Anda di halaman 1dari 62

LAPORAN PRAKTIKUM

“DASAR- DASAR AQUACULTURE”


Disusun oleh :
Endra Arif W (0910850016)
M. Huda Setiawan (0910850026)
Agus Priyanto (0910850041)
Jaffry R (0910850055)
Soma Adi Dharma (0910850074)
Sonia Nursyahbani (0910850075)
Reni Nur Laili (0910853005)
Kelompok : 6

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2010
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM

”DASAR – DASAR AQUACULTURE”

Disusun oleh :
Endra Arif W (0910850016)
M. Huda Setiawan (0910850026)
Agus Priyanto (0910850041)
Lina Citra R (0910850056)
Soma Adi Dharma (0910850074)
Sonia Nursyahbani (0910850075)
Reni Nur Laili (0910853005)

Kelompok : 6

Menyetujui, Mengetahui,
Koordinator Assisten Assisten Pendamping

Rio Karunia Bakti Rio Karunia Bakti


(0810850059) (0810850059)
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang,

karena kami selaku penulis diberi kesempatan, bimbingan dan kekuatan

sehingga dapat menimba ilmu pengetahuan dan dapat menyelesaikan

laporan praktikum mata kuliah Dasar-Dasar Aquaculture.

Dalam penyusunan laporan praktikum mata kuliah Dasar-Dasar

Aquaculture ini, kami banyak sekali memperoleh bantuan moral maupun

material dari berbagai pihak. Oleh karenanya pada kesempatan ini kami

selaku penulis ingin mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada

semua pihak yang telah membantu

Kami menyadari bahwa laporan praktikum mata kuliah Dasar-Dasar

Aquaculture ini masih banyak memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kami

menerima dengan senang hati segala saran yang bersifat membangun.

Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi

pembaca pada umumnya.

Malang, Juni 2010

Penyusun
LEMBAR PERSEMBAHAN

Syukur Alhamdulillah...

Setelah melewati proses asistensi yang begitu panjang dan

melelahkan akhirnya kita bisa tersenyum lega kerana laporan

praktikum Dasar-Dasar Aquaculture ini akhirnya selesai juga. Kami

persembahkan karya kecil ini untuk keluarga besar kami yang jauh

disana yang telah mendukung kami secara moril dan materiill... juga

untuk teman-teman seperjuangan yang telah banyak membantu kami

(khususnya BP 09), terlebih lagi buat temen2 kelompok 6 (Agus,

Huda, Soma, Endra, Sonya, Lina dan Reni) : buat kerjasama yang

begitu hebat, serta yang paling spesial buat asisten DasQul kami :

Rio Karunia Bhakti, yang telah banyak membantu terselesaikannya

laporan praktikum ini dan menemani kami menyeslesaikan loporan

ini dengan sabar dan begitu cermat. Laporan ini tadak akan selesai

tanpa adanya kalian semua.

Terima kasih banyak semuanya.....(^_^)

Malang, Juni 2010

Kelompok 6

DAFTAR ISI

Halaman Judul ..........................................................1


Lembar Pengesahan..................................................2

Kata Pengantar..........................................................6

Lembar Persembahan................................................8

Daftar Isi.....................................................................9

BAB 1 : PENDAHULUAN........................................13

1.1 Latar Belakang...................................................13

1.2 Maksud dan Tujuan............................................15

1.3 Waktu dan Tempat.............................................15

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA...............................16

BAB III : METODOLOGI..........................................25

3.1 Alat dan Fungsi...................................................25

3.1.1 Parameter Fisika..............................................25

3.1.2 Parameter Kimia..............................................27

3.2.Bahan dan Fugsi.................................................29

3.2.1 Parameter Fisika..............................................29

3.2.2 Parameter Kimia..............................................30

3.3 Metodologi..........................................................32
BAB IV : DATA DAN PEMBAHASAN.....................42

4.1 Data Praktikum...................................................42

4.2 Analisa Prosedur................................................45

4.2.1 Parameter Fisika..............................................45

4.2.2 Parameter Kimia..............................................48

4.3. Analisa Hasil......................................................50

4.3.1 Parameter Fisika..............................................50

4.3.2 Parameter Kimia..............................................54

BAB V : PENUTUP..................................................58

5.1 Kesimpulan.........................................................58

5.2 Saran .................................................................60

DAFTAR PUSTAKA..................................................61

ASISTEN ZONE.......................................................63
1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Aquaculture adalah kegiatan untuk memproduksi biota (organisme)

aquatik di lingkungan terkontrol dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan

atau profit. Akuakultur berasal dari bahas inggris (aqua= perairan, dan culture=

budidaya) dan diterjemahkan dalam bahasa indonesia menjadi budidaya

perikanan atau budidaya perairan (Effendi,2004).

Kata ‘aquaculture’ biasa digunakan dalam satu dekade untuk

menunjukkan semua bentuk budidaya hewan maupun tumbuhan dalam air,

lingkungan payau, dan kelautan, masih banyak digunakan dalan arti yang ketat

(Pillay,1990).

Budidaya ikan meliputi baik usaha dikolam air tawar, maupun tambak air

payau. Kegiatanya berupa membudidayakan ikan yang dulunya hidup liar

menjadi ikan kultur(piaraan). Pembudidayaan yang pertama kali terhadap ikan

sudah dilakukan para kulturis ikan di zaman lampau, sehingga sekarang tinggal

menikmati hasilnya yang sudah jinakdan mau menghasilkan telur. (dan benih)

ikan di bawah pengawasan orang dikolam/bentuk usaha membudidayakan ikan

ini di sebut dengan budidaya ikan (Soeseno,1983).

1.2 Maksud dan Tujuan

Maksud dari kegiatan praktikum dasar-dasar aquaculture adalah untuk

mengetahui dasar-dasar aquaculture secara mendalam serta memberi gambaran

mengenai prinsip dasar aquaculture.


Tujuan Dari praktikum ini adalah untuk mengaplikasikan materi yang

diperoleh saat kuliah berlangsung dilingkungan, menerapkan prinsip dasar

aquaculture, mempelajari survival rate, grow rate, food convertion rate dari

organisme yang dibudidayakan, serta mengetahui kualitas air yang ada pada

media budidaya.

1.3 Waktu dan Tempat

Praktikum dasar-dasar aquaculture ini dilaksanakan pada tanggal 10 April

2010 di Laboraturiam stasiun Percobaan Budidaya ikan Air Tawar, Sumberpasir,

Malang.
2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Aquaculture

2.1.1 Pengertian Aquaculture

Akuakultur adalah kegiatan untuk memproduksi biota (organisme) akuatik

dilingkungan terkontrol dalam rangka untuk mendapatkan keuntungan (profit)

(Leugeu, 2010).

Budidaya peraiaran(akuakultur) merupakan kegiatan untuk pemeliharaan

dan penangkaran berbagai macam hewan atau tumbuhan peraiaran yang

mengggunakan air sebagai komponen pokoknya. Contohnya, budidaya tiram,

udang, alga, ikan. Sebenarnya cakupan budidaya perairan sangat luas, namun

penguasaan tekhnologi membatasi komoditi tertentu yang dapat diterapkan.

Budidaya perairan adalah bentuk perikanan budidaya, untuk dipertantangkan

dangan perikanan tangkap. Kegiatan budidaya di Indonesia yang paling umum di

kolam/empang, tambak, tangki, keramba, serta keramba apung (Wikipedia,

2010).

2.1.2 Persiapan Kolam

a) Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah adalah proses dimana tanah digemburkan dan

dilembekkan dengan menggunakan tangkai kemudi ataupun penggaru yang

ditarik traktor maupun bajak yang ditarik binatang maupun manusia. Melalui

proses ini, kerak tanah teraduk, sehingga cahaya dan udara matahari menembus

tanah dan meningkatkan kesuburannya (Wikipedia, 2010).

Tujuan penggolahan tanah adalah menyediakan media yang baik,

disamping itu juga penggolahan tanah dapat membantu memperbaiki drainase


agar air mudah dialirkan, mengeluarkan racun dalam tanah, dengan cara

membalik tanah agar terjadi penguapan dan dapat membunuh atau memotong

siklus hidup gulma (agricoach, 2010).

Pengolahan tanah juga dapat mempercepat berlangsungnya proses

dekomposisi senyawa-senyawa organik dalam tanah, memungkinkan penguapan

senyawa-senyawa beracun yang telah tertimbun(tertambat) didalam tanah,

membunuh atau memutuskan siklus hidup penyakit, terbentuknya kestabilan

derajad keasaman (pH) tanah, dan menambah unsur-unsur yang dapat

meningkatkan kesuburan kolam (Kanisius, 1992).

b) Pengapuran

Menurut Kanisius (1992), Kolam pembesaran perlu dilakukan

pengapuran. Fungsi kapur ini adalah untuk mempertahankan kestabilan

keasaman (pH) tanah dan air sekaligus memberantas hama penyakit. Cara

pengapuran dan dosisnya sama dengan penggapuran untuk kolam pendederan.

Kelebihan kapur menyebabkan kolam tidak subur dan jika kekurangan akan

menyebabkan tanah dasar kolam bersifat asam.

Kapur yang digunakan untuk pekerjaan ini adalah kapur pertanian

(CaCO3), kapur tohor (CaOH2), dan dolompit. Dosis yang digunakan tergantung

kondisi tanah. Semakin rendah pH, maka penggapuran yang digunakan semakin

banyak. Kapur disebar dipermukaan tanah dasar kolam atau tambak. Untuk

efektifitas pengapuran, setelah pengapuran ada kalanya tanah dibalik dengan

menggunakan pacul atau bajak agar kapur bisa masuk kedalam lapisan tanah

dasar (Effendy, 2004).


c) Pemupukan

Pemupukan yang dilakukan dikolam bertujuan untuk menghasilkan pakan

alami sebagai persediaan makanan bagi ikan. Pupuk merupakan bahn penting

yang diberikan pada media budidaya dengan tujuan memperbaiki keadaan fisik,

biolgi, dan kimia media budidaya. Bahan yang diberikan dapat bermacam-

macam, yaaitu pupuk kandang, pupuk hijau, pupuk kompos, pupuk buatan, dan

sebagainya (Wikipedia, 2010).

Pemupukan bertujuan untuk meningkatkan kandungan hara bagi

kebutuhan fitoplankton untuk berfotosintesis. Dampak pemupukan dapat dari

perubahan warna kolam atau tambak menjadi hijau atau kecoklatan.

Peningkatan pertumbuhan populasi fitoplankton di air dapat mendorong

pertumbuhan zooplankton sehingga dapat meningkatkan ketersediaan pakan

alami bagi hewan kultur. Keberadaan fitoplankton di dalam kolam dan tambak

berfungsi pula sebagai conditionning lingkungan bagi kultur, bukan sebagai

pakan (Effendy, 2004).

2.1.3 Kegiatan Budidaya

Usaha pemeliharaan ikan diperairan umum meliputi kegiatan-kegiatan : 1)

sanitasi lingkunan di sekitar jala apung,keramba, atau hampang ; 2) seleksi

benih; 3) penebaran benih, 4) pemberian pakan, dan 5) pencegahan serangan

hama atau penyakit (Kanisius, 2001).

Secara garis besar, kegiatan aquaculture dibagi menjadi dua bagian, yaitu

kegiatan kegiatan produksi on farm dan kegiatan off farm. Kegiatan produksi on

farm terdiri dari pembenihan dan pembesaran, sedangkan kegiatan off farm

antara lain meliputi pengadaan prasarana dan sarana produksi, penangganan

hasil panen, dan distribusi hasil (antara lain transportasi ikan hidup), serta pada

bagian pemasaran (Effendy, 2004).


Menurut Susanto (1987), secara keseluruhan usaha perikanan meliputi

tiga kegiatan utama, yaitu :

•Usaha memproduksi hasil perikanan, yaitu terdiri dari pembenihan dan

pembesaran

• Usaha memproses produksi hasil perikanan

• Usaha memasarkan produksi hasil perikanan

2.1.4 Macam-Macam Budidaya

a. Polikultur

Menurut Kanisius (2002), polikultur adalah suatu sistem (cara)

pemeliharaan beberapa jenis ikan dalam suatu unit atau petakan yang sama.

Kesulitan pemeliharaan secara polikultur adalah pelaksanaan penangkapan hasil

panen harus dilakasanakan secara manual.

Dari segi ekonomis, polikultur lebih menguntungkan, sebab, pemanfaatan

waktu, lahan, dan penggunaan pakan lebih efisien. Kesulitan yang sering terjadi

dalam sistem polikultur bila terjadi gangguan (serangan) hama penyakit, baik

terhadap salah satu ataupun jenis keduanya. Setiap jenis ikan mempunyai

kelemahannya dendiri, jadi meskippun dalam satu kolam, tidak selalu sama

gangguannya. Sehinngga, kedua jenis memerlukan perlakuan yang berbeda dan

perlu dilakukan dengan hati-hati (Kanisius,1992).

b. Monokultur

Menurut Kanisius (1992), benih pembesaran secara monokultur harus

dipilihkan yang seragam, jika tidak, maka akn tumbuh tidak seragam pula. Benih

yang besar akan tumbuh luar biasa, dan benih yang kecil akan tersisih karena

tidak mendpatkan makanan. Keuntungan pemeliharaan secara monokultur


adalah pengontrolannya yang mudah, pemberian pakan tambahan efisien dan

penangganan bila terjadi gangguan hama/penyakit lebih mudah.

Monokultur adalah sistem pemeliharaan, dimana didalam satu kolam

hanya ada satu spasies saja yang dipalihara. Pemeliharaan secara monokultur

ini banyak dilakukan petani ikan di malaysia, Filipina, atau Taiwan (Avrianto dan

Liviawaty, 1992).

2.1.5 Rumus Pengapuran

Pengapuran kolam ikan sangat penting. Jenis kapur yang digunakan

adalah kapur tohar atau kapur pertanian atau calsium carbonat (CaCO3).

Dosisnya tergantung dari jenis tanah. Dosis pengapuran pada bebepara jenis

tanah : jenis tanah lempung dengan pH 5,0-5,5 dosisnya 5.400 kg/ha ; pH 5,6-

6,0 dosisnya 3.600kg/ha; pH 6,1-6,5 dosisnya 1.800kg/ha. Jenis tanah pasir : Ph

5,0-5,5 dosisnya 1.800kg/ha; Ph 5,6-6,0 dosisnya 900kg/ha; dan Ph 6,1-6,5

dosisnya 0kg/ha (Anonymous, 2008).

Jenis kapur yang umum digunakan yaitu kapur kapur tohor(CaCO3),

kapur yang biasa digunakan sebagai pencampur bahan bangunan. Kapur ini

dapat diperoleh di toko bahan bangunan. Jumlah kapur yang harus disediakan

tergantung dari kebutuhan, kolam yang luasnya 1000 m2 membutuhkan rata-rata

25-50 kg kapur (Nirhono, 2009).

2.1.6 Rumus Pemupukan

Jumlah pupuk yang digunakan tergantung dari tingkat kesuburan kolam.

Dosis pemupukan awal untuk penyuburan dasar kolam adalah 100 kg/meter

kuadrat. Pemupukan dapat dilakukan dengan: a) ditebarkan keseluruh

permukaan dasar kolam ketika kolam dialiri sekitar 10 cm atau b) dimasukkan ke

dalam kantong plastik yang berlubang halus dan dicelupkan kedalam air kolam
didekat pintu masuk agar pupuk larut secara bertahap. Dosis pemupukan

lanjutan adalah 20 kg /1000 meter kuadrat kolam (Anonimousa, 2010).

Pemupukan kolam dilakukan dengan tujuan untuk menumbuhkan pakan

alami. Pupuk yang digunakan yaitu pupuk kandang (kotoran ayam) sebesar 2 kg

/ 10 meter kuadrat untuk kolam tembok dan 30 kg /150 meter kuadrat untuk

kolam tanah (anonymousb, 2010).

2.1.7 Tekstur Tanah yang Baik

Jenis dan tekstur tanah merupakan unsur yang penting, karena tanah

tersebut harus mampu menahan tekanan air kolan dan menampungnya,

sehingga rembesan air ke dasar kolam maupun ke pematang dapat ditekan

seminimal mungkin. Keadaan tekstur tanah ditentukan oleh komposisi

kandungan unsur-unsur pembentuk tanah, seperti presentasi kandungan liat,

lempung, dan pasi. Komposisi ini harus merupakan paduan yang kokoh, kuat

dan kompak sehingga tanah kolam akan mampu menahan air. Menurut

beberapa pengalaman, jenis tanah tekstur tanah liat dan liat berpasir merupakan

tanah yang cocok untuk pembangunan pematang kolam, karena tanah ynag

terlalu banyak mengandung pasi tidak cocok untuk pembangungan kolam

(Nirhono, 2009).

Tekstur tanah yang baik untuk dijadikan pematang adalah yang tidak

berporus dan tidak mudah longsor. Lebar pematang antara 1-2 meter. Bentuk

kolam yang ideal adalah persegi panjang. Air yang masuk kolam harus jernih dan

melewati bak pengendapan (Suswanto, 2009).


2.1.8 Perbadaan Kapur Bangunan dengan Kapur Kolam

• Kapur Pertanian

Menurut Taniqu (2008), kapur pertanian merupakan kapur mineral yang

berasal dari alam yang merupakan sumber hara kalsium. Kaptan yang

mempunyai reaksi basa dapat menaikkan pH tanah. Kaptan yang umum banyak

digunakan dalam pertanian adalah kalsit (CaCO3).

Mafaat :

♥ Untuk menetralkan pH tanah pada tannaman sayuran/holtikultura, dll.

♥ Untuk menanggulangi beberapa jenis jamur/bakteri pada tanah

♥Untuk menetralkan tanah gambut, sehingga akan menambah tingkat kesuburan

tanah.

• Kapur Bangunan

Menurut Hendri (2009), kapur bangunan dibedakan menjadi 2 macam

berdasarkan penggunaan, yaitu kapur putih dan kapur aduk. Kednya terdapat

dalam bentuk kapur tohor maupun kapur padam.

♣ Kapur bangunan, proses pembuatannya dengan cara pembakaran dengan

menggunakan tungku pembakaran pada suhu 6000°C - 8000°C. Panasnya

terbagi rata diseluruh bagian tungku agar mendapatkan batu kapur yang baik.

♣ Sifat dan Fungsi kapur bangunan

♦ Memberikan sifat pengerasan hidrolik bila dicampur air untuk kapur

hidrolis. Pada kapur udara mengerasnya kapur setelah bereaksi

dengan karbon dioksida, bukan dengan air.

♦ Memudahkan pengolahan pada pengadukan (mortar) semen

♦ Mengikat kapur bebas, yang timbul pada ikatan semen


Menurut Ghufron dan Kordi (2007), pada kolam dan tambak biasa, kapur

ditebar setelah pembajakan tanah. Kapur yang umum digunakan adalah kapur

pertanian atau umum disebut kapur kalsit (CaCO3),. Pada saat persiapan lahan,

petambak banyak menggunakan kapur gamping (CaO) dan kapur bangunan

(Ca(OH)2). Kedua kapur tesebut mempunyai daya netralisasi yang tinggi.

Sedangkan untuk meningkatkan pH dan alkalinitas air tambak selama

pemeliharaan, petambak banyak menggunakan kapur pertanian atau dolomit

(CaCO3. MgCO3). Kapur gamping (CaO) dan kapur bangunan (Ca(OH)2) tidak

baik digunakan untuk tujuan meningkatkan pH tanah, karena pH yang tinggi

menghambat dekomposisi bahan organik dan mikroorganisme tanah.

2.2 Kualitas Air

2.2.1 Pengertian Kualitas Air

Kualitas air adalah kondisi kalitatif air yang diukur dan atau di uji

berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan

peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 keputusan Menteri

Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 tahun 2003). Kualitas air dapat dinyatakan

dengan parameter kualitas air. Parameter ini meliputi parameter fisik, kimia, dan

mikrobiologis (Masduqi, 2009).

Menurut Acehpedia (2010), kualitas air dapat diketahui dengan

melakukan pengujian tertentu terhadap air tersebut. Pengujian yang dilakukan

adalah uji kimia, fisik, biologi, atau uji kenampakan (bau dan warna).

Pengelolaan kualitas air adalah upaya pemaliharaan air sehingga tercapai

kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk menjamin agar kondisi

air tetap dalam kondisi alamiahnya.


2.2.2 Hubungan Antar Kualitas Air

Menurut Lesmana (2001), suhu pada air mempengaruhi kecepatan reaksi

kimia, baik dalam media luar maupun dalam tubuh ikan. Suhu makin naik, maka

reaksi kimia akan ssemakin cepat, sedangkan konsentrasi gas akan semakin

turun, termasuk oksigen. Akibatnya, ikan akan membuat reaksi toleran dan tidak

toleran. Naiknya suhu, akan berpengaruh pada salinitas, sehingga ikan akan

melakukan prosess osmoregulasi. Oleh ikan dari daerah air payau akan

malakukan yoleransi yang tinggi dibandingkan ikan laut dan ikan tawar.

Manurut Anonymaus (2010), laju peningkatan pH akan dilakukan oleh

nilai pH awal. Sebagai contoh : kebutuhan jumlah ion karbonat perlu

ditambahkan utuk meningkatkan satu satuan pH akan jauh lebih banyak apabila

awalnya 6,3 dibandingkan hal yang sama dilakukan pada pH 7,5. kenaikan pH

yang akan terjadi diimbangi oleh kadar CO2 terlarut dalan air. Sehingga, CO2

akan menurunkan pH.

2.2.3 Parameter Kualitas Air

2.2.3.1 Parameter Fisika

a) Kecerahan

Kecerahan adalah parameter fisika yang erat kaitannya dengan proses

fotosintesis pada suatu ekosistem perairan. Kecerahan yang tinggi menunjukkan

daya tembus cahaya matahari yang jauh kedalam Perairan.. Begitu pula

sebaliknya (Erikarianto,2008).

Menurut Kordi dan Andi (2009), kecerahan adalah sebagian cahaya yang

diteruskan kedalam air dan dinyetakan dalam (%). Kemampuan cahaya matahari

untuk tembus sampai kedasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan (turbidity) air.

Dengan mengetahui kecerahan suatu perairan, kita dapat mengetahui sampai


dimana masih ada kemungkinan terjadi proses asimilasi dalam air, lapisan-

lapisan manakah yang tidak keruh, yang agak keruh, dan yang paling keruh. Air

yang tidak terlampau keruh dan tidak pula terlampau jernih, baik untuk kehidupan

ikan dan udang budidaya.

b) Suhu

Menurut Nontji (1987), suhu air merupakan faktor yang banyak mendapat

perhatian dalam pengkajian- pengkajian kaelautan. Data suhu air dapat

dimanfaatkan bukan saja untuk mempelajari gejala-gejala fisika didalam laut,

tetapi juga dengan kaitannya kehidupan hewan atau tumbuhan. Bahkan dapat

juga dimanfaatkan untuk pengkajian meteorologi. Suhu air dipermukaan

dipengaruhi oleh kondisi meteorologi. Faktor- faktor metereolohi yang berperan

disini adalah curah hujan, penguapan, kelembaban udara, suhu udara,

kecepatan angin, dan radiasi matahari.

Suhu mempengaruhi aktivitas metabolisme organisme, karena itu

penyebaran organisme baik dilautan maupun diperairan tawar dibatasi oleh suhu

perairan tersebut. Suhu sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan

kehidupan biota air. Secara umum, laju pertumbuhan meningkat sejalan dengan

kenaikan suhu, dapat menekan kehidupan hewan budidaya bahkan

menyebabkan kematian bila peningkatan suhu sampai ekstrim(drastis) (Kordi

dan Andi, 2009).

2.2.3.2 Parameter Kimia

a) pH

Menurut Andayani (2005), pH adalah cerminan derajat keasaman yang

diukur dari jumlah ion hidrogen menggunakan rumus pH = -log (H+). Air murni

terdiri dari ion H+dan OH- dalam jumlah berimbang hingga Ph air murni biasa 7.
Makin banyak banyak ion OH+ dalam cairan makin rendah ion H+ dan makin

tinggi pH. Cairan demikian disebut cairan alkalis. Sebaliknya, makin banyak H+

makin rendah pH dan cairan tersebut bersifat masam. pH antara 7 – 9 sangat

memadai kehidupan bagi air tambak. Namun, pada keadaan tertantu, dimana air

dasar tambak memiliki potensi keasaman, pH air dapat turun hingga mencapai 4.

pH air mempengaruhi tangkat kesuburan perairan karena mempengaruhi

kehidupan jasad renik. Perairan asam akan kurang produktif, malah dapat

membunuh hewan budidaya. Pada pH rendah (keasaman tinggi), kandungan

oksigan terlarut akan berkurang, sebagai akibatnya konsumsi oksigen menurun,

aktivitas naik dan selera makan akan berkurang. Hal ini sebaliknya terjadi pada

suasana basa. Atas dasar ini, maka usaha budidaya perairan akan berhasil baik

dalam air dengan pH 6,5 – 9.0 dan kisaran optimal adalah pH 7,5 – 8,7 (Kordi

dan Andi,2009).

b) Oksigan Terlarut / DO

Mnurut Wibisono (2005), konsentrasi gas oksigen sangat dipengaruhi

oleh suhu, makin tinggi suhu, makin berkurang tingkat kelarutan oksigen. Dilaut,

oksigen terlarut (Dissolved Oxygen / DO) berasal dari dua sumber, yakni dari

atmosfer dan dari hasil proses fotosintesis fitoplankton dan berjenis tanaman

laut. Keberadaan oksigen terlarut ini sangat memungkinkan untuk langsung

dimanfaatkan bagi kebanyakan organisme untuk kehidupan, antara lain pada

proses respirasi dimana oksigen diperlukan untuk pembakaran (metabolisme)

bahan organik sehingga terbentuk energi yang diikuti dengan pembentukan CO2

dan H2O.

Oksigen yang diperlukan biota air untuk pernafasannya harus terlarut

dalam air. Oksigen merupakan salah satu faktor pembatas, sehinnga bila

ketersediaannya di dalam air tidak mencukupi kebutuhan biota budidaya, maka


segal aktivitas biota akan terhambat. Kebutuhan oksigen pada ikan mempunyai

kepentingan pada dua aspek, yaitu kebutuhan lingkungan bagi spesies tertentu

dan kebutuhan konsumtif yang terandung pada metabolisme ikan (Kordi dan

Andi, 2009).

C) Co2

Karbondioksida (CO2), merupakan gas yang dibutuhkan oleh tumbuh-

tumbuhan air renik maupun tinhkat tinggi untuk melakukan proses fotosintesis.

Meskipun peranan karbondioksida sangat besar bagi kehidupan organisme air,

namun kandungannya yang berlebihan sangat menganggu, bahkan menjadi racu

secara langsung bagi biota budidaya, terutama dikolam dan ditambak (Kordi dan

Andi, 2009).

Meskipun presentase karbondioksida di atmosfer relatif kecil, akan tetapi

keberadaan karbondioksida di perairan relatif banyak, karena karbondioksida

memiliki kelarutan yang relatif banyak.

d) Amonia

Makin tinggi pH, air tambak/kolam, daya racun amnia semakin meningkat,

sebab sebagian besar berada dalam bentuk NH3, sedangkan amonia dalam

molekul (NH3) lebih beracun daripada yang berbentuk ion (NH4+). Amonia dalam

bentuk molekul dapat bagian membran sel lebih cepat daripada ion NH4+ (Kordi

dan Andi, 2009).

Menurut Andayani (2005), sumber amonia dalam air kolam adalah eksresi

amonia oleh ikan dan crustacea. Jumlah amonia yang dieksresikan oleh ikan

bisa diestimasikan dari penggunaan protei netto (Pertambahan protein pakan-

protein ikan) dan protein prosentase dalam pakan dengan rumus :


Amonia – Nitrogen (g/kg pakan) = (1-0- NPU)(protein+6,25)(1000)

Keterangan : NPU : Net protein Utilization /penggunaan protein netto.

Protein : protein dalam pakan.

6,25 : Ratio rata-rata dari jumlah nitrogen.

e) Nitrat nitrogen

Menurut Susana (2002), senyawa kimia nitrogen urea (N-urea) ,algae

memanfaatkan senyawa tersebut untuk pertumbuhannya sebagai sumber

nitrogen yang berasal dari senyawa nitrogen-organik. Beberapa bentuk senyawa

nitrogen (organik dan anorganik) yang terdapat dalam perairan konsentrasinya

lambat laun akan berubah bila didalamnya ada faktor yang mempengaruhinya

sehingga antara lain akn menyebabkan suatu permasalahan tersendiri dalam

perairan tersebut.

Menurut Andayani (2005), konsentasi nitrogen organik di perairan yang

tidak terpolusi sangat beraneka ragam. Bahkan konsentrasi amonia nitrogen

tinggi pada kolam yang diberi pupuk daripada yang hanya diberi pakan. Nitrogen

juga mengandung bahan organik terlarut. Konsentrsi organik nitrogan umumnya

dibawah 1 mg/liter pada perairan yang tidak polutan. Dan pada perairan yang

planktonya blooming dapat meningkat menjadi 2-3 mg/liter.

f) Orthophospat

Menurut Andayani (2005), orthophospat yang larut, dengan mudah

tesedia bagi tanaman, tetapi ketersediaan bentuk-bentuk lain belum ditentukan

dengan pasti. Konsentrasi fosfor dalam air sangat rendah : konsentasi

ortophospate yang biasanya tidak lebih dari 5-20 mg/liter dan jarang melebihi

1000 mg/liter. Fosfat ditambahkan sebagai pupuk dalam kolam, pada awalnya
tinggi orthophospat yang terlarut dalam air dan konsentrasi akan turun dalam

beberapa hari setelah perlakuan.

Menurut Muchtar (2002), fitoplankton merupakan salah satu parameter

biolagi yang erat hubungannya dengan fosfat dan nitrat. Tinggi rendahnya

kelimpahan fitoplankton disuatu perairan tergantung tergantung pada kandungan

zat hara fosfat dan nitrat. Sama halnya seprti zat hara lainnya, kandungan fosfat

dan nitrat disuatu perairan, secara alami terdapat sesuai dengan kebutuhan

organisme yang hidup di perairan tersebut.

2.2.4 Kualitas Air yang Baik

Menurut O-fish.com (2010), ada lima syarat utama kualitas air yang baik

untuk kehidupan ikan :

• Rendah kadar amonia dan nitrit

• Bersih secara kimiawi

• Memiliki pH, kesadahan, dan temperatur yang memadai

• Rendah kadar cemaran organik

• Stabil

Apabila persyaratan tersebut diatas dapat dijaga dan dipelihara dengan baik,

maka ikan yang dipelihara mampu memelihara dirinya sendiri, terbebas dari

berbagai penyakit, dan dapat berkembang biak dengan baik.

Menurut Agromedia (2007), air yang baik untuk pertumbuhan lele dumbo

adalah air bersih yang berasal dari sungai, air hujan, dan air sumur.

Pemanfaatan sumber air harus harus dikelola dengan baik terutama kualitas dan

kuantitas. Kualitas air sangat mendukung pertumbuhan lele dumbo. Oleh karena

itu, aor yang digunakan harus banyak mengandung zat hara, serta tidak

tercemar olah racun dan zat rumah tangga lainnya.


2.2.5 Efek Kualitas Air

Air dari alam atau natural water secara foundamental akan berbeda

kondisinya dengan air dari tempat budidaya, terutama sistem tertutup yang

menggunakan akuarium atau bak, berdasarkan sifat kimia maupun biologi.

Jumlah ikan ditempat budidaya umumnya jauh lebih banyak dibandingkan jumlah

air. Akibatnya, material hasil metrabolisme yang dikeluarkan ikan tidak dapat

mengurai seimbang. Artinya, waktu penguraian metabolit secara alami tidak

mencukupi karena jumlahnya cukup banyak. Oleh karena itu, air tidak dapat atau

sulit kembali menjadi baik dan cenderung menghasilkan substannsi atau bahan

metabolit yang berbahaya bagi ikan (Lesmana, 2001).

Menurut O-fish (2010), kualitas air secara umum menunjukkan mutu atau

kondisi air yang dikaitkan dengan suatu kagiatan atau keperluan tertentu. Dalam

lingkup akuarium, kulitas air secara umum mengacu pada kandungan polutan

atau cemaran yang terkandung dalam air dalam kaitannya untuk menunjang

kehidupan ikan dan kondisi ekosstem yang memadai.

Menurut Susanto (2002), suatu limbah yang mengandung beban

pencemar masuk ke lingkungan perairan dapat menyebabkan perubhan kualitas

air. Salah satu efeknya adalah menurunya kadar oksigen terlarut yang

berpengaruh terhadap fungsi fisiologis organisme akuatik. Air limbah

memungkinkan mengandung mikroorganisme patogen atau bahan kimia beracun

berbahaya yang dapat menyebabkan penyakit infeksi dan tersebar ke

lingkungan.
2.3 Konversi Pakan

2.3.1 Pengertian Pertumbuhan

Pertumbuhan adalah berkaitan dengan masalah perubahan besar,

jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu yang bisa diukur

dengan berat, ukuran panjang, umur tulang, dan keseimbangan metaboliknya

(Creasoft, 2008).

Pertumbuhan (growth) dapat diartikan sebagai perubahan secara

kuantitatif selama siklus hidup yang bersifat tak terbalikkan (irrevesible).

Bertambah besar ataupun bertambah berat, atupun bertambah bagian akibat

adanya penambahan unsur-unsur struktural (Yulianita, 2009).

2.3.2 Faktor- Faktor Pertumbuhan

Menurut Lesmana dan Dharmawan (2006), cara pemeliharaan

menentukan cepat lambatnya pertumbuhan ikan. Faktor yang mempengaruki

pertumbuhan ikan antara lain : ketirunan, pertumbuhan kelamin dan umur, serta

kerentanan terhadap penyakit. Pada pemeliharaan ikan, kualitas air, kepadatan

ikan erta jumlah kualitas dan kuantitas pakanpun harus selalu duperhatikan.

Jumlah dan kuantitas pakan merupakan faktor penting. Bila pakannya terlalu

sedikit, maka ikan akan sukar tumbuh dan jika terlalu banyak, kondisi air akan

menjadi jelek.

Menurut Khairuman dan Amri (2002), pakan merupakan unsur terpenting

dalam menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Pakan yang baik

harus dapat memenuhi persyaratan : pakan harus bisa dimakan ikan, pakan

harus mudah dicerna, dan dapat diserap tubuh ikan. Apabila persyartan tersebut

dipenuhi, pemberian pakan akan memberikan manfaat yang optimal bagi

pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan.


Perkembangan menyangkut adanya proses pematangan sel-sel tubuh,

jaringan tubuh, organ-organ dan sisterm organ yang berkembang sedemikian

rupa, sehingga masing-masing dapat memenuhi fungsinya, termasuk juga emosi,

intelektual, dan tingkah laku sebagai interaksi dengan lingkungan (Lesmana dan

Dermawan, 2006).

2.3.3 Fungsi Makanan

Pakan atau makanan merupakan unsur yang epnting dalam budidaya

ikan. Oleh karena itu, pakan yang diberikan harus memenuhi standart nutrisi

(gizi) bagi ikan agar kelangsungan hidupnya tinngi dan pertumbuhannya cepat.

Pakan yang baik memiliki komposisi zat gizi yang lemgkap seperti protein, lemak,

karbohidrat, vitamin, dan mineral. Pemberian pakan yang nilai nutrisinya kurang

baik dapat menurunkan kelangsungan hidup ikan dan pertumbuhannya akan

lambat (tumbuh kerdil), bahkan dapat menimbulkan penyakit yang disebabkan

oleh kekurangan gizi (malnutrition). Banyaknya zat-zat gizi yang diperlukan ikan

untuk pertumbuhannya berbeda-beda, tergantung pada jenis ikan, ukuran besar

ikan, dan kondisi lingkungan hidup ikan (Kanisius, 2001).

Pakan merupakan faktor yang penting dalam usaha pembesaran

budidaya ikan. Dalam usaha pembesaran, ikan diharuskan tumbuh hingga

menncapai ukran pasar. Untuk itu, ikan harus makan, tidak sekedar

mempertahankan kondisi tubuh., tetapi juga untuk menumbuhkan jaringan otot

atau daging (pertumbuhan somatis). Jumlah dan jenis pakan yang dikonsumsi

oleh ikan akan menantukan asupan energi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan

daging. Intake pakan bisa menggambarkan nafsu ikan ini dipengaruhi oleh

kualitas air (Effendy, 2004).


2.3.4 Pengertian FCR, GR, SR

• FR (Feeding Rate)/ Jumlah Pakan

Menurut Effendy (2004), pakan diberikan kepada ikan kultur sesuai

dangan kebutuhan dan dapat memberikan pertumbuhan dan efisiensi pakan

yang tinngi. Kebutuhan pakan harian dinyatakan sebagai tingkat pemberian

pakan (feeding rate) per hari yang ditentukan berdasarkan prosentase dari bobot

ikan. Tingkat pemberian pakan ditentukan oleh ukuran ikan. Semakin besar

ukuran ikan, maka feeding rate-nya semakin kecil, tetapi jumlah pakan hariannya

semakin besar. Secar berkala, jumlah pakan harian ikan disesuaikan

(adjusment) dengan pertambahan bobot ikan dan perubahan populasi.

• FCR (Feed Convention Ratio)

Menurut Effendy (2004), Feed Convertion Ratio adalh suatu ukuran yang

menyatakan ratio jumlah pakan yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 kg ikan

kultur. Nilai FCR=2 artinya untuk memproduksi 1 kg daging ikan dalam sistem

akuakultur maka dibutuhkan 2 kg pakan. Semakin besar nilai FCR, maka

semakin semakin banyak pakan yang dibutuhkan untuk memproduksi 1 kg ikan

daging kultur. FCR seringkali dijadikan indikator kinerja teknis dalam

mengevaluasi suatu usaha akuakultur.

Menurut Djarijiah (2004) dalam my.opera.com (2010), pengukuran

kualitas pakan dilakukan dengan membandingkan jumlah pakan yang diberikan

dengan (pertambahan) berat ikan yang dihasilkannya dan dinyatakan sebagai

food Converty Ratio (FCR). Rumus FCR adalah :

FCR = F (jumlah total pakan yang diberikan selama pemeliharaan)

(Wt - D) – Wo ( Wo = berat total awal ikan pemeliharaan)


• GR (Grow Rate)

Menurut Laksana (2007), pertumbuhan mutlak adalah laju pertumbuhan

total ikan. Rumus untuk mencari pertumbuhan total adalah :

GR = (Wt –Wo) / t

Keterangan :

Gr = Growth Rate/ pertumbuhan mutlak

Wt = Bobot rata-rata akhir (gr/ekor)

Wo = bobot rata-rata awal (gr/ekor)

Menurut Siman (2010), growth rate adalah jumlah dari kenaikan maka

sebuah spesifik variabel petumbuhan diiringi dengan periodenya dan koneksinya.

Growth rate berpengaruh dalam bidang ekonomi untuk pendistribusi, dan

pemelihara ikan. Bagaimanapun Growth rate tadak selalu berarti sebuah

kenaikan yang tinggi dari pertumbuhan di masa mendatang.

• SR (Survival Rate)

Menurut Ghufron (2009), kelangsungan hidup atau sintasan (survival rate)

adalh prosentase jumlah biota budidaya yang hidup dalam kurun waktu tertentu.

Untuk menghitung kelangsungan hidup atau sintasan dapat digunakan rumus

sebagai berikut :

S = Nt / No × 100%

Keterangan : S = Kelangsungan hidup (%)

Nt = Jumlah biota pada saat panen (ekor)

No = Jumlah biota pada saat penebaran (ekor)

Sintasan ikan dipengaruhi olah faktor biotik dan abiotik. Faktor biotik yaitu

: kompetitor, parasit, umur, predasi, kepadatan populasi, kemampuan adaptasi


dari hewan dan penangganan manusia, sedangkan faktor abiotik meliputi sifat

fisika dan sifat kimia perairan(Rika,2008).

2.3.5 Hubungan Pakan dengan Pertumbuhan

Zat makanan terpenting yang diperlukan ikan untuk pertumbuhan adalah

zat protein. Jumlah dan kualitas protein sangat berpengaruh tehadap tingkat

pertumbuhan ikan karena pratei bagi ikan adalah merupakan sumber energi

yang paling penting. Pertumbuhann ikan dapat dipercepat dengan pemberian

pakan yang mengandung protein tinggi (30%-40%) karena protein merupakan

bagian terbesar dari daging ikan. Zat protein digunakan hewan untuk

pemeliharaan tubuh, pembentukan jaringan tubuh, penambahan protein tubuh,

dan penggantian jaringan yang rusak (Kanisius, 2001).

Pakan akan diprises dalam tubuh ikan dan unsur-unsur nutrisi atau

gizinya akan diserap untuk dimanfaatkan membangun jaringan dan daging,

sehingga pertumbuhan ikan akan terjamin. Kecepatan laju pertumbuhan ikan

sangat dipengaruhi oleh jenis dan kualitas pakan yang diberikan berkualitas baik,

jumlahnya mencukupi, kondisi lingkungan mendukung, dapat dipastikan laju

pertumbuhan ikan akan menjadi cepat sesuai dangan yang diharapkan

(Khairuman dan Amri, 2002).


3.METODOLOGI

3.1. Alat dan Fungsi

A. Pengelohan tanah

• Cangkul

Berfungsi untuk membalikkan tanah agar kandungan hara

terangkat ke atas.

• Sabit

Berfungsi untuk membersihkan sisi kolam yang dipenuhi

rumput.

• Cetok

Berfungsi untuk meratakan tanah dibagian sisi-sisi kolam.

• Gerobak dorong

Berfungsi untuk mengangkut pupuk, kapur dan juga

rumput yang sudah dipotong.

B. Pengolahan kolam monokultur

• Sapu lidi

Berfungsi untuk membersihkan lumpur pada kolam.


• Sekrup

Berfungsi untuk membantu mendorong lumpur menuju

saluran pembuangan.
• Ember

Berfungsi untuk membantu menyiram air pada kolam yang

dibersihkan.

3.2. Bahan dan Fungsi

A. Pengolahan tanah

• Pupuk organik 32 kg

Berfungsi untuk menumbuhkan pakan alami (plankton)

dan menyubur tanah.

• Pupuk organik 8 kg

Berfungsi untuk menumbuhkan pakan alami pada kolam

monokultur.

• Air

Berfungsi untuk mengisi kolam.

• Kapur pertanian

Berfungsi untuk meningkatkan pH tanah, untuk

mempercepat penggunaan bahan organik dan membunuh

hama dan penyakit.


3.3 Skema Kerja

A. Pengolahan tanah kolam polikultur

Kolam Tanah

Dikeringkan 3-7 hari

Dicangkul secara merata

Dibersihkan dari rumput

Dilapisi tepian kolam dengan lempung

Diberi kapur pertanian sesuai dengan dosis yang ditentukan

Diratakan dengan cara di injak-injak

Hasil
Diberi pupuk organik dosis 250 gr/m²

Diairi hingga ± 150 cm

Dibiarkan selama ± 7 hari


B. Pengolahan tanah kolam monokultur

Kolam Beton

Disiapkan kolam

Dialiri air

Dibuka saluran Pembuangan

Dibersihkan kolam dan lumpur

Ditutup Saluran Pembuangan

Dialiri air

Hasil
Diberi pupuk organik yang dibungkus dengan karung ditanah

sebanyak 8 kg pada bagian pojok kolam

Diisi air
3.4 Alat dan fungsi parameter

•Parameter fisika

Alat - alat yang digunakan dalam pratikum Dasar-Dasar Aquaculture

tentang parameter fisika antara lain :

a. Suhu

• Termometer Hg : Untuk mengetahui suhu suatu perairan.

b. Kecerahan

• Secchi disk : Untuk mengetahui kecerahan suatu perairan.

• Parameter kimia

Alat yang digunakan dalam pratikum Dasar-Dasar Aquaculture tentang

parameter kimia antara lain :

a) DO

 Botol DO : Untuk tempat sampel airyang akan diamati

DOnya.

 Buret : Sebagai tempat larutan titran (Na-thiosulfat).

 Statif : Sebagai tempat meletakkan buret pada saat

titrasi.
 Corong : Alat untuk memasukkan larutan titran ke dalam

buret.

 Pipet tetes : Untuk mengambil dan memindahkan larutan.

 Nampan : Sebagai tempat alat dan bahan.


b) Orthofosfat

 Gelas ukur 100ml : Untuk mengukur volume sampel.

 Beaker glass 100ml : Sebagai tempat menghomogenkan air

sampel dengan amonium molybdate

 Pipet tetes : Mengambil dan memingahkan larutan.

 Spektrofotometer : Untuk mengukur panjang gelombang.

 Washing bottle : Sebagai tempat aquadest.

 Cuvet : Sebagai wadah sampel yang akan diukur

panjang gelombangnya.

 Nampan : Sebagai tempat alat dan bahan.

c) Nitrat-nitrogen

 Hot plate : Untuk memanaskan air sampel hingga

berkerak.

 Beaker glass 250ml: Untuk wadah sampel yang akan diamati.

 Gelas ukur 100ml : Untuk mengukur volume sampel.

 Pipet tetes : Untuk mengambil dan memingahkan larutan.

 Spatula : Untuk menghomogenkan larutan.


d) Amonia

 Beaker glass 100ml: Sebagai wadah laritan.

 Pipet tetes : Untuk mengambil atau memindahkan larutan.

 Cuvet : Sebagai wadah sampel yang

akan diukur panjang gelombangnya.

 Nampan : Sebagai tempat alat dan bahan.


e) CO2

 Erlemenyer : Sebagai tempat mereaksikan larutan.

 Pipet tetes : Untuk memindahkan atau mengambil

larutan.

 Statif : Untuk menyangga buret.

 Buret : Sebagai wadah cairan titran.

 Nampan : Sebagai tempat alat dan bahan.

f) pH

 Kotak standart : untuk mencocokkan hasil di pH paper.

3.5 Bahan dan Fungsi setiap parameter

• Parameter fisika

a. Suhu

 Air kolam : Sebagai tempat pengamatan suhu.

b. Kecerahan

 Air kolam : Sebagai temprt yang diamati

kecerahannya.
• Parameter kimia

a) DO

 Air kolam : Sebagai sampel yang akan diamati Donya.

 Larutan MnSO4 : Mengikat O2

 Laruran NaOH+KI : Untuk membentuk endapan coklat dan

melepas I2

 Larutan H2SO4 : Indikator asam dan melarutkan endapan

coklat.

 Larutan amilum : Indikator basa dan membentuk warna

ungu kehitam-hitaman.

 Larutan Na-thiosulfat : Sebagai larutan titran pada saat titrasi.

 Tissue : Membersihkan alat-alat yang akan

digunakan.

b) Ortofosfat

 Air kolam : Sebagai sampel yang akan diamati.

 Larutan Amonium Molybdate : Untuk mengikat phospat

 Larutan SnCl 4 tetes : Sebagai indikator warna biru bening dan


basa.

 Aquadest : Sebagai pengkalibrasian.

 Tissue : Membersihkan alat yang digunakan.

c) Nitrat-nitrogen

 Air kolam : Sebagai sampel yang diamati

 Larutan asam fenol disulfonik 1ml : Untuk melarutkan kerak.

 Aquadest : Untuk pengeceran larutan.

 Larutan NH4OH 10 tetes : Sebagai Indikator basa.

 Tissue : Mengeringkan alat yang digunakan.

d) CO2

 Air kolam : Sebagai sampel yang diamati.

 Indikator PP : Untuk membentuk warna pink.

 Larutan Na2CO3 : Sebagai larutan titran.

 Tissue : Untuk membersihkan alat yang akan

digunakan.
e) Amonia

 Air kolam : Sebagai yang diamati.

 Larutan Nessler 1ml : Sebagai pengikat amonia.

 Aquadest :Sebagai pengkalibrasian pada

spektrofotometer.

 Tissue : Untuk mengeringkan alat yang digunakan.

f) pH

 PH paper : Sebagai uji besarnya pH suatu perairan.

 Air kolam : Sebagai sampel yang diamati.

3.6 Prosedur kerja

• Parameter Fisika

a) Suhu

Termometer

Dicelupkan kedalam perairan dengan membelakangi cahaya

matahari

Ditunggu selama 2 - 3 menit, usahakan tidak menyentuh termometer

Diambil termometer dengan cepat

Diamati skalanya
Hasil
Dicatat hasilnya dengan satuan ⁰C
b) Kecerahan

Secchi disk

Dicelupkan keperairan dengan memegang talinya

Diturunkan secara perlakuan sampai tidak terlihat pertama kali

sebagai D1

Ditenggelamkan sampai benar-benar tidak tampak

Diangkat perlahan sampai terlihat pertama kali dan ditandai sebagai

D2

Dilihat nilai D1 dan D2

Dihitung dengan rumus

Hasil

Dicatat hasilnya
• Parameter kimia

a) DO / Oksigen Terlarut

Botol

Air sampel
Diukur dan dicatat volume botol DO

Dimasukkan dalam air yang akan diukur dengan posisi miring agar

tidak ada gelembung

Ditutup dalam air

Diangkat ke darat dan dibolak-balik, jika ada gelembung. Diulangi

lagi

Dibuka tutup botol DO

Ditambah 2ml MnSO₄ dan 2ml NaOH+KI

Dihomogenkan

Hasil
Didiamkan sampai terbentuk endapan coklat

Dibuang air bening diatas endapan coklat

Ditambah 2ml H₂SO₄ pekat

Dihomogenkan sampai endapan larut

Ditambahkan 3-4 tetes amilium

Dihomogenkan hingga bewarna ungu kehitam-hitaman

Dititrasi dengan Na-thiosulfat 0,025 N

Dihitung selisih volume titran

Dihitung dengan rumus :

Dicatat hasilnya

b) Ortofosfat
Air Sampel

-Diukur volume 50 ml dalam gelas ukur

-Dimasukkan ke dalam beaker glass

-Ditambah 2ml amonium molybdate

-Dihomogenkan

-Ditambahkan 5 tetes SnCL dan dihomogenkan


-Diukur dengan spektrofotometer

spektrofotometer

-Ditekan power

-Ditunggu hingga “method”

-Ditekan panjang gelombang 480 (amonium molybdate)

-Dienter

-Dimasukkan aquadest 10 ml dalam cuvet

-Ditekan zero sampai 0,0

-Dibuang aquadest

-Diisi larutan orthofosfat

-Dienter
hasil

c) CO2

♥ Tidak terdapat CO2

Air sampel
25ml

-Dimasukkuan dalam erlemenyer

-Ditambahkan 1-2 tetes indikator PP

-Dihomogenkan
-Terbentuk warna pink

hasil

♥ Terdapat CO2

Air sampel 25ml

-Dimasukkan dalam erlemenyer

-Ditambahkan 1-2 tetes indikator PP

-Dihomogenkan

-Tidak terbentuk warna pink

-Dititrasi dengan Na2CO3 sampai berubah warna pink

-Dihitung selisih voleme titran awal dan akhir

-Dihitung kadar CO2 dengan rumus

-CO2 (mg/l) = Vtitran x Ntitran x 22x 1000

Ml air sampel
hasil

d) PH

PH paper

-Dicelupkan didalam perairan ± 1 menit

-Dikibas-kibaskan hingga kering

-Dicocokkan dengan kotak PH standart

-Dicatat hasilnya
Hasil
e) Nitrat nitrogen
Air sampel

-Diukur 25ml dalam gelas ukur

-Dimasukkan dalam beaker glass


-Dipanaskan sampai berkerak dengan hotplate

-Didinginkan

-Ditambahkan 1ml asam fenol disulfonik

-Dihomogenkan dengan spatula

-Ditambahkan 10 ml aquadest

-Ditambahkan 10 tetes NH4OH

-Dihomogenkan

-Diencerkan dengan 100ml aquadest

-Dihomogenkan

-Diukur panjang gelombang dengan spetrofotometer

spektrofotometer

-Ditekan power

-Ditunggu hingga “method”

-Ditekan panjang gelombang 353 (asam fenol disulfunik)

-Dienter

-Dimasukkan aquadest 10 ml dalam cuvet

-Ditekan zero sampai 0,0

-Dibuang aquadest

-Diisi larutan nitrat nitrogen

-dienter
Hasil

f) Amonia
Air sampel
-Diukur volume 25ml dengan gelas ukur dan disaring

-Dimasukkan kedalam beaker glass

-Ditambahkan 1 ml larutan nessler

-Dibiarkan hingga terbentuk endapan

-Diukur panjang gelombang dengan spetrofotometer

-Diambil bagian yang penting

Spektofotometer

-Ditekan power

-Ditunggu hingga “method”

-Ditekan panjang gelombang 430( nessler)

-Dienter

-Dimasukkan aquadest 10 ml dalam cuvet

-Ditekan zero sampai 0,0

-Dibuang aquadest

-Dibersihkan cuvet dan dikeringkan dengan tissue

-Diisi larutan amonia

-Dienter

Hasil
4. PEMBAHASAN

4.2 PERHITUNGAN

• Luas kolam monokultur = 32 m2

• Ukuran lele(benih) = 8 – 12 cm

Berat sampel 10 ekor = 30 gram, berat rata-rata ikan = 3 gram


• Padat penebaran = 700 ekor

 SR(Survival Rate)

Nt = Jumlah benih yang di panen(77 ekor)

No= jumlah benih yang ditebar(700 ekor)

SR = Nt x 100 %

No

= 77 x 100%

700

= 11 %

 FCR (Food Convertion Rate)

FCR = ∑ bobot pakan selama pemeliharaan

∑ bobot ikan setelah panen

= 1876 gr

960 gr

= 1.954 gr
 GR (Growth Rate)

Wt = berat akhir ikan (sampel 10 ekor = 157 gr) @ = 15,7 gr

Wo= berat ikan awal (sampel 10 ekor ikan = 30 gr) @ = 3 gram

t= lama hari (21 hari)

GR = Wt – Wo x 100 %

= 5,9 – 1,85 x 100 %

21

= 4,05 x 100 %

21

= 0,193 x 100 %

= 19,3 %
5. PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum dasar-dasar Aquqculture

adalah sebagai berikut :

• Aquaculture adalah bentuk kegiatan pemeliharaan dan penangkaran biota

akuatik di lingkungan terkontol maupun semi terkontrol

• Pengelolaan tanah adalah proses dimana tanah dilembekkan atau

digemburkan, dengan tujuan mengangkat unsur hara dan menjaga kesuburan

tanah

•Tujuan pengapuran adalah mempertahankan kestabila pH tanah, dan

memberantas penyakit

• Pemupukan bertujuan menghasilkan pakan alami

• Kegiatan budidaya meliputi pembenihan dan pembesaran, penanganan hasil

panen, serta bagian pemasaran

• Macam budidaya ada dua, yaitu polikultur dan monokultur

• Polikultur merupakan pemeliharaan beberapa ikan jenis dalam satu petakan

• Monokultur adalah pemaliharaan ikan dalam satu petakan

• Kualitas air adalah kondisi kualitatif yang diukur berdasarkan parameter tertentu
• Kualitas air yang baik : rendah amonia dan nitrit, bersih secara kimiawi, dan

rendah kadar cemaran anorganik

• Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan adalah pemeliharaan, kualitas air dan

pakan, kerentanan terhadap penyakit, serta padat penebaran

• Nutrisi dan gizi pakan akn diserap untuk membangun jaringan dan daging,

sehingga pertumbuhan akan terjamin

5.2 Saran

Dalam praktikum dasar- dasar Akuakultur sebaiknya jarak antara

penabaran dan panen jangan terlalu dekat, sehingga kita dapat mengetahui

pertumbuhan ikan, apakah dapat tumbuh secara optimum atau tidak.


DAFTAR PUSTAKA

Agricoach. Perlakuan Pengolahan Tanah. http://agricoach-inc.com/?page_id=136

Agromedia.2007.http://www.agromedia.net/Info/kualitas-air-mendukung-

pertumbuhan-lele-dumbo.html

Andayani, S. 2005. Manajemen Kualitas Air Untuk Budidaya Perairan.

Universitas Brawijaya : Malang

Anonymous a.2010.http://www.bi.go.id/sipuk/id/?id=4&no=40412&idrb=43801

Anonymous b .2010.http://solusiikanmas.blogspot.com/2008/03/pengapuran-

kolam.html

Bromage, N.R. 1988. Fish Farming. Blackwell science ltd. USA

Creasoft.2008. Pengertian Pertumbuhan. http://creasoft.files.wordpress.com /

2008 /04/kep_tumbang.pdf

Darijiah.2006. Pengukuran Kualitas Pakan.

http://my.opera.com/sampahbermanfaat/blog/indeks.dml

Effendy, Hafni.2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius : Jogjakarta.

Effendi, Irzal. 2004. Pengantar Akuakultur. Penebar Swadaya : Jakarta

Erik.2008.ParameteFisikaKimia.http://erkarianto.wrordpress.com/2008/01/10/par

ameter-fisika-kimiaperairan/Diakses pada tanggal 24Mei 2010 pukul

20.44 WIB
Ghufron dan Kordi. 2009. Pengelolaan Kualitas Air. Rineka Cipta : Jakarta

Hendri.2008.http://hendri.blogspot.com/materi-tekhnologi-bahan-konstruksi.html

Kanisius. 1992. Membudidayakan Gurame Secara Intensif. IKAPI : Jogjakarta

Kanisius.2001. Budidaya Ikan di Perairan Umum. IKAPI : Jogjakarta

2002. Budidaya Nila Gift secara Intensif. IKAPI: Jogjakarta

Khairuman dan Amri Khairul. 2002. Membuat Pakan Ikan Konsumsi. Agromedia

Pustaka : Jakarta

Kordi, K Ghufron dan Andi Baso Tancung. 2007. Pengelolaan Kualitas Air dalam

Budidaya Perairan. Rineka Cipta : Jakarta

Kordi, K Ghufron dan Andi Baso Tancung. 2009. Pengelolaan Kualitas Air dalam

Budidaya Perairan. Rineka Cipta : Jakarta

Lesmana, Darti Satyani.2001. Kualitas Air Untuk Ikan Hias Air Tawar. Penebar

Swadaya. Jakarta

Leugeu.2010.Pengertian-dan-Ruang-Lingkup-

Akuakultur.http://leugeu.wordpress. com/19/

Lesmana, Darti Satyani dan Iwan Dermawan. 2006. Kunci Keberhasilan

Budidaya Ikan Hias. Penebar Swadaya : Jakarta

Masduqi, Ali.2009. Parameter Kualitas Air.

www.masduqiali.blogspot.com

Muchtar, Muswerry. 2002. Fluktasi Fosfat dan Nitrat Pada Musim Peralihan di

Teluk Banten, Jawa Barat. LIPI : Jakarta

Nirhono.2009.Pengapuran.http://nirhono.wordpress.com/2009/07/24/wadah-

budidaya-ikan-koi-dan-koki/

Nontji, Anugerah. 2005. Laut Nusantara. Djambatan : Jakarta


Ofish.2010.ParameterUmumKualitasPerairan.http://www.ofish.com/Air/kualitas_a

ir.php. Diakses pada tanggal 24 Mei 2010 pukul 20.44 WIB

Pillay, T.V.R. 1990. Black Well Science. United Kingdom Trade Mark Registry :

USA

Rika.2008. Seminar Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat. Unila :

Lampung

Susana, Tjutju. 2002. Nitrogen – Urea di Perairan Teluk Banten. LIPI : Jakarta

Susanto, G.Nugroho. 2002. Hasil Olahan Limbah Rumah Sakit dan Dampaknya

Terhadap Laju Pertumbuhan Spesifik dan Sintasan Ikan Nila

(Oreochromis Niloticus).Unila : Lampung

Susanto, Heru. 2006. Budidaya Ikan di Pekarangan. Penebar Swadaya : Jakarta

Soeseno, Slamet. 1983. Budidaya ikan dan Udang dalam Tambak. Gramedia :

Jakarta

Taniqu. 2008. http://www.taniqu.blogspot.com/kptan20%kapur20%pertanian/

Wibisono, M.S. 2005. Pengantar Ilmu Kelautan. Grasindo : Jakarta

Wikipedia.2010. Pengolahan Tanah.http://id.wikipedia.org/wiki/pengolahan_tanah

Yulianita,Ninit.2009.Pertumbuhan.http://ninityulianita.wordpress.com/2009/09/11/

pengertian-pertumbuhan
AsIsTeN zOnE....
No FOtO aSISTEn CoMmEnT : ..
1 Rio Karunia Bhakti Mas Rio Iitu, menurut :
• Lina : Mas, pertahankan kesabaranya
ya!! Senyum terus pantang
maju..
• Soma:Uenakk..Tenang, santai, sukses.
Ok brow!!
• Endra:Asisten paling pengertian,
murah senyum.
• Agus : Kalo ngasisteni tolong jangan
teliti2, ga’ selesai2 laporanQ.
Sipp mantab jaya..
• Huda:Yang sabar ya.. kalo ngasisteni
kami..lebih sabar ja dech..
• Reni :Teliti n cermat puoll..tapi baik n
sabar banget..
• Sonya :

(Co.Asst)
2 Tetriana Septiningtyas

3 Ali Shodiq Mas Ali sabar banget...n bisa di ajak

seru-seruan bareng kita..

Smangad yow Mas,,,


4 Erdiniah F.M Mbak Dini orangnya seru ‘n gampang

akrab ma adhek2nya...

Terimakasih ya...

5 Danang Feri Pratama

6 Guntur Wijaya Mas Guntur Lucu... tapi sabar n asyikk,,

Pertahankan mas.. ^_^

7 Rini Rafika Dhamayanti Mbak Rini orangnya baik ;n sabar..

Maksih mbak buat semuanya,,


Presented By :
Kelompok 6

Dasar – Dasar Aquaculture

(Soma, Lina, Huda, Sonia, Endra, Reni, Agus)

BP ‘09