Anda di halaman 1dari 2

Rosulullah Saw Bersabda "sesungguhnya Allah mengutus Umat Ini Pada tiap Penghuju

ng seratus tahun akan muncul orang yang memperbaharui Agamnya. (Sunan Abu Daud).
Secara bahasa, kata tajdid berarti pembaruan. Ia merupakan proses menjadikan ses
uatu yang terlihat usang untuk dijadikan baru kembali. Ia merupakan upaya untuk
menghadirkan kembali sesuatu yang sebelumnya telah ada untuk diperbaiki dan dise
mpurnakan.
Pada konteks ini, sejarah telah mencatat bahwa pembaruan telah terjadi di dunia
Kristen dengan adanya Reformasi Gereja yang terjadi pada abad pertengahan. Sebag
ian tokoh Kristen menganggap agama Kristen harus direformasi tatanannya karena t
elah dianggap telah terjadi penyelewengan yang dilakukan oleh para petinggi-peti
nggi Gereja. Pembaruan juga terjadi di Barat dengan adanya revolusi Perancis yan
g diikuti dengan revolusi Industri yang diawali dengan bangkitnya Bangsa Eropa d
ari masa kegelapan.
Pertanyaannya adalah, apakah dalam Islam juga terdapat pembaruan atau tajdid? Ap
akah tajdid dalam Islam?
Sepintas pertanyaan tersebut akan mudah terjawab. Dalam benak kita pun akan terb
ayang sejumlah tokoh yang dikenal sebagai tokoh pembaharu dalam pemikiran keisla
man. Namun alangkah baiknya bila kita definisikan dahulu apa yang dimaksud tajdi
d dalam Islam, untuk kemudian dengan mudah kita akan mengetahui mana gerakan yan
g layak disebut sebagai pembaharuan.
Syed Naquib menjelaskan bahwa dalam persepektif Islam, makna kemajuan masyarakat
dan perkembangannya bukanlah perubahan yang terus menerus menuju masa depan yan
g tidak pasti. Namun lebih merupakan sebuah proses pergerakan Muslim yang telah
menyimpang menuju keaslian Islam, perkembangan inilah satu-satunya yang dapat di
sebut dengan kemajuan yang sebenarnya. Dalam hal ini, tajdid aktivitas koreksi ul
ang atau konseptualisasi ulang- pada hakekatnya selalu berorientasi pada pemurni
an yang sifatnya kembali kepada ajaran asal dan bukan adopsi pemikiran asing. Ke
mbali pada pemikiran asal bukan berarti kembali pada corak kehidupan Nabi, tapi
harus dimaknai secara konseptual dan kreatif. Dalam pengertian ini, Syed Naquib
mengenalkan istilah islamisasi sebagai kerangka konseptualnya, yaitu: pembebasan
manusia dari tradisi magis, mitologis, animistis, kultur nasional (yang bertent
angan dengan Islam) dan dari belenggu sekuler terhadap pemikiran dan bahasa juga p
embebasan dari kontrol dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil t
erhadap hakekat diri atau jiwanya. Dalam pelaksanaannya, diperlukan pemahaman ya
ng dalam akan paradigma dan pandangan hidup Islam yang besumber dari al Quran da
n sunnah serta pendapat para ulama yang terdahulu yang secara ijma dianggap shah
ih. Selain itu diperlukan juga pemahaman terhadap kebudayaan asing dan pemikiran
yang menjadi asasnya, namun pemahaman yang dimaksud bukanlah mengambil konsep a
sing tersebut.
Karena tidak setiap pendapat baru dalam agama selalu dapt dinamakan pembaharuan,
banyak pendapat penadapat yang harus dan ditolak perkembanganya tidak berati se
lamanya pembaharuan. Begitu juga modernisasi dan modernitas belum tentu mujaddid
.
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembarun Islam bukanlah sesuatu
yang evolusioner, melainkan lebih cenderung devolusioner, dengan artian bahwa p
embaruan bukan merupakan proses perkembangan bertahap dimana yang datang kemudia
n lebih baik dari sebelumnya.
Pembaruan Islam adalah proses pemurnian dimana konsep pertama atau konsep asalny
a difahami dan ditafsirkan sehingga menjadi lebih jelas bagi masyarakat pada mas
anya dan lebih penting lagi penjelasan itu tidak bertentangan dengan aslinya. Di
sini bukan perubahan yang terjadi, tetapi peragaman makna dan penafsiran. Di sa
mping itu, tajdid ini bisa berarti memperbaharui ingatan orang yang telah melupa
kan ajaran agama Islam yang benar, dengan memberi penjelasan dan argumentasi-arg
umentasi baru sehingga meyakinkan orang yang tadinya ragu, dan meluruskan kekeli
ruan atau kesalahpahaman mereka yang keliru dan salah paham.
Sebenarnya proses ini telah diramalkan sendiri oleh Nabi saw. dalam haditsnya. s
esuai hadist diatas, bahwa Hal ini mengandung peringatan bagi kaum Muslim untuk
selalu bersikap optimis dalam menghadapi hidup, karena Allah tidak akan membiar
kan kerusakan terjadi pada hamba-hambaNya. Sebaliknya Allah akan menyelamatkan h
amba-hambaNya dari kesesatan dan kebingungna dengan mengirim seorang mujaddid ya
ng akan menghidupkan kembali ajaran-ajaranNya.
Proses tajdid ini juga diperlukan karena pemahaman umat Islam terhadap ajaran Is
lam bukan ajaran Islam telah semakin jauh dari bentuk dan sifat aslinya. Namun s
ang mujaddid akan tetap berpegang teguh pada kebenaran mutlak yang terdapat dala
m al Quran.
Pada pengertian ini, pembaruan Islam berbeda dengan pembaruan yang terjadi di du
nia lain yang bersifat reformasi dan revolusi. Dimana yang datang kemudian akan
menjadi evaluasi dan menghapuskan pendapat yang lama. Begitu juga pembaruan Isla
m mempunyai rujukan yang jelas, yaitu al Quran. Sementara pembaruan lain akan te
rus berproses mencari dan tidak memiliki rujukan yang mutlak dan pasti.
Sebab dampak yang mengemuka jika hal tersebut tetap dilakukan terhadap trem agam
a, menurut penuturan Dr, Nurchalish Madjid bahwa pembaharuan selalu mengundang s
tatus quo, maka salah satu mainstrem dinamikanya ialah kotroversi dan polemik. p
embaharuan selalu melibatkan pro kontra, kadang kadang dalam gaya yang penuh naf
su dan sengit dari masing masing pihak. dan tidak jarang dari sikap pro kotra te
rsebut, hanya bersifat psikologis, tanpa substansial konkrit. libih ironis lagi
ia menambhkan bahwa reaksi terhadap pembaharuan itu refleksi apa yang disebut de
ngan "convert Complex" sepetrti yang beliau contohkan pada sosok Maryam Jameela
bekas wanita didikan yahudi. juga ada yang menyebut sebagai gejala jiwa yang lai
n dari mereka yang biasa disebut dengan " born again", yaitu semula orang yang
tidak berniat kepada agama tapi kemudian menjadi fanatikus yang keras. Allahu Al
-Hadi Ila shawab...