Anda di halaman 1dari 16

KROMOSOM KELENJAR LUDAH

Chironomus
Laporan Praktikum Genetika

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Genetika (BI409)

Disusun oleh :
Kelompok 1, Kelas B
Ridwan Maulana (0704739)
Adriana (0706685)
Eva Hafida (0704558)
Jeina Kranimulia Putri (0608383)*
Noviyanti F (0704401)
Ratna Sarimurti (0700733)
Zea Zetina (0704479)

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
2010
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kromosom adalah materi berbentuk seperti benang yang dapat ditemukan pada nukleus
pada sel eukariotik (Cambell et al, 2009). Dalam materi inilah tersimpan informasi genetik yang
diturunkan dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Selain itu, informasi genetik ini juga
mengendalikan seluruh kegiatan sel. Maka dari itu, untuk mempelajari ilmu genetika lebih
mendalam, diperlukan pemahaman yang memadai mengenai struktur dan fungsi dari kromosom.

Organisme pada ordo diptera umumnya memiliki kromosom raksasa sehingga


kromosom dari organisme ini sering digunakan sebagai obyek percobaan. Pada percobaan ini
digunakan kromosom pada kelenjar ludah larva Chironomus sp. Kromosom raksasa yang
terdapat pada kelenjar ludah Chironomus sp. ini digunakan sebagai obyek percobaan karena
memiliki ukuran yang besar sehingga mudah untuk diamati. Selain itu, karena struktur jaringan
kelenjar ludah, maka pengambilan, pengamatan, dan pembuatan preparat kromosom relatif
mudah dilakukan.

1.2 Tujuan

1. Membuat garis besar langkah-langkah penyiapan sediaan sel-sel kelenjar ludah untuk
pengamatan kromosom melalui teknik squash asetocarmin.
2. Membuat preparat segar kromosom sel-sel kelenjar ludah Chironomus serta
mendiskusikan hal-hal penting dari hasil pengamatannya.

1.3 Dasar Teori

Chironomidae merupakan keluarga nematoceran flies yang memiliki distribusi global.


Berkerabat dengan Ceratopogonidae, Simuliidae, dan Thaumaleidae.
Larva dapat ditemukan hampir disetiap perairan, warna larva biasanya merah terang dan
sangat menarik perhatian, berukuran lebih kurang 1cm, bagian mulut biasanya terlihat jelas, jenis
larva ini biasa dikenal dengan nama cacing darah.
Larva ini biasa dijadikan sebagai organisme indikator atau indikator biologis.
Keberadaannya di perairan mengindikasikan adanya polusi. Fosil larva ini juga dapat dijadikan
indikator mengenai perubahan lingkungan pada masa lampau.

Menurut Cambell et al (2009), kromosom adalah materi berbentuk benang pembawa


informasi genetik yang dapat ditemukan di nukleus pada sel eukariotik. Pada sel prokariotik
kromosom merupakan pembawa informasi genetik utama. Kromosom dapat diamati dengan jelas
selama pembelahan mitosis atau meiosis. Pada kromosom terdapat rantai double helix DNA
dengan panjang ± 4 cm, ribuan kali lebih panjang dari diameter nukleus. Setiap rantai double
helix ini dikemas sedemikian rupa hingga terbentuk kromosom dan dapat disimpan dalam
nukleus. Penyimpanan double helix ini berkaitan erat dengan protein kecil yang disebut histone
(Campbell et al, 2009).

Dalam siklus sel, kromosom lebih sering berada dalam wujud kromatin, serabut panjang
dan tipis. Selagi sel bersiap untuk membelah, baik mitosis maupun meiosis, kromatin kemudian
menggulung untuk membentuk kromosom. Pada kondisi ini, kromosom dapat diamati di bawah
mikroskop cahaya (Campbell et al, 2009).

Kromosom politen adalah salah satu jenis kromosom unik yang dapat dijumpai pada
organisme eukariotik di samping beberapa jenis kromosom unik lainnya. Kromosom unik
lainnya adalah lampbrush chromosome, kromosom-B, dan kromosom holokinetik (Anonim,
2009). Pada percobaan ini akan banyak dibahas mengenai kromosom politen.

Pada kelenjar ludah organisme dari ordo diptera, ketika sel mencapai tahap interfase,
kromosom mengalami replikasi hingga 10 kali tanpa pernah memasuki tahap mitosis. Akibatnya,
sister chromatids tidak pernah terpisah dan setiap kromosom terdiri dari 1024 double helices.
Selain itu, karena kromosom homolog pada tahap interfase berpasangan dengan sangat erat maka
terbentuklah kromosom yang sangat tebal yang disebut kromosom politen. Sedangkan, proses
replikasi kromosom tanpa diikuti mitosis ini dikenal sebagai endomitosis.
Organisme pada ordo diptera umumnya memiliki kromosom raksasa sehingga
kromosom dari organisme ini sering digunakan sebagai obyek percobaan. Pada percobaan ini
digunakan kromosom pada kelenjar ludah larva Chironomus sp. Kromosom raksasa yang
terdapat pada kelenjar ludah Chironomus sp. ini digunakan sebagai obyek percobaan karena
memiliki ukuran yang besar sehingga mudah untuk diamati. Selain itu, karena struktur jaringan
kelenjar ludah, maka pengambilan, pengamatan, dan pembuatan preparat kromosom relatif
mudah dilakukan.

Pada kromosom politen terdapat pola pita terang dan gelap. Berdasarkan penelitian
mikroskopik, pita terang dan gelap ini disebabkan oleh perbedaan kerapatan kromatin dalam
kromosom. Kromatin pada pita gelap tersusun 10 kali lebih rapat dari pada kromatin pada pita
terang. Selain itu, terdapat pula heterokromatin yang merupakan gabungan dari sentromer
kromosom-kromosom yang ada di nukleus, heterokromatin ini disebut sebagai kromosenter.
Pada kromosom politen ada juga puff, penebalan area kromosom karena gen pada kromosom
tersebut tengah mengalami transkripsi.

Chironomus

Kromosom sel kelenjar ludah


1.4 Metode Kerja

Alat dan Bahan :

1. Mikroskop monokuler
2. Mikroskop binokuler
3. Jarum preparat
4. Silet
5. Kaca Objek
6. Kaca penutup
7. Larva Chironomus
8. Asetocarmin pada botol tetes
9. Larutan fisiologis pada botol
tetes
10. Lampu spirtus
Langkah Kerja:
A. Pembedahan Larva untuk Pemisahan Kelenjar Ludah

Memilih larva yang paling besar dan bergerak aktif (hindari yang hampir menjadi pupa).

Menempatkan larva yng telah terpilih pada kaca objek bersih yang telah ditetesi larutan
fisiologis.

Menempatkan sediaan di bawah mikroskop binokular dengan latar belakang hitam
sehingga tampak organ-organ dalam larva yang tidak berwarna (bening).

Membedah larva dengan menahan ujung anterior dengan salah satu jarum preparat dan
menarik 2/3 bagian anterior dengan jarum preparat lain.

Memisahkan kelenjar ludah yang transparan dari bagian-bagian lainnya dengan hati-hati.

B. Pewarnaan

Memindahkan kelenjar ludah yang telah dipisahkan dari jaringan lemak ke kaca objek
bersih yang telah ditetesi Asetocarmine.

Memanaskan sediaan dengan hati-hati di atas api spirtus atau dibiarkan kering secara
alami.

Menutup sediaan dengan kaca penutup lalu menekannya dengan tisu secara hati-hati agar
memungkinkan sel-selnya berpencar dan dinding intinya putus sehingga kromosomnya
terentang.

Mengamati sediaan di bawah mikroskop dengan perbesaran maksimum.

Analisis Data:
Dalam kegiatan praktikum ini dilakukan analisis data terhadap hasil pengamatan pita
kromosom Chironomus di bawah mikroskop monokuler dengan perbesaran maksimum.
Pembuatan sediaan mikroskopik kromosom tersebut dilakukan dengan menggunakan
teknik Squash Asetocarmine.
BAB II
HASIL PENGAMATAN

A. Taksonomi

Chir

Bentuk anterior

Deskripsi : Larva Chironomus berwarna merah, tubuh bersegmen-semen 10-12 segmen.


Bagian posterior bercabang 3. Pada bagian anteriornya (kepala) terdapat mulut tipenya
tipe penghisap karena biasa menghisap darah oleh karena itu sering dijuluki cacing darah.
Larva Chironomus ini memiliki bentuk kelenjar ludah yang besar sehingga mudah untuk
mengamati bentuk kromosom yang terdapat kelenjar ludah tersebut.

B. Bentuk Kelenjar ludah Chironomus


Kelenjar ludah Chironomus berbentuk menyerupi kalung (bentuk buat
berantai). Kelenjar ini dapat ditemukan pada daerah 1/3 posterior (dekat anterior) setelah
dibedah terlebih dahulu. Bentuk kelenjar ludah pada Chironomus mudah diamati katena
ukurannya besar dan berwarna bening bentuknya menyerupai kalung. Bentuk kromosom
terlihat jelas setelah diberi pewarnaan Acetocarmin. (gambar tidak ada) .
Bentuk kelenjar ludah Chironomus Bentuk kromosom kelenjar ludah
(mikroskop elektron)

Pertanyaan dan Tugas

1. Menurut pengalaman saudara selama praktikum, bagaimana cara yang paling tepat
untuk mendapatkan kelenjar ludah dari larva? Ilustrasikan langkah kerja saudara!
2. Berapa lamakah waktu staining yang paling tepat menurut pengalaman saudara?
3. Dapatkah saudara mendeteksi pita-pita dengan pola tersebut?
4. Dapatkah saudara melihat nukleolus?

Jawaban

1. Langkah kerja yang kami lakukan adalah sebagai berikut:


Pilihlah larva yang paling besar dan bergerak cukup aktif dengan menggunakan
jarum preparat

Tempatkan larva tersebut dalam kaca objek yang bersih dan teteskan larutan
fisiologis
Bedahlah larva tersebut dengan cara menahan ujung anterior dengan jarum
preparat dibagian tangan kanan dan tarik bagian 2/3 bagian anterior dengan
jarum preparat bagian tangan kiri, lakukan dengan perlahan.
Dua kelenjar ludah yang transparan akan nampak cukup jelas dibagian anterior.
Pisahkan kelenjar ludah tersebut dari bagian-bagian lainnya dengan
menggunakan jarum preparat dengan hati-hati jangan sampai bercampur dengan
bagian lainnya.

Amati kelenjar ludah tersebut dibawah mikroskop binokular.

2. Waktu yang paling tepat untuk staining preparat berdasarkan praktikum kelompok kami
adalah 30 detik.
3. Dapat, pola pita-pita yang dapat kami lihat seperti kumpulan manik-manik panjang
yang saling berhubungan membentuk pola oval.
4. Dapat, di dalam bagian pita, tapi terlihat agak samar.
BAB III
PEMBAHASAN

Pada percobaan ini digunakan beberapa larutan untuk membuat preparat kromosom
Chironomus sp. yang antara lain adalah larutan fisiologis dan larutan Asetocarmin.
Larutan-larutan ini digunakan karena fungsi-fungsinya. Berikut adalah fungsi dari setiap
larutan yang digunakan:
1. larutan Asetocarmin berfungsi sebagai zat pewarna. Hal ini bisa dilihat dari warna
kromosom saat diamati di bawah mikroskop. Warna kromosom merah, sesuai
dengan warna larutan Asetocarmin.
Kromosom Chironomus yang diamati memiliki lengan kromosom dengan pola
warna terang-gelap. Berdasarkan literatur, pola terang-gelap ini dihasilkan dari struktur
kromatin yang menyusun kromosom. Pada pita gelap kromatin tersusun dengan sangat
rapat, 10 kali lebih rapat dibandingkan kromatin pada pita terang (Hartwell et al, 2004).
Walau tidak tampak jelas pada gambar hasil pengamatan, namun dapat diamati
bahwa kromosom-kromosom pada Chironomus sp. tidak tersusun seperti kromosom non-
politen lainnya. Pada kromosom non-politen, kromosom satu dengan kromosom lain
terpisah sehingga jumlah kromosom dapat diamati dengan jelas. Sedangkan pada
kromosom politen, kromosom yang diamati hanya satu dengan lengan kromatid yang
cukup banyak terpusat pada satu pusat. Pusat inilah yang disebut dengan kromosenter
yang terbentuk dari heterokromatin yang merupakan gabungan dari sentromer (Hartwell et
al, 2004).
Perbedaan-perbedaan gambar hasil pengamatan dengan gambar yang diperoleh dari
literatur bisa disebabkan oleh ketidaklengkapan bagian-bagian kromosom preparat yang
dibuat. Ketidaklengkapan ini erat kaitannya dengan proses pengambilan kelenjar ludah
pada larva. Kesalahan teknis pada saat pewarnaan juga mungkin terjadi sehingga
berdampak pada preparat kromosom yang dihasilkan.
Beberapa kelompok pada saat melakukan percobaan ini, gagal membuat preparat
kromosom. Masalah utama kegagalan ini terletak pada sulitnya proses pengambilan
kelenjar ludah larva dalam keadaaan yang baik. Banyak kelenjar ludah yang rusak akibat
perlakuan yang salah. Seharusnya pengambilan kelenjar ludah dilakukan dengan bantuan
mikroskop bedah stereo. Selain itu pada saat melakukan proses pewarnaan yang terlalu
banyak sehingg kromosom pada larva Chironomus sp tidak terlihat dengan baik dan terlalu
lamanya preperat tersebut didiamkan setelah pewarnaan menyebabkan sel-sel pada larva
Chironomus sp mengkerut. Kegagalan ini bisa juga disebabkan karena banyaknya lemak
tubuh larva Chironomus sp. sehingga pencarian kromosom di bawah menjadi lebih sulit
dilakukan.
BAB IV
KESIMPULAN

Langkah-langkah penyiapan sediaan sel-sel kelenjar ludah untuk pengamatan


kromosom dapat melalui teknik Squash Asetocarmin diantaranya memilih larva yang
paling besar, menempatkan larva tersebut pada kaca objek, menempatkan sediaan tersebut
di bawah mikroskop binokuler untuk dibedah, dua kelenjar ludah yang transparan akan
tampak jelas di bagian anterior. Kemudian memindahkan kelenjar ludah ke kaca objek
bersih yang telah ditetesi acetocarmine dengan menggunakan jarum preparat dan ditutup
dengan kaca penutup, setelah itu preparat mikroskopis pita kromosom di bawah mikroskop
dengan pembesaran maksimum.

Dari preparat segar Chironomus yang telah dibuat dapat digambarkan bahwa
kelenjar ludah Chironomus berbentuk menyerupi kalung (bentuk buat berantai). Bentuk
kelenjar ludah pada Chironomus mudah diamati katena ukurannya besar dan berwarna
bening bentuknya menyerupai kalung. Bentuk kromosom terlihat jelas setelah diberi
pewarnaan Acetocarmin
DAFTAR PUSTAKA

http://en.wikipedia.org/wiki/Chironomidae
http://yoarika.wordpress.com/2009/11/19/24/
http://www.mun.ca/biology/desmid/brian/BIOL2250/Week_Two/polytene.jpg
http://www.molbiolcell.org/content/vol16/issue12/images/medium/coverfig.gif,
[16April2010] http://www.jpp.krakow.pl/journal/archive/1208_s9/gfx/rys2001.gif
[16 April 2Sumber : http://en.wikipedia.org/wiki/Chironomidae [16 april 2010]