Anda di halaman 1dari 2

Tahun Baru Hijriah & Semangat Perubahan

Sabtu, 19/12/2009 11:00 WIB -

Tak ada ramainya bunyi terompet, tidak ada pula kembang api, tempat-tempat hiburan
maupun restoran dan hotel juga tidak penuh sesak, jalan-jalan juga tak dipenuhi kendaraan
serta klakson yang bersahut-sahutan. Itulah yang ada di malam pergantian Tahun Baru 1
Muharam 1431 Hijriah atau yang biasa disebut Tahun Baru Hijriah, Kamis (17/12) malam.
Suasana penyabutan Tahun Baru Hijriah memang berbeda dengan suasa penyambutan Tahun
Baru Masehi. Namun demikian, suasana boleh berbeda tetapi semangat perubahan di tahun
yang baru tetap sama. Sebenarnya, yang terpenting dari pergantian tahun adalah bisa
meresapi semangat tahun berikutnya harus lebih baik dari tahun kemarin. Apalah artinya
semarak perayaan pergantian tahun mana kala kita tak bisa memaknainya untuk mendapatkan
perubahan ke arah yang lebih baik.
Jadi, ukuran pergantian tahun adalah bukan semarak acara pergantian tahun melainkan
semangat untuk berubah ke arah yang lebih. Dalam segi apa pun!.
Sejatinya, urusan perayaan tahun baru, entah itu Tahun Baru Masehi maupun Tahun Baru
Hijriah adalah semata-mata ritual belaka dan tak ada kaitannya dengan perayaan agama
tertentu. Perayaan tahun baru bukan sesuatu yang sakral yang harus dilakukan karena
pergantian tahun hanyalah penanda penanggalan baru. Yang satu berdasar hitungan Masehi
dan satunya berdasar hitungan Islam. Ada pula hitungan penanggalan berdasar Jawa.
Karena itulah, perayaan pergantian tahun harus disikapi secara bijak. Untuk apa artinya
perayaan mana kala kita tak mengetahui maknanya secara positif bagi perjalanan hidup kita,
bagi orang-orang sekeliling kita maupun bagi bangsa Indonesia.
Marilah datangnya Tahun Baru Hijriah disikapi dan diisi dengan target-target maupun makna
hidup yang lebih berkualitas. Kita hijrah ke arah yang lebih baik dari yang kemarin. Karena
sebenarnya setiap tahun berganti maka susut pula umur kita. Pertambahan usia membuat
siapa pun menjadi lebih arif, lebih dewasa. Kita harus bisa mencontoh momentum dimulainya
penanggalan Hijriah tersebut. Karena 1430 tanggal 1 Muharram itu merupakan sejarah yang
sangat bermakna, ketika 1430 tahun lalu Nabi Muhammad Saw dan pengikutnya hijrah dari
Mekkah ke Madinah dalam rangka mencari strategi yang lebih baik dalam berdakwah.
Para ahli bahasa berbeda pendapat dalam mengartikan kata hijrah. Tapi semuanya
berkesimpulan bahwa hijrah adalah upaya untuk menghindari atau menjauhi diri dari sesuatu,
baik dengan raga, lisan dan hati yang buruk ke arah yang lebih baik.
Lalu, apa yang harus dilakukan umat Islam di zaman sekarang yang saat ini dihadapkan
dengan persoalan duniawi yang makin kompleks. Apakah cukup dengan hanya
merayakannya saja. Dalam kerangka hijrah, ada hal-hal penting yang perlu dilakukan. Yakni
terus menggelorakan semangat perubahan ke jalur yang lebih baik dalam setiap sendi
kehidupan yang dijalani setiap pribadi muslim.
Kita harus bisa membawa spirit hijrah ini ke segala lapangan kehidupan, dalam arti pindah
dari masa sebelumnya yang kurang baik, ke hari esok yang lebih baik. Tidak hanya dalam
segi ibadah vertikal tetapi juga pola hubungan manusiawi secara horizontal. Termasuk
berhijrah dari kebiasaan bertindak zalim dalam bermasyarakat, berbisnis, bernegara,
berpolitik, berumah tangga dan segenap sektor kehidupan yang kita jalani saat ini.
Sebagai bangsa yang religius, sudah sewajarnya meningkatkan ketakwaan kepada Sang
Khaliq. Ketakwaan itu diharapkan berdampak pada kesalehan sosial kita. Apalagi, di tengah
bangsa Indonesia yang masih dirundung beragam masalah terutama bencana alam. Kita tentu
tidak bijaksana kalau hanya menyebut beragam bencana itu adalah cobaan. Tentunya kita
juga harus bergerak untuk mencarikan solusi. Terhadap banyaknya bencana yang ada, maka
tugas kita adalah membantu yang terkena musibah. Banyak yang harus dilakukan, yang tentu
saja tidak cukup hanya dengan doa.
Tahun Baru Islam 1 Muharam 1431 Hijriah hendaknya juga dapat dijadikan momentum bagi
peningkatan solidaritas sesama muslim untuk membangun kehidupan umat yang lebih
berkualitas dan bermakna bagi orang lain.
Solidaritas antarsesama sangat dibutuhkan di tengah kondisi masyarakat Indonesia saat ini.
Kehidupan masyarakat yang kompleks yang kadang dijejali keangkuhan nafsu,
mengandalkan materialistis, pragmatisme serta “intimidasi” manusia atas manusia lain
membutuhkan kesadaran keimanan dan kesalehan sosial. Tahun Baru Hijriah harus bisa
digunakan sebagai momentum untuk menggerakkan kesadaran keimanan dan kesalehan
sosial tersebut. (***)