Anda di halaman 1dari 9

Kresna

Dalam pewayangan Jawa, Prabu Kresna merupakan Raja Dwarawati, kerajaan


para keturunan Yadu (Yadawa) dan merupakan titisan Dewa Wisnu. Kresna adalah
anak Basudewa, Raja Mandura. Ia (dengan nama kecil "Narayana") dilahirkan
sebagai putera kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya dikenal sebagai Baladewa
(alias Kakrasana) dan adiknya dikenal sebagai Subadra, yang tak lain adalah istri
dari Arjuna. Ia memiliki tiga orang istri dan tiga orang anak. Istri isterinya adalah
Dewi Jembawati, Dewi Rukmini, dan Dewi Satyabama. Anak-anaknya adalah
Raden Boma Narakasura, Raden Samba, dan Siti Sundari.

Pada perang Bharatayuddha, beliau adalah sais atau kusir Arjuna. Ia juga
merupakan salah satu penasihat utama Pandawa. Sebelum perang melawan Karna,
atau dalam babak yang dinamakan Karna Tanding sebagai sais Arjuna, beliau
memberikan wejangan panjang lebar kepada Arjuna. Wejangan beliau dikenal
sebagai Bhagawadgita.
Kresna dikenal sebagai seorang yang sangat sakti. Ia memiliki kemampuan untuk
meramal, mengubah bentuk menjadi raksasa, dan memiliki bunga Wijaya Kusuma
yang dapat menghidupkan kembali orang yang mati. Ia juga memiliki senjata yang
dinamakan Cakrabaswara yang mampu digunakan untuk menghancurkan dunia,
pusaka-pusaka sakti, antara lain Senjata Cakra, Kembang Wijayakusuma, terompet
kerang (Sangkala) Pancajahnya, Kaca Paesan, Aji Pameling dan Aji Kawrastawan.

Setelah meninggalnya Prabu Baladewa (Resi Balarama), kakaknya, dan


musnahnya seluruh Wangsa Wresni dan Yadawa, Prabu Kresna menginginkan
moksa. Ia wafat dalam keadaan bertapa dengan perantara panah seorang pemburu
bernama Jara yang mengenai kakinya.

Kresna dalam Bhagawadgita

Kresna dianggap sebagai penjelmaan Sang Hyang Triwikrama, atau gelar


Bhatara Wisnu yang dapat melangkah di tiga alam sekaligus. Ia juga dipandang
sebagai perantara suara Tuhan dalam menjalankan misi sebagai juru selamat umat
manusia, dan disetarakan dengan segala sesuatu yang agung. Kutipan di bawah ini
diambil dari kitab Bhagawadgita (percakapan antara Kresna dengan Arjuna) yang
menyatakan Sri Kresna sebagai awatara.
Hanoman

Wayang Anoman versi Yogyakarta.

Wayang Anoman versi Surakarta.


Hanoman dalam pewayangan Jawa merupakan putera Bhatara Guru yang
menjadi murid dan anak angkat Bhatara Bayu. Hanoman sendiri merupakan tokoh
lintas generasi sejak zaman Rama sampai zaman Jayabaya.

Kelahiran

Anjani adalah puteri sulung Resi Gotama yang terkena kutukan sehingga
berwajah kera. Atas perintah ayahnya, ia pun bertapa telanjang di telaga Madirda.
Suatu ketika, Batara Guru dan Batara Narada terbang melintasi angkasa. Saat
melihat Anjani, Batara Guru terkesima sampai mengeluarkan air mani. Raja para
dewa pewayangan itu pun mengusapnya dengan daun asam (Bahasa Jawa: Sinom)
lalu dibuangnya ke telaga. Daun sinom itu jatuh di pangkuan Anjani. Ia pun
memungut dan memakannya sehingga mengandung. Ketika tiba saatnya
melahirkan, Anjani dibantu para bidadari kiriman Batara Guru. Ia melahirkan
seekor bayi kera berbulu putih, sedangkan dirinya sendiri kembali berwajah cantik
dan dibawa ke kahyangan sebagai bidadari.

Mengabdi pada Sugriwa

Bayi berwujud kera putih yang merupakan putera Anjani diambil oleh Batara
Bayu lalu diangkat sebagai anak. Setelah pendidikannya selesai, Hanoman kembali
ke dunia dan mengabdi pada pamannya, yaitu Sugriwa, raja kera Gua Kiskenda.
Saat itu, Sugriwa baru saja dikalahkan oleh kakaknya, yaitu Subali, paman
Hanoman lainnya. Hanoman berhasil bertemu Rama dan Laksmana, sepasang
pangeran dari Ayodhya yang sedang menjalani pembuangan. Keduanya kemudian
bekerja sama dengan Sugriwa untuk mengalahkan Subali, dan bersama menyerang
negeri Alengka membebaskan Sita, istri Rama yang diculik Rahwana murid
Subali.

Pertama-tama Hanoman menyusup ke istana Alengka untuk


menyelidiki kekuatan Rahwana dan menyaksikan keadaan Sita. Di
sana ia membuat kekacauan sehingga tertangkap dan dihukum
bakar. Sebaliknya, Hanoman justru berhasil membakar sebagian
ibu kota Alengka. Peristiwa tersebut terkenal dengan sebutan
Hanoman Obong. Setelah Hanoman kembali ke tempat Rama,
pasukan kera pun berangkat menyerbu Alengka. Hanoman tampil
sebagai pahlawan yang banyak membunuh pasukan Alengka,
misalnya Surpanaka (Sarpakenaka) adik Rahwana.
Bima

Bima adalah seorang tokoh yang populer dalam khazanah pewayangan Jawa.
Suatu saat mantan presiden Indonesia, Ir. Soekarno pernah menyatakan bahwa ia
sangat senang dan mengidentifikasikan dirinya mirip dengan karakter Bima.

Bima memiliki sifat gagah berani, teguh, kuat, tabah, patuh dan jujur, serta
menganggap semua orang sama derajatnya, sehingga dia digambarkan tidak pernah
menggunakan bahasa halus (krama inggil) atau pun duduk di depan lawan
bicaranya. Bima melakukan kedua hal ini (bicara dengan bahasa krama inggil dan
duduk) hanya ketika menjadi seorang resi dalam lakon Bima Suci, dan ketika dia
bertemu dengan Dewa Ruci. Ia memiliki keistimewaan dan ahli bermain gada,
serta memiliki berbagai macam senjata, antara lain: Kuku Pancakenaka, Gada
Rujakpala, Alugara, Bargawa (kapak besar) dan Bargawasta. Sedangkan jenis ajian
yang dimilikinya antara lain: Aji Bandungbandawasa, Aji Ketuglindhu, Aji
Bayubraja dan Aji Blabak Pangantol-antol.

Bima juga memiliki pakaian yang melambangkan kebesaran, yaitu: Gelung


Pudaksategal, Pupuk Jarot Asem, Sumping Surengpati, Kelatbahu Candrakirana,
ikat pinggang Nagabanda dan Celana Cinde Udaraga. Sedangkan beberapa
anugerah Dewata yang diterimanya antara lain: Kampuh atau Kain Poleng
Bintuluaji, Gelang Candrakirana, Kalung Nagasasra, Sumping Surengpati dan
Pupuk Pudak Jarot Asem.

Dursasana

Arti nama
Nama Duhsasana terdiri dari dua kata Sansekerta, yaitu duh dan śāsana. Secara
harfiah, kata Dusśāsana memiliki arti "sulit untuk dikuasai" atau "sulit untuk
diatasi".

Kelahiran
Dursasana lahir dari kandungan Gandari dalam keadaan tidak wajar. Saat itu
Gandari iri kepada Kunti istri Pandu yang telah melahirkan seorang putra bernama
Yudistira. Gandari pun memukul-mukul kandungannya sehingga lahir segumpal
daging berwarna keabu-abuan. Daging tersebut kemudian membelah diri sampai
berjumlah seratus potongan.

Resi Wyasa datang menolong Gandari. Ia menanam daging-daging tersebut pada


sebuah pot di dalam tanah. Setahun kemudian salah satu potongan daging berubah
menjadi bayi yang diberi nama Duryodana, bersamaan waktunya dengan kelahiran
putra kedua Kunti yang bernama Bimasena.
Beberapa waktu kemudian, ada satu lagi potongan daging putra Gandari yang
berubah menjadi bayi, yang diberi nama Dursasana. Kemunculan Dursasana ini
bersamaan dengan kelahiran Arjuna, putra ketiga Kunti.

Daging-daging sisanya sebanyak 98 potongan kemudian menyusul berubah


menjadi bayi normal, bersamaan dengan kelahiran Nakula dan Sahadewa, putra
kembar Madri, istri kedua Pandu.

Sebanyak 100 orang putra Dretarsatra dan Gandari kemudian dikenal dengan
sebutan Korawa, sedangkan kelima putra Pandu disebut Pandawa. Meskipun
bersaudara sepupu, namun Korawa selalu memusuhi Pandawa akibat hasutan
paman mereka, yaitu Sangkuni, saudara Gandari.
Gatotkaca

Gatotkaca dalam bentuk asli wayang kulit dengan hiasan/pahatan berwarna.

Gatotkaca versi Jawa adalah manusia setengah raksasa, namun bukan raksasa
hutan. Ibunya adalah Arimbi putri Prabu Tremboko dari Kerajaan Pringgadani.
Tremboko tewas di tangan Pandu ayah para Pandawa akibat adu domba yang
dilancarkan Sangkuni. Ia kemudian digantikan oleh anak sulungnya yang bernama
Arimba.

Arimba sendiri akhirnya tewas di tangan Bimasena pada saat para Pandawa
membangun Kerajaan Amarta. Takhta Pringgadani kemudian dipegang oleh
Arimbi yang telah diperistri Bima. Rencananya takhta kelak akan diserahkan
kepada putra mereka setelah dewasa.

Arimbi memiliki lima orang adik bernama Brajadenta, Brajamusti,


Brajalamadan, Brajawikalpa, dan Kalabendana. Brajadenta diangkat sebagai patih
dan diberi tempat tinggal di Kasatrian Glagahtinunu. Sangkuni dari Kerajaan
Hastina datang menghasut Brajadenta bahwa takhta Pringgadani seharusnya
menjadi miliknya bukan milik Gatotkaca.
Akibat hasutan tersebut, Brajadenta pun memberontak hendak merebut takhta
dari tangan Gatotkaca yang baru saja dilantik sebagai raja. Brajamusti yang
memihak Gatotkaca bertarung menghadapi kakaknya itu. Kedua raksasa kembar
tersebut pun tewas bersama. Roh keduanya kemudian menyusup masing-masing ke
dalam telapak tangan Gatotkaca kiri dan kanan, sehingga manambah kesaktian
keponakan mereka tersebut. Setelah peristiwa itu Gatotkaca mengangkat
Brajalamadan sebagai patih baru, bergelar Patih Prabakiswa.