Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH TENTANG INDUSTRI YANG BERBASIS ETILENA

ETILEN GLIKOL

Disusun untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Kimia Industri Modern

Disusun oleh
SUSI SURYANI
NPM 140211090010

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN KIMIA INDUSTRI
BANDUNG
2010
BAB I
PENDAHULUAN

Perkembangan prose industri di Indonesia terus mengalami peningkatan


khususnya pada industri kimia. Meskipun Indonesia sempat dilanda krisis
ekonomi sampai saat ini, namun dengan usaha-usaha tertentu yang dilakukan
pemerintah, sektor ini mulai bangkit lagi. Oleh karena itu, peningkatan bahan
baku pun semakin tinggi dan indonesia tidak mampu memenuhi kebutuhan
tersebut. Satu-satua nya jalan keluar yang terbaik untuk memenuhi permintaan itu
yaitu dengan mengimport bahan baku dari luar negeri.
Etilen Glikol, 1,2 etanediol (HOCH2CH2OH) dengan Mr 62,07, biasa
disebut glikol adalah senyawa diol yang sederhana. Senyawa ini pertama
ditemukan oleh Wurtz pada tahun 1859, dengan perlakuan (reaksi) dari 1,2
dibromoetan dengan perak asetat menghasilkan etilen glikol diasetat, dimana
kemudian dihidrolisis menjadi etilen glikol. Etilen glikol pertama digunakan di
industri selama Perang Dunia I sebagai produk antara pada pembuatan bahan
peledak (Etilen Glikol Dinitrat), tetapi kemudian dikembangkan menjadi produk
utama suatu industri. Secara luas, kapasitas produksi etilen glikol melalui proses
hidrolisis dari Etilen Oksida diperkirakan mencapai 7x106 ton/tahun.
Etilen glikol adalah salah satu bahan kimia yang jumlahnya belum
mencukupi kebutuhan industri di Indonesia. Etilen glikol sebagian besar
digunakan sebagai bahan baku industri poliester yang merupakan bahan baku
industri tekstil dan plastik. Selain itu kegunaan etilen glikol lainnya adalah
sebagai bahan baku tambahan pada pembuatan cat, cairan rem, solven, alkyl resin,
tinta cetak, tinta ballpoint, foam stabilizer, kosmetik, dan bahan anti beku.
Produksi etilen glikol biasanya dilakukan dengan hidrolisis langsung etilen
oksida, tetapi banyak kekurangan dalam proses ini salah satunya konversi etilen
glikol rendah. Oleh karena itu, untuk menghasilkan etilen glikol maksimal
dilakukan produksi etilen glikol dari etilen oksida dengan proses karbonasi.
Proses produksi ini terdiri dari beberapa tahap yaitu tahap awal, tahap karbonasi,
tahap hidrolisis. Pra rancangan pabrik Etilen Glikol ini direncanakan akan
berproduksi dengan kapasitas 70.000 ton/tahun dan beroperasi selama 330 hari
dalam setahun.
Konsumsi etilen glikol meningkat dari tahun ke tahun, rata–rata sebesar
12,98% per tahun (CIC No.325, September 2001). Pada tahun 2000 konsumsi
nasional etilen glikol sebesar 545.526 ton, dimana kebutuhan tersebut sebagian
dipenuhi oleh PT Gajah Tunggal Petrochemical dengan kapasitas produksi
220.000 ton, sedangkan sisanya dipenuhi dengan melakukan impor dari beberapa
Negara, yaitu Jepang, Arab Saudi, Kanada, Singapura, Amerika Serikat,
Hongkong, Korea dan lain-lain.
Bahan baku merupakan faktor penting dalam kelangsungan produksi suatu
pabrik. Bahan baku yang digunakan untuk pembuatan etilen glikol adalah etilen,
udara, dan air. Dengan mengadakan kontrak kerjasama dengan PT. Chandra Asri
Petrochemical Centre dengan kapasitas produksi 625.000 ton/tahun, diharapkan
kebutuhan etilen tersebut dapat dipenuhi. Bahan baku air dapat diperoleh dari PT.
Peteka Eka Karya. Sedangkan udara dapat diperoleh dengan mudah dari
lingkungan sekitar pabrik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Etilen Glikol


Etilen (etena H2C=H2) dengan berat molekul 28,0536 merupakan
senyawa hidrokarbon olefinik yang paling ringan, cairan tidak berwarna, gas
yang mudah terbakar, berbau manis. Senyawa ini terdapat dalam gas alam,
minyak bumi kotor, atau deposit bahan bakar fosil lainnya. Namun etilen dapat
juga diperoleh dalam jumlah besar dari berbagai proses thermal dan katalitik
suhu tinggi dengan fraksi-fraksi gas alam dan minyak bumi sebagai bahan
bakunya.
Etilen glikol atau yang disebut Monoetilen Glycol, dihasilkan dari reaksi
etilen oksida dengan air, merupakan agent antibeku yang digunakan pada
mesin-mesin, Juga digunakan untuk bahan baku produksi polietilen
terephthalate (PET) dan sebagai cairan penukar panas. Etilen glikol ini
merupakan senyawa organik yang dapat menurunkan titik beku pelarutnya
dengan mengganggu pembentukan kristal es pelarut. Etilen Glikol berupa cairan
jenuh, tidak berwarna, tidak berbau, berasa manis, dan larut sempurna
dalam air. Secara komersial, etilen glikol di Indonesia digunakan sebagai
bahan baku industri polyester (tekstil) sebesar 97,34 %.
Etilen Glikol (1,2-etandiol, HOCH2CH2OH) dengan Mr 62,07 merupakan
senyawa diol yang simpel. Etilen Glikol berupa cairan tak berwarna, dengan
aroma yang manis. Senyawa ini higroskopis dan larut sempurna dalam berbagai
pelarut polar, seperti air, alkohol, eter glikol, dan aseton. Sedikit larut dalam
pelarut nonpolar, seperti benzene, toluene, dikloroetan, dan klorofom. Etilen
glikol sulit dikristalkan ketika dingin, dia berbentuk senyawa yang sangat kental
(viscous).
Gambar 2.1 Struktur Monoetilen Glikol

Beberapa kegunaan etilen glikol

Sifat/Karakteristik Aplikasi/Kegunaan
Senyawa intermediet dari resin *Resin poliester (fibers, containers,
films)
*Resin ester sebagai plasticizers
(adhesive, pernis, dan pelapis)
*Alkyd type resins (karet sintetis,
adhesive, pelapis permukaan)
Solven coupler (pasangan pelarut) Sebagai penstabil pada formasi gel
Penurunan titik pembekuan (Freezing *Fluida penghilang es pada pesawat
point depression) terbang dan landasannya
*Sebagai fluida penghantar panas pada
kompresor gas, pemanas, pendingin
udara, pendinginan
*Anti beku pada kendaraan dan
pendingin
*Formulasi berdasarkan air seperti
adesif, cat latex, dan emulsi aspal

2.2 Sifat Fisik dan Sifat Kimia


2.2.1 Produk utama (Etilen Glikol)
2.2.1.1 Sifat fisis etilen glikol
BM : 62,07
Titik didih, ( 101,3kPa ) : 197,6 0C
Titik beku : - 13°C
Densitas, pada 20 C : 1,1135 gr/ml
Viskositas, pada 20 0C : 19,83 cp
Temperatur kritis : 372 0C
Tekanan kritis : 6515,73 kPa
Density kritis : 0,186 L/mol
Panas penguapan, ( 101,3kPa ) : 52,24 kJ/mol
Panas pembakaran, ( 101,3kPa ) : 19,07 MJ/kg
Panas pembentukan : - 108,1 kkal/mol
Tegangan permukaan, 20 C : 48,4 dyne/cm
( Encyclopedia, Sixth Edition, volume 12, halaman 593 )

2.2.1.2 Sifat kimia etilen glikol


Etilen glikol dapat dengan mudah dioksidasi menjadi bentuk aldehid
dan asam karboksilat oleh oksigen., asam nitrit, dan agen pengoksidasi lainnya.
Kondisi reaksi yang bervariasi dapat mempengaruhi (menentukan) formasi dari
hasil oksidasi yang diinginkan. Oksidasi fase gas dengan udara membentuk
glioksal, dengan penambahan katalis Cu. Etilen glikol dapat mengalami oksidasi
membentuk glioksal. Reaksi sbb :
C2H4(OH)2 + O2 CH2O2 + 2H2O
Etilen glikol bereaksi dengan etilen oksida membentuk di-, tri-, tetra-, dan
polietilen glikol.
( Encyclopedia, Sixth Edition, volume 12, halaman 595 )

2.2.2 Produk Samping (Dietilen Glikol)


2.2.2.1 Sifat Fisik
Fase : cair (kondisi atmosferik)
Warna : jernih
Rumus molekul : HO(CH2CH2O2)2O
Berat molekul : 106,12

Titik didih, 760 mmHg : 245,8 0C

Titik beku : - 6,5 0C

Flash point : 280 0C

Temperatur kritis : 681,04 0C


Tekanan kritis : 45,45 atm
Density kritis : 0,330 g/ml

Density pada 20 0C : 1,116 g/ml

Viskositas pada 20 0C : 36 cp
Panas penguapan, 760 mmHg: 129 kkal/kg

2.2.2.2 Sifat Kimia


Dietilen glikol terkondensasi dengan amina primer membentuk
struktur siklis seperti metil amina, Dietilen glikol bereaksi dengan metil
amina membentuk N-metilmorfolin, Larut dalam alkohol, etilen glikol, eter
dan aseton, dan tidak larut dalam benzena, toluene dan karbon tetraklorida.

2.3 Kegunaan Produk Etilen Glikol


2.3.1 Produk Utama Etilen Glikol
Aplikasi EG dalam industri, khususnya di Indonesia, sebagian
besar digunakan sebagai bahan baku industri poliester. Poliester yang
merupakan senyawa polimer jenis thermoplastik ini digunakan sebagai bahan
baku industri tekstil dan plastik. Disamping dapat dibuat serat yang kemudian
dipintal menjadi benang, juga bisa dibuat langsung menjadi benang filament
untuk produk tekstil. Selain itu, poliester ini dapat juga dibentuk (dicetak)
sebagai bahan molding seperti pada pembuatan botol plastik. EG yang
mempunyai kandungan besi dan klorida bebas tinggi digunakan sebagai
kapasitor karena tekanan uap rendah, tidak korosif terhadap aluminium dan
bersifat elektrik.

2.3.2 Produk Samping Dietilen Glikol


Untuk produk samping Dietilen Glikol (DEG) digunakan sebagai resin
organik sintesis, pendingin refrigator, industri unsaturated polyester resin
(UPR), minyak rem, industri solvent, dan sebagai bahan peledak.

2.3.3 Produk Samping Trietilen Glikol


Kemudian untuk Trietilen Glikol (TEG) digunakan sebagai pelarut
karena mempunyai titik didih tinggi, sebagai sterelisasi pada tekanan atmosfer,
sebagai medium untuk heat transfer, pengeringan gas alam dan pembersihan
bahan kimia. Pabrik-pabrik yang memanfaatkan EG sebagai bahan bakunya
antara lain pabrik Polyester staple fiber (PSF), Polyester filamint yarn (PFY),
dan Polyester terephtalat resin (PET) untuk membuat plastik, terutama botol
dan film. EG juga digunakan sebagai bahan baku Nylon filament yarn (NFY),
Nylon tirecord (NTC), cooling agent dan antifreezer. Sementara produk
samping Dietilen Glikol (DEG) dimanfaatkan di industri Unsaturated polyester
resin (UPR), minyak rem dan industri solvent. Sedangkan produk samping
Trietilen Glikol (TEG) dipakai untuk pengeringan gas alam dan pembersihan
bahan kimia.
BAB III
PROSES

3.1 Pembuatan Etilen Glikol


3.1.1 Proses Dupont Formaldehid
Dalam proses ini formaldehid direaksikan dengan karbon monoksida dan
air untuk membentuk asam glikolat untuk selanjutnya diesterifikasi dengan
menggunakan metanol, etanol atau propanol dan produk alkil glikolat
dihidrogenasi dalam fase uapmenggunakan katalis kromat menghasilkan
monoetilen glikol dan alkohol. Alkohol ini direcycle untuk diesterfikasi.
CH3OH CH2O + H2
CH2O + CO + H2O HOCH2COOH
CH2O + CO + CH3OH HOCH2COOCH3 + H2O
HOCH2COOCH3 + 2 H2 HOCH2CH2OH + CH3OH

3.1.2 Proses Hidrasi Etilen Oksida


1. Proses Non katalitik
Merupakan proses hidrasi etilen oksida dengan air yang akan
membentuk monoetilen glikol dengan hasil samping berupa dietilen glikol
dan trietilen glikol.
Mula-mula etilen oksida murni atau campuran air dengan etilen
oksida digabungkan dengan air recycle dengan perbandingan mol air
dengan etilen oksida = 20 : 1 ( air dalam jumlah yang sangat ekses
digunakan untuk mencapai selektivitas monoetilen glikol yang tinggi ),
dipanaskan sampai kondisi reaksi pada reaktor tubular untuk diubah
menjadi monoetilen glikol dengan hasil samping berupa dietilen glikol
dan trietilen glikol.
C2H4O + H2O C2H4(OH)2
Monoetilen glikol
C2H4O + C2H4(OH)2 C4H8 (OH)2
Dietilen glikol
C2H4O + C4H8 (OH)2 C6H12O2(OH)2
Trietilen glikol
Dengan menggunakan proses ini dihasilkan konversi sebersar 99,8%
dengan selektivitas terbentuknya etilen glikol sebesar 88,5 %. Beberapa
pabrik yang menggunakan proses ini antara lain : Shell Company, PPG
Industries Co., Scientific Design & Halcon Group.

2. Proses Katalitik
Merupakan proses pembuatan monoetilen glikol dengan
mereaksikan air dan etilen oksida dalam reaktor adiabatik katalitik. Etilen
oksida murni atau campuran air dengan etilen oksida (keduanya dalam
fasa cair), digabungkan dengan air recycle dengan perbandingan mol air
dengan etilen oksida 5:1, dikondisikan hingga mencapai kondisi yang
disyaratkan dalam reaktor katalitik. Pada proses katalitik ini digunakan
katalis untuk memperbesar selektivitas terhadap monoetilen glikol
sekaligus mengurangi jumlah ekses air yang ditambahkan sehingga akan
mengurangi kebutuhan energi dalam proses pemisahan antara monoetilen
glikol dengan air yang tidak bereaksi.
C2H4O + H2O C2H4(OH)2
Monoetilen glikol
C2H4O + C2H4(OH)2 C4H8 (OH)2
Dietilen glikol
C2H4O + C4H8 (OH)2 C6H12O2(OH)2
Trietilen glikol
Dengan menggunakan proses ini dihasilkan konversi sebesar 99,98
% dengan selektivitas terbentuknya etilen glikol sebesar 98,7 %. Beberapa
pabrik yang menggunakan proses ini antara lain : Nippon Shokubai
Toyaku, Dow Chemical dan Union Carbide Co.
3.2 KONSEP PROSES
3.2.1 Dasar dan Mekanisme Reaksi
Reaksi pembentukan etilen glikol dari etilen berdasarkan pada reaksi
oksidasi dan reaksi hidrasi
1. Reaksi Oksidasi
Reaksi Utama
100 – 300 oC
C2H4 (g) + ½ O2 (g) C2H4O (g) + 24,7 kkal/mol
10 – 30 atm
Reaksi Samping
100 – 300 oC
C2H4 (g) + 3 O2 (g) 2 CO2 (g) + 2 H2O(g) + 316,1 kkal/mol
10 – 30 atm
2. Reaksi Hidrasi
Reaksi Utama
40 – 120 oC
C2H4O (l) + H2O (l) C2H4(OH)2 (l) + 18,9 kkal/mol
5 – 50 atm monoetilen glikol
Reaksi Samping
* Reaksi Pembentukan Dietilen Glikol
40 – 120 oC
C2H4O (l) + C2H4(OH)2 (l) C4H8O(OH)2 (l) + 20,1 kkal/mol
5 – 50 atm dietilen glikol
* Reaksi Pembentukan Trietilen Glikol
40 – 120 oC
C2H4O (l) + C4H8O(OH)2 (l) C6H12O2(OH) (l) + 20,6 kkal/mol
5 – 50 atm trietilen glikol
Sifat Reaksi
Tinjauan Kinetika
Kecepatan reaksi etilen menjadi etilen oksida dinyatakan dalam
persamaan:
(-ra) = 1,17 . 10^ . exp ( -9713/T ). (P C2H4)0,341 . (P O2)0,672
dalam hubungan ini :
PC2H4 : tekanan parsial etilen (atm)
PO2 : tekanan parsial oksigen (atm)
T : suhu operasi (K)
-ra : kmol/kg.jam
Dari persamaan tersebut nampak bahwa semakin tinggi suhu,
maka kecepatan reaksi pembentukan etilen oksida akan semakin besar.
Akan tetapi, reaksi pembentukan etilen oksida merupakan reaksi yang
bersifat sangat eksotermis sehingga akan melepaskan panas yang sangat
besar. Sebagian besar panas reaksi ini disuplai oleh eaksi pembentukan
roduk samping air dan karbondioksida.
Sedangkan kinetika reaksi pembentukan monoetilen glikol secara
katalitik pada berbagai suhu dipelajari oleh Aspen Technology, Inc.
Dari percobaan diperoleh harga kecepatan reaksinya adalah :
K = A. exp (-Ea / RT)
dalam hubungan ini :
A = 1,60. 107 l/mol. s
Ea = 18,9 kcal/mol
R = 1,987 kcal/mol K
Dari persamaan tersebut nampak bahwa semakin tinggi suhu
maka harga konstanta kecepatan reaksi akan semakin besar sehingga
laju reaksi akan semakin cepat. Namun besarnya suhu dibatasi oleh
temperatur maksimal yang diperbolehkan untuk bekerjanya katalis yang
digunakan, dimana pada suhu lebih besar daripada 120 oC katalis akan
mengalami kerusakan sehingga reaksi dijalankan pada rentang suhu
diantara 40–120 oC.

Tinjauan Termodika
Pada reaksi pembentukan etilen oksida,
1. 100 – 300 oC
C2H4 (g) + ½ O2 (g) C2H4O (g) + 24,7 kkal/mol
10 – 30 atm
2. 100 – 300 oC
C2H4 (g) + 3 O2 (g) 2 CO2 (g) + 2 H2O(g) + 316,1 kkal/mol
10 – 30 atm
Dari persamaan (1) dan (2) dapat diketahui bahwa :
H0 298 untuk reaksi (1) = 24,7 kkal
H0 298 untuk reaksi (2) = 316,1 kkal
Dilihat dari H reaksi tersebut, reaksi pembentukan etilen oksida
ini tergolong dalam reaksi eksotermis, yaitu reaksi yang melepas panas.
Panas reaksi yang sangat besar justru disuplai dari reaksi samping
pembentukan karbondioksida dan air. Karena itu, perlu adanya
pendinginan agar temperatur reaktor tetap berada pada kisaran suhu
reaksi.
Sedangkan pada reaksi pembentukan monoetilen glikol atau
reaksi hidrasi etilen oksida dan air,
40 – 120 oC
C2H4O (l) + H2O (l) C2H4(OH)2 (l) H = -79,4 kJ
5 – 50 atm monoetilen glikol
Dari harga H0 298 sebesar –79,4 kJ maka dapat dikatakan bahwa
reaksi yang terjadi merupakan reaksi eksotermis.

Fase Reaksi
Reaksi oksidasi berlangsung dalam fase gas dengan katalis padat
dan bersifat eksotermis. Oleh karena itu, dipilih reaktor jenis fixed bed
multitube. Reaksi hidrasi berlangsung dalam fase cair dengan katalis
padat dan bersifat eksotermis. Oleh karena itu, dipilih reaktor jenis
fixed bed multitube.

Kondisi Reaksi
Reaksi pembentukan etilen glikol berlangsung dalam 2 reaktor
yaitu:
1. Reaktor 1 merupakan tempat pembentukan etilen oksida yang
berlangsung pada fase gas, dalam reaktor fixed bed multi tube, suhu
100–300 oC, tekanan 10–30 atm. Konsentrasi etilen pada mixed feed 2–
10 % mol, sedangkan konsentrasi oksigen pada mixed feed 5-8 %.
Katalis yang digunakan adalah perak dengan penyangga alumina.
2. Reaktor 2 merupakan tempat pembentukan etilen glikol yang
berlangsung pada fase cair dalam reaktor fixed bed multi tube dengan
suhu 40-120 0C, tekanan 5-50 atm. Perbandingan mol air dan etilen
oksida masuk reaktor sebesar 5:1. Katalis yang digunakan adalah
Amberlist TM-400.
Pemilihan kondisi operasi didasarkan pada pertimbangan sebagai
berikut :
1. Kondisi operasi reaktor 1
a. Untuk mempertahankan reaksi tetap berjalan pada fase gas dan
mempertinggi selektifitas reaksi ditetapkan kondisi operasi pada 132 0C
dan tekanan 16,5 atm.
b. Proses dipilih menggunakan katalis perak dengan penyangga
alumina.
c. Untuk mencegah efek eksplosifitas campuran etilen dan udara, dipilih
konsentrasi etilen dan oksigen dalam mixed feed masing-masing 6%
dan 8%.
2. Kondisi Operasi Reaktor 2
a. Untuk mempertahankan agar reaksi tetap berjalan pada fase cair,
maka ditentukan kondisi operasi suhu 50 0C dan tekanan 17 atm. Pada
suhu lebih kecil dari 50 0C, proses berjalan lambat.
b. Perbandingan mol air dan etilen oksida yang dipilih 5:1. Air yang
digunakan ekses, berfungsi untuk membatasi reaksi agar yang paling
banyak terbentuk adalah monoetilen glikol.
c. Proses dipilih menggunakan katalis. Hal ini dimaksudkan untuk
memperbesar konversi etilen oksida dan selektivitas monoetilen glikol.
Selain itu katalis berfungsi mengurangi jumlah air ekses yang
ditambahkan ke dalam sistem reaksi, sehingga akan memperkecil biaya
pemisahan air dari produksi etilen glikol.

3.2.2 Katalis
Dalam reaksi heterogen gas katalis padat meskipun katalis tidak
berubah pada akhir reaksi, tetapi katalis tetap ikut dalam reaksi. Kecepatan
reaksi dapat dipercepat karena energi aktifasi tiap langkah reaksi dengan
menggunakan katalis akan lebih rendah dibanding dengan tidak menggunakan
katalis. Konversi kesetimbangan tidak dipengaruhi katalis, tetapi selektifitas
dapat ditingkatkan dengan adanya katalis.
Beberapa karakteristik sifaat katalis padat yang penting untuk diketahui
yaitu ukuran partikel, luas permukaan spesifik, diameter dan distribusi pori.
Umumnya penurunan tekanan akan semakin besar bila diameter katalis
semakin kecil. Permukaan yang luas lebih baik karena laju reaksi setara
dengan luas permukaan yang ditempati.
3.3 Langkah Proses
Proses pembuatan etilen glikol dari etilen dapat dibagi menjadi tiga
tahap :
1. Penyiapan bahan baku
Bahan baku etilen cair disimpan dalam tangki penyimpan kemudian
dipompa ke vaporizer untuk diubah menjadi gas,kemudian dipanaskan
dengan HE. Bahan baku udara dari lingkungan pabrik difilter dan dialirkan
menggunakan blower menuju drier untuk dihilangkan kandungan airnya,
kemudian dikompresi dan didinginkan dengan menggunakan HE agar sesuai
dengan kondisi operasi.
2. Pembentukan produk
Tahap ini bertujuan untuk mereaksikan etilen dengan udara membentuk
etilen oksida dalam reaktor. Reaktor yang digunakan fixed bed multitube.
Kemudian etilen oksida yang terbentuk direaksikan dengan membentuk etilen
glikol dalam reaktor fixed bed multi tube.
3. Pemurnian produk
Produk keluar dari reaktor berupa monoetilen glikol, hasil samping yaitu
dietilen glikol dan trietilen glikol, dan sisa reaktan dilewatkan ke menara
stripper. Selanjutnya, uap yang terpisah sebagai hasil atas dikondensasikan
lalu didinginkan dan digunakan sebagai absorben etilen oksida dalam kolom
absorber, sedangkan hasil bawah masuk kedalam kolom distilasi. Air sebagai
hasil atas kolom destilasi dikondensasikan dan dialirkan kembali ke reaktor.
Produk bawah yang terdiri dari monoetilen glikol, dietilen glikol dan trietilen
glikol dipompa menuju ke kolom destilasi untuk dipisahkan. Di kolom
destilasi ini, produk etilen glikol keluar sebagai hasil atas, sedangakan dietilen
glikol dan trietilen glikol sebagai hasil bawah yang kemudian dipompa ke
menara destilasi untuk dipisahkan. Hasil atas adalah dietilen glikol dan hasil
bawah adalah trietilen glikol, lalu didinginkan sebelum ditampung dalam
tangki penampungan.
BAB IV
ANALISA EKONOMI

Untuk menganalisa kelayakan berdirinya pabrik dan tingkat


pendapatannya maka dilakukan analisa perhitungan secara teknik.
Selanjutnya perlu juga dilakukan analisa terhadap aspek ekonomi dan
pembiayaannya. Dari hasil analisa tersebut diharapkan berbagai
kebijaksanaan dapat diambil untuk pengarahan secara tepat. Suatu rancangan
pabrik dianggapa layak didirikan bila dapat beroperasi dalam kondisi yang
memberikan keuntungan.
Berbagai parameter ekonomi digunakan sebagai pedoman untuk
menentukan layak tidaknya suatu pabrik didirikan dan besarnya tingkat
pendapatan yang dapat diterima dari segi ekonomi. Parameter-parameter
tersebut antara lain modal investasi, biaya produksi total, marjin keuntungan,
titik impas, laju pengembalian modal, waktu pengembalian modal, laju
pengembalian internal.
Berikut analisa ekonomi pabrik etilen glikol:
Modal investasi Rp 646.101.102.857
Biaya produksi per tahun Rp 1.085.926.256.857
Hasil jual produk per tahun Rp 1.437.714.356.325
Laba bersih per tahun Rp 245.037. 911.279
Marjin keuntungan 24,35%
Titik impas 51,02%
Laju pengembalian modal 24,58%
Waktu pengembalian modal 4,07 tahun
Laju pengembalian internal 39,86%
Return on network 40,97%
Marjin keuntungan
Marjin keuntungan adalah persentase perbandingan antara keuntungan
sebelum pajak penghasilan PPh terhadap total penjualan

PM = 24,35%
Dari hasil perhitungan diperoleh marjin keuntungan sebesar 24,35%.

Titik Impas
Titik impas adalah keadaan kapasitas produksi pabrik pada saat hasil
penjualan hanya dapat menutupi biaya produksi. Dalam keadaan ini pabrik tidak
untung dan tidak rugi.

Dari perhitungan diperoleh BEP nya adalah 51,02%

Laju Pengembalian Modal (ROI)


Laju pengembalian modal adalah persentase pengembalian modal tiap tahun
dari penghasilan bersih.
Analisa ini digunakan untuk mengetahui laju pengembalian modal investasi
total dalam pendirian pabrik. Dari hasil perhitungan diperoleh ROI sebesar
24,58%.

Pay out time (POT)


Pay out time adalah angka yang menunjukkan berapa lama waktu
pengembalian modal dengan membandingkan besar total modal investasi dengan
penghasilan bersih setiap tahun. Untuk itu, pabrik dianggap beroperasi pada
kapasitas penuh setiap tahun.

Dari perhitungan di atas pay out time nya adalah 4,07 tahun

Return on network
Return on network adalah perbandingan lab setelah pajak dengan modal
sendiri.
Internal Rate of Return
Internal rate of return adalah persentase yang menggambarkan keuntungan
rata-rata bunga per tahunnya dari semua pengeluaran dan pemasukan besarnya
sama. Dari perhitungan diperoleh internal rate of return adalah 39,45% sehingga
pabrik akan menguntungkan.
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Ethylene Glicol. http://www.kimiadotcom.


Othmer, K. 1967. Encyclopedia of Chemical Technology. Vol 9. 4th edition.
New York:John Willey & Sons.

Pratiwi, Wulan. 2009. Pembuatan Etilen Glikol Dari Etilen Oksida Dengan
Proses Karbonasi Dengan Kapasitas 80.000 Ton/Tahun.
http://www. google.com.

Wijayanti,dkk. 2009. Pabrik Etilen Glikol Dari Etilen Dengan Proses Hidrasi
Katalitik. http://www.google.com.