. Jadi
dengan strategi peyusunan harga yang kompetitif, aspek
administrasi yang bagus serta dukungan teknis yang lengkap, tidak
ada gunanya dan tidak memungkinkan bagi Terlapor II untuk
melakukan persekongkolan dengan pihak-pihak lain, baik secara
vertikal maupun horizontal;------------------------------------------------
1.5.7.3. Terlapor I menggunakan perusahaan lain adalah tidak termasuk
dengan Terlapor II, karena Terlapor II tidak akan mengikuti tender
jika Terlapor II tahu Terlapor I sebagai prinsipal ikut bermain
sendiri, karena Terlapor II tidak ingin keikutsertaan menjadi suatu
yang sia-sia; ------------------------------------------------------------------
1.5.8. Bahwa Majelis Komisi menilai kedekatan Terlapor I dan Terlapor II dan
adanya fakta kedua Terlapor pernah saling meminjamkan perusahaan untuk
mengikuti tender membuktikan Terlapor I dan Terlapor II dapat mengatur
harga penawaran antara Terlapor I dan Terlapor II; -------------------------------
1.5.9. Bahwa Majelis Komisi menilai adanya fakta Terlapor II mengetahui tender
dari karyawan Terlapor I dan Terlapor II membayar karyawan Terlapor I
sebesar Rp. 2.700.000,- (dua juta tujuh ratus ribu rupiah) merupakan bukti
bahwa Terlapor II dan Terlapor I saling berkomunikasi untuk mengikuti
tender; -----------------------------------------------------------------------------------
1.5.10. Bahwa Majelis Komisi menilai adanya fakta Terlapor I menawarkan harga
lebih tinggi dari Terlapor II, sedangkan Terlapor I adalah agen tunggal alat
kesehatan merk Biologic merupakan bukti Terlapor I sengaja mengalah
kepada Terlapor II untuk memfasilitasi Terlapor II sebagai pendamping; -----
1.5.11. Bahwa Majelis Komisi menyimpulkan telah terdapat bukti yang cukup
persekongkolan antara Terlapor I dan Terlapor II untuk memenangkan
Terlapor I dalam tender perkara a quo; ---------------------------------------------
2. Menimbang bahwa Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 menyatakan
“Pelaku usaha dilarang bersekongkol dengan pihak lain untuk mengatur dan atau

33
menentukan pemenang tender sehingga dapat mengakibatkan terjadinya persaingan
usaha tidak sehat”; ---------------------------------------------------------------------------------
3. Menimbang bahwa untuk membuktikan terjadi atau tidak terjadinya pelanggaran Pasal
22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, maka Majelis Komisi mempertimbangkan
unsur-unsur dalam Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 sebagai berikut:------
3.1. Unsur Pelaku Usaha; ----------------------------------------------------------------------
3.1.1. Bahwa yang dimaksud pelaku usaha berdasarkan Pasal 1 angka 5
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah orang perorangan atau
badan usaha, baik yang berbentuk badan hukum atau bukan badan
hukum yang didirikan dan berkedudukan atau melakukan kegiatan dalam
wilayah hukum negara Republik Indonesia, baik sendiri maupun
bersama-sama melalui perjanjian, menyelenggarakan berbagai kegiatan
usaha dalam bidang ekonomi; ----------------------------------------------------
3.1.2. Bahwa pelaku usaha yang dimaksud dalam perkara ini adalah
Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, dan Terlapor IV, selaku peserta
Tender pengadaan alat kedokteran Polysomnograph di RS Duren Sawit
Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007; --------------
3.1.3. Bahwa dengan demikian, berdasarkan uraian pada butir 3.1.1 dan 3.1.2
Bagian Tentang Hukum, maka unsur pelaku usaha terpenuhi; --------------
3.2. Unsur Bersekongkol; ----------------------------------------------------------------------
3.2.1. Bahwa yang dimaksud dengan bersekongkol berdasarkan Pedoman Pasal
22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 adalah kerja sama yang
dilakukan oleh pelaku usaha dengan pihak lain atas inisiatif siapapun dan
dengan cara apapun dalam upaya memenangkan peserta tender tertentu;-
3.2.2. Bahwa berdasarkan Pedoman Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun
1999, persekongkolan dapat terjadi dalam 3 (tiga) bentuk, yaitu
persekongkolan horizontal, persekongkolan vertikal, dan gabungan dari
persekongkolan horizontal dan vertikal; -----------------------------------------
3.2.3. Bahwa yang dimaksud dengan persekongkolan horizontal adalah
persekongkolan yang terjadi antara pelaku usaha atau penyedia barang
dan jasa dengan sesama pelaku usaha atau penyedia barang dan jasa
pesaingnya; persekongkolan vertikal adalah persekongkolan yang terjadi
antara salah satu atau beberapa pelaku usaha atau penyedia barang dan
jasa dengan panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan
jasa atau pemilik atau pemberi pekerjaan, sedangkan gabungan
persekongkolan horizontal dan vertikal adalah persekongkolan antara
panitia tender atau panitia lelang atau pengguna barang dan jasa atau
pemilik atau pemberi pekerjaan dengan sesama pelaku usaha atau
penyedia barang dan jasa;----------------------------------------------------------

34
SALINAN

3.2.4. Persekongkolan horizontal; --------------------------------------------------------


3.2.4.1. Bahwa dalam perkara ini Majelis Komisi menyimpulkan
persekongkolan horizontal dilakukan oleh Terlapor I, Terlapor
II, Terlapor III, dan Terlapor IV untuk memenangkan Terlapor
II dalam tender perkara a quo sebagaimana dijelaskan pada
butir 1.4 dan 1.5 Bagian Tentang Hukum;---------------------------
3.2.4.2. Bahwa dengan demikian unsur persekongkolan horizontal
terpenuhi; ---------------------------------------------------------------
3.2.5. Persekongkolan vertikal------------------------------------------------------------
3.2.5.1. Bahwa dalam perkara ini Majelis Komisi menyimpulkan
Telapor V tidak terbukti melakukan persekongkolan vertikal
dalam tender perkara a quo sebagaimana dijelaskan pada butir
1.3 Bagian Tentang Hukum;-------------------------------------------
3.2.5.2. Bahwa dengan demikian unsur persekongkolan vertikal tidak
terpenuhi; ---------------------------------------------------------------
3.3. Unsur Pihak Lain;--------------------------------------------------------------------------
3.3.1. Bahwa berdasarkan Pedoman Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun
1999 yang dimaksud dengan pihak lain adalah para pihak (vertikal dan
horizontal) yang terlibat dalam proses tender yang melakukan
persekongkolan tender baik pelaku usaha sebagai peserta tender dan/atau
subjek hukum lainnya yang terkait dengan tender tersebut;-------------------
3.3.2. Bahwa Terlapor V adalah pihak lain yang mengadakan tender pengadaan
alat kedokteran Polysomnograph di RS Duren Sawit Dinas Kesehatan
Propinsi DKI Jakarta Tahun Anggaran 2007; -----------------------------------
3.3.3. Bahwa dengan demikian, unsur Pihak Lain terpenuhi; -----------------------
3.4. Unsur Mengatur dan/atau Menentukan Pemenang Tender; ----------------------
3.4.1. Bahwa yang dimaksud dengan mengatur dan/atau menentukan pemenang
tender berdasarkan Pedoman Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun
1999 adalah suatu perbuatan para pihak yang terlibat dalam proses tender
secara bersekongkol yang bertujuan untuk menyingkirkan pelaku usaha
lain sebagai pesaingnya dan atau untuk bertujuan memenangkan peserta
tender tertentu dengan berbagai cara; --------------------------------------------
3.4.2. Bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III dan Terlapor IV melakukan
persekongkolan horizontal untuk mengatur Terlapor II menjadi
pemenang tender dalam perkara a quo sebagaimana dijelaskan pada butir
1.4 dan 1.5 Bagian Tentang Hukum; ---------------------------------------------
3.4.3. Bahwa dengan demikian, unsur mengatur dan atau menentukan pemenang
tender terpenuhi; -------------------------------------------------------------------

35
3.5. Unsur Persaingan Usaha Tidak Sehat;-------------------------------------------------
3.5.1. Bahwa yang dimaksud dengan persaingan usaha tidak sehat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 1 angka 6 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999
adalah persaingan antara pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan
produksi dan/atau pemasaran barang dan atau jasa yang dilakukan dengan
cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha;
3.5.2. Bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III dan Terlapor IV telah
melakukan perbuatan tidak jujur dengan melakukan persekongkolan
tender; --------------------------------------------------------------------------------
3.5.3. Bahwa dengan demikian, unsur persaingan usaha tidak sehat terpenuhi; --
4. Menimbang bahwa sebagaimana tugas Komisi yang dimaksud dalam Pasal 35 huruf e
Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, Majelis Komisi merekomendasikan kepada
Komisi untuk memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah dan pihak
terkait, sebagai berikut: -----------------------------------------------------------------------------
4.1. Merekomendasikan kepada Direktur Rumah Sakit Duren Sawit Jakarta Timur
untuk memperhatikan proses pengadaan barang dan jasa selanjutnya agar
membuka kesempatan kepada semua merk dan tidak membatasi pada spesifikasi
alat kesehatan dan atau kedokteran pada merk-merk tertentu;
4.2. Merekomendasikan kepada Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta untuk lebih
meningkatkan kapasitas administratif di unit-unit kerja Dinas Kesehatan Propinsi
DKI guna mendukung pelaksanaan tender yang berazaskan persaingan usaha yang
sehat; -------------------------------------------------------------------------------------------
5. Menimbang bahwa perkara ini tidak dalam ruang lingkup sebagaimana yang
dikecualikan dalam Pasal 50 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999; -----------------------
6. Menimbang bahwa sebelum memutuskan, Majelis Komisi mempertimbangkan hal-hal
sebagai berikut: --------------------------------------------------------------------------------------
6.1. Hal-hal yang memberatkan: ----------------------------------------------------------------
6.1.1. Bahwa Terlapor I merupakan penggagas dalam persekongkolan horizontal di
tender pengadaan PSG Rumah Sakit Duren Sawit Propinsi DKI Jakarta
Tahun Anggaran 2007; ----------------------------------------------------------------
6.1.2. Bahwa Terlapor II pernah terbukti melanggar Pasal 22 Undang-Undang No.
5 Tahun 1999 berkaitan dengan Perkara No. 13/KPPU-L/2005 dan Perkara
06/KPPU-L/2007; ---------------------------------------------------------------------
6.2. Hal yang meringankan: ----------------------------------------------------------------------
6.2.1. Bahwa seluruh Terlapor bersifat kooperatif dan memberikan dokumen-
dokumen yang diperlukan selama proses Pemeriksaan dan Sidang
Majelis;-------------------------------------------------------------------------------

36
SALINAN

6.2.2. Bahwa Terlapor IV mengakui telah meminjamkan perusahaan kepada


Terlapor I dalam tender perkara a quo; ------------------------------------------
7. Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas, maka mengingat
Pasal 43 ayat (3) Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999, Majelis Komisi: -----------------

MEMUTUSKAN
1. Menyatakan Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, dan Terlapor IV terbukti
secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 Undang-undang Nomor 5
Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak
Sehat;----------------------------------------------------------------------------------------------
2. Menyatakan Terlapor V terbukti secara sah dan meyakinkan tidak melanggar
Pasal 22 Undang-undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek
Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; -------------------------------------------
3. Menghukum Terlapor I dengan denda sebesar Rp. 114.000.000,- (seratus empat
belas juta rupiah) yang disetorkan ke Kas Negara sebagai sebagai Setoran
Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen
Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan
Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan
Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);--------------------------------------
4. Menghukum Terlapor II dengan denda sebesar Rp. 144.000.000,- (seratus empat
puluh empat juta rupiah) yang disetorkan ke Kas Negara sebagai sebagai
Setoran Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha,
Departemen Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas
Persaingan Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755
(Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);---------------------
5. Menghukum Terlapor III dengan denda sebesar Rp. 30.000.000,- (tiga puluh
juta rupiah) yang disetorkan ke Kas Negara sebagai sebagai Setoran
Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen
Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan
Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan
Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);--------------------------------------
6. Menghukum Terlapor IV dengan denda sebesar Rp. 22.000.000,- (dua puluh dua
juta rupiah) yang disetorkan ke Kas Negara sebagai sebagai Setoran
Pendapatan Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha, Departemen
Perdagangan Sekretariat Jenderal Satuan Kerja Komisi Pengawas Persaingan
Usaha melalui bank Pemerintah dengan kode penerimaan 423755 (Pendapatan
Denda Pelanggaran di Bidang Persaingan Usaha);--------------------------------------

37
Demikian putusan ini ditetapkan melalui musyawarah dalam Sidang Majelis Komisi pada
hari Selasa, tanggal 13 Januari 2009 dan dibacakan di muka persidangan yang dinyatakan
terbuka untuk umum pada hari yang sama oleh Majelis Komisi yang terdiri dari Ir. M.
Nawir Messi, M.Sc., sebagai Ketua Majelis, Erwin Syahril, SH., dan Ir. Dedie S.
Martadisastra, S.E., M.M., masing-masing sebagai Anggota Majelis, dengan dibantu oleh
Aulia Alkausar, S.E., sebagai Panitera. ---------------------------------------------------------------

Ketua Majelis,

t.t.d

Ir. M. Nawir Messi,


M.Sc.
Anggota Majelis, Anggota Majelis,
t.t.d t.t.d.
Erwin Syahril, S.H. Ir. Dedie S. Martadisastra, S.E., M.M.

Panitera,

t.t.d.

Aulia Alkausar, S.E.

Untuk Salinan yang sah:


SEKRETARIAT KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA
Plt. Direktur Eksekutif,

Ny. R. Kurnia Sya’ranie

38