Anda di halaman 1dari 9

2.

LANDASAN TEORI

2.1. Definisi Kualitas


Istilah kualitas memiliki banyak sekali definisi. Menurut Montgomery
(1996) kualitas merupakan suatu pandangan terhadap produk maupun jasa,
dimana produk maupun jasa yang berkaitan sesuai dengan ketentuan bagi yang
menggunakannya. Sehingga dengan adanya kualitas yang baik diharapkan
terciptanya suatu kepuasan dan kesetian oleh konsumen terhadap produk maupun
jasa yang digunakan.
Di dalam perusahaan seringkali kualitas dianggap sebagai kesesuaian
antara produk terhadap kebutuhan maupun permintaan. Untuk mencapai hal
tersebut maka perusahaan-perusahaan menerapkan suatu konsep mengenai
jaminan kualitas. Menurut Montgomery (1996) pengendalian kualitas merupakan
suatu aktivitas manajemen yang dapat diukur, dibandingkan, dan diperbaiki
karakteristiknya apabila terjadi perbedaaan dari standar yang telah ditetapkan.
Karakteristik produk dapat berupa panjang, berat, rasa, kekentalan, warna,
keandalan dan sebagainya. Sehingga nantinya semua usaha yang dilakukan
perusahaan bertujuan untuk:
• Mengarahkan pada perbaikan kualitas produk dan mengendalikan proses
produksi sehingga dapat tercapai standar kualitas yang telah ditetapkan.
• Meneliti dengan cepat terjadinya pergeseran proses produksi sehingga
penelitian terhadap penyimpangan-penyimpangan yang terjadi dan tindakan
pembetulan dapat dilakukan sebelum terlalu banyak unit yang tidak sesuai
diproduksi.
• Untuk membantu karyawan memperbaiki kesalahannya dan meningkatkan
kemampuannya dalam mencapai sasaran perusahaan.
Kualitas pada produksi dapat digolongkan ke dalam dua kategori, yaitu
kualitas produk dan kualitas proses. Di dalam proses produksi permintaan kualitas
antara produk yang satu dengan yang lain berbeda-beda. Permintaan kualitas itu
nantinya akan disesuaikan dengan pasar yang ada, sehingga permintaan konsumen

3
Universitas Kristen Petra
dapat terpenuhi secara baik. Sementara pada kualitas proses, perusahaan dapat
memproduksi/menghasilkan suatu produk/jasa yang baik tanpa adanya kecacatan.

2.2. Karakteristik Kualitas


Karakteristik kualitas menurut Montgomery (1996) dibagi menjadi 3 tipe,
yaitu:
a. Phisical, merupakan karakteristik kualitas yang dapat dilihat secara fisik.
Contoh: panjang, berat, tinggi, dan lebar.
b. Sensory, merupakan karakteristik kualitas yang dapat dirasakan dan pada
umumnya tidak dapat diukur dengan pasti. Contoh: rasa, bau, dan warna.
c. Time orientation, merupakan karekteristik kualitas yag berhubungan dengan
waktu. Contoh: seberapa lama produk dapat dipakai (durability),
kemampuan untuk mempertahankan dan menjalankan fungsi (reliability).

2.3. Biaya Kualitas


Biaya kualitas merupakan biaya-biaya yang dikeluarkan oleh para
produsen, konsumen, dan perusahaan yang berhubungan dengan produk atau
pelayanan kualitas suatu produk (Dale dan Plunket, 1995). Biaya kualitas
berhubungan dengan pencegahan kerusakan, tindakan pengidentifikasian dan
penilaian, serta kerugian baik internal maupun eksternal. Sehingga semua biaya
yang dikeluarkan untuk memproduksi, mempertahankan, serta melakukan
perbaikan pada kualitas dari produk yang dihasilkan termasuk di dalam biaya
kualitas.
Menurut B. G. Dale dan J. J. Plunket (1995) biaya kualitas merupakan
sesuatu yang harus diperhatikan oleh perusahaan karena untuk dapat
mempertahankan kualitas dan menjaga produk agar tetap sesuai dengan
spesifikasi yang ditetapkan memerlukan suatu biaya yang sangat besar. Sehingga
biaya-biaya yang berhubungan dengan kualitas tidak hanya seperti yang
diperkirakan pada umumnya, seperti biaya quality assurance, inspeksi,
monitoring, pengujian, dan material sisa komponen atau produk. Biaya-biaya
yang berhubungan dengan kualitas didapat dari berbagai macam aktifitas,
departemen-departemen di dalam suatu organisasi yang berhubungan dengan
4
Universitas Kristen Petra
produk dan kualitas pelayanan contohnya: sales and marketing, research and
development (RnD), purchasing, production, manufacturing/operations, delivery,
construction, installation, and service.
Biaya kualitas menjadi suatu hal yang sangat diperhatikan oleh
perusahaan dewasa ini karena berdasarkan penelitian yang dilakukan pada tahun
1985 oleh NEDC UK menyebutkan bahwa 10-20% total penjualan perusahaan
disebabkan oleh biaya-biaya yang berhubungan dengan kualitas (Dale dan
Plunket, 1995). Dengan timbulnya biaya-biaya yang tidak perlu dan semestinya
bisa dihindari oleh perusahaan akan membuat barang dan servis menjadi lebih
mahal.
2.3.1. Komponen Biaya Kualitas
Umumnya biaya kualitas difokuskan menjadi dua komponen, yaitu:
1. Price of Conformance (POC)
POC termasuk semua pengeluaran yang diakibatkan untuk menjamin
bahwa produk yang dihasilkan sesuai dengan spesifikasi POC umumnya
berkisar antara 3-4% dari penjualan. Biaya yang termasuk dalam POC adalah
biaya yang timbul karena adanya investasi untuk mencegah ketidaksesuaian
dengan permintaan pelanggan. Biaya yang timbul karena penilaian terhadap
suatu produk atau pelayanan sehingga tidak sesuai dengan permintaan.
2. Price of Nonconformance (PONC)
PONC termasuk semua pengeluaran yang ditimbulkan akibat
melakukan kesalahan. PONC berkisar 20% atau lebih dari penjualan pada
perusahaan manufaktur dan 35% dari penjualan pada perusahaan jasa. Biaya-
biaya yang termasuk dalam PONC adalah biaya yang timbul karena gagal
untuk memenuhi permintaan pelanggan. Selisih antara biaya yang timbul
pada pembuatan dan penjualan suatu produk dengan biaya ketika tidak ada
kesalahan selama proses manufaktur atau pemakaian dan tidak ada
kemungkinan untuk rusak. Biaya yang timbul karena adanya kualitas yang
rendah.
2.3.2. Fungsi Biaya Kualitas
Biaya kualitas memiliki kegunaan sebagai bagian yang melengkapi di
dalam laporan manajemen kualitas. Laporan tersebut digunakan untuk
5
Universitas Kristen Petra
menunjukkan perkembangan kualitas dan fokus dari area-area yang perlu
dilakukan pengembangan. Tanpa adanya biaya kualitas sebagai poin utama maka
pembuatan laporan manajemen kualitas akan menjadi suatu pekerjaan yang lebih
sulit lagi. Tidak ada cara yang terbaik untuk melakukan pengukuran terhadap
laporan manajemen kualitas, hanya jika improvement telah tercapai, masalah-
masalah sudah dapat dipecahkan dan secara berbanding lurus biaya kualitas akan
menurun (Dale dan Plunket, 1995).
Biaya kualitas perlu direncanakan, diukur, dan dikendalikan kemudian
dibuat dalam laporan biaya kualitas. Laporan ini dapat dijadikan sebagai dasar
untuk pengambilan keputusan bagi perusahaan baik dalam jangka waktu pendek
dan jangka panjang serta untuk mengevaluasi usaha yang telah dilakukan
manajemen dalam menjaga kualitas produk. Menurut Jack Campanella (1999)
biaya kualitas mempunyai fungsi antara lain:
• Sebagai sarana untuk mempromosikan produk yang dihasilkan oleh
perusahaan baik dari segi kualitas maupun jasanya. Sehingga dengan adanya
biaya kualitas perusahaan dapat melihat di bagian mana biaya tersebut
menghabiskan biaya paling banyak. Karena hal tersebut akan menyebabkan
produk tidak kompetitif dan merugikan perusahaan.
• Sebagai standar dari pengukuran kinerja dari perusahaan. Karena dengan
adanya biaya kualitas ini kita dapat menggunakan berbagai macam metode
untuk menganalisa seperti Pareto Chart dan Trend Analysis.
• Biaya kualitas memberi arti dan kesadaran akan pentingnya perencanaan
danpengendalian biaya kualitas bagi perusahaan.
• Biaya kualitas sebagai motivator. Biaya kualitas dapat memotivasi
departemenyang mempunyai tanggung jawab terhadap program perbaikkan
kualitaskarena biaya kualitas dapat dijadikan standar.
2.3.3. Kategori Biaya Kualitas
Menurut Jack Campanella (1999) biaya kualitas dapat dikategorikan
menjadi 3 macam biaya, yaitu: biaya pencegahan (prevention cost), biaya
penilaian (appraisal cost), dan biaya kegagalan (failure cost). Dari 3 macam biaya
di atas nantinya biaya kegagalan (failure cost) akan dibagi menjadi dua biaya,
yaitu : biaya kegagalan internal (Internal Failure Cost) dan biaya kegagalan
6
Universitas Kristen Petra
eksternal (External Failure Cost). Penjelasan mengenai masing-masing kategori
biaya kualitas terdapat di bawah ini.
1. Biaya Pencegahan (Prevention Cost)
Biaya pencegahan adalah biaya yang dikeluarkan untuk mencegah terjadinya
cacat kualitas. Biaya pencegahan meliputi: perencanaan kualitas,
pengendalian kualitas dan teknik pengendalian kualitas, perancangan dan
pengembangan peralatan informasi kualitas, pelatihan kualitas dan
pengembangan tenaga kerja, verifikasi rancangan produk, pengontrolan
proses, pengembangan dan manajemen sistem, pemeliharaan peralatan dan
kalibrasi, dan perbaikan kualitas.
2. Biaya Penilaian (Appraisal Cost)
Biaya penilaian adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengevaluasi apakah
produk atau jasa yang dihasilkan sudah sesuai dengan persyaratan-
persyaratan kualitas. Biaya penilaian meliputi: pengujian dan pemeriksaan
terhadap bahan baku yang dibeli, tenaga kerja pemeriksa, perlengkapan dan
bahan pengujian, pemeriksaan dan pengujian kualitas produk, laboratorium
atau jasa pengukuran lainnya, pemeliharaan dan kalibrasi perlengkapan
pengujian, dan pemeriksaan informasi kualitas.
3. Biaya Kegagalan Internal (Internal Failure Cost)
Biaya yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian dengan persyaratan dan
terdeteksi sebelum barang atau jasa dikirimkan ke pihak luar (pelanggan).
Biaya ini dikeluarkan karena rendahnya kualitas yang ditemukan sejak
penilaian awal sampai dengan pengiriman kepada pelanggan. Biaya
kegagalan internal terdiri atas beberapa jenis, misalnya: pengerjaan ulang
(rework), produk cacat (scrap), biaya yang timbul untuk penanganan rejects
produk yang dihasilkan, dan biaya yang timbul untuk penanganan rejects
bahan baku.
4. Biaya Kegagalan Eksternal (External Failure Cost)
Biaya yang terjadi karena produk atau jasa gagal memenuhi persyaratan-
persyaratan dan diketahui setelah produk tersebut dikirimkan kepada para
pelanggan. Biaya ini merupakan biaya yang paling membahayakan karena
dapat menyebabkan reputasi yang buruk, kehilangan pelanggan, penurunan
7
Universitas Kristen Petra
pangsa pasar dan laba yang gagal diperoleh karena hilangnya peluang sebagai
akibat dari adanya produk atau jasa yang tidak dapat diterima oleh pelanggan.
Biaya kegagalan eksternal terdiri atas beberapa jenis, misalnya:
pelayanan/service produk, biaya transportasi untuk penarikan kembali
produk, biaya telepon untuk penanganan keluhan pelanggan selama masa
garansi, dan pertanggungjawaban produk yang mengalami kerusakan.
Biaya pencegahan dan biaya penilaian merupakan biaya yang
diperhitungkan dalam bidang utama di perusahaan sebagai biaya kendali,
sedangkan biaya kegagalan (biaya kegagalan internal maupun biaya kegagalan
eksternal) diperhitungkan dalam biaya kegagalan kendali. Biaya kegagalan
kendali yang terjadi akan sangat merugikan perusahaan dibandingkan biaya
kendali, oleh karena itu dalam perusahaan yang telah menerapkan sistem biaya
kualitas diharapkan biaya kegagalan kendali ini akan menurun dengan
meningkatnya biaya kendali. Menurut Jack Campanella (1999) jika biaya
kegagalan kendali akibat produk cacat dapat direduksi atau secara ekstrim dapat
dihilangkan sama sekali, maka terdapat 2 kemungkinan keuntungan yang terjadi:
• Harga pokok produksi dapat berkurang sehingga dengan harga jual yang
samadapat memperoleh keuntungan/ laba yang lebih besar.
• Dengan mengurangi harga jual tetapi tidak memperbesar laba maka hal
inidapat menambah daya saing perusahaan.
2.3.4. Elemen-Elemen Biaya Kualitas
Elemen pada biaya kualitas merupakan perincian fungsi-fungsi, tugas-
tugas, pengeluaran yang digabungkan secara tepat. Di dalam pengembangan
elemen-elemen biaya kualitas secara detail pendekatan yang dilakukan adalah
dengan menjelaskan aktifitas/pekerjaan yang sedang dilakukan, dimana pekerjaan
tersebut dapat dianggap sebagai biaya kualitas. Pada setiap kategori biaya kualitas
terdapat berbagai macam elemen-elemen biaya kualitas.

8
Universitas Kristen Petra
Tabel 2.1. Elemen-elemen Biaya Kualitas
Prevention Cost Appraisal Cost
Quality planning Pre-production verification
Quality training Receiving inspection
Quality auditing Inspection and testing
Quality improvement programmes Inspection and test equipment
Quality education Material consumed
Acquisition analysis and reporting of
Laboratory testing
quality data
Supplier rating Field performance testing
Supplier Assurance Stock evaluation
Biaya kalibrasi Record Storage
Pemilihan Supplier Checking labor
Training Biaya audit
Desain dan pengembangan produk Depresiasi mesin
Maintenance machine Biaya penilaian lainnya
Process capability evaluations
Biaya pencegahan lainnya
Internal Failure Cost External Failure Cost
Scrap, replacement, rework, and repair Complaints
Downtime Warranty claims
Downgrading Products rejected and returned
Modification permits and concessions Lost of sales
Reinspection and retesting Recall costs
Trouble shooting Concessions
Biaya kegagalan internal lainnya Biaya kegagalan eksternal lainnya

2.4. Analisa Biaya Kualitas


Analisa biaya kualitas dapat dilakukan dengan berbagai macam cara.
Tujuan dilakukannya analisa biaya kualitas memiliki tujuan untuk meningkatkan
kualitas suatu produk/jasa. Menurut Besterfield (1994), beberapa alat yang dapat
digunakan untuk membantu penganalisaan biaya kualitas antara lain:
a. Diagram Sebab Akibat
Diagram sebab akibat merupakan teknik grafik untuk mengelompokkan
pemikiran orang-orang mengenai penyebab suatu masalah secara kualitatif
yang tidak didasarkan pada perhitungan statistika. Diagram sebab akibat ini
digunakan untuk mengidentifikasi dan menganalisa suatu proses atau situasi
dan menemukan kemungkinan penyebab suatu persoalan atau masalah yang
terjadi.

9
Universitas Kristen Petra
Gambar 2.1. Contoh Fishbone Diagram

b. Diagram Pareto
Diagram ini digunakan untuk mengklasifikasikan masalah menurut sebab dan
gejalanya. Masalah didiagramkan menurut prioritas atau tingkat
kepentingannya, dengan menggunakan formal grafik batang, dimana 100%
menunjukkan kerugian total. Prinsip yang mendasari diagram ini adalah
aturan ‘80-20’ yang menyatakan bahwa analisa ini dirancang untuk
membantu menandai penyebab masalah utama. Dengan demikian
memungkinkan untuk memusatkan perhatian pada menghilangkan penyebab-
penyebab utama ini dan mempunyai dampak yang berarti atas pemecahan.

Pareto Chart of Biaya Kualitas


140000000
100
120000000

100000000 80
Percent

80000000
Count

60

60000000
40
40000000
20
20000000

0 0
Biaya Kualitas Es Udang Broken Other
Count 113632002 7398749 6127163
Percent 89.4 5.8 4.8
Cum % 89.4 95.2 100.0

Gambar 2.2. Contoh Pareto Chart

10
Universitas Kristen Petra
c. Diagram Batang (Histogram)
Histogram merupakan diagram batang yang menunjukkan besarnya prosporsi
atau persentase dari elemen-elemen yang dijelaskan. Melalui diagram ini
akan dapat langusng terlihat elemen-elemen mana saja yang memiliki
persentase atau proporsi yang terbesar sehingga memudahkan di dalam
melakukan analisa.

Gambar 2.3. Contoh Histogram

2.5. Peta Proses Operasi (Operation Process Chart)


Peta proses operasi merupakan sebuah peta yang menggambarkan
urutan-urutan kerja sebuah proses dengan membaginya ke dalam elemen-elemen
operasi. Dari peta ini dapat diperoleh suatu informasi berupa waktu-waktu yang
diperlukan untuk setiap tahap proses produksi, peralatan/ mesin/ material yang
digunakan serta diperlukan untuk melakukan proses yang bersangkutan. Peta ini
memiliki kegunaan untuk mengetahui berbagai macam kebutuhan jenis
mesin/proses, mengetahui kebutuhan material, perbaikan alternatif untuk prosedur
kerja, dan tata letak pabrik (layout). Adapun symbol-simbol yang digunakan pada
peta ini adalah sebagai berikut:

• = Bila obyek mengalami perubahan sifat/ transformasi (operation)

• = Memeriksa obyek baik kualitas maupun kuantitas dibandingkan


dengan performance standar (inspection)

• = Obyek disimpan dalam jangka waktu yang lama (Storage)

• = Inspeksi, operasi dilakukan secara bersama-sama (aktivitas gabungan)


11
Universitas Kristen Petra