P. 1
Laporan SPM Borobudur Revisi

Laporan SPM Borobudur Revisi

|Views: 368|Likes:
Dipublikasikan oleh spider_mech

More info:

Published by: spider_mech on Dec 15, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Kesehatan pada hakekatnya adalah unsur yang tidak terpisahkan dari kesejahteraan manusia serta merupakan kondisi normal yang menjadi hak yang wajar dari setiap orang yang hidup dalam upaya penyesuaiannya dengan lingkungan. Kesehatan merupakan suatu hal yang sangat berharga yang dapat mempengaruhi kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Oleh karena itu, kesehatan harus dipelihara dan ditingkatkan melalui suatu upaya kesehatan. Pengertian kesehatan menurut Undang-Undang Kesehatan Republik Indonesia Nomor 36 tahun 2009 adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan upaya kesehatan merupakan kegiatan untuk memelihara meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat. Beberapa tahun ke depan diharapkan pembangunan kesehatan di Indonesia dapat mencapai kemajuan sehingga dapat mengejar ketertinggalan dari negara yang lebih maju. Untuk mencapai tujuan tersebut diselenggarakan program pembangunan nasional yang berkelanjutan, terencana dan terarah. Pembangunan kesehatan yang semula sangat menekankan upaya kuratif dan rehabilitatif, secara bertahap diubah menjadi upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif. Pemahaman baru tentang konsep atau 1

definisi

kesehatan

dan

meningkatnya

kesadaran

akan

faktor-faktor

yang

mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat menimbulkan paradigma baru yaitu ”paradigma sehat”. Paradigma sehat adalah salah satu cara pandang atau pola pikir dalam menyelenggarakan pembangunan kesehatan yang dalam pelaksanaannya sepenuhnya menerapkan prinsip-prinsip pokok kesehatan. Penerapan paradigma sehat sebagai suatu kebijakan pembangunan kesehatan telah dijabarkan secara lengkap ke dalam 4 hal yang bersifat pokok, yaitu : 1. Visi pembangunan kesehatan di Indonesia adalah Indonesia Sehat 2010. Sejak awal tahun 1999, telah ditetapkan visi baru Pembangunan Kesehatan yang secara singkat dinyatakan sebagai INDONESIA SEHAT 2010. Dengan rumusan ini dimaksudkan bahwa pada tahun 2010 kelak bangsa Indonesia sudah akan hidup dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat, serta dapat memilih, menjangkau dan memanfaatkan pelayanan kesehatan yang bermutu, merata dan

berkeadilan, sehingga memiliki derajat kesehatan yang optimal. 2. Misi pembangunan kesehatan di Indonesia adalah : a. Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan b. Mendorong kemandirian masyarakat untuk hidup sehat c. Memelihara dan meningkatkan pelayanan kesehatan yang bermutu merata dan terjangkau d. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, keluarga dan masyarakat serta lingkungannya

2

3. Strategi pembangunan kesehatan di Indonesia : a. Pembangunan nasional berwawasan kesehatan b. Profesionalisme c. Jaminan pemeliharaan kesehatan masyarakat d. Desentralisasi 4. Pokok-pokok program pembangunan kesehatan : a. Pokok program pemberdayaan masyarakat b. Pokok program upaya kesehatan c. Pokok program lingkungan sehat d. Pokok program pengembangan sumber daya kesehatan e. Pokok program pengembangan kebijaksanaan dan manajemen f. Pokok program pengembangan dan penelitian kesehatan

Dari hal tersebut di atas peran puskesmas sebagai unit pelayanan terdepan menempati posisi yang strategis sebagai pusat pengembangan pembangunan kesehatan dalam mencapai salah satu tujuan pembangunan nasional. Puskesmas diartikan sebagai suatu organisasi kesehatan fungsional yang memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya. Agar tercapainya tujuan tersebut, puskesmas bertanggung jawab

menyelenggarakan upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang keduanya jika ditinjau dari sistem kesehatan nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Upaya kesehatan tersebut dikelompokkan menjadi dua, yakni :

3

Upaya kesehatan wajib Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah upaya yang ditetapkan berdasarkan komitmen nasional. Upaya kesehatan wajib ini harus diselenggarakan oleh setiap puskesmas yang ada di Indonesia.1. Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular f. Upaya perawatan masyarakat b. Upaya kesehatan pengembangan Upaya kesehatan pengembangan puskesmas adalah upaya yang diterapkan berdasarkan permasalahan kesehatan yang ditemukan di masyarakat serta yang disesuaikan dengan kemampuan puskesmas. Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana d. Upaya kesehatan jiwa c. Upaya kesehatan wajib tersebut adalah: a. regional dan global serta yang mempunyai daya ungkit tinggi untuk peningkatan derajat kesehatan masyarakat. Upaya perbaikan gizi masyarakat e. Upaya kesehatan sekolah d. Upaya promosi kesehatan b. Upaya kesehatan usia lanjut Untuk terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya kesehatan masyarakat yang sesuai dengan azas dengan penyelenggaraan 4 . Upaya kesehatan lingkungan c. Upaya kesehatan pengembangan yang ada di puskesmas adalah : a. Upaya pengobatan 2.

Hal ini tentu tidak lepas dari upaya pengelolaan (manajemen) dan jaminan mutu (quality assurance) dari puskesmas tersebut. Adapun misinya adalah: 1. 5. Manajemen puskesmas adalah rangkaian kegiatan yang bekerja secara sistematis untuk menghasilkan keluaran puskesmas yang efektif dan efisien. 2. Kepuasan pelanggan adalah hal utama Puskesmas Borobudur merupakan unit terkecil pelayanan kesehatan di Kecamatan Borobudur.puskesmas perlu ditunjang oleh manajemen puskesmas yang baik. Walaupun proses-proses tersebut sudah dijalankan semaksimal mungkin Meningkatkan mutu pelayanan Menjalin kemitraan pelanggan dalam memelihara dan meningkatkan 5 . Meningkatkan mutu dan profesionalisme SDM Meningkatkan kesejahteraan karyawan Meningkatkan kebersihan dan keindahan lingkungan Puskesmas Memelihara agar orang tetap sehat dengan membentuk lingkungan yang sehat. 6. kesehatan 3. terjangkau dan dipercaya sehingga terwujud masyarakat Borobudur Sehat 2010. mengikutkan peran serta masyarakat dan mendorong kemandirian hidup sehat Sedangkan filosofi yang dianut oleh Puskesmas Borobudur adalah: 1. Kabupaten Magelang. Visi Puskesmas Borobudur adalah menjadi pusat pelayanan kesehatan yang bermutu. Memperlakukan pelanggan sebagaimana diri kita ingin diperlakukan 2. 4. Mencegah lebih baik dari pada mengobati 3.

demografi. Kesehatan Lingkungan. Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M). Mengetahui cara memprioritaskan masalah pencapaian upaya kegiatan Puskesmas Borobudur dengan metode Hanlon kuantitatif. B. 2. c. Gizi. b. Tujuan 1. Mengetahui hasil pencapaian upaya-upaya kesehatan : KIA dan KB. g. dan P3 pada Puskesmas Borobudur. Mampu menganalisa masalah pencapaian upaya-upaya kegiatan Puskesmas Borobudur dengan menggunakan pendekatan sistem dan dilihat dari manajemen Puskesmas. kabupaten Magelang. Tujuan Khusus a. lingkungan. Tujuan Umum Mengetahui. Mampu mengidentifikasi masalah Puskesmas Borobudur f. d.namun masih ada beberapa kekurangan yang harus dikaji untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan masyarakat yang lebih efektif dan efisien. Promosi Kesehatan dan Pengobatan di Puskesmas Borobudur pada bulan Januari-September 2010. Mengetahui proses P1. perilaku kesehatan) wilayah kerja Puskesmas Borobudur. e. Mendeskripsikan data umum (geografi. P2. 6 . Mengetahui proses manajemen Puskesmas Borobudur. menganalisa dan mendeskripsikan pelaksanaan manajemen program dan pelayanan di Puskesmas Borobudur periode Januari sampai September 2010 serta memberikan alternatif pemecahan masalah dalam rangka upaya perbaikan kinerja puskesmas.

Kecamatan Borobudur. Hasil cakupan dibandingkan dengan target tahun 2010 didapatkan pencapaian. C. dokter dan staf puskesmas. Data sekunder diperoleh dari catatan data tertulis yang ada di puskesmas. Kemudian analisis faktor penyebab masalah tersebut dimasukkan ke dalam Fish Bone Analyze. Mampu membuat suatu kesimpulan dan memberikan saran-saran dari hasil analisa yang didapat.h. Kemudian ditentukan prioritas masalah dengan Hanlon kuantitatif. Data primer berupa pelaksanaan proses manajemen (P1. Masalah didapatkan jika pencapaian kurang dari 100%. Dari prioritas masalah tersebut dilakukan analisis penyebab masalah dengan pendekatan sistem. Kabupaten Magelang. Penyebab masalah diprioritaskan lalu ditentukan alternatif pemecahan masalah dengan MIV/C (kriteria matriks). lalu dibuat POA (rencana kegiatan) 7 . Metodologi Pengumpulan data berupa data primer dan data sekunder yang didapatkan selama lima hari pada tanggal 25-30 Juli 2010 di Puskesmas Borobudur. data yang diperoleh yaitu data hasil kegiatan sampai dengan bulan berjalan dibandingkan dengan sasaran bulan berjalan lalu diperoleh cakupan. P2. Dari segi manajemen puskesmas. untuk memperoleh informasi program pelayanan di puskesmas. P3) diperoleh dari wawancara dengan kepala puskesmas.

Utara . Kab. Luas Wilayah Kerja 1.Selatan . 1. 8 : 20 (dua puluh) desa . Wilayah kerja Puskesmas Borobudur adalah seluas 5458 Km2 Jumlah desa/kelurahan Jumlah desa yang ada di wilayah kerja Puskesmas Borobudur adalah : 1.3.1 Keadaan Geografi Wilayah Kecamatan Borobudur terdiri dari 20 desa. Lingkungan 1. Kulon Progo dan Propinsi DIY : Kecamatan Salaman : Kecamatan Kota Mungkid dan Kecamatan Mungkid b. Keadaan Umum dan Lingkungan 1.2.Barat .Timur : Kecamatan Salaman dan Kecamatan Tempuran : Kecamatan Kali Bawang. Batas-batas Wilayah Puskesmas Borobudur adalah : . yaitu wilayah kerja Puskesmas Borobudur. Desa Peta wilayah Kecamatan Borobudur Kabupaten Magelang terbagi satu wilayah kerja Puskesmas.1. a.BAB II ANALISIS SITUASI A.

Gambar 1. Peta Wilayah Kerja Puskesmas Borobudur Kabupaten Magelang 1.4. Transportasi Adapun untuk transportasi di wilayah kerja Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Borobudur yang sesuai dengan kondisi desa dapat dijabarkan sebagai berikut : Jumlah desa yang dapat dicapai dengan roda 4 ( empat ) : 9 .

dengan 1 desa miskin yaitu Desa Bigaran. yang terdiri dari 92 dusun. Ringinputih 16. Jumlah Desa Wilayah Kerja Jumlah desa wilayah kerja Puskesmas Borbudur sebanyak 20 desa. Majaksingi 5. Giripurno 2.desa adalah ojek - Jarak Puskesmas : * Ke Dinas Kesehatan Kabupaten * Ke Kota Kabupaten : 12 Km : 17 Km c. Kembanglimus 15. Tuksongo 4. Borobudur 18. Giritengah 3. Tanjungsari 12. Bigaran 7.* Pada musim kemarau * Pada musim hujan - : 20 desa : 20 desa Jumlah desa yang dapat dicapai dengan roda 2 ( dua ) : * Pada musim kemarau * Pada musim hujan : 20 desa : 20 desa - Kendaraan umum yang ada : * Untuk mencapai kota kabupaten adalah bus dan angkutan desa * Untuk mencapai ke desa . Sambeng 8. Candirejo 11. Kenalan 6. Bumiharjo 17. Karangrejo 10 . Tegalarum 14. Karanganyar 13. Desa di wilayah kerja Puskesmas Borobudur : 1.

Kondisi Geografis 1. 3. Kebonsari : 29% (198.5% Sumber : Data Kesehatan Lingkungan Puskesmas Borobudur tahun 2008 Dari data di atas terlihat sebagian besar penduduk (57. f.16 Ha) Sarana komunikasi dari puskesmas ke luar : telepon.682. radio. Hal ini lebih tinggi dibandingkan dengan profil Jawa Tengah (36. Sarana Pelayanan Air Bersih No. Sarana Jamban 11 . 2.652 5.99% 1. Datar sampai bergelombang Bergelombang sampai berbukit Berbukit sampai bergunung e. 3. 1.028 544 1. 2.649 ∑ Pemakai 31.16% 0.1 Ha) : 36% (246. Data Kesehatan Lingkungan 1. Ngargogondo 10.9. surat kabar.593.88% 1.69%) di wilayah kerja Pusekesmas Borobudur memakai sumur gali sebagai sumber air bersih. 2.034 979 39.27%). Komunikasi 19.171 17 167 227 67 4.69% 9. Sarana Pelayanan Air Bersih Sumur gali Perlindungan mata air Non PDAM PDAM Sumur pompa tangan TOTAL ∑ Sarana 4.78% 71. 4. Ngadiharjo 20. 5.237 Persentase 57.74 Ha) : 35% (239. Sarana pelayanan air bersih Tabel 1. Wanurejo d.530.

3. Sarana Jamban Cemplung leher angsa Cemplung non leher angsa Septic tank non leher angsa Jamban umum (MCK) TOTAL ∑ Sarana 2. maka dapat disimpulkan bahwa sarana pembuangan limbah di wilayah kerja Puskesmas Borobudur lebih baik dari profil Jawa Tengah. BP gigi : 3 ruang : 1 ruang : 1 ruang 12 .983 52 5. Luas tanah Luas gedung Jumlah tempat tidur Ruang pelayanan yang tersedia : 527 m2 : 365 m2 : 9 buah tempat tidur : 1.391 Persentase 23. Situasi Puskesmas Puskesmas Borobudur merupakan puskesmas rawat inap yang terdiri atas 1 puskesmas induk dan mempunyai 4 puskesmas pembantu (Kenalan.108 rumah terdapat 7. Sarana Pembuangan Air Limbah Dari 8. g. Sarana Jamban No.915 544 29. Bila dibandingkan dengan profil Jawa Tengah (39.25%). Borobudur).352 rumah (91%) yang memiliki saluran pembuangan air limbah.5% Sumber : Data Kesehatan Lingkungan Puskesmas Borobudur tahun 2008 Dari data di atas terlihat bahwa penggunaan jamban cemplung leher angsa (23.578 9. 4.Tabel 2. 2. BP umum 3.24%) 3.18% 12% 1% 55.8%) dalam masyarakat yang berada di wilayah kerja Puskesmas Borobudur lebih rendah dari profil Jawa Tengah (64.8% 18.818 1.042 1. 1. Ruang rawat inap 2.925 9. Karang anyar. Tegalarum.077 ∑ Pemakai 12.

Tuksongo.Bumiharjo. Wanurejo )  Bidan desa : 21 orang di 20 desa (Giripurno. Tegalarum. Karanganyar. Ngargogondo.Kenalan. Ngadiharjo. Borobudur. Sambeng. Ruang laboratorium 6.Candirejo. Majaksingi. Karanganyar. Dapur h. Karangrejo. Gudang obat 8. Tuksongo. Sarana Kesehatan Puskesmas induk Puskesmas pembantu Polindes  PKD : 1 buah : 2 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 1 ruang : 4 buah (Kenalan.Sambeng. Giritengah.Kembanglimus) Posyandu Dukun bayi terlatih UKS : 67 unit : 118 tempat : 29 orang Pelembagaan PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) Keluarga yang telah menganut pola hidup bersih dan sehat sesuai dengan urutan tingkat status kesehatan adalah sebagai berikut : 13 .Giritengah. Ruang pelayanan obat 7.Bigaran. Kebonsari. Bigaran. Ruang KIA-KB 5.Tegalarum. Majaksingi.Wanurejo.Ringinputih.Ngadiharjo. Borobudur) : 1 buah (Bumiharjo) : 12 buah (Giripurno. Tanjungsari.4. Candirejo. Ngargogondo. Kebonsari. Karangrejo.

546 KK : 10.23 % : 40.331 : 28.06 % : 15.3 jiwa/km2 : 10661 pasangan Dari data yang kami peroleh dapat disimpulkan bahwa kepadatan penduduk di kecamatan Borobudur masih rendah bila dibandingkan dengan profil Jawa Tengah.279 jiwa : 28. Komposisi penduduk berdasarkan golongan umur di wilayah kerja Puskesmas Borobudur tahun 2009 NO. UMUR (TAHUN) JUMLAH 14 .- Strata I Strata II (Pratama) (Madya) : 1.013 : 15. Data penduduk berdasarkan umur tampak pada tabel sebagai berikut : Tabel 3.2 • • • • • • Keadaan Penduduk Jumlah penduduk Jumlah laki-laki Perempuan Jumlah KK Kepadatan penduduk Jumlah pasangan usia subur : 56.75 % Strata III (Utama) Strata IV (Paripurna) 1.04 % : 14.

12. 15. 18. 7 – 15 9067 5. 1.1. 19. 5. > 60 10386 Sumber : Data Dinas Kependudukan Kecamatan tahun 2009 Tabel 4. 7. No. Nama Desa Laki-laki Perempuan Jumlah Penduduk Giripurno 1200 1121 2321 Giritengah 1675 1634 3309 Tuksongo 1568 1603 3171 Majaksingi 1343 1404 2747 Kenalan 689 594 1283 Bigaran 645 675 1320 Sambeng 699 719 1418 Nama Desa Laki-laki Perempuan Jumlah Penduduk Candirejo 2078 2099 4177 Ngargogondo 887 312 1199 Wanurejo 1960 1871 3831 Borobudur 4184 4027 8211 Tanjungsari 590 585 1175 Karanganyar 840 775 1615 Karangrejo 1293 1256 2549 Ngadiharjo 2223 2293 4516 Kebonsari 959 902 1861 Tegalarum 1052 1100 2152 Kembanglimus 961 905 1866 Ringinputih 2550 2483 5033 Bumiharjo 987 957 1935 Total 28374 27315 55689 Sumber : Data Dinas Kependudukan Kecamatan tahun 2009 3. Sarana Peribadatan April 2010 15 . 13. 20. 9. 16 – 21 4925 6. Komposisi Penduduk Per Desa di Wilayah Puskesmas Borobudur Tahun 2009 No. 4. 8. 6. 16. 17. 5–6 1458 4. 2. 1. 11.5 2992 3. 0–1 1068 2. 22 – 59 30509 7. 14. Sosial Budaya a. 10. 3.

Data Pemeluk Agama di Wilayah Puskesmas Borubudur tahun 2006 Agama Islam Kristen Katolik Budha Jumlah 52. 03% 0.- Masjid Gereja Musholla : 106 buah : 5 buah : 47 buah Data pemeluk agama dapat dilihat dari tabel berikut : Tabel 5.21% 2.73% 0.358 21 % Tamat SD/MI 21. Tingkat Pendidikan Tabel 6.489 13 Persentase 97.966 114 1.02% Hindu 4 0.007% Total 54. Tingkat Pendidikan usia 5 Tahun ke Atas di Wilayah Puskesmas Borobudur Tahun 2009 Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase Belum pernah sekolah 3432 7% Tidak tamat SD 10.586 100% Sumber : Badan Pusat Statistik Kabupaten Magelang Kecamatan Borobudur tahun 2006 b.040 42 % Tamat SLTP 7642 15 % Tamat SLTA/MA 5735 13 % Tamat AK/PT 757 2% Total 48964 100 % Sumber : Data Dinas Kependudukan Kecamatan tahun 2009 Sarana Pendidikan : 16 .

3 100 17 . kolam. selokan) Kebiasan membuang sampah tidak pada tempatnya d.86 2.571 11. Perilaku positif (mendorong pembangunan kesehatan) Kegotongroyongan Kegiatan jumat bersih di beberapa desa Pertemuan dasa wisma (PKK rutin di desa-desa) Perilaku negatif (menghambat pembangunan kesehatan) BAB tidak pada tempatnya (disungai.702 383 1.8 25.107 18.2 6.54 1.128 474 Jumlah 1.83 0.778 44.215 2. Sosial ekonomi Mata Pencaharian Tabel 7.955 1. 2. Mata Pencaharian Penduduk Wilayah Kerja Puskesmas Borobudur tahun 2006 Mata Pencaharian Buruh tani Petani Buruh PNS/ABRI Sopir angkutan Mata Pencaharian Pedagang Pensiunan PNS/ABRI Pengusaha Lain-lain TOTAL Jumlah 6. kebun.- TK SD/MI SLTP/MTS SLTA/MA Pondok Pesantren : 30 buah : 51 buah : 11 buah : 5 buah : 1 buah c.65 2. Perilaku Masyarakat 1.06 Persentase 3.5 42.376 Persentase 14.

Sumber : Data Dinas Kependudukan Catatan Sipil tahun 2006 - Sarana perekonomian • • • • • • • • Industri rumah tangga : 34 buah Pasar umum Bank Warung makan KUD Terminal Salon Hotel : 5 buah : 3 buah : 36 buah : 2 buah : 1 buah : 12 buah : 15 buah 18 .

Farida Pudjiastuti Kelompok Jabatan Fungsional Administrasi Umum Lisfantono. bidan desa Peningkatan Gizi : Indah. Istiqomah. dr Siswanto Spesialis : dr Spesialis Poli Gigi : drg. Candirejo.. dr Yuniar Dapur/Gizi : Indah Penyehatan Lingkungan : Kurnia Artanti P2 malaria/DBD : Wiwik P2 TB/Imunisasi/Kusta : Mujiati P2 ISPA/Diare : Enik UKS : Solimah Perkesmas : Istiqomah Promkes : Sumaryani Kesehatan Keluarga : Esti Murdiwati Endang P. dan Ngadiharjo PKD Giritengah dan Kebonsari PKD Giripurno dan Majaksingi Puskesmas Pembantu Tegalarum : Wiwik Widayati Kenalan : Enik Karanganyar : Istiqomah Borobudur : Solimah Penunjang Laboratorium: FX.Listanto Apotek : Susi Pendaftaran : Shinta SIMPUS : Norma 19 .Lus Udiarti KIA : Esti Murdiwati KB : Endang Puji Rawat Inap Rawat Inap : dr Siswanto. FX Listanto Keuangan Enik K. Kurnia A.STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS BOROBUDUR Kepala Puskesmas Dr. Unit Pelayanan Kesehatan Unit Penggerak Pembangunan Kesehatan Unit Pemberdayaan Masyarakat dan Keluarga Rawat Jalan Poli Umum: dr Yuniar.. Kusniati PKD Sambeng.

Tenaga Kerja di Wilayah Kerja Puskesmas Borobudur tahun 2010 Tenaga Kerja Jumlah Kebutuhan Jumlah Yang Ada Puskesmas induk Dokter umum 3 4 Dokter gigi 1 2 Bidan puskesmas 3 3 Bidan desa 20 21 Perawat kesehatan 15 15 Perawat gigi 1 1 Sanitarian 1 1 Petugas gizi 2 1 Tenaga laboratorium 2 2 Pengelola obat 2 2 Tenaga administrasi kesehatan 2 2 Petugas loket 1 2 Juru malaria desa 3 3 Pengemudi 1 1 Penjaga malam 2 2 Sumber : Profil Tenaga Kerja Puskesmas Borobudur tahun 2010 Jumlah Kekurangan 1 - 2. Ketenagakerjaan Tabel 8. BP umum. Sarana a. ruang kepala puskesmas. Sarana penunjang medis dental unit dan dental chair : dalam keadaan lengkap (satu unit) 20 . kantor administrasi. ruang rawat inap. kamar mandi. ruang tunggu.B. laboratorium. loket pendaftaran. tata usaha. ruang KIA/KB. apotek. BP gigi. Komponen Masukan (Input) 1. b. ruang imunisasi. mushola. Sarana fisik Gedung puskesmas meliputi . tempat parkir.

Sebagai Manager : 1. ASKES. Dokter / Kepala Puskesmas Tugas Pokok Fungsi : Mengusahakan agar fungsi Puskesmas terselenggara dengan baik. Melaksanakan fungsi – fungsi manajemen di Puskesmas 21 . C. Deskripsi Kerja 1. EKG dan alat periksa. poliklinik set terbatas. peralatan operasi. BBM). Sarana penunjang mobil puskesling sepeda motor komputer lemari es alat komunikasi : 2 buah : 5 buah : 3 buah : 1 buah : radio. d. dalam keadaan baik. Obat-obat berasal dari obat Instalansi Farmasi Kabupaten Magelang tiga bulan. telepon. Pengembalian retribusi sebesar 85% dari yang disetorkan. Sarana obat Jumlah obat cukup.perlengkapan laboratorium. jenis terbatas.- perlengkapan medik umum : KIA set dan KB set. obstetry dan neonatal kid. dan JAMKESMAS. c. : A. dan alat-alat penyuluhan 3. Sumber dan penggunaan dana Dana puskesmas diperoleh dari APBD tingkat II (pengembalian rutin. berlaku mulai Mei 2007. Hasil yang diperoleh puskesmas dari biaya pengobatan disetorkan ke pemerintah daerah.

Mengawasi pelaksanaan kesehatan gigi di Puskesmas 2. Melakukan pencatatan dan pelaporan 3. Memberikan pelayanan pengobatan di wilayah kerja Puskesmas baik di Puskesmas. Melaksanakan kerjasama lintas program dan lintas sektoral secara vertikal dan horizontal 3. Sebagai seorang Dokter : 1. B. Dokter Gigi Tugas Pokok : Mengusahakan agar pelayanan kesehatan gigi dan mulut di wilayah kerja Puskesmas agar dapat berjalan dengan baik. Menerima konsultasi dari semua kegiatan di Puskesmas. Merujuk kasus yang tidak bisa diatasi 3.2. Memberikan pelayanan kesehatan gigi dan mulut di dalam wilayah kerja Puskesmas 22 . Fungsi : 1. Melakukan pemeriksaan dan pengobatan penderita 2. Memberikan bimbingan dan supervise teknis kepada penderita dan masyarakat 4. Mengawasi pelaksanaan pelayanan obat di Puskesmas 2. Melakukan penyuluhan kesehatan kepada penderita dan masyarakat 2. Fungsi : 1. Membantu membina kerjasama lintas sektoral dalam pengembangan peran masyarakat 5. Dokter Umum Tugas Pokok : Mengusahakan agar pelayanan pengobatan di wilayah kerja Puskesmas dapat berjalan dengan baik. Pustu atau Pusling 3.

Memeriksa. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan 4. mengatur dan menyimpan semua surat masuk Fungsi : 1.3. Membantu dokter gigi dalam pelayanan kesehatan di puskesmas 2. Memberikan penyuluhan kesehatan 6. Menghimpun. Penyiapan dan pengaturan tata usaha kepegawaian Puskesmas 4. Melaksanakan UKS dan UKGS (Usaha Kesehatan Gigi Sekolah) 5. Mengumpulkan. Perawat Gigi Tugas Pokok Fungsi : Melaksanakan pelayanan kesehatan gigi di puskesmas. membuat surat yang masuk/keluar yang didisposisi 2. membersihkan karang gigi dan mengobati gigi yang sakit 3. menambal. Melakukan laporan berkala ketatausahaan 6. Memberikan penyuluhan kesehatan gigi pada penderita dan masyarakat Membantu membina kerjasama lintas sektoral dalam pengembangan peran serta masyarakat 5. Petugas Perkesmas 23 . Tata Usaha Tugas Pokok : 1. Mengumpulkan laporan berkala setiap tugas Puskesmas 3. Melaksanakan kunjungan kesehatan gigi 5. Supervisi dan bimbingan teknis pada program gigi di Puskesmas 4. Merujuk kasus yang perlu ditindak lanjuti dari seorang dokter gigi 4. Menghimpun dan menyusun semua laporan kegiatan Puskesmas 2. : 1.

Melaksanakan pengobatan rawat jalan di wilayah Puskesmas. Melaksanakan tindakan pemberantasan penyakit menular 24 . Petugas P2PM Tugas Pokok : Melaksanakan dan mengkoordinir kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit menular di wilayah kerja Puskesmas. Petugas Pengobatan Tugas Pokok : a. Melakukan kegiatan Puskesmas g.Tugas Pokok : Melaksanakan dan mengkoordinir pelaksanaan kegiatan Perkesmas di wilayah kerja Puskesmas agar berjalan dengan baik. Melaksanakan kegiatan Perkesmas baik di dalam maupun luar gedung 2. Memeriksa dan mengobati penyakit menular secara pasif atas delegasi dari dokter c. b. Menyiapkan blanko-blanko dan pencatatan untuk kegiatan Perkesmas 3. Melaksanakan pengamatan penyakit di wilayah kerja Puskesmas 2. Melakukan rujukan kasus bila tidak mampu mengatasi e. Fungsi : 1. Melakukan pendataan sasaran secara periodik 7. Ikut dalam kegiatan Puskesling dan Pustu 8. Fungsi : 1. Melaksanakan penyuluhan kesehatan d. Melaksanakan pencatatan dan pelaporan 4. Memantau masyarakat/kasus-kasus rawan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas 5. Melakukan pencatatan dan pelaporan f.

ibu menyusui. Melakukan penyuluhan. Petugas KIA Tugas Pokok : Melaksanakan kegiatan pelayanan KIA di wilayah kerja Puskesmas agar dapat berjalan dengan baik. Melakukan pembinaan kepada bidan desa 6. Melakukan pengobatan terhadap penderita penyakit menular atas delegasi dari dokter 6. Melakukan pembinaan dukun bayi 5. Melakukan rujukan kasus bila tidak mampu mengatasi 10. Melakukan pencatatan dan pelaporan 9. Melaksanakan pemeriksaan secara berkala ibu hamil. Melakukan pencatatan dan pelaporan 9. Melakukan kunjungan rumah 7. Melakukan penyuluhan kesehatan 8. bayi dan anak 2. Petugas Gizi Tugas Pokok : melaksanakan kegiatan dan mengkoordinir perbaikan gizi di wilayah kerja Puskesmas. Melaksanakan penyuluhan kesehatan tentang penyakit menular 4. Fungsi : 1. Memberikan jelang imunisasi pada bayi dan ibu hamil 4. pencatatan dan pelaporan 5. Memberikan penyuluhan kesehatan 9. Mengatur dan menjaga tempat kerja dengan rapi 3.3. Ikut dalam kegiatan Puskesling dan kegiatan terpadu lain yang terkait P2PM 8. 25 . Melaksanakan kegiatan Posyandu dan kegiatan terpadu lain yang terkait dengan KIA 7.

Ikut serta dalam Puskesling dan kegiatan terpadu yang terkait dengan H. Membantu meningkatkan kerja sama lintas sektoral terkait dengan gizi 4. Melakukan pencatatan dan pelaporan 5. Membantu masyarakat dalam pembuatan sumur. Aktif memperkuat kerjasama lintas sektoral 6. Melakukan pembinaan Posyandu 9. Melakukan pencatatan dan pelaporan 6. 7. jamban keluarga. Melakukan monitoring garam beryodium secara periodik 8. Penyuluhan terhadap masyarakat tentang penggunaan air bersih. rumah sehat. Fungsi : 1. melatih kader gizi 5. perlindungan mata air. Pengawasan higiene. Melakukan rujukan kasus gizi 11. Melaksanakan pemberian makanan tambahan 2. Petugas Sanitarian Tugas Pokok : Merubah. Melakukan pembagian vitamin A secara periodik 7. perusahaan dan tempat – tempat umum 4. penampungan air hujan dan sarana air bersih lainnya 3. kebersihan lingkungan dan pekarangan 2.Fungsi : 1. Memantau keadaan gizi di masyarakat khususnya kasus-kasus kurang gizi 3. Memberikan penyuluhan kesehatan 26 . Memberikan penyuluhan gizi. mengendalikan atau menghilangkan unsur fisik dan lingkungan yang memberikan pengaruh buruk terhadap kesehatan masyarakat.S.

Melakukan sweeping untuk daerah . Menyediakan persediaan vaksin secara teratur 6. Membantu distribusi obat ke Puskesling. dan PKD 4. Petugas Apotek Tugas Pokok Fungsi : Memeriksa. Pustu. penyehatan perumahan 9. Melakukan penyuluhan kepada pasien tentang imunisasi 3. Memberikan penyuluhan kesehatan 13. Membantu pelaksanaan kegiatan petugas gudang obat 2. : 1. Petugas Laboratorium 27 . Pelayanan Imunisasi Tugas Pokok : Melaksanakan dan mengkoordinir imunisasi di wilayah kerja Puskesmas.daerah yang cakupannya kurang 7. Pengawasan. Fungsi : 1. Pengawasan makanan dan minuman 11. Pengawasan pembuangan sampah 10. Melaksanakan kegiatan imunisasi di lapangan dan Puskesmas 2. Membantu dalam penyimpanan obat dan administrasi dari obat di apotik 3. Menyelenggarakan dan memonitor Cold Chain dari imunisasi 5. Melakukan pencatatan dan pelaporan 4. Melakukan pencatatan dan pelaporan obat 5.8. Mengatur kebersihan dan kerapihan kamar obat 14. Pembuatan SPAL (Sistem Pembuangan Air Limbah) 12. meracik dan membungkus obat.

2. : Membantu menegakkan diagnosa penyakit Melaksanakan pemeriksaan spesimen Membantu rujukan spesimen Ikut membantu kegiatan lain yang berhubungan dengan kegiatan laboratorium Memberikan penyuluhan kesehatan Melakukan pencatatan dan pelaporan 15. Mempersiapkan pengadaan obat di Puskesmas 28 . Memberikan penjelasan kepada pasien tentang proses pendaftaran 3.Tugas Pokok : Melakukan pemeriksaan laboratorium di wilayah kerja Puskesmas. Petugas Pendaftaran Tugas Pokok : Melakukan proses pelayanan di pendaftaran pada semua pengunjung Puskesmas. Melakukan pencatatan dan pelaporan 16. Fungsi 1. Mencatat semua kunjungan pasien pada buku 5. 6. Membantu dokter atau Kepala Puskesmas dalam pengelolaan obat di Puskesmas 2. Fungsi : 1. 4. Memberikan gambar status/catatan medis untuk setiap pasien 4. 5. Petugas Gudang Obat Tugas Pokok : Mengelola obat-obat yang ada di puskesmas Fungsi : 1. Melakukan pelayanan pendaftaran secara berurutan 2. Menata kembali dengan rapi status yang sudah dipergunakan hari tersebut 6. 3.

Md.Md.Md.Keb Nurmawati A.Md. 1 Jenis Tenaga Dokter Umum Jumlah 4 Dr. kebersihan dan pencahayaan dalam obat Tabel.Keb Esti Murdiwati A.9 Spesifikasi Kepegawaian Puskesmas Borobudur No.Siswanto Dr.Lus Udiarti Drg. Pustu.3.keb Nur Hihadayah A. 4 5 Jenis Tenaga Perawat Gigi Bidan Jumlah 1 13 Royani Endang Pujiati Dhanti Wardani A.Yuniar Dr.Semi Rahayu S.Ratna 2 3 Dokter Gigi Perawat 2 7 Drg.Md.Md.Keb Puspitawati A.Md.Farida Dr.Keb Mujiati Solimah A.Sadewa Wiwik Widayati A.Md.Keb Tri Sulistiyowati A.Klp. Mengatur penyimpanan obat 4.Keb 29 Nama Efi Kirnawati Nama . Mengatur dan menjaga kerapihan.Kep No.Md. dan Poliklinik Kesehatan Desa (PKD) 6.Md. Menyediakan obat untuk Puskesling.Md.Ns Istiqomah A.Keb Enik Kuswati A.Keb Solikhatun A.Keb Asmawati A. Mengatur administrasi obat dan mengatur distribusi obat 5.

Promosi Kesehatan Kesehatan Lingkungan KIA dan KB Gizi P2PM Pengobatan Ada beberapa Upaya Kesehatan Pengembangan Puskesmas Borobudur. Upaya kesehatan jiwa d.Keb Rochyani Lestari A. yaitu: a. 6. Upaya perawatan kesehatan masyarakat b.Keb D.Md.Keb Ari Sulistiyani A.Ika Alvi Susana A. 3. 4.Md. USILA Tabel. Pola Sepuluh Besar Penyakit Pasien Rawat Jalan Puskesmas Borobudur Semua Kelompok Umur Periode Januari . Nama penyakit Jumlah penderita Persentase 30 . yaitu : 1.M. Upaya kesehatan sekolah c. Sarana Pelayanan Puskesmas 6 (Enam) Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas Borobudur.10. 2. 5.Juni Tahun 2010 (Semua Kunjungan Baru) No.

balita.67/1000).7/1000). Infeksi Akut Lain Saluran Napas Atas Demam (Febris) Mialgia Vulnus KB Suntik Hipertensi primer KIR melamar pekerjaan Pusing (Sefalgia) Artritis tidak spesifik Penyakit pulpa dan jaringan periapikal Dll Jumlah 1275 607 462 420 402 371 312 272 262 261 4644 27 % 13 % 10 % 9% 9% 8% 7% 6% 6% 6% 100 % Sumber : Data Profil Kesehatan Puskesmas Borobudur berdasarkan SIMPUS tahun 2010 Derajat Kesehatan Derajat kesehatan jika dilihat dari angka kematian bayi (6. 10. 2. Hal ini karena semua angka kematian (bayi. 8. 6. maka Puskesmas Borobudur Tahun 2010 sudah sehat. 5. 4. Jika dilihat dari angka kesakitan balita diare (0. dan ibu maternal) dibawah target maksimal Indikator Indonesia Sehat 2010. 3.yaitu 40/1000 dan balita 58/1000 . 7. 9.1. balita (0/1000) dan kematian maternal (1.4/1000) maka Puskesmas Borobudur belum sehat karena di bawah target (0%) BAB III DATA KHUSUS UPAYA PUSKESMAS / PROGRAM PUSKESMAS 31 .

Kesehatan Lingkungan.A. Pengobatan 2.Program-Program Pokok Puskesmas 1. Jumlah posyandu yang dinilai seluruhnya Jumlah seluruhnya ada 118 posyandu. kegiatan posyandu terdiri dari 5 program yaitu KIA/KB. Upaya kesehatan pengembangan: a. Upaya kesehatan sekolah d. gizi. penyuluhan dan penanggulangan diare. imunisasi. 32 . Perbaikan Gizi Masyarakat 5. Promosi Kesehatan 2. 3. Promosi Kesehatan • • Pelayanan dikelola oleh 1 orang tenaga kesehatan Pembinaan dan pengembangan peran serta aktif masyarakat Dalam pembinaan dan pengembangan peran serta aktif masyarakat.Upaya Kesehatan Wajib Puskesmas 1. Upaya kesehatan usia lanjut B. P2PM (Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular) 6. Upaya perawatan masyarakat b. yang dinilai adalah: a. KIA dan KB 4. Upaya kesehatan wajib puskesmas adalah: 1. Upaya kesehatan jiwa c.

Indikator kinerja pada program ini adalah penyuluhan kelompok dan umum yang dibagi menjadi 2 kegiatan yaitu: a. Posyandu purnama seluruhnya sebanyak 38%. psikotropika dan zat adiktif (P3NAPZA) berbasis masyarakat sebesar 24% b. Pembinaan dan penyelenggaraan penyuluhan kesehatan Berdasarkan target Dinkes Kabupaten Magelang tahun 2010. Tabel Hasil Kegiatan Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat Puskesmas Borobudur Januari – Juni 2010 Indikator Frekuensi pembinaan Jumlah kader terlatih Target 100% 1 posyandu Cakupan Kegiatan Persen(%) 708 511 487 120% 87% 95% Pencapaian (%) 120% 87% 119% 5 kader (100%) Jumlah kader aktif 80% 2. • Upaya kesehatan lingkungan 33 . pencegahan. Giritengah. Upaya Kesehatan Lingkungan • Klinik higiene dan sanitasi : Pelayanan di puskesmas buka setiap hari senin.b. Upaya penyuluhan. dikelola oleh 1 orang tenaga sanitarian yang juga bertugas dalam program lapangan. Candirejo. Jumlah kader terlatih sebesar 1 posyandu minimal memiliki 5 kader aktif sebesar 80%. penanggulangan. penyalahgunaan narkoba. Ngadiharjo. Ringinputih) c. dan pelayanan di luar puskesmas setiap hari selasa-sabtu. Frekuensi pembinaan sebesar 12x/tahun. Majaksingi. Jumlah PKD (Poliklinik Kesehatan Desa) Jumlah seluruhnya 12 PKD (Giripurno. Kebonsari. Tabel 11. Sambeng.

b. d. Pelayanan kesehatan lingkungan Indikatornya: a. Pelayanan higienis dan sanitasi di tempat umum Indikatornya: a. Institusi yang dibina (70%) Rumah sehat (70%) Penduduk yang memanfaatkan jamban (75%) Rumah yang mempunyai SPAL (65%) 2. d. c. TTU yang diperiksa (100%) TTU yang memenuhi syarat sanitasi (80%) T2PM yang diperiksa (90%) T2PM yang memenuhi syarat sanitasi (75%) Tabel 12. Tabel Hasil kegiatan Status Kesehatan Lingkungan Puskesmas Borobudur Januari . c.Juni 2010 Indikator Target Cakupan Kegiatan Persen (%) Pencapaian 34 . terkendalinya atau hilangnya semua unsur fisik dan lingkungan yang terdapat di masyarakat dimana dapat memberikan pengaruh jelek terhadap kesehatan. Pelayanan pengendalian vektor Indikatornya: Rumah atau bangunan bebas jentik nyamuk 3.Upaya kesehatan lingkungan ini bertujuan agar berubahnya. Jenis kegiatan: 1. b.

Kesehatan Ibu dan Anak serta KB • Tidak ada data 52% 87% 37% 25% Tidak ada data 98% 49% Tidak ada data Tidak ada data 51.Tidak ada Institusi yang dibina Jml Tempat Tempat Umum (TTU) yg diperiksa* Tempat-tempat umum (TTU) yg memenuhi syarat sanitasi Tempat Pengolahan Makanan & Penjualan (TP2M) diperiksa* T2PM yg memenuhi syarat sanitasi* Rumah sehat Penduduk yg memanfaatkan jamban Rumah yg mempunyai SPAL Rumah/bangunan bebas jentik 70% 100% 80% 90% 75% 70% 75% 65% 100% data 67 58 44 11 Tidak ada data 991 413 Tidak ada data 3. a. ibu menyusui. untuk bayi yang berhalangan maka dilakukan di posyandu. ibu bersalin.94% 108% 41. Pelayanan Imunisasi untuk bayi dilakukan setiap hari Selasa.33% Tidak ada data 130. dikelola oleh dua orang bidan Puskesmas. KIA Upaya kesehatan Ibu dan Anak adalah upaya di bidang kesehatan yang menyangkut pelayanan dan pemeliharaan ibu hamil.18% 75. • • Pelayanan KB buka setiap hari. bayi dan anak balita serta anak pra sekolah.57% 33. Tujuan dari program kesehatan ibu dan anak adalah tercapainya kemampuan hidup sehat melalui peningkatan derajat kesehatan yang optimal bagi ibu dan keluarganya menuju NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan Sejahtera) serta 35 .10% Tidak ada data Pelayanan KIA buka setiap hari. Pelayanan KIA dilakukan setiap hari Senin-Sabtu. khusus pelayanan KB IUD setiap hari Kamis.

meningkatnya derajat kesehatan anak untuk menjamin proses tumbuh kembang optimal yang merupakan landasan bagi peningkatan kualitas manusia seutuhnya. jarak antara kehamilan diperpanjang dan kelahiran selanjutnya dapat dicegah apabila jumlah anak telah mencapai yang dikehendaki. ii. KB Upaya Keluarga Berencana (KB) adalah perencanaan kehamilan. menurunnya jumlah angka kelahiran bayi. Hasil Kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak Puskesmas Borobudur Januari . b. yaitu: i. Tujuan khusus Yaitu meningkatnya kesadaran keluarga/masyarakat untuk menggunakan alat kontrasepsi. Tabel 13. Tujuan KB dapat dibagi 2.Juni 2010 Cakupan Indikator Cakupan Kunjungan bumil K1* Cakupan Kunjungan bumil K4 Deteksi kasus resiko tinggi Ibu hamil* Ibu hamil resiko tinggi yang ditangani (PONED) Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan Cakupan Kn1*) Cakupan kunjungan neonatus (Kn2) Cakupan kunjungan Bayi BBLR yg ditangani Neonatal resti yg ada / ditemukan* Jumlah dukun bayi yg terlatih Frekuensi pembinaan dukun Deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra balita Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa SD & setingkat Target 100% 95% 100% 100% 95% 100% 95% 90% 100% 100% 100% 10x/th 95% 100% Kegiatan 648 610 324 324 628 623 618 589 30 34 29 4 2550 930 Persen (%) 104% 93% 247% 100% 100% 105% 104% 99% 100% 100% 100% 80% 82% 164% Pencapaian (%) 104% 98% 247% 100% 106% 105% 109% 110% 100% 100% 100% 80% 86% 164% 36 . Tujuan umum Yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan ibu dan anak dalam rangka mewujudkan keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera (NKBS). meningkatnya kesehatan keluarga masyarakat dengan cara penjarangan kelahiran.

gangguan akibat kekurangan yodium. terutama pada anak balita dan wanita. . 37 . Pelayanan gizi.Balita yang datang dan ditimbang(D/S) (80 %) . Jenis kegiatan: a. .Balita BGM (<1. Tujuan dari program ini adalah untuk menurunkan angka penyakit gizi kurang yang umumnya banyak diderita oleh masyarakat yang berpenghasilan rendah. Pemantauan dan pertumbuhan balita Indikatornya: . dan anemia gizi.Cakupan bumil yang diberi 90 tablet Fe ( 90%). Pelayanan gizi Indikatornya: . Perbaikan Gizi Masyarakat • • 100% 80% 70% 74 8587 2029 200% 81% 44. kurang vitamin A.Cakupan anak balita (12-59 bulan) yang diberi kapsul vitamin A 2x/thn (95%). .Cakupan bayi (6-11 bulan) diberi kapsul vitamin A dosis tinggi 1x/tahun (95%). Upaya yang dilakukan pada pelayanan gizi terutama diarahkan untuk menanggulangi 4 masalah gizi utama yaitu kurang kalori protein.04% Pelayanan dikelola nutritionis di bagian gizi yang dibuka setiap hari senin-sabtu.5 %) b.Balita yang naik berat badannya(N/D) (80 %) .Jumlah TK yang dibina Jumlah seluruh peserta KB aktif Cakupan pelayanan pra Usila dan Usila 4.Balita gizi buruk yang mendapat perawatan (100%).13% 200% 101% 63.

49% Pencapaian 106% 98% 105% 105% 106% 83% 100% 126% 5.59 bln) yg diberi kapsul vit A 2x/ thn 95% Cakupan ibu hamil yg diberi 90 tablet Fe 90% Balita BGM <1.10% 1.67% 100% 100% 97.80% 100% 112. Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2PM) • • Pelayanan buka setiap hari yang dikelola oleh 3 orang tenaga kesehatan.Cakupan suspect TB paru (80%) . Kegiatan dari P2PM adalah : a.Angka konversi (convertion rate) (80%) . P2 TB Paru Indikatornya : .Angka kesembuhan (cure rate) = (jumlah penderita BTA + sembuh / jumlah penderita BTA + diobati) x 100% (85%) Cakupan suspect TB paru (80%) Penderita BTA + (case detection rate) (70%) 38 . Program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular Tujuan dari program P2PM ini adalah menurunkan angka kesakitan dan kematian serta mencegah akibat buruk lebih lanjut penyakit serta menkonsolir penyakit yang telah dapat dikendalikan.Tabel 14.Penderita BTA + (case detection rate) (70%) .5% Balita gizi buruk mendapat perawatan 100% Cakupan bufas mendapat kapsul vit A 89% Kegiatan 4168 3279 590 3501 636 75 6 644 Persen (%) 85. Tabel hasil kegiatan Gizi Puskesmas Borobudur Januari – Juni 2010 Cakupan Indikator Target Balita yg datang dan ditimbang (D/S) 80% Balita yg naik berat badannya (N/D) 80% Cakupan bayi (6-11 bln) yg diberi kaps vit A dosis tinggi 95% Cakupan anak balita ( 12 .13% 78.

Jumlah bumil yang mendapat TT2 (95%) 3. iii. c. ii. Angka kesembuhan (cure rate) = (jumlah penderita BTA + sembuh / jumlah penderita BTA + diobati) x 100% (85%) b. v. P2 Diare Indikatornya : d. P2 DBD BCG (95%) DPT1 (95%) DPT3 (95%) Polio 1 (95%) Polio 4 (95%) Campak (95%) Hepatitis B 1 (0-7 hari) (95%) Hepatitis B 1 total (95%) Balita dengan diare yang ditangani (100%) 39 . vi. Jumlah bayi yang mendapat imunisasi : i. Imunisasi Indikatornya : 1.Angka konversi (convertion rate) (80%) 1. Jumlah bumil yang mendapat TT1 (98%) 2. P2 ISPA Indikatornya : Cakupan pneumonia balita yang ditangani (100%). e. viii. iv. vii.

v. Cakupan suspek TB paru 80% Penemuan kasus TB BTA (+) 70% Angka kesembuhan 85% Cakupan bayi dengan pneumoni yang ditemukan / ditangani sesuai standar 100% Balita dengan diare yang ditangani sesuai standar 100% Tabel 15. Rumah atau bangunan bebas jentik c. iii. iv.000 penduduk) d.Juni 2010: i.Indikatornya : a. Tabel Hasil Kegiatan Penanggulangan Penyakit Menular Puskesmas Borobudur Januari – Juni 2010 Cakupan Indikator Jumlah penderita yang diperiksa sediaan darahnya slide ACD Jumlah penderita yang diperiksa sediaan darahnya slide PCD Cakupan suspek tb paru* Penemuan kasus TB BTA(+) (Case Detection Rate) Pencapaian (%) 241% 49. ii. Kematian karena DBD (<1% ) f. Penderita DBD yang ditangani sesuai standar (100%) b. P2 Malaria Hasil kegiatan Upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular (P2M) Januari . Tingkat insidens (20/100.46% 15% 24% Target 5% 2% 80% 70% Kegiatan 847 554 36 5 Persen (%) 12% 1% 12% 17% 40 .

Meneruskan penderita ke fasilitas yang lebih baik.39% 432. Khusus.94% Tidak ada data 63% 132% 26.94% Tidak ada data 633 563 628 580 603 555 530 589 621 598 575 603 18 0 97% 86% 106% 97%% 101% 93% 89% 99% 104% 101% 97% 101% 100. Mencegah dan mengurangi kecacatan. yaitu untuk meningkatkan derajat kesehatan perorangan dan masyarakat. 4. Umum. Upaya Pengobatan A. yaitu: Menghentikan proses perjalanan penyakit yang diderita seseorang. yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan cara dan teknologi yang khusus untuk keperluan tersebut. Pengobatan Upaya pengobatan adalah upaya untuk menghilangkan penyakit dan gejalanya. Tujuan dari upaya pengobatan dapat dibagi menjadi 2 macam.Angka konversi(convertion rate) * Angka kesembuhan (cure rate) Cakupan balita dg pneumoni yg ditemukan / ditangani (sesuai standar) Balita dg diare yg ditangani sesuai standar Penderita kusta yang selesai berobat Jumlah bumil yg mendapat TT1* Jumlah ibu hamil yg mendapat TT2* BCG* DPT 1* DPT 3 * Polio 1* Polio 4* Campak* Hepatitis B1 ( 0 .7 Hr)* Hepatitis B1 total* Hepatitis B2 * Hepatitis B3* Penderita DBD yg ditangani*sesuai standar Incidence rate 80% 85% 100% 100% 100% 98% 95% 95% 95% 95% 95% 95% 95% 95% 95% 95% 95% 100% 20/100.00% 0% 99% 91% 111% 103% 107% 98% 94% 104% 110% 106% 102% 107% 100. dapat dibagi menjadi 4 tujuan. b. 1.39% 432. 3.000 penduduk 3 9 38 368 Tidak ada data 50% 113% 26. yaitu: a. Adapun kegiatan pokok dalam program pengobatan. yaitu: 41 .00% 0% 6. 2. Mengurangi penderitaan seseorang karena sakit.

Tabel 16. Kunjungan kasus lama: kunjungan ketiga dan seterusnya suatu kasus (lama) penyakit yang masih dalam periode penyakit yang bersangkutan. keberhasilan program dapat dilihat dengan menilai jumlah kasus yang ada. Untuk penyakit menahun adalah kunjungan pertama kali dalam tahun berikutnya namun masih dalam suatu periode penyakit yang bersangkutan. Melakukan diagnosa sedini mungkin. Untuk penyakit menahun adalah kunjungan kedua dan seterusnya pada tahun berikutnya Frekuensi kunjungan adalah ratarata jumlah kunjungan setiap kasus ke Puskesmas dan jaringannya sampai sembuh. Tabel Hasil Kegiatan Jangkauan Pengobatan Rawat Jalan Puskesmas Borobudur Januari. Kasus baru: pernyataan diagnosa pertama kali oleh dokter/paramedis bahwa seseorang menderita penyakit tertentu. Kasus lama: kunjungan ketiga dan seterusnya suatu kasus (lama) penyakit yang masih dalam periode penyakit yang bersangkutan. 2. Melakukan upaya rujukan bila dipandang perlu. 3. 4. Pada program pengobatan. 2. Dengan indikator pencapaian target yang ditetapkan Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang tahun 2009 sebesar 60% kali jumlah penduduk. Melakukan tindakan pengobatan.Juni 2010 Indikator Jumlah kasus baru (x) Target 60% Cakupan Kegiatan Persen (%) 8497 64% Pencapaian 107% 42 . 3. Melaksanakan pertolongan pertama pada trauma (kecelakaan). keracunan dan lain-lain. Kunjungan ini dapat dibagi menjadi 3 kriteria yang merupakan indikator kinerja kerja pada program pengobatan. yaitu: 1.1.

• Tegalarum : buka setiap hari Senin. Bertugas setiap hari Senin sampai Sabtu. Rabu. Rabu. Rabu. • Kenalan : buka setiap hari Senin. Pelayanan buka setiap hari kecuali hari libur. dikelola oleh perawat Puskesmas • Borobudur : buka setiap hari Senin.Kunj. dikelola oleh: • Tenaga dokter: 4 orang. Rawat Jalan a. dikelola oleh perawat Puskesmas 43 .  Poliklinik Puskesmas Pembantu. bekerja sama dengan dokter. Poliklinik Umum  Poliklinik Puskesmas Induk. Pelayanan Pengobatan Puskesmas Borobudur 1. Kamis.21 60% 4 1. Sabtu. Kamis. Sabtu. dikelola oleh perawat Puskesmas.1755 1471 1471 0. Frek.= (x+y+z)/ x BOR (Bed occupance rate) LOS (length of Stay) 1. Sabtu.Frekuensi kunjungan : jml kasus B+L+KK / B. Kamis. Selasa. Kamis. • Tenaga paramedis: 2 orang di Pengobatan dan 2 orang di Rawat Inap. Sabtu. Selasa. Rabu. Selasa.03% 91% 3 103% 151% 133% B. dikelola oleh perawat Puskesmas • Karanganyar : buka setiap hari Senin. Selasa. Bertugas setiap hari.

 Poliklinik Kesehatan Desa (PKD). Upaya Kesehatan Pengembangan 1. dibantu oleh seorang perawat gigi dilakukan setiap hari. • Tenaga perawat gigi: 1 orang. Terdapat 12 Poliklinik Kesehatan Desa buka setiap hari pukul 7. Poliklinik gigi dikelola oleh: • Tenaga dokter gigi: 2 orang. Puskesmas mengadakan kunjungan langsung ke UKS untuk mengadakan kegiatan kesehatan. C. Setiap satu bulan sekali. Tabel 17. Terdapat 1 pondok bersalin desa buka 24 jam. sesuai jadwal yang disepakati bersama antara sekolah dan Puskesmas.Juni 2010 Indikator Target Cakupan Kegiatan 2550 465 Pencapaian Persen (%) Cakupan deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah Cakupan Pemeriksaan kesehatan Siswa SD 95% 100% 82% 164% 86% 164% 44 (%) .00 . Tabel Hasil Kegiatan Upaya Kesehatan Sekolah Puskesmas Borobudur Januari . dikelola oleh 1 orang paramedis beserta dokter kecil yang anggotanya merupakan siswa/siswi sekolah yang bersangkutan.00 WIB b. Upaya Kesehatan Sekolah Kegiatan rutin UKS buka setiap hari sekolah. Poliklinik Gigi Pelayanan dokter gigi setiap hari Senin sampai Sabtu. Pondok Bersalin Desa (Polindes).14.

organisasi kemasyarakatan dan masyarakat sendiri melalui PKD. Tabel 18. Tabel Hasil Kegiatan Upaya Kesehatan Jiwa Puskesmas BorobudurJanuari . remaja SLTP. Upaya Kesehatan Jiwa Pelaksanaan dilakukan menurut kebutuhan masyarakat pada waktu tertentu oleh tenaga kesehatan dan dibantu oleh kader kesehatan melalui PKD. penyuluhan dan upaya promosi kesehatan lainnya. kelas I SLTP. atau tenaga terlatih/ guru UKS/ dokter kecil 80% 80% 1346 621 198% 172% 247% 215% (penjaringan kelas 1) Cakupan pemeriksaan kesehatan siswa TK. tokoh masyarakat. SLTA dan setingkat Cakupan pelayanan kesehatan (penjaringan kelas 1 setingkat) Jumlah TK yang dibina 2. Posyandu. Posyandu dengan kegiatan berupa konseling dan upaya promosi kesehatan jiwa.SLTA/ 100% 36 200% 120% 3.Juni 2010 Indikator Target Cakupan Hasil kegiatan 163 Pencapaian % (%) Pelayanan gangguan jiwa di sarkes umum 15% 2% 12% 45 .dan setingkat oleh tenkes. Upaya Perawatan Kesehatan Masyarakat Pelaksanaan dilakukan menurut kebutuhan masyarakat pada waktu tertentu oleh tenaga kesehatan dan dibantu oleh kader kesehatan.

golongan darah. pemeriksaan darah malaria. Cakupan Program dan Data Pembanding (SPM): terlampir (lampiran 1) 46 . tes kehamilan. PP test. kadar gula darah. dikelola oleh 1 petugas laboratorium. Upaya Penunjang Laboratorium Pelayanan buka setiap hari. dan seorang petugas laboratorium pembantu. asam urat.4. pemeriksaan BTA . dengan pemeriksaan yang dapat dilakukan seperti pemeriksaan hemoglobin.

BAB IV ANALISIS MASALAH Hasil kegiatan Puskesmas pada bulan Januari – Juni 2010. berdasarkan Standar Pelayanan Minimal (SPM) telah disebutkan pada bab sebelumnya.P3) dan Manajemen Mutu OUTPUT OUTCOME Cakupan Kegiatan dan Mutu IMPACT LINGKUNGAN Fisik Kependudukan Sosial Budaya Sosial Ekonomi Kebijakan 47 . sebagai berikut : INPUT Man Money Method Material Machine PROSES Fungsi Manajemen (P1. Hasil cakupan kegiatan Puskesmas pada bulan Januari – Juni 2010. yang masih menjadi masalah perlu diupayakan pemecahannya dengan menggunakan kerangka pemikiran pendekatan sistem .P2.

04 98 83 51. Hal yang penting pada upaya pemecahan masalah adalah kegiatan dalam rangka pemecahan masalah harus sesuai dengan penyebab masalah tersebut.33 75.Juni 2010 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 No 12 13 14 15 16 17 Daftar Masalah Cakupan kunjungan bumil K4 Frekuensi pembinaan dukun Deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah Cakupan pelayanan usila Balita yang naik berat badannya (N/D) Balita BGM Jumlah TTU yang diperiksa TP2M yang diperiksa TP2M yang memenuhi syarat sanitasi Rumah yang mempunyai SPAL Slide PCD Daftar Masalah Cakupan suspek TB paru Penemuan kasus TB BTA positif (Case Detection Rate) Angka konversi Cakupan balita pneumoni yang ditemukan atau ditangani (sesuai standard) Jumlah bumil yang mendapat TT1 Jumlah bumil yang mendapat TT2 Skor Pencapaian (%) 98 80 86 63.46 Skor Pencapaian (%) 15 24 63 26.94 41.Gambar 3. A.Cakupan Program yang Masih Bermasalah Berdasarkan data pencapaian kegiatan 7 program Puskesmas Borobudur mulai bulan Januari sampai dengan Juni 2010 didapatkan beberapa program yang masih bermasalah karena skor pencapaiannya kurang dari 100% : Tabel 19. Kerangka Pemikiran Pendekatan Sistem Masalah yang timbul terdapat pada output dimana hasil kegiatan tidak sesuai standar minimal.57 33.39 99 91 48 .10 49. berdasarkan pendekatan sistem masalah dapat terjadi pada input maupun proses. Daftar Masalah Manajemen Program Puskesmas Borobudur Bulan Januari .

Juni 2010. 3. Mengelompokkan faktor .18 19 20 21 22 23 Polio1 Polio4 Jumlah kader terlatih Pembentukan dokter kecil Pelayanan gangguan jiwa di sarkes umum Deteksi kasus baru dan lama P2PTM 98 94 87 29 12 10 B.Teknik Prioritas Masalah Tabel 22 di atas menunjukkan adanya masalah pada manajemen program Puskesmas Borobudur bulan Januari . Kriteria B 3. 2. Kriteria C 4. Kriteria D : Besar Masalah : Kegawatan Masalah : Kemudahan Penanggulangan : PEARL Faktor (nilai 0-10) (nilai 1-5) (nilai 1-5) (nilai 0 atau 1) Adapun tujuan menggunakan metode Hanlon Kuantitatif dalam menentukan prioritas masalah : 1. Memungkinkan anggota untuk mengubah faktor dan nilai sesuai kebutuhannya. Kriteria A 2.faktor luar yang dapat diikutsertakan dalam proses penentuan masalah. Melihat banyaknya masalah yang ditemukan. Identifikasi faktor . maka perlu dilakukan pemilihan prioritas masalah dengan menggunakan metode Hanlon Kuantitatif. Metode Hanlon Kuantitatif Merupakan metode yang mudah dipakai untuk menentukan prioritas masalah.faktor yang ada dan memberikan bobot terhadap kelompok faktor tersebut. 49 . dengan rumus (A + B) x C x D Keterangan : 1.

2.493 ~ 6 3.36) = 5. Langkah – langkahnya : 1. Dalam menilai besar masalah maka hal yang perlu diperhatikan adalah penetapan range untuk menentukan nilai besarnya masalah. 2 + 14. Misal : prosentase penduduk yang terkena efek langsung masalah tersebut.3 log n = 1 + 3.3 log 23 = 1 + ( 3.67 50 . akan didapatkan range Range = 90% . asumsi jumlah biaya yang dikeluarkan perorangan per bulan oleh karena masalah tersebut. 100% dikurang skor pencapaian (dalam persen) dari masing-masing masalah. Selisih dari besar masalah yang tertinggi dan terendah kemudian dibagi jumlah kolom. maka akan dihasilkan besar masalah. kita akan mendapatkan skala besar masalah.67 → skala I : 2 – 16. Menentukan jumlah kolom yang akan digunakan: K= 1 + 3. besar kerugian (biaya) yang dialami penduduk dan lain-lain.67% 6 4.Kriteria A : Besar Masalah Menetapkan faktor yang digunakan untuk menentukan besarnya masalah.67 = 16. Untuk menetapkan besar masalah dapat dilihat dari populasi dan sasaran Standar Pelayanan Minimal (SPM).3 x 1. Data yang digunakan bersifat kuantitatif. Setelah mendapatkan range.2% = 14.

71 → skala IV 60. 4.67 1.67 = 46. Kriteria A (Besar Masalah) Besar Masalah Besar No Daftar Masalah masalah (%) 2. 8.72 + 14. 2.67 = 60.68 – 31.5 4.5 3 6 6 7.40 – 90.36 – 46.40 +14.67 % 24. 10.5 X 16.39 7. Cakupan kunjungan bumil K4 Frekuensi pembinaan dukun 2% 20 % 51 . 5.5 46.36 + 14.39 : 75. Sehingga kita bisa mendapatkan nilai untuk tiap .skala yang telah kita tentukan sebelumnya.46.03 4.71 : 60.5 3 31.5 3 Nilai 1.40 – 90.04 – 60.06 % 58.35 3 X 3.9% X X X X X X X 1.00 – 16.39 → skala V 75.5 75. 6.03 : 46.71 6 60.00 9 1.96 % 2% 17 % 48.16. 7.03 → skala III 46.43 % 66. Tabel 20.67 = 75.67 = 31.36 .07 5.04 + 14.68 + 14.07 → skala VI : 16.35 → skala II 31.68 – 31.04 – 60.67 = 90. Kemudian besar masalah dapat diklasifikasikan ke dalam skala .tiap masalah. 9.35 : 31.72 – 75.5 1. Deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan prasekolah Cakupan pelayanan usila Balita yang naik berat badannya Balita BGM Jumlah TTU yang diperiksa TP2M yang diperiksa TP2M yang memenuhi syarat sanitasi Rumah yang mempunyai SPAL 14 % X 36.72 75.

Tentukan 3 faktor tingkat kegawatan: 1.5 1.5 7. Keterangan : Tingkat Urgensi dalam interval skor 1-5. yaitu : Tidak Mendesak Kurang Mendesak :1 :2 52 . kecacatan dan lain-lain 3. 13 14 15 Slide PCD Cakupan suspek TB Paru Penemuan kasus TB BTA + Angka konversi Cakupan balita dengan Pneumoni yang ditemukan atau ditangani 50.5 1.5 1. Kecenderungan penyebaran Tentukan bobot nilai (1-5) pada masing-masing faktor. Tingkat urgensi (mendesak) 2.5 X 1% 9% 2% 6% 13% 71% 98% 90% X X X X X X X 7.54% 85 % 76% 37% 73. Tingkat keganasan yang menyebabkan kematian.5 1.5 1.61% X X X X 6 9 9 4.11.5 9 16 17 18 19 20 21 22 23 (sesuai standar) Jumlah bumil yang mendapat TT 1 Jumlah bumil yang mendapat TT2 Polio 1 Polio 4 Jumlah kader terlatih Pembentukkan dokter kecil Pelayanan gangguan jiwa di sarkes umum Deteksi kasus baru dan lama P2PTM X 9 Kriteria B : Kegawatan Masalah Penilaian kriteria ini lebih bersifat subyektif. 12.

yaitu : Sangat Kurang Besar Kurang Besar Cukup Besar Besar Sangat Besar :1 :2 :3 :4 :5 Tabel 21. yaitu : Tidak Ganas Kurang Ganas Cukup Ganas Ganas Sangat Ganas :1 :2 :3 :4 :5 Tingkat Penyebaran dalam interval skor 1-5.Kriteria B (Kegawatan Masalah) No 1 2 3 4 Daftar Masalah Cakupan kunjungan bumil K4 Frekuensi pembinaan dukun Deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan prasekolah Cakupan pelayanan usila Keganasan 3 2 3 3 Tingkat Urgensi 4 2 4 2 Kecenderungan penyebaran 1 2 1 1 53 Nilai 8 6 8 6 .Cukup Mendesak Mendesak Sangat Mendesak :3 :4 :5 Tingkat Kegawatan dalam interval skor 1-5.

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Balita yang naik berat badannya Balita BGM Jumlah TTU yang diperiksa TP2M yang diperiksa TP2M yang memenuhi syarat sanitasi Rumah yang mempunyai SPAL Slide PCD Cakupan suspek TB Paru Penemuan kasus TB BTA + Angka konversi Cakupan balita dengan Pneumoni yang ditemukan atau ditangani (sesuai standar) Jumlah bumil yang mendapat TT 1 Jumlah bumil yang mendapat TT 2 Polio 1 Polio 4 Jumlah kader terlatih Pembentukkan dokter kecil Pelayanan gangguan jiwa di sarkes umum Deteksi kasus baru dan lama P2PTM 2 4 1 1 2 2 4 3 4 3 5 3 3 2 2 2 1 1 3 3 5 2 2 2 3 4 3 3 3 4 3 3 3 3 4 2 3 4 1 1 1 1 1 2 3 4 4 3 3 1 1 1 1 1 1 1 1 6 10 4 4 5 7 11 10 11 9 12 7 7 6 6 7 4 5 8 Kriteria C : Kemudahan Penanggulangan Menilai masalah tersebut dalam penanggulangan tentang keberadaan sumber daya ( tenaga. biaya. teknologi yang digunakan tersedia. obat. dan kemampuan serta kemudahan menyelesaikan masalah. dll ). fasilitas kesehatan. Bobot penilaian antara 1-5 yaitu : Sulit ditanggulangi Cukup sulit ditanggulangi Tidak mudah ditanggulangi Mudah ditanggulangi Sangat mudah ditanggulangi :1 :2 :3 :4 :5 54 . alat.

semakin tinggi nilai angka perhitungan maka masalah tersebut akan diprioritaskan untuk ditanggulangi. Hasil maksimal dari perhitungan rumus Hanlon tersebut adalah 100.Kriteria D (PEARL Factor) Masalah P E A R L Hasil 55 . E 3.Tabel 22. P 2. Tabel 23. Pemda. L : Propriate (Kesesuaian dengan program nasional/kesepakatan dunia/ program daerah) : Economic (Secara ekonomi murah. A 4. dll) : Resource (Tersedianya sumber daya yang mendukung kegiatan) : Legality (Ada landasan hukum/etika kedokteran. dll) Bobot nilai bila dijawab ”ya” bernilai 1 dan bila dijawab ”tidak” bernilai 0. faktor-faktor tersebut adalah : 1. R 5. kegiatan tersebut untuk dilaksanakan) : Acceptable (Dapat diterima oleh masyarakat. Kriteria C (Kemudahan Penanggulangan) Daftar Masalah Puskesmas Borobudur berdasarkan Kriteria C Masalah Nilai Masalah Nilai 1 4 13 2 2 4 14 3 3 4 15 2 4 3 16 4 5 5 17 4 6 3 18 4 7 2 19 4 8 1 20 3 9 3 21 2 10 3 22 1 11 3 23 1 12 3 Kriteria D : PEARL Factor Terdiri dari beberapa faktor yang saling menentukan dapat atau tidaknya suatu program dilaksanakan.

obat. C. fasilitas serta teknologi yang mendukung masalah yang ada dari setiap masalah yang muncul. kelima faktor tersebut mendukung sehingga program pemecahan masalah dapat dilaksanakan. Karena dilihat dari sumber daya seperti tenaga. biaya.Penentuan Prioritas Masalah Kegiatan Pelayanan Kesehatan 56 .1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 1 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 0 1 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 Semua masalah diatas dengan menggunakan kriteria D (PEARL Faktor ) didapatkan hasil satu dari setiap masalah. alat.

5 39 34 34 30 30 25.5 3 6 6 7.5 A 4.5 7. C dan D didapatkan.Urutan Prioritas Masalah No 1 2 3 No 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Daftar Masalah Cakupan kunjungan bumil K4 Frekuensi pembinaan dukun Deteksi dini tumbuh kembang balita dan prasekolah Daftar Masalah Cakupan pelayanan usila Balita yang naik berat badannya Balita BGM Jumlah TTU yang diperiksa TP2M yang diperiksa TP2M yang memenuhi syarat sanitasi Rumah yang mempunyai SPAL Slide PCD Cakupan suspek TB Paru Penemuan kasus TB BTA (+) Angka Konversi Cakupan balita dengan pneumoni yang ditemukan atau ditangani (sesuai standard) Jumlah bumil yang mendapat TT1 Jumlah bumil yang mendapat TT2 Polio 1 Polio 4 Jumlah kader terlatih Pembentukkan dokter kecil Pelayanan gangguan jiwa di sarkes umum Deteksi kasur baru dan lama P2PTM A 1.5 37.5 1.5 39 20 10 37.5 3 1. Setelah nilai kriteria A.5 23 14 17 NPT 38 0 38 NPT 31.Penentuan prioritas masalah pelayanan kesehatan adalah suatu proses oleh kelompok secara bersama dalam menentukan masalah dari yang paling penting sampai masalah yang kurang penting.5 1.5 1. B.5 39 0 0 0 30 51 57 40 40.5 39 34 34 30 30 0 0 14 17 Prioritas VII VIII Prioritas XII IX V XIII II I IV III VI X XI XIV XV XVII XVI 57 .5 3 6 9 9 4.5 1.5 7.5 30 51 57 40 40.5 9 9 B 8 6 8 B 6 6 10 4 4 5 7 11 10 11 9 12 7 7 6 6 7 4 5 8 C 4 4 4 C 3 5 3 2 1 3 3 3 3 2 3 2 4 4 4 4 3 2 1 1 D 1 0 1 D 1 1 1 0 0 0 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 NPD 38 36 38 NPD 31.5 37.5 1.5 1. nilai tersebut dimasukkan dalam formula: Nilai Prioritas Dasar (NPD) : (A + B) C Nilai Prioritas Total (NPT) : (A + B) C x D Tabel 24.

VIII. V. XI. II. VI.D. XII. Deteksi kasus baru dan lama P2TM XVII. IV. VII. IX. X. III. Imunisasi Polio 1 XV. Pelayanan Gangguan jiwa di sarkes umum 58 .Urutan Prioritas Masalah Berdasarkan tabel urutan prioritas masalah. Imunisasi Polio 4 XVI. didapatkan urutan masalah di Puskesmas Borobudur sebagai berikut : I. XIII. Cakupan suspek TB Paru Slide PCD Angka konversi Penemuan kasus TB BTA (+) Balita BGM Cakupan balita dengan pneumoni yang ditemukan atau ditangani (sesuai standar) Cakupan kunjungan bumil K4 Deteksi dini tumbuh kembang anak balita dan pra sekolah Balita yang naik berat badannya (N/D) Jumlah bumil yang mendapat TT1 Jumlah bumil yang mendapat TT2 Cakupan pelayanan usila Rumah yang mempunyai SPAL XIV.

hasil cakupan balita BGM pada bulan Januari hingga Juni 2010 adalah 1. namun berdasarkan kesepakatan dengan pihak Puskesmas Borobudur.Kegiatan/Indikator Kegiatan Yang Bermasalah Berdasarkan prioritas masalah. Pada hasil cakupan program (SPM) Borobudur.2007) 59 .5%. Dengan demikian didapatkan ciri-ciri masalah : • • Menyatakan hubungan dua atau lebih variabel Dapat diukur • Dapat diatasi (Hartoyo.8% sedangkan target Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang adalah sebesar kurang dari 1. maka ditemukan masalah dengan urutan prioritas utama adalah cakupan suspect TB paru. B. pada analisa pemecahan masalah ini akan dibahas mengenai balita BGM. Hasil ini menunjukkan bahwa hasil cakupan balita BGM pada bulan Januari hingga Juni 2010 melewati batas 1.Kerangka Pikir Pemecahan Masalah Masalah adalah kesenjangan antara keadaan spesifik yang diharapkan. yang ingin dicapai. yang menimbulkan rasa tidak puas.5% dari SPM Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang tahun 2010.BAB V ANALISA PEMECAHAN MASALAH A. dan keinginan untuk memecahkannya.

misalnya SPM. Penetapan pemecahan masalah terpilih 60 . Jika penyebab sudah jelas maka dapat langsung pada alternatif pemecahan. 4. Penentuan penyebab masalah hendaknya tak menyimpang dari masalah tersebut. Memilih penyebab yang paling mungkin Penyebab masalah yang paling mungkin harus dipilih dari sebab-sebab yang didukung oleh data atau konfirmasi. Penentuan prioritas masalah Penyusunan peringkat masalah lebih baik dilakukan oleh banyak orang daripada satu orang saja. 6. Penentuan penyebab masalah Penentuan penyebab masalah digali berdasarkan data atau kepustakaan dengan curah pendapat. Delbeq.Urutan dalam siklus pemecahan masalah antara lain: 1. menetapkan indikator tertentu sebagai dasar pengukuran kinerja. Kemudian mempelajari keadaan yang terjadi dengan menghitung atau mengukur hasil pencapaian. Yang terakhir membandingkan antara keadaan nyata yang terjadi. 3. dengan keadaan tertentu yang diinginkan atau indikator tertentu yang sudah ditetapkan. Menentukan alternatif pemecahan masalah Seringkali pemecahan masalah dapat dilakukan dengan mudah dari penyebab yang sudah diidentifikasi. Identifikasi/inventarisasi masalah Menetapkan keadaan spesifik yang diharapkan. 5. Beberapa metode yang dapat digunakan antara lain: Hanlon. CARL. Pareto. 2. yang ingin dicapai.

Monitoring dan evaluasi Ada dua segi pemantauan yaitu apakah kegiatan penerapan pemecahan masalah yang sedang dilaksanakan sudah diterapkan dengan baik dan menyangkut masalah itu sendiri. Gambar 4. Siklus Pemecahan Masalah 61 . Penyusunan rencana penerapan Rencana penerapan pemecahan masalah dibuat dalam bentuk POA (Plan of Action atau Rencana Kegiatan) 8. apakah permasalahan sudah dapat dipecahkan. Apabila diketemukan beberapa alternatif maka digunakan Hanlon kualitatif untuk menentukan/memilih pemecahan terbaik. maka dilakukan pemilihan pemecahan terpilih.Setelah alternatif pemecahan masalah ditentukan. 7.

Analisa Penyebab Masalah Analisa penyebab masalah dengan metode fish bone berdasarkan kerangka pendekatan sistem.C. seperti gambar di bawah ini : Proses P2 P3 P1 MASALAH Dll Money Man Input Lingkungan 62 .

Diagram fish bone BAB VI ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH A. Untuk menentukan penyebab masalah dilakukan dengan membuat diagram fish bone dengan menggunakan data yang diperoleh selama satu tahun terakhir.Analisis/Inventarisasi Penyebab Masalah Hal yang mendasari timbulnya kesenjangan antara hasil yang diharapkan dengan hasil yang nyata dicapai dapat disebabkan oleh berbagai faktor.Gambar 5. Dalam menganalisis penyebab manajemen secara menyeluruh digunakan 63 .

Adanya pembebasan biaya dari Kekurangan .Input 1. Kekurangan . pemeriksa kesehatan.pendekatan evaluasi yang meliputi input.Puskesmas memiliki cukup dana dan dapat dipakai untuk pemeriksaan balita BGM . bagian gizi. bidan desa).Input Man Kelebihan . koordinator program P2M. output.Tersedianya makanan tambahan untuk balita BGM dari pemerintah Methode .Kurangnya pendistribusian dana untuk balita BGM yang tidak merata . proses.Kurangnya koordinasi mengenai pembebasan biaya dengan institusi terkait -Tidak tersedianya biaya pemerintah untuk balita gizi buruk . serta environment. outcome. 64 .Kurangnya kunjungan rumah untuk balita BGM oleh tenaga kesehatan.Minimnya penyuluhan mengenai balita BGM kepada masyarakat umum.Tersedia tenaga kesehatan (dokter.Tersedianya program tetap dalam menjaring balita BGM (penimbangan berat badan) operasional untuk menyalurkan . Kemungkinan penyebab masalah adalah : Tabel. Sehingga dapat ditelusuri hal-hal yang menyebabkan munculnya permasalahan.Belum semua kader memahami cara menanggulangi kasus balita BGM . bagian pelayanan kesehatan dan kader yang berkompeten dalam menemukan balita BGM Kelebihan Money .25. bagian KIA. masyarakat.

PKD dan posyandu Machine . meteran. buku KIA/KMS dan alat lainnya untuk memeriksa balita BGM .Sudah tersedianya pustu. P1 (Perencanaan) 65 .. Proses Fungsi manajemen : a.Belum semua tenaga kesehatan memahami MTBS .Sudah tersedianya timbangan dacin.Tidak ada masalah Environment/Lingkungan (baik fisik maupun non fisik) • Kurangnya pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang balita BGM • Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai balita BGM • Kurangnya pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang kenaikan berat badan pada penimbangan berkala di posyandu • Kurang terjangkaunya lokasi posyandu atau tempat pemeriksaan lainnya • Kurang mampunya masyarakat secara ekonomi • Keadaan lingkungan yang kurang sehat 2.Tersedianya protap MTBS Material .Tidak ada masalah .

• Kurangnya perencanaan mengenai kunjungan rumah untuk balita BGM. PKD. tenaga kesehatan) • • Kurangnya pemantauan terhadap tata cara penimbangan Kurang teraturnya laporan dan data–data mengenai balita BGM yang ditimbang berat badannya. • Kurangnya evaluasi terhadap penanggulangan balita BGM 66 . • • Penyuluhan yang kurang optimal tentang balita BGM dan dampaknya Kurangnya perencanaan dalam penanganan balita BGM b. dan masyarakat disekitarnya. Pengendalian. P2 (Penggerakan Pelaksanaan) • Kurangnya kader yang mengerti cara menanggulangi balita BGM • balita BGM • Kurangnya koordinasi dalam perencanaan dengan institusi kesehatan lainnya (Pustu. P3 (Pengawasan. keluarga. Penilaian) • Kurangnya pengawasan kinerja petugas lapangan (bidan desa. dll) serta kurangnya pencatatan dari Puskesmas pembantu. PKD dan Polindes Kurangnya peran serta Pustu dan PKD dalam menanggulangi c.

67 .

PKD • P3 • Kurangnya pengawasan desa.Belum semua • Cakupan balita BGM (1. • Penyuluhan yang kurang optimal tentang balita BGM dan • P2 • Kurangnya perencanaan dalam penanganan balita BGM Kurangnya kader yang berkompeten untuk mendeteksi balita BGM Kura ngnya peran serta Pustu dan PKD dalam menjaring kasus balita BGM • Kurangnya koordinasi dalam perencanaan dengan institusi kesehatan lainnya (Pustu.8%) yang melebihi dari target (<1. PKD. tenaga kesehatan) kinerja petugas lapangan (bidan • • Kurangnya pemantauan terhadap tata cara penimbangan Kurang teraturnya laporan dan data – data mengenai pasien yang ditimbang berat badannya MONEY - Kurangnya pendistribusian dana untuk balita BGM yang tidak merata Kurangnya koordinasi mengenai MAN .5%) kader memahami cara menanggulangi kasus balita BGM Kurangnya kunjungan rumah untuk balita BGM pembebasan biaya Tidak tersedianya biaya operasional untuk menyalurkan makanan tambahan • Kurangnya balita BGM pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang METHODE Minimnya penyuluhan mengenai balita BGM kepada masyarakat umum.PROSES P1 • Kurangnya dampaknya perencanaan mengenai kunjungan rumah untuk balita BGM. dan masyarakat disekitarnya. dll) serta kurangnya pencatatan dari Puskesmas pembantu. • Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai balita BGM • Kurangnya pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang kenaikan berat badan pada penimbangan berkala di posyandu MATERIAL Tidak ada masalah MACHINE Tidak ada masalah • Kurang terjangkaunya lokasi posyandu atau tempat pemeriksaan lainnya 68 INPUT LINGKUNGAN . keluarga.

Kurangnya kunjungan rumah pada balita Menambah kunjungan rumah bagi balita BGM BGM yang status gizi berdasarkan yang status gizi berdasarkan NCHSnya 4. No 1. NCHSnya mendekati gizi buruk mendekati gizi buruk Minimnya penyuluhan tentang balita BGM Penyuluhan dibuat secara terjadwal dan rutin. kepada tenaga kesehatan dan masyarakat 5. Lingkungan kurang sehat Memperbaiki lingkungan sekitar Memberi penyuluhan lingkungan sehat. Inventarisasi Kemungkinan Penyebab Masalah dan Penerapannya Setelah dilakukan konfirmasi terhadap petugas terkait yaitu petugas gizi. Kurangnya koordinasi dalam perencanaan Penyuluhan yang baik tentang koordinasi dalam dengan institusi kesehatan lainnya serta perencanaan dengan institusi kesehatan lainnya kurangnya pencatatan dari Puskesmas pembantu. yang tertera pada tabel Tabel. Kurangnya Penyebab pengetahuan Alternatif Pemecahan Masalah masyarakat Memberikan penyuluhan yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat mengenai balita BGM dan mengenai balita BGM dan dampaknya dampaknya Kurangnya pengetahuan tenaga kesehatan Mengadakan pelatihan dan pembekalan khusus tentang penanganan balita BGM sesuai bagi MTBS tenaga kesehatan untuk menambah keterampilan mereka 3. maka didapatkan beberapa penyebab masalah yang paling mungkin. 69 . PKD dan Polindes. 6.26 Inventarisasi Kemungkinan Penyebab Masalah dan Penerapannya Masala h Cakupan Balita BGM 2.B.

Lingkungan kurang sehat Memperbaiki lingkungan sekitar Memberi penyuluhan mengenai lingkungan sehat. Kurangnya pengetahuan kader kepada masyarakat mengenai balita BGM dan dampaknya tentang Mengadakan pelatihan dan pembekalan khusus bagi kader untuk menambah keterampilan mereka penanganan balita BGM sesuai MTBS 3. Penyebab Alternatif Pemecahan Masalah Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai Memberikan penyuluhan yang efektif dan efisien balita BGM dan dampaknya 2. 4. PKD dan Polindes. 6. Kurangnya kunjungan rumah pada balita BGM Menambah kunjungan rumah bagi balita BGM Minimnya penyuluhan tentang balita BGM Penyuluhan dibuat secara terjadwal dan rutin. kepada tenaga kesehatan dan masyarakat 5.Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah No 1. Penggabungan Alternatif Pemecahan Masalah C. Tabel 27.Alternatif Pemecahan Masalah 70 .Setelah mendapatkan data primer dan sekunder terhadap masalah cakupan balita BGM maka terdapat beberapa alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan baik dalam jangka waktu pendek maupun dalam jangka waktu panjang. umum Kurangnya koordinasi dalam perencanaan Penyuluhan yang baik tentang koordinasi dalam dengan institusi kesehatan dari lainnya serta perencanaan dengan institusi kesehatan lainnya kurangnya pencatatan Puskesmas pembantu. B.

Kurang efektif 3. biaya 71 .V C M I V C Skor: 1. Penyuluhan yang baik tentang koordinasi dalam perencanaan dengan institusi kesehatan lainnya. besarnya penyebab masalah yang dapat diselesaikan = Importancy. D. Sangat kurang efektif 2. Memberikan penyuluhan yang sejelas-jelasnya dan berkesinambungan kepada Ibu dengan balita BGM mengenai balita BGM serta dampak dari balita BGM yang dilakukan secara terjadwal dan rutin.A. Mengadakan pelatihan dan pembekalan khusus bagi tenaga kesehatan untuk menambah keterampilan mereka. Efektif 5. efesien dan mudah dilakukan sehingga pemecahan masalah tersebut mampu menyelesaikan masalah yang ada dengan efesien dan efektif dengan metode MIV : M. pentingnya penyelesaian masalah = Vulnerability. C. sensitifitas cara penyelesain masalah = Cost. Menambah kunjungan rumah bagi balita BGM yang status gizi berdasarkan NCHSnya mendekati gizi buruk E. Sangat efektif = Magnitude. B.I. Cukup efektif 4. Memperbaiki lingkungan sekitar Pentuan priorotas pemecahan masalah adalah untuk menentukan pemecahan masalah yang paling efektif.

sebagai berikut: Tabel. -Menambah kunjungan rumah balita BGM. 3 2 4 2 3 2 1 2 3 4 IV III 3 4 4 2 24 II 3 Nilai criteria I 3 V 4 C 1 Hasil akhir (M.I.28 Penentuan Prioritas Pemecahan Masalah Berdasarkan Metode MIV/C Hasil akhir penentuan prioritas pemecahan masalah Penyelesaian masalah M a) Memberikan penyuluhan yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat mengenai balita BGM dan serta dampaknya yang dilakukan secara terjadwal dan rutin b) Mengadakan pelatihan dan pembekalan khusus mengenai MTBS bagi tenaga kesehatan untuk menambah keterampilan mereka. dan C.V)/C 36 Urutan I 72 .Untuk mendapatkan nilai dari setiap poin M. I. c) Menambah kunjungan rumah bagi balita BGM d) Penyuluhan yang baik tentang koordinasi dalam perencanaan dengan institusi kesehatan lainnya Dari hasil metode MIV/C. dilakukan penilaian menggunakan metode Hanlon kualitatif. prioritas penyelesaian masalah yang paling efektif dan efisien yaitu: -Memberikan penyuluhan yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat mengenai balita BGM serta dampaknya yang dilakukan secara terjadwal dan rutin. V.

POA (Plan Of Action) Rencana Kegiatan Pemecahan Masalah Dalam Meningkatkan Kemampuan Tenaga Kesehatan Puskesmas Borobudur

Tolok ukur No
1.

Kegiatan
Memberikan penyuluhan yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat mengenai balita BGM serta dampaknya

Tujuan Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai balita BGM serta dampaknya

Sasaran Ibu yang memiliki balita BGM

Lokasi Balai desa

Pelaksana Tenaga kesehatan dan kader puskesmas

Waktu 2x/ tahun

Dana Dana operasional Puskesmas Borobudur

Metode Tanya jawab, Diskusi Meningkatnya pengetahuan masyarakat mengenai balita BGM serta dampaknya atau

73

3.

Penyuluhan yang baik tentang koordinasi dalam perencanaan dengan institusi kesehatan lainnya

Setiap institusi mampu bekerja sama dalam menangani kasus balita BGM

Anggota institusi terkait

Institusi yang bersangkutan

Tenaga kesehatan dan anggota institusi yang terlatih

3x/tahun

Institusi yang bekerja sama dengan puskesmas

penyuluhan

Institusi kesehatan dan institusi lain mampu menangani kasus balita BGM secara efektif

4.

Penambahan jumlah kunjungan rumah

Meningkatkan pengawasan terhadap balita BGM

Bayi BGM dan keluarganya

Rumah bayi BGM

Tenaga kesehatan

1bulan/x

Puskesmas

Penyuluhan Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai BGM, memperbaiki pengetahuna masyarakat mengenai lingkungan sehat.

Gann Chart
74

No 1.

Kegiatan Jan
Memberikan penyuluhan yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat mengenai balita BGM serta dampaknya

Feb

Maret

April

Mei

Juni

Waktu Juli

Agt

Sept X

Okt

Nov

Des

2.

Mengadakan pelatihan dan pembekalan khusus bagi

X

X

3.

tenaga kesehatan Penyuluhan yang baik tentang koordinasi dalam perencanaan dengan institusi

X

X

4.

kesehatan lainnya Penambahan jumlah kunjungan rumah

X

X

X

X

X

75

PKD dan Polindes. para medis dan kader kesehatan untuk mendiagnosis secara dini balita BGM. minimnya penyuluhan tentang balita BGM kepada tenaga kesehatan dan masyarakat umum. kurangnya tenaga kesehatan untuk mendeteksi dini kasus balita BGM. kurangnya pengetahuan tenaga kesehatan tentang balita BGM.8%) yang melampaui batas SPM Dinkes Magelang tahun 2010 (1. menunjang keberhasilan menurunkan angka kematian dan angka kesakitan sesuai harapan pembangunan nasional. Penyebab masalah tersebut antara lain: kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai balita BGM dan dampaknya. yaitu peran serta masyarakat terutama ibu-ibu.BAB VII KESIMPULAN dan SARAN A.5%). Dari hasil SPM Puskesmas Borobudur bulan Januari sampai Juni tahun 2010 didapatkan prioritas masalah yaitu jumlah balita BGM (1. kurangnya pemahaman dan kepedulian masyarakat tentang balita BGM. kurangnya koordinasi dalam perencanaan dengan institusi kesehatan lainnya serta kurangnya pencatatan dari Puskesmas pembantu. dokter.Kesimpulan Balita BGM (Bawah garis Merah) adalah balita yang berat badannya di bawah garis merah pada Kartu Menuju Sehat. Pengenalan kasus balita BGM diperlukan kerjasama semua pihak. 76 .

Dari kesimpulan diatas. maka diharapkan adanya kerja sama antara masyarakat. sesuai dengan target Dinkes Magelang 2010.B. pada umumnya pemecahan masalah yang dapat dilakukan (berdasarkan POA) antara lain memberikan penyuluhan yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat mengenai balita BGM serta dampaknya. dan penambahan jumlah kader yang terlatih Perlu dilakukan koordinasi dan komitmen seluruh kader.Saran Karena pada pemeriksaan tidak ada yang khas mendiagnosisbalita BGM. penyuluhan yang baik tentang koordinasi dalam perencanaan dengan institusi kesehatan lainnya. mengadakan pelatihan dan pembekalan khusus bagi tenaga kesehatan seperti bidan desa. petugas kesehatan dan seluruh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Rawat Inap Borobudur sehingga dapat dikurangi jumlah balita BGM yang ada. tenaga kesehatan dan institusi lainnya agar dapat mendiagnosa balita BGM. 77 . Selain itu perlu dilakukan evaluasi hasil pencatatan data kasus secara kontinu sehingga target Dinkes Magelang 2010 dapat mewujudkan visi dan misi Indonesia Sehat 2010.

Profil Kesehatan Kabupaten Magelang. Kota Mungkid. Hartoyo. Suhadi. Notoadmojo. Prof. 2008. EGC : Jakarta. Handout : Proses Pemecahan Masalah. 2001. Handout : Manajemen Pelayanan/Manajemen Program di Puskesmas. et al. R. 2008. Magelang. 2. Gede. Pedoman Praktis Pelaksanaan Kerja di Puskesmas. 5. 2008. Muninjaya. Magelang.DAFTAR PUSTAKA 1. Dinkes Kabupaten Magelang. Handout : Upaya Kesehatan Puskesmas dan Indikator. 2003. Magelang. 2006. 7. Ilmu Kesehatan Masyarakat : Prinsip-prinsip Dasar. Penentuan Prioritas Masalah dan Pengambilan Keputusan. 2004. 3. 6. 78 . Bapelkes Salaman : Magelang. Dr. Manajemen Kesehatan. Hartoyo. 4. Yuniar. Soekidjo.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->