Anda di halaman 1dari 8
06/2008 Seri 8 Penjelasan Singkat (Backgrounder) Keamanan Nasional Keamanan Nasional
06/2008
Seri 8 Penjelasan Singkat (Backgrounder)
Keamanan Nasional
Keamanan
Nasional

Apa Yang Dimaksud Keamanan Nasional?

Keamanan Nasional (National Security) merujuk pada ke­ butuhan untuk memelihara dan mempertahankan eksistensi negara melalui kekuatan ekonomi, militer dan politik serta pengembangan diplomasi. Secara konvensional, tafsir konsep Keamanan Nasional menekankan kepada kemampuan pemerintah dalam melin­ dungi integritas teritorial negara dari ancaman yang datang dari luar dan dari dalam negara tersebut. Beberapa langkah yang penting untuk memastikan keamanan nasional :

• Penggunaan diplomasi untuk menggalang sekutu dan mengisolasi ancaman

• Penataan Angkatan Bersenjata yang efektif

• ImplementasI konsep pertahanan yang bersifat sipil dan kesiagaan dalam menghadapi situasi darurat, termasuk terorisme.

• MemastiKan daya dukung dan ketersediaan infrastruktur dalam negeri yang penting

• Penggunaan kekuatan intelijen untuk mendeteksi dan mengalahkan atau menghindari berbagai ancaman dan spionase, serta melindungi informasi rahasia

• Penggunaan kekuatan kontra­intelijen untuk Melindungi negara Setelah berakhirnya era Perang Dingin, perkembangan ilmu hubungan internasional melahirkan pandangan baru kon­ sep keamanan yang tidak hanya meliputi aspek militer dan pelibatan aktor keamanan semata­mata. Menurut para pakar Konsep keamanan non-konvensional ini memiliki definisi yang lebih fleksibel dan meliputi aspek non-militer dan meli­ batkan aktor­aktor non­insititusi pemerintah.

• Apa Yang Dimaksud Keamanan Nasional?

• Mengapa Konsep Keamanan Nasional Penting?

• Apakah Kemanan Nasional Hanya Berhubungan Dengan Militer?

• Apa Perbedaan Antara Konsep Keamanan Nasional dan Keamanan Insani (Human Security)?

• Keamanan Nasional Indonesia

• Bagaimana Pengaturan Penyelenggaraan Keamanan Nasional?

• Apa Tantangan Dalam Merumuskan Keamanan Nasional?

• Bagaimana Pengaturan Keamanan Nasional di Negara Lain?

• Apa Peran Masyarakat Sipil Dalam Mendorong Keamanan Nasional?

• Sumber dan Informasi Lebih Lanjut

1

2

2

2

3

3

5

6

6

7

Lebih Lanjut 1 2 2 2 3 3 5 6 6 7 Dokumen ini merupakan bagian
Lebih Lanjut 1 2 2 2 3 3 5 6 6 7 Dokumen ini merupakan bagian

Dokumen ini merupakan bagian dari 10 serial Penjelasan Singkat (Backgrounder) yang diterbitkan atas kerjasama IDSPS dan Rights & Democracy Kanada untuk menyediakan informasi isu­isu di bidang reformasi sektor keamanan bagi masyarakat sipil.

& Democracy Kanada untuk menyediakan informasi isu­isu di bidang reformasi sektor keamanan bagi masyarakat sipil.

Keamanan Nasional

Mengapa Konsep Keamanan Nasional Penting?

Sejak jatuhnya Uni Sovyet dan berakhirnya Perang Dingin serta munculnya isu-isu keamanan kontemporer seperti terorisme, maka konsep-konsep keamanan nasional klasik dengan serta merta berge- ser secara dramatik. Reformasi sektor keamanan dan manajemen sektor keamanan menjadi kebutuhan banyak negara dengan alasan dan landasan beragam. Beberapa negara bangkit dari rezim yang represif dan melaksanakan pembangunan paska konflik internal dan perang sipil. Sementara beberapa negara lain yang merupakan negara berkembang memiliki pemerintahan yang belum memberikan perhatian yang memadai terhadap keamanan nasionalnya.

Langkah-langkah untuk mengadopsi konsep dan menata keamanan nasional dalam menghadapi ancaman-ancaman di masyarakat terus menerus didiskusikan terutama di negara-negara demokratis. Topik diskusi itu terpusat pada skala dan peran dari otoritas negara dalam kaitannya dengan hak-hak sipil dan Hak Asasi Manusia (HAM). Kete- gangan muncul antara peran penjagaan negara (yang membatasi isu-isu sensitif seperti hak untuk menentukan nasib sendiri dan mengedepankan konsep kedaulatan) dan hak serta kekebebasan individu.

Konsep keamanan nasional menjadi penting untuk diperhatikan karena ia tidak bisa dilepaskan dari prinsip-prinsip tata pemerintah- an yang baik (good governance), aturan hukum (Rule of Law) dan pengawasan yang seimbang (check and balances). Penekanan ini penting mengingat bahwa kepentingan keamanan nasional bisa memunculkan ekses politik dan sosial yang tidak diharapkan pub- lik. Karenanya untuk tindakan-tindakan tertentu terkait kepentingan keamanan nasional seperti pengawasan terhadap kehidupan publik dan sensor media mensyaratkan satu keputusan politik yang bisa diterima publik secara konstitusional.

Sebagai contoh, di Amerika Serikat, kontroversi tentang USA Patriot Act (Undang-undang Keamanan Nasional Amerika yang diterbitkan terkait ancaman terorisme di Amerika) telah memunculkan dua per- tanyaan publik; atas nama kemananan nasional apakah hak-hak dan kebebasan individu dapat dibatasi, dan apakah pembatasan hak-hak dan kebebasan-kebebasan individu atas nama keamanan nasional dapat dibenarkan.

Apakah Kemanan Nasional Hanya Berhubungan Dengan Militer?

Tidak. Militer hanya salah satu dari aspek penting dalam konsep keamanan nasional. Keamanan na­ sional juga ditentukan oleh aktor dan aspek lain seperti politik, ekonomi, sosial dan lingkungan. Kelima aspek baik yang berkaitan dengan militer maupun non­militer, memiliki keterkaitan antara

satu dengan lainnya dan dapat diperinci pada ta­ taran peran di tingkat individu, nasional, regional dan internasional.

Perserikatan Bangsa­Bangsa (PBB) menekankan perubahan konsep dan fokus keamanan dari ke­ amanan yang menitikbeatkan kepada keamanan negara menjadi keamanan masyarakat, dari ke­ amanan melalui kekuatan militer menuju keamanan melalui pembangunan masyarakat, dari keamanan wilayah kepada keamanan manusia terkait jaminan keamanan, pangan, pekerjaan dan lingkungan.

Karenanya, keamanan nasional merupakan perwu­ judan konsep keamanan secara menyeluruh, yang memiliki empat dimensi: (1) dimensi pertahanan negara, (2) dimensi stabilitas dalam negeri, (3) di­ mensi ketertiban publik, dan (4) dimensi keamanan insani.

Secara teoritik empat dimensi keamanan ini, mendefinisikan keamanan nasional sebagai upaya politik pemerintah yang bertujuan untuk mencip­ takan kondisi aman bagi terselenggaranya peme­ rintahan dan kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga mampu meraih kepentingan nasional dari segala bentuk gangguan dan ancaman baik yang be­ rasal dari dalam maupun luar negeri.

Apa Perbedaan Antara Konsep Keamanan Nasional dan Keamanan Insani (Human Security)?

Sebagian analis keamanan memandang bahwa konsep keamanan nasional sudah usang dan tidak lagi bermanfaat bagi masyarakat internasional sejak munculnya sejumlah ancaman keamanan global saat ini (seperti terorisme dan pemanasan global) yang tidak mungkin dijawab dengan pendekatan yang militeristik.

Untuk merespon ini, sejumlah akademisi, Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) dan pengambil kebijakan telah merekomendasikan perlunya mengadopsi satu konsep yang berpusat pada keamanan manusia atau Keamanan Insani (Human Security). Konsep ini menekankan bahwa keamanan global akan dapat ditingkatkan dengan baik ketika setiap pemimpin negara menfokuskan kebijakannya pada penguran- gan kerawanan yang mengancam setiap individu merupakan jalan terbaik untuk meningkatkan keamanan nasional.

penguran- gan kerawanan yang mengancam setiap individu merupakan jalan terbaik untuk meningkatkan keamanan nasional.

Badan PBB untuk Program Pembangunan, UNDP (United Nations De- velopment Programme’s), dalam laporannya pada tahun 1994 menge- mukakan konsep human security dimengerti sebagai bebas dari keta- kutan (freedom from fear) dan bebas dari kebutuhan (freedom from want). Konsep ini meliputi; 1) Keamanan Ekonomi (economic secu- rity), 2) Keamanan Pangan (food security), 3) Keamanan Kesehatan (health security), 4) Keamanan Lingkungan (enviromental Security), 5) Keamanan Individu (personal security), 6) Keamanan Komunitas (community security), dan 7) Keamanan Politik (political security).

UNDP meringkas human security sebagai (1) keamanan dari anca- man krusial seperti kelaparan, penyakit dan represi, serta (2) per- lindungan dari gangguan yang menyakitkan dan/tiba-tiba dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan rumah tangga, pekerjaan atau komunitas.

Keamanan Nasional Indonesia

Dalam Lampiran poin 4, Peraturan Presiden (Perp­ pres) No. 7 Tahun 2008 Tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara, Keamanan Nasional Indonesia dirumuskan sebagai suatu rasa aman dan damai dari bangsa Indonesia dalam Wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Cakupan konsep ke­ amanan nasional Indonesia meliputi segala daya dan upaya untuk menjaga dan memelihara rasa aman dan damai bangsa Indonesia terdiri dari pertahanan negara, keamanan negara, keamanan publik dan ke­ amanan individu.

Kepentingan nasional Indonesia terdiri dari 3 (tiga) strata:

a. Mutlak, kelangsungan NKRI, berupa integritas teritorial, kedaulatan nasional, dan keselamatan bangsa Indonesia.

b. Penting, berupa demokrasi politik dan ekonomi, keserasian hubungan antar suku, agama, ras, dan golongan (SARA), penghormatan terhadap HAM, dan pembangunan yang berwawasan ling­ kungan hidup.

c. Pendukung; Keterlibatan Indonesia dalam men­ dukung dan mewujudkan perdamaian dunia dan ketertiban dunia.

Sementara dalam draft Rancangan Undang­undang Keamanan Nasional versi kelompok kerja (pokja) Departemen Pertahanan Januari 2007, disebutkan bahwa Keamanan Nasional Indonesia adalah:

Keamanan Nasional

1. fungsi pemerintahan yang diselenggarakan un­ tuk menjamin tegaknya kedaulatan dan keutuh­ an wilayah NKRI, terjaminnya keamanan dan kelangsungan hidup bangsa dan negara, perike­ hidupan rakyat, masyarakat dan pemerintah yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, dan

2. Kondisi keamanan yang berlaku dalam ruang lingkup sebagian atau seluruh wilayah NKRI.

Secara konstitusional, Keamanan Nasional dituju­ kan untuk mencapai Tujuan Nasional sebagaimana ditegaskan dalam pembukaan UUD 1945 bahwa; “…negara melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia.”

Untuk mencapai tujuan nasional di sektor keaman­ an, dikembangkan sistem keamanan nasional. Sa­ yangnya, menurut para analis, sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata) yang

masih dipakai sebagai satu­satunya sistem keaman­

an dan doktrin pertahanan bersifat statis dan per­

manen. Padahal Sishankamrata harus dinamis dan dapat memberikan ruang lingkup bagi negara untuk mengembangkan strategi, kebijakan dan kemam­ puan pertahanan negara yang memadai.

Pendekatan keamanan nasional tidak terfokus pada pendekatan keamanan negara, karena negara sebagai aktor keamanan tidak hanya memperhatikan issue keamanan tradisional yang mengancam kedaulatan politik dan teritorial, tapi juga isu keamanan yang bersifat non­konvensional yang mengancam kehidu­ pan warga negara.

Bagaimana Pengaturan Penyelenggaraan Keamanan Nasional?

Di Indonesia, munculnya usulan RUU Keamanan Na­

sional tidak lepas dari adanya kelemahan yang masih

timbul dari berbagai perangkat perundang­undangan yang lahir pasca pemisahan TNI­Polri. Baik UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Polri, UU No. 3 Tahun 2002 Ten­ tang Pertahanan Negara, maupun UU No. 34 Tahun

Baik UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Polri, UU No. 3 Tahun 2002 Ten­ tang Pertahanan

Keamanan Nasional

2004 Tentang TNI, ternyata memunculkan masalah yang berupa tidak adanya ruang bagi koordinasi dan sinergi operasional di lapangan.

Kebutuhan legislasi dalam kebijakan keamanan ini di­ perlukan untuk mengatur dan penyelenggaraan ke­ amanan nasional secara demokratis, komprehensif dan terkoordinasi. Kebijakan itu juga menjadi landasan hu­ kum untuk mengatur keterlibatan berbagai institusi, ba­ tas kewenangan antar institusi yang terlibat dan sumber daya yang digunakan.

Gagasan keamanan nasional sebelumnya telah dituang­ kan dalam RUU Pertahanan dan Keamanan Negara. Dalam RUU ini Kelompok Kerja Reformasi Sektor Ke­ amanan mengemukakan Pertimbanagn Strategi Politik dan Legal dalam penyusunan kebijakan keamanan.

Tiga Pertimbangan Kebutuhan UU Pertahanan dan Keamanan Negara

Pertimbangan Strategi; berkaitan dengan pemahaman dan prak- tek yang menempatkan pertahanan dan keamanan negara sebagai suatu konsep yang merangkum berbagai subjek, dimensi ancaman, serta sumber daya; tidak semata-mata berdimensi tunggal yang ber- pusat kepada negara. Konsekuensinya, pemahaman atas konsep pertahanan dan keamanan negara perlu diperluas untuk menjang- kau bukan hanya keamanan sebuah negara sebagai entitas politik yang sah berdaulat tetapi juga keamanan insani (human security)

Pertimbangan Politik; dari sisi politik, perumusan perundang- undangan Pertahanan dan Keamanan Negara merupakan kebu- tuhan yang mendesak untuk mengatur kembali peran dan posisi institusi yang bertanggungjawab untuk mewujudkan pertahanan dan keamanan negara. Dalam sistem demokrasi, pertahanan dan keamanan negara tidak lagi semata-mata menjadi wilayah kekua- saan negara secara eksklusif, tapi menjadi wilayah bersama yang melibatkan aktor yang lebih luas. Karenanya, perlu ada pengaturan tentang pertahanan dan keamanan negara yang mencerminkan ke- pentingan aktor yang lebih luas.

Pertimbangan Legal; Undang-undang Pertahanan dan Keamanan Negara dibutuhkan untuk: 1) mengoperasionalkan ketentuan UUD 1945 Pasal 30, 2) mengisi sebagian kekosongan hukum di bidang keamanan nasional dan sekaligus menggantikan UU No 3 Tahun 2002 Tentang Pertahanan Negara, dan 3) Menutup ketidakkonsisten- an dan sekaligus menyelaraskan regulasi-regulasi yang menyang- kut pertahanan dan keamanan.

Secara teoritik, pengaturan kelembagaan dan hubung­ an kelembagaan dalam keamanan nasional negara de­ mokrasi meliputi:

1. Upaya mewujudkan keamanan nasional harus di­ dasarkan kepada prinsip demokrasi. Prinsip ini mencakup supremasi sipil, transparansi dan akun­ tabilitas

2. Upaya mewujudkan keamanan nasional harus di­ dasarkan kepada penghormatan kepada hak­hak sipil, dan

3. Penggunaan kekerasan merupakan pilihan terakhir.

Prinsip ini mengharuskan adanya mekanisme un­ tuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh in­ stitusi­institusi pelaksana. Meski proses reformasi dan demokratisasi telah berjalan selama kurun waktu 10 tahun, format dan pemahanan tentangkeamanannasionalbelumditemukan.Kelemah­

annya antara lain disebabkan oleh adanya perdebatan mengenai penataan keamanan nasional yang tidak ha­ nya berkisar pada persoalan teknis operasional menge­ nai Pengaturan, Pengelolaan dan Pengimplemnetasian, melainkan masih bertumpu pada paradigma dan kon­ sep keamanan nasional itu sendiri. Penyelenggaraan ke­ amanan nasional secara konseptual harus didasarkan atas prinsip­prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance).

Prinsip-prinsip Good Governance Dalam Penyelenggaraan Keamanan Nasional

1. Aktor keamanan haruslah akuntabel dan operasi mereka harus di- awasi oleh otoritas sipil dan berbagai organisasi masyarakat sipil.

2. Operasi aktor keamanan harus sejalan dengan sistem hukum nasi- onal dan internasional.

3. Ketersediaan semua informasi mengenai perencanaan, pengangga- ran dan operasi para aktor keamanan yang dapat diakses oleh publik secara luas serta pengadopsian sebuah pendekatan yang kompre- hensif dan disiplin atas semua sumber daya yang ada.

4. Badan legislatif dan eksekutif harus mempunyai kapasitas untuk melakukan kontrol politik terhadap berbagai kebijakan, pengang- garan dan operasi para aktor di bidang keamanan. Sejalan dengan prinsip ini, masyarakat sipil juga harus mempunyai kapasitas untuk mengawasi dan berpartisipasi secara konstruktif kebijakan, pengang- garan dan operasi aktor keamanan

5. Hubungan sipil-militer harus didasarkan pada hierarki yang jelas dan penghormatan terhadap Hak Asasi Manusia.

6. Kesetaraan individu harus dijamin di depan hukum maupun dalam proses hukum berdasar tata cara yang adil dan transparan.

Pimpinan Redaksi/Penanggung jawab: Mufti Makaarim A ·

Suryono, Zainul Maarif, Rosita NW · Sekretaris Redaksi: Meirani Budiman · Distribusi: Heri Kuswanto · Konsultan: S.Yunanto

Pelaksana: Jarot

Koordinator: Hamdani ·

Meirani Budiman · Distribusi: Heri Kuswanto · Konsultan: S.Yunanto Pelaksana: Jarot Koordinator: Hamdani ·

Keamanan Nasional

Apa Tantangan Dalam Merumuskan Keamanan Nasional?

Penyelenggaraan keamanan nasional saat ini mengalami berbagai hambatan dan tantangan diantaranya terkait dengan perumusan legislasi, sebagaimana diuraikan dalam table di bawah ini.

Substansi

Identifikasi Masalah

Sistem

1. Tidak adanya rujukan utama untuk mendefinisikan keamanan nasional

Keamanan Nasional

2. Tidak adanya rujukan utama untuk membedah anatomi sistem nasional

3. Kerangka kerja yang ada, misalnya tentang ketahanan nasional dan wawasan nusantara, tidak lagi dipandang sebagai kerangka utama yang relevan untuk mengembangkan sistem keamanan nasional

Dimensi

4. Ragam interpretasi konsep pertahanan-keamanan

KeamananNasional

5. Pemisahan konsep pertahanan dan keamanan yang tertera dalam TAP MPR serta UUD 1945 justru memperluas ragam interpretasi konseptual

6. Peletakan konsep keamanan sebagai konsep multidimensi tidak disertai pemahaman ber- sama tentang sebaran dimensi keamanan nasional

7. Muncul berbagai terminologi keamanan yang bersumber dari rujukan yang berbeda-beda, seperti keamanan negara, kemanan dalam negeri dan kamtibmas.

8. Tidak adanya paragdima yang konsisten untuk mengelaborasi dimensi keamanan nasional; perspekstif realisme tentang penguatan negara yang digabungkan dengan berbagai perspektif seperti human security sebagai kerangka untuk memetakan masalah keamanan nasional.

Aktor

9. Kesepakatan tentang tidak adanya aktor tunggal dalam sistem keamanan tidak adanya mekanisme baku di tingkat nasional yang mengatur diferensiasi serta spesifikasi fungsi antar aktor.

10. Belum ada rujukan tunggal tentang penetapan variasi jenis aktor keamanan nasional.

KeamananNasional

11. Keragaman alternatif untuk membentuk mekanisme koordinasi tunggal di tingkat nasional, yaitu:Menko Polhukam, Wanhankamnas, atau DKN.

12. Keragaman mekanisme koordinasi spesifik di masing-masing dimensi operasional kemanan nasional, seperti Dewan Pertahanan Negara, Komisi Kepolisian, BIN (sebagai koordinator komunitas intelijen, Komunitas intelijen Daerah (Depdagri), BNN, dan beragam “desk penang- gulangan masalah” di kantor Menko Polhukam, keterkaitan beragam mekanisme koordinasi ini dengan pembentukan sistem keamanan nasional yang belum jelas.

Kebijakan

13. Tidak adanya hirarki kebijakan keamanan yang jelas

KeamananNasional

14. Tidak adanya regulasi yang mengharuskan pemerintah menyusun pedoman kebijakan ke- amanan nasional yang dapat dipergunakan oleh instansi kemanan nasional untuk merumus- kan strategi-strategi operasionalnya; presiden tidak mempunyai JAKUM KAMNAS

15. Kebijakan-kebijakan yang disusun bersifat sektoral dan parsial serhingga tidak muncul suatu kebijakan keamanan nasional yang integratif dan komprehensif.

Akuntabilitas

16. Tidak adanya standar nasional tentang pemisahan akuntabilitas politik dan operasional insti- tusi keamanan.

Politik-Operasional

17. Ketiadaan pemisahan tersebut menyebabkan pejabat pemegang akuntabilitas operasional masih dilibatkan dalam proses-proses politik perumusan dan pengawasan kebijakan sektoral keamanan nasional.

Pelibatan

18. Adanya tumpang-tindih kewenangan antar aktor keamanan nasional yang disebabkan oleh ketidak-jelasan tanggung-jawab serta spesialisasi fungsi, kemunculan area abu-abu dan/atau pendelegasian kewenangan satu tugas kemanan nasional ke beragam aktor.

19. Tidak adanya mekanisme dan prosedur baku yang dapat dijadikan rujukan untuk mengerah- kan kekuatan kemanan nasional

Aktor Keamanan

20. Legitimasi politik untuk pengerahan kekuatan keamanan nasional rendah karena tidak rinci- nya peran DPR dalam keputusan politik yang berkenaan dengan pengerahan.

keamanan nasional rendah karena tidak rinci- nya peran DPR dalam keputusan politik yang berkenaan dengan pengerahan.

Keamanan Nasional

Bagaimana Pengaturan Keamanan Nasional di Negara Lain?

Sistem Pertahanan dan Keamanan di Turki

Reformasi sektor keamanan (RSK) di Turki dipi­ cu oleh faktor eksternal dan faktor internal yang mengerucut pada satu muara, yaitu keseimbangan kedudukan sipil dan militer atau lebih tepatnya kontrol objektif sipil atas militer.

Seiring dengan keinginan Turki bergabung dengan Uni Eropa, negara­negara Eropa mensyaratkan pembentukan sektor keamanan yang demokra­ tis, akuntabel, transparan, terintegrasi dengan ke­ amanan insani (human security) dan terawasi serta terkontrol secara objektif oleh pemerintahan dan masyarakat sipil. Ketentuan ini menjadi persyaratan faktor eksternal yang mendorong RSK di Turki.

Secara internal, RSK di Turki dipacu oleh fenome­ na militer yang mendominasi kehidupan berbangsa dan bernegara seluruh rakyat Turki. Peran sebagai “pengawal bahkan pengontrol” bangsa dan negara (guardian role) dimainkan oleh tentara Turki selama bertahun­tahun karenanya masyarakat sipil Turki menuntut dihapuskannya sistem tersebut. Atas dasar kedua faktor tersebut, maka RSK Turki diprioritaskan pada upaya (1) mengkondisikan kon­ trol sipil terhadap militer demi mencapai akuntabili­ tas militer, (2) meredefinisi konsep “ancaman” yang selama ini ditetapkan dan ditafsirkan secara sepihak oleh tentara, (4) memberdayakan kemampuan sipil di dalam isu strategi pertahanan dan keamanan agar dapat mengawasi aktor­aktor keamanan dengan baik, dan (5) mempromosikan bentuk kerjasama yang efektif dan sehat antara sipil dan aktor­aktor ke­ amanan demi mereduksi konflik di kemudian hari.

Dalam ketidakseimbang kedudukan sipil dan mili­ ter di Turki, RSK ditujukan untuk menyeimbang­ kan kedua belah pihak baik secara langsung (direct approach) maupun tidak langsung (indirect approach).

Pendekatan tidak langsung ditujukan kepada pe­ nguatan masyarakat sipil, akademisi dan media massa agar dapat memberikan masukan dalam isu­ isu pertahanan­keamanan dan dapat mengawasi sektor keamanan dengan efektif. Untuk mencapai tujuan itu, pemerintahan Turki mengamandemen konstitusinya secara komprehensif pada Oktober 2001 dan mereformasi produk­produk hukumnya

pada Februari 2002, Agustus 2002, Juni 2003 dan Mei 2004. Amandemen tersebut fokusnya pada pembelaan terhadap hak­hak asasi manusia dan ke­ bebasan serta membawa Turki sesuai dengan per­ syaratan Uni Eropa.

Pendekatan langsung untuk mereformasi sistem keamanan Turki ditargetkan pada dua hal: Pertama, perubahan konsepsi dan formulasi kebijakan ke­ amanan nasional ke arah yang lebih lebih adaptif terhadap masukan dari pihak sipil. Kedua, meng­ hilangkan “pengetahuan yang asimetris” antara sipil dan militer tentang keamanan, pertahanan dan strategi.

Target pertama dicapai pada 7 Agustus 2003 de­ ngan disahkannya Paket Demokrasi Agustus 2003 (August 2003 Democratic Package). Paket tersebut mempunyai tiga sasaran: (1) mengharmonisasikan produk hukum Turki dengan persyaratan menjadi anggota Uni Eropa, (2) menghentikan pengaruh militer di ranah politik, dan (3) menguatkan legiti­ masi perspektif sipil di sektor keamanan. Sedang­ kan target kedua diraih dengan mendemokratisasi “rahasia” di sekitar isu­isu pertahanan dan keaman­

an dan menciptakan kondisi yang kondusif bagi

pengetahuan khusus tentang institusi dan kebijakan sektor keamanan. Organisasi Masyarakat Sipil, sep­ erti The Turkish Econonomic and Social Studies Foun- dation (TESEV) berupaya keras mengejawantahkan target kedua tersebut dengan mengadakan peneli­ tian, pengawasan dan aktivitas lainnya dengan tu­ juan penguatan kemampuan parlemen di bidang pertahanan dan keamanan.

Di samping memperhatikan kondisi ketidakseim­

bangan sipil­militer, Organisasi Masyarakat Turki pun mengamati relasi antara kondisi pertahanan­ keamanan kontemporer dan kebutuhan masyarakat. Mereka memandang bahwa dewasa ini mayoritas konflik terjadi dalam satu negara (intra), bukan an­ tar negara (inter). Pada umumnya masyarakat umum lebih memperhatikan kondisi keamanan sehari­hari ketimbang keamanan negara dalam sekala besar. Oleh karena itu, RSK Turki pun lebih difokuskan pada penguatan kapasitas institusi penegak hukum non­militer, misalnya polisi.

Apa Peran Masyarakat Sipil Dalam Mendorong Keamanan Nasional?

Seiring dengan perkembangan pemahaman konsep keamanan nasi- onal, organisasi masyarakat sipil membentuk kelompok kerja (Pokja)

dengan perkembangan pemahaman konsep keamanan nasi- onal, organisasi masyarakat sipil membentuk kelompok kerja (Pokja)

Keamanan Nasional

untuk mendorong masuknya gagasan keamanan nasional dalam kerangka legislasi. Kelompok Kerja ini terdiri dari berbagai Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) yang mempunyai concern yang sama terhadap issue Keamanan Nasional.

Sejauh ini berbagai upaya telah dilakukan oleh kalangan OMS untuk mendorong reformasi sistem keamanan nasional. Terkait draft RUU Kamnas yang dinilai hanya memenuhi kepentingan politik TNI saja dan kurang mengakomodir peran Polri, Propatria Institute sebagai leading institution dalam issue RUU Kamnas meminta agar perdebatan draft RUU Kamnas diarahkan kepada penciptaan sistem keamanan nasional (siskamnas) yang efektif dalam suatu sistem yang demokratis.

Proses advokasi yang telah dilakukan oleh Propatria Institute dan Ke- lompok Kerja dalam proses reformasi RUU Kamnas diantaranya:

Pemahaman tersebut menyangkut tiga aspek : Pertama berkaitan den- gan perkembangan pemahaman dan praktek yang menempatkan per- tahanan dan keamanan negara sebagai konsep yang merangkum ber- bagai subyek, dimensi ancaman, sumber daya, dan tidak semata-mata berdimensi tunggal yang berpusat pada negara; Kedua, dipandang dari sudut politik, perumusan suatu UU merupakan kebutuhan mendesak untuk mengatur kembali peran dan posisi institusi-institusi yang bertang- gungjawab mewujudkan pertahanan dan keamanan Negara; dan ketiga mempertimbangkan kebutuhan kerangka legal yang jelas, yang menga- tur kedua aspek di atas.

FGD, seminar, dan diskusi publik untuk memperkuat wacana RUU Kamnas;

• Melakukan studi terkait isu-isu dan formulasi RUU Kamnas;

• Melakukan loby dan membangun hubungan dengan pemerintah (Dephan);

Kelompok Kerja yang difasilitasi oleh Propatria tersebut terdiri dari se- jumlah akademisi dan kalangan intelektual dari berbagai universitas, Pusat Kajian dan LSM, diantaranya Komisi untuk Orang Hilang dan Ko- rban Tindak Kekerasan (Kontras), Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Imparsial, Indonesian Corruption Watch (ICW), dan Human Right Work- ing Group (HRWG). Mereka bersama-sama memberikan dukungan dan perhatian terhadap pengaturan ulang kerja-kerja aktor keamanan men- jadi lebih terintegrasi di bawah satu payung hukum yang komprehensif dengan memberikan advokasi dan dorongan terhadap RUU Keamanan Nasional (Kamnas) yang masih banyak diperdebatkan.

RUU Keamanan Nasional (Kamnas) yang diajukan oleh pemerintah tampaknya banyak menuai kritik dari berbagai kalangan terutama kalan- gan OMS, karena pasal-pasal RUU Kamnas yang mengatur penetapan status keadaan darurat, baik darurat sipil maupun militer, mengacu pada UU Keadaan Bahaya lama.

• Membangun jaringan dengan kelompok media dan kelompok OMS lain;

• Melakukan konferensi pers sebagai upaya sosialisasi ke publik;

• Menerbitkan buku-buku dan konsep RUU Kamnas alternatif untuk kebutuhan pemerintah dan publik.

Tampaknya proses advokasi dan kampanye RUU Kamnas ini agak tersendat karena adanya perbedaan pandangan antara kelompok yang pro kebutuhan normatif regulasi Kamnas dengan komunitas OMS yang merasa terancam dengan keberadaan rancangan legislasi tersebut. Akan tetapi peluang untuk terus mendorong advokasi RUU Kamnas tetap terbuka luas mengingat kuatnya dukungan berbagai kalangan, di- antaranya anggota DPR, OMS, kalangan akademisi, bahkan dukungan dari Menhan Juwono Sudarsono dan Kapolri Jend (Pol.) Sutanto untuk membuat ulang naskah RUU Kamnas.

Beberapa rekomendasi masyarakat sipil terkait kebijakan keamanan na- sional antara lain:

Produk hukum ini dinilai mengesankan TNI sentris, karenanya OMS yang concern pada isu reformasi sektor keamanan tersebut, seperti YLBHI, Kontras, serta Elsam, bahkan mendesak pemerintah untuk me- lupakan dan tidak melanjutkan ide penyusunan RUU Kamnas. Pemerin- tah sebaliknya disarankan mengambil langkah lain yang lebih tepat yaitu mengurusi proses legislasi tiga RUU lain, yaitu RUU Peradilan Militer,

UU Nomor 23/Prp/1959 tentang Keadaan Bahaya yang dinilai warisan rezim pemerintahan lalu, dan RUU Perbantuan TNI.

Kritik lain juga datang dari CSIS yang menilai bahwa pemerintah, khusus- nya Presiden SBY, tidak mempunyai sikap yang jelas terhadap tujuan dan konsep disusunnya RUU Keamanan Nasional. Sedangkan Kelompok Kerja Reformasi Sektor Keamanan Propatria Institute berpendapat bahwa aturan kamnas tetap diperlukan sepanjang penekanannya pada penuntasan agen- da reformasi keamanan dan penuntasan koordinasi antara TNI dan Polri.

1. Penyempurnaan redaksional Pasal 30 UUD 1945 sehingga tidak mengaburkan pengaturan sistem keamanan nasional (negara), sistem keamanan umum dan sistem penegakan hukum; tidak dija- dikan satu di bawah Sishankamrata.

2. Perlunya rujukan yang jelas tentang definisi kemanan nasional. Pe- misahan pertahanan dan keamanan dalam TAP MPR VI dan VII yang telah menyebabkan terjadi kekaburan pendefinisian fungsi dan tugas TNI dan Polri dalam mewujudkan keamanan nasional.

3. Adanya satu lembaga Kordinator alternatif untuk menyatukan ber- bagai bentuk mekanisme koordinasi sebagai wadah tunggal ke- amanan nasional di tingkat nasional,. Melalui pembentukan Dewan Keamanan Nasional

4. Memperkuat peran dan fungsi DPR dalam setiap keputusan poli- tik dalam melibatkan dan mengerahkan lembaga keamanan dan pertahanan.

Sumber

Ümit Cizre, Prime Movers, Specific Features and Challenges of Se- curity Sector Reform in a “Guardian State”: The Case of Turkey, (Geneva: DCAF, 2007).

• Mufti Makaarim & S Yunanto (eds.), Efektivitas Strategi Organisasi Masyarakat Sipil Dalam Advokasi Reformasi Sektor Keamanan di Indonesia 1998 – 2006, IDSPS, 2008

Anak Agung Banyu Perwita (eds), Mencari Format Komprehensif Sistem Pertahanan dan Keamanan Negara, 2006, Propatria

• T. Hari Prihartono (eds), Keamanan Nasional: Kebutuhan Memba-

ngun Perspektif Integratif Versus Pembiaran Politik dan Kebijakan.

• Kusnanto Anggoro dan A.A Banyu Perwita (eds), Rekam Jejak Pro- ses ‘SSR di Indonesia 2005-2005, 2006, Propatria

Info Lebih Lanjut

• http://en.wikipedia.org/wiki/National_security

Rizal Sukma, Konsep Keamanan Nasional, CSIS, Jakarta FGD ProPatria, Jakarta 28 November 2002

• Tujuh Substansi Kerangka Sistemik Keamanan Nasional, Kelom- pok Kerja Indonesia untuk Reformasi Sktor Keamanan, Propatria

Substansi Kerangka Sistemik Keamanan Nasional, Kelom- pok Kerja Indonesia untuk Reformasi Sktor Keamanan, Propatria

Keamanan Nasional Sekretariat : Jl. Teluk Peleng B­32, Komplek TNI AL Rawa Bambu Pasar Minggu
Keamanan Nasional
Sekretariat : Jl. Teluk Peleng B­32, Komplek TNI AL
Rawa Bambu Pasar Minggu Jakarta Selatan Indonesia 12520
Telp/Fax : 62­21­7804191
Website: http://www.idsps.org
Email : info@idsps.org.
Institute for Defense, Security and Peace Studies (IDSPS), didirikan pertengahan
tahun 2006 oleh beberapa aktivis dan akademisi yang memiliki perhatian terhadap advokasi Reformasi
Sektor Keamanan (Security Sectors Reform) dalam bingkai penguatan transisi demokrasi di Indonesia paska
1998. Lembaga ini bekerjasama dengan komunitas dan kelompok masyarakat sipil yang didedikasikan
bagi tumbuhnya satu pemerintahan dan negara yang demokratis serta berperannya masyarakat sipil dalam
berbagai kebijakan dan pendekatan di sektor keamanan.
IDSPS melakukan kajian kebijakan pertahanan-keamanan, resolusi konflik dan hak asasi manusia (policy re-
search); Mengembangkan dialog antara berbagai stake holders (masyarakat sipil, pemerintah, legislatif dan
institusi lainnya) terkait dengan kebijakan dan tema­tema di sektor keamanan; Serta melakukan advokasi
kebijakan dan tekanan kebijakan untuk mengakselerasi proses reformasi sektor keamanan, memperkuat
peran serta masyarakat sipil dan mendorong penyelesaian konflik dan pelanggaran hukum secara bermar­
tabat.
Backgrounder IDSPS
Topik 10 Serial Backgrounder
Sudah Tersedia
Bidang Reformasi Sektor Keamanan
Pemisahan dan Peran TNI – Polri
Penjelasan Singkat (Backgrounder) IDSPS meru­
pakan perkenalan singkat tentang isu­isu tata peme­
rintahan dan reformasi sektor keamanan. 10 serial
ini dirancang untuk digunakan oleh kalangan ma­
syarakat sipil. Redaksi Penjelasan Singkat (Back-
grounder) juga menerima saran dan kritik yang dapat
dialamatkan sekretariat IDSPS atau melalui email di
info@idsps.org.
Peran DPR dalam Reformasi Sektor
Keamanan
Kebebasan Informasi Dan Aktor Keamanan
Reformasi TNI
Reformasi Intelijen di Indonesia
Reformasi Kepolisian Republik Indonesia
Gender Mainstreaming di Kepolisian
Keamanan Nasional
Yang Akan Terbit
Editor 10 serial Penjelasan Singkat (Backgrounder)
ini adalah Mufti Makaarim A dan S. Yunanto. Buk­
let latar belakang juga tersedia dalam format Adobe
Acrobat pdf dan dapat diakses di www.idsps.org.
Bisnis Militer
Otonomi Daerah dan Aktor Keamanan
TELAH TERBIT !!!
Topik­topik Backgrounder lainnya juga disediakan
oleh Geneva Center for the Democrativc Control of Armed
Forces (DCAF) melalui www.dcaf.ch/publication/
backgrounder.cfm
Untuk mendapatkan hubungi IDSPS
via Meirani (021) 780 4191