Anda di halaman 1dari 23

Imperialisme Pendidikan : Menuju Imperialisme Ekonomi

Oleh Rum Rosyid- UNIV. TANJUNGPURA- PONTIANAK


“Apa yang sering dikerjakan oleh dunia pendidikan kita. Dibendungnya aliran sungai
yang bebas berkelok-kelok”, tulis Henry David Thoreau (1850). Ungkapan salah satu
tokoh aliran anarkisme pendidikan yang hidup pada 1817-1862 ini mungkin perlu kita
renungi kembali jika kita bicara soal pendidikan saat ini. Terlebih, pembicaraan kita
dibingkai dalam perspektif kritis, seperti misalnya keringnya dimensi sosial pada dunia
pendidikan kita. Dunia pendidikan dalam perspektif kritis, tak ubahnya seperti penjajahan
bagi manusia.

Ketika manusia dikenalkan dengan lingkungan barunya melalui institusi pendidikan, saat
itu pula ia potensial dijajah secara kognitif. Persinggungan kita dengan dunia di ruang-
ruang kelas tiap hari hanyalah persinggungan dengan teks-teks yang tak selalu aktual,
seperangkat alat uji yang tak mencerdaskan, dan hegemoni wibawa guru yang terkesan
dipaksakan. Bahkan, salah satu kesalahan terbesar pendidikan adalah, ditariknya kita
dalam ‘dunia asing’ yang terpisah dari problematika dan dinamika masyarakat
sesungguhnya. Mari kita bayangkan, seberapa banyakkah waktu yang disediakan oleh
guru bagi kita untuk berfikir tentang kekerasan politik, kenakalan remaja, kenakalan diri
kita sendiri, bumi hangus di Ambon, teriakkan merdeka kawan-kawan kita di Aceh,
buruknya kualitas anggota parlemen di daerah, dan sederet fenomena sosial lainnya?
Nothing. Kalaupun ada, ia hanya menjadi ‘bumbu’ dari ocehan panjang guru-guru kita,
tanpa ekspresi empatik sama sekali.

Potret-potret sosial itu sungguhpun teramat mengesankan, tak sempat kita amati dan kita
diskusikan di dalam kelas. Padahal, kita mungkin adalah siswa-siswa yang pintar
menghafal teori-teori sosial lengkap dengan siapa tokoh pengusungnya. Maka lengkaplah
kita, dalam istilah WS Rendra, menjadi generasi ‘gagu’ di tengah masyarakat: ada, tetapi
tak kuasa mengeja gejala-gejala sosial yang sedang terjadi di tengah-tengah kita.
Peningkatan mutu sekolah secara massal merupakan suatu upaya untuk menciptakan dan
menjamin proses perubahan berlangsung secara terus menerus dan bisa dilaksanakan oleh
semua sekolah. Sekolah memiliki latar belakang dan potensi masing-masing, yang
menyebabkan tidak mungkin dilaksanakan “one size fits for all” policy.

Sebenarnya, lembaga pendidikan adalah sarana sosialisasi kedua sesudah keluarga. Oleh
karena fungsinya sebagai sarana sosialisasi itulah sekolah seharusnya banyak mengadopsi
metodologi sosial yang menjamin fungsi sosialisasi itu terpenuhi secara optimal. Yaitu
bagaimana individu-individu warga belajar tak sekedar saling kenal dan bergaul antar
mereka, tetapi juga harus melibatkan lingkungan sekitar. Secara mikro, sekolah harus
menjadi lembaga yang bisa menjalin interaksi dan interelasi yang harmonis dengan
lingkungan atau masyarakat sekitarnya. Secara makro, ia harus menjamin adanya
keterkaitan psikologis dan intelektual dengan kondisi sosial, budaya, ekonomi, dan
politik bangsa. Ini berarti bahwa dinamika sosial, budaya, ekonomi, dan politik yang
tengah terjadi menjadi referensi yang penting dalam daur belajar kita. Kalau tidak,
benarlah sekolah itu akan menjadi ‘menara gading’ yang menjadikan warga belajarnya
cenderung asosial dan pragmatik; tidak memiliki orientasi sosial yang jelas dan dedikatif.
Kebijakan dan upaya peningkatan mutu sekolah harus memiliki fleksibilitas yang tinggi.
Meskipun, tetap saja harus ada dimensi kebijakan dan upaya yang bersifat imperatif
untuk semua sekolah.(Zamroni, 2009) Rencana Strategis Depdiknas antara lain memuat
visi, dan misi Pendidikan Nasional. Visi Pendidikan Nasional Indonesia adalah
terwujudnya sistem pendidikan sebagai pranata sosial yang kuat dan berwibawa untuk
memberdayakan semua warga negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang
berkualitas sehingga mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu
berubah.

Pada tahun 2005, HDI Indonesia menduduki peringkat 110 dari 177 negara di dunia.
Bahkan peringkat tersebut semakin menurun dari tahun-tahun sebelumnya. HDI
Indonesia tahun 1997 adalah 99, lalu tahun 2002 menjadi 102, kemudian tahun 2004
merosot kembali menjadi 111 (Human Development Report 2005, UNDP). Menurut
Laporan Bank Dunia (Greaney, 1992) dan studi IEA (International Association for the
Evaluation of Educational Achievement), di Asia Timur menunjukkan bahwa
keterampilan membaca siswa kelas IV SD di Indonesia berada pada peringkat terendah.
Rata-rata skor tes membaca untuk siswa SD: 75,5 (Hongkong), 74,0 (Singapura), 65,1
(Thailand), 52,6 (Filipina), dan 51,7 (Indonesia).

Kondisi anak-anak Indonesia hanya mampu menguasai 30 persen dari materi bacaan dan
mereka sulit sekali menjawab soal-soal berbentuk uraian yang memerlukan penalaran.
Hal ini disebabkan karena mereka sangat terbiasa dalam menghapal serta mengerjakan
soal pilihan ganda. Sementara itu, kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan
ke-12 dari 12 negara di Asia (berdasarkan survei Political and Economic Risk
Consultant). Dalam hal daya saing, Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu
hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara di dunia (The World Economic Forum
Swedia, 2000). Ini artinya: Indonesia hanya berpredikat sebagai follower, bukan sebagai
leader.

Misi Pendidikan Nasional adalah: (1) Mengupayakan perluasan dan pemerataan


kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia; (2)
membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh sejak usia
dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat belajar; (3) meningkatkan
kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan pembentukan
kepribadian yang bermoral; (4) meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga
pendidikan sebagai pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman,
sikap, dan nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan (5) memberdayakan peran
serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan berdasarkan prinsip otonomi dalam
konteks Negara Kesatuan RI. Manusia Indonesia yang dimaksud dalam visi pendidikan
nasional Indonesia adalah manusia berkualitas dalam kecendekiawanan, kecerdasan
spiritual, emosional, sosial, serta kinestetis (gerak tubuh) dan kepiawaian, serta mampu
menghadapi perkembangan dan persaingan global.

Untuk membangun dunia pendidikan tidak akan terlepas dari dorongan dan semangat
spiritualisme. Bangsa-bangsa di Timur Tengah mengalami masa kejahiliyahan pada saat
sebelum Islam datang, begitu juga di Eropa dan Amerika mengalami masa kegelapan
pada saat agama tidak memberikan ruh pencerahan terhadap para pemeluknya.
Masa Kejayaan bangsa-bangsa di Timur Tengah diawali dengan kedatangan Islam di
Saudi Arabia. Dengan system pendidikan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW,
mampu mengubah paradigma jahiliyah/kebodohan menjadi peradaban yang maju. Ajaran
Islam yang pertama kali diturunkan kepada utusan Allah ini adalah iqro yang artinya
membaca. Sehingga dalam perjalanan sejarah tercatat bahwa negara-negara atau
kerajaan-kerajaan yang dikuasai oleh Islam berubah menjadi bangsa yang berilmu
pengetahuan dan maju seperti munculnya kerajaan di Andalusia dan Cordoba sebagai
pusat ilmu pengetahuan dunia pada masa abad pertengahan itu.

Demikian juga yang terjadi di Eropa dan Amerika, pada saat Eropa mengalami masa
kegelapan muncul tokoh pembaharu dari kalangan agamawan Kristen yaitu Calvin.
Dalam bukunya, Weber menganalisis bahwa kemajuan ekonomi yang pesat di Eropa dan
Amerika disebabkan adanya Etika Protestan. Etika protestan lahir di Eropa melalui
agama protestan yang dikembangkan oleh Calvin(Ahmad Subagyo, 2003). Disini muncul
ajaran yang mengatakan bahwa seseorang itu sudah ditakdirkan sebelumnya untuk masuk
ke surga atau neraka. Tetapi orang yang bersangkutan tentu saja tidak mengetahuinya.
Karena itu, mereka menjadi tidak tenang, menjadi cemas, karena ketidakjelasan nasibnya
ini. Salah satu cara untuk mengetahui apakah mereka akan masuk surga atau neraka
adalah keberhasilan kerjanya di dunia yang sekarang ini. Kalau seseorang berhasil dalam
kerjanya didunia, hampir dapat dipastikan bahwa dia ditakdirkan untuk naik surga. Kalau
kerjanya selalu gagal di dunia ini, hampir dapat dipastikan bahwa dia akan masuk ke
neraka. Adanya kepercayaan ini membuat orang-orang penganut Protestan Calvin bekerja
keras untuk meraih sukses. Mereka bekerja tanpa pamrih; artinya mereka bekerja bukan
untuk mencari kekayaan material, melainkan untuk mengatasi kecemasannya. Inilah yang
disebut sebagai Etika Protestan.

Lunturnya Idealisme Pendidikan : Efek Globalisasi


Narasi besar tentang pendidikan tidak terlepas dari sistem dunia yang berlaku. Pendidikan
merupakan bagian dari sistem yang lebih besar, dimana dia berfungsi untuk menciptakan
pelaku-pelaku (agen) yang akhirnya ikut melanggengkan sistem kekuasaan yang ada.
Rasionalitas instrumental yang bertujuan praktis ekonomis telah sangat berpengaruh pada
pembentukan karakter pendidikan modern. Efektivitas pendidikan dan spesialisasi ilmu
menjadi sebuah tuntutan yang memunculkan suatu spesifikasi status dan peran. Ini pada
akhirnya juga akan berpengaruh pada perkembangan maupun posisi dari ilmu
pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan berkembang seiring dengan kemampuan
manusia untuk mengolah alam. Ilmu pengetahuan yang berguna ialah yang bisa
mengembangkan kemampuan manusia dalam mengolah alam untuk keuntungan yang
sebanyak-banyaknya. Dengan demikian, ilmu pengetahuan itu sendiri telah menjadi
bagian dari lingkaran kepentingan kelas (golongan) penguasa untuk menjaga
kesinambungan sistem yang berlaku.

Idealisme pendidikan menjadi luntur ketika terkait dengan globalisasi, yang memiliki
dua sifat utamanya, de-teritorialisasi dan trans-nasionalisme. De-teritorialisasi dimengerti
sebagai hilangnya batas-batas wilayah geografis dari negara-negara nasional. Sedangkan
trans-nasionalisme berusaha “menghilangkan” makna nasional dan lokal. Yang nasional
atau lokal tetap ada namun menjadi tidak berharga. Dengan demikian, pendidikan
nasional menjadi tidak berharga(Andreo FR, 2010). Tidak ada lagi pengakuan akan ruang
pendidikan nasional di dunia global. Tidak mengherankan, perguruan-perguruan tinggi
lebih memilih dan memakai label “Untuk dapat bersaing di era globalisasi” dibandingkan
dengan “turut mewujudkan cita-cita bangsa.” Hal yang mendasar di dalam pendidikan
nasional, adalah identitas dari pendidikan itu sendiri. Suatu identitas yang terbentuk dari
pengenalan akan hubungan struktur (tanda) dengan dirinya sendiri (pendidikan).

Struktur yang menjadi lokus adalah negara. Pendidikan tidak dapat berdiri sendiri, tetapi
harus terkait dengan negara, dan di dalam keterkaitan itu pendidikan turut di dalam
developmentalism. Fenomena Globalisasi, sebenarnya jauh-jauh hari pada awal abad 20
sudah dilihat V.I Lenin yang mengistilahkanya dengan Imperialisme atau perkembangan
tertinggi dari Imperialisme. Yakni sebuah ciri dari perkembangan ekonomi Internasional
yang ditandai dengan penyatuan capital Industri dan capital Bank dalam kapital finance,
pembagian wilayah pasar dunia antar kapitalis, monopoli dan penguasaan atas pasar.

Senada dengan yang dianalisis Lenin dalam memandang Globalisasi, menurut Stiglitz
(2003), merupakan hubungan yang tidak setara antarnegara, lembaga, dan aktornya.
Karena itu, hubungan antar negara yang seperti tersebut lebih menguntungkan negara
yang memiliki keunggulan ekonomi dan teknologi. Disadari maupun tidak, sistem
ekonomi kapitalisme sudah berkembang dan merayap pada semua aspek kehidupan
kemasyarakatan di Indonesia, telah menjadi factor dasar material pembentuk hampir
seluruh orientasi kebijakan Negara di bidang sosial, ekonomi, politik, tanpa terkecuali
bidang pendidikan.

Lebih jauh dalam dunia pendidikan nasional yang berkembang pada era perdagangan
bebas saat ini semakin perlu untuk dipahami. Karena, semua negara anggota WTO yang
sudah menandatangani General Agreement on Trade in Services (GATS) yang mengatur
liberalisasi perdagangan 12 sektor jasa antara lain: layanan kesehatan, teknologi
informasi dan komunikasi, jasa akuntansi, pendidikan, serta jasa-jasa lainnya akan terus
“Ditekan” agar secepatnya melaksanakan kesepakatan yang diambil dalam berbagai
macam konferensi dan perundingan tingkat tinggi yang mengatur masalah perdagangan
bebas barang dan jasa tersebut.

Konsekuensi dari komitmen Indonesia dalam WTO, yang juga diikuti dengan
kesertaannya dalam menandatangani GATS (kesepakatan WTO berkaitan dengan
perdagangan barang dan jasa), AFAS (ASEAN Framework on Services) serta Deklarasi
Bogor 1994/APEC dan agenda Aksi Osaka. Semua perundingan internasional itu sebagai
produk pendukung liberalisasi pasar yang dikembangkan WTO. Itu artinya Indonesia
juga harus mengikat diri untuk ikut pada putaran-putaran lanjutan yang mendorong
Negara peserta untuk membuka pasar domestiknya secara lebih lebar dan lebih cepat
supaya mudah diakses pelaku industri dari negara lain, dan pada akhirnya menghapus
semua hambatan perdagangan barang dan jasa. Sejak Indonesia menjadi anggota WTO,
secara otomatis semua hasil perjanjian yang berhubungan dengan perdagangan
multilateral, diratifikasi menjadi UU No 7/1994 sebagai prasyaratanya agar lalu lintas
perdagangan barang dan jasa dari Indonesia bisa bersaing dan diterima di pasar bebas.
Perjanjian tersebut mengatur tata cara perdagangan barang, jasa, dan trade related
intellectual property rights (TRIPS) atau hak atas kepemilikan intelektual yang terkait
dengan perdagangan. Dalam bidang jasa, yang masuk sebagai obyek pengaturan WTO
adalah semua komoditas jasa, tanpa terkecuali bidang pendidikan. Dari kondisi diatas,
kita bisa melihat bersama begitu besarnya kepentingan para pemodal asing terhadap
dunia pendidikan nasional baik secara langsung maupun tidak langsung, karena dunia
pendidikan merupakan ladang bisnis yang sangat menjanjikan di kemudian hari.

Menolak Diskusi Metafisis dan Ideologis


Membicarakan pragmatisme sebagai sebuah paham dalam filsafat, tentu tidak dapat
dilepaskan dari nama-nama seperti Charles S. Pierce, William Jamess dan John Dewey.
Meskipun ketiga tokoh tersebut dimasukkan dalam kelompok aliran pragmatisme, namun
diantara ketiganya memiliki fokus pembahasan yang berbeda. Charles S. Pierce lebih
dekat disebut filosof ilmu, sedangkan William James disebut filosof agama dan John
Dewey dikelompokkan pada filosof sosial.

Pragmatisme adalah aliran pemikiran yang memandang bahwa benar tidaknya suatu
ucapan, dalil, atau teori, semata-mata bergantung kepada berfaedah atau tidaknya ucapan,
dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya. Ide ini
merupakan budaya dan tradisi berpikir Amerika khususnya dan Barat pada umumnya,
yang lahir sebagai ‫ آ‬sebuah upaya intelektual untuk menjawab problem-problem yang
terjadi pada awal abad ini. Pragmatisme mulai dirintis di Amerika oleh Charles S. Peirce
(1839-1942), yang kemudian dikembangkan oleh William James (1842-1910) dan John
Dewey (1859-1952).

Tentu saja, Pragmatisme tak dapat dilepaskan dari keberadaan dan perkembangan ide-ide
sebelumnya di Eropa, sebagaimana tak bisa diingkari pula adanya pengaruh dan imbas
baliknya terhadap ide-ide yang dikembangkan lebih lanjut di Eropa. William James
mengatakan bahwa Pragmatisme yang diajarkannya, merupakan “nama baru bagi
sejumlah cara berpikir lama”. Dan dia sendiri pun menganggap pemikirannya sebagai
kelanjutan dari Empirisme Inggris, seperti yang dirintis oleh Francis Bacon (1561-1626),
yang kemudian dikembangkan oleh Thomas Hobbes (1558-1679) dan John Locke (1632-
1704). Pragmatisme, di samping itu, telah mempengaruhi filsafat Eropa dalam berbagai
bentuknya, baik filsafat Eksistensialisme maupun Neorealisme dan Neopositivisme.

Aliran ini pertama kali tumbuh di Amerika pada tahun 1878. Ketika itu Charles Sanders
Pierce (1839 – 1914) menerbitkan sebuah makalah yang berjudul “How to Make Our
Ideas Clear”. Namun pragmatisme sendiri lahir ketika William James membahas
makalahnya yang berjudul ”Philosophycal Conceptions and Practical Result” (1898) dan
mendaulat Pierce sebagai Bapak Pragmatisme. Selanjutnya aliran ini makin berkembang
berkat kerja keras dari William James dengan berbagai karya tulisnya. Karya tulisnya itu
antara lain adalah, “A Pluralistic Essay”, “Essay in Radical Empiricism”, “The Will to
Believe”, dan “The Varieties of Religious Experience”. John Dewey juga ikut mengambil
bagian dalam mempopulerkan aliran ini. Karya – karyanya antara lain adalah
“Democracy and Education”, “Reconstruction in Philosophy”, “How We Think”, dan
“Experience in Education”. Namun ia dan para pengikutnya lebih suka menyebut
filsafatnya sebagai Instrumentalisme.

Istilah pragmaticisme ini diangkat pada tahun 1865 oleh Charles S. Pierce (1839-1914)
sebagai doktrin pragmatisme. Doktrin dimaksud selanjutnya diumumkan pada tahun
1978. Diakui atau tidak, paham pragmatisme menjadi sangat berpengaruh dalam pola
pikir bangsa Amerika Serikat. Pengaruh pragmatisme menjalar di segala aspek
kehidupan, tidak terkecuali di dunia pendidikan. Salah satu tokoh sentral yang sangat
berjasa dalam pengembangan pragmatisme pendidikan adalah John Dewey (1859 -
1952). Pragmatisme Dewey merupakan sintensis pemikiran-pemikiran Charles S. Pierce
dan William James. Dewey mencapai popularitasnya di bidang logika, etika
epistemologi, filsafat politik, dan pendidikan.

Pragmatisme pada dasarnya merupakan gerakan filsafat Amerika yang begitu dominan
selama satu abad terakhir dan mencerminkan sifat-sifat kehidupan Amerika. Demikian
dekatnya pragmatisme dangan Amerika sehingga Popkin dan Stroll menyatakan bahwa
pragmatisme merupakan gerakan yang berasal dari Amerika yang memiliki pengaruh
mendalam dalam kehidupan intelektual di Amerika.

Pragmatisme (dari bahasa Yunani: pragma, artinya yang dikerjakan, yang dilakukan,
perbuatan, tindakan) merupakan sebutan bagi filsafat yang dikembangkan oleh William
James (1842 - 1910) di Amerika Serikat. Menurut filsafat ini, benar tidaknya suatu
ucapan, dalil atau teori semata-mata bergantung pada manusia dalam bertindak. Suatu
tindakan dapat dilaksanakan entah sadar atau tidak termotivasi oleh adanya tujuan.
Dengan demikian pragmatik artinya tindakan bertujuan. Menurut Willian James bahwa
manusia hidup harus bertindak sebagai aktualisasi dari kewajiban untuk mencapai tujuan
tertentu yang merupakan haknya untuk dinikmati (Pragmatisme menurut William James,
hlm 35-40).

Sekalipun William James menulis Varieties of Religious Experiences, tidak berarti


bahwa dia mendukung kesadaran beragama. Selama pengalaman keagamaan itu berguna
bagi yang bersangkutan, maka ia benar. Dengan demikian, pragmatisme adalah
relativisme. Tidak ada kebenaran abadi dan mutlak, segalanya tergantung pada apakah
"kebenaran" itu berguna atau tidak. Arti umum dari pragmatisme ialah kegunaan,
kepraktisan, getting things done. Menjadikan sesuatu dapat dikerjakan adalah kriteria
bagi kebenaran(Kuntowidjoyo, 2004).

Dalam suasana hidup yang serba pragmatis ini, tidak ada lagi tempat untuk wacana
metafisis yang menyangkut kesadaran terdalam dari makna dan tujuan hidup di atas
kebenaran hakiki. Hal-hal yang bersifat nilai, norma dan moral sebagaimana ditawarkan
agama dipandang suatu kemewahan yang melangit dan cerita tahayul. Tak ada lagi etika
sebagai sandaran sebagaimana yang di ajarkan oleh agama, kecuali moralitas situasional
yang mengabdi pada situasi dan kondisi yang berlaku sesuai kemajuan zaman. Dan pada
akhirnya, agama akan kehilangan nilai dan elan vitalnya sekaligus tersingkir dengan
sendirinya jika para pemeluknya hanyut pada mentalitas pragmatis.
James berpendapat bahwa kebenaran itu tidak terletak di luar dirinya, tetapi manusialah
yang menciptakan kebenaran. It is useful because it is true, it is true because it is useful.
Karena kriteria kebenaran itulah, pragmatisme sering dikritik sebagai filsafat yang
mendukung bisnis dan politik Amerika. Dengan adanya pragmatisme tidak ada
sosialisme di Amerika. (Ada memang Partai Komunis Amerika dan toko-toko buku
Marxisme. Tetapi, baik sosialisme maupun komunisme tidak pernah diperhitungkan
dalam dunia politik). Kaum buruh Amerika juga menjadi pendukung kapitalisme karena
mereka ikut berkepentingan. Hampir-hampir tidak ada ada kritik terhadap kapitalisme,
kecuali dari gerakan The New Left pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.

Pandangan Pragmatisme Mengenai Hubungan Alam dan Manusia


Faham pragmatisme merupakan cerminan dari life style masyarakat Amerika pada
umumnya. Pragmatisme merupakan sebuah aliran yang berusaha menengahi antara
tradisi empirisme dan tradisi idealisme. Menurut tokoh pragmatisme John Dewey filsafat
merupakan pengatur kehidupan dan aktivitas manusia secara lebih baik, untuk di dunia,
dan sekarang. Dalam pandangan pragmatisme manusia dan alam dipandang sebagai
sesuatu yang selalu saling bersandar. Manusia bukan dua bagian yang berbeda antara
jiwa dan badan, ia bersatu dengan alam dan alam di interpretasikan sehingga mencakup
manusia. Alam dalam manusia adalah alam yang sudah berfikir dan menjadi cerdas.
Alam dikatakan tidak rasional dan tidak irrasonal. Alam dapat difikirkan sekaligus
difahami. Alam dipandang sebagai sesuatu yang harus dirubah dan dikontrol melalui
eksperimen-eksperimen.

Pandangan Dewey tersebut membuat kemajuan yang linear pada masyarakat Barat.
Manusia Barat terobsesi untuk melakukan berbagai eksperimen mengenai alam dan
ternyata hal ini mewujudkan penemuan-penemuan mutakhir di zamannya.
Nietzsche mendambakan manusia yang terbaik adalah mereka yang mampu mengatasi
segala keterbatasannya. Jika ia telah mampu mengatasi hal tersebut ialah yangdinamai
oleh Nietzsche sebagai Ubber mench (superman). Manusia diyakini sebagai makhluk
yang multidimensional maka dari itu sangat sulit untuk menafsirkan secara menyeluruh
dan tepat apa yang menjadi keinginan dan tujuan dari hidupnya.

Pragmatisme yang telah mendominasi masyarakat Barat merupakan sebuah pencapaian


filsafat yang sangat bagus, filsafat yang semula hanya berhenti pada masalah-masalah
yang bersifat esensial dan utopis oleh faham pragmatisme telah dilahirkan ke dalam
dunia. Pragmatisme menekankan pada pendirian dan metode lebih daripada doktrin
filsafat yang sistematis. Teori kebenaran yang diungkapkan oleh seorang tokoh
pragmatisme, William James mengatakan bahwa suatu ide itu benar jika ia berhasil dan
memberi akibat-akibat yang memuaskan. Oleh sebab itu kebenaran bersifat relatif dan
terus berkembang. Kebenaran (truth) adalah yang menjadikan berhasil dalam cara kita
berfikir.

Asas kegunaan atas hasil dari sebuah tindakan oleh masyarakat pragmatis telah biasa
disalahartikan sebagai sebuah dalil pembenaran atas terjadinya eksploitasi alam.
Pembangunan pabrik dengan dampak polusi yang tinggi diperbolehkan dengan dalih
untuk membuka lapangan kerja yang luas sekaligus guna mengurangi tingkat
pengangguran di sebuah wilayah. Demikian dalil asas manfaat tersebut terus bergulir
hingga sekarang. Dominasi masyarakat industri maju terhadap negara berkembang
menggunakan alasan-alasan pragmatis pun akhirnya tidak dapat dihindari lagi.

Sekularisme sebagai realitas


Metafisika bisa diartikan sebagai the theory of reality. Suatu upaya filosofis untuk
memahami karakteristik mendasar atau esensial dari alam semesta dalam suatu simpul
yang sederhana namun serba mencakup. Secara sederhana, metafisikawan berusaha
menjelaskan rangkuman dan intisari dari apa (of what is), apa yang ada (of what exists),
dan apa yang sejati ada (of what is ultimately real). Intisari atau substansi realitas ini
secara kualitatif maupun kuantitatif bisa jadi satu atau banyak. Mereka yang beraliran
kuantitatif (yakni hakikat sebagai rangkuman realitas atau as the sum of reality) terbagi
kedalam tiga posisi pandang: (1) monisme, (2) dualisme, dan (3) pluralisme.

Sedangkan yang beraliran kualitatif (yakni hakikat sebagai intisari dari realitas atau as the
substance of reality) terbagi kedalam 4 posisi pandang: (1) idealisme, bahwa hakikat
realitas bersifat mental atau spiritual; (2) realisme, bahwa hakikat realitas bersifat
material atau fisis. Dua aliran tersebut termasuk kategori monisme. (3) Thomisme yang
mengkombinasikan dua corak aliran monisme sebelumnya. (4) Pragmatisme, yang
menolak untuk mengkuantifikasi atau mengkualifikasikan realitas. Mereka lebih suka
mengatakan bahwa realitas senantiasa berada pada keadaan berubah dan mencipta secara
konstan sekalipun secara literal bisa dinyatakan ada ketidakterbatasan filosofis baik jenis
maupun jumlahnya.

Pemikiran liberal mempunyai akar sejarah sangat panjang dalam sejarah peradaban Barat
Kristen. Pada tiga abad pertama Masehi, agama Kristen mengalami penindasan di bawah
Imperium Romawi sejak berkuasanya Kaisar Nero (tahun 65). Kaisar Nero bahkan
memproklamirkan agama Kristen sebagai suatu kejahatan. (Idris, 1991:74). Menurut
Abdulah Nashih Ulwan (1996:71), pada era awal ini pengamalan agama Kristen sejalan
dengan Injil Matius yang menyatakan,"Berikanlah kepada Kaisar apa yang menjadi milik
Kaisar dan berikanlah kepada Tuhan apa yang menjadi milik Tuhan." (Matius, 22:21).

Namun kondisi tersebut berubah pada tahun 313, ketika Kaisar Konstantin (w. 337)
mengeluarkan dekrit Edict of Milan untuk melindungi agama Nasrani. Selanjutnya, pada
tahun 392 keluar Edict of Theodosius yang menjadikan agama Nasrani sebagai agama
negara (state-religion) bagi Imperium Romawi. (Husaini, 2005:31). Pada tahun 476
Kerajaan Romawi Barat runtuh dan dimulailah Abad Pertengahan (Medieval Ages) atau
Abad Kegelapan (Dark Ages). Sejak itu Gereja Kristen mulai menjadi institusi dominan.
Dengan disusunnya sistem kepausan (papacy power) oleh Gregory I (540-609 M), Paus
pun dijadikan sumber kekuasaan agama dan kekuasaan dunia dengan otoritas mutlak
tanpa batas dalam seluruh sendi kehidupan, khususnya aspek politik, sosial, dan
pemikiran. (Idris, 1991:75-80; Ulwan, 1996:73).

Abad Pertengahan itu ternyata penuh dengan penyimpangan dan penindasan oleh
kolaborasi Gereja dan raja/kaisar, seperti kemandegan ilmu pengetahuan dan
merajalelanya surat pengampunan dosa. Maka Abad Pertengahan pun meredup dengan
adanya upaya koreksi atas Gereja yang disebut gerakan Reformasi Gereja (1294-1517),
dengan tokohnya semisal Marthin Luther (w. 1546), Zwingly (w. 1531), dan John Calvin
(w. 1564). Gerakan ini disertai dengan munculnya para pemikir Renaissans pada abad
XVI seperti Machiaveli (w. 1528) dan Michael Montaigne (w. 1592), yang menentang
dominasi Gereja, menghendaki disingkirkannya agama dari kehidupan, dan menuntut
kebebasan.

Selanjutnya pada era Pencerahan (Enlightenment) abad XVII-XVIII, seruan untuk


memisahkan agama dari kehidupan semakin mengkristal dengan tokohnya Montesquieu
(w. 1755), Voltaire (w. 1778), dan Rousseau (1778). Puncak penentangan terhadap
Gereja ini adalah Revolusi Perancis tahun 1789 yang secara total akhirnya memisahkan
Gereja dari masyarakat, negara, dan politik. (Qashash, 1995:30-31). Sejak itulah lahir
sekularisme-liberalisme yang menjadi dasar bagi seluruh konsep ideologi dan peradaban
Barat. Bagi kebanyakan rakyat Amerika, pertanyaan-pertanyaan tentang kebenaran, asal
dan tujuan, hakekat serta hal-hal metafisis yang menjadi pokok pembahasan dalam
filsafat Barat dirasakan amat teoritis.

Menurut Ahmad Al-Qashash(Yayat Hidayat, 13/1/2009) dalam kitabnya Usus Al-


Nahdhah Al-Rasyidah (1995:31) akar ideologi Barat adalah ide pemisahan agama dari
kehidupan (sekularisme), yang pada gilirannya melahirkan pemisahan agama dari negara.
Sekularisme inilah yang menjadi induk bagi lahirnya segala pemikiran dalam ideologi
Barat. Para komentator seperti Zeyno Baran, direktur the International Security and
Energy Programs Nixon Center yang masih mengidap mentalitas penjajah saat
mendiskusikan kebijakannya di dunia Islam. Pengamat sekuler tidak dengan tulus hati
berdialog dengan dunia Islam. Mereka hanya melihat dari satu sisi saja, yakni
kepentingan penjajahan Barat. Hal ini tampak dari pernyatan Baran yang menyatakan
bahwa Barat bisa membantu (negeri-negeri muslim) untuk mengembangkan kurikulum
sekolah yang menekankan pada cara berpikir kritis, patriotisme, etika, dan nilai-nilai
Islam yang sejalan dengan demokrasi dan sekulerisme. "can assist them (Muslim
countries) in developing school curricula that emphasise critical thinking, patriotism,
ethics and those Islamic values that are compatible with democracy and secularism."
Tentu saja kaum muslim berhak bertanya tentang nilai-nilai Islam yang tidak sesuai
dengan sekulerisme , mengapa tidak diajarkan di sekolah mereka.

Kenyataannya banyak umat Islam yang menolak sistem sekuler yang ditawarkan oleh
Barat dan menginginkan tegaknya Khilafah saat ini. Baran sebenarnya mengakui hal ini
dari pernyataannya tentang umat Islam yang semakin menyadari nilai-nilai dasar Barat
dan menolaknya. "Akan semakin banyak umat Islam dan bukan hanya teroris yang
percaya mereka akan diremehkan dalam tatanan dunia yang dipimpin oleh AS", tegasnya.
Ditambahkan oleh Baran: "Mereka yakin agenda demokrasi dan kebebasan George W.
Bush hanyalah tipuan untuk menenangkan mereka, yang dengan itu AS bisa
mempertahankan hegomoni globalnya". Sementara itu masyarakat sekuler Barat telah
kehilangan perekat yang kuat ditengah masyarakat akibat penyakit kronis individualisme,
kejahatanpun merajelala, hubungan sosial yang retak dan paham materialisme yang
fanatis. Mengimpor model sekuler yang gagal dan hancur dari Barat ke dunia Islam ,
seperti membiarkan menyebarnya virus flu burung.
Berbagai bentuk pemikiran liberal seperti liberalisme di bidang politik, ekonomi, ataupun
agama, semuanya berakar pada ide dasar yang sama, yaitu sekularisme (fashl al-din 'an
al-hayah). Dengan hanya melihat pendapat kelompok moderat pinggiran, Baran terlalu
menekankan perbedaan internal dalam peradaban Islam, sementara mengabaikan
pertentangan yang menyeluruh antara dua peradaban yang bersaing secara ide yang
dalam wacana intelektual dunia Barat dikenal dengan perdebatan antara Imperium vs
Kosmopolis. Penganjur ide imperium menyakini bahwa Barat telah menciptakan tatanan
dunia neo-liberal yang tidak adil lewat pemikiran imperalisme. Mereka menggunakan
hutang luar negeri, perdagangan yang tidak adil, dukungan terhadap penguasa yang tirani
dan pendudukan ilegal di luar negeri untuk kepentingan imperialisme-mereka . Disisi
lain, kebebasan sipil dihambat dengan cara menghembuskan rasa ketakutan (antara lain
lewat isu terorisme). Sebaliknya, penganjur pandangan kosmopolis menyakini tatanan
kapitalis dan sekuler saat ini dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan harus dijaga
meskipun dibutuhkan serangan intervensi militer sebagai bentuk pre-empative (serangan
sebelum diserang).

Rakyat Amerika umumya menginginkan hasil yang kongkrit. Sesuatu yang penting harus
pula kelihatan dalam kegunaannya. Oleh karena itu, pertanyan what is harus dieliminir
dengan what for dalam filsafat praktis. Dalam rangka itulah, kaum pragmatis tidak mau
berdiskusi bertele-tele, bahkan sama sekali tidak menghendaki adanya diskusi, melainkan
langsung mencari tindakan yang tepat untuk dijalankan dalam situasi yang tepat pula.
Kaum pragmatis adalah manusia-manusia empiris yang sanggup bertindak, tidak
terjerumus dalam pertengkaran ideologis yang mandul tanpa isi, melainkan secara nyata
berusaha memecahkan masalah yang dihadapi dengan tindakan yang konkrit.

Karenanya, teori bagi kaum pragmatis hanya merupakan alat untuk bertindak, bukan
untuk membuat manusia terbelenggu dan mandeg dalam teori itu sendiri. Teori yang
tepat adalah teori yang berguna, yang siap pakai, dan yang dalam kenyataannya berlaku,
yaitu yang mampu memungkinkan manusia bertindak secara praktis. Kebenaran suatu
teori, ide atau keyakinan bukan didasarkan pada pembuktian abstrak, melainkan
didasarkan pada pengalaman, pada konsekuensi praktisnya, dan pada kegunaan serta
kepuasan yang dibawanya. Pendeknya, ia mampu mengarahkan manusia kepada fakta
atau realitas yang dinyatakan dalam teori tersebut.

Sekularisme di Indonesia
Masa kejayaan Indonesia pra-kemerdekaan, terjadi ketika kerajaan-kerajaan di Indonesia
berjaya di tanah air. Awal munculnya kerajaan di tanah air diinspirasi dari pertumbuhan
agama Hindu dan Budha. Semangat spiritualisme masyarakat mendorong kegairahan
untuk mendirikan pusat-pusat pendidikan padepokan yang mengajarkan sendi-sendi
kehidupan dan membangun sebuah komunitas masyarakat yang adil, berbudaya dan
beradab. Dari padepokan-padepokan melahirkan ksatria-ksatria calon pemimpin bangsa
raja. Pemimpin-pemimpin yang lahir dari kalangan ksatria yang mentas dari godokan
kawah candradimuka pendidikan lebih berperilaku adil, cerdas, arif dan bijaksana,
sehingga mampu melahirkan sebuah bangsa yang besar.
Sekularisme sebagai akar liberalisme, masuk ke Indonesia melalui proses penjajahan,
khususnya oleh pemerintah Hindia Belanda. Prinsip negara sekular telah termaktub
dalam Undang-Undang Dasar Belanda tahun 1855 ayat 119 yang menyatakan bahwa
pemerintah bersikap netral terhadap agama, artinya tidak memihak salah satu agama atau
mencampuri urusan agama. (Suminto, 1996:27). Prinsip sekular dapat ditelusuri pula dari
rekomendasi Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial untuk melakukan Islam
Politiek, yaitu kebijakan pemerintah kolonial dalam menangani masalah Islam di
Indonesia. Kebijakan ini menindas Islam sebagai ekspresi politik.

Inti Islam Politiek adalah : (1) dalam bidang ibadah murni, pemerintah hendaknya
memberi kebebasan, sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda; (2)
dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah hendaknya memanfaatkan adat kebiasaan
masyarakat agar rakyat mendekati Belanda bahkan membantu rakyat yang akan
menempuh jalan tersebut; (3) dalam bidang politik atau kenegaraan, pemerintah harus
mencegah setiap upaya yang akan membawa rakyat pada fanatisme dan ide Pan-Islam.
Politik pemisahan inilah yang oleh Kernkamp disebut Splitsingstheorie, sebab pada
hakekatnya agama Islam tidak begitu jauh memisahkan ketiga bidang ini(Suminto,
1996:12). Secara resmi pemisahan antara gereja dan Negara baru terjadi pada tahun 1935;
dan sejak itu administrasi gereja dilepaskan dari pengawasan Gubernur Jenderal, dan para
pengelola gereja tidak lagi diangkat oleh pejabat pemerintah(Suminto, 1996: 37).

Politik Etis yang dijalankan penjajah Belanda di awal abad XX semakin menancapkan
liberalisme di Indonesia. Salah satu bentuk kebijakan itu disebut unifikasi, yaitu upaya
mengikat negeri jajahan dengan penjajahnya dengan menyampaikan kebudayaan Barat
kepada orang Indonesia. Pendidikan, sebagaimana disarankan Snouck Hurgronje,
menjadi cara manjur dalam proses unifikasi agar orang Indonesia dan penjajah
mempunyai kesamaan persepsi dalam aspek sosial dan politik, meski pun ada perbedaan
agama. (Noer, 1991:183).

Proklamasi kemerdekaan Indonesia tahun 1945 seharusnya menjadi momentum untuk


menghapus penjajahan secara total, termasuk mencabut pemikiran sekular-liberal yang
ditanamkan penjajah. Tapi sayang sekali ini tidak terjadi. Revolusi kemerdekaan
Indonesia hanyalah mengganti rejim penguasa, bukan mengganti sistem atau ideologi
penjajah. Pemerintahan memang berganti, tapi ideologi tetap sekular. Revolusi ini tak
ubahnya seperti Revolusi Amerika tahun 1776, ketika Amerika memproklamirkan
kemerdekaannya dari kolonialisasi Inggris. Amerika yang semula dijajah lantas merdeka
secara politik dari Inggris, meski sesungguhnya Amerika dan Inggris sama-sama sekular.

Karena sudah sekular, dapat dimengerti mengapa berbagai bentuk pemikiran liberal
sangat potensial untuk dapat tumbuh subur di Indonesia, baik liberalisme di bidang
politik, ekonomi, atau pun agama. Dalam bidang ekonomi, liberalisme ini mewujud
dalam bentuk sistem kapitalisme (economic liberalism), yaitu sebuah organisasi ekonomi
yang bercirikan adanya kepemilikan pribadi (private ownership), perekonomian pasar
(market economy), persaingan (competition), dan motif mencari untung (profit).
(Ebenstein & Fogelman, 1994:148). Dalam bidang politik, liberalisme ini nampak dalam
sistem demokrasi-liberal yang meniscayakan pemisahan agama dari negara sebagai titik
tolak pandangannya dan selalu mengagungkan kebebasan individu. (Audi, 2002:47).
Dalam bidang agama, liberalisme mewujud dalam modernisme (paham pembaruan),
yaitu pandangan bahwa ajaran agama harus ditundukkan di bawah nilai-nilai peradaban
Barat. (Said, 1995:101).

Pendidikan Islam merupakan bagian integral dari sistem pendidikan nasional, bahkan
pendidikan Islam merupakan aset nasional. Karenanya, posisi pendidikan Islam sebagai
subsistem pendidikan nasional bukan sekadar berfungsi sebagai suplemen, tetapi sebagai
komponen substansial. Artinya, pendidikan Islam merupakan komponen yang sangat
menentukan perjalanan pendidikan nasional sejak pra-kemerdekaan hingga saat ini.
Dari waktu ke waktu, masalah pendidikan Islam di negeri ini ternyata juga tidak luput
dari dinamika politik kekuasaan. Pertanyaannya, apa dan bagaimana kebijakan politik
pendidikan Islam di negeri ini? Secara yuridis, hal ini telah terakomodasi dalam Undang-
Undang Sisdiknas No. 20 tahun 2003 dan Peraturan Pemerintah RI Nomor 55 Tahun
2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan.

Dari payung hukum yang mengatur pendidikan Islam tersebut bukan berarti kini tidak
menyisakan masalah baik secara institusional maupun politis. Banyak kalangan
mempersoalkan dan mengkritisi, bahwa dengan terintegrasikannya sistem pendidikan
nasional Islam sebagai komponen substansial ke dalam sistem pendidikan nasional, maka
konsep lama yang membatasi pengertian pendidikan Islam secara sempit hanya
pendidikan keagamaan seharusnya dihapuskan. Ironisnya hingga kini masih ada
dikotomisasi.

Padahal, implikasi politis dari payung hukum tersebut seharusnya kebijakan lama yang
sampai sekarang masih berlaku yaitu memisahkan antara pendidikan Islam (keagamaan)
yang dikelola dan dibina oleh Departemen Agama dan pendidikan umum yang dibina dan
dikelola oleh Departemen pendidikan Nasional harus ditinjau kembali.Upaya peninjauan
kembali peranan Depag sebagai pengelola pendidikan Islam memerlukan pikiran jernih,
dengan menghilangkan kegamangan dari para elite Muslim dan menanggalkan beban
politis ideologis masa lalu yang selama ini menggelayutinya serta memfokuskan pada
pertimbangan pedagogis dan akademis. Jika hal ini dapat dilakukan, maka akan lahir
kebijakan yang reformatif, yaitu: pengelolaan pendidikan Islam yang selama ini berada di
tangan Departemen Agama diserahkan kepada Departemen pendidikan Nasional(Choirul
Mahfud, 2009).

Tentu hal ini bukan perkara mudah baik bagi Depdiknas maupun Depag dalam mengatur
kembali masalah pendidikan Islam yang sudah sekian tahun terpisah. Keterpisahan dua
institusi besar tidak luput dari sejarah dan situasi kondisi sosio-kultural-politik pada masa
itu. Waktu itu, kekuatan sosio politik pada awal kemerdekaan terbelah tajam secara
ideologis menjadi nasionalis sekuler dan nasionalis Islam yang keduanya terlibat dalam
pergumulan politik ideologis sedemikian keras. Puncaknya, para tokoh nasionalis Islam
di awal kemerdekaan memperjuangkan masuknya pendidikan Islam (keagamaan) dalam
pengelolaan Departemen Agama. Sehingga, Departemen Agama dianggap sebagai
representasi kumpulan semua kekuatan sosio-politik agama (Islam) dan sebagai satu-
satunya penyangga pilar pendidikan Islam.
Ketersesatan sejarah Indonesia itu terjadi karena saat menjelang proklamasi (seperti
dalam sidang BPUPKI), kelompok sekular dengan tokohnya Soekarno, Hatta, Ahmad
Soebarjo, dan M. Yamin memenangkan kompetisi politik melawan kelompok Islam
dengan tokohnya Abdul Kahar Muzakkir, H. Agus Salim, Abdul Wahid Hasyim, dan
Abikoesno Tjokrosoejoso. (Anshari, 1997:42). Jadilah Indonesia sebagai negara sekular.
Komaruddin Hidayat dalam tulisannya Islam Liberal di Indonesia dan Masa Depannya
(Republika, 17-18 Juli 2001) memasukkan Soekarno dan Hatta sebagai tokoh-tokoh
Islam Liberal. Husaini & Hidayat (2002:34) membenarkan Komaruddin Hidayat tidak
sedang mengigau. Soekarno dan Hatta memang tokoh liberal di Indonesia karena
keduanya ngotot menyerukan sekularisme bahkan sebelum Indonesia merdeka.

Soekarno adalah seorang sekular. Pada tahun 1940 Soekarno pernah menulis artikel Apa
Sebab Turki Memisah Agama dari Negara, yang mempropagandakan sekularisme Turki
sebagai suatu teladan yang patut dicontoh. (Noer, 1991:302). Beberapa buku telah ditulis
khusus untuk membongkar sekularisme Soekarno, seperti buku Sekularisme Soekarno
dan Mustafa Kamal karya Abdulloh Shodiq (1992) dan buku Islam Ala Soekarno Jejak
Langkah Pemikiran Islam Liberal di Indonesia karya Maslahul Falah (2003). Hatta juga
seorang sekular. Prof. Soepomo pada tanggal 31 Mei 1945 menggambarkan pendirian
sekular dari Hatta dalam sidang BPUPKI dengan berkata,"Memang di sini terlihat ada
dua paham, ialah : paham dari anggota-anggota ahli agama, yang menganjurkan supaya
Indonesia didirikan sebagai negara Islam, dan anjuran lain, sebagai telah dianjurkan oleh
Tuan Mohammad Hatta, ialah negara persatuan nasional yang memisahkan urusan negara
dan urusan Islam, dengan lain perkataan : bukan negara Islam." (Anshari, 1997:27).

Politik Orde Baru hingga akhir 1980-an tidak hanya anti-komunisme, tetapi juga anti-
Islam yang ditransformasikan sebagai ideologi dan kekuatan politik. Sejak kelahirannya,
Orde Baru berdiri di atas slogan politik ‘melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara
murni dan konsekuen’, sesuai dengan penafsiran tunggal mereka. Slogan ini cukup
menggambarkan sikap deideologinya khususnya terhadap Islam. Represi kekuasaan, baik
secara terang-terangan maupun secara terselubung melalui operasi intelijen, selalu
membayangi setiap partai dan gerakan politik Islam. Berkiblat pada siasat Snouck
Hurgronye dalam menaklukkan Aceh, Orde Baru juga berupaya membiarkan kalangan
Islam melaksanakan ibadah secara ritual individu namun memberangus setiap orang atau
kelompok yang mempunyai gagasan tentang politik Islam. Kebijakan-kebijakan
pemerintah, mulai dari pemerintahan kolonial, awal dan pasca kemerdekaan hingga
masuknya Orde Baru terkesan meng “anak tirikan”, mengisolasi bahkan hampir saja
menghapuskan sistem pendidikan Islam hanya karena alasan “Indonesia bukanlah negara
Islam”.

Oleh karena itu, politik Orde Baru pada hakikatnya adalah usaha mewujudkan sebuah
negara sekular melalui perlindungan angkatan bersenjata dan intelijen dengan legitimasi
pembangunan ekonomi. Pada tataran ideologis, platform politik saat itu sangat
dipengaruhi oleh ideologi kapitalisme. Butir-butir P4 merupakan wujud tafsir ideologi
kapitalisme terhadap Pancasila. Aspek ini bisa menjadi alasan utama kenapa Soeharto
tampak bersikap sangat keras terhadap kelompok-kelompok Islam yang ingin
memperjuangkan syariah Islam atau negara Islam. Karena kekuatan Islam dianggap tidak
hanya sebagai ancaman terhadap politiknya secara pribadi, namun juga kekhawatirannya
pada kelompok Islam yang akan mengubah asas sekular dari negara.

Tindakan seperti Orde Baru yang berusaha mengeliminasi politik Islam tersebut
sebenarnya masih berlangsung hingga hari ini. Paling tidak upaya tersebut terlihat pada
saat Partai Golkar, PDIP, dan Partai Demokrat beberapa waktu yang lalu menyerukan
untuk kembali pada asas tunggal. Tentu mudah ditebak bahwa wacana tersebut
merupakan bagian strategi mereka untuk menjegal perkembangan politik Islam agar
politik sekuler bisa tetap menguasai negeri ini. Oleh karena itu, upaya penjegalan
terhadap Islam politik yang memperjuangkan tegaknya syari’ah tidak dilakukan oleh
Soeharto semata-mata karena bagian strategi ambisi dirinya, namun merupakan imbas
dari perang ideologi saat itu antara kapitalisme, komunisme, dan Islam.

Orde Baru menjadi bagian rantai kapitalisme untuk menghancurkan komunisme dan
Islam. Sementara saat ini kapitalisme dunia dibawah pimpinan AS sedang menghadapi
Islam sebagai satu-satunya rival semenjak komunisme tumbang. Tentu harus ada
kesadaran pada diri umat Islam, bahwa sistem politik yang sedang berjalan saat ini di
berbagai negeri-negeri Muslim termasuk Indonesia pada dasarnya merupakan bagian dari
kapitalisme global itu. Negara-negara dunia ketiga yang notabene negeri-negeri Muslim
realitasnya saat ini berada dalam hegemoni negara-negara yang berideologi kapitalisme
dibawah pimpinan AS. Jadi meskipun Soeharto telah tiada, benturan ideologi kapitalisme
dan Islam di negeri ini tetap akan berlangsung bahkan mungkin bisa lebih tajam sejalan
dengan makin kuatnya Islam ideologis memperjuangkan perbaikan sistem saat ini menuju
sistem Islam, yakni Syari’ah dan Khilafah.

Pada aspek ekonomi, kebijakan Orde Baru banyak ‘dibantu’ AS dengan cara membentuk
mafia ekonomi yang dikenal dengan Mafia Berkeley. Mafia inilah yang kemudian
merancang kebijakan ekonomi Indonesia yang kapitalistik, liberal dan sesuai dengan
kepentingan AS. Mereka ditempatkan dalam posisi strategis dalam pemerintahan untuk
mengendalikan perekonomian negara. Sebagian besar pejabat ekonomi dalam kabinet
Orde Baru adalah hasil didikan AS terutama dari Mafia Berkeley tersebut. Misalnya,
Widjojo Nitisastro sebagai ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Emil
Salim sebagai wakilnya, Subroto sebagai dirjen pemasaran dan perdagangan, menteri
keuangan Ali Wardhana, serta ketua Penanaman Modal Asing Moh Sadli.

Sesuai dengan politik ekonomi AS, mafia ini menjalankan kebijakan ekonomi yang
kapitalistik. Yaitu kebijakan yang pro pasar, mengundang investasi asing, meminjam
hutang luar negeri. Dampaknya sangat luar biasa. Kebijakan investasi asing ditandai
dengan penjualan kekayaan alam Indonesia kepada perusahaan asing sebagai kompensasi
dari bantuan hutang luar negeri Indonesia. Freeport mendapat emas di Papua Barat,
sebuah perusahaan konsorsium Eropa mendapat Nikel di Papua Barat, perusahaan lain
mendapat hutan tropis. Sementara hutang luar negeri kemudian menjadi alat tekanan
negara donor yang semakin menjerat Indonesia. Akibat jebakan hutang ini Indonesiapun
harus patuh terhadap instruksi IMF dan Bank Dunia, yang alih-alih menyelesaikan krisis
ekonomi, tapi malah membuat krisis ekonomi makin parah.
Pragmatisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan
1. Pengalaman dan Pertumbuhan
Pemikiran John Dewey banyak dipengaruhi oleh teori evolusi Charles Darwin (1809-
1882) yang mengajarkan bahwa hidup di dunia ini merupakan suatu proses, dimulai dari
tingkatan terendah dan berkembang maju dan meningkat. Hidup tidak statis, melainkan
bersifat dinamis. All is in the making, semuanya dalam perkembangan. Pandangan
Dewey mencerminkan teori evolusi dan kepercayaannya pada kapasitas manusia dalam
kemajuan moral dan lingkungan masyarakat, khususnya melalui pendidikan.
Menurut Dewey, dunia ini penciptaannya belum selesai. Segala sesuatu berubah, tumbuh,
berkembang, tidak ada batas, tidak statis, dan tidak ada finalnya. Bahkan, hukum moral
pun berubah, berkembang menjadi sempurna. Tidak ada batasan hukum moral dan tidak
ada prinsip-prinsip abadi, baik tingkah laku maupun pengetahuan.
Pengalaman (experience) adalah salah satu kunci dalam filsafat instrumentalisme.
Pengalaman merupakan keseluruhan aktivitas manusia yang mencakup segala proses
yang saling mempengaruhi antara organisme yang hidup dalam lingkungan sosial dan
fisik. Filsafat instrumentalisme Dewey dibangun berdasarkan asumsi bahwa pengetahuan
berpangkal dari pengalaman-pengalaman dan bergerak kembali menuju pengalaman.
Untuk menyusun kembali pengalaman-pengalaman tersebut diperlukan pendidikan yang
merupakan transformasi yang terawasi dari keadaan tidak menentu ke arah keadaan
tertentu. Pandangan Dewey mengenai pendidikan tumbuh bersamaan dengan kerjanya di
laboratorium sekolah untuk anak-anak di University of Chicago. Di lembaga ini, Dewey
mencoba untuk mengupayakan sekolah sebagai miniatur komunitas yang menggunakan
pengalaman-pengalaman sebagai pijakan. Dengan model tersebut, siswa dapat melakukan
sesuatu secara bersama-sama dan belajar untuk memantapkan kemampuannya dan
keahliannya.
Sebagai tokoh pragmatisme, Dewey memberikan kebenaran berdasarkan manfaatnya
dalam kehidupan praktis, baik secara individual maupun kolektif. Oleh karenanya, ia
berpendapat bahwa tugas filsafat memberikan garis-garis arahan bagi perbuatan. Filsafat
tidak boleh tenggelam dalam pemikiran metafisik yang sama sekali tidak berfaedah.
Filsafat harus berpijak pada pengalaman dan menyelidiki serta mengolah pengalaman
tersebut secara aktif dan kritis. Dengan cara demikian, filsafat menurut Dewey dapat
menyusun norma-norma dan nilai-nilai.

2. Tujuan Pendidikan
Dalam menghadapi industrialisasi Eropa dan Amerika, Dewey berpendirian bahwa sistem
pendidikan sekolah harus diubah. Sains, menurutnya, tidak mesti diperoleh dari buku-
buku, melainkan harus diberikan kepada siswa melalui praktek dan tugas-tugas yang
berguna. Belajar harus lebih banyak difokuskan melalui tindakan dari pada melalui buku.
Dewey percaya terhadap adanya pembagian yang tepat antara teori dan praktek. Hal ini
membuat Dewey demikian lekat dengan atribut learning by doing. Yang dimaksud di sini
bukan berarti ia menyeru anti intelektual, tetapi untuk mengambil kelebihan fakta bahwa
manusia harus aktif, penuh minat dan siap mengadakan eksplorasi.

Dalam masyarakat industri, sekolah harus merupakan miniatur lokakarya dan miniatur
komunitas. Belajar haruslah dititiktekankan pada praktek dan trial and error. Akhirnya,
pendidikan harus disusun kembali bukan hanya sebagai persiapan menuju kedewasaan,
tetapi pendidikan sebagai kelanjutan pertumbuhan pikiran dan kelanjutan penerang hidup.
Sekolah hanya dapat memberikan kita alat pertumbuhan mental, sedangkan pendidikan
yang sebenarnya adalah saat kita telah meninggalkan bangku sekolah, dan tidak ada
alasan mengapa pendidikan harus berhenti sebelum kematian menjemput.
Tujuan pendidikan adalah efisiensi sosial dengan cara memberikan kemampuan untuk
berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan demi pemenuhan kepentingan dan kesejahteraan
bersama secara bebas dan maksimal. Tata susunan masyarakat yang dapat menampung
individu yang memiliki efisiensi di atas adalah sistem demokrasi yang didasarkan atas
kebebasan, asas saling menghormati kepentingan bersama, dan asas ini merupakan sarana
kontrol sosial. Mengenai konsep demokrasi dalam pendidikan, Dewey berpendapat
bahwa dalam proses belajar siswa harus diberikan kebebasan mengeluarkan pendapat.
Siswa harus aktif dan tidak hanya menerima pengetahuan yang diberikan oleh guru.
Begitu pula, guru harus menciptakan suasana agar siswa senantiasa merasa haus akan
pengetahuan.

Karena pendidikan merupakan proses masyarakat dan banyak terdapat macam


masyarakat, maka suatu kriteria untuk kritik dan pembangunan pendidikan mengandung
cita-cita utama dan istimewa. Masyarakat yang demikian harus memiliki semacam
pendidikan yang memberikan interes perorangan kepada individu dalam hubungan
kemasyarakatan dan mempunyai pemikiran yang menjamin perubahan-perubahan sosial.
Dasar demokrasi adalah kepercayaan dalam kapasitasnya sebagai manusia. Yakni,
kepercayaan dalam kecerdasan manusia dan dalam kekuatan kelompok serta pengalaman
bekerja sama. Hal ini tidak dapat dipungkiri bahwa semua dapat menumbuhkan dan
membangkitkan kemajuan pengetahuan dan kebijaksanaan yang dibutuhkan dalam
kegiatan bersama.

Ide kebebasan dalam demokrasi bukan berarti hak bagi individu untuk berbuat
sekehendak hatinya. Dasar demokrasi adalah kebebasan pilihan dalam perbuatan (serta
pengalaman) yang sangat penting untuk menghasilkan kemerdekaan inteligent. Bentuk-
bentuk kebebasan adalah kebebasan dalam berkepercayaan, mengekspresikan pendapat,
dan lain-lain. Kebebasan tersebut harus dijamin, sebab tanpa kebebasan setiap individu
tidak dapat berkembang. Filsafat tidak dapat dipisahkan dari pendidikan, karena filsafat
pendidikan merupakan rumusan secara jelas dan tegas membahas problema kehidupan
mental dan moral dalam kaitannya dengan menghadapi tantangan dan kesulitan yang
timbul dalam realitas sosial dewasa ini. Problema tersebut jelas memerlukan pemecahan
sebagai solusinya. Pikiran dapat dipandang sebagai instrumen yang dapat menyelesaikan
problema dan kesulitan tersebut.

Di dalam filsafat John Dewey disebutkan adanya experimental continum atau rangkaian
kesatuan pengalaman, yaitu proses pendidikan yang semula dari pengalaman menuju ide
tentang kebiasaan (habit) dan diri (self) kepada hubungan antara pengetahuan dan
kesadaran, dan kembali lagi ke pendidikan sebagai proses sosial. Kesatuan rangkaian
pengalaman tersebut memiliki dua aspek penting untuk pendidikan, yaitu hubungan
kelanjutan individu dan masyarakat serta hubungan kelanjutan pikiran dan benda.
Imperialisme Pendidikan : Menuju Imperialisme Ekonomi
Pernah diungkapkan oleh Antonio Gramsci, Louis Althusser, Michel Foucault yang juga
disepakati oleh Paulo Freire mengenai penanaman ideologi melalui lembaga pendidikan
untuk melanggengkan kekuasaan negara. Sehingga tujuan pendidikan yang seharusnya
dapat membantu peserta didik untuk memahami realitas dehumanisasi yang ada di
sekitarnya dalam rangka memahami dirinya sebagai manusia untuk mengenal
Penciptanya sehingga dapat menjalankan tugasnya di bumi ini, menjadi ternistakan oleh
Keuangan Yang Maha Kuasa, dan bukannya malah berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa, sila pertama dari Pancasila yang seharusnya dijadikan pijakan dalam segala langkah.

Ketika kita mengetahui bagaimana masa lalu sejarah bangsa ini mengakibatkan apa yang
bisa kita lihat sekarang. Solusi yang paling ampuh untuk mengatasi segala persoalan
yang sedang dihadapi bangsa Indonesia, adalah dengan merombak total sistem
pendidikan nasional kita. Termasuk di dalamnya sistem persekolahan, pendidikan
keguruan, metode belajar-mengajar, dan segala hal yang terkait dengan sistem
pendidikan.

Berabad-abad lamanya budaya tersebut diwariskan secara turun-temurun pada manusia


Indonesia. Ironisnya, tidak hanya budaya saja yang diwariskan secara turun-temurun dari
masa lalu, tetapi juga sistem pemerintahan secara global berikut segala aparatus negara
dan perundangannya. Tentu saja hal tersebut juga berlaku dalam ranah sistem pendidikan.
Mulai dari metode pengajaran hingga sistem evaluasi yang diterapkan saat ini, sangat
berbau feodalistis. Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, mengapa hal seperti ini
masih berlangsung hingga masa sekarang.

Manusia -manusia saat ini, masyarakat kita yang sekarang ini, adalah produk keluaran
sekolah formal yang telah dengan sengaja mempraktekkan proses dehumanisasi di
dalamnya. Model pembelajaran gaya bank, seperti yang pernah dikemukakan oleh Paulo
Freire, menjadi model yang secara seragam diaplikasikan pada hampir seluruh jenjang
dan tingkat lembaga pendidikan yang ada di negeri ini. Mengapa bencana pendidikan di
negeri ini menjadi sedemikian kronis dengan sederet permasalahan tersebut, tentunya kita
harus berkaca pada apa yang telah terjadi pada masa lalu bangsa ini. Kita tidak boleh
menjadi bangsa yang buta sejarah, karena dengan mengetahui apa-apa yang telah terjadi
pada masa lampau kita akan mendapatkan penjelasan tentang apa-apa yang terjadi saat
ini, bahkan dapat meramalkan apa-apa yang akan terjadi dimasa mendatang.

Model pendidikan gaya bank yang dianggap sebagai sumber dari segala permasalahan
yang ada tidak hanya permasalahan pendidikan, tetapi segala permasalahan yang
dihadapi oleh bangsa ini – sebenarnya tidak muncul begitu saja. Melainkan bersumber
dari nenek moyang terdahulu yang berangkat dari kerajaan bersistem kastanisasi dan
memang budayanya begitu feodal dan paternalistik sehingga melahirkan tradisi kebisuan.
Apalagi, budaya tersebut malah semakin difasilitasi dan dijadikan senjata ampuh oleh
Belanda dalam upayanya untuk melanggengkan kekuasaan di bumi nusantara.

Mental bangsa Indonesia dilatarbelakangi oleh warisan budaya yang begitu mengakar
kuat. Bila warisan budaya yang dimaksud adalah kebobrokan moral dalam budaya
feodalistik dan paternalistik yang sudah diwariskan turun temurun pada manusia
Indonesia hari ini, maka budaya tersebut tidak perlu dilestarikan dengan kata-kata ‘bahwa
perubahan tidak akan pernah berhasil’. Perubahan bisa dilakukan dengan mencabut habis
seluruh akar sistem yang ada, tidak hanya dengan memotong dahan yang terlihat sakit.
Semisal budaya korupsi yang dulu telah menggerogoti VOC hingga bangkrut, dapat
digantikan dengan pemerintahan Hindia Belanda yang relatif bersih dengan waktu yang
singkat sebuah pembuktian bahwa korupsi bukanlah budaya orang Belanda dan Indonesia
pun juga bisa melakukan hal yang sama jika menghentikan pelestarian stereotyping
terhadap dirinya sendiri.

Amerika, negara adikuasa ini harus melakukan revolusi dibidang pendidikan selama
kurang lebih 17 tahun sebelum akhirnya mencapai keberhasilan. Begitupula dengan
India, negara miskin yang beberapa tahun terakhir ini mulai merangkak keluar dari
keterpurukan ekonominya dengan jalan pendidikan. Finlandia, sebuah negara dengan
sistem pendidikan yang dianggap terbaik sedunia, telah meninggalkan peningkatan
perekonomian berbasis kehutanan dan menggantikannya dengan integrasi antara lembaga
pendidikan dan industri sehingga meraih keberhasilan dengan industri Nokia yang
melakukan inovasi tiada henti. Masih banyak lagi contoh negara yang mau melakukan
revolusi pendidikan agar dapat meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Lalu bagaimana
dengan Indonesia yang masih terpuruk dan tidak kunjung mengakhiri keterpurukannya.

Sarana-sarana negara-negara kapitalis untuk melakukan imperialisme ekonomi antara


lain
1. Menyebarkan ide yang berkaitan dengan politik dan ekonomi
Di antara ide-ide ekonomi tersebut, adalah ide pembangunan ekonomi dan keadilan
sosial, agar negara-negara yang baru saja lepas dari penjajahan militer dapat segera
masuk ke perangkap penjajahan ekonomi Amerika. Sebab, pelaksanaan ide-ide itu jelas
membutuhkan banyak dana. Maka dari itu, tertipulah negara-negara tersebut untuk
segera mencari hutang luar negeri dan terjerumuslah mereka menjadi negara
dengan hutang bertumpuk
2. Mengubah sistem mata uang dunia
Presiden Nixon pada tahun 1971 menghapuskan keterkaitan dolar dengan emas,
sehingga dolar tak dapat dikonversi lagi menjadi emas. Maka dolar pun menguasai
sistem mata uang dunia dan memaksa Jepang dan Jerman mendukung dolar, karena
kedua negara tersebut mempunyai cadangan emas sangat besar di dunia
3. Membentuk lembaga-lembaga ekonomi Internasional
Sejalan dengan ide-ide AS yang menyatakan bahwa politik polarisasi dan blok-blok
internasional akan dapat menyulut perang-perang dunia, maka AS bertekad
memantapkan prinsip-prinsip Tata Dunia Baru yang didasarkan pada pembentukan
lembaga-lembaga internasional di bidang politik, ekonomi, kesehatan, peradilan, dan
pendidikan. Maka lalu berperanlah PBB, Dewan Keamanan, IMF, Bank Dunia,
Mahkamah Internasional, dan lembaga-lembaga dunia lainnya.
4. Membentuk blok-blok ekonomi, seperti NAFTA dan APEC
Blok-blok tersebut antara lain terdiri dari AS, Meksiko, Kanada, Australia, New
Zealand, Jepang, Korea, dan Indonesia. Sementara itu di sisi lain ada pula Pasar Bersama
Eropa yang beranggotakan negara-negara Eropa. Peran blok-blok ini untuk bersaing
dalam hal dominasi dan perampasan ekonomi tak perlu dibuktikan lagi.
Di samping blok-blok itu, telah diselenggarakan pula berbagai konferensi internasional
dan regional untuk mengokohkan dominasi Barat dan memaksakan format-format
ekonomi Barat. Konferensi-konferensi seperti ini antara lain adalah kesepakatan GATT,
yang berkaitan dengan tarif (bea masuk) dan tuntutan untuk menghapus segala tarif ini
pada konferensi di Napoli (Italia) pada tahun 1994.

5. Merekayasa Berbagai Perang, Krisis, Kekacauan, dan Kerusuhan


Berbagai perang dan kerusuhan sengaja disulut oleh Barat di negeri-negeri Islam, seperti
Perang Teluk I (perang Irak-Iran) dan Perang Teluk II yang dimaksudkan untuk
menguasai minyak dan mencampuri urusan negeri lain dengan cara membangun
pangkalan-pangkalan militer dan zona-zona kemananan di wilayah Irak Utara dan
Selatan.
Negara-negara kapitalis juga mensponsori gerakan- gerakan separatis - seperti gerakan
separatis Kurdi dan Sudan Selatan - dan perang saudara di Afghanistan. Tujuannya
adalah untuk menyiksa bangsa-bangsa tersebut, merampok harta kekayaannya, dan
memeratakan kemelaratan dan kerusakan.

Kepustakaan
Alif Lukmanul Hakim, Merenungkan Kembali Pancasila Indonesia, Bangsa Tanpa
Ideologi , Newsletter KOMMPAK Edisi I 2007.
http://aliflukmanulhakim.blogspot.com
Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at
11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/
Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at
11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/
Adnan Khan(2008), Memahami Keseimbangan Kekuatan Adidaya , By hati-itb
September 26, 2008 , http://adnan-globalisues.blogspot.com/
Al-Ahwani, Ahmad Fuad 1995: Filsafat Islam, (cetakan 7), Jakarta, Pustaka Firdaus
(terjemahan Pustaka Firdaus).
Ary Ginanjar Agustian, 2003: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan
Spiritual ESQ, Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (edisi XIII),
Jakarta, Penerbit Arga Wijaya Persada.
_________2003: ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al Ihsan, (Jilid II), Jakarta,
Penerbit ArgaWijaya Persada.
A. Sonny Keraf, Pragmatisme menurut William James, Kanisius, Yogyakarta, 1987
R.C. Salomon dan K.M. Higgins, Sejarah Filsafat, Bentang Budaya, yogyakarta, 2003
Avey, Albert E. 1961: Handbook in the History of Philosophy, New York, Barnas &
Noble, Inc.
Awaludin Marwan, Menggali Pancasila dari Dalam Kalbu Kita, Senin, Juni 01, 2009
Bernstein, The Encyclopedia of Philosophy
Bagus Takwin. 2003. Filsafat Timur; Sebuah Pengantar ke Pemikiran Timur. Jalasutra.
Yogjakarta. Hal. 28
Budiman, Hikmat 2002, Lubang Hitam Kebudayaan , Kanisius, Yogyakarta.
Chie Nakane. 1986. Criteria of Group Formation. Di jurnal berjudul. Japanese Culture
and Behavior. Editor Takie Sugiyama Lembra& William P Lebra.
University of Hawaii. Hawai.
Center for Civic Education (CCE) 1994: Civitas National Standards For Civics and
Government, Calabasas, California, U.S Departement of Education.
Dawson, Raymond, 1981, Confucius , Oxford University Press, Oxford Toronto,
Melbourne
D. Budiarto, Metode Instrumentalisme – Eksperimentalisme John Dewey, dalam Skripsi,
Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta, 1982
Edward Wilson. 1998. Consilience : The Unity of Knowledge. NY Alfred. A Knof.
Fakih, Mansour, Dr, Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi . Pustaka Pelajar.
Yogyakarta : 1997
Fritjof Capra. 1982. The Turning of Point; Science, Society and The Rising Culture.
HaperCollins Publiser. London.
Hadiwijono, H, Dr, Sari Sejarah Filsafat 2, Kanisius, Yogyakarta, 1980
Kartohadiprodjo, Soediman, 1983: Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, cetakan ke-4,
Bandung, Penerbit Alumni.
Kelsen, Hans 1973: General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell
Lasiyo, 1982/1983, Confucius , Penerbit Proyek PPPT, UGM Yogyakarta
--------, 1998, Sumbangan Filsafat Cina Bagi Peningkatan Kualitas Sumber Daya
Manusia , Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Filsafat
UGM, Yogyakarta
--------, 1998, Sumbangan Konfusianisme Dalam Menghadapi Era Globalisasi , Pidato
Dies Natalis Ke-31 Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta.
McCoubrey & Nigel D White 1996: Textbook on Jurisprudence (second edition),
Glasgow, Bell & Bain Ltd.
Mohammad Noor Syam 2007: Penjabaran Fislafat Pancasila dalam Filsafat Hukum
(sebagai Landasan Pembinaan Sistem Hukum Nasional), disertasi edisi III,
Malang, Laboratorium Pancasila.
---------2000: Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia (Wawasan Sosio-Kultural,
Filosofis dan Konstitusional), edisi II, Malang Laboratorium Pancasila.
Murphy, Jeffrie G & Jules L. Coleman 1990: Philosophy of Law An Introduction to
Jurisprudence, San Francisco, Westview Press.
mcklar(2008), Aliran-aliran Pendidikan, http://one.indoskripsi.com/node/ Posted July
11th, 2008
Nawiasky, Hans 1948: Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen Grundbegriffe,
Zurich/Koln Verlagsanstalt Benziger & Co. AC.
Notonagoro, 1984: Pancasila Dasar Filsafat Negara, Jakarta, PT Bina Aksara, cet ke-6.
Radhakrishnan, Sarpavalli, et. al 1953: History of Philosophy Eastern and Western,
London, George Allen and Unwind Ltd.
Roland Roberton. 1992. Globalization Social Theory and Global Culture. Sage
Publications. London. P. 85-87
Sudionokps(2008)Landasan-landasan Pendidikan, http://sudionokps.wordpress.com
Titus, Smith, Nolan, Persoalan-Persoalan Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta : 1984
UNO 1988: Human Rights, Universal Declaration of Human Rights, New York, UNO
UUD 1945, UUD 1945 Amandemen, Tap MPRS – MPR RI dan UU yang berlaku. (1966;
2001, 2003)
Widiyastini, 2004, Filsafat Manusia Menurut Confucius dan Al Ghazali, Penerbit
Paradigma, Yogyakarta
Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New
York, Harvard College, University Press.
Ya'qub, Hamzah, 1978, Etika Islam , CV. Publicita, Jakarta
Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New
York, Harvard College, University Press.
Andersen, R. dan Cusher, K. (1994). Multicultural and intercultural studies, dalam
Teaching Studies of Society and Environment (ed. Marsh,C.). Sydney:
Prentice-Hall

Banks, J. (1993). Multicultural education: historical development, dimensions, and


practice. Review of Research in Education, 19: 3-49.

Boyd, J. (1989). Equality Issues in Primary Schools. London: Paul Chapman Publishing,
Ltd.
Burnett, G. (1994). Varieties of multicultural education: an introduction. Eric
Clearinghouse on Urban Education, Digest, 98.

Bogdan & Biklen (1982) Qualitative Research For Education. Boston MA: Allyn Bacon
Campbell & Stanley (1963) Experimental & Quasi-Experimental Design for Research.
Chicago Rand McNelly
Carter, R.T. dan Goodwin, A.L. (1994). Racial identity and education. Review of
Research in Education, 20:291-336.

Cooper, H. dan Dorr, N. (1995). Race comparisons on need for achievement: a meta
analytic alternative to Graham's Narrative Review. Review of Educational
Research, 65, 4:483-508.

Darling-Hammond, L. (1996). The right to learn and the advancement of teaching:


research, policy, and practice for democratic education. Educational
Researcher, 25, 6:5-Dewantara,
Deese, J (1978) The Scientific Basis of the Art of Teaching. New York : Colombia
University-Teachers College Press
Eggleston, J.T. (1977). The Sociology of the School Curriculum, London: Routledge &
Kegan Paul.

Garcia, E.E. (1993). Language, culture, and education. Review of Research in Education,
19:51 -98.

Gordon, Thomas (1974) Teacher Effectiveness Training. NY: Peter h. Wydenpub


Hasan, S.H. (1996). Local Content Curriculum for SMP. Paper presented at UNESCO
Seminar on Decentralization. Unpublished.
Hasan, S.H. (1996). Multicultural Issues and Human Resources Development. Paper
presented at International Conference on Issues in Education of Pluralistic
Societies and Responses to the Global Challenges Towards the Year 2020.
Unpublished.

Henderson, SVP (1954) Introduction to Philosophy of Education.Chicago : Univ. of


Chicago Press
Hidayat Syarief (1997) Tantangan PGRI dalam Pendidikan Nasional. Makalah pada
Semiloka Nasional Unicef-PGRI. Jakarta: Maret,1997
Highet, G (l954), Seni Mendidik (terjemahan Jilid I dan II), PT.Pembangunan
Ki Hajar (1936). Dasar-dasar pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian
Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Kemeny,JG, (l959), A Philosopher Looks at Science, New Hersey, NJ: Yale Univ.Press
Ki Hajar Dewantara, (l950), Dasar-dasar Perguruan Taman Siswa, DIY:Majelis Luhur
Ki Suratman, (l982), Sistem Among Sebagai Sarana Pendidikam Moral Pancasila,
Jakarta:Depdikbud

Ki Hajar, Dewantara (1945). Pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian


Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa.

Ki Hajar, Dewantara (1946). Dasar-dasar pembaharuan pengajaran, dalam Karya Ki


Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur
Persatuan Taman Siswa.
Kuhn, Ts, (l969), The Structure of Scientific Revolution, Chicago:Chicago Univ.

Langeveld, MJ, (l955), Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan), Bandung, Jemmars

Liem Tjong Tiat, (l968), Fisafat Pendidikan dan Pedagogik, Bandung, Jurusan FSP FIP
IKIP Bandung
Oliver, J.P. dan Howley, C. (1992). Charting new maps: multicultural education in rural
schools. ERIC Clearinghouse on Rural Education and Small School. ERIC
Digest. ED 348196.

Print, M. (1993). Curriculum Development and Design. St. Leonard: Allen & Unwin Pty,
Ltd.
Raka JoniT.(l977),PermbaharauanProfesionalTenagaKependidikan:Permasalahan dan
Kemungkinan Pendekatan, Jakarta, Depdikbud
Rosyid, Rum (1995) Kesatuan, Kesetaraan, Kecintaan dan Ketergantungan : Prinsip-
prinsip Pendidikan Islami, Suara Almamater No 4/5 XII Bulan Juli 7
Agustus, Publikasi Ilmiah, Universitas Tajungpura, Pontianak
Rum Rosyid(2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian I : Beberapa Tantangan
Menuju Masyarakat Informasi, Penerbit KAMI , Pontianak.
Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian II : Perselingkuhan Dunia
Pendidikan Dan Kapitalisme, Penerbit KAMI, Pontianak.
Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian III : Epistemologi
Pragmatisme Dalam Pendidikan Kita, Penerbit KAMI, Pontianak.
Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian IV : Peradaban Indonesia
Evolusi Yang Tak Terarah, Penerbit KAMI , Pontianak.

Twenticth-century thinkers: Studies in the work of Seventeen Modern philosopher, edited


by with an introduction byJohn K ryan, alba House, State Island, N.Y, 1964
http://stishidayatullah.ac.id/index2.php?option=com_content
http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan.htm
http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default
http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html
http://stishidayatullah.ac.id/index2.php
http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan, .htm
http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default
http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html
Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan Modern, http://panjiaromdaniuinpai2e.blogspot.com
Koran Tempo, 12 November 2005 , Revolusi Sebatang Jerami.
http://www.8tanda.com/4pilar.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005
http://filsafatkita.f2g.net/sej2.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005
http://spc.upm.edu.my/webkursus/FAL2006/notakuliah/nota.cgi?kuliah7.htm l di down
load pada tanggal 16 November 2005
http://indonesia.siutao.com/tetesan/gender_dalam_siu_tao.php di down load pada tanggal
16 November 2005
http://storypalace.ourfamily.com/i98906.html di down load pada tanggal 16 November
2005
http://www.ditext.com/runes/y.html di down load pada tanggal 2 Desember 2005

Dari Buku Pragmatisme Pendidikan Indonesia


Beberapa Tantangan Menuju Masyarakat Informasi
Oleh : Rum Rosyid
Dosen FKIP Universitas Tanjungpura
Direktur Global Equivalency for Education

Anda mungkin juga menyukai