P. 1
Profil Badan Lainnya Dalam Keuangan Negara

Profil Badan Lainnya Dalam Keuangan Negara

|Views: 1,340|Likes:
Dipublikasikan oleh Ahmad Abdul Haq
Dalam rangka penyajian informasi yang memadai tentang Badan Lainnya Dalam Keuangan Negara, Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Ditjen Perbendaharaan telah menyusun Profil Badan Lainnya Dalam Keuangan Negara.
Dalam rangka penyajian informasi yang memadai tentang Badan Lainnya Dalam Keuangan Negara, Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Ditjen Perbendaharaan telah menyusun Profil Badan Lainnya Dalam Keuangan Negara.

More info:

Published by: Ahmad Abdul Haq on Dec 16, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/24/2013

pdf

text

original

Kementerian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Perbendaharaan Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan

PROFIL BADAN LAINNYA DALAM KEUANGAN NEGARA

Gedung Prijadi Praptosuharjo III Jalan Budi Utomo No. 6 Jakarta Pusat Telp./Fax. : 021-3800275, 021-3520028

PENGANTAR

Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengatur ruang lingkup Keuangan Negara termasuk dari pendekatan obyek dan subyek. Keuangan Negara dari sisi obyek meliputi semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kebijakan dan kegiatan dalam bidang fiskal, moneter, dan pengelolaan kekayaan negara yang dipisahkan, serta segala sesuatu baik berupa uang, maupun barang yang dapat dijadikan milik negara berhubung dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut. Keuangan Negara dari sisi subyek meliputi seluruh obyek sebagaimana tersebut di atas yang dimiliki negara dan/atau dikuasai oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Perusahaan Negara/Daerah, dan badan lain yang ada kaitannya dengan Keuangan Negara. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara

mengamanatkan Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Pengguna Anggaran menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan aset, utang, dan ekuitas dana, termasuk transaksi pendapatan dan belanja, yang berada dalam tanggung jawabnya. Akuntansi tersebut digunakan untuk menyusun Laporan Keuangan Pemerintah Pusat sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan. Laporan Keuangan tersebut merupakan bentuk pertanggungjawaban Menteri/Pimpinan Lembaga atas pelaksanaan anggaran yang berada dalam penguasaannya kepada Presiden yang disampaikan melalui Menteri Keuangan. Dalam operasional pelaksanaan anggaran dan kegiatan untuk mencapai tujuan Kementerian/Lembaga, Pengguna Anggaran tersebut mendelegasikan kewenangannya kepada Kuasa Pengguna Anggaran. Secara kelembagaan, Pengguna Anggaran melekat ke dalam jabatan Menteri/Pimpinan Lembaga yang ada di Pemerintah Pusat, sementara Kuasa Pengguna Anggaran melekat pada pimpinan unit vertikal yang secara struktural berada di bawah Kementerian/Lembaga. Selain Kementerian/Lembaga yang diuraikan di atas, terdapat Badan Lainnya yang menggunakan dana dari APBN, tetapi badan tersebut tidak berada secara struktural dalam kelembagaan Pemerintah Pusat, misalnya Lembaga Non Struktural, Yayasan Pemerintah, dan Badan Hukum Milik Negara. Badan lainnya tersebut dibentuk pemerintah untuk mendukung fungsi Kementerian/Lembaga atau membantu pemerintah menangani masalah yang belum bisa dilaksanakan dan diselesaikan oleh lembaga negara formal, dapat terdiri dari unit-unit yang independen dari Kementerian/Lembaga dan kelembagaan yang bersifat ad hoc atau tetap. Nomenklatur Badan Lainnya tersebut antara lain akademi, badan, dewan, komisi, komite, konsil, korps, lembaga, otorita, dan unit kerja.

Eksistensi dan fungsi Badan Lainnya diatur dalam Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Presiden, atau Keputusan Presiden. Badan Lainnya memiliki sekretariat yang pendanaan kegiatannya sebagian besar berada di Kementerian/Lembaga, baik sebagai satuan kerja sendiri maupun sebagai bagian dari kegiatan Kementerian/Lembaga. Pegawai sekretariat sebagian atau seluruhnya merupakan pegawai negeri yang berasal dari Kementerian/Lembaga terkait. Berdasarkan uraian di atas, Badan Lainnya tersebut harus menyusun Laporan Keuangan sebagai bentuk pertanggungjawaban penggunaan alokasi dana dari APBN dan digabungkan ke dalam Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga sebagai Pengguna Anggaran. Oleh sebab itu, sebagai entitas akuntansi sebagaimana diatur dalam PP 8/2006, tentang Pelaporan Keuangan dan Kinerja Instansi Pemerintah, Badan Lainnya diwajibkan menyampaikan Laporan Keuangan dan Kinerja sekurang-kurangnya setiap semester kepada Menteri/Pimpinan Lembaga. Meskipun pertanggungjawaban pelaksanaan APBN Badan Lainnya telah

dikonsolidasikan dalam Laporan Kementerian/Lembaga, gambaran tentang Badan Lainnya itu sendiri dalam Laporan Kementerian/Lembaga belum terungkap secara jelas. Oleh sebab itu, Kementerian Keuangan telah menyajikan pertanggungjawaban keuangan Badan Lainnya secara khusus dalam bentuk Ikhtisar Laporan Keuangan Badan Lainnya yang merupakan lampiran Laporan Keuangan Pemerintah Pusat, sehingga transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan Badan Lainnya tersebut dapat diketahui oleh stakeholders. Saat ini informasi mengenai keberadaan Badan Lainnya belum banyak diketahui publik. Berdasarkan penelitian atas peraturan perundang-undangan terkait pembentukan lembaga pemerintah, sampai dengan 30 Juni 2010 Kementerian Keuangan menemukan sebanyak 100 Badan Lainnya. Dari jumlah tersebut, tercatat 73 Lembaga Non Struktural yang masih beroperasi (aktif), sedangkan 27 lembaga tidak beroperasi (tidak aktif). Terkait dengan hal tersebut, kami merasa perlu menyusun profil Badan Lainnya yang memuat profil seluruh Badan Lainnya yang mencakup dasar hukum, sifat dan kedudukan, tujuan pendirian, tugas, fungsi, keanggotaan, susunan organisasi, instansi terkait, sumber dana, dan informasi keuangan. Keberadaan Profil Badan Lainnya ini ditujukan untuk menyajikan informasi yang memadai tentang Badan Lainnya, sehingga diharapkan pula dapat menjadi media dalam rangka mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan Keuangan Negara di Badan lainnya. Kami menyadari bahwa Profil Badan lainnya masih memerlukan penyempurnaan. Oleh karena itu kami mengharapkan masukan yang konstruktif dari pengguna profil ini sehingga kami dapat menyempurnakan Profil Badan Lainnya di masa yang akan datang.

Semoga usaha kita bersama dalam mewujudkan pengelolaan Keuangan Negara yang transparan dan akuntabel diridhoi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa

Jakarta,

2010

Direktur Akuntansi dan Pelaporan Keuangan

Sonny Loho NIP. 195706011979111001

Profil Badan Lainnya dalam Keuangan Negara

DAFTAR ISI
BAGIAN I - Lembaga Non Struktural
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27. 28. 29. 30. 31. 32. 33. 34. 35. 36. 37. 38.
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Badan Pengatur Hilir Migas (BPH MIGAS) Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas SABANG (BPKS) Badan Pengelola Dana Abadi Umat (BP DAU) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan-PNS (BAPERTARUM-PNS) Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK) Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPP-SPAM) Badan Perlindungan Konsumen Nasional RI (BPKN) Badan Pengelola KAPET Bandar Aceh Darussalam-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Khatulistiwa-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET DAS KAKAB-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Sasamba-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Batulicin-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Parepare-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Bukari-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Batui-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Manado-Bitung Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Bima-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Mbay-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Seram-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Biak-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Badan Koordinasi Keamanan Laut (BAKOR KAMLA) Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) Badan Wakaf Indonesia (BWI) Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI) Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU) Dewan Pers Dewan Gula Indonesia (DGI) Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) Dewan Pertimbangan Presiden (WANTIMPRES) Dewan Riset Nasional (DRN) Dewan Kelautan Indonesia (DEKIN) Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DETIKNAS) 1 3 6 8 10 12 14 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 35 37 39 41 43 45 46 48 50 52 54 56 57 59 61 63 65 67 68 70 72

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

i

Profil Badan Lainnya dalam Keuangan Negara

39. 40. 41. 42. 43. 44. 45. 46. 47. 48. 49. 50. 51. 52 53. 54. 55. 56. 57. 58. 59. 60. 61. 62. 63. 64. 65. 66. 67. 68. 69. 70. 71. 72. 73.

Dewan Pengupahan Nasional (DEPENAS) Dewan Penerbangan Antariksa Nasional RI (DEPANRI) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KOMNAS PEREMPUAN) Komisi Kejaksaan Replublik Indonesia Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Komisi Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Komisi Nasional Lanjut Usia (KOMNAS LANSIA) Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Komisi Banding Merek Komisi Banding Paten Komisi Hukum Nasional (KHN) Komisi Kepolisian Nasional (KOMPOLNAS) Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran (KSNSU) Komite Akreditasi Nasional (KAN) Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI) Komite Privatisasi Perusahaan Perseroan (PERSERO) Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza (KOMNAS FBPI) Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Lembaga Sensor Film (LSF) Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Lembaga Kerjasama Tripartit (LKS TRIPARTIT) Lembaga Produktivitas Nasional (LPN) Otorita Asahan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Batam (BP BATAM) Sekretariat Pengadilan Pajak Staf Khusus Presiden Unit kerja presiden bidang pengawasan dan pengendalian pembangunan (UKP-PPP)

74 76 77 79 81 83 85 87 89 91 93 95 97 99 101 103 105 107 109 111 113 114

116 118 120 122 124 126 128 129 131 133 136 138 139

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

ii

Profil Badan Lainnya dalam Keuangan Negara

BAGIAN II - Yayasan di Lingkungan K/L
1. 2. 3.
Yayasan Harapan kita Badan Pengelola dan Pengembangan TMII Yayasan Sarana Wana Jaya Badan Pengelola Gedung Manggala Wanabakti Yayasan Gedung Veteran Republik Indonesia 1 4 6

BAGIAN III - Badan Hukum Milik Negara (BHMN)
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.
Universitas Airlangga (UNAIR) Universitas Gadjah Mada (UGM) Universitas Indonesia (UI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Universitas Sumatera Utara (USU) Institut Pertanian Bogor (IPB) Institut Teknologi Bandung (ITB) Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP MIGAS) 1 8 18 25 31 37 42 46

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

iii

Profil Badan Lainnya dalam Keuangan Negara

BAGIAN IV - Lembaga Non Struktural Belum Aktif
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. 27.
Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian Pembangunan Perumahan dan Pemukiman Nasional (BKP4N) Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu (BAKOSUPAL) Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Badan Pengembangan Wilayah Surabaya - Madura (BP SURAMADU) Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional (BPKN) Dewan Buku Nasional (DBN) Dewan Energi Nasional (DEN) Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Karimun Dewan Nasional Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (Dewan Nasional) Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (DN KEK) Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia (DPKTI) Dewan Sumber Daya Air Nasional (DSDAN) Komisi Informasi Pusat (KIP) Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik (KKH PRG) Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) Komite Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Buruk Untuk Anak (KAN-PBPTA) Komite Antar Kementerian Bidang Kehutanan Komite Ekonomi Nasional (KEN) Komite Inovasi Nasional (KIN) Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) Komite Pengarahan Reformasi Birokrasi Nasional (KPRBN) Lembaga Koordinasi dan Pengendalian Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan (MDTK) 3 4 6 8 10 12 14 15 16 17 19 20 22 24 26 27 30 31 33 35 37 39 40 42 44 45 1

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

iv

Realisasi Anggaran Lembaga Non Struktural/Independen Total Aset Per 31 Desember 2009
NO 1 NAMA LEMBAGA 2 APBN 3 JUMLAH REALISASI 4 TOTAL ASET 5 NON APBN 6 Konsolidasi ke BA 7 Ket 8

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73

Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Badan Pengatur Hilir Migas (BPH MIGAS) Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas SABANG (BPKS) Badan Pengelola Dana Abadi Umat (BP DAU) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (BAPERTARUM-PNS) Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK) Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPP-SPAM) Badan Perlindungan Konsumen Nasional RI (BPKN) Badan Pengelola KAPET Bandar Aceh Darussalam-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Khatulistiwa-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET DAS KAKAB-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Sasamba-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Batulicin-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Parepare-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Bukari-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Batui-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Manado-Bitung -Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Bima-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Mbay-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Seram-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Pengelola KAPET Biak-Pembinaan Manajemen Pengelolaan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Badan Koordinasi Keamanan Laut (BAKOR KAMLA) Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) Badan Wakaf Indonesia (BWI) Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI) Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU) Dewan Pers Dewan Gula Indonesia (DGI) Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) Dewan Pertimbangan Presiden (WANTIMPERS) Dewan Riset Nasional (DRN) Dewan Kelautan Indonesia (DEKIN) Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DETIKNAS) Dewan Pengupahan Nasional (DEPENAS) Dewan Penerbangan Antariksa Nasional RI (DEPANRI) Komisi Nasional Anti Kekerasan Tehadap Perempuan (KOMNAS PEREMPUAN) Komisi Kejaksaan Republik Indonesia Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Komisi Ombudsman Replublik Indonesia (ORI) Komisi Nasional Lanjut Usia (KOMNAS LANSIA) Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Komisi Banding Merek Komisi Banding Paten Komisi Hukum Nasional (KHN) Komisi Kepolisian Nasional (KOMPOLNAS) Komisi Penaggulanggan AIDS Nasional (KPAN) Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran (KSNSU) Komite Akreditasi Nasional (KAN) Komite Standar Akuntansi Pemerintahan (KSAP) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Komite Kebijakan Percepatan Penyedian Infrastruktur (KKPPI) Komite Privatisasi Perusahaan Perseroan (PERSERO) Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Koprs Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Lembaga Sensor Film (LSF) Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Lembaga Kerjasama Tripartit (LKS TRIPARTIT) Lembaga Produktivitas Nasional (LPN) Otorita Asahan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP BATAM) Sekretariat Pengendalian Pajak Staf Khusus Presiden Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP-PPP)
JUMLAH

4,324,662 222,683,087 421,500,000 138,050 773,227 24,976,948 6,637,998 2,500,000 1,000,000 1,227,460 2,850,000 1,000,000 1,500,000 28,000,000 131,378,895 1,164,900 3,268,925 1,000,000 15,000,000 1,829,123,000 14,769,161 1,034,900 5,225,000 2,765,000 31,918,046 4,970,887 9,500,000 3,000,000 383,210 150,000 8,998,941 5,712,934 82,089,300 22,380,488 15,616,835 3,522,705 7,712,000 757,600 10,647,029 13,136,643 24,718,559 175,000 5,381,669 3,896,140 6,100,000 15,007,758 675,000 608,739 16,382,328 27,393,000 3,805,630 17,505,420 550,000,000 600,000,000 761,475 212,621,526 61,828,768 4,280,971 8,548,937 4,504,028,751

3,064,550 628,998 170,838,298 662,950,527 398,880,691 835,294,241 138,050 - 5,502,272,009 725,913 22,751,202 6,627,733 2,255,801 2,349,699 902,461 1,213,365 2,787,244 1,394,988 894,188 1,369,384 21,007,634 5,100,593 120,376,883 206,202,008 1,140,214 1,164,900 3,268,872 2,192,879 949,600 14,999,000 50,207,269 1,541,028,331 14,063,977 12,342,830 3,418,976 863,498 4,059,164 96,400 1,356,148 24,118,984 7,768,048 4,872,515 40,093 9,061,864 997,359 1,170,871 380,290 99,500 6,879,089 8,065,459 3,180,348 2,911,052 55,651,219 205,434,220 19,149,313 7,167,994 8,593,422 2,728,431 3,321,125 602,792 6,849,348 3,727,870 89,769 8,208,369 1,142,671 12,836,002 4,571,085 16,718,392 16,100,726 175,000 3,657,397 3,313,267 409,208 6,099,960 13,982,764 13,279,227 606,004 1,961,670 12,577,840 31,570 23,999,229 8,506,534 3,801,669 37,180 15,988,544 15,229,928 19,436,339 534,588,966 1,615,340,242 559,022,853 3,304,324,065 493,409 207,454,239 14,272,714,833 22,387,871 11,090,559 1,553,601 3,189,299 3,375,087 3,921,974,275 26,819,641,819

1,549,610,795 79,966 7,315,211 45,313,713 52,628,924

007 020 999 025 025 048 024 090 033 033 033 033 033 033 033 033 033 033 033 033 033 026 034 055 025 040 025 999.06 059 018 044 018 010 007 042 032 059 026 082 074 006 090 059 007 027 047 013 013 007 060 036 084 084 015 092 022 055 041 024 024 999 040 999 999 026 026 999 013 007

DASAR HUKUM LEMBAGA NON STRUKTURAL DASAR HUKUM UU
8/1990 22/2001 37/2000 17/1999 38/1999 4/1992

No.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73

NAMA INSTITUSI
Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Badan Pengatur Hilir Migas (BPH MIGAS) Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas SABANG (BPKS) Badan Pengelola Dana Abadi Umat (BP DAU) Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil (BAPERTARUM-PNS) Badan Pertimbangan Kepegawaian (BAPEK) Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum (BPP-SPAM) Badan Perlindungan Konsumen Nasional RI (BPKN) Badan Pengelola KAPET Bandar Aceh Darussalam-PMP Badan Pengelola KAPET Khatulistiwa-PMP Badan Pengelola KAPET DAS KAKAB (Daerah Aliran sungai Kahayan, Kapuas & Barito)-PMP Badan Pengelola KAPET SASAMBA(Samarinda, Sanga-Sanga, Muara Jawa & Balikpapan)PMP Badan Pengelola KAPET Batulicin-PMP Badan Pengelola KAPET Parepare-PMP Badan Pengelola KAPET BUKARI (Buton, Kolaka & Kendari)-PMP Badan Pengelola KAPET Batui-PMP Badan Pengelola KAPET Manado-Bitung-PMP Badan Pengelola KAPET Bima-PMP Badan Pengelola KAPET Mbay-PMP Badan Pengelola KAPET Seram-PMP Badan Pengelola KAPET Biak-PMP Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) Badan Koordinasi Keamanan Laut (BAKOR KAMLA) Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional (BKPRN) Badan Wakaf Indonesia (BWI) Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N) Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal (BPPMI) Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU) Dewan Pers Dewan Gula Indonesia (DGI) Dewan Koperasi Indonesia (DEKOPIN) Dewan Ketahanan Pangan (DKP) Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) Dewan Pertimbangan Presiden (WANTIMPRES) Dewan Riset Nasional (DRN) Dewan Kelautan Indonesia (DEKIN) Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional (DETIKNAS) Dewan Pengupahan Nasional (DEPENAS) Dewan Penerbangan Antariksa Nasional RI (DEPANRI) Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (KOMNAS PEREMPUAN) Komisi Kejaksaan Republik Indonesia Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Komisi Ombudsman Republik Indonesia (ORI) Komisi Nasional Lanjut Usia (KOMNAS LANSIA) Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Komisi Banding Merek Komisi Banding Paten Komisi Hukum Nasional (KHN) Komisi Kepolisian Nasional (KOMPOLNAS) Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran (KSNSU) Komite Akreditasi Nasional (KAN) Komite Standar Akuntansi Pemerintahan ((KSAP) Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur (KKPPI) Komite Privatisasi Perusahaan Perseroan (PERSERO) Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI) Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Lembaga Sensor Film (LSF) Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI) Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Lembaga kerjasama Tripartit (LKS TRIPARTIT) Lembaga Produktivitas Nasional (LPN) Otorita Asahan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP BATAM) Sekretariat Pengadilan Pajak Staf Khusus Presiden Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP-PPP)

PP
67/2002

Keppres
28/2002

Perpres

BA Terkait
007 020 999 025 025 048 024 090 033 033 033 033 033 033 033 033 033 033 033 033 033 026 034 055 025 040 025 999.06 059 018 044 018 010 007 042 032 059 026 082 074 006 090 059 007 027 047 013 013 007 060 036 084 084 015 092 022 055 041 024 024 999 040 999 999 026 026 999 013 007 007

22/2001 103/2004 14/1993 71/1998 16/2005 171/1998 13/1998 170/1998 12/1998 11/1998 164/1998 168/1998 167/1998 14/1998 166/1998 15/1998 165/1998 10/1998 23/2004 61/2005 4/2009

41/2004 8/1992 22/2007 40/1999 25/1992

42/2006 8/1994 165/1998 134 M/2003 63/2003 21/1997 132/2001 96 M/2000

19/2006 16/2005 21/2007 20/2006 107/2004 99/1993 65/2005 75/1999 44/2000 52/2004 77/2003 14/2001 14/2001 40/2005 40/2005 15/2000

28/2005 10/2007

13/2003 7/1984, 5/1998 16/2004 5/1999 32/2002

181/1998 18/2005

17/2005 75/2006 102/2000 102/2000 17/2003, 1/2004 79/2001 78/2001 3/2009 43/1984, 165/2000 105/1999 42/2005 19/2003 29/2004 82/1971, 93/2001 24/2004 8/1992 32/2005 32/2002 13/2003 13/2003 32/2005 7/1994 13/2002 12/2005 8/2005 50/2005 46/2007 14/2002 5/1976 41/1973 83/2003, 41/1997 40/2005 54/2009 33/2005 18/2006 7/2006

BAGIAN I LEMBAGA NON STRUKTURAL

Lembaga Non Struktural

AKADEMI ILMU PENGETAHUAN INDONESIA (AIPI)

Dasar Hukum
 Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1990 disahkan pada tanggal 13 Oktober 1990 dan anggotaanggotanya dilantik pada 16 November 1991. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1991 tentang Pengelolaan Bantuan Pemerintah yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara untuk Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, ditetapkan tanggal 1 Juni 1991. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 77 Tahun 1993 tentang Tunjangan Jabatan bagi Anggota Kehormatan, Anggota Biasa, dan Sekretaris Jenderal Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, ditetapkan tanggal 18 Agustus 1993. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2002 tentang Pengesahan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia, ditetapkan tanggal 6 Mei 2002.

Tujuan Pendirian
AIPI bertujuan menghimpun ilmuwan Indonesia terkemuka untuk memberikan pendapat, saran dan pertimbangan atas prakarsa sendiri dan/atau permintaan, mengenai penguasaan, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi kepada Pemerintah serta masyarakat untuk mencapai tujuan nasional. Pendapat itu selalu mengutamakan :  Nilai dan cita-cita yang terkandung dalam Pancasila dan UUD 1945;  Nilai kemanusiaan;  Kesadaran dan tanggung jawab etik;  Peningkatan kualitas manusia dan kehidupan masyarakat;  Keutuhan kepribadian bangsa;  Keseimbangan lingkungan hidup dalam pembangunan yang berkelanjutan.

Struktur Organisasi
      Pimpinan (Ketua dan Wakil Ketua); Anggota; Badan Pekerja; Sekretaris Jenderal; Komisi; Kepanitiaan.

Sifat dan Kedudukan
    Mandiri dan Non Struktural, Bukan merupakan Badan Pemerintah atau bagian dari Badan tersebut; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab Kepada Presiden; Lembaga ini didirikan sebagai wadah para pakar berbagai disiplin ilmu terpilih di Indonesia. Di sini para pakar dapat mendiskusikan masalah sains, rekayasa, kedokteran, sosial, ekonomi, dan kebudayaan.

Saat ini, Akademi mempunyai 6 Komisi yaitu: Komisi Bidang Ilmu Pengetahuan Dasar, Komisi Bidang Ilmu Rekayasa, Komisi Bidang Ilmu Kedokteran, Komisi Bidang Ilmu Sosial, dan Komisi Bidang Kebudayaan.

Peran dan Fungsi
AIPI berperan mengkaji, memantau, menilai, menyusun arah, dan memecahkan masalah yang berkaitan dengan penguasaan, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Untuk dapat melaksanakan peran tersebut, AIPI berfungsi :  Menghimpun dan mengkaji bahanbahan yang dipandang perlu;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

1

Lembaga Non Struktural

  

Memantau kegiatan, pertumbuhan, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, di dalam dan di luar negeri; Melakukan penilaian mengenai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; Menyusun arah penguasaan, pengembangan, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pemecahan masalah yang berkaitan; Melakukan upaya lain yang bersifat mendasar dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Usaha Lain yang Sah.

Informasi Keuangan
 Penerimaan dan Pengeluaran dana AIPI, baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri, dipertanggung jawabkan kepada Sidang Paripurna AIPI; Kode Satker : 446110; AIPI adalah entitas akuntansi dari Sekretariat Negara (BA 007) yang berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan laporan pertanggung jawaban atas pelaksanaan APBN dengan menyusun laporan keuangan berupa Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 4.324.662 Realisasi 3.064.550 Total Aset 628.998

 

Instansi Terkait
    Sekretariat Negara; Kementerian Negara Riset dan Teknologi; Kementerian Pendidikan Nasional; Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Sumber Dana
  Sumbangan Masyarakat dan Bantuan Pemerintah yang tidak mengikat; Sumbangan Luar Negeri yang tidak mengikat;

Alamat AIPI: Jalan Veteran No. 17-18 Jakarta Pusat 10110 Telp. 021 - 3843662 Gedung Graha Widya Bakti, Puspiptek Serpong, Tangerang 15313 Telp./Fax. 021 - 7560103 Telp. 021 - 7560095, 7560096

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

2

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGATUR HILIR MINYAK DAN GAS BUMI (BPH MIGAS)

Dasar Hukum
 Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi didirikan berdasarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi ditetapkan pada tanggal 23 November 2001. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2003 tentang Pengalihan Bentuk Perusahaan Pertambangan Minyak dan Gas Bumi Negara (Pertamina) menjadi Perusahaan Perseroan (Persero). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2004 tentang Kegiatan Usaha Hilir Minyak dan Gas Bumi ditetapkan tanggal 14 Oktober 2004. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2002 tentang Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 86 Tahun 2002 tentang Pembentukan Badan Pengatur Penyediaan dan Pendistribusian Bahan Bakar Minyak dan Kegiatan Usaha Pengangkutan Gas Bumi melalui pipa.

Tujuan Pendirian
1. Mewujudkan pengaturan dan pengawasan dalam penyediaan dan pendistribusian BBM diseluruh wilayah NKRI dan kegiatan usaha pengangkutan Gas Bumi melalui pipa; 2. Mendorong peningkatan investasi dalam pembangunan infrastruktur penyediaan dan pendistribusian BBM dan pengangkutan Gas Bumi melalui pipa; 3. Mewujudkan organisasi BPH Migas yang handal, kredibel dan kuat untuk melakukan pengaturan dan pengawasan dalam penyediaan dan pendistribusian BBM diseluruh Wilayah NKRI dan kegiatan usaha pengangkutan Gas Bumi melalui pipa; 4. Mewujudkan good governance BPH Migas dan terwujudnya citra BPH Migas yang baik ditingkat nasional dan internasional.

Tugas
1. 2. 3. 4. 5. 6. Mengatur dan menetapkan ketersediaan dan distribusi BBM; Mengatur dan menetapkan cadangan BBM Nasional; Mengatur dan menetapkan pemanfaatan fasilitas pengangkutan dan penyimpanan BBM; Mengatur dan menetapkan tarif pengangkutan gas bumi melalui pipa; Mengatur dan menetapkan harga gas bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil; Mengatur dan menetapkan pengusahaan tranmisi dan distribusi gas bumi.

Sifat Dan Kedudukan
1. Bersifat Independen; 2. Berkedudukan di Jakarta; 3. Bertanggung jawab kepada Presiden. Kepala Badan Pengatur wajib memberikan laporan kepada Presiden melalui menteri Sumber Daya Energi dan Mineral mengenai hasil kerjanya secara berkala setiap 6 bulan.

Fungsi
Melakukan pengaturan dan pengawasan secara independen dan transparan atas pelaksanaan kegiatan usaha penyediaan dan pendistribusian BBM dan peningkatkan pemanfaatan Gas Bumi di dalam negeri.

Maksud Pendirian
Untuk menyelenggarakan usaha dibidang minyak dan gas bumi baik di dalam maupun diluar negeri serta kegiatan usaha lain yang terkait atau menunjang kegiatan usaha di bidang Minyak dan Gas bumi tersebut.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

3

Lembaga Non Struktural

Wewenang
1. Menetapkan kewajiban Badan Usaha yang akan atau telah melakukan penyedian dan pendistribusian BBM di Indonesia untuk melakukan operasi di daerah yang mekanisme pasarnya belum berjalan dan daerah terpencil; Menetapkan volume alokasi cadangan BBM dari masing-masing Badan Usaha sesuai dengan izin usaha untuk memenuhi cadangan nasional BBM yang ditetapkan pemerintah; Menetapkan pemanfaatan bersama atas fasilitas pengangkutan dan penyimpanan BBM serta fasilitas penunjang milik Badan Usaha dalam kondisi yang sangat diperlukan dan/atau untuk menunjang optimalimasi distribusi di daerah terpencil; Menetapkan tarif pengangkutan gas bumi melalui pipa sesuai dengan prinsip tekno-ekonomi; Menetapkan harga gas bumi untuk rumah tangga dan pelanggan kecil dengan mempertimbangkan kemampuan daya beli masyarakat; Menetapkan dan memberlakukan sistem informasi pengusahaan dan pengaturan pada Badan Usaha yang melakukan kegiatan usaha pengangkutan gas bumi melalui pipa; Menyelesaikan perselisihan yang timbul terhadap pemegang hak khusus pengangkutan gas bumi melalui pipa dan/atau yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan pengangkutan gas bumi melalui pipa; Mengusulkan kepada Menteri Keuangan mengenai besaran iuran Badan Usaha yang mempunyai kegiatan di bidang penyediaan dan pendistribusian BBM serta pengangkutan gas bumi melalui pipa dan menetapkan biaya hak khusus pengangkutan gas bumi melalui pipa; Memberikan hak khusus pengangkutan gas bumi melalui pipa pada ruas tertentu dari transmisi gas bumi dan pada wilayah tertentu dari jaringan distribusi gas bumi melalui lelang, berdasarkan Rencana Induk Jaringan Transmisi dan Distribusi Gas Bumi Nasional.

Struktur Organisasi
1. Terdiri atas komite dan bidang; 2. Komite terdiri atas satu orang ketua 3. (dijabat oleh Kepala Badan Pengatur) merangkap anggota dan 8 (delapan) orang anggota yang berasal dari tenaga profesional; 4. Bidang merupakan direktoratdirektorat, masing-masing dipimpin oleh seorang direktur dan membawahi 2 (dua) kelompok kerja (terdiri atas pejabat fungsional); 5. Sekretariat.

2.

3.

Instansi Terkait
1. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; 2. Kementerian Keuangan; 3. Pertamina.

4. 5.

Kekayaan, Pembiayaan, dan Pengelolaan
1. 2. Merupakan kekayaan negara yang tidak dipisahkan; Badan Pengatur wajib melakukan penatausahaan semua kekayaan sesuai dengan peraturan perundangundangan; Pengalihan kepemilikan dan/atau pengalihan kekayaan Badan Pengatur dapat dilakukan setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan Menteri Keuangan; Anggaran Biaya Operasional sebagai Modal awal Badan Pengatur dibebankan kepada APBN dan selanjutnya dibiayai dari iuran Badan Usaha yang diaturnya; Anggaran Biaya Operasional setiap tahun ditetapkan oleh Menteri Keuangan atas usul Kepala Badan Pengatur dengan memperhatikan pendapat Menteri ESDM; Badan Pengatur dapat mempunyai cadangan dana operasional setinggitingginya sebesar 3 (tiga) kali biaya rata-rata operasional tahun berjalan pada akhir tahun anggaran yang bersangkutan; Badan Pengatur dapat mengunakan dana cadangan untuk pembiayaan operasional sebelum anggaran biaya operasional ditetapkan;

6.

7.

3.

4.

8.

5.

9.

6.

7.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

4

Lembaga Non Struktural

8. Dalam hal terdapat kelebihan penerimaan, setelah dikurangi dengan pembiayaan dan cadangan, wajib disetor ke Kas Negara sebagai penerimaan Negara Bukan Pajak; 9. Dalam waktu paling lambat 3 (tiga) bulan setelah berakhirnya tahun buku, Kepala Badan Pengatur wajib memberikan Laporan Keuangan yang telah diaudit sesuai dengan peraturan perundang-undangan kepada Menteri Keuangan dengan tembusan kepada menteri ESDM.

Informasi Keuangan
 BPH Migas adalah entitas akuntansi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (BA 020) yang berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN dengan menyusun laporan keuangan berupa Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Kode Satker : 986860. Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 222.683.087 Realisasi 170.838.298 Total Aset 662.950.527 Non APBN

Sumber Dana
1. Subsidi dari APBN secara bertahap, badan pengatur akan mandiri dengan mendapat komisi dari Badan Usaha yang diaturnya. 2. Iuran badan Usaha yang diaturnya.

KANTOR PUSAT BPH MIGAS : Gedung BPH MIGAS Jl. Kapten P. Tendean No. 28 Jakarta Selatan 12710 Indonesia Telp. +62-21 5255500, +62-21 5212400 Fax. +62-21 5223210, +62-21 5255656 Email : humas@bphmigas.go.id Homepage : http://www.bpmigas.com

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

5

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS SABANG (BPKS) Dasar Hukum
1. Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2000 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 2 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang menjadi Undang-Undang. 2. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2000 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang. 3. Keputusan Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam selaku Ketua Dewan Kawasan Sabang Nomor 193/034 Januari 2001 tentang Pembentukan Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang.

Misi
1. Mengembangkan pelayanan pelabuhan untuk kapal-kapal generasi yang akan datang; 2. Mengembangkan pelayanan industri dan perdagangan skala global; 3. Mengembangkan pelayanan kelas dunia bagi basis operasi kapal cruise Internasional; 4. Mengembangkan industri perikanan modern yang bersinergi dengan pengembangan sumber daya perikanan nasional; 5. Mengembangkan kelembagaan pengusahaan dan infrastruktur kawasan yang bertaraf internasional.

Struktur Organisasi
1. Kepala; 2. Wakil Kepala; 3. Anggota.

Sifat Dan Kedudukan
  Bertanggung jawab kepada Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas. Non Struktural.

Tugas dan Wewenang
Melaksanakan kegiatan pengelolaan, pengembangan dan pembangunan Kawasan Sabang sesuai dengan Fungsifungsi Kawasan Sabang.

Tujuan Pendirian
Dalam rangka memacu dan meningkatkan pembangunan serta memberi peluang bagi dunia usaha untuk berperan secara lebih luas, sehingga dapat menjadi titik pertumbuhan ekonomi Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan wilayah barat Indonesia.

Fungsi
 Kawasan Sabang mempunyai fungsi sebagai tempat untuk mengembangkan usaha-usaha di bidang perdagangan, jasa, industri, pertambangan dan energi, transportasi, maritim dan perikanan, pos dan telekomunikasi, perbankan, asuransi, pariwisata dan bidangbidang lainnya; Kegiatan manufaktur, rancang bangun, perekayasaan, penyortiran awal, pemeriksaan akhir, pengepakan, dan pengepakan ulang atas barang dan bahan baku dari dalam dan luar negeri, pelayanan perbaikan atau rekondisi permesinan, dan peningkatan mutu;

Visi
Mengembangkan Menjadi Pusat Perdagangan Terkemuka. Kawasan Sabang Utama Pelayanan Dunia

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

6

Lembaga Non Struktural

Penyediaan dan pengembangan prasarana dan sarana air dan sumber air, prasarana dan sarana perhubungan termasuk pelabuhan laut dan bandar udara, bangunan dan jaringan listrik, pos dan telekomunikasi, serta prasarana dan sarana lainnya.

Kawasan Sabang, DPRD Propinsi, melalui Pemerintah Pusat.

Informasi Keuangan
 BPKS adalah entitas akuntansi dari Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan (BA 999.06) yang berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan laporan pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN dengan menyusun laporan keuangan berupa Realisasi Anggaran, Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan. Kode Satker : 326885.

Instansi Terkait
1. 2. 3. 4. 5. Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Keuangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Propinsi Daerah Tingkat I Nanggroe Aceh Darussalam.

Sumber Pendapatan dan Pembiayaan
    Sumber pendapatan dari pengusahaan kawasan; APBN/APBD; Sumber dana lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan; Kawasan sabang dapat menerima pinjaman dari dalam negeri maupun luar negeri dengan persetujuan Dewan

Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 421.500.000 Realisasi 398.880.691 Total Aset 835.294.241 Non APBN

Alamat BPKS : Jl. T. Panglima Polem Sabang - Nanggroe Aceh Darussalam Indonesia Telp. + 62 652 - 22144, 021 - 3100814 Fax. + 62 652 - 22143 www.bpks.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

7

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA DANA ABADI UMAT (BP DAU) Dasar Hukum
 Badan Pengelola Dana Abadi Umat ditetapkan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 tanggal 14 Februari 2001. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2008 tentang Badan Pengelola Dana Abadi Umat ditetapkan tanggal 26 Januari 2008.

Tugas
1. Merencanakan, mengorganisasikan, mengelola dan memanfaatkan Dana Abadi Umat. 2. Menyampaikan laporan pelaksanaan tugas setiap tahun kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.

 

Susunan Organisasi
  Ketua (Menteri Agama); Dewan Pengawas : a. Terdiri dari unsur pemerintah dan masyarakat; b. Berjumlah sebanyak-banyaknya 9 (sembilan) orang; Dewan Pelaksana : a. Terdiri dari unsur pemerintah; b. Berjumlah sebanyak-banyaknya 7 (tujuh) orang; Sekretariat; Tenaga Profesional.

Sifat Dan Kedudukan
1. Merupakan Lembaga Non Struktural dan Independen. 2. Bertanggung jawab secara substantif kepada DPR dan secara administratif kepada Presiden. 

Tujuan Pendirian
Dana Abadi Umat (DAU) merupakan hasil efisiensi dana Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH), pengadaan dana ini dilakukan sejak jabatan Menteri Agama dijabat oleh Tarmizi Taher. Idenya berawal dari sebuah seminar haji di Jakarta pada tahun 1994 yang mendiskusikan tema Tabungan Haji. Ide ini disampaikan kepada Presiden Soeharto yang lalu menerbitkan Keputusan Presiden Nomor 35 Tahun 1996 dan 52 Tahun 1996, yang kemudian dikukuhkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan diperbaharui dengan UndangUndang Nomor 13 Tahun 2008. Dalam rangka pengelolaan Dana Abadi Umat secara profesional, transparan, akuntabel, efektif dan efisien guna kemaslahatan umat dan untuk melaksanakan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji.

 

Instansi Terkait
1. Kementerian Agama; 2. Majelis Ulama Indonesia; 3. Pengurus Besar Nahdatul Ulama.

Sumber Dana
1. Segala Pembiayaan dibebankan pada hasil pengelolaan Dana Abadi Umat (paling banyak 10 % dari hasil bersih pengelolaan Dana Abadi Umat tahun sebelumnya); Efisiensi Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji; Bunga Deposito; Jasa Giro; Deviden atas saham Bank Muamalat Indonesia; Imbalan Jasa SBSN; Dalam rangka pertanggung jawaban atas pengelolaan dan pemanfaatan Dana Abadi Umat, Badan Pengelola diperiksa oleh akuntan publik independen dan hasil pemeriksaannya diumumkan kepada masyarakat.

2. 3. 4. 5. 6. 7.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

8

Lembaga Non Struktural

Fungsi dan Pemanfaatan Dana Abadi Umat
Dana Abadi Umat digunakan untuk membantu umat dalam bidang : 1. Pendidikan dan dakwah; 2. Kesehatan; 3. Sosial; 4. Ekonomi; 5. Pembangunan sarana dan prasarana ibadah; 6. Penyelenggaraan ibadah haji. Hanya bunga dari dana ini yang boleh digunakan, sedangkan dana pokoknya tidak. Untuk operasional Badan Pengelola Dana Abadi Umat sejak bulan Mei 2005 (Pemeriksaan Timtas Tipikor) diputuskan untuk dihentikan sementara kegiatan pengelolaan Dana Abadi Umat berupa bantuan termasuk honor pengelolanya, kecuali untuk keperluan yang sangat urgen

atau mendesak seperti pinjaman untuk sewa pondokan jamaah haji. Dana Abadi Umat termasuk kategori non APBN dan dikelola oleh sebuah Badan Pengelola Dana Abadi Umat yang diketuai oleh Menteri Agama. Seluruh dana disimpan di bank-bank pemerintah dalam bentuk 11 (sebelas) rekening giro, 10 (sepuluh) deposito, Saham Bank Muamalat Indonesia, dan SBSN. Organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dilibatkan sebagai pengawas.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN 1.549.610.795

Sekretariat BP DAU: Jalan Lapangan Banteng Barat 3-4 Jakarta 10710 Telp. 021 - 3506541 Fax. 021 - 3456927

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

9

Lembaga Non Struktural

BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL (BAZNAS)

Dasar Hukum
  Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat. Susunan keanggotaan BAZNAS dibentuk dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2001 tanggal 17 Januari 2001 sebagaimana telah diubah terakhir dengan Keputusan Presiden Nomor 103 Tahun 2004 tanggal 18 Oktober 2004.

2. Sebagai koordinator BAZ dan LAZ yang ada, melalui upaya sinergisitas yang efektif dan tepat sasaran. 3. Sebagai pusat Data Nasional, yang mencakup data BAZ/LAZ, data jumlah penerimaan zakat BAZ/LAZ, maupun data muzakki dan mustahik secara nasional.

Struktur Organisasi
Struktur organisasi BAZNAS terdiri dari: 1. Dewan Pengurus yang terdiri dari Badan Pelaksana, Dewan Pertimbangan dan Komisi Pengawas. 2. Pelaksana Harian yang terdiri dari Direktur Eksekutif, Devisi, SDM dan Support Organisasi, Devisi Pengumpulan, Devisi Pemberdayaan, dan Devisi Keuangan. Susunan Dewan Pengurus BAZNAS ditetapkan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 27 Tahun 2008 tanggal 7 Nopember 2008. a. Ketua Umum Badan Pelaksana. Prof. DR. KH. Didin Hafidhuddin, MSc. b. Ketua Dewan Pertimbangan H. Muchtar Zarkasyi, SH c. Ketua Komisi Pengawas Drs. H. Achmad Subianto, MBA

Sifat dan Kedudukan
  Dalam melaksanakan tugasnya, Badan Amil Zakat Nasional bertanggung jawab kepada Presiden. Badan Amil Zakat Nasional berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.

Tujuan Pendirian
Baznas didirikan dengan tujuan untuk mewujudkan badan pengelola zakat yang mengedepankan prinsip transparansi, profesional dan amanah dalam menjalankan kegiatannya.

Visi
Adalah sebagai pusat Zakat Nasional yang memiliki peran dan posisi strategis di dalam upaya pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, melalui pengelolaan zakat nasional yang amanah, profesional, dan efisien.

Sumber Dana
 Pasal 23 Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat: Dalam menunjang pelaksanaan tugas badan amil zakat sebagaimana dimaksud Pasal 8, pemerintah wajib membantu biaya operasional badan amil zakat. Keputusan Presiden Nomor 8 Tahun 2001 Pasal 17 ”Segala pembiayaan yang diperlukan bagi pelaksanaan tugas Badan Amil Zakat Nasional dibebankan pada anggaran Kementerian Agama”

Misi
1. Meningkatkan kesadaran umat untuk berzakat melalui amil zakat, sekaligus mengarahkan dan membimbing masyarakat untuk dapat mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

10

Lembaga Non Struktural

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 138.050 Realisasi 138.050 Total Aset Non APBN

Kantor Pusat : Jl. Kebon Sirih No. 57, Jakarta Pusat - 10340 Indonesia Telp. 62-21 - 390.4555, Fax. 62-21 - 391.3777 Email : baznas@baznas.or.id website: www.baznas. Or. id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

11

Lembaga Non Struktural

BADAN PERTIMBANGAN TABUNGAN PERUMAHAN PEGAWAI NEGERI SIPIL (BAPERTARUM-PNS) Dasar Hukum
1. Badan Pertimbangan Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1993 tentang Tabungan Perumahan Pegawai Negeri Sipil juncto Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 46 Tahun 1994. 2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1993, BAPERTARUM-PNS didirikan untuk membantu membiayai usaha-usaha peningkatan kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil dalam bidang perumahan secara kegotongroyongan melalui tabungan perumahan.

Susunan Organisasi Keanggotaan
  

dan

Sifat Dan Kedudukan
  Merupakan lembaga yang independen dalam melaksanakan tugasnya. Bertanggung jawab kepada Presiden.

Ketua : Presiden Republik Indonesia; Ketua Harian Merangkap Anggota: Menteri Negara Perumahan Rakyat; Anggota : a. Menteri Keuangan; b. Menteri Dalam Negeri; c. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara; d. Kepala Badan Kepegawaian Negara; Untuk membantu tugas-tugas Badan pertimbangan, dibentuk Sekretariat Tetap yang diketuai oleh Menteri Negara Perumahan Rakyat; Badan Pertimbangan mempunyai kewenangan dan otoritas sepenuhnya atas pengalokasian dan penyaluran dana tabungan.

Instansi Terkait
Kementerian Struktural. dan Lembaga Non

Tujuan Pendirian
Sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan Pegawai Negeri Sipil untuk memiliki rumah yang layak.

Pengelolaan Dana
Pemotongan Gaji PNS  Besarnya pemotongan gaji Pegawai Negeri Sipil setiap bulan adalah sebagai berikut : a. Golongan I Rp3.000,b. Golongan II Rp5.000,c. Golongan III Rp7.000,d. Golongan IV Rp10.000, Pemotongan gaji untuk pertama kali diberlakukan efektif pada pemotongan gaji bulan Februari 1993 untuk pemotongan gaji bulan Januari dan Februari 1993 dan berakhir pada bulan yang bersangkutan berhenti sebagai Pegawai Negeri Sipil;  Dana tabungan yang terkumpul disetor ke rekening Menteri Keuangan untuk dan atas nama BapertarumPNS pada Bank Pemerintah yang ditunjuk oleh Kementerian Keuangan;  Penyaluran bantuan uang muka pembelian rumah dan bantuan biaya

Visi
Terwujudnya pengelolaan Tabungan Perumahan PNS-nya yang profesional, berkeadilan dan akuntabel.

Misi
Meningkatkan daya beli PNS dalam rangka kepemilikan rumah yang layak dengan penghimpunan dan penyaluran dana yang berhasil guna, tepat guna dan tepat sasaran.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

12

Lembaga Non Struktural

 

pembangunan rumah diperuntukan bagi semua golongan PNS, golongan I sampai dengan golongan IV, tetapi mulai 1 September 2009 bantuan dipergunakan untuk golongan I sampai dengan Golongan III, bantuan itu berupa : a. Membantu Uang muka pembelian rumah dengan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah bagi Pegawai yang belum memiliki rumah; b. Membantu sebagian biaya membangun rumah bagi Pegawai Negeri Sipil yang sudah memiliki tanah di daerah tempat bekerja; Bantuan Uang Muka/Bantuan Biaya membangun : a. Golongan I Rp1.200.000,b. Golongan II Rp1.500.000,c. Golongan III Rp1.800.000,Dana yang dapat disalurkan untuk bantuan setinggi-tingginya sebesar 60% dari jumlah dana tabungan; Sekurang-kurangnya 40 % dari jumlah dana tabungan disimpan dalam bentuk deposito atau jenis investasi lain yang aman untuk pemupukan dana jangka panjang pada Bank Pemerintah yang ditunjuk oleh Kementerian Keuangan; Pajak penghasilan atas bunga tabungan dan deposito serta penghasilan lain ditanggung oleh Pemerintah; Tatacara pelaksanaan diatur lebih lanjut oleh Kementerian Keuangan;

PNS yang belum pernah memanfaatkan bantuan uang muka pembelian rumah atau bantuan sebagian biaya pembangunan rumah, pada saat berhenti sebagai PNS atau meninggal dunia maka PNS yang bersangkutan berhak menerima kembali pokok tabungannya dan diberikan jasa sebesar 12% dari jumlah pokok tabungannya.

Informasi Keuangan
Sampai dengan tahun buku 2004, UPT Bapertarum-PNS menggunakan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP). Berdasarkan Keputusan Kepala Pelaksana Sekretariat Tetap Bapertarum-PNS Nomor 18/KPTS/TAPERUM-PNS/9/2007 tanggal 14 September 2007, sejak tahun buku 2005 Bapertarum-PNS menggunakan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 45 (PSAK 45). Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset 5.502.272.009 Non APBN

Sekretariat BAPERTARUM – PNS : Gedung Balai Krida Lt. I dan III Jl. Iskandarsyah Raya No. 35 Kebayoran Baru Jakarta Selatan 12160 PO Box 6666/JKTM 12700 Telp. 021 - 72797085, 72797087, 72797101 Fax. 021 - 72797086, 72797089, 72801953 Email : humas@bapertarum-pns.co.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

13

Lembaga Non Struktural

BADAN PERTIMBANGAN KEPEGAWAIAN (BAPEK)

Dasar Hukum
 Badan Pertimbangan Kepegawaian didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 1980 tentang Badan Pertimbangan Kepegawaian. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 71 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Nomor 67 Tahun 1980 tentang Badan Pertimbangan Kepegawaian ditetapkan tanggal 4 Mei 1998.

2. Anggota : a. Menteri Sekretaris Negara; b. Jaksa Agung; c. Kepala Badan Intelijen Negara; d. Direktur Jenderal Peraturan Perundang-undangan, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; e. Ketua Pengurus Pusat KORPRI; f. Kepala Badan Kepegawaian Negara merangkap sebagai Sekretaris.

Instansi Terkait
       Sekretariat Negara; Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS; Kejaksaan Agung RI; Badan Intelijen Negara; Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Pengurus Pusat KORPRI; Badan Kepegawaian Negara.

Sifat Dan Kedudukan
 

Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Merupakan lembaga banding administratif sebagai sarana perlindungan hukum bagi PNS dan sebagai sarana pengawasan administratif terhadap prilaku Pejabat TUN.

Sumber Dana
 APBN.

Susunan Keanggotaan
1. Ketua merangkap anggota: Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 773.227 Realisasi 725.913 Total Aset Non APBN

Sekretariat BAPEK : Jalan Letjen Sutoyo No. 12 Jakarta Timur 10710 Telp. 021 - 8092423 Fax. 021 - 8010301

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

14

Lembaga Non Struktural

BADAN PENDUKUNG PENGEMBANGAN SISTEM PENYEDIAAN AIR MINUM (BPP-SPAM) Dasar Hukum
 Badan Pendukung PengembanganSistem Penyediaan Air Minum didirikan berdasarkan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 16 tentang Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum. Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 tentang Kerjasama Pemerintah dengan Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur. Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 294/PRT/M/2005 tentang Badan Pendukung Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum ditetapkan pada tanggal 28 Juni 2005.

Keanggotaan dan Struktur Organisasi
Terdiri dari 5 (lima) orang Anggota : a. 2 Orang Unsur Pemerintah. b. 1 Orang Unsur Penyelenggara. c. 2 Orang Unsur masyarakat yang berasal dari kalangan profesi dan kalangan masyarakat pelanggan.  Ketua merangkap Anggota.  Anggota.  Sekretariat.

Peran
   Mendorong peningkatan kinerja pelayanan penyelenggaraan SPAM; Memberikan masukan dalam penyusunan kebijakan dan strategi; serta; Mengembangkan sistem pembiayaan dan pola investasi pengembangan SPAM.

Sifat Dan Kedudukan
   Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab Kepada Menteri.

Tugas Pokok
Mendukung dan memberikan bantuan dalam rangka mencapai tujuan pengaturan pengembangan SPAM guna memberikan manfaat yang maksimal bagi negara dan sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Tujuan Pendirian
Untuk membantu Pemerintah dalam mencapai tujuan pengaturan pengembangan SPAM yang meliputi : a. Terwujudnya pengelolaan dan pelayanan air minum berkualitas dengan harga yang terjangkau; b. Tercapainya kepentingan yang seimbang antara konsumen dan penyedia jasa pelayanan; c. Tercapainya peningkatan efisiensi dan cakupan pelayanan air minum.

Fungsi
  Memberikan masukan kepada Pemerintah dalam penyusunan kebijakan dan strategi; Membantu Pemerintah dan pemerintah daerah dalam penerapan norma, standar, pedoman, dan manual oleh penyelenggara dan masyarakat; Melaksanakan evaluasi terhadap standar kualitas dan kinerja pelayanan penyelenggaraan SPAM;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

15

Lembaga Non Struktural

Memberikan rekomendasi tindak turun tangan terhadap penyimpangan standar kualitas dan kinerja pelayanan penyelenggaraan; Mendukung dan memberikan rekomendasi kepada Pemerintah dalam penyelenggaraan SPAM oleh koperasi dan badan usaha swasta; Memberikan rekomendasi kepada Pemerintah dalam menjaga kepentingan yang seimbang antara penyelenggara dan masyarakat.

Sumber Dana
      APBN/APBD; BUMN dan BUMD; Koperasi; Badan Usaha Swasta; Dana Masyarakat; Sumber dana lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Instansi Terkait
  Kementerian Pekerjaan Umum. Pemerintah Daerah.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 24.976.948 Realisasi 22.751.202 Total Aset 6.627.733 Non APBN

Alamat : Badan Pendukung Pengembangan Penyediaan Air Minum (BPP SPAM) Jl. Wijaya I No. 68, Kebayoran Baru, Jakarta 12170,Telp. 021 - 72789126 Sekertariat : Jl. R. Patah I/1 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Telp./Fax. 021 - 7232319, 021 - 7208939 www.bppspam.net

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

16

Lembaga Non Struktural

BADAN PERLINDUNGAN KONSUMEN NASIONAL (BPKN) Dasar Hukum
 Badan Perlindungan Konsumen Nasional didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 yang disahkan pada tanggal 20 April 1999. Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2001 tentang Badan Perlindungan Konsumen Indonesia disahkan pada tanggal 21 Juli 2001.

Tujuan Pendirian
Badan yang dibentuk untuk membantu upaya pengembangan perlindungan konsumen.

Fungsi
Mempunyai fungsi memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam upaya mengembangkan perlindungan konsumen di Indonesia.

Sifat Dan Kedudukan
  Swadaya Masyarakat; Lembaga Non Pemerintah yang terdaftar dan diakui oleh Pemerintah yang mempunyai kegiatan menangani perlindungan konsumen; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab Kepada Presiden.

Tugas
 Memberikan saran dan rekomendasi kepada pemerintah dalam rangka penyusunan kebijaksanaan di bidang perlindungan konsumen; Melakukan penelitian dan pengkajian terhadap peraturan perundangundangan yang berlaku di bidang perlindungan konsumen; Melakukan penelitian terhadap barang dan/atau jasa yang menyangkut keselamatan konsumen; Mendorong berkembangnya lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat; Menyebarluaskan informasi melalui media mengenai perlindungan konsumen dan memasyarakatkan sikap keberpihakan kepada konsumen; Menerima pengaduan tentang perlindungan konsumen dan masyarakat, lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat, atau pelaku usaha; Melakukan survei yang menyangkut kebutuhan konsumen.

 

Keanggotaan
 Diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri, Setelah dikonsultasikan kepada DPR Republik Indonesia. Terdiri dari unsur pemerintah, Pelaku usaha, Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat, Akademisi dan Tenaga Ahli, yang saat ini keseluruhannya berjumlah 17 Anggota serta dibantu beberapa staf sekretariat.   

Susunan Organisasi
    Ketua merangkap Anggota; Wakil Ketua merangkap Anggota; Anggota; Komisi-Komisi. 

Instansi Terkait
Kementerian Perindustrian.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

17

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
  Sumbangan Masyarakat dan Bantuan Pemerintah yang tidak mengikat. Sumbangan Luar Negeri yang tidak mengikat dan Usaha Lain yang Sah.

Informasi Keuangan
Merupakan salah satu satker Kementerian Perdagangan. pada

Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam ribuan Rupiah APBN 6.637.998 Realisasi 2.255.801 Total Aset

Sekretariat : Direktorat Perlindungan Konsumen Direktorat Jenderal perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Jalan M.I. Ridwan Rais No.5 - Jakarta Pusat Telp. 021 - 3841961 Fax. 021 - 34833819

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

18

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU BANDAR ACEH DARUSSALAM (BP KAPET BANDAR ACEH DARUSSALAM)

Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Bandar Aceh Darussalam ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 171 Tahun 1998 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Sabang ditetapkan tanggal 22 September 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000. Berdasarkan Surat Gubernur Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 193/30591 tanggal 2 September 2001 (14 Jumadil Akhir 1422 H) KAPET Sabang dirubah menjadi "KAPET Bandar Aceh Darussalam".

Tujuan Pendirian

Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di Daerah Tingkat I Nanggroe Aceh Darussalam. KAPET Bandar Aceh Darussalam terletak di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan merupakan satusatunya KAPET yang berada di Kawasan Barat Indonesia.

 

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET Bandar Aceh Darussalam berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET Bandar Aceh Darussalam yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET Bandar Aceh Darussalam termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
   Bertanggungjawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Dengan luas wilayah 55.390 Km2; Cakupan wilayah KAPET Bandar Aceh Darussalam meliputi Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar, dan Kabupaten Pidie dengan hinterland Wilayah Tengah dan Barat/Selatan Aceh yang telah dihubungkan dengan berfungsinya jaringan jalan dari pantai Barat/Selatan melalui Wilayah Tengah ke Pantai Timur Aceh.

Keanggotaan
1. Ketua : Menteri Negara Riset dan Teknologi/Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

19

Lembaga Non Struktural

Instansi Terkait
2. Anggota :  Menteri Koordinator Bidang Perekonomian;  Menteri Pekerjaan Umum;  Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal;  Menteri Dalam Negeri;  Menteri Keuangan;  Menteri Kebudayaan dan Pariwisata;  Menteri Perindustrian;  Menteri Perdagangan;  Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ BAPPENAS;  Menteri Perhubungan;  Kepala Badan Pertanahan Nasional;  Gubernur Kepala Daerah Tingkat I propinsi Nanggroe Aceh Darussalam.                 Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Naggroe Aceh Darussalam.

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 2.500.000 Realisasi 2.349.699 Total Aset 902.461 Non APBN

BP. KAPET BANDAR ACEH DARUSSALAM Jl. Taman Makam Pahlawan III/4 Kel. Peuniti Banda Aceh, Nanggroe Aceh Darussalam Telp. (62-651) 26744 Fax. (62-651) 28972 Email: bandaracehdarussalam@kapet-aceh.org Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

20

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU KHATULISTIWA (BP KAPET KHATULISTIWA) Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Khatulistiwa ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Sanggau. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000. Berdasarkan SK Gubernur Nomor f188/2002 KAPET Sanggau dirubah menjadi “KAPET Khatulistiwa”.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Kalimantan Barat yang berpusat di Sanggau.

 

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET Khatulistiwa berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET Khatulistiwa yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET Khatulistiwa termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
   Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Dengan luas wilayah 5,3545 juta Ha dan jumlah penduduk 1,8 juta jiwa; Cakupan wilayah KAPET Khatulistiwa meliputi Kab. Sanggau, Kab. Sambas, Kab. Bengkayang, Kota Singkawang, 2 Kecamatan di Kab. Landak (Kec. Air Besar dan Kuala Bahe), 2 Kecamatan di Kab. Sintang (Kec. Ketungau Hulu dan Ketungau Tengah) dan 6 Kecamatan di Kab. Kapuas Hulu (Kec. Putussibau, Embaloh Hulu, Batang Lupar, Badau, Puring Kencana, dan Kedamin).

Keanggotaan
1. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; 2. Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Kalimantan Barat.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

21

Lembaga Non Struktural

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

     

Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Kalimantan Barat.

Instansi Terkait
           Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

BP. KAPET KHATULISTIWA Kantor Pusat Jl. Merdeka No. 78 Singkawang, Kalimantan Barat Telp. (62 - 562) 635100 Fax. (62 - 562) 633994 Kantor Perwakilan Jl. Salak No. 32 Jakarta Selatan, 12980 Telp. (62 - 21) 8354284 Fax. (62 - 21) 57902941 Jl. A. Yani No. 54 Sanggau, Kalimantan Barat Telp./Fax. (62 - 564) 21078 Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

22

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU DAERAH ALIRAN SUNGAI KAHAYAN, KAPUAS DAN BARITO (BP KAPET DAS KAKAB) Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Daerah Aliran Sungai Kahayan, Kapuas dan Barito ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 170 Tahun 1998 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu DAS KAKAB ditetapkan tanggal 22 September 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000. Tengah yang berpusat di Kecamatan Kapuas Hilir.

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET DAS KAKAB berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

 

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET DAS KAKAB yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET DAS KAKAB termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
  Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Dengan luas wilayah 2.767.300 Ha(236,73 Km2) dan jumlah penduduk 1,957.861 jiwa (Tahun 2005); Cakupan wilayah KAPET DAS KAKAB meliputi seluruh wilayah Kota Palangka Raya, seluruh Kabupaten Pulang Pisau, sebagian Kabupaten Kapuas dan sebagian Kabupaten Barito Selatan.

Keanggotaan
1. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; 2. Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Kalimantan Tengah.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Kalimantan

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

23

Lembaga Non Struktural

3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

    

Instansi Terkait
            Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Dalam Negeri;

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah.

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 1.000.000 Realisasi 1.000.000 Total Aset Non APBN

BP. KAPET DAS KAKAB Jl. Cilik Riwut No. 14, Km. 3 Palangka Raya, Kalimantan Tengah Telp./Fax. (62 - 536) 3221145 - 3228626 Email: daskakab@telkom.net Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

24

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU SASAMBA (BP KAPET SASAMBA)

Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Sasamba ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1998 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Samarinda, Sanga-sanga, Muara Jawa, dan Balikpapan ditetapkan tanggal 19 Januari 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Kalimantan Timur yang berpusat di Kotamadya Balikpapan.

 

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET Sasamba berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET Sasamba yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET Sasamba termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
   Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Terdiri dari Kawasan Kota SamarindaSangasanga-Muarajawa-Kota Balikpapan; Dengan luas wilayah kurang lebih 4.413 Km2 atau sekitar 2,05% dari wilayah Provinsi Kalimantan Timur. Kawasan ini dapat dicapai melalui Bandara Internasional Sepinggan di Balikpapan dan jarak ke Samarinda (Ibukota Provinsi) dapat ditempuh dengan transportasi darat selama 2 jam atau dengan pesawat udara.

Keanggotaan
1. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; 2. Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Kalimantan Timur.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

25

Lembaga Non Struktural

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

      

Instansi Terkait
          Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan;

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Kalimantan Timur.

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

BP. KAPET SASAMBA Gedung Bappeda Propinsi Kalimantan Timur Jl. Kesuma Bangsa, Samarinda-Kalimantan Timur Telp./Fax. 0541 - 742985 Email : sasamba@kaltim.go.id, sasamba@sasamba.or.id http://www.sasamba.or.id Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

26

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU BATULICIN (BP KAPET BATULICIN)

Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batulicin ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1998 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batulicin ditetapkan tanggal 19 Januari 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000.

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET Batulicin berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

 

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET Batulicin yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET Batulicin termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
   Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Dengan luas wilayah 14 juta Ha; Cakupan wilayah KAPET Batulicin meliputi seluruh wilayah administrasi Kabupaten Kota Baru. Pusat Kegiatan terletak di Kecamatan Batulicin Kabupaten Kota Baru.

Keanggotaan
1. 2. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Kalimantan Selatan.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan yang berpusat di Batulicin.

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

27

Lembaga Non Struktural

Instansi Terkait
              Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal;

  

Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Kalimantan Selatan.

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

BP. KAPET BATULICIN JL. TRANSMIGRASI km. 4 Batulicin – Kalimantan Selatan Telp. (62 - 815) 71472, 71473, 71474 Fax. (62 - 518) 71472 Email : kapet-;@indo.net.id Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

28

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU PARE-PARE (BP KAPET PARE-PARE)

Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Pare-Pare ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 164 Tahun 1998 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Pare-Pare ditetapkan tanggal 22 September 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000.

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET ParePare berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

 

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET Pare-Pare yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET Pare-Pare termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
   Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Dengan luas wilayah 6.905,081 Km2 dan jumlah penduduk 1.005.320 jiwa (Tahun 2001); Cakupan wilayah KAPET Parepare meliputi Kota Parepare, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Kabupaten Pinrang, Kabupaten Enrekang, dan Kabupaten Barru.

Keanggotaan
1. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; 2. Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Sulawesi Selatan.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

29

Lembaga Non Struktural

Instansi Terkait
             Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata;

   

Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Sulawesi Selatan.

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi keuangan
Ikhtisar Lapoaran Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 1.227.460 Realisasi 1.213.365 Total Aset Non APBN

BP. KAPET PAREPARE Jl. Karaeng Burane No. 15 Kota Parepare, Sulawesi Selatan Telp. (62 -421) 27631 Fax. (62 -421) 27633 Email: kapetparepare@webave.com Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

30

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU BUKARI (BP KAPET BUKARI)

Dasar Hukum
 Badan Pengelolaan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Bukari (Buton, Kolaka dan Kendari) ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 168 Tahun 1998 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Buton, Kolaka dan Kendari ditetapkan tanggal 22 September 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000. Berdasarkan SK Gubernur Nomor 640/3770 tanggal 22 September 1999, mengusulkan perluasan wilayah kerja KAPET Bukari.

Tenggara yang berpusat di Kecamatan Poleang Timur.

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET Bukari berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

 

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET Bukari yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET Bukari termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
  Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah. Dengan luas wilayah 1.324.402 Ha; Cakupan wilayah KAPET Bukari meliputi Kabupaten Buton, Kabupaten Kolaka, Kabupaten Kendari dan Kabupaten Muna.

Keanggotaan
1. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; 2. Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Sulawesi Tenggara.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Sulawesi

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

31

Lembaga Non Struktural

4. Direktur Perencanaan Pembangunan.

dan     Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Sulawesi Tenggara.

Instansi Terkait
             Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata;

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

BP. KAPET BUKARI Jl. Tebau Nunggu No. 5 Kendari, Sulawesi Tenggara Telp. (62 - 401) 325621 Fax. (62 - 401) 325621 Email: kapetbukari@hotmail.com Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

32

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU BATUI (BP KAPET BATUI) Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan pengembangan Ekonomi Terpadu Batui ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 167 Tahun 1998 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Batui, tanggal 19 Januari 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000.

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET Batui berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

 

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET Batui yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET Batui termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
   Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Dengan luas wilayah 21.926,90 Km2; Cakupan wilayah KAPET Batui meliputi Kabupaten Banggai (8 Kecamatan), Kabupaten Banggai Kepulauan (7 Kecamatan) dan Kabupaten Morowali (4 Kecamatan).

Keanggotaan
1. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia ; 2. Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Sulawesi Tengah.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah yang berpusat di Batui.

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

33

Lembaga Non Struktural

Instansi Terkait
              Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal;

  

Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Sulawesi Tengah.

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

BP. KAPET BATUI Jl. Moh. Hatta Km. 7 Luwuk Kab. Banggai, Sulawesi Tengah Telp. (62 - 461) 324804 Fax. (62 - 461) 324803 Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

34

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLALA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU MANADO-BITUNG (BP KAPET MANADO-BITUNG) Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Manado-Bitung ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1998 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Manado-Bitung ditetapkan tanggal 19 Januari 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Sulawesi Utara yang berpusat di Batulicin.

 

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET ManadoBitung berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET ManadoBitung yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET ManadoBitung termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
   Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Dengan luas wilayah 201.207 Ha; Cakupan wilayah KAPET ManadoBitung meliputi wilayah Kotamadya Bitung, wilayah Kotamadya Manado, dan sebagian wilayah Kabupaten Minahasa yang meliputi kecamatankecamatan Likupang, Dimembe, Airmadidi, Kauditan, Wori, Pineleng, Tombariri, Tomohon, Tondano, Toulimambol, Eris, Lembean Timur, Kombi, Kakas, Remboken, Sonder, Kawangkoan, Tompaso dan Langowan.

Keanggotaan
1. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; 2. Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Sulawesi Utara.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

35

Lembaga Non Struktural

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

      

Instansi Terkait
          Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan. Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan;

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Sulawesi Utara.

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 2.850.000 Realisasi 2.787.244 Total Aset 1.394.988 Nin APBN

BP. KAPET MANADO-BITUNG Jl. Diponegoro No. 51 Manado, Sulawesi Utara Telp. (62 - 431) 846685 Fax. (62 - 431) 846686 Email: info@kapetmanadobitung.com Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

36

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PEGEMBANGAN EKONOMI TERPADU BIMA (BP KAPET BIMA) Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Bima ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 166 Tahun 1998 tentang Penetapan KAPET Bima ditetapkan tanggal 22 September 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Barat.

 

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET Bima berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET Bima yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET Bima termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perizinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
   Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Dengan luas wilayah 6.921, 45 Km2 = 692.145 Ha dan jumlah penduduk 664.486 jiwa; Cakupan wilayah KAPET Bima meliputi Kabupaten Bima (Kecamatan RasanaE Timur, RasanaE Barat, Belo, Woha, Monta, Bolo, Wawo, Wera, Sape, Donggo dan Sanggar) dan Kabupaten Dompu (Kecamatan Dompu, Hu’u, Woja, Kempo, Kilo dan Pekat dengan luas wilayah 1.862.500 Ha dan jumlah penduduk 343.607 jiwa (Tahun 1995) dengan laju pertumbuhan penduduk 17 jiwa/km2.

Keanggotaan
1. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; 2. Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Nusa Tenggara Barat;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

37

Lembaga Non Struktural

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

      

Instansi Terkait
          Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan. Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan;

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Barat.

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

BP. KAPET BIMA Jl. Raya Panda Bima, Nusa Tenggara Barat Telp. 0868 - 121 - 11921, (62 - 374) 44597 Jl. Pariwisata 10 A Mataram, Nusa Tenggara Barat Telp./Fax. (62 - 370) 627885 Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

38

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU MBAY (BP KAPET MBAY)

Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Mbay ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998 tanggal 19 Januari 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 1998 tentang Penetapan Kabupaten Ngada sebagai KAPET Mbay. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur.

 

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET Mbay berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET Mbay yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET Mbay termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
  Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Kabupaten Ngada berada di bagian tengah-barat dari Pulau Flores. Luas Kabupaten ini kurang lebih 3.308 km2.; Pantai Utara KAPET Mbay adalah lintasan perhubungan laut terpendek antara Nusa Tenggara Timur dengan Pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya. Di pantai selatan, KAPET Mbay mempunyai sebuah pelabuhan feri dan sebuah pelabuhan laut yang menghubungkan Pulau Flores dengan Pulau Sumba dan Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Keanggotaan
1. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; 2. Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

39

Lembaga Non Struktural

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

     

Kementerian Dalam Negeri; Kemeneterian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Nusa Tenggara Timur.

Instansi Terkait
           Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 1.000.000 Realisasi 894.188 Total Aset Non APBN

BP. KAPET MBAY Kantor Pusat Jl. Soekarno - Hatta Bajawa Ngada, Nusa Tenggara Timur Telp./Fax. (62 - 384) 21071 Kantor Promosi Jl. Teratai No. 9 Oepura Kupang, Nusa Tenggara Timur Telp./Fax. (62 - 380) 827342 Email: Kapet.mbay@telkom.net Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

40

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU SERAM (BP KAPET SERAM)

Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Seram ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 165 Tahun 1998 tentang Penetapan KAPET Seram ditetapkan tanggal 22 September 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Maluku.

 

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET Seram berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET Seram yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET Seram termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
  Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Dengan luas wilayah 1.862.500 Ha dan jumlah penduduk 343.607 jiwa (Tahun 1995) dengan laju pertumbuhan penduduk 17 jiwa/km2; Cakupan wilayah KAPET Seram meliputi Kecamatan Seram Barat, Kecamatan Tanwel, Kecamatan Kairatu, Kecamatan TNS, Kecamatan Amahai, Kecamatan Seram Utara, Kecamatan Tehoru, Kecamatan Bula, Kecamatan Werinama, Kecamatan Seram timur. engan luas wilayah 6.905,081 Km2 dan jumlah penduduk 1.005.320 jiwa (Tahun 2001).

Keanggotaan
1. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; 2. Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Maluku.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

41

Lembaga Non Struktural

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Pengembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

     

Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Maluku.

Instansi Terkait
           Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 1.500.000 Realisasi 1.369.384 Total Aset Non APBN

BP. KAPET SERAM Jl. Anthony Rhebok No. 8 Ambon, Maluku Telp. (62 - 911) 343810 Fax. (62 - 911) 343811 Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

42

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGELOLA KAWASAN PENGEMBANGAN EKONOMI TERPADU BIAK (BP KAPET BIAK) Dasar Hukum
 Badan Pengelola Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Biak dibentuk pada tanggal 3 Desember 1996 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 89 Tahun 1996 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 3 Desember 1996. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 90 Tahun 1996 tentang Penetapan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu Biak yang diperbaharui dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 9 Tahun 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 150 Tahun 2000 tentang Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu ditetapkan pada tanggal 19 Oktober 2000.

Tujuan Pendirian
Dalam upaya memacu dan meningkatkan kegiatan pembangunan serta dalam rangka lebih memberikan peluang kepada dunia usaha untuk berperan serta secara lebih luas di kawasan timur Indonesia khususnya Daerah Tingkat I Irian Jaya yang berpusat di Biak.

Tugas
Mengendalikan dan mengawasi kegiatan pembangunan di wilayah KAPET Biak berdasarkan rencana Induk Pembangunan yang ditetapkan oleh Tim Pengarah sesuai dengan Rencana Tata Ruang Nasional dan Rencana Tata Ruang Wilayah.

 

Fungsi
1. Melaksanakan Rencana Induk Pengembangan KAPET Biak yang ditetapkan oleh Tim Pengarah; 2. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan industri, perdagangan dan jasa di wilayah KAPET Biak termasuk pembangunan sarana, prasarana dan fasilitas penunjang lainnya; 3. Memberikan dan mengendalikan perijinan usaha berdasarkan pelimpahan wewenang dari instansi terkait dalam rangka pelayanan satu atap.

Sifat Dan Kedudukan
   Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Tim Pengarah; Meliputi 5 Kabupaten yaitu Kabupaten Biak Numfor, Yapen Waropen, Nabire, Manokwari dan Mimika; Sebagai pusat pertumbuhan di wilayah utara dan selatan telah ditetapkan Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Mimika dengan pertimbangan bahwa keduanya telah memiliki infrastruktur yang memadai dan sentra-sentra industri untuk memacu pengembangan wilayah serta pertumbuhan ekonomi.

Keanggotaan
1. Ketua Harian Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; 2. Anggota : a. Para anggota Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia; b. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Papua.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

43

Lembaga Non Struktural

Susunan Organisasi
1. Ketua Badan Pengelola KAPET dijabat oleh Gubernur; 2. Wakil Ketua sebagai Ketua Pelaksana Harian; 3. Direktur Umum dan Penembangan Usaha; 4. Direktur Perencanaan dan Pembangunan.

     

Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; Badan Pertanahan Nasional; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Papua.

Instansi Terkait
           Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pekerjaan Umun; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementrian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral;

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah Total Aset Non APBN

APBN

Realisasi

BP. KAPET BIAK Kantor Pusat: Jl. Batu Karang No. 1 Swapodibo Biak, Papua Telp. (62 - 981) 24514, 25371 Fax. (62 - 981) 24515 Email: kapet@biak.wasantara.net.id Homepage : http://www.kapet.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

44

Lembaga Non Struktural

BADAN NASIONAL SERTIFIKASI PROFESI (BNSP)

Dasar Hukum
 Badan Nasional Sertifikasi Profesi dibentuk pemerintah berdasarkan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi ditetapkan pada tanggal 5 Agustus 2004.

Susunan Organisasi Keanggotaan

dan

1. Ketua merangkap anggota; 2. Wakil Ketua merangkap anggota; 3. Sebanyak-banyaknya 23 (dua puluh tiga) orang anggota; 4. Komisi; 5. Sekretariat.  Keanggotaan BNSP terdiri dari unsur Pemerintah dan unsur masyarakat.  Keanggotaan dari unsur Pemerintah sebanyak-banyaknya 10 (sepuluh) orang.

Sifat Dan Kedudukan
  Merupakan lembaga yang independen dalam melaksanakan tugasnya. Bertanggung jawab kepada Presiden.

Instansi Terkait
 Kementerian Transmigrasi. Tenaga Kerja dan

Tujuan Pendirian
Untuk menjamin mutu kompetensi dan pengakuan tenaga kerja pada seluruh sektor bidang profesi di Indonesia melalui proses sertifikasi.

Informasi Keuangan
  Sumber Dana dari APBN. Dibebankan pada Anggaran Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Tugas
Melaksanakan kerja. sertifikasi kompetensi

Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 28.000.000 Realisasi 21.007.634 Total Aset 5.100.593 Non APBN

Wewenang
Dapat memberikan lisensi kepada lembaga sertifikasi profesi yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja.

Sekretariat BNSP : Jl. MT Haryono, Cikoko Kav. 52 Jakarta Selatan Telp. 021 - 799 2685 (central) Fax. 021 - 799 2321 Homepage : www.bnsp.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

45

Lembaga Non Struktural

BADAN KOORDINASI KEAMANAN LAUT (BAKORKAMLA)

Dasar Hukum
 Badan Koordinasi Keamanan Laut didirikan di Jakarta, dan dibentuk Tahun 1972 melalui Keputusan Bersama Menteri Pertahanan dan Keamanan/ Panglima Angkatan Bersenjata, Menteri Perhubungan, Menteri Keuangan, Menteri Kehakiman, dan Jaksa Agung, Nomor: KEP/B/45/XII/1972; SK/901/M/1972; KEP779/MK/III/122/1972; J.S.8 /72/1; KEP-085 /J.A/12/1972 tentang Pembentukan Badan Koordinasi Keamanan di Laut dan Komando Pelaksana Operasi Bersama Keamanan di Laut. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2005 tentang Badan Koordinasi Keamanan Laut ditetapkan pada tanggal 29 Desember 2005. Undang Undang Nomor 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia disahkan pada tanggal 8 Agustus 1996.

  

Merumuskan dan menetapkan penyelenggaraan dukungan teknis dan administrasi di bidang keamanan laut. Membantu peningkatan kapasitas kelembagaan di bidang keamanan laut. Mendorong peningkatan peran serta masyarakat di bidang keamanan laut.

Keanggotaan dan Struktur Organisasi
1. Ketua : Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan. 2. Anggota : a. Menteri Luar Negeri; b. Menteri Dalam Negeri; c. Menteri Pertahanan; d. Menteri Hukum dan HAM; e. Menteri Keuangan; f. Menteri Perhubungan; g. Menteri Kelautan dan Perikanan; h. Jaksa Agung Republik Indonesia; i. Panglima Tentara Nasional Republik Indonesia; j. Kepala Kepolisian Negara RI; k. Kepala Badan Inteljen Negara; l. Kepala Staf TNI- Angkatan Laut. 3. Sekretaris : Kepala Pelaksana Harian BAKORKAMLA (merangkap Anggota) 4. Pelaksanaan Harian terdiri atas : a. Tim Koordinasi Keamanan Laut (Ex Officio Eselon 1 mewakili anggota BAKORKAMLA); b. Sekretaris Pelaksanaan Harian. Pusat Penyiapan Kebijakan Keamanan Laut; c. Pusat Koord inasi Operasi Keamanan Laut; d. Pusat Informasi, Hukum dan Kerja Sama Keamanan Laut; e. Satuan Tugas Koodinasi Keamanan Laut ( ad hoc ).

Sifat Dan Kedudukan
   Bertanggung jawab Kepada Presiden; Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta.

Visi
Terwujudnya upaya penciptaan keamanan, keselamatan , dan penegakan hukum dalam wilayah perairan Indonesia secara terpadu.

Misi
  Merumuskan dan menetapkan kebijakan umum di bidang keamanan laut. Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan dan operasi keamanan laut di wilayah perairan Indonesia.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

46

Lembaga Non Struktural

Tugas Pokok
Mengkoordinasikan penyusunan kebijakan dan pelaksanaan kegiatan operasi keamanan laut secara terpadu.

   

Tentara Nasional Indonesia (TNI); Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI); Badan Intelejen Nasional (BIN); Tentara Nasional IndonesiaAngkatan Laut (TNI-AL).

Fungsi
  Perumusan dan penetapan kebijakan umum di bidang keamanan laut; Koordinasi kegiatan dan pelaksanaan tugas di bidang keamanan laut yang meliputi kegiatan penjagaan, pengawasan, pencegahan dan penindakan pelanggaran hukum serta pengamanan pelayaran dan pengamanan aktivitas masyarakat dan pemerintahan di wilayah perairan Indonesia; Pemberian dukungan teknis dan administrasi di bidang keamanan laut secara terpadu.

Sumber Dana
  APBN/APBD. Sumber dana lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Informasi Keuangan
 Kode Satker : 890393. Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 131.378.895 Realisasi 120.376.883 Total Aset 206.202.008 Non APBN

Instansi Terkait
        Kementerian Luar Negeri; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Pertahanan; Kementerian Hukum dan HAM; Kementerian Keuangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kejaksaan Agung Republik Indonesia;

Alamat : Jl. DR. Sutomo 11, Jakarta 10710 Telp. + 62 021 - 500500 Fax. + 62 021 - 3519090 www.bakorkamla.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

47

Lembaga Non Struktural

BADAN KOORDINASI PENATAAN RUANG NASIONAL (BKPRN) Dasar Hukum
Badan Koordinasi Penataan Ruang Nasional didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 2009.

Tujuan Penderian
Menyusun kebijakan, pelaksanaan, dan pengawasan penataan ruang yang melibatkan peran berbagai sektor terkait memerlukan keterpaduan dan keserasian penanganan dalam satu wadah koordinasi nasional.

Sifat Dan Kedudukan

Lembaga Non Struktural. Berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Peran dan Fungsi
  Penyiapan kebijakan penataan ruang nasional; Pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional secara terpadu sebagai dasar bagi kebijakan pengembangan tata ruang wilayah nasional dan kawasan yang dijabarkan dalam progran pembangunan sektor dan program pembangunan di daerah; Penanganan dan penyelesaian masalah yang timbul dalam penyelenggaraan penataan ruang, baik di tingkat nasional maupun daerah, dan memberikan pengarahan serta saran pemecahannya; Penyusunan peraturan perundangundangan di bidang penataan ruang, termasuk standar, prosedur, dan kriteria; Pemaduserasian berbagai peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penyelenggaraan penataan ruang; Pemanduserasian penatagunaan tanah dan penatagunaan sumber daya alam lainnya dengan Rencana Tata Ruang; Pemantauan pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan pemanfaatkan hasil pemantauan tersebut untuk penyempurnaan Rencana Tata Ruang; Penyelenggaraan, pembinaan, dan penentuan prioritas pelaksanaan penataan ruang kawasan-kawasan strategis nasional dalam rangka pengembangan wilayah; Pelaksanaan penataan ruang wilayah nasional dan kawasan strategis nasional; Pemfasilitasan kerja sama penataan ruang antar provinsi;

Keanggotaan
1. Ketua 2. Wakil Ketua I 3. Wakil ketua II 4. Sekretaris

: Menteri Koordinator : : :

5. Anggota : a. Menteri Pertahanan; b. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral; c. Menteri Perindustrian; d. Menteri Pertanian; e. Menteri Kehutanan; f. Menteri Perhubungan; g. Menteri Kelautan dan Perikanan; h. Menteri Negara Lingkungan Hidup; i. Kepala Badan Pertanahan Nasional; j. Wakil Sekretaris Kabinet.

Bidang Perekonomian Menteri Pekerjaan Umum Menteri Dalam Negeri Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BPPN

 

Struktur Organisasi
        Ketua; Wakil Ketua I; Wakil Ketua II; Sekretaris; Anggota; Tim Pelaksana; Kelompok Kerja; Sekretariat. 

 

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

48

Lembaga Non Struktural

  

Kerja sama penataan ruang antar negara; Penyebarluasan informasi bidang penataan ruang dan yang terkait; Sinkronisasi Rencana Umum dan Rencana Rinci Tata Ruang Daerah dengan peraturan perundangundangan, termasuk dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan rencana rincinya; dan Upaya peningkatan kapasitas kelembagaan Pemerintah dan Pemerintah Daerah dalam penyelenggaraan penataan ruang.

Sumber Dana
  APBN. Sumber pembiayaan lainnya yang sifatnya tidak mengikat sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 1.164.900 Realisasi 1.140.214 Total Aset 1.164.900 Non APBN

Alamat : Jl. Taman Suropati No. 2 Jakarta Pusat 10310 Telp. 021 - 31936207, 3905650 Fax. 021 - 3145374 Situs web: www.bappenas.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

49

Lembaga Non Struktural

BADAN WAKAF INDONESIA (BWI)

Dasar Hukum
 Badan Wakaf Indonesia (BWI) didirikan berdasarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 tentang Wakaf . Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaannya.

 

Sifat Dan Kedudukan
  BWI merupakan lembaga Independen dalam melaksanakan tugasnya. BWI berkedudukan di Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia dan dapat membentuk perwakilan di provinsi dan/atau kabupaten/kota sesuai dengan kebutuhan.

Memberikan persetujuan atas penukaran harta benda wakaf; Memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah dalam penyusunan kebijakan di bidang perwakafan; Dalam melaksanakan tugas BWI dapat bekerja sama dengan instansi Pemerintah baik pusat maupun daerah, organisasi masyarakat, para ahli, badan internasional dan pihak lain yang dipandang perlu; Dalam melaksanakan tugas BWI memperhatikan saran dan pertimbangan Menteri Agama dan Majelis Ulama Indonesia.

Keanggotaan
1. Terdiri atas Badan Pelaksana dan Dewan Pertimbangan; 2. Badan Pelaksana merupakan unsur pelaksana tugas Badan Wakaf Indonesia; 3. Dewan Pertimbangan merupakan unsur pengawas pelaksanaan tugas Badan Wakaf Indonesia; 4. Masing-masing dipimpin oleh 1 (satu) orang Ketua dan 2 (dua) orang Wakil Ketua yang dipilih dari dan oleh para anggota; 5. Susunan keanggotaan masing-masing Badan Pelaksana dan Dewan Pertimbangan ditetapkan oleh para anggota.

Tujuan Pendirian
 Meningkatkan peran wakaf sebagai pranata keagamaan yang tidak hanya bertujuan menyediakan berbagai sarana ibadah dan sosial, tetapi juga memiliki kekuatan ekonomi yang berpotensi, antara lain, untuk memajukan kesejahteraan umum, sehingga perlu dikembangkan pemanfaatannya sesuai dengan prinsip syariah. Dalam rangka memajukan dan mengembangkan perwakafan nasional.

Tugas dan Wewenang
    Melakukan pembinaan terhadap Nazhir dalam mengelola dan mengembangkan harta benda wakaf; Melakukan pengelolaan dan pengembangan harta benda wakaf berskala nasioanal dan internasioanal; Memberikan persetujuan dan/atau izin atas perubahan peruntukkan dan status harta benda wakaf; Memberhentikan dan mengganti nazhir;

Instansi Terkait
      Pemerintah baik pusat maupun daerah; Kementerian Agama; Badan Pertanahan Nasional; Majelis Ulama Indonesia; Badan Amil Zakat Nasional; Organisasi masyarakat, Para Ahli, Badan Internasional dan pihak lain yang dipandang perlu.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

50

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
  APBN selama 10 (sepuluh) tahun pertama dan dapat diperpanjang. Dibebankan pada Kementerian Agama.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 3.268.925 Realisasi 3.268.872 Total Aset 2.192.879 Non APBN 79.966

Sekretariat BWI : Jl. Raya Pondok Gede, Pinang Ranti Jakarta Timur 021 - 80884988, 70349977 021 - 80877955

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

51

Lembaga Non Struktural

BADAN PERTIMBANGAN PERFILMAN NASIONAL (BP2N) Dasar Hukum
Badan Pertimbangan Perfilman Nasional didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 1994 tentang Badan Pertimbangan Perfilman Nasional. d. Hiburan; e. Ekonomi.

Wewenang
  Memberikan pertimbangan dan saran kepada Kementerian penerangan sesuai dengan fungsi dan tugasnya; Memberikan pertimbangan dan saran tertulis kepada Kementerian Penerangan untuk menarik dari peredaran film-film yang menimbulkan gangguan terhadap keamanan, ketertiban, ketenteraman atau keselarasan hidup masyarakat; Menerima dan memberikan keputusan atas keberatan yang diajukan oleh perusahaan pembuatan film atau pemilik film Indonesia yang filmnya ditolak oleh Lembaga Sensor Film.

Sifat Dan Kedudukan
   Lembaga Non Struktural; Bertanggung jawab Kepada Presiden; Berkedudukan di Jakarta.

Tujuan Pendirian
Untuk memberikan pertimbangan dalam masalah perfilman kepada Pemerintah. 

Fungsi

Memberikan pertimbangan, saran, usul, nasihat, atau pemikiran kepada Kementerian Penerangan dalam perumusan kebijakan pembinaan dan pengembangan perfilman di Indonesia, baik diminta maupun tidak diminta; Memberikan keputusan atas keberatan yang diajukan oleh perusahaan pembuatan film atau pemilik film Indonesia terhadap film yang ditolak oleh Lembaga Sensor Film; Merupakan salah satu mata rantai dalam sistem pembinaan perfilman di Indonesia.

Susunan Organisasi Keanggotaan
1. 2. 3. 4.

dan

Ketua merangkap anggota; Wakil Ketua merangkap anggota; Sekretaris merangkap anggota; Anggota.

Tugas
 Menghimpun dan mengkaji hal-hal yang berkaitan dengan perfilman serta merumuskan saran-saran dalam rangka pengembangan perfilman di Indonesia, yang mencakup aspek : a. Penerangan; b. Pendidikan; c. Pengembangan budaya bangsa;

Beranggotakan paling banyak 25 (duapuluh lima) orang, terdiri dari unsurunsur : a. Pemerintah; b. Masyarakat perfilman; c. Para ahli di bidang pendidikan, kebudayaan, agama, dan Perfilman; d. Wakil organisasi perfilman; e. Wakil organisasi kemasyarakatan lainnya yang dipandang perlu.

Instansi Terkait
  Kementerian Kebudayaan Pariwisata. Lembaga Sensor Film. dan

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

52

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan pada DIPA Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 1.000.000 Realisasi 949.600 Total Aset Non APBN

Alamat BP2N : Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Direktorat Perfilman Lt. 5 Jalan MT. Haryono No. 47-48 Telp. 021 - 7902 974-75

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

53

Lembaga Non Struktural

BADAN PELAKSANA PENGELOLA MASJID ISTIQLAL (BPPMI) Dasar Hukum
Badan Pelaksana Pnelolaan Masjid Istiqlal didirikan di Jakarta berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 38 Tahun 1994 tentang Pengelolaan Masjid Istiqlal ditetapkan tanggal 31 Mei 1994.

Fungsi
 Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan ibadah serta kegiatan keagamaan lainnya yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal; Perencanaan dan pelaksanaan kegiatan dalam rangka syiar islam yang diselenggarakan di Masjid Istiqlal; Perencanaan dan pelaksanaan pemeliharaan bangunan, tanaman, serta segala perlengkapan pendukung masjid istiqlal agar tetap berfungsi dengan baik dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia; Koordinasi dan kerjasama dengan badan atau lembaga pemerintah atau non pemerintah atau organisasi kemasyarakatan yang berkenaan dengan pelaksanaan pengelolaan dan pemanfaatan Masjid Istiqlal untuk kepentingan syiar Islam; Penyampaian laporan, saran, dan pertimbangan berkenaan dengan bidang tugas dan tanggung jawabannya secara berkala kepada Presiden.

Sifat Dan Kedudukan
 

Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab kepada Presiden. 

Tujuan Pendirian
Dalam rangka penyelenggaraan, pengelolaan dan pemanfaatan Masjid Istiqlal sebagai pusat kegiatan ibadah dan muamalah untuk kepentingan dan kemajuan syiar Islam di Indonesia.

Tugas
1. Menjadikan Masjid Istiqlal sebagai Masjid Negara yang mempunyai kedudukan sangat penting di tengahtengah umat; 2. Mengefektifkan fungsi Masjid Istiqlal sebagai pusat kegiatan ibadah, pusat kegiatan masyarakat/umat Islam, serta pusat pembinaan persatuan dan kesatuan umat Islam dan Bangsa Indonesia pada umumnya; 3. Menjaga kesucian Masjid Istiqlal sebagai rumah Allah, dikelola sedemikian rupa agar setiap orang yang beribadah merasa sejuk, khusyu’, aman dan tenteram; 4. Menjadikan Masjid Istiqlal sebagai etalase dakwah dan panutan masjidmasjid di Indonesia.

Visi
Terwujudnya Masjid Istiqlal sebagai masjid pelopor pembinaan persatuan umat dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Misi
Meningkatkan kualitas pelayanan ibadah bagi masyarakat serta menjaga kesucian masjid sebagai rumah Allah sehingga dapat terwujud suasana masjid yang sejuk, aman, tenteram, dan terhormat serta mulia karena Allah.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

54

Lembaga Non Struktural

Susunan Keanggotaan
  Ketua Menteri Agama. Anggota : 1. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Urusan Haji Kementerian Agama; 2. Sekretaris Kementerian Sekertaris Negara; 3. Gubernur Kepala Daerah Khusus Ibukota Jakarta; 4. Ketua Majelis Ulama Indonesia.  Badan Pelaksana. SUSUNAN PENGURUS BPPMI 1. Ketua; 2. Wakil Ketua; 3. Sekretaris : a. Seksi Tata Usaha; b. Seksi Perlengkapan; c. Seksi Humas dan Protokol; d. Seksi Keuangan; e. Seksi Kepegawaian. 4. Bidang Ta’mir : a. Sub Bidang Peribadatan; b. Sub Bidang Diklat; c. Sub Bidang Remaja dan Wanita; d. Sub Bidang Kemasyarakatan; e. Sub Bidang Perpustakaan; f. Sub Bidang Hari Besar Islam. 5. Bidang Ri’ayah : a. Sub Bidang Pemeliharaan Gedung; b. Sub Bidang Keamanan dan Ketertiban; c. Sub Bidang Pertamanan dan Kebersihan;

d. Sub Bidang Pemeliharaan Air, Listrik, dan Sound System. 6. Imam Besar dan Wakil Imam Besar masing-masing 1 orang; 7. Imam 8 orang dan Muadzin 7 orang.

Instansi Terkait
    Kementerian Agama; Sekretariat Negara; Kantor Gubernur Kepala Khusus Ibukota Jakarta; Majelis Ulama Indonesia. Daerah

Sumber Dana
  Subsidi Pemerintah melalui Kementerian Agama. Sumber lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 15.000.000 Realisasi 14.999.000

Total Aset 50.207.269

Non APBN

Sekretariat : Jalan Taman Wijaya 48 Jakarta 10710 Telp. 021 - 3811708 Fax. 021 - 3523321 http://www.masjidistiqlal.com

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

55

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM (BAWASLU) Dasar Hukum
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum.   Meneruskan temuan dan laporan yang bukan menjadi kewenangannya kepada instansi yang berwenang; Menetapkan standar pengawasan tahapan penyelenggaraan Pemilu sebagai pedoman kerja bagi pengawas Pemilu di setiap tingkatan; Mengawasi pelaksanaan penetapan daerah pemilihan dan jumlah kursi pada setiap daerah pemilihan berdasarkan peraturan perundangundangan; Mengawasi pelaksanaan tindak lanjut rekomendasi pengenaan sanksi kepada anggota KPU, KPU Provinsi, KPU Kabupaten/Kota, Sekretaris Jenderal KPU, pegawai Sekretariat Jenderal KPU, Sekretaris KPU Provinsi, pegawai Sekretariat KPU Provinsi, Sekretaris KPU Kabupaten/Kota, dan pegawai sekretariat KPU Kabupaten/Kota yang terbukti melakukan tindakan yang mengakibatkan terganggunya tahapan penyelenggaraan Pemilu yang sedang berlangsung; Mengawasi pelaksanaan sosialisasi penyelenggaraan Pemilu; Melaksanakan tugas dan wewenang lain yang ditetapkan oleh undangundang.

Sifat dan Kedudukan
  Bersifat tetap. Berkedudukan di Ibu Kota Negara.

Keanggotaan
Sebanyak 5 (lima) orang terdiri atas kalangan profesional yang mempunyai kemampuan dalam melakukan pengawasan dan tidak menjadi anggota partai politik.

Struktur Organisasi
o o o Ketua; Anggota; Sekretariat.  

Tujuan Pendirian
 Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 70 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum. Untuk melakukan pengawasan penyelenggaraan Pemilu.

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan pada Sekretariat Jenderal Komisi Pemilihan Umum.

Peran dan Fungsi
  Mengawasi tahapan penyelenggaraan Pemilu; Menerima laporan dugaan pelanggaran terhadap pelaksanaan peraturan perundang-undangan mengenai Pemilu; Menyampaikan temuan dan laporan kepada KPU untuk ditindaklanjuti;

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 1.829.123.000 Realisasi 1.541.028.331 Total Aset 14.063.977 Non APBN

Alamat : Jl. MH Thamrin No. 14 Jakarta Pusat 10240 Telp. 021 – 3905889, 3907911

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

56

Lembaga Non Struktural

DEWAN PERS Dasar Hukum

Dewan Pers pertama kali dibentuk Tahun 1968. Pembentukannya berdasar Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers yang ditandatangani Presiden Soekarno, 12 Desember 1966. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1982 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1966 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pers Sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1967, yang ditandatangani Presiden Soeharto 20 September 1982. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang diundangkan 23 September 1999 dan ditandatangani oleh Presiden Bacharudin Jusuf Habibie, Dewan Pers berubah menjadi Dewan Pers (yang) Independen.   Mengembangkan komunikasi antara pers, masyarakat, dan pemerintah; Memfasilitasi organisasi-organisasi pers dalam menyusun peraturanperaturan di bidang pers dan meningkatkan kualitas profesi kewartawanan; Mendata perusahaan pers.

Susunan Keanggotaan
 Keanggotaan Terdiri dari : a. Wartawan yang dipilih organisasi wartawan; b. Pimpinan perusahaan pers yang dipilih oleh organisasi perusahaan pers; c. Tokoh masyrakat, ahli di bidang pers dan atau komunikasi, dan bidang lainnya yang dipilih oleh organisasi wartawan dan organisasi perusahaan pers. Ketua dan Wakil Ketua dipilih dari dan oleh anggota; Keanggotaan berlaku untuk masa 3(tiga) tahun dan sesudah itu hanya dapat dipilih kembali untuk satu periode berikutnya; Komisi : a. Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Pers; b. Komisi Hukum dan PerundangUndangan; c. Komisi Pengkajian, Pendataan, dan Pengembangan Profesi Kewartawanan; d. Komisi Pemberdayaan Organisasi dan Hubungan Antar Lembaga. Sekretariat.

 

Sifat Dan Kedudukan
   Lembaga ini bersifat Independen dan Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab kepada Presiden. 

Tujuan Pendirian
Dalam upaya mengembangkan kemerdekaan pers dan meningkatkan kehidupan pers nasional. 

Fungsi
    Melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain; Melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan pers; Menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik; Memberikan pertimbangan dan mengupayakan penyelesaian pengaduan masyarakat atas kasuskasus yang berhubungan dengan pemberitaan pers;

Instansi Terkait
  Sekretariat Negara. Kementerian Komunikasi Informatika. dan

Sumber Dana
    APBN; Organisasi Pers; Perusahaan Pers; Sumber lain yang tidak mengikat.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

57

Lembaga Non Struktural

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 14.769.161 Realisasi 12.342.830 Total Aset 3.418.976 Non APBN

Sekretariat : Gedung Dewan Pers Lantai VII Jl. Kebon Sirih No.32-34 Jakarta 10110 Telp.021 - 3521488, 3504877, 3504874-75 Fax. 021 - 3452030 Website: www.dewanpers.org Email: dewanpers@cbn.net.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

58

Lembaga Non Struktural

DEWAN GULA INDONESIA (DGI) Dasar Hukum
Dewan Gula Indonesia dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2003 tentang Dewan Gula Indonesia, ditetapkan pada tanggal 11 Agustus 2003. e. Deputi Bidang Usaha Agro Industri, Kehutanan, kertas, percetakan dan penerbitan, Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara; f. Ketua Bidang Perkebunan dan kehutanan, Kamar Dagang dan Industri Indonesia; g. Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia; h. Ketua Asosiasi Gula Indonesia; i. Ketua Badan Koordinasi Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia; j. Ketua AsosiasiPetani Tebu Rakyat Wilayah Kerja PTPN X; Sekretaris merangkap anggota: Direktur Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Kementerian Pertanian; Kelompok Kerja.

Sifat Dan Kedudukan
  Lembaga ini bersifat Independen dan Non Struktural. Bertanggung jawab kepada Presiden.  

Tujuan Pendirian
Membantu Presiden dalam menetapkan kebijakan umum di bidang pergulaan nasional.

Instansi Terkait
         Kementerian Pertanian; Kementerian Keuangan; Kementerian Perindustrian Kementerian Perdagangan; Kementerian Negara BUMN; Kamar Dagang dan Industri Indonesia; Himpunan Kerukunan Tani Indonesia; Asosiasi Gula Indonesia; Asosiasi Petani Tebu Rakyat indonesia.

Tugas
Memberikan saran dan/atau pertimbangan kepada Presiden dalam merumuskan kebijakan di bidang pergulaan nasional kea rah pengembangan sistem dan usaha agribisnis gula yang lebih efektif dan efisien.

Susunan Organisasi Keanggotaan
 

dan

Ketua merangkap anggota : Menteri Pertanian; Wakil Ketua merangkap anggota: a. Menteri Keuangan; b. Menteri Perindustrian; c. Menteri Perdagangan. Anggota : a. Direktur Jenderal Lembaga Keuangan, Kementerian Keuangan; b. Direktur Jenderal Anggaran, Kementerian Keuangan; c. Direktur Jenderal Industri Kimia, Agro, dan Hasil Hutan, Kementerian Perindustrian; d. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan;

Sumber Dana
   APBN; Sumber Lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan; Dibebankan melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

59

Lembaga Non Struktural

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 1.034.900 Realisasi 863.498 Total Aset Non APBN

Sekretariat Dewan Gula Indonesia Kantor Pusat Kementerian Pertanian Jl. Harsono RM No. 3 Ragunan Pasar Minggu Jakarta selatan 12550 E-Maildewangula@deptan.go.id Telp./Fax. 021 - 7827784

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

60

Lembaga Non Struktural

DEWAN KOPERASI INDONESIA (DEKOPIN)

Dasar Hukum
 Dewan Koperasi Indonesia dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 1992 tentang Perkoperasian disahkan pada tanggal 21 Oktober 1992. Dekopin diatur dalam Bab XI tentang Lembaga Gerakan Koperasi Pasal 57, 58, 59. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1999 tentang Pengesahan Perubahan Anggaran Dasar Dewan Koperasi Indonesia ditetapkan pada tanggal 24 Maret 1999. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 1997 tentang Pengesahan Anggaran Dasar Dewan Koperasi Indonesia.

Tugas
1. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia koperasi; 2. Meningkatkan kerja sama antar koperasi dan antara koperasi dengan badan usaha lainnya, baik tingkat nasional maupun internasional; 3. Meningkatkan advokasi kepada pemerintah, lembaga tinggi negara dan masyarakat untuk memungkinkan koperasi mendapatkan akses dan peluang yang lebih besar dalam perekonomian nasional; 4. Meningkatkan peran wanita dan pemuda dalam perkoperasian. Dalam rangka menyelenggarakan kegiatan tersebut, anggota DEKOPIN secara bersama-sama menghimpun dana koperasi.

Sifat Dan Kedudukan
   DEKOPIN adalah organisasi tunggal gerakan koperasi Indonesia, yang bersifat idiil dan otonom; Berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia; Daerah kerja DEKOPIN meliputi seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia.

Fungsi
1. Wadah perjuangan cita-cita, nilai-nilai dan prinsip-prinsip koperasi; 2. Wakil gerakan koperasi baik di dalam maupun di luar negeri; 3. Mitra pemerintah dalam rangka mewujudkan pembangunan koperasi di Indonesia.

Tujuan Pendirian
DEKOPIN bertujuan membina dan mengembangkan kemampuan koperasi dalam kedudukannya sebagai pelaku ekonomi nasional dalam rangka mewujudkan tata ekonomi nasional berdasarkan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 dengan tetap menegakkan jati diri koperasi.

Keanggotaan
 Anggota biasa : Adalah seluruh Koperasi Indonesia yang berbadan hukum. Anggota luar biasa : Adalah badan dan lembaga bukan koperasi yang melakukan kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan koperasi dan mengajukan permintaan menjadi anggota DEKOPIN.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

61

Lembaga Non Struktural

Susunan Organisasi
1. Di tingkat Nasional disebut DEKOPIN berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia; 2. Di tingkat Propinsi/Daerah Istimewa disebut DEKOPIN Wilayah (DEKOPINWIL) yang berkedudukan di Ibukota Propinsi/Daerah Istimewa; 3. Di tingkat Kabupaten/Kotamadya disebut DEKOPIN Daerah (DEKOPINDA) yang berkedudukan di Ibukota Kabupaten/Kotamadya. a.

b.

Maksimal menjabat 2 (dua) kali masa jabatan; DEKOPIN memiliki Penasehat dan Majelis Pakar yang kedudukan dan fungsinya diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga; DEKOPIN dapat membentuk badan khusus/lembaga sesuai dengan kebutuhan perkembangan kegiatan DEKOPIN, yang diatur lebih lanjut dalam Anggaran Rumah Tangga. 

Instansi Terkait
   Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah; Koperasi seluruh Indonesia; Pemerintah Pusat dan Daerah.

Perangkat organisasi
1. Rapat Anggota DEKOPIN, merupakan pemegang kekuasaan tertinggi Dekopin; 2. Pimpinan DEKOPIN : Dipilih dari dan oleh anggota dalam rapat anggota untuk masa jabatan 5 (lima) tahun. - Ketua Umum dipilih secara langsung; - Dilakukan secara kolektif yang terdiri dari : a. Pimpinan Paripurna, berjumlah sebanyak-banyaknya 33 orang; b. Pimpinan Harian, berjumlah sebanyak-banyaknya 11 orang, maksimal menjabat 2 (dua) kali masa jabatan; 3. Pengawas DEKOPIN; - Dipilih dari dan oleh anggota dalam rapat anggota untuk masa jabatan 5 (lima) tahun; - Berjumlah sebanyak-banyaknya 5 (lima) orang yang dipimpin oleh seorang ketua;

Sumber Dana
    Iuran tetap anggota; Dana pendidikan dari anggota; Bantuan pemerintah pusat dan daerah; Penerimaan lainnya yang sah dan tidak mengikat.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Sekjen Dekopin : Wisma Tamara Lantai 7 Jalan Jenderal Sudirman Kav. 24 Jakarta Pusat 12920 Telp. 021 - 5206525 Fax. 021 - 5206523 Home : http:// www.dekopin.coop

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

62

Lembaga Non Struktural

DEWAN KETAHANAN PANGAN (DKP)

Dasar Hukum
 Dewan Ketahanan Pangan didirikan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1996 tentang Ketahanan Pangan disahkan tanggal 4 November 1996. Bab VII Mengatur Khusus tentang Dewan Ketahanan Pangan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 132 Tahun 2001 tentang Dewan Ketahanan Pangan ditetapkan tanggal 31 Desember 2001. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 2006 tentang Dewan Ketahanan Pangan disahkan tanggal 4 Oktober 2006.

c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. p. q. r. s.

Sifat Dan Kedudukan
Merupakan Lembaga Non Struktural yang dipimpin oleh Seorang Ketua.

Tugas
Membantu Presiden dalam :  Merumuskan kebijakan dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional.  Melaksanakan evaluasi dan pengendalian dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional.  Meliputi kegiatan di bidang penyediaan pangan, distribusi pangan, cadangan pangan, penganekaragaman pangan, pencegahan dan penanggulangan masalah pangan dan gizi.                

Menteri Perindustrian; Menteri Perdagangan; Menteri Kehutanan; Menteri Kelautan dan Perikanan; Menteri Perhubungan; Kementerian Pekerjaan Umum; Menteri Kesehatan; Menteri Sosial; Menteri Pendidikan Nasional; Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah; Menteri Negara Riset dan Teknologi; Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ BAPPENAS; Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara; Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Kepala Badan Pusat Statistik; Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan. Dalam melaksanakan tugas, Dewan dibantu oleh Sekretariat Dewan.

Instansi Terkait
Kementerian Pertanian; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Keuangan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Kehutanan; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Kesehatan; Kementerian Sosial; Kementerian Pendidikan Nasional; Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah; Kementerian Negara Riset dan Teknologi; Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS; Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara;

Struktur Organisasi
1. Ketua : Presiden Republik Indonesia; 2. Ketua Harian : Menteri Pertanian; 3. Sekretaris merangkap Anggota : Kepala Badan Ketahanan Pangan; 4. Anggota : a. Menteri Dalam Negeri; b. Menteri Keuangan;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

63

Lembaga Non Struktural

  

Kementerian Tenaga Transmigrasi; Badan Pusat Statistik; Badan Pengawasan Makanan.

Kerja Obat

dan dan

Informasi Keuangan
Dibebankan kepada Kementerian Pertanian Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 5.225.000 Realisasi 4.059.164 Total Aset 96.400 Non APBN

Sumber Dana
APBN.

Alamat : Sekretariat Dewan Ketahanan Pangan Gedung A Lantai 2 – Kementerian Pertanian Jalan Harsono Rm No. 3 Ragunan Jakarta Selatan 12750 Telp./Fax. 021 – 7801045

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

64

Lembaga Non Struktural

DEWAN PERTIMBANGAN OTONOMI DAERAH (DPOD) Dasar Hukum
Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2005 tentang Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah, ditetapkan pada tanggal 28 Maret 2005. c. Dana Alokasi Khusus (DAK) masing-masing daerah untuk setiap tahun anggaran berdasarkan besaran pagu DAK dengan menggunakan kriteria sesuai dengan peraturan perundangan. 4. Penilaian kemampuan daerah propinsi, kabupaten, dan kota untuk melaksanakan urusan pemerintahan.

Sifat Dan Kedudukan
   Lembaga ini bersifat Independen dan Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Fungsi
1. Penilaian terhadap usul pembentukan, penghapusan dan penggabungan daerah serta pembentukan kawasan khusus; 2. Pemberian saran dan pertimbangan penyusunan rancangan kebijakan otonomi daerah; 3. Pemberian saran dan pertimbangan penyusunan rancangan kebijakan perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah; 4. Pemberian saran dan pertimbangan penyusunan rancangan kebijakan penilaian kemampuan daerah propinsi, kabupaten, dan kota untuk melaksanakan urusan pemerintahan; 5. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan otonomi daerah dan kebijakan perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah;

Tujuan Pendirian
 Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 224 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah; Sebagai Dewan yang memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden terhadap kebijakan otonomi daerah.

Tugas
1. Memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden terhadap kebijakan otonomi daerah mengenai rancangan kebijakan : 2. Pembentukan, penghapusan, dan penggabungan daerah serta pembentukan kawasan khusus ; 3. Perimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah, yang meliputi: a. Perhitungan bagian masing-masing daerah atas dana bagi hasil pajak dan sumber daya alam sesuai dengan peraturan perundangundangan; b. Formula dan perhitungan Dana Alokasi Umum (DAU) masingmasing daerah berdasarkan besaran pagu DAU sesuai dengan peraturan perundangan;

Struktur Organisasi Keanggotaan

dan

Susunan keanggotaan DPOD terdiri atas: a. Menteri Dalam Negeri sebagai Ketua, merangkap anggota; b. Menteri Keuangan sebagai Wakil Ketua, merangkap anggota; c. Menteri Pertahanan, sebagai anggota.; d. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, sebagai anggota;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

65

Lembaga Non Struktural

 

e. Menteri Sekretaris Negara, sebagai anggota.; f. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara, sebagai anggota; g. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, sebagai anggota; h. Perwakilan Pemerintah Daerah, sebagai anggota, terdiri dari : a) 1 (satu) orang Gubernur. b) 1 (satu) orang Bupati. c) 1 (satu) orang Walikota. i. Pakar Otonomi Daerah dan Keuangan, sebagai anggota, berjumlah 3 (tiga) orang. Masa tugas anggota selama 2 (dua) tahun dan dapat diperpanjang; Sekretariat : a. Membawahi bidang Otonomi daerah; b. Membawahi Bidang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah; c. Berkedudukan di Kementerian Dalam Negeri; d. Dijabat oleh Direktur Jenderal Otonomi Daerah, Menteri Dalam Negeri, sekaligus menangani Bidang Otonomi Daerah; Tim Teknis.

Instansi Terkait
       Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertahanan; Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Kementerian Negara Sekretariat Negara; Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara; Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPENAS.

Sumber Dana
   APBN; Dibebankan pada Anggaran Kementerian Dalam Negeri; Sumber lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan;

Informasi keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 2.765.000 Realisasi 1.356.148 Total Aset Non APBN

Alamat : Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri Jalan Medan Merdeka Utara No. 7-8 Jakarta Pusat 10110 021 - 34833648

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

66

Lembaga Non Struktural

DEWAN PERTIMBANGAN PRESIDEN (WANTIMPRES) Dasar Hukum
 Dewan Pertimbangan Presidan pertama kali dibentuk oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono pada 26 Maret 2007 berdasarkan Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2007 tentang Tata Kerja Dewan Pertimbangan Presiden dan Sekretariat Dewan Pertimbangan Presiden, ditetapkan pada tanggal 9 Maret 2007.

Fungsi
Melaksanakan fungsi nasehat dan pertimbangan yang terkait dengan pelaksanaan kekuasaan negara.

Keanggotaan
 Beranggotakan 9 ( sembilan) orang terdiri atas seorang Ketua merangkap anggota dan 8 (delapan) orang anggota; Dapat berasal dari pegawai negeri atau bukan pegawai negeri; Keanggotaan berakhir bersamaan dengan masa berakhirnya jabatan Presiden atau berakhir karena diberhentikan oleh presiden.

 

Sifat Dan Kedudukan
   Lembaga ini bersifat Independen dan Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Instansi Terkait
  Kantor Kepresidenan Indonesia. Kementerian Negara Negara. Republik Sekretariat

Tujuan Pendirian
Lembaga Pemerintah yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden sebagaimana dimaksud dalam pasal 16 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia.  

Sumber Dana
APBN. Dibebankan Kementerian Negara. pada Negara Anggaran Sekretariat

Tugas
Memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden dalam menyelenggarakan kekuasaan pemerintahan negara.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 31.918.046 Realisasi 24.118.984 Total Aset 7.768.048 Non APBN

Alamat Sekretariat Wantimpres : Jalan Veteran No. 17-18 Jakarta Pusat 10110 / 021- 34834759

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

67

Lembaga Non Struktural

DEWAN RISET NASIONAL (DRN)

Dasar Hukum
 Dewan Riset Nasional diresmikan pada tanggal 7 Januari 1984 melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 1984. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 1999 tentang Dewan Riset Nasional ditetapkan pada tanggal 10 Agustus 1999. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2002 mengenai Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan, dan Penerapan Iptek pasal 19 ayat 2. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2005 tentang Dewan Riset Nasional ditetapkan pada tanggal 7 Pebruari 2005.

Tugas
1. Membantu Kementerian dalam merumuskan arah dan prioritas utama pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi. 2. Memberikan berbagai pertimbangan kepada Kementerian dalam penyusunan kebijakan strategis pembangunan nasional ilmu pengetahuan dan teknologi.

Fungsi
1. Menyiapkan bahan masukan bagi Menristek yang berkaitan dengan perumusan kebijakan strategis nasional iptek, pertukaran informasi kegiatan penelitian pengembangan dan penerapan iptek serta pemberdayaan Dewan Riset Daerah; Menyusun Agenda Riset Nasional (ARN); Melakukan pengamatan dan evaluasi secara terus-menerus terhadap perencanaan dan pelaksanaan ARN; Memantau kemajuan berbagai cabang iptek dalam skala nasional, kinerja prasarana iptek serta mengkaji pengaruhnya bagi pembangunan nasional; Mengidentifikasi masalah nasional yang dihadapi dan memberikan rekomendasi pemecahan masalah tersebut kepada lembaga terkait; Menyiapkan bahan masukan bagi Menristek yang berkaitan dengan penegakan norma ilmiah riset; Menyiapkan bahan masukan bagi Menristek yang berkaitan dengan pengembangan sistem dan pengusulan penerima penghargaan riset.

Sifat Dan Kedudukan
   Lembaga ini bersifat Independen dan Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab kepada Presiden. 2. 3. 4.

Tujuan Pendirian
 Dewan Riset Nasional adalah lembaga yang dibentuk oleh pemerintah untuk mendukung Kementerian Negara Riset dan Teknologi dalam merumuskan arah, prioritas utama, dan kerangka kebijakan pemerintah di bidang penelitian, pengembangan, dan penerapan Iptek. Menggali pemikiran dan pandangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia

5.

6. 7.

Visi
Iptek sebagai kekuatan yang utama peningkatan kesejahteraan yang berkelanjutan dan peradaban bangsa.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

68

Lembaga Non Struktural

Misi
1. 2. 3. 4. Menempatkan Iptek sebagai landasan kebijakan pembangunan nasional dan berkelanjutan; Memberikan landasan etika pada pengembangan dan penerapan teknologi; Mewujudkan system inovasi nasional yang tangguh guna meningkatkan daya saing bangsa diera global; Meningkatkan difusi iptek melalui pemantapan jaringan pelaku dan kelembagaan iptek termasuk pengembangan mekanisme dan kelembagaan intermediasi iptek; Mewujudkan SDM, sarana, dan prasarana serta kelembagaan yang berkualitas dan kompetitif; Mewujudkan masyarakat yang cerdas, kreatif, dan inovatif dalam suatu peradaban masyarakat yang berbasis pengetahuan.

Susunan Organisasi
a. b. c. d. e. Ketua merangkap anggota; Wakil Ketua merangkap anggota; Sekretaris merangkap anggota; Anggota; Kesekretariatan.

Instansi Terkait
       Kementerian Negara Riset dan Teknologi; Badan Penerapan dan Pengkajian Teknologi (BPPT); Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI); Lembaga Penerbangan Nasional (LAPAN); Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN); Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (BAKOSURTANAL); Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG).

5. 6.

Keanggotaan
 Keanggotaan DRN berjumlah paling banyak 100 (seratus) orang ditambah perwakilan Dewan Riset Daerah;  Berasal dari masyarakat yang memiliki unsur kelembagaan Iptek yang terdiri dari unsur : a. Perguruan Tinggi; b. Lembaga Penelitian dan Pengembangan; c. Badan Usaha; d. Lembaga Penunjang.  Diangkat dan diberhentikan oleh Menteri;  Keanggotaan DRN diangkat untuk 1 (satu) kali masa jabatan selama 3 tahun dan dapat di angkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan Kementerian Teknologi. pada Negara Anggaran Riset dan

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 4.970.887 Realisasi 4.872.515 Total Aset 40.093 Non APBN

Sekretariat : Gedung I BPPT, Lt. 2 Jalan M.H. Thamrin No. 8 Jakarta Pusat 10340 Telp./Fax. 021 - 3905126 Email : sekretariat@drn.go.id Home : http://www.drn.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

69

Lembaga Non Struktural

DEWAN KELAUTAN INDONESIA (DEKIN) Dasar Hukum
Dewan Kelautan Indonesia dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Dewan Kelautan Indonesia, ditetapkan pada tanggal 21 September 2007.

Susunan Keanggotaan
   Ketua : Presiden Republik Indonesia; Ketua Harian : Menteri Kelautan dan Perikanan, merangkap Anggota; Anggota : a. Menteri Dalam Negeri; b. Menteri Luar Negeri; c. Menteri Pertahanan; d. Menteri Perhubungan; e. Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral; f. Menteri Keuangan; g. Menteri Pendidikan Nasional; h. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata; i. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS; j. Menteri Negara Lingkungan Hidup; k. Menteri Negara Riset dan Teknologi; l. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia; m. Kepala Staf TNI Angkatan Laut; n. Tim Pakar; o. Wakil Perguruan Tinggi; p. Wakil Asosiasi Dunia Usaha; q. Wakil Lembaga Swadaya Masyarakat. Sekretaris : Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Ekologi dan Sumber Daya Laut; Kelompok Kerja.

Sifat Dan Kedudukan
   Lembaga ini bersifat Independent dan Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Merupakan forum konsultasi bagi penetapan kebijakan umum di bidang kelautan.

Tugas
Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam penetapan kebijakan umum di bidang kelautan.

Fungsi
 Pengkajian dan pemberian pertimbangan serta rekomendasi kebijakan di bidang kelautan kepada Presiden. Konsultasi dengan lembaga pemerintah dan non pemerintah serta wakil-wakil kelompok masyarakat dalam rangka keterpaduan kebijakan dan penyelesaian masalah di bidang kelautan. pemantauan dan evaluasi terhadap kebijakan, strategi, dan pembangunan kelautan. hal-hal lain atas permintaan Presiden.

 

Instansi Terkait
         Kementerian Negara Sekretariat Negara; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Pertahanan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Keuangan; Kementerian Pendidikan Nasional; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

70

Lembaga Non Struktural

   

Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS; Kementerian Negara Lingkungan Hidup; Kementerian Negara Riset dan Teknologi; TNI Angkatan Laut.

Sumber Dana
   APBN; Sumber Lain yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan; Dibebankan pada Anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 9.500.000 Realisasi 9.061.864 Total Aset 997.359 Non APBN

Sekretariat DEKIN : Jalan Medan Merdeka Timur Nomor 16 Jakarta 10110 Telp. 021 - 3519070 Fax. 021 - 3522936/7 PO.BOX 3899 JKP 10038

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

71

Lembaga Non Struktural

DEWAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI NASIONAL (DETIKNAS) Dasar Hukum
Dewan Teknologi Informasi dan Komunukasi Nasional Adalah suatu lembaga yang dibentuk dan diketuai oleh Presiden Republik Indonesia melalui Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2006 tentang Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional, ditetapkan pada tanggal 13 November 2006. pengembangan teknologi informasi dan komunikasi; 4. Memberikan persetujuan atas pelaksanaan program teknologi informasi dan komunikasi yang bersifat lintas Kementerian agar efektif dan efisien.

Susunan Keanggotaan
 Tim Pengarah a. Ketua: Presiden Republik Indonesia; b. Wakil Ketua merangkap anggota : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian; c. Ketua Harian merangkap anggota: Menteri Komunikasi dan Informatika. Anggota : a. Menteri Keuangan; b. Menteri Perindustrian; c. Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; d. Menteri Pendidikan Nasional; e. Menteri Perdagangan; f. Menteri Dalam Negeri; g. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS; h. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara; i. Menteri Negara Riset dan Teknologi; j. Sekertaris Kabinet; k. Kemal A. Stamboel. Tim Pelaksana : a. Ketua: Menteri Komunikasi dan Informatika; b. Wakil Ketua : Kemal A. Stamboel; c. Sekretaris : Direktur Jenderal Aplikasi Telematika, Menteri Komunikasi dan Informatika; d. Wakil Sekretaris : Deputi Sekretaris Kabinet Bidang Hukum; e. Anggota : - Giri Suseno Hadihardjono; - Jonathan L.apak; - Jos Luhukay;

Sifat Dan Kedudukan
   Lembaga ini bersifat Independen dan Non Struktural; Berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Untuk mempercepat pertumbuhan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di Indonesia secara efisien dengan membuat kebijakan TIK secara nasional melalui sinkronisasi program-program TIK di seluruh Kementerian/Lembaga (K/L).

Tugas
1. Merumuskan kebijakan umum dan arahan strategis pembangunan nasional, melalui pendayagunaan teknologi informasi dan komunikasi; 2. Melakukan pengkajian dalam menetapkan langkah-langkah penyelesaian permasalahan strategis yang timbul dalam rangka pengembangan teknologi informasi dan komunikasi; 3. Melakukan koordinasi nasional dengan instansi Pemerintah Pusat/Daerah, Badan Usaha Milik Negara/Badan Usaha Milik Daerah, Dunia Usaha, Lembaga Profesional dan komunitas teknologi informasi dan komunikasi, serta masyarakat pada umumnya dalam rangka 

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

72

Lembaga Non Struktural

 

- Hari Sulistyono; - Andi Siswaka Faisal. Tim Penasehat : a. Rektor Institut Teknologi Bandung; b. Rektor Universitas Indonesia; c. Rektor Universitas Gajah Mada; d. Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember; e. Para pakar dan Praktisi Lainnya baik dari dalam maupun luar negeri yang ditetapkan oleh Ketua Harian. Tim Mitra yang terdiri dari para pemangku kepentingan (stakeholders) di bidang Industri TUK, Akademisi dan Praktisi yang ditetapkan oleh Ketua Harian; Kelompok Kerja; Sekretariat.

          

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Kementerian Pendidikan Nasional; Kementerian Perdagangan; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPENAS; Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara; Kementerian Negara Riset dan Teknologi; Institut Teknologi Bandung; Universitas Indonesia; Universitas Gajah Mada; Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan Kementerian Informatika. pada Anggaran Komunikasi dan

Instansi Terkait
     Kementerian Negara Sekretariat Negara; Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Keuangan; Kementerian Perindustrian;

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 3.000.000 Realisasi 1.770.871 Total Aset Non APBN

Sekretariat : Jalan Medan Merdeka Barat No. 9 Jakarta 10110 Indonesia 021 - 3810303 021 - 3810305 http://detiknas.web.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

73

Lembaga Non Struktural

DEWAN PENGUPAHAN NASIONAL (DEPENAS) Dasar Hukum
 Dewan Pengupahan Nasional dibentuk sebagai amanat UndangUndang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disahkan pada tanggal 25 Maret 2003. Bagian Kedua Bab X Pasal 98 UndangUndang tersebut Mencantumkan Dewan Pengupahan Nasional. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 107 Tahun 2004 tentang Dewan Pengupahan yang ditetapkan pada tanggal 18 Oktober 2004. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor PER-03/MEN/I/2005 Tahun 2005 tentang Tata Cara Pengusulan Keanggotaan Dewan Pengupahan Nasional ditetapkan pada tanggal 31 Januari 2005.

Keanggotaan
 Keanggotaan Dewan Pengupahan Nasional diangkat oleh Presiden RI dengan Keputusan Nomor 80/M/2009. Susunan keanggotaan Dewan Pengupahan Nasional diatur dalam Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor PER03/MEN/I/2005 tentang Tata Cara Pengusulan Keanggotaan Dewan Pengupahan Nasional. Anggota Dewan Pengupahan Nasional Berjumlah 23 Orang, yang terdiri dari : a. Unsur Pemerintah sebanyak 10 (sepuluh) orang; b. Unsur Serikat Pekerja/Serikat Buruh sebanyak 5 (lima) orang; c. Unsur Organisasi Pengusaha sebanyak 5 (lima) orang; d. Unsur Perguruan Tinggi dan Pakar sebanyak 3 (tiga) orang. Keseluruhan anggota Depenas berjumlah gasal.

Sifat Dan Kedudukan
    Lembaga Non Struktural yang bersifat Tripartit; Depenas dibentuk oleh Presiden dan bertanggung jawab Kepada Presiden; Dewan Pengupahan Propinsi (depeprov) dibentuk oleh Gubernur; Dewan Pengupahan Kabupaten/Kota (Depekab/Depeko) dibentuk oleh Bupati/Walikota.

Susunan Keanggotaan
1. Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagai Ketua merangkap anggota; 2. Satu orang wakil dari Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) sebagai Wakil ketua merangkap anggota; 3. Satu Orang wakil dari Serikat Pekerja/Serikat Buruh sebagai Wakil Ketua merangkap anggota; 4. Satu Orang Direktur Pengupahan dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja sebagai Sekretaris merangkap anggota; 5. 19 ( sembilan belas) orang Anggota.

Tujuan Pendirian
Dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal 98 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003.

Tugas
Memberikan saran dan pertimbangan kepada Pemerintah dalam rangka perumusan kebijakan pengupahan dan pengembangan sistem pengupahan nasional.

Instansi Terkait
   Kementerian Tenega Kerja dan Transmigrasi; Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Badan Perencana Pembangunan Nasional;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

74

Lembaga Non Struktural

     

Badan Pusat Statistik; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Asosiasi Pengusaha Indonesia.

Sumber Dana
  APBN. Satker Pada Kementerian Kerja dan Transmigrasi. Tenaga

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 383.210 Realisasi 380.290 Total Aset Non APBN

Alamat : Sekretariat DEPENAS Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jalan Taman Makam Pahlawan Kalibata 17 Jakarta Selatan 021 - 7392210 021 - 7203062, 5251910

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

75

Lembaga Non Struktural

DEWAN PENERBANGAN ANTARIKSA NASIONAL RI (DEPANRI) Dasar Hukum
Dewan Penerbangan Antariksa Nasional didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 99 Tahun 1993

Tujuan Pendirian
Membantu Presiden Republik Indonesia dalam merumuskan kebijaksanaan umum di bidang penerbangan dan antariksa.

Sifat dan Kedudukan
Lembaga Non Struktural.

Peran dan Fungsi
 Merumuskan kebijakan pemanfaatan wilayah udara nasional dan antariksa bagi penerbangan, telekomunikasi dan kepentingan nasional lainnya. Memberikan pertimbangan, pendapat maupun saran kepada Presiden mengenai pengaturan dan pemanfaatan wilayah udara dan antariksa sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.

Keanggotaan
     Ketua : Presiden Republik Indonesia. Wakil Ketua/Pelaksana Harian: Menteri Negara Riset dan Teknologi/BPPT. Sekretaris (Anggota): Kepala LAPAN. Anggota : 1. Menteri Luar Negeri. 2. Menteri Pertahanan. 3. Menteri Perindustrian. 4. Menteri perhubungan. 5. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata. 6. Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara/Kepala Bappenas. 7. Kepala Staf Angkatan Udara.

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan pada Anggaran Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 150.000 Realisasi 99.500 Total Aset Non APBN

Struktur Organisasi
    Ketua; Wakil Ketua/Pelaksana Harian; Sekretaris; Anggota.

Alamat : JL. Pemuda Persil No. 1 Jakarta Timur Telp. 021 - 4892802 Fax. 021 - 4894815

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

76

Lembaga Non Struktural

KOMISI NASIONAL ANTI KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN (KOMNAS PEREMPUAN) Dasar Hukum
 Komnas Perempuan didirikan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan adalah lembaga independen yang didirikan tanggal 15 Oktober 1998, berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 181 Tahun 1998. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2005 tentang Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan disahkan tanggal 18 Oktober 2005.  Badan Pekerja a. Sekretaris Jenderal; b. 5 Orang Koordinator Bidang; c. 5 Orang Koordinator Sub Komisi.

Tugas Pokok
 Menyebarluaskan pemahaman atas segala bentuk kekerasan terhadap perempuan Indonesia dan upayaupaya pencegahan dan penanggulangan serta penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan; Melaksanakan pengkajian dan penelitian terhadap berbagai peraturan perundang-undangan yang berlaku serta berbagai instrumen internasional yang relevan bagi perlindungan hak-hak asasi manusia perempuan; Melaksanakan pemantauan, termasuk pencarian fakta dan pendokumentasian tentang segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan pelanggaran hak asasi manusia perempuan serta penyebarluasan hasil pemantauan kepada publik dan pengambilan langkah-langkah yang mendorong pertanggung jawaban dan penanganan; Memberikan saran dan pertimbangan kepada pemerintah, lembaga legislatif dan yudikatif serta organisasiorganisasi masyarakat guna mendorong penyusunan dan pengesahan kerangka hukum dan kebijakan yang mendukung upayaupaya pencegahan dan penanggulangan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan Indonesia serta perlindungan, penegakan, dan pemajuan hak-hak asasi manusia perempuan; Mengembangkan kerja sama regional dan internasional guna meningkatkan upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan Indonesia serta perlindungan,

Sifat Dan Kedudukan
  Berasaskan Pancasila dan bersifat Independen. Bertanggung jawab Kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Dibentuk sebagai mekanisme nasional untuk menghapuskan kekerasan terhadap perempuan bertujuan :  Mengembangkan kondisi yang kondusif bagi penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan penegakan hak-hak asasi manusia perempuan di Indonesia.  Meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan dan perlindungan hak-hak asasi manusia perempuan.

Struktur Organisasi
 Komisi Paripurna a. Ketua; b. Wakil Ketua; c. Anggota ( paling banyak 19 orang).

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

77

Lembaga Non Struktural

penegakan dan pemajuan hak-hak asasi manusia perempuan.

Peran
1. Menjadi pusat sumber (informasi) tentang hak asasi perempuan sebagai hak asasi manusia dan kekerasan terhadap perempuan sebagai pelanggaran HAM; 2. Menjadi negosiator dan mediator antara pemerintah dengan komunitas korban dan komunitas pejuang hak asasi perempuan, dengan menitikberatkan pada kepentingan korban; 3. Menjadi inisiator perubahan serta perumusan kebijakan, termasuk perangkat dan sistem hukum serta sistem dan kapasitas penanganan/ pelayanan bagi korban yang memberi perlindungan, pemenuhan dan pemajuan hak-hak perempuan; 4. Menjadi pemantau dan pelapor tentang pelanggaran HAM berbasis gender secara berkala dengan bekerja sama dengan institusi-institusi HAM lainny; 5. Menjadi fasilitator pengembangan dan penguatan jaringan di tingkat lokal,

nasional dan internasional untuk kepentingan pencegahan, peningkatan kapasitas penanganan dan penghapusan segala bentuk kekerasan terhadap perempuan.

Sumber Dana
  APBN. Sumber dana lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 8.998.941 Realisasi 6.879.089 Total Aset 8.065.459 Non APBN 7.315.211

Alamat : JL. LATUHARHARI 4 B JAKARTA 10310 INDONESIA Telp. +62-21-3903963 Fax. +62-21-3903922 www.komnasperempuan.or.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

78

Lembaga Non Struktural

KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA
Dasar Hukum

Komisi Kejaksaan didirikan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2005 tentang Komisi Kejaksaan Republik Indonesia disahkan tanggal 7 Februari 2005.

Wewenang
 Menerima laporan masyarakat tentang perilaku jaksa dan pegawai kejaksaan dalam melaksanaan tugas baik didalam maupun diluar kedinasan; Meminta informasi dari badan pemerintah, organisasi, atau anggota masyarakat berkaitan dengan kondisi dan kinerja dilingkungan kejaksaan atas dugaan pelanggaran peraturan kedinasan kejaksaan maupun berkaitan dengan perilaku Jaksa dan pegawai Kejaksaan didalam maupun diluar kedinasan; Memanggil dan meminta keterangan kepada jaksa dan pegawai kejaksaan sehubungan dengan perilaku dan/atau dugaan pelanggaran peraturan kedinasan kejaksaan; Meminta informasi kepada badan dilingkungan kejaksaan berkaitan dengan kondisi organisasi, kelengkapan sarana, dan prasarana serta sumber daya manusia dilingkungan kejaksaan; Membuat laporan rekomendasi atau saran yang berkaitan dengan perbaikan dan penyempurnaan organisasi serta lingkungan kejaksaan atau penilaian terhadap kinerja dan perilaku Jaksa dan pegawai kejaksaan kepada Jaksa Agung dan Presiden.

Sifat Dan Kedudukan
    Lembaga Pemerintahan Non Struktural; Tugas dan wewenangnya bersifat mandiri, bebas dari pengaruh kekuasaan manapun; Bertanggung jawab Kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Untuk meningkatkan Kejaksaan. kualitas kinerja

Tugas
 Melakukan pengawasan, pemantauan, dan penilaian terhadap kinerja jaksa dan pegawai kejaksaan dalam melaksanakan tugas kedinasannya; Melakukan pengawasan, pemantauan, dan penilaian terhadap sikap dan perilaku jaksa dan pegawai Kejaksaan baik didalam maupun di luar tugas kedinasan; Melakukan pemantauan dan penilaian atas kondisi organisasi, kelengkapan sarana dan prasarana, serta sumber daya manusia dilingkungan kejaksaan; Menyampaikan masukan kepada Jaksa Agung atas hasil pengawasan, pemantauan, dan penilaian tersebut diatas untuk ditindak lanjuti.

Struktur Organisasi
   Ketua; Wakil Ketua; Anggota Komisi.

Instansi Terkait
   Kejaksaan Agung; Badan Pemerintah; Organisasi dan masyarakat.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

79

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
 APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 5.712.934 Realisasi 3.180.348 Total Aset 2.911.052 Non APBN

Alamat : Sekretariat Komisi Kejaksaan Republik Indonesia Kejaksaan Agung Jalan Sultan Hasanudin No. 1 Kebayoran Baru Jakarta 12160 021 - 7208951 021 - 7265308

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

80

Lembaga Non Struktural

KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA (KPPU)
Dasar Hukum
 Komisi Pengawas Persaingan Usaha didirikan berdasarkan UndangUndang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat disahkan pada tanggal 5 Maret 1999, Bab VI Undang-Undang tersebut mengatur keberadaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 75 Tahun 1999 disahkan pada tanggal 8 Juli 1999. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2002 tentang Honorarium bagi Ketua, Wakil Ketua dan Anggota KPPU ditetapkan tanggal 8 Januari 2002.

Wewenang
 Menerima laporan masyarakat dan atau pelaku usaha tentang dugaan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; Melakukan penelitian tentang dugaan adanya kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; Melakukan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap kasus dugaan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat yang dilaporkan oleh masyarakat atau oleh pelaku usaha atau yang ditemukan oleh Komisi sebagai hasil dan penelitiannya; Menyimpulkan hasil penyelidikan dan atau pemeriksaan tentang ada atau tidak adanya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; Memanggil pelaku usaha yang diduga telah melakukan pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang ini; Memanggil dan menghadirkan saksi, saksi ahli, dan setiap orang yang dianggap mengetahui pelanggaran terhadap ketentuan undang-undang ini; Meminta bantuan penyidik untuk menghadirkan pelaku usaha, saksi, saksi ahli, atau setiap orang yang tidak bersedia memenuhi panggilan Komisi; Meminta keterangan dari Instansi Pemerintah dalam kaitannya dengan penyelidikan dan atau pemeriksaan terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang; Mendapatkan, meneliti, dan atau menilai surat, dokumen, atau alat bukti lain guna penyelidikan dan atau pemeriksaan; Memutuskan dan menetapkan ada atau tidak adanya kerugian di pihak pelaku usaha lain atau masyarakat;

 

Sifat Dan Kedudukan
   Mandiri dan Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab Kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
KPPU adalah lembaga publik, penegak undang-undang, dan wasit independen untuk masalah yang berkaitan dengan praktek persaingan usaha.

Struktur Organisasi
 Anggota Komisi : a. Ketua Merangkap Anggota; b. Wakil Ketua Merangkap Anggota; c. Anggota sekurang-kurangnya 7 Orang; d. Kelompok Kerja. Sekretariat. 

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

81

Lembaga Non Struktural

Memberitahukan putusan Komisi kepada pelaku usaha yang diduga melakukan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; Menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif kepada pelaku usaha yang melanggar ketentuan undangundang.

Memberikan laporan secara berkala atas hasil kerja komisi kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat.

Fungsi
  Penilaian terhadap perjanjian, kegiatan usaha dan penyalahgunaan posisi dominan; Pengambilan tindakan sebagai pelaksanaan kewenangan; Pelaksanaan administratif.

Tugas
 Melakukan penilaian terhadap perjanjian yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam pasal 4 sampai dengan Pasal 16 UndangUndang Nomor 5 Tahun 1999; Melakukan penilaian terhadap kegiatan usaha dan atau tindakan pelaku usaha yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 17 sampai dengan Pasal 24 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999; Melakukan penilaian terhadap ada atau tidak adanya penyalah gunaan posisi dominan yang akan mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 25 sampai dengan Pasal 28 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999; Mengambil tindakan sesuai dengan wewenang komisi sebagaimana diatur dalam Pasal 36 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999; Memberikan saran dan pertimbangan terhadap kebijaksanaan pemerintah yang berkaitan dengan praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat; Menyusun pedoman dan atau publikasi yang berkaitan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999; 

Instansi Terkait
      Mahkamah Agung RI; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kepolisian Negara Republik Indonesia; Menko Bidang Perekonomian; BKPM.

Sumber Dana
  APBN. Sumber-sumber lain yang diperbolehkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 82.089.300 Realisasi 55.651.219 Total Aset 205.434.220 Non APBN

Alamat KPPU: Gedung KPPU, Jalan Ir. H. Juanda No. 36 Jakarta Pusat 10120 Telp. 62-21-3507015, 3507016, 3507043, 3519144 Fax. 62-21-3507008 E-mail : infokom@kppu.go.id www.kppu.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

82

Lembaga Non Struktural

KOMISI PENYIARAN INDONESIA (KPI)

Dasar Hukum
 Dasar utama bagi pembentukan Komisi Penyiaran Indonesia adalah Undang-undang Penyiaran Nomor 32 Tahun 2002. Semangatnya adalah pengelolaan sistem penyiaran yang merupakan ranah publik harus dikelola oleh sebuah badan independen yang bebas dari campur tangan pemodal maupun kepentingan kekuasaan. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 267/M tertanggal 23 Desember 2003. Peraturan Presiden Nomor 26 Tahun 2005 tentang Honorarium Bagi Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota Komisi Penyiaran Indonesia ditetapkan pada tanggal 21 Maret 2005.

Tugas
1. Menjamin Masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia; Ikut membantu pengaturan infrastruktur bidang penyiaran; Ikut membangun iklim persaingan yang sehat antar lembaga penyiaran dan industri terkait; Memelihara tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan seimbang; Menampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, serta kritik dan apresiasi masyarakat terhadap penyelenggaraan penyiaran; Menyusun perencanaan dan pengembangan sumber daya manusia yang menjamin profesionalitas di bidang penyiaran.

2. 3. 4. 5.

 

6.

Sifat Dan Kedudukan
   Bersifat Independen mengatur hal-hal mengenai penyiaran; Terdiri atas KPI Pusat dan KPI Daerah (tingkat propinsi); Dalam menjalankan fungsi, tugas, wewenang dan kewajibannya, KPI Pusat diawasi oleh Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia; Bertanggung jawab secara substantif kepada DPR dan secara administratif kepada Presiden.

Fungsi
Mewadahi aspirasi serta mewakili kepentingan masyarakat akan penyiaran.

Wewenang
1. Menetapkan Standar Program Siaran; 2. Menyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaran; 3. Mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman prilaku penyiaran serta standar program siaran; 4. Memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman prilaku penyiaran serta standar program siaran; 5. Melakukan koordinasi dan/atau kerjasama dengan pemerintah, lembaga penyiaran, dan masyarakat .

Tujuan Pendirian
 Proses demokratisasi di Indonesia menempatkan publik sebagai pemilik dan pengendali utama ranah penyiaran. Karena frekuensi adalah milik publik dan sifatnya terbatas, maka penggunaannya harus sebesarbesarnya bagi kepentingan publik, artinya adalah media penyiaran harus menjalankan fungsi pelayanan informasi publik yang sehat. KPI Pusat efektif bekerja awal Januari 2004. Surat Keputusan (SK) pertama KPI, tertangal 30 Desember 2003.

Visi
Terwujudnya sistem penyiaran nasional yang berkeadilan dan bermartabat untuk dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan masyarakat.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

83

Lembaga Non Struktural

Misi
1. Membangun dan memelihara tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan seimbang; 2. Membantu mewujudkan infrastruktur bidang penyiaran yang tertib dan teratur, serta arus informasi yang harmonis antara pusat dan daerah, antarwilayah Indonesia, juga antara Indonesia dan dunia internasional; 3. Membangun iklim persaingan usaha di bidang penyiaran yang sehat dan bermartabat; 4. Mewujudkan program siaran yang sehat, cerdas, dan berkualitas untuk pembentukan intelektualitas, watak, moral, kemajuan bangsa, persatuan dan kesatuan, serta mengamalkan nilai-nilai dan budaya Indonesia; 5. Menetapkan perencanaan dan pengaturan serta pengembangan SDM yang menjamin profesionalitas penyiaran.

Masa jabatan Ketua, Wakil ketua dan anggota diangkat untuk satu kali masa jabatan selama 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya.

Susunan Organisasi
1. 2. 3. 4. Ketua merangkap anggota; Wakil Ketua merangkap anggota; Anggota; Sekretariat.

Instansi Terkait
     Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kepolisian Negara Republik Indonesia; Lembaga Sensor Film; Majelis Ulama Indonesia; Pengurus Besar Nahdatul Ulama.

Keanggotaan

Sumber Dana
  APBN. APBD.

Terdiri atas KPI Pusat dan KPI Daerah (tingkat propinsi). Anggota KPI Pusat (9 orang) dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dan KPI Daerah (7 orang) dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Selain itu, anggaran program kerja KPI Pusat dibiayai oleh APBN dan KPI Daerah dibiayai oleh APBD; Ketua dan Wakil Ketua dipilih dari dan oleh anggota;

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 22.380.488 Realisasi 19.149.313 Total Aset 7.167.994 Non APBN

Sekretariat KPI : Gedung Sekretariat Negara Lantai VI Jl. Gadjah Mada No.8, Jakarta 10120 Telp. 021 - 6340713 Fax. 021 - 6340667, 6340679 Homepage : http://www.kpi.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

84

Lembaga Non Struktural

KOMISI OMBUDSMAN REPUBLIK INDONESIA (ORI) Dasar Hukum
 Komisi Ombudsman Republik Indonesia dibentuk tanggal 20 Maret 2000 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 2000. Ombudsman RI berperan agar pelayanan umum yang dijalankan oleh instansi-instansi pemerintah berjalan dengan baik. Untuk itu Ombudsman RI menerima pengaduan masyarakat yang dapat dikirimkan ke situs web resminya. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 66 Tahun 2002 tentang Honorarium Bagi Ketua, Wakil Ketua, Anggota, Tenaga Tim Asistensi, dan Staf Administrasi Kesekretariatan Komisi Ombudsman RI ditetapkan di Jakarta tanggal 31 Agustus 2002.

Tugas
1. Menyebarluaskan pemahaman mengenai Lembaga Ombudsman RI; 2. Melakukan koordinasi dan atau kerjasama dengan Instansi Pemerintah, Perguruan Tinggi, Lembaga Swadaya Masyarakat, Para Ahli, Praktisi, Organisasi Profesi dan lain lain; 3. Melakukan langkah untuk menindaklanjuti laporan atau informasi mengenai terjadinya/penyimpangan oleh penyelenggara negara dalam melaksanakan tugasnya, maupun dalam memberikan pelayanan umum; 4. Mempersiapkan Konsep Rancangan Undang-Undang tentang Ombudsman Republik Indonesia.

Sifat Dan Kedudukan
  Komisi Pengawasan Masyarakat yang bersifat Nasional; Berasaskan Pancasila dan bersifat mandiri, serta berwenang melakukan klarifikasi, monitoring atau pemeriksaan atas laporan masyarakat mengenai penyelenggaraan negara khususnya pelaksanaan oleh aparatur pemerintah termasuk lembaga peradilan terutama dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Susunan Organisasi Keanggotaan
1. 2. 3. 4. 

dan

Rapat Paripurna; Sub Komisi; Sekretariat; Tim Asistensi dan Staf Administrasi. Pada saat dibentuk pertama kalinya, Anggota (Komisioner) Komisi Ombudsman RI dipilih oleh presiden dan ditetapkan dengan Keputusan Presiden yang terdiri dari satu orang Ketua, satu orang Wakil Ketua dan enam orang Anggota. Namun saat ini komposisi Komisi Ombudsman RI menjadi: a. Antonius Sujata, SH, MH (Ketua merangkap Anggota atau Komisioner); b. Prof. Dr. CFG Sunaryati Hartono, SH (Wakil Ketua/merangkap Anggota atau Komisioner); c. Drs. Teten Masduki (Anggota atau Komisioner); d. R.M. Surachman,APU (Anggota atau Komisioner); e. K.H. Masdar Farid Mas'udi, MA (Anggota atau Komisioner); f. Erna Sofwan-Sjukrie, SH (Anggota atau Komisioner).

Tujuan Pendirian
 Melalui peran serta masyarakat membantu menciptakan dan atau mengembangkan kondisi yang kondusif dalam melaksanakan pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Meningkatkan perlindungan hak-hak masyarakat agar memperoleh pelayanan umum, keadilan, dan kesejahteraan secara lebih baik.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

85

Lembaga Non Struktural

Instansi Terkait
     Sekretariat Negara; Instansi Pemerintah; Perguruan Tinggi; Lembaga Swadaya Masyarakat; Para Ahli, Praktisi, Organisasi Profesi dan lain lain.

Sumber Dana

APBN. Dibebankan Negara.

kepada

Sekretariat

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 15.616.835 Realisasi 8.593.422 Total Aset 2.728.431 Non APBN

HEAD OFFICE : Komisi Ombudsman Republik Indonesia Jl. Adityawaman No. 43 Kebayoran baru Jakarta 12610 Telp. +62 21 7258574 Fax. +62 21 7258579 http://www.ombudsman.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

86

Lembaga Non Struktural

KOMISI NASIONAL LANJUT USIA (KOMNAS LANSIA)

Dasar Hukum
 Komnas Lansia berdiri berdasarkan Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia disahkan pada tanggal 30 Nopember 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2004 tentang Komisi Nasional Lanjut Usia ditetapkan di Jakarta pada tanggal 22 Juni 2004.

2. Dalam melaksanakan tugas sebagaimana tersebut di atas, Komnas Lansia dapat bekerjasama dengan instansi pemerintah, organisasi kemasyarakatan, para ahli, badan internasional dan/atau pihak lain yang dipandang perlu; 3. Laporan pelaksanaan tugas Komnas Lansia kepada Presiden dilakukan secara berkala atau sewaktu-waktu jika dipandang perlu.

Fungsi
1. 2. 3. 4. 5. Pengkoordinasian; Pengkajian dan Penelitian; Advokasi dan Sosialisasi; Pemantauan; Evaluasi.

Sifat Dan Kedudukan
 Komnas Lansia adalah wadah koordinasi antara pemerintah dan masyarakat yang bersifat non struktural dan independen dalam melaksanakan tugasnya; Berkedudukan di Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia; Bertanggung jawab dan melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada presiden.

 

Keanggotaan
 Keanggotaan Komnas Lansia terdiri dari unsur pemerintah dan masyarakat yang berjumlah paling banyak 25 (dua puluh lima) orang. Kecuali keanggotaan yang berasal dari unsur pemerintah, anggota Komnas lansia diangkat untuk satu kali masa jabatan selama 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk satu kali masa jabatan berikutnya.

Tujuan Pendirian
Dalam rangka melaksanakan amanat Pasal 25 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lansia serta untuk mensinergikan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan sosial Lansia yang dilakukan oleh pemerintah dan unsur masyarakat, maka dibentuklah Komnas Lansia.

Susunan Organisasi
1. Ketua I merangkap anggota; 2. Ketua II merangkap anggota; 3. Wakil Ketua I merangkap anggota; 4. Wakil Ketua II merangkap anggota; 5. Sekretaris merangkap anggota; 6. Anggota. Sekretariat.

Tugas
1. Komisi Nasional Lanjut Usia mempunyai tugas sebagai berikut: a. Membantu Presiden dalam mengkoordinasikan pelaksanaan upaya peningkatan kesejahteraan sosial Lansia; b. Memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden dalam penyusunan kebijakan upaya peningkatan kesejahteraan sosial Lansia.

Instansi Terkait
   Kementerian Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat; Kementerian Kesehatan; Kementerian Sosial.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

87

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
 APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keungan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 3.522.705 Realisasi 3.321.125 Total Aset 602.792 Non APBN

Keanggotaan Komnas Lansia untuk masa jabatan periode Tahun 2008-2011 Ketua I Ketua II Wakil Ketua I Wakil Ketua II Sekretaris Anggota : H. Bachtiar Chamsyah, SE : Dra. Hj. Inten Soeweno : DR. Makmur Sunusi, Ph.D : Dr.dr.RM Nugroho Abikusno, M.Sc : H. Toni Hartono : Drs. Imam Choiri, MM : Drs. Heru Martono, MPA : Bambang Sarjono, MPH : Drs. Sunarto HM, M.Pd : Wisnu Promono, SH, MA : Dra. Harina Yuhetty, M.Pd : Hj. Nurhayati Djamas, MA : Dr. Ir. Mochammad Amron, M.Sc : Ir. Lies Rosdianty, MSi : Drs. Winarno Sudjas : Drs. Soesilo Hadi : DR. Ir. Adhi Santika, MS, SH : Budi Prasetyo, SH, MM : Irawati Sri Budi Rahardjo, S.Sos : Drs. Soegianto : Ir. Kadarisman, MBA : Prof. Tri Budi W. Rahardjo : Drs. Sabam Leo Batubara : DR. Boenyamin Setiawan, Ph. D : DR. Martha Tilaar : Esa Sumatri, M.M.Pd.

Kepala Sekretariat

Sekretariat KOMNAS LANSIA: Gedung D Aneka Krida Lantai I Kementerian Sosial Republik Indonesia Jl. Salemba Raya No. 28, Jakarta Pusat / : 021 - 391 9559, 021 - 310 3591 ext 2833 http://www.komnaslansia.or.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

88

Lembaga Non Struktural

KOMISI PERLINDUNGAN ANAK INDONESIA (KPAI) Dasar Hukum
 Komisi Perlindungan Anak Indonesia dibentuk berdasarkan amanat Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disahkan tanggal 22 Oktober 2002. Pasal 74 UndangUndang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 merupakan dasar utama pembentukan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Keputusan Presiden Republik Indonesia Pasal 77 Tahun 2003 tentang Komisi Perlindungan Anak Indonesia ditetapkan tanggal 14 Oktober 2003. pemantauan, evaluasi serta pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak, memberikan laporan, saran, masukan serta pertimbangan kepada Presiden; Melakukan sosialisasi dan advokasi tentang peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan perlindungan anak; Menerima pengaduan dan memfasilitasi pelayanan masyarakat terhadap kasus-kasus pelanggaran hak anak kepada pihak-pihak yang berwenang; Melakukan pengkajian peraturan perundang-undangan, kebijakan pemerintah, dan kondisi pendukung lainnya baik di bidang sosial, ekonomi, budaya dan agama; Menyampaikan dan memberikan masukan, saran dan pertimbangan kepada berbagai pihak terutama Presiden, DPR, Instansi pemerintah terkait ditingkat pusat dan daerah; Mengumpulkan data dan informasi tentang masalah perlindungan anak; Melakukan pemantauan, evaluasi, dan pelaporan tentang perlindungan anak termasuk laporan untuk Komita Hak Anak PBB (Committee on the Rights of the Child) di Geneva, Swiss; Melakukan pengawasan terhadap penyelenggaraan perlindungan anak di Indonesia.

Sifat Dan Kedudukan
 Lembaga Independen yang kedudukannya setingkat dengan Komisi Negara, tidak boleh dipengaruhi oleh siapa dan darimana serta kepentingan apapun, kecuali satu yaitu “ Demi Kepentingan Terbaik bagi Anak ” seperti diamanatkan oleh Committee on the Rights of the Child (Konvensi Hak Anak Indonesia) 1989; Berkedudukan di Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia; Bertanggung jawab kepada Presiden.

 

 

Tujuan Pendirian
Dalam rangka meningkatkan efektivitas penyelenggaraan perlindungan anak di Indonesia.

Keanggotaan
 Diangkat dan diberhentikan oleh Presiden setelah mendapat pertimbangan Dewan Perwakilan Rakyat; Masa Jabatan 3 (tiga) tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan; Keanggotaan terdiri dari unsur : a. Pemerintah; b. Tokoh Agama; c. Tokoh Masyarakat; d. Organisasi Sosial; e. Organisasi Kemasyarakatan; f. Organisasi Profesi; g. Lembaga Swadaya Masyarakat;

Tugas
 Melakukan sosialisasi seluruh ketentuan peraturan perundangundangan yang berkaitan dengan perlindungan anak, mengumpulkan data dan informasi, menerima pengaduan masyarakat, melakukan penelaahan dan

 

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

89

Lembaga Non Struktural

h. Dunia Usaha; i. Kelompok Masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak.

Penanggung jawab Pokja Penelaahan - Dra. Susilahati, M.Si; Komisioner Bidang Perlindungan Khusus, Penanggung jawab Pokja Pemantauan, Pengawasan dan Evaluasi - Hj. Enny Rosidah Badawi, SH;

SUSUNAN KEANGGOTAAN PERIODE 2007 – 2010
Ketua: - Hj. Masnah Sari, SH; Wakil Ketua : - Dra. Santi Diansari, SH; - Dra. Magdalena Sitorus; Sekretaris : - Drs. H. Hadi Supeno, M.Si; Komisioner Bidang Hak Sipil dan Penanggungjawab Pokja Sosialisasi - Drs. H. Abdul Ghofur, M.Si; Komisioner Bidang Kesehatan dan Kesejahteraan Dasar dan Penanggung jawab Pokja Pengaduan: - Ir. Satriyandayaningrum; Komisioner Bidang Keluarga dan Pengasuhan Alternatif , Penanggungjawab Pokja Data dan Informasi - Drs. Ferry D Johannes; Komisioner Bidang Kebudayaan, Pendidikan dan

Instansi Terkait
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Pemerintah; Tokoh Agama; Tokoh Masyarakat; Organisasi Sosial; Organisasi Kemasyarakatan; Organisasi Profesi; Lembaga Swadaya Masyarakat; Dunia Usaha; Kelompok Masyarakat yang peduli terhadap perlindungan anak.

Sumber Dana
 APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 7.712.000 Realisasi 6.849.348 Total Aset 3.727.870 Non APBN

Alamat Sekretariat KPAI: Jalan Teuku Umar No. 10-12, Menteng Jakarta Pusat 10011 DKI Jakarta, Indonesia Telp. 021 - 31901446, 31901556 Fax. 021 - 3900883 Email : informasi@kpai.go.id Homepage : http://www.kpai.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

90

Lembaga Non Struktural

KOMISI BANDING MEREK
Fungsi Dasar Hukum
 Komisi Banding Merek dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek, tercantum dalam Bab IV bagian ketujuh pasal 34 Undang-Undang tersebut. Disahkan pada tanggal 1 Agustus 2001. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2005 tentang Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Komisi Banding Merek ditetapkan pada tanggal 23 Februari 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 1995 tentang Komisi Banding Merek ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Agustus 1995. Pengadministrasian, pemeriksaan, pengkajian, dan penilaian, serta pemberian keputusan terhadap permohonan banding.

Susunan Organisasi Keanggotaan

dan

Terdiri atas: a. Seorang Ketua merangkap Anggota; b. Seorang Wakil Ketua merangkap Anggota dan c. Anggota yang terdiri atas beberapa ahli di bidang yang diperlukan dan Pemeriksa Senior; d. Sekretariat. Anggota Komisi Banding berjumlah paling banyak 15 (lima belas) orang; Anggota Komisi Banding diangkat dan diberhentikan oleh Kementerian atas usul Direktur Jenderal; Masa jabatan Anggota Komisi Banding adalah 3 (tiga) tahun; Ketua dan Wakil Ketua Komisi Banding dipilih dari dan oleh para Anggota Komisi Banding; Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua sebagaimana dimaksud dilakukan secara musyawarah, dan apabila musyawarah tidak dicapai kesepakatan pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara terbanyak; Ketua dan Wakil Ketua Komisi Banding yang dipilih ditetapkan dengan Keputusan Kementerian.

    

Sifat Dan Kedudukan
 Badan Khusus yang Independen dan berada di lingkungan Kementerian yang membidangi Hak Kekayaan intelektual; Bertanggung jawab kepada Menteri; Berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia; Komisi Banding bersifat mandiri dan bekerja berdasarkan keahlian.

  

Tujuan Pendirian
 Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 34 Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2001 tentang Merek.

Instansi Terkait
    Mahkamah Agung; Kepolisian Negara Republik Indonesia; Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Kejaksaan Agung.

Tugas
Menerima, memeriksa, dan memutuskan permohonan banding terhadap penolakan permintaan Merek berdasarkan alasan yang bersifat substantif.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

91

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
 APBN.

Dibebankan pada Anggaran Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 757.600 Realisasi 89.769 Total Aset Non APBN

Anggota Komisi Banding Merek
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. Ade Maman Suherman, S.H., M.Sc. Dr. Ibrahim, S.H., LI.M Parulian Aritonang, S.H., LI.M Juliana Mahjudin, S.H., M.H Ramang Agus, S.H., M.H Haksmi Priyatni, S.H H. Affandi, S.H Aguslan, S.H Syarif Hidayat, S.H Irnie Mela Yusnita, S.S

Sekretariat Komisi Banding Merek : DirJen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jalan H.R. Rasuna Said Kav. 6-7 Kuningan Jakarta 12940 / 021 - 5524995

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

92

Lembaga Non Struktural

KOMISI BANDING PATEN (KB PATEN) Dasar Hukum
 Komisi Banding Paten keberadaannya secara jelas terdapat pada Bab IV bagian kelima pasal 64 UndangUndang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2005 tentang Susunan Organisasi, Tugas, dan Fungsi Komisi Banding Paten ditetapkan pada tanggal 25 Oktober 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 1995 tentang Komisi Banding Paten ditetapkan di Jakarta pada tanggal 29 Agustus 1995.

b. Apabila

hasil pemeriksaan substantif yang dilakukan oleh Pemeriksa menunjukkan bahwa Invensi yang dimohonkan Paten tidak memenuhi ketentuan.

Fungsi
1. Pengadministrasian, pemeriksaan, pengkajian, penilaian, dan penganalisian, serta pemberian keputusan terhadap permohonan banding.

Susunan Organisasi Keanggotaan

dan

Sifat Dan Kedudukan
 Badan Khusus yang Independen dan berada di lingkungan Kementerian yang membidangi Hak Kekayaan intelektual; Bertanggungjawab kepada Menteri; Berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia; Komisi Banding bersifat mandiri dan bekerja berdasarkan keahlian.

  

Terdiri atas: a. Seorang Ketua merangkap Anggota; b. Seorang Wakil Ketua merangkap Anggota dan c. Anggota yang terdiri atas beberapa ahli di bidang yang diperlukan dan Pemeriksa Senior; d. Sekretariat. Anggota Komisi Banding berjumlah paling banyak 15 (lima belas) orang; Anggota Komisi Banding diangkat dan diberhentikan oleh Menteri atas usul Direktur Jenderal Hak Kekayaan Intelektual; Masa jabatan Anggota Komisi Banding adalah 3 (tiga) tahun; Ketua dan Wakil Ketua Komisi Banding dipilih dari dan oleh para Anggota Komisi Banding; Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua sebagaimana dimaksud dilakukan secara musyawarah, dan apabila musyawarah tidak dicapai kesepakatan pemilihan dilakukan dengan pemungutan suara terbanyak; Ketua dan Wakil Ketua Komisi Banding yang dipilih ditetapkan dengan Keputusan Kementerian.

 

Tujuan Pendirian
Untuk melaksanakan ketentuan Pasal 65 Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2001 tentang Paten.

 

Tugas
 Menerima, memeriksa, dan memutus permohonan banding terhadap penolakan permohonan Paten berdasarkan alasan : a. Apabila hasil pemeriksaan substantif yang dilaporkan oleh Pemeriksa menunjukkan bahwa Invensi yang dimohonkan Paten tidak memenuhi ketentuan; 

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

93

Lembaga Non Struktural

Instansi Terkait
    Mahkamah Agung; Kepolisian Negara Republik Indonesia; Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Kejaksaan Agung.

10. Ir. Indah Dwi Irawati 11. Drs. Eka Saswita

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan pada Anggaran Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Anggota Komisi
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Prof. Dr. Ir Djumali Mangunwidjoyo Dr. Ir. Harry Sudibyo S., Dea. Dr. Ir. Anondho Wijanarko, M. Eng. Ir. Lidya Winarsih Ir. Robinson Sinaga, S.H., LI.M Ir. Sahat Manihuruk Ir. M. Zainudin M. Eng. Ir. Simon Pradopo Drs. Ahmad Muniri

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2008 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Sekretariat Komisi Banding Paten : DirJen Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Jalan H.R. Rasuna Said Kav. 6-7 Kuningan Jakarta 12940 / 021 - 5525386

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

94

Lembaga Non Struktural

KOMISI HUKUM NASIONAL (KHN)
Dasar Hukum
Komisi Hukum Nasional atau disingkat KHN dibentuk pada tanggal 18 Februari 2000 berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2000 tentang Komisi Hukum Nasional ditetapkan di Jakarta pada tanggal 18 Pebruari 2000.

Fungsi
1. Pengkajian masalah-masalah hukum sebagai masukan kepada Presiden untuk tindak lanjut kebijakan di bidang hukum; 2. Penyusunan tanggapan terhadap masalah-masalah hukum yang memprihatinkan masyarakat sebagai pendapat kepada Presiden; 3. Penyelenggaraan bantuan kepada Presiden dengan bertindak sebagai panitia pengarah dalam mendesain suatu rencana pembaharuan di bidang hukum; 4. Pelaksanaan tugas-tugas lain di bidang hukum dari Presiden yang berkaitan dengan fungsi Komisi Hukum Nasional.

Sifat Dan Kedudukan
   Lembaga Non Struktural; Berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Dalam rangka memberikan masukan yang obyektif mengenai pelaksanaan hukum di Indonesia, serta untuk memberikan saransaran umum kepada Presiden mengenai usaha menegakkan kembali supremasi hukum.

Susunan Organisasi Keanggotaan

dan

Tugas
1. Memberikan pendapat atas permintaan Presiden tentang berbagai kebijakan hukum yang dibuat atau direncanakan oleh Pemerintah dan tentang masalah-masalah hukum yang berkaitan dengan kepentingan umum dan kepentingan nasional. 2. Membantu Presiden dengan bertindak sebagai panitia pengarah dalam mendesain suatu rencana umum untuk pembaharuan di bidang hukum yang sesuai dengan cita-cita negara hukum dan rasa keadilan, dalam upaya mempercepat penanggulangan krisis kepercayaan kepada hukum dan penegakkan hukum, serta dalam menghadapi tantangan dinamika globalisasi terhadap sistem hukum di Indonesia.

Komisi Hukum Nasional terdiri dari 6 anggota (termasuk seorang Ketua dan seorang Sekretaris) dan dilantik oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 24 Februari 2000. Susunan Organisasi : a. Ketua merangkap anggota; b. Sekretaris merangkap anggota; c. Anggota.

Sekretariat.

Instansi Terkait
    Mahkamah Agung; Kepolisian Negara Republik Indonesia; Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Kejaksaan Agung.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

95

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan pada Kantor Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Informasi Keuangan

Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 10.647.029 Realisasi 8.208.369 Total Aset 1.142.671 Non APBN

Alamat Komisi Hukum Nasional - RI: Jl. Diponegoro no. 64 Jakarta 10310 Telp. 021 - 3912759, 3912765, 3912778, 3901218 Fax. 021 - 3912756 Homepage : http://www.komisihukum.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

96

Lembaga Non Struktural

KOMISI KEPOLISIAN NASIONAL (KOMPOLNAS)
Dasar Hukum
 Komisi Kepolisian Indonesia dibentuk berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, disahkan pada tanggal 8 Januari 2002. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2005 tentang Komisi Kepolisian Nasional ditetapkan di Jakarta pada tanggal 7 Februari 2005. manusia Kepolisian Negara Republik Indonesia, dan pengembangan sarana dan prasarana Kepolisian Negara Republik Indonesia; 2. Memberikan saran dan pertimbangan lain kepada Presiden dalam upaya mewujudkan Kepolisian Negara Republik Indonesia yang profesional dan mandiri; 3. Menerima saran dan keluhan dari masyarakat mengenai kinerja kepolisian dan menyampaikannya kepada Presiden.

Sifat Dan Kedudukan
   Lembaga ini bersifat Independen dan Non Struktural; Berkedudukan di Ibu Kota Negara Republik Indonesia; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Keanggotaan
 Terdiri dari unsur : a. Pemerintah sebanyak 3 (tiga) orang yang terdiri dari Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; b. Pakar Kepolisian sebanyak 3 (tiga) orang; c. Tokoh Masyarakat sebanyak 3 (tiga) orang. Anggota Kompolnas diangkat dan diberhentikan oleh Presiden; Kecuali anggota yang berasal dari unsur Pemerintah, anggota Kompolnas diangkat untuk 1 (satu) kali masa jabatan selama 3 tahun dan dapat diangkat kembali untuk 1 (satu) kali masa jabatan berikutnya.

Tujuan Pendirian
Dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 37 ayat (2) dan Pasal 39 ayat (3) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia.

 

Tugas
1. Membantu Presiden dalam menetapkan arah kebijakan Kepolisian Negara Republik Indonesia. 2. Memberikan pertimbangan kepada Presiden dalam pengangkatan dan pemberhentian Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Susunan Organisasi
1. 2. 3. 4. 5. Ketua merangkap anggota; Wakil Ketua merangkap anggota; Sekretaris merangkap anggota; 6 (enam) orang Anggota; Kesekretariatan.

Wewenang
1. Mengumpulkan dan menganalisis data sebagai bahan pemberian saran kepada Presiden yang berkaitan dengan anggaran Kepolisian Negara Republik Indonesia, pengembangan sumber daya

Instansi Terkait
  Kementerian Koordinator Politik dan Keamanan; Kementerian Dalam Negeri; Bidang

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

97

Lembaga Non Struktural

 

Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 13.136.643 Realisasi 12.836.002 Total Aset 4.571.085 Non APBN

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan pada Kantor Sekretariat Negara Republik Indonesia.

Sekretariat KOMPOLNAS : Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia Jalan Trunojoyo No. 3 Jakarta 021 - 7392315/52 021 - 7392317

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

98

Lembaga Non Struktural

KOMISI PENANGGULANGAN AIDS NASIONAL (KPAN)
Dasar Hukum
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2006 tentang Komisi Penanggulangan AIDS ditetapkan di Jakarta pada tanggal 13 Juli 2006. n. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia; o. Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi; p. Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional; q. Ketua Badan Narkotika Nasional; r. Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia; s. Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia; t. Ketua Palang Merah Indonesia; u. Ketua Kamar Dagang dan Industri; v. Ketua Organisasi ODHA Nasional. Sekretaris merangkap Anggota.

Sifat Dan Kedudukan
  Bertanggung jawab Kepada Presiden. Independen dan Non Struktural. 5.

Tujuan pendirian
Dalam rangka meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan AIDS yang lebih intensif, menyeluruh, terpadu, dan terkoordinasi, dibentuk Komisi Penanggulangan AIDS Nasional.

Tugas Pokok
 Menetapkan kebijakan dan rencana strategis nasional serta pedoman umum pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan AIDS; Menetapkan langkah-langkah strategis yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan; Mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan penyuluhan, pencegahan, pelayanan, pemantauan, pengendalian, dan penanggulangan AIDS; Melakukan penyebarluasan informasi mengenai AIDS kepada berbagai media massa, dalam kaitan dengan pemberitaan yang tepat dan tidak menimbulkan keresahan masyarakat; Melakukan kerjasama regional dan internasional dalam rangka pencegahan dan penanggulangan AIDS. Mengkoordinasikan pengelolaan data dan informasi yang terkait dengan masalah AIDS; Mengendalikan, memantau, dan mengevaluasi pelaksanaan, pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan AIDS; Memberikan arahan kepada Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi dan Kabupaten/Kota dalam rangka pencegahan,pengendalian, dan penanggulangan AIDS.

Struktur Organisasi
1. Ketua merangkap Anggota : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat; 2. Wakil Ketua I merangkap Anggota : Menteri Kesehatan; 3. Wakil Ketua II merangkap Anggota : Menteri Dalam Negeri; 4. Anggota : a. Menteri Agama; b. Menteri Sosial; c. Menteri Hukum dan Hak Azasi Manusia; d. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata; e. Menteri Pendidikan Nasional ; f. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi; g. Menteri Perhubungan; h. Menteri Negara Pemuda dan Olahraga; i. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan; j. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS; k. Menteri Negara Riset dan Teknologi; l. Sekretaris Negara; m. Panglima Tentara Nasional Indonesia;

 

 

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

99

Lembaga Non Struktural

Instansi Terkait
Dalam melaksanakan tugasnya, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional melakukan koordinasi dan/atau kerjasama dengan instansi Pemerintah Pusat maupun instansi Pemerintah Daerah, dunia usaha, organisasi non pemerintah, organisasi profesi, perguruan tinggi, badan internasional, dan/atau pihakpihak lain yang dipandang perlu, serta melibatkan partisipasi masyarakat.

Sumber Dana
  APBN/APBD. Sumber dana lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 24.718.559 Realisasi 16.718.392 Total Aset 16.100.726 Non APBN 45.313.713

Alamat : Sekretariat KPAN Jl. MH Thamrin Kav. 9, Jakarta 10330, Telp. 021 - 3901758 www.aidsindonesia.or.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

100

Lembaga Non Struktural

KOMITE STANDAR NASIONAL UNTUK SATUAN UKURAN (KSNSU) Dasar Hukum
 Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional ditetapkan tanggal 10 Nopember 2000. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2001 tentang Komite Standar Nasional Untuk Satuan Ukuran.

Susunan Organisasi dan Keanggotaan
 Susunan Organisasi KSNSU terdiri dari : a. Ketua merangkap Anggota: Kepala Badan Standardisasi Nasional; b. Sekretaris merangkap Anggota : Deputi di lingkungan Badan Standardisasi Nasional yang secara fungsional menangani sistem penerapan standar dan akreditasi; c. Anggota: Para pakar teknis yang membidangi ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkaitan dengan standar untuk satuan ukuran. Susunan keanggotaan ditetapkan oleh Ketua KSNSU; Sekretariat yang secara ex-officio dilakukan oleh unit kerja di lingkungan BSN yang secara fungsional menangani sistem penerapan standar dan akreditasi; Pengelolaan teknis ilmiah standar nasional untuk satuan ukuran dilaksanakan oleh unit kerja di lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang bertugas di bidang metrologi.

Sifat Dan Kedudukan
  Lembaga Non Struktural. Bertanggungjawab kepada Presiden.  

Tujuan Pendirian
Dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas di bidang standar nasional untuk satuan ukuran.

Tugas
Memberikan pertimbangan dan saran kepada Badan Standardisasi Nasional (BSN) mengenai standar nasional untuk satuan ukuran.

Fungsi
1. Pemberian pertimbangan dan saran kepada BSN mengenai standar nasional untuk satuan ukuran dan satuan turunan dari standar nasional untuk satuan ukuran; 2. Pemberian pertimbangan dan saran kepada BSN mengenai pengelolaan dan pembinaan standar nasional untuk satuan ukuran dan tata cara kalibrasi standar nasional untuk satuan ukuran; 3. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Presiden.

Instansi Terkait
  Badan Standardisasi Nasional. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Sumber Dana
   APBN. Dibebankan pada Anggaran Badan Standardisasi Naional. Laporan secara berkala kepada Presiden sekurang-kurangnya 1 (satu) kali dalam 1 (satu) tahun.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

101

Lembaga Non Struktural

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 175.000 Realisasi 175.000 Total Aset Non APBN

Alamat KSNSU: Deputi Bidang Penerapan Standar dan Akreditasi – Badan Standarisasi Nasional Gedung Manggala Wanabakti Blok IV Lantai 3-4 Jalan Jenderal Gatot Soebroto–Senayan Jakarta 10270 021 - 5747043 021 - 5747045

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

102

Lembaga Non Struktural

KOMITE AKREDITASI NASIONAL (KAN) Dasar Hukum
 Komite Akreditasi Nasional dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standarisasi Nasional. Pasal 4 Ayat 2 Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 merupakan dasar utama pembentukan KAN. Ditetapkan pada tanggal 10 November 2000. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2001 tentang Komite Akreditasi Nasional ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 Juni 2001. 3. Penetapan, perpanjangan, penundaan dan pencabutan akreditasi kepada lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi, lembaga pelatihan dan laboratorium; 4. Pemberian pertimbangan dan saran kepada BSN dalam menetapkan sistem akreditasi dan sertifikasi; 5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Presiden.

Susunan Organisasi Keanggotaan
1.

dan

Sifat Dan Kedudukan
   Lembaga Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Sebagai pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 102 Tahun 2000 tentang Standarisasi Nasional dan dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas di bidang akreditasi.

Ketua merangkap anggota : Kepala BSN; 2. Sekretaris merangkap anggota : Deputi di lingkungan BSN yang secara fungsional menangani sistem penerapan standar dan akreditasi; 3. Anggota : Wakil-wakil dari Pemerintah, dunia usaha, konsumen, cendekiawan, dan kalangan profesional;  Susunan keanggotaan ditetapkan oleh Ketua KAN;  Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, KAN didukung oleh sekretariat yang secara ex-officio dilakukan oleh unit kerja di lingkungan BSN yang secara fungsional menangani sistem penerapan standar dan akreditasi.

Tugas
Menetapkan akreditasi dan memberikan pertimbangan dan saran kepada Badan Standardisasi Nasional (BSN) dalam menetapkan sistem akreditasi dan sertifikasi.

Instansi Terkait
1. Badan Standarisasi Nasional. 2. Lembaga Pendidikan.

Sumber Dana
  APBN. Pembiayaan yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan KAN dibebankan kepada Anggaran Belanja BSN.

Fungsi
1. Pelaksanaaan asesmen atas permohonan akreditasi; 2. Pelaksanaan proses akreditasi lembaga sertifikasi, lembaga inspeksi, lembaga pelatihan dan laboratorium;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

103

Lembaga Non Struktural

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 5.381.669 Realisasi 3.657.397 Total Aset Non APBN

Sekretariat KAN : Manggala Wanabhakti Building 4 th Floor Block IV Jalan Jenderal Gatot Soebroto- Senayan Jakarta 10270 021 - 5747043 021 - 57902948

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

104

Lembaga Non Struktural

KOMITE STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (KSAP)
Dasar Hukum
 Komite Standar Akuntansi Pemerintah didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah disahkan tanggal 13 Juni 2005. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 84 Tahun 2004 tentang Komite Standar Akuntansi Pemerintah disahkan tanggal 5 Oktober 2004. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 308/KMK.012 Tahun 2002 tentang Komite Standar Akuntansi Pusat dan Daerah disahkan tanggal 13 Juni 2002.  Komite Kerja. 1. Ketua merangkap anggota: Dr. Binsar H. Simanjuntak, CMA 2. Wakil Ketua merangkap anggota: Dra. AB. Triharta, Ak., MM. 3. Sekretaris merangkap anggota: Sonny Loho, Ak., MPM 4. Anggota : a. Drs. Sugijanto, Ak., MM.; b. Dr.Dwi Martani, Ak.; c. Dr. Hekinus Manao, M.Acc., CGFM.; d. Dr. Jan Hoesada, Ak., MM.; e. Dr.Bambang Pamungkas; f. Yuniar Yanuar Rasyid, Ak.,MM. Sekretariat. Kelompok Kerja

 

Tugas
 Memberi konsultasi dan atau pendapat dalam rangka perumusan konsep Rancangan Peraturan Pemerintah tentang SAP. Mempersiapkan, merumuskan dan menyusun konsep Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.

Sifat Dan Kedudukan
  Bertanggung jawab kepada Presiden melalui Menteri Keuangan. Independen dan Non Struktural.

Struktur Organisasi Keangotaan

dan

Komite Konsultatif : - Ketua: Direktur Jenderal Perbendaharaan, Menteri Keuangan, merangkap Anggota; - Wakil Ketua : Direktur Jenderal Otonomi Daerah, Menteri Dalam Negeri, merangkap anggota; - Anggota : 1. Staf Ahli Menteri Keuangan Bidang Pengeluaran Negara; 2. Ketua Dewan Pimpinan Nasional Ikatan Akuntan Indonesia; 3. Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi seluruh Indonesia; 4. Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten seluruh Indonesia; 5. Ketua Asosiasi Pemerintah Kota seluruh Indonesia.

Tujuan Pendirian
1. Menyusun standar akuntansi yang sesuai dengan peraturan perundangundangan, praktik dan wacana akuntansi paling mutakhir di Indonesia maupun di lingkungan internasional; 2. Membantu entitas pelaporan menghasilkan laporan keuangan sesuai SAP; 3. Membangun dan meningkatkan pemahaman masyarakat; 4. Meningkatkan profesionalisme dan independensi Komite Standar Akuntansi Pemerintahan.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

105

Lembaga Non Struktural

Instansi Terkait
    Lembaga Pemerintah; Lembaga swasta; Lembaga Pendidikan; Pihak Lain yang dianggap perlu.

Sumber Dana
 APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 3.896.140 Realisasi 3.313.267 Total Aset 409.208 Non APBN

Alamat KSAP : Kementerian Keuangan Gedung Perbendaharaan II, Lt.2 Jalan Budi Utomo No. 6 Jakarta Pusat Telp./Fax. 021 - 3524551 email: webmaster@ksap.org

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

106

Lembaga Non Struktural

KOMITE OLAHRAGA NASIONAL INDONESIA (KONI)

Dasar Hukum
 Komisi Olahraga Nasional Indonesia dibentuk berdasarkan musyawarah organisasi-organisasi induk cabang olahraga pada tanggal 31 Desember 1966 dan dikukuhkan oleh Presiden Soeharto dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 57 Tahun 1967. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2001 tentang Komite Olahraga Nasional Indonesia ditetapkan di Jakarta pada tanggal 14 Juni 2001. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional. Peraturan Pemerintah Nomor 16, 17, dan 18 Tahun 2007 sebagai peraturan pelaksanaan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2007 tentang Pendanaan Keolahragaan ditetapkan tanggal 5 Pebruari 2007.

Tugas
 Membantu Pemerintah dalam menetapkan kebijakan nasional dibidang pembinaan dan pengembangan olahraga prestasi, baik amatir maupun professional; Mengkoordinasikan dan membina kegiatan olahraga prestasi yang pelaksanaannya dilakukan oleh organisasi-organisasi induk cabang olahraga yang bersangkutan; Melaksanakan dan mengkoordinasikan keikutsertaan induk-induk cabang olahraga dalam multievent nasional, regional, dan internasional; Melaksanakan evaluasi dan pengawasan untuk mencapai konsistensi antara kebijaksanaan dan pelaksanaan.

 

Susunan Organisasi
        Ketua Umum : Rita Subowo. Wakil Ketua Umum I: Hendardji Soepandji Wakil Ketua Umum II: Sri Sudono Sumarto. Sekretaris Jenderal : Rosihan Arsyad. Wakil Sekretaris Jenderal I : Nuranto. Wakil Sekretaris Jenderal II: Cahya Aziz. Bendahara : Budi Rustanto. Wakil Bendahara: Istiqlal Taufik Syaifullah.

Sifat Dan Kedudukan
    Adalah Badan Mandiri dan Non Pemerintah, artinya kegiatan olahraga dikembalikan kepada masyarakat; Sebagai mitra pembantu Pemerintah dibidang olahraga; Tidak dikendalikan sekelompok orang dan bebas dari kepentingan politik; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Merupakan satu-satunya organisasi induk dalam bidang keolahragaan yang mengkoordinasikan dan membina kegiatan olahraga prestasi di seluruh Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Instansi Terkait
 Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

107

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
    APBN; APBD; Pendanaan dari masyarakat; Pendanaan dari industri olahraga;

Sumber Pendanaan lain yang tidak mengikat.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 6.100.000 Realisasi 6.099.960 Total Aset Non APBN

Sekretariat KONI : Jl. Pintu I Senayan, Jakarta 10270 Telp. 021 - 573494 Fax. 021 - 5732416 Email : tu@koni.or.id http://www.koni.or.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

108

Lembaga Non Struktural

KOMITE NASIONAL KESELAMATAN TRANSFORTASI (KNKT)
Dasar Hukum
Komite Nasional Keselamatan Transfortasi atau disingkat KNKT dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 105 Tahun 1999 tentang Komite Nasional Keselamatan Transfortasi ditetapkan tanggal 1 September 1999.

Fungsi
1. Pengkajian masalah-masalah hukum sebagai masukan kepada Presiden untuk tindak lanjut kebijakan di bidang hukum; 2. Penyusunan tanggapan terhadap masalah-masalah hukum yang memprihatinkan masyarakat sebagai pendapat kepada Presiden; 3. Penyelenggaraan bantuan kepada Presiden dengan bertindak sebagai panitia pengarah dalam mendesain suatu rencana pembaharuan di bidang hukum; 4. Pelaksanaan tugas-tugas lain di bidang hukum dari Presiden yang berkaitan dengan fungsi Komisi Hukum Nasional.

Sifat Dan Kedudukan
  Lembaga Independen dan Non Struktural di lingkungan Kementerian Perhubungan. Berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Menteri Perhubungan.

Tujuan Pendirian
Untuk melakukan investigasi dan penelitian kecelakaan transportasi, dalam rangka mengantisipasi perkembangan penyelenggaraan transportasi dan upaya untuk mewujudkan transportasi yang aman, selamat, lancar, tertib dan teratur sesuai dengan ketentuan nasional dan internasional.

Susunan Organisasi Keanggotaan
 

dan

Tugas
 Melakukan investigasi dan penelitian yang meliputi analisis dan evaluasi sebab-sebab terjadinya kecelakaan transportasi; Memberikan rekomendasi bagi penyusunan perumusan kebijaksanaan keselamatan transportasi dan upaya pencegahan kecelakaan transportasi; Melakukan penelitian penyebab kecelakaan transportasi dengan bekerjasama dengan organisasi profesi yang berkaitan dengan penelitian penyebab kecelakaan transportasi. 

KNKT terdiri dari para ahli di bidang transportasi darat, laut dan udara; Susunan Organisasi : a. Ketua; b. Sekretariat; c. Sub Komite Penelitian Kecelakaan Transfortasi.

Instansi Terkait
Kementerian Perhubungan.

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan pada Anggaran Kementerian Perhubungan.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

109

Lembaga Non Struktural

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 15.007.758 Realisasi 13.982.764 Total Aset 13.279.227 Non APBN

Alamat : Sekretariat KNKT Jalan Medan Merdeka Barat No. 8 Jakarta 10110 Telp. +62 21 3811308 Fax. +62 21 3451657

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

110

Lembaga Non Struktural

KOMITE KEBIJAKAN PERCEPATAN PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR (KKPPI)
Dasar Hukum
 Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infastruktur berdiri berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 81 Tahun 2001 tentang Komite Kebijakan Percepatan Pembangunan Infrastruktur ditetapkan tanggal 21 Juni 2001. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2005 tentang Komite Kebijakan Percepatan Penyediaan Infrastruktur ditetapkan tanggal 23 Mei 2005. dengan percepatan infrastruktur. penyediaan

Susunan Organisasi Keanggotaan
 

dan

Sifat Dan Kedudukan
   Merupakan Lembaga Non Struktural; Berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia; Bertanggung jawab dan melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada presiden.  

Tujuan Pendirian
Dibentuk dengan tujuan mengkoordinasikan percepatan penyediaan infrastruktur untuk mencapai sasaran pemulihan ekonomi nasional.

Tugas
1. Merumuskan strategi dalam rangka koordinasi pelaksanaan percepatan penyediaan infrastruktur; 2. Mengkoordinasikan dan memantau pelaksanaan kebijakan percepatan penyediaan infrastruktur oleh Kementerian Terkait dan Pemerintah Daerah; 3. Merumuskan kebijakan pelaksanaan kewajiban pelayanan umum (Public Service Obligation) dalam percepatan penyediaan infrastruktur; 4. Menetapkan upaya pemecahan berbagai permasalahan yang terkait

 

Ketua : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian; Ketua Pelaksana Harian : Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Sekretaris I: Deputi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Bidang Koordinasi Desentralisasi Fiskal dan Ekonomi dan Pengembangan Infrastruktur; Sekretaris II: Deputi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang Sarana dan Prasarana; Anggota : a. Menteri Dalam Negeri; b. Menteri Keuangan; c. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral; d. Menteri Pekerjaan Umum; e. Menteri Perhubungan; f. Menteri Komunikasi dan Informatika; g. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara; h. Sekretaris Kabinet. Sekretariat; Kelompok Kerja.

Instansi Terkait
        Sekretariat Negara; Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Negera Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Keuangan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Perhubungan;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

111

Lembaga Non Struktural

 

Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Negara Badan Uasaha Milik Negera.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 675.000 Realisasi 606.004 Total Aset 1.961.670 Non APBN

Sumber Dana

APBN. Dibebankan kepada Kementerian Negara Perencanaan pembangunan Nasional/BAPPENAS.

ALAMAT KKPPI : Wisma Bakrie II Lt. 5 Jl HR Rasuna Said Kav. B-2 Jakarta 12920, Indonesia Telp. +62 21 57945744 - 45 Fax. +62 21 57945746 http://www.kkppi.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

112

Lembaga Non Struktural

KOMITE PRIVATISASI PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO)
Dasar Hukum
 Komite Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2005 tentang Tata Cara Privatisasi Perusahaan Perseroan disahkan tanggal 5 September 2005. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2006 tentang Komite Privatisasi Perusahaan Perseroan (Persero) ditetapkan tanggal 13 Oktober 2006. Sekretaris Menteri BUMN; d. Tim Pelaksana.  Negara

Tugas Pokok
   Merumuskan dan menetapkan kebijakan umum dan persyaratan pelaksanaan Privatisasi; Menetapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memperlancar proses Privatisasi Persero; Membahas dan memberikan jalan keluar atas permasalahan strategis yang timbul dalam proses Privatisasi Persero termasuk yang berhubungan dengan kebijakan sektoral Pemerintah.

Sifat Dan Kedudukan
   Independen dan Non Struktural; Bertanggung jawab Kepada Presiden; Berkedudukan di Jakarta.

Tujuan Pendirian
Sebagai wadah koordinasi untuk membahas dan memutuskan kebijakan tentang privatisasi perusahaan perseroan, yang merupakan kebijakan lintas sektoral.

Instansi Terkait
    Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Negara BUMN; Kementerian Keuangan; Kementerian Teknis tempat Perseroan Melakukan Kegiatan Usaha.

Struktur Organisasi
1. Ketua merangkap anggota: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian; 2. Wakil Ketua merangkap Anggota: Menteri Negara BUMN; 3. Anggota : a. Menteri Keuangan; b. Menteri teknis tempat Persero melakukan kegiatan usaha; c. Sekretaris :  Deputi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian;

Sumber Dana
APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 608.739 Realisasi Total Aset Non APBN

Alamat : Gedung Keuangan Enam Belas Lantai 10 Jalan DR. Wahidin Raya No. 2 Jakarta 10710 021 - 34831760, 2311458

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

113

Lembaga Non Struktural

KOMITE NASIONAL PENGENDALIAN FLU BURUNG (AVIAN INFLUENZA) DAN KESIAPSIAGAAN MENGHADAPI PANDEMI INFLUENZA (KOMNAS FBPI) Dasar Hukum
Komite Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian Influenza) dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pademi Influenza didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2006 tentang Komite Nasional Pengendalian Flu Burung (Avian Influenza) dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemi Influenza ditetapkan tanggal 13 Maret 2006. dan penanggulangan flu burung (avian influenza) pada hewan dan manusia serta kesiapsiagaan menghadapi pandemi influenza; 4. Mengendalikan, memantau dan mengevaluasi pelaksanaan strategi nasional pengendalian flu burung (avian influenza) dan kesiapsiagaan menghadapi pandemi influenza, serta menetapkan langkah-langkah penyelesaian permasalahan strategis yang timbul dalam kegiatan pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan flu burung (avian influenza) serta kesiapsiagaan menghadapi pandemi influenza; 5. Mengkoordinasikan pengelolaan data dan informasi yang terkait dengan masalah flu burung (avian influenza) pada hewan dan manusia; 6. Memberikan arahan kepada Komite Provinsi dan Komite Kabupaten/Kota dalam rangka pencegahan, pengendalian dan penanggulangan flu burung (avian influenza) serta kesiapsiagaan menghadapi pandemi influenza; 7. Dalam melaksanakan tugasnya, Komnas FBPI melakukan koordinasi dan/atau kerjasama dengan instansi Pemerintah Pusat maupun instansi Pemerintah Daerah, dunia usaha, organisasi non Pemerintah, organisasi profesi, perguruan tinggi, badan internasional dan/atau pihak-pihak lain yang dipandang perlu, serta melibatkan partisipasi masyarakat.

Sifat Dan Kedudukan
   Merupakan Lembaga Non Struktural; Berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia; Berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Untuk percepatan pengendalian flu burung (avian influenza) dan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi pandemi influenza secara komprehensif dan terpadu.

Tugas
1. Menetapkan kebijakan dan rencana strategis nasional serta pedoman umum pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan flu burung (avian influenza) serta kesiapsiagaan menghadapi pandemi influenza; 2. Menetapkan langkah-langkah strategis yang diperlukan dalam rangka pencegahan, pengendalian, dan penanggulangan flu burung (avian influenza) serta kesiapsiagaan menghadapi pandemi influenza; 3. Mengkoordinansikan pelaksanaan kegiatan pencegahan, pengendalian,

Susunan Organisasi Keanggotaan
  

dan

Ketua merangkap Anggota : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat; Wakil Ketua I merangkap Anggota : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian; Wakil Ketua II merangkap Anggota : Menteri Pertanian;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

114

Lembaga Non Struktural

 

Wakil Ketua III merangkap Anggota : Menteri Kesehatan; Anggota : a. Menteri Dalam Negeri; b. Menteri Luar Negeri; c. Menteri Keuangan; d. Menteri Kehutanan; e. Menter Perindustrian; f. Menteri Perdagangan; g. Menteri Perhubungan; h. Menteri Pendidikan Nasional; i. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata; j. Menteri Komunikasi dan Informatika; k. Menteri Negara Riset dan Teknologi; l. Menteri Negara Lingkungan Hidup. m. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala Bappenas; n. Panglima Tentara Nasional Indonesia; o. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia; p. Ketua Palang Merah Indonesia; q. Sekretaris merangkap Anggota : Deputi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Bidang Pertanian dan Kelautan. Penyelenggaraan tugas Komnas FBPI sehari-hari dibantu oleh Tim Pelaksana yang diketuai oleh Sekretaris

                 

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Pertanian; Kementerian Kesehatan; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Luar Negeri; Kementerian Keuangan; Kementerian Kehutanan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Pendidikan Nasional; Kementerian Komunikasi dan Informatika; Kementerian Negara Riset dan Teknologi; Kementerian Negara Lingkungan Hidup; Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS; Markas Besar Tentara Nasional Indonesia; Kepolisian Negara Republik Indonesia; Palang Merah Indonesia.

Sumber Dana
 

APBN; APBD; Sumber lain mengikat.

yang

sifatnya

tidak

Instansi Terkait
 Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat Bidang

Informasi Keuangan
Ikhtisar Lapoaran Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Non Aset APBN 16.382.328 12.577.840 31.570

Alamat Komnas FBPI: Wisma ITC Lantai 4 Jln. Abdul Muis No. 8 Jakarta Pusat 10160 Telp. 021 - 385-3515, 385-4227 Fax. 021 - 3858974 Email: info@komnasfbpi.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

115

Lembaga Non Struktural

KONSIL KEDOKTERAN INDONESIA (KKI)
Dasar Hukum
Konsil Kedokteran Indonesia didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek Kedokteran, Bab III tentang Konsil Kedokteran Indonesia disahkan tanggal 6 Oktober 2004.

Tugas dan Fungsi
 Pengaturan, pengesahan, penetapan, serta pembinaan dokter dan dokter gigi yang menjalankan praktek kedokteran dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan medis. Meregistrasi dokter dan dokter gigi, mengesahkan standar pendidikan profesi dokter dan dokter gigi dan melakukan pembinaan terhadap penyelenggaraan praktek kedokteran yang dilaksanakan bersama lembaga terkait sesuai dengan fungsi masingmasing.

Sifat Dan Kedudukan
   Independen dan Non Struktural; Bertanggung jawab kepada Presiden; Berkedudukan di Ibukota Negara.

Struktur Organisasi Keangotaan
 

dan

Tujuan Pendirian
 Memberikan perlindungan kepada pasien, mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis yang diberikan oleh dokter dan dokter gigi dan memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi. Melindungi masyarakat penerima jasa pelayanan kesehatan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dari dokter dan dokter gigi.

Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi; Konsil Kedokteran dan Konsil Kedokteran Gigi masing-masing terdiri atas 3 divisi, yaitu divisi registrasi, divisi standar pendidikan profesi, dan divisi pembinaan; Anggota Jumlah anggota Konsil Kedokteran Indonesia berjumlah 17 orang yang terdiri dari unsur-unsur yang berasal dari : a. Organisasi Profesi Kedokteran 2 orang; b. Organisasi Profesi Kedokteran Gigi 2 orang; c. Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran 1 orang; d. Asosiasi Institusi Pendidikan Kedoktan Gigi 1 orang; e. Kolegium Kedokteran 1 orang; f. Kolegium Kedokteran Gigi 1 orang; g. Asosiasi Rumah Sakit Pendidikan 2 orang; h. Tokoh Masyarakat 3 orang; i. Kementerian Kesehatan 2 orang dan Kementerian Pendidikan Nasional 2 orang.

Wewenang
      Menyetujui dan menolak permohonan registrasi dokter dan dokter gigi; Menerbitkan dan mencabut surat tanda registrasi dokter dan dokter gigi; Mengesahkan standar kompetensi dokter dan dokter gigi; Melakukan pengujian terhadap persyaratan registrasi dokter dan dokter gigi; Mengesahkan penerapan cabang ilmu kedokteran dan kedokteran gigi; Melakukan pembinaan bersama terhadap dokter dan dokter gigi mengenai pelaksanaan etika profesi yang ditetapkan oleh Organisasi Profesi; Melakukan pencatatan terhadap dokter dan dokter gigi yang dikenakan

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

116

Lembaga Non Struktural

sanksi oleh organisasi profesi, atau perangkatnya karena melanggar ketentuan etika profesi.

Sumber Dana
  APBN. Satker pada Kementerian Kesehatan.

Instansi Terkait
  Kementerian Kesehatan. Kementerian Pendidikan Nasional.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 27.393.000 Realisasi 23.999.229 Total Aset 8.506.534 Non APBN

Alamat : Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Jl. Hang Jebat III Blok F3 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12120 Telp. 021 - 7206623, 7254788, 7206665 Fax. 021 - 7244379

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

117

Lembaga Non Struktural

KORP PEGAWAI REPUBLIK INDONESIA (KORPRI) Dasar Hukum
 Korp Pegawai Republik Indonesia didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 1971, tanggal 29 November 1971. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 93 Tahun 2001 tentang Pendanaan Korp Pegawai Republik Indonesia dan Perlindungan bagi Pegawai Negeri Sipil yang ditugaskan pada Sekretariat Dewan Pengurus Korp Pegawai Republik Indonesia ditetapkan tanggal 1 Agustus 2001. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian.

Fungsi
      Perekat persatuan dan kesatuan bangsa; Pelopor peningkatan kesejahteraan dan profesionalitas anggota; Pelindung dan pengayom anggota; Penyalur kepentingan anggota; Pendorong peningkatan taraf hidup sosial ekonomi masyarakat dan lingkungannya; Pelopor pelayanan publik dalam mensukseskan program-program pembangunan; Mitra aktif dalam perumusan kebijakan instansi yang bersangkutan, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku; Pencetus ide, serta pejuang keadilan dan kemakmuran bangsa.

Sifat Dan Kedudukan
 Organisasi profesi beranggotakan seluruh Pegawai Negeri Sipil baik Kementerian maupun Lembaga Pemerintah Non Kementerian; Didirikan pada tanggal 29 Nopember 1971 dengan batas waktu yang tidak ditentukan; Pimpinan Nasional KORPRI berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia; Organisasi ekstra struktural, secara fungsional tidak bisa terlepas dari kedinasan maupun di luar kedinasan; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Visi
Terwujudnya KORPRI sebagai organisasi yang kuat, netral mandiri, profesional dan terdepan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, mensejahterakan anggota, masyarakat, dan melindungi kepentingan para anggota agar lebih profesional didalam membangun Pemerintahan yang baik.

   

Misi
1. 2. 3. 4. 5. 6. Mewujudkan organisasi KORPRI sebagai alat pemersatu bangsa dan negara; Memperkuat kedudukan, wibawa, dan martabat organisasi KORPRI; Meningkatkan peran serta KORPRI dalam mensukseskan pembangunan nasional; Meningkatkan perlindungan hukum dan pengayoman kepada anggota; Meningkatkan ketaqwaan dan profesionalitas anggota; Meningkatkan kesejahteraan anggota dan keluarganya;

Tujuan Pendirian
Merupakan wadah untuk menghimpun seluruh Pegawai Republik Indonesia demi meningkatkan perjuangan, pengabdian, serta kesetiaan kepada cita-cita perjuangan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 bersifat demokratis, mandiri, bebas, aktif, profesional, netral, produktif, dan bertanggung jawab.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

118

Lembaga Non Struktural

7.

Menegakkan peraturan perundangundangan Pegawai Republik Indonesia; 8. Mewujudkan rasa kesetiakawanan dan solidaritas sesama anggota KORPRI; 9. Mewujudkan prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik.

Keanggotaan
1. 2. 3. Anggota Biasa; Anggota Luar Biasa; Anggota Kehormatan.

Susunan Organisasi
1. 2. 3. Dewan Pengurus Nasional disingkat DPN meliputi seluruh wilayah Indonesia; Dewan Pengurus Provinsi disingkat DP-PROV meliputi wilayah Provinsi yang bersangkutan; Dewan Pengurus Kabupaten disingkat DP-KAB, Dewan Pengurus Kota disingkat DP-KOT dan Dewan Pengurus Kotamadya disingkat DPKODYA Meliputi wilayah Kabupaten/Kota /Kotamadya yang bersangkutan; Pengurus Kecamatan/Distrik meliputi wilayah Kecamatan/Distrik yang bersangkutan. Pengurus Desa/Kelurahan meliputi Wilayah Desa/Kelurahan yang bersangkutan; Pengurus Unit Nasional meliputi Kementerian, Kementerian, LPND, Lembaga Tinggi Negara, BUMN, BHMN, BLU, dan komponen PNS pada instansi TNI serta POLRI; Pengurus Unit Provinsi meliputi Perangkat Daerah, Lembaga Pusat yang ada di Daerah, Komponen PNS pada instansi TNI dan POLRI, BUMN,

BHMN, BLU, dan BUMD di Provinsi yang bersangkutan; 8. Pengurus Sub Unit Nasional meliputi komponen Kementerian, Kementerian, LPND, BUMN, BHMN, BLU serta unsur PNS pada instansi TNI dan POLRI; 9. Pengurus Unit Kabupaten/Kota /Kotamadya meliputi Perangkat Daerah, Lembaga Pusat yang ada di Daerah, Komponen PNS pada instansi TNI dan POLRI, BUMN, BHMN, BLU, dan BUMD di Kabupaten/Kota/Kotamadya yang bersangkutan; 10. Pengurus Kelompok Unit Nasional meliputi komponen dalam sub unit Nasional.

Instansi Terkait
 Pemerintah Pusat dan Daerah.

Sumber Dana
1. Iuran anggota; 2. Bantuan Pemerintah dan atau Pemerintah Daerah; 3. Sumbangan yang tidak mengikat; 4. Usaha-Usaha lain yang sah.

4. 5. 6.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keungan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 3.805.630 Realisasi 3.801.669 Total Aset 37.180 Non APBN

7.

KORPS PEGAWAI REPUBLIK INDONESIA Gedung Perintis Kemerdekaan Lt. 5 Jalan Proklamasi No. 56 Jakarta 10230 Telp. 021 - 390 9570, 390 9573 Fax. 021 - 314 9779 email : dpp@korpri.or.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

119

Lembaga Non Struktural

LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN (LPS) Dasar Hukum
 Lembaga Penjamin Simpanan didirikan berdasarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan Pasal 81 disahkan tanggal 22 September 2004. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2005 tentang Modal Awal Lembaga Penjamin Simpanan tanggal 5 September 2005. (LPP) yang ditunjuk pimpinan LPP; c. 1 (satu) orang unsur pimpinan Bank Indonesia (BI) yang ditunjuk oleh pimpinan BI; d. 3 (tiga) orang anggota yang berasal dari dalam dan/atau dari luar LPS. Salah seorang anggota Dewan Komisioner ditetapkan oleh Presiden sebagai Kepala Eksekutif; Salah seorang anggota Dewan Komisioner ditetapkan oleh Presiden sebagai Kepala Eksekutif; Kepala Eksekutif dibantu oleh sebanyak 5 (lima) orang direktur.

  

Sifat Dan Kedudukan
    Merupakan badan hukum; Lembaga yang independen, transparan, dan akuntabel dalam melaksanakan tugas dan wewenang; Berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia; Bertanggung jawab Kepada Presiden.

Fungsi
  Menjamin simpanan nasabah. Turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya.

Tujuan Pendirian
   Menunjang terwujudnya perekonomian nasional yang stabil dan tangguh; Mendukung sistem perbankan yang sehat dan stabil; Melaksanakan program penjaminan terhadap simpanan nasabah bank.

Tugas
   Merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan penjaminan simpanan; Melaksanakan penjaminan simpanan; Merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka turut aktif.

Wewenang
    Menetapkan dan memungut premi penjaminan; Menetapkan dan memungut kontribusi pada saat bank pertama kali menjadi peserta; Melakukan pengelolaan kekayaan dan kewajiban LPS; Mendapatkan data simpanan nasabah, data kesehatan bank, laporan keuangan bank, dan laporan hasil pemeriksaan bank sepanjang tidak melanggar kerahasiaan bank; Melakukan rekonsiliasi, verifikasi, dan/atau konfirmasi atas data simpanan nasabah bank dan data kesehatan bank;

Struktur Organisasi
Organisasi Lembaga Penjamin Simpanan terdiri atas Dewan Komisioner dan Kepala Eksekutif.

Keanggotaan
 Dewan Komisioner berjumlah 6 (enam) orang terdiri: a. 1 (satu) orang pejabat tingkat eselon I Kementerian Keuangan yang ditunjuk Menteri Keuangan; b. 1 (satu) orang unsur pimpinan Lembaga Pengawas Perbankan

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

120

Lembaga Non Struktural

 

  

Menetapkan syarat, tata cara, dan ketentuan pembayaran klaim; Menunjuk, menguasakan , dan/atau menugaskan pihak lain untuk bertindak bagi kepentingan dan/atau atas nama LPS guna melaksanakan tugas tertentu; Melakukan penyuluhan kepada bank dan masyarakat tentang penjaminan simpanan; Menjatuhkan sanksi administratif; Melakukan penyelesaian dan penanganan Bank Gagal dengan kewenangan tertentu.

Informasi Keuangan
    LPS wajib menyusun laporan tahunan untuk setiap tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember; Laporan tahunan terdiri dari laporan kegiatan kerja dan laporan keuangan; Laporan keuangan LPS diaudit oleh BPK; Hasil audit BPK atas laporan keuangan LPS diterbitkan selambatlambatnya tanggal 31 Maret tahun berikutnya.

Instansi Terkait
   Kementerian Keuangan; Bank Indonesia; Lembaga Pengawasan Sektor Jasa Keuangan. Ikhtisar Laporan Keungan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset 17.744.651 Non APBN

Sumber Dana
    Modal Awal LPS ditetapkan sekurangkurangnya Rp4.000.000.000.000,(empat triliun rupiah); Kekayaan LPS merupakan aset negara yang dipisahkan; Kekayaan LPS berbentuk investasi dan bukan investasi; Kekayaan yang berbentuk investasi hanya dapat ditempatkan pada surat berharga yang diterbitkan Pemerintah Indonesia dan/atau Bank Indonesia; LPS tidak dapat menempatkan investasi pada bank atau perusahaan lainnya, kecuali dalam bentuk penyertaan modal sementara dalam rangka penyelamatan atau penanganan Bank Gagal; LPS dapat menempatkan kekayaan bukan investasi dalam melaksanakan kegiatan operasionalnya.

Alamat LPS : Gedung BRI II Lt. 11 Jl. Jend. Sudirman Kav.44-46 Jakarta 10210 Telp. 021 - 5713500 Fax. 021 - 5735006, 5735007 www.lps.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

121

Lembaga Non Struktural

LEMBAGA SENSOR FILM (LSF) Dasar Hukum
 Lembaga Sensor Film didirikan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 1992 tentang perfilman Bab V Pasal 33 tentang Sensor Film disahkan tanggal 30 Maret 1992. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1994 tentang Lembaga Sensor Film ditetapkan tanggal 3 Maret 1994. Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 028/O/2000 Tahun 2000 tentang Organisasi Tata Kerja Sekretariat Lembaga Sensor Film ditetapkan tanggal 22 Februari 2000. diangkat kembali berikutnya. untuk periode

Struktur Organisasi
1. 2. 3. 4. Ketua merangkap anggota; Wakil Ketua merangkap anggota; Sekretaris bukan anggota; Anggota.

Ketua dan Wakil Ketua dipilih oleh seluruh anggota di antara anggota LSF yang tidak menduduki jabatan di pemerintahan.

Fungsi
 Melindungi masyarakat dari kemungkinan dampak negatif yang timbul dalam peredaran, pertunjukan dan/atau penayangan film dan reklame film yang tidak sesuai dengan dasar, arah dan tujuan perfilman Indonesia; Memelihara tata nilai dan tata budaya bangsa dalam bidang perfilman di Indonesia; Memantau apresiasi masyarakat terhadap film dan reklame film yang diedarkan, dipertunjukkan dan/atau ditayangkan dan menganalisis hasil pemantauan tersebut untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan tugas penyensoran berikutnya dan/atau disampaikan kepada Kementerian sebagai bahan pengambilan kebijaksanaan ke arah pengembangan perfilman di Indonesia; Merupakan salah satu mata rantai dalam sistem pembinaan perfilman di Indonesia; Penyensoran film dan reklame film dilakukan berdasarkan pedoman dan kriteria penyensoran.

Sifat Dan Kedudukan
   Merupakan Lembaga Non Struktural; berkedudukan di Ibukota Negara; Bertanggung jawab Kepada Kementerian.

 

Tujuan Pendirian
Lembaga yang bertugas menetapkan status edar film-film di Indonesia. Sebuah film hanya dapat diedarkan jika dinyatakan "lulus sensor" oleh LSF. LSF juga mempunyai hak yang sama terhadap reklame-reklame film, misalnya poster film. Selain tanda lulus sensor, lembaga sensor film juga menetapkan penggolongan usia penonton bagi film yang bersangkutan. Sebelum 1994, LSF bernama Badan Sensor Film.

 

Keanggotaan
 Beranggotakan paling banyak 45 (empat puluh lima) orang, terdiri dari unsur-unsur Pemerintah dan wakilwakil masyarakat. Diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Menteri untuk masa tugas 3 (tiga) tahun, dan dapat

Tugas
 Melakukan penyensoran terhadap film dan reklame film yang akan

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

122

Lembaga Non Struktural

diedarkan, diekspor, dipertunjukkan dan/atau ditayangkan kepada umum; Meneliti tema, gambar, adegan, suara dan teks terjemahan dari suatu film dan reklame film yang akan diedarkan, diekspor, dipertunjukkan dan/atau ditayangkan; Menilai layak tidaknya tema, gambar, adegan, suara dan teks terjemahan dari suatu film dan reklame film yang akan diedarkan, diekspor, dipertunjukkan dan/atau ditayangkan.

 

Wewenang
 Meluluskan sepenuhnya suatu film dan reklame film untuk diedarkan, diekspor, dipertunjukkan dan/atau ditayangkan kepada umum; Memotong atau menghapus bagian gambar, adegan, suara dan teks terjemahan dari suatu film dan reklame film yang tidak layak untuk dipertunjukkan dan/atau ditayangkan kepada umum; Menolak suatu film dan reklame film secara utuh untuk diedarkan, diekspor, dipertunjukkan dan/atau ditayangkan kepada umum; Memberikan surat lulus sensor untuk setiap kopi film, trailer serta film iklan, dan tanda lulus sensor yang dibubuhkan pada reklame film, yang dinyatakan telah lulus sensor; Membatalkan surat atau tanda lulus sensor untuk suatu film dan reklame yang ditarik dari peredaran berdasarkan ketentuan Pasal 31 ayat (1) Undang-undang Nomor 8 Tahun 1992;  

Memberikan surat tidak lulus sensor untuk setiap kopi film, trailer serta film iklan, dan tanda tidak lulus sensor yang dibubuhkan pada reklame film, yang dinyatakan tidak lulus sensor; Menetapkan penggolongan usia penonton film; Menyimpan dan/atau memusnahkan potongan film hasil penyensoran dan film serta rekaman video impor yang sudah habis masa hak edarnya; Mengumumkan film impor yang ditolak.

Instansi Terkait
Kementerian Pendidikan Nasional. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Sumber Dana
  APBN. Sumber dana lain yang sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Lapoaran Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 17.505.420 Realisasi 15.229.928 Total Aset 19.436.339 Non APBN

Alamat LSF : Jalan M.T Haryono Kav. 47-48 Jakarta Selatan 12770 021 - 98611808 021 - 7902971 www.lsf.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

123

Lembaga Non Struktural

LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK TELEVISI REPUBLIK INDONESIA (LPP TVRI)

Dasar Hukum
Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2005 ditetapkan pada 18 Maret 2005.

wilayah Negara Indonesia.

Kesatuan

Republik

Fungsi
1. Perumusan Kebijakan umum dan pengawasan di bidang penyelenggaraan televisi publik; 2. Pelaksanaan dan pengendalian kegiatan penyelenggaraan penyiaran televisi publik; 3. Pembinaan dan pelaksanaan administrasi serta sumber daya TVRI.

Sifat Dan Kedudukan
   Independen, netral dan tidak komersial; Berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden; Berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia dan stasiun penyiarannya berada di pusat dan daerah.

Kekayaan
 Merupakan Kekayaan Negara yang tidak dipisahkan, yang dikelola sendiri sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku dan dimanfaatkan untuk mendanai kegiatan operasionalnya; Besarnya kekayaan adalah seluruh kekayaan negara yang berasal dari LPP TVRI; Besarnya Kekayaan ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Tujuan Pendirian
Merupakan Badan Hukum yang didirikan olah negara sebagai pengalihan bentuk dari PT TVRI (Persero) yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 2002.  

Susunan Organisasi
     Dewan Pengawas ( berjumlah 5 Orang); Dewan direksi ( berjumlah paling banyak 6 Orang); Stasiun Penyiaran; Satuan pengawas Intern; Pusat dan Perwakilan.

Instansi Terkait
  Sekretariat Negara. Kementerian Keuangan.

Sumber Dana
     Iuran Penyiaran; APBN; Sumbangan Masyarakat; Siaran Iklan; Usaha lain yang sah yang terkait dengan penyelenggaraan penyiaran.

Tugas
Memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat penyiaran seluruh melalui penyelenggaraan televisi yang menjangkau

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

124

Lembaga Non Struktural

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 550.000.000 Realisasi 534.588.966 Total Aset 1.615.340.242 Non APBN

Alamat LPP TVRI : Jalan Gerbang Pemuda – Senayan Jakarta 10270 021 - 5733146 021 - 5734485

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

125

Lembaga Non Struktural

LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK RADIO REPUBLIK INDONESIA (LPP RRI)
Dasar Hukum
Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia didirikan di Jakarta berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2005 yang ditetapkan pada 18 Maret 2005. lapisan masyarakat melalui penyelenggaraan penyiaran radio yang menjangkau seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Fungsi
a. Perumusan Kebijakan umum dan pengawasan di bidang penyelenggaraan radio publik; b. Pelaksanaan dan pengendalian kegiatan penyelenggaraan penyiaran radio publik; c. Pembinaan dan pelaksanaan administrasi serta sumber daya RRI.

Sifat Dan Kedudukan
   Independen, netral dan tidak komersial; Berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Presiden; Berkedudukan di ibukota Negara Republik Indonesia dan stasiun penyiarannya berada di pusat dan daerah.

Kekayaan
 Merupakan Kekayaan Negara yang tidak dipisahkan, yang dikelola sendiri sesuai dengan ketentuan perundangundangan yang berlaku dan dimanfaatkan untuk mendanai kegiatan operasionalnya; Besarnya kekayaan adalah seluruh kekayaan negara yang berasal dari LPP RRI; Besarnya Kekayaan ditetapkan oleh Menteri Keuangan.

Tujuan Pendirian
Merupakan Badan Hukum yang didirikan oleh negara sebagai pengalihan bentuk dari Perusahaan Jawatan RRI yang dibentuk dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2000.  

Susunan Organisasi
     Dewan Pengawas ( berjumlah 5 Orang); Dewan direksi ( berjumlah paling banyak 6 Orang); Stasiun Penyiaran; Satuan pengawas Intern; Pusat dan Perwakilan.

Instansi Terkait
  Sekretariat Negara. Kementerian Keuangan.

Sumber Dana
     Iuran Penyiaran; APBN; Sumbangan Masyarakat; Siaran Iklan; Usaha lain yang sah yang terkait dengan penyelenggaraan penyiaran.

Tugas
Memberikan pelayanan informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta melestarikan budaya bangsa untuk kepentingan seluruh

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

126

Lembaga Non Struktural

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 600.000.000 Realisasi 559.022.853 Total Aset 3.304.324.065 Non APBN

Alamat LPP RRI : Jalan Medan Merdeka Barat No. 4-5 Jakarts 10110 021 - 3511084 021 - 3457132 Website : www.rri.co.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

127

Lembaga Non Struktural

LEMBAGA KERJASAMA TRIPARTIT (LKS TRIPARTIT) Dasar Hukum
 Lembaga Kerjasama Tripartit didirikan berdasarkan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan disahkan pada tanggal 25 Maret 2003. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2005 tentang Tata Kerja dan Susunan Organisasi Lembaga Kerjasama Tripartit yang ditetapkan tanggal 2 Maret 2005.  Pemerintah. Jumlah Seluruh anggota sebabnyakbanyaknya 24 orang diangkat dan diberhentikan oleh Presiden atas usul Kementerian terdiri dari : a. Ketua Merangkap Anggota; b. Tiga Wakil Ketua Merangkap Anggota; c. Sekretaris Merangkap Anggota; d. Anggota; e. Badan Pekerja.

Tugas
Memberikan pertimbangan, saran, dan pendapat kepada Presiden dan pihak terkait dalam penyusunan kebijakan dan pemecahan masalah ketenagakerjaan secara nasional.

Sifat Dan Kedudukan
   Mandiri dan Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab Kepada Presiden.

Instansi Terkait
   Kementerian Tenaga Kerja Transmigrasi; Organisasi Pengusaha; Serikat Pekerja/ Serikat Buruh. dan

Tujuan Pendirian
Membangun suatu sarana komunikasi antara para pelaku proses produksi. LKS Tripartit adalah forum komunikasi, konsultasi dan musyawarah tentang masalah ketenagakerjaan, agar segala kebijaksanaan ketenagakerjaan yang ditetapkan oleh pemerintah dapat menjadi instrumen yang efektif dalam mencapai tujuan.

Sumber Dana
APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Keanggotaan dan Struktur Organisasi
  Organisasi Pengusaha; Serikat Pekerja/Serikat buruh;

Alamat : Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jalan Taman Makam Pahlawan Kalibata No.17 Jakarta Selatan Telp. 021 - 7392210 Fax. 021 - 7203062, 5251910

LEMBAGA PRODUKTIVITAS NASIONAL (LPN)
Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

128

Lembaga Non Struktural

Dasar Hukum
 Lembaga Produktivitas Nasional didirikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2005 tentang Lembaga Produktivitas Nasional ditetapkan tanggal 3 Agustus 2005. Undang-Undang Nomor 13 Tahun

Susunan Organisasi Keanggotaan
 

dan

2003 tentang Ketenagakerjaan.

Sifat Dan Kedudukan
    Merupakan Lembaga Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab Kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Untuk meningkatkan produktivitas dengan melaksanakan Pembinaan pelatihan kerja dan pemagangan yang ditujukan ke arah peningkatan relevansi, kualitas, dan efisiensi penyelenggaraan pelatihan kerja dan produktivitas.

Tugas
Memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden dalam perumusan kebijakan nasional di bidang produktivitas dan peningkatan produktivitas dalam rangka penguatan daya saing nasional.

Fungsi
1. Pengembangan budaya produktif dan etos kerja; 2. Pengembangan jejaring informasi peningkatan produktivitas; 3. Pengembangan sistem dan teknologi; 4. Peningkatan produktivitas; 5. peningkatan kerja sama di bidang produktivitas dengan lembagalembaga atau organisasi-organisasi Internasional

Ketua merangkap anggota: Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Wakil Ketua merangkap anggota: Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Sekretaris merangkap anggota: Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Anggota: a. Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian; b. Direktur Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian, Kementerian Pertanian; c. Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan, Kementerian Kehutanan; d. Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan; e. Direktur Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; f. Direktur Jenderal Mineral, Batubara dan Panas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; g. Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah, Kementerian Perindustrian; h. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan; i. Direktur Jenderal Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Kementerian Dalam Negeri; j. Direktur Jenderal Lembaga Keuangan, Kementerian Keuangan; k. Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan; l. Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan; m. Direktur Jenderal Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum; n. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian Pendidikan Nasional; o. Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Nasional;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

129

Lembaga Non Struktural

p. Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; q. Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; r. Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; s. Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah; t. Deputi Bidang Sumber Daya Manusia Aparatur, Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara; u. Deputi Bidang Ekonomi, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Kelompok Kerja.

          

Kementerian Perindustrian Kementerian Perdagangan; Kementerian Perhubungan; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Pendidikan Nasional; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara; Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan kepada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Instansi Terkait
     Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Kementerian Keuangan; Kementerian Pertanian; Kementerian Kehutanan;

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 761.475 Realisasi 493.409 Total Aset Non APBN

Alamat LPN : Kementerian Tenagan Kerja dan Transmigrasi Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 51 Lt. 6A Jakarta 12950 Telp. 021 - 52964505 Fax. 021 - 52960456

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

130

Lembaga Non Struktural

OTORITA ASAHAN Dasar Hukum
Otorita Asahan dibentuk Berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1976 tentang Pembentukan Otorita Pengembangan serta Badan Pembina Pusat Listrik Tenaga Air dan Peleburan Aluminium Asahan ditetapkan tanggal 22 Januari 1976.

Tugas
 Badan Pembina : 1. Mengkoordinasikan kebijaksanaan-kebijaksanaan Pemerintah yang berhubungan dengan pembinaan dan pengembangan atas pelaksanaan pembangunan Proyek Asahan Secara Keseluruhan; 2. Melakukan pembinaan dan memberikan petunjuk-petunjuk pelaksanaan kepada Otorita mengenai pengembangan atas pelaksanaan pembangunan Proyek Asahan sesuai dengan kebijaksanaan umum Pemerintah di bidang pembangunan. Tugas Otorita : 1. Memberikan fasilitas dan jaminan bagi pelaksanaan persetujuan secara tepat dan berhasil; 2. Mengamankan kepentingankepentingan pemerintah dan PERSERO Pengusahaan serta Pengembangan Usaha Perlistrikan dan Peleburan Aluminium; 3. Mengawasi pelaksanaan proyek sesuai dan di dalam batas-batas sebagaimana ditetapkan dalam Persetujuan Induk; 4. Memelihara kerjasama dan koordinasi secara terus-menerus antara Pihak-pihak dalam mencapai tujuan Persetujuan Induk; 5. Menjamin agar tatacara perizinan dan pemberian jasa yang diperlukan dalam pelaksanaan pembangunan Proyek Asahan dapat berjalan lancar dan tertib; 6. Mengembangkan dan mengendalikan pelaksanaan pembangunan Proyek Asahan sesuai dengan rencana yang ditetapkan; 7. Merencanakan dan mengendalikan pengembangan jangka panjang wilayah Proyek Asahan beserta prasarananya dalam kerjasama dengan instansi yang bersangkutan.

Sifat Dan Kedudukan
   Berada langsung dibawah dan Bertanggung jawab kepada Presiden; Badan Pembina Proyek Asahan berkedudukan di Jakarta; Otorita Pengembangan Proyek Asahan berkedudukan di Medan.

Tujuan Pendirian
Mewakili Pemerintah untuk mengawasi dan membantu pelaksanaan proyek Asahan baik selama masa konstruksi maupun setelah perusahaan beroperasi sebagai tindak lanjut atas Perjanjian Induk mengenai Pusat Listrik Tenaga Air dan Peleburan Aluminium Asahan (Proyek Asahan).

Struktur Organisasi
 Susunan Badan Pembina terdiri dari : 1. Ketua merangkap Anggota : Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS; 2. Anggota : a. Menteri Dalam Negeri; b. Menteri Keuangan; c. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral; d. Menteri Perindustrian; e. Menteri Perhubungan; f. Menteri Pekerjaan Umum; g. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi; h. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Propinsi Sumatera Utara; i. Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

131

Lembaga Non Struktural

Instansi Terkait
1. Kepresidenan; 2. Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian; 3. Kementerian Dalam Negeri; 4. Kementerian Keuangan; 5. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; 6. Kementerian Perindustrian; 7. Kementerian Perhubungan; 8. Kementerian Pekerjaan Umum; 9. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; 10. Kantor Gubernur Daerah Tingkat I Sumatera Utara; 11. Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Sumber Dana
  APBN (sebelum tahun 2000). PT Indonesia Asahan Aluminium.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Alamat : Jalan Jenderal Gatot Soebroto Kav. 8 No. 67 Jakarta 12920 021 - 5252466 021 - 5251763

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

132

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN DAN PELABUHAN BEBAS BATAM (BP BATAM)

Dasar Hukum
 Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 74 Tahun 1971 tentang Pengembangan Pembangunan Pulau Batam. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1973 tentang Daerah Industri Pulau Batam. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1974 tentang Penunjukan dan Penetapan Beberapa Wilayah Usaha Bonded Warehouse di Daerah pulau Batam. SK MENDAGRI Nomor 43 Tahun 1977 tentang Pengelolaan dan Pembangunan Tanah di Daerah Industri Pulau Batam. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1978 tentang Penetapan Seluruh Daerah Industri Pulau Batam Sebagai Wilayah Usaha Bonded Warehouse. Peraturan Pemerintah Nomor 34 Tahun 1983 tentang Pembentukan Kotamadya Batam di Wilayah Propinsi Daerah Tingkat I Riau. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1984 tentang Hubungan Kerja Antara Kotamadya Batam dengan Otorita Pengembangan Industri Pulau Batam. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 94 Tahun 1998 tentang Penyempurnaan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1973 tentang Daerah Industri Pulau Batam. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 53 Tahun 1999 tentang Pembentukan Kota Batam dan Kedudukan Badan Otorita Batam dalam Pembangunan Batam. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2007 tanggal 20 Agustus 2007 tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, Otorita Batam ditetapkan

 

berubah menjadi Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam), dengan pokok-pokok ketentuan antara lain : a. Dengan Peraturan Pemerintah ini, kawasan Batam ditetapkan sebagai Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam untuk jangka waktu 70 (tujuh puluh) tahun sejak diberlakukannya Peraturan Pemerintah ini. b. Di dalam Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam dilakukan kegiatan-kegiatan di bidang ekonomi, seperti sektor perdagangan, maritim, industri, perhubungan, perbankan, pariwisata dan bidang lainnya. c. Semua aset Otorita Batam dialihkan menjadi aset BP Batam, kecuali aset yang telah diserahkan kepada Pemerintah Kota Batam, sesuai dengan Peraturan Perundang-undangan. d. Pegawai pada Otorita Batam dialihkan menjadi pegawai pada BP Batam. e. Hak Pengelolaan atas tanah yang menjadi kewenangan Otorita Batam dan Hak Pengelolaan atas tanah yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota Batam yang berada di Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam beralih kepada BP Batam sesuai dengan Peraturan Perundangundangan. f. BP Batam ditetapkan paling lambat pada tanggal 31 Desember 2008.

Sifat Dan Kedudukan
   Merupakan Lembaga Non Struktural; Berkedudukan dan berkantor pusat di Pulau Batam; Bertanggung jawab Kepada Presiden.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

133

Lembaga Non Struktural

Tujuan Pendirian
Pembangunan Batam dipercayakan kepada Lembaga Pemerintah yang bernama Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Batam.

Tugas
1. Mengembangkan dan mengendalikan pembangunan Pulau Batam sebagai suatu daerah industri; 2. Merencanakan kebutuhan prasarana dan pengusahaan instalasi-instalasi prasarana dan fasilitas lainnya; 3. Mengembangkan dan mengendalikan kegiatan pengalih-kapalan (transhipment) di Pulau Batam; 4. Menampung dan meneliti permohonan izin usaha yang diajukan oleh para pengusaha serta mengajukan kepada instansi-instansi yang bersangkutan; 5. Menjamin agar tata cara perizinan dan pemberian jasa-jasa yang diperlukan dalam mendirikan dan menjalankan usaha di Pulau Batam dapat berjalan lancar dan tertib, segala sesuatunya untuk dapat menumbuhkan minat para pengusaha menanamkan modalnya di Pulau Batam.

Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (Dewan Kawasan) yang terdiri dari :  Ketua merangkap Anggota : Gubernur Kepulauan Riau.  Wakil Ketua merangkap.  Anggota : Walikota Batam.  Anggota : Kakanwil Dirjen Bea dan Cukai Propinsi Kepulauan Riau.  Anggota : Kakanwil Dirjen Pajak Propinsi Kepulauan Riau.  Anggota : Kementerian Hukum dan HAM Propinsi Kepulauan Riau.  Anggota : Kakanwil Badan Pertanahan Nasional Propinsi kepulauan Riau.  Anggota : Kepala Kepolisian Daerah Kepulauan Riau.  Anggota : Kepala Kejaksaan Tinggi Propinsi Kepulauan Riau.  Anggota Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut IV.  Anggota : Komandan Gugus Keamanan Laut Wilayah Barat.  Anggota : Komandan Komando Resort Militer 033/WIRAPRATAMA.  Anggota : Kepala BP Batam.

Struktur Batam

Organisasi

BP

Visi
BARELANG (BATAM, REMPANG, GALANG) sebagai salah satu lokomotif pembangunan Nasional, Pusat pertumbuhan ekonomi regional yang memberikan manfaat kesejahteraan bagi wilayah.

Misi
Mewujudkan BARELANG sebagai daerah industri yang kompetitif di Asia Pasifik, dengan dukungan sektor perdagangan, Pariwisata, Alih Kapal (Transhipment), Perbankan dan Jasa Keuangan Internasional.

Berdasarkan Surat Keputusan Ketua Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam Nomor KPTS/6/BK/IX/2008, tanggal 25 September 2008 tentang Personil Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam, ditetapkan personil pimpinan BP Batam sebagai berikut :  Ketua : Ir. Mustofa Widjaja, MM  Wakil Ketua : Drs. Manan Sasmita  Anggota I Bidang Pelayanan Promoso : Ir. Asroni Harahap, MSc.  Anggota II Bidang Sarana, Prasarana dan Investasi : Ir. I Wayan Subawa  Anggota III Bidang Administrasi dan Program : Ir. M. Prijanto, ME  Anggota IV Bidang Pengendalian : Ir. M. Prijanto, ME

Sumber Dana
 Pelaksanaan kegiatan Otorita Batam Tahun Anggaran 2009 dan 2008 dibiayai dari 2 (dua) sumber Anggaran yaitu Daftar Uraian Rencana Kegiatan (DURK) dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Susunan Keanggotaan
Berdasarkan Keputusan presiden Nomor 9 Tahun 2008, tanggal 7 Mei 2008 ditetapkan Dewan Kawasan Perdagangan

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

134

Lembaga Non Struktural

DURK adalah Anggaran yang bersumber dari kegiatan pemberian ijin penggunaan lahan (Ulang Wajib Tahunan Otorita /UWTO), Kerja Sama Operasi (KSO), dan kegiatan Unit Pelayanan Teknis (UPT), yang mengelola pelabuhan laut, bandar

udara, rumah sakit, serta air dan air limbah. Daftar Uraian Rencana Kegiatan (DURK) ditetapkan oleh Ketua Otorita Batam dengan Memperhatikan rekomendasi dari Menteri Keuangan cq. Direktur Jenderal Anggaran.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 212.621.526 Realisasi 207.454.239 Total Aset 14.272.714.833 Non APBN

Sekretariat : Gedung BIDA ANNEX II Lantai 4, Pusat PDSI Batam Center Telp. 0778-462047 Ext 1517 http://www.batam.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

135

Lembaga Non Struktural

SEKRETARIAT PENGADILAN PAJAK Dasar Hukum
 Pengadilan Pajak didirikan di Jakarta berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2002 tentang Pengadilan Pajak disahkan tanggal 12 April 2002. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1997 tentang Pembentukan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak ditetapkan tanggal 7 Oktober 1997.

Tugas dan Wewenang
 Mempunyai tugas dan wewenang memeriksa dan memutus Sengketa Pajak; Dalam hal Banding hanya memeriksa dan memutus sengketa atas keputusan keberatan, kecuali ditentukan lain oleh Peraturan perundang-undangan yang berlaku; Dalam hal Gugatan memeriksa dan memutus sengketa atas pelaksanaan penagihan Pajak atau Keputusan pembetulan atau Keputusan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 ayat (2) Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan UndangUndang Nomor 16 Tahun 2000 dan peraturan perundang-undangan perpajakan yang berlaku; Mengawasi kuasa hukum yang memberikan bantuan hukum kepada pihak-pihak yang bersengketa dalam sidang-sidang Pengadilan Pajak; Merupakan Pengadilan tingkat pertama dan terakhir dalam memeriksa dan memutus Sengketa Pajak; Memanggil atau meminta data atau keterangan yang berkaitan dengan Sengketa Pajak dari pihak ketiga sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku; Meningkatkan penerimaan negara dan pengamanan keuangan negara dengan mempertimbangkan perkembangan dunia usaha dan aspek keadilan masyarakat melalui administrasi penyelesaian sengketa pajak yang efektif, efisien dan transparan.

Sifat Dan Kedudukan
   Merupakan Lembaga Non Struktural; Berkedudukan di ibukota Negara; Bertanggung jawab Kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Badan peradilan yang melaksanakan kekuasaan kehakiman bagi Wajib Pajak atau penanggung Pajak yang mencari keadilan terhadap Sengketa Pajak. 

Pembinaan
  Pembinaan teknis peradilan dilakukan oleh Mahkamah Agung. Pembinaan organisasi, administrasi, dan keuangan dilakukan oleh Kementerian Keuangan.

Keanggotaan dan Struktur Organisasi
  Terdiri dari Pimpinan, Hakim Anggota, Sekretaris, dan Panitera; Hakim diangkat oleh Presiden dari daftar nama calon yang diusulkan oleh Menteri setelah mendapat persetujuan Ketua Mahkamah Agung; Pimpinan terdiri dari seorang Ketua dan paling banyak 5 (lima) orang Wakil Ketua; Ketua dan Wakil Ketua diangkat oleh Presiden dari para Hakim yang diusulkan Menteri setelah mendapat persetujuan Ketua Mahkamah Agung; Sekretaris.

 

Instansi Terkait
1. Kementerian Keuangan; 2. Mahkamah Agung.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

136

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
APBN. APBN

Dalam Ribuan Rupiah Realisasi 22.387.871 Total Aset 11.090.559 Non APBN

61.828.768

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009

Alamat : Kementerian Keuangan Gedung D Jl. Wahidin - Jakarta 10710 Telp. 021 - 34357204 Fax. 021 - 3453710, 3506102

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

137

Lembaga Non Struktural

STAF KHUSUS PRESIDEN Dasar Hukum
Staf Khusus Presiden didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2005 tentang Staf Khusus Presiden.

Tujuan Pendirian
  Untuk lebih meningkatkan kelancaran tugas-tugas Presiden dan tiadanya Sekretaris Presiden. Harapan rakyat Indonesia terhadap Presiden yang dipilih secara langsung untuk dapat segera menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Sifat dan Kedudukan
  Lembaga Non Struktural. Bertanggung jawab kepada Sekretaris Kabinet.

Peran dan Fungsi
Melaksanakan tugas tertentu di luar tugastugas yang sudah dicakup dalam susunan organisasi departemen, kementerian, dan instansi pemerintah lainnya.

Keanggotaan
Staf Khusus Presiden dapat berasal dari pegawai negeri atau bukan pegawai negeri.

Struktur Organisasi
         Sekretaris Pribadi Presiden; Bidang Hubungan Internasional; Bidang Informasi/Public Relation; Bidang Komunikasi Politik; Bidang Hukum dan Pemberantasan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme; Bidang Ekonomi dan Keuangan; Bidang Pertahanan dan Keamanan; Bidang Pembangunan Daerah dan Otonomi Daerah; Bidang Teknik dan Industri.

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan pada Anggaran Belanja Sekretaris Kabinet.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 4.280.971 Realisasi 1.553.601 Total Aset Non APBN

Alamat : Jalan Veteran No. 17-18 Jakarta Pusat 10110 021 - 23545001 021 - 2314147

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

138

Lembaga Non Struktural

UNIT KERJA PRESIDEN BIDANG PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN (UKP-PPP) Dasar Hukum
Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan didirikan di Jakarta berdasarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2009 tentang Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan ditetapkan tanggal 8 Desember 2009.

Tugas
 Membantu Presiden dalam melaksanakan pengawasan dan pengendalian pembangunan, sehingga mencapai sasaran pembangunan nasional dengan penyelesaian penuh. Prioritas pelaksanaan tugas UKP-PPP ditentukan dari waktu ke waktu oleh Presiden, meliputi bidang : a. Peningkatan kapasitas dan efektivitas sistem logistik nasional; b. Peningkatan efektivitas dan percepatan pelaksanaan reformasi birokrasi dan perbaikan layanan umum; c. Perbaikan iklim usaha dan investasi; d. Peningkatan kinerja dan akuntabilitas Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis; e. Bidang lain yang ditentukan oleh Presiden.

Sifat Dan Kedudukan
  UKP-PPP berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. UKP-PPP dalam melaksanakan tugasnya dikendalikan oleh Presiden dibantu oleh Wakil Presiden.

Tujuan Pendirian
 Untuk senantiasa meningkatkan kinerja kabinet dan seluruh aparatur pemerintahan dengan mengawasi, mengendalikan, memantau kemajuan, memberi dorongan untuk menyempurnakan segi pelaksanaan pembangunan nasional. Merupakan upaya mengefektifkan pencapaian sasaran pembangunan nasional di semua bidang.

Fungsi
1. Membantu Presiden dalam menjabarkan kebijakan pembangunan nasional ke dalam program Pemerintah; Menetapkan unsur dan tata cara pengendalian pelaksanaan program Pemerintah; Melaksanakan pemantauan kemajuan dan mengusulkan langkah untuk memperlancar pelaksanaan program; Membantu Presiden dalam mengelola pelaksanaan sinkronisasi dan konsistensi perencanaan, pemantauan, pengendalian, pelancaran, dan percepatan program pembangunan; Membantu Presiden menemukan kendala dalam pelaksanaan program Pemerintah serta cara mengatasinya; Menampung saran dan keluhan masyarakat serta melakukan pemantauan dan analisis atas keterlambatan pelaksanaan program Pemerintah dan membantu untuk mengatasinya.

2. 3. 4.

Struktur Organisasi
 Susunan organisasi UKP-PPP terdiri dari : a. Kepala; b. 4 (empat) Deputi; c. Tenaga Profesional; d. Sekretariat Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, Kepala dapat membentuk Tim Khusus untuk penanganan masalah-masalah tertentu.

5. 6.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

139

Lembaga Non Struktural

7.

Melaksanakan fungsi-fungsi lain yang ditugaskan Presiden.

Instansi Terkait
   Kepresidenan; Wakil Presiden; Kementerian Koordinator Perekonomian; Bidang

Kewenangan
1. Mengelola sumber daya yang ada, baik sumber daya manusia, keuangan, maupun teknologi untuk melaksanakan pengawasan dan pengendalian pembangunan; 2. Melaksanakan koordinasi dengan Menteri dan Pimpinan lembagalembaga lain dalam melakukan kegiatan pengawasan dan pengendalian pembangunan. 3. Mendapatkan informasi dan dukungan teknis dalam pelaksanaan tugasnya di Kementerian, Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK), Pemerintah Daerah, dan pihak lain yang terkait.

Sumber Dana
APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN 8.548.937 Realisasi 3.189.299 Total Aset 3.375.087 Non APBN

Alamat : Jalan Veteran No. 17-18 Jakarta Pusat 10110 021 - 23545001 021 - 231414

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

140

Lembaga Non Struktural

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen. Perbendaharaan

i

BAGIAN II YAYASAN DI LINGKUNGAN K/L

Yayasan di lingkungan K/L

BADAN PENGELOLA DAN PENGEMBANGAN TAMAN MINI “INDONESIA INDAH” YAYASAN HARAPAN KITA Badan Pengelola dan Pengembangan TMII

Dasar Hukum
1. Sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 51 Tahun 1977 tanggal 10 September 1977, bahwa : Taman Mini “Indonesia Indah”’ yang terletak di Daerah Kelurahan Bambu Apus, Dukuh, Lubang Buaya, dan Ceger, Kecamatan Kramat Jati dan Pasar Rebo, Jakarta Timur seluas 120 Ha beserta segala bangunan-bangunannya yang berada diatasnya, adalah milik Negara Republik Indonesia; Penguasaan dan pengelolaan Taman Mini “Indonesia Indah” tersebut diserahkan kepada Yayasan Harapan Kita; Yayasan Harapan Kita bertugas dan berkewajiban mengurus serta memelihara Taman Mini “Indonesia Indah” dengan sebaik-baiknya dan memanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan Negara dan bangsa Indonesia serta menyampaikan laporan pelaksanaan dan hasil pengelolaan Taman Mini “Indonesia Indah” tersebut secara berkala kepada Presiden; Sesuai Akta Persembahan Taman Mini “Indonesia Indah” kepada Bangsa dan Negara Republik Indonesia no 47 tanggal 7 Juni 1987, bahwa luas Taman Mini “Indonesia Indah” menjadi + 150 Ha.

2.

Berdasarkan Keputusan Ketua Yayasan Harapan Kita/Badan Pelaksana Pengelolaan dan Pengembangan Taman Mini “Indonesia Indah” No. 002/Kpts/YHK/BP3 TMII/IX/1985 tanggal 9 September 1985 menetapkan peraturan tentang : Kedudukan, Tugas Pokok, dan Tata Kerja Pelaksana Pengelolaan Taman Mini “Indonesia Indah” , antara lain bahwa : 1. Pelaksana Pengelolaan Taman Mini “Indonesia Indah” adalah perangkat dan mekanisme kerja yang berada dibawah Badan Pelaksana Pengelolaan dan Pengembangan Taman Mini “Indonesia Indah” selanjutnya disebut BP3 TMII; Pelaksana Pengelolaan Taman Mini “Indonesia Indah” dipimpin oleh Jenderal Manajer Taman Mini “Indonesia Indah”, selanjutnya disebut Jenderal Manajer TMII; Dalam melaksanakan tugas pokoknya, Jenderal Manajer TMII bertanggung jawab langsung kepada Ketua Yayasan Harapan Kita / BP3 TMII.

3.

4.

2.

3.

5.

Tujuan Pendirian
Pelaksana pengelola Taman Mini “Indonesia Indah”.

Struktur Organisasi Sifat dan kedudukan
Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

1

Yayasan di lingkungan K/L

1.

Berdasarkan Keputusan Ketua Yayasan Harapan Kita/Badan Pelaksana Pengelola dan Pengembangan Taman Mini “Indonesia Indah” No. 010/Kpts/YHK/BP3-TMII/VIII/2005 tanggal 18 Agustus 2005, tentang pengangkatan Sdr. Sugiono sebagai Jenderal Manajer Taman Mini “Indonesia Indah”. Keputusan Ketua Yayasan Harapan Kita/Badan Pelaksana Pengelola dan Pengembangan Taman Mini “Indonesia Indah” No. 011/Kpts/YHK/BP3TMII/VIII/2005 tanggal 18 Agustus 2005, tentang pengangkatan Sdr. Dr. AJ. Bambang Sutanto sebagai Wakil Jenderal Manajer Bidang Pengelolaan dan Pengendalian TMII untuk jangka waktu 18 Agustus 2005 s.d 17 Agustus 2008, Sdr. Widarso, MBA sebagai Wakil Jenderal Manajer Bidang Pengembangan Program TMII untuk jangka waktu 18 Agustus 2005 s.d 17 Agustus 2008, Sdr. R. Widjoko, MM sebagai Wakil Jenderal Manajer TMII untuk jangka waktu 18 Agustus 2005 s.d 17 Agustus 2008. Dengan demikian susunan organisasi Pelaksana Pengelolaan Taman Mini “Indonesia Indah” per 31 Desember 2007 , terdiri dari : a. Jenderal Manajer : Sugiono; b. Wakil Jenderal Manajer Bidang Pengelolaan & Pengendalian : Dr. A.J. Bambang Sutanto; c. Wakil Jenderal Manajer Bidang Pengembangan Program: Widarso MBA; d. Wakil Jenderal Manajer Umum : R. Widjoko, MM. Bidang

Pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah dipimpin oleh Pelaksana Pengelolaan Taman Mini Indonesia Indah (PP TMII) dengan sebutan Jenderal Manajer Taman Mini"Indonesia Indah". Tugas Jenderal Manajer Taman Mini "Indonesia Indah" adalah sebagai berikut : 1. Melaksanakan Pengelolaan, Pengembangan dan Pengusahaan Taman Mini "Indonesia Indah" yang merupakan Kawasan Wisata Bermatra Budaya Indonesia sebagai Wahana Perekat Persatuan dan Kesatuan Bangsa. Mengatur Koordinasi Operasional, Keuangan dan Administrasi Unit Anjungan Daerah, Unit Kerja Departemen/Lembaga, Unit Kerja Pelaksana Pengelolaan Taman Mini"Indonesia Indah" dan Unit Usaha. Mengkoordinir semua kegiatan dan pengelolaan proyek-proyek pembangunan di lingkungan Taman Mini "Indonesia Indah". Melakukan pengawasan, pengelolaan, pemeliharaan dan perbaikan atas semua asset Taman Mini "Indonesia Indah" baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mengajukan Rancangan Program Kerja dan Rancangan Anggaran Pendapatan/Belanja Taman Mini "Indonesia Indah" kepada Ketua BP3 Taman Mini "Indonesia Indah" guna mendapat keputusan.

2.

2.

3.

4.

5.

Instansi Terkait :
Gubenur DKI Jakarta. Sumberdana : a. Pendapatan/penghasilan bersih yang diperoleh dari hasil karcis unit pintu masuk, unit angkutan, unit permainan, dan unit hiburan adalah pendapatan/penghasilan bruto kemudian dikurangi Pajak Hiburan/

Karyawan : Jumlah karyawan Pelaksana Pengelolaan Taman Mini "Indonesia Indah" per 31 Desember 2007 sebanyak 799 orang.

Tugas dan Wewenang

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

2

Yayasan di lingkungan K/L

Tontonan, pendapatannya diakui pada saat diterima pembayarannya. b. Pendapatan kerjasama, sewa ruangan, serta listrik dan telepon diakui pada saat berlalunya waktu, adapun PPN ditanggung pihak kedua. c. Pendapatan lain-lain dan sumbangan diakui pada saat diterimanya pembayaran.

Hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan Tahun 2006 sampai dengan Tahun 2007 oleh BPK.

Informasi Keuangan

Alamat : Jl. Raya Taman Mini Jakarta Timur 13560 (021) 8409214 (021) 8400709

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

3

Yayasan di lingkungan K/L

YAYASAN SARANA WANA JAYA Badan Pengelola Gedung Manggala Wanabakti

Dasar Hukum Sifat dan kedudukan Tujuan Pendirian
Mengusahakan pemanfaatan gedung dengan tata niaga sewajarnya, serta mengurus dan memelihara gedung dengan kemampuan sendiri, agar keberadaan gedung tersebut dapat terjaga selama-lamanya sebagai Pusat Kehutanan untuk para rimbawan berkiprah memberikan komando, bimbingan dan pengawasan pengelolaan/pemanfaatan hutan seisinya sebagai kekayaan nasional.

Struktur Organisasi

 

Menyediakan fasilitas gedung kepada para rimbawan dalam menjalankan tugas-tugas dan tanggungjawabnya di bidang kehutanan di Indonesia. Mengelola pemanfaatan ruang perkantoran dan ruang pertemuan yang tersedia dalam gedung dengan suatu tata niaga yang sewajarnya. Mengelola Pusat Dokumentasi dan Informasi, Museum dan Taman Hutan sebagai salah satu kegiatannya dalam menjalankan fungsi sosial gedung. Mengelola Klinik Kesegaran Jasmani dan Pusat Uji Kesehatan untuk mendukung keberadaan gedung sebagai suatu perkantoran yang peduli dengan kesegaran jasmani dan kesehatan penghuni/penyewanya. Mengurus keamanan dan kebersihan serta keindahan gedung. Memelihara sarana, peralatan dan perangkat untuk kelestarian gedung.

Mengembangkan keahlian dan keterlatihan sumber daya manusia pengelolanya untuk meningkatkan mutu pelayanan kepada penghuni/penyewanya.

Instansi Terkait
Departemen kehutanan.

Tugas dan wewenang

Sumber Dana

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

4

Yayasan di lingkungan K/L

Penyewaan gedung.

Informasi Keuangan
Laporan BPK.

Alamat : Gedung Pusat Kehutanan Manggala Wanabakti Blok I Lt. XIV Jl. Gatot Subroto Senayan Jakarta (021) 5705086, 5730200, 5730333 (021) 5701137

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

5

Yayasan di lingkungan K/L

YAYASAN GEDUNG VETERAN REPUBLIK INDONESIA

Dasar Hukum
KEPUTUSAN TAHUN 1977 PRESIDEN NOMOR 4

Tujuan Pendirian Tahun 1983  Kongres V LVRI di Medan menetapkan YGVRI sebagai anak organisasi LVRI, sebagai salahsatu unit pelaksana organik LVRI.

Tanggal 22 Februari 1977 Presiden Republik Indonesia mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1977 yang isinya : 1. Seluruh bagunan Gedung Veteran RI "Graha Purna Yudha" beserta tanahnya Kaveling 50 di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, adalah milik Negara Republik Indonesia. Penguasaan dan pengelolaan Gedung Veteran dimaksud diserahkan kepada Yayasan Gedung Veteran Republik Indonesia Yayasan Gedung Veteran Republik Indonesia bertugas mengurus dan memelihara Gedung dan memanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan para Veteran Republik Indonesia serta masyarakat umumnya. Pelaksanaan administratif dari Keputusan Presiden ini dilaksanakan oleh Menteri Sekretaris Negara bersama-sama Pimpinan Yayasan Gedung Veteran Republik Indonesia.

Struktur Organisasi

2.

3.

4.

Sifat dan Kedudukan -

KETUA YGVRI
MARSDA TNI (PURN) I.G.N. DANENDRA NPV. 23.004.362 Alamat : Jl. Jend. Sudirman Kav. 50 Jakarta 12930

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

6

Yayasan di lingkungan K/L

SEKRETARIS YGVRI
BRIGJEN POL (PURN) Drs. H. JUSUF MUCHARAM, MSc. MM. NPV. 24.011.858 Alamat: Jl. Dadali II No. 7 Tanah Sareal Bogor 16161

Alamat : Jl. Kelapa Kuning Raya Blok AE 1/11 Kav. DPRD Billy Moon Pondok Kelapa, Jakarta Timur

Tugas dan Wewenang _ Instansi Terkait _ Sumber Dana _ Informasi Keuangan _

BENDAHARA YGVRI
KOLONEL CKU (PURN) YAHYA ARIFIN NPV. – Alamat : Jl. komplek Hankam Pangkalan Jati Blok G No. 24 Pondok Labu, Jakarta Selatan

ANGGOTA YGVRI
BRIGJEN TNI (PURN) Drs. H. SOESANTO WISMOJO NPV. 8.020.990 Alamat: Jl. Beringin F - 16 Cijantung II Jakarta Timur

PENASEHAT YGVRI
H.W. SALAMUN NPV. 8.012.983

Alamat : Plaza Semanggi Lt. XI Jl. Jl. Jend. Sudirman Kav. 50 Jakarta (021) 5251077, 5251526, (021) 525412

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

7

BAGIAN III BADAN HUKUM MILIK NEGARA (BHMN)

Badan Hukum Milik Negara

UNIVERSITAS AIRLANGGA (UNAIR)

UMUM
Universitas Airlangga didirikan pada tanggal 10 November 1954, berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 57 Tahun 1954 dengan memiliki : 1. Fakultas Kedokteran. 2. Fakultas Kedokteran Gigi. 3. Fakultas Hukum. 4. Fakultas Sastra di Denpasar Bali. 5. Fakultas Ilmu Pendidikan di Malang. Kemudian pada tahun 1961, Fakultas Ekonomi (semula bernama Sekolah Tinggi Ekonomi Surabaya) menjadi bagian dari Universitas Airlangga. Sementara itu, dua fakultas lainnya yang berpusat di Malang dan Bali digabung dengan Universitas lain yaitu Fakultas Sastra di Denpasar (1962) dan Fakultas Ilmu Pendidikan di Malang (1963). Sampai dengan tanggal 31 Desember 2007, Universitas Airlangga selanjutnya berkembang menjadi 11 Fakultas, Program Pasca Sarjana dan Magister Manajemen serta beberapa Unit Kerja dan Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) dengan rincian sebagai berikut : 1. Fakultas Kedokteran; 2. Fakultas Kedokteran Gigi; 3. Fakultas Hukum; 4. Fakultas Ekonomi; 5. Fakultas Farmasi; 6. Fakultas Kedokteran Hewan; 7. Fakultas FISIP; 8. Fakultas MIPA; 9. Fakultas Kesehatan Masyarakat; 10. Fakultas Psikologi; 11. Fakultas Sastra; 12. Program Pascasarjana; 13. Program Magister Manajemen. Unit Kerja dan Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) PINLAB, LP3P : 1. Job Placement Center (JPC); 2. Airlangga Health Care Center (AHCC); 3. 4. 5. 6. LPAP dan LPMB; PMDK; UPT Tropical Disease Center; Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 30 Tahun 2006, Universitas Airlangga (yang selanjutnya disebut Universitas) ditetapkan menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang menyelenggarakan pendidikan tinggi, berprisip nirlaba dan dapat mengelola dana secara mandiri dengan tujuan sebagai berikut : 1. Membentuk manusia yang cakap, beriman, dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maka Esa, yang mempunyai keinsafan yang bertanggung jawab tentang kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya, serta memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. Mendukung pembangunan masyarakat dengan berperan sebagai kekuatan moral yang mandiri. Mencapai keunggulan kompetitif melalui penerapan prinsip pengelolaan sumberdaya sesuai dengan asas profesionalisme. Berperan besar dalam pembangunan masyarakat yang demokratis, adil, dan makmur.

2.

3. 4.

5.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

1

Badan Hukum Milik Negara

6.

Meningkatkan kualitas berlanjut untuk menepati posisi yang baik dalam persaingan dan kerjasama global.

Universitas Airlangga berkedudukan di 3 tempat, yaitu : 1. Kampus A terletak di Jl. Mayjen Prof Dr Moestopo 47 Surabaya; 2. Kampus B terletak di Jl. Airlangga No. 4-6 Surabaya; 3. Kampus C terletak di Jl. Mulyorejo Surabaya. Berdasarkan Peraturan Rektor Universitas Airlangga tanggal 20 Desember 2006, No. 9057/JO3/HK/2006 tentang “Struktur Organisasi Universitas Airlangga – Badan Hukum Milik Negara”, maka susunan Organisasi Universitas terdiri dari : Majelis Wali Amanat Ketua Majelis Wali Amanat : Sudi Silalahi Sekretaris Majelis Wali Amanat : Mohammad Sumedi Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, nomor 66/MPN.A4/KP/2008, tentang pengangkatan Ketua dan Sekretaris Wali Amanat Universitas Airlangga. Dewan Audit Sampai dengan tanggal 31 Desember 2007, fungsi tersebut belum terbentuk. Senat Akademik Ketua Senat : Prof. Sam Soeharto, dr., Sp.MK Sekertaris Senat Akademik : Prof. Dr. Frans Limahelu, SH., LLM Pimpinan Universitas Rektor : Prof. Dr. H. fasich, Apt Wakil Rektor 1 : Prof. Dr. H. Muhammad Zainudin Wakil Rektor 2 : Dr. H. Muslich Anshori, SE., M. Sc., Ak Wakil Rektor 3 : Dr. Sunarko Setyawan, dr., MS (catatan 16)

Jumlah kekayaan bersih awal Universitas Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia No. 30 tanggal 14 September 2006 adalah sebesar Rp318.699.008.702, yang terdiri atas : 1. Bangunan sejumlah 43 unit (empat puluh tiga) unit, seluas 151.865,58 m2 senilai Rp 252.964.541.410. 2. Alat angkutan dan kendaraan bermotor sejumlah 134 unit, senilai Rp7.073.466.500. 3. Peralatan Kantor, mesin, peralatan laboratorium, dan aset lainnya sejumlah 482.465 unit senilai Rp58.661.000.792. Kekayaan negara berupa tanah yang tidak termasuk dalam kekayaan awal Universitas dapat dimanfaatkan untuk sebesarbesarnya kepentingan Universitas dengan ketentuan tidak dapat dipindahtangankan. Hasil dari pemanfaatan tanah tersebut menjadi pendapatan Universitas dan dipergunakan untuk penyelenggaraan tugas dan fungsi Universitas. Universitas menjalankan usaha antara lain dalam bidang pendidikan dan pelatihan termasuk penyediaan sarana dan prasarana penunjangnya yang meliputi pendidikan untuk program strata 1, 2, dan 3 (doktor) penyediaan beasiswa dan mendukung kegiatan-kegiatan sosial, memelihara hubungan dengan lembaga-lembaga yang bergerak dibidang pendidikan (Dinas-Dikti) dan penelitian dan meningkatkan kemampuan internal dibidang administrasi dan pertanggungjawaban keuangan dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan pendidikan dan penelitian dengan lembaga pemerintah dan lembaga lainnya baik dalam negeri maupun luar negeri (Pemkot, Pemprov, dan Menristek). Universitas memberikan Program Beasiswa bagi para mahasiswa baik untuk program strata 1, 2, dan 3 (doktor) yang memenuhi persyaratan yang telah ditetapkan.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

2

Badan Hukum Milik Negara

Ihtisar Kebijakan Akuntansi Penting
Laporan keuangan Universitas disusun dengan prinsip serta praktek akuntansi yang berlaku umum di Indonesia terutama yang terutang dalam PSAK 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba, Standar Akuntansi Instansi (SAI) dan peraturan lainnya yang diterbitkan oleh Departemen Keuangan dan Departemen Pendidikan. Karakteristik Akuntansi Keuangan Universitas Universitas sebagai organisasi nirlaba menggunakan sistem akuntansi dana yang mencakup akuntansi yang memisahkan dana menjadi dana lancar dan tidak lancar sesuai dengan masing-masing sumber dana yang dipercayakan. Dana diidentifikasikan sebagai suatu entitas akuntansi dan pelaporannya disajikan terpisah untuk masing-masing dana. Sumber dana keuangan untuk penyelenggaraan, pengelolaan, dan pengembangan Universitas sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Republik Indonesia No. 30 tanggal 14 September 2006 pasal 13 berasal dari : a. Pemerintah yaitu dana yang berasal dari penerimaan melalui anggaran pemerintah yang tertuang dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), penerimaan hibah/subsidi serta hasil kontrak/kerjasama dibidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dengan lembaga/instansi pemerintah. b. Masyarakat yaitu dana yang berasal dari masyarakat Indonesia antara lain untuk pendidikan, seleksi masuk, kerja sama sesuai peran dan fungsi perguruan tinggi, sumbangan/hibah dan penerimaan lain dari masyarakat. c. Usaha dan Tabungan terdiri atas penerimaan penjualan dan pemanfaatan sumberdaya universitas, penerimaan hasil usaha tambahan (auxiliary enterprises), penerimaan bunga dan penerimaan hasil investasi. d. Luar negeri yaitu dana yang merupakan perolehan dari luar negeri dalam bentuk hibah, hadiah, donasi maupun hasil

kerjasama dan kontrak internasional dan penerimaan dari pembayaran institution dan admission fee oleh mahasiswa asing yang disalurkan melalui dana pemerintah (APBN/APBD). Seluruh dana Universitas diklasifikasikan menjadi : tersebut

1. Dana Lancar (Current Fund) Merupakan dana tersedia untuk operasi Universitas yang sepenuhnya berada dalam kendali Universitas. Berdasarkan pembatasannya dana tersebut diklasifikasikan menjadi : a. Dana Lancar Terbatas/Terikat. b. Dana Lancar Bebas/Tidak Terikat. 2. Dana Tidak Lancar (Noncurrent Fund) Dana Tidak Lancar merupakan dana yang tidak digunakan untuk operasional kegiatan sehari-hari dan telah dirancang untuk suatu penggunaan tertentu. Dana Tidak Lancar terdiri atas : a. Dana Bantuan (Loan Fund). b. Dana Sumbangan (Endowment Fund). c. Dana Tahunan (Annuity Fund). d. Dana Pendapatan Jangka Panjang (Life Income Fund). e. Dana Untuk Bangunan (Plant Fund). f. Dana Untuk Lembaga (Agency Fund). Satuan Akuntansi AKuntansi) (Sub Direktorat

Satuan Akuntansi merupakan unit/entitas. Ditetapkan berdasarkan unit yang ada dalam struktur organisasi Universitas Airlangga, yang bertanggungjawab terhadap proses akuntansi keuangan Universitas sejak proses penyusunan jurnal sampai dengan menghasilkan laporan keuangan yang terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan aktivitas dan perubahan aset bersih. Selama tahun 2007, standar atau pedoman penyusunan Laporan Keuangan dan kebijaksanaan akuntansi Universitas adalah Sistem Akuntansi Pemerintah berdasarkan Standar Akuntansi Instansi (SAI) yang kemudian digabungkan secara manual dengan pencatatan transaksi-transaksi diluar mekanisme SAI dari rekapitulasi kas masuk dan keluar pada bagian perbendaharaan.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

3

Badan Hukum Milik Negara

Berikut ini adalah ikhtisar kebijakan akuntansi penting yang diterapkan Universitas secara konsisten dalam penyusunan laporan keuangan untuk tahun yang berakhir tanggal 31 Desember 2007 : a. Penyajian Laporan Keuangan Dasar penyusunan laporan keuangan arus kas adalah dasar akrual. Mata uang pelaporan yang digunakan untuk penyusunan laporan keuangan adalah mata uang rupiah (Rp), dan laporan keuangan tersebut disusun berdasarkan nilai historis, kecuali beberapa akun tertentu disusun berdasarkan pengukuran lain sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masingmasing akun tersebut. Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung dengan pengelompokan arus kas dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan. b. Periode Akuntansi Periode akuntansi adalah satu tahun dimulai pada tanggal 1 Januari dan berakhir pada tanggal 31 Desember. Untuk menetapan pisah batas pelaporan keuangan sebelum dan setelah beralih status menjadi Badan Hukum Milik Negara maka ditetapkan tanggal 31 Desember 2006 sebagai tanggal laporan keuangan awal Universitas. c. Penggunaan Estimasi Penyusunan laporan keuangan dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia mengharuskan manajemen membuat estimasi dan asumsi yang mempengaruhi jumlah aset dan kewajiban yang dilaporkan dan pengungkapan aset dan kewajiban kontinjensi pada tanggal laporan keuangan serta jumlah pendapatan dan beban selama periode pelaporan. Realisasi dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi. d. Pengakuan Sumbangan dan Beban Sumbangan Penerimaan sumbangan dan beban sumbangan dari donator diakui pada saat penerimaan sumbangan dan dipertimbangkan sebagai sumbangan yang tidak terikat kecuali dipergunakan untuk sementara atau terikat secara permanen berdasarkan ketentuan dari

donator atau hukum yang berlaku. Beban diakui pada saat terjadinya. e. Klasifikasi Aset Bersih Laporan aset bersih Universitas dan perubahannya diklasifikasikan kedalam 3 (tiga) jenis, antara lain tidak terikat, tidak temporer dan terikat permanen berdasarkan ada atau tidak adanya pembatasan dari pihah penyumbang. Aset bersih merupakan selisih antara aset dengan kewajiban yang tercantum dalam laporan aktivitas. Terikat permanen Pembatasan terikat permanen adalah pembatasan penggunaan sumberdaya yang ditetapkan oleh penyumbang agar sumberdaya tersebut dipertahankan secara permanen, tetapi Universitas diizinkan untuk menggunakan sebagian atau semua penghasilan atau manfaat ekonomi lainnya yang berasal dari sumberdaya tersebut. Terikat Temporer Pembatasan terikat temporer/sementara adalah pembatasan penggunaan sumberdaya oleh penyumbang yang menetapkan agar sumberdaya tersebut dipertahankan sampai dengan terpenuhinya keadaan tertentu. Pada saat jangka waktu pembatasan yang ditentukan berakhir atau telah tercapainya tujuan pembatasan, aset terikat sementara direklasifikasi menjadi aset bersih tidak terikat dan dilaporkan pada laporan aktivitas sebagai aset bersih dari pembatasan. Tidak Terikat Pembatasan tidak terikat adalah sumberdaya yang penggunaannya tidak dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyumbang dan tersedia untuk mendukung aktivitas tertentu dengan pembatasan tertentu, sebagai berikut :  Penggunaan aset bersih tidak terikat tertentu dilakukan melalui perjanjian kontrak. Jumlah yang utama terdiri dari jumlah yang disepakati dalam perjanjian hutang jangka panjang dan sesuai dengan pendanaan dari Pemerintah untuk program studi.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

4

Badan Hukum Milik Negara

 Banyak dari pendanaan yang tidak terikat didasarkan dari tujuan akuntansi, ditunjukan untuk kepentingan internal dari fakultas maupun unit kerja tertentu dan tidak bersifat rutinitas diklasifikasikan sebagai dana tidak terikat. Pendapatan yang berasal dari sumber lain sumbangan dilaporkan sebagai kenaikan aset bersih tidak terikat. Sumbangan dilaporkan sebagai aset bersih kategori tertentu, kecuali atas sumbangan dimana terdapat pembatasan pada tahun yang sama saat diterimanya, termasuk dalam pendapatan tidak terikat. Pendapatan investasi dan keuntungan serta kerugian investasi dilaporkan sebagai kenaikan atau penurunan pada aset bersih tidak terikat kecuali penggunaannya dibatasi oleh ketetapan penyumbang atau oleh Undang-undang. Pada saat pembatasan tersebut ada, pendapatan investasi, keutungan dan kerugian dilaporkan sebagai terikat sementara atau parmanen, kecuali ketika pembatasan ditemui pada tahun yang sama dimana pendapatan atau laba diperoleh, dalam hal pendapatan dan laba dilaporkan dalam kategori tidak terikat. Biaya dilaporkan sebagai penurunan aset bersih tidak terikat. Berakhirnya pembatasan sementara pada aset bersih (seperti tujuan tertentu penyumbang telah dipenuhi atau jangka waktu tertentu telah habis) yang tidak terjadi pada periode yang sama ketika pengakuan pendapatan dilaporkan sebagai reklasifikasi dari aset bersih terikat. Pembatasan sementara atas hibah untuk memperoleh aset jangka panjang akan ditemui pada periode dimana aset diakui sebagai jasa. f. Pajak Penghasilan Universitas sebagai BHMN merupakan organisasi yang tidak bertujuan untuk memupuk laba, dan semua penerimaan Universitas harus melalui kas Universitas untuk selanjutnya disetor ke Kas Negara yang penggunaannya mengikuti mekanisme pengelolaan keuangan negara (APBN), atas hal

tersebut maka selama tahun 2007, tidak dilakukan perhitungan pajak penghasilan badan oleh pihak Universitas. Sampai dengan tanggal pelaporan Universitas tengah melakukan berbagai upaya penertiban administrasi pencatatan dan penyusunan mekanisme penghitungan pajak atas penerimaan dan penggunaan dana yang dilakukan di luar sistem dan mekanisme pengelolaan keuangan Universitas. g. Operasional Laporan aktivitas dan perubahan aset bersih disajikan dalam aktivitas bukan operasi. Pendapatan dan biaya operasi terutama berasal dari kegiatan pendidikan, program pelatihan, aktivitas penelitian. h. Kas dan Setara Kas Kas atau setara kas terdiri dari kas, bank dan semua investasi yang jatuh tempo dalam waktu tiga bulan atau kurang dari tanggal perolehannya dan yang tidak digunakan sebagai jaminan pinjaman. i. Piutang Piutang diakui sebesar nilai yang mungkin direalisasikan yakni sebesar bukti atau faktur dikurangi penyisihan piutang yang tidak tertagih. j. Transaksi dengan pihak yang terkait (Hubungan istimewa) Universitas melakukan transaksi dengan pihak tertentu yang diklasifikasikan sebagai pihak yang mempunyai hubungan istimewa seperti yang dijelaskan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 7,” Pengungkapan Pihah-pihak yang Mempunyai Hubungan Istimewa”. k. Persediaan Pada tahun 2007 pencatatan persediaan menggunakan metode periodical atau physical. Pencatatan dan pengelolaan persediaan sepenuhnya dilakukan oleh masingmasing fakultas dan unit kerja sehingga catatan atas persediaan tersebut tidak tersedia dalam catatan dan arsip Universitas. Persediaan terutama berupa alat tulis kantor (barang habis pakai) dan lainnya

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

5

Badan Hukum Milik Negara

dinyatakan berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi bersih, mana yang lebih rendah. Biaya perolehan ditentukan dengan metode rata-rata. l. Biaya dibayar dimuka Biaya dibayar dimuka diamortisasi sesuai manfaat masing-masing dengan menggunakan metode garis lurus. m. Aset tetap Selama tahun 2007 pihak Universitas, tidak melakukan penyusutan karena seluruh aset tetap tersebut masih sebagai aset milik negara yang pengadaannya bersumber atau dibiayai oleh APBN maupun APBD, sedangkan atas aset tetap yang pengadaannya bersumber diluar APBN masih dalam proses penertiban administrasi maupun pencatatannya serta penentuan taraf penyusutannya. Tanah Lahan atau tanah yang diatasnya berdiri aset tetap milik Universitas diakui sebagai aset tetap dikarenakan besar kemungkinan manfaat ekonomis dimasa yang akan datang berkenaan dengan aset tersebut akan mengalir ke entitas serta biaya perolehan aset tersebut dapat diukur secara andal. Dan pengakuan atas lahan atau tanah tersebut telah disesuaikan dalam laporan keuangan Universitas tahun 2006, serta dinilai sesuai dengan Sistem Akuntansi Barang Milik Negara (SABMN). Gedung dan Bangunan Terhadap gedung dan bangunan dalam pelaporan keuangan ini telah dilakukan penilaian dengan pendekatan biaya (cost approach), yaitu dengan cara menghitung keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bangunan pada kondisi baru sesuai dengan penilaian, dikurangi dengan penyusutan yang terjadi pada bangunan sesuai hasil pengamatan langsung dan aspek penyusutan fisik fungsional dan ekonomis.

pendekatan nilai pasar (market data approach) dengan melakukan perbandingan harga penjualan inventaris yang sejenis dan tahun yang sama. Kendaraan dan Alat Angkutan Terhadap kendaraan dan alat angkutan dalam pelaporan keuangan ini telah dilakukan penilaian dengan menggunakan pendekatan nilai sisa manfaat dari kendaraan dan alat angkutan serta melakukan perbandingan harga penjualan kendaraan bermotor yang sejenis dan tahun yang sama. Aset Tetap Lainnya Terhadap aset tetap lainnya dalam pelaporan keuangan ini telah dilakukan penilaian dengan menggunakan pendekatan nilai pengganti berdasarkan nilai pasar yang wajar serta memperhatikan nilai sisa manfaat aset tetap lain. Aset Tetap Dalam Penyelesain Aset tetap dalam penyelesaian disajikan sebesar harga perolehan dan nilai berdasarkan tingkat penyelesaian atas pengerjaan berdasarkan dokumen yang mendukung tingkat penyelesaian atas pekerjaan dimaksud. Akumulasi biaya perolehan akan dipindahkan ke masingmasing aset tetap yang bersangkutan pada saat selesai dan siap digunakan. Beban perbaikan dan pemeliharaan dibebankan pada laporan aktivitas pada saat terjadinya pengeluaran yang memperpanjang masa manfaat atau memberi manfaat ekonomik dimasa yang akan datang dikapitalisasikan. Aset tetap yang sudah tidak dipergunakan lagi atau yang dijual dikeluarkan dari kelompok aset tetap berikut akumulasi penyusutannya. Keuntungan atau kerugian dari penjualan aset tetap tersebut dibukukan dalam laporan laba pada tahun yang berjalan.

Inventaris Terhadap inventaris dalam pelaporan keuangan telah dilakukan penilaian dengan menggunakan metode

Aset Lainnya Aset lainnya adalah aset yang tidak dapat dikelompokan ke dalam aset

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

6

Badan Hukum Milik Negara

lancar, aset permanen.

tetap

dan

investasi

n. Hutang Hutang diakui berdasarkan barang atau pada saat telah dilaksanakan dan dinilai berdasarkan harga kontrak pembelian yang telah disepakati, dikurangi potongan pembelian dan diskon lainnya. o. Saldo dan Transaksi dalam mata uang asing Pembukuan Universitas diselenggarakan dalam mata uang rupiah. Transaksitransaksi selama tahun berjalan dalam mata uang asing dicatat dengan kurs yang berlaku pada saat terjadinya transaksi. Pada tanggal neraca, aset dan kewajiban moneter dalam mata uang asing disesuaikan untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut. Keuntungan atau kerugian kurs yang timbul dikreditkan atau dibebankan dalam laporan aktivitas tahun yang bersangkutan. p. Penerimaan Penerimaan diakui pada saat manfaat ekonomi Universitas dan dapat diukur secara wajar. Berikut ini adalah beberapa kriteria untuk pengakuan penerimaan. Penerimaan terdiri dari : Hibah dan Kontrak Penerimaan dari hibah dan kontrak, terutama untuk penelitian dan program pelatihan, diakui secara umum sebagai penerimaan, pada saat terjadinya biaya yang berkaitan dengan hibah atau kontrak perjanjian. Biaya tidak langsung yang terjadi dicatat pada tingkat yang ditentukan oleh Universitas bersama dengan Pemerintah, atau yang telah ditetapkan oleh pihak ketiga yang memberikan hibah selain Pemerintah. Biaya tidak langsung berkaitan dengan hibah Pemerintah dan kontrak harus diaudit, pembayaran akhir pada periode setelah tanggal neraca dicatat sebagai penyesuaian pada periode terjadi.

Penerimaan dari pelayanan jasa oleh Universitas Penerimaan yang berasal dari kontrak penyediaan jasa diakui pada saat ditandatanganinya persetujuan kontrak dengan pihak ketiga pada tanggal neraca. Dana Penelitian Pihah Ketiga Penerimaan dana penelitian pihak ketiga disajikan pada laporan keuangan “Penerimaan Dana Bantuan Penelitian Terikat” dimana pemenuhan kewajiban kontrak belum terjadi. Pada saat kewajiban kontrak telah terpenuhi, penerimaan dana penelitian pihak ketiga direklesifikasikan sebagai “Bantuan Penelitian“ dalam laporan keuangan. Sumbangan Penyelenggaraan Pendidikan Penerimaan jasa diakui pada periode pelaksanaan jasa tersebut, dan nilai sesuai dengan penyelesaian dari jasa yang diberikan. Sumbangan Pemerintah Dana mahasiswa lokal diakui sebagai “Penerimaan Dimuka” pada laporan keuangan. Penerimaan jasa diakui hanya pada saat Universitas berhak untuk memperoleh kompensasi, dan jumlah penerimaan dan tahap penyelesaian dari transaksi dapat diukur dengan tepat. Kontribusi modal dari Pemerintah yang tidak memiliki sifat hubungan timbal balik diakui sebagai “Penerimaan lainlain” pada penyajian laporan keuangan pada tahun dimana pemerintah dapat mengendalikan dana tersebut. Penelitian dari sumbangan pemerintah dinilai berdasarkan basis yang sama seperti “Dana penelitian pihak ketiga” seperti dicatat diatas. Universitas memperlakukan sumbangan operasional yang berasal dari pemerintah penerimaan pada tahun diterimanya sumbangan tersebut.

Alamat : Universitas Airlangga Kampus A: Jl. Mayjen Prof. Dr. Moestopo No. 47 Surabaya Kampus B: Jl. Airlangga No. 4-6 Surabaya Kampus C: Jl. Mulyorejo Surabaya (031) 5342557) (031) 5030076

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

7

Badan Hukum Milik Negara

UNIVERSITAS GAJAH MADA (UGM)

UMUM Penetapan Badan Hukum Milik Negara dan Informasi Umum
Sesuai Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 153 Tahun 2000 (PP No.153/2000, Universitas Gajah Mada (selanjutnya disebut Universitas) ditetapkan menjadi Badan Hukum Milik Negara yang bersifat nirlaba dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi. Tujuan Universitas sesuai dengan PP No.153/2000 adalah : 1. Membentuk manusia yang cakap, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang mempunyai keinsafan yang bertanggungjawab tentang kesejahteraan masyarakat Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya, serta memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. 2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional. 3. Mendukung pembangunan masyarakat dengan berperan sebagai kekuatan moral yang mandiri. 4. Mencapai keunggulan kompetitif melalui penerapan prinsip pengelolaan sumberdaya sesuai dengan asas profesionalisme. 5. Berperan besar dalam pembangunan masyarakat yang demokratis, adil, dan makmur.

6. Meningkatkan kualitas berlanjut menempati posisi yang baik persaingan dan kerjasama global.

untuk dalam

Entitas Universitas mencakup seluruh pos/objek yang dimiliki dan atau dikuasai oleh Universitas termasuk : 1. Pos/objek yang dimiliki dan atau dikuasai Negara di UGM. 2. Pos/objek yang dimiliki dan atau dikuasai Yayasan Pembina UGM. 3. Pos/objek yang dimiliki dan atau dikuasai Yayasan UGM. Sesuai dengan PP No.153/2000, telah ditetapkan dengan Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor 205/P/SK/HT/2007 tanggal 19 September 2007 tentang perubahan SK Nomor 259/P/SK/HT/2004 organisasi Universitas terdiri atas unsur-unsur Majelis Wali Amanat, Dewan Audit, Senat Akademik, Majelis Guru Besar, Pimpinan Universitas, Unsur Pelaksana Akademik, Unsur Pelaksana Administrasi, Unsur Penunjang Universitas, Unsur Kegiatan Usaha, Satuan Audit Internal dan unsur-unsur lain yang diperlukan. Susunan pejabat dan pimpinan Universitas pada tanggal 31 Desember 2008 adalah sebagai berikut : Majelis Wali Amanat - Ketua Prof. Dr. H. Amien Rais - Sekretaris Dr. Ir. Ali Wibowo, M.Sc. Senat Akademik - Ketua Prof. Dr. dr. Sutaryo, SpAk. - Sekretaris Prof. Dr. Ir. Bambang Hadisutrisno

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

8

Badan Hukum Milik Negara

Dewan Audit - Ketua Drs. Agus Muhammad, M.Acc. - Sekretaris Prof. Dr. Mardiasmo, MBA., Akt. Majelis Guru - Ketua Prof. Drs. Suryo Guritno, M.Stats., Ph.D - Sekretaris Prof. Dr. Siti Muslimah Wiyastuti, M.Sc. Pimpinan Universitas - Rektor Prof. Ir. Sudjarwadi, M.Eng., Ph.D. - Wakil Rektor  Wakil Rektor Senior Bidang Akademik Prof. Dr. Retno Sunarminingsih, M.Sc., Apt.  Wakil Rektor Senior Bidang Administrasi Prof. Ainun Na’im, MBA., Ph.D.  Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Prof. Ir. Atyanto Dharoko, M.Phil., Ph.D.  Sekretaris Eksekutif  Drs. Djoko Moerdiyanto, MA Unsur Pelaksana Akademik adalah : 1. Fakultas (18 fakultas). 2. Sekolah Pascasarjana. 3. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM). 4. Pusat-pusat Studi dan/ atau Penelitian. 5. Pusat-pusat Antar Universitas. Unsur Penunjang Universitas adalah : 1. Perpustakaan Universitas. 2. Pusat Pelayanan Teknologi Informasi dan Komunikasi (PPTIK). 3. Rumah Sakit Pendidikan. 4. Kebun Pendidikan, Penelitian, dan Pengembangan Pertanian (KP4). 5. Laboratorium Pengujian dan Penelitian Terpadu (LPPT). 6. Arsip Universitas Gadjah Mada. 7. Pusat Pengembangan Pendidikan (PPP). Unsur Pelaksana Administrasi adalah Kantor Pimpinan Universitas, Direktorat dan Biro.

tahunan yang disampaikan kepada Menteri Pendidikan nasional. Pelaporan keuangan Universitas dimaksudkan untuk menyajikan dan mengungkapkan secara penuh aktivitas Universitas termasuk unitunit di dalamnya dan sumberdaya ekonomik yang dipercayakan oleh para penyumbang, anggota organisasi Universitas, Kreditur, dan pihak lain, serta untuk mempertanggungjawabkannya sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku dengan memperhatikan prinsip-prinsip akuntabilitas dan transparansi. Dengan demikian, penyusunan pelaporan keuangan Universitas ini ditujukan untuk : 1. Memberikan informasi mengenai : a) Jumlah dan sifat asset, kewajiban, dan ekuitas Universitas. b) Pengaruh transaksi, peristiwa, dan situasi lainnya yang mengubah nilai dan sifat ekuitas. c) Jenis dan jumlah arus masuk dan arus keluar sumberdaya dalam suatu periode dan hubungan antara. d) Cara Universitas mendapatkan dan membelanjakan kas, memperoleh pinjaman dan melunasi suatu pinjaman, dan faktor lainnya yang berpengaruh pada likuiditas. e) Usaha jasa Universitas. 2. Menunjukkan akuntabilitas kegiatan Universitas dengan cara mempertanggungjawabkan melalui laporan keuangan pengelolaan sumberdaya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. a) Mewujudkan transparansi dalam pelaporan keuangan Universitas dengan menyediakan informasi keuangan yang terbuka bagi masyarakat. b) Menyediakan informasi keuangan yang berguna untuk perencanaan dan pengelolaan keuangan serta memudahkan pengendalian yang efektif atas seluruh kekayaan, kewajiban, dan ekuitas. Sebagai universitas yang bersifat nirlaba pelaporan keuangan disusun

A. Pelaporan Keuangan
Dengan Penetapan UGM sebagai Badan Hukum Milik Negara dan untuk kepentingan akuntabilitas, Universitas diwajibkan menyusun laporan keuangan

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

10

Badan Hukum Milik Negara

berdasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Nomor 45 yang meliputi Laporan Posisi Keuangan, Laporan Aktivitas, Laporan Arus Kas dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Tujuan masing-masing laporan tersebut adalah : 1. Laporan Posisi Keuangan Menyediakan informasi mengenai aset, kewajiban, dan ekuitas serta informasi mengenai hubungan di antara elemen-elemen tersebut pada waktu tertentu. Laporan ini digunakan untuk menilai : a) Kemampuan Universitas untuk memberikan jasa secara berlanjut. b) Likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi kewajibannya, dan kebutuhan pendanaan eksternal. 2. Laporan Aktivitas Menyediakan informasi mengenai pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat ekuitas dan bagaimana penggunaan sumberdaya dalam pelaksanaan berbagai program dan kegiatan. Laporan ini digunakan untuk : a) Mengevaluasi kinerja dalam suatu periode. b) Menilai upaya, kemampuan, dan kesinambungan organisasi dalam memberikan jasa. c) Menilai pelaksanaan tanggungjawab dan kinerja pengelola Universitas. 3. Laporan perubahan Ekuitas Menyajikan informasi mengenai kenaikan dan penurunan ekuitas dalam suatu periode untuk setiap kelompok dana. 4. Laporan Arus Kas Menyajikan informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas dalam suatu periode, serta peningkatan kas dan setara kas yang dihasilkan dalam satu periode.

B. Karakteristik Akuntansi Keuangan Universitas
Universitas Gadjah Mada sebagai Badan Hukum Milik Negara adalah bersifat nirlaba sehingga memiliki karakteristik yang berbeda dengan karakteristik akuntansi bisnis. Oleh Karena itu, laporan keuangan yang disusun memperhatikan karakteristik yang spesifik pada akuntansi untuk organisasi nirlaba, khususnya yang berlaku bagi organisasi pemerintah sehingga penyusunan laporan keuangan ini mengacu kepada sistem akuntansi kepemerintahan serta sistem akuntansi yang diterapkan pada universitas dan memperhatikan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku umum. Dengan demikian, ciri dasar/karakteristik akuntansi universitas adalah : 1. Tidak bertujuan untuk mengukur laba. Tujuan Universitas tidak untuk memperoleh laba tetapi memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bidang pendidikan dan pengajaran, penelitian, serta pengabdian pada masyarakat sehingga harus memberikan informasi keuangan mengenai sumberdaya ekonomik/Keuangan yang digunakan untuk pelayanan dan asal sumber-sumber tersebut. Sesuai dengan PSAK Nomor 45, sumberdaya tersebut diklasifikasi dalam : a) Terikat yaitu sumberdaya yang penggunaannya dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyedia dana. Pembatasan tersebut dapat bersifat temporer/sementara atau permanen. 1) Pembatasan temporer/sementara adalah pembatasan penggunaan sumberdaya oleh penyumbang yang menetapkan agar sumberdaya tersebut dipertahankan sampai

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

11

Badan Hukum Milik Negara

2)

dengan terpenuhinya keadaan tertentu. Pembatasan permanen adalah pembatasan penggunaan sumberdaya yang ditetapkan oleh penyumbang agar sumberdaya tersebut dipertahankan secara permanen, tetapi organisasi diizinkan untuk menggunakan sebagian atau semua penghasilan atau manfaat ekonomi lainnya yang berasal dari sumberdaya tersebut.

b) Tidak terikat adalah sumberdaya yang penggunaannya tidak dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyedia dana. 2. Akuntansi dana. Universitas sebagai organisasi nirlaba menggunakan sistem akuntansi dana yang mencakup akuntansi yang memisahkan dana menjadi dana lancar dan dana tidak lancar sesuai dengan masingmasing sumber dana yang dipercayakan. Dana diidentifikasi sebagai suatu entitas akuntansi dan pelaporannya disajikan terpisah untuk masing-masing dana. Sumber dana keuangan untuk penyelenggaraan, pengelolaan, dan pengembangan Universitas sesuai PP 153/2000 pasal 42 berasal dari : a) Pemerintah yaitu dana yang berasal dari penerimaan melalui anggaran pemerintah yang tertuang dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), penerimaan hibah/subsidi serta hasil kontrak/kerjasama di bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat dengan lembaga/instansi pemerintah. b) Masyarakat yaitu dana yang berasal dari masyarakat Indonesia antara lain untuk pendidikan, seleksi masuk, kerja sama sesuai peran dan fungsi perguruan tinggi, sumbangan/hibah dan

penerimaan lain dari masyarakat. c) Usaha dan tabungan terdiri atas penerimaan penjualan dan pemanfaatan sumberdaya universitas, penerimaan hasil usaha tambahan (auxiliary enterprises), penerimaan bunga dan penerimaan hasil investasi. d) Luar negeri yaitu dana yang merupakan perolehan dari luar negeri dalam bentuk hibah, hadiah, donasi maupun hasil kerjasama dan kontrak internasional dan penerimaan dari pembayaran tution & admission fee oleh mahasiswa asing yang tidak disalurkan melalui dana pemerintah (APBN? APBD). Seluruh dana Universitas tersebut diklasifikasi menjadi : a) Dana Lancar (Current Fund) Merupakan dana tersedia untuk operasi Universitas yang sepenuhnya berada dalam kendali universitas. Berdasarkan pembatasannya dana ini diklasifikasi menjadi : 1. Dana Lancar Terbatas/Terikat. 2. Dana Lancar Bebas/Tidak Terikat. b) Dana Tidak Lancar (Noncurrent Fund) Dana Tidak Lancar merupakan dana yang tidak digunakan untuk operasional kegiatan sehari-hari dan telah dirancang untuk suatu penggunaan tertentu. Dana tidak lancar terdiri atas : (1) Dana Bantuan (Loan Fund) Dana bantuan merupakan dana yang menampung sumber dana pinjaman bagi mahasiswa, Dosen ,dan karyawan. Pemberi pinjaman dapat menentukan dana bantuan yang dioprasikan dengan perputaran (revolving basis). Termasuk dalam

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

12

Badan Hukum Milik Negara

dana ini adalah pemberian dari badan, pemerintah, Hadiah, bantuan, warisan yang ditentukan oleh pemberi dana untuk diberikan kepada mahasiswa, dosen, dan karyawan sebagai pinjaman. Dan dana lain yang sifatnya bebas tetapi ditentukan untuk digunakan sebagai dana pinjaman oleh pihak yang berwenang diuniversitas. Dana bantuan dapat ditetapkan secara temporer yaitu pokok dan bunga, pinjaman dikembalikan kepada pemberi dana setelah periode waktu tertentu. (2) Dana Sumbangan (Endowment Fund) Dana sumbangan merupakan dana yang tidak dapat digunakan sampai tanggal pelaporan dan diinvestasikan atau tersedia untuk diinvestasikan dengan tujuan untuk menghasilkan pendapatan. Dana sumbangan diklasifikasi dalam : (a)Dana Sumbangan/Endowme nt Fund pemberi dananya menentukan bahwa pokok dana tidak dapat diganggugugat dan bersifat abadi, hanya pendapatan yang diperoleh dari investasi tersebut yang tersedia untuk digunakan. (b) Term Endowment Fund yaitu dana yang akan dihentikan dari status Dana abadi sampai dengan waktu atau kondisi yang ditetapkan oleh pembeli dana untuk selanjutnya dapat
Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

digunakan sesuai kesepakatan. (c) Quasi Endowment Fund yaitu dana yang berfungsi sebagai dana abadi, Karena ditentukan oleh universitas (bukan oleh pemberi dana) untuk jangka waktu tertentu. Selanjutnya pokok pinjaman dapat digunakan untuk tujuan lainnya. (3) Dana Tahunan (Annuity Fund) Dana tahunan yaitu dana dari pihak penyumbang dimana dengan kontrak tahunan universitas mempunyai kewajiban untuk membayar sejumlah tertentu kepada pihak donor. Apabila perjanjian berakhir, sisa dananya menjadi milik universitas. (4) Dana Pendapatan Jangka Panjang (Life Income Fund) Dana pendapatan jangkapanjang yaitu dana yang diberikan oleh penyumbang melalui dokumen kepercayaan (trust document) yang menentukan bahwa penghasilan dikurangi dengan biaya-biaya, dibayarkan kepada pihak yang ditentukan. Dana pokok menjadi Universitas kalau pihak yang ditentukan tersebut meninggal dunia. (5) Dana Untuk Bangunan (Plant Fund) Dana ini menyerupai dana proyek dalam dana pemerintah yang menunjukan dana yang ditetapkan untuk konstruksi baru dan perbaikan.

13

Badan Hukum Milik Negara

atau renovasi yang material. Dana ini dapat bersumber dari lembaga eksternal, bantuan mahasiswa, transfer dari dana tidak terbatas dan pendapatan dari sumbangan atau bantuan. Dana untuk bangunan meliputi : (a) Rekening dana untuk bangunan (unexpended plant fund) merupakan dana untuk menampung sumbersumber dana yang dipakai untuk membiayai akuisisi atau konstruksi aset jangka panjang. Apabila pengeluaran dari dana ini atau fasilitas terkait sudah dibangun, asetnya dibukukan dalam jenis dana yang lain. (b) Dana pembaharuan dan pergantian (renewal and replacement funds) untuk menampung sember-sumber yang digunakan untuk mendanai pembaharuan atau pergantian, biasanya tidak dikapitalisasi. (c) Dana penghentian hutang (retirement of indebtedness funds). Dana ini digunakan untuk pembayaran bunga dan pokok yang berhubungan dengan utang untuk pembangunan aset tetap. (d) Investasi bersih dalam dana untuk bangunan (net investment in plant funds). Dana ini digunakan guna mempersiapkan dana untuk konstruksi modal atau aset yang akan diperoleh, terdiri dari semua aset jangka panjang dan utang yang terkait. Uang untuk pembayaran pokok dan bunga pinjaman ditransfer dari kelompok

dana lancar terbatas. (6)

yang

tidak

Dana untuk lembaga (Agency Fund) Merupakan dana lembaga/ badan yang dikelola universitas namun kepemilikannya tidak pada Universitas. Universitas berfungsi sebagai penglola catatan akuntansi, pemegang dana dan melakukan pengeluaran atas nama mereka. Sesuai dengan misi dan program universitas dalam Rencana Stratejik (Renstra) Universitas Gadjah Mada penggunaan seluruh sumber dana diatas dalam laporan Aktivitas untuk tahun 2008 dikelompokkan dalam 6 program yaitu : 1. Peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan sarjana dan Pascasarjana. 2. Peningkatan kualitas dan relevansi penelitian dan pelayanan masyarakat. 3. Penumbuhan budaya masyarakat Pancasila. 4.Pengembangan pengelolaan universitas yang efesien dan produktif. 5.Penyediaan sarana prasarana yang mendukung mutu Universitas. 6.Pengembagan kemandirian organisasi dan jaringan kerja sama.

C. Satuan Akuntansi
Satuan akuntansi merupakan unit/entitas pertanggungjawaban akuntansi berdasarkan unit yang ada dalam struktur organisasi Universitas Gadjah Mada, yang mempunyai tanggungjawab dan wewenang untuk mengelola, mengadministrasi/membukukan dan melaporkan aset, kewajiban dan saldo dalam bentuk laporan keuangan.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

14

Badan Hukum Milik Negara

Satuan akuntansi struktural terdiri atas : 1.) Kantor Pusat Universitas (Majelis Wali Amanat, Dewan Audit. Senat Akademik, Majelis Guru Besar, Pimpinan Universitas). 2.) Fakultas-fakultas beserta auxiliary activity. 3.) Pascasarjana. 4.) Lembaga dan pusat studi, Pusat Antar Universitas. 5.) Unit Pelaksana Teknis/Unit Penunjang (Kebun Pendidikan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Laboratorium, Rumah Sakit Pendidikan dan lain-lain). 6.) Unsur Pelaksana Administrasi. 7.) Unit Kegiatan Usaha(auxiliary enterprises). 8.) Satuan Audit Internal. 9.) Satuan Keamanan Kampus. Dalam tahun 2008 Kantor Pusat Administrasi, Unit Pelaksana Administrasi, Unsur Pelaksana Administrasi, Satuan Audit Internal dan Satuan Keamanan Kampus masih tergabung dalam Satuan Akuntansi Utama Kantor Pusat Universitas.

penyetoran/pengambilan tunai dibank oleh unit pengelola dana. 3.) Penyajian sediaan per 31 Desember 2008 dilakukan dengan melakukan penyesuaian hasil opname akhir tahun terhadap biaya terkait yaitu dengan mendebit akun sediaan dan mengurangi biaya satu tahun/periode senilai hasil opname. Hal ini mengakibatkan Laporan Arus Kas masih mencakup arus kas keluar untuk transaksi yang sama.

KEBIJAKAN AKUNTANSI
a. Dasar akuntansi Penyusunan Laporan Keuangan Universitas menggunakan basis akrual yang dimodifikasi sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Indonesia. Semua ketentuan dalam Standar Akuntansi Keuangan berlaku untuk pelaporan keuangan universitas kecuali secara spesifik dinyatakan lain. b. Periode Akuntansi Periode Akuntansi adalah satu tahun dimulai pada tanggal 1 Januari dan berakhir Pada tanggal 31 Desember. Untuk menetapkan pisah batas pelaporan keuangan sebelum dan setelah beralih status menjadi Badan Hukum Milik Negara maka ditetapkan tanggal 31 Desember 2002 sebagai tanggal laporan keuangan awal Universitas. c. Penjabaran Kurs Valuta Asing Elemen laporan keuangan Universitas dalam valuta asing, dilaporkan dalam nilai rupiah. Konversi didasarkan atas Kurs Tengah Bank Indonesia pada tanggal laporan keuangan. Konversi nilai kurs tengah Bank Indonesia per tanggal 31 Desember 2008 dan 31 Desember 2007 masing-masing sebesar Rp10.950,00 dan Rp9.419,00. d. Kebijakan Akuntansi Pos-Pos Laporan Keuangan 1) Investasi Permanen Penyertaan modal dalam unit usaha Universitas dibukukan berdasarkan harga perolehan termasuk pengeluaran tambahan lainnya yang terjadi untuk memperoleh

D. Lingkup Laporan
Laporan keuangan belum mencakup seluruh transaksi yang ada di UGM. Dari 486 Unit pengelola keuangan diseluruh UGM yang tercakup dalam laporan keuangan yang disajikan ini adalah 433 unit atau 89,09%. Kondisi akhir tahun 2007 unit pengelola dana yang tercakup dalam laporan keuangan adalah 385 unit atau 94,13% dari 409 unit yang terdaftar. Peningkatan unit/entitas tersebut karena ada penambahan unit atau entitas baru. 2.) Saldo utang piutang antar unit per 31 Desember 2008 dibukukan dalam R/K Antar Satuan Akuntansi dan disajikan netto. Saldo R/K Antar satuan akuntansi debet dan kridit belum seluruhnya tereliminasi. Transaksi kas keluar dan kas masuk masih mencakup transaksi-transaksi pengiriman uang antar unit dilingkup Universitas Gadja Mada, dan transaksi 1.)

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

15

Badan Hukum Milik Negara

kepemilikan tersebut.

yang

sah

investasi

2) Aset Tetap a.) Tanah Terhadap aset tetap tanah dalam pelaporan keuangan ini telah dilakukan penilaian dengan menggunakan pendekatan data pasar (market data approach). Penilaian tanah didasarkan pada perbandingan secara langsung objek yang dinilai dengan data transaksi pembanding yang telah dianalisa, dengan menggunakan faktor penyesuaian (adjustment). b.) Infrastruktur Universitas Infrastruktur Universitas merupakan sarana dan prasarana dasar yang dimiliki dalam bentuk jalan, bangunan air jaringan, instalasi dan peralatan dan mesin yang digunakan dalam pengoprasian instalasi dan jaringan. Terhadap infrastruktur dalam pelaporan keuangan ini telah dilakukan penilaian dengan menggunakan pendekatan nilai sisa manfaat dari infrastruktur dimaksud. c.) Gedung dan Bangunan Terhadap gedung dan bangunan dalam pelaporan keuangan ini telah dilakukan penilaian dengan pendekatan biaya (cost approach), yaitu dengan cara menghitung keseluruhan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh bangunan pada kondisi baru sesuai dengan penilaian, dikurangi dengan penyusutan yang terjadi pada bangunan sesuai hasil pengamatan langsung dan aspek penyusutan fisik fungsional dan ekonomis. d.) Kendaraan dan Alat Angkutan Terhadap kendaraan dan alat angkutan dalam pelaporan keuangan ini telah dilakukan penilaian dengan menggunakan pendekatan nilai pengganti berdasarkan nilai pasar yang wajar dengan memperhatikan nilai sisa

e.)

f.)

g.)

h.)

i.)

manfaat dari kendaraan dan alat angkutan serta melakukan perbandingan harga penjualan kendaraan bermotor yang sejenis dan tahun yang sama. Peralatan dan Mesin Terhadap peralatan dan mesin dalam pelaporan keuangan ini telah dilakukan penilaian dengan menggunakan metode pendekatan nilai pasar (market data approach) dengan melakukan perbandingan harga penjualan peralatan dan mesin yang sejenis dan tahun yang sama Buku dan Media Perpustakaan Buku dan media perpustakaan dalam pelaporan keuangan ini dilakukan penilaian dengan menggunakan pendekatan nilai pengganti berdasarkan nilai pasar yang wajar serta memperhatikan nilai sisa manfaat. Hewan, Tumbuhan dan Sejenisnya Hewan, tumbuhan dan sejenisnya dalam pelaporan keuangan ini telah dilakukan penilaian dengan menggunakan pendekatan nilai pengganti berdasarkan nilai pasar yang wajar serta memperhatikan nilai sisa manfaat. Heritage (museum kepurbakalaan) Aset tetap heritage adalah aset yang berkaitan dengan barang seni dan bersejarah termasuk barang-barang kepurbakalaan. Aset Tetap Lainnya Terhadap aset tetap lain dalam pelaporan keuangan ini telah dilakukan penilaian dengan menggunakan pendekatan nilai pengganti berdasarkan nilai pasar yang wajar serta memperhatikan nilai sisa manfaat aset tetap lain.

3.) Aset Dalam Pengerjaan Aset dalam pengerjaan dinilai berdasarkan tingkat penyelesaian atas pengerjaan berdasarkan

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

16

Badan Hukum Milik Negara

dokumen yang mendukung tingkat penyelesaian atas pekerjaan dimaksud. 4.) Aset Lainnya Aset lainnya adalah aset yang tidak dapat dikelompokan ke dalam aset lancar, aset tetap dan investasi permanen. 5.) Ekuitas Dana Ekuitas dana merupakan selisi antara seluruh kekayaan dikurangi dengan kewajiban universitas. Jumlah tersebut merupakan seluruh akumulasi dana yang dikelola dan dipertanggungjawabkan. Dalam laporan keuangan seluruh ekuitas per 1 Januari 2002 diklasifikasikan sebagai penyertaan Modal Awal Pemerintah.

6.) Utang / Piutang Utang piutang untuk biaya oprasional antara Kantor Pusat Universitas dengan Fakultas, Program Pascasarjana dan Program Magister serta unit lainnya disebut utang piutang Luncuran/Rekening Koran Antar Satuan Akuntansi (RAK). RAK dieliminasi semaksimal pertanggal laporan posisi keuangan.

Alamat : Universitas Gadjah Mada Sayap selatan-Bulaksumur, Yogyakarta 55281 (0274) 588688 (0274) 565223

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

17

Badan Hukum Milik Negara

UNIVERSITAS INDONESIA (UI)

Sejarah Singkat
Universitas Indonesia adalah kampus modern, komprehensif, terbuka, multi budaya, dan humanis yang mencakup disiplin ilmu yang luas. UI saat ini secara simultan selalu berusaha menjadi salah satu universitas riset atau institusi akademik terkemuka di dunia. Sebagai universitas riset, upaya-upaya pencapaian tertinggi dalam hal penemuan, pengembangan dan difusi pengetahuan secara regional dan global selalu dilakukan. Sementara itu, UI juga memperdalam komitmen dalam upayanya di bidang pengembangan akademik dan aktifitas penelitian melalui sejumlah disiplin ilmu yang ada dilingkupnya. Universitas Indonesia berdiri pada tahun 1849 dan merupakan representasi institusi pendidikan dengan sejarah paling tua di Asia. Telah menghasilkan lebih dari 400.000 alumni, UI secara kontinyu melanjutkan peran pentingnya di level nasional dan dunia. Bagaimanapun UI tidak bisa melepaskan diri dari misi terkininya menjadi institusi pendidikan berkualitas tinggi, riset standar dunia dan menjaga standar gengsi di sejumlah jurnal internasional nomor satu. Dengan predikat sebagai kampus terbaik negeri ini, UI secara aktif mengembangkan kerja sama global dengan banyak perguruan tinggi ternama dunia. Beberapa universitas terkemuka yang saat ini tercatat memiliki perjanjian dengan UI diantaranya adalah: Washington University, Tokyo University, Melbourne University, Sydney University, Leiden University, Erasmus University, Kyoto University, Peking University, Tsinghua University, Australian National University, and National University of Singapore. Selain itu, UI saat ini juga memperkuat kerjasamanya dengan beberapa asosiasi pendidikan dan riset diantaranya: APRU (Association of Pacific Rim Universities)

dengan peran sebagai Board of Director, AUN (ASEAN University Network), and ASAIHL (Association of South East Asia Institution of Higher Learning ). Secara geografis, posisi kampus UI berada di dua area berjauhan, kampus Salemba dan kampus Depok. Mayoritas fakultas berada di Depok dengan luas lahan mencapai 320 hektar dengan atmosfer green campus karena hanya 25% lahan digunakan sebagai sarana akademik, riset dan kemahasiswaan. 75% wilayah UI bisa dikatakan adalah area hijau berwujud hutan kota dimana di dalamnya terdapat 8 danau alam. Sebuah area yang menjanjikan nuansa akademik bertradisi yang tenang dan asri. Universitas Indonesia mengalami banyak sekali perubahan dalam sejarahnya yang relatif panjang. Dari perspektif subtantif, lembaga ini ditetapkan melalui Keputusan Pemerintah Nomor: 22, tanggal 2 Januari 1849 dan selanjutnya pendidikan tersebut dimulai pada bulan Januari 1851 dengan nama, “Sekolah Dokter Jawa” (Dokter java school). Pada akhir abad ke-19, Sekolah Dokter Jawa dikembangkan lebih lanjut menjadi School tot Opleiding Van Inlandsche Artsen (STOVIA) (1898). STOVIA ditutup di tahun 1927 pada usianya yang ke-75 tahun. Sebagai penggantinya, didirikan Sekolah Tinggi Kedokteran di tahun 1927 melengkapi kehadiran 4 Sekolah tinggi lainya yang tersebar di beberapa kota. Keempat sekolah tersebut yaitu: Sekolah Tinggi Tehnik di Bandung (1920), Sekolah Tinggi Hukum di Batavia (1924) dan Sekolah Tinggi Sastra dan Budaya di Batavia (1929). Sementara itu, di Bogor dikembangkan Sekolah Tinggi Pertanian. Kelima Sekolah Tinggi tersebut merupakan cikal bakal fakultas-fakultas di bawah naungan Nood Universiteit (Universitas Darurat) yang didirikan pada tahun 1946 di Jakarta, pada masa awal pendudukan Belanda pasca Perang Dunia ke-2. Nood Universiteit pada tahun 1947 berganti

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

18

Badan Hukum Milik Negara

nama menjadi Universiteit van Indonesie yang berkedudukan di Jakarta. Beberapa Guru Besar nasionalis (diantaranya Prof. Mr. Djokosoetono), mengoperasikan Universiteit van Indonesie di Ibu Kota Republik Indonesia yang pada saat itu berada di Jogjakarta. Kegiatan akademik tersebut terpisah dari Induknya di Jakarta yang masih berada dalam kekuasaan Belanda. Pada tahun 1949, pengakuan kedaulatan Rl oleh Belanda berlangsung dan Ibu Kota kembali dipindahkan ke Jakarta. Universiteit van Indonesie Jogjakarta dipindahkan kembali ke Jakarta. Hampir bersamaan dengan hal tersebut didirikanlah Universitas Gadjah Mada di Jogjakarta di tahun 1949. Pada tahun 1950, melalui serangkaian "ketegangan" antara Guru Besar Nasionalis dengan Guru Besar Belanda, akhirnya Universiteit van Indonesie berganti nama menjadi ”Universitas Indonesia.” Perguruan Tinggi ini mempunyai beberapa Fakultas dibeberapa kota yaitu: Jakarta (Kedokteran, Hukum, Sastra dan Budaya), Bandung (Tehnik), Bogor (Pertanian), Surabaya (Kedokteran Gigi), serta Makasar (Ekonomi). Fakultas-fakultas diluar Jakarta pada tahun 1960-an berdiri sendiri. Universitas Indonesia di Jakarta mempunyai kampus di Salemba dan terdiri dari beberapa Fakultas seperti: Kedokteran, Kedokteran Gigi, Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Sastra, Hukum, Ekonomi, dan Tehnik. Pada perkembangan selanjutnya berdirilah Fakultas Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kesehatan Masyarakat, llmu Komputer dan kemudian Fakultas Keperawatan. Pada tahun 1970-an hingga awal 1980-an, Universitas Indonesia mempunyai 2 kampus utama, yaitu di Salemba dan Rawamangun. Pada tahun 1987, Universitas Indonesia membangun kampus baru di Depok di area seluas 320 ha. Mulai tahun tersebut Universitas Indonesia melepaskan Kampus Rawamangun namun masih menggunakan Kampus Salemba untuk kegiatan akademik Fakultas Kedokteran dan Fakultas Kedokteran Gigi. Jumlah seluruh area yang menjadi asset tanah Universitas Indonesia adalah sekitar 350 ha atau sekitar 3.500.000 M2 (di Jakarta Pusat, Depok, Tangerang, dan Jakarta Timur).

Pada tahun 2000 Universitas Indonesia menjadi salah satu Perguruan Tinggi dengan status Badan Hukum di Indonesia. Hal ini mengawali implementasi gagasan otonomi kampus yang meliputi dua hal sebagai berikut: Pertama, otonomi dalam hal pengembangan akademik. Kedua, adalah otonomi pengelolaan keuangan. Otonomi tersebut memberi ruang bagi Universitas Indonesia untuk berkembang dan memainkan peranan yang mendasar di era masyarakat berbasis pengetahuan (knowledgebased society). Dari catatan genealogis di atas, penting direnungkan bahwa kelangsungan Ul seiring dengan perkembangan peradaban Indonesia khususnya dalam dunia akademik. Dapat dikatakan bahwa Ul merupakan cikal bakal dan titik tolak pencerahan untuk Indonesia modern. Ul menjunjung nama Indonesia dan hal ini merupakan kebanggaan sekaligus tanggung jawab. Dalam kaitan ini, Universitas Indonesia sebagai "universe", selayaknya mempunyai kapasitas untuk menjadi motor peradaban dan kemanusian mencapai "kemajuan" yang tidak abai pada keseimbangan antara orientasi nilainilai akademik, dengan moralitas dan seni. Dengan demikian, peradaban bangsa dan kemanusiaan di Republik ini di masa datang seyogyanya ditandai oleh terciptanya kemajuan, keadaban, kemakmuran, keadilan, kedamaian, demokrasi, serta keseimbangan dan kelestarian lingkungan hidup.

SILSILAH UNIVERSITAS INDONESIA
1849 1849-1898 1898-1927 1909-1929 Dokterdjawaschool Batavia. School tot Opleiding van Indische Artsen,Batavia. Opleidingschool voor Inlandsche Rechtskundigen, Batavia. Nederlandsch-Indische Veeartsenschool, Buitenzorg. Technische Hoogeschool, Bandoeng. Rechtschool, Batavia. Rechts-hoogeschool, Batavia.

1913-1942 1920-1921 1922-1924 1924-1942

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

19

Badan Hukum Milik Negara

1924-1942 1927-1942 1940-1942 1941-1942

1943-1945 1944-1945

Technische-Hoogeschool, Bandoeng. Geneeskundige Hoogeschool, Batavia. Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte, Batavia. Faculteit der Landbouwwetenschap, Batavia. Djakarta Ika Daigaku. Bandoeng Koogyo Daigaku.

7. Diergeneschundige Faculteit, Buitenzorg. 8. Faculteit der Economiche Wetenschap, Makasar. 9. Faculteit der Geneskunde, Soerabaja. 10.Faculteit lain yang jenis dan tempatnya ditentukan Gubernur Jenderal. Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia : 1. Perguruan Tinggi Kedokteran, Jakarta. 2. Perguruan Tinggi Hukum/Kesusastraan, Jakarta. Februari 1950 Universiteit Indonesie/ Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia Serikat : 1. Fakultas Kedokteran & Lembaga Pendidikan Djasmani, Jakarta. 2. Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, Jakarta. 3. Fakultas Sastra dan Filsafat, Jakarta. 4. Fakultas Pertanian, Bogor. 5. Fakultas Kedokteran Hewan, Bogor. 6. Fakultas Ilmu Penget. Teknik & Lembaga Pend Guru Menggambar, Bandung. 7. Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Bandung. 8. Fakultas Kedokteran dan Lembaga Kedokteran Gigi, Surabaya. 9. Fakultas Ekonomi, Makasar (ditutup untuk sementara). Februari 1950-1954 Universiteit Indonesie/Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia : 1. Faculteit Kedokteran & Lembaga Pendidikan Djasmani, Jakarta. 2. Faculteit Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, Jakarta. 3. Faculteit Sastra dan Filsafat, Jakarta. 4. Faculteit Ekonomi, Jakarta. 5. Faculteit Pertanian, Bogor. 6. Faculteit Kedokteran Hewan, Bogor. 7. Faculteit Ilmu Penget. Teknik & Lembaga Pend Guru Menggambar, Bandung. 8. Faculteit Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Bandung.

1945-1950 Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia : 1. Perguruan Tinggi Kedokteran, Jakarta. 2. Perguruan Tinggi Hukum/Kesusastraan, Jakarta. 1946-1947 Nood-Universiteit : 1. Geneekundige Faculteit. 2. Juncdiche Facultein. 3. Faculteit der Letter en Wijbegerts. 4. Technische Faculteit. 5. Landbouwkundige Faculteit. Balai Perguruan Tinggi Republik Indonesia : 1. Perguruan Tinggi Kedokteran, Jakarta. 2. Perguruan Tinggi Hukum/Kesusastraan, Jakarta. 1947-1950 Nood-Universiteit : 1. Faculteit der Geneekundige, Batavia. 2. Faculteit van Technische Wetenschap, Bandoeng. 3. Faculteit der Rechtsgekerdeid end canSociale Wetenschap, Batavia. 4. Faculteit der Letter en Wijbegerts, Batavia. 5. Faculteit van Landbouwwatenschap, Buitenzorg. 6. Faculteit der Exacte Wetenschap kemudiannamanya diubah menjadi Faculteit van Wiskunde en Natuurewtenschap, Bandung.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

20

Badan Hukum Milik Negara

9. Faculteit Kedokteran dan Lembaga Kedokteran Gigi, Surabaya. 10.Cabang Faculteit Hukum dan Pengabdian Masyarakat dari FH & PM UI Jakarta, Makasar. 11. Faculteit Ekonomi sebagai cabang Faculteit Ekonomi UI Jakarta, Makasar. 1954-1955 Universitas Indonesia : 1. Faculteit Kedokteran & Lembaga Pendidikan Djasmani, Jakarta. 2. Faculteit Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, Jakarta. 3. Faculteit Sastra dan Filsafat, Jakarta. 4. Faculteit Ekonomi, Jakarta. 5. FaculteitPertanian, Bogor. 6. Faculteit Kedokteran Hewan, Bogor. 7. Faculteit Ilmu Penget. Teknik & Lembaga Pend Guru Menggambar, Bandung. 8. Faculteit Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Bandung. 9. Faculteit Kedokteran dan Lembaga Kedokteran Gigi, Surabaya. 10.Faculteit Ekonomi, Makasar. 11. Faculteit Hukum, Makasar. 1955-1956 Universitas Indonesia : 1. Fakultas Kedokteran & Lembaga Pendidikan Djasmani, Jakarta. 2. Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, Jakarta. 3. Fakultas Sastra dan Filsafat, Jakarta. 4. Fakultas Ekonomi, Jakarta. 5. FakultasPertanian, Bogor. 6. Fakultas Kedokteran Hewan, Bogor. 7. Fakultas Ilmu Penget. Teknik & Lembaga Pend Guru Menggambar, Bandung. 8. Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Bandung. 9. Fakultas Ekonomi, Makasar. 10.Fakultas Hukum, Makasar. 1956-1959 Universitas Indonesia : 1. Fakultas Kedokteran & Lembaga Pendidikan Djasmani, Jakarta. 2. Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, Jakarta.

3. 4. 5. 6. 7.

Fakultas Sastra dan Filsafat, Jakarta. Fakultas Ekonomi, Jakarta. FakultasPertanian, Bogor. Fakultas Kedokteran Hewan, Bogor. Fakultas Ilmu Penget. Teknik & Lembaga Pend Guru Menggambar, Bandung. 8. Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Bandung. 1959-1963 Universitas Indonesia : 1. Fakultas Kedokteran, Jakarta. 2. Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, Jakarta. 3. Fakultas Sastra, Jakarta. 4. Fakultas Ekonomi, Jakarta. 5. Fakultas Psikologi, Jakarta. 6. Fakultas Kedokteran Gigi, Jakarta. 7. Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Jakarta. 8. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jakarta. 9. Fakultas Pertanian, Bogor. 10.Fakultas Kedokteran Hewan, Bogor. 1963-1987 Universitas Indonesia : 1. Fakultas Kedokteran, Jakarta. 2. Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, Jakarta. 3. Fakultas Sastra, Jakarta. 4. Fakultas Ekonomi, Jakarta. 5. Fakultas Psikologi, Jakarta. 6. Fakultas Kedokteran Gigi, Jakarta. 7. Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Jakarta. 8. Fakultas Teknik, Jakarta. 9. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Jakarta. 10.Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jakarta. 11. Fakultas Non Gelar Ekonomi, Jakarta. 12. Fakultas Non Gelar Teknologi, Jakarta 13. Fakultas Pascasarjana, Jakarta. 1987-2007 Universitas Indonesia : 1. Fakultas Kedokteran, Kampus Salemba – Jakarta.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

21

Badan Hukum Milik Negara

2. Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, Kampus Depok. 3. Fakultas Sastra, Kampus Depok. 4. Fakultas Ekonomi, Kampus Depok. 5. Fakultas Psikologi, Kampus Depok. 6. Fakultas Kedokteran Gigi, Kampus Salemba – Jakarta. 7. Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Kampus Depok. 8. Fakultas Teknik, Kampus Depok. 9. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Kampus Depok. 10.Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kampus Depok. 11. Fakultas Ilmu Komputer, Kampus Depok. 12. Fakultas Ilmu Keperawatan, Kampus Depok. 13. Fakultas Pascasarjana, Kampus Salemba – Jakarta. 2007-2011 Universitas Indonesia : 1. Fakultas Kedokteran, Kampus Salemba – Jakarta. 2. Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Masyarakat, Kampus Depok. 3. Fakultas Sastra, Kampus Depok. 4. Fakultas Ekonomi, Kampus Depok. 5. Fakultas Psikologi, Kampus Depok. 6. Fakultas Kedokteran Gigi, Kampus Salemba – Jakarta. 7. Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam, Kampus Depok. 8. Fakultas Teknik, Kampus Depok. 9. Fakultas Kesehatan Masyarakat, Kampus Depok. 10.Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Kampus Depok. 11. Fakultas Ilmu Komputer, Kampus Depok. 12. Fakultas Ilmu Keperawatan, Kampus Depok. 13. Fakultas Pascasarjana, Kampus Salemba – Jakarta. 14.Program Pendidikan Vokasi, Kampus Depok .

Visi
"Menjadi Universitas Riset Kelas Dunia."

Misi
  Menyelenggarakan Pendidikan Tinggi berbasis riset untuk pengembangan Ilmu, Teknologi, Seni dan Budaya. Menyelenggarakan Pendidikan Tinggi yang mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf dan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia serta kemanusiaan.

Tujuan
Mempertahankan reputasi Universitas Indonesia sebagai universitas terbaik di Indonesia dengan menghasilkan kualitas lulusan yang mampu bersaing di pasar global dan kualitas riset yang bertaraf internasional serta menghasilkan produk Research & Design yang dapat mendukung daya saing Internasional.

Renstra
Universitas Indonesia memiliki rencana strategis (renstra) yang telah disusun dan disepakati oleh jajaran manajemen universitas. Renstra ini menjadi panduan universitas dalam menjalankan visi dan misi universitas.

Perencanaan Kampus UI

pengembangan

Didalamnya terdapat ekspektasi keberhasilan universitas setiap tahunnya. Selain itu, dalam renstra ini juga terdapat strategi pencapaian tujuan universitas beserta indikator keberhasilan yang digunakan sebagai standar penilaian keberhasilan dari proses yang dijalankan. Dalam menentukan strategi dan menentukan indikator keberhasilan ini, Universitas Indonesia telah mempertimbangkan dengan cermat nilai dasar, kondisi internal dan eksternal, baik dalam perspektif regional maupun internasional.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

22

Badan Hukum Milik Negara

Struktur Organisasi

mengangkat/memberhentikan pimpinan universitas, melaksanakan fugnsi pengawasan dan pengendalian umum atas pengelolaan universitas dan melakukan penilaian kinerja pimpinan universitas.

Dewan Audit
Dewan Audit merupakan organ universitas berada di bawah, bertugas, untuk dan atas nama Majelis secara independent melaksanakan evaluasi hasil audit internal/eksternal atas penyelenggaraan universitas. Ketua, Sekretaris dan anggota Dewan audit diangkat/diberhentikan oleh Majelis untuk masa jabatan 5 tahun, dengan ketentuan dapat diangkat kembali untuk satu kali periode berikutnya.

Senat Akademik Universitas Universitas Indonesia
Susunan Organisasi Universitas Indonesia berdasarkan PP 152/2000, kini terdiri atas Majelis Wali Amanat (MWA), Dewan Audit, Senat Akademik Universitas, Pimpinan Universitas, Dewan Guru Besar, Senat Akademik Fakultas, Pelaksana Akademik, unsur manajemen, penunjang, unsur-unsur lain yang dipandang perlu dan unit usaha. Senat Akademik Unversitas merupakan badan normative tertinggi universitas di bawah Majelis, yang bertanggungjawab menetapkan kebijakan umum akademik universitas. Senat akademik Universitas terdiri atas Rektor, para Wakil Rektor Dekan, Ketua Program Pascasarjana, wakil Guru Besar, wakil dosen bukan guru besar dan Kepala Perpustakaan Universitas.

Dewan Guru Besar
Dewan Guru Besar adalah organ universitas yang seluruh anggotanya para Guru Besar berbagai Fakultas di lingkungan UI. Dewan ini bertugas melakukan pembinaan kehidupan akademik dan integritas moral serta etika akademik universitas, memberi pertimbangan atas usul pengangkatan guru besar, pemberian gelar doctor kehormatan (Doktor Honoris Causa). Dewan dipimpin oleh Ketua serta dibantu Sekretaris yang dipilih oleh dan diantara sesama guru besar. Selanjutnya klik www.dgb.ui.ac.id

Majelis Wali Amanat
Majelis Wali Amanat untuk selanjutnya disebut Majelis, sebagai organ tertinggi di universitas, mewakili kepentingan pemerintah, kepentingan masyarakat dan kepentingan universitas itu sendiri. Keanggotaan Majelis terdiri atas unsur: Menteri (bidang pendidikan), Senat Akademik Universitas, Rektor, Masyarakat, Karyawan dan Mahasiswa yang kesemuanya diangkat/diberhentikan oleh Menteri untuk masa jabatan 5 tahun, kecuali anggota unsur mahasiswa hanya terbatas setahun mengingat tugas utama mereka. Tugas Majelis antara lain menetapkan kebijakan umum universitas,

Pimpinan Universitas
Pimpinan universitas adalah Rektor dan para Wakil Rektor, bertugas antara lain menjalankan fungsi pengelolaan universitas secara

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

23

Badan Hukum Milik Negara

keseluruhan, melaksanakan penyelenggaraan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, membina sivitas akademika (dosen & mahasiswa), membina hubungan dengan alumni, lingkungan universitas dan masyarakat. Rektor diangkat/diberhentikan oleh Majelis untuk masa jabatan 5 tahun, setelah melalui proses pemilihan yang diadakan khusus untuk itu dalam suatu rapat terbuka Majelis.

Senat Akademik Fakultas
Senat Akademik Fakultas merupakan badan normative tertinggi di tingkat fakutlas, bertugas dan bertanggungjawab menyusun kebijakan

akademik tingkat fakultas, menyusun kebijakan penilaian prestasi dan etika akademik, kecakapan serta kepribadian sivitas akademika, serta merumuskan norma dan tolok ukur penyelenggaraan fakultas. Senat Akademik Fakultas terdiri atas dekan, para wakil dekan,, ketua departemen/kepala bagian, wakil guru besar, wakil dosen bukan guru besar. Senat Akademik Fakultas diangkat untuk masa jabatan 5 tahun, dengan ketentuan dapat diangkat kembali untuk satu kali periode berikutnya.

Alamat : Universitas Indonesia Kampus Salemba, Jl. Salemba Raya No. 4 Jakarta 10430 (021) 31930355, (021) 31930343 Kampus Depok 16424 (021) 7867222, 78841818 (021) 7270017, 7863460, 7863447, 7863446, 7884906

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

24

Badan Hukum Milik Negara

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA (UPI)

UMUM Sejarah Perkembangan Universitas Pendidikan Indonesia
Pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 20 Oktober 1954 meresmikan berdirinya Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Bandung, yang kemudian pada tahun 1957 berubah menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pada Universitas Padjadjaran (UNPAD) Pada tahun 1963 FKIP berkembang dan berdiri sendiri menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Bandung Seiring dengan kebijakan pemerintah di bidang pendidikan tinggi yang memberikan perluasan mandat bagi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang harus mampu mengikuti tuntutan perubahan serta mengantisipasi segala kemungkinan dimasa yang akan datang, IKIP Bandung diubah menjadi Universitas Pendidikan Indonesia melalui Keputusan Presiden RI No. 124 Tahun 1999 tanggal 7 Oktober 1999. Dengan pertimbangan UPI telah memiliki kemampuan pengelolaan yang cukup untuk dapat memperoleh kemandirian, otonomi, dan tanggung jawab yang lebih besar sebagai penyelenggara pendidikan tinggi, melalui Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 2004, UPI diberi otonomi dan menjadi Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT BHMN). Dengan ditetapkannya sebagai BHMN maka :  Segala hak dan kewajiban, perlengkapan dan kekayaan, kecuali tanah, penyelenggaraan pendidikan tinggi,  termasuk pegawai dialihkan menjadi aset dan pegawai Universitas. Kekayaan Universitas merupakan kekayaan Negara yang dipisahkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pengelolaan sumber daya menjadi Mandiri. Untuk membiayai kegiatannya, UPI memperoleh dana dari pemerintah, masyarakat, pihak luar negeri yang tidak mengikat, dan usaha serta tabungan Universitas. Penerimaan Universitas yang berasal dari masyarakat bukan merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

 

Visi, Misi dan Tujuan
Berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) UPI yang ditetapkan tanggal 30 Desember 2005, visi, misi dan tujuan universitas adalah sebagai berikut :

Visi
Dalam sejarah perkembangannya, UPI telah tampil menjadi satu-satunya lembaga pendidikan tinggi di Indonesia yang secara konsisten berkiprah dalam bidang pendidikan. Dengan terjadinya perkembangan Ilmu pengetahuan. Teknologi. Seni dan tuntutan masyarakat, hal ini merupakan peluang bagi UPI untuk tampil mengambil inisiatif dan mengembangkan inovasi pendidikan. Dengan karakter seperti itu, dan dengan sumber daya yang dimiliki, UPI menetapkan visi untuk menjadi Universitas Pelopor dan Unggul (a leading and outstanding university) dalam disiplin

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

25

Badan Hukum Milik Negara

ilmu pendidikan dan pendidikan disiplin ilmu di Indonesia pada Tahun 2010, dan menjadi salah satu universitas pelopor di Asia pada tahun 2025.

Misi
UPI memiliki misi sebagai berikut : 1. Menyelenggarakan pendidikan untuk menyiapkan tenaga pendidikan profesional dan tenaga profesional lainnya yang berdaya saing global. 2. Mengembangkan teori-teori pendidikan dan keilmuan lain yang inovatif serta penerapannya, untuk menjadi landasan dalam penetapan kebijakan pendidikan nasional. 3. Menyelenggarakan layanan pengabdian kepada masyarakat secara profesional dalam rangka ikut serta memecahkan masalah nasional baik dalam bidang pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. 4. Menyelenggarakan internasionalisasi pendidikan melalui pengembangan dan pengokohan jejaring dan kemitraan pada tingkat nasional, regional, dan internasional.

Untuk mencapai, misi, visi dan tujuan Universitas tersebut di atas diselenggarakan melalui enam fakultas, yaitu Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP), Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA), Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS), Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK), dan Fakultas Pendidikan Olahraga dan Kesehatan (FPOK). Di samping itu, untuk meningkatkan mutu tenaga pengajar, pada tahun 1970 IKIP Bandung membuka Program Pos Doktoral melalui pembentukan Lembaga Pendidikan Pos Doktoral (LPPD) PPS yang mengelola Program S2 dan S3. Pada tahun 1976 LPPD diubah namanya menjadi Sekolah Pasca Sarjana, pada tahun 1981 berubah menjadi Fakultas Pasca Sarjana, dan tahun 1991 menjadi Program Pasca Sarjana (PPS).

Organisasi 1. Struktur Oganisasi
Organisasi universitas terdiri dari pengelola, pelaksana akademik, pelaksana administrasi, dan unsur penunjang. Pengelola terdiri dari Majelis Wali Amanat, Dewan Audit, Senat Akademik, dan Pimpinan Universitas. Pelaksana Akademik terdiri dari Fakultas, Jurusan, Program Studi, Lembaga dan bentuk lain yang dianggap perlu. Unsur penunjang terdiri dari perpustakaan, laboratorium, sekolah laboratorium (sekolah percontohan), bengkel, kebun percobaan, pusat komputer, dan bentuk lain yang dianggap perlu. Berdasarkan SK Menteri Pendidikan Nasional No. 06/MPN.A4/KP/2005 tanggal 17 Januari 2005 sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan SK Menteri Pendidikan Nasional No. 89/MPN.A4/KP/2007 tanggal 10 April 2007, susunan pejabat dan pimpinan Universitas per 31 Desember 2007 adalah sebagai berikut :

Tujuan
Secara umum tujuan pendidikan UPI bermuara pada upaya pengembangan manusia yang beriman, bertaqwa, bermoral, berakhlak mulia, berilmu, profesional, religius, dan memiliki integritas dan cinta terhadap bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia. Secara rinci tujuan itu adalah : 1. Membina dan mengembangkan mahasiswa untuk menjadi ilmuan, tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan tenaga profesional lainnya yang beriman, bertaqwa, profesional, berkompetensi tinggi dan berwawasan kebangsaan. 2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, olahraga, dan seni. 3. Mendukung pengembangan kehidupan politik, ekonomi sosial dan budaya, dan pendidikan dengan berperan sebagai kekuatan moral yang mandiri. 4. Mendukung pembangunan masyarakat yang religius, demokratis, cinta damai, cinta ilmu, dan bermartabat.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

26

Badan Hukum Milik Negara

Majelis Wali Amanat UPI :
1. Menteri Pendidikan Nasional (Wakil Menteri); 2. Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (Wakil Rektor); 3. Drs. Abdulgani, MA (Ketua MWA); 4. Prof. Dr. H. Abin Syamsuddin Makmun, MA (Sekretaris MWA); 5. Prof. Dr. Achmad Hufad, M.Ed. (Wakil Senat Akademik); 6. Prof. Dr. Djam’an Satori, MA (Wakil Senat Akademik); 7. Prof. Dr. Fuad Abdul Hamied, MA (Wakil Senat Akademik); 8. Prof. Dr. Hj. Melly Sri Sulastri Rifa’I, M.Pd. (Wakil Senat Akademik); 9. Prof. Dr. Wahyudin, M.Pd. (Wakil Senat Akademik); 10.Prof. Dr. Soemarto, MSIE (Wakil Senat Akademik); 11. Dr. Ridwan El Hariri, MM (Wakil Senat Akademik); 12.Drs. Danny Setiawan, M.Si. (Wakil Masyarakat); 13.Dr. Burhanuddin Abdullah (Wakil Masyarakat); 14.Ir. Ahmad Ganis (Wakil Masyarakat); 15.Prof. Dr. A. Syafi’i Maarif (Wakil Masyarakat); 16.Nurhadi Purwosaputro, M.Sc. (Wakil Masyarakat); 17.Dra. Popong Otje Djundjunan (Wakil Masyarakat); 18.Ir. Rudy Radjab (Wakil Masyarakat); 19.Drs. Saleh Tasripan (Wakil Masyarakat); 20.Drs. Zulkabir (Wakil Masyarakat). Berdasarkan Surat Ketetapan MWA UPI Nomor 07/MWA UPI/2005, tanggal 20 Juni 2005 tentang pengangkatan Rektor UPI Masa Bhakti 2005-2010, ditetapkan Rektor yaitu Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd. Berdasarkan Surat Keputusan Rektor UPI No. 2766/H40/KL/2008 tanggal 5

Mei 2008 ditetapkan Pembantu Rektor sebagai berikut : Pembantu Rektor Bidang Akademik : Prof. Dr. H. A. Chaedar Al Wasilah, MA Bidang Kemahasiswaan. Pembantu Rektor Bidang Keuangan : Prof. Dr. H. Ishak Abdulhak, M.Pd. Bidang Sumber Daya. Pembantu Rektor Bidang Teknologi : Prof. Dr. Rusli Lutan Bidang Informasi Komunikasi dan Kerjasama. Pembantu Rektor Bidang Penelitian : Prof. Dr. Utari Sumarmo Bidang Pengembangan. Berdasarkan Surat Ketetapan MWA No. 11/TAP/MWA UPI/2005, tanggal 9 September 2005. Susunan Pimpinan dan Anggota Dewan Audit adalah sebagai berikut : Ketua: Prof. Dr. H. Tubagus Hasanuddin, M.Sc, Ak. Sekretaris: Dr. Janah Sojanah, M.Si Anggota: Prof. Dr. H. Karhi Nisjar Sardjudin, Ak. MM Drs. H. Suryana Affandi, Ak, MM Prof. Dr. H. Akdon, M.Pd.

2. Keuangan
Untuk membiayai kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, UPI memperoleh dana dari masyarakat, bantuan pemerintah pusat dan daerah, serta bantuan luar negeri. (1) Dana masyarakat (DM) berasal dari : SPP mahasiswa yang mengikuti pendidikan di UPI, termasuk mahasiswa tugas belajar dari lembaga pemerintah/non pemerintah. Non SPP meliputi penerimaan dana dari penerimaan mahasiswa baru, bantuan kerjasama

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

27

Badan Hukum Milik Negara

(2)

(3)

penelitian ilmiah/non ilmiah, kemasyarakatan, dari lembaga masyarakat luar negeri dan pendapatan lain-lain (jasa giro, pemakaian sarana olahraga dan gedung serbaguna, dsb). Dana bantuan dari pemerintah berasal dari APBN, yang dituangkan dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA), bantuan dari pemerintah daerah setempat serta beasiswa dari instansi pemerintah. Dana bantuan luar negeri terutama untuk pembangunan sarana dan prasarana fisik UPI.

(milik negara), bangunan, kendaraan, dan inventaris/peralatan lainnya, disajikan berdasarkan hasil inventarisasi yang dilakukan bersama oleh BPKP Pusat, BPKP Perwakilan Jawa Barat dan SAI (Satuan Audit Internal) UPI dan telah direvaluasi oleh perusahaan penilai yang diakui pemerintah.

(2) Tujuan Pelaporan

Laporan Keuangan per 31 Desember 2008 Unaudited Disusun sebagai pertanggung jawaban pimpinan UPI sebagaimana yang diamanatkan dalam PP No. 6 Tahun 2004 pasal 35 dan 36.

Realisasi yang telah dilakukan dalam bidang manajemen keuangan pada tahun 2006 meliputi : (1) Sistem penganggaran dan alokasi sistem penganggaran terpadu telah dikembangkan dan dijadikan pola penganggaran bagi setiap unit kerja. Sehingga setiap unit kerja mengetahui pasti jumlah dana yang dialokasikan, pencairan, serta pertanggungjawabannya. (2) Sistem pengendalian dilakukan dalam bentuk pencatatan yang ketat serta laporan penggunaan dana sesuai dengan program kegiatan dan alokasi yang diterapkan dalam RKAT setiap unit kerja.

(3) Standar Akuntansi

Berkaitan dengan status UPI sebagai BHMN yang bersifat nirlaba, maka laporan keuangan UPI disusun dengan berpedoman pada pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 45 tentang Pelaporan Keuangan Organisasi Nirlaba yang diterbitkan oleh ikatan Akuntansi Indonesia.

(4) Basis Akuntansi

3. Kebijakan Akuntansi (1) Kekayaan awal UPI

Berdasarkan pasal 9 PP No. 6 Tahun 2004 tentang penetapan UPI sebagai BHMN, ditetapkan bahwa kekayaan awal universitas berasal dari kekeyaan negara yang dipisahkan dari APBN. Kekayaan awal ini adalah seluruh kekayaan negara yang tertanam pada universitas kecuali tanah. Besarnya nilai kekayaan awal ini ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan perhitungan yang dilakukan bersama oleh Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Keuangan. Nilai asset universitas yang berupa tanah

Laporan Keuangan UPI disusun atas dasar akrual. Dengan dasar ini, pengaruh transaksi dan peristiwa lain diakui pada saat kejadian (dan bukan pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar) dan dicatat dalam catatan akuntansi serta dilaporkan dalam laporan keuangan pada periode yang bersangkutan. Dengan dasar akrual ini, laporan keuangan memberikan informasi tidak hanya transaksi masa lalu yang melibatkan penerimaan dan pembayaran kas, tetapi juga kewajiban pembayaran yang akan diterima dimasa depan.

(5) Penyajian pengungkapan informasi dalam laporan posisi keuangan :
  Aktiva disajikan berdasarkan urutan likuiditas dan kewajiban berdasarkan tanggal jatuh tempo. Laporan posisi keuangan menyajikan jumlah masing-masing kelompok aktiva bersih berdasarkan ada atau

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

28

Badan Hukum Milik Negara

tidaknya pembatasan oleh penyumbang, yaitu terikat secara temporer, terikat permanent dan tidak terikat. Jika terdapat pembatasan penggunaan aktiva, informasi tersebut diungkapkan pada catatan Laporan Keuangan.

dengan menggunakan straight line method. Biaya perolehan peralatan yang diperoleh melalui kontrak meliputi nilai kontrak (per grouping), biaya perencanaan dan pengawasan, biaya perizinan dan jasa konsultan, akan tetapi biaya perolehan per satuan peralatan bernilai sama dengan atau lebih dari Rp300.000,00.Pengeluaran untuk Gedung dan Bangunan yang boleh dikapitalisasi adalah yang nilainya sama dengan atau lebih dari Rp10.000.000,00.Pengeluaran yang tidak tercakup dalam batasan nilai minimum kapitalisasi tersebut di atas, diperlukan sebagai biaya. Khusus untuk aktiva tanah, sesuai dengan PP No. 6 Tahun 2004 tentang “Penetapan UPI sebagai BHMN” pasal 2, tanah tersebut adalah milik pemerintah dengan status hak pakai. Namun sesuai dengan “karakteristik kualitatif laporan keuangan” paragraph “substansi mengungguli bentuk” yang ditetapkan dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia, tanah tersebut dicantumkan dalam laporan posisi keuangan.

Kebijakan Atas Pos-pos Laporan Keuangan (1) Kas dan Setara Kas

Kas dan Setara Kas terdiri dari saldo kas (cash on hand dan cash in bank) yang dapat digunakan secara bebas untuk membiayai kegiatan universitas. Kas yang dibentuk untuk tujuan tertentu atau penggunaannya dibatasi untuk kegiatan tertentu, diungkapkan dalam pos tersendiri.

(2) Piutang

Piutang dicatat sebesar tagihan universitas yang belum dilunasi pihak ketiga sesuai perjanjian, antara lain piutang SPP, Praktikum dan Lain-lain.

(3) Persediaan

Persediaan adalah Aktiva Lancar dalam bentuk barang atau perlengkapan (Supplies) yang dimaksudkan untuk mendukung kegiatan Operasional UPI. Persediaan dicatat sebesar biaya perolehan apabila diperoleh dengan pembelian dan nilai wajar apabila diperoleh dengan cara lainnya seperti donasi. Aktiva tetap disajikan berdasarkan laporan appraisal PT Laksa Laksana (Penilai yang diakui pemerintah) untuk periode yang dinilai tahun 2005 yang didasarkan pada data hasil inventarisasi aktiva tetap yang dilakukan oleh perwakilan BPKP Pusat, BPKP Jawa Barat dengan SAI UPI. Aktiva tersebut (kecuali tanah) disusutkan secara sistematis sepanjang masa manfaat. Gedung/bangunan, kendaraan dan peralatan disusutkan

(4) Aktiva Tetap

(5) Kewajiban

Kewajiban dikelompokan dalam dua kelompok, berdasarkan ukuran tanggal jatuh tempo : a. Kewajiban jangka pendek, yaitu kewajiban yang harus segera dibayar dalam jangka waktu satu tahun. Termasuk didalamnya kewajiban jangka panjang, yang jatuh tempo satu tahun setelah tanggal neraca. b. Kewajiban jangka panjang, yaitu kewajiban yang belum jatuh tempo dalam jangka waktu satu tahun setelah tanggal neraca.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

29

Badan Hukum Milik Negara

(6) Aktiva Bersih

Aktiva Bersih adalah jumlah aktiva universitas setelah dikurangi pinjaman dan kekayaan milik negara yang ada di universitas, yang dikelompokan dalam dua bagian : 1. Aktiva bersih tidak terikat, merupakan aktiva universitas yang dapat dipergunakan tanpa adanya pembatasan pihak tertentu. 2. Aktiva Bersih Terikat, terdiri dari: a. Aktiva Bersih Terikat secara Permanen, merupakan aktiva bersih yang penggunaannya dibatasi secara permanen, yang berasal dari hibah atau wakaf dan dana yang bersifat abadi (dana abadi), tetapi

b.

universitas dapat memanfaatkan penghasilan yang berasal dari dana tersebut. Aktiva Bersih Terikat Secara Temporer, merupakan aktiva bersih yang dibatasi secara temporer oleh pihak penyumbang dalam bentuk pembatasan waktu atau pembatasan penggunaan, atau keduanya.

Alamat : Universitas Pendidikan Indonesia Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung-Jabar 40154 (022) 2013163, 2013164 (022) 2013651

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

30

Badan Hukum Milik Negara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA (USU)

UMUM
A) Penetapan Badan Hukum Milik Negara
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2003 Universitas Sumatera Utara ditetapkan menjadi Badan Hukum Milik Negara yang bersifat nirlaba dan menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Tujuan Universitas Sumatera Utara sesuai dengan PP No. 56/2003 adalah sebagai berikut : 1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang bermoral, yang memiliki kemampuan akademik, profesi dan vokasi yang dapat menerapkan, mengembangkan, dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian; 2. Mengembangkan dan menyebar luaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian, Universitas Sumatera Utara yang berbasis kerjasama industri dalam arti luas, serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan Nasional; 3. Mendukung pembangunan masyarakat madani yang demokratis dengan berperan sebagai kekuatan moral yang mandiri; 4. Mencapai keunggulan kompetitif melalui prinsip pengelolaan yang profesional;

5.

Meningkatkan kualitas secara berkelanjutan untuk menempati posisi unggul dalam persaingan dan kerjasama global.

Entitas Universitas Sumatera Utara mencakup seluruh pos/objek yang dimiliki dan atau dikuasai oleh Universitas Sumatera Utara termasuk : 1. Unit Usaha dapat berbentuk usaha Akademik, Penunjang dan Komersial; 2. Unit usaha akademik adalah usaha yang terkait dengan kegiatan Akademik; 3. Unit usaha penunjang adalah usaha yang menunjang kegiatan Universitas; 4. Unit usaha komersial adalah badan usaha yang didirikan dan dimiliki oleh Universitas Sumatera Utara untuk menunjang pendanaan penyelenggaraan fungsi Universitas. Susunan pejabat dan pimpinan Universitas Sumatera Utara adalah sebagai berikut : Majelis Wali Amanat Ketua : H. Muhammad Imral Nasution, SE Sekretaris : Prof.DR.Alvi Syahrin,SH,MS Senat Akademik Ketua : Prof. dr. Harun Rasyid Lubis, Sp. PDKGH Sekretaris : Drs. Abdul Jalil Amri Arma, M. Kes Dewan Audit Ketua : Drs. Iwan Djanahar, Ak, MAFIS Sekretaris :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

31

Badan Hukum Milik Negara

Dr. Mahmul Siregar, SH, M. Hum Dewan Guru Besar Ketua : Prof. DR. Ir Justin Alfred Napitupulu, MSc Sekretaris : Prof.Dr. Tan Kamelo, SH, M.Hum Pimpinan Universitas Rektor : Prof. Dr. Chairuddin P Lubis, DTM&H, SP. A(K) Pembantu Rektor I : Prof. DR Ir. Sumono, MS Pembantu Rektor II : Prof. Sublihar, PHd Pembantu Rektir III: dr. Linda Trimurni Maas, MPH Pembantu Rektor IV : Prof. DR. Ir. Sukaria Sinulingga, M. Eng Pembantu Rektor V : Ir. Isman Nuriadi Sekretaris Eksekutif : Drs. M. Lian Dalimunthe, MEc. Ac

1.

2.

3.

4.

B) Pelaporan Keuangan
Penetapan Universitas Sumatera Utara sebagai Badan Hukum Milik Negara mewajibkan Universitas Sumatera Utara menyampaikan laporan keuangan yang akuntabilitas dan transparan yang mampu memberikan pencitraan publik yang baik. Laporan keuangan Universitas Sumatera Utara – BHMN dimaksudkan untuk menyajikan dan mengungkapkan secara penuh aktivitas Universitas Sumatera Utara termasuk unit-unit didalamnya dan sumber daya ekonomi yang dipercayakan oleh para penyumbang, kreditur, donator dan pihak lain serta untuk mempertanggungjawabkan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dengan memperhatikan prinsipprinsip akuntabilitas dan transparansi, untuk laporan keuangan Universitas Sumatera Utara harus dapat :

Memberikan informasi mengenai : Jumlah dan sifat aset, kewajiban dan ekuitas dana Universitas Sumatera Utara. Pengaruh transaksi, peristiwa dan situasi dana situasi lainnya yang mengubah nilai dan sifat ekuitas dana. Jenis dan jumlah arus masuk dan arus keluar sumber daya alam suatu periode dan hubungan antara keduanya. Cara Universitas Sumatera Utara mendapatkan dan membelanjakan kas, memperoleh pinjaman dan melunasi suatu pinjaman dan faktor lainnya yang berpengaruh pada likuiditas. Menunjukkan akuntabilitas kegiatan Universitas Sumatera Utara dengan cara mempertanggungjawabkan melalui laporan keuangan pengelolaan sumberdaya serta pelaksanaan kebijakan yang dipercayakan dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Mewujudkan transparansi dalam pelaporan keuangan universitas dengan menyediakan informasi yang terbuka bagi masyarakat. Menyediakan informasi keuangan serta memudahkan pengendalian yang efesien dan efektif atas seluruh kekayaan, kewajiban dan aset bersih.

C) Laporan Keuangan
Sebagai organisasi yang bersifat nirlaba penyusunan pelaporan keuangan Universitas Sumatera Utara didasarkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 45 yang meliputi Laporan posisi Keuangan, Laporan Aktivitas, Laporan Arus Kas, Laporan Realisasi Anggaran dan Catatan atas Laporan Keuangan. Tujuan masing-masing laporan tersebut adalah : 1. Laporan Posisi Keuangan Menyediakan informasi mengenai aset, kewajiban dan ekuitas dana serta informasi mengenai hubungan diantara elemen-elemen yang terdapat dalam laporan tersebut. Laporan ini digunakan untuk :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

32

Badan Hukum Milik Negara

Kemampuan universitas memberikan jasa secara berkelanjutan. b. Likuiditas, fleksibilitas keuangan, kemampuan untuk memenuhi kewajibannya dan kebutuhan pendanaan eksternal. 1.Laporan Aktivitas Menyediakan informasi mengenai pengaruh transaksi dan peristiwa lain yang mengubah jumlah dan sifat ekuitas dana dan bagaimana penggunaan sumber daya pelaksanaan berbagai program dan kegiatan. Laporan ini digunakan untuk : a. Mengevaluasi kinerja dalam suatu periode b. Menilai upaya, kemampuan dan kesinambungan organisasi dalam memberikan jasa c. Menilai pelaksanaan tanggungjawab dan kinerja pengelola Universitas 2. Laporan Realisasi Anggaran Menyajikan informasi tentang pencapaian anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya, sebagai alat untuk menilai kinerja dari para manajemen pusat-pusat pertanggungjawaban akuntansi. 3. Laporan Arus Kas Menyajikan informasi mengenai penerimaan dan pengeluaran kas dan setara kas dalam suatu periode serta peningkatan kas dan setara kas yang dihasilkan dalam suatu periode.

a.

Masyarakat Menggunakan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK no. 45). Hal ini membuat laporan keuangan Universitas Sumatera Utara memiliki karakteristik sendiri yang berbeda dengan laporan keuangan badan usaha yang bersifat bisnis dan badan usaha pada umumnya. Agar penerimaan dan penggunaan dana Universitas Sumatera Utara dapat disajikan dengan akuntabel dan transparan maka Universitas Sumatera Utara Setiap akhir semester dan akhir tahun buku menyusun 3 (tiga) laporan keuangan : 1. Laporan Keuangan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) yang menyampaikan pertanggungjawaban penggunaan Dana APBN yang menggunakan Standar Akuntansi Pemerintah. 2. Laporan Keuangan Dana Masyarakat yang menyampaikan pertanggungjawaban penggunaan Dana Masyarakat yang menggunakan Standar Akuntansi Keuangan. 3. Laporan Keuangan Universitas Sumatera Utara secara keseluruhan yaitu Laporan Keuangan yang berisikan pertanggungjawaban penggunaan Dana APBN dan Dana Masyarakat. Dari ketiga laporan keuangan diatas hanya 2 (dua) yang dilaporkan kepada stakeholder Universitas Sumatera Utara yaitu : 1. Laporan Keuangan pengunaan APBN dilaporkan kepada Pemerintah Pusat (Mendiknas) 2. Laporan Keuangan Universitas Sumatera Utara yang merupakan gabungan Laporan Keuangan SAI dan Laporan Keuangan Dana Masyarakat dilaporkan kepada Menkeu, Mendiknas, Majelis Wali Amanat dan stakeholder lainnya. Sedangkan laporan keuangan ketiga yaitu Laporan Keuangan Dana Masyarakat digunakan untuk keperluan manajemen dan penyusunan Laporan Keuangan Universitas Sumatera Utara Sebagai badan usaha yang bersifat nirlaba, Universitas Sumatera Utara memiliki karakteristik sebagai berikut : a) Taat azas

D)

Karakteristik Akuntansi Keuangan Universitas Sumatera Utara
Universitas Sumatera Utara sebagai Perguruan Tinggi dan sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN) bersifat nirlaba dan memiliki 2 (dua) sumber dana yaitu Dana dari Pemerintah Pusat (APBN) dan Dana Masyarakat yaitu dana yang berasal dari usaha sendiri, bantuan dan sumbangan yang tidak mengikat. Cara melaporkan dari kedua sumber dana ini memiliki Standar Pelaporan Keuangan yang berbeda yaitu Dana APBN berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintah (SAP) sedangkan Dana

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

33

Badan Hukum Milik Negara

Dalam melaksanakan kegiatan keuangannya Universitas Sumatera Utara tetap berpedoman kepada Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Keputusan Menteri Pendidikan Nasional dan peraturan lainnya yang ditetapkan dan sesuai dengan BHMN. b) Tidak bertujuan untuk mengukur laba tujuan Universitas Sumatera Utara tidak untuk memperoleh laba tetapi memberikan pelayanan kepada masyarakat dalam bidang pendidikan dan pengajaran, penilaian serta pengabdian pada masyarakat sehingga harus memberikan informasi keuangan mengenai sumber daya ekonomi dan keuangan yang digunakan untuk pelayanan tersebut. Sesuai dengan PSAK No. 45 sumber daya tersebut diklasifikasikan dalam : (1) Dana terikat adalah : Sumberdaya yang penggunaannya dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyediaan dana. Pembatasan tersebut dapat bersifat sementara dan/atau permanen. a) Dana Tidak Terikat Sementara adalah Pembatasan penggunaan dana oleh pemberi dana, yang menetapkan agar dana tersebut dipertahankan sampai dengan terpenuhinya keadaan tertentu. Apabila ketentuan yang ditetapkan oleh penyumbang telah dipenuhi maka dana tersebut dicatat sebagai dana tidak terikat dan disajikan dalam Laporan Aktivitas sebagai aktivitas bersih yang dibebaskan dari pembatasan. b) Dana Terikat Tetap adalah : Pemberi dana secara eksplisit menyatakan tujuan pemanfaatan dana yang disumbangkan secara permanen, tetapi universitas diizinkan untuk menggunakan sebagian atau semua penghasilan atau manfaat ekonomi lainnya yang berasal dari sumber daya tersebut. (2) Tidak terikat adalah : Sumberdaya yang penggunaanya tidak dibatasi untuk tujuan tertentu oleh penyedia dana.

Sumber Dana Sumber dana keuangan untuk penyelenggaraan, pengelolaan dan pengembangan Universitas sesuai PP 56/2003 pasal 42 berasal dari : a) Dana Pemerintah; b) Dana Masyarakat; c) Usaha dan Tabungan Universitas; d) Bantuan luar negeri yang tidak mengikat. Dana Pemerintah merupakan bantuan yang diterima dari Pemerintah yang berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) serta bantuan Pemerintah lainnya. Dana Masyarakat adalah dana yang bersumber dari masyarakat yang terdiri dari pendapatan pendidikan dan pendapatan non pendidikan.  Pendapatan pendidikan terdiri dari : a) SPP; b) Dana Kelengkapan Akademik; c) Perpustakaan; d) Skripsi; e) Matrikulasi; f) Sumbangan Sukarela. Pendapatan Non Akademik terdiri dari : a) Pendapatan jasa (Manajemen Fee dan Institusional Fee); b)Pendapatan Bandwidth (Internet); c) Pendapatan Sewa; d) Pendapatan Usaha. Dana Lancar Merupakan dana tersedia untuk operasi universitas yang sepenuhnya berbeda dalam kendali universitas. Berdasarkan pembatasannya, dana ini diklasifikasikan menjadi : (1) Dana Lancar Terikat. (2) Dana Lancar Tidak Terikat. Dana Tidak Lancar Dana tidak lancar merupakan dana yang tidak digunakan untuk operasional kegiatan sehari-hari dan dirancang untuk suatu penggunaan tertentu.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

34

Badan Hukum Milik Negara

Dana ini diklasifikasikan menjadi : (1) Dana Sumbangan; (2) Dana Hibah; (3) Dana Zakat. Termasuk dalam dana ini adalah pemberian dari perorangan, badan, dan pemerintah, barupa sumbangan, bantuan, hibah dan zakat yang peruntukannya ditentukan oleh pemberi dana. Beban/Belanja Operasional Sesuai dengan misi dan program dalam Rencana Strategis Universitas Sumatera Utara, penggunaan seluruh sumber dana di atas dalam Laporan Aktivitas untuk tahun 2008 dikelompokan dalam : (1) Beban gaji dan honor; (2) Beban/ Belanja barang; (3) Beban pemeliharaan; (4) Beban perjalanan dinas; (5) Beban Belanja Modal; (6) Beban Lainnya. Satuan Akuntansi Satuan akuntansi merupakan unitunit pertanggungjawaban akuntansi yang dibentuk pada : Biro Pusat Administrasi Universitas Sumatera Utara Unsur pelaksana Administrasi (Biro pendidikan, Biro Keuangan, Biro Kemahasiswaan, Biro Perencanaan dan Biro aset). Fakultas-fakultas beserta seluruh program studi dan unsur pelaksana dibawahnya. Sekolah Pascasarjana beserta seluruh program studi dan unsur pelaksana dibawahnya. Lembaga, Pusat Studi Universitas. Unit Pelaksana Teknis/Unit Penunjang (Kebun Percobaan, Penelitian, Laboratorium, dan lain-lain). Unit Audit Internal.

Kas adalah uang tunai atau deposito di Bank yang dapat digunakan secara bebas untuk keperluan operasional Universitas Sumatera Utara. Setiap penerimaan kas dan setara kas harus segara disetor ke rekening Rektor selambat-lambatnya 2 (dua) hari setelah diterima. b. Piutang Piutang adalah semua tagihan dalam bentuk uang terhadap perorangan,badan usaha atau pihak tertagih lainnya. Piutang SPP diberikan kepada mahasiswa atas persetujuan Dekan dari program studi yang bersangkutan. c. Persediaan Persediaan adalah aktiva lancar yang tersedia untuk digunakan dalam proses pendidikan dan administrasi. Persediaan dinilai berdasarkan harga pasar yang berlaku. d. Tanah Tanah merupakan aset milik negara yang diserahkan kepada Universitas Sumatera Utara untuk digunakan sesuai dengan ketentuannya. Nilai tanah dalam pelaporan keuangan berdasarkan nilai yang ditetapkan oleh Tim Penertiban Aset BPKPUSU. e. Infrastruktur Universitas Sumatera Utara Infrastruktur Universitas Sumatera Utara merupakan sarana dan prasarana dasar yang dimiliki dalam bentuk jalan, bangunan air, jaringan, instalasi dan peralatan, dan mesin yang digunakan dalam pengoperasian instalasi dan jaringan. Nilai infrastruktur dalam pelaporan keuangan berdasarkan nilai yang ditetapkan oleh Tim Penertiban Aset BPKP-USU. f. Gedung dan Bangunan Gedung dan Bangunan adalah aktiva tetap yang dimiliki Universitas Sumatera Utara yang digunakan untuk kegiatan pendidikan, administrasi, kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan dan disewakan. Nilai Gedung dan Bangunan dalam pelaporan

1.

2. 3. 4. 5. 6.

Semua kegiatan dari unit-unit pertanggungjawaban ini dikoordinasikan oleh Bagian Akuntansi yang ada pada Biro Pusat Administrasi Universitas Sumatera Utara. Kebijakan Akuntansi Aset Tetap a. Kas dan Setara Kas

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

35

Badan Hukum Milik Negara

keuangan berdasarkan nilai yang ditetapkan oleh Tim Penertiban Aset BPKP-USU. g. Kendaraan dan Alat Angkutan Kendaraan dan alat angkutan terdiri dari bus, mobil, pickup, dan sepeda motor yang digunakan untuk kegiatan operasional Universitas Sumatera Utara dan untuk disewakan. Nilai Kendaraan dan Alat Angkutan dalam pelaporan keuangan berdasarkan nilai yang ditetapkan oleh Tim Penertiban Aset BPKPUSU. h. Peralatan dan Mesin Peralatan dan Mesin terdiri dari peralatan kantor, laboratorium, kuliah dan mesin (genset) yang digunakan untuk mendukung kegiatan pendidikan dan administrasi Universitas Sumatera Utara. Nilai Peralatan dan Mesin dalam pelaporan keuangan berdasarkan nilai yang ditetapkan oleh Tim Penertiban Aset BPKPUSU. i. Perpustakaan Buku dan Media Buku dan Media perpustakaan dalam pelaporan keuangan ini telah dilakukan penilaian dengan menggunakan pendekatan nilai

pengganti berdasarkan nilai pasar yang wajar serta memperhatikan nilai sisa manfaat. j. Aset Tetap Lainnya Aset Tetap Lainnya adalah: Aset yang tidak dapat diklasifikasikan sebagai tanah, gedung dan bangunan, peralatan mesin, jalan, irigasi dan jaringan. Nilai Aset Tetap Lainnya dalam pelaporan keuangan berdasarkan nilai yang ditetapkan oleh Tim Penertiban Aset BPKP-USU. k. Konstruksi Dalam Pengerjaan Konstruksi dalam pengerjaan dinilai berdasarkan tingkat penyelesaian atas pengerjaan berdasarkan dokumen yang mendukung tingkat penyelesaian atas pekerjaan dimaksud.

Aset Bersih/Ekuitas Dana
Aset bersih/ekuitas dana merupakan selisih antara seluruh kekayaan dikurangi dengan kewajiban Universitas. Jumlah tersebut merupakan seluruh akumulasi dana yang dikelola dan dipertanggungjawabkan. Dalam laporan keuangan seluruh aset bersih per 1 januari 2008 diklasifikasikan sebagai Penyertaan Modal Awal Pemerintah.

Alamat : Universitas Sumatera Utara Jl. Dr. T Mansur No. 9 Medan 20155 (061) 8216575, 8211633 (061) 8219411, 8211822, 8211766

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

36

Badan Hukum Milik Negara

INSTITUT PERTANIAN BOGOR (IPB)

UMUM
Institut Pertanian Bogor Badan Hukum Milik Negara (IPB BHMN) adalah Pendidikan Tinggi Milik Negara, didirikan untuk pertama kali sejak tanggal 1 September 1963 berdasarkan Keputusan Menteri Perguruan Tinggi Ilmu Pengetahuan Nomor 91 Tahun 1963. Keputusan Menteri tersebut kemudian dikukuhkan dengan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 279 Tahun 1965. Terakhir, pada Tahun 2000, dengan Peraturan Pemerintah Nomor 154 tanggal 26 Desember 2000 (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 272) Institut Pertanian Bogor ditetapkan sebagai Badan Hukum Milik Negara (BHMN) yang bersifat nirlaba. Sebagai Badan Hukum Milik Negara, IPB BHMN mandiri dan berhak melakukan pengelolaan sumber daya secara mandiri. Selanjutnya IPB BHMN bersifat nirlaba karena kegiatan oprasionalnya tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan. Dengan penetapannya sebagai BHMN tersebut maka : 1.) Pengelolaan sumber daya menjadi mandiri. 2.) Kekayaan IPB BHMN merupakan kekayaan negara yang dipisahkan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. 3.) Untuk membiayai kegiatannya, IPB BHMN memperoleh dana dari pemerintah, masyarakat, pihak luar negeri, serta usaha, dan tabungan Institut. Penerimaan tersebut bukan merupakan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Sesuai kompetisinya, IPB BHMN menyelenggarakan pendidikan tinggi di bidang pertanian tropika, menyelenggarakan penelitian dan pengabdian pada masyarakat, menyelenggarakan kegiatan lain, dan mendirikan fungsi-fungsi utamanya sebagai Perguruan Tinggi.

Pendidikan yang diselenggarakan IPB BHMN terdiri dari Pendidikan Akademik (S1, S2, S3) dan Pendidikan Profesional (Diploma), Sekolah Manajemen Bisnis (dahulu MMA). Mulai tahun 2005 secara bertahap Program Diploma. 1.) Pendidikan Akademik bertujuan menyiapkan peserta didik untuk menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dalam menerapkan, mengembangkan, dan/atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian serta menyebar luaskan, dan mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat, dan memperkaya kebudayaan nasional. 2.)Pendidikan Profesional bertujuan menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan profesional dalam menerapkan, mengembangkan, menyebarluaskan teknologi dan/atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat, dan memperkaya kebudayaan nasional. Pendidikan akademik, dan pendidikan professional diatas diselenggarakan oleh Sembilan Fakultas, terdiri atas: (1) Fakultas Pertanian, (2) Fakultas Kedokteran Hewan, (3) Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, (4) Fakultas Peternakan, (5) Fakultas Kehutanan, (6) Fakultas Teknologi Pertanian, (7) Fakultas Matematika dan IPA, (8) Fakultas Ekonomi dan Manajemen dan, (9) Fakultas Ekologi Manusia. Susunan kepengurusan IPB BHMN pada saat ini adalah sebagai berikut :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

37

Badan Hukum Milik Negara

a) Pengurus
1. Wali Amanat Ketua: Prof.Dr.Ir.Didik J.Rachbini,M.Sc Wakil Ketua: Dr.Ishartanto,SE,MM Sekertaris Prof.Dr.Ir.Tridoyo Kusumastanto,MS Pimpinan  Rektor : Dr.Ir.H.Herry Suhardiyanto,M.Sc  Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan : Prof.Dr.Ir.Yonny Koesmaryono  Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Pengembangan : Prof.Dr.Ir.H.Hermanto Siregar,M.Ec  Wakil Rektor Bidang Riset dan Kerjasama : Dr.Ir.Anas Miftah Fauzi,M.Eng  Wakil Rektor Bidang Bisnis dan Komunikasi : Dr.Ir.Arif Imam Suroso,M.Sc

1.

2.

2.

3.

4.

Menyelenggarakan pendidikan tinggi bermutu tinggi dan pembinaan kemahasiswaan yang komprehensif dalam rangka meningkatkan daya saing bangsa. Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan kebutuhan masyarakat agraris dan bahari pada masa sekarang dan kecenderungan pada masa yang akan datang. Membangun sistem manajemen tinggi yang berkarakter kewirausahaan, efektif, efesien, transparan dan akuntabel. Mendorong terbentuknya masyarakat madani berdasarkan kebenaran dan hak azasi manusia.

Tujuan IPB BHMN
Untuk menyelenggarakan misi dan mencapai visi IPB, dirumuskan tujuan yang harus dicapai IPB yaitu : 1. 2. Menghasilkan lulusan yang bermutu yang mampu mengembangkan dan menerapkan IPTEKS. Memberikan inovasi IPTEKS ramah lingkungan untuk mendukung pembangunan nasional melalui perwujudan negara agraris dan bahari dan memperbaiki kesejahteraan umut manusia. Menjadikan IPB sebagai lembaga pendidikan tinggi yang siap menghadapi tuntutan masyarakat dan tantangan pembangunan yang berubah dengan cepat secara nasional dan global. Menjadikan IPB sebagai kekuatan moral dalam masyarakat madani dan Indonesia.

b) Visi,Misi, dan Tujuan IPB Visi IPB BHMN
Memperhatikan kompetensi utamanya dibidang pertanian tropika dan sejalan dengan perubahan statusnya menjadi BHMN, IPB BHMN menetapkan visi, seperti yang dituangkan dalam Rencana Strategis IPB tahun 2008-2013 sebagai berikut. “Menjadi perguruan tinggi berbasis riset kelas dunia dangan kompetensi utama pertanian tropika dan biosains serta berkarakter kewirausahaan”

3.

4.

1.1. PENDIDIKAN
Kinerja IPB BHMN dalam bidang pendidikan yang telah dicapai pada tahun 2008 adalah sebagai berikut : 1. Promosi program pendidikan, termasuk program Beasiswa Utusan Daerah (BUD) berhasil menjaring jumlah mahasiswa yang mendaftar melebihi target semula.

Misi IPB BHMN
Untuk mewujudkan visi IPB BHMN dirumuskan misi ke dalam pilar-pilar program kerja utama IPB BHMN sebagai berikut :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

38

Badan Hukum Milik Negara

2. Telah diselesaikan administrasi dan seleksi penerimaan 3.269 orang mahasiswa baru program sarjana. 3. Telah diluluskan mahasiswa program diploma (passing-out), diplomak, sarjana, magister, dan doktor masingmasing 1.049, 3.046, 727 orang dari 189 lulusan. 4. Telah dilakukannya perbaikan metode pengajaran beberapa mata kuliah di Departemen yang mendapatkan dana program hibah kompetitif A2, A3 dan PHKI. 5. Telah ditingkatkannya jumlah koleksi buku teks dan jurnal ilmiah, melalui program hibah kompititif A2, A3, PHKI, serta anggaran belanja dari pemerintah lainnya. 6. Telah ditingkatkannya jumlah mahasiswa yang terlibat dalam penelitian dosen terutama pada Departemen yang mendapatkan dana program hibah kompetitif A2,A3 dan PHKI. 7. Telah dilakukannya pengembangan minat dan bakat melalui kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa. 8. Telah dilakukannya pengembangan penalaran mahasiswa. 9. Telah ditingkatkannya kesejahteraan mahasiswa melalui Program Penyangga Kesehatan Mahasiswa (PPKM) dan penyediaan asrama. 10. Telah disetujuinya 2 program baru pengembangan melalui program hibah kompetitif A2, A3, PHKI. Dalam tahun 2008, jumlah mahasiswa yang mengikuti pendidikan di IPB BHMN sebanyak 19.655 orang, terdiri dari : (1) Mahasiswa Program Sarjana (a) Program S1 (b) TPB : 13.515 orang : 3.269 orang

pengelolaannya dibawah Direktorat Diploma. Adapun perkembangan jumlah mahasiswa dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 dapat dilihat pada Gambar 1 berikut :

1.2. PENELITIAN DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
Capaian kinerja IPB BHMN dalam bidang penelitian dan pemberdayaan masyarakat meliputi : a. Penelitian 1.Telah meningkatnya jumlah penelitian yang dibiayai dari Pemerintah. 2.Telah terbangunnya kerja sama penelitian dengan instansi lain. b. Pemberdayaan Masyarakat 1.Telah dicapainya kerjasama pemberdayaan masyarakat. 2.Telah dilakukannya monitoring dan evaluasi kerjasama pemberdayaan masyarakat. Perkembangan penelitian, Dosen terlibat dan mitra kerja dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2007 menunjukkan bahwa jumlah penelitian dan jumlah dosen yang terlibat selalu berfluktuasi, tetapi di tahun 2008 jumlah judul penelitian, dosen yang terlibat dan jumlah mitra kerja penelitian yang teridentifikasi LPPM menunjukkan peningkatan. Hal ini dapat dilihat pada gambar 2 berikut : Jumlah penelitian di tahun 2008 sebanyak 50 orang dilaksanakan melalui kerjasama penelitian antara IPB dengan instansi pemerintah dan swasta diantaranya adalah Direktorat Pendidikan Tinggi, Depertemen Pertanian, KNRT masing-masing 1 kontrak kerjasama dari Pemerintah Daerah dan Swasta.

(2) Mahasiswa Program S2 : 3.993 orang (3) Mahasiswa Program S3 : 1.627 orang (4) Mahasiwa Program Diploma Basis Direktorat : 622 orang Mahasiswa yang pengelolaannya dibawa Kementerian dan dikenal dengan istilah Passing out hingga periode tahun 2008 telah di wisuda sehingga jumlah mahasiswa diploma tercatat sejumlah 622 orang yang

1.3. KEGIATAN PENUNJANG
a) Organisasi Organisasi IPB BHMN terdiri dari pengelola, pelaksana akademik, pelaksana administrasi, penunjang dan organisasi lain.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

39

Badan Hukum Milik Negara

1) 2)

3)

4)

Pengelola akademik terdiri atas Majelis Wali Amanat, Dewan Audit, Senat Akademik dan Pimpinan. Pelaksana akademik terdiri atas Fakultas, Sekolah Pascasarjana, Jurusan, Bagian, Lembaga, Pusat, dan bentuk lain seperti Direktorat Pendidikan Tingkat Persiapan Bersama dan Direktorat Diploma. Pelaksana administrasi terdiri atas Direktorat atau Kantor, Sub Direktorat, Kasi dan unit-unit khusus seperti University Farm. Penunjang akademik terdiri atas Perpustakaan, Laboratorium, Bengkel, Pusat Informasi, Kebun Percobaan (University Farm) dan Keamanan.

c) Keuangan Realisasi kegiatan yang telah dilakukan dalam bidang Manajemen Keuangan pada tahun 2008 adalah sebagai berikut : 1) Telah diimplementasikannya mekanisme alokasi dana melalui SPPA. 2) Telah dilaksanakannya perhitungan posisi kas dana masyarakat SPP pada unit kerja pelaksana akademik dan Rektorat. 3) Telah diterbitkan SK Rektor mengenai pembebanan daya dan jasa tahun 2003 dan SK Rektor mengenai tarif BPMK dan BPMP. 4) Telah disusunnya Laporan Keuangan IPB BHMN tahun 2007 yang di Audit Internal dengan mendapatkan Opini Wajar Dengan Pengecualian (WDP). 5) Telah cukup lancarnya disbursement ke unit pelaksana akademik. Untuk membiayai kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, IPB BHMN memperoleh pendapatan dari Dana Masyarakat dan bantuan dari Pemerintah. (1) Pendapatan dari Dana Masyarakat (DM) berasal dari :  SPP mahasiswa yang mengikuti pendidikan di IPB BHMN.  Non SPP meliputi pendapatan penerimaan mahasiswa baru, beasiswa, dan auxiliary enterprice (karcis parkir, asrama mahasiswa, jasa giro dan deposit dan lain sebagainya). (2) Bantuan dari pemerintah diterima dalam bentuk APBN yang tertuang dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) Tahun 2008. Dalam tahun 2008 perolehan dana mencapai Rp456.547.322.153,00 terdiri dari Realisasi penggunaan anggaran rutin dari dana APBN (DIPA) dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Pada tahun 2008 anggaran DIPA yang dialokasikan sebesar Rp166.619.024.000,00 ditambah hibah PHKI dari Dikti sebesar Rp10.473.376.700,00 dan diserap sebesar Rp171.105.801.647,00 (102,77%); untuk membiayai belanja pegawai sebesar Rp105.934.709.619,00 (107,19%); dialokasikan untuk belanja barang sebesar

b) Sumberdaya Manusia (SDM) Sesuai pasal 58 ayat 2 PP Nomor 154/2000, masa peralihan perubahan penyelenggaraan Institut dari status Perguruan Tinggi Negara menjadi Badan Hukum Milik Negara adalah lima tahun, kecuali pengalihan status Pegawai Negeri Sipil menjadi pegawai Institut dilaksanakan selama-lamanya dalam jangka waktu sepuluh tahun (pasal 49 ayat 1). Sumberdaya manusia (SDM) tang dimiliki IPB BHMN terdiri dari tenaga pengajar dan tenaga kependidikan masing-masing sebanyak 1.274 orang dan 1.505 orang. Tenaga pengajar sebanyak 1.274 orang tersebut terdiri dari S1 192 orang, S2 456 orang dan S3 626 orang. Perkembangan SDM Tenaga Pendidik dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 dapat dilihat pada gambar 3 berikut : Sedangkan Tenaga kependidikan sebanyak 1.505 orang terdiri dari SD 197 orang, SMP 110 orang, SMA 824 orang, Diploma 130 orang, S1 203 orang, S2 37 orang, dan S3 4 orang. Perkembangan SDM dari tahun 2003 sampai dengan tahun 2008 dapat dilihat pada gambar 4 berikut : Tenaga Kependidikan yang dikategorikan berdasarkan jenis pekerjaan terdiri dari tenaga administrasi sebanyak 1.171 orang, tenaga pustakawan sebanyak 33 orang, tenaga teknisi laporan sebanyak 221 orang, tenaga satpam sebanyak 46 orang, tenaga pranata humas sebanyak 11 orang, dan tenaga arsiparis sebanyak 23 orang. Komposisi tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

40

Badan Hukum Milik Negara

Rp10.023.193.000,00 (90,66%); dialokasikan untuk belanja modal sebesar Rp 32.388.615.316,00 (95,10%) dan dialokasikan untuk belanja bantuan sosial sebesar Rp 23.695.352.000,00 (99,94%). Dana dari PHKI sebesar Rp10.473.376.700,00 . d) Pembangkitan Pendapatan Pekerjaan yang telah direalisasikan pada tahun 2008 dalam bidang pembangkitan pendapatan adalah telah diperolehnya ijin pemanfaatannya tanah bagi usaha BAC sebagai usaha holding company dan zona bisnisnya telah mulai melakukan market trial. e) Properti Barang-barang modal terdiri dari tanah dan bangunan masing-masing seluas 665,2 ha dan 431.424 m2, serta perlengkapannya berupa meubelair dan inventaris, serta bahan-bahan penunjang, yang secara keseluruhan nilai perolehannya mencapai Rp732 milyar. Capaian dalam bidang fasilitas dan properti yang telah dicapai IPB BHMN pada tahun 2008 adalah sebagai berikut :

1) 2) 3)

Telah diperbaikinya berbagai ruangan kuliah dan laboratorium serta ruangan administrasi/kantor. Telah diperbaikinya sarana dan prasarana transportasi dan air bersih di Kampus Darmaga. Telah diserahkannya kekayaan negara yang tertanam di IPB BHMN sebagai kekayaan IPB BHMN dan sedang dilakukan proses inventaris ulang oleh DJKN dan BKPK dari mulai diserahkan.

f) Manajemen Informasi dan Komunikasi Kegiatan yang telah berhasil direalisasikan pada tahun 2007 meliputi 1) Band width akses internet telah ditingkatkan dari 6 Mbps menjadi 10 Mbps,2). Telah berjalannya sistem pendaftaran online bagi mahasiswa program sarjana mayor-minor, dan 3). Telah dikembangkannya sistem akses informasi melalui mobile phone. Di tahun 2008 sudah dilakukan peningkatan kapasitas Band width dari 10 hingga 30 Mbps melalui sumber dana ITC.

Alamat : Institut Pertanian Bogor Kampus IPB Darmaga, Bogor – Jabar Jl. Lingkar Akademik (0251) 8622642 (0251) 8622708

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

41

Badan Hukum Milik Negara

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG (ITB)

PENDAHULUAN I.1 Umum
Institut Teknologi Bandung merupakan organisasi/institusi nirlaba yang ditetapkan sebagai perguruan tinggi berbentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN) berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) 155 Tahun 2000. Sesuai dengan Pasal 5 PP tersebut, ITB merupakan lembaga pendidikan berbasis penelitian yang memadu perkembangan dan perubahan yang dilakukan masyarakat melalui kegiatan utama, yaitu Tridharma Perguruan Tinggi yang inovatif, bermutu dan tanggap terhadap perkembangan dan tantangan lokal maupun global. Kegiatan-kegiatan ITB-BHMN dilaksanakan oleh satuan kegiatan sesuai dengan bidangnya masing-masing yaitu : 1. Bidang Pendidikan, Penelitian dan Pengabdian Masyarakat dilaksanakan oleh Satuan Akademik (SA); 2. Bidang Pengelolaan Kekayaan dan Dana Abadi, Kekayaan Intelektual, serta Pemberian Perlindungan dan Peningkatan Kesejahteraan Pegawai dilaksanakan oleh Satuan Kekayaan dan Dana (SKD); 3. Bidang Kegiatan yang menunjang Pendanaan Penyelenggaraan Tridharma Perguruan Tinggi dilaksanakan oleh Satuan Usaha Komersial (SUK).

I.2 Susunan Pengurus ITBBHMN
Kepemimpinan ITB-BHMN setelah dibentuk menjadi BHMN memiliki 3 (tiga) unsur utama yakni : 1. Majelis Wali Amanat (MWA); 2. Senat Akademik; 3. Majelis Guru Besar.

Struktur organisasi ITB-BHMN dibentuk oleh tiga satuan kegiatan, yaitu :
1. Satuan Akademik (SAK) Struktur organisasi Satuan Akademik ditetapkan melalui Surat Keputusan Rektor Nomor 012/SK/K01/OT/2005 tanggal 7 Febuari 2005 tentang Perubahan Struktur Organisasi Satuan Akademik ITB-BHMN dan telah disetujui MWA dengan Surat Keputusan MWA Nomor 016/K01-MWA/2005 tanggal 7 Februari 2005 tentang Persetujuan Jumlah dan Pembidangan Tugas Rektor ITB-BHMN. Terakhir struktur organisasi ITB-BHMN telah mengalami perubahan sesuai Surat Keputusan Rektor Nomor 12/SK/K01/OT/2005 tentang Perubahan Struktur Organisasi Satuan Akademik ITB-BHMN dan disempurnakan melalui Surat Keputusan Rektor Nomor 104/SK/K01/OT/2005 tanggal 31 Mei 2005 tentang Organisasi di bawah Koordinasi Wakil Rektor Senior dan Wakil Rektor, maka terhitung mulai tanggal terbitnya SK Rektor di atas, maka struktur organisasi Satuan Akademik mengalami perubahan

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

42

Badan Hukum Milik Negara

dengan susunan kepengurusan sebagai berikut : Rektor : Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso, M.Sc Wakil Rektor Senior Bidang Akademik : Prof. Dr. Ir. Adang Surahman Wakil Rektor Senior Bidang Sumber Daya: Prof. Dr. Ir. Carmadi Machbub Wakil Rektor Bidang Penelitian Kemitraan/Ketua LPPM: Prof. Dr. Ir. Emmy Suparka dan

Ketua Badan Pengelola : Ir. Hilmi Panigoro, M. Sc., MBA. Sekretaris : Ir. Erwin S. Sadirsan Wakil Ketua Bidang Operasi : Ir. Bakti S. Ludin, MBA. Keuangan : Mary Handoko Wijoyo Direktur Eksekutif : Yoes Avianto Program Kerja SKD ITB-BHMN dibagi dua menurut kebijakan ITB-BHMN, yaitu program kelangsungan operasi dan transportasi, dengan fokus pada program kelangsungan operasi. a. Kelangsungan Operasi Mempunyai sasaran untuk memenuhi semua unsur kelengkapan organisasi sehingga dapat mendukung program Transportasi, yang terdiri dari :  Program pengembangan SDM  Program pengembangan fasilitas dan prosedur.  Program pengembangan konsep dana kesejahteraan dan dana kekayaan intelektual. Transportasi Mempunyai sasaran mensosialisasikan konsep Dana Lestari ITB-BHMN dan konsep philanthropy, yang terdiri dari  Program pengembangan jaringan donatur Meliputi program sosialisasi philanthropy kepada alumni, orang tua mahasiswa, dan sistem pendukung seperti pembuatan database target donatur dan pembuatan server komputer.  Program pengembangan hubungan internal dan eksternal Meliputi program kerjasama dengan instansi-instansi internal ITB-BHMN, dan eksternal ITBBHMN, seperti dengan fakultas, IOM, IA ITB-BHMN, perusahaanperusahaan, dan yayasan/foundation baik dalam maupun luar negeri.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Ketua LPKM : Dr. Ir. Widyo Nugroho Wakil REKTOR Bidang Organisasi dan Perencanaan : Ir. Leksananto G, M. Eng Wakil Rektor Bidang Komunikasi dan Kesekretariatan : Dr. B. Kombaitan, M. Sc. Ketua Satuan Penjaminan Mutu : Prof. Dr. Deny Juanda Puradimadja Ketua Satuan Pengawas Internal : Dr. Asep Gana Suganda 2. Satuan Kekayaan dan Dana (SKD) Satuan Kekayaan dan Dana (SKD) ITBBHMN berfungsi untuk menangani dana non komersial ITB-BHMN meliputi dana lestari dan dana kekayaan intelektual, sehingga untuk selanjutnya Satuan Kekayaan dan Dana dapat mendukung Satuan Akademik sebagai satuan utama dalam ITB-BHMN dan/atau kesejahteraan. Saat ini, SKD lebih terfokus dalam menangani Dana Lestari ITB-BHMN. Pembentukan badan pengelola Satuan kekayaan dan dana berdasarkan peraturan MWA nomor 3/P/MWA/2002 tentang pimpinan dan badan pengelola SKD, kemudian diubah dengan peraturan MWA nomor 9/P/MWA/SKD/2003 tentang badan pengelola SKD yaitu :

b.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

43

Badan Hukum Milik Negara

Program khusus meliputi program mahakarya ITB-BHMN dan program temu alumni ITBBHMN.

Nara Sumber: 1. Rektor 2. Wakil Rektor Senior Bidang Sumber Daya Ketua: Prof. Dr. R. Bambang Budiono, ME Wakil Ketua: Ir. Lambok R. Hutasoit. Ph.D. Sekretaris: Suprayogi, Ph.D

3. Satuan Usaha Komersial Satuan Usaha Komersial didirikan sesuai dengan Surat Keputusan Rektor ITB-BHMN Nomor 118/SK/K01/OT/2004 tanggal 14 Juli 2004 tentang Pendirian Satuan Usaha Komersial (SUK) Institut Teknologi Bandung dan Keputusan MWA/2004 tentang Pendirian SUK. Susunan organisasi terdiri dari Badan Normatif dan Badan Pengelola yaitu Badan Normatif adalah badan yang memberikan pengarahan dan pertimbangan kepada Badan Pengelola Satuan Usaha Komersil untuk pengembangan kegiatan komersil Unit Usaha Komersil dan Badan Pengelola adalah Badan yang bertugas untuk membentuk Unit Usaha Komersil dan menetapkan sistem pengelolaannya. Dasar Hukum Satuan Usaha Komersial (SUK), antara lain : a. Peraturan Majelis Wali Amanat ITBBHMN nomor 6/P//MWA/2002, tentang Badan Pengelola Satuan Usaha Komersial ITB-BHMN, tanggal 21 September 2002; b. Peraturan Majelis Wali Amanat ITBBHMN Nomor 7/P/MWA/2002, tentang Unit Usaha Komersil ITBBHMN, tanggal 21 September 2002; c. Peraturan Majelis Wali Amanat ITBBHMN Nomor 2/ART/MWA/2002 tentang Anggaran Rumah Tangga Satuan Usaha Komersial, tanggal 21 September 2002; d. Peraturan Majelis Wali Amanat ITBBHMN Nomor 8/P/MWA/2002, tentang Tata Cara Pengelolaan Dana Masyarakat ITB-BHMN, tanggal 30 Nopember 2002. Susunan kepengurusan SUK Tahun 2007 sesuai dengan Keputusan Rektor Nomor: 027/SK/K01/KP/2007 tentang Pengangkatan Ketua Badan Pengelola Satuan Usaha Komersial (BP SUK) Institut Teknologi Bandung Periode 2007-2012 sehingga susunan Pengurus baru BP SUK adalah :

SISTEM DAN MANAJEMEN KEUANGAN II.1. Sistem Keuangan dan Akuntansi ITB
Perubahan bentuk hukum Perguruan Tinggi Negeri (PTN) menjadi bentuk Badan Hukum Milik Negara (BHMN) berdampak pada perubahan seluruh Sistem Pengelolaan Institute, termasuk Sistem dan Prosedur Keuangan. Manajemen keuangan ITB-BHMN berubah dari Sistem Anggaran Berimbang dan Sistem Akuntansi Instansi menjadi Sistem Anggaran Defisit dan Sistem Akuntansi Keuangan. Sistem Akuntansi yang dilaksanakan ITBBHMN menganut dual system, yaitu Akuntansi Keuangan (Financial Accounting) dan Akuntansi Pemerintah (Governmental Accounting). Hal ini dilaksanakan dikarenakan belum adanya peraturan maupun pedoman resmi dari pemerintah mengenai kewajiban akuntansi dan pelaporan dengan satu sistem yang dibakukan untuk perguruan tinggi berbentuk Badan Hukum Milik Negara. Untuk tujuan pelaporan keuangan ITBBHMN sebagai organisasi nirlaba, mulai tahun 2003 proses akuntansi dan pelaporan telah menggunakan Standar Akuntansi Keuangan nomor 45 sebagai prinsip pelaporan keuangan. Di dalam kerangka ITB-BHMN ini, kegiatan operasional bidang keuangan tersebut

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

44

Badan Hukum Milik Negara

dijalankan oleh Direktorat Keuangan yang berada dalam lingkup kerja Wakil Rektor Senior Bidang Sumber Daya. Fungsi Direktorat Keuangan adalah menjalankan kegiatan penganggaran perbendaharaan, monitoring dan pengendalian implementasi anggaran, serta evaluasi kinerja keuangan ITB-BHMN. Sistem Keuangan ITB-BHMN memiliki ciri utama sebagai berikut : a. Rencana Kerja disusun berdasarkan rencana kegiatan (program) unit kerja. Rencana Anggaran disusun berdasarkan Rencana Kerja (Rencana Anggaran merupakan derivasi Rencana Kerja). Artinya, mekanisme penyusunan anggaran (dalam RKA) berdasarkan kegiatan (activity based costing); b. Realisasi anggaran dilaksanakan melalui mekanisme block grant ke unit kerja (fakultas) dalam bentuk Alokasi Dana Operasional (ADO), Alokasi Dana Pengembangan Institusi (ADP), Alokasi Dana Bagi Hasil (ADB), dan Alokasi Dana Khusus(ADK); c. Sistem realisasi RKA dilakukan melalui FRA setelah mendapat persetujuan dari Majelis Wali Amanat (MWA), sehingga pengelolaan dan pelaporan selain dilakukan oleh Direktorat Keuangan

diharapkan juga dapat dikoordinasikan oleh satu unit kerja yang terkait; d. Sistem pengelolaan dana dilakukan dengan metode impress fund; e. Sistem ekonomi perbankan (banking economic) dalam kerangka treasury single account; f. Sistem pemotongan, penyetoran, dan pelaporan pajak dikoordinasikan oleh seksi perpajakan secara terpusat di Direktorat Keuangan ITB; g. ITB dibagi menjadi Unit Kerja Akademik (UKA) yang menjalankan kegiatan pendidikan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat dan Unit Kerja Pendukung (UKP) yang mendukung kegiatan yang dilaksanakan oleh UKA; h. Desentralisasi pencatatan, pelaporan, dan pertanggungjawaban penggunaan dana keunit kerja; i. Pencatatan dan penyusunan laporan keuangan ITB (Neraca, Laporan Arus Kas, Laporan Perubahan Aktivitas dan Laporan Aktivitas), sesuai PP 155/2000; j. Penyusunan laporan keuangan didasarkan antara lain pada PSAK 45; k. Metode pencatatan adalah Double entry system dan dasar pencatatan adalah accrual basis; l. Sistem pengolahan dan pelaporan keuangan diolah dengan aplikasi Oracle Financial.

Alamat : Institut Teknologi Bandung Jl. Tamansari No. 64 Bandung 40116 (022) 2503147 Pes. 12201 (022) 4234413

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

45

Badan Hukum Milik Negara

BADAN PELAKSANA KEGIATAN USAHA HULU MINYAK DAN GAS BUMI

Badan pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi dibentuk berdasarkan amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas bumi pada tanggal 23 Nopember 2001 dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2002 tanggal 16 Juli 2002 tentang Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi dengan status Badan Hukum Milik Negara. Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 fungsi pengawasan dan pembinaan kegiatan Kontrak Kerjasama atau Production Sharing Contract (PSC) yang sebelumnya dilaksanakan oleh PERTAMINA kini dilaksanakan oleh BP MIGAS. Dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 tersebut ditegaskan bahwa minyak dan gas bumi sebagai sumber daya alam strategis tak terbarukan yang terkandung di dalam Wilayah Hukum Pertambangan Indonesia merupakan kekayaan nasional yang dikuasai Negara. Penguasaan Negara tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah sebagai pemegang Kuasa Pertambangan dan selanjutnya Pemerintah membentuk Badan Pelaksana untuk melakukan pengendalian Kegiatan Usaha Hulu bidang Minyak dan Gas Bumi.

Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.  Mendukung terciptanya iklim investasi yang kondusif bagi Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.  Meningkatkan kompetensi organisasi yang profesional dalam melakukan pengawasan dan pengendalian.

Tugas
 Memberikan pertimbangan kepada Menteri atas kebijaksanaannya dalam hal penyiapan dan penawaran Wilayah Kerja serta Kontrak Kerja Sama.  Melaksanakan penandatanganan Kontrak Kerja Sama.  Mengkaji dan menyampaikan rencana pengembangan lapangan yang pertama kali akan diproduksikan dalam suatu Wilayah Kerja kepada Menteri untuk mendapatkan persetujuan.  Memberikan persetujuan rencana pengembangan lapangan selain sebagaimana dimaksud diatas.  Memberikan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran.  Melaksanakan monitoring dan melaporkan kepada Menteri mengenai pelaksanaan Kontrak Kerja Sama.  Menunjuk penjual minyak bumi dan/atau gas bumi bagian negara yang dapat memberikan keuntungan sebesarbesarnya bagi Negara. Terkait dengan kegiatan pengawasan pelaksanaan Kontrak Kerja Sama, BP MIGAS membuat Informasi Keuangan Kontrak Kerja Sama dari Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.

a. Misi, Tugas dan Wewenang BPMIGAS
Berdasarkan Amanat Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 dan Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2002, misi, tugas dan wewenang BPMIGAS adalah sebagai berikut :

Misi
 Melakukan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan kontrak kerja sama untuk menjamin efektifitas dan efisiensi Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi.  Mengupayakan tersedianya minyak dan gas bumi dari hasil Kegiatan Usaha Hulu untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.  Mengutamakan pemanfaatan sumberdaya nasional yang terkait dengan

Wewenang
 Membina kerjasama dalam rangka terwujudnya integrasi dan sinkronisasi kegiatan operasional kontraktor Kontrak Kerja Sama.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

46

Badan Hukum Milik Negara

 Merumuskan kebijakan atas anggaran dan program kerja Kontraktor Kontrak Kerja Sama.  Mengawasi kegiatan utama operasional Kontraktor Kontrak Kerja Sama.  Membina seluruh aset Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang menjadi milik negara.  Melakukan Koordinasi dengan pihak dan/atau instansi terkait yang diperlukan dalam pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu. Pada tanggal 31 Desember 2009, susunan manajemen BP MIGAS adalah sebagai berikut : Kepala BP MIGAS : R. Priyono Wkl. Kepala BP MIGAS : Hadi Purnomo Deputi Perencanaan : Achmad Luthfi Deputi Operasi : Budi Indianto Deputi Pengendalian Keu. : W.S. Wirjawan Deputi Umum :Hardiono Deputi Evaluasi : Lambok Hutauruk

Kontraktor 1. BOB PT.BSP-PERTAMINA HULU 2. CPI 3. CPI 4. CPI 5. CONOCOPHILLIPS 6. EXXONMOBIL OIL 7. EXXONMOBIL OIL 8. TRIANGEL PASE INC. 9. KALILA (KORINCI BARU) 10. KONDUR PETROLEUM 11. MEDCO E&P MALAKA 12. PEARL OIL 13. PETROCHINA INT’L LTD. 14. PETROSELAT LTD. 15. PREMIER OIL 16. STAR ENERGY LTD. 17. JOB (PSC) COSTA IGL 18. PHE COSTA – JOB P COSTA INT’L 19. JOA (PSC) CONOCOPHILLIPS 20. PHE SOUTH-JAMBI JOB P COPHI Area 1. CPP 2. MFK-PSC 3. SIAK-PSC 4. ROKAN-PSC 5. SOUTH NATUNA SEA-B 6. BEE 7. NSO 8. PASE 9. KORINCI 10. MALACCA STRAIT 11. AREA “A” NORTH SUMATRA 12. TUNGKAL 13. JABUNG 14. SELAT PANJANG 15. NATUNA SEA “A” 16. KAKAP 17. GEBANG 18. GEBANG 19. SOUTH JAMBI 20. SOUTH JAMBI Region II :  Sumatera Selatan  Jawa Kontraktor 1. PHE WEST JAVA 2. CAMAR RES. CANADA 3. CNOOC SES LTD 4. CONOCOPHILLIPS (GRISSIK) 5. KANGEAN ENERGY INDONESIA 6. HESS PANGKAH LTD. 7. LAPINDO BRANTAS, INC. 8. MEDCO E&P INDONESIA 9. MEDCO E&P INDONESIA

Wilayah Kerja Dan Kontrak Kerja Sama
Selama tahun 2009, telah ditandatangani kontrak 34 wilayah kerja baru dan terdapat 6 wilayah kerja yang telah diakhiri kontrak kerja samanya karena tidak menemukan cadangan yang ekonomis di wilayah kerja tersebut. Dengan adanya penambahan dan pengembalian wilayah kerja tersebut, maka pada akhir tahun 2009 BPMIGAS menangani 228 wilayah kerja yang terdiri dari : 67 wilayah kerja sudah berproduksi, 151 wilayah kerja yang masih dalam tahap eksplorasi dan 10 wilayah kerja dalam proses terminasi. Sejak tahun 2002 sampai akhir 2009 atau periode Undang-Undang Minyak dan Gas Bumi yang baru, telah ditandatangani 152 kontrak migas yang terdiri dari : 131 kontrak PSC, 1 kontrak jasa, dan 20 kontrak Gas Metana Batubara (GMB). Dalam kegiatan usahanya BPMIGAS melakukan kontrak kerjasama (KKS) produksi dengan kontraktor-kontraktor minyak seperti disebutkan dibawah ini : Region I :  Sumatera Utara  Sumatera Bagian Tengah  Natuna

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

47

Badan Hukum Milik Negara

10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25.

MEDCO E&P INDONESIA PETROCHINA LTD. SANTOS PTY. LTD. SANTOS PTY. LTD. JOB (PSC) HESS PHE JAMBI MERANG – JOB P HESS JOB (PSC) GOLDEN SPIKE PHE RAJA TEMPIRAI – JOB P GSIL JOB (PSC) PETROCHINA E.JAVA PHE TUBAN E. JAVA – JOB P PEJ JOB (PSC) TALISMAN – OK PHE OGAN KOMERING – JOB P TOKL JOA (PSC) KODECO PHE W KODECO – JOA P W MADURA MOBIL CEPU LTD. SELERAYA

Area 1. ONWJ 2. BAWEAN 3. SE. SUMATERA 4. CORRIDOR – PSC 5. KANGEAN 6. PANGKAH 7. BRANTAS 8. LEMATANG 9. BARISAN RIMAU 10. S DAN C SUMATERA 11. BANGKO 12. MADURA 13. SAMPANG 14. JAMBI MERANG 15. JAMBI MERANG 16. RAJA PENDOPO 17. RAJA BLOCK 18. TUBAN 19. TUBAN 20. OGAN KOMERING 21. OGAN KOMERING 22. WEST MADURA 23. WEST MADURA 24. CEPU BLOCK 25. MERANGIN II Region III  Kalimantan  Indonesia Bagian Timur

Kontraktor 1. CHEVRON IND. 2. CHEVRON IND. 3. CITIC SERAM ENERGY LTD. 4. ENERGY EQUITY 5. I N P E X 6. KALREZ PETROLEUM 7. MEDCO E&P INDONESIA 8. PETROCHINA INT’L (BERMUDA) LTD. 9. OTTAL E&P IND. 10. V I C O 11. JOB (PSC) MEDCOE&P TOMORI 12. PHE MEDCO TOMORI – JOB P MEDCO 13. JOB (PSC)PETROCHINA SALAWATI 14. PHE SALAWATI JOB P PS 15. JOB (PSC) TOTAL- TENGAH 16. PHE TENGAH K- JOB P TENGAH 17. PT PERTAMINA EP 18. BENUO TAKA 19. BP BERAU 20. BP MUTURI 21. BP WIRIAGAR 22. MANHATTAN KALIMANTAN INVESTMENT Area 1. E.KALIMANTAN 2. MAKASAR STRAIT 3. SERAM NON BULA 4. SENGKANG 5. E.KALIMANTAN 6. BULA SERAM 7. TARAKAN 8. SALAWATI BASIN, PAPUA 9. MAHAKAM 10. SANGA-SANGA 11. SENORO TOILI, SULAWESI 12. SENORO TOILI, SULAWESI 13. KEPALA BURUNG, PAPUA 14. KEPALA BURUNG, PAPUA 15. TENGAH 16. TENGAH 17. INDONESIA 18. WAILAWI BLOCK 19. BERAU BLOCK 20. MUTURI BLOCK 21. WIRIAGAR BLOCK 22. TARAKAN, EAST KAL

Alamat : Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BPMIGAS) Patra Office Tower Lt. 1, 2, 10, 11, 13, 14, 16, 21 dan 22 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 32-34 Jakarta 12950 +62 21 529 022 45-48 +62 21 5290 0132

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

48

Lembaga Non Struktural

BADAN KEBIJAKSANAAN DAN PENGENDALIAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DAN PEMUKIMAN NASIONAL (BKP4N) Dasar Hukum
 Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian Pembangunan Perumahan dan Pemukiman Nasional didirikan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992, tentang Perumahan dan Pemukiman, disahkan pada tanggal 10 Maret 1992. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 63 Tahun 2000, tentang Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian Pembangunan Perumahan dan Pemukiman Nasional, ditetapkan pada tanggal 8 Mei 2000.

Tujuan Pendirian
Untuk lebih meningkatkan pelaksanaan pembangunan perumahan dan pemukiman secara berkelanjutan, terpadu, terarah, dan terkoordinasi. Penyelenggaraan pembangunan perumahan dan pemukiman merupakan kegiatan yang bersifat lintas sektoral, yang pelaksanaannya perlu memperhatikan aspek-aspek prasarana dan sarana lingkungan, rencana tata ruang, pertanahan, industry, jasa konstruksi dan rancang bangun, pembiayaan, sumber daya manusia, kemitraan antar pelaku, peraturan perundang-undangan, dan aspek penunjang lainnya.

Sifat dan Kedudukan
   Non Struktural; Berkedudukan di Jakarta; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Tugas Pokok
 Menyiapkan rumusan kebijakan nasional dan strategis di bidang pembangunan perumahan dan pemukiman; Memberikan penyelesaian atas berbagai permasalahan di bidang pembangunan perumahan dan pemukiman yang belumdapat diselesaikan oleh Pemerintah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota; Melaksanakan pengawasan dan pengendalian penerapan kebijakan nasional terhadap penyelenggaraan dan pengelolaan di bidang pembangunan perumahan dan pemukiman.

Struktur Organisasi
  Ketua: Menteri Pekerjaan Umum. Anggota: o Menteri Dalam Negeri; o Menteri Keuangan; o Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS; o Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat; o Kepala Badan Pertahanan Nasional. Sekretariat. Pelaksana Harian.

 

Fungsi
 Koordinasi berbagai kebijakan sektoral dalam rangka perumusan kebijakan nasional dan strategis pengembangan perumahan dan pemukiman; Penelitian dan penyelenggaraan konsultasi penyelesaian berbagai

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

1

Lembaga Non Struktural

permasalahan yang berkaitan dengan pengembangan, pembangunan, dan pembinaan perumahan dan pemukiman yang menyangkut kepentingan nasional dan strategis; Koordinasi pengawasan dan pengendalian penyelenggaraan pengelolaan Kawasan Siap Bangun dan Lingkungan Siap Bangun yang berdiri sendiri; Koordinasi pengawasan dan pengendalian kebijakan pembangunan perumahan dan pemukiman yang dilakukan oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Milik Swasta, Koperasi, dan masyarakat; Fasilitasi, pengawasan, dan pengendalian peran serta masyarakat dalam pembangunan perumahan dan pemukiman; Fasilitasi, pengawasan, dan pengendalian mobilisasi dan pemanfaatan pembiayaan dalam pembangunan perumahan dan pemukiman.

Instansi Terkait
      Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Keuangan; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS; Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat; Badan Pertahanan Nasional.

Informasi Keuangan
  APBN. Dibebankan pada Anggaran Kementerian Pekerjaan Umum. Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

BKP4N:

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

2

Lembaga Non Struktural

BADAN KOORDINASI PEMBERANTASAN UANG PALSU (BAKOSUPAL) Dasar Hukum
Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu dibentuk oleh Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara berdasarkan Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1971 tanggal 22 Maret 1971. Negara sebagai Ketua Botasupal mempunyai tugas: 1. Mengkoordinir semua usaha dan kegiatan dari badan/instansi yang mempunyai wewenang didalam pemberantasan uang palsu; 2. Menyelenggarakan kegiatankegiatan/operasi-operasi intelijen untuk menemukan sumber-sumber/pembuat peredaran uang palsu; 3. Memberantas peredaran uang palsu; 4. Sebagian tugas Botasupal tertuang dalam Keputusan Kepala Badan Intelijen Negara selaku Ketua Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu Nomor 46 Tahun 2002 tentang Pengamanan dan Pengawasan Pencetakan DokumenSekuriti.

Sifat dan Kedudukan
Bertanggung jawab kepada Presiden.

Struktur Organisasi
Badan Koordinasi Pemberantasan Uang Palsu berada dibawah Badan Intelijen Negara yang diketuai langsung oleh Kepala Badan Intelijen Negara.

Instansi Terkait
    Badan Intelijen Negara (BIN); Perum Peruri; BUMN/BUMD; Kementerian Keuangan.

Dasar Pendirian
  Peredaran uang palsu dapat merupakan ancaman terhadap stabilitas perekonomian. Untuk melaksanakan penanggulangan secara menyeluruh, diperlukan factorfaktor kecepatan, ketepatan dan kerahasiaan yang tinggi dengan cara koordinasi kegiatan antara alat intelijen dan keamanan, disamping usaha-usaha lain.

Sumber Dana
APBN Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Tugas dan Wewenang
Sesuai Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1971, Kepala Badan Koordinasi Intelijen

BAKOSUPAL:

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

3

Lembaga Non Struktural

BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN (BNPP) Dasar Hukum
  Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara. Badan Nasional Pengelola Perbatasan didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2010 tentang Badan Nasional Pengelola Perbatasan. 14. Kepala Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional. 15. Gubernur Provinsi terkait.

Struktur Organisasi
      Ketua Pengarah. Wakil Ketua Pengarah I. Wakil Ketua Pengarah II. Kepala Badan. Anggota. Sekretariat Tetap.

Sifat dan Kedudukan
 Berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
Dalam rangka melaksanakan Pasal 18 ayat (1) Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2008 tentang Wilayah Negara.

Keanggotaan
     Ketua Pengarah : Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. Wakil Ketua Pengarah I : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Wakil Ketua Pengarah II : Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Kepala BNPP : Menteri Dalam Negeri Anggota : 1. Menteri Luar Negeri. 2. Menteri Pertahanan. 3. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia. 4. Menteri Keuangan. 5. Menteri Pekerjaan Umum. 6. Menteri Perhubungan. 7. Menteri Kehutanan. 8. Menteri Kelautan dan Perikanan. 9. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 10. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal. 11. Panglima Tentara Nasional Indonesia. 12. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia. 13. Kepala Badan Intelijen Negara.

Peran dan Fungsi
 BNPP bertugas menetapkan kebijakan program pembangunan perbatasan, menetapkan rencana kebutuhan anggaran, mengoordinasikan pelaksanaan, dan melaksanakan evaluasi dan pengawasan terhadap pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Untuk melaksanakan tugas BNPP melakukan fungsi: 1. penyusunan dan penetapan rencana induk dan rencana aksi pembangunan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan. 2. pengoordinasian penetapan kebijakan dan pelaksanaan pembangunan, pengelolaan serta pemanfaatan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan; 3. pengelolaan dan fasilitasi penegasan, pemeliharaan dan pengamanan Batas Wilayah Negara;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

4

Lembaga Non Struktural

4. inventarisasi potensi sumber daya dan rekomendasi penetapan zona pengembangan ekonomi, pertahanan, sosial budaya, lingkungan hidup dan zona lainnya di Kawasan Perbatasan. 5. penyusunan program dan kebijakan pembangunan sarana dan prasarana perhubungan dan sarana lainnya di Kawasan Perbatasan. 6. penyusunan anggaran pembangunan dan pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan sesuai dengan skala prioritas. 7. pelaksanaan, pengendalian dan pengawasan serta evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pembangunan dan pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan. .

 

Pendanaan operasional dibebankan kepada APBN. Pendanaan yang bersifat teknis operasional pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan dibebankan anggaran belanja pada Kementerian dan/atau Lembaga Pemerintah Non Kementerian dan/atau APBD setelah dikoordinasikan oleh BNPP.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Sumber Dana

BNPP :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

5

Lembaga Non Struktural

BADAN PENGEMBANGAN WILAYAH SURABAYA-MADURA (BP-SURAMADU) Dasar Hukum
Badan Pengembangan Wilayah SurabayaMadura didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2008 dan diubah dengan dengan Peraturan Presiden Nomor 23 Tahun 2009 tentang Badan Pengembangan Wilayah Surabaya-Madura.

Struktur Organisasi
 Dewan Pengarah;  Badan Pelaksana;  Sekretariat.

Tujuan Pendirian
Optimalisasi pengembangan wilayah Surabaya-Madura sebagai pusat pengembangan perekonomian Jawa Timur.

Sifat dan Kedudukan
    Lembaga pemerintah; Berkedudukan di Surabaya; Dapat membuka perwakilan di Jakarta atau tempat lain bila diperlukan; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Peran dan Fungsi
  pengembangan wilayah Suramadu; melaksanakan pengusahaan Jembatan Tol Suramadu dan Jalan Tol Lingkar Timur (Simpang Juanda – Tanjung Perak) melalui kerja sama dengan badan usaha pemenang pelelangan pengusahaan jembatan tol dan jalan tol; melaksanakan pengusahaan pelabuhan petikemas di Pulau Madura; membangun dan mengelola : 1. wilayah kaki Jembatan Surabaya - Madura, yang meliputi: a. wilayah di sisi Surabaya + 600 Ha (enam ratus hektar); dan b. wilayah di sisi Madura + 600 Ha (enam ratus hektar). 2. kawasan khusus di Pulau Madura seluas + 600 Ha (enam ratus hektar) dalam satu kesatuan dengan wilayah pelabuhan petikemas dengan perumahan dan industri termasuk jalan aksesnya. menerima dan melaksanakan pelimpahan sebagian wewenang dari Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah;

Keanggotaan
A. Dewan Pengarah terdiri dari : Ketua : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian; Ketua Pelaksana Harian merangkap anggota : Menteri Pekerjaan Umum; Sekretaris : Sekretaris Jenderal Kementerian Pekerjaan Umum; Anggota : 1. Menteri Keuangan; 2. Menteri Perhubungan; 3. Menteri Perindustrian; 4. Menteri Komunikasi dan Informatika; 5. Menteri Perdagangan; 6. Menteri Dalam Negeri; 7. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas; 8. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara; 9. Kepala Badan Pertanahan Nasional; 10.Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal; 11. Gubernur Provinsi Jawa Timur. B. Badan Pelaksana terdiri dari 1. Kepala Badan Pelaksana; 2. Wakil Kepala Badan Pelaksana; 3. Sekretaris Badan Pelaksana; 4. Deputi Bidang Perencanaan; 5. Deputi Bidang Pengendalian.

 

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

6

Lembaga Non Struktural

 

menyelenggarakan pelayanan satu atap untuk urusan perizinan di wilayah Suramadu; melakukan fasilitasi dan stimulasi percepatan pertumbuhan ekonomi masyarakat Jawa Timur, antara lain dalam: 1) pembangunan jalan akses menuju Jembatan Tol Suramadu, baik di wilayah sisi Surabaya maupun di wilayah sisi Madura; 2) pembangunan jalan pantai utara Madura (Bangkalan - Sumenep); 3) pembangunan jalan lintas selatan Madura (Bangkalan - Sumenep); 4) pembangunan jalan penghubung pantai utara Madura dengan lintas selatan Madura; 5) pembangunan infrastruktur perhubungan antarwilayah kepulauan; 6) pengembangan sumber daya manusia dalam rangka industrialisasi di Pulau Madura;

7) penyediaan infrastruktur air baku, air minum, sanitasi, energi, dan telekomunikasi di wilayah Suramadu.

Sumber Dana
  APBN. Non APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

BPWSM:

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

7

Lembaga Non Struktural

BADAN PERTIMBANGAN KESEHATAN NASIONAL (BPKN) Dasar Hukum
Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 1994 tentang Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional.

Tujuan Pendirian
Untuk mewujudkan keikutsertaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan, sehubungan pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang dilaksanakan bersama oleh Pemerintah dan masyarakat.

Sifat dan Kedudukan
Non Struktural.

Tugas Pokok
Memberikan saran dan pertimbangan kepada Menteri Kesehatan dalam rangka perumusan kebijaksanaan di bidang kesehatan, perencanaan program, dan pengendaliannya.

Struktur Organisasi
Susunan Organisasi Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional terdiri dari:  Ketua;  Wakil Ketua: dipilih diantara anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional;  Sekretaris: dijabat oleh Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan di lingkungan Departemen Kesehatan, yang merangkap sebagai anggota;  Anggota;  Sekretariat.

Fungsi
 Menghimpun dan mengkaji bahanbahan yang dipandang perlu bagi penyampaian pendapat, usul ataupun pemikiran kepada Menteri Kesehatan dalam rangka perumusan kebijaksanaan di bidang kesehatan, perencanaan program dan pengendaliannya. Mengolah dan menyalurkan aspirasi masyarakat yang dipandang perlu untuk pembangunan kesehatan kepada Menteri Kesehatan.

Keanggotaan
Keanggotaan Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional terdiri dari unsur:  Tokoh Masyarakat;  Ahli Ekonomi;  Ahli Budaya;  Ahli Pendidikan;  Ahli Agama;  Organisasi profesi bidang kesehatan;  Pakar Kesehatan;  Ahli Hukum;  Organisasi Kemasyarakatan lainnya;  Jumlah anggota Badan Pertimbangan Kesehatan Nasional sebanyakbanyaknya 25 (dua puluh lima) orang.

Informasi Keuangan
  APBN. Dibebankan pada Kementerian Kesehatan. Anggaran

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

8

Lembaga Non Struktural

Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

BPKN:

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

9

Lembaga Non Struktural

DEWAN BUKU NASIONAL (DBN) Dasar Hukum
Dewan Buku Nasional dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 110 Tahun 1999 tentang Dewan Buku Nasional, ditetapkan pada tanggal 13 September 1999.

Tujuan Pendirian
Untuk pengembangan perbukuan secara nasional yang membantu pemerintah dalam merumuskan kebijakan di bidang perbukuan.

Tugas Pokok
Membantu Presiden dalam merumuskan kebijakan dan strategi dalam pengembangan perbukuan, minat dan kegemaran baca tulis masyarakat serta kemampuan sumber daya manusia perbukuan.

Sifat dan Kedudukan
  Lembaga ini bersifat independen dan non struktural. Bertanggung jawab kepada Presiden.

Keanggotaan
   Ketua Umum: Presiden Republik Indonesia. Wakil Ketua Umum: Menteri Pendidikan Nasional. Anggota: 1. Menteri Dalam Negeri; 2. Menteri Agama; 3. Menteri Hukum dan HAM; 4. Menteri Keuangan; 5. Menteri Perindustrian; 6. Menteri Perdagangan; 7. Menteri Komunikasi dan Informatika; 8. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS; 9. Gubernur Bank Indonesia; 10.Wakil Asosiasi Pengarang; 11. Wakil Asosiasi Penerjemah; 12. Wakil Asosiasi Penyunting; 13. Wakil Asosiasi Ilustrator; 14.Wakil Asosiasi Penerbit; 15. Wakil Asosiasi Percetakan; 16.Wakil Asosiasi Toko Buku; 17. Wakil Asosiasi Pembaca; 18.Wakil Asosiasi Konsumen; 19.Wakil Asosiasi Guru; 20. Wakil Asosiasi Pustakawan. Pelaksana Harian. Kelompok Kerja.

Fungsi
Perumusan kebijakan dan strategi pengembangan: a. Industri dan distribusi buku; b. Minat dan kegemaran baca tulis masyarakat; c. Kemampuan sumber daya manusia di bidang perbukuan; d. Pengumpulan dan pengkajian data dan informasi di bidang perbukuan; e. Kerjasama luar negeri di bidang perbukuan; f. Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan di bidang perbukuan.

Instansi Terkait
          Kementerian Negara Sekretariat Negara. Kementerian Pendidikan Nasional. Kementerian Dalam Negeri. Kementerian Hukum dan HAM. Kementerian Keuangan. Kementerian Perindustrian. Kementerian Perdagangan. Kementerian Komunikasi dan Informatika. Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS. Asosiasi Pengarang, Penerjemah, Penyunting, Ilustrator, Penerbit,

 

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

10

Lembaga Non Struktural

Percetakan, Toko Buku, Pembaca, Konsumen, Guru, dan Pustakawan.

Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Informasi Keuangan
  APBN. Dibebankan pada Anggaran Kementerian Pendidikan Nasional.

Sekretariat: Dewan Buku Nasional Jl.Jenderal Sudirman, Senayan Jakarta Pusat 10270

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

11

Lembaga Non Struktural

DEWAN ENERGI NASIONAL (DEN) Dasar Hukum
 Peraturan Presiden No. 26 Tahun 2008 tentang Pembentukan Dewan Energi Nasional dan Tata Cara Penyaringan Calon Anggota Dewan Energi Nasional. Keputusan Presiden selaku Ketua Dewan Energi Nasional Nomor 11 Tahun 2009 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Jenderal Dewan Energi Nasional.

Struktur Organisasi
    Ketua dan Wakil Ketua. Ketua Harian. Anggota. Sekretariat Jenderal.

Tujuan Pendirian
Untuk melaksanakan ketentuan UndangUndang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi.

Sifat dan Kedudukan
  Lembaga yang bersifat nasional, mandiri dan tetap, yang bertanggung jawab atas kebijakan energi nasional. Bertanggung jawab kepada Presiden.

Peran dan Fungsi
 Merancang dan merumuskan kebijakan Energi Nasional. 1. Ketersediaan energi untuk kebutuhan nasional. 2. Prioritas pengembangan energi. 3. Pemanfaatan sumber daya energi. 4. Cadangan penyangga energi nasional. Menetapkan Rencana Umum Energi Nasional 1. Disusun berdasarkan kebijakan Energi Nasional. 2. Melibatkan Pemerintah Daerah dan masyarakat. Menetapkan langkah-langkah penanggulangan kondisi krisis dan darurat energy. Mengawasi pelaksanaan kebijakan bidang Energi yang bersifat Lintas Sektor

Keanggotaan
Susunan Keanggotaan DNPI terdiri dari :  Ketua : Presiden RI.  Wakil Ketua : Wakil Presiden  Ketua Harian : Ketua yang membidangi energi.  Anggota terdiri atas: 1. 7 (tujuh) orang,baik Menteri maupun pejabat pemerintah lainnya yang secara langsung bertanggung jawab atas penyediaan,transportasi, penyaluran, dan pemanfaatan energi; dan 2. 8 (delapan) orang dari pemangku kepentingan, yang terdiri atas: a. 2 (dua) orang dari kalangan akademisi. b. 2 (dua) orang dari kalangan industri. c. 1 (satu) orang dari kalangan teknologi. d. 1 (satu) orang dari kalangan lingkungan hidup. e. 2 (dua) orang dari kalangan konsumen. 

 

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan pada Anggaran Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

12

Lembaga Non Struktural

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Sekretariat DEN : Jl. Jend. Gatot Subroto Kav 59 Jakarta 12950 Telp: Fax:

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

13

Lembaga Non Struktural

DEWAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM Dasar Hukum
  Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000. Keputusan Presiden Nomor 9 Tahun 2008 tentang Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.

Struktur Organisasi
   Ketua merangkap anggota. Wakil Ketua merangkap anggota. Anggota.

Tujuan Pendirian
Melaksanakan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2000.

Sifat dan Kedudukan
Melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada Presiden.

Keanggotaan
   Ketua merangkap anggota : Gubernur Kepulauan Riau. Wakil Ketua merangkap anggota : Walikota Batam. Anggota : 1. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Provinsi Kepulauan Riau; 2. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Provinsi Kepulauan Riau; 3. Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM,Provinsi Kepulauan Riau; 4. Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kepulauan Riau; 5. Kepala Kepolisian Daerah Kepulauan Riau; 6. Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Kepulauan Riau; 7. Komandan Pangkalan Utama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut IV; 8. Komandan Gugus Keamanan Laut Wilayah Barat; 9. Komandan Komando Resort Militer 033/WIRAPRATAMA; 10. Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam.

Peran dan Fungsi
menetapkan kebijaksanaan membina, mengawasi mengkoordinasikan kegiatan Pengusahaan. umum, dan Badan

Sumber Dana
-

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

14

Lembaga Non Struktural

DEWAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BINTAN Dasar Hukum
  Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000. Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2008 tentang Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan. 9. Komandan Komando Resort Militer 033/WIRAPRATAMA; 10. Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Bintan.

Struktur Organisasi
    Ketua merangkap anggota. Wakil Ketua I merangkap anggota. Wakil Ketua II merangkap anggota. Anggota.

Sifat dan Kedudukan
Melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada Presiden.

Keanggotaan
    Ketua merangkap anggota : Gubernur Kepulauan Riau. Wakil Ketua I merangkap anggota : Bupati Bintan. Wakil Ketua II merangkap anggota : Walikota Tanjung Pinang. Anggota : 1. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Provinsi Kepulauan Riau; 2. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Provinsi Kepulauan Riau; 3. Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM,Provinsi Kepulauan Riau; 4. Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kepulauan Riau; 5. Kepala Kepolisian Daerah Kepulauan Riau; 6. Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Kepulauan Riau; 7. Komandan Pangkalan Utama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut IV; 8. Komandan Gugus Keamanan Laut Wilayah Barat;

Tujuan Pendirian
Melaksanakan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2000.

Peran dan Fungsi
menetapkan kebijaksanaan membina, mengawasi mengkoordinasikan kegiatan Pengusahaan. umum, dan Badan

Sumber Dana
-

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

15

Lembaga Non Struktural

DEWAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS KARIMUN Dasar Hukum
  Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000. Keputusan Presiden Nomor 11 Tahun 2008 tentang Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Karimun.

Struktur Organisasi
   Ketua merangkap anggota. Wakil Ketua merangkap anggota. Anggota.

Tujuan Pendirian
Melaksanakan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2000 tentang Penetapan Perppu Nomor 1 Tahun 2000.

Sifat dan Kedudukan
Melaporkan pelaksanaan tugasnya kepada Presiden.

Keanggotaan
   Ketua merangkap anggota : Gubernur Kepulauan Riau. Wakil Ketua merangkap anggota : Bupati Karimun. Anggota : 1. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Provinsi Kepulauan Riau; 2. Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Provinsi Kepulauan Riau; 3. Kepala Kantor Wilayah Departemen Hukum dan HAM,Provinsi Kepulauan Riau; 4. Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional Provinsi Kepulauan Riau; 5. Kepala Kepolisian Daerah Kepulauan Riau; 6. Kepala Kejaksaan Tinggi Provinsi Kepulauan Riau; 7. Komandan Pangkalan Utama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut IV; 8. Komandan Gugus Keamanan Laut Wilayah Barat; 9. Komandan Komando Resort Militer 033/WIRAPRATAMA; 10. Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Karimun.

Peran dan Fungsi
menetapkan kebijaksanaan umum, membina, mengawasi dan mengkoordinasikan kegiatan Badan Pengusahaan.

Sumber Dana
-

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

16

Lembaga Non Struktural

DEWAN NASIONAL KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS Dasar Hukum Struktur Organisasi
Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2008 tentang Dewan Nasional Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas.     Ketua merangkap anggota. Anggota. Tim Pelaksana. Sekretariat.

Sifat dan Kedudukan
Bertanggung jawab kepada Presiden.

Tujuan Pendirian
meningkatkan pengembangan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas di Indonesia agar dapat lebih mendorong daya saing dan daya tarik investasi secara menyeluruh sehingga dapat mempercepat pengembangan perekonomian Nasional secara umum dan perekonomian daerah pada khususnya.

Keanggotaan
  Ketua Merangkap Anggota : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Anggota : 1. Menteri Sekretaris Negara; 2. Menteri Dalam Negeri; 3. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia; 4. Menteri Keuangan; 5. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral; 6. Menteri Perindustrian; 7. Menteri Perdagangan; 8. Menteri Perhubungan; 9. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi; 10. Menteri Pekerjaan Umum; 11. Menteri Negara Lingkungan Hidup; 12. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/ Kepala BAPPENAS; 13. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia; 14. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal; 15. Kepala Badan Pertanahan Nasional; 16. Wakil Sekretaris Kabinet.

Peran dan Fungsi
 Menetapkan kebijakan umum dalam rangka percepatan pengembangan kawasan perdagangan bebas dan pelabuhan bebas sehingga mampu bersaing dengan kawasan sejenis di negara lain; Membantu Dewan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas dalam rangka pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, termasuk dalam upaya penyelesaian permasalahan strategis yang timbul dalam pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas; Melakukan pengawasan atas pelaksanaan pengelolaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

17

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
 APBN

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Dewan Nasional Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

18

Lembaga Non Struktural

DEWAN NASIONAL KAWASAN EKONOMI KHUSUS (DN KEK) Dasar Hukum
  Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus. Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2010 tentang Dewan Nasional dan Dewan Kawasan Kawasan Ekonomi Khusus.

Peran dan Fungsi
        menyusun Rencana Induk Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). menetapkan kebijakan umum serta langkah strategis untuk mempercepat pembentukan dan pengembangan KEK. menetapkan standar infrastruktur dan pelayanan minimal dalam KEK. melakukan pengkajian atas usulan suatu wilayah untuk dijadikan KEK. memberikan rekomendasi pembentukan KEK. mengkaji dan merekomendasikan langkah pengembangan di wilayah yang potensinya belum berkembang. menyelesaikan permasalahan strategis dalam pelaksanaan, pengelolaan, dan pengembangan KEK. memantau dan mengevaluasi keberlangsungan KEK serta merekomendasikan langkah tindak lanjut hasil evaluasi kepada Presiden, termasuk mengusulkan pencabutan status KEK.

Sifat dan Kedudukan
 Berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Keanggotaan
Keanggotaan DN KEK terdiri dari:  Ketua : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.  Anggota : Menteri/Pimpinan Lembaga yang sekurang-kurangnya menangani urusan pemerintahan di bidang pembinaan pemerintahan daerah, keuangan, perindustrian, pekerjaan umum, perdagangan, perhubungan, tenaga kerja, perencanaan pembangunan nasional dan koordinasi penanaman modal.

Sumber Dana
  APBN. Sumber lain yang tidak bertentangan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Struktur Organisasi
   Ketua. Anggota. Sekretariat.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Tujuan Pendirian
 Melaksanakan Pasal 16 ayat (3) dan Pasal 20 ayat (3) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Kawasan Ekonomi Khusus. Untuk mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor, wilayah serta para pemilik kepentingan dalam pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

19

Lembaga Non Struktural

DEWAN NASIONAL PERUBAHAN IKLIM (DNPI)

Dasar Hukum
Dewan Nasional Perubahan Iklim didirikan berdasarkan Peraturan Presiden No. 46 Tahun 2008 tentang Dewan Nasional Perubahan Iklim.

13. Menteri Kelautan dan Perikanan. 14. Menteri Perdagangan. 15. Menteri Negara Riset dan Teknologi. 16. Menteri Perhubungan. 17. Menteri Kesehatan. 18. Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika.

Sifat dan Kedudukan
  Non Struktural. Bertanggung jawab kepada Presiden.

Struktur Organisasi
     Ketua dan Wakil Ketua. Ketua Harian/Anggota. Anggota. Kelompok Kerja. Sekretariat.

Keanggotaan
Susunan Keanggotaan DNPI terdiri dari :  Ketua : Presiden RI.  Wakil Ketua : 1. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. 2. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.  Ketua Harian/Anggota : Ir.Rahmat Witoelar.  Anggota : 1. Menteri Sekretaris Negara. 2. Sekretaris Kabinet. 3. Menteri Negara Lingkungan Hidup. 4. Menteri Keuangan. 5. Menteri Dalam Negeri. 6. Menteri Luar Negeri. 7. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. 8. Menteri Kehutanan. 9. Menteri Pertanian. 10. Menteri Perindustrian. 11. Menteri Pekerjaan Umum. 12. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas.

Kelompok Kerja terdiri dari Kelompok Kerja Adaptasi, Mitigasi, Alih Teknologi, Pendanaan, Post Kyoto 2012 dan Kehutanan dan Alih Guna Lahan. Keanggotaan Kelompok Kerja diwakili dari unsur instansi Pemerintah terkait dan para pakar. Susunan keanggotaan, tata kerja, pengangkatan dan pemberhentian ditetapkan oleh Ketua Harian. Pegawai di lingkungan Sekretariat dapat berasal dari PNS dan bukan PNS.

Tujuan Pendirian
Mengkoordinasikan pelaksanaan pengendalian perubahan iklim dan memperkuat posisi Indonesia di forum internasional dalam pengendalian perubahan iklim.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

20

Lembaga Non Struktural

Peran dan Fungsi
  Merumuskan kebijakan nasional, strategi, program dan kegiatan pengendalian perubahan iklim. Mengkoordinasikan kegiatan dalam pelaksanaan tugas pengendalian perubahan iklim yang meliputi kegiatan adaptasi, mitigasi, alih teknologi dan pendanaan. Merumuskan kebijakan pengaturan mekanisme dan tata cara perdagangan karbon. Melaksanakan pemantauan dan evaluasi implementasi kebijakan tentang pengendalian perubahan iklim. Memperkuat posisi Indonesia untuk mendorong negara-negara maju untuk lebih bertanggung jawab dalam pengendalian perubahan iklim.

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan Kementerian Hidup. pada Negara Anggaran Lingkungan

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

  

Sekretariat DNPI : Jalan Medan Merdeka Selatan No 13. Lantai 18. Jakarta 10110. Indonesia +62 (21) 3511400 Fax +62 (21) 3511403 info@dnpi.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

21

Lembaga Non Struktural

DEWAN PENGEMBANGAN KAWASAN TIMUR INDONESIA (DPKTI) Dasar Hukum
 Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia didirikan berdasarkan Keputusan Presiden No. 44 Tahun 2002 tentang Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia. 12. Para Gubernur di Kawasan Timur Indonesia

Struktur Organisasi
       Ketua. Wakil Ketua. Ketua Harian. Wakil Ketua Harian. Anggota. Sekretaris Jenderal. Wakil Sekretaris Jenderal.

Sifat dan Kedudukan
 Lembaga non struktural.

Keanggotaan
Ketua : Presiden Republik Indonesia. Ketua Harian : Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia. Wakil Ketua Harian : Menteri Negara Riset dan Teknologi. Sekretaris Jenderal : Staf Ahli Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional Bidang Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia dan Kawasan Tertinggal. Wakil Sekretaris Jenderal: Sekretaris Menteri Negara Percepatan Pembangunan Kawasan Timur Indonesia. Anggota : 1. Menteri Dalam Negeri 2. Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah 3. Menteri Keuangan 4. Menteri Perhubungan 5. Menteri Kelautan dan Perikanan 6. Menteri Pendidikan Nasional 7. Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral 8. Menteri Keuangan 9. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala BAPPENAS 10. Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara 11. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal

Tujuan Pendirian
Membantu Presiden dalam rangka untuk lebih mempercepat pembangunan kawasan timur Indonesia, daerah perbatasan, dan wilayah tertinggal dengan berdasarkan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah sesuai arah kebijaksanaan GBHN 1999.

Peran dan Fungsi
Menghimpun dan mengkaji pemikiran serta saran dari berbagai kalangan yang diperlukan dalam rangka perumusan kebijakan dan strategi pembangunan di kawasan timur Indonesia meliputi Propinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Gorontalo, Maluku Utara dan Papua.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

22

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
 APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

DPKTI:

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

23

Lembaga Non Struktural

DEWAN SUMBER DAYA AIR NASIONAL (DSDAN) Dasar Hukum
   Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2008 tentang Dewan Sumber Daya Air. Keputusan Presiden Nomor 6 Tahun 2009 tentang Pembentukan Dewan Sumber Daya Air Nasional. 16. Martin Hutabarat, SH, Ketua Bidang Pertanahan, Hukum dan Perundangundangan, DPN Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) 17. Ir.H. Winarno Tohir, Ketua Umum Kelompok Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) 18. Karen Sjarief Tambayong, Ketua Umum Asosiasi Bunga Indonesia (ASBINDO) 19. Ir.H. Achmad Marju Kodri, Ketua Umum Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh Indonesia (PERPAMSI) 20. Hendro Baroeno, Wakil Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Air Minum Dalam Kemasan Indonesia (ASPADIN) 21. Ir.Erwin Tunas, Asisten Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan Karet Indonesia (GAPKINDO) 22. Ir.Drs. Eddy Eko Susilo, MT, Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pengeboran Air Tanah Indonesia (APPATINDO) 23. Ir.Achmadi Partowijoto, CAE, Ketua Badan Pengarah Yayasan Kemitraan Air Indonesia (KAI) 24. Ir.Kusnaeni, Dipl. HE, Ketua Jaringan Informasi Komunikasi Pengelolaan Sumber Daya Air (JIKPA) 25. Ir.Rapiali Zainuddin, Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Peduli Air (MPA) 26. Ir. Rubiyanto, Dipl. HE, Anggota Yayasan Air Adhi Eka 27. Dr.Hasim, DEA, Direktur Eksekutif Pengelolaan Sumber Daya Alam (PSDA) Watch 28. Ir.S.Indro Tjahyono, Koordinator Jaringan Kerjasama Pelestarian Hutan Indonesia (SKEPHI) 29. Ully Hary Rusady, Pimpinan Yayasan Garuda Nusantara 30. Ir.Sudar Dwi Atmanto, MMAgr, Wakil Direktur Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES)

Sifat dan Kedudukan
   Lembaga yang bersifat non struktural. Berkedudukan di Jakarta. Berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Keanggotaan
Dewan SDA Nasional terdiri atas : A. Ketua : Menteri Koordinator Bidang merangkap anggota Perekonomian B. Ketua Harian merangkap anggota: Menteri Pekerjaan Umum C. Anggota: 1. Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional 2. Menteri Dalam Negeri 3. Menteri Negara Lingkungan Hidup 4. Menteri Pertanian 5. Menteri Kesehatan 6. Menteri Kehutanan 7. Menteri Perhubungan 8. Menteri Perindustrian 9. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral 10. Menteri Kelautan dan Perikanan 11. Menteri Negara Riset dan Teknologi 12. Menteri Pendidikan Nasional 13.Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika 14.Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 15. Perwakilan Pemerintah Daerah

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

24

Lembaga Non Struktural

31. 32. 33.

34. 35. 36.

37.

Christian P.P. Purba, Wakil Ketua Badan Pengurus Perkumpulan TELAPAK Tri Mumpuni, Anggota Dewan Pakar Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Ir.Nugroho Basuki, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (GAPASDAP) Ir.Arief Toengkagie, Wakil Ketua Rinjani Trek Management Board (RTMB) Ir.Priyo Pribadi Soemarno, Direktur Eksekutif Indonesian Mining Association (IMA) Dr.Ir.Bambang Widyantoro, Anggota Dewan Pengurus Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Lingkungan Hidup Ir.Bambang Kuswidodo, Dipl. HE, Ketua Bidang Hubungan Antar Lembaga Komite Nasional Indonesia untuk Bendungan Besar (KNI-BB).

Peran dan Fungsi
Membantu Presiden dalam :    Menyusun dan merumuskan kebijakan nasional serta strategi pengelolaan sumber daya air. Memberikan pertimbangan untuk penetapan wilayah sungai dan cekungan air tanah. Memantau dan mengevaluasi pelaksanaan tindak lanjut penetapan wilayah sungai dan cekungan air tanah, serta pengusulan perubahan penetapan wilayah sungai dan cekungan air tanah. Menyusun dan merumuskan kebijakan pengelolaan sistem informasi hidrologi, hidrometeorologi, dan hidrogeologi pada tingkat nasional.

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan kepada Pekerjaan Umum. Kementerian

Struktur Organisasi
   Ketua merangkap anggota. Ketua Harian merangkap anggota. Anggota.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Tujuan Pendirian
Melaksanakan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dan untuk mengintegrasikan kepentingan berbagai sektor, wilayah, serta para pemilik kepentingan dalam pengelolaan sumber daya air.

DSDAN :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

25

Lembaga Non Struktural

KOMISI INFORMASI PUSAT (KIP) Dasar Hukum
 Berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Sifat dan Kedudukan
  Komisi Informasi adalah lembaga mandiri. Berkedudukan di Ibukota Negara. 

Keanggotaan
Anggota Komisi Informasi Pusat berjumlah 7 (tujuh) orang yang mencerminkan unsur pemerintah dan unsur masyarakat.

menetapkan prosedur pelaksanaan penyelesaian sengketa melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi; menerima, memeriksa, dan memutus Sengketa Informasi Publik di daerah selama Komisi Informasi provinsi dan/atau Komisi Informasi kabupaten/kota belum terbentuk; dan memberikan laporan mengenai pelaksanaan tugasnya berdasarkan Undang-Undang ini kepada Presiden dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia setahun sekali atau sewaktu-waktu jika diminta.

Struktur Organisasi
    Ketua merangkap anggota. Wakil Ketua merangkap anggota. Anggota. Sekretariat.

Sumber Dana
 APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Tujuan Pendirian
menjalankan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 dalam rangka menetapkan petunjuk teknis standar layanan Informasi Publik dan menyelesaikan Sengketa Informasi Publik melalui Mediasi dan/atau Ajudikasi nonlitigasi.

Peran dan Fungsi

KIP :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

26

Lembaga Non Struktural

KOMISI KEAMANAN HAYATI PRODUK REKAYASA GENETIK (KKH PRG) Dasar Hukum
  Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik. Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 39 Tahun 2010 tentang Komisi Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik. 3. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Kementerian Kehutanan. 4. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan. 5. Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. 6. Staf Ahli Menteri Riset dan Teknologi Bidang Pangan dan Kesehatan, Kementerian Riset dan Teknologi. 7. Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Kementerian Pertanian. 8. Direktur Ekspor Produk Pertanian dan Kehutanan, Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan. 9. Direktur Industri Minuman dan Tembakau, Direktorat Jenderal Industri Agro dan Kimia, Kementerian Perindustrian. 10. Direktur Pengolahan Hasil, Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil, Kementerian Kelautan dan Perikanan. 11. Kepala Balai Pengkajian Teknologi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. 12. Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi Institut Teknologi Bandung. 13. Kepala Pusat Penelitian Sumber Daya Hayati dan Bioteknologi Institut Pertanian Bogor. 14. Kepala Pusat Studi Bioteknologi Universitas Gadjah Mada. 15. Ir. Syarifuddin Musa, M.Si. 16. Dr. Bambang Purwantara, M.Sc. 17. Dr. Dwi Andreas Santosa.

Sifat dan Kedudukan
  Lembaga non struktural. Berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Keanggotaan
Keanggotaan KKH PRG terdiri dari:  Ketua merangkap anggota : Dr. Ir. Agus Pakpahan, APU.  Ketua bidang keamanan lingkungan merangkap anggota : Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup.  Ketua bidang keamanan pakan merangkap anggota : Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian.  Ketua bidang keamanan pangan merangkap anggota : Deputi Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Badan Pengawas Obat dan Makanan.  Anggota : 1. Deputi Bidang Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup. 2. Direktur Standardisasi Produk Pangan, Kedeputian Bidang Pengawasan Keamanan Pangan dan Bahan Berbahaya, Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

27

Lembaga Non Struktural

Struktur Organisasi
       Ketua merangkap anggota. Ketua bidang keamanan lingkungan merangkap anggota Ketua bidang keamanan pakan merangkap anggota. Ketua bidang keamanan pangan merangkap anggota. Anggota. Keanggotaan KKH PRG terdiri dari unsur pemerintah dan non pemerintah. Balai Kliring Keamanan Hayati (BKKH). Sekretariat.

Tujuan Pendirian
Melaksanakan ketentuan Pasal 29 ayat (1) Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2005 tentang Keamanan Hayati Produk Rekayasa Genetik.

Peran dan Fungsi
KKH PRG mempunyai tugas dan peran :  memberikan rekomendasi keamanan hayati kepada Menteri Lingkungan Hidup, Menteri yang berwenang, dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berwenang sebagai dasar pertimbangan untuk penerbitan keputusan pelepasan dan/atau peredaran Produk Rekayasa Genetik (PRG).  memberikan sertifikat hasil uji keamanan lingkungan, keamanan pangan dan/atau keamanan pakan kepada Menteri Lingkungan Hidup, Menteri yang berwenang, dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berwenang sebagai dasar pertimbangan penerbitan keputusan pelepasan dan/atau peredaran PRG.  memberikan saran dan pertimbangan kepada Menteri Lingkungan Hidup, Menteri yang berwenang, dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berwenang dalam penetapan pedoman pemantauan dampak, pengelolaan risiko dan penarikan PRG dari peredaran.  membantu Menteri Lingkungan Hidup, Menteri yang berwenang, dan Kepala

Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berwenang dalam melaksanakan pengawasan terhadap pemasukan dan pemanfaatan PRG serta pemeriksaan dan pembuktian atas kebenaran laporan adanya dampak negatif dari PRG. Dalam melaksanakan tugas KKH PRG menyelenggarakan fungsi :  perumusan bahan guna penyusunan pedoman pengkajian keamanan lingkungan, keamanan pangan, dan/atau keamanan pakan serta pemantauan pemanfaatan PRG.  pelaksanaan penugasan dari Menteri Lingkungan Hidup, Menteri yang berwenang, dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berwenang untuk melakukan pengkajian dan/atau evaluasi teknis atas permohonan keamanan lingkungan, keamanan pangan, dan/atau keamanan pakan untuk keperluan pelepasan dan/atau peredaran PRG.  penyelenggaraan layanan informasi yang relevan tentang pelaksanaan keamanan lingkungan, keamanan pangan, dan/atau keamanan pakan dalam pemanfaatan PRG melalui Balai Kliring Keamanan Hayati.  pengelolaan informasi atas pengkajian keamanan lingkungan, keamanan pangan, dan/atau keamanan pakan melalui BKKH.  pemberian rekomendasi keamanan lingkungan kepada Menteri Lingkungan Hidup, keamanan pangan, dan/atau keamanan pakan kepada Menteri yang berwenang dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berwenang untuk keperluan pelepasan dan/atau peredaran PRG, baik yang berasal dari luar negeri maupun dari dalam negeri.  pemberian saran pengendalian dan penanggulangan dalam hal terjadi dampak negatif atas pelepasan, peredaran, dan/atau pemanfaatan PRG kepada Menteri Lingkungan Hidup, Menteri yang berwenang, dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berwenang.  pelaksanaan penugasan dari Menteri Lingkungan Hidup, Menteri yang berwenang, dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berwenang untuk melakukan

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

28

Lembaga Non Struktural

pemeriksaan dan pembuktian atas laporan mengenai timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan hidup, kesehatan manusia, dan/atau kesehatan hewan yang disebabkan oleh pelepasan, peredaran, dan/atau pemanfaatan PRG. penyelenggaraan kerja sama dan konsultasi dengan berbagai lembaga baik dalam maupun luar negeri dalam keamanan lingkungan, keamanan pangan, dan/atau keamanan pakan. penyelenggaraan evaluasi dan pengujian keamanan lingkungan, keamanan pangan, dan/atau keamanan pakan akibat pemanfaatan PRG. pemberian masukan kepada Menteri Lingkungan Hidup, Menteri yang berwenang, dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berwenang dalam penetapan pedoman pemantauan dampak dan pengelolaan risiko PRG. pemberian masukan kepada Menteri Lingkungan Hidup, Menteri yang berwenang, dan Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berwenang dalam penetapan prosedur penarikan PRG yang menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan

hidup, kesehatan manusia, dan/atau kesehatan hewan.

Sumber Dana
   APBN. Dibebankan pada Kementerian Lingkungan Hidup. Pembiayaan yang diperlukan untuk pengkajian keamanan hayati PRG dibebankan kepada pemohon pengkajian keamanan hayati PRG.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

KKH PRG :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

29

Lembaga Non Struktural

KOMISI PENGAWAS HAJI INDONESIA (KPHI)

Dasar Hukum
 Komisi Pengawas Haji Indonesia dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji.

Tugas Pokok
Melakukan pengawasan dan pemantauan terhadap penyelenggaraan ibadah haji serta memberikan pertimbangan untuk penyempurnaan penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.

Sifat dan Kedudukan
  Lembaga ini bersifat mandiri. Bertanggung jawab kepada Presiden.

Fungsi
 memantau dan menganalisis kebijakan operasional penyelenggaraan ibadah haji Indonesia.  menganalisis hasil pengawasan dari berbagai lembaga pengawas dan masyarakat.  menerima masukan dan saran masyarakat mengenai penyelenggaraan ibadah haji.  merumuskan pertimbangan dan saran penyempurnaan kebijakan operasional penyelenggaraan ibadah haji.

Keanggotaan
 KPHI dipimpin oleh seorang ketua dan seorang wakil ketua. Ketua dan Wakil Ketua KPHI dipilih dari dan oleh anggota Komisi.  KPHI terdiri atas 9 (sembilan) orang anggota terdiri atas unsur masyarakat 6 (enam) orang dan unsur Pemerintah 3 (tiga) orang.  Unsur masyarakat terdiri atas unsur Majelis Ulama Indonesia, organisasi masyarakat Islam, dan tokoh masyarakat Islam.  Unsur Pemerintah dapat ditunjuk dari departemen/instansi yang berkaitan dengan Penyelenggaraan Ibadah Haji.  Dalam melaksanakan tugasnya KPHI dibantu oleh sekretariat.

Informasi Keuangan
  APBN. Dibebankan pada Anggaran Kementerian Pendidikan Nasional. Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Tujuan Pendirian
Untuk melakukan pengawasan dalam rangka meningkatkan pelayanan penyelenggaraan ibadah haji.

Sekretariat: Komisi Pengawas Haji Indonesia

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

30

Lembaga Non Struktural

KOMITE AKSI NASIONAL PENGHAPUSAN BENTUK-BENTUK PEKERJAAN TERBURUK UNTUK ANAK (KAN - PBPTA) Dasar Hukum
 Komite Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2001 ditetapkan pada tanggal 17 Januari 2001. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 59 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan BentukBentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak.

a.

Tahap pertama, sasaran yang ingin dicapai setelah 5 (lima) tahun yang pertama; b. Tahap kedua, merupakan sasaran yang ingin dicapai setelah 10 (sepuluh) tahun; c. Tahap ketiga, merupakan sasaran yang ingin dicapai setelah 20 (dua puluh) tahun.

Tugas dan Fungsi
  Menyusun Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak; Melaksanakan pemantauan dan evaluasi atas pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Penghapusan BentukBentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak; Menyampaikan permasalahanpermasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak kepada Instansi atau pihak yang berwenang guna penyelesaian permasalahannya sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku.

Sifat Dan Kedudukan
   Merupakan Lembaga Non Struktural; Dalam melaksanakan tugasnya, Komite Aksi Nasional bertanggung jawab kepada Presiden; Komite Aksi Nasional berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia.

Tujuan Pendirian
 Hakikat dan tujuan Rencana Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak adalah mencegah dan menghapus bentukbentuk pekerjaan terburuk untuk anak yang ada di Indonesia; Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran rencana aksi nasional yaitu penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak maka diadakan program aksi; Untuk lebih menunjang pencapaian program-program aksi tersebut rencana aksi nasional dibagi dalam beberapa tahapan; Tahapan program-program dimaksud yaitu:

Susunan Organisasi Keanggotaan
1. 2. 3. 4. 5. Ketua; Wakil Ketua; Sekretaris; Sekretariat; Kelompok Kerja.

dan

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

31

Lembaga Non Struktural

Instansi Terkait
                Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat; Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Kementerian Kesehatan; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Agama; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Pendidikan Nasional; Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Luar Negeri; Kementerian Pertanian; Kementerian Kelautan dan Perikanan; Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan; Kejaksaan Agung; Kepolisian Negara Republik Indonesia;

      

Markas Besar Tentara Nasional Indonesia; Badan Narkotika Nasional; KADIN; APINDO; Federasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia; Komisi Nasional Hak Asasi Manusia; Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia;

Sumber Dana
 APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Alamat Sekretariat KAN-PBPTA : Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jaln Taman Makam Pahlawan Kalibata No.17 Jakarta Selatan 021 - 7392210 021 - 5251910 021 – 720306

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

32

Lembaga Non Struktural

KOMITE ANTAR KEMENTERIAN BIDANG KEHUTANAN Dasar Hukum
 Komite Antar Kementerian Bidang Kehutanan didirikan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomer 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan disahkan pada tanggal 30 September 1999. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2000 tentang Komite Antar Kementerian Bidang Kehutanan disahkan pada tanggal 7 Juli 2000. 11. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia; 12. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata; 13. Menteri Negara Riset dan Teknologi.  Sekretaris I dan II;  Kelompok Kerja.

Tugas
Merumuskan kebijaksanaan dan mengkoordinasikan penanganan dan penyelesaian masalah yang timbul dalam pengelolaan dan konservasi sumber daya hutan, baik di tingkat nasional maupun regional serta memberikan saran pemecahan masalah.

Sifat Dan Kedudukan
   Lembaga Non Struktural; Berkedudukan di Ibukota Negara; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Fungsi
a. Merumuskan kebijaksanaan dan strategi pengelolaan dan konservasi hutan secara terpadu yang dituangkan dalam Program Kehutanan Nasional; b. Mengkoordinasikan implementasi kebijaksanaan dan strategi yang menyangkut Program Kehutanan Nasional, upaya-upaya untuk mengatasi penebangan liar, penundaan konversi hutan alam, restrukturisasi industri perkayuan untuk meningkatkan daya saing dan menyeimbangkan kebutuhan dan kemampuan pasokan bahan baku, mengaitkan program penghutanan kembali dengan permintaan industri, penghitungan ulang nilai sumber daya hutan, dan desentralisasi sebagai instrumen pengelolaan dan konservasi sumber daya hutan secara lestari; c. Mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan yang terkait dengan sektor kehutanan, dengan memperhatikan hasil evaluasi dari pelaksanaan Program Kehutanan Nasional; d. Mengevaluasi masalah-masalah yang timbul dalam pelaksanaan Program Kehutanan Nasional.

Tujuan pendirian
Dalam rangka perumusan kebijaksanaan dan strategi nasional pengelolaan dan konservasi sumber daya hutan serta untuk melaksanakan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan.

Struktur Organisasi Keangotaan

dan

Ketua : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian;  Wakil Ketua : Menteri Kehutanan;  Anggota : 1. Menteri Dalam Negeri; 2. Menteri Pertahanan; 3. Menteri Pertanian; 4. Menteri Keuangan; 5. Menteri Pekerjaan Umum; 6. Menteri Perindustrian; 7. Menteri Perdagangan; 8. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral; 9. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal; 10. Menteri Negara Lingkungan Hidup;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

33

Lembaga Non Struktural

Instansi Terkait
              Kementerian Negara Koordinator Bidang Perekonomian; Kementerian Kehutanan; Kementerian Pertanian; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Pertahanan; Kementerian Keuangan; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral; Kementerian Hukum dan HAM; Kementerian Negara Lingkungan Hidup; Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata; Kementerian Negara Riset dan Teknologi;

   

Lembaga Pemerintahan Kementerian; Organisasi Profesi; Akademisi; Lembaga Swadaya Masyarakat.

Non-

Sumber Dana
APBN.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Alamat Komite Antar Kementerian Bidang Kehutanan : Gedung Manggala Wanabakti Blok I Lt. 2 Jalan Jenderal Gatot Soebroto - Senayan Jakarta 10270 021 – 5730212

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

34

Lembaga Non Struktural

KOMITE EKONOMI NASIONAL (KEN) Dasar Hukum
 Komite Ekonomi Nasional didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 31 Tahun 2010 tentang Komite Ekonomi Nasional. Komite Ekonomi Nasional melaksanakan tugasnya sampai dengan berakhirnya masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II.  Anggota : 1. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. 2. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. 3. Menteri Sekretaris Negara. 4. Menteri Keuangan. 5. Sekretaris Kabinet.

Struktur Organisasi
      Tim Pengarah. Ketua. Wakil Ketua. Sekretaris. Anggota. Sekretariat.

Sifat dan Kedudukan
 Berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden.

Keanggotaan
Keanggotaan KEN terdiri dari unsur:  Ketua : Chairul Tanjung.  Wakil Ketua : Dr. Chatib Basri.  Sekretaris : Aviliani, S.E., M.Si.  Anggota : 1. Dr. Ninasapti Triaswati. 2. Umar Juoro, M.A., MAPE. 3. Christianto Wibisono. 4. John A. Prasetio. 5. Faisal H. Basri, M.A. 6. T. P. Rachmat. 7. Dra. Siti Hartati Murdaya. 8. James T. Riady. 9. Dr. Raden Pardede. 10. Dr. Djisman S. Simanjuntak. 11. Dr. H.S. Dillon. 12. Pieter Gontha. 13. Prof. Dr. Hermanto Siregar. 14. Chris Kanter. 15. Prof. Irzan Tandjung, Ph.D. 16. Prof. Dr. Badia Perizade, M.B.A. 17. Dr. M. Syafii Antonio, M.EC. 18. Sharif Cicip Sutardjo. 19. Erwin Aksa. 20. Sandiaga S. Uno, M.B.A. 21. Dr. Purbaya Yudhi Sadewa. Tim Pengarah terdiri dari:  Ketua : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian.

Tujuan Pendirian
Untuk lebih menunjang keberhasilan Kabinet Indonesia Bersatu II, khususnya dalam mempercepat pembangunan perekonomian nasional yang inklusif, seimbang, dan berkelanjutan.

Peran dan Fungsi
 melakukan pengkajian terhadap permasalahan perekonomian nasional, perkembangan perekonomian regional dan global, serta menyampaikan saran tindak strategis dalam rangka percepatan pembangunan perekonomian nasional kepada Presiden. melaksanakan tugas lain dalam lingkup perekonomian yang diberikan Presiden.

Sumber Dana
  APBN. dibebankan pada Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

35

Lembaga Non Struktural

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

KEN :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

36

Lembaga Non Struktural

KOMITE INOVASI NASIONAL (KIN)

Dasar Hukum
 Komite Inovasi Nasional didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2010 tentang Komite Inovasi Nasional. Komite Inovasi Nasiona melaksanakan tugasnya sampai dengan berakhirnya masa bakti Kabinet Indonesia Bersatu II.

23. 24. 25. 26. 27.

Rektor Universitas Hasanudin. Rektor Universitas Syiah Kuala. Rektor Universitas Cenderawasih. Rektor Universitas Pattimura. Rektor Universitas Udayana.

Sifat dan Kedudukan
 Bertanggung jawab kepada Presiden.

Keanggotaan
Keanggotaan KIN terdiri dari :  Ketua : Prof. Dr. Ir. Zuhal, M.Sc.E.E.  Wakil Ketua : Rektor Institut Pertanian Bogor.  Sekretaris : Prof. Drs. Freddy Permana Zen, M.S., M.Sc. D.Sc.  Anggota : 1. Prof. Dr. Sangkot Marzuki, D.Sc. 2. Prof. Dr. Sahari Besari. 3. Dr. Ninok Leksono, MA. 4. Prof. Drs. Umar A. Jenie, M.Sc., Apt. Ph.D. 5. Dr. Ir. Marzan A. Iskandar, M.Sc. 6. Dr. Ir. Idwan Suhardi. 7. Dr. Lukman Hakim, M.Sc., Ph.D. 8. Prof. Bustanul Arifin, MS., Ph.D. 9. Ir. Amir Sambodo, MBA. 10. Rachmat Gobel. 11. Dr. Ing. Ilham A. Habibie. 12. Prof. Dr. Ir. Tien Muchtadi, M.S. 13. Dr. Ir. Anton Apriantono, M.S. 14. Prof. Dr. Arief Rahman, M.Pd. 15. Ir. Jusman Syafii Djamal. 16. Dr. Bambang Kesowo, S.H., LL.M. 17. Betti Setiastuti Alisjahbana. 18. Tri Mumpuni Wiyatno. 19. Rektor Universitas Indonesia. 20. Rektor Institut Teknologi Bandung. 21. Rektor Universitas Gadjah Mada; 22. Rektor Institut Teknologi Surabaya;

Pengarah terdiri dari :  Ketua : Menteri Koordinator Bidang Perekonomian  Anggota : 1. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. 2. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. 3. Menteri Sekretaris Negara. 4. Menteri Keuangan. 5. Menteri Riset dan Teknologi. 6. Sekretaris Kabinet.

Struktur Organisasi
      Pengarah. Ketua. Wakil Ketua. Sekretaris. Anggota. Sekretariat.

Tujuan Pendirian
 kebijakan inovasi nasional di Indonesia perlu dilaksanakan secara terencana, terpadu, terintegrasi, dan terkoordinasi dalam satu kesatuan sistem inovasi nasional guna meningkatkan produktivitas nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi bangsa. dalam rangka mengimplementasikan pelaksanaan sistem inovasi nasional secara efektif dan efisien, perlu dilakukan melalui institusi yang efektif dan berhasil-guna baik dari sisi legalitas dan otoritas. dalam rangka pelaksanaan dan pengendalian sistem inovasi nasional.

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

37

Lembaga Non Struktural

Peran dan Fungsi

Sumber Dana
membantu Presiden dalam rangka memperkuat sistem inovasi nasional dan mengembangkan budaya inovasi nasional. memberi masukan dan pertimbangan mengenai prioritas program dan rencana aksi, termasuk alokasi pembiayaan dan fasilitas untuk penguatan sistem inovasi nasional yang menghasilkan produk-produk inovatif. melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan kebijakan dan program penguatan system inovasi nasional.   APBN. dibebankan pada Kementerian Riset dan Teknologi.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

KIN :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

38

Lembaga Non Struktural

KOMITE KEBIJAKAN INDUSTRI PERTAHANAN (KKIP)

Dasar Hukum
Komite Kebijakan Industri Pertahanan didirikan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 42 Tahun 2010 tentang Komite Kebijakan Industri Pertahanan.

Sifat dan Kedudukan
Bertanggung jawab kepada Presiden.

memenuhi kebutuhan alat peralatan yang mendukung pertahanan melalui revitalisasi industri pertahanan.  bahwa revitalisasi industri pertahanan dilaksanakan secara terencana, terpadu, terintegrasi, dan terkoordinasi dalam satu kesatuan sistem industri pertahanan guna mewujudkan tujuan pertahanan nasional.  dalam rangka mengoordinasikan pelaksanaan dan pengendalian kebijakan nasional industri pertahanan.

Keanggotaan
Keanggotaan KKIP terdiri dari :  Ketua merangkap anggota: Menteri Pertahanan.  Wakil Ketua merangkap anggota : Menteri Badan Usaha Milik Negara.  Sekretaris merangkap anggota : Wakil Menteri Pertahanan.  Anggota : 1. Menteri Perindustrian. 2. Menteri Riset dan Teknologi. 3. Panglima Tentara Nasional Indonesia. 4. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Peran dan Fungsi
KKIP mempunyai peran dan fungsi :  Merumuskan kebijakan nasional yang bersifat strategis di bidang industri pertahanan.  Mengoordinasikan pelaksanaan dan pengendalian kebijakan nasional industri pertahanan.  Mengoordinasikan kerja sama luar negeri dalam rangka memajukan dan mengembangkan industri pertahanan.  Melaksanakan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan kebijakan industri pertahanan.

Struktur Organisasi
      Ketua. Wakil Ketua. Sekretaris. Anggota. Kelompok Kerja. Sekretariat Komite.

Sumber Dana
 APBN.  Dibebankan Pertahanan. pada Kementerian

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Tujuan Pendirian
 industri pertahanan mempunyai peran strategis dalam penyelenggaraan pertahanan sehingga perlu didorong dan ditumbuhkembangkan agar mampu

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

39

Lembaga Non Struktural

KOMITE PENGARAH REFORMASI BIROKRASI NASIONAL (KPRBN)

Dasar Hukum
Komite Pengarah Reformasi Birokrasi Nasional didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 14 Tahun 2010 tentang Pembentukan Komite Pengarah Reformasi Birokrasi Nasional dan Tim Reformasi Birokrasi Nasional.

Sifat dan Kedudukan
Bertanggung jawab kepada Presiden.

Keanggotaan
  Ketua : Wakil Presiden. Anggota : 1. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan. 2. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. 3. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. 4. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. 5. Menteri Keuangan. 6. Menteri Dalam Negeri. 7. Kepala Unit Kerja Presiden untuk Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan. 8. Prof. Dr. M. Ryaas Rasyid, M.A. (Anggota Dewan Pertimbangan Presiden).

adanya pelaksanaan reformasi birokrasi secara nasional.  bahwa tujuan pelaksanaan reformasi birokrasi nasional adalah untuk mewujudkan birokrasi pemerintahan yang profesional, berintegritas, bersih dan bebas Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme, serta peningkatan pelayanan prima dan berkeadilan.  bahwa dalam rangka sinkronisasi, konsistensi dan efektivitas pelaksanaan percepatan reformasi birokrasi nasional, perlu dilakukan penguatan kelembagaan pelaksana reformasi birokrasi di tingkat nasional.

Peran dan Fungsi
 Menetapkan acuan nasional untuk tata kelola pemerintahan yang baik sebagai landasan pelaksanaan reformasi birokrasi nasional.  Menetapkan kebijakan, strategi, dan standar-standar bagi pelaksanaan program reformasi birokrasi dan kinerja operasi birokrasi.  Mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menegakkan kepatuhan atas standar-standar bagi pelaksanaan program reformasi birokrasi dan kinerja operasi birokrasi.  Menetapkan program-program unggulan dalam pelaksanaan reformasi birokrasi;  Membentuk dan menetapkan Tim Independen dan Tim Penjaminan Kualitas (Quality Assurance).  Melakukan kerja sama dengan pihak ketiga dalam melaksanakan tugasnya;  Menyampaikan laporan secara berkala atau sewaktu-waktu apabila diperlukan kepada Presiden.

Struktur Organisasi
  Ketua : Wakil Presiden. Anggota.

Tujuan Pendirian
 Untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, diperlukan

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

40

Lembaga Non Struktural

Sumber Dana
 APBN.  Dibebankan pada Sekretariat Kantor Wakil Presiden.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

41

Lembaga Non Struktural

LEMBAGA KOORDINASI DAN PENGENDALIAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN SOSIAL PENYANDANG CACAT (LKP2KS PACA) Dasar Hukum

Lembaga Koordinasi dan Pengendalian Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat didirikan berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 1974 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kesejahteraan Sosial. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 1998 tentang Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat ditetapkan tanggal 21 Maret 1998. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 1999 tentang Lembaga Koordinasi dan Pengendalian Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat ditetapkan tanggal 19 Juli 1999.

Tugas
Menyusun dan mengkoordinasikan kebijakan dan program upaya peningkatan kesejahteraan sosial penyandang cacat.

Fungsi

Penyusunan dan pelaksanaan koordinasi kebijaksanaan dan program upaya peningkatan kesejahteraan sosial penyandang cacat; Pelaksanaan penelitian, pengkajian, pemantauan, evaluasi, dan pengendalian umum kebijaksanaan dan program upaya peningkatan kesejahteraan sosial penyandang cacat; Pelaksanaan kerjasama dengan lembaga atau badan internasional; Penerimaan, penelitian, dan pengkajian saran dan pertimbangan masyarakat.

 

 

Sifat Dan Kedudukan
   Merupakan Lembaga Non Struktural; Berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia; Bertanggung jawab kepada Presiden.

Susunan Organisasi Keanggotaan
 

dan

Tujuan Pendirian
Mengkoordinasikan kebijakan lintas sektoral/stakeholder penyandang cacat bagi peningkatan kesejahteraan penyandang cacat (unsur pemerintah, pengusaha, organisasi sosial kecacatan).

Ketua dijabat oleh Menteri Sosial. Anggota LKP2KS Paca meliputi: 2) Menteri Dalam Negeri; 3) Menteri Pekerjaan Umum; 4) Menteri Perhubungan; 5) Menteri Pendidikan Nasional; 6) Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi; 7) Menteri Perindustrian; 8) Menteri Perdagangan; 9) Menteri Kesehatan; 10) Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah; 11) Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia; 12) Ketua Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial;

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

42

Lembaga Non Struktural

  

13) Ketua Persatuan Penyandang Cacat Indonesia; 14) Para Ahli di bidang Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat; 15) Tokoh Masyarakat. Ketua dan Anggota diangkat dengan Keputusan Presiden; Sekretariat; Kelompok Kerja.

   

Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah; Asosiasi Pengusaha Indonesia; Dewan Nasional Indonesia untuk Kesejahteraan Sosial; Persatuan Penyandang Cacat Indonesia.

Sumber Dana
  APBN. Dibebankan pada Kementerian Sosial.

Instansi Terkait
         Kementerian Sosial; Kementerian Dalam Negeri; Kementerian Pekerjaan Umum; Kementerian Perhubungan; Kementerian Pendidikan Nasional; Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi; Kementerian Perindustrian; Kementerian Perdagangan; Kementerian Kesehatan;

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Alamat : Kementerian Sosial Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial Jalan Salemba Raya No. 28 Jakarta Pusat 021 - 3103612 021 – 3103613

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

43

Lembaga Non Struktural

LEMBAGA PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN (LPSK) Dasar Hukum
 Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban didirikan berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Peraturan Presiden Nomor 30 Tahun 2009 tentang Tata Cara Pengangkatan dan Pemberhentian Anggota Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban.

Tujuan Pendirian
Memberikan perlindungan saksi dan korban dalam sistem peradilan pidana.

Peran dan Fungsi
  Mewujudkan perlindungan dan pemenuhan hak-hak bagi saksi dan korban dalam peradilan pidana; Mewujudkan kelembagaan yang profesional dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan hak-hak bagi saksi dan korban; Memperkuat landasan hukum dan kemampuan dalam pemenuhan hak-hak saksi dan korban; Mewujudkan dan mengembangkan jejaring dengan para pemangku kepentingan dalam rangka pemenuhan hak saksi dan korban; Mewujudkan kondisi yang kondusif serta partisipasi masyarakat dalam perlindungan saksi dan korban

Sifat dan Kedudukan
    Lembaga yang mandiri. Berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia. Mempunyai perwakilan di daerah sesuai dengan keperluan. Bertanggung jawab kepada Presiden.

 

Keanggotaan
Anggota LPSK terdiri dari atas 7 (tujuh) orang berasal dari unsur profesional yang mempunyai pengalaman di bidang pemajuan, pemenuhan, perlindungan, penegakan hokum dan hak asasi manusia, kepolisian, kejaksaan, Kementerian Hukum dan HAM, akademisi, advokat, atau lembaga swadaya masyarakat.

Sumber Dana
 APBN.

Struktur Organisasi
   Pimpinan terdiri dari Ketua dan Wakil yang merangkap Anggota. Anggota. Sekretariat.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

LPSK : Gedung Perintis Kemerdekaan (Gd. Pola) Lt. 1 Jl. Proklamasi No. 56 Jakarta Pusat 10320 Telepon: 021 - 3192 7881, Fax: 021 - 3192 7881 Email: lpsk_ri@lpsk.go.id

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

44

Lembaga Non Struktural

MAJELIS DISIPLIN TENAGA KESEHATAN (MDTK) Dasar Hukum
 Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan didirikan berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 56 Tahun 1995 tentang Majelis Disiplin Tenaga Kesehatan.

Tujuan Pendirian
Memberikan perlindungan yang seimbang dan obyektif kepada tenaga kesehatan dan masyarakat penerima pelayanan kesehatan dan untuk menentukan ada atau tidak adanya kesalahan atau kelalaian tenaga kesehatan dalam menerapkan standar profesi.

Sifat dan Kedudukan
   Lembaga yang bersifat otonom, mandiri dan non struktural. MDTK Tingkat Pusat berkedudukan di Ibukota Negara Republik Indonesia. MDTK Tingkat Propinsi berkedudukan di Ibukota Propinsi.

Peran dan Fungsi
meneliti dan menentukan ada atau tidak adanya kesalahan atau kelalaian dalam menerapkan standar profesi yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan.

Keanggotaan
Keanggotaan MDTK terdiri dari unsur: a. Sarjana Hukum; b. Ahli kesehatan yang mewakili organisasi profesi di bidang kesehatan; c. Ahli agama; d. Ahli psikologi; e. Ahli sosiologi. Jumlah anggota sebanyak-banyaknya lima belas orang. Anggota MDTK diangkat untuk masa bakti tiga tahun dan dapat diangkat kembali untuk periode berikutnya.

Sumber Dana
  APBN. dibebankan pada Kementerian Kesehatan.

Informasi Keuangan
Ikhtisar Laporan Keuangan Tahun 2009 Dalam Ribuan Rupiah APBN Realisasi Total Aset Non APBN

Struktur Organisasi
   Ketua merangkap anggota. Sekretaris merangkap anggota Anggota.

MDTK :

Subdit Akuntansi Pusat – Dit. APK – Ditjen Perbendaharaan

45

BAGIAN IV LEMBAGA NON STRUKTURAL BELUM AKTIF

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->