Anda di halaman 1dari 11

BAB II

PEMBAHASAN

2.1Pengertian Globalisasi

Menurup Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, istilah globalisasi berasal dari kata
global yang secara umumnya berarti utuhnya, kebulatannya. Globalisasi bermakna
bumi sebagai satu keutuhan seakan-akan tanpa tapal batas administrasi negara,
dunia menjadi amat transparan, serta saling ketergantungan antarbangsa di dunia
semakin besar, dengan kata lain: Menjadikan dunia sebagai saru keutuhan, satu
kesatuan. Satu kejadian yang terjadi di suatu negara tertentu akan tersebar
beritanya dengan cepat ke berbagai belahan dunia lain, serta akan mempunyai
pengaruh terhadap manusia dan masyarakat di mana pun di dunia ini. Dunia
seakan-akan menjadi sempit dan tak menghiraukan lagi batas-batas negara.

Gelombang globalisasi menerpa seluruh aspek kehidupan dan penghidupan


manusia, menyusup ke dalam seluruh unsur kebudayaan dengan dampak yang
berbeda-beda. Seperti yang dikutip oleh Prof. Dr. Umar Tirtarahardja, Emil Salim
(1990; 8-9) berpendapat bahwa terdapat empat bdiang kekuatan globalisasi yang
paling kuat dan menonjol daya dobraknya, yakni bdiang iptek, ekonomi,
lingkungan hidup dan pendidikan. Beberapa kecenderungan globalisasi dari
deempat bidang tersebut adalah sebagai berikut:

2.1.1 Bidang iptek yang mengalami perkembangan yang semakin


dipercepat, utamanya dengan penggunaan berbagai teknologi canggih
seperti komputer, satelit dan internet. Kekuatan globalisasi di bidang
ini membuat bumi seakan-akan menjadi sempit dan transparan. Dalam
12

waktu yang singkat, bahkan dalam hitungan menit, dapat dihimpun


informasi global yang terinci di berbagai bidang, umpamanya
kekayaan laut, hutan dan alam melalui penginderaan jarak jauh.
Bahkan hackers dan masyarakat sekarang juga dapat mengakses data-
data rahasia pemerintah negara tertentu. Globalisasi iptek tersebut
memberi orientasi baru dalam bersikap dan berpikir tanpa batas
negara.

2.1.2 Bidang ekonomi yang mengarah ke ekonomi regional dan


atau ekonomi global tanpa mengenal batas-batas negara. Di berbagai
bagian dunia telah berkembang kelompok-kelompok ekonomi
regional, seperti European Union (EU), North America Free Trade
Area (NAFTA), dan Assosciation of South East Nations (ASEAN).
Gejala lain adalah semakin meluasnya perusahaan multinasional
sebagai perusahaan raksasa yang kakinya tertanam kuat di berbagai
negara. Globalisasi ekonomi telah menyebabkan negara hanya bertapal
batas politik saja, sedangkan dari segi ekonomi semakin kabur. Krisis
ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat dapat memberikan dampak
atau imbas sampai ke berbagai negara lain, seperti Indonesia.

2.1.3 Bidang lingkungan hdup telah menjadi bahan pembicaraaan


dalam berbagai pertemuan internasional, yang mencapai puncaknya
pada Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (UNCED). Kerusakan
lingkungan hidup di suatu tempat akan memberi dampak negatif ke
berbagai negara di sekitarnya, misalnya saja, asap polusi yang
mengandung CO2 dan berbagai zat beracun lainnya yang banyak
dihasilkan oleh Amerika Serikat dapat mengakibatkan hujan asam
sampai ke Kanada dan merusak lapisan ozon yang bahkan
mengganggu keseimbangan alam di seluruh dunia. Oleh karena itu,
diperlukan wawasan dan kebijakan yang tepat dalam bidang
pembangunan yang menjamin kelestarian dan keselamatan lingkungan
hidup atau pembangunan yang berwawasan lingkungan.
12

2.1.4 Bidang pendidikan dalam kaitannya dengan identitsa


bangsa, termasuk budaya nasional dan budaya-budaya nusantara. Di
samping terpaan tentang gagasan-gagasan dalam pendidikan,
globalisasi juga secara langsung menerpa dan mempengaruhi setiap
indidvidu manusia melalui buku, tadio, televisi, internet dan media
lainnya. Sebagai contoh dari argumen ini adalah seorang siswa SMP di
Malang dapat mengunduh film yang berasal dari Amerika Serikat, dan
mereka bahkan dapat menonton televisi yang ada di Amerika Serikat
secara langsung melalui streaming. Hal-hal ini mempengaruhi
wawasan, pikiran, dan bahkan perilaku manusia, selanjutnya bahkan
mungkin kelak akan tercipta suatu ‘budaya dunia’ yang universal.
Dunia menjadi semakin datar dan seragam.

2.2Pengertian Pendidikan Berwawasan Global

Pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan globalisasi. Dalam menuju era


globalisasi, Indonesia harus melakukan reformasi dalam proses pendidikan, yaitu
dengan tekanan menciptakan sistem pendidikan yang lebih komprehensif dan
fleksibel, sehingga para lulusan dapat berfungsi secara efektif dalam kehidupan
masyarakat global demokratis. Oleh karena itu, pendidikan harus dirancang
sedemikian rupa agar memungkinkan para anak didik dapat mengembangkan
potensi yang dimiliki secara alami dan kreatif dalam suasana penuh kebebasasn,
kebersamaan dan tanggung jawab. Selain itu, pendidikan harus dapat
menghasilkan lulusan yang bisa memahami, masyarakatnya dengan segala faktor
yang dapat mendukung mencapai sukses ataupun penghalang yang menyebabkan
kegagalan di dalam kehidupan bermasyarakat. Salah satu alternatif yang dapat
dilakukan yaitu mengembangkan pendidikan yang berwawasan global.

Premis untuk memulai pendidikan berwawasan global adalah informasi dan


pengetahuan tentang bagian dunia yang lain harus mengembangkan kesadaran
kita bahwa kita akan dapat memahami lebih baik keadaan diri kita sendiri apabila
kita dapat memahami hubungan terhadap masyarakat lain, dan isu-isu global
sebagaimana dikemukakan oleh seorang psikolog bernama Csikszentmihalyi yang
12

dalam bukunya berjudul the Evolving Self : Apsychology for the Third
Milllenium, 1993. Beliau menyatakan bahwa perkembangan pribadi yang
seimbang dan sehat memerlukan "an understanding of the complexities of an
increasingly complex and interdependent word".

2.2.1 Perspektif Reformasi


Pendidikan berwawasan global merupakan suatu proses
pendidikan yang dirancang untuk mempersiapkan anak didik dengan
kemampuan dasar intelektual dan tanggung jawab guna memasuki
kehidupan yang bersifat kompetitif dan dengan derajat saling
menggantungkan antar bangsa yang sangat tinggi. Pendidikan harus
mengkhaitkan proses pendidikan yang berlangsung di sekolah dengan
nilai-nilai yang selalu berubah di masyarakat global. Dengan demikian,
sekolah harus memiliki orientasi nilai, di mana masyarakat tersebut
harus selalu dikaji dalam kaitannya dengan masyarakat dunia.

Implikasi dari pendidikan berwawasan global menurut perfektif


reformasi tidak hanya bersifat perombakan kurikulum, tetapi juga
merombak sistem, struktur dan proses pendidikan. Pendidikan dengan
kebijakan dasar sebagai kebijakan sosial tidak lagi cocok bagi
pendidikan berwawasan global. Pendidikan berwawasan global harus
merupakan kombinasi antara kebijakan yang mendasarkan pada
mekanisme pasar. Maka dari itu, sistem dan struktur pendidikan harus
bersifat terbuka, sebagaimana layaknya kegiatan yang memiliki fungsi
ekonomis.

Kebijakan pendidikan yang berada di antara kebijakan sosial dan


mekanisme pasar, memiliki arti bahwa pendidikan tidak semata-mata
di tata dan diatur dengan menggunakan perangkat aturan sebagaimana
yang berlaku sekarang ini, serba seragam, rinci dan instruktif. Tetapi
pendidikan juga di atur layaknya suatu Mall, adanya kebebasan
pemilik toko untuk menentukan barang apa yang akan dijual,
bagaimana akan dijual dan dengan harga berapa barang akan dijual.
Pemerintah tidak perlu mengatur segala sesuatu dengan rinci.
12

Selain itu, pendidikan berwawasan global bersifat sistematik


organik, dengan ciri-ciri fleksibel-adaptif dan kreatif demokratis.
Bersifat sistemik-organik artinya bahwa sekolah merupakan
sekumpulan proses yang bersifat interaktif yang tidak bisa dilihat
sebagai-hitam putih, tetapi setiap interaksi harus dilihat sebagai satu
bagian dari keseluruhan interaksi yang ada.

Fleksibel-adaptif, artinya bahwa pendidikan lebih ditekankan


sebagai suatu proses learning daripada teaching. Anak didik
dirangsang untuk memiliki motivasi untuk mempelajari sesuatu yang
harus dipelajari dan continues learning. Tetapi, anak didik tidak akan
dipaksa untuk dipelajari. Sedangkan materi yang dipelajari bersifat
integrated, materi satu dengan yang lain dikaitkan secara padu dan
dalam open-sistem environment. Pada pendidikan tersebut
karakteristik individu mendapat tempat yang layak.

Kreatif demokratis, berarti pendidikan senantiasa menekankan


pada suatu sikap mental untuk senantiasa menghadirkan suatu yang
baru dan orisinil. Secara paedagogis, kreativitas dan demokrasi
merupakan dua sisi dari mata uang. Tanpa demokrasi tidak akan ada
proses kreatif, sebaliknya tanpa proses kreatif demokrasi tidak akan
memiliki makna.

Untuk memasuki era globalisasi pendidikan harus bergeser kearah


pendidikan yang berwawasan global. Dari perspektif kurikuler
pendidikan berwawasan global berarti menyajikan kurikulum yang
bersifat interdisipliner, multidisipliner, dan transdisipliner.
Berdasarkan perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global
berarti menuntut kebijakan pendidikan tidak semata-mata sebagai
kebijakan sosial, melainkan suatu kebijakan yang berada di antara
kebijakan sosial dan kebijakan yang mendasarkan pada mekanisme
pasar. Maka dari itu, pendidikan harus memiliki kebebasan dan
12

bersifat demokratis, fleksibel dan adaptif.

2.2.2 Perspektif Kurikuler

Pendidikan berwawasan global dapat dikaji berdasarkan pada dua


perspektif yaitu perspektif reformasi dan perspektif kurikuler.
Berdasarkan persperktif kurikuler, pendidikan berwawasan global
merupakan suatu proses pendidikan yang bertujuan untuk
mempersiapkan tenaga terdidik kelas menengah dan professional
dengan meningkatkan kemampuan individu dalam memahami
masyarakatnya dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat dunia,
dengan ciri-ciri sebagai berikut :

2.2.2.1 mempelajari budaya, sosial, politik dan ekonomi bangsa lain


dengan titik berat memahami adanya saling ketergantungan,

2.2.2.2 mempelajari barbagai cabang ilmu pengetahuan untuk


dipergunakan sesuai dengan kebutuhan lingkungan
setempat,dan

2.2.2.3 Mengembangkan berbagai kemungkinan berbagai


kemampuan dan keterampilan untuk bekerjasama guna
mewujudkan kehidupan masyarakat dunia yang lebih baik.

Oleh karena itu, pendidikan berwawasan global akan menekankan


pada pembahasan materi yang meliputi:

2.2.2.1 adanya saling ketergantungan di antara masyarakat dunia,

2.2.2.2 adanya perubahan yang akan terus berlangsung dari waktu ke


waktu dan berlangsung dengan sangat cepat,

2.2.2.3 adanya perbedaan kultur di antara masyarakat atau


kelompok-kelompok dalam masyarakat,

2.2.2.4 adanya kenyataan bahwa kehidupan dunia itu memiliki


berbagai keterbatasan antara lain dalam wujud ketersediaan
barang-barang kebutuhan yang jarang,

2.2.2.5 untuk dapat memenuhi kebutuhan yang jarang tersebut tidak


mustahil dapat menimbulkan konflik-konflik
12

Maka dari itu, perlu adanya upaya untuk saling memahami budaya
yang lain. Berdasarkan perspektif kurikuler ini, pengembangan
pendidikan berwawasan global memiliki implikasi kearah perombakan
kurikulum pendidikan. Mata pelajaran dan mata kuliah yang
dikembangkan tidak lagi bersifat monolitik melainkan lebih banyak
yang bersifat integratif. Dalam arti mata kuliah lebih ditekankan pada
kajian yang bersifat multidisipliner, interdisipliner dan transdisipliner.
Berdasarkan perspektif reformasi, pendidikan berwawasan global
berarti menuntut kebijakan pendidikan tidak semata-mata sebagai
kebijakan sosial, melainkan suatu kebijakan yang berada di antara
kebijakan sosial dan kebijakan yang mendasarkan pada mekanisme
pasar. Maka dari itu, pendidikan harus memiliki kebebasan dan
bersifat demokratis, fleksibel dan adaptif.

2.3Dampak Positif Globalisasi terhadap Pendidikan

Dampak terbaik dari globalisasi terhadap dunia pendidikan adalah


perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat di era globalisasi ini
membuat ilmu pengetahuan menjadi semakin terjangkau dan semakin mudah
diakses. Sebelum internet berkembang seperti sekarang, sumber pengetahuan
siswa terbatas pada buku-buku yang dapat mereka akses dan guru yang mereka
punya. Sekarang, dengan berkembangnya internet, siswa dapat mengakses buku
dari berbagai belahan dunia lain, seperti Amerika Serikat, Timur Tengah, Eropa
dan Jepang. Didukung dengan kemampuan berbahasa Inggris yang baik, siswa
memiliki akses terhadap berbagai sumber ilmu pengetahuan yang tidak mengenal
batas negara, ruang dan waktu. Oleh karena itu, kualitas penidikan dapat
ditingkatkan jika siswa mau belajar dari berbagai sumber ini.

Dampak positif lain dari globalisasi terhadap pendidikan adalah


dikembangkannya pendidikan berwawasan global. Pendidikan berwawasan global
memungkinkan siswa untuk memiliki perspektif yang lebih luas dan terbuka. Di
samping itu, pendidikan berwawasan global juga dapat meningkatkan
nasionalisme dan memperkuat jati diri bengsa.
12

2.4Dampak Negatif Globalisasi terhadap Pendidikan

Di samping dampak positif, globalisasi juga memberikan beban tanggung


jawab yang lebih berat terhadap pendidikan.beban tanggung jawab yang lebih
berat ini, sebenarnya dapat juga dianggap sebagai perubahan yang positif, karena
tanggung jawab lebih membuat institusi pendidikan mau tak mau harus
berkembang. Namun, tanggung jawab lebih juga dapat mengakibatkan kerumitan
dan kebingungan di masyarakat, jika orang-orang yang terlibat di institusi
pendidikan belum siap. Oleh karena itu, tanggung jawab lebih juga dapat
dipandang sebagai sesuatu yang negatif. Tuntutan-tuntutan tanggung jawab lebih
terhadap pendidikan akan dijelaskan lebih lanjut pada bagian alternatif-alternatif
pemecahan masalah.

Dampak negatif lain dari globalisasi adalah meningkatnya ketergantungan


akan teknologi. Dengan perkembangan internet, perpustakaan digital, slide show
power point dan perkembangan teknologi lainnya telah membuka akses yang jauh
lebih luas terhadap informasi dan bahan ajar. Murid tidak lagi sangat bergantung
pada guru sebagai satu-satunya sumber informasi utama, namun murid lebih
bergantung pada kemauan dan kerja keras yang mereka usahakan sendiri untuk
mendapatkan ilmu sebanyak mungkin dari sumber-sumber yang semakin luas dan
beragam. Penting bagi sekolah, murid, guru dan semua pihak yang terlibat dalam
proses pendidikan untuk menguasai teknologi yang terus berkembang ini agar
masyarakat Indonesia sebagai bagian dari negara berkembang tidak terlalu
tertinggal oleh masyarakat dari negara-negara maju. Teknologi memang dapat
membantu perkembangan pendidikan, namun ketika teknologi itu berasal dari luar
negeri yang harus dibeli dengan harga yang cukup mahal, maka teknologi ini
dapat menguras sumber daya finansial masyarakat kita. Secara tidak langsung,
ketergantungan terhadap teknologi, juga berarti ketergantungan terhadap negara-
negara lain.

2.5Alternatif Pemecahan Masalah

Masyarakat Indonesia seddang beralih dari masyarakat agraris menuju


masyarakat industri dan informasi. Guna mengembangkan sumber dayanya,
utamanya melalui pendidikan sebagai pilar utama merupakan hal yang sangat
12

penting di era globalisasi ini. Guna mengantisipasi masalah-masalah yang


diakibatkan oleh globalisasi, langkah-langkah yang dapat ditempuh oleh
pendidikan nasional adalah pengembangan nilai dan sikap, pengembangan
kebudayaan, serta pengembangan sarana pendidikan.

2.5.1 Pengembangan Nilai dan Sikap


Nilai dan sikap memiliki peranan yang penting dalam menentukan
wawasan dan perilku manusia. Nilai merupakan norma, acuan yang
seharusnya menjadi rujukan perilaku. Dengan kondisi bangsa
Indonesia yang majemuk, maka ada berbagai nilai di Indonesia.
Terlebih lagi, dunia memiliki nilai-nilai yang jauh lebih beragam lagi.
Nilai-nilai luhur yang sudah tertanam dalam bangsa Indonesia tidak
hanya harus dilestarikan, naum juga jarus dikembangkan. Contoh-
contoh dari berbagai nilai luhur yang harus dilestarikan tersebut
adalah nilai kejujuran, nilai kemanusiaan, nilai nasionalisme dan nilai
toleransi.

Insititusi pendidikan memiliki pernanan yang sangat penting dalam


menginternalisasi nila-nilai tersebut ke dalam jiwa generasi muda.
Melalui pendidikan di sekolah, pendidikan dituntut untuk mampu
memastikan bahwa nilai-nilai luhur tersebut sudah terinternalisasi
dengan baik di dalam diri siswa-siswa Indonesia yang kelak akan
menjadi bagian dari pembuat keputusan dalam kehidupan
bermasyarakat bangsa Indonesia. Oleh karena itu, penting bagi
institusi pendidikan untuk mengintegrasikan lebih banyak nilai-nilai
moral yang luhur dalam proses belajar dan pembelajaran.

2.5.2 Pengembangan Kebudayaan

Seperti yang dikutip oleh Profesor Umar Tirtarahardja, menurut


Koentjaraningrat, kebudayaan mencakup unsur-unsur yang cukup
luas, yaitu sistem reiligi, kemasyarakatan, pengetahuan, bahasa,
kesenian, mata pencaharian, sampai teknologi dan peralatan
(Koentjaraningrat, 1974). Unsur teknologi dan peralatan merupakan
12

yang paling mudah berubah dibandingkan dengan unsur-unsur


lainnya. Akan tetapi, globalisasi membuat keseluruhan unsur-unsur
tersebut mengalami perubahan yang kuat. Oleh karena itu, manusia
Indonesia tidak hanya dipengaruhi oleh budaya setempat, tapi juga
oleh budaya dunia. Dalam menghadapi berbagai pengaruh tersebut,
individu diharapkan dapat menyelaraskannya dengan baik, agar dapat
menyesuaikan diri dengan dunia yang berubah dengan pesat.

Institusi pendidikan memiliki peranan dalam mempersiapkan


individu-individu yang meelek teknologi tanpa harus menjadi pakar
teknologi tersebut. Terlebih lagi, pendidikan juga diharapkan mampu
melestairkan budaya-budaya Indonesia yang luhur melalui proses
belajar dan pemberlajaran.

2.5.3 Pengembangan Sarana Pendidikan

Pendidikan merupakan salah satu pilar utama dalam mengantisipasi


globalisasi. Pengembangan sarana pendidikan merupakan salah satu
prasyarat utama untuk menghadapi globalisasi dengan segala peluang
dan tantangannya. Pengembangan sarana pendidikan mencakup tidak
hanya infrastruktur, seperti gedung sekolah dan laboratorium, tetapi
juga peningkatan kualitas guru dan akses pendidikan untuk seluruh
anak Indonesia.

Pengembangan sarana pendidikan tidak seharusnya bersifat


diskrimnatif. Oleh karena itu, institusi sekolah negeri seharusnya
dapat diakses oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa mendiskriminasi
kemampuan ekonomi siswa.

12
12