Anda di halaman 1dari 59

ASFIKSIA

Kematian akibat asfiksia disebabkan oleh kegagalan sel-sel untuk memperoleh


atau memanfaatkan oksigen. Kekurangan oksigen dapat parsial (hipoksia) atau total
(anoksia). Tanda-tanda klasik dari asfiksia adalah kongesti visera (organ-organ),
petechiae, sianosis dan pengenceran darah. Tanda-tanda ini bagaimana pun tidak spesifik,
dan dapat terjadi pada kematian karena penyebab lain. Kongesti visera terjadi akibat
obstruksi venous return dan kongesti kapilovenous. Hal yang terakhir disebabkan oleh
kerentanan pembuluh darah ini terhadap hipoksia, sehingga menyebabkan dilatasi
pembuluh darah dan stasisnya darah.
Petechiae adalah perdarahan pin point yang disebabkan oleh rupturnya pembuluh
darah kecil, terutama venule-venule kecil. Etiologi ruptur nampaknya mekanikal dan
disebabkan oleh distensi berlebihan dan ruptur yang tiba-tiba dari pembuluh darah
sebagai akibat peningkatan tiba-tiba tekanan intravaskular.1,2 Hal ini biasanya terlihat
pada pleura viseral dan epikardium. Pada kematian asfiksia akibat strangulasi, petechiae
secara klasik dapat ditemukan pada konjungtiva dan sklera. Petechiae, suatu marker
nonspesifik,1,2 dapat ditemukan pada konjungtiva dan sklera dan berhubungan dengan
berbagai kondisi yang berbeda, tidak semuanya fatal, dan tidak hanya pada kematian
asiksia saja. Mereka ditemukan secara rutin pada reflected scalp pada semua tipe
kematian dan tidak memiliki diagnosis yang signifikan pada daerah tersebut. Petechiae
pada epiglotis juga tidak signifikan. Gordon dan Mansfield melaporkan terjadinya
petechiae epikardial setelah kematian.2
Petechiae dapat terjadi setelah kematian pada daerah tubuh tertentu seperti pada
lengan yang tergantung pada sisi tempat tidur. Disini, gravitasi menyebabkan
peningkatan kongesti dan tekanan intravaskular dan menyebabkan ruptur mekanik pada
pembuluh darah kecil. Jika petechiae bertambah lebar atau meluas, mereka disebut
sebagai ekimosis.
Sianosis, tentu saja, non spesifik dan disebabkan oleh peningkatan jumlah
hemoglobin tereduksi. Sianosis tidak akan terlihat sampai setidaknya terdapat 5 g

1
hemoglobin tereduksi. Pengenceran darah post mortem bukanlah karakteristik asfiksia
atau penyebab lain kematian, tapi lebih sebagai akibat dari tingginya fibrinolisis yang
terjadi pada kematian yang cepat, kemungkinan oleh karena tingginya level agonal dari
katekolamin.3
Kematian asfiksia dapat dibedakan secara umum menjadi tiga kategori:
1. Mati lemas
2. Strangulasi
3. Asfiksia kimia
Kematian-keamtian ini dapat karena kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan.
Dibandingkan pembunuhan dengan penyebab lain, pembunuhan dengan asfiksia relatif
jarang di Amerika Serikat. Mereka peredominan melibatkan strangulasi – pencekikan dan
penjeratan. Dalam sepuluh tahun terakhir, pembunuhan dengan strangulasi mencapai
rata-rata 286 per tahun, dengan range 366 sampai 211. Nampaknya terjadi penurunan
bertahap dalam angka kasus ini dari tahun ke tahun. Pembunuhan yang disebabkan oleh
“asfiksiasi” (tidak ada deskripsi lebih lanjut tapi strangulasi tidak termasuk) terjadi kira-
kira 107 tiap tahun, dimana angka ini cenderung konstan selama periode sepuluh tahun. 4

Mati Lemas
Pada kematian akibat mati lemas, terjadi kegagalan oksigen mencapai darah. Terdapat
enam bentuk umum mati lemas:
1. Entrapment/ mati lemas karena lingkungan.
2. Pembekapan.
3. Tersedak.
4. Asfiksia mekanik
5. Asfiksia mekanik yang dikombinasi dengan pembekapan.
6. Mati lemas karena gas.

Entrapment/ Mati Lemas karena Lingkungan


Pada mati lemas karena terperangkap atau faktor lingkungan, asfiksia disebabkan oleh
tidak adekuatnya oksigen di lingkungan. Kematian ini hampir sepenuhnya merupakan
kecelakaan. Pada kasus entrapment, individu menemukan diri mereka terperangkap

2
dalam ruangan tertutup dengan udara terbatas. Awalnya, terdapat oksigen yang cukup
untuk bernafas. Akan tetapi, seiring berlanjutnya pernafasan, oksigen akan habis dan
terjadi asfiksia. Contoh yang terbaik adalah seorang anak kecil yang terperangkap pada
kulkas yang sudah tidak terpakai. Untungnya, bentuk kematian spesifik akibat
entrapment ini jarang terjadi, sebagaimana kulkas modern tidak memiliki sistem
penguncian dan dapat dibuka dari dalam. Bunuh diri dan pembunuhan dengan metode
entrapment sangat jarang, tetapi bisa saja terjadi.
Pada mati lemas karena lingkungan, seseorang secara tidak sadar memasuki suatu
daerah dimana terdapat defisiensi oksigen yang besar. Defisiensi ini bukan karena
penggantian oksigen dengan gas yang menyebabkan mati lemas, yang akan didiskusikan
pada bagian lain, tetapi lebih kepada berkurangnya oksigen karena suatu mekanisme.
Penulis melaporkan dua kematian yang disebabkan oleh kekurangan oksigen pada ruang
bawah tanah.5 Persentase normal volume oksigen di atmosfer adalah 20,946%. Pada
kasus ini, persentase volume oksigen menjadi 9,6%. Atmosfer yang mematikan ini
disebabkan oleh organisme seperti fungus dan bentuk tumbuhan tingkat rendah yang
terdapat pada dinding-dinding ruang bawah tanah dan sedimen pada lantai. Proses
metabolisme dari fungi dan tanaman ini menyebabkan habisnya oksigen, dan
menghasilkan karbondioksida. Jadi, karbondioksida yang normalnya 0,033% di udara,
pada kasus ini, menjadi 7,0%. Peningkatan kuantitas karbondioksida itu sendiri,
bagaimana pun, tidak cukup untuk menyebabkan kematian. Pada konsentrasi oksigen 10
sampai 15%, terdapat gangguan penilaian dan koordinasi. Kehilangan kesadaran terjadi
pada konsentrasi 8 sampai 10%; kematian pada konsentrasi 8% atau kurang. Pada
konsentrasi oksigen pada 4 sampai 6%, terjadi kehilangan kesadaran dalam 40 detik dan
kematian pada beberapa menit.

Pembekapan
Asfiksia akibat pembekapan disebabkan oleh obstruksi mekanik atau oklusi dari
saluran nafas eksternal seperti hidung dan mulut. Kematian seperti ini biasanya akibat
pembunuhan atau bunuh diri, kecelakaan sangat jarang terjadi (gambar 8.1).
Bentuk paling umum dari pembekapan bunuh diri adalah dengan meletakkan
kantong plastik pada kepala seseorang (gambar 8.1A). Jika plastik yang digunakan berat,

3
maka plastik tersebut perlu dirapatkan di leher. Lebih umum, bunuh diri memakai
kantong plastik yang tipis dan licin yang digunakan pada dry cleaners. Disini, biasanya
tidak diperlukan untuk merapatkan kantong plastik pada leher, karena plastik menempel
kuat pada wajah, menghalangi jalan nafas. Kantong plastik ini juga menyebabkan
kematian akibat kecelakaan dengan pembekapan yang jarang terjadi bila plastik
digunakan untuk menutup kasur aatau bantal pada tempat tidur anak kecil. Anak dapat
terperangkap dalam plastik dan terbekap. Pada semua kematian yang telah dilihat oleh
penulis dimana kantong plastik diletakkan pada kepala tidak terdapat penemuan autopsi
yang spesifik. Petechiae pada wajah, sklera dan konjungtiva pada dasarnya tidak selalu
ada. Petechiae pada epikardium dan permukaan pleura paru terkadang ada, tetapi hal ini
juga bersifat non spesifik sehingga penulis tidak menekankan hal tersebut. Bila seseorang
melakukan bunuh diri dengan menggunakan kantong plastik dan kemudian kantong
plastik tersebut dilepaskan sebelum dilaporkan pada pihak berwajib, maka seorang ahli
forensik tidak dapat menentukan penyebab kematian dengan autopsi.
Terkadang terdapat dugaan keras bayi terbekap dalam tempat tidurnya karena
selimut berat atau pelapis yang diletakkan diatas tubuh mereka. Penulis merasa bahwa
kasus ini merupakan contoh dari Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) dan hanyalah
suatu kebetulan mereka ditemukan tertutup oleh selimut atau seprei. Seseorang dapat
menumpuk sejumlah selimut pada bayi tanpa menyebabkan kesulitan pernafasan apapun.
Terkadang seorang alkoholik ditemukan dengan wajah tertelungkup pada bantal,
mati. Kepucatan pada sekeliling mulut dan hidung dilaporkan dan kematian dianggap
karena pembekapan. Kepucatan ini, bagaimana pun, dapat pula terjadi post mortem oleh
tekanan pasif kepala yang bergantung di atas bantal. Sehingga, diagnosis tidak dapat
dibuat berdasarkan bukti ini. Penulis memiliki pandangan sendiri mengenai diagnosis ini.
Seseorang seharusnya berada dalam kondisi koma alkoholik hingga dapat terbekap
dengan cara ini. Koma alkoholik, bagaimana pun, dapat menempatkan mereka dalam
bahaya kematian dan hal ini tampaknya lebih merupakan penyebab kematian,
dibandingkan dengan dugaan mati lemas.

4
Gambar 8.1 (A) Bunuh diri dari wanita tua yang merapatkan kantong plastik pada
kepalanya dengan tali di sekeliling lehernya. (B) Kecelakaan pembekapan
pada pria berusia 43 tahun yang mengalami retardasi mental yang
membungkus wajahnya dengan tape perekat. Korban telah melakukan
tindakan ini sebelumnya.

Kecelakaan pembekapan dapat terjadi akibat kerusakan pada tempat tidur anak.
Disini, seorang bayi terperangkap diantara kasur yang terlalu kecil dan kerangka tempat
tidurnya, atau diantara tempat tidur yang rusak dan kasurnya, dengan wajah menghadap
ke arah kasur (gambar 8.2). Anak tidak dapat bergerak dan akhirnya terbekap.
Penyumbat yang mengakibatkan obstruksi hidung dan mulut dapat menyebabkan
kematian karena pembekapan. Kematian seperti ini, meskipun tidak disengaja, masih
tergolong pembunuhan bila korban mati pada saat kejahatan berlangsung. Tipikalnya,
penyumbat ditempatkan mengelilingi wajah dan menyebabkan obstruksi mulut dan
hidung (gambar 8.3). Korban biasanya merupakan orang tua yang tidak cukup kuat
mengadakan perlawanan untuk memindahkan penyumbat atau mereka yang cenderung
dapat mengalami asfiksia karena penyakit. Cairan dan mukus dapat berkumpul pada
kavitas nasalis dan jalan nafas, menyebabkan asfiksia. Pada orang tua, mungkin terdapat

5
kongesti pada wajah dengan petechiae yang tersebar pada sklera, konjungtiva, dan kulit
wajah.

Gambar 8.2 Anak berusia 9 bulan yang terjepit diantara rangka dan kasur dari tempat
tidur yang rusak. Wajah menghadap ke arah kasur.

Gambar 8.3 Wanita 75 tahun, korban perampokan. Mengalami asfiksia akibat handuk
yang dibelitkan pada mulut dan hidung.

6
Hal ini belum pernah terjadi pada kasus indivudu muda dimana petechiae biasanya tidak
ada. Ditemukannya penyumbat yang mengobstruksi saluran nafas yang membuat
diagnosisnya, bukan suatu tanda dari asfiksia..
Pada pembunuhan dengan pembekapan, alat yang digunakan biasanya bantal,
selimut, dan tangan. Bayi dapat ditempatkan pada kantong plastik. Korban biasanya
cenderung sangat muda, sangat tua, debil, atau mengalami inkapasitasi akibat kekangan,
penyakit atau obat-obatan. Sangatlah sulit untuk membekap orang dewasa dengan
kesadaran diri penuh.
Bila menggunakan bantal, bantal diletakkan di atas wajah dan ditekan ke bawah.
Hal ini menyebabkan obstruksi hidung dan mulut, asfiksia dan kematian. Biasanya tidak
ada tanda pada wajah. Wajah tidak mengalami kongesti dan tidak terdapat petechiae pada
sklera atau konjungtiva (gambar 8.4). Luka abrasi pada wajah akan terjadi hanya bila
korbannya mengadakan perlawanan yang keras. Pada suatu review dari 15 kasus
kematian pembekapan yang melibatkan anak-anak dibawah usia 2 tahun, dari 13
diantaranya yang dapat dievaluasi mengenai keberadaan petechiae, hanya satu yang
ditemukan. Pada anak ini terdapat satu petechiae pada konjungtiva dan satu daerah
perdarahan sklera. Oleh karena kondisi pada kasus ini, terdapat kemungkinan bahwa anak
ini telah dicekik. Mendorong wajah ke kasur akan menyebabkan hasil akhir yang sama
dengan menggunakan bantal.
Pembekapan juga dapat dilakukan dengan tangan. Hidung ditutup dengan satu
tangan, sementara tangan satunya digunakan untuk mengunci rahang. Pada anak kecil,
satu tangan saja dapat menyelesaikan kedua tugas ini sekaligus. Pada bayi dan orang
dewasa yang tidak dapat melekukan perlawanan yang efektif, suatu autopsi akan gagal
untuk menemukan luka akibat proses ini. Pada orang dewasa, walaupun mereka yang
hanya dapat melakukan perlawanan minimal, mungkin terdapat abrasi pada hidung atau
dagu akibat kuku, dan kontusi pada bibir dari tekanan telapak tangan (gambar 8.5).
Urutan kejadian fisiologis pada pembekapan adalah:
 Bradikardia (penurunan heart rate)
 Penurunan respirasi hingga tarikan nafas yang dipaksakan terkadang diikuti
depresi pernafasan.
 Perlambatan dan akhirnya pendataran dari elektroencefalogram (EEG)

7
Jantung akan terus berdetak bahkan setelah pendataran EEG. Pada bayi, bradikardia telah
diobservasi dan dimulai 30 detik setelah inisiasi pembekapan, dan pendataran EEG pada
90 detik.6 Jika, setelah depresi pernafasan, bantal atau tangan disingkirkan dari wajah,
respirasi tidak selalu terjadi spontan. Individu tersebut harus diresusitasi. Perlawanan
yang kuat dengan peningkatan penggunaan oksigen dapat mempercepat urutan kejadian
ini, seperti penyakit alami dapat menyebabkan individu lebih rentan terhadap efek
hipoksia.

Gambar 8.4 Bayi berusia 2 bulan yang dibekap oleh orang tuanya. Tidak ada petechiae
pada sklera, konjungtiva atau wajah.

Tersedak
Pada kasus tersedak, asfiksia disebabkan oleh obstruksi dalam saluran pernafasan.
Cara kematian dapat alami, pembunuhan, atau kecelakaan. Kematian alami terlihat pada
individu dengan epiglotitis akut fulminan, dimana terdapat obstruksi saluran nafas oleh
epiglotis yang mengalami inflamasi dan jaringan lunak di sekitarnya. Individu dengan
kondisi seperti ini termasuk kegawatdaruratan medis dan dapat mati di depan petugas

8
medis. Individu tersebut mengalami radang tenggorokan, suara serak, kesulitan bernafas,
tidak mampu berbicara dan kemudian secara tiba-tiba kolaps pada saat saluran nafas
terobstruksi sempurna. Inhalasi uap juga dapat mengakibatkan gambaran serupa, dengan
edematous yang jelas, mukosa berwarna seperti daging pada laring dengan obstruksi
(gambar 8.6).

Gambar 8.5 Wanita tua yang dibekap dengan tangan. Bekas kuku pada hidung.

Gambar 8.6 Edema laringeal masif yang disebabkan oleh uap.

9
Kematian akibat tersedak yang merupakan pembunuhan relatif tidak biasa. Pada
bayi, seseorang terkadang melihat bayi yang baru lahir dibunuh dengan menjejali tissue
toilet ke dalam mulutnya. Gambar 8.7A mengilustrasikan kasus bayi yang dibunuh oleh
ayahnya dengan jalan memasukkan dot ke dalam mulutnya.

Gambar 8.7 (A) Dot yang dimasukkan ke dalam mulut oleh ayah (bersambung).

Pada orang dewasa, individu terkadang mati selama perampokan atau pencurian bila baju
atau kaos kaki dimasukkan ke dalam mulut untuk mendiamkan individu tersebut. Hal ini
terkadang merupakan kelanjutan dari penyumbatan (gambar 8.7B). Metode untuk
menyumbat seseorang cukup sering diperlihatkan di televisi tanpa konsekuensi yang
berbahaya, tetapi, sayangnya, pada kehidupan nyata, pakaian dapat masuk lebih ke
belakang, mengobstruksi sempurna faring posterior dan menyebabkan individu
mengalami asfiksia.
Kebanyakan kematian akibat tersedak terjadi akibat kecelakaan. Pada tahun 1997,
terdapat sekitar 3300 kematian yang diduga akibat inhalasi tidak disengaja makanan atau
objek lain, mengakibatkan obstruksi saluran pernafasan.7 Pada anak-anak, tersedak

10
biasanya melibatkan aspirasi dari objek kecil ke dalam laring dengan oklusi dari saluran
nafas, contohnya, bola karet kecil atau balon (gambar 8.8). Kematian pernah terjadi
dalam ruang kelas, dimana anak-anak tersedak oleh ujung ballpoint yang mereka gigit.
Pada orang dewasa, pada dasarnya tersedak selalu melibatkan makanan (gambar
8.9). Disini, umumnya dihubungkan dengan intoksikasi alkohol akut, gigi palsu yang
tidak sesuai, gangguan neurologis atau senilitas. Potongan makanan akan terjepit di
laringofaring dan laring, mengobstruksi sempurna saluran nafas.

Gambar 8.7 (sambungan) (B) Tersedak oleh penyumbat yang dirapatkan dengan
bandana.

11
Gambar 8.8 Anak usia 2 tahun yang tersedak hingga mati oleh gabus anggur.

Gambar 8.9 Pria 39 tahun yang tersedak oleh ham sandwich.

12
Kematian seperti ini memperoleh nama cafe coronary. Individu tersebut sedang makan,
kemudian tiba-tiba berhenti bicara, berdiri, dan kolaps. Resusitasi kardiopulmonal
dimulai dengan keyakinan bahwa korban mengalami serangan jantung. Kenyataannya, ia
tersedak makanan dan saluran nafasnya teroklusi sempurna. Jadi, resusitasi
kardiopulmonal tidaklah efektif. Bila individu yang memberi resusitasi dari mulut-ke-
mulut memperhatikan dengan baik, ia akan melihat bahwa dada korban tidak terangkat
saat udara ditiupkan ke saluran nafas, yang mengindikasikan adanya obstruksi.
Batuk saat kolaps diduga disebabkan karena tersedak mengaburkan diagnosis ini
sebab seseorang harus memiliki saluran nafas yang terbuka untuk batuk. Batuk
melibatkan inspirasi dari 2 hingga 2,5 liter udara, diikuti oleh penutupan epiglotis dan
pita suara, kontraksi otot-otot perut untuk mengangkat diafragma, sementara pada saat
yang sama, otot-otot ekspirasi berkontraksi. Epiglotis dan pita suara membuka dan
kemudian udara dikeluarkan dari paru-paru, dengan tekanan, biasanya disertai benda-
benda asing yang berasal dari bronchi dan trakea.8 Udara yang dikeluarkan dapat
mencapai kecepatan 75 sampai 100 mil per jam.
Terkadang, kematian akibat tersedak terjadi saat seseorang terjatuh dalam
material seperti hasil penggilingan jagung atau serbuk gergaji. Terjadi inhalasi involunter
dan saluran pernafasan tersumbat sepenuhnya oleh material tersebut.
Ditemukannya sejumlah kecil material makanan dalam saluran pernafasan saat
autopsi tidak menandakan bahwa korban tersedak hingga mati. Sekitar 20 -25% dari
semua individu yang secara langsung mengaspirasi makanan, merupakan penyebab
kematian yang independen.9 Seseorang dapat mengalami kematian karena aspirasi hanya
bila saluran pernafasan dari laring ke bawah teroklusi sempurna oleh makanan. Kematian
yang disebabkan oleh aspirasi masif makanan jarang ditemukan. Hal ini lebih sering
terjadi pada pasien koma dengan gangguan pada sistem saraf pusatnya.
Diagnosis kematian karena tersedak dibuat pada saat autopsi ditemukan adanya
oklusi saluran pernafasan. Bila seseorang mengalami oklusi jalan nafas dan objek atau
makanan yang menyumbat telah dikeluarkan saat resusitasi, satu-satunya cara untuk
membuat diagnosis adalah berdasarkan anamnesis. Tidak terdapat penemuan autopsi
yang spesifik yang mengindikasikan sesak nafas kecuali oklusi pada jalan nafas.

13
Beberapa personil medis akan menyatakan kematian karena tersedak meskipun
saluran pernafasan tidak sepenuhnya teroklusi. Mereka menduga laringospasme
merupakan penyebab kematiannya. Akan tetapi, tidak ada bukti objektif bahwa hal ini
dapat terjadi. Bila laringospasme benar terjadi, beberapa orang memperkirakan terjadinya
relaksasi laring seiring dengan memburuknya kondisi korban. Hal ini, pada akhirnya akan
menyebabkan pembukaan saluran nafas dan penyembuhan. Beberapa yang lainnya
berhipotesis bahwa reaksi vagal atau reflek cardiac death yang fatal terjadi melalui
sistem saraf parasimpatis, terjadi akibat hipersensitivitas laring terhadap makanan yang
teraspirasi. Namun sekali lagi, tidak ada cukup bukti objektif bahwa hal ini benar adanya.

Asfiksia Mekanik
Pada asfiksia mekanik, tekanan pada bagian luar tubuh menghambat terjadinya
respirasi. Asfiksia mekanik hampir selalu terjadi akibat kecelakaan. Hal ini dapat
dibedakan menjadi tiga tipe:
1. Asfiksia traumatik (suatu istilah yang sering digunakan sebagai kata ganti
asfiksia mekanik)
2. Asfiksia posisional
3. Kematian akibat riot-crush atau human-pile
Asfiksia Traumatik
Asfiksia traumatik terjadi bila terdapat beban berat yang menekan dada atau perut
atas seseorang, menjadikan respirasi tidak dapat dilakukan. Satu bentuk umum dari
asfiksia traumatik adalah seseorang yang berada di bawah mobil, sedang
memperbaikinya, ketika dongraknya tergelincir dan kendaraan jatuh menimpanya
(gambar 8.10). Pada autopsi terdapat kongesti dari kepala, leher, dan tubuh bagian
atas dengan sejumlah besar petechiae pada daerah ini, sklera, konjungtiva dan daerah
periorbita. Perdarahan retina juga dapat ditemukan. Pada pemerikasaan dalam, tidak
terdapat bukti adanya trauma meskipun terdapat beban berat pada dada. Individu yang
selamat dari satu episode asfiksia traumatik biasanya sembuh dengan usaha yang
keras, meskipun terkadang terdapat gangguan penglihatan permanen akibat
perdarahan retina. Seorang inividu yang selamat menggambarkan rasa nyeri tertekan
yang sangat berat dan suffusi pada wajahnya sebelum akhirnya kehilangan

14
kesadaran.10 Asfiksia traumatik jarang yang merupakan pembunuhan. Jadi, misalnya,
seseorang dijatuhkan ke tanah kemudian kulkas dan pengeras suara diletakkan di
atasnya. Terkadang ditemukan suatu bentuk kecelakaan asfiksia mekanik yang
melibatkan indvidu yang terkubur dalam tanah galian tetapi dengan kepala yang tetap
di atas permukaan tanah.
Kasus yang paling tidak biasa yang dijumpai oleh penulis terjadi pada bayi
berusia 5 bulan yang terbunuh oleh phyton. Ular tersebut membelitkan dirinya di
sekeliling bayi, merapatkan lilitannya tiap kali bayi tersebut mengeluarkan nafas.
Pada autopsi, tanda satu-satunya pada anak tersebut adalah bekas gigi pada wajahnya
dimana ular tersebut bermaksud menelan anak utuh anak tersebut (kepala anak terlalu
besar untuk mulut ular) (gambar 8.11). Tidak terdapat adanya petechiae, perdarahan
ataupun memar.
Asfiksia Posisional
Asfiksia posisional pada dasarnya selalu merupakan kecelakaan dan dihubungkan
dengan alkohol atau intoksikasi obat. Pada kasus ini, individu terperangkap pada
daerah yang terbatas, dimana, akibat posisi tubuhnya, mereka tidak dapat keluar dari
area tersebut atau posisinya. Hal ini mengakibatkan restriksi kemampuan bernafas
mereka, yang diikuti oleh kematian (gambar 8.12). Biasanya terdapat kongesti yang
jelas, sianosis, dan petechiae. Asfiksia posisional mungkin terjadi bila individu
terjatuh dalam sumur dan terjepit diantara dinding sumur. Tiap kali mereka
mengeluarkan nafas, mereka makin terselip ke dalam sumur, dan menghalangi
inhalasi.
Riot-crush
Riot-crush seperti namanya, terjadi di keramaian, ketika dada tertekan oleh
sekumpulan orang yang bertumpukan satu sama lain. Gerakan pernafasan dihambat
oleh tumpukan orang ini.

Asfiksia Traumatik yang dikombinasi dengan Pembekapan


Asfiksia traumatik yang dikombinasi dengan pembekapan merupakan kombinasi
dari kedua hal ini. Dapat merupakan kecelakaan atau pembunuhan. Salah satu bentuk
kecelakaan adalah overlay, yang terjadi pada bayi yang ditempatkan di tempat tidur

15
bersama orang dewasa atau anak yang lebih besar pada malam hari. Tiba-tiba anak
tersebut ditemukan telah mati. Saat malam, orang yang tidur bersama bayi tersebut
berguling ke atas tubuh bayi, membunuhnya dengan kombinasi pembekapan dan asfiksia
traumatik.

Gambar 8.10 Asfiksia traumatik. (A) Korban tertindih di bawah kendaraan. (B) Kongesti
yang jelas pada wajah dengan petechiae.

16
Gambar 8.11 Bayi berusia 5 bulan yang terbunuh oleh phyton. Tidak ada petechiae,
perdarahan, atau memar pada tubuh. Bekas tusukan pada wajah dengan
konfigurasi semi sirkular dan disebabkan oleh gigi phyton yang seperti
jarum.

Bila kondisi yang menyelimuti kematian bayi tidak diketahui, kasus seperti ini biasanya
dinyatakan sebagai SIDS. Pada kenyataannya, suatu autopsi tidak dapat membedakan
keduanya. Kematian lain pada kategori ini adalah individu yang meninggal terkubur
dalam tanah galian, gabah atau pasir.
Burking merupakan suatu kombinasi dari mati lemas dan asfiksia traumatik yang
dikembangkan (atau setidaknya disempurnakan) oleh ”resurrectionist” Burke dan Hare
pada awal abad 19. Keduanya mencari nafkah dengan menggali mayat dari pekuburan
dan menjualnya ke sekolah kedokteran untuk pembedahan.

17
Gambar 8.12 Asfiksia posisional pada individu yang mengalami intoksikasi akut.

Mereka memutuskan, bagaimana pun, untuk menghentikan kebiasaan menggali mayat


dan langsung ke sumbernya. Korban, biasanya mengalami intoksikasi, dijatuhkan ke
tanah, dimana Burke akan berlutut atau duduk di atas dada mereka, mengeluarkan udara
dan mengintervensi usaha pernafasan. Ia kemudian meletakkan satu tangan pada hidung
dan mulut korban dan menggunakan tangan satunya untuk menekan rahang bawah ke
atas. Biasanya tidak terlihat adanya luka. Mereka kini memiliki mayat segar untuk
sekolah.

Mati Lemas karena Gas


Kematian yang disebabkan oleh gas dikarenakan, bukan oleh sifat toksik gas,
tetapi lebih karena penggantian oksigen di atmosfer. Karbon dioksida dan metan
merupakan dua gas yang paling sering ditemui menyebabkan mati lemas. Keduanya
sama-sama tidak beracun dan tidak berbau. Keduanya ditemukan di saluran pembuangan
dan tambang. Metan merupakan komponen utama (94-96%) dari gas alam yang
digunakan untuk memasak. Ia tidak berbau: bau yang kita deteksi dari gas alam adalah
bahan tambahan untuk mendeteksi kebocoran. Reduksi oksigen atmosfer hingga kurang
dari 25% dari normal (5-6% dari volumre oksigen) akibat penggantian oksigen dengan
gas inert, seperti karbon dioksida dan metan, menyebabkan kehilangan kesadaran dalam

18
hitungan detik dan kematian dalam hitungan menit. Penentuan penyebab kematian pada
kasus seperti ini adalah dengan mengetahui kendisi yang melingkupi kematian. Tidak ada
penemuan yang spesifik pada autopsi. Analisis toksikologi pada darah tidak membantu
pada kasus karena karbon dioksida, karena merupakan konstitusi normal dalam darah.
Metan dapat dideteksi dalam darah. Karena gas ini tidak toksik, bagaimana pun, semua
identifikasinya akan mengindikasikan bahwa individu tersebut terpapar pada atmosfer
yang mengandung metan, tidak berarti kematiannya disebabkan oleh hal tersebut.

Strangulasi
Strangulasi merupakan suatu bentuk asfiksia yang ditandai oleh penutupan
pembuluh darah dan saluran pernafasan pada leher sebagai akibat tekanan eksternal pada
leher. Terdapat tiga bentuk strangulasi:
1. Penggantungan
2. Penjeratan
3. Pencekikan
Pada dasarnya semua penggantungan adalah bunuh diri dan semua penjeratan dan
pencekikan adalah pembunuhan. Dalam jumlah total per tahunnya, pemunuhan dengan
strangulasi tidaklah lazim. Dalam sepuluh tahun terakhir, pembunuhan yang diduga
akibat strangulasi rata-rata 286 per tahun, dengan range 366 sampai 211.4 Jumlahnya
dapat sedikit meningkat pada beberapa kematian yang sebelumnya diduga karena
asfiksiasi ternyata merupakan strangulasi. Peningkatannya tidaklah terlalu besar,
sebagaimana jumlah total pembunuhan yang diduga karena asfiksiasi pada periode yang
sama rata-rata 107 setahun.
Pada ketiga bentuk strangulasi ini, penyebab kematiannya adalah hipoksia
serebral akibat kompresi dan selanjutnya oklusi pembuluh darah yang menyuplai darah
ke otak. Arteri yang menyuplai darah ke otak adalah:
 Karotid interna
 Vertebralis
 Arteri kecil spinal
 Koneksi anastomosis dari cabang karotid eksternal dan arteri subklavia.
Drainase venous utamanya melalui vena jugularis dan vena servikalis profunda.

19
Arteri karotid, karena lokasinya, sangat mudah mengalami kompresi oleh tekanan
langsung pada leher bagian depan. Sebaliknya, arteri vertebralis resisten terhadap tekanan
langsung, tapi dapat dioklusi oleh fleksi lateral atau rotasi berlebihan pada leher.12
Kondisi seperti ini dapat ditemui pada penggantungan. Jumlah tekanan yang diperlukan
untuk mengoklusi arteri karotid sekitar 11 lb; sedang untuk arteri vertebralis 66 lb.13
Tekanan pada leher pada daerah arteri karotid dapat menyebabkan kehilangan kesadaran
setelah sekitar 10 detik.14 Jika tekanan segera dilepaskan, kesadaran akan kembali sekitar
10 – 12 detik. Perubahan Elektrokardiografi (EKG) sangat minimal. Pergerakan respirasi
dihambat pada fase inspirasi. Electroencephalograms (EEG) menunjukkan adanya
peningkatan aplitude gelombangnya, serupa dengan gambaran yang terlihat selama
serangan epileptik. Polanya kembali normal setelah sekitar 20 detik. 15
Rossen dkk. melakukan studi ekstensif yang melibatkan oklusi tidak hanya arteri
karotid tapi juga arteri vertebral dan koneksi anastomosis dari cabang karotid eksterna
dan arteri subklavia.16 Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan manset tekanan yang
dapat mengembang yang ditempatkan pada sepertiga bawah leher yang menghasilkan
600 mmHg dalam satu – delapan detik setelah inflasi. Hanya arteri kecil spinal yang tidak
mengalami oklusi. Subjek merupakan 126 sukarelawan pria normal dengan usia antara 17
sampai 31 tahun. Tes dilakukan berulang pada 85 dari subjek. Oklusi akut dari sirkulasi
arterial menyebabkan kaburnya penglihatan, konstriksi lapangan pandang, kehilangan
kesadaran dan konvulsi hipoksia. Manset tekanan dilepaskan segera setelah kehilangan
kesadaran dengan pemulihan sempurna dalam 1 sampai 2 menit setelah prosedur
dilakukan dan tidak terdapat adanya sequelae. Konvulsi terjadi setelah kehilangan
kesadaran, ringan, tonik dan klonik dan jarang berlanjut lebih dari 6-8 detik. EEG
memberikan gambaran gelombang yang besar, lambat dan berkorelasi dengan kehilangan
kesadaran. Perubahan EKG minimal. Setengah dari subjek mengalami kehilangan
kesadaran dalam 6 sampai 6,5 detik. Secara keseluruhan range diperkirakan 5 sampai 11
detik.
Rossen dkk. kemudian mempelajari efek dari oklusi yang diperlama terhadap
sirkulasi serebral pada 11 individu.16 Oklusi sempurna dari aliran darah serebral tidak
dapat dicapai pada tiap kasus, seperti halnya pada eksperimen lain. Tekanan servikal
dipertahankan sampai setidaknya 100 detik pada beberapa tes. Subjek memperoleh

20
kembali kesadarannya dalam 30 – 40 detik dan dapat berjalan keluar ruangan dalam 2
menit. Konvulsi, sianosis, urinasi dan defekasi involunter terjadi pada beberapa pasien,
bradikardia, dan dilatasi pupil mengikuti kehilangan kesadaran. Konvulsi yang terjadi
relatif ringan, berlanjut selama periode kehilangan kesadaran pada beberapa individu,
bertahan selama 30 – 40 detik pada yang lain. Awalnya, setelah kehilangan kesadaran,
heart rate stabil. Tidak lama kemudian, terjadi bradikardia, dengan penurunan heart rate
sebesar 50%. Respirasi berlanjut selama tes, dengan rate yang meningkat.
Drainase venous pada kepala dilakukan oleh vena jugular dan sistem vena
vertebralis. Sistem vena vertebralis terdiri dari pleksus eksternal dari vena di otot leher
dalam yang berdekatan dengan columna vertebralis dan pleksus vertebralis internal di
dalam kanalis spinalis. Pleksus vertebral internal, meskipun kapasitas transport darahnya
terbatas, tidak dapat dipengaruhi oleh tekanan pada leher. Sebaliknya, besarnya tekanan
yang diperlukan untuk mengoklusi vena jugular adalah 4,4 lb.12
Perdarahan pada bagian belakang leher dan pada jaringan lunak yang menutupi
tulang servikal sebaiknya diinterpretasikan disebabkan oleh trauma dengan pertimbangan
matang. Pada mayoritas kasus, hal ini tidak disebabkan oleh trauma pada leher, tapi lebih
merupakan statu artefak yang disebabkan oleh distensi berlebihan dan ruptur dari sinus
vena, membentuk pleksus faringolaringeal.12 Perdarah seperti ini dapat dan memang
terjadi pada kematian wajar dan mungkin terjadi baik peri- atau awal post mortem.
Sebenarnya, pada semua kasus penjeratan dan pencekikan yang fatal, ditemukan
adanya petechiae pada konjungtiva. Terdapatnya petechiae tidak mengindikasikan
kematian tersebut terjadi akibat strangulasi, karena mereka juga dapat ditemukan pada
beberapa kondisi lain, temasuk kematian yang wajar.17 Petechiae dapat terjadi pada
korban percobaan strangulasi yang tidak mengalami tingkatan asfiksia yang mengancam
jiwa. Selain itu, pada studi yang dilakukan terhadap 79 korban yang selamat dari
percobaan strangulasi (baik penjeratan maupun pencekikan), yang menunjukkan adanya
stigmata strangulasi, petechiae pada konjungtiva ditemukan pada 14 korban, hanya
delapan dari mereka yang mengalami kehilangan kesadaran, dan hanya empat yang
mengalami inkontinensia sfingter.18 Hal ini menunjukkan bahwa petechiae tidaklah
diperlukan sebagai indikasi asfiksia yang mengancam jiwa, tapi lebih sebagai efek lokal
dari kongesti vena.

21
Penggantungan
Pada penggantungan, asfiksia terjadi sekunder akibat kompresi atau konstriksi
dari struktur leher akibat jeratan atau tali konstriktor lain yang dirapatkan oleh berat dari
tubuh. Tubuh dapat saja tergantung sempuna atau tidak sempurna (gambar 8.13).
Suspensi (penggantungan) tidak sempurna, dengan ibu jari atau kaki (lebih jarang lutut
atau pantat) menyentuh tanah, sangat sering terjadi. Pada dasarnya semua penggantungan
merupakan bunuh diri. Kecelakaan penggantungan tidak lazim terjadi dan pembunuhan
dengan penggantungan sangat jarang terjadi. Kematian disebabkan oleh kompresi
pembuluh darah di leher sehingga jumlah darah teroksigenasi yang mencapai otak
jumlahnya tidak mencukupi. Obstruksi jalan nafas juga dapat terjadi, baik akibat
kompresi trakea atau ketika penjerat berada di atas laring, elevasi dan displacement
posterior dari lidah dan dasar dari mulut. Blokade atau kompresi saluran udara tidak
diperlukan untuk menyebabkan kematian pada penggantungan. Beberapa individu telah
menggantung diri mereka sendiri dengan penjerat di atas laring dan di bawahnya terdapat
lubang trakeostomi permanen. Fraktur pada leher sebenarnya tidak memiliki peranan
pada penggantungan yang bukan hukuman gantung. Jarang terjadi, dan menurut
pengalaman kami, biasanya terjadi hanya pada individu dengan penyakit degeneratif
lanjut pada tulang servikal, seperti osteoarthritis, dikombinasikan dengan penggantungan
sempurna dari tubuh, penurunan yang tiba-tiba, dan lebih sering, obesitas.
Besarnya tekanan yang diperlukan untuk menekan vena jugular adalah 4,4 lb;
arteri karotid 11 lb; dan arteri vertebral 66 lb. Kompresi pada trakea memerlukan tekanan
33 lb.13 Karena kecilnya jumlah tekanan yang diperlukan untuk menekan arteri karotid,
seseorang dapat menggantung diri mereka sambil duduk, berlutut, atau berbaring.
Beratnya kepala (10 – 12 lb) terhadap penjerat sudah cukup untuk mengoklusi arteri
karotid dan menyebabkan kematian. Penulis telah melihat kasus dimana individu
menggantung diri mereka dari pinggiran tempat tidur sambil berbaring di samping
pasangannya. Penggantungan dengan posisi berlutut dan duduk juga sering dijumpai.

22
Gambar 8.13 (A) Penggantungan dengan suspensi sempurna (bersambung)

Pada dasarnya semua penggantungan merupakan bunuh diri. Tergantung pada


daerah atau negara dan jenis kelamin dari korban, penggantungan merupakan metode
bunuh diri paling populer kedua atau ketiga. Lebih jarang, pasangan menggantung diri
mereka sendiri, beberapa dengan tali yang sama. Pada penggantungan, biasanya
digunakan tali dengan satu simpul sederhana. Penjerat dapat berupa apapun yang dapat
digunakan. Paling umum adalah tambang, kabel listrik, dan ikat pinggang. Di penjara,
tahanan biasanya merobek seprei menjadi panjang sebagaimana menggunakan T-shirts,
celana pendek, celana panjang, atau bahkan kaus kaki. Tak jarang, untuk mencegah
perubahan pikiran, korban mengikat tangannya sendiri. Penulis telah melihat sejumlah
kasus dimana korban mengikat sendiri tangan mereka di belakang tubuh mereka sendiri.
(gambar 8.13B).

23
Gambar 8.13 (sambungan) (B dan C) Penggantungan dengan (B) tangan diborgol di
belakang (C) pengantungan inkomplit.

Titik penting pada penggantungan yang dilihat pada sisi depan dan belakang leher.
Pada saat penggantungan, bentuk penjerat terlihat di atas laring sampai di bawah dagu
(gambar 8.14). Di atas leher akan terlihat suatu alur. Alur ini umumnya tidak
mengelilingi leher dengan sempurna, tapi biasanya miring ke atas dan menuju ke arah
simpuldan berakhir pada titik penggantungan – pada simpul (gambar 8.15). Jika simpul
berada di bawah dagu, tempat itu dapat diidentifikasi dengan adanya abrasi dan indentasi
pada dagu. Kejelasan dan konfigurasi dari alur tergantung pada material yang digunakan.
Tambang akan memberikan alur yang dalam, berbatas jelas, alur tegas, kadang dengan
penampakan cermin dari pilinan tambang pada kulit (gambar 8.16A). Alur ini terlihat
berwarna kuning pucat, dengan pinggiran yang kongesti. Seiring dengan waktu alur akan
mengering dan berwarna kecoklatan. Jika penjeratnya berupa material yang halus,
jejaknya sulit dikenali, pucat dan tidak menyebabkan memar dan abrasi (gambar 8.16B).

24
Pada kasus tertentu, batas bawah dari jeratan pucat, dengan batas atas yang merah,
disebabkan oleh kongesti pembuluh darah post mortem. Handuk dapat memberikan
daerah abrasi superfisial yang sulit dikenali.

Gambar 8.14 Penggantungan dengan titik penggantungan pada (A) sisi leher dan (B)
bagian depan leher.

Gambar 8.15 Alur dari penjerat yang terdorong ke atas ke arah titik penggantungan.

25
Gambar 8.16 (A) Tanda jeratan dengan dasar kuning pucat dan pinggir yang kongesti.
(B) Alur pucat yang lebar akibat penjerat yang lembut.

Pada sebagian besar kasus bunuh diri dengan penggantungan, penjeratnya terdiri
dari 1 lilitan. Dua lilitan jarang terjadi. Dalam hal ini mungkin terjadi dua alur yang
paralel, tumpang tindih pada satu titik, atau mengikuti dua jalur yang berbeda, contohnya
1 oblik dan yang lainnya horizontal. Kedua alur dapat menjepit kulit diantaranya,
menyebabkan garis perdarahan pada kulit (gambar 8.17). Jika penjeratnya adalah ikat

26
pinggang, biasanya terdapat dua bekas jeratan yang paralel pada leher dimana batas atas
dan bawah dari ikat pinggang membekas di kulit (gambar 8.18).

Gambar 8.17 Bunuh diri dengan dua lilitan yang menjepit kulit.

Jika yang digunakan adalah penjerat yang lembut, seperti handuk, pada tubuh
yang dipotong setelah kematian, tidak ada bekas yang terlihat pada leher. Pada penjerat
yang kecil dan keras, bekasnya akan sempit, dalam dan mudah dikenali. Semakin lama
tubuh tetap tergantung, semakin jelas bekasnya. Pada penjerat yang lebar, alur akan
dangkal dan luas seperti pada pakaian. Bekas penjeratan paling dalam terdapat pada
daerah yang berlawanan dari titik penggantungan. Jarang, bekas goresan akan terlihat di
atas dan bawah dari bekas jeratan dimana korban berusaha untuk melepaskan jeratannya.

Gambar 8.18 Bunuh diri dengan ikat pinggang.

27
Gambar 8.19 Penggantungan bunuh diri dengan protrusi dan pengeringan lidah.

Pada sebagian besar kasus penggantungan, muka pucat dan lidah menjulur keluar
dan hitam karena kering (gambar 8.19). Pengecualian biasanya terjadi pada sebagian
individu yang tergantung, dimana jeratan dirapatkan hanya oleh berat kepala dan dada.
Dalam kasus ini, arteri karotis dan vena terbendung sempurna. Arteri vertebralis terus
mensuplai darah ke kepala, menyebabkan kongesti dari wajah dan petechiae. Pada
penggantungan, darah akan berkumpul pada daerah tertentu di tubuh, biasanya pada
lengan bawah, tangan dan kaki bagian bawah, terutama karena gravitasi. Beberapa waktu
kemudian terlihat perdarahan pungtat dan tardieu’s spot, yang disebabkan oleh ruptur
hidrostatik dari pembuluh darah yang akan terlihat (gambar 8.20).
Sebelum melepaskan jeratan dari leher, bahan dan komposisi, alur, cara aplikasi,
lokasi dan tipe simpul sebaiknya dideskripsikan secara detail. Setelah dilepaskan, bekas
jeratan pada leher segera dideskripsikan. Juga harus mendeskripsikan arah alur (oblik, ke
atas, horizontal, dll.), apakah kontinyu atau terputus, warnanya, dimensinya (dalam dan
lebar) apakah terdapat perbedaan pada pola jeratan, area leher yang terlibat dan hubungan
dengan bekas daerah jeratan.
Biasanya, selain tanda jeratan, tidak ada tanda lain (luka) pada tubuh. Jika
terdapat tanda lain, ahli forensik harus menentukan apakah mereka disebabkan oleh diri

28
sendiri, terjadi pada saat fase konvulsif sebelum kematian, yang terjadi saat tubuh
diturunkan atau saat usaha resusitasi, terjadi saat tubuh yang berayun, kontak dengan
benda lain atau disebabkan oleh pihak kedua, menyebabkan kasus pembunuhan.

Gambar 8.20 Tardieu spot.

Pada pemeriksaan struktur dalam leher, pada sebagian kasus tidak menyebabkan
luka. Dari 83 kasus penggantungan yang diperiksa secara prospektif hanya 10 (12%)
diantaranya yang mengalami fraktur, 9 diantaranya menunjukkan fraktur kartilago
thyroid terutama pada cornu superior; tidak adanya fraktur pada hyoid dan 1 fraktur pada
tulang servikal (VJM DiMaio, personal communication). Kasus terakhir melibatkan
wanita obesitas dengan perubahan arthritik pada vertebra servikalis yang menaiki tangga,
menjatuhkan dirinya sebelum tergantung. Dari 9 kasus fraktur superior dari kartilago
thyroid, 7 unilateral dan 2 bilateral. 4 dari fraktur unilateral adalah kontralateral dengan
titik penggantungan, 2 ipsilateral dan yang 1 tidak diketahui. 17 (20,5%) dari 83 kasus,
tidak termasuk mereka yang fraktur, menunjukkan perdarahan pada serat otot leher.
Petechiae pada konjungtiva atau sklera terdapat pada 83 kasus (25,3%) termasuk 4
dengan fraktur dan 6 perdarahan pada leher. Tidak adanya petechiae pada kebanyakan
penggantungan disebabkan terjadinya obstruksi sempurna dari sistem arteri, sehingga
tidak ada penggumpalan darah pada kepala, tidak ada peningkatan tekanan, sehingga

29
tidak terdapat petechiae. Kekeringan saliva yang kental terkadang mengalir dari sudut
mulut turun ke dada. Cairan bercampur darah mungkin terdapat pada lubang hidung.
Rendahnya insidens fraktur pada organ leher, yang diamati oleh salah satu penulis
(VSMD) dan juga diamati oleh Feigin. Pada suatu penelitian retrospektif terhadap 307
kasus bunuh diri dan kecelakaan penggantungan; fraktur pada organ leher hanya terdapat
pada 9,5% (29) kasus. Pada 3 kasus, terdapat fraktur pada servikal C1-2, C3-4, dan C6-7
(atau berhubungan dengan fraktur pada kartilago thyroid). 14 kasus dengan fraktur
kartilago thyroid, 9 kasus pada hyoid dan 3 fraktur dari hyoid dan karilago thyroid, tidak
ada individu yang memiliki lebih dari dua fraktur dari organ leher. Fraktur tidak
diasosiasikan dengan ketinggian penggantungan, jenis kelamin, atau lebar jeratan.
Kemungkinan terjadinya fraktur meningkat seiring usia.
Cara terbaik untuk memeriksa interior leher pada kasus kematian karena
pencekikan baik dengan tangan maupun yang disebabkan oleh penggantungan atau
penjeratan, adalah dengan memisahkan visera dari dada dan rongga abdomen dan
kemudian menyingkirkan otak. Setelah drainase dilakukan pada rongga kepala dan dada,
leher sudah dapat dibedah pada lapangan yang relatif bebas-darah. Fraktur kartilago
tiroid, kartilago krikoid atau tulang hyoid hanya dapat dianggap ante mortem bila
terdapat darah pada lokasi fraktur. Menurut pendapat penulis, darah yang hanya dapat
terdeteksi secara mikroskopik pada lokasi fraktur tidak cukup untuk membuktikan
bahwa fraktur tersebut adalah ante mortem.
Pembunuhan dengan penggantungan sangat jarang terjadi. Pada dasarnya tidak
mungkin bagi satu dari dua orang dewasa sehat, yang secara fisik sebanding, untuk
menggantung yang lain kecuali korbannya telah dibuat pingsan atau dibuat tak berdaya
dengan alkohol atau obat-obatan. Pada contoh yang pertama, orang akan mencurigai
suatu pembunuhan berdasarkan luka pada korban. Pada skenario yang kedua, atau bila
korban dilumpuhkan secara cepat oleh dua atau lebih penyerang yang lebih kuat,
mungkin tidak akan terdapat tanda pada korban kecuali tanda jeratan atau kemungkinan
kontusio pada lengan, yang terjadi akibat dikekang secara paksa oleh penyerangnya. Jika
terdapat pula disproporsi kekuatan antara penyerang dengan korban, sebagai contoh,
orang dewasa dan anak-anak atau pria berbadan besar dengan wanita berbadan kecil, juga
memungkinkan untuk menggantung seseorang tanpa tanda-tanda kekerasan. Seseorang

30
dapat pula dijerat terlebih dulu kemudian digantung. Tapi pada contoh ini, tanda pada
lehernya tidak akan berupa konfigurasi klasik penggantungan V-terbalik. Penulis, akan
tetapi, telah menyaksikan bunuh diri dengan penggantungan inkomplit dimana tanda
jeratan bertumpuk dengan laring dan horizontal, tidak mengarah ke atas sampai pada titik
simpul dan membentuk konfigurasi V-terbalik. Untuk mengetahui ada tidaknya
kekerasan yang mungkin tidak terlihat dan untuk memastikan bahwa korban tidak dibius,
pada semua penggantungan yang dinyatakan bunuh diri, screening lengkap toksikologi
sebaiknya dilakukan dan pada kasus tertentu, autopsi lengkap.
Penggantungan akibat kecelakaan biasanya melibatkan anak-anak yang bermain
dan kemudian tergantung atau terjebak dalam tali temali, atau orang dewasa yang
mempraktikkan asfiksia seksual (erotik). Lebih jarang, bayi dapat secara tidak sengaja
menggantung diri mereka sendiri dari dot yang tergantung di sekitar leher mereka atau
terjerat pada mainan yang terletak di atas tempat tidur mereka. Penggantungan akibat
kecelakaan pada bayi dan balita juga telah dilaporkan dengan tali tirai dan gantungan
baju.
Pada semua kematian karena penggantungan, agen kepolisian yang terlibat
seharusnya segera memberitahukan ke kantor kedokteran forensik. Jika korban telah mati,
mayatnya seharusnya tidak diturunkan, sehingga dokumentasi fotografi dan penyelidikan
pada tempat kejadian dapat dilakukan dengan layak. Jeratan sebaiknya tidak dipotong
dari mayat, tapi tetap dibiarkan bersama mayat hingga tiba di kamar mayat. Ketika ahli
forensik melepaskan jeratan dari leher, sebaiknya simpulnya tidak dibuka. Jeratan
sebaiknya dikeluarkan dari kepala atau dipotong tidak pada simpul dan ujung potongan
disatukan dengan tape.
Penelitian telah dilakukan pada penggantungan mayat. Antara tahun 1817 dan
1855, Casper melakukan 23 eksperimen untuk menentukan efek dari penggantungan pada
mayat. Ia menyimpulkan bahwa tanda jeratan yang terlihat pada leher yang terjadi ketika
masih hidup dapat dihasilkan oleh penjeratan yang dilakukan pada leher dalam waktu 2
jam atau setidaknya segera setelah kematian. Jadi, tanda jeratan pada leher tidak selalu
berarti bahwa seseorang masih hidup saat digantung.
Pada hukuman gantung, kematian disebabkan oleh fraktur-dislokasi pada vertebra
servikal atas dengan putusnya corda. Simpulnya diletakkan di bawah telinga kiri atau,

31
lebih jarang, di bawah dagu. Suatu pintu perangkap dibuka dan tahanan jatuh sampai ke
suatu jarak tertentu yang diakibatkan berat badannya. Bila tahanan tersebut jatuh pada
jarak yang insufisien, ia akan tercekik dan bukannya mematahkan lehernya; bila ia jatuh
terlalu jauh, maka ia terdekapitasi. Pada hukuman gantung yang dilakukan dengan benar,
korban akan berhenti secara tiba-tiba pada akhir jatuhnya ketika kepala korban mendadak
tersentak dan terayun ke belakang, mematahkan tulang punggungnya. Idealnya, ia akan
memiliki fraktur hangman klasik – fraktur pada pedikel C2 dengan arkus posterior tetap
terfiksasi pada C3. C1, prosessus odontoid dan arkus anterior C2 tetap berartikulasio
dengan dasar dari tengkorak. Pola luka ini disebabkan oleh hiperekstensi dan distraksi
dan menyebabkan luka pada korda C2-3. Fraktur klasik ini tidak selalu ada pada
penggantungan. Pada studi antropologi terhadap enam kasus hukuman gantung yang
dilakukan oleh Spencer dkk., terdapat fraktur pada tulang hyoid, prosessus styloid, dan
tulang occipital seperti halnya corpus C2 dan prossessus transversus C1-3 dan C5.24
Pada laporan yang dibuat oleh Hartsborne dan Reay mengenai dua kasus
penggantungan, mereka menemukan laserasi bilateral arteri vertebral yang berhubungan
dengan perdarahan subarachnoid basiler; fraktur pada hyoid dan kartilago thyroid dan
perdarahan sampai ke otot servikal. Pada salah satu kasus, terdapat pula fraktur atau
putus totalnya corda, robekan bilateral karotid intima dan hematoma subdural. Pada kasus
ini, korban jatuh sejauh 5,5 kaki, dengan simpul tergelincir ke daerah subaural. Pada
kasus yang lain, korban jatuh sejauh 7 kaki, dengan simpul tetap pada daerah
subaurikular.
Pada hukuman gantung, kesadaran hilang seketika, meskipun jantung dapat terus
berdetak sampai 8-20 menit dan mungkin terdapat kontraksi otot-otot wajah, regangan
dan konvulsi dari anggota gerak dan tubuh, serta gerakan respiratori kasar dari dada. Pada
penggantungan yang bukan hukuman gantung, dimana mekanisme kematiannya adalah
penjeratan, bila terjadi penggantungan sempurna dengan oklusi kedua arteri karotid dan
vertebral, berdasarkan eksperimen Rossen dkk., korban akan kehilangan kesadarannya
dalam 5-11 detik, dengan kehilangan setengah kesadarsn dalam 6 sampai 6,5 detik. Bila
penggantungan hanya menyebabkan oklusi arteri karotid, ketidaksadaran mungkin tidak
akan terjadi dalam 10-15 detik.

32
Gambar 2.6 Marbling.

Gambar 3.13 Meningococcemia. Rash bintik eritematous dengan petechiae dan purpura.
Gambar 4.9 Laserasi dengan jembatan
jaringan.

Gambar 4.6 Pola kontusi yang


disebabkan oleh ujung senter.

33
Gambar 5.7 Luka avulsif pada paha kiri dengan putusnya arteri femoral.

Gambar 6.8 Fraktur pada tengkorak pada fossa posterior kiri dengan kontusi coup pada
hemisfer serebellar kiri dan kontusi kontracoup pada kutup temporal
kanan. Selamat selama delapan hari.

34
Gambar 6.11 (A) Fraktur tulang temporal skuamosa dengan laserasi pada arteri
meningeal media dan (B) dan (C) hematoma epidural.

Gambar 7.15 Luka tikam karena golok


dengan tepi yang
bergerigi.

35
Gambar 8.11 Infant berusia 5 bulan yang terbunuh oleh phython. Tidak ada petechiae,
perdarahan, atau memar pada tubuh. Bekas tusukan kecil pada wajah
dengan konfigurasi semisirkular dan disebabkan oleh gigi phython yang
seperti jarum.

Gambar 8.24 Pencekikan dengan bekas kuku dan goresan pada sisi leher.

Gambar 9.11 Luka bakar asam pada wajah akibat bateri yang ruptur.

36
Gambar 9.19 Anak berusia 3 tahun yang terlindas truck, dengan jejak ban pada
punggung.

Gambar 13.6 Hematoma epidural termal postmortem.

Gambar 13.7 Luka bakar postmortem dengan pinggiran eritematous.


Gambar 16.1 Luka bakar listrik pada
tangan yang
memperlihatkan titik
entry.

37
Gambar 19.2 Gelembung udara pada vena epicardial jantung pada kematian karena
emboli udara.

Penjeratan
Pada penjeratan, tekanan yang terjadi pada leher dihasilkan oleh konstraksi tali
yang menjadi erat oleh karena kekuatan lain selain berat badan. Pada dasarnya semua
kasus penjeratan merupakan pembunuhan. Menurut pengalaman penulis, penjeratan
merupakan metode yang paling umum untuk pembunuhan asfiksia, meskipun insidens
pencekikan juga hampir sama banyaknya. Pada penelitian terhadap 133 kasus
pembunuhan yang disebabkan asfiksia, penjeratan mengakibatkan 48 kematian, dan
pencekikan 41 kematian. Pada penjeratan, wanita merupakan korban yang predominan,
meskipun tidak sebanyak pada kasus pencekikan. Dari 48 korban penjeratan, 27
diantaranya adalah wanita dan 21 sisanya adalah pria. Menurut pengalaman penulis,
motif paling umum penjeratan pada wanita adalah perkosaan. Bunuh diri dan kecelakaan
jarang terjadi. Mekanisme kematian sama dengan pada penggantungan – oklusi pada
pembuluh darah yang menyuplai darah dan oksigen ke otak. Dengan kompresi konstan
arteri karotid, kesadaran akan hilang dalam 10-15 detik.
Kontras dengan kematian karena penggantungan, wajah dan leher di atas tanda
bekas jeratan tampak mengalami kongesti yang jelas, dengan perdarahan skleral konfluen
dan petechiae pada konjungtiva. Petechiae dapat pula muncul pada kulit wajah, terutama
daerah periorbital. Menurut pengalaman penulis, petechiae ditemukan pada 86% dari
kasus penjeratan. Terdapatnya kongesti wajah petechiae dan pedarahan sklera pada
penjeratan terjadi karena, berbeda dengan penggantungan, tidak terdapat oklusi sempurna
dari kaskularisasi. Darah terus mengalir ke kepala melalui arteri vertebralis. Tetapi tidak

38
dapat lolos karena kompresi sistem vena. Hal ini menyebabkan peningkatan tekanan
intravaskular, kongesti dan ruptur dari pembuluh darah.
Penjerat yang digunakan bervariasi mulai dari kabel listrik, dasi, tambang, kabel
telefon hingga seprei dan selang. Penampakan tanda bekas jeratan pada leher dianggap
cukup bervariasi, tergantung bahan penjerat, besarnya resistensi korban, dan besarnya
kekuatan yang digunakan oleh penyerangnya. Tanda bekas jeratan dapat pucat, sulit
dilihat, atau lembut, contohnya handuk dan dilepaskan segera setelah kematian (gambar
8.21). Bila yang digunakan adalah penjerat yang kecil dan kuat akan terdapat tanda yang
sangat menonjol dan dalam yang mengelilingi leher. Awalnya berupa penampakan
berwarna kuning yang kemudian berubah menjadi coklat kehitaman.
Pada penjeratan, kontras dengan penggantungan, tanda bekas jeratan biasanya
mengelilingi leher secara horizontal yang terkadang berada di atas laring atau trakea
bagian atas (gambar 8.22). Bila yang digunakan suatu senar atau kabel, terkadang
mengelilingi leher secara sempurna. Mungkin terdapat alur yang terputus, biasanya pada
bagian belakang leher, di mana tangan menggenggam jeratan dan menariknya pada titik
ini. Selain tanda jeratan abrasi dan kontusi di kulit leher biasanya tidak terlihat. Mereka
dapat terlihat, bila si penyerang menempatkan tangannya di bawah dan di sekitar jeratan,
memutarnya, mengeratkannya pada leher, atau bila korban mencakar lehernya, sebagai
upaya untuk melepaskan jeratan dan mengurangi tekanan.

39
Gambar 8.21 (A) Penjeratan menggunakan tali dari kain. Tanda jeratan padaaspek
anterior dan lateral leher. (B) Close up yang memperlihatkan pola kain
yang berorientasi vertikal. (C) Tanda jeratan yang sulit dikenali pada
seorang gadis yang dijerat denan T-shirt. (bersambung).

40
Gambar 8.21 (sambungan) (D dan E) Pria tua yang dijerat dengan handuk.

Bila terdapat lebih dari satu gulungan penjerat pada leher, mungkin akan terdapat memar
pada kulit bila penjerat mencubit kulit di antara kedua gulungan. Cairan edema mungkin
terdapat pada hidung.
Luka pada struktur internal leher adalah pengecualian dibanding aturan pada studi
terhadap 48 kematian karena penjeratan, fraktur hyoid dan kartilago tyroid hanya terdapat
pada 6 kasus (12,5% dari total kasus). Lima di antaranya pria (23,8%) dan satu (3,7%)
wanita. Secara keseluruhan terdapat 12 fraktur pada ke-6 kasus ini, tujuh pada hyoid dan
5 pada kartilago tyroid, empat dari korban memiliki fraktur pada baik thyroid dan hyoid,
dua di antaranya hanya hyoid. Fraktur pada kartilago thyroid semuanya melibatkan kornu
superior.

41
Gambar 8.22 Korban dijerat dengan (A) kabel telefon dan (B) tali sepatu boot. Kongesti
wajah dengan beberapa petechiae. Tanda jeratan berorientasi horizontal
pada laring, mengelilingi leher.

Bunuh diri dengan penjeratan sangat jarang. Pada kasus tersebut, korban biasanya
mengikat penjerat dengan erat disekeliling leher (gambar 8.23 A). Karena beberapa
individu masih tetap sadar 10-15 detik setelah oklusi sempurna arteri carotid, mereka
punya cukup waktu untuk mengikat setidaknya satu atau lebih simpul. Bukannya
mengikat simpul, beberapa individu melingkarkan jeratan dengan erat beberapa kali pada
leher, mengamankan letaknya dengan menumpuk gulungan. Individu lain menggunakan
metode tourniquet; penjerat dilingkarkan secara longgar pada leher, tersimpul, dan
kemudian dieratkan dengan memasukkan tongkat di antara penjerat dan kemudian
memutarnya beberapa kali. Pakaian atau berat badan individu itu sendiri menahan
tongkat pada tempatnya, mempertahankan ”tourniquet”. Pada satu kasus, seseorang
menggunakan tali plastik dengan kunci untuk menjerat dirinya sendiri. (gambar 8.23B).
Kecelakaan penjeratan jarang terjadi. Hal ini terjadi ketika dasi, scraf, kaos atau
artikel lain dari pakaian yang terjerat pada mesin yang berjalan. Isadora Duncan, si penari,
mati karena kecelakaan penjeratan saat scraf yang dikenakannya terjerat pada roda
mobil.27 Kematian lain melibatkan sepeda motor, mobil salju, elevator ski dan alat pijat.
27

42
Meskipun terjadi dekomposisi, tanda jeratan cenderung terjaga dan tetap dapat
dikenali. Tanda jeratan tidak mengalami dekomposisi diduga disebabkan karena penjerat
telah mengkompresi pembuluh darah dibawahnya, menghalangi akses ke daerah tersebut
oleh bakteri putrefikasi. Pada bayi, orang tua, dan tubuh yang berdekomposisi, dapat
terdapat tanda pseudo-jeratan yang menunjukkan suatu penjeratan.

Gambar 8.23 (A) Penjeratan bunuh diri menggunakan stoking. Usaha bunuh diri ke
enam. (B) Penjeratan bunuh diri menggunakan tali plastik berkunci.

43
Pada bayi, tanda kerutan pucat diantara lipatan kulit leher yang bertumpuk dapat
disangka sebagai bekas jeratan. Hal ini menjadi lebih rumit pada neonatus dengan
ditemukannya petechiae, yang normalnya dapat ditemukan pada neonatus yang
dilahirkan per vagina akibat kompresi pada dada.
Suatu gambaran serupa dari tanda psudo-jeratan dapat dilihat pada orang lanjut
usia – tanda kerutan pucat akibat lipatan kulit yang bertumpuk, petechiae pada sklera dan
konjungtiva (disebabkan oleh cardiac failure) – dengan tambahan perdarahan
retrofaringeal. Petechiae sering dijumpai pada acute cardiac failure, suatu sebab atau
mekanisme kematian yang tidak jarang dijumpai pada individu yang telah lanjut usia.
Kasus yang dapat terpikirkan adalah pada wanita berusia lanjut yang ditemukan mati di
tempat tidur dengan sebuah bantal yang menyangga kepalanya, sehingga dagunya berada
di atas dada. Diketahui adanya riwayat penyakit jantung yang kronik. Ketika tubuhnya
diperiksa di ruangan kedokteran forensik, ditemukan suatu tanda horizontal yang
melintang pada bagian depan leher yang mensimulasi suatu jeratan. Terjadi kongesti pada
wajah di atas tanda itu dan terdapat petechiae pada sklera, konjungtiva dan kulit
periorbital, sebagaimana perdarahan retrofaringeal. Ketika tubuh diautopsi, seluruh
keadaan dan gambaran keadaan pada saat kematian belum diketahui. Sebagai contoh,
tidaklah diketahui bahwa kepala korban telah disangga, bahwa terdapat riwayat cardiac
failure yang kronik, dan bahwa wanita tersebut mati pada suatu ruangan tanpa jendela
dan dengan satu pintu masuk yang dihalangi oleh sebuah ranjang dimana suaminya tidur.
Kematian, kenyataannya, disebabkan oleh penyakit arteri koronernya yang telah
berlangsung lama. ”Tanda jeratan” merupakan suatu artefak – suatu kerutan yang
diakibatkan oleh penempatan kepala. Tanda pseudo-jeratan juga nampak pada tubuh yang
mengalami dekomposisi dengan kerah atau pakian lain yang terlalu ketat pada leher.
Tubuhnya, seiring dekomposisi, membengkak disekitar garmen yang melekat erat,
sehingga menyebabkan alur yang dalam yang menyerupai suatu tanda jeratan.
Pada korban pembunuhan dengan penjeratan, rambut terkadang ditemukan
tergenggam ditangan. Hal ini sebaiknya diperhatikan dan diselidiki. Sampel kontrol dari
rambut korban diambil untuk perbandingan, karena rambut yang ditemukan dalam tangan
korban terkadang ternyata adalah milik korban. Hapusan atau potongan dari kuku (yang
terakhir lebih disukai) sebaikanya diambil untuk mencari jaringan pelaku pada bagian

44
bawah kuku. Sayangnya, tidak seperti pada fiksi, hapusan atau potongan seperti ini secara
tradisional hanya sedikit membantu, dengan jaringan asing jarang yang dapat dikenali.
Dengan tehnik STR baru dan DNA mitokondrial, hal ini dapat berubah, dengan lebih
banyak keberhasilan dalam mendeteksi jaringan dari penyerang pada potongan kuku.

Pencekikan
Pencekikan dihasilkan dari tekanan dari tangan, lengan bawah, atau anggota gerak
lain terhadap leher, menekan struktur internal dari leher. Mekanisme kematiannya
disebabkan oleh oklusi dari pembuluh darah yang mensuplai darah ke otak seperti arteri
karotid. Oklusi dari saluran pernafasan mungkin memiliki peranan minor, jika ada, dalam
menyebabkan kematian. Pada dasarnya semua kasus pencekikan merupakan pembunuhan.
Menurut pengalaman penulis, pencekikan merupakan metode terbanyak kedua pada
pemubuhan dengan asfiksia. Pada studi oleh DiMaio terhadap 41 kematian akibat
pencekikan, predominan wanita, dengan rasio wanita banding pria 1,9 banding 1 (27
banding 14).26 Dari ke 27 wanita yang dicekik, motifnya adalah perkosaan pada 14 kasus
dan kekerasan rumah tangga sebanyak 10 kasus.
Seseorang tidak dapat melakukan bunuh diri dengan pencekikan, sebab, segera
setelah kehilangan kesadaran, tekanan terlepas dan kesadaran akan kembali. Suatu
genggaman erat dapat menjadi pencekikan jika dipertahankan cukup lama.
Terkadang, diklaim bahwa kematian yang diduga akibat pencekikan pada individu
yang sehat adalah tidak disengaja dan diakibatkan oleh reaksi vasovagal (reflex cardiak
death) yang terjadi akibat sentuhan, pegangan, atau serangan pada leher. Hal ini
merupakan teori yang menarik, tetapi tidak terbukti secara objektif. Mekanisme kematian
pada kasus seperti ini dapat berupa aritmia yang disebabkan oleh stimulasi sinus karotid.
Sinus karotid merupakan daerah fokal pembesaran arteri karotid dimana ia bercabang
menjadi arteri karotid eksternal dan internal. Penekanan atau stimulasi dari sinus karotid
menyebabkan peningkatan tekanan darah pada sinus-sinus ini dengan hasil berupa
perlambatan heart rate (bradikardia), dilatasi pembuluh darah (vasodilatasi), dan
penurunan tekanan darah. Tekanan pada arteri karotid di bawah sinus mengurangi
tekanan darah dalam sinus dengan jalan mengurangi jumlah darah yang mengalir di
dalamnya. Hal ini menyerupai hipotensi atau penurunan suplai darah akibat perdarahan

45
atau shock, menyebabkan jantung berdetak lebih cepat (takikardia), pembuluh darah
berkonstriksi (vasokostriksi), dan peningkatan tekanan darah. Hal ini menjelaskan fakta
bahwa, sebagaimana pada kebanyakan kasus pencekikan terjadi bradikardi, vasodilatasi ,
dan penurunan tekanan darah, pada kasus tertentu, bila tangan terletak lebih ke bawah
dari leher, mungkin akan terjadi takikardia, vasokonstriksi, dan peningkatan tekanan
darah.
Pada individu normal, tekanan pada sinus karotid menyebabkab efek minimal
dengan penurunan heart rate kurang dari 6 kali per menit dan hanya sedikit penurunan
tekanan darah (kurang dari 10 mmHg).28 Beberapa individu, akan tetapi, memperlihatkan
hipersensitivitas ekstrim terhadap stimulasi sinus karotid. Pada individu tersebut, terjadi
perlambatan pada jantung dan aritmia kardiak yang bervariasi dari aritmia ventrikel
hingga stand-still cardiak dan hipotensi. Terdapat laporan bahwa memalingkan leher
pada berbagai posisi atau kerah yang tinggi dan ketat telah menyebabkan rasa berputar
dan pingsan.28,29 Beberapa artikel merujuk pada kasus stimulasi sinus karotid yang telah
dibuktikan menyebabkan bradikardia, berlanjut menjadi serangan jantung dan kematian.29
Review dari laporan kasus mengindikasikan bahwa individu ini merupakan lanjut usia
yang menderita dari beberapa penyakit kardiovaskuler berat yang dapat menyebabkan
kematian mendadak.
Pada pencekikan, biasanya terlihat kongesti dan sianotik pada wajah, dengan
petechiae pada konjungtiva dan sklera. DiMaio menemukan 89% dari kasusnya memiliki
petechiae pada konjungtiva atau pada sklera.26 Petechiae juga dapat ditemukan pada kulit
wajah. Petechiae paling mudah terlihat pada konjungtiva bulbar dan saccus konjungtiva,
kulit pada kelopak mata atas dan bawah, jembatan hidung, alis dan kedua pipi.
Perdarahan konjungtiva dapat lebih lebar hila korban melawan dan penyerang merespon
dengan meningkatkan tekanan pada leher. Petechiae disebabkan oleh ruptur sekunder
vena dan kapiler akibat peningkatan tekanan intravaskuler sebagai hasil dari obstruksi
venous return (vena jugularis interna) yang digabungkan dengan obstruksi inkomplit dari
arteri, yang menyebabkan arteri vertebralis terus menyuplai darah ke otak. Tanda khas
dari asfiksia – sianosis dan petechiae multipel – paling terlihat di atas tempat penekanan
pada leher. Akan tetapi, petechiae tidak patognomonis untuk kematian karena asfiksia.
Mereka juga ditemukan pada penyakit lain, contohnya, acute heart failure. Pada muntah

46
dan batuk hebat, terkadang petechiae dapat ditemukan. Jika tubuh tetap pada posisi tegak
hingga periode waktu yang lama, hingga hampir terjadi dekomposisi, petechiae post
mortem dapat terbentuk dalam pendistribusian livor mortis. Petechiae ini dapat muncul
pada kulit, konjungtiva dan sklera. Terkadang, pada kasus pencekikan, terjadi edema
pulmonum, dengan cairan edema yang berbuih terlihat dari lubang hidungnya.
Insidens fraktur pada pencekikan tinggi bila dilakukan diseksi leher yang hati-hati.
Pada 41 kasus pencekikan yang dipelajari oleh DiMaio, insidens fraktur adalah 68,1%
(28 kasus) – 100% pada pria (14 dari 14 kasus) dan 52% (14 dari 27 kasus) dari wanita. 26
Harm dan Rajs melaporkan insidens 70% dari 20 kasus mereka: Simpson dan Knight
92% dari 25 kasus.18,30 Pada kasus DiMaio, dari ke 14 wanita dengan fraktur, semuanya
mengalami fraktur hioid, baik itu sendiri (5 kasus) atau dikombinasi dengan kartilago
thyroid (4); dikombinasi dengan krikoid (3) atau kombinasi dengan baik thyroid dan
krikoid (2). Dari 14 pria, 10 mengalami fraktur hioid, baik sendiri (4 kasus) atau dengan
kombinasi dengan struktur lain (6); dua memiliki fraktur yang terbatas pada kartilago
thyroid; dua pada kartilago krikoid. Terdapat 60 fraktur terpisah pada ke 28 kasus
DiMaio.

Gambar 8.24 (A & B) Pencekikan dengan bekas kuku dan goresan pada sisi leher.

47
Gambar 8.25 Wanita berusia 38 tahun. Fraktur bilateral dari cornu superior kartilago
thyroid dan fraktur kartilago krikoid. Tidak ada bukti eksternal pencekikan.
Tanda horizontal pada leher adalah bekas operasi.

Fraktur unilateral dari hioid lebih dominan dibanding fraktur bilateral 3 banding 1. Pada
fraktur unilateral pada hioid, fraktur pada sisi kiri mendominasi 11 banding 7. Semua
fraktur pada kartilago thyroid melibatkan cornu superior dibanding badan dari thyroid.
Fraktur yang terakhir cenderung vertikal dan biasanya disebabkan oleh pukulan pada
kartilago thyroid.
Karena lokasinya yang tinggi pada leher, tulang hioid relatif aman dari pukulan
langsung kecuali leher ditengadahkan. Pada pukulan langsung pada leher, fraktur pada
hioid umumnya hanya terlihat bila berhubungan dengan fraktur mandibula. Bentuk U
pada hioid membuatnya rentan terhaap fraktur karena kompresi. Jadi, fraktur pada hioid,
hanya terlihat pada strangulasi. Apakah ujung fraktur tulang hioid mengarah kedalam
atau keluar tidaklah penting.
Laring, terletak di depan vertebra servikal keempat hingga keenam, dilindungi
pada garis tengah oleh kulit dan dua lapis fascia. Sehingga membuatnya rentan terhadap
trauma leher langsung, seperti, pukulan pada leher. Jadi, fraktur pada badan kartilago
tyroid dapat dilihat pada pukulan pada leher. Kompresi lateral dari laring, sebagaimana
pada pencekikan, menyebabkan fraktur pada cornu tyroid. Fraktur pada kartilago krikoid
terjadi paling sering bila kartilago tersebut ditekan dari arah anteroposterior terhadap
columna vertebral. Fraktur ini, biasanya vertikal, mungkin terjadi pada garis tengh atau
lateral.
Pada pencekikan, biasanya terdapat trauma pada baik aspek eksternal maupun
internal dari leher. Oleh karena cara leher dipegang, ujung dari keempat jari beserta
kukunya biasanya menusuk leher. Tergantung dari panjang, ketajaman dan regularitas

48
dari kuku, sehingga dapat menyebabkan abrasi (luka lecet) linier atau semilinier, goresan,
dan garukan (gambar 8.24). Ujung jari dapat mengakibatkan kontusi atau tanda-tanda
eritematous. Tekanan akibat ibu jari cenderung tidak berada pada ujung, tapi pada
bantalannya. Sehingga, pada ibu jari bekas kuku jarang terlihat, meskipun mungkin
terdapat kontusio.
Berbagai metode dapat digunakan pada pencekikan. Yang paling sederhana
melibatkan satu tangan dan menyerang korban dari depan. Pada metode penyerangan ini,
terlihat adanya kontusio kecil dan tanda eritematous yang dihubungkan dengan bekas
kuku pada satu sisi bagian depan leher yang disebabkan oleh jari. Suatu tanda eritematous
atau kontusi dan, lebih jarang, bekas kuku yang disebabkan oleh ibu jari, mungkin
terdapat pada sisi lain dari leher. Bila yang digunakan adalah tangan kanan, bekas ibu jari
berada pada sisi kanan dari leher. Bila yang digunakan adalah dua tangan dan korbannya
diserang dari depan, biasanya terdapat tanda eritematous dan kontusi atau bekas kuku
pada kedua sisi depan leher, biasanya posterior dari m. sternocleidomastoideus. Suatu
variasi dari penyerangan dengan dua tangan pada bagian depan leher melibatkan
penggunaan tekanan dari kedua ibu jari pada aspek sentral dari leher. Disini, penyerang
menekan kedua jempolnya sepanjang sisi laring dan trachea. Hal ini mengakibatkan tanda
eritematous atau kontusi pada aspek anterior leher. Daerah perdarahan dapat pada bidang
parasagital bilateral atau konfluen pada garis tangah. Bekas kuku, kontusi, dan tanda
eritematous yang disebabkan oleh jari akan berada pada aspek lateral dari leher.
Bila digunakan satu atau dua tangan dan korban diserang dari belakang, tanda
eritematous atau kontusi akibat ujung jari, sebagaimana bekas kuku, umumnya ditemukan
pada bagian depan leher diantara laring dan sternocleidomastoideus. Dengan satu tangan,
tanda tersebut hanya akan ada pada satu sisi leher; dengan dua tangan, pada kedua sisi.
Memar akibat ibu jari akan nampak pada bagian belakang leher.
Metode yang lebih jarang dari strangulasi adalah menyerang dari depan
menggunakan telapak tangan untuk memberikan tekanan pada leher tanpa menggunakan
ujung jari. Penulis telah melihat hal ini pada beberapa kesempatan, semuanya melibatkan
orang dewasa yang tidak sadar akibat intoksikasi alkohol akut, atau pada anak-anak yang
lebih muda. Tidak terdapat bukti dari trauma eksternal yang tidak berhubungan dengan
ujung jari atau kuku. Pada semua kecuali satu kasus, terdapat kongesti pada wajah dan

49
petechiae pada konjungtiva dan sklera, sebagaimana petechiae pada kulit periorbital.
Tidak ditemukan adanya perdarahan internal dan tidak terdapat kerusakan pada struktur
internal leher.
Bekas kuku dapat diklasifikasikan menjadi tiga tipe menggunakan klasifikasi
Harm dan Rajs: tanda impresi, bekas cakar, dan tanda goresan. Tanda impresi
berupa ”garis kurva reguler, seperti koma, serupa tanda eksklamasi, seperti tanda dash,
atau oval, triangular, luka epidermis rektangular berukuran panjang 10 – 15 mm dan lebar
hingga beberapa milimeter.”18 Mereka terjadi ketika ujung jari menusuk kulit pada sudut
yang tepat sehingga terjadi penetrasi kuku ke epidermis hingga dermis. Pada kasus kurva
imprint, permukaan konkaf tidak selalu berhubungan dengan permukaan konkaf pada
kuku, tetapi mungkin dapat berupa suatu ”mirror image”.
Bekas cakar merupakan luka berbentuk-U pada baik epidermis dan dermis,
dengan panjang yang bervariasi dari 3-4 mm hingga beberapa cm. Pada bekas cakar,
kuku menusuk kulit pada sudut tangensial, memotong epidermis dan dermis secara
tangensial dan memisahkannya dari lapisan dibawahnya. Tanda goresan merupakan
abrasi linier yang paralel atau pita eritematous pada epidermis dengan lebar hingga 1,0
cm, disebabkan oleh kuku yang menusuk epidermis pada sudut vertikal dan kemudian
ditarik sepanjang kulit menyebabkan luka yang memanjang.
Sementara, pada kebanyakan pencekikan, terdapat bukti dari baik luka eksternal
dan internal pada leher, pada beberapa kasus, tidak terdapat luka, baik eksternal ataupun
internal. Salah seorang penulis (VDM), selama periode lebih 3 bulan, melihat tiga wanita
yang telah dicekik. Yang pertama, sama sekali tidak terdapat bukti, baik eksternal
maupun internal; yang kedua memperlihatkan kongesti pada wajah dengan petechiae
pada konjungtiva dan kulit wajah, tapi tidak terdapat bukti adanya luka pada leher, baik
eksternal maupun internal; dan korban ketiga mengalami abrasi dan goresan pada kulit
dengan perdarahan ekstensif hingga ke otot-otot leher. Ketiga wanita tersebut dibunuh
oleh individu yang sama. Semuanya memiliki kadar alkohol dalam darah lebih dari 0,300
g/dL. Modus operandi dari pelaku adalah menemui seorang wanita di sebuah bar,
mentraktirnya minuman keras hingga wanita tersebut mengalami intoksikasi berat,
kemudian mengajak wanita itu pergi dan melakukan intercourse seksual. Pelaku
kemudian mencekik wanita tersebut. Pada saat strangulasi dilakukan, wanita tersebut

50
sedang tidak sadar akibat intoksikasi akut alkohol, sehingga hanya diperlukan sejumlah
kecil tekanan. Pelaku meletakkan tangannya di atas leher dan mendorongnya ke bawah,
menekan pembuluh darah pada leher. Pada kasus yang terakhir, individu tersebut
memperoleh kesadarannya dan melawan, sehingga menyebabkan luka. Pelaku mengakui
telah membunuh sejumlah wanita lain dengan cara yang sama selama beberapa tahun
terakhir di sejumlah negara bagian.
Pada pencekikan, korban biasanya wanita. Bila korbannya pria, biasanya dalam
kondisi intoksikasi sangat berat. Disarankan bahwa, pada semua pencekikan, dilakukan
screening toksikologi lengkap.
Inkontinensia sfingter dipikirkan merupakan suatu karakteristik pada strangulasi.
Harm dan Rajs menempatkan pertanyaan ini pada studi terhadap 37 kasus kematian dan
79 korban yang selamat dari strangulasi.18 Dari ke 37 korban meninggal, 60% (22)
diantaranya memiliki kandung kemih yang kosong, dibandingkan dengan 14% dari 54
autopsi terkontrol yang penyebab kematiannya selain dari kekerasan. Dari ke 79 korban
yang selmat dari asfiksia, 5% (4) mengalami inkontinensia sfingter. Jadi inkontinensia
sfingter, meskipun sering pada strangulasi, bukanlah penemuan yang absolut.
Pada kasus strangulasi, keberadaan fraktur laring atau hioid hanya
mengindikasikan bahwa tekanan atau kekuatan telah diberikan pada leher. Fraktur ini
sendirinya tidak dapat mengakibatkan kematian. Mereka hanya penanda dari trauma pada
leher. Penulis telah melihat kasus dimana seseorang telah mencoba mencekik seseorang,
menyebabkan terjadinya fraktur kartilago thyroid atau hioid, hanya untuk menyerah dan
menikam atau memukuli korban hingga mati.
Seseorang harus yakin bahwa fraktur tersebut ante mortem, karena tidak jarang
terjadi fraktur laring pada saat dilakukan autopsi. Perbedaan karakteristik dari fraktur
antemortem adalah perdarahan pada tempat fraktur. Perdarahan ini dapat terlihat dengan
jelas. Perdarahan yang hanya terlihat secara mikroskopik dapat merupakan artefak
postmortem. Dalam menangani kasus yang dicurigai merupakan strangulasi, seseorang
harus sangat berhati-hati mengenai interpretasi perdarahan retrofaringeal dan
paravertebra servikal. Perdarahan pada bagian depan dan samping laring pada dasarnya
merupakan diagnosis terjadinya trauma seperti strangulasi, pukulan, atau suatu garis
lintravenous. Hal ini bukanlah kasus untuk perdarahan retroesofageal dan paravertebra

51
servikal. Hal ini hampir selalu merupakan artefak dan sering dijumpai pada kematian
wajar, terutama pada individu lanjut usia yang sekarat seperti pada kematian karena
hipoksia.2,31 Keberadaan petechiae pada mukosa epigglotis atau laring bukanlah suatu
diagnosis strangulasi atau bentuk asfiksia spasifik apapun.
Cedera pada Faring dan Laring yang Disebabkan oleh Intubasi Resusitatif
Cedera resusitasi pada faring dan laring sekunder akibat intubasi dapat
menyerupai cedera yang diakibatkan strangulasi dan penekanan leher. Pada suatu studi
yang dilakukan terhadap 50 individu dengan intubasi endotrachea sebelum mencapai
ruang gawat darurat, dalam usaha resusitasi yang tidak berhasil, 37 (74%) diantaranya
mengalami cedera pada saluran pernafasan akibat intubasi.32 Cedera pada mulut terdiri
dari kontusi fokal, laserasi, dan abrasi fokal dari bibir dan mukosa bukal. Cedera pada
orofaring posterior dan laringofaring berupa kontusi pada basal lidah, kontusi pada
epiglotis, kontusi pada resesus piriformis, dan laserasi pada epiglotis (satu kasus). Cedera
pada laring (32 kasus) termasuk kontusi dan petechiae pada mukosa sebagaimana pada
tujuh kasus dimana terdapat perdarahan pada otot superfisial dan dalam dari laring.
Sebagaimana telah tercatat sebelumnya, petechiae pada epiglotis, laring dan trachea
bukanlah suatu penanda diagnosis. Sehubungan dengan perdarahan pada otot-otot leher,
Raven dkk. tidak memberikan lokasi tepatnya dari perdarahan ini dan seberapa luas. 32
Pada bagian eksternal, individu akan memiliki abrasi kutaneus pada leher pada dua kasus;
petechiae fasial pada tiga kasus dan petechiae konjungtiva pada sepuluh kasus.
Terdapatnya petechiae diduga disebabkan oleh kompresi dada saat resusitasi.
Cedera pada Pelaku Strangulasi
Artikel Harm dan Rajs dianggap tidak biasa sebab, tidak hanya memperhatikan
karakteristik dan pola luka pada korban pada baik pencekikan maupun penjeratan, tetapi
juga mendokumentasikan luka pada penyerang.18 Penulis mempelajari 37 kasus
mematikan dari strangulasi – 20 pencekikan, 12 penjeratan, dan lima pencekikan dan
penjeratan. Pada 32 kasus, pelakunya telah diketahui. 20 diantaranya diperiksa untuk
cedera yang dialami. Dari jumlah ini, 13 (65%) diantaranya menunjukkan total 98 luka.
Menariknya, ada atau tidaknya luka defensif pada tubuh korban tidak berhubungan
dengan keberadan luka pada pelaku. Jadi, dari korban yang dibunuh oleh ke 13 pelaku
yang menunjukkan bukti adanya luka, enam diantaranya memiliki luka defensif pada

52
tangan dan lengan, sementara tujuh tidak menunjukkan adanya luka sehingga tidak
terdapat indikasi adanya perlawanan walaupun luka pada pelaku mengindikasikan bahwa
mereka telah melakukan perlawanan.
Bekas kuku (impresi, bekas cakaran, dan goresan) menyumbangkan 82% dari
luka yang timbul pada ke 13 penyerang. Sisanya 18% tidak spesifik. Sebelas (85%) dari
penyerang memiliki 2 hingga 26 bekas kuku. Tujuh puluh persen dari bekas kuku ini
pada 10 dari 13 penyerang terdapat pada punggung tangan dan lengan bawah dan
dominan impresi. Sebagian besar bekas kuku terkonsentrasi pada bagian belakang dari
jari telunjuk dan ibu jari. Tempat luka sekunder adalah wajah dan bahu kanan.
Bila distribusi luka pada pencekik dibandingkan dengan yang diterima pada
pemerkosa yang tidak mencekik korbannya, ditemukan bahwa lesi paling banyak pada
pemerkosa adalah goresan paralel pada tubuh akibat kuku. Bekas kuku (kebanyakan
goresan dan bekas cakaran) lebih sering pada wajah dan leher pada pemerkosa dan luka
nonspesifik lebih sering ditemukan daripada pencekik (47 dibanding 18%).

Asfiksia Kimia
Pada asfiksia kimia, inhalasi dari komponen gas mencegah penggunaan oksigen
pada level seluler. Asfiksian kimia yang paling sering ditemui oleh petugas medis adalah
karbon monoksida. Keracunan karbon monoksida dibahas dalam bab 14.
Hidrogen sianida dan garamnya, kalium dan natrium sianida, merupakan racun
poten yang bekerja cepat. Sianida mengakibatkan hipoksia seluler dengan
mengkombinasikannya dengan atam besi ferri dari sitokrom oksidase intraseluler. Tidak
terdapat efek kumulasi dari ingesti atau inhalasi sianida. Seseorang dapat mati atau
selamat. Garam sianida digunakan pada fotografi, engraving, electroplating, dan
laboratorium kimia. Kebanyakan kematian disebabkan oleh ingesti sianida adalah bunuh
diri dan melibatkan individu yang bekerja di laboratorium dimana sianida digunakan.
Merupakan metode favorit bunuh diri dengan bahan kimia. Garam kimia tidak berbahaya
hingga mereka berkontak dengan asam, pada saat terjadi prodiuksi gas higrogen sianida.
Inhalasi dari gas ini pada ruang kecil, dalam konsentrasi yang sangat tinggi, seperti pada
ruangan bergas, dapat menyebabkan kolaps yang berlangsung cepat dan kematian. Hal ini,
bagaimanapun, merupakan suatu pengecualian. Pada beberapa kasus, diperlukan waktu

53
beberapa menit untuk mati setelah menghirup gas sianida. Bahkan di kamar kematian
Nazi, dimana gas sianida murni dalam jumlah besar dipompakan ke dalam ruang tertutup,
diperlukan beberapa menit untuk menyebabkan kematian. Ingesti garam sianida dapat
menyebabkan kematian yang cepat bila garam tersebut bertemu dengan asam lambung
dan perut dalam kondisi kosong. Dalam kondisi lambung yang penuh, mungkin akan
terjadi penundaan beberapa menit sampai satu jam sebelum terjadi kematian. Menurut
Baselt33 dan J. Garriott (personal communication), dosis letal minimum adalah sekitar
200 mg untuk baik natrium atau kalium sianida.
Pada autopsi dari individu yang telah menelan garam sianida, mulut dan
lambungnya memberikan bau yang sulit dibedakan dengan almonds. Sayangnya,
kemampuan untuk dapat mencium sianida diberikan secara genetik dan terdapat
persentase populasi yang signifikan yang tidak dapat mencium bau sianida. Mukosa
gaster dan darah akan berwarna merah terang. Livor mortis biasanya berwarna pink
terang. Pewarnaan ini disebabkan karena sianida menghambat sistem sitokrom oksidase,
yang mencegah penggunaan oksihemoglobin dalam sirkulasi. Oksihemoglobinlah yang
memberikan warna pink terang pada darah, bukan cyanohemoglobin, yang tidak
terbentuk dalam kuantitas yang signifikan dalam hidup. Jika larutan pekat dari kalium
atau natrium sianida diingesti, mungkin terdapat beberapa luka bakar alkali pada mukosa
lambung. Jika terjadi pemuntahan dari material ini, luka bakar ini dapatterlihat pada
permukaan kulit dekat mulut. Bila hidrogen sianida diinhalasi, satu-satunya perubahan
pada autopsi adalah warna pink terang pada darah dan livor mortis.
Analisis darah untuk mengetahui adanya sianida sebaiknya secepat mungkin
dilakukan, karena akan terdekomposisi seiring waktu. Sebaliknya, pada darah yang
normal, sianida akan terbentuk seiring waktu. Sianida didetoksifikasi oleh hati menjadi
tiosianat. Konsentrasi normal tiosianat dalam darah bervariasi mulai dari 1 hingga 4 mg/L
pada orang yang tidak merokok dan dari 3 sampai 12 mg/L pada perokok. Level sianida
dalam darah pada subjek yang sehat bervariasi dari 0,016 sampai 0,041 mg/L. Level
toksik dari sianida bervariasi dari 0,1 sampai 2,2 mg/L, dengan tingkat fatalitas lebih dari
1,1 mg/L (J. Garriot, personal communication). Individu yang terlibat dalam industri
yang terpapar oleh sianida secara kronik mungkin memiliki level rata-rata 0,232 mg/L

54
untuk perokok dan 0,183 mg/L untuk yang bukan perokok. Seorang pekerja, perokok,
memiliki level 2,2 mg/L, yang biasanya sudah dianggap level mematikan.34
Hidrogen sulfida (H2S) dihasilkan oleh fermentasi bahan organik. Ditemukan di
selokan, tanaman pada selokan, dan jamban, sebagaimana pada industri minyak dan
kimia. Hidrogen sulfida, yang berkonjugasi dengan CO2 dan metan yang terbentuk di
selokan, dikenal sebagai gas selokan. Kematian yang disebabkan oleh H2S, hampir tanpa
kecuali, terjadi akibat kecelakaan. Seperti halnya sianida, tidak ada efek kumulatif akibat
inhalasi H2S. Dalam dosis rendah, hidrogen sulfida dengan mudah dideteksi dari baunya
yang tajam, bau telur busuk. Pada konsentrasi yang lebih tinggi (150 ppm), dapat
menyebabkan paralisis dari nervus olfaktorius.
Pada konsentrasi yang rendah, H2S merupakan iritan lokal yang berat. Pada
konsentrasi 1000 – 2000 ppm (0,1 – 0,2%), dapat mengakibatkan kematian yang hampir
seketika. Pada autopsi, korban tampak sianotik dengan darah yang berwarna gelap. Hal
ini disebabkan oleh reduksi oksihemoglobin dan pembentukan methemoglobin.
Sulfhemoglobin tidak terbentuk akibat paparan akut H2S. Normalnya, sejumlah kecil
sulfhemoglobin ditemukan dalam darah. Juga dapat terbentuk post mortem sekunder
akibat dekomposisi. Level mematikan dari sulfida dalam darah bervariasi dari 0,9 sampai
3,8 mg/L (J. Garriott, personal communication).
Asfiksia Seksual (Asfiksia Autoerotik, kematian Autoerotik)
Ini adalah kematian asfiksia, prinsipnya disebabkan oleh penggantungan, dimana
anoksia sementara diinduksi secara sengaja untuk meningkatkan rangsangan seksual yang
dihasilkan akibat masturbasi.35 Kematian seperti ini jarang terjadi, dengan korban pada
dasarnya selalu pria. Hanya beberapa kasus yang melibatkan wanita yang telah
dilaporkan.36 Korban biasanya ditemukan pada daerah pribadi, telanjang atau setengah
telanjang; terkadang mengenakan pakaian wanita. Mungkin terdapat pula literatur erotik,
paraphernalia seksual atau sebuah cermin yang memungkinkan korban mengamati
dirinya sendiri saat melakukan perbuatannya.
Tipikalnya, korban ditemukan digantung pada leher, dengan handuk atau artikel
pakaian lain yang berada diantara penjerat dan kulit untuk mencegah tambang memberi
bekas atau melukai leher (gamar 8.26). Pola perilaku ini repetitif dan mungkin terdapat
bukti bahwa individu yang melakukan tindakan ini berulang kali selama beberapa tahun.

55
Gambar 8.26 Pria berumur 21 tahun. Asfiksia seksual. Handuk ditempatkan diantara
penjerat dan kulit.

Sementara korban tipikalnya ditemukan dengan penjerat sederhana melingkari leher,


mungkin terdapat pengikatan yang rumit dengan putaran tali multipel di sekeliling tubuh,
atau kedua tangan terikat baik di depan atau pun di belakang tubuh. Analisis pada
pengikatan akan mengungkapkan bahwa individu tersebut mampu untuk mengikat
dirinya sendiri. Ia tidak sepenuhnya tergantung; kakinya menyentuh tanah. Jadi, ia dapat
melonggarkan tekanan pada penjerat hanya dengan berdiri sedikit lurus. Pada beberapa
kasus, dibanding tali, digunakan penjerat atau alat lain yang dapat memberikan tekanan
pada leher. Selalu terdapat alat untuk menyelamatkan diri sehingga individu tersebut
dapat melepaskan tekanan sebelum kehilangan kesadaran. Sayangnya, karena kegagalan
alat, cacat pada desain atau konstruksi peralatan, atau kehilangan kontrol individu,
menyebabkan terjadinya kematian yang tidak disengaja.
Penyaliban
Suatu bentuk asfiksia yang tidak biasa dan bersejarah adalah penyaliban.37
Korbannya secara tipikal dipaku ke salib dengan paku yang menembus pergelangan
tangan hingga ke papan salib dan kaki pada bagian salib yang tegak. Kematian
disebabkan oleh shock, baik hipovolemik dan sekunder karena nyeri akibat pemakuan,
ditambah dehidrasi dan asfiksia. Berat tubuh pada lengan yang terentang akan
mempengaruhi ekshalasi dengan jalan mempertahankan otot interkostal pada fase
inhalasi. Ekshalasi kemudian akan bersifat diafragmatik secara primer. Selama beberapa
waktu, hal ini akan berkembang menjadi gangguan respirasi dan asfiksia.

56
Kematian Akibat Penggantungan Terbalik
Jika individu digantung terbalik untuk jangka waktu yang cukup lama, kematian
dapat terjadi. Mekanisme kematian ini bisa akibat kardiak akut atau kegagalan pernafasan
atau kombinasi keduanya. Lamanya waktu yang diperlukan untuk terjadinya suatu
kematian tergantung pada kesehatan individu itu sendiri. Dapat berkisar dari beberapa
jam hingga hari, mungkin lebih lama.
Kematian akibat Tercekik atau Penekanan Karotis
Penekanan leher digunakan oleh agensi penegak hukum untuk menundukkan
individu yang berlaku kasar. Jarang terjadi, seseorang mengalami kematian yang
dinyatakan akibat aplikasi dari pencekikan atau penekanan karotis. 38-41 Istilah ini sering
dipertukarkan, tetepi, pada kenyataannya, merujuk pada dua penekanan yang berbeda
dimana tujuannya adalah menghasilkan transient iskemik serebral dan ketidaksadaran.
Tidak ada satu pun yang menggunakan tambahan alat. Bahkan, tangan dan lengan bawah
digunakan untuk menekan leher, menyebabkan iskemik serebral dan ketidaksadaran.
Terkadang, tongkat pemukul, senter metal besar, atau alat lainnya, akan digunakan untuk
menekan leher. Penulis telah melihat sejumlah kematian yang melibatkan penggunaan
istrumen seperti itu. Pada kasus tersebut, biasanya terdapat perdarahan ekstensif pada
leher dan fraktur tulang hioid atau laring.
Pada pencekikan, lengan bawah diletakkan lurus bersilangan dengan bagian depan
leher. Tangan yang bebas mengenggam pergelangan tangan, menariknya ke belakang,
menyebabkan kolapsnya saluran nafas dan menyebabkan lidah terdisplasi ke belakang,
yang akan mengoklusi hipofaring. Inkapasitasi disebabkan oleh kolapsnya saluran nafas
dan arteri karotid dengan hasil penurunan suplai oksigen ke otak. Penekanan dari arteri
karotid merupakan mekanisme utama untuk kehilangan kesadaran. Jika terlalu banyak
kekuatan yang digunakan, mengkin terdapat fraktur dari laring atau hioid. Pada dua kasus
yang dilaporkan oleh Reay dan Eisele dan pada kasus yang dilihat oleh penulis, terdapat
fraktur unilateral pada kornu yang lebih besar pada kartilago thyroid.38 Kedua kasus Reay
dan Eisele memiliki fraktur pada sisi kiri leher, dimana lengan bawah kanan ditempatkan
di depan leher dan tangan kiri digunakan untuk menariknya ke belakang. Jadi, tekanan
secara eksentrik dipindahkan ke leher, predominan pada sisi kiri. Pada kasus yang dilihat
oleh penulis, lengan bawah kiri diletakkan di depan leher dan frakturnya terdapat pada

57
sisi kanan leher. Kasus penulis juga memiliki fraktur pada tulang hioid sisi yang sama.
Setelah kehilangan kesadaran, cekikan dilepas dan korban akan sadar kembali dalam 30
detik. Tidak akan ada sequelae permanen. Dan lebih jelas, bila cekikan dipertahankan
dalam waktu yang lebih lama, kematian akan terjadi, dan akan terjadi suatu kasus
pencekikan.
Pada penekanan korotis, kekuatan simetris diaplikasikan oleh lengan bawah dan
lengan atas pada bagian depan leher sedemikian rupa sehingga terjadi penekanan arteri
karotis dan vena jugularis dan bukan trakea. Lengan diletakkan pada leher dengan fossa
antekubital atau lekuk siku berada pada garis tengah leher. Tangan yang bebas
menggenggam pergelangan tangan yang lainnya dan menariknya ke belakang,
menyebabkan efek jepitan. Hal ini menyebabkan transient iskemik serebral. Penekanan
karotis menghambat aliran darah pada arteri karotid melalui tekanan yang dihasilkan
pada kedua sisi leher akibat efek penjepit lengan atas dan lengan bawah. Jika
diaplikasikan dengan benar, penekanan pada arteri karotid akan menyebabkan hilangnya
kesadaran sekitar 10 – 15 detik. Pada relaksasi penekanan, aliran darah serebral akan
pulih dan kesadaran akan kembali sekitar 10 – 20 detik, tanpa efek samping serius.
Eksperimen yang dilakukan oleh Reay dan Holloway mendemonstrasikan bahwa, selama
aplikasi penekanan karotid, aliran darah ke kepala menurun rata-rata 85%.39 Kisaran pada
lima subjek adalah 82 hingga 96%. Waktu hingga aliran darah minimun sekitar 6 detik
(range 3,2 hingga 7,2 detik).
Secara teori, penekanan karotid yang lama dapat mengakibatkan ketidaksadaran
dengan segera tanpa adanya luka pada individu. Sayangnya, pada individu yang
melakukan perlawanan dengan keras, penekanan karotid dapat dengan mudah dan tanpa
sengaja menjadi pencekikan, sebagaimana individu tersebut berputar dan berbalik untuk
melepaskan penekanan.
Mempertahankan tekanan pada penekanan karotid, setelah kehilangan kesadaran,
akan menjadi pencekikan dan, bila dipertahankan lebih lama, akan mengakibatkan
kematian. Seseorang tidak akan mengharapkan adanya trauma pada struktur leher pada
kondisi tersebut. Penekanan pada arteri karotid, yang menyebabkan terjadinya penurunan
aliran darah serebral, dapat secara teori mempresipitasi terjadinya stroke pada individu
dengan penyakit aterosklerotik pada karotid atau vaskularisasi serebral. Tekanan tersebut

58
dapat mengakibatkan dislodgment dari material aterosklerotik dengan stroke yang
disebabkan oleh embolus. Aliran darah ke otak dari kedua arteri karotid dan arteri
vertebralis. Bila arteri vertebralis mengalami gangguan aliran darah akibat aterosklerosis,
maka oklusi dari arteri carotid dapat mengancam sirkulasi, menyebabkan trombosis atau
stroke.
Baik pencekikan maupun penekanan arteri karotid aman bila dilakukan dengan
benar, meskipun yang terakhir lebih aman diantara keduanya. Dalam mempertimbangkan
seberapa besar kekuatan yang masih dapat diterima pada suatu keadaan, seseorang harus
menyadari bahwa tindakan apapun yang melibatkan kekuatan selalu memiliki potensi
untuk mengakibatkan luka yang serius dan kematian.

59