Anda di halaman 1dari 43

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Sistem komunikasi semakin berkembang dengan banyaknya orang yang

menghendaki terjaminnya kontinuitas hubungan telekomunikasi, tidak terbatas saat

pemakai dalam keadaan diam ditempat juga ketika mereka dalam keadaan bergerak.

Untuk itu lahirnya komunikasi bergerak dimana pengguna komunikasi tidak lagi

terbatas oleh ruang gerak merupakan solusi yang baik untuk menjamin kontinuitas

hubungan komunikasi yang saat ini sangat penting.

Setiap jaringan komunikasi bergerak selular membutuhkan perencanaan sel

dengan tujuan untuk dapat memenuhi kebutuhan pencakupan sel yang ditunjukan

oleh jumlah base station, dimana diusahakan seminimal mungkin tetapi dapat

memenuhi kapasitas trafik yang dibutuhkan.

Perencanaan Penentuan Letak BTS ini mencakup dua aspek yaitu ditinjau dari segi

coverage dan dari segi trafik. Perencanaan penanganan beban trafik meliputi prediksi

jumlah pelanggan pada setiap sel, dimana dengan pertimbangan beban trafik yang

diperlukan oleh pelanggan dan beban trafik yang dapat ditangani dalam sel, dapat

diperoleh jumlah sel yang diperlukan untuk mengatasi beban trafik yang diperlukan

oleh pelanggan.

Dalam Tugas Akhir ini perencanaan jumlah dan lokasi BTS yang dapat mencakup

seluruh wilayah pelayanan dengan bantuan alat Bantu (tool) dalam proses

1
perhitungan dan penentuan lokasi BTS. Dari hasil perencanaan ini maka dapat

ditentukan jumlah BTS diwilayah tersebut baik dilihat dari segi coverage maupun

trafik.

1.2. POKOK PERMASALAHAN

Salah satu perencanaan yang penting dalam system komunikasi bergerak selular

adalah perencanaan penentuan lokasi BTS. Perencanaan ini bertujuan untuk

mencakup wilayah yang akan dilayani dengan jumlah seminimal mungkin tetapi

masih menunjukkan unjuk kerja yang baik ditinjau dari segi teknis yaitu masalah

kapasitas trafik yang disediakan dan kualitas sinyal.

1.3. BATASAN MASALAH

Agar dihasilkan suatu perencanaan yang berjalan secara efektif maka penulis

membatasi masalah sebagai berikut :

1. Perencanaan BTS menggunakan standar GSM

2. Asumsi pelanggan dalam perencanaan ini

3. Menetapkan lokasi perencanaan

4. Mempelajari kontur wilayah pada peta

5. Perhitungan Link Budget

6. Penetuan Letak BTS

2
1.4. METODE PENDEKATAN MASALAH

Metode yang digunakan dalam penyelesaian tugas akhir ini adalah studi literatur

dalam hal ini studi dilakukan dengan mempelajari buku – buku referensi yang

berkaitan dengan perencanaan sel dan standarisasi yang ditentukan untuk perencanaan

sel. Melakukan analisa dan penelitian dengan menggunakan kerangka pemecahan

masalah sebagai berikut :

1. Merumuskan permasalahan

2. Melakukan Analisa pada peta wilayah

3. Mengumpulkan data

4. Mengolah dan menganalisa data

5. Merencanakan sel sesuai dengan data dan kondisi area pelayanan.

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN

Tugas Akhir ini dibagi sistematis dengan penjabaran pada Bab I Pendahuluan,

berisi tentang latar belakang permasalahan, metode pendekatan, penangan masalah dan

sistimatika penulisan. Selanjutnya pada Dasar Teori, penulis menjelaskan teori dasar

tentang komunikasi bergerak selular (GSM) yaitu konsep selular, trafik pada system

selular dan manajeman frekuensi pada Bab II. Pada Bab III akan membahas langkah –

langkah pemecahan masalah yang digunakan dalam penelitian.Untuk perencanaan dan

analisa hasil perencanaan akan dibahas pada Bab IV. Pengambil beberapa kesimpulan

yang akan disampaikan pada Bab V.

3
BAB II

TEORI DASAR

2.1. GSM Secara Umum.

2.1.1. Sejarah Teknologi GSM.

Dalam konfrensi WARC (World Administrative Radio Conference) tahun 1979

ditetapkan bahwa frekuensi 860 Mhz – 960 Mhz dialokasikan untuk komunikasi selular

dikemudian hari. Dengan penetapan ini berartti band frekuensi selebar 2 x 25 Mhz khusus

disiapkan untuk selular digital.

Tahun 1982 dengan dipelopori oleh Jerman dan Perancis maka CEPT

(Conference Europeance d’Administration de Post et Telecommunication) menetapkan

GSM sebagai standar digital selular untuk Eropa. Tahun 1985 Jerman, Perancis, Itali dan

Inggris bersatu untuk mengembangkan standarisasi GSM.Sistem ini kemudian ditetapkan

memiliki pita frekuensi antara 890 – 915 Mhz untuk uplink dan 935 – 960 Mhz untuk

downlink dengan setiap pita frekuensi dibagi atas beberapa channel yang lebarnya 200

Khz. GSM menggunakan teknologi multiplexing TDMA (Time Division Multiple

Access).

GSM telah diadaptasi di Amerika Utara dengan menggunakan frekuensi 1900

Mhz kemudian system ini diberi nama PCS 1900 (Personal Communication System).

Pemisahan frekuensinya sebesar 80 Mhz dan pembagian frekuensinya adalah 1850 –

1910 Mhz untuk Uplink dan 1930 -1990 Mhz untuk downlink. GSM juga diadaptasi di

Eropa dengan nama PCN (Personal Communication Network) dengan menggunakan

frekuensi 1800 Mhz. Frekuensi modifikasinya antara 1710 – 1785 Mhz untuk uplink dan

4
1805 – 1880 untuk downlink, dengan pemisah frekuensi sebesar 95 Mhz antara uplink

dan downlink.

2.1.2. Arsitektur Jaringan GSM.

Gambar 2.1. Arsitektur Jaringan GSM

2.1.2.1. Mobile Station (MS)

MS terdiri dari dua bagian yaitu Mobile Equipment (ME) dan Subscriber Identity

Module (SIM).

A. Mobile Equipment (ME).

ME adalah perangkat keras yang digunakan oleh pengguna untuk akses ke

jaringan. Ada tiga tipe ME yaitu :

• Vihicle Mounted

• Portable Mobile Unit

• Hand portable Unit

B. Subscriber Identity Unit (SIM).

5
SIM card berisi informasi tentang pelanggan. SIM berbentuk smart – card yang

didalamnya terdapat mikroposesor. Dilihat dari bentuk fisiknya terdapat dua macam SIM

card yaitu ukuran ISO dan plug – in. SIM card tipe ISO memenuhi standar ISO 7816

yang mempunyai ukuran sebesar kartu kredit (85.6 mm x 54 mm) sedangkan plug – in

mempunyai ukuran 15 mm x 25 mm.

2.1.2.2. Base Station Subsystem (BSS).

BSS adalah interface antara MS dengan (Mobile Station) dan MSC (Mobile

Switching Centre) pada system selular GSM. Teknik radio digital digunakan untuk

hubungan (air – interface) antara BSS dan MS. BSS menyediakan interface sinyal digital

pada land network (A-interface) antara BSS dan MSC terdiri dari BSC, BTS dan XCDR

(speech trancoder).

A. Base Station Controller (BSC)

Fungsi dari BSC adalah untuk mengontrol BTS, memproses bentuk panggilan,

operation and maintenance dan menyediakan interface antara BSS dan MSC (A-

interface). Sedangkan funsi utamanya adalah mengatur kanal radio dan mentransfer

sinyal informasi dari dank e Mobile Station (MS).

B. Base Transceiver Station (BTS).

Setiap BTS menyediakan kanal radio (RF- carriers) untuk suatu area cakupan.

Kanal RF digunakan untuk hubungan antara MS dan BSS (Air-interface). BTS

mengandung transceiver radio yang menangani sebuah cell dan hubungan dengan Mobile

Station (MS).

6
Gambar 2.2. Base Tranceiver Station

C. Speech Transcoder (XCDR)

XCDR diperlukan untuk penyesuaian A-law PCM data pada land network dari

sistem GSM. XCDR adalah alat pemroses sinyal digital yang terdiri dari speech encoding

dan decoding. XCDR merupakan interface antara 64 kbps A-law PCM channel pada land

network dan 13 kbps vocoder channel yang dipakai pada air-interface.

2.1.2.3. Network Subsystem.

NSS terdiri dari Mobile Switching Center (MSC), Home Location Register

(HLR), Visitor Location Register (VLR), Equipment Identity Register (EIR) dan

Authentication Center (AuC).

A. Mobile Switching Center (MSC)

MSC merupakn inti dari jaringan GSM. Fungsinya untuk menghubungkan

pelanggan mobile ke PSTN atau ke pelanggan mobile lainnya. Untuk menangani

permintaan panggilan, MSC dapat mengakses informasi dari ketiga database HLR, VLR

7
dan AuC. Setelah menggunakan ketiga database tersebut MSC mengupdate ketiga

database sesuai informasi terakhir dari status panggilan dari posisi pelanggan.

B. Home Location Register (HLR)

HLR menyimpan semua data yang berhubungan dengan pesawat pelanggan. Data

statis menerangkan kapabilitas akses pelanggan, jenis pelayanan dan pelayanan

tambahan. HLR juga mempunyai data dinamis tentang pesawat pelanggan yang roaming.

MSC menggunakan data dinamik untuk segera meroutekan panggilan yang datang ke

pesawat pelanggan yang dipanggil.

C. Visitor Location Register (VLR)

VLR menyimpan informasi tentang pesawat pelanggan yang memasuki area

pelayanannya. VLR dapat dianggap sebagai database pelanggan yang dinamik yang

secara intesif bertukar data dengan HLR. Hubungan kedua database tersebut

memungkinkan MSC untuk menset-up panggilan yang masuk maupun keluar dalam area

pelayanan MSC tersebut. Data disimpan dalam VLR mengikuti pelanggan jika memasuki

area lain.

D. Equipment Identity Register (EIR)

EIR merupakan database yang menyimpan International Mobile Equipment

Identity (IMEI) pesawat pelanggan. Database tersebut dikategorikan dalam tiga hal yaitu

8
white list (pesawat tersebut sah atau legal), Grey list (pesawat sedang dalam

pengamatan), black list (pesawat tersebut tidak sah atau illegal).

E. Authentication Centre (AuC)

AuC adalah pengukuran keamanan dan memproteksi informasi pesawat

pelanggan terhadap gangguan melalui media udara. Karena rentannya keamanan dari

media udara, spesifikasi GSM memasukan pengukuran untuk otoritas pelanggan dan

kunci rahasia yang disimpan dalam AuC. Database dalam AuC juga diproteksi terhadap

mekanisme akses yang tidak berhak.

2.1.2.4. Operation and Maintenance System (O&M)

O&M adalah pusat dari pengoperasian jaringan dan mengontrol lebih dari satu

OMC.

A. Network Management System (NMC)

NMC menangani informasi konfigurasi dan network-wide data pada PLMN. Hasil

laporan statistik pada jaringan dan pengaturan tugas juga ada disini. NMC juga

menangani control trafik dan rekonfigurasi jaringan.

B. Operation and Maintenance Centre (OMC).

OMC menyediakan fungsi sebagai berikut : Kontrol alarm, control trafik,

overload control, pelaporan kesalahan, kumpulan statistik dan analisa, sistem inventory

dan kontrol dan adninistrasi jaringan.

9
2.2. Konsep Selular

2.2.1. Bentuk Geometris Sel

Bentuk sel heksagonal merupakan bentuk yang cocok untuk perancanaan dan

desain system selular karena mendekati bentuk lingkaran bentuk yang iseal area

coverage, tanpa gap dan overlap dengan sel heksagonal yang lain. Dalam perencanaan

BTS yang perlu diperhatikan adalah merencanakan sel, syarat yang harus dipenuhi adalah

frequency reuse atau cluster harus simetris artinya tiap sel harus mempunyai jarak yang

sama dengan sel co-channelnya.

Gambar.2.3 Bentuk – bentuk sel dan daerah konturnya

Suatu kaidah untuk memenuhi syarat adalah sebagai berikut :

K = i2 + j2 + ij (2.1)

Dimana i,j adalah interger positif (0,1,2, …..). Pengguna kaidah K menggunakan aturan

sebagai berikut “ lintasi i sel dari sel referensi sepanjang rantai heksagonal (garis harus

menghubungkan tiap BTS), kemudian putar 60o berlawanan arah jarum jam dan lintasi

sebanyak j sel sepanjang arah tersebut”.

10
A

j=1 60O
i=2

Gambar 2.4. Penggunaan Kaidah K

2.2.2. Pengulang Frekuensi

Jaringan GSM tersusun atas struktur sel tertentu dimana layanan terbatas. Tiap-

taip sel di catu oleh satu frekwensi pembawa atau lebih. Dengan keterbatasan jumlah

frekuensi yang tersedia maka penggunaan frekuensi reuse sangat diperlukan. Untuk

meningkatkan kapasitas dan cakupan suatu wilayah layanan, mengefisienkan penggunaan

spektrum digunakan pola pengulangan frekuensi (frequency reuse). Dalam hal ini dibatasi

oleh jarak minimum untuk menghindari interferensi kanal yang sama (Co-Channel

Interference)

Pola pengulangan dengan jumlah sel yang besar memiliki jarak pengulangan

yang lebih besar dan tingkat interfernsinya lebih rendah, tetapi jumlah kanal yang

tersedia dalam sel sedikit. Sedangkan pada pola pengulangan dengan jumlah sel yang

lebih sedikit, jarak untuk pengulangan sel lebih kecil dan tingkat interferensi lebih

tinggi tetapi jumlah kanal dalam setiap sel lebih banyak.

11
Gambar 2.5. Sketsa Frekuensi Reuse

2.3. Gangguan-gangguan Pada Komunikasi Selular.

2.3.1. Interferensi

Ketika terjadi pengulangan freku ensi, terdapat resiko interferensi dari BTS lain

yang menggunakan frekwensi yang sama (Co-channel Interference). Namun demikian

dengan jarak yang cukup besar antara sel dengan frekuensi yang sama terhadap radius

dari sel memungkinkan interfernsi sel dapat dikendalikan atau dengan perencanaan

pengulangan frekuensi dan sektorisasi sel dengan menggunakan antena berarah

(Directional Antenna).

12
Kemudian interfernsi kanal bersebelahan (Adjacent Channel Interfernce) terjadi

akibat penggunaan kanal yang bersebelahan dalam satu sel atau penggunaan kanal pada

sel yang bersebelahan dengan frekuensi yang berdekatan.

Interferensi lainnya yaitu interfernsi intersimbol (Intersymbol Interference)

terjadi akibat yang ditimbulkan oleh efekmultipath sehingga menimbulkan delay spread

khususnya daerah perkotaan (Urban).

2.3.2. Fading

Fading adalah salah satu gangguan yang terjadi pada sistem komunikasi selular.

Dari segi kualitas, keberadaaan fading dapat dirasakan sebagai timbul tengelamnya

suara yang terdengar oleh penerima. Fading yang disebabkan oleh efek yang

dirimbulkan oleh perubahan konfigurasi alam antara BTS dan MS sehingga

menimbulkan redaman lintasan. Terdapat dua jenis fading yang terjadi, yaitu :

A. Fading lambat (long-term Fading)

Fading yang disebabkan oleh lintasan yang menyebabkan sinyal menempuh

lebih dari satu lintasn dari BTS ke MS akibat pantulan oleh bangunan, pohon,

kendaraan serta lainnya yang mengakibatkan efek multipath seperti pada gambar

dibawah ini :

13
Gambar 2.6. Multipath Fading

B. Fading Cepat (Short-term/Rayleigh Fading)

Fading yang disebabkan oleh efek yang ditimbulkan oleh perubahan konfigurasi

alam antara BTS dan MS sehingga menimbulkan fluktuasi rendaman akibat efek

bayangan dari penghalang alam (Shadowing)

2.4. HCS ( Hierarchical Cell Structures)

Struktur HCS berkemampuan menyediakan possibility dan flexibility untuk

memprioritaskan sel mana yang tidak kuat tapi mampu menyediakan kuat sinyal yang

cukup. HCS juga berperan untuk menekan co-channel interference dan adjacent channel

interference. Sel-sel tersebut dibagi dalam layer-layer. Layer yang paling rendah adalah

prioritas yang paling tinggi. Pembagian layer dan band berdasarkan beberapa faktor

berikut : traffic distribution strategy diantara cell yang berbeda,, maximum traffic

capacity untuk cell, pengaruh dari interferensi pada cell. Lebih dari 8 layer (dan 8 band)

yang mungkin ditentukan dalam HCS. Satu atau beberapa layer dapat ditentukan dalam

14
band HCS yang sama. Pada umumnya sel pada beda band seharusnya tidak terinterferensi

satu sama lain. Oleh karena itu layer sel yang paling rendah diprioritaskan pada area

yang luas, dan hanya dicover oleh sel pada band lain. Melalui HCS network capacity

dapat ditingkatkan, dengan menyesuaikan coverage area yang efektif pada sel. Dengan

menggabungkan sel yang sempit dan luas, coverage yang bagus dan kapasitas yang tinggi

keduanya dapat dicapai. Alasan dibangunnya microcell dan indoorcell dan diprioritaskan

adalah sebagai berikut :

• Penempatan site lebih mudah jika base station kecil dan posisi antenanya rendah.

• Interferensi dapat dihindarkan, oleh karenanya sel yang kecil mampu

menyediakan kualitas yang lebih baik walaupun serving selnya bukan sel yang

terbaik.

• Mengurangi blankspot (Fill radio coverage holes)

15
BAB III

PERENCANAAN SELULAR

3.1. Konsep Dasar Perencanaan Selular

Perencanaan selular pada sistem komunikasi bergerak GSM merupakan proses

dalam menentukan jumlah dan lokasi BTS yang diperlukan untuk meliputi seluruh

daerah pelayanan yang direncanakan dengan jumlah BTS seminimal mungkin tetapi

mampu menyediakan kapasitas trafik yang diperlukan oleh pelanggan.

Perencanaan sel ini berdasarkan pada perkembangan pelanggan yang semakin

besar yang menyebabkan trafik yang dibutuhkan juga semakin besar. Hal ini harus

diantisipasi agar kapasitas trafik yang dibutuhkan pelanggan tetap dapat dipenuhi oleh

sistem. Oleh karena itu perencanaan sel merupakan suatu proses yang tidak pernah

berhenti karena harus selalu mengikuti perkembangan untuk menjaga kepuasan

pelanggan.

3.2. Perencanaan Dan Analisa Jaringan GSM

Dalam melakukan perencanaan jaringan telekomunikasi, dengan menggunakan

kabel ataupun tidak menggunakan kabel (wireless), ada dua hal penting yang perlu

diperhatikan yaitu faktor biaya dan faktor teknis.

3.3. Dasar Perencanaan

Yang perlu diperhatikan dalam perencanaan sel secara teknis adalah :

1. Kapasitas trafik yang dibutuhkan oleh pelanggan. Kapasitas trafik yang

dibutuhkan tergantung pada jenis daerah dan jumlah trafik per user

16
2. Kebutuhan sel untuk mencakup seluruh daerah pelayanan yang direncanakan.

Jumlah sel yang dibutuhkan bergantung pada luas daerah pelayanan dan ukuran

sel.

Secara umum perencanaan sel dapat digambarkan dalam Flow chart prosses yang

dapat dilihat seperti pada gambar 3.1.

Data :
1. Jumlah Subcriber
2. Trafik per subcriber
3. Peta Wilayah
4. Spesifikasi Teknis

Link Budgeting :
1. Menentukan redaman propagasi
2. Perencanaan Daya

Perhitungan Cakupan Sel :


1. Perhitungan jumlah sel
2. Perhitungan radius sel

Perhitungan Dasar Trafik :


1. Prediksi Jumlah Pelanggan
2. Perhitungan Kapasitas Trafik Total
3. Perhitungan trafik per sel

Penentuan Lokasi BTS :


1. Mempelajari Kontur area
2. Menentukan Koordinat arah dan Type
antena yang digunakan
3. Menentukan Lokasi BTS

Visualisasi Hasil Perencanaan Pada Tool Plan

Gambar 3.1. Flow Chart Proses Perencanaan Sel

17
3.4. Perencanaan Dalam Segi Trafik

Perencanaan dalam segi trafik ini dilakukan untuk memperoleh kapasitas trafik

total dalam area yang direncanakan. Untuk mendapatkan kapasitas trafik tersebut

sebelumnya harus diprediksi jumlah pelanggan. Selain itu juga dicari trafik per sel

yang dapat disediakan berdasarkan spesifikasi teknis dari sistem GSM yang

digunakan adalah bandwidth dan frekuensi operasi.

3.4.1. Trafik Pada Sistem Selular

3.4.1.1. Prediksi Pelanggan

Prediksi jumlah pelanggan untuk masa depan merupakan faktor yang sangat

penting dalam perencanaan suatu jaringan. Prediksi tersebut dikerjakan atas semua

informasi, analisa, serta pertimbangan tentang segala sesuatu yang menyangkut dan

mempunyai pengaruh dalam merencanakan suatu jaringan.

Suatu Prediksi yang akurat merupakan bahan yang penting untuk menentukan

kebijaksanaan dan menyusun strategi dalam pelaksanaan perencanaan selanjutnya.

3.4.1.2. Intensitas Trafik

Intensitas Trafik pada suatu sel didefinisikan sebagai jumlah panggilan rata yang

menduduki kanal selama periode waktu tertentu. Pada teori trafik klasik periode

pengamatan ini pada umumnya satu jam. Jumlah panggila dinyatakan dengan rata-rata

kedatangan dalam periode pengamatan (satu jam), sedangkan lamanya waktu

pendudukan atau holding time dinyatakan dalam waktu pendudukan perpanggilan.

Intensitas trafik E dapat dihitung dengan persamaan berikut :

E = λ tn (3.1)

18
Dengan :

E = Intensitas trafik (Erlang)

λ = Rata –rata kedatangan (call/jam)

tn = Rata-rata waktu pendudukan (jam/call)

3.4.1.3. Tingkat Pelayanan (GOS)

Grade Of Service (GOS) adalah tingkat pelayanan yang ditawarkan oleh sistem. Secara

sederhana GOS 2% berarti dalam 100 panggilan terdapat 2 panggilan yang tidak

mendapatkan saluran atau diblok oleh sistem. Secara teori untuk distribusi erlang GOS

merupakan Probabilitas bloking (B) yang dirumuskan sebagai berikut :

Α Ν / Ν! (3.2)
Β= Ν

∑Α
t =0
t
/t

dimana :

B = Probabilitas bloking

A = Trafik Yang ditaawarkan (Erlang)

N = Jumlah Kanal Yang tersedia

19
3.4.1.4. Call Holding Time (Waktu Genggam Suatu Panggilan)

Call Holding Time adalah lamanya waktu pendudukan dari suatu panggilan.

Distribusi dari call holding time dapat berupa distribusi eksponensial dan distribusi

uniform. Dalam sistem selualr, distribusi uniform dari call holding time sebesar 140 detik

direkomendasikan oleh sebagian besar perusahaan termasuk Bell Telephone Company,

140 detik diperoleh dari perbaikan layanan telephon mobile station (IMTS : Improve

Mobile Telephone Station).

3.4.1.5. Trafik Per Pelanggan.

Trafik per pelanggan merupakan trafik tiap pelanggan yang diukur pada satu jam

sibuk. Dalam perencanaan sistem selular, trafik per pelanggan ini diasumsikan

berdasarkan penelitian atau pengukuran sentral diarea pelayanannya yang besarnya

berbeda untuk lingkungan bisnis dan lingkungan umum/publik. Untuk lingkungan publik,

besarnya trafik per pelanggan umumnya diasumsikan sebesar 25 mE.

3.4.1.6. Trafik Total

Trafik total merupakan jumlah trafik keseluruhan dari pelanggan dalam suatu

daerah tertentu yang dapat dirumuskan sebagai berikut :

Σ A = Σ p.A (3.3)

dimana :

Σ p = prediksi pelanggan

A = trafik per pelanggan

20
3.4.1.7. Trafik Sel

Jumlah trafik tiap sel tergantung pada alokasi bandwidth operator sistem selular

dan sistem selular yang digunakan. Sebelum mencari trafik tiap sel, sebelumnya dihitung

jumlah kanal trafik untuk tiap sel dengan rumus sebagai berikut :

(3.4)
Bw U
JumlahKana l = x
200 KHz k
dimana :

Bw = Bandwidth operator

U = User simultan per 1 kanal RF (Radio Frequency)

K = Jumlah sel per cluster

Kemudian dari jumlah kanal trafik tersebut dapat dicari offered Trafic dan

Carried Trafic dengan menggunakan tabel Erlang B.

3.4.1.8. Penentuan Jumlah Sel

Jumlah sel ditentukan dengan mengasumsikan bahwa distribusi geografis hanya

dibedakan menjadi daerah urban dan daerah suburban. Dimana masing – masing

daerah dianggap memiliki distribusi trafik seragam didalam daerahnya. Jumlah sel,

masing – masing untuk daerah urban dan suburban, dihitung menggunakan

persamaan berikut ini :

(3.5)

N B T S_ u r b a=n Α ΑS eul_rubrabna n

Asuburban
N BTS_suburban = (3.6)
Asel _ suburban

21
Aurban = Luas daerah urban

Asel_urban = Luas area sebuah sel didaerah urban

NBTS_urban = Jumlah sel di daerah urban

Asuburban = Luas daerah suburban

Asel_suburban = Luas area sebuah sel didaerah suburban

NBTS_suburban = Jumlah sel didaerah suburban

3.4.1.9. Cakupan Sel

Cakupan radio aktual sebuah sel dinamakan sebagai footprint dan ditentukan dari

pengukuran medan atau model propagasi. Meskipun pada kenyataan footprint

berbentuk tidak teratur, sebuah bentuk geometris yang teratur dibutuhkan untuk

desain system radio. Bentuk lingkaran tidak mungkin diambil sebagai model cakupan

sel, karena bisa saja terdapat kekosongan cakupan atau bahkan terdapat overlap antara

cakupan sel . Maka ketika mempertimbangkan bentuk geometris untuk memodelkan

cakupan sel yang mencakup seluruh daerah tanpa harus terjadi overlap dan dengan

area yang sama, terdapat tiga pilihan yaitu bujur sangkar, segitiga, dan segi enam.

Sebuah sel harus dirancang agar masih dapat melayani MS dengan sinyal terlemah

didalam cakupannya, yang biasanya terletak di tepi sel. Untuk jarak tertentu antara

pusat dengan tepi terjauh, maka bentuk segi enam memiliki daerah terluas dari dua

bentuk lainnya. Bentuk segienam juga mendekati bentuk lingkaran. Sehingga dipilih

bentuk segienam sebagai model cakupan sel. Luas daerah segienam dihitung dengan

persamaan berikut ini :

22
3 3 2
Asel = d (3.7)
2

dimana A adalah luas area sel dan d adalah jarak terjauh dari pusat ke tepi segienam.

3.5. Gangguan – Gangguan Pada Komunikasi Selular

3.5.1. Fading

Fading adalah salah satu gangguan yang terjadi pada sistem komunikasi selular.

Dari segi kualitas, keberadaaan fading dapat dirasakan sebagai timbul tengelamnya suara

yang terdengar oleh penerima. Fading yang disebabkan oleh efek yang dirimbulkan oleh

perubahan konfigurasi alam antara BTS dan MS sehingga menimbulkan redaman

lintasan. Fading terjadi disebabkan oleh dua factor utama yaitu :

1. Multipath Fading

Perjalanan sinyal dari pemancar ke penerima melalui lebih dari satu lintasan yang

disebabkan pantulan gelombang oleh benda – benda seperti gedung, rumah,

pohon dan benda – benda disekitarnya.

2. Fluktuasi Path Loss

Variasi rata-rata sinyal local yang diterima selama mobile unit berubah posisi.

Fluktuasi tersebut disebabkan variasi kontur daerah sepanjang lintasan propagasi

antara base station dan mobile unit.

23
Sinyal fading merupakan gabungan dua komponen yaitu ro(t) dan m(t), dimana

ro(t) merupakan fading cepat/rayleigh fading dan m(t) adalah fading lambat/lognormal

fading. Sinyal fading r(t) dirumuskan sebagai berikut :

r(t) = ro(t) . m(t) (3.8)

r(t)dB = ro(t)dB + m(t)dB (3.9)

3.5.2. Fading Cepat (Short-term/Rayleigh Fading)

Fading cepat terutama disebabkan multipath dari sinyal yang ditransmisikan

karena penghamburan local disekitar mobile unit.

3.5.3. Fading Lambat

Fading lambat terutama disebabkan variasi kontur daerah dan stuktur

lingkungan buatan manusia disepanjang lintasan propagasi antara base station dan

mobile unit. Fading lambat ini terdistribusi mengikuti distribusi lognormal yang

mempunyai persamaan fungsi rapat peluang sebagai berikut :

- ( m .m ) 2
1 2

P (m) = 2 e 2σ
(3.10)
(2πσ )

dimana :

m = mean local/fading lambat

m = rata – rata dari mean lokal

σ = standard deviasi dari mean lokal (dB)

Probalitas kerapatan mean lokal m lebih besar dari level treshold Rm

dirumuskan sebagai berikut :

24
∞ ∞ ( m .m ) 2
1 −
P(m>R) = ∫ P (m) dm = ∫ e 2σ 2
(3.11)
R Πσ
2
R

3.6. Model Propagasi

Teknik pemodelan propagasi digunakan dengan tujuan untuk menentukan

atenuasi gelombang radio selama menjalar dari antenna transmitter ke antenna receiver.

Model empiris yang dikembangkan oleh beberapa orang ahli lebih sering digunakan

untuk menentukan cakupan suatu sel. Beberapa dari model propagasi yang terkenal

adalah Hata model, COST – 231 Walfisch/Ikegami Model, COST – 231 Hata Model,

Wideband PCS Microcell Model.

Lurban (dB) = 46,3 + 33,9 log fc – 13,82 log hBS – a(hMS) (3.12)

+ (44,9 – 6,55 loghBS) Log d

Lsuburban (dB) = Lurban – 2[log (fc/28)]2 – 5,4 (3.13)

Lopen Area (dB) = Lurban – 4.78. [log(f)]2 – 18.33 log (f) + 40.94 (3.14)

Menggunakan rumus Okumura Hata :

Lurban (dB) = 69.55 + 26.16 log fc – 13,82 log hBS – a(hMS) (3.15)

+ (44,9 – 6,55 loghBS) Log d

25
Lsuburban (dB) = Lurban – 2[log (fc/28)]2 – 5,4 (3.16)

Lopen Area (dB) = Lurban – 4.78. [log(f)]2 – 18.33 log (f) + 40.94 (3.17)

dimana fc merupakan frekuensi carrier dalam MHz, hBS merupakan tinggi efektif

antenna base station dalam meter, hMS merupakan tinggi efektif antenna mobile

station dalam meter, d merupakan jarak antara base station dan mobile station dalam

kilometer, dan a(hMS) merupakan factor koreksi untuk tinggi efektif antenna MS

yang merupakan fungsi dari ukuran cakupan area. Persamaan untuk menghitung

a(hMS) untuk kota berukuran kecil hingga sedang adalah sebagai berikut :

Untuk kota kecil atau menengah :

A(Hm) = (1,1 log f – 0,7)Hm – (1,56 log f – 0,8) (3.18)

Untuk kota besar :

a(Hm) = 8,29 (log1,54 . Hm)2 – 1,1 untuk f ≤ 200MHz (3.19)

a(Hm) = 3,2 (log 11,75 . Hm)2 – 4,97 untuk f ≥ 400 MHz (3.20)

3.6.1. Perencanaan Daya

Daya pancar BTS dapat ditentukan dengan persamaan sebagai berikut :

Pt(BTS) = Sensitivitas MS+MF + Lu – GBTS – GMS + Feeder Loss+ Body Loss (3.21)

dimana :

PtBTS = Daya Pancar BTS (dBm)

MF = Margin Fading

26
Lu = Redaman Propagasi (dB)

GBTS = Gain Antena BTS (dBi)

GMS = Gain Antena MS (dBi)

Sedangkan daya pancar MS dapat dituliskan sesuai dengan persamaan berikut ini :

Pt(MS) = Sensitivitas BTS + MF + Lu – Gt – Gr + Feeder Loss (3.22)

dimana :

Pt(MS) = Daya Pancar MS (dBm)

3.7. Management Frekuensi

Yang dimaksud dengan manajemen frekuensi adalah pembagian jumlah total

kanal yang disediakan menjadi himpunan kanal yang dapat diberikan pada masing –

masing sel. Manajemen frekuensi ini meliputi penentuan pemakaian spektrum

frekuensi, penomoran kanal, pengelompokan kanal menjadi himpunan kanal untuk

setiap sel dan pendefinisian kanal.

3.7.1. Penentuan Spektrum Frekuensi

Spektrum frekuensi yang digunakan pada sistem GSM adalah pada daerah 900

MHz, yaitu :

890 – 915 MHz MS – BS, Up – link

935 – 960 MHz BS – MS, Down – link

Band frekuensi diatas disebut primary band GSM.

Terlihat bahwa untuk masing – masing arah transmisi disediakan spektrum

frekuensi sebesar 25 MHz, dengan spasi antara frekuensi pancar dengan dan terima

27
sebesar 45 MHz. Setiap kanal radio mempunyai lebar 200 KHz, sehingga dalam 25

MHz akan disediakan sebanyak 124 kanal radio.

3.7.2. Penomoran Kanal

Kanal radio pada GSM diberi nomor dimulai dari frekuensi terendah sampai tinggi,

dimana setiap nomor terdiri dari satu pasang frekuensi (dupleks).

3.7.3. Pengelompokan Kanal

Pengelompokan kanal tergantung pada pola sel yang digunakan dan juga

berkaitan dengan kinerja C/I yang diperlukan sistem. Bila kita menggunakan K = 4

dan sektorisasi 120o maka jumlah sel adalah 12 buah (pola sel 4/12)

3.8. Perencanaan Dalam Segi Pencakupan

Perencanaan dalam segi pencakupan merupakan kelanjutan dari tahap sebelumnya

yaitu dalam segi trafik. Input yang dipakai adalah kapasitas trafik total dan trafik per sel.

Dalam perencanaan ini dilakukan perhitungan jumlah dan radius sel yang diperlukan

untuk dapat melayani kebutuhan trafik pelanggan yang dapat mencakup seluruh area

yang direncanakan.

3.8.1 Jarak Reuse

Jarak minimum penggunaan Frekuensi yang sama tergantung faktor – faktor

seperti jumlah co-channel dari sel yang ditinjau, tipe kontur daerah geografis, tinggi

antenna dan daya yang ditransmisikan tiap sel. Jarak reuse frekuensi D didapat dari

persamaan sebagai berikut :

D= 3Κ.R (3.23)

28
dengan :

D = Jarak reuse

K = Frequency reuse patern/cluster

R = Radius Sel

Dari persamaan 2.2 didapat rasio reuse (q) yaitu perbandingan jarak antar sel dan

radius sel yang memenuhi persamaan :

D
q= = 3Κ (3.24)
R

Jika semua base station mentransmisikan daya yang sama maka dengan

peningkatan K akan memperbesar jarak D sehingga menurunkan kemungkinan

interferensi co-channel. Tetapi karena jumlah kanal yang dialokasikan tetap maka bila K

besar, jumlah kanal tiap sel menjadi sedikit sehingga meningkatkan ketidakefesiensian

spektrum.

3.8.2. Penentuan Jumlah sel per Cluster

Penentuan jumlah sel per cluster berdasarkan rasio reuse (q), konfigurasi sel dan

persyaratan rasio C/I (Carrier to Interface). Rasio C/I adalah perbandingan daya carrier

terhadap daya interferensi yang diterimah pada mobile station . Pada media radio mobil

bidang datar susunan sel seragam, C/I dinyatakan sebagai berikut :

R −4 1 1
C/I = = = −4 (3.25)
∑Di −4
∑( Di / R) −4
q

29
Pada konfigurasi omnidirectional kondisi normal, jarak antar sel dan co-channelnya sama

sehingga harga C/I adalah :

1 q −4
C/I = = (3.26)
n.q −4 n

3.8.3. Pembelahan Sel

Bila kapasitas trafik pada suatu sel mengalami peningkatan dan jumlah kanal

frekuensi sel tersebut sudah tidak mencukupi lagi, maka sel dapat dipecah menjadi

beberapa sel dengan radius sel yang lebih kecil, dengan menggunakan daya pancar yang

lebih rendah. Biasanya radius sel yang baru sama dengan setengah dari radius sel yang

lama.

3.9. Pengolahan Data Geografis

Perencanaan pengalokasian BTS sangat terkait dengan kondisi geografis tempat

yang akan direncanakan. Pada Perencanaan ini akan dipilih daerah Cilegon, data

geografis yang dibutuhkan untuk perencanaan meliputi distribusi penduduk di daerah

urban dan suburban serta morfologi daerah Cilegon.

Morfologi wilayah berdasarkan referensi dapat dibagi menjadi empat kategori yaitu :

Dense urban, urban, suburban dan rural. Penentuan wilayah menurut referensi, lebih

berdasarkan asumsi saja. Kriteria yang sering digunakan adalah :

• Dense urban, daerah ini biasanya merupakan distrik bisnis pada area metropolitan.

Bangunan – bangunan di area ini memiliki 20 lantai atau lebih, terdiri dari gedung

pencakar langit dan apartemen berlantai banyak.

• Urban daerah ini biasanya bangunan yang memiliki 5 hingga 20 lantai.

30
• Suburban, daerah ini biasanya terdiri dari campuran perumahan dan daerah bisnis

dengan bangunannya memiliki satu hingga lima lantai, tetapi utamanya rata – rata

bangunan dengan satu atau dua lantai.

• Rural, biasanya terdiri dari area terbuka dengan bangunan yang tidak melebihi

dua lantai dan letaknya berjauhan.

3.10. Link Budgeting

Link budget merupakan salah satu elemen penting dalam design system radio.

Link budget memasukkan semua masalah yang berkaitan dengan propagasi antara base

station (BS) dan mobile station (MS). Link budget harus memperhitungkan semua gain

dan loss serta margin untuk berbagai macam path impairment yang dialami oleh sinyal

radio dari transmitter ke receiver.

Link budget memiliki dua jalur up link dan down link. Jalur uplink merupakan jalur dari

unit pengguna (MS) ke base station. Sedangkan jalur downlink merupakan jalur dari base

station ke unit pengguna. Path loss didapat dengan menambahkan dan mengurangkan

komponen – komponen link budget. Path loss maksimum yang digunakan adalah path

loss terkecil diantara jalur uplink atau jalur downlink. Jarak maksimum antara base

station dengan mobile station diturunkan dari path loss maksimum tersebut, dengan

menggunakan model propagasi yang sesuai untuk daerah tersebut dan frekuensi yang

digunakan.

Komponen – komponen link budget adalah sebagai berikut :

1. Daya kirim (Transmit power), pada jalur uplink yang diperhitungkan adalah daya

kirim MS (MS Tx Power) dan jalur downlink yang diperhitungkan adalah daya

kirim BS (BS Tx Power)

31
2. Gain Antena (Antenna gain), ini merupakan ukuran dari kemampuan antenna

untuk menaikan daya sinyal.

3. Receiver sensitivity, Daya sinyal terrendah yang masih dapat diterima oleh

receiver dan masih dapat dimodulasi dengan baik pada tingkat kualitas yang

masih dapat diterima. Pada jalur uplink yang diperhitungkan adalah BS Receiver

Sensitivity dan pada jalur downlink yang diperhitungkan adalah MS Receiver

Sensitivity.

4. LNA Gain, pengguna LNA untuk diversitas pada arah uplink, agar path loss pada

arah uplink dan arah downlink memiliki nilai yang seimbang atau mendekati

sama. Bila path loss pada arah downlink jauh lebih besar daripada arah uplink

maka handover tidak akan terjaadi saat MS melewati batas suatu sel.

5. Feeder Loss, Loss yang berasal dari kabel yang menghubungkan antara base

station dengan antenna.

6. Combainer loss, Loss yang berasal dari peralatan yang dapat mengkombinasikan

beberapa frekuensi kedalam satu antenna.

7. Building penetration loss, Loss yang memperhitungkan penetrasi sinyal dari luar

kedalam gedung, bila MS berada didalam gedung dan BTS berada diluar gedung.

8. Fade margin, Margin yang dibutuhkan untuk mengatasi multipath fading yang

disebabkan oleh lingkungan disekitar MS.

Harga atau besarnya masing – masing komponen link budget diatas berasal dari

berbagai macam sumber, terutama beasal dari ETSI (European Telecommunication

Standard Institute) untuk spesifikasi daya MS dan BS yang menggunakan frekuensi

32
1800 MHz (DCS 1800). Selain itu berasal dari spesifikasi teknis produk – produk

yang digunakan.

Persamaan untuk menghitung path loss pada jalur uplink maupun downlink secara

umum adalah sebagai berikut :

Lpu = PTX,MS – PRX ,BS - ∑Gu - ∑Lu - ∑Mu

Lpd = PTX,BS – PRX ,MS - ∑Gd - ∑Ld - ∑Md

Keterangan :

Lpu = Path loss pada Uplink

Lpd = Path Loss pada downlink

PTX,MS = Daya transmit MS

PRX ,BS = BS Receiver Sensitivity

∑Gu = Total Gain pada Uplink

∑Lu = Total Loss Pada Uplink

∑Mu = Total Loss Pada Uplink

PTX,BS = Daya transmit BS

PRX ,MS = MS Receiver Sensitivity

∑Gd = Total Gain pada Downplink

∑Ld = Total Loss Pada Downlink

∑Md = Total Loss Pada Downlink

33
BAB IV.

ANALISA PERENCANAAN PENENTUAN LOKASI BTS DI AREA

CILEGON

Perencanaan penentuan lokasi BTS yang dibahas pada Bab ini adalah Perencanaan

penentuan lokasi BTS di area Cilegon (PT Indosat). Data dan Spesifikasi teknis

berdasarkan data dari PT Indosat. Perencanaan penentuan lokasi BTS berdasarkan

dua segi yaitu dari segi coverage dan trafik. Metoda propagasi yang digunakan dalam

perhitungan link budget adalah metoda Okumura Hata. Hasil dari Perencanaan ini

ditampilakan secara visualisasi menggunakan perangkat lunak tool planning.

4.1. Pengolahan Data Geografis

Daerah Cilegon berdasarkan referensi area yang digunakan untuk perhitungan

adalah area dengan koordinat 106-02-00 BT 06-00-00 LS sampai 106-05-00 BT

sampai 06-03-30 LS. Luas area cilegon sekitar 88 Km2 dengan asumsi jumlah

subscriber adalah sekitar 20 ribu orang.

4.2. Link Budget

Perhitungan link budget dimulai dari menentukan nilai – nilai yang harus

dimasukkan dalam komponen yang menyusun link budget. Band frekuensi yang

digunakan adalah band DCS 1800. Band frekuensi ini beroperasi pada frekuensi

34
(Satelindo) 1717.5 – 1722.5 MHz untuk arah uplink, dan 1812.5 – 1817.5 MHz untuk

arah downlink.

Komponen – Komponen link budget yang diperhtungkan dalam perencanaan adalah

sebagai berikut :

1. Daya kirim (Transmit power)

• MS Tx Power kelas 4 = 33 dB

• BS Tx Power kelas 4 = 39 dB

2. Gain Antena (antenna gain)

• Gain Antena MS = 0 dBi

• Gain Antena BS = 15,6 dBi (directional)

3. Sensitivitas penerimaan (Receiver sensitivity)

• MS Rx Sensitivity minimum = - 106 dBm

• BS Rx Sensitivity minimum = - 110 dBm

4. Feeder Loss

• Kabel yang digunakan adalah kabel 7/8 “ lossnya ± 0.3 dB per 10 meter

Maka bila tinggi antenna 40 m feeder loss = 0,3 x 4 = 1,2 dB

5. Fade margin

• Fade Margin = - 12 dB (daerah urban)

• Fade Margin = - 10 dB (daerah suburban)

6. BS Cable losses = - 3 dB

7. Duplexer loss = -1 dB

8. Diversity Gain = 3 dB

35
Tabel 4.1 Perhitungan link budget area urban

Uplink Downlink
Parameter Satuan Nilai Parameter Satuan Nilai
MS Transmit
dB 33 BS Transmit Power dB 39
Power
MS Cable Loss dB 0 BS Cable losses dB -3
MS Gain Antena dBi 0 BS Antena Gain dBi 15.6
Body Loss dB -2 Feeder Loss dB -12
Max. Allowable Max. Allowable -
dB -144.4 dB
path loss path loss 142.4
Log normal Fading
Feeder Loss dB -1.2 dB -12
Margin
Log Normal
dB -10 Body Loss dB -2
Fading Margin
BS Antena Gain dBi 15.6 MS Antena Gain dBi 0
BS Cable Losses dB -3 MS Cable loss dBi 0
Duplexer Loss dB -1 MS Rx Sensitivity dBm -106
Diversity Gain dB 3
BS Rx Sensitivity dBm -110

36
Tabel 4.2. Perhitungan link budget area suburban

Uplink Downlink

Parameter Satuan Nilai Parameter Satuan Nilai


MS Transmit
dB 33 BS Transmit Power dB 39
Power
MS Cable Loss dB 0 BS Cable Loss dB -3
MS Gain Antena dBi 0 BS Gain Antena dB 15.6
Max. Allowable -
Body Loss dB -2 dB
path Loss 144.4
Max. Allowable Log Normal Fading
dB -144.4 dB -10
path loss Margin
Feeder Loss dB -1.2 Body Loss dB -2
Log Normal
dB -10 Feeder Loss dB -1.2
Fading Margin
BS Antena Gain dBi 15.6 MS Antena Gain dBi 0
BS Cable Losses dB -3 MS Cable Loss dBi 0
Duplexer Loss dB -1 MS Rx Sensitivity dBm -106
Diversity Gain dB 3
BS Rx Sensitivity dBm -110

37
Tabel 4.3. Perhitungan link budget area rural (open area)

Uplink Downlink

Parameter Satuan Nilai Parameter Satuan Nilai


MS Transmit BS Transmit
dB 33 dB 39
Power Power
MS Cable Loss dB 0 BS Cable Loss dB -3
BS Gain
MS Gain Antena dBi 0 dB 15.6
Antena
Max.
Body Loss dB -2 Allowable path dB -148.4
Loss
Max. Allowable Log Normal
dB -148.4 dB -6
path loss Fading Margin
Feeder Loss dB -1.2 Body Loss dB -2
Log Normal
dB -6 Feeder Loss dB -1.2
Fading Margin
MS Antena
BS Antena Gain dBi 15.6 dBi 0
Gain
BS Cable Losses dB -3 MS Cable Loss dBi 0
MS Rx
Duplexer Loss dB -1 dBm -106
Sensitivity
Diversity Gain dB 3
BS Rx Sensitivity dBm -110

4.3. Perencanaan Letak BTS Dari Segi Coverage.

Perencanaan penentuan letak BTS dari segi coverage di area cilegon ini menggunakan

model propagasi Okumura Hata yang menggunakan band frekuensi GSM 900 karena

GSM 900 dilihat dari segi coverage lebih luas. Parameter – parameter yang digunakan

untuk perancangan adalah sebagai berikut :

• fc = 1722.5 Mhz, menggunakan frekuensi uplink

38
• hMS = 1.5 meter

• hBS = 30 – 70 meter

Dengan menggunakan asumsi bahwa area Cilegon adalah kota berukuran sedang

untuk menghitung a(hMS) menggunakan persamaan (3.18). Morfologi wilayah

cilegon dibagi tiga kategori yaitu area urban, suburban dan rural. Luas area urban di

wilayah Cilegon sekitar 70 Km2, luas area suburban sekitar 42 Km2 dan luas area

rural sekitar 24 Km2. Jarak maksimum antara MS dan BTS pada area urban dihitung

menggunakan persamaan (3.15), area suburban menggunakan persamaan (3.16) dan

untuk area rural menggunakan persamaan (3.17). Hasil dari perhitungan jarak

maksimum antara MS dan BTS untuk masing – masing area dapat dilihat pada tabel

4.4.

Tabel 4.4. Hasil Perhitungan Luas Cakupan Sel

GSM 900
Log – normal d (Jarak
Tinggi Path Loss A (Cakupan
Clutter Fading maksimum MS
Antena Maximum Sel) Km2
Margin ke BTS) Km
30 meter 1.76 Km 8 Km2
40 meter 2 Km 10.4 Km2
Urban 142.4 dB 12 dB
55 meter 2.33 Km 14.1 Km2
70 meter 2.62 Km 17.84 Km2
30 meter 4.33 Km 48.71 Km2
40 meter 5Km 64.95 Km2
Suburban 144.4 dB 10 dB
55 meter 6 Km 93.53 Km2
70 meter 6.8 Km 120 Km2
30 meter 20.66 Km 1108.95 Km2
Open Area 40 meter 24.91 Km 1612.3 Km2
148.4 dB 6 dB
(Rural) 55 meter 30.99 Km 2496.04 Km2
70 meter 36.84 Km 3525.9 Km2

39
Dengan diketahui jarak maksimum antara MS dan BTS dapat dihitung Jumla BTS

pada setiap area dengan menggunakan persamaan (3.7). Hasil perhitungan dapat

dilihat pada table 4.5

Tabel 4.5. Hasil Perhitungan Jumlah sel

GSM 900
A
Tinggi Luas
Clutter (Cakupan N(Jumlah Sel)
Antena Area
Sel) Km2
30 meter 8 Km2 9 sel
2
40 meter 10.4 Km 7 sel
Urban 70 Km2
55 meter 14.1 Km2 5 sel
70 meter 17.84 Km2 4 sel
2
30 meter 48.71 Km 1 sel
40 meter 2
64.95 Km2 1 sel
Suburban 42 Km
55 meter 93.53 Km2 0.45
70 meter 120 Km2 0.35

1108.95
30 meter 0.02
Km2
1612.3
40 meter 0.014
Open Area 2 Km2
24 Km
(Rural) 2496.04
55 meter 0.0096
Km2
3525.9
70 meter 0.0068
Km2

4.4. Perencanaan Letak BTS berdasarkan Distribusi Trafik

Proses perhitungan distribusi trafik melibatkan jumlah kanal, GOS, dan carried

offered traffic yang hanya dapat dilihat pada table Elang B. Proses awal adalah

perhitungan kapasitas trafik total dimana proses perkalian antara asumsi subscriber

sekitar 20 ribu orang dengan trafik per subscriber 12 mE yaitu 240 Erlang. Pembagian

40
beban trafik untuk masing – masing area dengan asumsi subscriber 20 ribu orang

dapat dilihat pada table 4.6.

Tabel. 4.6. Pembagian beban trafik pada setiap area.

Pembagian Jumlah Distribusi Konfigurasi


Daerah
Beban Trafik Subcriber Trafik TRX

4/4/4
2 4/3/3
Urban (70 Km ) 80% 16000 192 Erlang
3/3/3
3/3/3
Suburban (42 Km2) 15% 3000 36 Erlang 3/3/3
Rural (24 Km2) 5% 1000 12 Erlang 2/2/2

Penentuan konfigurasi TRX dihitung dari distribusi trafik dengan GOS 2%

menggunakan table Erlang B.

4.5. Proses Penentuan Letak BTS pada Wilayah Cilegon

Proses ini adalah menentukan letak BTS pada wilayah yang telah ditentukan dengan

menggunakan 3 sektor yang idealnya berbentuk heksagonal masing – masing

mempunyai jarak ideal 120o. Dengan menentukan koordinat letak BTS yang

dirancang pada peta yang tersedia, mengatur ketinggian antenna dengan menentukan

type antenna yang digunakan dan manggunakan konfigurasi TRX yang telah

dirancang berdasarkan tabel 4.6 pada setiap sector dengan memperhatikan

produktivitas area.Hasil perencanaan dapat dilihat pada tabel 4.7.

41
Tabel 4.7. Hasil Perencanaan Letak BTS

Koordinat Antena Konfigurasi


Daerah Type Antena
Longitude Latitude Orientasi Ketinggian TRX
Urban
A1
Site A1A Pemukiman
100o 40 meter Directional 65 deg
(Sukamanah) o o
106 .03'.10" 6 .01'.10"
Site A1B Komplek 4/4/4
220o 40 meter Directional 90 deg
Krakatausteel
Site A1C Jalan Raya 270o 40 meter Directional 65 deg
A2
Site A2A Kawasan
0o 30 meter Directional 90 deg
Industri Krakatau steel
Site A2B Pemukiman 106o.01'.25" 6o.00'.40"
120o 40 meter Directional 90 deg 4/3/3
(Desa Citangkil)
Site A2C Pemukiman
240o 30 meter Directional 65 deg
(Desa Kebonsari)
A3
Site A3A Jalan Raya 110o 40 meter Directional 65 deg
Site A3B Pemukiman 106o.04'.47" 6o.02'.03" 210o 40 meter Directional 90 deg 3/3/3
(Desa Harjatan)
Site A3C Pemukiman
270o 40 meter Directional 90 deg
(Desa Kedaleman)
Suburban
B
Site B1 Pemukiman
80o 40 meter Directional 90 deg
(Desa Karangasem)
Site B2 Pemukiman 106o.02'.02" 6o.02'.45"
200o 40 meter Directional 90 deg 2/2/2
(Desa Bagendung)
Site B3 Pemukiman
330o 40 meter Directional 90 deg
(Desa Lebak Denok)
Open Area (Rural)
C
Site C1 Jalan Tol 120o 40 meter Directional 65 deg
o o
Site C2 Pemukiman 106 .05'.15" 6 .01'.08"
200o 40 meter Directional 90 deg 2/2/2
(Serdang Barat)
Site C3 Jalan Tol 320o 40 meter Directional 65 deg

42
4.6. Proses plotting BTS pada Tool Plan

Proses Plotting BTS menggunakan tool plan pada wilayah yang direncanakan adalah

proses terakhir dalam perencanaan BTS. Dengan input data koordinat dari letak BTS,

orientasi antenna, ketinggian antenna dan type antena melalui tool plan dapat dilihat

area yang tercover oleh jumlah BTS yang diletakkan pada wilayah tersebut. Dalam

tool plan dapat melihan kontur dari area yang di cover dan sampai jarak berapa area

masih bisa tercover oleh satu BTS. Penentuan jumlah BTS actual berdasarkan

banyaknya sel yang ditampilkan dalam peta wilayah

Gambar 4.1. Hasil Visualisasi Tool Plan

43