Anda di halaman 1dari 7

Analisis perbandingan pengakuan pendapatan pada bank konvensional

dengan Bnk Syariah studi kasus pada PT.BANK JABAR BOGOR


Kumpulan Abstrak Skripsi Mahasiswa Sarjana STIEK tahun 2006
Undergraduate Theses from JBPTSTIEK / 2008-03-01 17:32:33
Oleh: Arinta Oktafiyanthi
Dibuat : 2006-08-26, dengan 0 file
Penulis melakukan mengakuan terhadap perbandingan pengakuaan
pendapatan antara bank konvensional dengan bank Syariah pada PT Bank
Jabar Bogor yang berlokasi JL.Kapten Muslihat Bogor dan Bank Jabar Syariah
cabang Bogor yang bertempat JL.Raya Jakarta Bogor Km 52 Bogor,penelitian
dilakukan di Bank Jabar karena pada bank tersebut menerapkan sistem dual
banking sytem yaitu melakukan kegiatan perbanka secara
umum/konvensional sekaligus secara syariah.
Maksud dan tujuan dan penelitian tentang pengakuan pendapatan
pada bank Konversional dan bank Syariah adalah ingin mengetahui lebih
banyak tentang objek yang diteliti dan penulis yakin perbanka dengan dual
banking system ini cukup menarik untuk diteliti dan diharapkan dapat
menambah pengakuaan dan dapat memahami mengenai penerapan
pengakuan pendapatan pada bank Konversional dibandingan dengan bank
Syariah.
Metode penulis gunakan dalam melakukan penelitian ini adalah
deskriftif kualitatif yaitu suatu metode pengumpulan data dengan
membandingakn dat x dengan data y untuk menjawab pertanyaan
Pada dasarnya bank Konversional sama dengan bank Syariah yang
yang membedakan adalah bahwa bank Syariah tidak menerapkan sistem
buanga melainkan pada prinsip-prinsip islam yaitu bagi hasil,perbedaan itulah
yang menjadi pembahasan utama skripsi ini,yaitu cara pengakuan dan
pnghitungan pendapatan.Pada Bank Konversioanl pendapatan diakui secara
akrual dan tidak tergantung keuntungan/kerugian usaha yang dijalankan
nasabah tetapi berdasarkan tingkat persentase yang ditentukan,sedangkan
bank Syariah dasar perhitungannya diakui secara kas dan tergantung kepada
keuntungan/kerugian usaha yang dijalankan oleh nasabah.
Dari penelitian diatas diketahui bahwa pengakuan pendapatan bunga
diakui secara akrual maka pendapatan bunga yang diterima oleh bank
konstan sebagai gambaran pinjaman pokok Rp 1,5 milyar dengan bunga
14,5% tahun maka,bunga yang diterima oleh bank Rp 217.500.000(1,5 milyar
x114,5%).Sedangkan pada bank Syariah dalam memperhitungkan bagi hasil
diakui secara kas dan berdasarkan keuntungan nasabah.Maka sebagai
gambaran syariah memberikan pembiayaan Rp 240 jt dengan membagian
nisbah 70 nasabah dan 30 bank.Keuntungan nasabah pada bulan pertama Rp
10 jt,Maka pendapatan bank Rp 3 jt,pada bulan kedua keuntungan nasabah 5
jt maka pendapatan bank Rp 1,5 jt dengan gambaran tersebut pendapatan
yang diterima oleh bank syariah dalam setahun tidak konstan,karena ada
kalanya nasabah memperoleh keuntungan yang besar atau sebaliknya.
Dari uraian diatas maka,dapat disimpulkan bahwa pengakuan
pendapatan pada bank Konversional diterima secara konstan dan dapat
diprediksi sebelumnya,Sedangakan pada bank Syariah tidak konstan,Saran
penulis adalah agar bank Jabar agar selalu menerapkan prosedur pengakuan
pendapatan sesuai dengan standar Akuntansi keuangan yang berlaku umum.
Deskripsi Alternatif :
Penulis melakukan mengakuan terhadap perbandingan pengakuaan
pendapatan antara bank konvensional dengan bank Syariah pada PT Bank
Jabar Bogor yang berlokasi JL.Kapten Muslihat Bogor dan Bank Jabar Syariah
cabang Bogor yang bertempat JL.Raya Jakarta Bogor Km 52 Bogor,penelitian
dilakukan di Bank Jabar karena pada bank tersebut menerapkan sistem dual
banking sytem yaitu melakukan kegiatan perbanka secara
umum/konvensional sekaligus secara syariah.
Maksud dan tujuan dan penelitian tentang pengakuan pendapatan
pada bank Konversional dan bank Syariah adalah ingin mengetahui lebih
banyak tentang objek yang diteliti dan penulis yakin perbanka dengan dual
banking system ini cukup menarik untuk diteliti dan diharapkan dapat
menambah pengakuaan dan dapat memahami mengenai penerapan
pengakuan pendapatan pada bank Konversional dibandingan dengan bank
Syariah.
Metode penulis gunakan dalam melakukan penelitian ini adalah
deskriftif kualitatif yaitu suatu metode pengumpulan data dengan
membandingakn dat x dengan data y untuk menjawab pertanyaan.
Pada dasarnya bank Konversional sama dengan bank Syariah yang
yang membedakan adalah bahwa bank Syariah tidak menerapkan sistem
buanga melainkan pada prinsip-prinsip islam yaitu bagi hasil,perbedaan itulah
yang menjadi pembahasan utama skripsi ini,yaitu cara pengakuan dan
pnghitungan pendapatan.Pada Bank Konversioanl pendapatan diakui secara
akrual dan tidak tergantung keuntungan/kerugian usaha yang dijalankan
nasabah tetapi berdasarkan tingkat persentase yang ditentukan,sedangkan
bank Syariah dasar perhitungannya diakui secara kas dan tergantung kepada
keuntungan/kerugian usaha yang dijalankan oleh nasabah.
Dari penelitian diatas diketahui bahwa pengakuan pendapatan bunga
diakui secara akrual maka pendapatan bunga yang diterima oleh bank
konstan sebagai gambaran pinjaman pokok Rp 1,5 milyar dengan bunga
14,5% tahun maka,bunga yang diterima oleh bank Rp 217.500.000(1,5 milyar
x114,5%).Sedangkan pada bank Syariah dalam memperhitungkan bagi hasil
diakui secara kas dan berdasarkan keuntungan nasabah.Maka sebagai
gambaran syariah memberikan pembiayaan Rp 240 jt dengan membagian
nisbah 70 nasabah dan 30 bank.Keuntungan nasabah pada bulan pertama Rp
10 jt,Maka pendapatan bank Rp 3 jt,pada bulan kedua keuntungan nasabah 5
jt maka pendapatan bank Rp 1,5 jt dengan gambaran tersebut pendapatan
yang diterima oleh bank syariah dalam setahun tidak konstan,karena ada
kalanya nasabah memperoleh keuntungan yang besar atau sebaliknya.
Dari uraian diatas maka,dapat disimpulkan bahwa pengakuan
pendapatan pada bank Konversional diterima secara konstan dan dapat
diprediksi sebelumnya,Sedangakan pada bank Syariah tidak konstan,Saran
penulis adalah agar bank Jabar agar selalu menerapkan prosedur pengakuan
pendapatan sesuai dengan standar Akuntansi keuangan yang berlaku umum.

PERANCANGAN SISTEM INFORMASI INVENTARISASI BARANG PADA


UNIT KERJA MARCOMM PT. INDOSAT Tbk. CABANG JEMBER
Sistem informasi persediaan barang dan inventarisasinya pada devisi
Marcomm (marketing and communication ) PT. Indosat Tbk. Cabang Jember
saat ini masih menggunakan metode manual yaitu pencatatan dan
pembukuan pada form kertas. sehingga sulit untuk mengetahui jumlah
persedian barang yang berada di gudang dan membutuhkan waktu yang
relatif lama karena harus melakukan pengecekan barang yang berada di
gudang.
Untuk itu perlu merancang sebuah sistem yang terkomputasikan dan
terintegrasi agar lebih efisien, cepat dan tepat serta akurat. Dalam Merancang
sistem informasi inventarisasi barang pada unit kerja tersebut dilakukan
tahapan-tahapan diantaranya menganalisa sistem yang sedang berjalan,
kemudian merancang konteks diagram, merancang Flowchart, merancang
database, merancang inputan dan merancang output.
Sistem yang dirancang menggunakan teknologi berbasis web dengan
terintegrasi dengan database menggunakan script pemrograman PHP,
database management system dengan Mysql, web server menggunakan
Apache yang semuanya terdapat dalam PHPTriad. Sedangkan desain web
menggunakan Dreamweaver, untuk perancangan konteks diagram dan
flowchart menggunkan Power desaign dan visio drawing.
Diharapkan dengan adanya penelitian perancangan sistem ini dapat
menjadi masukan serta bahan pertimbangan dalam membangun sistem
informasi inventarisasi barang pada unit kerja Marcomm PT. Inodsat Tbk.
Cabang Jember berbasis web yang terintegrasi dengan database serta
menjadi tambahan wawasan bagi pembaca dan peneliti tentang perancangan
sistem inventarisasi barang berbasis web yang terintegrasi dengan databese.

Analisis Sistem Informasi Transfer Uang RTGS (Real Time Gross


Settlement) Pada Bank Jabar Banten Cabang Utama Bandung
Dalam bidang akuntansi, sistem pemrosesan informasi akuntansi
berbasis komputer banyak ditawarkan dengan tujuan untuk memberikan
kemudahan bagi para akuntan untuk menghasilkan informasi yang dapat
dipercaya, relevan, tepat waktu, lengkap, dapat dipahami, dan teruji. Dalam
era bisnis global, pengaruh kemajuan teknologi informasi tidak dapat
dihindarkan lagi, seperti penggunaan telepon, faksimili, komputer, dan satelit
dalam berbagai aktivitas sarana berkomunikasi perusahaan. Teknologi
informasi memungkinkan manusia untuk memperoleh informasi dari tempat
yang berjauhan dalam waktu yang singkat dan dengan biaya yang murah.
Dalam penyelesaian tugas akhir ini, penulis menyajikan hasil penelitian
terhadap proses system informasi transfer uang RTGS (Real Time Gross
Settlement) pada Bank Jabar Banten Cabang Utam Bandung. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui proses transaksi transfer uang RTGS (Real Time
Gross Settlement), mulai dari proses penginputan sampai output yang
dihasilkan dari proses transaksi tersebut, serta kendala atau risiko yang
dihadapi. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriftif yaitu suatu
metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu kondisi, suatu
pemikiran ataupun suatu kegiatan peristiwa dan akurat mengenai fakta-fakta,
sifat-sifat antara fenomena yang diselidiki. Sedangkan teknik pengumpulan
data untuk memahami proses transaksi transfer uang RTGS (Real Time Gross
Settlement) pada Bank Jabar Banten adalah dengan melakukan observasi,
pengamatan, dan wawancara dengan bagian yang terkait. Berdasarkan hasil
penelitian atas proses transaksi transfer uang RTGS (Real Time Gross
Settlement) melalui analisis bahwa proses sistem informasi yang dilakukan
pada Bank Jabar Banten dapat dikatakan cukup baik , karena proses sistem
informasi dimulai dari transaksi, kemudian penginputan menggunakan sistem
komputerisasi yang telah sesuai dengan standar Bank Indonesia.
DUA DUNIA KAMI (JUMAT, 1 OKTOBER DAN MINGGU, 3 OKTOBER
2010)
Penampilan seseorang kadang bisa menjebak kita. Orang yang sekilas
terlihat kalem dan pendiam, tetapi kadang dia mempunyai hobbi atau profesi
lain yang bertolak belakang alias sangat ekstrem. Mungkin topik Kick Andy
kali ini sangan cocok dengan pepatah yang mengatakan “Jangan menilai
sebuah buku dari sampulnya.”
Adalah pemuda kalem dan santun bernama Danar Sanjaya. Pria
berkacamata ini sehari-hari bekerja sebagai operator di salah satu Stasiun
Pengisihan Bahan Bakar untuk Umum atau SPBU di daerah Taman Tirto,
Bantul, Yogyakarta. Hampir setiap jam kerja, hari-hari Danar dihabiskan untuk
melayani pelanggan yang hendak mengisi bahan bakar untuk mobil atau
motor. Sepintas pekerjaan yang dilakoni pria berkacamata minus ini tidak ada
yang istimewa dan sangat monoton. Namun di balik pekerjaan Danar yang
monoton dan rutinitas itu ternyata dia berprofesi sebagai pemain band. Tidak
tanggung-tanggung di grup band ini Danar sebagai vokalis. Dan band ini
beraliaran hardcord alias cadas.
Sementara itu di Surabaya ada Mama Bonita. Di setiap kesempatan
acara ulang tahun anak-anak misalnya, Mama Bonita menghibur anak-anak
itu sebagai badut. Dengan kostum dan make up yang berwarna – warni,
Mama Bonita selain membuat gerakan-gerakan yang lucu ia juga memainkan
sulap. Mama Bonita mengaku sangat senang menjadi badut. Selain
mendapatkan honor yang lumayan, ia juga bisa dekat dengan anak-anak.
“Anak-anak itu sangat bergembira. Dan, saya sangat senang melihat ekspresi
mereka yang gembira itu,”ujar Mama Bonita. Nah, tahukah Anda, di balik
pakaian badut itu ternyata sehari-hari Mama Bonita adalah seorang perwira
polisi. Ya,Mama Bonita adalah polisi berpangkat Ajun Komisaris Polisi yang
bertugas di Polda Jawa Timur.
Tiga pria masing-masing Deddyk Eryanto Nugroho, Justinus Irwin
Ardyanto dan Wahyu Nugoroho adalah personel kelompok band yang berjuluk
Bangkutaman. Band yang beraliran indie ini sudah mengeluarkan beberapa
album dan sudah pentas di berbagai pertunjukkan. Namun dibalik aktivitas
bermusik, mereka mempunyai profesi bertolak belakang dengan kegiatan
bermusiknya. Deddyk Eryanto Nugroho berprofesi sebagai pengacara, Justinus
Irwin Ardyanto sebagai editor buku dan Wahyu Nugroho alias Acum sebagai
wartawan majalah musik.
Satu lagi narasumber Kick Andy yang mempunyai dua profesi yang
bertolak belakang adalah Rustamaji yang biasa dipanggil Kachong. Sudah
hampir 15 tahun Kachong menjadi juru parkir di depan gedung SMU 6,
Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Selain menjadi juru parkir, Rustamaji yang
asal Madura, Jawa Timur ini juga menjadi pemulung. Ia mengumpulkan botol
minuman plastik di jalan-jalan ke dalam karung. “Botol-botol plastik itu saya
kumpulkan. Sekitar satu bulan nanti ada yang datang untuk membeli barang-
barang yang saya kumpulkan,” kata Kachong memberi alasan.
Diluar dugaan, ternyata di balik profesi sebagai juru parkir dan
pemulung Kachong adalah guru tari, teater dan pemain musik etnis. Pada
hari-hari tertentu Kachong mengajar tari kepada beberapa orang yang
berminat.
Cita-cita atau harapan untuk menjadi seseorang memang suatu
misteri yang kadang sangat sulit untuk diwujudkan. Tidak jarang untuk
menuju suatu cita-cita seseorang harus melalui jalan yang berliku dan penuh
rintangan. Untuk itu, jika Anda sudah mendapatkan isyarat di hati atau lentera
jiwa, Anda bisa mengikutinya. (end)

DEMI PRESTASI SANG BUAH HATI (JUMAT, 24 DAN MINGGU, 26


SEPTEMBER 2010)
Bagi sebagian orang, profesi atlet mungkin bukan lagi sebuah pilihan,
tapi sejumlah orang tua yang hadir di Kick Andy kali ini telah mengorbankan
banyak hal agar sang anak bisa mewujudkan cita-cita menjadi atlet dan
prestasinya mendunia.
Pasangan Kiswadi dan Hariyani yang mantan atlet balap motor tingkat
local asal Yogyakarta misalnya. Hobi mereka main di sirkuit, secara langsung
telah menurun pada putranya, Doni Tata Pradita. Maklum, Pasangan itu sering
bermain di sirkuit sambil mengasuh putranya itu. Alhasil umur 9 tahun, Doni
sudah merengek minta ikut balapan. “Pertama kali saya balap memakai baju
bekas ibu saya,” kenang Doni.
Upaya keras dilakukan pasangan ini agar bisa mewujudkan cita-cita
anaknya menjadi pembalap. Usaha bengkel kecil-kecilan kadang tak cukup
untuk memodali sebuah event. “Kadang kami harus menggadaikan beberapa
barang di rumah, agar Doni bisa ikut lomba,” kata Kiswandi saat tampil di Kick
Andy.
Perjuangan tertatih-tatih telah member buah yang manis. Kini Doni
sudah menorehkan berbagai prestasi, mulai tingkat daerah,hingga
internasional. Prestasi dunianya dimulai dengan gelar pembalap pertama dari
Indonesia pada kelas 250 CC, di Grand Prix kejuaraan dunia, tahun 2008 lalu,
saat ia berusia 17 tahun.
Keinginannya menjadi juara dunia, terus diasah, melalui latihan fisik
dengan motocross. Tahun ini, ada 2 seri kejuaraan tersisa, yakni di China,
Oktober mendatang dan di pengujung tahun 2010, Doni akan berlaga lagi di
Qatar, pada ajang Asia Super Sport.
Dari Bekasi, ada kisah tentang Irene Kharisma ZSukandar, seorang
Grand Master Wanita Internasional, yang lahir dari keluarga pasangan Singgih
Yehezkiel dan Cici Ratna Mulya. Pasangan ini rela menjual rumahnya untuk
bisa membiayai pelatihan catur anaknya. “Saya sudah tawarkan dan ajak
anak saya dalam beberapa kegiatan ektrakurikuler, tapi yang dipilih malah
catur,” ujar Singgih.
Prestasi pertama Irene dimulai pada usia 9 tahun, dengan mengikuti
kejuaraan nasional dan meraih gelar Master Percasi Wanita, sejak itu berbagai
prestasi mulai ditorehkannya. Hingga pada tahun 2008, Irene berhasil meraih
Grand Master Wanita Internasional, saat usianya masih 16 tahun.
Demi mendukung prestasi anaknya dalam olahraga catur, Singgih dan
isterinya memang tak tanggung-tanggung mendukung baik dalam hal moriil
dan material.Misalnya mereka rela makan seadanya dan mengalah pada
menu makanan anaknya yang harus selalu mengandung protein.Di sisi lain,
Singgih yang juga mantan atlet provinsi tenis meja ini, kerapkali menerapkan
disiplin tinggi bagi putrinya Irene. Bahkan hingga kini jika Irene kalah
bertanding, maka ia harus menerima hukuman berlari keliling lapangan di
Gelora Bung Karno Senayan.
Memiliki anak dengan keterbatasan? Mungkin bisa belajar pada orang
tua atlet Judo, Krishna Bayu. Ia lahir dari keluarga atlet, lima dari sepuluh
saudaranya atlet judo dan ayahnya yang juga pelatih judo, Amin Prambudi. Di
Kick Andy, Amin menceritakan bagaimana pengalamannya mengatur pola
makan dan latihan bagi anak-anaknya, termasuk bagi Bayu yang memiliki
riwayat penyakit epilepsi.
Dalam kondisi demikian, Bayu sudah menorehkan prestasi baik di
tingkat nasional dan tingkat internasional. “Saya ingin menunjukkan bahwa
kekurangan itu bisa menjadi kekuatan,” ujar Khrisna yang mendapat pelatihan
khusus dari sang ayah sejak usia dini.
Bagi Khrisna, tugas seorang atlet di event internasional adalah
mengibarkan sang Merah Putih. Sebagai anak bangsa, Ia mewujudkan
tanggung jawabnya itu, meski sejak 13 tahun lalu cedera lutut, dan
mengalami betis yang sobek pada Sea Games 2009 di Laos. “Saya gak akan
setengah-setengah meski kaki saya robek otot saya tapi ga kan mundur, saya
tidak akan menyerah,” tegasnya. Alhasil, dalam kondisi demikian, Khrisna bisa
merebut medali emas dan mengibarkan bendera Merah Putih.
Semangat yang membara juga dimiliki oleh Victoria Chandra Tjiong,
gadis asal bali yang memiliki prestasi cemerlang di dunia olahraga golf. Gadis
berusia 13 tahun ini mampu menembus peringkat ke-7 dunia dalam ranking
pegolf internasional di kelompok umurnya. Prestasi hebat ini ia peroleh pada
juli 2010 lalu, dalam turnamen optimis junior world champion di Florida,
Amerika Serikat.
Perkenalan victoria dengan stick golf, dimulai ketika duduk di bangku
kelas IV SD, dimana ia sering mengikuti ayahnya Rudi Chandra yang punya
hobi bermain golf. Meski sang ayah cuma pegolf amatir, tapi Rudi da istrinya
dengan serius mendukung keinginan anaknya untuk menjadi seorang pegolf
professional.
Prestasi gadis yang biasa dipanggil Vicky tak hanya pada kelompok
umur 13, dalam Indonesia Ladies Open 2008 lalu, Vicky berhasil menyabet
Overall Best Nett, sementara di tingkat internasional, dia meraih Best Net II
dalam Filipina Ladies Open tahun 2009.
Dari Dunia bulu tangkis, ada kisah seorang single parent yang berjuang
untuk meng-atletkan dua putranya. Adalah Halimah, yang biasa dipanggil
Awan, seorang perempuan single parent yang harus hijrah dari Palembang ke
Jakarta, setelah perceraian dengan sang suami.
Halimah kemudian memutuskan untuk membuka usaha sendiri dengan
berjualan pempek khas palembang, sementara dua anaknya Frans Kurniawan
dan Fernando Kurniawan kemudian dititipkan di rumah sang nenek.
Ketertarikannya pada olahraga ini dimulai saat ia menonton acara
olahraga bulu tangkis di televisi. Berawal dari ketertarikan dan didukung
dengan upaya keras sang ibu mencari biaya awal sebagai atlet. ”Padahal
masa itu nyari uang Rp 150 ribu untuk pendaftaran ikut club saja susah
sekali,” kata Halimah.
Kisah susah sudah berubah, karena kini Frans dan Fernando bisa
meraih prestasi demi prestasi di bidang bulu tangkis, baik di tingkat nasional
maupun dunia. Keberhasilan keluarga ini sudah memperlihatkan pada kita,
bahwa dengan perjuangan dan kasih sayang, seorang ibu single parent pun,
bisa mencetak kedua anaknya menjadi atlit bulutangkis yang mengharumkan
bangsa.
Tak jauh dari kisah itu, di dunia badminton ada juga Cerita Febby
Angguni, yang sejak kecil punya ketertarikan pada olahraga ini. “Selagi kecil,
suka merengek-rengek atau nangis kalo minta raket gak kami kasih,” kenang
Merry Martini, sang Ibu.
Melihat bakat anaknya, Sang Ayah, Tony Karel, kemudian mencoba
mendaftarkan Feby di beberapa club bulutangkis. Maka gadis kecil itu pun
harus sudah sering pisah bersama orang tua sejak usia kelas IV Sekolah
Dasar, demi cita-ciatnya menjadi seorang atlet. Prestasi Febby angguni terus
menanjak, sejak berkiprah di PB Djarum, baik di kejuraaan nasional dan
internasional.