Anda di halaman 1dari 10

Cerpen Cinta : Tanpa Kekasih

Setalah genap sebulan aku jadian dengan Bayu, aku semakin yakin kalau aku nggak salah
pilih dan benar-benar sudah menemukan belahan jiwaku, cinta sejatiku, cahaya hidupku,
Bayu adalah segalanya bagiku. Aku mencinta dia dan akan selalu menyayangi dia untuk
selamanya. Saat ini aku merasa puas karena penantian, dan usahaku selama ini berbuah
kebahagiaan.
Telah sekian lama aku merasa menanti Bayu menjadi milikku seutuhnya.
Akhirnya, cerita cintaku saat ini sudah happy ending, tingal sekarang aku dan Bayu yang
menjalaninya. Dulu kami sering sekali bertengkar, hanya karena hal-hal kecil, kadang
kami sampai ribut nggak menentu. Dulu sebagai teman, kami memang bukan teman yang
cocok, kami saling menjatuhkan dan saling membenci. Tapi sekarang, benar kata orang-
orang, kalau kamu membenci seseorang janganlah kamu sampai terlalu, dan hasilnya
sekarang perasaan itu menjadi kebalikan bagi aku dan Bayu, justru kami sekarang saling
mencintai dan menyayangi. Tapi yang jelas, aku juga nggak mau kehilangan Bayu, aku
takut juga kalau aku terlalu mencintai dan menyayangi dia, bisa jadi aku dan dia akan
terpisahkan.
“Hei Ela, kamu lagi ngapain? aku kangen deh sama kamu..”
“Halo Bayu, kan baru kemarin kita ketemu, kamu gimana sih?”
“Ela, kamu baik-baik ya di sana, jaga diri kamu dan jangan pernah lupakan aku ya
sayang.”
“Kamu ngomong apa sih Bayu? Kamu ngigau ya?”
“Nggak, maksud aku yah kamu jangan macam-macam di sana, kan di kampus kamu
banyak banget tuh cowok-cowok keren, ntar ada yang godain kamu lagi, trus kamu
lupain aku.”
“Ha-ha.....ha-ha.... ya nggak dong sayang, aku nggak akan tergoda sama cowok-cowok di
kampus ini, nggak ada yang kayak kamu di sini, dan yang aku mau tuh cuma kamu
seorang.”
“Hei, kamu udah pintar ngegombal yah, siapa yang ajarin, ayo ngaku?”
“Bayu, kamu apaan sih?! Udah deh, aku mau kamu kasih aku kepercayaan untuk
berteman dengan teman-temanku. Asal kamu tau aku berterima kasih banget selama ini
sama Tuhan karena aku udah bisa memiliki kamu.”
“Iya Ela, dan asal kamu tau juga cintaku lebih besar dari yang pernah kamu bayangkan
selama ini.”
Satu hal inilah yang selalu ditakutkan Bayu, dia selalu bilang aku akan tergoda oleh
cowok-cowok di kampus, sementara aku nggak begitu? Justru akulah yang paling takut
Bayu yang akan berpaling dariku, dia akan pergi meninggalkanku selamanya, dan
cintanya hilang untukku. Bayu sekarang kerja di salah satu perusahaan asing terkemuka
di kota ini, sebagai cowok kalau kita melihatnya dengan kesan pertama, dia adalah cowok
yang diimpi-impikan semua cewek, karena Bayu punya segalanya, dengan modal wajah
yang tampan, prilaku yang baik, kerja yang mapan, akupun takut dia akan pergi dariku,
kalau seandainya ada cewek yang lebih menarik dariku, lebih sederajat dengan dia.
Bayu menggenggam tanganku erat sekali, aku merasakan kenyamanan saat dia
memegang tanganku. Aku merasakan cintanya begitu kuat untukku. Saat kami masuk ke
sebuah toko buku, Bayu bilang dia akan membelikan aku sebuah buku sastra yang dulu
sudah pernah dibacanya dan sekrang dia ingin aku juga membaca buku itu. Setelah Bayu
membayar buku tersebut, Bayu langsung menyerahkannya padaku. Aku kaget membaca
sinopsisnya, ternyata buku itu berisi tentang kekuatan cinta yang tulus, yang akhirnya
terpisahkan oleh maut, dan bagaimana sakitnya hati seorang kekasih saat menghadapi
peristiwa kematian itu.
“Bayu, kenapa kamu kasih aku buku kayak gini?”
“Ela, aku pengen banget kamu baca buku ini, karena kalau kamu baca buku ini, kamu
bakal lebih mengerti lagi apa itu cinta sejati, kamu akan merasakan betapa sangat
berartinya orang yang mencintai kamu, pokoknya ceritanya bagus deh, kamu pasti nggak
bakalan nyesal kalau baca buku ini, dan setelah membacanya, aku juga yakin kamu akan
semakin sayang sama aku, he-he... he-he ...”
“Ih, kamu!! Ke-GR-an banget sih kamu, masa cuma gara-gara baca buku ini aku bisa
semakin sayang sama kamu.”
Lukisan Anggrek Bulan

Oleh : Krismas Pamangin


Semburat merah jambu di kaki langit mewarnai indahnya senja Pantai Losari. Via duduk
termenung di atas bongkahan tembok yang sekali-kali diterjang ombak kecil. Di
sampingnya sosok tegap Mur ikut terbuai dalam keindahan Pantai losari senja itu.
Keduanya membisu. Terhanyut dalam sentuhan imajinasi yang teramat romantis untuk
dilukiskan sekedar dengan kata-kata.
"Via, udah hampir malam. Pulang, yuk?!" Akhirnya Mur angkat bicara. Via menoleh
sejenak. Tersenyum. Sejurus kemudian, tatapannya kembali menerawang di atas
hamparan laut biru. Enggan rasanya meninggalkan pantai ini. Mur berdiri, meraih tangan
Via dan mengajaknya pulang.
Ayo. Ntar mama kamu marah. Udah hampir malam begini kamu belum juga pulang."
Via tersenyum, tak kuasa menolak tangan kekar Mur yang setengah memaksanya
beranjak dari tempat itu. Pulang.
Berdua mereka menyusuri pantai sambil sesekali memungut kulit kerang dan
melemparnya ke laut, menyisakan riak-riak kecil.
Via sungguh menikmati kebersamaan ini. Meski dia sadar, tak pernah sekalipun terucap
kata cinta di antara mereka. Terlalu prematur menjalin hubungan lebih dari sekedar
sahabat. Ya, hanya sahabat. Itu sudah cukup bagi Via. Walau sebenarnya dia sendiri tidak
yakin mampu menepis kemungkinan yang lebih dari itu.
Mur adalah sahabat yang baik, juga kakak kelasnya yang paling banyak membantunya
selama ini. Meskipun Via baru mengenal Mur tiga bulan yang lalu, ia merasa cowok itu
punya kharisma yang pantas dikaguminya.
Perkenalan yang teramat singkat namun berkesan bagi Via. Mur tampil membelanya
ketika ia datang terlambat saat orientasi penerimaan siswa baru di sekolahnya.
Kakak-kakak kelasnya yang melihat ekspresi gugup namun sangat polos di wajah imut
Via, berebutan menjatuhkan vonis untuknya. Via hanya bisa menatap satu-satu wajah
mereka. Mata yang memelas memohon keringanan hukuman atas keterlambatannya
malah membuat kakak-kakak kelasnya semakin bersemangat mengerjainya.
Tanpa sadar mata Via berkaca-kaca. Dalam hati, perasaan sedih, takut, malu dan gugup
menyatu dan melemaskan sendi-sendi ketegarannya. Ia hanya bisa tertunduk pasrah
menikmati bentakan-bentakan kakak kelasnya. Terasa sakit sekali!
"Semua bubar. Biar aku yang mengurusnya!" Sebuah suara tegas penuh wibawa
menghentikan eksekusi tak berbelaskasihan itu. Suara milik Mur, Ketua OSIS yang kini
berdiri tegak di hadapan Via.
"Nama kamu Via Cemara, kan? Hmm... Nama yang bagus. Aku panggil Via aja ya?" Via
mengangkat wajahnya perlahan. Tetapi kembali tertunduk.
"Maaf, Kak. Via terlambat." Akhirnya Via berani membuka mulut. Sekilas ia menangkap
dua kata yang tertera di atribut cowok itu, Ariel Murion.
"Ya sudah. Kamu boleh masuk. Tapi melapor dulu sama panitia dan tinggalkan atributmu
di sana," Mur menunjuk beberapa siswa yang duduk menghadap meja di pintu aula
sekolah. "Jangan lupa temui aku di ruang sekretariat OSIS pada jam istirahat."
"Terima kasih kak. Permisi!" pamit Via sopan sambil dan beranjak meninggalkan Mur.
Dalam hati ia berjanji suatu saat bisa membalas kebaikan Mur.
Tiga bulan berlalu, via merasa sudah amat banyak yang berubah dalam dirinya sejak
masuk SMU. Ia merasa semakin dewasa dan memiliki makna hidup yang lebih besar.
Kehadiran Mur walau hanya sebagai teman memberinya banyak peluang untuk terlibat
dalam berbagai kegiatan OSIS dan ekstrakurikuler di sekolah ini.
Entah kenapa Via merasa aman dekat dengan Mur. Ia ingin Murlah orang pertama yang
ikut merasakan suka dan dukanya. Teman berbagi yang bisa menemaninya saat ia sedih,
tertawa dan menagis.
Selama ini, mamalah yang menaunginya. Membelainya dan memberinya arti tentang
perjuangan untuk meraih semangat hidup. Sekarang ia sudah dewasa. Bahkan lebih
dewasa dari teman seumurnya. Besok, tanggal 25 Juli, umurnya sudah tujuh belas tahun.
Untuk kesekian kalinya Via mendesah. Tangan mungilnya masih sibuk menggerakkan
sapuan kuas di atas kanvas. Sketsa yang tadi dibuatnya mulai dibentuk menjadi seraut
wajah lelaki setengah baya persis seperti foto yang tergantung di dinding kamarnya. Foto
papa!
TUESDAY, FEBRUARY 22, 2005

»» Ketahuan Nyontek
Ini terjadi waktu saya masih duduk di kelas dua SMU.Pada hari senin, guru ekonomi
mengadakan ulangan mendadak. Seperti biasa semua buku harus dimasukan kedalam tas
dan taruh di laci.Pada pertengahan ulangan, saya sudah mentok,gak bisa mikir ataupun
ngarang-2 jawaban lagi. Saya tengok kekiri, teman saya sedang asik nyontek dari buku,
lalu dengan berbisik saya minta dibagi, dia bilang tunggu yah...Setelah dia selesai
nyontek, dia tuliskan contekan itu disehelai kertas kecil kemudian direcek seperti sampah
lalu dia melemparkan kearah saya. Namun sangat disayangkan lemparannya kurang kuat
jadi gak sampai dibangku saya, saya harus berusaha jongkok untuk mengambil kertas
tsb.Tapi karena saya sambil miring-2, kemudian miring lagi akhir saya terjatuh beserta
bangku saya "GUBRAK!!!" Kelas yg hening seketika langsung kaget kemudian tertawa
terbahak2 melihat saya jatuh untuk mengambil contekan.Otomatis ketahuan sama guru
ekonomi, sambil tertawa dia bilang, "kalo mau nyontek jangan sampe ketahuan satu kelas
donk!!!"Malu banget!!!
Gajah dan Kera
Disebuah hutan yang jauh dari keramaian kota. Ada seekor gajah betina sedang asyik
menikmati makan siangnya dibawah sebuah pohon kelapa.Ketika sedang enaknya
melahap daun muda dari pepohan sekitar pohon kelapa tersebut, datanglah seekor kera
jantan. Kera jantan itu langsung berfikir : "Enak/enggak ya besetubuh dengan yang lebih
besar ?"Diam-diam dihampiri dan langsung disetubuhi gajah tersebut layaknya seekor
kera jantan yang perkasa. Diluar dugaan gajah tersebut mengerang kesakitan, sambil
teriak-teriak. Dan sepe dengan PD-nya si kera berkata : " Sakit ya yang.....sakit ya yang
sabar ya...."Dalam hati si kera : "Ehm Gajah sama gue aja udeh ngerang kesakitan."Eh.
ternyata si kera GR banget.. Si gajah teriak kesakitan karena, pada saat sikera
mengendap-edap mendekati sang gajah, sang kera menginjak sarang semut yang
berakibat kaki si gajah dikerumuti semut. Karena geli tanpa sadar belalai nya terkena
pohon kelapa dan salah satu buahnya jdan jatuh kena kepala sang gajah.
Persahabatan itu Berharga
Posted by geoklik on November 30th, 2009
Sahabat…, kata yang sering kita dengar. Apakah kalian tahu arti dari sahabat? Semua
pendapat orang tentang sahabat berbeda-beda. Menurutku sahabat adalah teman yang
selalu ada saat kita sedang senang maupun sedih. Saat kita sedang senang mereka pun
ikut merasakan kegembiraan, dan saat kita sedih atau punya masalah mereka tetap berada
di dekat kita untuk memberi solusi dan menghibur kita. Bukannya malah meninggalkan
kita dan mencari teman baru.
Pada siang itu Chika baru pulang sekolah, dia sekolah di salah satu SMA yang ada di
kotanya. Dia mempunyai dua orang sahabat, mereka bernama Sinta dan Elsa. Mereka
bertiga sahabatan sudah sejak mereka kecil. Mereka bertiga bersekolah di SMA yang
sama tetapi tidak satu kelas. Meskipun begitu setiap berangkat sekolah, istirahat maupun
pulang sekolah mereka selalu bersama-sama. Bahkan saat membeli baju atau barang-
barang lainnya mereka selalu kompak. Sepulang sekolah mereka biasanya bersantai di
rumah salah satu diantara mereka. Di waktu malam minggu pun saat cewek-cewek seusia
mereka keluar sama pacar-pacarnya mereka bertiga malah asyik ngumpul sambil minum
teh. Itu sudah menjadi kebiasaan mereka bertiga. Bukannya gak punya pacar tapi mereka
lebih mementingkan persahabatan mereka. Pacar mereka bisa ngertiin masalah itu.
Mereka gak ingin persahabatan mereka bubar Cuma gara-gara cowok. Bagi mereka
persahabatan mereka lebih penting dari pada urusan cowok.
Diantara mereka bertiga Elsa yang paling nakal sendiri. Tanpa sepengetahuan Chika dan
Sinta ternyata Elsa sering keluar sama cowok lain tetapi bukan pacar Elsa. Dan cowok
itu membawa pengaruh buruk / negatif buat Elsa. Semenjak Elsa dekat dengan cowok itu,
sebut saja Dimas, Elsa jarang berkumpul menemui Chika dan Sinta. Elsa juga jarang
masuk sekolah tanpa alasan, dengan kata lain dia sering membolos. Chika dan Sinta
bingung kenapa Elsa sekarang berubah. Akhirnya Chika dan Sinta datang ke rumah Elsa,
tetapi yang ada hanya adiknya. Mereka menanyakan keberadaan Elsa kepada adiknya.
”Siang dik, kak Elsanya ada?” tanya Sinta.
”Kak Elsa belum pulang kak, masih sekolah”.
”Oh, ya udah, nanti kalau kak Elsa sudah pulang, tolong bilangin kalau tadi kak Chika
sama kak Sinta kesini!”
”Iya kak…”.
Mereka kaget saat adiknya menjawab kalau Elsa sedang sekolah dan belum pulang.
Akhirnya mereka pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan bingung.
Keesokan harinya Chika dan Sinta berangkat sekolah bersama. Mereka lewat depan
rumah Elsa, mereka kaget, ternyata di depan rumah Elsa ada Dimas. Tak lama kemudian
Elsa keluar dan berboncengan dengan Dimas. Dimas dan Elsa memakai seragam sekolah.
Chika dan Sinta membuntuti Dimas dan Elsa. Setelah sampai pertigaan menuju sekolah
mereka, Dimas dan Elsa malah belok.
Cerpen Pahlawan
January 31st, 2010 by Raden Beletz

Cerpen Pahlawan. “Paman yakin tidak mau diantar?” Aku


bertanya meski kusadari pertanyaan itu barangkali sekadar basi-basi.
“Ndak usah repat-repot, To, … Paman masih kuat jalan sendirian, kok. Dulu, semasa perang
Agresi Kedua Paman terbiasa berjalan kaki keluar masuk hutan, naik turun gunung,
mengirim pesan rahasia untuk para gerilyawan.”

“Itu ‘kan dulu, sekarang Paman sudah …”

“Jangan bilang ‘tua’, Mantho, … Purnawirawan!” selipnya cepat.

“Iya, ya, … maksudku begitu, Paman.”

Sungguh menggelikan. Tak mau disebut ‘orang tua’ namun rambut di kepalanya seratus
persen telah beruban. Kulitnya pun keriput membungkus tulang. Dan yang turut
mempertegas ketuaannya adalah gigi di mulutnya ternyata tinggal empat buah. Dua di atas
dan sisanya melekat di email bawah. Sehingga bila sedang mengunyah makanan, atau
kebetulan Sang Purnawirawan itu tertawa, maka akan tampak lesungan besar di belahan
pipinya yang tak lagi mengencang.

Sungguh pun demikian, diusianya yang telah melewati kepala tujuh, Paman masih terlihat
bugar dan energik walau gerak langkah kakinya mulai melambat.
Cerpen: Pulang Kampung
Posted on 24/03/2009 by Emha Irsani
21 Votes

By : Fachruddin Mangun Jaya

Sudah tujuh tahun aku tidak pulang, Aku rindu kampung halaman, mencium lagi
semerbaknya bunga hutan, melihat rimbunnya semak di belakang rumah,
ramainya kicau burung liar setiap bangun pagi, semuanya membangkitkan
ingatanku kembali. Di belakang rumah panggung yang menjadi cirri khas rumah
Kalimantan ada anak sungai yang mengalir deras dan dingin. Warna air kali kecil
ini berwarna oranye kecoklatan seperti air teh. Hal ini terjadi karena pengaruh
endapan serasah dan akar kayu-kayu hutan tropis di sebellah hulu sana.
Ketika musim hujan tiba, anak sungai ini meluap deras. Bersama teman-teman
lain aku bersenang-senang menikmati alam: terjun bebas dari tebing pasir terjal
menyebur ke sungai yang dalam. Lalu dengan sepotong papan, kami
menghanyutkan diri, menggiring arus yang deras kearah hilir sungai. Hiruk pikuk
bersama lima atau enam rombongan anak-anak membiarkan arus membawa
kami beriringan (konvoi) sehingga berkilo-kilo jaraknya. Kami mandi mengobok-
obok ai
Hati Ibu - Cerpen Hari Ibu

Aku melangkah tergesa. Tak sabar agar segera sampai di rumah. Dalam
benakku tergambar senyum mengambang di bibir Ayah. Membayangkan
senyum Ayah kedua kaki jenjangku semakin gesit berloncatan.“Aku menang
lomba menulis cerpen, yah,” ucapku begitu menginjak teras sambil memamerkan
piala di tanganku.Ayah menurunkan koran yang sedang dibacanya lalu
menatapku sebentar, setelah itu membaca lagi.Melihat wajah datar Ayah
senyum di bibirku surut. Bergegas aku masuk rumah, menemui ibu.“Ibu,”
panggilku.

Tidak ada jawaban.

“Ibu,” ulangku.

Masih bisu. Kucari ke kamar, tak ada, di dapur aku juga tak menemukan ibu.

Kutinggalkan dapur lalu masuk kamar. Kutaruh piala kuning keemasan itu di atas
meja belajarku. Kurebahkan tubuh di kasur sambil memejamkan mata. Tapi baru
beberapa menit aku rebahan sepasang telingaku mendengar suara ibu dari luar.

“Dira mau hadiah apa?”

“Dira minta dibelikan sepeda motor,” suara Dira, kakakku.

“Keinginanmu nanti ibu sampaikan pada ayah,” sahut ibu.

“Dengan atau tanpa persetujuan ayah Dira harus punya motor,” Dira ngotot.

Pelan-pelan kuseret langkah ke luar kamar. “Ibu, dari mana?” tanyaku.

“Dari MP. Dira juara satu lomba fashion di Mall Pekanbaru,” kata ibu dengan
mata berbinar.

Aku tersenyum sambil menyalami Dira.

“Itu apa?” tanya ibu melihat piala di tanganku.

“Farah juara dua lomba menulis cerpen antar fakultas,” kataku.

Ibu diam.

“Boleh di pajang di lemari depan, Bu?”

Ibu menggeleng, “Disimpan di kamar saja. Lemari depan khusus tempat piala-
piala milik Dira,” tegas ibu.

Ada perih di ujung hatiku.

Beberapa hari setelah kejadian itu aku membawa satu tas besar pakaian untuk
menginap di kost Ummu, teman serujusanku. Jarak kost Ummu hanya beberapa
meter dari kampus.

“Sudah bilang sama ibu mau nginap di sini?” tanya Ummu.

Aku menggeleng, “Ibu tidak akan kehilangan meskipun aku mati.”

“Jangan bicara seperti itu.”


Cerpen Pendidikan - Mendulang Harta

Hari panas terik. Sang surya bersinar dengan ganasnya. Membuat ubun-ubun
terasa mendidih. Aris mempercepat langkah menuju rumahnya. Akhirnya sampai
juga. Dia duduk melepas lelah sambil membuka sepatunya.

‘’Huh, lega rasanya,’’ ia menghela napas dan beranjak masuk ke dalam. Baru
saja melangkahkan kaki ke dalam rumah, ia menemukan uang berserakan di
lantai.

‘’Hah, uang apa pula ini Mak,’’ katanya heran. Tentu saja dia heran. Di zaman
serba sulit ini uang dibiarkan berserakan di lantai begitu saja. ‘’Untung aku bukan
maling yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah,’’ pikirnya nakal.

“Uang punya Mak. Berikan sama Mak. Bapak mau keluar,’’ sahut bapak.

‘’Hmm, Mak sudah punya uang sekarang. Jadi, aku bisa minta uang untuk
membayar uang les dan LKS,’’ pikirnya.

‘’Maaak, Oo Maaak,’’ panggil Aris.

‘’Ada apa Ris. Ganggu orang saja kamu ini,’’ kata maknya jengkel.

Lalu Aris menyerahkan uang tersebut pada maknya. Ia menjelaskan bahwa uang
les dan LKS-nya belum dibayar. Sedang pihak sekolah sudah beberapa kali
menagihnya. Tapi bukannya diberi uang, dia malah dimarahi oleh maknya.

‘’Saya heran dengan sekolah kamu itu. Banyak sekali tetek bengek yang harus
dibayar. Kan ada dana BOS. Untuk apa dana BOS itu? Sudahlah, tidak usah
kamu sekolah. Buang-buang uang saja. Sekarang karet itu tidak berharga,
tahu?’’ Katanya dengan muka merah menyala.

Aris sudah menjelaskan bahwa dana BOS itu tidak mencukupi, karena
sekolahnya hanya sekolah swasta dan banyak memakai tenaga honor. Tapi
maknya tidak mau tahu dengan semua itu. Dia malah menyuruh Aris cari uang
sendiri. Kemanakah uang kan dicarinya? Ah, Emak tak mengertilah dengan
pendidikan. Padahal pendidikan itu sangat penting. Dengan pendidikan kita akan
bisa menatap masa depan yang gemilang.

‘’Buat apa kamu sekolah? Lihat itu hah, banyak yang sekolah tinggi, tapi
akhirnya cuma jadi pengangguran, kan? Jadi buat apa sekolah?’’ tambah
maknya lagi. Aris lebih memilih diam dari pada menjawab omongan maknya. Ia
menyayangkan kenapa maknya mempunyai pola pikir yang terbelakang seperti
itu? Sekarang orang berlomba-lomba mencari ilmu, tapi mak malah
melarangnya.

‘’Mak... mak, mengapa Emak lebih suka mengumpulkan uang, beli emas, dan
membanggakan diri pada orang lain dari pada menyekolahkan kami anak-anak
mak. Itu akan lebih bermanfaat,’’ gumamnya dalam hati.

Aris sudah lelah mendengarkan omelan emaknya itu. Dia keluar dan pergi entah
ke mana. Sedangkan si Lina, adiknya baru saja pulang dari sekolah SMP yang
tidak jauh dari rumahnya. Setibanya di rumah, mak menyuruhnya mandi dan
berpakaian yang bagus. Tidak biasanya mak seperti ini. Ternyata si Lina akan
dilamar oleh Pak Anto duda kaya yang tinggal di desa sebelah. Tentu saja Lina
menolak dengan keras semua itu. Namun, mak tetap bersikeras dengan
kemauannya. Ia sama sekali tidak memikirkan bahwa anaknya itu di bawah umur
untuk menikah. Apalagi akan dinikahkan dengan seorang duda. Ah, benar-benar
tidak masuk akal.
Antara Jatuh Cinta dan Patah Hati.

by nietha

Mungkin hanya orang bodoh yang tak bisa membedakan apa itu jatuh cinta dan
apa itu patah hati. Jatuh cinta itu indah, berbunga-bunga, selalu ngebuat kita
tersenyum sementara patah hati???? Sesak, patah, perih, gundah dan entah
kata-kata apa yang bisa mendiskripsikannya. Tapi…. Tak ingatkah kalian???
Antara beci dan cinta itu beda tipis, bahkan lebih tipis daripada kulit bawang. Aku
meyakini hal itu. Dan aku juga yakin anatar jatuh cintaku dan patah hatiku
mungkin juga sulit dibedakan.

Berawal dari sebuah cerita. Seorang Adam yang seperti biasanya kebanyakan
Adam – Adam yang lain, begitu pintarnya Para Adam meyakinkan Hawa, akan
segala cinta kasihnya yang mereka akui itu tulus adanya. Aku tak pernah
menyalahkan kaum Adam yang kadang terlalu berlebihan mendiskripsikan cinta
(maaf buat para cowok, emang bener kan kalau cowok ntu suka merayu alais
negombal gitu…heheheheh) yang ngebuat kita (Para Hawa) merasa terbang
terbuai mendengarnya.

Aku…. Terbuai dengan ucapan dan bujuk rayunya dalam alam maya yang aku
sadar juga kalau yang namanya maya, sulit sekali buat menjadi nyata karena
emang dia tercipta berawal maya, salahku juga sich menganggapnya nyata. Aku
kenalan dengan dia via chat with MIRC, hehehhehe… bodoh juga aku, percaya
ma ucapan-ucapannya yang cuman terpampang jelas dilayar monitor, bukan dari
hatinya. Setelah barter pick masing, masing akhirnya kita ketemuan dan
hubungan itupun berlanjut seperti biasa, kami masih sering berpacaran via
chating, dunia maya yang aku sebutt tadi.Waktu itu aku belum terbuai, dan aku
ga’ ngerasa apa2, makanya aku jalan terus aja dengan permainannya karena
aku yakin”aku tidak jatuh cinta” Dan pertemuan keduapun terjadi, dia dating tidak
dengan tangan kosong, dia dating bersama mantannya, bersama mantannya
menemuiku…..Oh Tuhan…. Dadaku sesak, aku ga tahu perasaan apa ini???
Apakah aku patah hati???? Tapi aku tak merasa pernah jatuh cinta, dan
bukankan patah hati itu selalu berawal dari jatuh cinta????

Waktu itu, aku cuman terpaku, terdiam ,berusaha menyembunyikan sesak yang
bergemuruh dihatiku dari sahabat terbaikku yang saat itu juga melihat semua
kejadian yang aku alami. Aku seakan dijatuhkan dari balon udara yang baru saja
nerbangin aku menuju nirwana cinta yang agung. Aku ga’ bisa nangis, entah
karena ketegaranku atau emang karena aku tak tahu sebenernya perasaan apa
yang aku alami ini. Tapi yang jelas aku sadar disaat aku merasa jatuh cinta
disaat itu pula aku patah hati. Atau aku hanya merasa terselip