Anda di halaman 1dari 5

Ketertarikan pada Usia Dini

Ketertarikan terhadap lawan jenis merupakan suatu fenomena yang sangat normal dan
wajar. Pada usia pubertas, ketertarikan ini mulai muncul dan tidak ada yang salah
sesungguhnya dengan hal itu. Faktor perubahan hormonal berperan cukup banyak dalam
hal ini.

Justru kalau tidak ada ketertarikan pada lawan jenis malah menjadi suatu hal yang tidak
lazim dan perlu dipertanyakan. Pertanyaannya adalah mulai usia berapakah sebaiknya
ketertarikan terhadap lawan jenis ini ditindaklanjuti dalam kerangka hubungan yang
lebih?

Hubungan yang lebih dalam arti memiliki hubungan khusus antara laki-laki dan
perempuan yang lazim dikenal sebagai berpacaran. Dari sini yang merupakan situs
lembaga psikologi terapan UI dijelaskan bahwa dewasa muda adalah yang berusia 19 –
29 tahun.

Pada usia dewasa muda, dijelaskan di sana bahwa tugas perkembangan dalam usia
dewasa muda ini meliputi: mencari dan memilih pasangan hidup, belajar hidup bersama
pasangan, memulai sebuah keluarga, merawat anak, mengatur rumah tangga, memulai
jenjang karier, mengambil tanggung jawab sipil, dan menemukan kelompok sosial yang
sesuai.

Permasalahannya adalah apakah serta merta bahwa setiap orang yang berusaha 19 tahun
ke atas itu memang sudah layak berpacaran? Kalau mengacu pada tujuan pacaran yang
sudah saya bahas sebelumnya di sini, jelas bahwa berpacaran tidak serta-merta hanya
untuk demi pengenalan dan untuk menghilangkan rasa kesepian saja.

Benar bahwa pacaran berfungsi juga untuk pengenalan dan untuk menghilangkan rasa
kesepian; bahkan begitu pentingnya relasi antarjenis kelamin ini sampai-sampai Tuhan
mengatakan dalam kitab Kejadian bahwa: “tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja.
Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”

Konsep berpacaran sebagai sarana untuk memilih dan menemukan pasangan hidup
(penolong) jelas merupakan suatu konsep yang sebaiknya dilakukan oleh pria dan wanita
yang memang sudah memiliki kematangan dalam hal pemikiran. Tanpa adanya
kematangan dalam hal pemikiran, suatu hubungan akan menjadi hal yang menyakitkan
dan sangat membatasi bagi perkembangan seorang pribadi.

Dari sekian banyak orang yang saya kenal secara pribadi atau yang saya hanya ketahui
secara sekilas, atau bahkan yang hanya sekedar tahu saja; yang memiliki pasangan dari
sejak usia dini, kemudian selanjutnya sukses melanjutkan hubungan sampai tahap
pernikahan hanya ada 2 pasang saja. Walaupun data empiris ini hanya merupakan sampel
yang sifatnya secara ringan saja saya ambil, ukuran sampel yang saya ambil tidaklah
kecil.
Hal ini menunjukkan bahwa kematangan pemikiran, kemampuan berkomitmen, dan
kesediaan untuk terus melangkah ke dalam pernikahan kiranya belumlah tepat diterapkan
bagi yang memiliki usia dini.

Jelas tidak dapat ditarik generalisasi bahwa bagi yang berusia 19 tahun itu sudah
memiliki kematangan berpikir, kemampuan berkomitmen, dan kesediaan untuk terus
melangkah ke pernikahan atau tidak. Setiap pribadi adalah pribadi yang unik sehingga
tidak dapat dibuat suatu generalisasi.

Bahwa setiap orang dengan usia muda adalah belum siap untuk melangkah ke jenjang
pernikahan, tentu tidak dapat dinyatakan demikian. Kedewasaan itu sifatnya adalah relatif
bagi setiap individu. Bahkan bagi yang sudah melewati usia 29 tahun pun yang
merupakan kategori dewasa muda lagi, tetap saja kedewasaan itu masih bersifat relatif.

Hanya saja, jika memang ditanyakan apakah ketertarikan pada usia dini itu perlu
ditindaklanjuti dengan berpacaran? Saya akan jawab: tidak! Ketertarikan pada lawan
jenis walaupun merupakan suatu hal yang normal, tidak serta-merta harus ditindaklanjuti
dengan berpacaran.

Justru akan lebih baik jika ketertarikan itu disikapi dengan mengenal lawan jenis sebagai
seorang teman dan mengetahui karakter-karakter yang kiranya tepat dan perlu dimiliki
sebagai seorang penolong. Dalam kaitannya dengan itu, bukan hanya perlu mengetahui
karakter yang tepat dalam diri lawan jenis sebagai penolong, juga perlu mengetahui
karakter yang tepat dalam diri kita.

Mengapa hal itu menjadi penting? Dalam hubungan, harus terdapat suatu interaksi yang
timbal balik. Interaksi timbal balik ini akan menjadi interaksi yang positif, jika kedua
individu yang terlibat merupakan individu dengan karakter-karakter penolong di
dalamnya. Tanpa hal itu, sulit bagi suatu hubungan akan dapat berjalan dengan baik dan
kuat.

Oleh karena itu, seperti ditulis dalam Kitab Pengkotbah: Ia membuat segala sesuatu indah
pada waktunya. Tuhan saja menetapkan segala sesuatu pada waktunya, sehingga jika
memang ketertarikan timbul pada usia dini yang belum mempertimbangkan dan
memikirkan masalah pernikahan di dalamnya, kiranya tidak perlu ditindaklanjuti dengan
pacaran.

Masa usia dini adalah masa yang tepat untuk membangun karakter diri, membangun
relasi dengan orang lain, dan meningkatkan kemampuan diri. Bersahabat dan berkarya
adalah waktu yang sangat baik untuk diterapkan bagi setiap orang yang berusia dini,
walaupun hal ini juga berlaku bagi kelompok usia manapun.

Jadi selamat menyikapi ketertarikan pada usia dini dengan bijaksana.


KARAKTERISTIK REMAJA DAN PEMUDA

Waktu ini sekarang adalah cepatnya pertumbuhan yang sering membawa kejanggalan, memperlihatkan
kurangnya koordinasi antara pikiran dan badan. Hal ini juga memberikan rasa malu pada anak-anak muda
karena organ-organ tubuh tertentu, seperti hidung, mulut dan kaki bertumbuh lebih cepat dari anggota tubuh
yang lain membuat mereka seperti seorang gadis yang kecilnya berwajah buruh tetapi waktu dewasa
menjadi gadis yang molek dan memberikan rasa ketakutan yang tak tersalurkan yang membuat mereka
akan selalu merasa begitu. Usia untuk bergerombol sekarang mencapai puncaknya dan mulai mulai surut
digantikan oleh ketertarikan kepada lawan jenis dan disertai perasaan malu pada periode ini.
Perkembangan mental telah membuat pegangan yang pasti menyebabkan remaja lebih kritis daripada yakin
seperti pada waktu sebelumnya. Mereka mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berkhayall dan
memikirkan tentang masa depannya dan akan apa yang akan dikerjakannya nanti. Mereka benar-benar
tidak mementingkan diri sendiri dan tertantang untuk melakukan hal-hal yang berguna dimuka bumi ini.
Ketertarikan pada hal-hal yang bersifat rohani berlanjut dan hal - hal bersifat semangat mulai menjadi
masalah pengalaman daripada penerimaan banyak fakta.

Karakteristik Mental:

1. Remaja terjaga tetapi terpaku pada periode suka berkhayal.

2. Remaja berlajar dengan cepat.

3. Remaja mulai mendapatkan rasa tertarik pada hal-hal yang khusus.

Karakteristik Fisik:

1. Kesehatan bagus, hanya nomor kedua setelah masa periode pra-remaja.

2. Perkembangan fisik sangat cepat dengan nafsu makan yang kuat menyertai masa pertumbuhan ini.

3. Otot-otot berkembang atau kegagalan koordinasi untuk menjaga tahap perkembangan struktur tulang
menyebabkan kecenderungan menuju kejanggalan atau kekakuan.

4. Organ-orang sex berkembang, membuat perkembangan yang cepat secara biologis. Hormon-hormon
yang baru yang memperkembang insting sexual yang mempengaruhi tingkah laku. Rousseau berkata: “Kita
dilahirkan dua kali, pertama kali melalui kehadiran dan kedua pada kehidupan; pertama kali sebagai
anggota dari suatu suku dan kedua kali sebagai anggota dari kelompok secara jenis kelamin. 5. Anak
wanita lebih tinggi dari anak laki-laki pada usia 12 tahun sampai 13 tahun, benar-benar lebih tinggi pada
usia 14 tahun dan mulai berkurang pada usia 15 tahun dan 2 inchi lebih pendek dari laki-kali pada usia 16
tahun.

Karakteristik Sosial

1. Usia ini adalah usia yang menunjukkan kesetiaan pada kelompok, dengan satu ketakutan bahwa
dirinya berbeda dengan kelompoknya. Remaja mencari persetujuan dari kelompok untuk semua aktifitas.

2. Remaja mencari lebih banyak kebebasan secara individu dengan suatu ketajaman batin yang baru
menunjukkan kwalitas secara pribadi. Weigles menandai: “ Pandangannya menembus tindakan-tindakan
yang dihasilkan dan mengambil semangat diantara manusia. Mereka mulai melihat mutu ketajaman batin
untuk merasakan nilai hakiki pada kebenaran, iman dan pengorbanan diri. Mereka penuh dengan ambisi
dan membuat rencana untuk masa depan.
3. Keinginan untuk encari uang sering melanda anak remaja pada usia ini, menghasilkan keinginan untuk
lepas dari sekolah

4. Pada usia ini juga sering terjadi pergantian suasana hati. Suatu ketika aktifitas ditunjukkan, sementara
lain waktu lesu. Di pagi hari, anak-anak permulaan remaja mungkin baik dengan keinginan hati , sementara
di siang hari mereka mungkin tamak. Satu jam mereka jadi egois tiba-tiba di lain waktu menjadi penakut.

5. Kejanggalan ini ditunjukkan dalam berbagai cara:a. Sangat menyukai dan tidak menyukai makanan,
menyukai makanan tertentu yang dimakan secara berlebihan. b. Sangat menyenangi olah raga atletik
dengan suatu kecenderungan berlebihan. c. Rasa humor yang jelek, anak perempuan cenderung tertawa
genit. Anak remaja pada usia ini mempunyai rasa ketertarikan pada lawan jenis. Ini adalah usia yang
bahaya untuk seksualitas dan keinginan berteman. apabila anak remaja tidak dibekali untuk menjalin
hubungan secara pribadi. Aktifitas-aktifitas grup pada usia ini seharusnya disponsori oleh mereka anggota
klub. Pengantar yang berhati-hati harus diberikan pada semua aktifitas Klub Remaja yang diadakan diluar
seperti Kampore, acara dialam dan sebagainya.

Karakteristik Kerohanian

1. Ketertarikan pada hal-hal kerohanian berkurang secara drastis pada usia ini tetapi remaja dipengaruhi
oleh tingkah laku teman-teman sepergaulannya.

2. Tiga belas tahun adalah usia terbesar kedua untuk dibaptiskan di gereja.

3. Ini adalah usia dimana cita-cita untuk pekerjaan seumur hidup sering akan ditentukan. Hal penting dari
pegangan sebelum anak-anak remaja ini tentukan nasibnya dalam menyelesaikan perkerjaan pengabaran
injil akan kelihatan.

4. Akan ada kurangnya kecenderungan dalam usia ini untuk menyatakan perasaannya pada hal-hal yang
bersifat rohani atau keyakinannya.

5. Sering terjadi pertentangan dengan suara hati.

PERTENGAHAN REMAJA (16-17)

Pertumbuhan berlanjut dengan cepat, anak muda dalam banyak hal mencapai ketinggian fisiknya pada
akhir periode usia ini. Dimana pada waktu yang lalu anak-anak ini telah melalui satu periode dimana mereka
mencari jati diri, remaja sekarang mulai untuk mengembangkan rasa individualitasnya dan menjadi
seseorang yang mempunyai keputusannya sendiri.

Karakteristik Mental:

1. Remaja berada pada usia dimana dia akan senang sekali bertanya segala sesuatu dan ingin bukti
sebelum dia menerimanya.

2. Mereka mempunyai rasa hormat yang besar terhadap “bea siswa” dan sering cenderung untuk
mengambil satu jawaban atas sesuatu yang akan dipegang menjadi bukti bahwa seserang mempunyai
nama besar.

3. Prinsip-prinsipnya sekarang mulai dipertajam, dan mereka benar-benar merencanakan cara untuk
mencapainya.

Karakteristik Fisik:

1. Seksualitas berkembang terus, suatu kekuatan untuk berurusan dengan hal ini.
2. Tinggi dan berat badan mencapai 85% dari usia pada masa dewasa.

3. Otot-otot menjadi berkembang dan mereka suka latihan-latihan kebugaran fisik.

Karakteristik Sosial:

1. Mereka suka berkelompok-kelompok dan ingin dikelilingi oleh teman-teman istimewanya

2. Kritis, sering kasar dalam menyampaikan pendapatnya kepada orang lain.

3. Sangat peka, dan sering dipengaruhi oleh pendapat orang banyak dan apa yang dipikirkan oleh
kelompoknya adalah pasti baik untuk dilakukan.

Karakteristik Kerohanian:

1. Mereka terus berkembang dalam pengenalan akan nilai-nilai sosial dan nilai-nilai kerohanian menjadi
terutama, dengan alasan akan pergaulan yang salah, mereka akan kehilangan daya tarik.

2. Apa yang belum dilakukan dalam memberikan pondasi yang akan mendasari dasar pemikirian mereka
sekarang menjadi sulit untuk diberikan.

REMAJA AKHIR (18-24)

Secara fisik, ini adalah waktu yang lambat untuk bertumbuh, pertumbuhan yang terlambat pada bagian
yang lain akan menyesuaikan dengan bagian yang lain. Kepribadian muncul dan karakter menjadi tetap.
Rasa memerlukan orang lain sekarang menemukan jalan keluarnya, tidak dalam grup-grup atau kelompok-
kelompok tetapi dalam satu klub, kelompok persaudaraan, tempat satu rumah dan gereja. Keraguan apapun
akan berhubungan dengan keagamaan yang juga dipikirkan dan suatu dasar yang memuaskan dalam
penemuan iman atau ini adalah penolakan terhadap barang peninggalanpada masa lalu, dengan
kekecewaan yang menhasilkan sinisme. Ketertarikan pada lawan jenis telah menemukan pemecahannya
melalui cinta dan rumah tangga dan membangun sebuah rumah tangga.

Membutuhkan bantuan orang lain adalah suatu hal yang wajar, tetapi bila harapan itu
dalam bentuk bantuan materil, moril, emosional dan sepenuhnya disandarkan pada orang
lain, maka perilaku tersebut sudah menjadi maladaptive. Dependensi menjadi perilaku
maladaptive karena terjadi hambatan di dalam proses perkembangan sorang individu
utamanya tugas-tugas perkembangan yang harus dilalui pada tiap-tiap fase.
Perilaku dependensi sebagian besar dapat dijumpai pada usia remaja. Perilaku ini muncul
karena remaja yang masih dalam fase peralihan dari masa kanak-kanak yang sebagian
besar aktivitas hidupnya digantungkan pada orangtua. Sementara di sisi lain remaja juga
memasuki fase yang baru untuk menentukan identitas dirinya sebagai individu yang
otonom terhadap dirinya. Ada beberapa aspek ketergantungan remaja terhadap orangua,
seperti dependensi emosional, dependensi fisik dan dependensi sosial.
Kata Kunci: Hambatan psikologis, dependensi, orangtua