P. 1
Puisi Toto Sudarto

Puisi Toto Sudarto

|Views: 271|Likes:
Dipublikasikan oleh vnoverain

More info:

Published by: vnoverain on Dec 16, 2010
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/18/2013

pdf

text

original

PAHLAWAN TAK DIKENAL Oleh: Toto Sudarto Bachtiar

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah lubang peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang Dia tidak ingat bilamana dia datang Kedua lengannya memeluk senapang Dia tidak tahu untuk siapa dia datang Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang wajah sunyi setengah tengadah Menangkap sepi padang senja Dunia tambah beku di tengah derap dan suara merdu Dia masih sangat muda Hari itu 10 November, hujan pun mulai turun Orang-orang ingin kembali memandangnya Sambil merangkai karangan bunga Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring Tetapi bukan tidur, sayang Sebuah peluru bundar di dadanya Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda (Siasat Th IX, No. 442 1955)

kalau sekarang aku harus berangkat kuberi pacarku peluk penghabisan yang berat aku besok bisa mati. megah napasku di gang tua menuju kubu musuh di kota sana aku tak sempat hitung langkahku bagi jarak mungkin pacarku kan berpaling dari wajahku yang terpaku pada dinding tapi jam tua. tanah tanahku yang baru terjaga malam begini sepi dimanakah tempat yang terbaik buat peluru pistol di balik baju cabik 0.ODE I Oleh: Toto Sudarto Bachtiar katanya. tanah dimana tempat yang terbaik buat hati dan hidupku (Kisah Th IV. tanah di mana mesra terpendam rindu kemerdekaan yang mengembara kemana saja ingin aku menyanyi kecil. 10. tahu betapa tersandarnya engkau pada pilar derita. No. kemudian diam-diam aku mengendap di balik sendat kemerdekaan dan malam malam begini beku. aku hanya tahu kawan-kawanku akan terus maju tak berpaling dari kenangan pada dinding O. Oktober 1956) . dimanakah tempat terindah buat hatiku yang terulur padamu megap dan megah O. betapa pelan detiknya kudengar juga di tengah malam yang begini beku teringat betapa pernyataan sangat tebalnya coretan-coretan merah pada tembok tua betapa lemahnya jari untuk memetik bedil membesarkan hatimu yang baru terjaga Kalau serang aku harus pergi.

ODE II Oleh: Toto Sudarto Bachtiar dengar. tanah di mana segala cinta merekamkan dirinya tempat terbaik buat dia ialah hatimu yang kian merah memagutnya kala hdia terbaring di makam senyap pangkuanmu* *kenangan buat matinya seorang pejuang (Kisah Th IV. hari ini ialah hari hati yang memanggil dan kegairahan hidup yang harus jadi dekat berhenti menangis. 10. No. air mata kali ini hanya buat si tua renta atau menangis sedikit saja buat sumpah yangtergores pada dinding-dinding yang sudah jadi kuning dan jiwa-jiwa yang sudah mati atau buat apa saja yang dicintai dan gagal atau buat apa saja yang sampai kepadamu waktu kau tak merenung dan menampak jalan yang masih panjang dengar. Oktober 1956) . hari ini ialah hari hati yang memanggil dan derap langkah yang berat maju ke satu tempat dengar. o. hari ini ialah hari hatiku yangmemanggil mata-mata yang berat mengandung suasana membersit tanya pada omong-omong orang lalu mengenangkan segenap janji yang dengan diri kita menyatu dengarlah.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->