Anda di halaman 1dari 14

Ê Ê

   




‘ Ê  
Kemiskinan seakan menjadi sebuah kata yang akrab di telinga bangsa
Indonesia. Dahulu, selalu dikatakan bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya
makmur, gemah ripah Loh Jinawi. Bahwa Indonesia memiliki kekayaan
sumber daya alam yang amat besar tidaklah salah, tetapi kekayaan
sumberdaya itu tidak dibarengi dengan kayanya kualitas dari sumberdaya
manusianya. Kita, sebagai bangsa Indonesia selama ini tidak tahu bagaimana
memanfaatkan sumberdaya dengan baik. Kemiskinan yang terjadi Indonesia
lebih mengacu kepada keadaan berupa kekurangan hal-hal yang berkaitan
terhadap pemenuhan kebutuhan yang bersifat primer, seperti sandang, pangan
dan papan. Masalah kemiskinan ini mempengaruhi banyak hal, pengangguran,
kriminalitas, dan yang tidak kalah penting kemiskinan berdampak pada
perampasan hak-hak anak. Bukan hal baru lagi jika kita melihat anak-anak
usia sekolah atau bahkan usia prasekolah harus berjuang hidup di jalan-jalan
protokol di Indonesia. Tidak jarang diantara anak-anak tersebut terpaksa putus
sekolah. Semua itu mereka lakukan atas alasan ekonomi, demi membantu
orang tua mereka. Hal ini sangatlah memprihatinkan, karena kemiskinan yang
menimpa anak-anak akan menyebabkan kerusakan jangka panjang terhadap
perkembangan anak-anak itu sendiri. Kemiskinan akan terus berlanjut ketika
mereka beranjak dewasa yang terjebak dalam mata rantai kemiskinan,
sehingga mereka tidak mampu memberikan yang terbaik bagi anak-anak
mereka, dan menyebabkan anak-anak mereka bernasib sama dengan mereka.

‘      
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka didapatkan rumusan
masalah sebagai berikut :
a.‘ Kemiskinan seperti apa yang terjadi di Indonesia dan apa yang
menyebabkan kemiskinan di Indonesia?

c
b.‘ Berapa besarkah pengaruh kemiskinan terhadap kehidupan anak usia dini
di Indonesia?
c.‘ Apa saja program-program yang dilakukan untuk menyelesaikan
permasalahan tersebut?

‘    


Tujuan dari tulisan ini adalah agar kita mengetahui apa saja dampak
yang ditimbulkan dari kemiskinan yang melanda Indonesia terhadap
kehidupan anak usia dini di Indonesia. Selain itu juga dapat dilihat dampak
negatif yang ditimbulkan pada pekerja anak usia dini.

‘    


Hasil penulisan ini diharapkan bermanfaat bagi pembaca agar
mengetahui seberapa besar pengaruh kemiskinan terhadap kehidupan anak di
Indonesia, terutama anak-anak di usia dini. Dan menimbulkan empati dari diri
kita semua, serta kesadaran yang bisa menggerakan kita untuk juga ikut
memikirkan masalah kemiskinan bangsa Indonesia.







Ê Ê
    


         
Sebagaimana diamatkan dalam Konvensi Hak-Hak Anak yang
diratifikasi oleh indonesia pada tahun 1990, anak mempunyai hak untuk
memperoleh pemeliharaan dan bantuan khusus karene ketidakmatangan
jasmani dan mentalnya. Anak sepaturtunya memiliki kesempatan untuk
belajar, bermain ,bersenang-senang dan secara perlahan memahami tentang
arti kehidupan. Keseluruhan hak-hak anak yang lindungi hukum itu akan
dapat berhasil una bagi kehidupan anak, apabila syarat-syarat berikut dapat
dipenuhi, faktor ekonomi sosial yang dapat menunjang keluarga anak, nilai
budaya yang memberi kesempatan kebebasan bagi pertumbuhan dan
solidaritas anggota masyarakat untuk meningkatkan kehidupan anak.
Dalam kenyataan, tidak semua anak memperoleh kesempatan untuk
mengembangkan dunianya secara wajar dan normal. Ada cukup banyak anak
yang terlahir miskin sudah harus berperan ganda pada role yang bukan
perannya. Ia harus mencari nafkah untuk keluarga dan diri sendiri. Sebagian
dari mereka telah memikul tanggung jawab diluar batas kemampuannya
sebagai akibat hidup yang dihadapi. Contoh kongkrit dari anakyang tidaak
mendapat hak-hak dasarnya adalah munculnya fenomena anak yang bekerja,
baik yang bekerja di sektor formal maupun informal. Sebagian besar
pekerjaan informal itu dilakukan dijalanan atau tempat-tempat umum. Waktu
yang mereka habiskan untuk mencari nafkah seringkali sangat panjang karena
persaingan diantara mereka sangat ketat.
Indonesia mengenal beberapa definisi anak, antara lain yang mengacu
pada konverensi hak anak yang telah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia
tahun 1990. Dimana anak didefinisikan sebagai manusia yang berusia di
bawah 18 tahun. Bagi anak-anak, jalanan bukanlah lingkungan yang baik
untuk pertumbuhan dan perkembangannya.karena lingkungan itu banyak
memberi pengaruh negatif daripada pengaruh positif, karena sebagian besar
jalanan dihuni oleh preman. Yang mengakibatkan maereka mengalami
penyiksaan fisik, kecelakaan lalu lintas, razia satuan polisi pamong praja,
korban kejahatan, terjerumus dalam dunia narkoba, dan konflik antar anak
jalanan yang mengakibatkan mereka terlibat dalam pelanggaran hukum.
Menurut survei DIA-YKAI (YKAI dan PACT,1994) anak yang
berada di jalanan mudah dipengaruhi berbagai hal buruk, seperti kecanduan
merokok, begadang, mabuk, dan lain-lain. Hal ini disebabkan anak belum
mempunyai ³self control´ untuk mencegah segala pengaruh buruk itu terlebih
tanpa adanya dampingan dan dorongan dari orangtua.

u
„ntuk memberikan perlindungan pada anak-anak tersebut, „ ICEF
(Irwanto, 1999)bahkan mengembangkan suatu kebijakan, di dalamnya
mereka menyusun 6 kategori kondisi sulit yang dapat nerugikan
perkembangan anak-anak sehingga membutuhkan suatu perlindungan khusus.
Kondisi yang diidentifikasi adalah : kondisi merugikan pada pekerja anak,
perang dan segala bentuk kekerasan yang terorganisir atau berskala luas,
eksploitasi, perlakuan salah secara seksual, kecacatan, kehilangan keluarga
atau pengasuh utama secara peramanen atau temporer, hokum yang kurang
menguntungkan dan atau perlakuan salah dalam proses hukum dan
pengadilan. Anak jalanan dapat masuk dalam beberapa konteks yaitu kondisi
merugikan pekerja anak, karena pada dasarnya mereka adalah anak-anak
yang bekerja, eksploitasi dan perlakuan salah secara seksual. Bisa saja anak
jalananitu mengalami satu kondisi, dua atau bahkan tiga kondisi sekaligus
tergantung pada situasi yang dialaminya.

  ! " #$     !       

Secara umum pemahaman yang berkembang di masyarakat mengenai anak


jalanan adalah anak-anak yang berada di jalanan untuk mencari nafkah, dan
menghabiskan waktu untuk bermain, tidak bersekolah, kadangkala ada pula yang
menambahkan bahwa mereka itu adalah anak-anak yang mengganggu ketertiban
umum dan melakukan tindak kriminal. Padahal jika diperjatikan populasi anak
jalanan itu tidaklah homogen, anak-anak yang bekerja di jalanan seringkali adalah
anak-anak yang masih punya orangtua dan bersekolah. Mereka berada di jalanan
karena berbagai sebab, anttara lain kondisi orangtua yang sangat miskin, ataupun
masalah psikososial lainnya seperti dipaksa orangtua, perilaku salah orangtua,
mencari pengalaman, dan sebagainya

  

Kemiskinan didefinisikan, menurut Piven dan Cloward (1993) Swanson


(2001) menunjukkan bahwa kemiskinan berhubungan dengan kekurangan materi,
rendahnya penghasilan, dan adanya kebutuhan sosial.
Kemiskinan merupakan masalah social yang bersifat global. Artinya
kemiskinan merupakan masalah yang dihadapi dan menjadi perhatian banyak
orang di dunia ini. Meskipun dalam tingkat yang berbeda, tidak ada satupun
egara di jagat raya ini yang ³kebal´ dari kemiskinan. Kemiskinan tidak hanya
dijumpai di Indonesia, India, Srilanka, dan Argentina saja, tetapi juga ditemukan
di Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Australia, maupun Hongaria. Semua egara
di dunia ini sepakat bahwa kemiskinan merupakan masalh kemanusiaan yang

Œ
menghambat kesejahteraan dan peradaban. Semua umat manusia di planet ini
setuju bahwa kemiskinan bisa dan harus ditanggulangi.















ü
Ê Ê
Ê     


 !!$ 
Sejak awal kemerdekaan, Indonesia mempunyai perhatian besar demi
terciptanya masyarakat adil dan makmur. Berbagai program pembangunan
telah dilakukan untuk memberantas kemiskinan sehingga terciptanya
kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian masalah kemiskinan hingga
saat ini masih menjadi masalah yang berkepanjangan. Terbukti dari tingginya
angka kemiskinan di Indonesia yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik
(BPS) pada tahun 1976 jumlah penduduk Indonesia yang masih hidup di
bawah garis kemiskinan adalah sebesar 54 juta (40 persen dari keseluruhan
penduduk Indonesia). („ ICEF, 1989).
Kemiskinan pada umumya disebabkan oleh dua hal utama yaitu: (i)
6     dan (ii)
    .     terjadi apabila
sebagian besar kelompk miskin termasuk angkatan kerja (     )
memperoleh upah yang tidak mencukupi kebutuhan dasar (sandang, pangan,
kesehatan, pendidikan) mereka. Adapun political failure terjadi apabila
struktur politik ekonomi yang ada telah menyebabkan distorsi dalam
penyampaian kepentingan kelompok miskin. Kombinasi keduanya akan lebih
memperparah keadaan dan lebih mempersempitruang gerak untuk mengatasi
masalah kemiskinan ini.´(Agus Pakpahan dkk dalam Hermanto dkk, 1995 :2)
Perhatian pemerintah terhadap masalah kemiskinan lebih besar lagi
setelah terjadinya krisis ekonomi pada tahun1997. amun usaha itu tidak
sepenuhnya berhasil, masih banyak kelurga-keluarga Indonesia yang hidup di
bawah garis kemiskinan. Bahkan pada tahun 2001, berdasarkan data yang
dikeluarakan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berencana asional
(BKKB ), persentase jumlah penduduk miskin di Indonesia meningkat
menjadi 52,07 persen, atau lebih dari separuh jumlah kelurga di Indonesia.
Angka kemiskinan sebenarnya tidak selalu meningkat, terkadang angka
kemiskinan di Indonesia terlihat menurun, contohnya pada tahun 2007

Î
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) DALAM Winsolu, 2008, terjadi
penurunan jumlah masyarakat miskin di Indonesia, dari 39,30 juta tahun 2006
menjadi 37,17 juta tahun 2007. Artinya, terjadi pengurangan 2,13 juta
penduduk miskin di Indonesia.(Winsolu, 2008). Penurunan tersebut dapat di
lihat pada tabel 3.1 berikut.
   ! ! !$ 
      ! !   
!$ % &
1996 34,02
1998 49,50
1999 47,97
2000 38,70
2001 37,90
2002 38,40
2003 37,30
2004 36,10
2005 35,10
2006 39,30
2007 37,17
2008 34,9
ë 6       ë  ë                 6
   
Apabila data yang dikeluarkan oleh BPS tersebut akurat, maka kita
perlu mengakui keberhasilan pemerintahan presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) saat ini. amun sejauh ini, keberhasilan tersebut hanya
terlihat dalam bentuk angka bukan fakta. Banyak pihak yang menyangsikan
kebenaran data tersebut. Hal ini dirasa wajar karena memang belum ada
argumen yang jelas tentang data tersebut. Selama ini angka penduduk miskin
di Indonesia dipengaruhi oleh kenaikan harga barang-barang pokok, kenaikan
upah pegawai atau meningkatnya pengangguran. Jika data tersebut merujuk


pada faktor diatas maka semestinya angka kemiskinanpun ikut meningkat,
karena menurut perhitungan yang juga dilakukan oleh BPS, ³Harga makanan
tercatat meningkat sekitar 14 persen (Maret 2006-Februari 2007). Sementara
pada saat sama, laju inflasi umum sebesar 7,87 persen. Maka, dengan logika
yang sama dengan tahun sebelumnya, angka kemiskinan penduduk
seharusnya juga meningkat atau setidaknya tetap, pada kurun 2006-2007.´
(Winsolu,2008)
Terlepas dari perdebatan mengenai keakuratan data tersebut, harus
diakui memang sampai saat ini masalah kemiskinan masih membayangi
bangsa ini.

  Ê!   !     #   


 
      ! !     
Lahir dan hidup menjadi miskin pasti bukan mimpi siapapun. amun,
pada kenyataannya status miskin hampir disandang oleh setengah penduduk
Indonesia. Berkaca pada keadaan yang terjadi saat ini dimana harga untuk
memenuhi kebutuhan hidup terus meningkat, hal ini diperparah dengan
sulitnya seseorang mendapat pekerjaan. Ironisnya tidak hanya orang dewasa
yang merasakan dampak dari kemiskinan ini, anak-anak pun ikut merasakan
dampak minimnya dalam hal pemenuhan kebutuhan dasar di keluarga
mereka. Kemiskinan yang melanda orang tua mereka akan berpengaruh besar
pada kehidupan mereka. Hak-hak mereka terampas. Mereka yang seharusnya
mendapatkan pendidikan layak dan masa kecil yang bahagia, terpaksa harus
berkorban demi satu alasan, ekonomi
  '  $#  $        !     
!
Sudah bukan hal baru lagi jika kita melihat di jalan-jalan kota besar
anak-anak usia sekolah atau bahkan prasekolah yang masih tergolong anak
usia dini bekerja demi bertahan hidup. Bahkan tidak sedikit diantara mereka
yang putus sekolah. Berdasarkan data yang dikeluarkan „nicef pada tahun
1995, jumlah anak dibawah lima tahun yang hidup diperkotaan sebesar lima


juta jiwa.(Sumardi,2000) Dari data tingkat pendidikan anak yang dikeluarkan
oleh Bapennas, tercatat 81 juta anak tidak bersekolah, bahkan yang lebih
memprihatinkan lagi 31, 5 juta anak di atas 9 tahun buta huruf. Menurut
Daliyo dkk (1999), persentase anak-anak yang bekerja pun semakin
meningkat dari tahun ke tahun.(tabel 3.2). Faktor utama yang menyebabkan
fenomena pada pekerja anak usia dini ini adalah ekonomi. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan di 12
kota besar pada 2003, ada 147 ribu anak jalanan dengan 60 persen dari
mereka sudah putus sekolah dan 40 persen masih bersekolah. Penelitian itu
juga mengungkapkan alasan ± alasan anak tersebut terjun ke jalanan. Tercatat
71 persen melakukan itu untuk membantu orang tua bekerja, 6 persen dipaksa
untuk membantu orang tua, dan 15 persen untuk memenuhi biaya pendidikan
mereka.
    #  ( Ê !$ 
egion / Sex Looking for Job
1980 1990 1995
Indonesia 0.3 0,9 1,4
„rban 0,2 0,9 1,0
Male 0,2 1,0 1,0
Female 0,2 0,7 1,1
ural 0,4 0,9 1,7
Male 0,4 1,0 1,5
Female 0,4 0,8 1,9
ë 6 ë  

         6    
!   "#  $""     #  $""  $6 
Ironis memang jika kita melihat pemaparan data tersebut. Disaat
seharusnya negara menjamin hak-hak anak yang tercantum dalam keputusan
dari konvensi PBB mengenai hak-hak anak pada tahun 1989 dimana
seharusnya mereka mendapat kehidupan yang layak, jauh dari kata
eksploitasi.

º
³Berdasarkan Konvensi PBB mengenai Hak-Hak Anak tahun 1989, ada
sejumlah hak anak yang seharusnya bisa dijamin dan dipenuhi oleh egara,
yakni setiap anak memiliki hak untuk dilahirkan, untuk memiliki nama dan
kewarganegaraan, untuk memiliki keluarga yang menyayangi dan
mengasihi, untuk hidup dalam komunitas yang aman, damai dan lingkungan
yang sehat untuk mendapatkan makanan yang cukup dan tubuh yang sehat
dan aktif, untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan mengembangkan
potensinya untuk diberikan kesempatan bermain waktu santai, untuk
dilindungi dari penyiksaan, eksploitasi, kekerasan dan dari bahaya. Mereka
juga berhak untuk dipertahankan dan diberikan bantuan oleh pemerintah dan
hak untuk bias mengekpresikan pendapat sendiri.´ (Abidin,2008)
     !     !      ! 
Kemiskinan pada pekerja anak usia dini berdampak negatif pada
kondisi fisik, mental dan intelektual mereka. „sia dini yang dimaksud disini
adalah golongan umur kurang dari lima tahun hingga 16 tahun.
Dampak negatif utama yang ditimbulkan adalah pada intelektual
mereka. Beberapa penelitian menyatakan bahwa tenaga kerja anak
umumnya tidak lagi sekolah atau bahkan tidak pernah sekolah dengan alasan
tidak mampu sehingga mereka harus mencari nafkah demi membantu
keluarga. Dikarenkan hal tersebut, anak yang bekerja memiliki tingkat
kecerdasan yang tergolong di bawah rata-rata dan terbelakang (IQ kurang
dari 70).
Walaupun tidak sepenuhnya berpengaruh, kemiskinan juga dapat
menyebabkan terlambatnya pertumbuhan fisik dan kemungkinan juga
mengalami penyalahgunaan fisik akibat tekanan yang dilakukan oleh orang
tuanya atau pihak-pihak lain yang memang sengaja ingin mengeksploitasi
mereka. Kerasnya hidup yang harus mereka jalani menyebabkan mereka
matang sebelum waktunya. Dampak negatif pada pertumbuhan fisiknya juga
berkaitan dengan kemiskinan yang mereka derita. Salah satu masalah yang
paling sering menimpa anak-anak dalam keluarga miskin adalah kekurangan
gizi. Bahkan tidak jarang kekurangan gizi ini beujung pada kematian.

c
Beban yang begitu besar diberikan pada mereka dalam usia yang
masih sangat muda juga sangat berpengaruh pada kondisi psikologi mereka.
Terkadang masalah tersebut membuat mereka menjadi rendah diri dalam
bergaul di lingkungan sosial mereka. Waktu yang mereka miliki untuk
bermain dan bersosialisasi dengan anak seusia merekapun berkurang karena
kewajiban baru yang mereka miliki, mencari nafkah.

  $ #$ Ê       #  !   


Sebetulnya sudah cukup banyak program-program yang dilakukukan
pemerintah untuk memutus mata rantai kemiskinan yang mengancam anak-
anak. Dua program itu adalah Program Keluarga Harapan (PKH) dan
pemberian dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).(Abidin)[10] Pada
PKH, rumah tangga miskin diberi uang tunai (sama dengan program BLT),
tapi dalam PKH ada persyaratan yang harus dipenuhi yaitu uang tunai
tersebut hanya diberikan jika anak-anak usia sekolah dalam keluarga
tersebut benar-benar masih bersekolah. Sasaran PKH cukup jelas, yaitu agar
anak-anak usia sekolah dari keluarga miskin terjamin haknya untuk
memperoleh pendidikan sampai sekolah menengah atas. Dengan pendidikan
yang memadai diharapkan dapat memutus mata rantai kemiskinan yang
terjadi pada orang tua dan keluarganya sehingga tidak berlanjut ke anak-
anak generasi berikutnya.
Berbeda dengan PKH yang bentuk bantuannya berupa uang tunai,
dana BOS adalah keringanan atau pembebasan total dari uang sekolah, uang
buku pelajaran dan sebagainya. Dengan dana BOS seharusnya sekolah-
sekolah negeri tingkat SD dan SLTP bisa menerapkan pendidikan gratis.
Selain BOS dan PKH, terdapat juga program-program lain seperti Gerakan
Orang Tua Asuh ( G OTA), dan masih banyak gerakan-gerakan lainnya
yang dilakukan baik oleh pemerintah atupun pihak-pihak diluar pemerintah.
Akan tetapi, program-program tersebut belum dapat berjalan sesuai
dengan yang diinginkan. Masih banyak penyimpangan-penyimpangan yang
terjadi dalam pelaksanaan program tersebut. Walaupun banyak

cc
penyimpangan yang terjadi, keberadaan program tersebut masih sangat
diharapkan oleh masyarakat untuk menanggulangi masalah kemiskinan di
Indonesia, sehingga juga dapat mengurangi bahkan menuntaskan jumlah
anak-anak yang putus sekolah demi mencari nafkah bagi keluarganya.




























c
Ê Ê)


  
Kemiskinan yang terjadi di Indonesia dilihat dari keadaan
masyarakatnya dalam memenuhi kebutuhan yang bersifat primer, seperti
sandang, pangan dan papan. Kebutuhan hidup yang semakin banyak, harga-
harga yang terus melonjak diperparah dengan sulitnya mendapat pekerjaan
dan upah yang didapatpun tidak sesuai dengan pekerjaan yang dilakukan
menjadi penyebab utama kemiskinan di Indonesia. Ironisnya, anak-anak pun
ikut merasakan dampak dari kemiskinan ini. Demi membantu memenuhi
nafkah keluarga, banyak anak-anak pada usia sekolah atau bahkan usia
prasekolah yang rela mengorbankan masa kecil mereka untuk bekerja.
Bahkan tidak jarang anak-anak tersebut terpaksa putus sekolah. Bekerja di
usia dini ini menimbulkan dampak negatif pada perkembangan fisik, mental,
dan intelektual mereka. „ntuk menaggulangi masalah tersebut maka
pemerintah dan beberapa pihak yang peduli terhadap masalah ini membuat
beberapa program seperti, PKH, BOS dan orang tua asuh.

   
Pemerintah terus berusaha untuk meningkatkan program PKH dan
BOS yang sudah ada. Adakan evaluasi pada program-program tersebut.
Selain itu program pengentasan kemiskinan berupa program-program yang
membuat masyarakat lebih produktif lagi, bukan hanya sekedar memberi
mereka bantuan-bantuan yang justru membuat mereka bergantung pada
pemerintah.

cu
     

Abi din Fadil. 31 Desember 1989. 6    %  &  . '''(


   )( 6*+(

,- à à ¦æÃ-29 Desember
2009.

Daliyo, et all. 1999.    & !    "  #   $""  


  &#  $""  $6 . Jakarta: PPT-LIPPI.

Martini, Titin dan Murniati Agustin.1999.    


 &   . 6 .
Jakarta: PKPM „nika Atma Jaya

Pemerintah epublik Indonesia-„nicef. 1989. . " 6  &   ë  & 
 /    . Indonesia: BAPPE AS.

Pusat Penelitian Sosisl Ekonomi Peranian. 1995. 6   :   


 &  ""  " ( Bogor : IPB

itonga Hamonangan. "


6   6 60 6   
 0  (http://www.kompas.com/kompascetak/0402/10/ekonomi/847
162.htmkal. 29 Desember 2009.

Suharto,Edi.2009. 6   " ë  1   "" " 
2 6   3  "  ( Bandung: Al Fabeta.

Suryabrata, Sumardi. 2005.   "  . Jakarta: PT aja Grafindo


Persada.

„nicef. 1988. . " 6 


    $ " &    .editor:
Simantjunta Melling. Jakarta: PDII-LIPI.

Winsolu. 15 Mei 2008.     2 6  6     .


http://winsolu.wordpress.com/2008/05/15/penurunan-jumlah-kemiskinan-di-
indonesia29 Desember 2009.