Anda di halaman 1dari 6

MID TERM EXAM INTERNATIONAL RELATIONS IN EUROPE

“SEBERAPA EFEKTIFKAH STIMULUS US$ 1 TRILIUN DALAM THE LONDON


SUMMIT BAGI PEMULIHAN EKONOMI GLOBAL”

Kegagalan Pasar Bebas


Pertemuan negara-negara anggota G-20 dalam The London Summit telah
diselenggarakan pada tanggal 1-2 April 2009 lalu. Agenda pertemuan 8 pemimpin negara-negara
maju dan 12 pemimpin negara berkembang tersebut berfokus pada upaya untuk memulihkan dan
mengembalikan pertumbuhan ekonomi global, khususnya negara-negara maju yang saat ini
tengah mengalami keterpurukan hebat akibat gelombag krisis finansial global.
Di tengah kritik yang tajam atas kegagalan sistem ekonomi kapitalisme neoliberal saat
ini, kelompok negara-negara G-8 masih menyatakan komitmennya pada prinsip-prinsip ekonomi
pasar, perdagangan bebas, liberalsiasi keuangan dan open investment yang dianggap bisa
mendorong pertumbuhan ekonomi dan mengurangi kemiskinan, dengan mengajak negara-negara
berkembang untuk terlibat lebih intensip didalamnya. Selain juga nampak bahwa inisiatif untuk
mereformasi Bretton Woods Institutions (IMF/Bank Dunia) yang berada dibawah komando
negara-negara maju. Langkah reformasi tersebut ditujukan untuk memperkuat peran lembaga-
lembaga keuangan internasional dalam rangka merestorasi sistem ekonomi pasar bebas yang
tengah collaps. Mereka juga menolak praktek-praktek proteksionisme yang dianggap
bertentangan dengan prinsip-prinsip pasar bebas.
Dalam pertemuan tersebut, negara-negara yang tergabung dalam kelompok G-20
memberikan komitmen untuk melakukan apapun yang diperlukan untuk mengembalikan
kepercayaan, pertumbuhan dan pekerjaan; memperbaiki sistem finansial sehingga kredit dapat
berjalan lagi; memperkuat peraturan pada sistem finansial untuk menumbuhkan kembali
kepercayaan; membiayai institusi finansial internasional untuk mengatasi krisis saat ini dan
untuk mencegah terulangnya krisis di masa mendatang; mendukung perdagangan dan investasi
dunia serta menolak proteksi; dan menciptakan proses pemulihan berkesinambungan yang
memperhatikan kelestarian alam (green recovery).
Untuk mengembalikan kepercayan, pertumbuhan ekonomi, dan menciptakan lapangan
pekerjaan, negara-negara G-20 telah sepakat untuk memberikan paket stimulus sebesar US$ 1,1

1
triliun. Paket ini terdiri atas tambahan sebesar US$ 500 milyar terhadap Special Drawing Rights
(SDR) untuk IMF, yang dengan segera dapat diakses oleh anggota IMF. Sebelumnya telah
disetujui SDR tambahan sebesar US$ 250 milyar. Dengan demikian, fasilitas SDR yang tersedia
di IMF meningkat menjadi US$ 750 milyar. Selain itu, untuk mendukung pembiayaan
perdagangan dunia, disiapkan dana sebesar US$ 250 milyar dalam dua tahun. Sedangkan US$
100 milyar disiapkan untuk meningkatkan program bantuan bagi bank pembangunan regional
(untuk institusi multinasional seperti ADB, misalnya).
Bagian dari paket kebijakan yang dapat berdampak signifikan adalah komitmen untuk
tidak mengambil langkah proteksi sebagai cara untuk mengatasi krisis. Banyak ekonom
berpendapat kebijakan ini adalah hasil yang amat penting yang akan memberikan dampak positif
bagi perekomian dunia secara keseluruhan.
Pasar modal dunia bereaksi positif atas kesepakatan baru G-20 tersebut, terutama
terhadap besarnya stimulus yang disetujui. Bursa saham di New York, Tokyo, Eropa, Hongkong,
Singapura, dan Indonesia mengalami kenaikan yang cukup signifikan ditengah-tengah pertemuan
puncak negara-negara G-20 tersebut. Walaupun demikian, ada yang beberapa hal yang harus
dicermati dari hasil pertemuan G-20 tersebut.

G-20 Tidak Memiliki Legitimasi


Beberapa inisiatif dirancang untuk mengatasi krisis kapitalisme ini. Salah satunya adalah
rekonfigurasi kekuatan ekonomi dan politik dunia yang didominasi oleh kelompok G-8 menjadi
G-20. Keanggotaan yang berkembang dari hanya AS, Italia, Jerman, Inggris, Perancis, Kanada,
Jepang, dan Rusia menjadi lebih luas dengan menambah Brazil, India, Cina, Australia,
Indonesia, Korea Selatan, Argentina, Meksiko, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki dan Uni Eropa.
Sejak lama G-8 dituding tidak mampu menyelesaikan masalah dunia, bahkan menjadi
salah satu penyebab masalah. Pemerintah kedelapan negara inilah yang memutuskan dan
mengimplementasikan kebijakan neoliberal yang makin memperlebar gap antara si kaya dan si
miskin. Mode produksi perusahaan transnasional raksasa dari negara-negara maju ini menguasai
lebih 80 % dari gross domestic product (GDP) dunia (Rosset, 2006), sementara jumlah mereka
kurang dari 10 % dari total populasi dunia. Mereka jugalah yang menyulut banyak perang di
berbagai kawasan, memperdalam krisis lingkungan dan membuat masalah-masalah sosial
cenderung bertambah. Di antara rakyat yang paling menderita adalah petani, buruh, kaum
migran, nelayan dan masyarakat adat.
Masalah legitimasi kemudian menjadi isu krusial yang mengemuka. G-8 dianggap
sebagai forum terbuka yang tidak secara resmi bisa mengambil keputusan untuk
mengatasnamakan 'konsensus global'. Keputusan dari segelintir negara tentunya sangat
diragukan untuk menjadi rencana aksi global. Sementara, negara-negara ini berusaha
memengaruhi dan mendominasi pengambilan keputusan untuk mengatasi masalah seluruh dunia
—yang notabene saat ini masih didominasi masalah rakyat miskin, lapar, dan tereksploitasi.
Keputusan di forum yang lebih terlegitimasi, misalnya di PBB yang beranggotakan 192 negara,
berusaha dilangkahi.
Logika yang sama berlaku pada forum G-20 yang berlangsung tanggal 2 April lalu di
London, Inggris. Usaha-usaha G-20 untuk memberi napas buatan pada resesi global dan
kematian kapitalisme melalui stimulus fiskal dan moneter, kemungkinan aksi global yang
terkoordinasi untuk memperbaiki sistem finansial global—terutama yang melibatkan
penghidupan kembali mekanisme pasar dalam Putaran Doha WTO, reformasi kebijakan,
reformasi Bank Dunia dan IMF, dan skema utang untuk negara-negara yang terkena dampak
krisis, sepertinya akan menimbulkan pertanyaan besar. Apakah upaya tersebut akan kredibel,
saat hanya 20 negara dunia yang bersepekat dan berkepentingan untuk itu? Terlebih lagi, apakah
upaya tersebut akan sanggup mengatasi krisis yang sangat masif saat ini? Dimana solidaritas dan
upaya kolektif, terutama yang melibatkan negara-negara berkembang dan termiskin (yang kerap
terlupakan dalam percaturan dunia)? Lagipula secara substansi, beberapa skema yang akan
dibicarakan hanya akan menambah dalam krisis, terutama di negara-negara miskin dan
berkembang.

IMF Bereinkarnasi?
Satu hal yang amat menonjol dari paket kebijakan yang disebutkan di atas adalah
ketergantungan kepada IMF. Dari US$ 1,1 triliun paket yang akan diberikan, US$ 750 milyar
akan disalurkan melalui IMF. Langkah ini praktis membuat IMF menjadi lembaga yang kembali
disegani dalam menentukan arah perekonomian dunia.
Dalam memberikan bantuannya, IMF dikenal sering memberikan persyaratan yang
selain tidak populer di mata masyarakat suatu negara juga memberikan hasil yang amat jauh dari
yang diharapkan. Proses pemulihan ekonomi di negara-negara yang dibantu oleh IMF seringkali

3
berlangsung dalam jangka waktu yang terlalu lama (lihat Indonesia sebagai contohnya).
Akibatnya, IMF dipandang kurang memiliki kompetensi untuk mengatasi krisis global. Keadaan
ini membuat banyak negara enggan berhubungan dengan IMF lagi. Keberadaan IMF bahkan
sempat dipertanyakan.
Akan tetapi, tiba-tiba saja badan ini akan kembali berperan sebagai penyelamat negara-
negara di dunia. IMF kembali diminta untuk meminjamkan uang kepada Latvia, Eslandia,
Hungaria, Ukrania, dan bahkan sekarang kepada Meksiko.
Mengingat kegagalan di masa lalu, agar dapat berfungsi lebif efektif IMF harus berubah.
Persyaratan yang terlalu ketat untuk mendapat pinjaman dari IMF haruslah ditinggalkan. Selain
itu, dalam beberapa tahun mendatang struktur organisasinya harus diubah, sehingga pengaruh
negara berkembang (seperti Cina dan India) dalam organisasi tersebut menjadi lebih besar.
Namun, perubahan stuktur organisasi tersebut belum akan terjadi dalam waktu dekat ini,
sehingga terdapat peluang yang besar bahwa dunia akan menghadapi IMF yang tidak terlalu
berbeda dengan IMF yang lalu. Akibatnya, rasanya masih akan ada banyak negara di dunia,
termasuk Indonesia, yang enggan memanfaatkan tambahan fasilitas SDR yang disediakan. Di
samping itu, tampaknya agak sulit menghilangkan persepsi pasar bahwa negara yang meminta
bantuan IMF adalah negara yang bermasalah besar. Jadi, meminta bantuan kepada IMF justru
dapat menimbulkan sentimen negatif terhadap negara tersebut.
Hal lain yang belum terlalu jelas adalah tentang SDR itu sendiri. Pertama, cara
memanfaatkan SDR. Belum terlalu jelas apakah SDR hanya boleh digunakan untuk memperkuat
cadangan devisa seperti yang dialami oleh Indonesia misalnya pada masa krisis lalu, atau boleh
juga digunakan untuk biaya pembangunan. Bila hanya untuk memperkuat cadangan devisa saja,
maka dampak terhadap perekonomian dunia akan sangat terbatas. Hal ini dikarenakan krisis saat
ini bukan berawal dari ketidakpercayaan terhadap mata uang negara-negara berkembang, akan
tetapi dipicu oleh kegagalan di perekonomian AS sendiri.
Bagi Indonesia, misalnya, bentuk pinjaman SDR yang hanya untuk memperkuat
cadangan devisa hampir tidak akan memberika manfaat. Ini dikarenakan kita tidak dapat
menggunakan SDR tersebut sampai cadangan devisa kita benar-benar hampir habis. Hal ini,
antara lain, yang juga telah memicu kita segera melunasi utang ke IMF beberapa tahun yang lalu.
Perlu juga ditekankan di sini bahwa SDR diberikan oleh IMF ke negara anggotanya
berdasarkan sistem kuota. Besarnya kuota, antara lain, ditentukan oleh jumlah iuran yang
diberikan. Dengan kata lain, bila sistem ini tetap dijalankan, maka sebagian besar SDR dalam
paket G-20 tersebut akan jatuh ke negara maju sendiri. Belum jelas apakah kuota negara maju
dapat dialihkan ke negara-negara miskin atau berkembang. Bila pengalihan ini dimungkinkan,
maka dampak dari peningkatan fasilitas SDR tersebut akan berdampak lebih signifikan terhadap
perekonomian dunia.
Revitalisasi IMF tampaknya memang langkah terpaksa yang harus ditempuh oleh G-20
untuk saat ini. Hal ini disebabkan kelompok G-20 sendiri tidak mempunyai kapasitas dan
instrumen yang memadai. Perlu diketahui bahwa G-20 tidak mempunyai sekretariat yang tetap.
Setiap tahun lokasi sekretariat kelompok tersebut dirotasi antar negara anggotanya. Sudah barang
tentu staf intinya selalu baru setiap tahun. Keadaan yang demikian tidak memungkinkan
kelompok tersebut untuk mengimplementasikan paket yang telah mereka sepakati. Untuk
memecahkan masalah tersebut, tampaknya G-20 memilih untuk memanfaatkan institusi dunia
yang sudah ada seperti IMF, World Bank, ADB, dan lain-lain.
Masalah lain dari kesepakatan yang baru dicapai di London adalah masalah pembiayaan.
Saat ini kondisi fiskal negara-negara maju tidaklah terlalu kuat. Pemberian stimulus fiskal yang
besar di setiap negara maju telah menggelembungkan defisit anggaran mereka. Defisit
pemerintah AS sendiri, menurut US Congress Budget Office, untuk tahun 2009 dapat mencapai
US$ 1,8 triliun, atau 13,1 % dari perkiraan PDB tahun 2009. Sedangkan defisit Inggris untuk
tahun fiskal 2009/2010 diperkirakan dapat mencapai £ 90 milyar , atau sekitar 6 % dari PDB-
nya. Perancis pun keadaanya tidak jauh berbeda, dengan defisit tahun ini mencapai US$ 109
milyar (4,4 % dari PDB-nya). Sedangkan defisit Jerman diperkirakan dapat mencapai US$ 67
milyar.
Dengan kedaan fiskal yang demikian, rasanya negara-negara maju tersebut akan
menemui kesulitan untuk meyakinkan parlemen negara masing-masing untuk menginjeksikan
data tambahan sebesar US$ 1 triliun seperti yang telah direncanakan. Penambahan kontribusi
akan semakin menggelembungkan defisit dan akan mengundang protes dari pihak oposisi di
negara masing-masing.
Dapat ditarik kesimpulan dari penjelasan di atas, menunjukkan bahwa kesepakatan yang
dicapai pada pertemuan G-20 baru-baru ini telah menimbulkan harapan akan terciptanya proses
pemulihan perekonomian global. Namun, pada kenyataanya, masih banyak kelemahan dari
kesepakatan tersebut. Jadi, selain sentimen positif yang telah ditimbulkannya, rasanya dampak

5
terhadap perekonomian riil belum akan terasa dalam waktu dekat.

Sources :
http://www.vibiznews.com/news_last.php?
id=223800&sub=news&month=NOVEMBER&tahun=2008&awal=50&page=forex
http://www.danareksa-research.com/index.php/economy/media-newspaper/180-g20-dan-
harapan-atasi-krisis
http://www.rcs.co.id/news.php?id=84&idn=12
http://www.surabayapost.co.id/?
mnu=berita&act=view&id=54821d182370046edc3fa2d37a254cdc&jenis=d645920e395f
edad7bbbed0eca3fe2e0&PHPSESSID=c97086389647e6cdac92905fb17842ab
http://lenteradiatasbukit.blogspot.com/2009/03/g20-skenario-menyelamatkan-krisis.html
http://www.madani-ri.com/2009/04/06/g-20-untuk-siapa/
http://ec.europa.eu/taxation_customs/index_en.htm