Anda di halaman 1dari 41

Potret Salaf dalam Berbakti pada Orang

Tua
Published: 13 Maret 2010Posted in: Adab

Suatu hari, Ibnu Umar melihat seorang yang menggendong ibunya sambil thawaf
mengelilingi Ka’bah. Orang tersebut lalu berkata kepada Ibnu Umar, “Wahai Ibnu Umar,
menurut pendapatmu apakah aku sudah membalas kebaikan ibuku?” Ibnu Umar
menjawab, “Belum, meskipun sekadar satu erangan ibumu ketika melahirkanmu. Akan
tetapi engkau sudah berbuat baik. Allah akan memberikan balasan yang banyak
kepadamu terhadap sedikit amal yang engkau lakukan.” (Diambil dari kitab al-Kabair
karya adz-Dzahabi)

Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib adalah seorang yang terkenal sangat berbakti
kepada ibunya, sampai-sampai ada orang yang berkata kepadanya, “Engkau adalah
orang yang paling berbakti kepada ibumu, akan tetapi kami tidak pernah melihatmu
makan bersama ibumu.” Beliau menajawab, “Aku takut kalau-kalau tanganku
mengambil makanan yang sudah dilirik oleh ibuku. Sehingga aku berarti
mendurhakainya.” (Diambil dari kitab Uyunul Akhyar karya Ibnu Qutaibah)

Abu Hurairah menempati sebuah rumah, sedangkan ibunya menempati rumah yang
lain. Apabila Abu Hurairah ingin keluar rumah, maka beliau berdiri terlebih dahulu di
depan pintu rumah ibunya seraya mengatakan, “Keselamatan untukmu, wahai ibuku, dan
rahmat Allah serta barakahnya.” Ibunya menjawab, “Dan untukmu keselamatan wahai
anakku, dan rahmat Allah serta barakahnya.” Abu Hurairah kemudian berkata, “Semoga
Allah menyayangimu karena engkau telah mendidikku semasa aku kecil.” Ibunya pun
menjawab, “Dan semoga Allah merahmatimu karena engkau telah berbakti kepadaku
saat aku berusia lanjut.” Demikian pula yang dilakukan oleh Abu Hurairah ketika
hendak memasuki rumah.” (Diambil dari kitab Adab al-Mufrad, karya Imam Bukhari)

Dari Anas bin Nadzr al-Asyja’i, beliau bercerita, suatu malam ibu dari shahabat Ibnu
Mas’ud meminta air minum kepada anaknya. Setelah Ibnu Mas’ud datang membawa air
minum, ternyata sang Ibu sudah ketiduran. Akhirnya Ibnu Mas’ud berdiri di dekat kepala
ibunya sambil memegang wadah berisi air tersebut hingga pagi.” (Diambil dari kitab
Birrul walidain karya Ibnu Jauzi)

Sufyan bin Uyainah mengatakan, “Ada seorang yang pulang dari bepergian, dia
sampai di rumahnya bertepatan dengan ibunya berdiri mengerjakan shalat. Orang
tersebut enggan duduk padahal ibunya berdiri. Mengetahui hal tersebut sang ibu lantas
memanjangkan shalatnya, agar makin besar pahala yang di dapatkan anaknya. (Diambil
dari Birrul walidain karya Ibnu Jauzi)

Haiwah binti Syuraih adalah seorang ulama besar, suatu hari ketika beliau sedang
mengajar, ibunya memanggil. “Hai Haiwah, berdirilah! Berilah makan ayam-ayam
dengan gandum.” Mendengar panggilan ibunya beliau lantas berdiri dan meninggalkan
pengajiannya. (Diambil dari al-Birr wasilah karya Ibnu Jauzi)

Kahmas bin al-Hasan at-Tamimi melihat seekor kala jengking berada dalam rumahnya,
beliau lantas ingin membunuh atau menangkapnya. Ternyata beliau kalah cepat,
kalajengking tersebut sudah masuk ke dalam liangnya. Beliau lantas memasukkan
tangannya ke dalam liang untuk menangkap kala jengking tersebut. Beliaupun tersengat
kala jengking. Melihat tindakan seperti itu ada orang yang berkomentar, “Apa yang kau
maksudkan dengan tindakan seperti itu.” Beliau mengatakan, “Aku khawatir kalau kala
jengking tersebut keluar dari liangnya lalu menyengat ibuku.” (Diambil dari kitab
Nuhzatul Fudhala’)

Muhammad bin Sirrin mengatakan, di masa pemerintahan Ustman bin Affan, harga
sebuah pohon kurma mencapai seribu dirham. Meskipun demikian, Usamah bin Zaid
membeli sebatang pohon kurma lalu memotong dan mengambil jamarnya (bagian batang
kurma yang berwarna putih yang berada di jantung pohon kurma). Jamar tersebut lantas
beliau suguhkan kepada ibunya. Melihat tindakan Usamah bin Zaid, banyak orang
berkata kepadanya, “Mengapa engkau berbuat demikian, padahal engkau mengetahui
bahwa harga satu pohon kurma itu seribu dirham.” Beliau menjawab, “Karena ibuku
meminta jamar pohon kurma, dan tidaklah ibuku meminta sesuatu kepadaku yang bisa
ku berikan pasti ku berikan.” (Diambil dari sifatush shafwah).

Hafshah binti Sirrin mengatakan, “Ibu dari Muhammad bin Sirin sangat suka celupan
warna untuk kain. Jika Muhammad bin Sirrin memberikan kain untuk ibunya, maka
beliau belikan kain yang paling halus. Jika hari raya tiba, Muhammad bin Sirrin
mencelupkan pewarna kain untuk ibunya. Aku tidak pernah melihat Muhamad bin Sirrin
bersuara keras di hadapan ibunya. Apabila beliau berkata-kata dengan ibunya, maka
beliau seperti seorang yang berbisik-bisik. (Diambil dari Siyar A’lam an-Nubala’ karya
ad-Dzahabi).

Ibnu Aun mengatakan, “Suatu ketika ada seorang menemui Muhammad bin Sirrin pada
saat beliau sedang berada di dekat ibunya. Setelah keluar rumah beliau bertanya kepada
para shahabat Muhammad bin Sirrin, “Ada apa dengan Muhammad, apakah dia
mengadukan suatu hal? Para shahabat Muhammad bin Sirrin mengatakan, “Tidak. Akan
tetapi memang demikianlah keadaannya jika berada di dekat ibunya.” (Diambil dari Siyar
A’lamin Nubala’ karya ad-Dzahabi)

Humaid mengatakan tatkala Ibu dari Iyas bin Muawiyah meninggal dunia, Iyas
menangis, ada yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau menangis?” Beliau
menjawab, “Aku memiliki dua buah pintu yang terbuka untuk menuju surga dan
sekarang salah satu pintu tersebut sudah tertutup.” (Dari kitab Bir wasilah karya Ibnul
Jauzi)

Kisah Uwais al-Qorni


Dari Asir bin Jabir beliau mengatakan, “Jika para gubernur Yaman menemui khalifah
Umar Ibnul Khatthab, maka khalifah selalu bertanya, “Apakah diantara kalian ada yang
bernama Uwais bin Amir, sampai suatu hari beliau bertemu dengan Uwais, beliau
bertanya engkau Uwais bin Amir? “Betul.” Jawabnya. Khalifah Umar bertanya, “Engkau
dahulu tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn? “Betul,” sahutnya. Beliau
bertanya, “Dulu engkau pernah terkena penyakit belang lalu sembuh akan tetapi masih
ada belang di tubuhmu sebesar uang dirham? “Betul.” Beliau bertanya, “Engkau
memiliki seorang ibu. Khalifah Umar mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah saw
bersabda, “Uwais bin Amir akan datang bersama rombongan orang dari Yaman dahulu
tinggal di Murrad kemudian tinggal di daerah Qorn. Dahulu dia pernah terkena penyakit
belang, lalu sembuh, akan tetapi masih ada belang di tubuhnya sebesar uang dirham. Dia
memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepada ibunya. Seandainya dia berdoa
kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Jika engkau bisa meminta
kepadanya agar memohonkan ampun untukmu kepada Allah maka usahakanlah.” Maka
mohonkanlah ampun kepada Allah untukku, Uwais al-Qarni lantas berdoa memohonkan
ampun untuk Umar Ibnul Khaththab. Setelah itu Umar bertanya kepadanya, “Engkau
hendak pergi ke mana? “Kuffah,” jawabnya. Beliau bertanya lagi, “Maukah ku tuliskan
surat untukmu kepada gubernur Kuffah agar melayanimu? Uwais al-Qorni mengatakan,
“Berada di tengah-tengah banyak orang sehinngga tidak dikenal itu lebih ku sukai. (HR
Muslim)

Artikel www.ustadzaris.com
Tuhan, Takdir, Setan

Ada seorang pemuda yang mencari seorang guru agama, pemuka agama atau siapapun
yang bisa menjawab 3 pertanyaannya. Akhirnya sang pemuda itu menemukan seorang
bijaksana.

Pemuda (p): Anda siapa? Bisakah menjawab pertanyaan-pertanyaan saya?


Bijaksana (B) : Saya hamba Allah dan dengan izin-Nya saya akan menjawab pertanyaan
anda.

P : Anda yakin? Sedang profesor dan banyak orang pintar saja tidak mampu menjawab
pertanyaan saya.
B : Saya akan mencoba sejauh kemampuan saya.
P : Saya punya 3 buah pertanyaan.
1. Kalau memang Tuhan itu ada, tunjukkan wujud Tuhan kepada saya.
2. Apakah yang dinamakan takdir?
3. Kalau setan diciptakan dari api kenapa dimasukkan ke neraka yang terbuat dari api,
tentu tidak menyakitkan buat setan, sebab mereka memiliki unsur yang sama. Apakah
Tuhan tidak pernah berfikir sejauh itu?

Tiba-tiba sang orang bijaksana tersebut menampar pipi si pemuda dengan keras. P(sambil
menahan sakit) : Kenapa anda marah kepada saya?
B : Saya tidak marah... Tamparan itu adalah jawaban saya atas 3 buah pertanyaan yang
anda ajukan.
P : Saya sungguh-sungguh tidak mengerti.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Tentu saja saya merasa sakit.
B : Jadi anda percaya bahwa sakit itu ada?
P : Ya.
B : Tunjukkan pada saya wujud sakit itu !
P : Saya tidak bisa.
B : Itulah jawaban pertanyaan pertama. Kita semua merasakan keberadaan Tuhan tanpa
mampu melihat wujudNya.
B : Apakah tadi malam anda bermimpi akan ditampar oleh saya?
P : Tidak.
B : Apakah pernah terpikir oleh anda akan menerima sebuah tamparan dari saya hari ini?
P : Tidak.
B : Itulah yang dinamakan Takdir.
B : Terbuat dari apa tangan yang saya gunakan untuk menampar anda?
P : Kulit.
B : Terbuat dari apa pipi anda?
P : Kulit.
B : Bagaimana rasanya tamparan saya?
P : Sakit
B : Walaupun setan dan neraka sama terbuat dari api, neraka tetap menjadi tempat
menyakitkan untuk setan.

JADI INTINYA GA SMUA HAL BISA KITA LIHAT DGN MATA N PIKIRAN, ADA
SESUATU HAL YG HANYA BISA DIRASAKAN . . =) SO RASAKAN LAH . .HEHE
Allah 'Azza wajalla berfirman (hadits Qudsi): "Tidak semua orang yang shalat itu
bershalat. Aku hanya menerima shalatnya orang yang merendahkan diri kepada
keagunganKu, menahan syahwatnya dari perbuatan haram laranganKu dan tidak
terus-menerus (ngotot) bermaksiat terhadapKu, memberi makan kepada yang lapar
dan memberi pakaian orang yang telanjang, mengasihi orang yang terkena musibah
dan menampung orang asing. Semua itu dilakukan karena Aku." "Demi keagungan
dan kebesaranKu, sesungguhnya bagiKu cahaya wajahnya lebih bersinar dari
matahari dan Aku menjadikan kejahilannya kesabaran (kebijaksanaan) dan
menjadikan kegelapan terang, dia berdoa kepada-Ku dan Aku mengabulkannya, dia
mohon dan Aku memberikannya dan dia mengikat janji dengan-Ku dan Aku tepati
(perkokoh) janjinya. Aku lindungi dia dengan pendekatan kepadanya dan Aku
menyuruh para Malaikat menjaganya. BagiKu dia sebagai surga Firdaus yang belum
tersentuh buahnya dan tidak berobah keadaannya." (HR. Ad-Dailami)

Lihat: Lengkap | Ringkas

• Catatan Faizal Rizky Is Zakaria


• Catatan Tentang Faizal Rizky Is Zakaria

Wasiat Rasulullah kepada Aisyah Ra.


Bagikan
26 Desember 2009 jam 17:11
Aisyah r.’a meriwayatkan : Rasulullah SAW bersabda “Hai Aisyah, aku berwasiat
kepada engkau.

Hendaklah engkau senantiasa mengingat wasiatku ini. Sesungguhnya engkau akan


senantiasa di dalam kebajikan selama engkau mengingat wasiatku ini…”

Intisari wasiat Rasulullah s.a.w tersebut dirumuskan seperti berikut: Hai, Aisyah,
peliharalah diri engkau. Ketahuilah bahwa sebagian besar daripada kaum engkau (kaum
wanita) adalah menjadi kayu api di dalam neraka.

Diantara sebab-sebabnya ialah mereka itu :

(a) Tidak dapat menahan sabar dalam menghadapi kesakitan (kesusahan), tidak sabar
apabila ditimpa musibah

(b) Tidak memuji Allah Ta’ala atas kemurahan-Nya, apabila dikaruniakan nikmat dan
rahmat tidak bersyukur.

(c) Mengkufurkan nikmat; menganggap nikmat bukan dari Allah


(d) Membanyakkan kata-kata yang sia-sia, banyak bicara Yang tidak bermanfaat.

Wahai, Aisyah, ketahuilah :

(a) Bahwa wanita yang mengingkari kebajikan (kebaikan) yang diberikan oleh suaminya
maka amalannya akan digugurkan oleh Allah

(b) Bahwa wanita yang menyakiti hati suaminya dengan lidahnya, maka pada hari
kiamat, Allah menjadikan lidahnya tujuh puluh hasta dan dibelitkan di tengkuknya.

(c) Bahwa isteri yang memandang jahat (menuduh atau menaruh sangkaan buruk
terhadap suaminya), Allah akan menghapuskan muka dan tubuhnya Pada hari kiamat.

(d) Bahwa isteri yang tidak memenuhi kemauan suami-nya di tempat tidur atau
menyusah-kan urusan ini atau mengkhiananti suaminya, akan dibangkitkan Allah pada
hari kiamat dengan muka yang hitam, matanya kelabu, ubun-ubunnya terikat kepada dua
kakinya di dalam neraka.

(e) Bahwa wanita yang mengerjakan sholat dan berdoa untuk dirinya tetapi tidak untuk
suaminya, akan dipukul mukanya dengan sholatnya.

(f ) Bahwa wanita yang dikenakan musibah ke atasnya lalu dia menampar-nampar


mukanya atau merobek-robek pakaiannya, dia akan dimasukkan ke dalam neraka
bersama dengan Isteri nabi Nuh dan isteri nabi Luth dan tiada harapan mendapat
kebajikan syafaat dari siapa pun;

(g) Bahwa wanita yang berzina akan dicambuk dihadapan semua makhluk didepan
neraka pada hari kiamat, tiap-tiap perbuatan zina dengan depalan puluh cambuk dari api.

(h) Bahwa isteri yang mengandung ( hamil ) baginya pahala seperti berpuasa pada siang
harinya dan mengerjakan qiamul-lail pada malamnya serta pahala berjuang fi sabilillah.

(i) Bahwa isteri yang bersalin ( melahirkan ), bagi tiap-tiap kesakitan yang dideritainya
diberi pahala memerdekakan seorang budak. Demikian juga pahalanya setiap kali
menyusukan anaknya.

(j) Bahwa wanita apabila bersuami dan bersabar dari menyakiti suaminya, maka
diumpamakan dengan titik-titik darah dalam perjuangan fisabilillah.

Allahumma Amin..
PENGAKUAN PARA LELAKI
Monday, January 04, 2010 8:14 PM
Ya ukhti,

Kami sulit menahan pendengaran kami ketika berbicara dengan kalian,


Apalagi jika kalian diamanahkan oleh Allah suara yang merdu dengan irama yang
mendayu. Karena itu, tegaskanlah suara kalian tatkala berbicara dengan kami dan
berbicaralah seperlunya saja.

Kami sulit menahan pandangan kami ketika melihat kalian apalagi jika kalian
diamanhkan Allah kecantikan dan postur yang ideal. Kami semakin susah untuk menolak
agar tidak melihat kalian karena itu lebarkanlah serta longgarkanlah pakaian kalian dan
tutuplah rambut dan dada kalian dengan jilbab yang membentang.

Kami juga sulit menahan bayangan - bayangan hati kalian, ketika kalian dapat menjadi
tempat untuk dicurahkan segala isi hati kalian. Waktu luang kami kadangkala akan
bening terisi oleh bayangan – bayangan kalian. Karena itu janganlah kalian membiarkan
kami menjai curahan hati bagi kalian.

Kami tahu kami ini lemah bila harus berhadapan dengan kalian. Kekerasan hati kami
mudah luluh hanya dengan senyum kalian. Hati kami akan bergetar ketika mendengar
dan melihat kalian menangis.

Sungguh Allah telah memberikan amanah terindah kepada kalian, maka jagalah amanah
itu jangan sampai Allah murka dan memberikan keputusanNya.

Maha besar dan Maha Suci Allah yang tahu akan kelemahan hati kami ini, hanya dengan
ikatan yang suci dan yang diridhaiNya, kalian akan menjadi yang halal bagi kami.

Utamkan menikah

Oleh
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Pertanyaan.
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya : Ada suatu kebiasaan yang sudah
meyebar, yaitu adanya gadis remaja atau orang tuanya menolak orang yang melamarnya,
dengan alasan madih hendak menyelesaikan studinya di SMU atau di Perguruan Tinggi,
atau sampai karena untuk mengajar dalam beberapa tahun. Apa hukumnya ? Apa nasihat
Syaikh bagi orang-orang yang melakukannya, bahkan ada wanita yang sudah mencapai
usia 30 tahun atau lebih belum menikah ?

Jawaban.
Nasehat saya kepada semua pemuda dan pemudi agar segera menikah jika ada
kemudahan, karena Nabi Shallallau 'alaihi wa sallam telah bersabda.

"Artinya : Wahai sekalian pemuda, barangsiapa diantara kamu yang mempunyai


kesanggupan, maka menikahlah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan mata
dan lebih memelihara kesucian farji ; dan barangsiapa yang tidak mampu, maka
hendaklah berpuasa, karena puasa dapat menjadi perisai baginya". [Muttafaq 'Alaih]

Sabda beliau juga.

"Artinya : Apabila seseorang yang kamu ridhai agama dan akhlaknya datang kepadamu
untuk melamar, maka kawinkanlah ia ( dengan putrimu), jika tidak niscaya akan terjadi
fitnah dan kerusakan besar di muka bumi ini". [Diriwayatkan oleh At-Turmudzi, dengan
sanad Hasan]

Sabda beliau lagi.

"Artinya : Kawinkanlah wanita-wanita yang penuh kasih sayang lagi subur (banyak
anak), karena sesungguhnya aku akan menyaingi ummat-umat lain dengan jumlah kalian
pada hari kiamat kelak".

Menikah juga banyak mengandung maslahat yang sebagiannya telah disebutkan oleh
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti terpalingnya pandangan mata (dari
pandangan yang tidak halal), menjaga kesucian kehormatan, memperbanyak jumlah
ummat Islam serta selamat dari kerusakan besar dan akibat buruk yang membinasakan.

Semoga Allah memberi taufiqNya kepada segenap kaum Muslimin menuju kemaslahatan
urusan agama dan dunia mereka, sesungguhnya Dia Maha Mendengar Lagi Maha Dekat

[Fatwa Syaikh Bin Baz di dalam Majalah Al-Da'wah, edisi 117]

[Disalin dari Kitab Al-Fatawa Asy-Syar'iyyah Fi Al-Masa'il Al-Ashriyyah Min Fatawa


Ulama Al-Balad Al-Haram, Penyusun Khalid Al-Juraisy, Edisi Indonesia Fatwa-Fatwa
Terkini, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]
Apa coba yang istimewa dari solat 5 waktu?
Ali bin Abi Talib r.a berkata : "Sewaktu Rasullullah S.A.W duduk bersama para sahabat
muhajirin dan ansar, maka dengan tiba-tiba datanglah satu rombongan orang-orang
Yahudi lalu berkata :" Ya Muhammad, kami hendak tanya kepada kamu kalimat-kalimat
yang telah diberikan oleh Allah kepada Nabi Musa A.S. yang tidak diberikan kecuali
kepada para Nabi utusan Allah atau malaikat muqarrab."

Lalu Rasullullah S.A.W. bersabda:

"Silakan bertanya." Berkata orang Yahudi: "Coba terangkan kepada kami tentang 5
waktu yang diwajibkan oleh Allah ke atas umatmu."

Sabda Rasullullah S.A.W. "Sholat Zuhur jika tergelincir matahari, maka bertasbihlah
segala sesuatu kepada Tuhannya.

Sholat Ashar itu ialah saat ketika Nabi Adam A.S. memakan buah Khuldi.

Sholat Maghrib itu adalah saat Allah menerima taubat Nabi Adam A.S., maka setiap
mukmin yang bersembahyang Maghrib dengan ikhlas kemudian dia berdoa meminta
sesuatu pada Allah maka pasti Allah akan mengkabulkan permintaannya.

Sholat Isya' itu ialah Sholat yang dikerjakan oleh para Rasul-Rasul sebelumku.

Sholat Subuh adalah sebelum terbit matahari, ini kerana apabila matahari terbit, terbitnya
di antara dua tanduk syaitan dan di situ sujudnya tiap orang kafir." Setelah orang Yahudi
mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W.

mereka berkata: "Memang benar apa yang kamu katakan itu. Muhammad, katakanlah
kepada kami apakah pahala yang akan didapati oleh orang yang sembahyang.

Rasullullah S.A.W bersabda:

"Jagalah waktu-waktu sholat terutama sholat yang pertengahan, sholat Zuhur, pada saat
itu menyalalah neraka Jahanam, orang mukimin yang mengerjakan sholat pada ketika itu
akan diharamkan ke atasnya uap api neraka Jahanam pada hari Kiamat."

Sabda Rasullullah S.A.W. lagi:

"Sedangkan sholat Asar, adalah saat dimana Nabi Adam A.S. memakan buah Khuldi.
Orang mukmin yang mengerjakan sholat Asar akan diampunkan dosanya seperti bayi
yang baru lahir."

Setelah itu Rasullullah S.A.W. membaca ayat yang bermaksud: "Jagalah waktu-waktu
sholat terutama sekali sholat yang pertengahan., sholat Maghrib itu adalah saat di mana
taubat Nabi Adam A.S. diterima.

Seorang mukimin yang ikhlas mengerjakan sholat Maghrib kemudian meminta sesuatu
dari Allah maka Allah akan perkenankan.

Sabda Rasullullah S.A.W.

Sholat Isya' (atamah). Katakan kubur itu adalah sangat gelap dan begitu juga pada hari
Kiamat, maka seorang mukmin yang berjalan dalam malam yang gelap untuk pergi
menunaikan sholat Isya' berjamaah, Allah S.W.T. haramkan dari terkena nyalanya api
neraka dan diberinya cahaya untuk menyeberangi jembatan sirath.

Sabda Rasullullah S.A.W.

Sholat Subuh pula, seorang mukmin yang mengerjakan sholat subuh selama 40 hari
secara berjamaah, diberi oleh Allah S.W.T. dua kebebasan iaitu:
1. Dibebaskan dari api neraka
2. Dibebaskan dari nifaq.
Setelah orang Yahudi mendengar penjelasan dari Rasullullah S.A.W. maka mereka
berkata:"Memang benarlah apa yang kamu katakan itu wahai Muhammad (S.A.W).

Menggelitik hati dan pikiran


Assalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh...

Bismillahirrahmanirrahim.. Hasbunallahu wani'mal wakiil...

sekedar share ilmu mas, mbak, rek, dik!!

Silakan dicermati ini hanya saya copaste artikelnya saja dari ustadzaris.com. Komen2
dari penanya dan jawaban dari ustadz aris sengaja tidak saya komen. Dari isi artikelnya
saya setuju, namun untuk nenerapa komen/pertanyaan dan jawabannya ada yang saya
kurang sependapat. Silakan dicerna :-)

Kesalahan silakan disalahkan dan kalo bisa ditunjukkan kebenaran karena kita disini
memposisikan diri sebagai santri yang selalu belajar dari beberapa ustadz yang ada di
seluruh dunia ini untuk menggapai setitik dari samudera ilmuNya.

======START READ======

Tanya: Aku adalah seorang pemuda. Aku punya hobi main internet dan ngobrol
(chatting). Aku hampir tidak pernah chatting dengan cewek. Jika terpaksa aku chatting
dengan cewek maka aku tidaklah berbicara kecuali dalam hal yang baik-baik.

Kurang dari setahun yang lewat ada seorang gadis yang mengajak aku chatting lalu
meminta no hp-ku. Aku katakan bahwa aku tidak mau menggunakan hp dan aku tidak
ingin membuat Allah murka kepadaku.

Dia lalu mengatakan, “Engkau adalah seorang pemuda yang sopan dan berakhlak mulia.
Aku akan bahagia jika kita bisa berkomunikasi secara langsung”. Kukatakan kepadanya,
“Maaf aku tidak mau menggunakan HP”. Kemudian dia berkata dengan nada kesal,
“Terserah kamulah”.

Selama beberapa bulan kami hanya berhubungan melalui chatting. Suatu ketika dia
mengatakan, “Aku ingin no HP-mu”. “Bukankah dulu sudah pernah kukatakan kepadamu
bahwa aku tidak mau menggunakan HP”, jawabku. Dia lalu berjanji tidak akan
menghubungiku kecuali ada hal yang mendesak. Kalau demikian aku sepakat.

Setelah itu selama tiga bulan dia tidak pernah menghubungiku. Akupun berdoa agar
Allah menjadikannya bersama hamba-hambaNya yang shalih.

Tak lama setelah itu ada seorang gadis kurang lebih berusia 16 tahun yang berakhlak dan
sangat sopan menghubungi no HP-ku. Dia berkata dalam telepon, “Apa benar engkau
bernama A?”. “Benar, apa yang bisa kubantu”, tanyaku. Dia mengatakan, “Fulanah, yaitu
gadis yang telah kukenal via chatting, berkirim salam untukmu”. “Salam kembali
untuknya. Mengapa tidak dia sendiri yang menghubungiku?”, tanyaku. “Telepon
rumahnya diawasi dengan ketat oleh orang tuanya”, jawabnya.

Setelah orang tuanya kembali memberi kelonggaran, dia kembali menghubungiku.


Kukatakan kepadanya, “Jangan sering telepon” namun dia selalu saja menghubungiku.
Akan tetapi pembicaraan kami sebatas hal-hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan
untuk melaksanakan shalat, puasa dan shalat malam.

Setelah beberapa waktu lamanya, dia berterus terang kalau dia jatuh cinta kepadaku dan
aku sendiri juga sangat mencintainya. Aku juga berharap bisa menikahinya sesuai dengan
ajaran Allah dan rasul-Nya karena dia adalah seorang gadis yang berakhlak, beradab dan
taat beragama setelah aku tahu secara pasti bahwa aku adalah orang yang pertama kali
melamarnya via telepon.

Akan tetapi empat bulan yang lewat, ayahnya memaksanya untuk menikah dengan
saudara sepupunya sendiri karena ayahnya marah dengannya. Inilah awal masalah. Aku
mulai sulit tidur. Kukatakan kepadanya, “Serahkan urusan kita kepada Allah. Kita tidak
boleh menentang takdir”. Namun dia meski sudah menikah tetap saja menghubungiku.
Kukatakan kepadanya, “Haram bagimu untuk menghubungiku karena engkau sudah
menjadi istri seseorang”.

Yang jadi permasalahan, bolehkah dia menghubungiku via HP sedangkan dia telah
menjadi istri seseorang? Allah lah yang menjadi saksi bahwa pembicaraanku dengannya
sebatas hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan untuk menambah ketaatan terlebih
lagi ayahnya memaksanya untuk menikah dengan dengan lelaki yang tidak dia cintai.

Jawab:
Saling menelepon antar lawan jenis itu tidaklah diperbolehkan secara mutlak baik pihak
perempuan sudah bersuami ataukah belum. Bahkan ini adalah tipu daya Iblis.

Kau katakan bahwa tidak ada hubungan antaramu dengan dia selain saling menasehati
dan mengajak untuk melakukan amal shalih. Perhatikan bagaimana masalah cinta dan
yang lainnya menyusup melalui hal ini. Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa
engkau mencintainya dan diapun mencintaimu sedangkan katamu topik pembicaraanmu
hanya seputar amal shalih? Kami tahu sendiri beberapa pemuda yang semula sangat taat
beragama berubah menjadi menyimpang gara-gara hal ini.

Wahai saudaraku bertakwalah kepada Allah. Jauhilah hal ini. Cara-cara seperti ini lebih
berbahaya dari pada cara-cara orang fasik yang secara terang-terangan ngobrol dengan
perempuan dengan tujuan-tujuan yang tidak terpuji. Mereka sadar bahwa yang mereka
lakukan adalah sebuah maksiat. Sadar bahwa suatu hal itu adalah keliru merupakan awal
langkah untuk memperbaiki diri.
Sedangkan dirimu tidak demikian bahkan boleh jadi engkau menganggapnya sebagai
sebuah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,


‫ساِء‬
َ ‫ن الّن‬
َ ‫ل ِم‬
ِ ‫جا‬
َ ‫عَلى الّر‬
َ ‫ضّر‬
َ ‫ت َبْعِدى ِفْتَنًة َأ‬
ُ ‫َما َتَرْك‬
“Tidaklah kutinggalkan suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita” (HR
Bukhari no 4808 dan Muslim no 2740 dari Usamah bin Zaid).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,


‫ساِء‬
َ ‫ت ِفى الّن‬
ْ ‫ل َكاَن‬
َ ‫سَراِئي‬
ْ ‫ل ِفْتَنِة َبِنى ِإ‬
َ ‫ن َأّو‬
ّ ‫َفِإ‬
“Sesungguhnya awal kebinasaan Bani Israil adalah disebabkan masalah wanita” (HR
Muslim no 7124 dari Abu Said al Khudri).

Perempuan yang mengajakmu ngobrol dengan berbagai obrolan ini padahal tidak ada
hubungan kekerabatan antara dirimu dengannya adalah suatu yang haram. Hati-hatilah
dengan cara-cara semisal ini. Moga Allah menjadikanmu sebagai salah seorang
hambaNya yang shalih.

Tanya: Andai jawaban untuk pertanyaan di atas adalah tidak boleh apakah boleh dia
mengajak aku ngobrol via chatting?

Jawab:
Wahai saudaraku, hal ini tidaklah dibolehkan. Hubunganmu dengannya semula adalah
chatting lalu berkembang menjadi komunikasi langsung via telepon dan ujung-ujungnya
adalah ungkapan cinta. Apakah hanya akan berhenti di sini?
Semua hal ini adalah trik-trik Iblis untuk menjerumuskan kaum muslimin dalam hal-hal
yang haram. Bersyukurlah kepada Allah karena Dia masih menyelamatkanmu.
Bertakwalah kepada Allah, jangan ulangi lagi baik dengan perempuan tersebut ataupun
dengan yang lain.

Tanya: Apa hukum seorang laki-laki yang chatting dengan seorang perempuan via
internet dan yang dibicarakan adalah hal yang baik-baik?
Jawab:
Tidak ada seorangpun yang bisa mengeluarkan fatwa yang bersifat umum untuk
permasalahan semisal ini karena ada banyak hal yang harus dipertimbangkan masak-
masak. Fatwa yang bisa saya sampaikan kepadamu adalah obrolan dengan lawan jenis
yang semisal kau lakukan adalah tidak diperbolehkan. Bukti nyata untuk hal ini adalah
apa yang kau ceritakan sendiri bahwa hubunganmu dengan perempuan tersebut terus
berkembang ke arah yang terlarang.

[Disarikan dari Majmu Fatawa al Adab karya Nashir bin Hamd al Fahd
Baca ajah………
Bismillahirrahmanirrahim..
Assalamu'alaykum warahmatullahiwabarakatuh..

Semoga kita tetap yakin, cukuplah Allah sebagai penolong kita dan Allah adalah sebaik-
sebaik Pelindung. Shalawat dan salam terindah semoga tetap terukir indah untuk
Pemimpin umat muslim sepanjang masa, raja terhormat yang disegani dan disanjung oleh
lawan-lawannya, Muhammad saw.

Disela-sela kesibukan yang akhir-akhir ini dengan senang hati menjadi teman setia kita,
aku dengan jari-jari usilku iseng-iseng bertanya pada Ustadz Google (Ustadzku pernah
bicara seperti itu) tentang hukum permainan yang umum dan sering kita lihat bahkan kita
mainkan. Coba lihat di judulnya... ada yang tahu permainan apa?? Ya, itulah salah satu
jenis permainan kartu remi yang disebut Poker.

Entah mengapa kemarin aku mulai memikirkan apa hukum permainan ini dalam agama
yang kita banggakan, ISLAM (Rahmatan lil alamin). Dari hasil penjelajahanku di dunia
maya ditemani Om Google, kami menemukan beberapa artikel yang mungkin bisa
dijadikan referensi. Referensi-referensi yang aku dapat menunjukkan satu kesimpulan
dan menggunakan dalil yang mengarah pada kitab paling mulia dan paling suci yang
pernah aku tahu, Al Qur'an.

‫﴾ ِإّنَما‬٩٠﴿ ‫ن‬ َ ‫حو‬ ُ ‫جَتِنُبوهُ َلَعّلُكْم ُتْفِل‬


ْ ‫ن َفا‬
ِ ‫طا‬
َ ‫شْي‬
ّ ‫ل ال‬
ِ َ‫عم‬
َ ‫ن‬ْ ‫س ّم‬ ٌ ‫ج‬ ْ ‫لُم ِر‬
َ ‫لْز‬
َْ ‫ب َوا‬ُ ‫صا‬
َ ‫لن‬ َْ ‫سُر َوا‬ِ ‫خْمُر َواْلَمْي‬ َ ‫ن آَمُنوا ِإّنَما اْل‬
َ ‫َيا َأّيَها اّلِذي‬
‫ل َأنُتم‬ْ ‫لةِۖ َفَه‬َ‫ص‬ّ ‫ن ال‬ ِ‫ع‬ َ ‫ل َو‬ ِّ ‫عن ِذْكِر ا‬ َ ‫صّدُكْم‬
ُ ‫سِر َوَي‬
ِ ‫خْمِر َواْلَمْي‬
َ ‫ضاَء ِفي اْل‬َ ‫ن َأن ُيوِقَع َبْيَنُكُم اْلَعَداَوَة َواْلَبْغ‬ ُ ‫طا‬َ ‫شْي‬
ّ ‫ُيِريُد ال‬
٩١﴿ ‫ن‬ َ ‫﴾ّمنَتُهو‬

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban


untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.
Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian
di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu
dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan
pekerjaan itu). (Al Maidah 90-91)

ُ‫سُبع‬ ّ ‫ل ال‬
َ ‫حُة َوَما َأَك‬
َ ‫طي‬ ِ ‫خِنَقُة َواْلَمْوُقوَذةُ َواْلُمَتَرّدَيُة َوالّن‬
َ ‫ل ِبِه َواْلُمْن‬
ّ ‫ل ِلَغْيِر ا‬
ّ ‫خْنِزيِر َوَما ُأِه‬ ِ ‫حُم اْل‬ْ ‫عَلْيُكُم اْلَمْيَتُة َواْلّدُم َوَل‬
َ ‫ت‬
ْ ‫حُّرَم‬
‫شْوُهْم‬ َ‫خ‬
ْ ‫ل َت‬
َ ‫ن َكَفُروْا ِمن ِديِنُكْم َف‬ َ ‫س اّلِذي‬َ ‫ق اْلَيْوَم َيِئ‬
ٌ‫س‬ ْ ‫لِم َذِلُكْم ِف‬َ ‫لْز‬
َ ‫سُموْا ِبا‬ِ ‫سَتْق‬
ْ ‫ب َوَأن َت‬ ِ ‫ص‬ُ ‫عَلى الّن‬ َ ‫ح‬ َ ‫ل َما َذّكْيُتْم َوَما ُذِب‬ ّ ‫ِإ‬
‫غْيَر‬ َ ‫صٍة‬َ ‫خَم‬ ْ ‫طّر ِفي َم‬ ُ‫ض‬ ْ ‫نا‬ ِ ‫لَم ِديًنا َفَم‬ َ‫س‬ ْ‫ل‬ِ ‫ت َلُكُم ا‬ُ ‫ضي‬ ِ ‫عَلْيُكْم ِنْعَمِتي َوَر‬ َ ‫ت‬ ُ ‫ت َلُكْم ِديَنُكْم َوَأْتَمْم‬
ُ ‫ن اْلَيْوَم َأْكَمْل‬ ِ ‫شْو‬َ‫خ‬ ْ ‫َوا‬
‫حيٌم‬
ِ ‫غُفوٌر ّر‬ َ ‫ل‬ ّ ‫نا‬ّ ‫لْثٍم َفِإ‬
ِّ ‫ف‬
ٍ ‫جاِن‬ َ ‫ُمَت‬

Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang
disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang
ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan
(diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi
nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan.
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab
itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah
Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku,
dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena
kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (Al Maidah 3)

Nah, apa hubungannya ayat-ayat tadi dengan permainan kartu?

Kartu yang biasa kita pakai juga biasa dipakai dalam permainan judi di seluruh dunia dan
kita juga tahu bahwa segala bentuk perjudian adalah HARAM seperti yang tertera
secara eksplisit (tersurat) dalam tiga ayat di atas.

Lalu bagaimana dengan permainan kartu yang dilakukan hanya untuk mengisi waktu
luang dan tidak menggunakan taruhan??

Itu dia.. seperti yang kusebut di atas bahwa kartu yang biasa kita pakai juga biasa dipakai
dalam perjudian dan ketika bermain kartu, seringkali kita melupakan Allah atau bahkan
semakin mendekati rayuan setan. Oleh karena itu maka hukumnya adalah HARAM
tentunya ini bukan hanya kartu saja namun juga dadu dan alat lain yang sejenis baik
wujud secara nyata ataupun virtual seperti yang ada di komputer atau website-website.

Hm.. maafkan atas keterbatasan ilmuku, Insya Allah akan terus ditambah dengan
izinNya.

Oiya, kalo ada yang mau menambahkan, mengkritik, menghina, menghujat, menyalahkan
dan sebagainya disilakan asal demi lurusnya kehidupan agama kita dan demi
kesempurnaan Islam yang sama-sama kita ingin raih.

semoga kita tidak termasuk dalam orang-orang yang rugi. Memang benar kawan,
BERTAKWA ADALAH SEPERTI KITA BERJALAN DI LORONG YANG
DIPENUHI DAN DIKELILINGI DURI. BERTAKWA JUGA IBARAT
MENGGENGGAM BARA API.

"Demi waktu. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali


orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya
mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran."

Untuk crosschecking, aku sertakan beberapa link referensinya:

http://ejajufri.wordpress.com/2009/01/30/nggak-main-kartu-lagi/
http://binimam.multiply.com/reviews/item/41
http://superpedia.rumahilmuindonesia.net/index.php?
title=Tafsir_Ibnu_Katsir_Surah_Al_Maidah_ayat_3
Wallahu a'lam bishshawab

Kembali lagi, semoga kita tetap dalam lindungan, ampunan, dan rahmat dari Allah SWT.
Assalamu'alaykum warahmatullahiwabarakatuh :-)

NN :
jika memang setuju alangkah baiknya kita bagi juga informasi ini. Simple aja, klik
"share" di pojok kanan atas note ini, biar temen2 lain bisa dapat juga.
Mau "copaste" silakan saja, ga pake copyright cukup copyleft :D

Jodohq adl dia


Bismillahirrahmanirrahim..

Assalamaualaikum Wr Wb
shalawat dan salam khusus kupersembahkan untukmu wahai Muhammad SAW.
Pemimpin para Muslimin.

Rek, nih mau bagi2 info lagi yang mungkin lagi bersinggungan sama kita yang masih
dalam fase yang disebut pemuda.
JODOH

Terima kasih Buat mbak Nelly yang memperbolehkan aku copas note-nya.

langsung saja isinya ya..

[START READ]

“Apakah kamu percaya jodoh, Fahri?” tanya Maria pada Fahri.


Fahri menjawab dengan bijak, “Ya, setiap orang punya …”
“…Jodohnya masing-masing” sambung Maria.

Aku tertegun mendengar cuplikan dialog dalam film Ayat Ayat Cinta yang sedang ku
tonton. Ya, setiap orang punya jodohnya masing-masing. Jodoh… Aku menarik nafas
dalam-dalam setiap kali memikirkan tentang jodoh. Kapankah aku betemu dengan
jodohku? 40 tahun bukanlah usia yang muda untuk menikah. Aku sudah bosan
mendengar pertanyaan kapan aku akan menikah. Apakah bulan Mei? Meibi yes, meibi
no.

Jodohku…seperti apakah dia? Sedikitpun aku tak dapat mengira-ngira bayangannya.


Apakah dia tampan? Apakah dia sholeh seperti yang aku idamkan? Yang hanya dapat
aku lakukan adalah terus memperbaiki diri untuk menjadi hamba yang baik di mata
Allah, karena Allah menjanjikan laki-laki yang untuk wanita yang baik pula.

Secara fisik, aku lumayan cantik dan menarik, berpendidikan, dan karirku bagus. Saat ini
aku sudah menjadi Marketing Manager di sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di
tanah air. Apakah karena jabatan dan pendidikanku yang tinggi lantas laki-laki menjadi
segan meminangku? Apa salahnya dengan pendidikan yang tinggi, aku hanya ingin terus
belajar dan belajar. Dan karir yang bagus, itu adalah takdir Allah atas kerja kerasku.

Ada perasaan iri setiap menghadiri pesta pernikahan temanku, bahkan anak temanku.
Soal perasaan minder, itu sudah berkurang dibanding tahun-tahun yang lalu, aku sudah
terbiasa. Apalagi di kota besar telat menikah bukan hal yang aneh. Tapi aku tak ingin
menyamakan diriku dengan mereka. Mereka menunda menikah karena merasa belum
siap secara moril maupun materil, padahal dengan gajinya mereka bisa menghajikan satu
orang setiap bulan. Ada yang malas untuk berkomitmen karena takut bercerai, takut sakit
hati, tapi yang pasti mereka takut bertanggung jawab. Sedangkan aku, aku sudah
beberapa kali mencoba namun seperti biasa belum jodoh.

“Neng, ngelamun aja” kejut Andi membuyarkan lamunanku. “Kenapa sih? Udah jangan
dipikirin, dia memang gitu orangnya” kelakarnya kemudian.
Aku tertawa. Ah, aku tak ingin masalah ini merusak hari-hariku.
“Makan siang bareng, yuk” ajaknya kemudian.
Aku mengiyakan ajakannya. Kami makan siang di restoran Padang di food court
kantorku. Andi adalah temanku semenjak aku bekerja di kantor ini, walaupun posisinya
di bawahku namun aku tak pernah menganggap diriku lebih tinggi. Aku punya feeling
bahwa Andi menyukaiku, itu terlihat dari sikapnya yang sangat perhatian padaku. Namun
perasaanku padanya tidak begitu kuat, sampai saat ini aku belum memberikan sinyal
bahwa aku juga menyukainya. Tapi entahlah, aku tak bisa memastikan apa yang akan
terjadi nanti, aku tetap memberi peluang untuknya, karena ia baik dan sangat
menghargaiku.

Ada satu lagi laki-laki yang aku pertimbangkan. Dia laki-laki yang ditawarkan orang
tuaku. Namanya mas Farhan, lebih tua dua tahun dariku, dan dia seorang duda dengan
satu anak perempuan. Istrinya meninggal ketika melahirkan. Saat ini anaknya berumur 6
tahun. Tidak ada masalah dengan anaknya, karena aku sangat menyukai anak-anak. Dan
anaknya juga sepertinya menyukaiku.
“Tante, kenapa tante belum menikah juga?” tanya Dea, anak perempuan mas Farhan.
Aku tersenyum mencari jawaban yang bisa diterima anak-anak.
“Tante belum punya pacar” jawabku sekenanya.
Kemudian anak kecil itu membisikiku, “Tante mau nggak sama papaku? Papaku kan
ganteng, jomblo lagi”.
Mukaku bersemu merah. Anak kecil sekarang cepat sekali dewasa.
Tapi aku belum dapat menjawab, kerena sampai sekarang papanya belum menanyakan
secara langsung padaku.

Aku melangkah keluar studio bioskop sambil memagang jus stroberi yang belum habis.
Sesungguhnya yang nonton tadi adalah badanku saja, sedang rohku entah kemana.
Sepanjang film tadi aku hanya berpikr tantang jodoh. Aku sudah beberapa kali nonton
film ini, Ayat ayat Cinta. Film ini tak pernah bosan untuk ditonton. Seandainya aku
bertemu dengan lelaki seperti Fahri, dan aku adalah Aisha, tapi aku tak ingin ada Maria,
kalau dia dekat-dekat dengan Fahri akan kuenyahkan dia, hahahaha.

Bruk! Gelas jus stroberi terlepas dari genggamanku. Seorang laki-laki buru-buru
mengelap bajunya yang tertumpah jus stroberiku. Inilah akibatnya kalau terlalu banyak
brkhayal, seorang laki-laki jadi korban keteledoranku.
“Maaf, Mas. Saya yang salah” Aku minta maaf sambil mengambil saputanganku dan
ketika akan mengelap tumapan di bajunya ia buru-buru menghindar.
“Oh, ya sudah. Ngga apa-apa , Mba. It’s ok” katanya pelan.
“Aduh, Mas. Saya benar-benar minta maaf. Saya ngga konsentrasi” Aku minta maaf
sekali lagi.
Laki-laki itu menatapku lama lalu tersenyum, “Masih kepikiran film tadi ya? Filmnya
memang benar-benar menyentuh ya. Jarang ada film seperti ini”.
Aku membalas senyumannya, tenyata dia tidak marah. “Aku sudah nonton 3 kali lho”
ceritaku tanpa ditanya.
“Oh,ya. Saya baru kali ini nonton. Baru sempat.” jawabnya kemudian.
Aku mengangguk-angguk tidak jelas, grogi mungkin.
“Kenalin, saya Adam” dia mempelkan kedua tangannnya di depan dada.
Aku juga menempelkan tanganku didepan dada, “Nadya” balasku. Aku memang tak
bersentuhan bila bersalaman dengan laki-lai yang bukan muhrimku. Selain karena
ketentuan dalam Alquran, sejak dulu walaupun ketika aku belum berhijab pun aku tidak
suka bersalaman laki-laki, siapa dia baru kenal saja sudah menyentuhku. Idealis memang,
bahkan beberapa temanku mengataiku sok suci, tak aku tak peduli.
“Nonton sendirian ya?” tanyanya.
“Iya. Sedang ingin sendiri” jawabku.
Kemudian kami berjalan beriringan keluar bioskop. Sebelum berpisah kami bertukar
nomor telepon. Hmm, tampangnya sepintas mirip Saiful, teman Fahri. Duh, lagi-lagi
Fahri.

Handphone-ku berbunyi. Mas Farhan menelpon.


“Assalamu alaikum”
“Wa alaikum salam, Mas. Ada apa?”
“Ngga, mau nanya kabar aja. Kamu lagi dimana nih?” tanya Mas Farhan.
“Saya lagi di mall, Mas” jawabku.
“Oo..”
Hening.
“Nad, besok aku mau ke Brunei ada kerjaan. Paling nggak seminggu lah. Aku minta
tolong liatin Dea ya kalau kamu sempat, dia di rumah berdua dengan Mbo Surti. Dea
ngga mau dititipkan ke adikku. Bisa kan, Nad? Aku perhatikan kalian lumayan dekat.”
“Insya Allah, Mas” jawabku.
“Oke gitu aja ya. Makasih banyak lho sebelumnya”.
“Iya, sama-sama”.
“Assalamu alaikum”
“Wa alaikum salam”.
Aku menghela nafas. Aku memang dekat dengan anak kamu, tapi tidak dengan kamu.

Malamnya....
Aku duduk di teras belakang ditemani ibu.
"Ndhuk, gimana mas Farhan sudah ngomong sama kamu belum? tanya Ibu.
"Belum tuh. Aku juga tidak berharap terlalu banyak sama dia. Sepertinya dia belum mau
menikah lagi, Bu".
"Trus temanmu itu, si Andi, gimana hubungan kamu sama dia?" tanya ibu lagi.
"Aku sama Andi hanya berteman, Bu. Lagian usianya 5 tahun lebih muda dari aku, malas
ah" jawabku.
"Nadya, ibu pingin sebelum meninggal kamu sudah menikah"
"Iya, Bu. Mau gimana lagi belum ketemu jodohnya".

Kriiing!! Kriiing!! Telepon rumah berdering. Aku masuk ke dalam mengangkat telepon.
"Assalamu alaikum"
"Waalaikum salam"
"Bisa bicara dengan Nadya?" tanya suara dari telepon.
"Saya sendiri, maaf ini dengan siapa ya?" tanyaku.
"Nadya, ini Ustadz Ansori"
"Oh, Ustad. Maaf gak kenal suaranya"
"Kamu kemana aja Nadya? Sudah 3 minggu kamu tidak datang ke pengajian?" tanya
Ustadz Ansori.
"Maaf Ustadz, saya akhir-akhir ini luar biasa sibuknya. Saya kecapean sehabis ngantor,
jadi gak bisa datang ke pengajian" jelasku.
"Oo...Ustad bisa mengerti. Begini lho Nadya, Ustadz mau menawarkan laki-laki untuk
jadi suamimu, kamu belum menikah juga kan?"
"Belum lah, Ustadz"
"Begini, laki-laki ini adalah murid pengajian Ustdz juga. Besok dia akan menikah dengan
wanita pilihan orangtuanya. Tiba-tiba tadi sore dia menelpon Ustadz katanya calon
istrinya kabur dari rumah dengan pacarnya. Dia bingung sekali, sedangkan undangan
sudah disebar, gedung dan katering beserta lain-lainnya sudah beres semua. Dia tidak
memaksakan calon istrinya itu untuk menikah kalau memang tidak mau. Nah Nadya,
maukah kamu menikah dengannya?"
Aku tergagap menjawab pertanyaan Ustadz Ansori, "Apakah harus secepat ini? Saya
bahkan tidak tau siapa orangnya?".
"Lelaki ini adalah lelaki yang baik, Ustadz bisa menjamin itu. Insya Allah pernikahan
kalian nanti bahagia dan langgeng" tambah Ustadz lagi.
Ya Allah, mungkinkah ini jodohku? Bila ini memang jodohku berilah aku kekuatan untuk
menjawab 'iya'.
"Sebentar Ustadz, saya ingin berbicara dengan Ibu saya".
Aku berlari menemui ibu di teras. Kujelaskan semuanya. Ibu terdiam sejenak memikirkan
tawaran ini. Kemudian...
"Ibu percaya Ustadz Ansori. Kamu boleh menikah dengan lelaki itu."
Keringat dingin keluar dari badanku. Sekarang semua keputusan ada di tanganku.
Aku mengangkat gagang telepon.
"Halo Ustadz"
"Ya, gimana Nadya?"
Kutarik nafas dalam-dalam, "Bismillah, saya bersedia Ustadz".
"Alhamdulillah, mungkin dia memang jodohmu, Nadya".
"Gimana selanjutnya Ustadz, saya tidak punya persiapan apa-apa".
"Kamu tidak usah khawatir, besok pagi mungkin jam 8, kami akan datang ke rumahmu.
Kamu hanya perlu mempersiapkan mental kamu saja".
Aku tidak bisa bicara, ini mendadak sekali.
"Baiklah Nadya, Ustadz sarankan kamu malam ini untuk sholat Tahajud, agar besok
kamu menjadi tenang"
"Baik, Ustadz"
"Assalamu alaikum"
"Waalaikumsalam". Klik.

Aku tidak dapat tidur. Aku mengikuti saran Ustadz Ansori untuk sholat Tahajud. Aku
berdoa dengan khusyuk. Air mataku meleleh. Aku berdoa agar aku tidak salah membuat
keputusan menerima tawaran Ustadz Ansori.

Keesokan paginya, iring-iringan mobil datang ke rumahku. Akad nikah dilakukan di


rumahku. Aku hanya memakai gamis putih yang kubeli sewaktu ke Turki. Aku mengintip
dari jendela ruang tamu. Usatdz Ansori keluar dari mobil diikuti oleh seorang laki-laki
nampaknya dialah calon suamiku.

"Assalamu alaikum" sapa Ustadz dan laki-laki itu kepada ibuku yang sudah menunggu di
teras depan rumah.
"Waalaikum salam"jawab ibu. "Selamat datang, maaf kami tidak ada penyambutan
sewajarnya, harap maklum".
"Tidak apa-apa Ibu, justru saya yang mengucapkan terima kasih kepada Ibu" kata lali-laki
itu.
Kemudian Ibu, Ustadz, calon suamiku dan keluarga besarnya masuk ke dalam.
"Nadya...kemari nak" panggil Ibu.
Badanku gemetaran, aku tertunduk malu. Kuberanikan diri untuk melihat calon suamiku.

"Kamu?!" Aku tak percaya dengan penglihatanku.


"Lho, kamu?" Dia juga kaget.
Ustadz juga ikut kaget, "Lho, kalian sudah saling kenal yah?".
Aku melongo.
Laki-laki itu kemudian menjelaskan kepada Ustadz, "Kami pernah betemu di bioskop
Ustadz, cuma sekali ketemu, setelah itu kami tidak ada kontak apa-apa, karena saya
sudah meminang wanita lain. Waktu itu dia menabrak saya sehingga minumannya
tumpah ke baju saya".
Aku tesipu malu, "Adam kan?".
"Iya saya Adam, Nadya" jawabnya sambil tersenyum.
"Wah, bagus toh kalau begitu, mari segera dimulai jangan lama-lama" timpal Ibu diikuti
tawa keluarga Adam.

Ternyata inilah rahasia indah Allah untukku. Akhirnya aku bertemu dengan jodohku,
seperti Jakarta dan sungai Ciliwung yang berjodoh hehehehe..

-That's All-
sumber: http://aftiabdullah.multiply.com/journal/item/9/Memang_Jodoh_Rahasia_Allah

[END READ]

Gimana bagus kan kisahnya??


Buat temen2 yang lagi gelisah masalah jodoh dan yang menjalani masa mencintai
makhluk indah ciptaan Allah SWT coba rebungkan pesan yang ada dalam kisah tadi.

n ingat ya... Baca Surat An Nuur ayat 26 sengaja ayatnya ga aku tulis di sini. biar
temen2 baca sendiri, siapa tahu dapat ayat2 sekitarnya yang jadi sumber ilmu kita. Amiin

sekian dulu.. kalo ada yang kurang berkenan mohon maaf.

Keep Smile :)
Belajar bareng ya :)

Mau di doakan malaikat g?


Assalamualaikum Wr Wb

hai temen2 nih aku dapat artikel bagus dari browsing2 kemaren. Artikel ini menceritakan
orang2 yang didoakan oleh malaikat di satu saat dan keadaan tertentu. Link sumbernya
aku taruh di bawah :D

Tapi Ingat!!!

apapun amal ibadah kita harus ikhlas semata2 karena Allah. Doa dari
malaikat ini hanya sebagai efek samping atau Bonus saja karena kita
melakukan kebaikan. Jadi kalo kita beribadah atau melakukan hal2 di
bawah ini hanya karena mengharap doa dari malaikat, kita bisa
terjerumus ke dalam syirik kecil.

"tidak ada dosa besar jika disertai istighfar dan tidak ada dosa kecil jika
dilakukan terus-menerus"
1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci.
Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat
akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga Malaikat berdoa
'Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci". (Imam Ibnu
Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al
Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37)

2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.


Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk
menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan
mendoakannya 'Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'" (Imam Muslim
meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469)

3. Orang - orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah.
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat
kepada (orang - orang) yang berada pada shaf - shaf terdepan"
(Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra' bin 'Azib ra., hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130)

4. Orang - orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak


membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf).
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat
kepada orang - orang yang menyambung shaf - shaf" (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu
Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra.,
hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272)

5. Para malaikat mengucapkan 'Amin' ketika seorang Imam selesai membaca Al


Fatihah.
Rasulullah SAW bersabda, "Jika seorang Imam membaca 'ghairil maghdhuubi 'alaihim
waladh dhaalinn', maka ucapkanlah oleh kalian 'aamiin', karena barangsiapa
ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya
yang masa lalu". (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari
no. 782)

6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat.


Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada
salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia
melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, 'Ya Allah
ampunilah dan sayangilah ia" (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al
Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini)

7. Orang - orang yang melakukan shalat shubuh dan 'ashar secara berjama'ah.
Rasulullah SAW bersabda, "Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para
malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari
hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian
mereka berkumpul lagi pada waktu shalat 'ashar dan malaikat yang
ditugaskan pada siang hari (hingga shalat 'ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat
yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka,
'Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?', mereka menjawab, 'Kami datang
sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan
mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'" (Imam
Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh Ahmad Syakir)

8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan.


Rasulullah SAW bersabda, "Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan
tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada
kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa
untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata 'aamiin dan
engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'" (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari
Ummud Darda' ra., Shahih Muslim no. 2733)

9. Orang - orang yang berinfak.


Rasulullah SAW bersabda, "Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba
ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya
berkata, 'Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak'. Dan lainnya berkata, 'Ya
Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'" (Imam Bukhari dan Imam Muslim
meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no.
1010)

10. Orang yang sedang makan sahur.


Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat
(berdoa ) kepada orang - orang yang sedang makan sahur" Insya Allah termasuk disaat
sahur untuk puasa "sunnah" (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani,
meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan
oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519)

11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit.


Rasulullah SAW bersabda, "Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali
Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat
kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja
hingga shubuh" (Imam Ahmad meriwayatkan dari 'Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no.
754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar,"Sanadnya shahih")

12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.


Rasulullah SAW bersabda, "Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan
keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni
langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya
bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain"
(Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh
Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343)
Rek, belajar bareng ya... belajar menjadi lebih baik, istiqomah dan mencitaNya. aku sadar
belum tentu aku lebih baik dari kalian, karena hanya Allah yang tau kadar keutamaan
masing2 hambaNya.. :)

"Demi waktu, Sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang2
yang beriman dan yang saling menasehati dalam menetapi kebaikan dan saling
menasehati dalam menetapi kesabaran"

Mohon dikoreksi apabila ada kesalahan

Syirik
Syirik yang Sering Diucapkan

Kaum muslimin yang semoga selalu mendapatkan taufiq Allah Ta’ala. Kita semua telah
mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb (Tuhan) alam semesta, Yang
menciptakan kita dan orang-orang sebelum kita, Yang menjadikan bumi sebagai
hamparan untuk kita mencari nafkah, dan Yang menurunkan hujan untuk menyuburkan
tanaman sebagai rizki bagi kita. Setelah kita mengetahui demikian, hendaklah kita hanya
beribadah kepada Allah semata dan tidak menjadikan bagi-Nya tandingan/sekutu dalam
beribadah. Allah Ta’ala berfirman yang artinya,

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan
Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala
buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-
sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al Baqarah [2]: 22)

Lebih samar dari jejak semut di atas batu hitam di tengah kegelapan malam

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma –yang sangat luas dan mendalam ilmunya-
menafsirkan ayat di atas dengan mengatakan,”Yang dimaksud membuat sekutu bagi
Allah (dalam ayat di atas, pen) adalah berbuat syirik. Syirik adalah suatu perbuatan
dosa yang lebih sulit (sangat samar) untuk dikenali daripada jejak semut yang merayap
di atas batu hitam di tengah kegelapan malam.”

Kemudian Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma mencontohkan perbuatan syirik yang samar
tersebut seperti, ‘Demi Allah dan demi hidupmu wahai fulan’, ‘Demi hidupku’ atau
‘Kalau bukan karena anjing kecil orang ini, tentu kita didatangi pencuri-pencuri itu’ atau
‘Kalau bukan karena angsa yang ada di rumah ini tentu datanglah pencuri-pencuri itu’,
dan ucapan seseorang kepada kawannya ‘Atas kehendak Allah dan kehendakmu’, juga
ucapan seseorang ‘Kalau bukan karena Allah dan karena fulan’.

Akhirnya beliau radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, ”Janganlah engkau menjadikan si


fulan (sebagai sekutu bagi Allah, pen) dalam ucapan-ucapan tersebut. Semua ucapan ini
adalah perbuatan SYIRIK.” (HR. Ibnu Abi Hatim)
(Lihat Kitab Tauhid, Syaikh Muhammad At Tamimi)

Itulah syirik. Ada sebagian yang telah diketahui dengan jelas seperti menyembelih,
bernadzar, berdo’a, meminta dihilangkan musibah (istighotsah) kepada selain Allah. Dan
terdapat pula bentuk syirik (seperti dikatakan Ibnu Abbas di atas) yang sangat sulit
dikenali (sangat samar).

Syirik seperti ini ada 2 macam.

Pertama, syirik dalam niat dan tujuan. Ini termasuk perbuatan yang samar karena niat
terdapat dalam hati dan yang mengetahuinya hanya Allah Ta’ala. Seperti seseorang yang
shalat dalam keadaan ingin dilihat (riya’) atau didengar (sum’ah) orang lain. Tidak ada
yang mengetahui perbuatan seperti ini kecuali Allah Ta’ala.

Kedua, syirik yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Syirik seperti ini adalah
seperti syirik dalam ucapan (selain perkara i’tiqod/keyakinan). Syirik semacam inilah
yang akan dibahas pada kesempatan kali ini. Karena kesamarannya lebih dari jejak semut
yang merayap di atas batu hitam di tengah kegelapan malam. Oleh karena itu, sedikit
sekali yang mengetahui syirik seperti ini secara jelas. (Lihat I’anatul Mustafid bisyarh
Kitabut Tauhid, hal. 158, Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan)

Berikut ini akan disebutkan beberapa contoh syirik yang masih samar, dianggap remeh,
dan sering diucapkan dengan lisan oleh manusia saat ini.

Mencela Makhluk yang Tidak Dapat Berbuat Apa-apa

Perbuatan seperti ini banyak dilakukan oleh kebanyakan manusia saat ini –barangkali
juga kita-. Lidah ini begitu mudahnya mencela makhluk yang tidak mampu berbuat
sedikit pun, seperti di antara kita sering mencela waktu, angin, atau pun hujan. Misalnya
dengan mengatakan, ‘Bencana ini bisa terjadi karena bulan ini adalah bulan Suro’ atau
mengatakan ‘Sialan! Gara-gara angin ribut ini, kita gagal panen’ atau dengan
mengatakan pula, ‘Aduh!! hujan lagi, hujan lagi’.
Lidah ini begitu mudah mengucapkan perkataan seperti itu. Padahal makhluk yang kita
cela tersebut tidak mampu berbuat apa-apa kecuali atas kehendak Allah. Mencaci mereka
pada dasarnya telah mencaci, mengganggu dan menyakiti yang telah menciptakan dan
mengatur mereka yaitu Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,“Allah Ta'ala berfirman, ‘Manusia menyakiti


Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa,
Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.’ ” (HR. Bukhari dan
Muslim). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu
mencaci maki angin.” (HR. Tirmidzi, beliau mengatakan hasan shohih)

Dari dalil-dalil ini terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu), angin dan makhluk lain
yang tidak dapat berbuat apa-apa adalah terlarang. Larangan ini bisa termasuk syirik
akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam) jika diyakini makhluk tersebut
sebagai pelaku dari sesuatu yang jelek yang terjadi. Meyakini demikian berarti meyakini
bahwa makhluk tersebut yang menjadikan baik dan buruk dan ini sama saja dengan
menyatakan ada pencipta selain Allah. Namun, jika diyakini yang menakdirkan adalah
Allah sedangkan makhluk-makhluk tersebut bukan pelaku dan hanya sebagai sebab saja,
maka seperti ini termasuk keharaman, tidak sampai derajat syirik. Dan apabila yang
dimaksudkan cuma sekedar pemberitaan, -seperti mengatakan,’Hari ini sangat panas
sekali, sehingga kita menjadi capek’-, tanpa tujuan mencela sama sekali maka seperti ini
tidaklah mengapa.

Bersumpah dengan menyebut Nama selain Allah

Bersumpah dengan nama selain Allah juga sering diucapkan oleh orang-orang saat ini,
seperti ucapan, ‘Demi Nyi Roro Kidul’ atau ‘Aku bersumpah dengan nama ...’. Semua
perkataan seperti ini diharamkan bahkan termasuk syirik. Karena hal tersebut
menunjukkan bahwa dalam hatinya mengagungkan selain Allah kemudian digunakan
untuk bersumpah. Padahal pengagungan seperti ini hanya boleh diperuntukkan kepada
Allah Ta’ala semata. Barangsiapa mengagungkan selain Allah Ta’ala dengan suatu
pengagungan yang hanya layak diperuntukkan kepada Allah Ta’ala, maka dia telah
terjatuh dalam syirik akbar (syirik yang mengeluarkan seseorang dari Islam). Namun,
apabila orang yang bersumpah tersebut tidak meyakini keagungan sesuatu yang dijadikan
sumpahnya tersebut sebagaimana keagungan Allah Ta’ala, maka dia telah terjatuh dalam
syirik ashgor (syirik kecil yang lebih besar dari dosa besar).

Berhati-hatilah dengan bersumpah seperti ini karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
telah bersabda yang artinya,”Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka
ia telah berbuat kekafiran atau kesyirikan.” (HR. Tirmidzi dan Hakim dishahihkan
Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jaami’)

Menyandarkan nikmat kepada selain Allah

Perbuatan ini juga dianggap sepele oleh kebanyakan orang saat ini. Padahal
menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik dan kekufuran kepada-Nya.
Allah Ta’ala mengatakan tentang orang yang mengingkari nikmat Allah dalam firman-
Nya yang artinya,”Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya
dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir.” (An Nahl: 83)

Menurut salah satu penafsiran ayat ini : ‘Mereka mengenal berbagai nikmat Allah (yaitu
semua nikmat yang disebutkan dalam surat An Nahl) dengan hati mereka, namun lisan
mereka menyandarkan berbagai nikmat tersebut kepada selain Allah. Atau mereka
mengatakan nikmat tersebut berasal dari Allah, akan tetapi hati mereka
menyandarkannya kepada selain Allah’.
Menyandarkan nikmat kepada selain Allah termasuk syirik karena orang yang
menyadarkan nikmat kepada selain Allah berarti telah menyatakan bahwa selain Allah-
lah yang telah memberikan nikmat (ini termasuk syirik dalam tauhid rububiyah). Dan ini
juga berarti dia telah meninggalkan ibadah syukur. Meninggalkan syukur berarti telah
menafikan (meniadakan) tauhid. Setiap hamba mempunyai kewajiban untuk bersyukur
atas nikmat yang telah Allah berikan.

Contoh dari hal ini adalah mengatakan ‘Rumah ini adalah warisan dari ayahku’. Jika
memang cuma sekedar berita tanpa melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah, maka
perkataan ini tidaklah mengapa. Namun, yang dimaksudkan termasuk syirik di sini
adalah jika dia mengatakan demikian dan melupakan Sang Pemberi Nikmat yaitu Allah
Ta’ala.

Marilah kita berusaha tatkala mendapatkan nikmat, selalu bersyukur pada Allah dengan
memenuhi 3 rukun syukur, yaitu:
[1] Mensykuri nikmat tersebut dengan lisan,
[2] Mengakui nikmat tersebut berasal dari Allah dengan hati, dan
[3] Berusaha menggunakan nikmat tersebut dengan melakukan ketaatan kepada Allah.
(Lihat I’anatul Mustafid, hal. 148-149 dan Al Qoulul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, II/93)

Perbaikilah Diri

Jarang sekali manusia mengetahui bahwa hal-hal di atas termasuk kesyirikan dan
kebanyakan orang selalu menyepelekan hal ini dengan sering mengucapkannya . Padahal
Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya,”Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa
syirik, dan dia mengampuni dosa yang berada di bawah syirik bagi siapa yang
dikehendaki-Nya. (QS. An Nisa [4]: 116).

Oleh karena itu, sangat penting sekali bagi kita untuk mempelajari aqidah di mana
perkara ini sering dilalaikan dan jarang dipelajari oleh kebanyakan manusia. Aqidah
adalah poros dari seluruh perkara agama. Jika aqidah telah benar, maka perkara lainnya
juga akan benar. Jika aqidah rusak, maka perkara lainnya juga akan rusak.

Hendaknya pula kita memperbaiki diri dengan selalu memikirkan terlebih dahulu apa
yang kita hendak ucapkan. Ingatlah sabda Nabi yang mulia shallallahu ‘alaihi wa
sallam,”Boleh jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang diridhai Allah namun tidak
ia sadari, sehingga karena ucapannya ini Allah mengangkat derajatnya. Namun boleh
jadi seseorang mengucapkan suatu kata yang dimurkai Allah dan tidak ia sadari,
sehingga karena ucapannya ini Allah memasukkannya dalam neraka.” (HR. Bukhari)

Jika kita sudah terlanjur melakukan syirik yang samar ini, maka leburlah dengan do’a
yang pernah diucapkan Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam: ’Allahumma inni
a’udzubika an usyrika bika sya’an wa ana a’lamu wa astaghfiruka minadz dzanbilladzi
laa a’lamu’ (Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari perbuatan menyukutakan-Mu
dengan sesuatu padahal aku mengetahuinya. Aku juga memohon ampunan kepada-Mu
dari kesyirikan yang tidak aku sadari) (HR. Ahmad).

***

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Semoga bisa bermanfaat dan bisa menjadi media saling mengingatkan dalam kebaikan.
amin
keep smile :)

Penting rek!!!!!!!!!!!1
Ga ada kerjaan di kosan, akhirnya ke kampus buat cari2 info tambahan buat ngisi otak
menggantikan PIKTOR2 ini.

Alhamdulillah setelah beberapa meit menyelam dan berselanjar di dunia maya, aku
menemukan sesuatu yang menyentuh dan memaksaku berpikir ulang tentang apa yang
sudah aku lakukan di waktuku selama ini..

Nemu hadis (lumayan panjang) yang bunyinya seperti ini:

DARI Abu Hurairah r.a., Nabi SAW bersabda: “Tujuh golongan, Allah akan menaungi
mereka pada hari yang tiada naungan melainkan naungan-Nya: Imam yang adil,
pemuda yang membesar dengan beribadat kepada Allah, insan yang hatinya terpaut
dengan masjid, dua insan yang berkasih sayang kerana Allah, mereka bertemu dan
berpisah kerana Allah, insan yang diajak (digoda) oleh wanita yang berpangkat dan
cantik lalu ia berkata: Sesungguhnya aku takutkan Allah, insan yang bersedekah dengan
cara yang tersembunyi sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dibelanjakan
oleh tangan kanannya, insan yang mengingati Allah secara bersunyian lalu berlinangan
air matanya.”

kalo di-list jadinya kaya di bawah ini. Nah... peluang kita sebagai pemuda(i) masuk
golongan yang mana ya??

1. Imam (pemimpin) yang adil.

"Setiap dari kalian adalah pemimpin, dan setiap dari kalian akan ditanya tentang
kepemimpinannya" (Al Hadis)
dari hadis di atas berarti siapa pun memiliki peluang untuk masuk dalam golongan ini.
Termasuk kita golongan pemuda. Syaratnya adalah kita dituntut untuk menjadi
Pemimpin yang adil nah ini yang yang bagi sebagian orang termasuk cukup sulit untuk
dipelajari. Namun sulit bukan berarti tidak mungkin.

Kita Pemuda, mempunyai peluang untuk menjadi pemimpin lebih besar dari pada anak
kecil dan orang yang lanjut usia. Maka dari itu kita harus selalu berusaha menjadi
pemimpin yang adil di setiap kepemimpinan kita agar kita senantiasa mendapat ridhoNya
dan berada dalam naunganNya kelak. Amin... :)

belajar bareng yuk ... ^^

2. Pemuda yang senantiasa beribadah kepada Allah.

POINT ini secara jelas dan gambalang bin lugas menyebut kata "Pemuda". Hal ini berarti
memang dikhususkan untuk golongan umur kita. Namun ingat syaratnya!!! Pemuda yang
senantiasa beribadah kepada Allah.

Ibadah bukan hanya sholat, puasa, zakat, ngaji de el el. Tapi setiap tinda tanduk kita yang
kita niatkan karena Allah dan mengharap ridhonya juga ibadah. So.. kawan wahai
pemuda(termasuk aku sendiri)... Jadilah Pemuda yang bertaqwa. Amin

3. Manusia yang hatinya terpaut dengan masjid.

Manusia yang ini adalah manusia yang berkeinginan untuk selalu berada di rumah Allah
untuk beribadah kepadanya. entah ibadah shlat, ngaji atau ibadah apapun yang berkaitan
dengan memakmurkan masjid yang notabene adalah rumah Allah.

4. Dua orang yang berkasih sayang karena Allah, mereka bertemu dan berpisah
karena Allah.

Ini juga yang sering bersinggungan dengan kehidupan kita sebagai pemuda. Sebagai
manusia yang memasuki fase pemuda, tentunya kita seringkali berinteraksi dengan
banyak orang, di sinilah kesempatan kita untuk memasuki golongan ini.
Jika kita berteman dan mengasihi mereka hanya mengharap keridhaan Allah dan bukan
mengharap yang lain, maka kita akan termasuk golongan ini.

Sebenarnya ada lagi yang lebih PENTING, yaitu berkaitan dengan lawan jenis. Nah
pemuda kan tempatnya jiwa yang sedang berkobar, termasuk masalah asmara. Di sinilah
kita diuji.
Katakanlah kita mencintai lawan jenis, atas dasar apa kita mencintainya?? jika atas dasar
harta mungkin kita akan mendapatkannya. Namun kita tentu akan jauh dari ridho Allah.
Jika kita menyukainya karena nafsu, ini malah tambah parah. Alih2 dapat pahala malah
kita dapet dosa dan berpeluang mendekati zina. Naudzubillah...
Jika kita mencintai karena selain Allah.. saat cinta kita tak berbalas, seringkali kita sakit
hati. Namun jika cinta kita karena Allah.. jika cinta kita tak berbalas dari makhluk yang
kita cintai, Allah lah yang akan membalas cinta kita.. sakit hati??? pergi jauh saja!!!

5. Insan (lelaki) yang digoda (diajak berzina) perempuan berpangkat dan cantik, ia
menolak dan berkata "Sesungguhnya aku takut kepada Allah".

Berkaitan dengan yang point sebelumnya. Ini masalah zina. Lihatlah dalam hadis itu
kembali. Siapa yang menggoda?? Wanita kaya cantik dan berpangkat. ya. itulah
gambaran godaan dunia. Maka kita akan benar2 diuji. Apakah kita masih mengingat
Allah dan berpegang teguh pada iman kita jika dihadapkan dengan kondisi seperti itu???

6. Manusia yang bersedekah secara sembunyi2 diibaratkan tangan kirinya tidak


mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.

Ini tema yang aku sukai (walaupun aku juga suka yang lainnya). SEDEKAH.

tahu sedekah kan?? simpel aja. Point ini menguji keikhlasan kita dalam bersedekah dan
kebebasan hati dari riya'. Ngerti maksudnya kan??
Maksudnya sebisa mungkin jika kita ingin masuk golongan ini kita disyaratkan untuk
sedekah secara sembunyi2, bahkan jika mungkin tangan kiri kita tidak tahu ketika tangan
kanan kita sedang bersedekah. SIMPEL tapi terkadang sulit dilakukan. belajar bareng
yuk ^^

7. Insan yang mengingat Allah dalam keadaan sunyi (sepi) lalu berlinang air mata.

Yang terakhir adalah mengingat Allah dikala sepi dan menangis karena mengingatnya.
Wah... ini perlu hati yang lumayan bersih untuk mewujudkannya. sebenarnya kita juga
sudag\h tahu bahwa saat sepi yang menungkinkan kita untuk mencapai fase ini adalah
sepertiga malam terakhir. Ya.. kira2 jam setengah tiga samapi waktu subuh lah...
Hmmm kan lagi enak2nya ngorok nih... makanya terdapat kemuliaan untuk seorang
Mukmin yang bangun dan mengingat Allah di kala orang2 kebanyakan sedang pulas dan
bermimpi dalam tidurnya.

Hm.... cukup banyak celah kan buat kita mendapat naungan Allah di hari esok??
makanya mulai sekarang ayo bersama2 perbaiki diri menjadi manusia yang dicintai Allah
dan Rasuknya. Insya Allah kita juga akan dicintai oleh makhlukNya. Amiiin.
Semoga kita termasuk dalam tujuh golongan tersebut. amiin....

Jika ada kebaikan hanya dari Allah semata dan jika ada keburukan itu dari aku. Mohon
dikritik jika ada yang salah dan menyesatkan.

"Sampaikan dariku walau hanya satu ayat" (Al Hadis)


Pacaran Terselubung Via Chatting dan
HP
Published: 20 Oktober 2009Posted in: Adab

Tanya: Aku adalah seorang pemuda. Aku punya hobi main internet dan ngobrol
(chatting). Aku hampir tidak pernah chatting dengan cewek. Jika terpaksa aku chatting
dengan cewek maka aku tidaklah berbicara kecuali dalam hal yang baik-baik.

Kurang dari setahun yang lewat ada seorang gadis yang mengajak aku chatting lalu
meminta no hp-ku. Aku katakan bahwa aku tidak mau menggunakan hp dan aku tidak
ingin membuat Allah murka kepadaku.

Dia lalu mengatakan, “Engkau adalah seorang pemuda yang sopan dan berakhlak mulia.
Aku akan bahagia jika kita bisa berkomunikasi secara langsung”. Kukatakan kepadanya,
“Maaf aku tidak mau menggunakan HP”. Kemudian dia berkata dengan nada kesal,
“Terserah kamulah”.

Selama beberapa bulan kami hanya berhubungan melalui chatting. Suatu ketika dia
mengatakan, “Aku ingin no HP-mu”. “Bukankah dulu sudah pernah kukatakan kepadamu
bahwa aku tidak mau menggunakan HP”, jawabku. Dia lalu berjanji tidak akan
menghubungiku kecuali ada hal yang mendesak. Kalau demikian aku sepakat.

Setelah itu selama tiga bulan dia tidak pernah menghubungiku. Akupun berdoa agar
Allah menjadikannya bersama hamba-hambaNya yang shalih.

Tak lama setelah itu ada seorang gadis kurang lebih berusia 16 tahun yang berakhlak dan
sangat sopan menghubungi no HP-ku. Dia berkata dalam telepon, “Apa benar engkau
bernama A?”. “Benar, apa yang bisa kubantu”, tanyaku. Dia mengatakan, “Fulanah, yaitu
gadis yang telah kukenal via chatting, berkirim salam untukmu”. “Salam kembali
untuknya. Mengapa tidak dia sendiri yang menghubungiku?”, tanyaku. “Telepon
rumahnya diawasi dengan ketat oleh orang tuanya”, jawabnya.

Setelah orang tuanya kembali memberi kelonggaran, dia kembali menghubungiku.


Kukatakan kepadanya, “Jangan sering telepon” namun dia selalu saja menghubungiku.
Akan tetapi pembicaraan kami sebatas hal-hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan
untuk melaksanakan shalat, puasa dan shalat malam.

Setelah beberapa waktu lamanya, dia berterus terang kalau dia jatuh cinta kepadaku dan
aku sendiri juga sangat mencintainya. Aku juga berharap bisa menikahinya sesuai dengan
ajaran Allah dan rasul-Nya karena dia adalah seorang gadis yang berakhlak, beradab dan
taat beragama setelah aku tahu secara pasti bahwa aku adalah orang yang pertama kali
melamarnya via telepon.

Akan tetapi empat bulan yang lewat, ayahnya memaksanya untuk menikah dengan
saudara sepupunya sendiri karena ayahnya marah dengannya. Inilah awal masalah. Aku
mulai sulit tidur. Kukatakan kepadanya, “Serahkan urusan kita kepada Allah. Kita tidak
boleh menentang takdir”. Namun dia meski sudah menikah tetap saja menghubungiku.
Kukatakan kepadanya, “Haram bagimu untuk menghubungiku karena engkau sudah
menjadi istri seseorang”.

Yang jadi permasalahan, bolehkah dia menghubungiku via HP sedangkan dia telah
menjadi istri seseorang? Allah lah yang menjadi saksi bahwa pembicaraanku dengannya
sebatas hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan untuk menambah ketaatan terlebih
lagi ayahnya memaksanya untuk menikah dengan dengan lelaki yang tidak dia cintai.

Jawab:
Saling menelepon antar lawan jenis itu tidaklah diperbolehkan secara mutlak baik
pihak perempuan sudah bersuami ataukah belum. Bahkan ini adalah tipu daya Iblis.

Kau katakan bahwa tidak ada hubungan antaramu dengan dia selain saling menasehati
dan mengajak untuk melakukan amal shalih. Perhatikan bagaimana masalah cinta dan
yang lainnya menyusup melalui hal ini. Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa
engkau mencintainya dan diapun mencintaimu sedangkan katamu topik pembicaraanmu
hanya seputar amal shalih? Kami tahu sendiri beberapa pemuda yang semula sangat taat
beragama berubah menjadi menyimpang gara-gara hal ini.

Wahai saudaraku bertakwalah kepada Allah. Jauhilah hal ini. Cara-cara seperti ini lebih
berbahaya dari pada cara-cara orang fasik yang secara terang-terangan ngobrol dengan
perempuan dengan tujuan-tujuan yang tidak terpuji. Mereka sadar bahwa yang mereka
lakukan adalah sebuah maksiat. Sadar bahwa suatu hal itu adalah keliru merupakan awal
langkah untuk memperbaiki diri.
Sedangkan dirimu tidak demikian bahkan boleh jadi engkau menganggapnya sebagai
sebuah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.

Pacaran Terselubung Via Chatting dan


HP
Published: 20 Oktober 2009Posted in: Adab

Tanya: Aku adalah seorang pemuda. Aku punya hobi main internet dan ngobrol
(chatting). Aku hampir tidak pernah chatting dengan cewek. Jika terpaksa aku chatting
dengan cewek maka aku tidaklah berbicara kecuali dalam hal yang baik-baik.
Kurang dari setahun yang lewat ada seorang gadis yang mengajak aku chatting lalu
meminta no hp-ku. Aku katakan bahwa aku tidak mau menggunakan hp dan aku tidak
ingin membuat Allah murka kepadaku.

Dia lalu mengatakan, “Engkau adalah seorang pemuda yang sopan dan berakhlak mulia.
Aku akan bahagia jika kita bisa berkomunikasi secara langsung”. Kukatakan kepadanya,
“Maaf aku tidak mau menggunakan HP”. Kemudian dia berkata dengan nada kesal,
“Terserah kamulah”.

Selama beberapa bulan kami hanya berhubungan melalui chatting. Suatu ketika dia
mengatakan, “Aku ingin no HP-mu”. “Bukankah dulu sudah pernah kukatakan kepadamu
bahwa aku tidak mau menggunakan HP”, jawabku. Dia lalu berjanji tidak akan
menghubungiku kecuali ada hal yang mendesak. Kalau demikian aku sepakat.

Setelah itu selama tiga bulan dia tidak pernah menghubungiku. Akupun berdoa agar
Allah menjadikannya bersama hamba-hambaNya yang shalih.

Tak lama setelah itu ada seorang gadis kurang lebih berusia 16 tahun yang berakhlak dan
sangat sopan menghubungi no HP-ku. Dia berkata dalam telepon, “Apa benar engkau
bernama A?”. “Benar, apa yang bisa kubantu”, tanyaku. Dia mengatakan, “Fulanah, yaitu
gadis yang telah kukenal via chatting, berkirim salam untukmu”. “Salam kembali
untuknya. Mengapa tidak dia sendiri yang menghubungiku?”, tanyaku. “Telepon
rumahnya diawasi dengan ketat oleh orang tuanya”, jawabnya.

Setelah orang tuanya kembali memberi kelonggaran, dia kembali menghubungiku.


Kukatakan kepadanya, “Jangan sering telepon” namun dia selalu saja menghubungiku.
Akan tetapi pembicaraan kami sebatas hal-hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan
untuk melaksanakan shalat, puasa dan shalat malam.

Setelah beberapa waktu lamanya, dia berterus terang kalau dia jatuh cinta kepadaku dan
aku sendiri juga sangat mencintainya. Aku juga berharap bisa menikahinya sesuai dengan
ajaran Allah dan rasul-Nya karena dia adalah seorang gadis yang berakhlak, beradab dan
taat beragama setelah aku tahu secara pasti bahwa aku adalah orang yang pertama kali
melamarnya via telepon.

Akan tetapi empat bulan yang lewat, ayahnya memaksanya untuk menikah dengan
saudara sepupunya sendiri karena ayahnya marah dengannya. Inilah awal masalah. Aku
mulai sulit tidur. Kukatakan kepadanya, “Serahkan urusan kita kepada Allah. Kita tidak
boleh menentang takdir”. Namun dia meski sudah menikah tetap saja menghubungiku.
Kukatakan kepadanya, “Haram bagimu untuk menghubungiku karena engkau sudah
menjadi istri seseorang”.

Yang jadi permasalahan, bolehkah dia menghubungiku via HP sedangkan dia telah
menjadi istri seseorang? Allah lah yang menjadi saksi bahwa pembicaraanku dengannya
sebatas hal yang baik-baik. Kami saling mengingatkan untuk menambah ketaatan terlebih
lagi ayahnya memaksanya untuk menikah dengan dengan lelaki yang tidak dia cintai.
Jawab:
Saling menelepon antar lawan jenis itu tidaklah diperbolehkan secara mutlak baik
pihak perempuan sudah bersuami ataukah belum. Bahkan ini adalah tipu daya Iblis.

Kau katakan bahwa tidak ada hubungan antaramu dengan dia selain saling menasehati
dan mengajak untuk melakukan amal shalih. Perhatikan bagaimana masalah cinta dan
yang lainnya menyusup melalui hal ini. Bukankah engkau tadi mengatakan bahwa
engkau mencintainya dan diapun mencintaimu sedangkan katamu topik pembicaraanmu
hanya seputar amal shalih? Kami tahu sendiri beberapa pemuda yang semula sangat taat
beragama berubah menjadi menyimpang gara-gara hal ini.

Wahai saudaraku bertakwalah kepada Allah. Jauhilah hal ini. Cara-cara seperti ini lebih
berbahaya dari pada cara-cara orang fasik yang secara terang-terangan ngobrol dengan
perempuan dengan tujuan-tujuan yang tidak terpuji. Mereka sadar bahwa yang mereka
lakukan adalah sebuah maksiat. Sadar bahwa suatu hal itu adalah keliru merupakan awal
langkah untuk memperbaiki diri.
Sedangkan dirimu tidak demikian bahkan boleh jadi engkau menganggapnya sebagai
sebuah ibadah yang mendekatkan diri kepada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan,


‫ساِء‬
َ ‫ن الّن‬
َ ‫ل ِم‬
ِ ‫جا‬
َ ‫عَلى الّر‬
َ ‫ضّر‬
َ ‫ت َبْعِدى ِفْتَنًة َأ‬
ُ ‫َما َتَرْك‬
“Tidaklah kutinggalkan suatu ujian yang lebih berat bagi laki-laki melebihi wanita” (HR
Bukhari no 4808 dan Muslim no 2740 dari Usamah bin Zaid).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,


‫ساِء‬
َ ‫ت ِفى الّن‬
ْ ‫ل َكاَن‬
َ ‫سَراِئي‬
ْ ‫ل ِفْتَنِة َبِنى ِإ‬
َ ‫ن َأّو‬
ّ ‫َفِإ‬
“Sesungguhnya awal kebinasaan Bani Israil adalah disebabkan masalah wanita” (HR
Muslim no 7124 dari Abu Said al Khudri).

Perempuan yang mengajakmu ngobrol dengan berbagai obrolan ini padahal tidak ada
hubungan kekerabatan antara dirimu dengannya adalah suatu yang haram. Hati-hatilah
dengan cara-cara semisal ini. Moga Allah menjadikanmu sebagai salah seorang
hambaNya yang shalih.

Tanya: Andai jawaban untuk pertanyaan di atas adalah tidak boleh apakah boleh dia
mengajak aku ngobrol via chatting?

Jawab:
Wahai saudaraku, hal ini tidaklah dibolehkan. Hubunganmu dengannya semula adalah
chatting lalu berkembang menjadi komunikasi langsung via telepon dan ujung-ujungnya
adalah ungkapan cinta. Apakah hanya akan berhenti di sini?
Semua hal ini adalah trik-trik Iblis untuk menjerumuskan kaum muslimin dalam hal-hal
yang haram. Bersyukurlah kepada Allah karena Dia masih menyelamatkanmu.
Bertakwalah kepada Allah, jangan ulangi lagi baik dengan perempuan tersebut ataupun
dengan yang lain.
Tanya: Apa hukum seorang laki-laki yang chatting dengan seorang perempuan via
internet dan yang dibicarakan adalah hal yang baik-baik?
Jawab:
Tidak ada seorangpun yang bisa mengeluarkan fatwa yang bersifat umum untuk
permasalahan semisal ini karena ada banyak hal yang harus dipertimbangkan masak-
masak. Fatwa yang bisa saya sampaikan kepadamu adalah obrolan dengan lawan jenis
yang semisal kau lakukan adalah tidak diperbolehkan. Bukti nyata untuk hal ini adalah
apa yang kau ceritakan sendiri bahwa hubunganmu dengan perempuan tersebut terus
berkembang ke arah yang terlarang.

[Disarikan dari Majmu Fatawa al Adab karya Nashir bin Hamd al Fahd].

Popularity: 36% [?]

Sharing Artikel ini:






61 Comments

1. ustadzaris

Posted Januari 18, 2010 at 12:43 PM

Untuk Ummu Humairoh


Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarokatuh
Pandangan lain tentang hal ini bisa dibaca di link berikut:
http://rumaysho.com/belajar-islam/jalan-kebenaran/2473-bincang-bincang-
tentang-hukum-facebook.html

2. abu uwais

Posted Januari 29, 2010 at 5:13 PM

ust apa hukumnya berdakwah lewat MIRC?kepada lawan jenis dan sama jenis?
terkadang harus pendekatan dgn ngobrol dulu lewat tulisan…baru dakwah secara
perlahan.. tolong dalilnya agar semakin tenang

3. ustadzaris

Posted Januari 29, 2010 at 11:44 PM


Untuk Abu Uwais
Hukumnya telah dibahas dalam tulisan di atas.

4. toko online yogyakarta

Posted Februari 1, 2010 at 1:42 PM

memang dahsyat sekali tipu daya setan, smsan / chatting dgn kedok dakwah…

5. ihsan

Posted Februari 4, 2010 at 8:32 AM

ustadz, jika pemuda di atas tidak berhubungan dengan perempuan itu lagi, apakah
hal ini tidak termasuk memutus tali silaturahim? mohon penjelasannya.
jazakallahu khair

6. ustadzaris

Posted Februari 4, 2010 at 1:15 PM

Untuk Ihsan
Tergantung bentuk ‘tidak lagi berhubungan’ lagi tersebut. Pertanyaan global,
jawabannya juga global dan mengambang. Pertanyaan global, jangan minta
jawaban detail.
Jagalah Lisanmu!
Published: 9 Maret 2010Posted in: Adab

Allah Ta’ala berfirman,


ً ‫سُئو‬
‫ل‬ ْ ‫عْنُه َم‬
َ ‫ن‬
َ ‫ك َكا‬
َ ‫ل ُأوَلِئ‬
ّ ‫صَر َواْلُفَؤاَد ُك‬
َ ‫سْمَع َواْلَب‬
ّ ‫ن ال‬
ّ ‫عْلٌم ِإ‬
ِ ‫ك ِبِه‬
َ ‫س َل‬
َ ‫ف َما َلْي‬
ُ ‫ل َتْق‬
َ ‫َو‬
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan
diminta pertanggungan jawab” (QS al Isra:36).

Tentang ayat ini Ibnu Abbas mengatakan sebagaimana penuturan al ‘Aufi, “Janganlah
engkau menuduh seseorang dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki pengetahuan
tentang kebenarannya”. Sedangkan Muhammad bin al Hanafiyah mencontohkan bahwa
yang dimaksud adalah larangan melakukan persaksian palsu. Qotadah berkata,
“Janganlah engkau mengatakan ‘Aku melihat demikian’ padahal engkau tidak
melihatnya, ‘Aku mendengar demikian’ padahal engkau tidak mendengarnya, ‘Aku tahu
demikian’ padahal engkau tidak mengetahuinya. Sesungguhnya Allah akan menanyaimu
tentang semua itu”.

Kesimpulan dari uraian di atas, menurut Ibnu Katsir, adalah sesungguhnya Allah
melarang berkata-kata tanpa dasar ilmu namun sekedar praduga tanpa dasar…. Semua hal
itu yaitu mendengar, melihat dan hati akan dimintai pertanggungjawaban pada hari
Kiamat nanti. Seorang hamba akan ditanya tentang tiga hal tadi dan apa yang dilakukan
oleh ketiganya. (Lihat Tafsir al Qur’an al ‘Azhim hal 285, Syamilah)

ِّ ‫ل ا‬
‫ل‬ َ ‫سو‬
ُ ‫ت َر‬
ُ ‫سِمْع‬
َ ‫ل‬
َ ‫ َقا‬.« ‫عُموا‬
َ ‫ل ِفى » َز‬ ُ ‫ َيُقو‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ‫ل‬ ِّ ‫ل ا‬
َ ‫سو‬
ُ ‫ت َر‬
َ ‫سِمْع‬
َ ‫سُعوٍد َما‬
ْ ‫لِبى َم‬
َ ‫ل‬
ِّ ‫عْبِد ا‬
َ ‫َقالَ َأُبو‬
‫عُموا‬
َ ‫ل َز‬
ِ‫ج‬ُ ‫طّيُة الّر‬
ِ ‫س َم‬
َ ‫ل » ِبْئ‬
ُ ‫ َيُقو‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ».

Abu Abdillah yaitu Hudzaifah bertanya kepada Ibnu Mas’ud, “Apa yang pernah kau
dengar dari Rasulullah tentang katanya?”. Ibnu Mas’ud berkata, Aku mendengar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sejelek-jelek kendaraan yang
ditunggangi seseorang adalah katanya, katanya” (HR Abu Daud no 4972 dan dinilai
shahih oleh al Albani).

‫عْيَنْيِه َما َلْم َتَر‬


َ ‫ى‬
َ ‫ن ُيِر‬
ْ ‫ل » ِمنْ َأْفَرى اْلِفَرى َأ‬
َ ‫ل – صلى ال عليه وسلم – َقا‬
ِّ ‫ل ا‬
َ ‫سو‬
ُ ‫ن َر‬
ّ ‫عَمَر َأ‬
ُ ‫ن‬
ِ ‫ن اْب‬
ِ‫ع‬
َ »

Dari Ibnu Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Sesungguhnya


termasuk kedustaan yang paling dusta adalah seorang yang mengaku-aku bermimpi
melihat sesuatu padahal tidak” (HR Buhari no 6636). Fira adalah bentuk jamak dari
firyah yang bermakna kedustaan besar yang menyebabkan orang yang mendengarnya
terheran-heran.

ُ ‫ن َوُيَعّذ‬
‫ب‬ ِ ‫شِعيَرَتْي‬
َ ‫ن‬
َ ‫ن َيْعِقَد َبْي‬
ْ ‫ف َأ‬
َ ‫حلًُما َكاِذًبا ُكّل‬
ُ ‫حّلَم‬
َ ‫ن َت‬ْ ‫ » َم‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ‫ل‬
ِّ ‫ل ا‬
ُ ‫سو‬
ُ ‫ل َر‬
َ ‫ل َقا‬
َ ‫س َقا‬
ٍ ‫عّبا‬
َ ‫ن‬
ِ ‫ن اْب‬
ِ َ‫ع‬
َ ‫عَلى َذِل‬
‫ك‬ َ ».

Dari Ibnu Abbas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang
mengaku-aku bermimpi padahal tidak, maka (di akherat nanti) dia akan dipaksa untuk
mengikat dua butir gandum dan dia disiksa dengan hal itu” (HR Ibnu Majah no 3916 dan
dinilai shahih oleh al Albani)

‫ن َلُه‬
ْ ‫ضَم‬
ْ ‫جَلْيهِ َأ‬
ْ ‫ن ِر‬
َ ‫حَيْيِه َوَما َبْي‬
ْ ‫ن َل‬
َ ‫ن ِلى َما َبْي‬
ْ ‫ضَم‬
ْ ‫ن َي‬
ْ ‫ل » َم‬ َ ‫ل – صلى ال عليه وسلم – َقا‬
ِّ ‫ل ا‬
ِ ‫سو‬
ُ ‫ن َر‬
ْ‫ع‬َ ‫سْعٍد‬
َ ‫ن‬
ِ ‫ل ْب‬
ِ ‫سْه‬
َ ‫ن‬
ْ‫ع‬َ
‫جّنَة‬
َ ‫ » اْل‬.

Dari Sahl bin Saad, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang bisa
menjamin bisa menjaga lisan yang ada di antara dua tulang rahangnya dan kemaluan
yang ada di antara kedua kakinya maka aku jamin dia akan masuk surga” (HR Bukhari
no 6109).

Mengingat hadits di atas maka seorang muslim memiliki kewajiban untuk menjaga lisan
dan kemaluannya dari hal-hal yang Allah haramkan dalam rangka mencari ridha Allah
dan karena ingin mendapatkan pahala. Sungguh itu adalah suatu hal yang mudah bagi
orang-orang yang Allah mudahkan.

Sudah menjadi sebuah keniscayaan bagi seorang muslim untuk memberikan perhatian
yang tinggi terhadap lisan dengan menjauhi ucapan dusta, menggunjing, adu domba
dan ungkapan seronok. Intinya menjaga lisan dari segala sesuatu yang diharamkan oleh
Allah dan rasulNya. Terkadang ada satu kata-kata yang menyebabkan kehancuran dunia
dan akherat seseorang.

ْ ‫ساَءُه َيْهِوى ِبَها ِم‬


‫ن‬ َ ‫جَل‬
ُ ‫ك ِبَها‬
ُ‫ح‬
ِ‫ض‬ْ ‫ل َلَيَتَكّلُم ِباْلَكِلَمِة ُي‬
َ‫ج‬ُ ‫ن الّر‬ ّ ‫ل » ِإ‬َ ‫ َقا‬-‫صلى ال عليه وسلم‬- ‫ل‬
ِّ ‫ل ا‬
ِ ‫سو‬
ُ ‫ن َر‬
ْ‫ع‬َ ‫ن َأِبى ُهَرْيَرَة‬
ْ‫ع‬َ
‫ن الّثَرّيا‬
َ ‫» َأَبْعِد ِم‬.

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada
orang yang mengucapkan suatu kata-kata agar teman-temannya tertawa namun kata-
kata tersebut menyebabkan dia terjerumus (ke dalam neraka) lebih jauh dibandingkan
dengan jarak ke bintang kejora” (HR Ahmad no 9209 dinilai sebagai hadits hasan li
ghairihi oleh Syeikh Syu’aib al Arnauth).

Meski dalam kesempatan lain, kata-kata yang kita ucapkan bisa menjadi sebab
kebahagiaan.

،‫ل‬
ً ‫ل ُيْلِقى َلَها َبا‬
َ ‫ل‬
ِّ ‫ن ا‬
ِ ‫ضَوا‬
ْ ‫ن ِر‬ ْ ‫ن اْلَعْبَد َلَيَتَكلُّم ِباْلَكِلَمِة ِم‬
ّ ‫ل » ِإ‬ َ ‫ى – صلى ال عليه وسلم – َقا‬ ّ ‫ن الّنِب‬ِ‫ع‬
َ ‫ن َأِبى ُهَرْيَرَة‬
ْ‫ع‬َ
‫جَهّنَم‬
َ ‫ل َيْهِوى ِبَها ِفى‬
ً ‫ل ُيْلِقى َلَها َبا‬ َ ِ‫ل‬ّ ‫طا‬ ِ‫خ‬ َ‫س‬ َ ‫ن‬ ْ ‫ن اْلَعْبَد َلَيَتَكّلُم ِباْلَكِلَمِة ِم‬
ّ ‫ َوِإ‬، ‫ت‬
ٍ ‫جا‬
َ ‫ل ِبَها َدَر‬ُّ ‫ » َيْرَفُع ا‬.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh ada orang
yang mengucapkan kata-kata yang Allah ridhai tanpa keseriusan namun kata-kata
tersebut menjadi sebab Allah tinggikan kedudukan orang tersebut beberapa derajat.
Sebaliknya, sungguh ada orang yang mengucapkan kata-kata yang Allah murkai tanpa
keseriusan namun kata-kata tersebut menjadi sebab terjerumus ke dalam neraka” (HR
Bukhari no 6113).

َ ‫ن ِب‬
‫ك‬ ُ‫ح‬ْ ‫ل ِفيَنا َفِإّنَما َن‬
َّ ‫ق ا‬
ِ ‫ل اّت‬
ُ ‫ن َفَتُقو‬
َ ‫سا‬
َ ‫ضاَء ُكّلَها ُتَكّفُر الّل‬َ ‫ع‬
ْ‫ل‬ َ ‫نا‬ ّ ‫ن آَدَم َفِإ‬
ُ ‫ح اْب‬
َ ‫صَب‬
ْ ‫ل » ِإَذا َأ‬
َ ‫ى َرَفَعُه َقا‬
ّ ‫خْدِر‬
ُ ‫سِعيٍد اْل‬
َ ‫ن َأِبى‬
ْ‫ع‬َ
‫جَنا‬
ْ‫ج‬َ ‫عَو‬ْ ‫تا‬ َ ‫ج‬ ْ‫ج‬ َ ‫عَو‬
ْ ‫نا‬
ِ ‫سَتَقْمَنا َوِإ‬
ْ ‫تا‬َ ‫سَتَقْم‬
ْ ‫نا‬ِ ‫» َفِإ‬.

Dari Abu Said al Khudri secara marfu (baca: sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ),
“Jika waktu pagi tiba seluruh anggota badan menyatakan ketundukannya terhadap lisan
dengan mengatakan, ‘Bertakwalah kepada Allah terkait dengan kami karena kami
hanyalah mengikutimu. Jika engkau baik maka kami akan baik. Sebaliknya jika kamu
melenceng maka kami pun akan ikut melenceng” (HR Tirmidzi no 2407 dan dinilai hasan
oleh Al Albani).

Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan bahwa seluruh anggota
badan itu tunduk dan merasa hina di hadapan lisan serta menegaskan ketaatannya kepada
lisan. Jika lisan bersikap lurus maka anggota badan yang lain tentu bersikap lurus.
Namun jika lisan menyelisihi aturan dan menyimpang dari jalan yang lurus maka anggota
badan yang lain akan ikut-ikutan.

‫ب‬
ُ ‫ى اْلَقْل‬
َ ‫ل َوِه‬
َ ‫ َأ‬. ‫سُد ُكّلُه‬
َ‫ج‬
َ ‫سَد اْل‬
َ ‫ت َف‬
ْ ‫سَد‬
َ ‫ َوِإَذا َف‬، ‫سُد ُكّلُه‬
َ‫ج‬
َ ‫ح اْل‬
َ ‫صَل‬
َ ‫ت‬
ْ ‫ح‬
َ ‫صَل‬
َ ‫ضَغًة ِإَذا‬
ْ ‫سِد ُم‬
َ‫ج‬َ ‫ن ِفى اْل‬
ّ ‫ل َوِإ‬
َ ‫َأ‬

“Ingatlah bahwa di dalam tubuh itu ada sekerat daging. Jika dia baik maka seluruh badan
akan baik. Jika dia rusak maka seluruh badan akan rusak. Itulah hati (HR Bukhari no 52
dan Muslim no 1599 dari anNu’man bin Basyir).

Kedua hadits di atas tidaklah bertentangan sebagaimana penjelasan ath Thibi. Beliau
mengatakan, “Lisan adalah penerjemah hati dan wakil hati untuk anggota badan yang
lahiriah. Maka jika dikatakan bahwa kondisi lisan itu menentukan kondisi anggota badan
yang lain maka itu adalah sekedar ungkapan majaz. Sebagaimana kalimat, ‘Dokter itu
menyembuhkan pasien’. Al Maidani mengatakan, ‘Seseorang iu ditentukan oleh kedua
anggota badannya yang mungil’. Yang dimaksudkan adalah hati dan lisan. Artinya
seorang itu akan mulia dan bermartabat dengan hati dan lisannya” (Tuhfah al Ahwadzi
6/197, Syamilah).

Artikel www.ustadzaris.com