P. 1
Kebijakan Pendidikan Pemerintahan Megawati Soekarnoputri

Kebijakan Pendidikan Pemerintahan Megawati Soekarnoputri

|Views: 4,711|Likes:
Dipublikasikan oleh rumrosyid

More info:

Published by: rumrosyid on Dec 16, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/20/2014

pdf

text

original

Kebijakan Pendidikan Pemerintahan Megawati Soekarnoputri

Oleh Rum Rosyid Setelah sekitar enam bulan Megawati Soekarnoputeri menjadi presiden, masyarakat menilai kinerjanya mulai merosot. Ketidakpuasan dirasakan seluruh lapisan masyarakat dari berbagai partai politik, termasuk masyarakat pendukung Megawati dari PDI Perjuangan. Jajak pendapat Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang dipublikasikan di Jakarta kemarin mengungkapkan hal itu. Jumlah sampel yang diambil dalam jajak ini sebanyak 1.216 responden. Mereka tersebar di 10 kota, terdiri dari di Jawa (DKI Jakarta, Bandung, Surabaya) dan luar Jawa (Medan, Palembang, Denpasar, Banjarmasin, Makassar, Mataram dan Jayapura). Responden berumur minimal 17 tahun dengan pendidikan minimal SLTA. Margin of error diperkirakan 3 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. Wawancara dilakukan selama tiga hari, yakni 25-27 september 2001. Hasilnya, kecuali di bidang pendidikan, responden dalam jajak pendapat tersebut merasa tidak puas dengan banyak kebijakan yang diambil pemerintahan Megawati. Di bidang pendidikan, mayoritsa responden (53 persen) memang puas. Namun, terhadap sejumlah kebijakan ekonomi, lebih dari separuh masyarakat (52 persen) berpendapat bahwa kebijakan yang ditempuh pemerintahan Megawati cenderung tidak memihak pada rakyat. Adapun responden dari PDI Perjuangan, jumlah suara yang menganggap Mega berpaling dari kepentingan rakyat juga cukup besar, yakni 40 persen. Menurut LP3ES, angka itu menunjukkan bahwa banyak pendukung Megawati mulai kritis. Padahal, semasa menjabat Wakil Presiden, Megawati sempat dianggap sebagai tokoh yang paling memperhatikan rakyat. Pada polling serupa tahun lalu, LP3ES mencatat bahwa 73 persen responden menilai menilai Megawati sebagai tokoh paling memihak rakyat. Pada bidang kesehatan, tampak tingkat kepuasan masyarakat yang lebih tinggi dibandingkan bidang-bidang lainnya. Ini ditunjukkan oleh 45% anggota masyarakat yang mengaku puas pada kinerja pemerintah dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi semua kelompok masyarakat. Sementara itu, dalam hal penyediaan sarana kesehatan bagi semua kelompok masyarakat, 44% menyatakan rasa puasnya. Rendahnya tingkat kepuasan masyarakat secara umum terhadap bidang sosial ekonomi pada gilirannya membuat sebagian besar dari mereka (62%) berpendapat bahwa kebijakan-kebijakan pemerintahan Megawati tidak memihak rakyat. Hanya sebagian kecil (26%) saja yang masih menganggap kebijakan pemerintah memihak kepentingan masyarakat. Oleh sebab itu bukan suatu kebetulan apabila 66% anggota masyarakat menilai bahwa pemerintahan Megawati terbukti tidak mampu mengatasi permasalahan yang ada. Hanya 25% saja anggota masyarakat yang mengatakan pemerintahan Megawati terbukti mampu mengatasinya. Di luar bidang ekonomi, tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Megawati rata-rata berada di bawah 50%. Yang paling rendah dalam kacamata masyarakat adalah soal penanganan konflik di Papua di mana hanya 23% saja anggota masyarakat yang menyatakan rasa puasnya. Demikian pula halnya dengan penanganan teror bom di mana 26% masyarakat juga menyatakan hal yang sama.

Namun demikian, khusus untuk dalam soal penanganan konflik Aceh, pemerintahan Megawati dipandang cukup berhasil dalam menangani daerah tersebut (39%). Masyarakat juga merasa puas terhadap pemberian rasa aman bagi mereka (37%). Di kedua bidang tersebut lebih banyak anggota masyarakat yang memberikan apresiasi terhadap apa yang telah dicapai pemerintah selama ini. Di samping itu, dalam hal jaminan adanya kebebasan, tingkat kepuasan masyarakat relatif tinggi. Kendati dalam masa pemerintahan Megawati terdapat beberapa kasus yang memberikan indiksai kurangnya jaminan kebebasan, namun untuk kebebasan pers, sebagian besar masyarakat (60%) menanggapinya dengan rasa puas. Juga untuk kebebasan berekspresi meski ada beberapa kasus penangkapan mahasiswa karena dianggap melecehkan presiden dan wakil presiden selama unjuk rasa beberapa waktu yang lalu lebih dari separuh (64%) masyarakat yang menyatakan rasa puasnya. Yang paling rendah adalah tingkat kepuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Megawati di bidang penegakan hukum. Ketidakpuasan masyarakat pada bidang tersebut lebih dari bidang-bidang manapun -- berada pada titik yang terrendah. Hanya 19% saja anggota masyarakat perkotaan pemilik telepon yang merasa puas terhadap upaya pemerintah dalam menangani soal tersebut. Lebih dari itu, hanya 7% saja anggota masyarakat yang merasa puas atas upaya pemerintahan Megawati melakukan pengadilan pada para pejabat negara yang diduga terlibat korupsi. Pemerintah juga dinilai tidak optimal dalam upaya pemberantasan memberantas kasus-kasus KKN. Hanya 8% saja masyarakat yang merasa puas pada kinerja pemerintah untuk menangani persoalan tersebut. Namun, dibandingkan dengan tingkat kepuasan masyarakat pada dua indikator sebelumnya, lebih banyak masyarakat merasa puas (19%) terhadap upaya pemerintah dalam mengadili para pejabat militer yang melakukan pelanggaran HAM. Ideologi Pendidikan dalam lingkaran neoliberalisme Pembangunan yang diperjuangkan DPP-PDI Perjuangan adalah: pola pembangunan yang diarahkan pada pertumbuhan yang berkeseimbangan, yang berdaya tahan, dan yang mampu melakukan kesinambungan secara sistemik. Oleh karenanya, titik berat pada kerja membangun manusia Indonesia, menjadi titik tolak dari segala perencanaan dan kebijakan yang menyangkut pada masalah pembangunan Nasional(Megawati, 1998). Kalau dalam desakan gelombang globalisasi, perekonomian kita harus menerapkan sistim ekonomi pasar yang terbuka, maka sebagai bangsa yang percaya diri, seharusnya kita tidak perlu merasa cemas dan takut. Bila keterbukaan dan kehidupan demokrasi benarbenar telah kita menangkan, dan oleh karenanya Rakyat dapat menjalankan fungsi kontrolnya, maka segala bentuk ketakutan terhadap praktek-praktek neo-kolonialisme lewat pintu pasar terbuka sebagaimana kekhawatiran banyak orang, rasanya tidak perlu kita jadikan permasalahan yang hanya akan membuat kita menjadi bangsa yang kerdil dan tak mampu menghadapi kenyataan. Karena bagi PDI Perjuangan, penerapan sistim ekonomi pasar haruslah berjalan di atas asas saling menunjang dan saling menguntungkan, dimana seluruh gerak perekonomian yang terjadi harus di arahkan pada tujuan meningkatan kesejahteraan bagi kehidupan

umat di seluruh dunia. Kita pasti mampu memenangkan hak-hak ekonomi Rakyat kita, dengan tanpa harus melakukan distorsi terhadap prinsip ekonomi pasar itu sendiri. Dengan mendorong tumbuhnya usaha kecil dan menengah yang terampil dan berdaya saing tinggi, kita akan mampu menepis berbagai kemungkinan berawalnya bentuk baru penjajahan melalui pintu ekonomi. Kita tidak perlu memelihara sikap permusuhan dan sikap curiga yang berlebihan terhadap para investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Yang justru harus kita kembangkan dan pelihara adalah sikap dan etos hidup yang terus mau belajar dan memperbaiki diri serta memerangi berbagai kebodohan yang dicekokkan kepada rakyat bangsa ini -- oleh para penguasa yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Saya yakin, kalau kita sadar dan bersatu, kita pasti akan menjadi bangsa yang kuat; dan untuk bersatu menjadi kuat; hendaknya kenali dan pelajari kembali; apa,..siapa,..dan mau apa kita sebagai bangsa? Dalam rangka memulihkan perekonomian Indonesia yang berwibawa, pemecahan masalah utang luar negeri dan masalah perbankan Indonesia, harus pula dilaksanakan secara efektif dan berwibawa. Untuk itu, lembaga-lembaga khusus yang menangani masalah tersebut, seperti : Bank Indonesia, BPPN dan INDRA, harus dibuat menjadi benar-benar independen dan profesional. Independensi dan kewibawaan lembaga ini, menurut hemat kami merupakan syarat mutlak dalam upaya mempercepat penyelesaian krisis Indonesia. Untuk hal itu, DPP-PDI Perjuangan bersikap dan bertindak secara pro-aktif memperjuangkan --agar anggota-anggota dari tim komisi penyelesaian hutang luar negeri swasta dan restrukturisasi perbankan, tidak terdiri dari para birokrat dan pihak-pihak yang terkait dalam masalah tersebut. Dalam hal ini, transparansi-keterbukaan dan keterusterangan, harus menjadi bagian penting dari budaya kerja dari team komisi tersebut. Dalam hal membangun Manusia Indonesia yang berkualitas, berwawasan kebangsaan, berperi-kemanusiaan, berkeadilan dan berKetuhanan; dengan sendirinya menempatkan peran kebudayaan menjadi suatu wilayah strategis yang harus mendapat perhatian khusus. Dengan demikian, pembangunan mental dan karakter bangsa merupakan hal yang penting untuk diperhatikan. Terutama pada saat nilai-nilai moral dan spiritual bangsa yang dapat eningkatkan kualitas manusia Indonesia sebagai mahluk yang berakal, berkarakter dan berbudi luhur, dijadikan dasar pijakan pembangunan dimaksud. Rangkaian inilah yang seharusnya kita jadikan sebagai strategi Nasional dalam mencari dan mendudukkan jati diri bangsa. Hanya dengan akal yang sehat dan budi yang luhur, bangsa Indonesia akan mampu memanfaatkan perkembangan ilmu dan teknologi untuk tujuan kemanusiaan dalam peradaban abad XXI mendatang. Dengan bekal akal sehat dan jiwa yang bebas -- tapi berbudi, barulah hikmah peradaban ilmu dan teknologi akan dapat dimanfaatkan sepenuhnya untuk tujuan membangun manusia yang modern namun berahlak; dan yang maju tapi penuh toleransi. Dalam kasus perkembangan teknologi informasi, alur komunikasi yang mengutamakan kepentingan bersama untuk tujuan menciptakan keseimbangan hidup, dengan sendirinya akan berjalan tanpa manusia harus menjadi korban teknologi informasi itu sendiri. Secara teoritik, neoliberalisme merupakan teori ekonomi yang benar-benar membebaskan pasar bertindak, ketimbang regulasi, sehingga cenderung disebut menihilkan peran

negara. Disini, mengutip Vincent Navarro, pokok kebijakan neoliberalisme adalah sebagai berikut; (i) deregulasi pasar tenaga kerja, melalui penerapan sistim kontrak dan outsourcing, (ii) deregulasi pasar financial, (iii) deregulasi perdangan barang dan jasa, (iv) mengurangi subsidi dan jaminan sosial untuk public, (v) privatisasi dan penjualan asset strategis, (vi) mempromosikan individualisme dan konsumerisme, (vii) pengembangan teori dan narasi yang memuji-muji keunggulan pasar, (viii) mempromosikan anti-intervensionisme. Secara teoritis, bagi penganut neoliberal, privatisasi dimaksudkan sebagai jalan untuk mengatasi masalah kekurangan financial, untuk membuat pelayanan menjadi lebih efisien, serta mengindari distorsi pada makro dan mikro ekonomi akibat pelayanan public gratis (Carlos Vilas). Pada kenyataannya, privatisasi telah mengarah para pengguna jasa untuk membeli dengan harga yang lebih mahal, karena perusahaan yang terprivatisasi kini menggunakan kriteria bisnis dan mencari keuntungan (profit). kebijakan privatisasi berdasarkan desakan dari luar, khsusunya IMF dan bank dunia. Bedanya, jika Megawati hanya melanjutkan kesepakatan yang dibuat pemerintahan sebelumnya, Habibie, melalui stuctrual adjustment program (SAP), maka SBY menjalankan privatisasi dengan dimandori secara lansung oleh Bank Dunia. Privatisasi BUMN Di bidang ekonomi, pemerintah begitu memanjakan kekuatan asing. Perusahan negara yang strategis malah diobral murah satu per satu. Sebut saja Indosat, Telkom, Metrosel, Astra, Indofood, sejumlah stasiun TV, dan Garuda Indonesia. Kekuatan bisnis asing pun berebut, termasuk dari kelompok Yahudi. Memang, saat ini Indonesia sudah lepas dari bayang-bayang IMF. Namun ganti berutang ke CGI, lembaga donor andalan Orde Baru. Jumlah utang dan bunga utang negara terus membengkak hingga Rp 1.260 trilyun, atau 75% dari (PDB) Pendapatan Domestik Bruto negeri ini. Bagaimana kita keluar dari jeratan utang dan ketergantungan pada lembaga asing? Sepertinya tak sempat lagi dipikirkan oleh para elite pemerintah yang kini lebih gemar kampanye untuk partai dan kelompoknya. Amandemen UUD harus diakui mengalami kemajuan. Pun dalam pembuatan perangkat hukum dan lembaga baru. Namun, langkah operasionalnya masih jauh dari memuaskan. Agenda reformasi di sejumlah bidang praktis jalan di tempat, bahkan mundur. Prestasi positifnya, kalau boleh dikatakan begitu, hanya pada angka-angka indikator ekonomi makro. Misalnya stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar, tingkat inflasi, dan pertumbuhan ekonomi relatif. Sayangnya, angka-angka makro itu tidak atau belum berpengaruh pada sektor riil dan realitas mikro di lapangan. Kredit untuk usaha kecil dan menengah yang jumlahnya tidak seberapa cuma 7% dari utang konglomerat yang diputihkan atau diampuni melalui kedok release and decharge-- lebih dari separonya belum terkucur. Akibatnya, rakyat miskin bertambah, pengangguran bertumpuk, biaya hidup melonjak akibat pencabutan subsidi BBM, listrik dan telepon. Lengkap sudah penderitaan wong cilik. Selain itu, pertimbangan melakukan privatisasi dijaman megawati adalah untuk mencari pendanaan untuk menutupi deficit APBN. Seperti diketahui, Megawati mewarisi sebuah

kondisi ekonomi yang compang camping akibat krisis ekonomi 1997. Sementara di bawah pemerintahan SBY, kondisi APBN cenderung membaik, dan bahkan surplus. Artinya, SBY menjalankan privatisasi memang berdasarkan scenario neoliberalisme, sementara megawati menjalankannya sebagai pertimbangan pragmatis dalam situasi darurat. Dari segi jumlah BUMN yang diprivatisasi, SBY jauh lebih agressif ketimbang Megawati. Periode 1991-2001, pemerintah Indonesia 14 kali memprivatisasi BUMN. Yang terprivatisasi 12 BUMN. Sedangkan dibawah SBY, situasinya cukup menggemparkan, bayangkan, hanya dalam setahun 44 BUMN dilego. Apalagi, privatisasi kali ini disertai penjualan seluruh saham 14 BUMN industri, 12 BUMN kepada investor strategis, dan beberapa BUMN lainnya kepada asing. Jadi, SBY benar-benar “royal” dalam mengobral BUMN dibandingkan pemerintahan sebelumnya. Soal kebijakan utang luar negeri, pemerintahan SBY terlalu banyak melakukan kebohongan terhadap publik. Soal utang kepada IMF, misalnya, SBY mengatakan bahwa jumlahnya semakin menurun, tetapi angka kumulatif utang luar negeri terus bertambah dari donatur di luar IMF, baik dari Bank Dunia, ADB, Paris Club, dsb, maupun dari utang bilateral. Semasa pemerintahan Megawati, yaitu 3,5 tahun, jumlah utang luar negeri Indonesia bertambah sebesar Rp 12 triliun. Sementa itu, di bawah pemerintahan SBY, tercatat terjadi peningkatan total utang luar negeri secara signifikan dari Rp. 662 triliun (2004) menjadi Rp. 920 triliun (2009). Artinya Pemerintahan SBY “berhasil” membawa Indonesia kembali menjadi negara pengutang dengan kenaikan 392 triliun dalam kurun waktu kurang 5 tahun. Dalam tiap tahunnya, misalnya, Megawati menambah utang rp 4 triliun pertahun, sementara pemerintahan SBY menambah utang sebesar 80 trilyun pertahun. Jika dibandingka dengan era Soeharto pun, SBY masih jauh lebih “beringas”, dimana SBY menambah 80 trilyun pertahun, sementara soeharto menambah 1500 trilyun dalam 32 tahun. Untuk diketahui, outstanding Utang luar negeri Indonesia sejak tahun 2004-2009 terus meningkat dari Rp1275 triliun menjadi Rp1667 triliun. Sementara itu, sejak tahun 2004 sampai dengan tahun 2008, pembayaran bunga dan cicilan pokok utang luar negeri menunjukkan tren yang meningkat. Sejak awal masa pemerintahan presiden SBY di tahun 2005 sampai dengan September 2008 total pembayaran bunga dan cicilan pokok pinjaman luar negeri sebesar Rp277 triliun. Hal inilah, secara factual, yang menyebabkan APBN tidak bisa berfungsi untuk mendanai pembangunan dan belanja capital. Pada tahun 2003, ketika Budiono menjabat menteri keuangan, dia berusaha memperpanjang kontrak dengan IMF melalui Post Program Monitoring (PPM), padahal sidang MPR mengamanatkan kepada pemerintah untuk mengakhiri kerjasama dengan IMF. Agenda reformasi yang terlupakan : ancaman disintegrasi

Bila agenda reformasi menjadi ukuran, rapor Pemerintahan Megawati-Hamzah berkuasa hampir 2,5 tahun masih jauh dari memuaskan. KKN (korupsi, kolusi, nepotisme) kian merajalela. Penegakan hukum pilih kasih. Tuntutan publik untuk mengadili mantan Presiden Soeharto dan kroninya malah sudah terlupakan. Pertahanan dan keamanan jeblok. Tragedi dan kerusuhan terjadi dimana-mana. Aparat keamanan --polisi dan tentaramalah saling baku tembak. Kekuatan partai-partai besar, yang menjadi inti pemerintahan sekarang, juga ikutan bakuhantam dan saling bakar. Lihat saja kasus Buleleng (Bali) serta beberapa wilayah di Jateng, Jatim, dan NTB. Boleh saja untuk sementara Ambon dibilang cukup tenang. Tapi, Poso terus bergolak. Kini malah muncul teror terhadap ulama di wilayah Tapal Kuda (Jatim). Di ujung wilayah negeri, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, darah terus berkubang akibat operasi militer. Di sisi lain, pemerintah malah bersikap represif terhadap warganya sendiri. Mahasiswa kritis diinterogasi. Kebebasan berpendapat tidak terjamin lagi. Anarkisme terhadap kebebasan pers mengintip dari sana-sini. Kantor koran disatroni preman. Wartawan diteror. Menyangkut masalah Pertahanan dan Ketahanan Nasional, PDI Perjuangan merasa perlu adanya perubahan persepsi dan sikap dalam memaknainya. Karena pada hakekatnya kami berpendapat bahwa pertahanan dan ketahanan suatu bangsa dapat terselenggara dengan sendirinya, apabila rasa peduli dan rasa memiliki terhadap bangsa dan negeri dimana ia hidup, telah melekat dalam hati dan sanubari seluruh rakyat. Kunci utamanya adalah tegaknya keadilan dan tumbuhnya rasa aman yang nyaman bagi setiap warga bangsa dalam mengelola kehidupan dan penghidupannya. Oleh karenanya tugas utama bagi Tentara Nasional Indonesia dalam kehidupan di abad mendatang adalah; menciptakan rasa aman dan nyaman bagi seluruh rakyat Indonesia dalam menjalankan kehidupannya sebagai warga di sebuah negara yang merdeka dan berdaulat penuh. Sengaja saya tidak secara spesifik membicarakan masalah Dwifungsi ABRI; karena pada dasarnya telah sangat jelas ; bidang kerja apa dan wilayah tanggung jawab yang mana, yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat sipil di satu sisi dan militer di sisi lain. Kebijakan yang membuat keduanya menjadi salah tempat dan salah fungsi akan membawa bangsa ini kejurang pertentangan Sipil-Militer yang berkepanjangan. Hal inilah yang selama ini terjadi dan berdampak negatif terhadap nilai produktivitas bangsa secara menyeluruh. Karenannya, kesadaran ABRI untuk dengan segera melakukan redefinisi, restrukturisasi, reposisi dan refungsionalisasi dalam kiprah kehidupan berbangsa dan bernegara, harus kita dukung sepenuhnya. Apalagi ketika motto: dari rakyat dan untuk rakyat, dijadikan acuan dasar dalam merumuskan jati diri ABRI -- sebagaimana yang dikehendaki dan diamanatkan oleh UUD'45. “Kalau Tjut Nyak jadi Presiden, tak akan dibiarkan darah setetes pun mengalir di Tanah Rencong.” Begitulah janji Ketua Umum DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri, dalam satu kesempatan kampanye Pemilu 1999 di Aceh. Kata-kata itu dia ikrarkan dengan nada sendu, setengah terisak, sembari tangannya menyeka air mata. Tetapi itu terjadi empat tahun yang lalu. Sekarang, ketika Megawati sudah benar-benar

menjadi presiden, Nanggroe Aceh Darussalam justru menjadi ajang pemberlakukan darurat militer. Kontak senjata pun terjadi antara TNI dan GAM atau orang-orang yang dicurigai bersimpati pada GAM. Korban berjatuhan, termasuk dari kalangan sipil. Kebijakan Pemerintahan Megawati-Hamzah ini telan menelan nyawa 700-an orang. Yang terluka dan menderita akibat ditinggal ayah, suami, atau saudara lebih banyak lagi. Barangkali lupa atau sengaja melupakan ikrarnya sendiri, Mega tenang-tenang saja di Istana Negara. Acapkali malah asyik pesiar ke luar negeri. Atau bersukaria di Bali, pestapora merayakan ulang tahun suami atau pesta pernikahan anaknya. Perang di Aceh terus berkecamuk, bahkan status darurat militernya diperpanjang. Korban pun terus berjatuhan. Terorisme sebagai isu global Terhadap isu global memerangi apa yang disebut sebagai “terorisme”, pemerintah cenderung mengekor instruksi asing (Amerika Serikat dan sekutunya). Setiap kali ada fitnah dan penangkapan terhadap warga dan mahasiswa Indonesia di luar, apalagi aktivis Islam, pemerintah seperti sakit gigi. Nyaris tak ada upaya pembelaan, kecuali sekadar janji akan mencari jalan untuk klarifikasi. Alih-alih melindungi, pemerintah justru menjadi sponsor tindakan represif itu. Di dalam negeri, puluhan aktivis masjid dan gerakan Islam ditangkapi tanpa prosedur dan alasan yang jelas. Amir Majelis Mujahidin Ustadz Abubakar Ba’asyir terus dibui sekalipun masa tahanannya telah berakhir. Beda dengan terpidana makar Republik Maluku Serani (RMS) Alex Manuputty yang bisa bebas lepas. Permohonan kasasinya ke Mahkamah Agung ditolak, dan dia tetap divonis 4 tahun penjara. Tapi kini Alex leluasa kampanye (untuk kemerdekaan Maluku) di Amerika. Dalihnya memberantas terorisme, tetapi justru menimbulkan teror baru yang lebih mengerikan Jakarta, Senin 15 Desember 2003. Ratusan orang berpakaian serba putih berbaris di depan Kantor Departemen Kehakiman dan HAM, Jl HR Rasuna Said, Jakarta. Mereka, para ulama dan habib, memprotes kebijakan pemerintah yang telah bertindak tidak adil terhadap Islam dan aktivis Muslim. Mereka tampak tak hirau dengan sengatan sinar matahari. Wajah-wajahnya tenang, namun sesungguhnya dadanya bergemuruh. Mereka bertanya-tanya, “Mengapa pendeta Alex Manuputty, terpidana makar upaya pendirian Republik Maluku Serani (RMS), bisa bebas pergi ke Amerika Serikat? Padahal di saat yang sama, Amir Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Ustadz Abubakar Ba’asyir tetap disekap di tempat pengap Rumah Tahanan Salemba. Lebih tidak adil lagi, masa penahanan Ustadz Abu sebenarnya telah habis." “Alex dan tokoh RMS yang jelas-jelas terbukti melakukan upaya makar separatis dibebaskan, sementara Ba’asyir yang tak terbukti melakukan aksi makar malah dipenjara. Apakah karena keduanya berbeda agama?” seru KH dari Forum Ulama dan Habaib Surakarta dalam dan aksi teror dan Mudzakir orasinya.

Alex yang juga pemimpin tertinggi Front Kedaulatan Maluku (FKM) saat ini tengah gencar berkampanye menuntut kemerdekaan Maluku. Dia sesumbar tak akan pulang sebelum Maluku merdeka sebagai Republik Kristen. Ulama dan habaib menilai pemerintah berat sebelah dan diskriminatif dalam penegakan hukum. Mereka juga menyayangkan adanya teror terhadap ulama dan politisi Islam di beberapa kawasan di Jateng, Jatim, dan NTB yang terkesan dibiarkan. Ditambah lagi, penangkapan dan penculikan terhadap aktivis masjid masih terus berlangsung, pasca peristiwa Bom Marriott. Penerapan UU Antiterorisme yang diikuti penahanan Ba’asyir, kemudian penetapan apa yang disebut-sebut sebagai Jemaah Islamiyah sebagai organisasi teroris oleh PBB (atas sponsor Pemerintah Amerika Serikat dan dukungan Indonesia), penangkapan aktivis Muslim, serta perpanjangan darurat militer di Nanggroe Aceh Darussalam adalah bukti tak terbantahkan bahwa Pemerintahan Megawati memang tidak berpihak pada kaum Muslimin. Bahkan, terkesan anti terhadap gerakan da’wah Islam. Muncullah stigma buruk bagi aktivis da’wah dan gerakan Islam pada umumnya. Sejauh ini, para aktvis yang ditangkapi umumnya terkait dengan jihad melawan Uni Soviet di Afghanistan, serta terlibat dalam melawan terorisme di Poso dan Ambon. Kebanyakan merupakan alumni Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki (Sukoharjo, Jateng) atau pesantren-pesantren tertentu yang sering disebut-sebut terkait dengan Jemaah Islamiyah. Contoh yang pernah dilansir majalah ini adalah penangkapan terhadap Ustadz Muhammad Hafidz, salah satu pucuk pimpinan Komite Penanggulangan Krisis (KOMPAK) Dewan Dakwah Islamiah Indonesia (DDII). Interogasi terhadap imam Masjid Nurul Jannah Cileungsi (Jabar) ini jelas memperlihatkan adanya skenario penangkapan terhadap mujahid yang pernah ke Afghanistan, Ambon, dan Poso. Karena aktivitasnya melawan terorisme itulah Hafidz dimasukkan dalam status tersangka. Pertanyaan lainnya berkisar tentang apa yang disebut sebagai Jemaah Islamiyah dan Bom Bali. Namun karena semua tuduhan itu tak terbukti, Hafidz akhirnya dibebaskan dari penculikan. Penahanan dan interogasi di atas berlangsung selama sepekan, dan keluarga Hafidz sama sekali tidak diberitahu. Itulah sebabnya pria yang aktif mengisi pengajian di berbagai tempat ini menilai tindakan itu sebagai penculikan. Dan ada pesan dari aparat yang sampai kini terus terngiang di telinga Hafidz, “Sewaktu-waktu Anda bisa diambil lagi.” Betul. Belum lama ini beberapa aparat datang menemuinya. Urusannya masih dalam soal yang sama. “Tak tahu lah, kenapa saya terus dibawa-bawa ke dalam urusan yang saya sendiri tidak memahaminya,” kata Hafidz. Kasus yang sama menimpa puluhan aktivis di berbagai pelosok negeri. Mulai dari Bekasi, Batam, Lampung, Padang, Solo, Magelang, Semarang, Kudus, dan beberapa daerah lain. Modus penangkapannya sama dengan apa yang dialami Hafidz. Begitu pula kejadian selama di tahanan.

Teror semacam di atas tak cuma menimpa aktivis yang diculik. Keluarganya, terutama istri dan anak-anak, ikut kena getahnya. Akibat stigma bahwa sang suami terangkut “terorisme”, mereka dikucilkan oleh masyarakat bahkan dikeluarkan dari pekerjaan. Anak-anak yang tak berdosa dijauhi kawan-kawan mainnya. Cara-cara di atas dinilai oleh Sekjen Partai Keadilan Sejahtera (PKS), M Anis Matta, sebagai tindakan yang liar dan melanggar hukum. “Ini berarti polisi menciptakan teror baru terhadap masyarakat. Ini sangat menakutkan sejumlah aktivis, karena merasa setiap saat akan ada orang yang ‘hilang’ tanpa ada perlindungan hukum,” katanya. Di mata Direktur LSM Imparsial, Munir, cara-cara di atas mengandung dua pelanggaran. Pertama, penculikan dan penangkapan sewenang-wenang. Kedua, penahanan orang tanpa akses komunikasi sama sekali. Keduanya termasuk high crime against humanity atau kejahatan besar melawan kemanusiaan. Reaksi serupa disampaikan Ketua Dewan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI), Munarman. “Segala prosedur sudah ditabrak. Tangkap dahulu, tuduhan belakangan. Ini jelas kelanjutan dari kasus Abubakar Ba’asyir,” katanya. Penilaian di atas diperkuat antara lain oleh pernyataan Ketua Pengadilan Negeri Solo, Mudzakir SH. Dia mengaku tidak pernah mengeluarkan surat penetapan penangkapan dan penahanan terhadap aktivis masjid di Solo. Kalau ternyata ada penangkapan, berarti ini tidak prosedural dan tidak sesuai dengan undang-undang. “Saya tidak pernah diajak berkoordinasi oleh Mabes Polri,” ungkapnya. Wajar bila Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo, KH Akhmad Slamet, mengatakan bahwa ummat Islam sangat terluka atas penculikan itu. Teror terhadap aktivis juga menggelisahkan belasan ormas Islam yang tergabung dalam Forum Ukhuwwah Islamiyah (FUI). Dalam sebuah pernyataan bersama MUI Pusat, ormas Islam meminta Pemerintahan Megawati memperhatikan kegelisahan ummat ini. Masih banyak komentar lain yang nadanya sama, yaitu prihatin terhadap represi sewenang-wenang pemerintah dan aparat. Tindakan yang konon dimaksudkan untuk memberantas “terorisme” itu telah memunculkan teror baru yang justru lebih menakutkan. Teror institusi negara terhadap rakyatnya sendiri. Menurut analisis pengamat intelijen Suripto, intelijen asing ikut “bermain” dalam operasi tersebut. Ini berkaitan dengan akan dilaksanakannya Pemilu 2004, agar timbul gejolak. Pihak yang bisa mengatasi gejolak itulah yang akan bisa unggul dalam pemilu mendatang. “'Ini hanya sebagai pemicu untuk memunculkan gejolak di masyarakat,” jelasnya. Kita sering melupakan bahwa di balik gesekan-gesekan politik sesungguhnya adalah pertarungan ideologi. Pemilu adalah puncak dari pertarungan ideologi itu. Dan, kita lihat Pemerintahan Megawati seolah-olah menyerah terhadap tekanan Amerika Serikat. Sikapnya mengambang, tidak jelas, dan masuk perangkap skenario kampanye “antiterorisme” George W Bush. Bangsa ini seperti tidak berdaulat untuk membela rakyatnya sendiri. Tuduhan terhadap aktivis Muslim itu merupakan permainan operasi intelijen. Kejadian-kejadian itu tak lepas dari rekayasa intelejen. Saya berharap betul semua aktivis Islam perlu mewaspadai terhadap trik-trik yang dilakukan oleh kalangan

yang fobi terhadap Islam. Apa yang menimpa Abubakar Ba’asyir memang kontras dengan Alex Manuputty. Anda tampak begitu yakin bahwa kebijakan represif Megawati adalah indikasi pemerintah sudah terperangkap pada kebijakan global AS? Sejauh yang saya lihat, pemerintah tidak mengadakan perlawanan dan cenderung menyerah terhadap kemauan AS. Salah satu contohnya bisa kita lihat. Sebelum bertemu dengan tokoh-tokoh Islam di Bali, George W Bush jelas mengatakan akan memberikan bantuan kepada pendidikan Islam di Indonesia dengan syarat mengubah kurikulum. Itu diucapkan sangat jelas oleh George W Bush, walaupun kemudian disamarkan oleh Dubes Ralph L Boyce. Politik luar negeri kita juga sudah terseret AS. Lihat, apa suara Pemerintah Indonesia terhadap kebijakan AS di Afghanistan dan Irak. Kita ini bangsa besar, tapi kalah jauh dari Malaysia. Mereka bisa mengoreksi kebijakan AS lewat suara vokal pemimpinnya. Bagaimana dengan adanya UU Antiterorisme yang ujung-ujungnya banyak menzhalimi aktivis Muslim. Apakah itu juga ada kaitannya dengan asing. Jelas, itu respons terhadap kemauan pihak asing. Sebenarnya, dengan UU yang ada, aparat sudah bisa menindak para pelaku tindak kekerasan dan terorisme. Adanya UU Antiterorisme malah menambah pekerjaan baru kita. Praktiknya, UU itu menjadi sarana justifikasi penangkapan aktivis. Pendidikan Murah : Sebagai Kemustahilan Hasil survey CESDA-LP3ES Untuk penanganan masalah-masalah sosial – seperti pendidikan dan kesehatan, misalnya pemerintah Megawati dinilai kurang optimal. Menanggapi kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, hanya 26% saja anggota masyarakat yang menyatakan puas pada upaya yang telah dilakukan pemerintah, terutama dalam memenuhi kewajibannya untuk menyediakan pendidikan dasar bagi seluruh kelompok di masyarakat dan 32% yang merasa puas pada upaya pemerintah dalam penyediaan sarana pendidikan yang memadai. Pendidikan murah dan gratis adalah pandangan yang bertentangan dengan kenyataan. Bahkan seperti dikatakan Presiden Megawati Soekarnoputri dalam peringatan Hari Pendidikan Nasional di SMU 13, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (5/5), "pandangan itu sangat menyesatkan". Menurut Megawati, pendidikan membutuhkan biaya sangat besar. Saat ini saja, negara mengalokasikan seperlima dari anggaran belanja negara untuk pendidikan, tapi tetap dirasa belum memadai. "Saya kira, tidak ada di antara kita yang akan berpikir dua kali untuk mengalokasikan dana lebih besar untuk kepentingan generasi masa depan," kata Megawati. Berbicara masalah pencerdasan bangsa, kami percaya bahwa kunci utamanya adalah meningkatkan kualitas pendidikan di satu sisi dengan tanpa mengurangi perlunya pendekatan kuantitatif di sisi lain. Dalam kaitan ini, satu hal yang perlu diperhatikan adalah kebutuhan mendesak akan pentingnya peningkatan kualitas dan kesejahteraan guru. Karena tanpa guru yang sejahtera, tidak mungkin kita akan capai pendidikan yang bermutu dan sehat. Secara pribadi saya menganggap, guru sebagai tiang budaya pendidikan bangsa. Maka bila tiang itu tidak pernah berdiri kokoh, maka jangan harapkan rumah pendidikan bangsa kita dapat tegak berdiri sebagaimana yang diidamkan. Hal lain

yang perlu kita pikirkan bersama adalah; perlunya memperjuangkan otonomi institusi pendidikan negeri maupun swasta berikut otonomi para pendidik yang sangat diperlukan untuk mencegah terciptanya pola pendidikan yang bersifat birokraktif dan indoktrinatif seperti yang diterapkan selama ini. Kebebasan dan kemerdekaan berpikir yang tetap dalam koridor ilmiah dan keilmuan, harus sepenuhnya dijamin untuk dapat dilaksanakan. Campur tangan pemerintah yang membatasi ruang kebebasan menentukan pilihan proses belajar dan mengajar, hanya akan membawa bangsa ini kepada penyempitan sudut pandang, maupun penyeragaman pola pikir yang satu arah dan kering nuansa. Dalam hal ini, memperlebar ruang bagi setiap warga negara untuk bebas berekspresi dan bebas membangun harapan-harapannya, merupakan keharusan yang bersifat mutlak. Bahkan lebih jauh lagi, kebebasan artistik atau kebebasan mengekspresikan estetika berdasar kan pilihan pribadi sebagai mahluk budaya, sudah saatnya diperkenalkan dan ditumbuh kembangkan dalam kehidupan kita. Biarkan anak-anak kita bermain dengan imajinasi-imajinasi yang sesuai dengan dunianya, baik dunia nyata yang digelutinya sehari-hari, maupun dunia khayalan yang berdatangan dalam mimpi-mimpi mereka. Jangan sampai kita biarkan anak-anak kita menjadi miskin imajinasi dan kehilangan daya khayalnya. Karena sebuah bangsa yang kering imajanasi dan miskin daya khayalnya, tak ubahnya bak pohon kekar kerontang penuh duri, tanpa sehelai daun maupun bunga yang memberi keindahan dan kedamaian bagi kehidupan diskelilingnya. Bangsa yang demikian adalah bangsa yang kering dan yang tak akan pernah mengenali betapa indah dan nikmatnya aroma kehidupan pada saat imajinasi rakyat bangsanya mampu menembus dinding waktu dan perdaban yang jauh ke depan. Untuk meningkatkan dana pendidikan, kata Megawati, masih terbatas kondisi perekonomian. "Sungguh tidak mudah membagi kue anggaran yang sedemikian kecil untuk mendanai banyak kebutuhan. Memperbesar alokasi untuk satu bidang, akan mengurangi alokasi untuk bidang lainnya," kata Megawati. Untuk itu, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memperbesar kue anggaran dan menggalakkan kampanye anti korups, kolusi dan nepotisme (KKN). Kaum tani dan nelayan, yang merupakan bagian terbesar dari warga negeri ini, tambah sulit mencari nafkah. Lahan subur kian menyusut. Jika pun masih menuai panen, harganya jatuh. Badan Urusan Logistik (Bulog) tak lagi berfungsi sebagai penyangga harga gabah dan beras petani. Nelayan juga tambah susah karena maraknya pencurian ikan oleh kapal modern berbendera asing. Bayangkan, tatkala tani dan nelayan kita kesulitan mencari sesuap nasi, orang asing leluasa meraup milyaran (bahkan sampai triliuan) rupiah dari perusahaanperusahaan milik negara dan lautan kita. Setiap tahun, kata Menteri Perikanan dan Kelautan Rokhmin Dahuri, “Rp 5 milyar kekayaan laut kita digondol kapal-kapal nelayan asing!” Dada rakyat kecil semakin bertambah sesak karena tarif BBM, listrik, telepon, air, dan kebutuhan primer lain terus merangkak naik. Inilah sebabnya Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Hermawan menilai kebijakan pemerintah sangat tiak berpihak kepada rakyat. “Lebih berpihak kepada konglongmerat, orang-orang kaya, dan para penguasa politik,” kata komandan organisasi mahasiswa yang dulu menjadi salah satu motor gerakan reformasi ini.

Reformulasi Konsep Pendidikan "Dunia pendidikan dapat memberi andil dengan membina kehidupan kerohanian di sekolah dan di rumah tangga. Dalam tiap rumah tangga harus ditanamkan, KKN itu adalah jahat," kata Megawati. Walau demikian, tetap tidak jelas apa yang harus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pendidikan. Pendidikan dalam perspektif demokrasi adalah sebuah komponen yang vital. Dalam membangun demokrasi, tak pelak proses pendidikan yang menjadikan warga negara yang merdeka, berpikir kritis dan sangat familiar dalam praktik-praktik demokrasi. Sejarah mencatat, intelektual-intelektual bangsa yang berpendidikan barat lah yang memegang peranan penting sebagai penggagas ghirah kebangsaan dan sekaligus sebagai founding fathers berdirinya republik ini. Namun tak kurang pula, pendidikan yang telah dikenyam pemimpin bangsa, ketika berubah menjadi suatu rejim yang otoriter maka pendidikan yang diberikan oleh pemerintah (baca: penguasa) menuntut penerimaan masyarakat secara paksa (passive acceptance). Keran demokrasi dan demokratisasi begitu terbuka dan membahana pada masa reformasi sekarang ini. Maka dari itu pula, reformasi pendidikan mutlak bagi bangsa ini dan dapat segera diwujudkan menyusul semakin pentingnya sektor pendidikan dijadikan prioritas utama pembangunan, dimana pembiayaan dan kewenangan menjadi fokus utama dalam reformasi pendidikan tekait dengan desentralisasi pendidikan di era otonomi daerah saat ini. Diantara berbagai kebijakan yang dikeluarkan pemerintah pasca orde baru (orde reformasi), adalah kebijakan di bidang pendidikan yang menentukan kiprah bangsa ini di masa depan. Niscaya, sumber daya manusia yang unggul akan dibentuk melalui sistem pendidikan yang merupakan kapital sosial bagi pembentuk generasi masa depan. Diharapkan, tidak hanya pemerintah yang “memikirkan” konsep dan sistem pendidikan yang ideal, tetapi merupakan tanggung jawab bersama. Dalam konsepsi perikehidupan berbangsa dan bernegarayang menuju kearah civil society sekarang ini, era reformasi dan otonomi daerah seakan angin segar sekaligus kesempatan besar dalam reformasi di segala bidang untuk kemajuan bangsa. Sekali lagi, pendidikan merupakan kunci bangsa untuk eksis dan bersaing di kancah global di masa depan. Pengalaman negara-negara barat yang bermasyarakat dengan tingkat pendidikan dan penguasaan teknologi yang tinggi membawa bangsanya pada kedudukan yang tinggi pula pada percaturan internasional. Kedaulatan dan keunggulan yang kompetitif di masa depan bukan milik suatu bangsa atau negara, melainkan hak semua bangsa di dunia dan mampu diraih bangsa manapun, termasuk kita jika berbenah diri dari sekarang. Masa otonomi daerah ditandai dengan implementasi UU No.22 tahun 1999 yang direvisi dan diganti dengan UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam kedua UU inilah perspektif demokratisasi pendidikan memiliki fondasi dasarnya sebelum diterbitkan peraturan-peraturan (PP) maupun Peraturan daerah (Perda) yang mengatur lebih lanjut tentang pendidikan ini, selain UU Sisdiknas itu sendiri. Perjalanan pendidikan nasional yang panjang mencapai suatu masa yang demokratis –kalau tidak dapat disebut liberal– ketika pada saat ini otonomisasi pendidikan melalui berbagai instrumen kebijakan, mulai UU No. 2 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, “privatisasi” perguruan tinggi negeri –dengan status baru yaitu Badan Hukum Milik

Negara (BHMN) melalui PP No. 60 tahun 2000, sampai UU No.32 tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan UU No.33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah yang mengatur konsep, sistem dan pola pendidikan, pembiayaan pendidikan, juga kewenangan di sektor pendidikan yang digariskan bagi pusat maupun daerah. Dalam konteks ini pula, pendidikan berusaha dikembalikan untuk melahirkan insan-insan akademis dan intelektual yang diharapkan dapat membangun bangsa secara demokratis, bukan menghancurkan bangsa dengan budaya-budaya korupsi kolusi dan nepotisme, dimana peran pendidikan (agama, moral dan kenegaraan) yang didapat dibangku sekolah dengan tidak semestinya. Reformulasi konsep pendidikan dan rekonstruksi fondasi pendidikan nasional, utamanya menyangkut hak-hak pendidikan masyarakat dan nilainilai dasar pendidikan saat ini mutlak untuk dipikirkan (rethinking) dan direaktualisasi. Salah satu konsepnya adalah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) yang mulai diimplementasikan pada sekolah-sekolah dasar dan menengah dibeberapa provinsi di Indonesia, mungkin juga konsep pendidikan “masyarakat belajar” bagi masyarakat akademis seperti digagas Murbandono Hs (1999) yang menurutnya bukanlah utopia. Dengan demikian dalam konteks ini, kebijakan otonomi daerah (melalui diterbitkannya UU No. 32 tahun 2004 dan UU No.33 tahun 2004) dan desentralisasi pendidikan dalam rangka perbaikan pendidikan ini sangat perlu dan mendesak. Mencabut Subsidi Masyarakat Demo yang berupaya menggoyang pemerintahan Megawati menyusul kenaikan harga BBM, TDL dan telepon ternyata tak menggoyahkan Mega. Ia menyatakan sadar dan memilih membuat kebijakan tidak populis yang memberatkan masyarakat itu, tetapi kebijakan tersebut bersifat konstruktif untuk jangka panjang. ''Saya lebih memilih membuat kebijakan yang tidak populis tetapi kunstruktif untuk jangka panjang, daripada membuat kebijakan populis tetapi menjerumuskan,'' tandas Ketua Umum DPP PDI-P Megawati Soekarnoputri di Mengwi, Minggu (12/1) kemarin. Justru karena itu, ia berharap pemerintah memperketat pengawasan, karena pelaksana pemerintahan saat ini masih rezim lengkap dengan karakter yang dibawa ketika masa orde baru. Ia menunjuk kebocoran di Pertamina yang sudah harus ditangani secara serius. ''Ada kesan di Jakarta bukan bocor lagi, tetapi gerojokan mengucur deras.'' Sutjipto mengakui, kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM, TDL dan tarif telepon memang berat. Namun, ini harus tetap dilakukan secara bertahap untuk mengurangi ketergantungan pemerintah terhadap utang sebagaimana arahan Propenas. Di samping itu, ada kewajiban lain melepaskan diri dari beban utang IMF. ''Kalau tak dilakukan sekarang, kapan lagi. Sebab, pemerintah akan mengurangi ketergantungan utang pada IMF,'' ujarnya. Kata Sutjipto, pemerintah ingin mengalihkan subsidi BBM yang selama ini jatuh pada golongan menengah ke atas untuk kesejahteraan rakyat miskin, nelayan dan memprioritaskan pendidikan, terutama bebas SPP serta kesehatan. ''Awalnya memang pahit, tetapi jika kemampuan pemerintah makin besar di bidang keuangan tentu diupayakan pembebasan SPP secara bertahap dan subsidi pengobatan rakyat miskin.'' Menanggapi desakan agar keputusan kenaikan harga BBM, TDL dan telepon dibatalkan

atau minimal dikaji, ia menyatakan, PDI-P tidak akan melakukan tekanan seperti itu. ''Kami yakin demo ramai-ramai ke jalan ini karena sosialisasinya yang kurang,'' ujarnya sembari berharap penjelasan pemerintah kepada DPR dalam waktu dekat akan menjadi bagian dari sosialisasi itu. (029/011/004). Terhadap kinerja pemerintahan Megawati di bidang ekonomi hasil survai CESDA LP3ES menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat merasa belum merasa puas. Paling sedikit terdapat tiga bidang yang umumnya tidak memberikan rasa puas bagi masyarakat. Tingkat kepuasan masyarakat di ketiga bidang itu umumnya berada di bawah 40%. Untuk penyediaan lapangan kerja, misalnya, hanya 11% saja yang merasa puas, sementara 20% anggota masyarakat menyatakan puas untuk masalah pengendalian harga. Demikian pula halnya dalam hal penyediaan kebutuhan sembako di mana 37% anggota masyarakat mengaku tidak puas terhadap kinerja pemerintahan Megawati dalam menyediakan kebutuhan sembako. Selain kebijakan pencabutan subsidi, publik juga mencatat ketidakpuasaan terhadap Megawati atas penanganan sejumlah hal. Itu yakni pengendalian harga barang (86 persen), penyediaan lapangan kerja (82 persen), penyelesaian berbagai konflik di daerah (65 persen) dan pengembangan usaha kecil (63 persen). Di bidang kebijakan politik, mayoritas responden menilai Megawati tidak memuaskan publik dalam menyelesaikan proses pengadilan pelanggaran HAM (68 persen). Sebanyak 66 persen responden kecewa dengan penegakan hukum. Dalam polling yang sama, separuh responden menjawab bahwa mereka percaya ada upaya kelompok tertentu untuk memberhentikan Megawati dari kursi Presiden sebelum 2004. Responden yang mempercayai hal itu kebanyakan berasal dari PDI Perjuangan. Responden yang berasal dari Partai Kebangkitan Bangsa juga mempercayai hal itu. Mengenai kekuatan dukungan koalisi politik yang telah mengantarkan Megawati ke kursi Presiden, responden menyikapinya dengan sikap terbelah. Sebanyak 45 persen responden menyatakan keyakinannya koalisi akan tetap terjaga, sedangkan 44 persen tidak yakin. Ketidakpuasan mayoritas masyarakat terhadap kinerja para petinggi negara rupanya berpengaruh terhadap sikap mereka berkaitan dengan pemilihan presiden dalam Pemilu 2004 mendatang, Kecenderungan semacam itu terbukti dari 41% anggota masyarakat yang tidak dapat menyebutkan nama figur yang dianggap layak untuk menjadi Presiden RI. Bahkan 3% lainnya menyatakan bahwa tidak ada satu figurpun yang saat ini cukup layak untuk menjadi presiden RI pada pemilu 2004. Namun demikian, dari mereka yang dapat menyebutkan nama menteri, tercatat hanya 4 (empat) orang menteri yang dinilai masyarakat memiliki performa kinerja yang cukup baik. Keempat menteri tersebut adalah Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai Menkopolkam yang dipandang sebagian (24%) masyarakat memiliki kinerja paling baik di antara semua menteri yang ada dalam jajaran kabinet Megawati. Kemudian diikuti oleh Yusril Ihza Mahendra selaku Menkumdang dan HAM yang dinyatakan oleh 8% masyarakat sebagai menteri yang kinerjanya baik. Selanjutnya adalah Yusuf Kalla sebagai Menkokesra dan Kwik Kian Gie selaku Ketua Bappenas yang masing-masing dinyatakan 4% anggota masyarakat sebagai menteri dengan kinerja terbaik. Tampaknya

ada semacam konsistensi antara apresiasi masyarakat terhadap rasa aman di satu sisi dengan tampilnya Soesilo Bambang selaku Menkopolkam sebagai menteri dengan predikat “paling baik kinerjanya” di sisi lain. KKN merajalela Menjelang Pemilu 2004 diperkirakan akan semakin menggila. Kalangan mahasiswa layak kecewa. Tuntutan utama gerakan reformasi yang dimotori anak-anak muda ini tak bisa dipenuhi Pemerintahan Megawati-Hamzah. Yaitu pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN), serta penegakan hukum. “Mega boleh dikatakan gagal total. Dia tidak konsisten. Bahkan terkesan tidak ada komitmen sama sekali terhadap agenda reformasi,” kata Ahmad Nur Hidayat, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI). Simak saja, Megawati mengangkat orang-orang bermasalah sebagai aparat puncak penegak hukum. Para koruptor tervonis dibiarkan bebas, bahkan ada yang memimpin lembaga tinggi negara. Proses persidangan mereka berjalan seperti film India dimana koruptor (pemeran utama) tampil sebagai orang tidak bersalah dan terzhalimi. Para konglomerat diampuni dengan kedok release and discharge. Sebagian mereka --yang telah mengemplang uang rakyat sampai ratusan triliun-- kini leluasa memborong kembali aset-aset yang pernah disita Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) dengan harga amat murah. Tommy Soeharto dan Bob Hasan yang sudah diburu dengan susah payah dan dibuang ke Nusa Kambangan, konon malah diberi grasi (pengurangan hukuman) secara terselubung. Kasus korupsi Soeharto telah dipetieskan dengan alasan Soeharto sakit. Kini, setelah mantan Raja Orde Baru itu tampak bugar --bisa jalan-jalan dan diskusi dengan orangorang terdekatnya-- pemerintah seperti tutup mata. Pengusutan kasus-kasus mega-korupsi jalan di tempat. Sebut saja kasus Bank Bali, Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI), dan utang-utang segunung para konglomerat. Menurut catatan Indonesia Corruption Watch (ICW), sampai saat ini masih ada 19 kasus korupsi besar yang mengendap di kejaksaan, 9 nama tersangka koruptor kabur, 16 daftar terpidana korupsi belum menjalani hukuman, dan 6 tunggakan perkara kasus korupsi di kepolisian. Transparency International (TI) pada bulan Maret 2003 mencatat, antara tahun 20012002 di Jawa Barat saja terdapat 146 kasus korupsi. Pihak kejaksaan baru memproses 60 kasus. Kasus lain terjadi dalam pembangunan jalan di Sumatera Selatan yang merugikan negara Rp 22,3 milyar dan kasus Jogja Expo Center (JEC) yang melibatkan beberapa anggota DPRD setempat. Semua provinsi di negeri ini diwarnai karus korupsi. “Sejak awal, komitmen Pemerintahan Megawati untuk memberantas KKN dan reformasi penegakan hukum itu lemah. Mega justru berpihak kepada konglongmerat, orang-orang kaya, dan para penguasa politik, demi mempertahankan kekuasaan,” ujar Hermawan, Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI). Bukti tentang itu tampak jelas dalam kasus obral beberapa aset strategis. Seperti penjualan 41% saham PT Indosat senilai Rp 5,6 trilyun kepada Singapore Technologies Telemedia (STT) yang tidak transparan dan penuh misteri.

Menurut mantan Presiden Abdurrahman Wahid, kabarnya menteri yang terkait dengan penjualan itu beserta konco-konconya mendapat komisi 9% (atau senilai Rp 0,5 trilyun). Menteri Negara Urusan BUMN Laksamana Sukardi mengaku bahwa itu untuk ongkos konsultan, notaris, dan biaya administrasi lainnya. Penilaian seperti di atas juga dikatakan anggota DPR dari Fraksi Reformasi, Alvin Lie. Menurutnya, penegakan hukum di negeri ini memang sangat diskriminatif. Orang-orang yang kantungnya tebal atau mereka yang punya kekuatan dan kekuasaan politik, begitu sulit dijangkau hukum. “Saya dengar ada buronan BLBI malah bisa datang ke rumah presiden. Bagaimana bisa pasien berat BPPN malah punya akses ke presiden?” katanya. Pemerintah juga tidak punya identitas diri dan terlalu bergantung kepada kepentingan asing. Apa saja yang dikatakan pihak luar, entah itu IMF, ICG, atau yang lain, pasti akan dituruti. “Secara tergopoh-gopoh Mega berusaha memuaskan para tuan-tuan itu. Sebaliknya bila rakyat sendiri yang teriak, tidak digubris,” tambah Alvin. Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Kwik Kian Gie memperkirakan nilai yang dimakan para koruptor hampir Rp 300 trilyun. Angka yang cukup fantastis. “Jika 30% saja angka korupsi ini bisa diturunkan, banyak yang bisa dilakukan. Misalnya untuk mensejahterakan PNS dan menaikkan anggaran pendidikan,” kata tokoh PDIP ini. Seorang anggota DPR dari PDIP yang enggan disebut namanya menyadari begitu buruknya prestasi Mega. Fungsionaris PDIP sebenarnya tidak kurang mengingatkan sang Ketua Umum.”Tetapi Bu Megawati tampak tenang-tenang saja. Begitu juga soal pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Bukannya diberantas, tapi malah merajalela,” ungkapnya. Benar kata pengamat ekonomi Faisal Basri. “Pemerintah Megawati tidak bisa menghentikan korupsi di negara ini, mereka malah menjadi bagian dari permasalahan ini.” Tak mengherankan bila Indonesia dari tahun ke tahun selalu “berprestasi” hebat dalam hal korupsi. Di Asia juara dua. Untuk level dunia, kita berada di urutan nomor enam. “Ini menunjukkan belum ada komitmen serius dari pemerintah untuk memberantas korupsi. Pemberantasan KKN rupanya baru retorika,” kata Jusuf Syakir, ketua Komisi Pemeriksa Kekayaan Penyelenggaraan Negara (KPKPN). Menjelang Pemilu 2004, korupsi dikhawatirkan akan makin menggila. Para koruptor akan memanfaatkan celah program otonomi daerah dan begitu besarnya pinjaman dari luar negeri. “Kebocoran pinjaman luar negeri sekitar 20-30%,” begitu prediksi Koordinator ICW Teten Masduki. Baru-baru ini terjadi pembobolan bank pelat merah, yaitu BNI dan BRI. Nilainya juga mencapai angka trilyunan. Namun, dari mereka yang dapat menyebutkan nama figur yang dianggap layak untuk menjadi presiden RI di tahun 2004 mendatang, nama Soesilo Bambang Yudhoyono – seorang tokoh non-partai muncul di urutan teratas dengan 14% angka dukungan. Berikutnya secara berturut-turut tampil beberapa nama sebagai berikut: Megawati Sukarnoputri (9%), Amien Rais (8%), Nurcolish Madjid (5%), serta Yusril Ihza Mahendra dan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang masing-masing didukung oleh 4% anggota masyarakat. Jawaban ini tampaknya konsisten dengan pendapat masyarakat yang apresiatif terhadap kebijakan pemerintah

dalam hal pemberian rasa aman serta kinerja Soesilo Bambang Yudhoyono sebagai Menkopolkam yang dianggap terbaik dari menteri-menteri anggota kabinet lainnya. Kepustakaan Alif Lukmanul Hakim, Merenungkan Kembali Pancasila Indonesia, Bangsa Tanpa Ideologi , Newsletter KOMMPAK Edisi I 2007. http://aliflukmanulhakim.blogspot.com Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at 11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/ Abdurrohim, Pendidikan Sebagai Upaya Rekonstruksi Sosial, posted by Almuttaqin at 11:41 PM , http://almuttaqin-uinbi2b.blogspot.com/2008/04/ Adnan Khan(2008), Memahami Keseimbangan Kekuatan Adidaya , By hati-itb September 26, 2008 , http://adnan-globalisues.blogspot.com/ Al-Ahwani, Ahmad Fuad 1995: Filsafat Islam, (cetakan 7), Jakarta, Pustaka Firdaus (terjemahan Pustaka Firdaus). Ary Ginanjar Agustian, 2003: Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ, Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, (edisi XIII), Jakarta, Penerbit Arga Wijaya Persada. _________2003: ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui Al Ihsan, (Jilid II), Jakarta, Penerbit ArgaWijaya Persada. A. Sonny Keraf, Pragmatisme menurut William James, Kanisius, Yogyakarta, 1987 R.C. Salomon dan K.M. Higgins, Sejarah Filsafat, Bentang Budaya, yogyakarta, 2003 Avey, Albert E. 1961: Handbook in the History of Philosophy, New York, Barnas & Noble, Inc. Awaludin Marwan, Menggali Pancasila dari Dalam Kalbu Kita, Senin, Juni 01, 2009 Bernstein, The Encyclopedia of Philosophy Bagus Takwin. 2003. Filsafat Timur; Sebuah Pengantar ke Pemikiran Timur. Jalasutra. Yogjakarta. Hal. 28 Budiman, Hikmat 2002, Lubang Hitam Kebudayaan , Kanisius, Yogyakarta. Chie Nakane. 1986. Criteria of Group Formation. Di jurnal berjudul. Japanese Culture and Behavior. Editor Takie Sugiyama Lembra& William P Lebra. University of Hawaii. Hawai. Center for Civic Education (CCE) 1994: Civitas National Standards For Civics and Government, Calabasas, California, U.S Departement of Education. Dawson, Raymond, 1981, Confucius , Oxford University Press, Oxford Toronto, Melbourne D. Budiarto, Metode Instrumentalisme – Eksperimentalisme John Dewey, dalam Skripsi, Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta, 1982 Edward Wilson. 1998. Consilience : The Unity of Knowledge. NY Alfred. A Knof. Fakih, Mansour, Dr, Runtuhnya Teori Pembangunan Dan Globalisasi . Pustaka Pelajar. Yogyakarta : 1997 Fritjof Capra. 1982. The Turning of Point; Science, Society and The Rising Culture. HaperCollins Publiser. London. Hadiwijono, H, Dr, Sari Sejarah Filsafat 2, Kanisius, Yogyakarta, 1980 Kartohadiprodjo, Soediman, 1983: Beberapa Pikiran Sekitar Pancasila, cetakan ke-4, Bandung, Penerbit Alumni.

Kelsen, Hans 1973: General Theory of Law and State, New York, Russell & Russell Lasiyo, 1982/1983, Confucius , Penerbit Proyek PPPT, UGM Yogyakarta --------, 1998, Sumbangan Filsafat Cina Bagi Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia , Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Pada Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta --------, 1998, Sumbangan Konfusianisme Dalam Menghadapi Era Globalisasi , Pidato Dies Natalis Ke-31 Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta. McCoubrey & Nigel D White 1996: Textbook on Jurisprudence (second edition), Glasgow, Bell & Bain Ltd. Mohammad Noor Syam 2007: Penjabaran Fislafat Pancasila dalam Filsafat Hukum (sebagai Landasan Pembinaan Sistem Hukum Nasional), disertasi edisi III, Malang, Laboratorium Pancasila. ---------2000: Pancasila Dasar Negara Republik Indonesia (Wawasan Sosio-Kultural, Filosofis dan Konstitusional), edisi II, Malang Laboratorium Pancasila. Murphy, Jeffrie G & Jules L. Coleman 1990: Philosophy of Law An Introduction to Jurisprudence, San Francisco, Westview Press. mcklar(2008), Aliran-aliran Pendidikan, http://one.indoskripsi.com/node/ Posted July 11th, 2008 Nawiasky, Hans 1948: Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen Grundbegriffe, Zurich/Koln Verlagsanstalt Benziger & Co. AC. Notonagoro, 1984: Pancasila Dasar Filsafat Negara, Jakarta, PT Bina Aksara, cet ke-6. Radhakrishnan, Sarpavalli, et. al 1953: History of Philosophy Eastern and Western, London, George Allen and Unwind Ltd. Roland Roberton. 1992. Globalization Social Theory and Global Culture. Sage Publications. London. P. 85-87 Sudionokps(2008)Landasan-landasan Pendidikan, http://sudionokps.wordpress.com Titus, Smith, Nolan, Persoalan-Persoalan Filsafat, Bulan Bintang, Jakarta : 1984 UNO 1988: Human Rights, Universal Declaration of Human Rights, New York, UNO UUD 1945, UUD 1945 Amandemen, Tap MPRS – MPR RI dan UU yang berlaku. (1966; 2001, 2003) Widiyastini, 2004, Filsafat Manusia Menurut Confucius dan Al Ghazali, Penerbit Paradigma, Yogyakarta Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New York, Harvard College, University Press. Ya'qub, Hamzah, 1978, Etika Islam , CV. Publicita, Jakarta Wilk, Kurt (editor) 1950: The Legal Philosophies of Lask, Radbruch, and Dabin, New York, Harvard College, University Press. Andersen, R. dan Cusher, K. (1994). Multicultural and intercultural studies, dalam Teaching Studies of Society and Environment (ed. Marsh,C.). Sydney: Prentice-Hall Banks, J. (1993). Multicultural education: historical development, dimensions, and practice. Review of Research in Education, 19: 3-49. Boyd, J. (1989). Equality Issues in Primary Schools. London: Paul Chapman Publishing, Ltd.

Burnett, G. (1994). Varieties of multicultural education: an introduction. Eric Clearinghouse on Urban Education, Digest, 98. Bogdan & Biklen (1982) Qualitative Research For Education. Boston MA: Allyn Bacon Campbell & Stanley (1963) Experimental & Quasi-Experimental Design for Research. Chicago Rand McNelly Carter, R.T. dan Goodwin, A.L. (1994). Racial identity and education. Review of Research in Education, 20:291-336. Cooper, H. dan Dorr, N. (1995). Race comparisons on need for achievement: a meta analytic alternative to Graham's Narrative Review. Review of Educational Research, 65, 4:483-508. Darling-Hammond, L. (1996). The right to learn and the advancement of teaching: research, policy, and practice for democratic education. Educational Researcher, 25, 6:5-Dewantara, Deese, J (1978) The Scientific Basis of the Art of Teaching. New York : Colombia University-Teachers College Press Eggleston, J.T. (1977). The Sociology of the School Curriculum, London: Routledge & Kegan Paul. Garcia, E.E. (1993). Language, culture, and education. Review of Research in Education, 19:51 -98. Gordon, Thomas (1974) Teacher Effectiveness Training. NY: Peter h. Wydenpub Hasan, S.H. (1996). Local Content Curriculum for SMP. Paper presented at UNESCO Seminar on Decentralization. Unpublished. Hasan, S.H. (1996). Multicultural Issues and Human Resources Development. Paper presented at International Conference on Issues in Education of Pluralistic Societies and Responses to the Global Challenges Towards the Year 2020. Unpublished. Henderson, SVP (1954) Introduction to Philosophy of Education.Chicago : Univ. of Chicago Press Hidayat Syarief (1997) Tantangan PGRI dalam Pendidikan Nasional. Makalah pada Semiloka Nasional Unicef-PGRI. Jakarta: Maret,1997 Highet, G (l954), Seni Mendidik (terjemahan Jilid I dan II), PT.Pembangunan Ki Hajar (1936). Dasar-dasar pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Kemeny,JG, (l959), A Philosopher Looks at Science, New Hersey, NJ: Yale Univ.Press Ki Hajar Dewantara, (l950), Dasar-dasar Perguruan Taman Siswa, DIY:Majelis Luhur Ki Suratman, (l982), Sistem Among Sebagai Sarana Pendidikam Moral Pancasila, Jakarta:Depdikbud

Ki Hajar, Dewantara (1945). Pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Ki Hajar, Dewantara (1946). Dasar-dasar pembaharuan pengajaran, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Kuhn, Ts, (l969), The Structure of Scientific Revolution, Chicago:Chicago Univ. Langeveld, MJ, (l955), Pedagogik Teoritis Sistematis (terjemahan), Bandung, Jemmars Liem Tjong Tiat, (l968), Fisafat Pendidikan dan Pedagogik, Bandung, Jurusan FSP FIP IKIP Bandung Oliver, J.P. dan Howley, C. (1992). Charting new maps: multicultural education in rural schools. ERIC Clearinghouse on Rural Education and Small School. ERIC Digest. ED 348196. Print, M. (1993). Curriculum Development and Design. St. Leonard: Allen & Unwin Pty, Ltd. Raka JoniT.(l977),PermbaharauanProfesionalTenagaKependidikan:Permasalahan dan Kemungkinan Pendekatan, Jakarta, Depdikbud Rosyid, Rum (1995) Kesatuan, Kesetaraan, Kecintaan dan Ketergantungan : Prinsipprinsip Pendidikan Islami, Suara Almamater No 4/5 XII Bulan Juli 7 Agustus, Publikasi Ilmiah, Universitas Tajungpura, Pontianak Rum Rosyid(2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian I : Beberapa Tantangan Menuju Masyarakat Informasi, Penerbit KAMI , Pontianak. Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian II : Perselingkuhan Dunia Pendidikan Dan Kapitalisme, Penerbit KAMI, Pontianak. Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian III : Epistemologi Pragmatisme Dalam Pendidikan Kita, Penerbit KAMI, Pontianak. Rum Rosyid (2010) Pragmatisme Pendidikan Indonesia Bagian IV : Peradaban Indonesia Evolusi Yang Tak Terarah, Penerbit KAMI , Pontianak. Twenticth-century thinkers: Studies in the work of Seventeen Modern philosopher, edited by with an introduction byJohn K ryan, alba House, State Island, N.Y, 1964 http://stishidayatullah.ac.id/index2.php?option=com_content http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan.htm http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html http://stishidayatullah.ac.id/index2.php http://macharos.page.tl/Pragmatisme Pendidikan, .htm http://www.blogger.com/feeds/7040692424359669162/posts/default http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-13.html Aliran-Aliran Filsafat Pendidikan Modern, http://panjiaromdaniuinpai2e.blogspot.com Koran Tempo, 12 November 2005 , Revolusi Sebatang Jerami. http://www.8tanda.com/4pilar.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005 http://filsafatkita.f2g.net/sej2.htm di down load pada tanggal 2 Desember 2005

http://spc.upm.edu.my/webkursus/FAL2006/notakuliah/nota.cgi?kuliah7.htm l di down load pada tanggal 16 November 2005 http://indonesia.siutao.com/tetesan/gender_dalam_siu_tao.php di down load pada tanggal 16 November 2005 http://storypalace.ourfamily.com/i98906.html di down load pada tanggal 16 November 2005 http://www.ditext.com/runes/y.html di down load pada tanggal 2 Desember 2005

Dari Buku Pragmatisme Pendidikan Indonesia
Beberapa Tantangan Menuju Masyarakat Informasi Oleh : Rum Rosyid Dosen FKIP Universitas Tanjungpura Direktur Global Equivalency for Education

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->