Anda di halaman 1dari 19

METODOLOGI PENGAJARAN BAHASA;

Nilai Strategis Metode dalam Membangun


Koniuiiikasi Dosen dan Mahasiswa

Pahriadi *

Abstrak:

Dosen dan mahasiswa adalah unsur manusiawi dalam pendidikan.


Keduanya sebagai "dwi tunggal " yang tidak dapat dipisahkan karcna
perbcdaan jarak dan raga. Jiwa dan (ckad mereka tctap bcrsulu, yailu
kebaikan. Dalam proses inleraktif cdukalif, keduanya hadir dengan
tugas, peran dan tanggung jawab masing-masing, Didasari niat tulus
ikhlas dosen mendidik dan mengajar mahasiswa agar menjadi manusia
yang memiliki berbagai kecerdasan (intelektual, emosional dan
spritual), sebagai bungkus pribadi yang unggul dengan profil memiliki
kesalehan individual dan serta juga kcsalehan sosial. Agar lerwujud
profil yang dimaksud diperlukan teknik pcmbinaan yangjitu dengan
pola komunikasi kemesraan dengan pribadi dosen sebagai model /
teladan bagi manusia secara totalitas. Hal itulah yang mclatar
belakangi diangkatnya tulisan ini. uraian difokuskan pada membangun
komunikasi kemesraan dan kemuliaan antara dosen dan maliasiswa,
yang tentu saja tidak lepas dari penetrapan variasi metode yang tepat
dalam kegiatan proses pembelajaran, karena semakin mendekati
ketepatan dan kebenaran penggunaan metode, semakin besar peranan
metode dalam membangun komunikasi yang inleraktif antara
keduanya, semakin mcmungkinkan pula terwujudnya tujuan
pembelajaran sebagaimanayangtelah diutarakan di atas.

Kata-kata kunci: dosen, mahasiswa, komunikasi serta metodologi.

I. Pendahuluan
Dosen dan mahasiswa adalah unsur manusiawi dalam pendidikan.
Keduanya sebagai "dwi tunggal" yang tidak bisa dipisahkan, meskipun suatu saat
nanti mereka telah terpisah, dipisahkan oleh daratan, lautan ataupun udara. Dalam
perpisahan raga, jiwa mereka bersatu. Mereka bersatu dengan tekad yang sama,
yaitu kebaikan. Dalam proses interaksi edukatif, keduanya liadir dengan tugas,

'Penulis adalah Dosen Bahasa Inggris pada Fakultas Ushuluddin 1AIN Antasari
Banjannasin.

Jurnal Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Mctodologi Pengajaran Bahasa 72

peranan dan tanggung Jawab yang berbeda. Dosen yang mendidik dan mengajar.
Mahasiswa yang belajar. Dosen yang membimbing, mahasiswa yang dibimbing.
Dengan bcrbekal kemuliaan, dosen dengan ikhlas mendidik dan mengajar
mahasiswa agar menjadi manusia yang memiliki kecerdasan intektual, kecerdasan
emosional, dan kecerdasan spritual sebagai bungkus pribadi yang unggul dengan
profil, tidak hanya memiliki kesalehan individual (habi min Allah), tetapi juga
memiliki kesalehan sosial {habi mm an-nas}.
Untuk mewujudkan profil mahasiswa di atas memang tidak mudah bagi
seorang dosen. Diperlukan teknik pembinaan yang jitu dengan pola komunikasi
kemesraan dengan pribadi dosen sebagai model bagi mahasiswa secara totalitas.
Profil dosen kebapakan yang dapat memberi teladan kepada mahasiswa sangat
diperlukan dan bukan figur dosen yang mengajar karena pekerjaan sampingan atau
karena uang semata.
Interaksi edukatif antara dosen dan mahasiswa hams betul-betui dalam
koridor kemesraan dan kemuliaan, sehingga hadir mengajar di kelas bukan karena
paksaan. Sangat jarangnya komunikasi antara dosen dan mahasiswa dapat
menyebabkan kerawanan hubungan dosen dengan mahasiswa yang berimplikasi
pada kegagtilan penciptaan intcraksi ediikaliryimg kondnsir.
Oleh karena itu, membangLin komunikasi kemesraan antara dosen dan
mahasiswa adalahjembatan ampuh untuk menghidupkan suasana mteraksi edukatif
yang kondusif, sehingga kegiatan pcmbelajaran yang berproses berlangsung dalam
suasami yang mcnyenangkan, jauh dari kctcgangan.
Komunikasi kemesraan yang tcrbentuk antara dosen dan mahasiswa itu
tidak terlepas dari campur tangan metode dalam kegiatan pembelajaran. Metode
dapat mendekatkan kerawanan hubungan dosen dengan mahasiswa dan hubungan
mahasiswa dengan mahasiswa, sehingga terjalm keharmonisan hubungan dalam
scbuah dinamika kclompok kelas di bawah himbingan seornng dosen sebagai
fasilitator yahg mcmbclajarkan mahasiswa.

II. Pengcrtian dan Syarat scrta Kbbeihh^iilan Komunikasi


A. Pengertian Komunikasi
Komunikasi dapat didefinisikart sebagai berikut;
a) Komunikasi dapat dipandang sebagai proses penyampaian informasi.
Dalam pengertian ini, keberhasilan komunikasi sangat tergantung dari
penguasaan materi dan pengaturan cara-cara penyampaiannya, sedangkan
pengirim dan penerima pesan bukan merupakan komponen yang
menentukan.
b) Komunikasi adalah proses penyampaian gagasan dari seorang kepada
orang lain. Pengertian ini secara implisit menempatkan pengirim pesan

Jurnal Ilmiah ILMU USHULUDD1N, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Metodoloy,i Pen^cijcir'uH f^ahusu 73

scbagai pcncntu utama kcbcrhasilan, sedangkan penerima pcsan dianggap


objckyang pasif.
c) Komunikasi diartikan scbagai proses penciptaan arti tcrhadap gagasan alau
ide yang disampaikan. Pengertian ini memberikan pesan yang seimbang
antara pengirim pcsan, pcsan yang disampaikan, dan penerima pcsan, yang
incriipak;in liga kompuneii ulaina dalani proses komunikasi. Pcsan dapat
disampaikan dengan berbagai media, namun pcsan ilu hanya punya arti
Jika pengirim dan penerima pesan berusaha mcnciptakan arti tersebut.1
B. Syarat Komunikasi
Berdasarkan pengertian komunikasi di atas,jika dilakukan analisis dengan
cermat, ditcmukanlah sejumlah syarat komponen kolnunikasi yang menjadi
unsur-Lmsur ulama untuk terjadinya proses komunikasi, Unsur-unsur tersebut
adalah komunikator sebagai pengirim pesan, pesan yang disampaikan dan
komunikan sebagai penerima pesan dari si pengirim.
Dalam kcgiatan pcrkomunikasian, kcliga syarat komponen ilulah yang
berinlcraksi. Ketika suulu pesan disampaikan olch komunikator dengan
perantaraan media kepada komunikan, maka komunikator mcmformulasikan
pesan yang akan disampaikannya dalani bentuk kode tcrtentu, yang sedapat
mungkin dapat ditafsirkan oleh komunikan dengan baik. Berhasil tidaknya
koniunikasi atau tcrcapai tidaknya tujuan komunikasi tergantung dari kctiga
komponen tersebut.
Bagaimana proses komunikasi itu scbenarnya? Hal ini dapat diilustrasikan
seperti di bawali i n i :

Komunikator f P e s a n Y Komunikan

Dilihat dari prosesnya, koniunikasi dapat dibedakan alas komunikasi


verbal dan komunikasi nonverbal. Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan
menggunaktin b.lhiisa, bt>ik baliaya lulls inaupun baliasa lisan. Scdungkan

'Prasetya Irawan, Suciati dan I.G.A.K Wardani, Teori Belajar, Molsvasi dan
Keterampilwi Men^ujar, (Jakarta; Pusat Aniar Univcrsitas unluk Pcningkatan dan
Pengembangan Aktivis Instruksionat Direktoral Jenderai Pendidikan Tinggi Departemen
Pendidikan dan Kcbudayaan, 1994),h. 10.

Jurnal Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Metoclolo^i Pen^ujaran Bahusu 75

Metode Bclajar ; Pcranan Mclodc dalam Mcmbangun Komiinikasi Dosen dan


Mahasiswa.
Ada bebcrapa permasalahan yang akan dibahas di sini dalam rangka
memberikan pemahaman awal, sehingga dapat dijadikan pegangan dalam
memberikan penilaian apakah komunikasi itu berniiai cdukatif atau tidak.
Permasalahan itu adalah tentang komunikasi doscn-mahasiswa bcrnilai cdukatif,
ciri-ciri interaksi edukatif, komponen interaksi edukatif, dan prinsip interaksi
edukatif. Lebihjelas, ikutilah uraian berikut:
1. Komunikasi Dosen-Mahasiswabemilai Edukatif
Untuk menllai apakah komunikasi berniiai edukatif atau tidak dapal dilihat
dari tujuan komunikasi. Bila komunikasi yang dilakukan hanya sekadar
menyampaikan informasi kepada seseorang tanpa mengadakan perubahan di dalam
diri seseorang, maka komunikasi itu tidak berniiai edukatif. Tetapijika komunikasi
yang dilakukan itu dengan tujuan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi
dengan sadar untuk melakukan perubahan secara psikologis dalam diri
seseorang,maka komunikasi itu berniiai edukatif.
Bila komunikasi dosen dan mahasiswa adalah berniiai edukatif, maka
dalam interaksinya dosen sebagai komunikator dan mahasiswa sebagai komunikan
berada dalam sebuah proses yang berniiai kebaikan. Di satu pihak dosen sebagai
pengajar dan pendidik. Di lain pihak mahasiswa sebagai subjek yang belajar dan
dosen. Keduanya berada dalam interaksi edukatif dengan posisi, tugas dan
tanggung jawab yang berbeda, namun bersama-sama ingin mencapai tujuan
pembelajaran.3 Oleh karena itu, interaksi edukatif adalah suatu gamabaran
hubungan aktif dua arah antara dosen dan mahasiswa yang beriangsung dalam
ikatan tujuan pendidikan. 4
Untuk memperoleh gambaran yang jelas bagaimana kegiatan mengajar
dosen dapat membelajarkan mahasiswa, sehingga mahasiswa belajar sesuai dengan
tujuan pembelajaran yang dikehendaki, yaitu perubahan tingkah laku anak didik,
dapat dijelaskan dcngun iluslrasi di bawah i n i .

Proses ——————^ Proses Perubahan


Mengajar Belajar Tingkah laku

''Syaifiil Bahri Djamarah (selanjutnya disebut Djamarah), Guru dan Anak Didik
dalam Inlcraksi Edukatif, (Jakarta : Rineka CIpta, 2000), h, 11.
^bu Achmadi dan Shuyadi, Psikologi Belajar, (Jakarta: Kincka Cipta, 1985), h.
47.

Jumal Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Metodologi Pengajaran Bahasa 76

Dalam konsep mengajar di atas tampak bahwa titik berat peranan dosen
bukan sebagai pengajar, melainkan sebagai pembimbing belajar, atau pemimpin
belajar atau rasilitator belajar. 1-Iakikat mengajar dalam rumusan ini dipandang
sebagai suatu proses yang dengan sengaja diciptakan untuk melakukan perubahan
dalam din mahasiswa, yang ditandai dengan tumbuhnya kegiatan mahasiswa
belajar.5
2. Ciri-ciri Interaksi Edukatif
Interaksi antara dosen dan mahasiswa dalam pembelajaran memiliki
beberapa ciri sebagai berikut:
a. Ada tujuan yang ingin dicapai,
b. Ada bahan/pesan yang menjadi isi interaksi,
c. Ada anak didik yang aktifmengalami,
d. Ada guru yang melaksanakan,
c. Ada metode untuk mencopai tujuan,
f. Ada situasi yang memungkinkan proses pembelajaran berJalan
dengan baik,
g. Ada pcnilaian lerhadap hasil inleraksi."

Selain pendapat di atas, ada lagi rumusan lain seperti dikemukakan oleh
Edi Suardi dalam bukunya Pedffgogik{}9SO}, di mana dia merinci ciri-ciri interaksi
cdukatifschagni hcrikul:
;i. Inlcraksi cdiiknlirincmpiiny;ii tujimn
Tujuan di sini adalah untuk membanlu mahnsiswa dalam
perkembangan tertentu. Tujuan dirumuskan dengan sadar, dengan menempatkan
mahasiswa sebagai pusat perhatian. Sedangkan unsur lainnya sebagai pengantar
dan pendukung.
b. Mcmpunyai prosedur yang direncanakrtn unttik mencapai tujuan
Agar tujuan dapat dicapai secara optimal, diperlukan prosedur atau
langkah-langkah sistematik dan relevan. Untuk mencapai suatu tujuan
pembelajaran yang satu dengan yang lain, mungkin akan membutuhkan prosedur
dan desain yang berbeda-beda.
c, Interaksi edukatif ditandai dengan penggarapan materi khusus
Materi harus didesain, sehingga cocok untuk mencapai tujuan. Tingkat
keluasan materi tergantung dari kualitas tujuan yang diharapkan. Mudah sukamya

^ana Sudjana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajar,
(Bandung: SinarAgung, 1989), h. 8.
''Sardinian A. M., Interaksi dan Motlvasi Belajar Mengajar, (Jakarta; Rajawali
Press, 1988), h. 13.
Jurnal Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005
Pahriadi, Metotloiogi f'en^ujurun Kuhusu 77

suatu materi tidak Icpas dari pertimbangan, agar mahasiswa mudah menycrapnya.
Semuanya dipersiapkan sebclum bcrlangsungnya intcraksi cdukalif.
d. Ditandai dengan aktivitas mahasiswa
Keaktifan mahasiswa merupakan syarat utama bagi berlangsungnya
interaksi edukatif. Aktivitas mahasiswa yang diharapkan tidak hanya terlihat secara
fisik, tclapi yang Icbih pcnting adalah kcgiatan mental. Dalam interaksi edukatif,
aktivitas mahasiswa harus lebih dominan daripada dosen dan bukan sebaliknya.
e. Dosen berperan sebagai pembimbing
Sebagai pembimbing, dosen harus berusaha menghidupkan dan
memberikan motivasi agar terjadi proses interaksi edukatif yang kondusif. Dosen
harus siap sebagai mediator dalam segala situasi proses interaksi edukatif, sehingga
dosen merupakan tokoh yang dilihat dan ditiru oleh mahasiswa.
f. Interaksi edukatif membutuhkan disiplin
Disiplin dalam interaksi edukatif diartikan sebagai suatu pola tingkah
laku yang diatur mcnurul kelcntuan yang sudah ditaati dengan sadar oleh pihak
dosen maupun pihak mahasiswa. Mckanismc konkrct dari kcgiatan pada kctentuan
atau tata tertib itu akan terlihat dari pelaksanaan prosedur. Jadi, langkah-langkah
yang dilaksanakan sesuai dengan prosedur yang sudah digariskan. Penyimpangan
dari prosedur berarti suatu indikator pelanggaran disiplin.
g. Mempunyai batas waktu
Untuk mcncapai tujuan pcmbclajaran icrlentu dalam sistem kclas
(kclompok mahasiswa), batas waktu mcnjadi salah salu ciri yang tidak bisa
ditinggalkan. Setiap tujuan akan diberi waktu tertentu, kapan tujuan hams sudah
tercapai.
h. Diakhin dengan evaluasi
Dari seluruh kegiatan terscbut, masalah cvafuasi merupakan bagian
penting yang tidak bisa diabaikan. Evaluasi harus guru lakukan untuk mengetahui
tercapai tidaknya tujuan pembelajaran yang telah ditentukan. 7
3. Komponcn Interaksi Edukatif
Sebagai suatu sistem tcinu saja keghilan interaksi edukatif
mengandung sejumlah kornponen yang meliputi tujuan, bahan pclajaran, kegiatan
belajar mengajar, metode, alat dan sumber, serta evaluasi.!i
a. Tujuan
Tujuan adalah suatu cila-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu
kcgialan. Tujuan dapal memberikan arah yang jelas kc mana kegiatan interaksi
edukatif akan dibawa. Tujuan mendeskripsikan kualitas atau penampilan tingkah
laku bagaimana yang diharapkan terjadi pada diri mahasiswa setelah mereka

^jamarah, op.cit.,}\. 15.


a
————, Sirategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2002), h. 48.

Jurnal Umiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, MetodoJo^i Pengajaran Bahasa 78

mempelajari bahan pelajaran. Tujuan pembelajaran menyatakan suatu hasil yang


diharapkan dari pembelajaran itu dan bukan sekadar suatu proses dari
pembelajaran itu sendiri.
b. Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran adalah unsLir inti dalam interaksi edukatif. 10 Bahan
pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan dalam proses interaksi edukatif.
Sebagai substansi, bahan pelajaran adalah prasyarat untuk terjadinya proses
interaksi cdiikalif. Untuk ilu guru harus mcnguasainya. Ada dua persoalan dalam
masalah penguasaan bahan pelajaran ini, yaitu penguasaan bahan pelajaran pokok
dan penguasaan bahan pelajaran pelengkap.
Bahan adalah sumber belajar bagi mahasiswa. Didalamnya ada
sejumlah pesan yang berguna untuk mencapai tujiian pembelajaran.11 Bahan
pelajaran yang diberikan bila sesuai dengan kebutuhan dapat membangkitkan
minat belajar mahasiswa.12 Bangkitnya minat karena sesuai dengan kebutuhan,
dapat membangkitkan motivasi belajar mahasiswa dalam rentangan waktu tertentu.
c. Kegiatan Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar (interaksi edukatiQ adalah kegiatan inti
dalam pendi'dikan. Scgala scsuatu yang Iclah diprognimkan dilaksanakiin
didalamnya. Komponen-komponen pembelajaran saling berinteraksi dalam
mencapai tujuan pembelajaran yang telah dirumuskan. Interaksi dosen dan
mahasiswa dengan pola-pola teretntu ikut menentukan suasana kelas bagaimana
yang akan tcrcipta dalam upaya mencapai tujuan.
Mahasiswa sebagai subjek yang belajar harus dipahami sebagai
individu dengan segala perbedaannya pada aspek biologis, intelektual dan
psikologis, sehingga mengharapkan pendekatan yang tidak selalu sama.13 Di sini
relasi dosen dan mahasiswa terjadi dengan tingkat kualitas yang bervariasi, yang
bcrimplikasi pada kualitas interaksi cdukatif. 14 Mastery learning sebagai stratcgi
pembelajaran individual sangat diperlukan di sini.' 5 Keberhasilannya sangat

"Roestiyah, N.K.. Sirategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Bina Aksara, 1989), h. 44.
'"Suharsimi Arikunto, Manajemen Pengajaran Secara Manusiawi, (Jakarta:
RinekaCipta, 1990),h.23.
"Sudirman, N.K, et.al^ Ilmu Pendidikan, (Bandung: Rosdakarya, 1991), h. 203.
13
Sardinian, A.M., op.cit., b. 81.
^Djamarah, op.cit., h. 5.
'''Slameto, Belajar dan Fakfor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka
Cipta, 1991), h. 68.
^Muhammad Alt, Guru dalam Proses Balq/af Mengajar, (Bandung: Sinar Baru,
1992), h. 94.
Jurnal Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. I, April 2005
Pahriadi, Melodolo^i Pcn^ajarun BuHusu 79

dipengaruhi oleh kualitas pelaksanaan prograni pcrbaikan dan program


pengayaan.16
d. Mclode
Mclodc adalali .su.iHi car;) y.ing dipcrgun.ikan uiiluk iiiciic.ip.ii lujiiiiii
yang tclah dirumuskan. Kevariasian melodc yang dipakai ditcntukan oleh kualilas
tuj'uan pembelajaran. Keberhasitan interaksi edukatif sangat ditentukan oleh
kesesuaian antara metode dan tujuan. Oleh karena itu, dosen harus menguasai
beberapa metode scbagai pendukung tugasnya.
Pemilihan dan penggunaan metode tidak bisa sembarangan, tetapi
harus memperhatikan beberapa faktor yang diyakini mempengarLilii
penggunaannya. Ada lima faktor yang harus diperhatikan, yaitu ;
1. Tujuan yang berbagai-bagai jenis dan fungsinya,
2. Anak didik yang berbagai-bagai lingkat kcmalangannya,
3. Si'luasi yang bcrbiigai-bagai koadaannya,
4. Fusilit.is yiing bcrbagai-biigai ku;ilita.s J;in ktianlil;isnya,
5. Pribadi guru serin kcinampuan prolcsionalnya yang bcrbeda-bcd.1.17
c. Altil
Alat adalali scgala scsualu yang dapat digunakan daliiin inenciipai
tujuan pembelajaran, Alat bcrfungsi sebagai pcrlengkapan, scbagai pcmbantu
mempermudah usaha mencapai tujuan, dan sebagai tujuan.'" Ada dua macam alat
yang biasanya dipakai dalam inleraksi edukatif, yaitu alat (ulal nonmaterwl) dan
alat bantu (alai material). Segala sesuatu bcrupa suruhan, perintali, larangan dsb
disebut alal. Sedangkan alat banlu adalali bcrupa globe, papan lulls, balu kapur,
gambar, diagram, slide, video, dsb. Alat bantu mcmpunyai kemampuan untuk
meningkatkan pengertian, meningkatkan transfer, memberikan reinforcement, dan
menngkalkan relensi (ingatan).
f. Sumbcr belajar
Interaksi edukatif bukan berproscs dalam kehampaan, tetapi dalam
kemaknaan. Ada sejumlah nilai yang ingin diberikan kepada mahasiswa. Nilai-nilai
itu tidak datang dengan sendiri, telapi terambil dari bcrbagai sumber. Sumber

"'Suharsimi Arikunto, Pengelolaan Kolas dun Siswa Sebuuh Pengantar Evaluatif,


(Jakarta: Rajawali Press, 1988), h. 31
^Djamarah, Prestasi Belajar dan Kotupelensi Guru, (Surabaya; Usaha Nasiona!,
1994), h. 71.
^Ahmad D. Marimba, Pengwtar Filsafut Pendidikan Islam, (Bandung: al-
Ma'arif, 1989),h.51.

Jurnal Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Metodologi Pengajaran Bahasa 80

belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana
bahan pcmbehijaran lerdapat E>(au asal untuk hclajar scscorang. y
Sumber belajar sesungguhnya banyak sekali terdapat di mana-mana; di
sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dsb. Pemanfaatan sumber-sumber
belajar tergantung kreativitas dosen, waktu, biaya dan kebijakan-kebijakan
lainnya. 2 " Sumber belajar secara terperinci bisa berupa manusia (dalam keluarga,
sekolah dan masyarakat), Buku/perpustakaan, media massa (majalah, koran, radio,
TV, dsb) dalam lingkungan, alat pelajaran, (buku pelajaran, peta, gambar, kaset,
tape, papan tulis, kapur, spidol, dsb), dan museum.21
g. Evniuasi ;
Edwind Wand dan Gerald W. Brown mengatakan Evaluation refer to
the act or process to determining the value of something11 Evaluasi adalah
kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang
bersangkutan dengan kapabilitas mahasiswa guna mengetahui sebab akibat dan
hasil belajar mahasiswa yang mendorong dan mengembangkan kemampuan
betajar.
Pelaksanaan evaluasi diarahkan pada evaluasi proses dan evaluasi
produk, Evaluasi proses adalah suatu evaluasi yang diarahkan untuk menilai
bagaimana pelaksanaan interaksi edukatif. Evaluasi produk adalah suatu evaluasi
yang diarahkan pada bagaimana hasi! belajar yang telah dilakukan oleh
")\
mahasiswa.'
Berdasarkan data dari hasil evaluasi diharapkan ada feedback dari
dosen sebagai bahan masukan dalam mempersiapkan interaksi edukatif berikutnya.

B. Pola Kofftiiftfkasi Dosen dan Mahasiswa


Ada tiga pola komunikasi antar dosen dan mahasiswa dalam proses
Enteraksi edukatif, yaitu komunikasi sebagai aksi, komunikasi sebagai interaksi dan
komunikasi sebagai transaksi. Komunikasi sebagai aksi (komunikasi satu arah)
mcncmpalkan dosen sebagai pembcri aksi dan mahasiswa sebagai pcnerima aksi.
Dosen aktif dan mahasiswa pasif. Mengajar dipandang sebagai kegiatan
menyampaikan bahan pelajaran.

'^Udin Suripudttin Win;itiis.ipii)r.i dan Riis(un>i Ardiwinala, Masen Pokok


l^'rencunulm ^wy.ujurun, (Jakartii: DirJcn Binbaga Isl.nm dan UT, 1991), 165.
20
Sudirman,o/?.c//.,h.203,
^Roestiyah, N.K., Masalah-maaalah flmu Keguruan, (Jakarta: Bina Aksara,
1989), h. 53.
"Wayan Nurkancana dan P.P.N. Sumartana, Evahiast Pendidikan, (Surabaya:
Usaha Nasional, 19S3).h. I.
2:1
W. S. Winkcl, r.\if(of^i Penwiwun, (Jakarta: Griimcdia, 1989), h. 318.

Jurnat Itmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Mefoclologi l^en^ujurun Bahasu 81

Dalam komunikasi scbag.ii intcniksi (komunikasi dua arah), dosen


berpcran sebagui pcmbcri aksi atau pcnerim.i aksi. Dcmikian puki hahiya
mahasiswa, bisa sebagai penerima aksi, bisa pula sebagai pcmbcri aksi. Antara
dosen dan mahasiswa akan terjadi dialog.
Dalam komunikasi sebagai transaksi (komunikasi banyak arah),
komunikasi lidak hanya terjadi antara doscn dan mahasiswa. Mahasiswa diluntut
lebih aktif daripada doyen. Scpcrli halnya doscn, mahasiswa dapal berlTungsi
sebagai sumber belajar bag! mahasiswa lainnya.

C. Eksistensi Dosen dan Mahasiswa dalam Pemhelajuran


1. Posisi Dosen dan Mahasiswa
Dalam interaksi edukatif dosen dan mahasiswa menempati posisi yang
berbeda. Dosen yang mengajar dan mendidik dan mahasiswa yang belajar. Dosen
yang membimbing dan mahasiswa yang menghajatkan bimbingan dari dosen.
Inlcrvcnsi doscn dalam belajar mahasiswa ikut mcncntukan kebcrhasiian
pencapaian tujuan pembelajaran. Mcmbiarkan sikap dan perilaku mahasiswa yang
berpotensi mengganggu jalannya proses pembelajaran menjadi batu sandungan
dalam mencapai tujuan pembelajaran. Oleh karena itu, pengelolaan kelas yang
tercipta, yang dikelola oleh dosen dengan baik, memiliki nilai strategis dalam
upaya mencapai kebcrhasiian interaksi cdukalifsccara optimal.
2. Tugas dan Peranan Doscn
Jabatan dosen memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun
di luar dinas dalam bentuk pengabdian. Tugas doscn tidak hanya sebagai suatu
profesi, tetapijuga sebagai suatu keharmonisan dan kemasyarakatan.
Tugas doscn sebagai suatu profesi mcnuntut kcpada doscn untuk
mengcmbangkan profesionalitas diri sesuai dengan perkcmbangan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Mendidik, mengajar dan melatih mahasiswa adalah
tugas dosen sebagai suatu profesi- Sebagai pendidik, dosen bertugas meneruskan
dan mengcmbangkan nilai-nilai hidup kcpada mahasiswa sesuai fitrahnya. Tugas
dosen sebagai pcngajar berarti nicncruskan dan mengcmbangkan ilmu pengetahuan
dan teknologi kepada mahasiswa. Tugas dosen sebagai pelatih berarti
mengembangkan keterampilan dan menerapkannya dalam kehidupan demi masa
depan mahasiswa.
Tugas guru pada aspck kemanusiaan dalam bentuk kctcrlibatan doscn
dalam interaksi sosial di masyarakat. Nilai-nilai kemanusiaan harus doscn
tanamkan kepada mahasiswa. Tugas dosen di bidang kemasyarakatan dalam
bentuk mendidik dan mengajar masyarakat untuk menjadi warga negara Indonesia
yang bermorat Pancasila- Di sini keteladanan lebih dikedepankan daripada hanya
sekadar bicara dan sok moralis. Bcrmula dari diri sendiri lebih penting daripada
menyuruh orang tanpa keteladanan. Mendidik mahasiswa sama halnya mendidik

Jumal Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Metodologi Pengajaran Bahasa 82

warga masyarakat, sebab mahasiswa juga warga masyarakat yang tergolong


kelompok usia produktif. 24
Sebagai konsekuensi dari tugas yang diemban, maka ada beberapa peranan
yang dikehendaki dipcrankan oleh dosen, yaitu sebagai korektor, inspirator,
informatory, organisator, motivator misiator, fasilitator, pembimbing,
demonstrator, pengelola kelas, mediator, supervisor dan evaluator.25

Z). Metodoiogi Pengajaran dan Implementasmya datum Pembelajaran


Komunikasi yang bagaimanapun bentuknya selalu saja melibatkan metode
tertentu dalam penyampaikan suatu pesan. Penggunaan metode tertentu dalam
pembelajaran diakui dapat memberikan sumbangan dalam membentuk pola
interaksi yang bagaimana yang akan terjadi dalam sebuah komunikasi. Ketepatan
penggunaan metode dijadikan sebagai salah satu jaminan untuk berhasilnya
kegiatan pembelajaran dalam mencapai tujuannya sebagai efektifdan efisien. Oleh
karena itu, perlu disadari bahwa metode di sini bukan sebagai tujuan, tetapi sebagai
suatu strategi dalam pencapaian tujuan.
Para ahli mcnggarap mctodologi pengajaran sebagai ilmu bantu ynng tidak
dapal bcrcii'ri sendri, telapi bcrrungsi membantu bidang-bidang lain dalam proses
pengajaran. la hanya salah satu komponen pembelajaran seperti diuraikan di atas.
la bersifat netral dan umum, tidak diwamai oleh sesuatu bidang pun. Tetapi
mengandung unsur-unsur inovasi, karena memberi altematif lain yang dapat
dipergunakan di keJas. Karena itu, ilmu bantu ini bersifat luwes. Penggunaannya
didasarkan atas pertimbangan -pertimbangan sebagai berikut
1. Selalu berorientasi pada tujuan,
2. Tidak hanya terikat pada satu altematif saja,
3. Kerap dipergunakan sebagai suatu kombinasi dari berbagai metode, serta
4. kcrap dipergunakan bcrganti-ganti dari satu metode kc metode lainnya.

E. Metode Mengajar dan Prinsip-prmsip Befajar


Hubungan metode mengajar dengan prinsip-prinsip belajar sangat erat.
Kerelevansian metode mengajar dengan prinsip-prinsip belajar akan dapat
membangkitkan gairah belajar mahasiswa dalam mencapai tujuan pembelajaran.
Mansyur mengatakan bahwa metode mengajar berhubungan erat dengan prinsip-
prinsip belajar.26 Sebagai pendukung pendapatnya, dia mengemukakan rumusan
sebagai berikut.

^Djamarah, op.cit., h. 37.


25
f bid,}}. 43.
^Mansyur, Materi Pokok Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Dirjen Binbaga
Islam dan UT, 1991), h. 45.

Jumal Ilmiah ILMU USHULUDDIN. Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Melouolo^i Pen^ujarun fluhaw 83

a. Metode Mengajar dan Motivasi


Jika bahan pelajaran disajikan secara menarik besar kemungkinan motivasi
belajar mahasiswa akan semakin meningkat. Motivasi berhubungan erat dcngan
emosi, minat, dan kebutuhan mahasiswa.
Motivasi ada dua macam, yaitu motivasi yang dalang dari datam diri
mahasiswa yang disebut "motivasi intrinsik", dan motivasi yang diakibalkan dari
iuar diri mahasiswa yang discbut "molivasi ekstrinsik'. Motivasi dari dalam dapat
dilakukan dcngaii mcndorong rasa ingin tahu, kcinginan mcncoba, dan sikap
mandiri mahasiswa. Motivasi intrinsik mcnggerakkan kemauan maliasiswa dari
dalam tanpa ketcrlibalan unsur Iuar. Semcntara molivasi ckslrinsik berlungsi
membangkitkan kemauan mahasiswa untuk berbuat dcngan mcngandalkan bantuan
dari Iuar diri mahasiswa. Bantuan dari tuar itu misalnya ketetapan penggunaan
metode dalam penyajian bahan pelajaran.
b. Metode Mengajar dan aktivitas mahasiswa
Apabila dalam kegiatan pembelajaran terdapat keterlibatan inteiek-
emosional mahasiswa, biasanya intensitas keaktifan dan motivasi akan meningkat
sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efcktif.
Dosen diharapkan benar-benar mcmbangkilkan aktivitas maliasiswa
dengan belajar sambil berbuat (learning by doing). Melakukan aktivitas adalah
bentuk pemyataan dari mahasiswa bahwa pada hakikatnya belajar adalah
perubahan yang terjadi setelah melakukan aktivitas belajar.
Penerapan prinsip belajar sambil bermain memungkinkan mahasiswa
belajar dalam suasana yang menyenangkan, mahasiswa akan aktif belajar, senang,
gembira, kreatif, dan tidak merasa dikekang. Pola belajar seperti ini dapat
diterapkan dalam penguasaan kosakata dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. Cara
menghapal dengan cara dinyanyikan akan melahirkan keindahan dan berpotensi
untuk membangkitkan konsentarasi dalam penguasaan kosakata Bahasa Inggris.
c. Metode mengajardan perbedaan individual
Tidak tepat bila dosen menyamakan semua mahasiswa bahwa penyerapan
mereka terhadap bahan pelajaran dcngan tingkat penguasaan yang sama. Padahal
dalam kenyataannya mahasiswa berbeda satu sama lain, yaitu berbeda pada aspek
bioiogis, intelektual dan psikologis. Pada aspek yang khusus, mahasiswa memiliki
tipe tanggapan yang berbeda seperti tipe penglihatan (visual), tipe pendengaran
(auditif), tipe perabaan (taktil), tipe gerakan (motorik) dan tipe campuran.
d. Metode mengajardan pengalihan
Pendidikan dan latihan membantu mahasiswa unluk mengalihkan (transfer)
hasil belajarnya ke dalam situasi-situasi yang lain dan nyata, Metode-metodc
mengajar tertentu seperti ceraman/kuliah dan diskusi kurang menaruh perhatian
terhadap pengalihan ini. Tetapi Direct Method, Reading Method, Grammar Method
atau Translation Method misalnya dapat mendukung mahasiswa dalam

Jurnal llmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Metodoiogi Pengajaran Bahasa 84

mengalihkan kcmampuannya ke dalam pcnerapan yang lain. Pengua.saan grammar


dapat membantu mahasiswa dalam menerjemahkan topik tertentu dengan kualitas
yang baik, Kemampuan berbahasa Inggris mahasiswa dapat dimanfaatkannya
dalam pcrcakapan sehari-hari.
Metode-metode mengajar Bahasa Inggris yang disebutkan di atas adalah
termasuk metode-mctode partisipatif, karena banyak mengandLing unsur
pengalihan, Kemampuan mahasiswa untuk memanfaatkan kemampuan
berbahasanya pada situasi yang lain sangat dituntut, sehingga wawasan
kebahasaannya lebih dalam dan luas. Oleh karena itu, ketepatan penggunaan
metode mengajar yang partisipatif sangat penting dalam rangka memberikan
kemampuan pengalihan kepada mahasiswa.
e. Metode mengajar dan penyusunan pemahaman yang logis dan psikologis
Dalam mengajar diperlukan pemilihan metode yang tepat. Metode-metode
tertentu tepat untuk mata kuliah tertentu, tetapi belum tentu pas untuk mata kuliah
yang lain. Sualu bahan yang diprogram untuk memberikan kompetensi mahasiswa
pada aspek speaking abilities akan lebih tepat digunakan Direct Method. Tetapi
bila kemampuan yang dituntut untuk dikuasai oleh mahasiswa adalah kemampuan
menerjemahkan, maka metode yang tepat adalah Translation Method. Penyusunan
bahan pelajaran yang logis dan disesuaikan dengan kondisi psikologis mahasiswa
akan memudahkan mahasiswa menerima mformasi yang disampaikan;

F. Metmie Mengajar Berkadar CBSA


Sebagai salah satu komponen pcngajaran, metode memilikt arti penting
dan patut dipertimbangkan datam rangka pengajaran. Tanpa menggunakan metode,
kegiatan pembelajaran tidak akan berproses. Karena itu, tidak pemah ditemukan
dosen mengajar tak memakai metode, meski terkadaang metode yang digunakan
itu kurang tepat.
B;igi gurii perlu mcmpcrtimbangkiin kadar kc-CBSA-an suatu metode
mengajar dan pcndekatan yang diperlukan selama pcngajaran bcrlangsung. Dalam
pendidikan dan pengajaran diakui, bahwa metode -metode mengajar mempunyai
kadar ke -CBSA-an yang bervariasi, mulai dari kadar terendah sampai tertinggi.
Berdasarkan perbedaan kadar ke-CBSA-an ini dapat diklasifikasikan pemdekatan
yang dilakukan dalnm mengajar. 1-lal ini berarti bila guru memilih suatu metode,
maka secara otomatis guru dituntut untuk memilih pendekatan yang diharapkan
secara efcktifmeiidukiing pemakaian melode.
Pendekatan yang dapat dosen lakukan misalnya pendekatan klasikal,
kelompok atau individual. Pendekatan klasikal tebih cenderung melibatkan seluruh
mahasiswa. Berbeda dengan pendekatan kelompok, mahasiswa dibagi ke dalam
beberapa kelompok. Jumlah kelompok dalam kelas dan jumlah mahasiswa dalam
kelompok discsuaikan dengan kebutuhan. Lain halnya dengan pendekatan

Jurruil Umi.ih ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, MetoUolo^i Pc'n^tijuf'un Buhu\u 85

individual, di smi dosen mclakukan pcndckatan secara pribadi kepada setiap


mahasiswa. Dosen nicinberikan kescmpalan kepada mahasiswa sebagai individu
unluk aktif, krcatif dan mandiri dalam belajar. Dosen hanya bertindak sebagai
fasilitator pembimbing.
Dari sejumlah metodc yang ada, diantaranya ada yang dapat menggunakan
pcndckatan kelompok alau individual, entail sebagai pendekatan ulama iitau
sebagai pcndekalan pilihiin. Namun unluk mclodc yang lain hanya bisa digunakan
dengan satu pendekatan.
Untuk memperdalam pemahaman, dikemukakan tabel klasifikasi metode
mengajar dengan kadar ke-CBSA-an yang bervariasi, sebagai berikut:

Kadar Pendekatan
CBSA Metode Ktasikal Kelompok Individual
Tin eg' Proyck V
-L
Eks peri men V 0
Resitasi 0 V
Diskusi 0 V
Bermain Peran / V 0
Sosiodarama
Demonstrasi 0 V
Karyawisata V 0
Tanyajawab 0 V
Latihan 0 V
Bcrccrita V
Renidah Ceramah V

G. Dasar Pcrtimhangan Pemifihan Metode Mengajar


Ada bcbcrapa faktor yang harus dijadikan dasar pert im ban gan dalam
pemulihan metode bclajar, yaitu ;
a. Berpedoman pada tujuan
Tujuan adalah sasaran yang hendak dicapai dalam setiap kali kegiatan
pembclajaran, Tujuan mampu mcmbcrikan garis yang jclas dan pasli kc mana
kcgiutiin pcinbelnjurtin nkiin dibnw;i. 'I'njiinii dti[)iil memburiknii pcdonmn [iudoiHt>n
yang jclas bagi doyen dalam meinpcrsiapkan segala scsualunya dalam rangka
pengajaran. Tujuan berfungsi sebagai penyeleksi sikap dan kegiatan yang harus
dilakukan dosen selama pembelajaran berlangsung.
Tujuan harus dijadikan sebagai pedoman dalam pemilihan metode
mengajar, Pemilihan metode mengajar tidak boleh dipertentangkan dengan

Jumal Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Metodologi Pengajaran Bahasa 86

rLirmisan tujuan pembelajaran. Sebab, bila terjadi pertentangan antara keduanya,


maka tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Tetapi pemilihan metode mengajar
bisa juga tidak tepat bila rumusan tujuan pembelajaran kurang operasionai, yaitu
tidak dapat diukur. Oleh karena itu, sebagai pedoman dalam rangka pemilihan
metode, perumusan tujuan pembelajaran harus operasionai dengan menggunakan
kata kerja operasionai, sehingga ketepatan pemilihan dan penggunaan metode yang
efektif.
b. Perbedaan Individual mahasiswa
Perbedaan individual mahasiswa perlu dipertimbangkan dalam pemilihan
metode mengajar. Aspek-aspek perbedaan mahasiswa yang perlu diperhatikan
adalah perbedaan biologis, intelektual dan psikologis.
c. Kemampuan dosen
Kemampuan dosen bermacam-macam, disebabkan perbedaan latar
belakang pcndidikiin, pengnlamnn mengajar scrtii pendidikon dan pelntihan.
Seorang dosen dengan latar belakang pendidikan keguruan jurusan Bahasa Inggris
akan lain kemampuannya bila dibandingkan dengan dosen dengan latar belakang
pendidikan keguruan bukan jurusan Bahasa Inggris- Apalagi bila dibandingkan
dengan scscorang dengan latar hclakang pendidikan bukan keguruan. Kemampuan
dosen yang berpengalaman lentu Icbih berkualitas dibandingkan dengan
kcmampuan dosen yang kurang berpengalaman mengajar. Tetapi, scseorang yang
walaupun latar belakang pendidikannya bukan dari fakultas keguruan, bisa saja
kualitasnya setara dengan dosen yang berlatar belakang pendidikan keguruan,
karena banyak memiliki pengalaman mengajar dan ditambah dengan seringnya
mengikuti pendidikan dan pelatihan.
Ketiga faktor penting di atas tentu saja kaan mempengaruhi seorang guru
dalam mengambil keputusan metode hagaimana yang tepat dan baik dalam
mencapai tujuan pembclajanin y;ingel'eklir.
d. Sifat bahan kuliah
Setiap bahan kuliah mempunyai sifat masing-masing. Paling tidak sifat
mata kuliah ini ada yang mudah, sedang dan sukar. Ketiga sifat ini tidak bisa
diabaikan begitu saja dalam mempertimbangkan pemilihan metode mengajar.
Metode tertentu mungkin cocok untuk mata kuliah tertentu, tetapi belum tentu pas
untuk mata kuliah yang lain. Bahan kuliah bahasa Inggris yang dirancang sebagai
bahan percakapan misalnya menjadi tidak efektif bila menggunakan Translation
Method. Tetapi, bila bahan pelajaran Bahasa Inggris sengaja diprogram sebagai
bahan bacaan, maka metode mengajar yang tepat dan benar adalah Reading
Method
e. Situasi kelas
Situasi kelas adalah sisi lain yang patut diperhatian dan dipertimbangkan
ketika dosen akan melakukan pemilihan motode mengajar. Dosen yang

Jurnal Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1. April 2005


Pahriadi, Metodologi Penga/aran Bahusa 87

berpcngalainan tahu baliwa kclas dari hari kc hari dan dari waktu kc waktu sclalu
bcrubah sesuai dengan kondisi psikologis mahasiswa. Dinamika kclas scpcrti ini
patut diperhitungkan dosen dari sudut manapunjuga.
Ketika dosen berusaha membagi mahasiswa ke dalam beberapa kelompok,
dosen akan menciptakan situasi kelas kepada situasi yang lain. Di sini tergambar
mctodc mengajar inana yang harus d i p i l i h sesuai dcngan situasi kolas dan lujuan
yang ingin dicapai. Pcrlu diingat baliwa kelas rnempunyai cerminan kondisi
psikologis mahasiswa. K-arenanya, dinamika kelas akan sangat tergantung pada
strategi penggunaan metode.
f. Kelengkapan fasilitas
Penggunaan metode perlu dukungan fasilitas. Fasilitas yang dipilih harus
sesuai dengan karakteristik metode mengajar yang akan dipergunakan. Ada metode
mengajar tertentu yang tidak dapat dipakai, karena ketiadaan fasilitas sebagai
pendukungnya. Di perguruan tinggi yang maju biasanya mempunyai fasilitas
belajar yang lengkap sehingga kegialan perkuliahannya icbih berkualitas.
Kelengkapan fasilitas belajar ini lebih banyak pcluang alternatif dalam pemilihan
metode pengajaran.
g. Kelebihan dan kelemahan metode
Setiap metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Dua sisi ini perlu
dipcrhatian dosen. Jumlah mahasiswa dan kclcngkapan fasilitas mempunyai andil
tepat tidaknya suatu melode dipergunakan untuk membantu kegialan perkuliahan.
Metode yang tepat untuk kegiatan perkuliahan. Metode yang tepat untuk kegiatan
pembelajaran bergantung dari kecermatan dosen dalam memilihnya.
Dalam kegiatan perkuliahan sebaiknya dosen menggunakan lebih dari satu
metode untuk mcngatasi kclemalian mclodc tertentu. Kelemahan mclodc lerlcntu
yang dapat ditutupi olch kelebihan mctodc yang lain, dapat memperccpat
pemaliaman mahasiswa terhadap bahan pelajaran yang diberikan. Kelemahan
Translation Method untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa misalnya,
dapat ditutupi dengan kelebihan Grammar Method. Karena Grammar Method akan
memberikan wawasan kepada mahasiswa tciilang struktur kalimat dalam scbuah
teks yang akan diterjemahkan. Dengan penguasaan tata bahasa yang memadai akan
dapat banyak membantu akan mahasiswa dalam kegiatan penerjemahan suatu teks
berbahasa Inggris.

H. Peranan Metode datum membangun Komunikasi Dosen dan Mahasiswa


Peranan metode dalam kegiatan penibelajaran memiliki arti penting dalam
kerangka membangun komunikasi yang efektif antara dosen dan mahasiswa.
Metode yang mana yang dipakai dalam suatu pcrtcmuan memberi pengaruh
terhadap pola komunikasi dosen dan mahasiswa yang bagaimana yang akan tcrjadi
dalam pertemuan kelas. Pengaruh metode terhadap pola komunikasi dosen dan

Jurnal Ilmiah ILMU USHULUDD1N, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahnadi, Metodologi Pengajarcm Bahasa 88

mahasiswa bermuara pada dinamika kelas dalam suasana aktif-kreatif atau pasif-
non kreatifbagi mahasiswa.
Bila penggunaan metode mengajar memposisikan mahasiswa sebagai
individu yang hams menerima bahan pelajaran dan dosen menganggap dirinya
sebagai satu-satunya sumber belajar, maka pola komunikasi dosen dan mahasiswa
cenderung lebih didominasi oleh dosen. Dosen yang aktif dan mahasiswa yang
pasif. Jalan pelajaran kurang kondusif. Suasana ketas tidak menggambarkan
kondisi aktif-kreatif bagi mahasiswa. Di sisi posisi mahasiswa tidak ubahnya
seperti suatu tempat yang harus diisi dan menyerah pada kehendak yang ingin
mengisinya. Pola komunikasi yang demikian melahirkan interaksi interaksi
pembelajaran satu arah; dari dosen dan tidak ada balikan dari mahasiswa.
Tetapi, bila komunikasi dosen dan mahasiswa yang terbentuk timbal balik,
yaitu dari dosen dan ada balikan dari mahasiswa, maka di dalamnya ada andil
metode yang berusaha memposisikan keduanya dalam sebuah interaksi. Sehingga
antara keduanya terjadi hubungan dialogis-komunikatif dalam rangka bersama-
sama mencapai tujuan pembelajaran. Bahkan tidak hanya sampai di situ, metode
juga memegang peranan penting dalam menciptakan interaksi antara mahasiswa
d;m dosen dillnm pcmhcliijiiran. Mcrckn difnsililnsi olch mutodc untuk Icrlibnt
kingsiing dalam sebuah proses pembelajaran yang dinamis-kreatif. Berbagai
metode yang dikembangkan memang sudah dipersiapkan untuk hal ini, misalnya
seperti Direct Method, Grammar Method atau Translation Method, dsb.
Untuk membangun komunikasi yang baik antara dosen dan mahasiswa
ternyata tidak mudah. Katakanlah gampang-gampang sulit. Hal ini disebabkan
miskinnya metode mengajar yang dikuasai dosen, sehingga tidak banyak altematif
pilihan yang dapat dilakukan. Ketika tingkat penguasaan mahasiswa terhadap
bahan yang diberikan dengan kuaHtas rendah, kesalahanjustni ditimpakan kepada
mahasiswa. Padahal kesalahan itu sebenamya dari pihak dosen dengan kemiskinan
pcmilikan metode mengajar. Dari sini dapat dilihat betapa besar peranan metode
mengajar dalam membangun komunikasi yang baik antara dosen dan mahasiswa
dalam suatu pertemuan.

IV. Kcsimpulan
Setelah mengikuti uraian terdahulu, dapatah disimpulkan sebagai berikut.
1 . Dosen dan mahasiswa adalah unsur manusiawi dalam pendidikan. Komunikasi
antar keduanya dengan pola komunikasi sebagai aksi, komunikasi sebagai
interaksi dan komunikasi sebagai transaksi. Karena komunikasi antar dosen
dan mahasiswa berniali edukatif, maka ada scjumlah nilai kebaikan yang
terpatri di dalamnya, yang ingin ditanamkan kepada mahasiswa dalam rangka
membentuk kepribadian mahasiswa dengan kualitas tinggi.

Jurnal Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Metodologi Pengajaran Bahasa 89

2. Komunikasi interaktifkeinesraan antara doscn dan mahasiswa dapat dibcntitk


dengan mengandalkan penggunaan melode bervariasi dalam kegiatan
pembelajaran, Rancang bangun sebuah komunikasi yang terbenluk antara
dosen dan mahasiswa, terkait .'dengan kemampuan dosen dalam memilih dan
menggunakan metode mengajar dalam suatu pertemuan. Semakin mendekati
ketepatan dan kebenaran penggunaan metode semakin besar peranan metode
dalam membangun komunikasi yang interaktif antara dosen dan mahasiswa
dalam suatu pertemuan []

DAFTARPUSTAKA

A.M, Sardinian, fnleraksi dun Motivasi Belajar Mengajar, Jakarta, Rajawaii Press,
1988.
Achmadi, Abu, dan Shuyadi, Psikologi Betajar, Jakarta, RhickaCipta, 1985.
Ali, Muhammad, Guru dalam Proses Balajar Mcn^ujar, Bandlmg, Sitiar liaru,
1992.
Arikunto, Suharsimi, Manajemen PenguJaran Secara Manusiuwi, Jakarta, Rineka
Cipta,1990.
___________, Peiigelolaan Kolas dan Siswa Sebuah Penguntur Evuluaiif,
Jakarta, Rajawali Press, 1988.
Djamarah, Syaiful Bahri, Guru clan Anak Didik dalam Inleraksi Edukaiif, Jakarta,
Rineka Cipta, 2000,
____________, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru, Surabaya, Usalia
Nasional, 1994.
____________, Stralegi Belajar Mengajar, Jakarta, Rineka Cipta, 2002,
Irawan, Prasetya, Suciati dan I.G.A.K Wardani, Teori Belajar, Motivasi dan
Keterampilan Mengajar. Pusat Antar Universitas untuk Peningkatan dan
Pengembangan Aktivis Instruksional Direktoral Jenderal Pendidikan
Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1994.
Mansyur, Materi Pokok Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Dirjen Binbaga Islam
danUT, 1991.
Marimba, Ahmad D., Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung, Al-Ma'arif,
1989.
N.K, Sudirtnan, dkk., llmu Pendidikan, Bandung, Ewmj Rosdakarya, 1991.
N.K. Roestiyah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta, Bina Aksara, 1989.
________, Masalah-masalah llmu Keguruan, Jakarta, Bina Aksara, 1989.

Jumal Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005


Pahriadi, Metodologi Pengajaran Bahasa 90

Nurkancana, Wayan, dan P.P.N. Sumartana, Evaluass Penditiikan, Surabaya, Usaha


Nasional, 1983.
Slameto, Belajar dan Fakfor-faktor yang Mempengaruhinya, Jakarta, Rineka
Cipta, 1991.
Sudj'ana, Nana, Cara Belajar Siswa Aktif dalam Proses Belajar Mengajaf;
Bandung, SinarAgung, 1989.
Winatasaputra, Udin Saripuddin, dan Rustana Ardiwinata, Materi Pokok
Perencunaan Pengajaran, Jakarta, Dirjen Binbaga Islam dan UT, 1991.
Winkel, W.S., Psikoiogi Pengajaran, Jakarta, Gramedia, 1989.

Jurnai Ilmiah ILMU USHULUDDIN, Vol. IV, No. 1, April 2005