Anda di halaman 1dari 2

Dampak Volatilitas Nilai Tukar Rupiah terhadap

US Dolar pada Kinerja Perdagangan Indonesia

Oleh

Nanang Cundiana
Off B 10843141973

Volatilitas nilai tukar mata uang pada dasarnya mencerminkan fluktuasi (pergerakan)
kurs mata uang suatu negara terhadap mata uang negara lain. Pergerakan nilai mata uang
terjadi karena beberapa faktor eksternal yang ada seperti tingkat inflasi, tingkt suku bunga,
harga saham, ekspektasi masyarakat dan perilaku spekulan di pasar uang. Secara teoritis
pergerakan nilai mata uang tersebut dapat mempengaruhi perilaku pelaku ekonomi dalam
melakukan kegiatan perdagangan internasionalnya. Dalam hal ini apabila terjadi apresiasi
nilai tukar mata uang rupiah terhadap US$ akan berimplikasi pada semakin meningkatnya
daya beli atas barang impor. Sebaliknya, depresiasi rupiah terhadap US$ akan berimplikasi
pada semakin menurunnya daya beli atas barang impor.

Perubahan volatilitas nilai tukar uang juga dipengaruhi oleh sistem perekonomian
suatu negara apakah terbuka atau tertutup, apabila menganut sistem perekonomian terbuka
maka semakin tinggi volatilitas nilai tukar uang karena akan muncul pasar baru. Ketika pasar
yang lebih luas menjadi tujuan bisnis, maka stabilitas nilai tukar menjadi faktor pendukung
yang penting untuk diperhatikan. Salah satu ukuran dari risiko nilai tukar adalah volatilitas
nilai tukar. Semakin besar volatilitas nilai tukar, berarti semakin tidak stabil dan berisiko,
sehingga akan menghambat intervensi ke pasar luar negeri. Ketidakstabilan nilai tukar
menjadi banyak diperhatikan terutama dalam integrasi ekonomi, karena integrasi
perdagangan dipandang tidak lagi memadai untuk membendung arus globalisasi ekonomi
yang terjadi. Selain integrasi perdagangan, perbedaan mata uang yang digunakan setiap
negara juga menimbulkan volatilitas nilai tukar. Perubahan volatilitas berpengaruh ini
terhadap kegiatan perdagangan internasional, berkaitan dengan ekspor dan impor. Perbedaan
negara berkembang dan negara maju terletak pada sistem nilai tukar mata uangnya.
Umumnya negara berkembang menerapkan sistem nilai tukar tetap karena para eksportir
negara berkembang akan mampu memprediksikan kapasitas perdagangan yang akan
dilaksanakannya. Sedangkan dinegara maju menganut sistem nilai tukar mengambang
sehingga nilai perdagangan yang terjadi dapat mengalami perubahan secara fluktuatif.

Contoh : Pengaruh volatilitas nilai tukar


Krisis keuangan global ini sudah pasti akan sangat berdampak kepada ekspor Indonesia
ke negara-negara tujuan ekspor, bukan hanya ke AS. Selama 5 tahun terakhir ini, ekspor
Indonesia ke Amerika menempati urutan ke-2 setelah Jepang dengan kisaran masing-masing
12% – 15%. Selain itu, negara-negara importir produk Indonesia pada urutan ke-3 s.d. 10
(Singapura, RRC, India, Malaysia, Korsel, Belanda, Thailand, Taiwan) menyumbang sekitar
45% dari total ekspor Indonesia. Dari informasi tersebut, hampir dapat dipastikan bahwa
keseluruhan negara-negara tersebut sedang mengalami dampak krisis keuangan global yang
berakibat pada perlambatan ekonomi di setiap negara. Lebih lanjut hal ini akan
mengakibatkan penurunan kemampuan membeli atau bahkan membayar produk ekspor yang
dihasilkan Indonesia, sehingga pada akhirnya akan memukul industri yang berorientasi
ekspor di Indonesia Dampak yang tidak menguntungkan juga terjadi di sisi impor, karena
dengan melemahnya Rupiah, maka nilai impor akan melonjak yang selanjutnya akan
menyulitkan para importir untuk menyelesaikan transaksi impor. Dampak berikutnya adalah
melonjaknya harga-harga bahan yang berasal dari impor di pasar sehingga inflasi meningkat
dan daya beli masyarakat juga akan menurun. Hal ini selanjutnya mengakibatkan turunnya
daya serap masayrakat terhadap barang-barang impor sehingga pada akhirnya akan
mengakibatkan penurunan jumlah impor.

Kebutuhan untuk menjaga volatilitas nilai tukar merupakan faktor yang penting untuk
menunjang globalisasi bisnis Indonesia. Nilai tukar yang volatile akan membebani biaya
transaksi bisnis, dan akan menurunkan kemampuan bisnis berkompetisi di pasar
internasional. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menjaga volatilitas nilai tukar
adalah dengan menggunakan skema kerjasama nilai tukar, misalnya dengan menciptakan
mata uang bersama untuk negara ASEAN. Akan tetapi ada beberapa kendala yang harus
diatasi oleh negara –negara ASEAN .Perbedaan tingkat pertumbuhan PDB, kondisi
perdagangan dan kondisi fiskal balance dapat menimbulkan risiko konflik kepentingan
terutama dikaitkan dengan tujuan peningkatan pertumbuhan ekonomi dan pengendalian
inflasi dengan kepentingan bersama pencapaian tujuan kerja sama nilai tukar. Apabila
integrasi keuangan dipaksakan maka risiko yang cukup tinggi akan menyebabkan kerja sama
tidak berkesinambungan. Untuk itu Indonesia masih harus berupaya menjaga stabilitas nilai
tukar melalui kebijakankebijakan moneter yang tepat, dan mengupayakan sinergi yang lebih
kuat lagi dengan negara-negara anggota ASEAN yang lain.