Anda di halaman 1dari 6

ISSN 1410-4628

CARA PANDANG UNDANG-UNDANG RI NO. 40 TAHUN 2007 DAN UNDANG- UNDANG RI NO. 17 TAHUN 2000 TERHADAP CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)

Ketut Budiartha Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi, Universitas Udayana, Denpasar

ABSTRAK

Tanggung jawab sosial tidak semata mata hanya bertanggungjawab bagi pemerintah itu sendiri, namun sektor swasta khususnya entitas bisnis juga diharapkan untuk memperhatikan masalah-masalah sosial. Sebagai bukti dari tanggapan terhadap masalah-masalah tersebut, pemerintah telah mengeluarkan Undang undang No 40 tahun 2007 mengenai perseroan terbatas yang harus melaporkan perkembangannya sehubungan dengan tanggung jawab sosial dan juga pada masalah lingkungan; dan pasal 74 Undang-undang No 40 yang menyatakan bahwa perusahaan yang menjalankan usahanya dari sumber daya alam harus mempunyai tanggung jawab terhadap masalah sosial dan lingkungan. Hukuman akan dikenakan sebagai akibat pelanggaran pelaksanaannya menurut Undang-undang yang terkait. Dimana secara konsisten, segala biaya yang ditimbulkan sebagai akibat pelanggaran tersebut harus dilaporkan dalam laporan keuangan. Namun tidak semua biaya yang dilaporkan berkaitan dengan masalah lingkungan seperti yang dinyatakan oleh Undang undang No 17 tahun 2000 mengenai pajak pendapatan; oleh karena itu sehingga terdapat perbedaan dari sudut pandang CSR antara Undang undang No 40 tahun 2007 dan Undang Undang No 17 Tahun 2000

Kata kunci: corporate social responsibility (CSR), perseroan terbatas, pajak pendapatan, standar akuntansi keuangan

POINT OF VIEW OF STATUARY RI NO. 40 YEAR 2007 AND STATUARY NO. 17 YEAR 2000 TO CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR)

ABSTRACT

The social responsibility is not only liable to government itself. However, the private sector particularly the business entities are also expected to be concerned for social problem matters. As evident to response on this issues, the government has issued the statutory No. 40 year of 2007 about the limited corporation are subject to report their progress related on their social responsibility and also for the environment matter; and article 74 statutory No. 40 which said that such corporate running business on resources nature are obligated to carry a good responsible toward the social and environment matter. A punishment will be conducted as the result of violation of its implementation, based on relevant statutory. Consistently, any expenses occurred as the detriment for the violation should be reported in financial report. However, not all the expenses reported relating to the environment issue are recognized by the statutory No. 17 year of 2000 about Income Tax; therefore, there is differences on CSR’s point of view between the statutory No. 40 year of 2007 and statutory No. 17 year of 2000.

Key words:

corporate social responsibility, limited corporation, income tax, financial accounting standard

1. PENDAHULUAN Setiap perusahaan yang didirikan mempunyai tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kemakmuran pemilik. Kemakmuran pemilik ini dapat dilihat dari meningkatnya nilai perusahaan dengan cara going concern perusahaan dapat dipertahankan dan sarana untuk mempertahankan going concern adalah earning. Tolok ukur earning merupakan tolok ukur yang paling populer dan paling banyak digunakan oleh para analis dan pelaku bisnis untuk menilai kinerja perusahaan. Perlunya suatu perusahaan umtuk mempertahankan going concern juga ditekankan dalam Standar Akuntansi Keuangan. Dalam standar tersebut ada dua asumsi dasar akuntansi keuangan, yaitu going concern dan accrual basis. Dengan going concern diartikan bahwa perusasahaan didirikan untuk tujuan jangka panjang, sedangkan accrual basis diartikan bahwa semua transaksi diakui dan dicatat pada saat terjadinya, bukan saat dibayar atau diselesaikan dengan kas. Untuk mempertahankan going concern tidak dapat dicapai hanya dengan mengejar earning. Earning yang tinggi belum tentu menjamin kelangsungan hidup perusahaan karena earning merupakan permainan dan proksi akuntansi. Earning bisa direkayasa dan kemampuan untuk merekayasa tersebut merupakan akal-akalan akuntansi yang disebut dengan window dressing. Melalui window dressing perusahaan yang mengalami rugi bisa dibuat laba dan perusahaan yang mengalami laba tidak stabil bisa diatur menjadi stabil sehingga kepercayaan analis bisnis tidak terganggu dengan sendirinya. Dengan demikian, tidak diperlukan usaha yang serius dan bersusah payah untuk meningkatkan earning karena dengan permainan dan rekayasa akuntansi earning tersebut dapat ditingkatkan dengan merekayasa discretionary expenses. Tanggung jawab perusahaan tidak hanya meningkatkan kemakmuran pemilik yang lebih menekankan pendekatan ekonomi, tetapi yang lebih penting adalah menjaga hubungan yang harmonis dan selaras dengan kreditor, investor, pemerintah, karyawan, dan masyarakat sekitarnya. Keselarasan hubungan ini

ISSN 1410-4628

diharapkan mampu memperpanjang going concern perusahaan. Untuk menunjukkan keselarasan hubungan ini setiap perusahaan diharapkan memiliki perhatian dan tanggung jawab yang seimbang antara kepentingan ekonomi dan kepentingan sosial. Tanggung jawab sosial perusahaan/corporate social responsibility (CSR) ini telah diatur dalam Undang- Undang No. 1, Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 40, Tahun

2007.

Bagi akuntansi pengeluaran- pengeluaran yang berhubungan dengan tanggung jawab sosial ini perlu diakui, dinilai, dicatat, dan dilaporkan dalam laporan keuangan dan pada umumnya dilaporkan sebagai biaya dan dengan sendirinya akan mengurangi laba. Jika dihubungkan dengan proses dalam menciptakan penghasilan, sebetulnya biaya- biaya sosial tersebut tidak memiliki hubungan langsung. Namun, akuntansi akan tetap mengakui sebagai biaya walaupun sampai saat ini Ikatan Akuntan Indonesia belum menerbitkan standar yang mengatur tentang perlakuan akuntansi atas biaya CSR (Andreas Lako, 2008). Berbeda halnya dengan pajak seperti diatur dalam Undang-Undang No. 17, Tahun 2000 tentang Pajak Penghasilan. Menurut undang-undang pajak penghasilan, biaya- biaya yang boleh dikurangkan dalam penghasilan hanya untuk keperluan mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan yang sering disingkat dengan 3 M. Dengan demikian, muncul pertanyaan apakah biaya-biaya sosial tersebut bisa diakui sebagai biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan?

2. CORPORATE SOCIAL

RESPONSIBILITY (CSR) Wacana tentang corporate social responsibility menjadi perhatian yang serius bagi para pebisnis dan birokrat. Hal ini disebabkan oleh perlunya perseroan dan birokrat untuk bersama-sama memikirkan bagaimana cara untuk menyelamatkan dunia. Seperti diketahui bahwa pihak yang berkepentingan terhadap perseroan dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu pihak

internal dan pihak eksternal perusahaan. Pearce dan Robinson (2007) menyebutkan ada sepuluh pihak yang mempunyai kepentingan terhadap perusahaan yang masing-masing mempunyai kepentingan berbeda dan cara pandang yang berbeda terhadap perusahaan. Kesepuluh pihak yang dimaksud adalah stockholders, creditor, employees, customers, suppliers, governments, unions, competitors, local communities, general public. Kepentingan dan klaim tersebut dapat dikelompokkan ke dalam klaim yang bersifat ekonomi dan nonekonomi. Pearce dan Robinson mengelompokkan tanggung jawab sosial menjadi empat, yaitu sebagai berikut. (1) Economic responsibility. Secara ekonomi tanggung jawab perusahaan adalah untuk menghasilkan barang dan jasa kepada masyarakat dengan reasonable cost dan memberikan keuntungan kepada perusahaan. Dengan menghasilkan barang dan jasa maka perusahaan diharapkan memberikan pekarjaan yang produktif terhadap masyarakat sekitarnya, menyumbangkan sebagian keuntungan dalam bentuk pajak kepada pemerintah. (2) Legal responsibility. Di mana pun tempat operasi suatu perusahaan tidak akan dapat melepaskan diri dari aturan dan perundang-undangan yang berlaku yang mengatur tentang kegiatan bisnis. Peraturan tersebut terutama yang terkait dengan usaha untuk mengontrol perubahan lingkungan dan keamanan konsumen. Untuk melindungi konsumen diperlukan peraturan tentang perlindungan konsumen. Untuk menjaga perubahan lingkungan maka perusahaan harus tunduk kepada undang-undang yang mengatur tentang lingkungan. (3) Ethical responsibility. Perusahaan didirikan tidak hanya berperilaku legal secara hukum, tetapi juga memiliki etika. Sering kali terjadi perbedaan antara legal dan etika. Bisa jadi sesuatu yang dikatakan legal, tetapi tidak beretika. Perusahaan memproduksi rokok adalah legal, tetapi tidak beretika untuk memasarkan agar semua penduduk merokok. Perusahaan televisi

ISSN 1410-4628

adalah legal untuk memutar dan menyiarkan film, tetapi tidak beretika jika film yang diputar berbau forno. (4) Discretionary responsibility. Tanggung jawab ini sifatnya sukarela seperti public relation activities, menjadi warga negara yang baik, dan tanggung jawab perusahaan lainnya. Melalui public relation yang baik manajer mencoba untuk meningkatkan kesan terhadap perusahaan, barang dan jasa yang dihasilkan. Perusahaan yang menjadi warga negara yang baik akan meningkatkan going concern dan merupakan sarana untuk melakukan promosi. Komitmen manajer untuk melaksanakan tanggung jawab sosial secara penuh memerlukan strategi yang sama dalam menangani masalah sosial dengan masalah bisnis.

Corporate Social Responsibility sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari aktivitas bisnis memerlukan penanganan yang menyeluruh mulai dari tahap visi, misi, dan strategi bisnis. Misi suatu bisnis tidak hanya mengidentifikasi barang dan jasa apa yang akan dihasilkan, bagaimana memproduksi, dan bagaimana memasarkan. Akan tetapi, dalam misi perusahaan perlu diakomodasi juga tentang kemungkinan adanya klaim dari exsternal stakeholders yang meliputi kreditor, pelanggan, supplier, pemerintah, serikat kerja, masyarakat lokal, dan kelompok umum lainnya. Dengan mengidentifikasi kepentingan setiap stakeholders dan mempertimbangkan hak dan kewajiban relatif yang berpengaruh terhadap keberhasilan perusahaan, maka going concern perusahaan diharapkan tidak akan terganggu. Thompson and Strickland (1990) menyebutkan bahwa dalam arti luas pemilihan strategi dibatasi oleh hukum, kepatuhan terhadap peraturan pemerintah, apa yang diterima secara sosial dan masyarakat secara umum. Dengan memerinci prioritas social, perhatian masyarakat, persyaratan peraturan, dan regulasi yang berat merupakan bagian dari situasi eksternal yang perlu dianalisis dalam kebanyakan perusahaan. Proses pembuatan strategi perusahaan yang mempertimbangkan tanggung jawab sosial

meliputi (1) menjaga aktivitas organisasi tetap mengacu pada norma yang sesuai dengan kepentingan umum, (2) merespons secara positif ekspektasi dan prioritas sosial, (3) menunjukkan kemauan untuk bertindak tanpa melawan regulasi, (4) menyeimbangkan kepentingan stockholder dengan kepentingan yang lebih luas dari masyarakat secara menyeluruh, dan (5) menjadi warga negara yang baik dalam

bermasyarakat.

3. PANDANGAN UU NO 40, TAHUN

2007 TERHADAP CSR Undang-Undang No. 40, Tahun 2007 merupakan undang-undang terbaru tentang Perseroan Terbatas sebagai pengganti Undang-Undang No 1, Tahun 1995. Perubahan undang-undang perseroan terbatas ini dilakukan mengingat dalam

dalam undang-undang yang lama tidak diatur secara tegas tentang tanggung jawab sosial perusahaan. Tidak ada satu pun pasal dari 129 pasal yang mengatur tentang CSR. Pasal 56 dan pasal 110 UU No 1, Tahun 1995 secara samar-samar disinggung tentang tanggung jawab sosial perusahaan. Hal-hal yang diatur dalam pasal 56 adalah sebagai berikut.

a. Perhitungan tahunan yang terdiri atas neraca akhir tahun buku yang baru lampau dan perhitungan laba rugi dari tahun buku yang bersangkutan serta penjelasan atas dokumen tersebut.

b. Neraca gabungan dari perseroan yang tergabung dalam satu grup, di samping neraca dari tiap-tiap perseroan tersebut.

c. Laporan mengenai keadaan dan jalannya perseroan serta hasil yang telah dicapai.

d. Kegiatan utama perseroan dan perubahan selama tahun buku.

e. Perincian masalah yang timbul selama tahun buku yang mempengaruhi kegiatan perseroan.

f. Nama anggota direksi dan komisaris.

g. Gaji dan tunjangan lain bagi anggota direksi dan komisaris.

Dalam pasal 110 alinea (1) disebutkan bahwa pemeriksaan terhadap perseroan dapat dilakukan dengan tujuan untuk

ISSN 1410-4628

mendapatkan data atau keterangan dalam hal terdapat dugaan mengenai hal berikut. a. Perseroan melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan pemegang saham atau pihak ketiga. b. Anggota direksi atau komisaris melakukan perbuatan melawan hukum yang merugikan perseroan atau pemegang saham atau pihak ketiga. Dalam pasal 56 hanya disinggung tentang perincian masalah yang timbul selama tahun buku yang mempengaruhi kegiatan perseroan. Permasalahan yang timbul tersebut bisa berasal dari dalam dan luar perusahaan, baik yang menyangkut masalah bisnis maupun nonbisnis. Dalam pasal 110 disinggung bahwa pemeriksaan dilakukan jika perseroan dan direksi melakukan pelanggaran hukum dan merugikan stakeholders.Tidak tampak secara jelas tentang tindakan apa yang seharusnya dilakukan perusahaan untuk menunjukkan tanggung jawab sosial terhadap pihak-pihak yang berkepentingan. Undang-Undang No. 40, Tahun 2007 yang merupakan pengganti Undang- Undang No. 1, Tahun 1995 dengan tegas dan jelas menyebutkan adanya tanggung jawab sosial yang harus dipikul oleh perseroan terbatas. Dari 161 pasal yang dibicarakan ada 2 pasal yang mengatur tentang corporate social responsibility (CSR), yaitu pasal 66 dan pasal 74. Pasal 66 ayat (2) bagian c menyebutkan bahwa selain menyampaikan laporan keuangan, perseroan terbatas juga diwajibkan melaporkan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Dalam Pasal 74 diuraikan tentang tanggung jawab sosial dan lingkungan khususnya bagi perseroan yang usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam, yaitu sebagai berikut. (1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. (2) Tanggung jawab sosial dan lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan kewajiban perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya perseroan yang

pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatuhan dan kewajaran. (3) Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan. (4) Ketentuan lebih lanjut mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Mengacu pada dua pasal dalam Undang-Undang No. 40, Tahun 2007, maka perseroan terbatas tidak lagi dapat bermain- main dengan tanggung jawab sosial. Selain menyampaikan laporan keuangan, perseroan terbatas juga diwajibkan melaporkan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Bagi perseroan yang usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam, akan dikenai sanksi jika tidak melaksanakan tanggung jawab sosial. Dengan memperhatikan kedua pasal dalam undang-undang perseroan terbatas yang baru tersebut, maka pemerintah sangat serius menangani masalah sosial karena terganggunya masalah sosial menyebabkan kerugian bagi banyak pihak.

4. PANDANGAN UNDANG-UNDANG

NO. 17, TAHUN 2000 TERHADAP CSR Seperti diketahui bahwa undang- undang ini merupakan undang-undang yang mengatur tentang pajak penghasilan. Sebagai wajib pajak, maka perseroan terbatas harus mengacu pada ketentuan- ketentuan yang diatur dalam Undang- undang Pajak Penghasilan. Mengingat aktivitas Corporate Social Responsibility akan menyebabkan terjadinya pengeluaran/biaya dan biaya-biaya ini dipastikan tidak berkaitan langsung dengan penghasilan, tetapi lebih mengarah ke biaya-biaya sosial, seperti sumbangan, bantuan, partisipasi dengan masyarakat, baik yang diberikan secara tunai maupun berupa barang, maka ketentuan/peraturan yang berkaitan dengan pengeluaran/biaya khususnya yang tidak boleh dikurangkan terhadap penghasilan seperti diatur dalam

ISSN 1410-4628

Pasal 9 ayat (1) huruf g UU No. 17, Tahun 2000 adalah harta yang dihibahkan, bantuan atau sumbangan, dan warisan sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (3) huruf a dan huruf b, kecuali zakat atas penghasilan yang nyata-nyata dibayarkan oleh wajib pajak orang pribadi pemeluk agama Islam dan atau wajib pajak badan dalam negeri yang dimiliki oleh pemeluk agama Islam kepada badan amil zakat atau lembaga amil zakat yang dibentuk atau disahkan oleh pemerintah. Dengan adanya pasal tersebut, maka akan sulit bagi perseroan yang menerapkan CSR untuk bisa memasukkan biaya CSR sebagai pengurang penghasilan dengan maksud untuk mengurangi pajak penghasilan. Untuk perusahaan yang bergerak dalam usaha pertambangan diizinkan membentuk dana cadangan untuk tujuan reklamasi seperti diatur dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c. Pasal 6 ayat (1) huruf a mengatur biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara penghasilan termasuk biaya pembelian bahan, biaya berkenaan dengan pekerjaan atau jasa termasuk upah, gaji, honorarium, bonus, gratifikasi, dan tunjangan yang diberikan dalam bentuk uang, bunga, sewa, royalti, biaya perjalanan, biaya pengolahan limbah, premi asuransi, biaya administrasi dan pajak, kecuali pajak penghasilan. Peraturan yang tidak tertulis menyebutkan bahwa pajak akan mengakui pengeluaran sebagai biaya yang boleh dikurangkan terhadap penghasilan jika pihak yang menerima pengeluaran/biaya tersebut menganggap sebagai penghasilan sehingga akan dikenakan pajak pada pihak yang menerima penghasilan.

5. SIMPULAN Dengan mengacu pada Pasal 6 ayat (1) huruf a dan Pasal 9 ayat (1) huruf g UU No. 17, Tahun 2000 sebagai landasan hukum perpajakan di Indonesia, maka dikhawatirkan perseroan tidak akan sepenuhnya melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 dan 74 UU No. 40, Tahun 2007. Hal ini disebabkan oleh perseroan akan merasa dirugikan secara finansial mengingat biaya-biaya yang

dikeluarkan dalam rangka melaksanakan CSR tidak diakui oleh pajak sehingga pajak penghasilan yang disetorkan ke kas negara tetap tinggi. Hal ini tidak berlaku untuk perusahaan pertambangan yang diizinkan untuk membentuk dana cadangan untuk tujuan reklamasi. Walaupun demikian, dengan diberlakukannya UU No. 40, Tahun 2007, tanggung jawab sosial terhadap pihak berkepentingan terhadap perseroan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, sebagian dilimpahkan kepada perseroan sebagai lembaga yang memperoleh penghasilan dari alam dan lingkungannya.

DAFTAR PUSTAKA

--------. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1, Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. Jakarta: Penerbit BP Panca Usaha.

--------. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40, Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Yogyakarta: Penerbit Pustaka Yustisia.

--------. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17, Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Nomor 7, Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. Jakarta: Penerbit Harvarindo.

Andreas Lako. Akuntansi CSR, dalam Majalah Swa, No 02/XXIV/24 Januari – 5 Februari

2008.

Mardiasmo. 2006.

Perpajakan. Edisi Revisi

2006. Yogyakarta: Penerbit Andi .

Pearce II. John A., and Robinson, Richard B., Jr. 2007. Strategic Management, Formulation, Implementation and Control. Tenth Edition. Boston: McGraw-Hill.

Thompson, Arthur A., Jr., and Strickland III, A.J. 1990. Strategic Management Concepts and Cases. Fifth Edition. Boston:

Homewood, Hill.

ISSN 1410-4628