Anda di halaman 1dari 24

Epistemologi Pragmatisme dalam Pendidikan Kita

Oleh Rum Rosyid


Epistemologi derivasinya dari bahasa Yunani yang berarti teori ilmu pengetahuan.
Epistemologi merupakan gabungan dua kalimat episteme, pengetahuan; dan logos,
theory. Epistemologi adalah cabang filsafat yang menengarai masalah-masalah
filosofikal yang mengitari teori ilmu pengetahuan. Epistemologi bertalian dengan definisi
dan konsep-konsep ilmu, ragam ilmu yang bersifat nisbi dan niscaya, dan relasi eksak
antara ‘alim (subjek) dan ma’lum (objek). Atau dengan kata lain, epistemologi adalah
bagian filsafat yang meneliti asal-usul, asumsi dasar, sifat-sifat, dan bagaimana
memperoleh pengetahuan menjadi penentu penting dalam menentukan sebuah model
filsafat. Dengan pengertian ini epistemologi tentu saja menentukan karakter pengetahuan,
bahkan menentukan “kebenaran” macam apa yang dianggap patut diterima dan apa yang
patut ditolak. Bila Kumpulan pengetahuan yang benar/episteme/diklasifikasi, disusun
sitematis dengan metode yang benar dapat menjadi epistemologi.

Aspek epistemologi adalah kebenaran fakta / kenyataan dari sudut pandang mengapa dan
bagaimana fakta itu benar yang dapat diverifikasi atau dibuktikan kembali kebenarannya.
Pragmatisme memandang pengetahuan adalah relatif dan terus berkembang.
Pengetahuan yang benar diperoleh melalui pengalaman. Karakteristik pengalaman
merupakan suatu peristiwa aktif-pasif, dan pengukuran nilai suatu pengalaman terletak
pada persepsi hubungan-hubungan atau kontinuitas yang menyebabkan pengalaman
tersebut meningkat. Pengetahuan yang benar adalah pengetahuan yang ternyata berguna
bagi kehidupan. Pengetahuan adalah alat atau instrumen untuk berbuat.

Ukuran tingkah laku perseorangan dan sosial ditentukan secara eksperimental dalam
pengalaman-pengalaman hidup. Dengan demikian tidak ada nilai absolut. Menurut aliran
ini hakikat dari realitas adalah segala sesuatu yang dialami oleh manusia. Ia berpendapat
bahwa inti dari realitas adalah pengalaman yang dialami manusia. Ini yang kemudian
menjadi penyebab bahwa pragmatisme lebih memperhatikan hal yang bersifat keaktualan
sehingga berimplikasi pada penentuan nilai dan kebenaran. Dengan demikian nilai dan
kebenaran dapat ditentukan dengan melihat realitas yang terjadi di lapangan dan tidak
lagi melihat faktor – faktor lain semisal dosa atau tidak. Hal ini senada dengan apa yang
dikataka James, “Dunia nyata adalah dunia pengalaman manusia.” Kenyataan yang
sebenarnya adalah kenyataan fisik. Segala sesuatu dalam alam dan kehidupan adalah
berubah. Hakekat segala sesuatu adalah perubahan itu sendiri. Hidup adalah suatu proses
pembaharuan diri yang terus berlangsung dalam interaksinya dengan lingkungan.

Apa fokus pendidikan kita sekarang. Secara umum, alam menjadi titik sentral
pendidikan; alam menjadi tujuan. Manusia menjadi "budak" dari alam; ilmu, teknologi
dan hal-hal yang bersifat pragmatis mengambil tempat paling penting. Pendidikan yang
berpusat pada manusia semakin tersingkir. Ini tidak lepas dari sosok yang paling
berpengaruh dalam dunia pendidikan, John Dewey. Ia tokoh pendidikan Amerika Serikat
pada awal dan pertengahan abad ke-20 dan menggulirkan konsep pragmatisme. Dewey
mengatakan bahwa pendidikan adalah penyesuaian pribadi yang bertumbuh terhadap
lingkungannya (education is " adjusment of the growing personality to its environment).
Ia membuat lingkungan menjadi pusat pendidikan. Bagi Dewey, manusia itu harus
disesuaikan terhadap lingkungannya tanpa menyebut defenisi "lingkungan"
(environment) secara jelas."

Pendidikan adalah hidup, pertumbuhan sepanjang hidup, proses rekonstruksi yang


berlangsung terus dari pengalaman yang terakumulasi dan sebuah proses sosial. Tujuan
pendidikan adalah memperoleh pengalaman untuk berguna memecahkan masalah-
masalah baru dalam kehidupan perorangan dan bermasyarakat. Tujuan pendidikan tidak
ditentukan dari luar kegiatan pendidikan, tetapi terdapat dalam setiap proses pendidikan.
Oleh karena itu tidak ada tujuan umum pendidikan atau tujuan akhir pendidikan.

Pandangan klasik melihat pendidikan sebagai alat reproduksi kelas sosial-ekonomi


masyarakat (London, 2002; Fernandes, 1988; Labaree, 1986). Seseorang memasuki jenis
sekolah sesuai derajat sosial-ekonomi orangtua untuk memegang posisi tertentu dalam
struktur kelas masyarakat tempat asalnya. Pendidikan sebagai alat reproduksi kelas
membuka peluang mobilitas sosial vertikal. Namun, sistem demikian tidak mendobrak
struktur sosial yang menjadi akar penyebab timbulnya kelas-kelas masyarakat.

Pemikiran postmodern merombak pandangan itu. Melalui kajian radikal tentang aspek-
aspek hubungan kekuasaan dalam pendidikan, para pedagog dan filsuf pendidikan
kontemporer, seperti Caughlan (2005), Schutz (2004), Giroux (2000, 1981, 1980), dan
Mangunwijaya (1999), menegaskan pentingnya pedagogi kritis dan transformatif.
Pendidikan ditantang melahirkan insan-insan unggul yang mampu membaharui struktur
sosial masyarakat agar lebih adil, terbuka, dan partisipatif. Dalam konteks ini,
kemunculan pemimpin baru tidak memerlukan wacana karena pada dasarnya insan-insan
hasil pendidikan kritis-transformatif memiliki kualitas kepemimpinan. Pemimpin menjadi
sosok utama kumpulan insan unggul yang sama-sama bervisi menciptakan struktur sosial
baru.

Pragmatisme yang merupakan salah satu aliran yang berpangkal pada empirisme,
meskipun terdapat pengaruh idealisme jerman (hegel). John Dewey salah seorang tokoh
Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. Selain John
Dewey, tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James. Istilah
Pragmatisme berasal dari kata Yunani pragma yang berarti perbuatan (action) atau
tindakan (practice). Isme di sini sama artinya dengan isme-isme lainnya, yaitu berarti
aliran atau ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang
menekankan bahwa pemikiran itu menuruti tindakan. Pragmatisme memandang bahwa
kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis
dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu
teori itu benar kalau berfungsi (if it works).

Dengan demikian Pragmatisme dapat dikategorikan ke dalam pembahasan mengenai


teori kebenaran (theory of truth). Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan
perkembangan ide-ide sebelumnya di Eropa, sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya
pengaruh dan imbas baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa.
William James mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya, merupakan “nama
baru bagi sejumlah cara berpikir lama”. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya
sebagai kelanjutan dari Empirisme Inggris, seperti yang dirintis oleh Francis Bacon
(1561-1626), yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John
Locke (1632-1704). Pragmatisme, di samping itu, telah mempengaruhi filsafat Eropa
dalam berbagai bentuknya, baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan
Neopositivisme.

Pragmatisme, telah menjadi semacam ruh yang menghidupi tubuh ide-ide dalam ideologi
Kapitalisme, yang telah disebarkan Barat ke seluruh dunia melalui penjajahan dengan
gaya lama maupun baru. Dalam konteks inilah, Pragmatisme dapat dipandang berbahaya
karena telah mengajarkan dua sisi kekeliruan sekaligus kepada dunia yakni standar
kebenaran pemikiran dan standar perbuatan manusia. Atas dasar itu, mereka yang
bertanggung jawab terhadap kemanusiaan tak dapat mengelak dari sebuah tugas mulia
yang menantang, yakni menjinakkan bahaya Pragmatisme dengan mengkaji dan
mengkritisinya, sebagai landasan strategis untuk melakukan dekonstruksi (penghancuran
bangunan ide) Pragmatisme, sekaligus untuk mengkonstruk ideologi dan peradaban
sebagai alternatif dari Kapitalisme yang telah mengalami pembusukan dan hanya
menghasilkan penderitaan pedih bagi umat manusia.

Tinjauan Historis Pragmatisme


Setelah melalui Abad Pertengahan (abad V-XV M) yang gelap dengan ajaran gereja yang
dominan, Barat mulai menggeliat dan bangkit dengan Renaissance, yakni suatu gerakan
atau usaha yang berkisar antara tahun 1400-1600 M untuk menghidupkan kembali
kebudayaan klasik Yunani dan Romawi. Berbeda dengan tradisi Abad Pertengahan yang
hanya mencurahkan perhatian pada masalah metafisik yang abstrak, seperti masalah
Tuhan, manusia, kosmos, dan etika, Renaissance telah membuka jalan ke arah aliran
Empirisme. William Ockham (1285-1249) dengan filsafat Gulielmusnya yang
mendasarkan pada pengenalan inderawi, telah mulai menggeser dominasi filsafat
Thomisme, ajaran Thomas Aquinas yang menonjol di Abad Pertengahan, yang
mendasarkan diri pada filsafat Aristoteles. Ide Ockham ini dianggap sebagai benih awal
bagi lahirnya Renaissance.

Semangat Renaissance ini, sesungguhnya terletak pada upaya pembebasan akal dari
kekangan dan belenggu gereja dan menjadikan fakta empirik sebagai sumber
pengetahuan, tidak terletak pada filsafat Yunani itu sendiri. Dalam hal ini Barat hanya
mengambil karakter utama pada filsafat dan seni Yunani, yakni keterlepasannya dari
agama, atau dengan kata lain, adanya kebebasan kepada akal untuk berkreasi. Ini terbukti
antara lain dari ide beberapa tokoh Renaissance, seperti Nicolaus Copernicus (1473-
1543) dengan pandangan heliosentriknya, yang didukung oleh Johanes Kepler (1571-
1630) dan Galileo Galilei (1564-1643). Juga Francis Bacon (1561-1626) dengan teknik
berpikir induktifnya, yang berbeda dengan teknik deduktif Aristoteles (dengan logika
silogismenya) yang diajarkan pada Abad Pertengahan.

Jadi, Barat tidak mengambil filsafat Yunani apa adanya, sebab justru filsafat Yunani
itulah yang menjadi dasar filsafat Kristen pada Abad Pertengahan, baik periode Patristik
(400-1000 M) dengan filsafat Emanasi Neoplatonisme yang dikembangkan oleh
Augustinus (354-430), maupun periode Scholastik (1000 - 1400 M) dengan filsafat
Thomisme yang bersandar pada Aristoteles. Semua filsafat Yunani ini membahas
metafisika, tidak membahas fakta empirik sebagaimana yang dituntut oleh Renaissance.
Jadi, semangat Renaissance itu tidak bersumber pada filsafat Yunaninya itu sendiri, tetapi
pada karakternya yang terlepas dari agama.

Renaissance juga diperkuat adanya Reformasi, sebuah upaya pemberontakan terhadap


dominasi gereja Katholik yang dirintis oleh Marthin Luther di Jerman (1517). Gerakan
ini bertolak dari korupsi umum dalam gereja –seperti penjualan Surat Tanda
Pengampunan Dosa (Afllatbrieven)–, penindasannya yang telanjang, dan dominasinya
terhadap negara-negara Eropa. Meskipun Reformasi tidak secara langsung ikut
memperjuangkan apa yang disebut “pembebasan akal”, tetapi gerakan ini secara tak sadar
telah memperkuat Renasissance dengan mempelopori kebebasan beragama (Protestan)
dan telah memperlemah posisi Gereja dengan memecah kekuatan Gereja menjadi dua
aliran; Katholik dan Protestan. Kritik-kritik terhadap Injil di Jerman sekitar abad XVII
juga dianggap implikasi tak langsung dari adanya Reformasi.

Meskipun demikian, Gereja Katholik dan tokoh Reformasi memiliki sikap sama terhadap
upaya Renaissance, yakni menentang ide-ide yang tidak sesuai dengan Injil. Calvin,
seorang tokoh Reformasi di Jenewa (Swiss), mendukung pembakaran hidup-hidup
terhadap Servetus dari Spanyol (1553), yang menentang Trinitas. Gereja Katholik dan
Reformasi juga sama-sama menolak ide Copernicus (1543) tentang matahari sebagai
pusat tatasurya, seraya mempertahankan doktrin Ptolemeus yang menganggap bumi
sebagai pusat tatasurya.

Pada abad XVII, perkembangan Renaissance telah melahirkan dua aliran pemikiran yang
berbeda : aliran Rasionalisme dengan tokoh-tokohnya seperti Rene Descartes (1596-
1650), Baruch Spinoza (1632-1677), dan Pascal (1623-1662), dan aliran Empirisme
dengan tokoh-tokohnya Thomas Hobbes (1558-1679), John Locke (1632-1704).
Rasionalisme memandang bahwa sumber pengetahuan yang dapat dipercaya adalah rasio
(akal), sedang Empirisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah empiri, atau
pengalaman manusia dengan menggunakan panca inderanya.

Kemudian datanglah Masa Pencerahan (Aufklarung) pada abad XVIII yang dirintis oleh
Isaac Newton (1642-1727), sebagai perkembangan lebih jauh dari Rasionalisme dan
Empirisme dari abad sebelumnya. Pada abad sebelumnya, fokus pembahasannya adalah
pemberian interpretasi baru terhadap dunia, manusia, dan Tuhan. Sedang pada Masa
Aufklarung, pembahasannya lebih meluas mencakup segala aspek kehidupan manusia,
seperti aspek pemerintahan dan kenegaraan, agama, ekonomi, hukum, pendidikan dan
sebagainya.

Bertolak dari prinsip-prinsip Empirisme John Locke, George Berkeley (1685-1753)


mengembangkan “immaterialisme”, sebuah pandangan yang lebih ekstrim daripada
pandangan John Locke. Jika Locke berpandangan bahwa kita dapat mengenal esensi
sebenarnya (hakikat) dari fenomena material dan spiritual, Berkeley menganggap bahwa
substansi-substansi material itu tidak ada, Yang ada adalah ciri-ciri yang diamati.
Pandangan Locke dan Berkeley dikembangkan lebih lanjut oleh David Hume (1711-
1776), dengan dua ide pokoknya; yakni tentang skeptisisme (keragu-raguan) ekstrim
bahwa filsuf itu mampu menemukan kebenaran tentang apa saja, dan keyakinan bahwa
“pengetahuan tentang manusia” akan dapat menjelaskan hakikat pengetahuan yang
dimiliki manusia.

Selain George Berkeley dan David Hume, Immanuel Kant (1724-1804) juga dianggap
salah seorang tokoh Masa Pencerahan. Filsafat Kant disebut Kritisisme, yakni aliran yang
mencoba mensintesiskan secara kritis Empirisme yang dikembangkan Locke yang
bermuara pada Empirisme Hume, dengan Rasionalisme dari Descartes. Kant mulai
menelaah batas-batas kemampuan rasio, berbeda dengan dengan para pemikir
Rasionalisme yang mempercayai kemampuan rasio bulat-bulat. Namun demikian, Kant
juga mempercayai Empirisme. Walhasil dia berpandangan bahwa semua pengetahuan
mulai dari pengalaman, namun tidak berarti semua dari pengalaman. Obyek luar
ditangkap oleh indera, tetapi rasio mengorganisasikan bahan-bahan yang diperoleh dari
pengalaman tersebut.

Pada abad XIX, filsafat Kant tersebut dikembangkan lebih lanjut di Jerman oleh J. Fichte
(1762-1814), F. Schelling (1775-1854) dan Hegel (1770-1831). Namun yang mereka
kembangkan tidaklah filsafat Kant seutuhnya, tetapi lebih memprioritaskan ide-ide, yakni
tidak memfokuskan pada pembahasan fakta empirik. Karenanya, aliran mereka disebut
dengan Idealisme. Dari ketiganya, Hegel merupakan tokoh yang menonjol, karena
banyak pemikir pada abad ke-19 dan ke-20 yang merupakan murid-muridnya, baik
langsung maupun tidak. Mereka terbagi dalam dua pandangan, yaitu pengikut Hegel
aliran kanan yang membela agama Kristen seperti John Dewey (1859-1952), salah
seorang peletak dasar Pragmatisme yang menjadi budaya Amerika (baca : Kapitalisme)
saat ini, dan pengikut Hegel aliran kiri yang memusuhi agama, seperti Feuerbach, Karl
Marx, dan Engels dengan ide Materialisme yang merupakan dasar ideologi Komunisme
di Rusia.

Empirisme itu sendiri pada abad XIX dan XX berkembang lebih jauh menjadi beberapa
aliran yang berbeda, yaitu Positivisme, Materialisme, dan Pragmatisme. Positivisme
dirintis oleh August Comte (1798-1857), yang dianggap sebagai Bapak ilmu Sosiologi
Barat. Positivisme sebagai perkembangan Empirisme yang ekstrim, adalah pandangan
yang menganggap bahwa yang dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah “data-data yang
nyata/empirik”, atau yang mereka namakan positif. Nilai-nilai politik dan sosial menurut
Positivisme dapat digeneralisasikan berdasarkan fakta-fakta yang diperoleh dari
penyelidikan terhadap kehidupan masyarakat itu sendiri. Nilai-nilai politik dan sosial
juga dapat dijelaskan secara ilmiah, dengan mengemukakan perubahan historis atas dasar
cara berpikir induktif. Jadi, nilai-nilai tersebut tumbuh dan berkembang dalam suatu
proses kehidupan dari suatu masyarakat itu sendiri.

Materialisme adalah aliran yang menganggap bahwa asal atau hakikat segala sesuatu
adalah materi. Di antara tokohnya ialah Feuerbach (1804-1872), Karl Marx (1818-1883)
dan Fredericht Engels (1820-1895). Karl Marx menerima konsep Dialektika Hegel, tetapi
tidak dalam bentuk aslinya (Dialektika Ide). Kemudian dengan mengambil Materialisme
dari Feuerbach, Karl Marx lalu mengubah Dialektika Ide menjadi Dialektika
Materialisme, sebuah proses kemajuan dari kontradiksi-kontradiksi tesis-antitesis-sintesis
yang sudah diujudkan dalam dunia materi. Dialektika Materialisme lalu digunakan
sebagai alat interpretasi terhadap sejarah manusia dan perkembangannya. Interpretasi
inilah yang disebut sebagai Historis Materialisme, yang menjadi dasar ideologi
Sosialisme-Komunisme (Marxisme).

Pragmatisme dianggap juga salah satu aliran yang berpangkal pada Empirisme,
kendatipun ada pula pengaruh Idealisme Jerman pada John Dewey, seorang tokoh Salah
seorang tokoh yang berpengaruh pada Dewey adalah Francis Bacon. Sebagai seorang
empiris, Bacon menolak ilmu pengetahuan pada masanya yang baginya ilmu
pengetahuan itu tidak menyentuh realitas. Karena itu Bacon memaknai ilmu pengetahuan
itu secara baru yaitu ilmu pengetahuan yang diabdikan demi kebutuhan praktis manusia.
Dalam hal ini, Bacon tidak menolak secara mutlak keberadaan ilmu pengetahuan, namun
yang penting baginya adalah bahwa ilmu pengetahuan memiliki makna praktis bagi
kehidpan manusia.

Dari sekian banyak filsuf yang turut mendukung kelahiran teori pragmatisme hanya
Bacon sajalah yang diakui oleh Dewey. Bagi Dewey, Bacon adalah seorang nabi
inspirator pemikiran modern. Hal ini nampak sekali dalam sumbangan pemikiran
pragmatismenya. Dua sumbangan pemikiran Bacon yang sangat berpengaruh dalam
pemikiran Dewey adalah sebagai berikut: Pertama, dalam sikap, ilmu adalah pekerjaan
sosial, karena itu ilmu tidak ditatap secara lepas dari lingkup kebutuhan manusia yang
praktis. Kedua, ilmu bukan renungan mendalam seorang individu belaka, akan tetapi
lebih merupakan pekerjaan sosial yang didalamnya sekelompok orang turut berpartisipasi
dan terikat dalam satu tujan tertentu.

Pragmatisme yang dianggap pemikir paling berpengaruh pada zamannya. Selain John
Dewey, tokoh Pragmatisme lainnya adalah Charles Pierce dan William James.
Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma, artinya yang dikerjakan, yang dilakukan,
perbuatan, tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William
James (1842 - 1910) di Amerika Serikat. Menurut filsafat ini, benar tidaknya suatu
ucapan, dalil atau teori semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. Istilah
pragmaticisme ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. Pierce (1839-1914) sebagai
doktrin pragmatisme. Doktrin dimaksud selanjutnya diumumkan pada tahun 1978.
Diakui atau tidak, paham pragmatisme menjadi sangat berpengaruh dalam pola pikir
bangsa Amerika Serikat. Pengaruh pragmatisme menjalar di segala aspek kehidupan,
tidak terkecuali di dunia pendidikan. Salah satu tokoh sentral yang sangat berjasa dalam
pengembangan pragmatisme pendidikan adalah John Dewey (1859 - 1952). Pragmatisme
Dewey merupakan sintensis pemikiran-pemikiran Charles S. Pierce dan William James.
Dewey mencapai popularitasnya di bidang logika, etika epistemologi, filsafat politik, dan
pendidikan.

Pragmatisme Pendidikan di Indonesia


Terjadinya disorientasi sosial dan pragmatisme pendidikan kita, setidaknya disulut oleh
beberapa sebab, antara lain: pertama, adanya mind-set yang salah pada benak sebagian
besar masyarakat kita tentang dunia pendidikan. Asumsi yang dibangun tentang
pendidikan adalah bagaimana mereka mengukur kesuksesan karier, profesi tertentu, dan
tingkat sosial yang selalu dapat diramalkan secara jitu di masa depan. Pendidikan dengan
sangat mudah dijadikan meminjam istilah Omi Intan Naomi (1997), “jimat peramal” bagi
orang-orang. Dengan pendidikan, orang membuat rute yang pasti tentang tahapan masa
depan secara mekanistis dan terstruktur; dan cenderung mengabaikan tuntutan-tuntutan
sosial yang ada di luar jalur atau mekanisme formal bidang pendidikan yang mereka
jalani.

Kedua, berkaitan dengan penggunaan kurikulum pendidikan, terdapat kecenderungan


dimana (1) kurikulum tidak orientatif dengan aktualitas dinamika sosial yang
berkembang. Hal ini sangat nampak jika diamati bahwa pergantian atau peninjauan
kurikulum pendidikan terjadi dalam rentang waktu yang relatif lama, tidak disertai
dengan kreativitas guru untuk menambah bahan-bahan baru sebagai referensi aktual.
Pada beberapa sekolah khusus (kejuruan), kecenderungan asosial dan pragmatik ini
bahkan sangat kentara karena kurikulum yang diberikan sangat spesifik; jauh dari
orientasi-orientasi sosial. Studi tentang kurikulum pada sekolah khusus yang disponsori
oleh perusahaan-perusahaan tertentu di Amerika Serikat oleh Stephen Dobbs (1972),
menunjukkan bahwa kurikulum yang dipakai oleh sekolah-sekolah tersebut
merefleksikan kepentingan industri yang berlebihan, demikian pula dengan
strategi/metode pengajarannya, sangat dipengaruhi oleh managemen bisnis industri yang
bersangkutan. Dengan demikian, sangat tipis kiranya kesempatan untuk mengakomodir
kebutuhan-kebutuhan sosial warga belajar, karena tidak sejalan dengan kepentingan
industri; (2) kurikulum memberikan beban yang terkadang berlebih kepada warga belajar
untuk mengerjakan PR, tugas-tugas teknis, dan kewajiban les tambahan, yang tidak selalu
berkaitan dengan aktivitas penumbuhan sensitivitas sosial (social sense). Bahkan, beban
tersebut berpeluang dan cenderung mengurangi waktu anak didik untuk bergabung
dengan lingkungan sosialnya yang lain (pergaulan, permainan, aktivitas organisasi,
membaca informasi alternatif, dan sebagainya).

Ketiga, berhubungan dengan metoda pengajaran yang dipakai, terdapat kemungkinan-


kemungkinan yang tidak menguntungkan anak didik, dimana: (1) adanya kecenderungan
pola hubungan sub-ordinasi yang tegas antara murid dan guru secara tidak proporsional.
Kondisi ini menyebabkan hambatan psikologis yang besar dari anak didik, serta tidak
memberikan kebebasan ekspresi psikologis dan intelektual secara wajar. Stigma sosial
tentang ketidaksejajaran guru dengan murid terhadap ilmu, dimana guru selalu benar
sementara murid sangat mugkin salah, guru pintar dan murid selalu tidak lebih pintar dari
gurunya; secara psikologis tidaklah menguntungkan. Akibat lebih jauh dari stigma ini
bagi anak didik adalah munculnya ketergantungan dan identifikasi yang berlebihan
terhadap figur guru, atau bahkan mungkin sebaliknya, apatisme yang besar dan
memunculkan semangat perlawanan terhadap hegemoni guru karena tidak nyamannya
anak didik dalam bingkai bayang-bayang guru yang tidak selalu berorientasi positif
terhadap kebutuhan anak didik; (2) dominannya komunikasi satu arah (one way traffic of
communication) dari guru terhadap murid, dalam banyak kesempatan berpeluang
menutup partisipasi sosial anak didik untuk terlibat dalam proses belajar dan
merumuskan peran-peran sosial mereka secara optimal.
Keempat, adanya pola pendampingan yang tidak proporsional terhadap aktivitas-aktivitas
intra dan ekstra kurikuler. Misalnya pendampingan –atau lebih tepatnya campur tangan,
yang berlebihan pembina OSIS, Pramuka, dan kelompok-kelompok penalaran dan minat-
bakat lain yang bertujuan mengembangkan kemampuan kepemimpinan, manajemen, olah
raga, seni, dan studi-studi ilmiah; menjadikan kreativitas dan social achievement anak
didik terkungkung. Yang muncul kemudian adalah pola-pola kegiatan yang paternalistik
dan guru-sentris, akibat pengaruh atau arahan yang terlalu dominan.

Mengapa pendidikan Indonesia mulai jatuh dalam pragmatisme. Untuk menjawabnya,


diperlukan refleksi atas realitas sejarah dunia pendidikan Indonesia. Dalam hal ini, orde
baru mempunyai peranan yang signifikan karena selama 32 tahun, sejak kejatuhan orde
lama, orde baru menguasai seluruh aspek hidup bangsa Indonesia, termasuk dunia
pendidikan. Sebenarnya, hanya terdapat satu sebab utama yang melatarbelakangi hal itu.
Semuanya bermula dari tujuan pembangunan yang menjadi ambisi orde baru, yaitu
keberhasilan sektor ekonomi. Dunia ekonomi dianggap sebagai faktor yang urgen dan
menempati posisi poros dalam memajukan Negara.

Secara umum, kecenderungan model pendidikan kita sebagaimana diuraikan di atas,


sebangun dengan model pendidikan tradisional yang dibayangkan oleh Vernon Smith.
Menurut Smith, pendidikan tradisional yang cenderung banyak dipakai oleh berbagi
negara di dunia termasuk Amerika Serikat pada awal-awalnya; adalah pendidikan yang
memuat asumsi-asumsi sebagai berikut: (1) ada suatu kumpulan pengetahuan dan
keterampilan penting tertentu yang musti dipelajari anak-anak, (2) tempat terbaik bagi
sebagian besar anak untuk mempelajari unsur-unsur ini adalah di sekolah formal, 3) cara
terbaik supaya anak-anak bisa belajar adalah mengelompokkan mereka dalam kelas-kelas
yang ditetapkan berdasarkan usia mereka. Kita melihat, betapa mudah asumsi itu
dibangun untuk sebuah model pendidikan yang bersifat tradisional itu. Kategorisasi-
kategorisasi yang dipakai adalah kategori baku yang bersifat given in fact, tanpa harus
bersusah payah melakukan studi penakaran kebutuhan (need assessment study) lebih jauh
tentang minat-bakat atau potensi mereka sebagai anak didik; serta orientasi sosial
manakah yang harus mereka pahami sejak dini.

Para ahli pendidikan negeri ini menyelipkan pikiran John Dewey dalam Undang-undang
No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional; lebih jelas itu diselipkan dalam
pasal 15. Pada pasal ini tertulis, "Pendidikan menengah diselenggarakan untuk
melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi
anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik
dengan lingkungan sosial, budaya dan alam sekitar serta dapat mengembangkan
kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. Pada Undang-Undang
No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, warna pragmatism masih kental
sekalipun di dalam undang-undang itu tidak begitu vulgar dinyatakan. Namun, dalam
praktek sehari-hari, pikiran John Deweylah yang dominan.

Pendidikan bukan sekolah, education is not schooling. Proses pendidikan dimulai bahkan
sejak sebelum manusia dilahirkan kemuka bumi. Bayi yang sudah mulai bernyawa dalam
kandungan ibunya sebenarnya sudah dapat mengenyam pendidikan, termasuk
diantaranya IQ, EQ, dan SQ. Di beberapa negara Eropa seperti Swedia dan Denmark,
pasangan yang belum menikah dan suami yang memiliki istri dengan usia kandungan
mencapai 3-5 bulan memiliki kewajiban untuk mengikuti training prenatal education
yang telah diatur dalam kebijakan pemerintah. Betapa pemerintah di negara-negara
tersebut begitu memperhatikan pendidikan bahkan sejak manusia tersebut belum
dilahirkan ke muka bumi.

Bandingkan dengan negara Indonesia yang kasus kematian ibu dan bayi serta kekurangan
gizi balitanya masih cukup ramai mewarnai media cetak dan elektronik, tentunya
membuat ironi yang sangat signifikan. Sebab itulah, sudah seharusnya dijalankan
penyuluhan melalui berbagai lembaga kemasyarakatan dan instansi pemerintah terkait
untuk memberikan pendidikan bagi calon ibu untuk merawat bayi dalam kandungannya.
Pendidikan informal tersebut kemudian juga harus dilanjutkan dengan pendidikan untuk
merawat bayi hingga usia anak-anak, kemudian beranjak remaja, hingga mereka siap
untuk mandiri. Inilah yang disebut dengan pendidikan berbasis keluarga, sebagai salah
satu unsur dalam Tri Pusat-nya Ki Hajar Dewantara.

Manusia adalah mahluk yang paling penting dari seluruh yang dicipta; manusia
seharusnya menjadi fokus pendidikan. Ini sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan masih
seiring dengan pandangan-pandangan agama yang datang dari Timur, yang dianggap
merupakan pandangan yang cukup mewakili semua pandangan agama-agama
monoteisme tentang penciptaan alam semesta dan manusia. Berkat semangat juang yang
tinggi dari tokoh-tokoh pendidikan Islam, akhirnya berbagai kebijakan tersebut mampu
“diredam” untuk sebuah tujuan ideal yang tertuang dalam UU Republik Indonesia No 20
Tahun 2003, yaitu “ Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan
kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi
manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia,
sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab”.

Dalam pandangan Timur, segala sesuatu di alam semesta dan manusia dicipta. Tuhan
mencipta ruang dan waktu sebagai wadah segala sesuatu yang dicipta. Ia mencipta terang,
cakrawala, laut, darat, semua jenis tumbuh-tumbuhan, matahari, bulan, bintang, semua
mahluk hidup di laut seperti ikan, dan di darat, dan segala jenis burung di udara. Dan
terakhir, Ia mencipta manusia. Mengikuti logika ketimuran, Tuhan menjadi sentral atau
pusat dalam alam semesta; manusia menjadi mahkota dari seluruh ciptaan. Segala sesuatu
yang ia butuhkan disediakan sebelum mereka eksis di bumi. Bahkan mereka ditempatkan
di taman yang indah; Firdaus namanya. Jadi, pasangan suami-isteri itu tidak susah
mencari kebutuhan hidupnya.

Pendidikan Indonesia saat ini merupakan hasil dari kebijaksanaan politik pemerintah
Indonesia selama ini. Mulai dari pemerintahan Orde Lama, Orde Baru, dan Orde
Reformasi. Pendidikan Indonesia masih mementingkan pendidikan yang bersifat dan
berideologi materilisme-kapitalisme. Ideologi pendidikan yang demikian ini memang
secara teoritis tidak nampak, akan tetapi secara praktis merupakan realitas yang tidak
dapat dibantah lagi. Materialisasi atau proses menjadikan semua bernilai materi telah
merunyak di segala sendi sistem pendidikan Indonesia. Sendi-sendi yang dimasuki bukan
hanya dalam materi pelajaran, pendidik, peserta didik, manajemen, lingkungan, akan
tetapi juga tujuan pendidikan itu sendiri. Jika tujuan pendidikan telah mengarah ke hal-
hal yang bersifat materi, maka apa yang diharapkan dari proses pendidikan tersebut.

Dalam masalah kurikulum pendidikan misalnya diarahkan kepada kurikulum yang


memberikan bekal kepada peserta didik untuk mampu mendapatkan pekerjaan yang
menghasilkan pendapatan yang besar. Kurikulum tersebut dibuat sedemikian rupa dan
untuk mengikutinya harus mengeluarkan uang sangat sangat besar. Jika dalam proses
memperolehnya haru mengeluarkan dana yang besar, maka dapat dibayangkan setelah
memperoleh pengetahuan tersebut. Peserta didik yang telah selesai akan menggunakan
pengetahuan tersebut paling untuk mengembalikan modal dan tentu berupaya untuk
mendapatkan untung sebesar-besarnya.

Karena memang teori modern mengatakan bahwa pendidikan adalah investasi di masa
depan. Investasi dalam dunia ekonomi dipahami sebagai modal yang akan dipetik
keuntungannya di waktu yang akan datang. Sedangkan prinsip ekonomi yang diajarkan di
sekolah menengah adalah keluarkan modal sedikit mungkin dan hasilkan keuntungan
sebesar-besarnya. Dari sini dapat dipahami bahwa kurikulum pendidikan telah dijadikan
atau telah diselwengkan tujuannya hany auntuk mendapatkan pekerjaan. Sedangkan
untuk menjadikan manusia yang utuh bukan hanya dimarjinalkan, akan tetapi memang
dimatikan karena prinsip ekonomi tidak mengenal nilai-nilai spiritual, moralitas,
kebersamaan.

Dalam aspek pendidik misalnya banyak sekali praktek dan perilaku pendidik yang
menjual nilai untuk mendapatkan uang. Bahkan ada sebagian pendidik yang menjadikan
kewenangannya untuk memberikan nilai kepada peserta didik demi mendapatkan
pendapatan dari peserta didiknya sendiri. Modusnya adalah dengan memberikan nilai
rendah pada program regular, kemudian akan diberikan nilai agak tinggi atau bahkan
tinggi pada program khusus dimana peserta didik jug amembayar dengan biaya khusus.
Praktik dan moud operansi yang demikian ini bukan hanya menjadi realitas, akan tetapoi
sudah menjadi penyakit kronis dalam dunia pendidikan, bahkan pendidikan Islam sendiri.
Praktik yang demikian akan menjadi hilang ketika nilai-nilai moralitas benar-benar
terpancar dalam sistem pendidikan.

Nilai-nilai moralitas yang diberikan kepada peserta didik selama ini hanyalah teori-teori
yang tidak pernah dibuktikan dalam praktik kehidupan. Meskipun itu dalam praktik
pendidikan itu sendiri. Praktik pelanggaran moralitas tinggi justru sudah diajarkan oleh
para pendidik kepada peserta didik dengan berbagai praktik dan modus operandi dalam
proses pengajaran dan ujian, salah satunya adalah modus di atas.

Aspek peserta didik merupakan korban dari sistem dan proses pendidikan yang ada. Jika
sistem pendidikan nasional telah mengalami reduksi makna dari pendidikan menjadi
sekedar penyampaian pengetahuan (transfer of knowledges), maka pada saat itulah
peserta didik telah diberi pelajaran yang sangat luar biasa pengaruhnya dalam
kehidupannya kelak. Peserta didik yang sudah berpengalaman, misalnya mahasiswa S1
atau S2 dan bahkan S3 yang telah memahami praktik-praktik demikian ini dan tidak mau
memperhatikan nilai-nilai moralitas, tetapi akan melakukan praktik-praktik asal bisa
lulus dan selesai. Bahkan ada yang lebih tragis lagi yaitu asal dapat gelar, sehingga
muncul pasar gelar di Indonesia yang beberapa tahun sebelum ini sangat marak dijajakan
baik lewat media massa maupun media elektronik.

Para guru adalah pioner dalam pelaksanaan pendidikan. Sekolah melalui proses
mengajar, seharusnya berperan besar dalam proses ini. Kenyataannya, institusi tersebut
tidak mempunyai pilihan lagi selain menunggu instruksi dari pusat. Para pendidik ini
berada dalam kontrol ketat pelaksanaan kurikulum. Pendidik tidak lagi mempunyai cukup
kebebasan untuk menyampaikan informasi, karena kurikulum itu sendiri sudah
merupakan suatu bagian dari penyebarluasan ideologi pragmatisme sosial dan politik.
Tanpa kebebasan, guru tidak mungkin menciptakan iklim mengajar yang sekaligus
bersifat mendidik. Jika setiap jawaban sudah baku menurut acuan dari “atas”, sukarlah
bagi guru untuk menghadirkan sekolah sebagai ruang aman bagi anak agar ia merasa
diterima sebagai orang yang mengemukakan pikiran-pikiran dengan bebas. Tidak mudah
guru membentuk anak-anak yang berani bertanya tanpa takut salah.

Guru sendiri juga menjadi orang yang takut salah jika menyimpang dari petunjuk yang
sudah baku. Pendidikan tidak dapat lepas dari suatu proses politis yang membawa
perubahan-perubahan substansial atau paling tidak, persepsi tentang perubahan-
perubahan-dalam kekuasaan. Masalah pendidikan misalnya, tentu sangat penting bagi
pembangunan ekonomi, sebab sistem pendidikan adalah wahana pendukung pengaruh-
pengaruh politis dalam menjalankan program pemerintah. Dalam hal ini, berhasil -
tidaknya sistem pendidikan itu seringkali ditentukan oleh alasan politis daripada
rancangan teknis.

Pendidikan memang tidak bebas nilai dan tidak juga bebas budaya. Pendidikan formal
menjadi bagian yang sangat politis karena pendidikan bukan saja melibatkan semua
lapisan birokrasi pemerintah, tetapi berpengaruh dalam pembentukan karakter dan sikap
anak didik itu sendiri. Demikian juga sistem pendidikan nasional merupakan pilihan
ideologis masyarakat, bangsa, dan justeru karena itu pendidikan adalah persoalan
masyarakat. Salah satu kendala bagi pihak-pihak yang terlibat dan berusaha keras untuk
memperbaiki mutu pendidikan adalah apakah semua pihak yang ikut dalam urun debat
benar-benar memperoleh informasi lengkap. Hal ini hanya sebagai upaya konkrit untuk
memperkaya dialog yang berlangsung tentang sistem pendidikan nasional yang ideal,
berkualitas dan mampu menjawab tuntutan jaman.

Jual beli nilai, jual beli gelar, dan jual beli karya ilmiah adalah satu hal yang
menunjukkan betapa rendah mental dan moralitas para peserta didik. Fenomena di atas
merupakan realitas yang terjadi dalam dunia pendidikan yang ideologinya telah mengarah
kepada ideologi materialisme-kapitalis. Materialisasi aspek manajemen pendidikan dapat
dilihat pada praktik munculnya kebanggaan semua pihak baik pengelola, pendidik,
peserta didik, dan wali akan megahnya gedung dan kampus dimana mereka berada dan
ikut andil di dalamnya. Kemegahan gedung kampus dan sekolah menjadi tolok ukur
majunya sebuah lembaga pendidikan. Jika orientasi kemegahan gedung kampus dan
sekolah menjadi ukuran kemajuan sebuah pendidikan, maka dapat dibayangkan orientasi
pendidikannya.

Orientasi manajemen pendidikannya adalah pada kemegahan gedung secara fisikal,


sementara kemegahan spiritual dan moral; termarjinalkan atau bahkan sama sekali
ditiadakan. Semua pihak yang ada di dalamnya akan merasa bangga dan menganggap
orang lain yang tidak berada di situ sebagai masyarakat pendidikan kelas rendah.
Manajemen pendidikan yang hanya mengarah pada kemegahan gedung kampus pada
gilirannya akan ditundukkan atau dikalahkan oleh insitusi pendidikan lainnya yang
memiliki modal yang luar biasa besarnya. Jadi pada dasarnya lembaga pendidikan atau
dengan kata lain manajemen pendidikannya dimaksudkjan untuk berkompetisi. Dan
kompetisi inilah yang menjadi darah dan energi bagi penyelenggaraan pendidikannya.

Keberhasilan sebuah lembaga pendidikan hanya diukur dengan megahnya gedung,


mahalnya SPP, banyaknya peminat, dan alumninya banyak yang menduduki jabatan
tinggi. Inilah manajemen pendidikan di Indonesia saat ini. Materialisasi pada aspek
lingkungan pendidikan merupakan fenomena yang sangat jelas. Lingkungan pendidikan
di sini dipahami sebagai masyarakat yang berada di sekitar pendidikan atau dengan kata
lain adalah masyarakat Indonesia sendiri. Masyarakat Indonesia sejak memasuki era
modernisasi telah mengalami pergeseran yang luar biasa. Pergeseran tersebut mencakup
pergeseran orientasi kehidupan, pergeseran budaya, pergeseran gaya hidup, pergeseran
pandangan hidup, pergeseran pertilaku politik, pergeseran perilaku ekonomi, dan
pergeseran terhadap ajaran agama.

Pergeseran-pergeseran tersebut muaranya adalah disebabkan oleh adanya modernisasi


yang terus "dibombardirkan" kepada masyarakat, baik melalui jalur pendidikan, jalur
media massa, dan jalur birokrasi. Modernisasi pada intinya adalah upaya rasionalisasi
seluruh aspek kehidupan masyarakat, dari yang pada mulanya kental akan nuansa
religius, nuansa sakralitas, dan nuansa spiritual bahkan nuansa transendental menjadi
tidak bernuansa sama sekali kecuali nuansa rasionalitas, nuansa obyektivitas, dan nuansa
realitas-empiris.

Masyarakat yang telah bergeser pandangan hidupnya menjadi sebagaimana dikemukakan


di atas, menganggap pendidikan sebagai investasi dan ketika selesai akan mendapatkan
keuntungan lebih besar adalah sangat wajar. Semua ini pada dasarnya adalah materialsasi
lingkungan pendidikan di Indonesia. Materialisasi tujuan pendidikan merupakan landasan
awal bagi proses materialisasi seluruh aspek di atas. Tujuan di manapun dia berada
merupakan muara akhir dari semua proses yang ada sebelumnya, termasuk di sini adalah
dalam proses pendidikan. Tujuan pendidikan yang dimaterialisasikan adalah upaya
mencapai tujuan pendidikan nasional maupun pendidikan Islam dengan asumsi dapat
diukur secara kuantitatif dan dapat dilihat hasilnya secara nyata. Tujuan-tujuan
pendidikan yang telah mengalami materialisasi dapat dilihat pada tujuan para pendidik.
Misalnya, berapa alumni yang telah menjadi dokter, berapa yang telah menjadi
pengacara, berapa yang telah menjadi pejabat tinggi, berapa alumni yang telah menjadi
anggota dewan. Dengan melihat jumlah alumni yang telah menduduki jabatan apapun
akan dapat diprediksikan penghasilan mereka. Setelah diketahui pendapatan para alumni,
maka dapat diketahui keberhasilan sebuah lembaga pendidikan.

Sangat jarang atau bahkan tidak ada berapa alumni yang telah menjadi manusia bermoral,
berapa alumni yang telah memberikan kesadaran masyarakat akan arti pentingnya
persaudaraan, berapa alumni yang telah mampu memberikan pelayanan gratis kepada
masyarakat tanpa pamrih apapun, berapa alumni yang telah benar-benar melaksanakan
tujuan pendidikan yaitu menjadi manusia seutuhnya. Manusia seutuhnya di sini berarti
secara jasmani dan ruhani, secara material dan spiritual, dan secara fisik dan mental, serta
secara intelektual dan moral telah terjadi keseimbangan yang nyata. Jarang sekali atau
bahkan tidak ada sensus keberhasilan pendidikan yang mengukur kesuskesannya dengan
ranah yang demikian ini.

Nilai utama dari pandangan ini adalah argumen teoritis yang kokoh berbenturan dengan
realitas yang kurang menarik. Sementara potensi yang dimiliki bisa saja sangat besar
seperti kesepakatan ideologis Pancasila diantara beragam pluralitas masyarakat
Indonesia, upaya untuk mewujudkan potensi secara operasional teoritis itu saja bukan
soal yang mudah. Namun yang tetap penting ialah adanya sikap menumbuhkembangkan
konsensus semua pihak terkait sebagai hal yang positif, termasuk para pengambil
kebijakan di bidang pendidikan.

Pendidikan melibatkan bukan hanya unsur pendidikan itu sendiri, tetapi pihak-pihak lain.
Namun, karena pendidikan secara inheren adalah politis. Maka, semua upaya untuk
mengubah cara-cara sistem itu terorganisasikan, tidak bisa tidak, merupakan kegiatan
politis. Artinya diperlukan peran pemerintah dalam ikut mengembangkan potensi
masyarakat. Adanya pertimbangan politis inilah yang menjadi penting, karena akan
terlihat kesediaan untuk mengutamakan kepentingan kelompoklah yang ternyata menjadi
kata kunci. Untuk berhasilnya pendidikan, maka harus ada komitmen bersama dari semua
pihak yang telibat dan terpengaruh oleh proses tersebut. Sehingga, di bidang pendidikan
pun perlu dibangun suatu konsensus untuk informasi. Konsensus itu tidak hanya berlaku
bagi para pemegang kekuasaan, tetapi juga untuk melibatkan banyak pihak yang akan
ikut bertanggungjawab terhadap kemajuan pendidikan.

Dua Sifat Pragmatisme


Pragmatisme pada dasarnya merupakan gerakan filsafat Amerika yang begitu dominan
selama satu abad terakhir dan mencerminkan sifat-sifat kehidupan Amerika. Demikian
dekatnya pragmatisme dangan Amerika sehingga Popkin dan Stroll menyatakan bahwa
pragmatisme merupakan gerakan yang berasal dari Amerika yang memiliki pengaruh
mendalam dalam kehidupan intelektual di Amerika. Bagi kebanyakan rakyat Amerika,
pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran, asal dan tujuan, hakekat serta hal-hal metafisis
yang menjadi pokok pembahasan dalam filsafat Barat dirasakan amat teoritis. Rakyat
Amerika umumya menginginkan hasil yang kongkrit. Sesuatu yang penting harus pula
kelihatan dalam kegunaannya. Oleh karena itu, pertanyan what is harus dieliminir dengan
what for dalam filsafat praktis.
Membicarakan pragmatisme sebagai sebuah paham dalam filsafat, tentu tidak dapat
dilepaskan dari nama-nama seperti Charles S. Pierce, William Jamess dan John Dewey.
Meskipun ketiga tokoh tersebut dimasukkan dalam kelompok aliran pragmatisme, namun
diantara ketiganya memiliki fokus pembahasan yang berbeda. Charles S. Pierce lebih
dekat disebut filosof ilmu, sedangkan William James disebut filosof agama dan John
Dewey dikelompokkan pada filosof sosial.

Dalam The Meaning of The Truth (1909), James menjelaskan metode berpikir yang
mendasari pandangannya di atas. Dia mengartikan kebenaran itu harus mengandung tiga
aspek. Pertama, kebenaran itu merupakan suatu postulat, yakni semua hal yang di satu
sisi dapat ditentukan dan ditemukan berdasarkan pengalaman, sedang di sisi lain, siap
diuji dengan perdebatan. Kedua, kebenaran merupakan suatu pernyataan fakta, artinya
ada sangkut pautnya dengan pengalaman. Ketiga, kebenaran itu merupakan kesimpulan
yang telah diperumum (digeneralisasikan) dari pernyataan fakta. Yang lebih menarik lagi
adalah pragmatisme menjadikan konsekuensi – konsekuensi praktis sebagai standar untuk
menentukan nilai dan kebenaran.

Pragmatisme sebagai suatu interpretasi baru terhadap teori kebenaran oleh Pierce digagas
sebagai teori arti. Dalam kaitan dengan ini, dinyatakan: bahwa teori pragmatis tentang
kebenaran atau suatu proposisi dapat disebut benar sepanjang proposisi itu berlaku
[works] atau memuaskan [satisfies], berlaku dan memuaskannya itu diuraikan dengan
berbagai ragam oleh para pengamat teori tersebut). Sementara itu, James
menominalisasikan pragmatisme sebagai teori cash value. James kemudian menyatakan:
"True ideas are those that we can assimilate, validate, corrobrate, and verify. False ideas
are those that we can not" (Ide-ide yang benar menurut James adalah ide-ide yang dapat
kita serasikan, kita umumkan berlakunya, kita kuatkan dan kita periksa. Sebaliknya ide
yang salah adalah ide yang tidak demikian).

Dengan demikian, dapat dilihat sebagai penganjur Empirisme dengan cara berpikir
induktif. Menurut James, pemikir Rasionalis adalah orang yang bekerja dan menyelidiki
sesuatu secara deduktif, dari yang menyeluruh ke bagian-bagian. Rasionalis berusaha
mendeduksi yang umum ke yang khusus, mendeduksi fakta dari prinsip. Sedang pemikir
Empirisme, berangkat dari fakta yang khusus (partikular) kepada kesimpulan umum yang
menyeluruh. Seorang Empiris membuat generalisasi dari induksi terhadap fakta-fakta
partikular. Pragmatisme mempunyai dua sifat, yaitu merupakan kritik terhadap
pendekatan ideologis dan prinsip pemecahan masalah.

Kritik terhadap Pendekatan Ideologis


Sebagi kritik terhadap pendekatan ideologis, pragmatisme mempertahankan relevansi
sebuah ideologi bagi pemecahan, misalnya fungsi pendidikan. Pragmatisme mengkritik
segala macam teori tentang cita-cita, filsafat, rumusan-rumusan abstrak yang sama sekali
tidak memiliki konsekuansi praktis. Bagi kaum pragmatis, yang penting bukan keindahan
suatu konsepsi melainkan hubungan nyata pada pendekatan masalah yang dihadapi
masyarakat. Pemahaman terhadap dewey menjadi jelas jika menelusuri pandangannya
mengenai pemikiran, pengalaman, dan pengetahuan. John Dewey dianggap seorang
empiris karena baginya, pemikiran harus berpijak pada penggalaman (experience), dan
bergerak kembali menuju ke pengalaman-pengalaman. Pengalaman sangat erat kaitannya
dengan proses berpikir. Karena proses berpikir pada akhirnya tertuju pada pengalaman
tersebut.

Menurut Dewey ada 2 hal yang mempengaruhi lahirnya konsep baru mengenai
pengalaman dan relasinya dalam pengalaman dan penalaran. Pertama, perubahan
mengenai kodrat pengalaman itu sendiri. Kedua, perkembangan suatu bidang psikologi
yang berlandaskan pada biologi. Perkembangan biologi membuat segala sesuatu menjadi
berubah. Prinsipnya kalau ada kehidupan pastilah ada tingkah laku dan tindakan. Namun
penyesuaian diri itu bukanlah suatu hal yang pasif tetapi aktif, sebab organisme bertindak
terhadap lingkungan tersebut dengan memberikan perubahan terhadapnya sesuai dengan
usahanya dalam mempertahankan kehidupan dan menghadapi lingkungannya. Dalam hal
ini pengalaman merupakan proses timbal balik dan saling mempengaruhi antara makhluk
hidup dan lingkungannya dalam rangka menuju ke kehidupan yang lebih baik. Bagi
Dewey pengalaman adalah lingkungan yang merangsang organisme untuk memodifikasi
lingkungan itu dalam hubungan timbal balik.

Gerak pemikiran manusia dibangkitkan dengan suatu keadaan yang menimbulkan


permasalahan di dunia sekitar kita dan gerak itu berakhir dalam berbagai perubahan.
Pengalaman langsung bukanlah soal pengetahuan yang mengandung di dalamnya
pemisahan antara subjek dan objek, pemisahan antara pelaku dan sasarannya. Dalam
pengalaman keduanya dipersatukan. Kalau terjadi pemisahan antara pelaku dan objek, hal
itu bukan merupakan pengalaman, melainkan suatu hasil refleksi atas pengalaman tadi.
Jadi, baginya titik tuju dan titik tolak dari pemikiran adalah pengalaman. Pada mulanya
pemikiran bangkit karena adanya pengalaman (cth; yang menyulitkan) dan pada akhirnya
pemekiran membuat pemecahan yang akan mempunyai akibat merubah situasi, yang
berarti juga pengalaman itu selanjutnya( yang akan datang).

Konsep kunci filsafat Dewey adalah pengalaman. Filsafat harus berpangkal pada
pengalaman-pengalaman dan menyelidiki serta menolah pengalaman itu secara aktif
kritis. Karena itu, bagi Dewey seorang filsuf harus peka akan pentingnya pengalaman.
Pada awalnya Dewey tertarik pada teori pengalaman yang dikembangkan oleh kaum
Hegelian, tetapi kemudian ia mengembangkan suatu teori semacam neo-empirisme. Ada
3 hal pemikiran pokok mengenai pengalaman yang menurut Dewey diabaikan oleh para
pemikir idealis, yakni:
a. Pengabaian terhadap pengalaman bertindak.
b. Penolakannya terhadap gagasan mengenai suatu hal yang merupakan kesatuan yang
menyeluruh.
c. Anggapannya bahwa kaum Hegelian dan idealis mengenai kodrat alam yang terlalu
mengeneralisasikan sehingga menuntun pada proyeksi kosmis yang keliru.
Dengan meninggalkan pemikiran Hegelian ini, Dewey kemudian beranggapan bahwa
pengalaman merupakan interaksi suatu organisme dan lingkungan, alam dan
masyarakatnya. Menurutnya pengalaman merupakan pertemuan non-reflektif dengan
suatu situasi seperti halnya makan donat, menikmati pemandangan, dan bercanda dengan
teman.
Ketika menghadapi tantangan-tantangan modernisasi dan polarisasi ideologi dunia,
terutama didorong oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi modern, dunia
pendidikan tidak terlepas dari tantangan yang menuntut jawaban segera. Secara garis
besar tantangan-tantangan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut :
a.Terdapat kecenderungan perubahan sistem nilai untuk meninggalkan sistem nilai yang
sudah ada (agama). Standar-standar kehidupan dilaksanakan oleh kekuatan-kekuatan
yang berpijak pada materialisme dan sekularisme. Dan inilah titik sentral masalah
modernisasi yang menjadi akar timbulnya masalah-masalah di semua aspek kehidupan
manusia, baik aspek sosial, ekonomi, budaya maupun politik.
b. Adanya dimensi besar dari kehidupan masyarakat modern yang berupa pemusatan
pengetahuan teoritis. Ini berarti bertambahnya ketergantungan manusia pada ilmu
pengetahuan dan informasi sebagai sumber strategis pembaharuan. Tidak terpenuhinya
kebutuhan ini akan menimbulkan depersonalisasi dan keterasingan dalam dunia modern

Pragmatisme menganggap bahwa suatu teori dapat dikatakan benar apabila teori itu
bekerja. Ini berarti pragmatisme dapat digolongkan ke dalam pembahasan tentang makna
kebenaran atau theory of thurth. Hal ini dapat kita lihat dalam buku William James yang
berjudul The Meaning of Thurth. Menurut James kebenaran adalah sesuatu yang terjadi
pada ide. Menurutnya kebenaran adalah sesuatu yang tidak statis dan tidak mutlak.
Dengan demikian kebenaran adalah sesuatu yang bersifat relatif. Hal ini dapat dijelaskan
melalui sebuah contoh. Misalnya ketika kita menemukan sebuah teori maka kebenaran
teori masih bersifat relatif sebelum kita membuktikan sendiri kebenaran dari teori itu.

Pragmatisme sebagai suatu interpretasi baru terhadap teori kebenaran oleh Pierce digagas
sebagai teori arti. Dalam kaitan dengan ini, dinyatakan: According to the pragmatic
theory of truth, a proposition is true in so far as it works or satisfies, working or satisfying
being described variously by different exponent on the view (Menurut teori pragmatis
tentang kebenaran, suatu proposisi dapat disebut benar sepanjang proposisi itu berlaku
[works] atau memuaskan [satisfies], berlaku dan memuaskannya itu diuraikan dengan
berbagai ragam oleh para pengamat teori tersebut).

Sementara itu, James menominalisasikan pragmatisme sebagai teori cash value. James
kemudian menyatakan: "True ideas are those that we can assimilate, validate, corrobrate,
and verify. False ideas are those that we can not" (Ide-ide yang benar menurut James
adalah ide-ide yang dapat kita serasikan, kita umumkan berlakunya, kita kuatkan dan kita
periksa. Sebaliknya ide yang salah adalah ide yang tidak demikian). Untuk membedakan
dengan dua pendahulunya tersebut,

Dewey menamakan pragmatisme sebagai instrumentalisme.


Instrumentalisme sebenarnya sebutan lain dari filsafat pragmatisme, selain
eksperimentalisme. Bagi Dewey, Instrumentalisme adalah berpikir logis bergantung
pada tujuan kehidupan praktis. Kehidupan yang dimaksud di sini adalah hubungan
dengan situasi yang ada baik alamiah maupun sosial dan kebutuhan praktis ini sekaligus
mengarahkan pikiran kita. Karena itu menurut Dewey, berpikir hanyalah muncul jika
dibutuhkan situasi. Misalnya: Manusia adalah manusia yang selalu bertindak. Dalam
situasi tertentu tindakannya itu bisa terhambat, maka manusia itu kemudian mulaui
merancang suatu pemikiran demi kebutuhan praktisnya dalam situasi tersebut. Rancangan
itu adalah sesuatu yang belum terlaksana. Pemikiran tercipta karena ada stimulus yang
merangsangnya.

John Dewey adalah seorang pragmatis namun ia lebih memilih memakai kata
Instrumentalisme ketimbang istilah pragmatisme. Sebabnya ialah adanya keterlibatan
dalam perdebatan mengenai pengertian Pragmatisme yang terlanjur simpang siur. Banyak
filsuf terlalu mencari kaitan sejarahnya. Meskipun Dewey memakai kata
Instrumentalisme, hal itu bukan berarti ia meninggalkan pragmatisme sama sekali.
Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa buku-bukunya tetap bernuansa
pragmatisme dengan konsekuensi-konsekuensi yang berfungsi sebagai penguji amat
peting bagi keabsahan proposisi-proposisi.

Secara singkat pragmatisme adalah suatu metode untuk menentukan konsekuensi praktis
dari suatu ide dan tindakan. Ciri tindakan adalah selalu mempunyai tujuan tertentu dan
stimulus yang menariknya untuk bertindak. Oleh karena itu tindakan baru dapat dipahami
dari konsekuensi praktisnya (hasilnya). Untuk membedakan dengan dua pendahulunya
tersebut, Dewey menamakan pragmatisme sebagai instrumentalisme. Instrumentalisme
sebenarnya sebutan lain dari filsafat pragmatisme, selain eksperimentalisme. Pierce
memaksudkan pragmatisme untuk membuat pikiran biasa menjadi ilmiah, tetapi James
memandangnya sebagai sebuah filsafat yang dapat memecahkan masalah-masalah
metafisik dan agama. Bahkan lebih jauh, James menganggapnya sebagai theory of
meaning dan theory of truth. Demikianlah, Dewey memberikan istilah pragmatisme
dengan instrumentalism, operationalism, functionalism, dan experimentalism. Disebut
demikian karena menurut aliran ini bahwa ide, gagasan, pikiran, dan inteligent
merupakan alat atau instrumen untuk mengatasi kesulitan atau persoalan yang dihadapi
manusia.

Dewey merumuskan esensi instrumentalisme pragmatis sebagai to conceive of both


knowledge and practice as means of making good excellencies of all kind secure in
experienced existence. Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental
continum atau rangkaian kesatuan pengalaman, yaitu proses pendidikan yang semula dari
pengalaman menuju ide tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara
pengetahuan dan kesadaran, dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial.
Kesatuan rangkaian pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan,
yaitu hubungan kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran
dan benda.

Prinsip Pemecahan Masalah


Metode problem solving dan metode proyek telah dirintis oleh John Dewey (1859-1952)
dan dikembangkan oleh W.H Kilpatrick. John Dewey telah mengemukakan dan
menerapkan metode problem solving kedalam proses pendidikan, melakukan
pembaharuan atau inovasi dari bentuk pengajaran tradisional di mana adanya verbalisme
pendidikan. Menurut Dewey, berpikir adalah mentransformasikan suatu situasi yang
kacau – balau, situasi yang tidak menguntungkan, kegelapan, ke situasi yang lebih terang,
tenang, dan harmonis. Jadi, pemikiran hanyalah sebuah alat untuk mengatasi suatu
masalah atau menangani krisis dalam situasi konkret. Tugas dari pemikiran adalah
menemukan alat atau sarana dalam lingkup konkret demi tujuan praktis yang dibutuhkan
dalam kehidupan.

Di sini anak didik dituntut untuk dapat memfungsikan akal dan kecerdasannya dengan
jalan dihadapkan pada materi-materi pelajaran yang menantang siswa untuk terlibat aktif
dalam proses belajar mengajar. Siswa dituntut dapat berpikir ilmiah seperti menganalisa,
melakukan hipotesa dan menyimpulkannya dan penekanannya terletak kepada
kemampuan intelektualnya. Pengajaran dengan program unit, akan meniadakan batas-
batas antara pelajaran yang satu dengan pelajaran yang lain dan akan lebih memupuk
semangat demokrasi pendidikan.

W.H Kilpatrick mengatakan, suatu kurikulum yang dianggap baik didasarkan atas tiga
prinsip:
1. Meningkatkan kualitas hidup anak didik pada tiap jenjang.
2. Menjadikan kehidupan aktual anak ke arah perkembangan dalam suatu kehidupan yang
bulat dan menyeluruh.
3. Mengembangkan aspek kreatif kehidupan sebagai suatu uji coba atas keberhasilan
sekolah sehingga anak didik dapat berkembang dalam kemampuannya yang aktual untuk
aktif memikirkan hal-hal baru yang baik untuk diamalkan, dan dalam hal ini apa saja
yang ingin berbuat serta kecakapan efektif untuk mengamalkan secara bijaksana melalui
pertimbangan yang matang.

John Dewey mengembangkan lebih jauh Pragmatisme James. Jika James


mengembangkan Pragmatisme untuk memecahkan masalah-masalah individu, maka
Dewey mengembangkan Pragmatisme dalam rangka mengarahkan kegiatan intelektual
untuk mengatasi masalah sosial yang timbul di awal abad ini. Dewey tertarik pada
penerapan filsafat atas persoalan-persoalan sosial yang semakin nyata, rumit dan
membingungkan yang dihadapi di Amerika pada waktu itu. Berhadapan dengan
persoalan-persoalan ini, metode instrumentalisme menjadi efektif untuk digunakan
karena metodenya memperlakukan ide-ide untuk menyelesaikan persoalan-persoalan
praktis. Penekanan Dewey dalam metode instrumentalismenya adalah pada praktek,
yakni pada keterlibatan aktual atau partisipasi aktif dimana kita belajar dengan
mengerjakannya (learning by doing).

Dewey menggunakan pendekatan biologis dan psikologis, berbeda dengan James yang
tidak menggunakan pendekatan biologis. Dewey menerapkan Pragmatismenya dalam
dunia pendidikan Amerika dengan mengembangkan suatu teori problem solving, yang
mempunyai langkah-langkah sebagai berikut :
1. Merasakan adanya masalah.
2. Menganalisis masalah itu, dan menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin.
3. Mengumpulkan data untuk memperjelas masalah.
4. Memilih dan menganalisis hipotesis.
5. Menguji, mencoba, dan membuktikan hipotesis dengan melakukan eksperimen/
pengujian.
Oleh karena itu dnegan teori yang demikian, ajaran Dewey disebut instrumentalisme
yang baginya merupakan teori mengenai bentuk konsepsi penalaran umum yang
merupakan kekhasan dalam pemikiran untuk memperkuat konsekuensi selanjutnya.
Dewey sendiri mengartikan instrumentalisme sebagai usaha menyusun teori logis
mengenai konsep-konsep, keputusan-keputusan dan kesimpulan-kesimpulan dalam
penentuan eksperimental bagi kensekuensi-konsekuensi selanjutnya dalam praksis.

Meskipun berbeda-beda penekanannya, pragmatisme menganut garis yang sama, yakni


kebenaran suatu ide harus dibuktikan dengan pengalaman. Demikianlah pragmatisme
berkhotbah dan menggurui dunia, bahwa yang benar itu hanyalah yang mempengaruhi
hidup manusia serta yang berguna dalam praktik dan dapat memenuhi kebutuhan
manusia. Sebagai prinsip pemecahan masalah, pragmatisme mengatakan bahwa suatu
gagasan atau strategi terbukti benar apabila berhasil memecahkan masalah yang ada,
mengubah situasi yang penuh keraguan dan keresahan sedemikian rupa, sehingga
keraguan dan keresahan tersebut hilang.

Dalam kedua sifat tersebut terkandung segi negatif pragmatisme dan segi-segi positifnya.
Pragmatisme, misalnya, mengabaikan peranan diskusi. Justru di sini muncul masalah,
karena pragmatisme membuang diskusi tentang dasar pertanggung jawaban yang diambil
sebagai pemecahan atas masalah tertentu. Sedangkan segi positifnya tampak pada
penolakan kaum pragmatis terhadap perselisihan teoritis, pertarungaan ideologis serta
pembahasan nilai-nilai yang berkepanjangan, demi sesegera mungkin mengambil
tindakan langsung.

Dalam kaitan dengan dunia pendidikan, kaum pragmatisme menghendaki pembagian


yang tetap terhadap persoalan yang bersifat teoritis dan praktis. Pengembangan terhadap
yang teoritis akan memberikan bekal yang bersifat etik dan normatif, sedangkan yang
praktis dapat mempersiapkan tenaga profesional sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Proporsionalisasi yang teoritis dan praktis itu penting agar pendidikan tidak melahirkan
materialisme terselubung ketika terlalu menekankan yang praktis. Pendidikan juga tidak
dapat mengabaikan kebutuhan praktis masyarakat, sebab kalau demikian yang terjadi
berarti pendidikan tersebut dapat dikatakan disfungsi, tidak memiliki konsekuansi praktis

Kepustakaan
Alif Lukmanul Hakim, Merenungkan Kembali Pancasila Indonesia, Bangsa Tanpa
Ideologi , Newsletter KOMMPAK Edisi I 2007.
http://aliflukmanulhakim.blogspot.com
Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at
11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/
Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at
11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/
Adnan Khan(2008), Memahami Keseimbangan Kekuatan Adidaya , By hati-itb
September 26, 2008 , http://adnan-globalisues.blogspot.com/
Al-Ahwani, Ahmad Fuad 1995: Filsafat Islam, (cetakan 7), Jakarta, Pustaka Firdaus
(terjemahan Pustaka Firdaus).
Ary Ginanjar Agustian, 2003: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan
Spiritual ESQ, Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (edisi XIII),
Jakarta, Penerbit Arga Wijaya Persada.
_________2003: ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al Ihsan, (Jilid II), Jakarta,
Penerbit ArgaWijaya Persada.
A. Sonny Keraf, Pragmatisme menurut William James, Kanisius, Yogyakarta, 1987
R.C. Salomon dan K.M. Higgins, Sejarah Filsafat, Bentang Budaya, yogyakarta, 2003
Avey, Albert E. 1961: Handbook in the History of Philosophy, New York, Barnas &
Noble, Inc.
Awaludin Marwan, Menggali Pancasila dari Dalam Kalbu Kita, Senin, Juni 01, 2009
Bernstein, The Encyclopedia of Philosophy
Bagus Takwin. 2003. Filsafat Timur; Sebuah Pengantar ke Pemikiran Timur. Jalasutra.
Yogjakarta. Hal. 28
Budiman, Hikmat 2002, Lubang Hitam Kebudayaan , Kanisius, Yogyakarta.
Chie Nakane. 1986. Criteria of Group Formation. Di jurnal berjudul. Japanese Culture
and Behavior. Editor Takie Sugiyama Lembra& William P Lebra.
University of Hawaii. Hawai.
Center for Civic Education (CCE) 1994: Civitas National Standards For Civics and
Government, Calabasas, California, U.S Departement of Education.
Dawson, Raymond, 1981, Confucius , Oxford University Press, Oxford Toronto,
Melbourne
D. Budiarto, Metode Instrumentalisme – Eksperimentalisme John Dewey, dalam Skripsi,
Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta, 1982
Edward Wilson. 1998. Consilience : The Unity of Knowledge. NY Alfred. A Knof.
Fakih, Mansour, Dr, Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi . Pustaka Pelajar.
Yogyakarta : 1997
Fritjof Capra. 1982. The Turning of Point; Science, Society and The Rising Culture.
HaperCollins Publiser. London.
Hadiwijono, H, Dr, Sari Sejarah Filsafat 2, Kanisius, Yogyakarta, 1980
Kartohadiprodjo, Soediman, 1983: Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, cetakan ke-4,
Bandung, Penerbit Alumni.
Kelsen, Hans 1973: General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell
Lasiyo, 1982/1983, Confucius , Penerbit Proyek PPPT, UGM Yogyakarta
--------, 1998, Sumbangan Filsafat Cina Bagi Peningkatan Kualitas Sumber Daya
Manusia , Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Filsafat
UGM, Yogyakarta
--------, 1998, Sumbangan Konfusianisme Dalam Menghadapi Era Globalisasi , Pidato
Dies Natalis Ke-31 Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.
McCoubrey & Nigel D White 1996: Textbook on Jurisprudence (second edition),
Glasgow, Bell & Bain Ltd.
Mohammad Noor Syam 2007: Penjabaran Fislafat Pancasila dalam Filsafat Hukum
(sebagai Landasan Pembinaan Sistem Hukum Nasional), disertasi edisi III,
Malang, Laboratorium Pancasila.
---------2000: Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia (Wawasan Sosio-Kultural,
Filosofis dan Konstitusional), edisi II, Malang Laboratorium Pancasila.
Murphy, Jeffrie G & Jules L. Coleman 1990: Philosophy of Law An Introduction to
Jurisprudence, San Francisco, Westview Press.
mcklar(2008), Aliran-aliran Pendidikan, http://one.indoskripsi.com/node/ Posted July
11th, 2008
Nawiasky, Hans 1948: Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen Grundbegriffe,
Zurich/Koln Verlagsanstalt Benziger & Co. AC.
Notonagoro, 1984: Pancasila Dasar Filsafat Negara, Jakarta, PT Bina Aksara, cet ke-6.
Radhakrishnan, Sarpavalli, et. al 1953: History of Philosophy Eastern and Western,
London, George Allen and Unwind Ltd.
Roland Roberton. 1992. Globalization Social Theory and Global Culture. Sage
Publications. London. P. 85-87
Sudionokps(2008)Landasan-landasan Pendidikan, http://sudionokps.wordpress.com
Titus, Smith, Nolan, Persoalan-Persoalan Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta : 1984
UNO 1988: Human Rights, Universal Declaration of Human Rights, New York, UNO
UUD 1945, UUD 1945 Amandemen, Tap MPRS – MPR RI dan UU yang berlaku. (1966;
2001, 2003)
Widiyastini, 2004, Filsafat Manusia Menurut Confucius dan Al Ghazali, Penerbit
Paradigma, Yogyakarta
Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New
York, Harvard College, University Press.
Ya'qub, Hamzah, 1978, Etika Islam , CV. Publicita, Jakarta
Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New
York, Harvard College, University Press.
Andersen, R. dan Cusher, K. (1994). Multicultural and intercultural studies, dalam
Teaching Studies of Society and Environment (ed. Marsh,C.). Sydney:
Prentice-Hall

Banks, J. (1993). Multicultural education: historical development, dimensions, and


practice. Review of Research in Education, 19: 3-49.

Boyd, J. (1989). Equality Issues in Primary Schools. London: Paul Chapman Publishing,
Ltd.
Burnett, G. (1994). Varieties of multicultural education: an introduction. Eric
Clearinghouse on Urban Education, Digest, 98.

Bogdan & Biklen (1982) Qualitative Research For Education. Boston MA: Allyn Bacon
Campbell & Stanley (1963) Experimental & Quasi-Experimental Design for Research.
Chicago Rand McNelly
Carter, R.T. dan Goodwin, A.L. (1994). Racial identity and education. Review of
Research in Education, 20:291-336.

Cooper, H. dan Dorr, N. (1995). Race comparisons on need for achievement: a meta
analytic alternative to Graham's Narrative Review. Review of Educational
Research, 65, 4:483-508.
Darling-Hammond, L. (1996). The right to learn and the advancement of teaching:
research, policy, and practice for democratic education. Educational
Researcher, 25, 6:5-Dewantara,
Deese, J (1978) The Scientific Basis of the Art of Teaching. New York : Colombia
University-Teachers College Press
Eggleston, J.T. (1977). The Sociology of the School Curriculum, London: Routledge &
Kegan Paul.

Garcia, E.E. (1993). Language, culture, and education. Review of Research in Education,
19:51 -98.

Gordon, Thomas (1974) Teacher Effectiveness Training. NY: Peter h. Wydenpub


Hasan, S.H. (1996). Local Content Curriculum for SMP. Paper presented at UNESCO
Seminar on Decentralization. Unpublished.

Hasan, S.H. (1996). Multicultural Issues and Human Resources Development. Paper
presented at International Conference on Issues in Education of Pluralistic
Societies and Responses to the Global Challenges Towards the Year 2020.
Unpublished.

Henderson, SVP (1954) Introduction to Philosophy of Education.Chicago : Univ. of


Chicago Press
Hidayat Syarief (1997) Tantangan PGRI dalam Pendidikan Nasional. Makalah pada
Semiloka Nasional Unicef-PGRI. Jakarta: Maret,1997
Highet, G (l954), Seni Mendidik (terjemahan Jilid I dan II), PT.Pembangunan
Ki Hajar (1936). Dasar-dasar pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian
Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Kemeny,JG, (l959), A Philosopher Looks at Science, New Hersey, NJ: Yale Univ.Press
Ki Hajar Dewantara, (l950), Dasar-dasar Perguruan Taman Siswa, DIY:Majelis Luhur
Ki Suratman, (l982), Sistem Among Sebagai Sarana Pendidikam Moral Pancasila,
Jakarta:Depdikbud

Ki Hajar, Dewantara (1945). Pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian


Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Ki Hajar, Dewantara (1946). Dasar-dasar pembaharuan pengajaran, dalam Karya Ki


Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur
Persatuan Taman Siswa.
Kuhn, Ts, (l969), The Structure of Scientific Revolution, Chicago:Chicago Univ.

Langeveld, MJ, (l955), Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan), Bandung, Jemmars

Liem Tjong Tiat, (l968), Fisafat Pendidikan dan Pedagogik, Bandung, Jurusan FSP FIP
IKIP Bandung
Oliver, J.P. dan Howley, C. (1992). Charting new maps: multicultural education in rural
schools. ERIC Clearinghouse on Rural Education and Small School. ERIC
Digest. ED 348196.

Print, M. (1993). Curriculum Development and Design. St. Leonard: Allen & Unwin Pty,
Ltd.
Raka JoniT.(l977),PermbaharauanProfesionalTenagaKependidikan:Permasalahan dan
Kemungkinan Pendekatan, Jakarta, Depdikbud
Rum Rosyid (1995) Kesatuan, Kesetaraan, Kecintaan dan Ketergantungan : Prinsip-
prinsip Pendidikan Islami, Suara Almamater No 4/5 XII Bulan Juli 7
Agustus, Publikasi Ilmiah, Universitas Tajungpura, Pontianak
Rum Rosyid(2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian I : Beberapa Tantangan
Menuju Masyarakat Informasi, Penerbit KAMI , Pontianak.
Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian II : Perselingkuhan Dunia
Pendidikan Dan Kapitalisme, Penerbit KAMI, Pontianak.
Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian III : Epistemologi
Pragmatisme Dalam Pendidikan Kita, Penerbit KAMI, Pontianak.
Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian IV : Peradaban Indonesia
Evolusi Yang Tak Terarah, Penerbit KAMI , Pontianak.

Twenticth-century thinkers: Studies in the work of Seventeen Modern philosopher, edited


by with an introduction byJohn K ryan, alba House, State Island, N.Y, 1964
http://stishidayatullah.ac.id/index2.php?option=com_content
http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan.htm
http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default
http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html
http://stishidayatullah.ac.id/index2.php
http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan, .htm
http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default
http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html
Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan Modern, http://panjiaromdaniuinpai2e.blogspot.com
Koran Tempo, 12 November 2005 , Revolusi Sebatang Jerami.
http://www.8tanda.com/4pilar.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005
http://filsafatkita.f2g.net/sej2.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005
http://spc.upm.edu.my/webkursus/FAL2006/notakuliah/nota.cgi?kuliah7.htm l di down
load pada tanggal 16 November 2005
http://indonesia.siutao.com/tetesan/gender_dalam_siu_tao.php di down load pada tanggal
16 November 2005
http://storypalace.ourfamily.com/i98906.html di down load pada tanggal 16 November
2005
http://www.ditext.com/runes/y.html di down load pada tanggal 2 Desember 2005

Dari Buku Pragmatisme Pendidikan Indonesia


Beberapa Tantangan Menuju Masyarakat Informasi
Oleh : Rum Rosyid
Dosen FKIP Universitas Tanjungpura
Direktur Global Equivalency for Education