Anda di halaman 1dari 2

Resensi Buku

“Toto Chan: Gadis Kecil Di Tepi Jendela”


1. Ringkasan isi
Buku ini bercerita tentang Totto-chan, gadis cilik yang harus dikeluarkan dari s
ekolahnya di usia 7 tahun. Keingintahuannya yang besar tentang sesuatu, membuat
Totto-chan kecil berbeda dan dipandang aneh jika dibandingkan dengan teman-tema
nnya. Mulai dari memanggil pengamen jalanan untuk memainkan musiknya di dalam ke
las, sampai berbicara dengan burung Walet yang bertengger di pohon samping kelas
nya. Ibu guru Totto Chan menganggap kejadian- kejadian yang berulang tersebut ti
dak bisa ditolelir lagi dalam proses belajar mengajar dan hanya akan mengganggu
murid lain yang belajar. Alhasil, Totto-chan dikeluarkan dari sekolahnya. Kemudi
an, oleh ibunya ia dimasukkan ke sekolah Tomoe Gakuen yang didirikan oleh Sosaku
Kobayashi.
Sekolah yang berlambang dua simbol kuno berbentuk koma yang berwarna hitam dan p
utih ini memang lain dari sekolah yang lain. Kegiatan belajar mengajar berlangsu
ng di dalam gerbong kereta api yang sudah tidak dipakai lagi. Jumlah siswanya ha
nya sekitar lima puluh orang. Sekolah ini juga tidak mengharuskan siswanya memak
ai seragam yang rapi dan bersih, malah sebaliknya sekolah ini menganjurkan untuk
memakai pakaian yang sudah usang untuk pergi ke sekolah. Bersekolah di sana ada
lah hal yang menyenangkan bagi Totto-chan dan kawan-kawannya. Jika di sekolah la
in setiap anak diberi jatah duduk di satu kursi tertentu, maka di Tomoe, mereka
bebas memilih di mana mereka akan duduk. Sekolah ini memberikan kebebasan kepada
siswanya untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Setiap siswa bebas memi
lih pelajaran apa yang ingin dipelajarinya lebih dulu pada hari itu. Ada yang me
milih membuat puisi dan ada juga yang melakukan eksperimen fisika. Metode ini m
emudahkan guru untuk mengetahui bidang apa yang diminati muridnya, termasuk meng
etahui karakter siswa.
Belajar di Tomoe benar-benar menarik dan menyenangkan. Untuk makan siang saja h
arus ada ”sesuatu dari laut dan sesuatu dari pegunungan” agar anak-anak makan dengan
gizi seimbang. Selain itu, jika sebelum makan orang-orang Jepang selalu menguca
pkan kata ”Ittadakimasu” yang artinya selamat makan, maka di Tomoe sebelum makan mer
eka menyanyikan lagu ”Yuk kunyah-kunyah baik-baik semua makananmu” baru setelah itu
mereka mengucapkan ”Ittadakimasu”. Setelah makan siang, biasanya mereka berjalan-jal
an. Kemudian, ketika mereka melewati kebun bunga, guru akan menceritakan kepada
mereka bagaimana bunga-bunga sawi bisa bermekaran. Tomoe mengajarkan banyak hal
kepada anak-anak. Dengan berenang bersama tanpa busana, kepala sekolah ingin mer
eka paham bahwa semua tubuh itu indah. Jika mereka yang bertubuh cacat ikut bere
nang, maka rasa malu akan kekurangannya, akan hilang sedikit demi sedikit. Selai
n itu, Kepala Sekolah juga memberikan motivasi kepada anak yang tidak mampu berc
erita tentang suatu hal sampai akhirnya anak itu mampu bercerita. Beliau juga m
ampu meyakinkan anak-anak bahwa mereka adalah anak yang baik dengan selalu mengu
capkan ”Kau anak yang benar-benar baik, kau tahu kan?”
Kepala Sekolah Kobayashi menghargai sesuatu yang bersifat alamiah dan ingin kara
kter anak-anak berkembang secara alami. Beliau sangat yakin bahwa seorang anak d
ilahirkan dengan watak baik. Oleh sebab itu, Kepala Sekolah Kobayashi berusaha m
enemukan hal itu dan mengembangkannya agar anak-anak dapat tumbuh dengan kepriba
dian yang khas. Kehidupan sehari-hari Tomoe juga mengajarkan bersikap sopan kepa
da orang lain dan tidak boleh melakukan hal yang membuat orang lain kesal. Bahka
n, membuang sampah di tempat yang benar pun dipelajari dari Tomoe.
Buku Totto-chan menggambarkan dunia anak-anak yang penuh dengan kepolosan dalam
memandang suatu hal. Bahasa yang digunakan lugas dan khas anak-anak. Ketika kepa
la sekolah mengatakan bahwa akan datang gerbong kereta baru untuk kelas mereka,
mereka berpikir akan dibuat rel sehingga gerbong itu sampai di sekolah mereka. P
adahal sebenarnya gerbong itu diangkut oleh trailer yang ditarik oleh traktor. K
etika mereka belajar bagaimana bunga sawi mekar, mereka mengatakan, ”Ternyata bena
ng sari tidak mirip benang ya?”
2. Filosofi pendidikan anak yang ada di buku tersebut
Buku yang merupakan kritik terhadap sistem pendidikan yang keras di Jepang ini,
berhasil merebut perhatian sebagian besar masyarakat Jepang. Dalam buku ini dije
laskan bahwa sistem pendidikan di Jepang yang terkenal keras dan disiplin, bukan
lah jaminan bahwa seorang anak akan berkembang dengan baik. Bahkan, bisa jadi se
seorang yang tidak kuat dengan sistem tersebut akan mengalami tekanan mental dan
bisa menjadi depresi.
Begitu juga dengan sekolah konvensional di Indonesia yang mengharuskan siswa had
ir pada pukul 07.00 tepat dan pulang pada waktu yang ditentukan. Sistem ini juga
belum tentu akan menghasilkan output yang baik. Banyak siswa yang merasa tertek
an dengan apa yang dilakukan oleh sekolah dan standar kelulusan yang semakin mer
angkak naik dari tahun ke tahun. Jika dulu, ketika kita duduk di bangku sekolah,
kita lupa mengerjakan PR atau nilai ulangan jelek, maka kita akan mendapatkan h
ukuman. Sangat berbeda dengan Tomoe yang membiarkan muridnya berkembang dengan s
endirinya sesuai minat yang dimiliki.
Sekolah konvensional dinilai tidak dapat mengakomodasi semua kecerdasan yang dim
iliki siswa. Bahkan, seringkali sekolah konvensional mematikan kecerdasan siswa
yang luar biasa. Dalam hal ini, Sekolah Tomoe membiarkan siswanya berkembang ses
uai dengan apa yang dimiliki. Selain membuat siswa merasa nyaman, kecerdasan yan
g mereka miliki dari lahir akan semakin terasah. Jika di Indonesia ada SD sepert
i Tomoe Gakuen, para ibu tidak perlu susah-susah membangunkan anak-anaknya ketik
a harus berangkat sekolah, karena mereka merasa kegiatan sekolah adalah tempat y
ang membuat mereka bisa mengembangkan segala kreativitas dan energinya dan pasti
nya menyenangkan. Buku ini sangat inspiratif tentunya bagi dunia pendidikan kita
. Jika biasanya komik dari Jepang yang sering kita jumpai, novel Jepang ini sang
at layak untuk dikoleksi. Sangat unik,inspiratif dan sarat dengan filosofi menan
amkan menyukai belajar sejak dini. Ada ungkapan menarik dari Tetsuko Kuroyanagi
tentang sekolah dimasa kecilnya ini di akhir tulisan: “Aku yakin jika sekarang ada
sekolah-sekolah seperti Tomoe, kejahatan dan kekerasan yang begitu sering kita
dengar sekarang dan banyaknya anak putus sekolah akan jauh berkurang. Di Tomoe t
idak ada anak yang ingin pulang ke rumah setelah jam pelajaran selesai. Dan di p
agi hari, kami tak sabar ingin segera sampai ke sana. Begitulah sekolah itu.”
3. Pertanyaan atau ide yang akan diajukan jika bertemu dengan Pak Kobayashi
Bagaimana cara Bapak mengajarkan kedisiplinan pada siswa yang nakal dan susah di
atur? Apakah sistem evaluasi belajar yang diterapkan sudah mampu menggambarkan
prestasi yang diperoleh siswa?