Anda di halaman 1dari 15

PANDANGAN IMAN KRISTEN

TERHADAP

GAYA HIDUP MODERN

Diajukan Sebagai Tugas Akhir Pelajaran Agama

oleh:

Michelle Faith
SMAK 2
XI-IPA-1/18
KATA PENGANTAR

Pertama kali saya ucapkan puji syukur bagi


Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan rahmatnya
yang selalu menyertai saya dalam pembuatan
makalah ini. Juga kepada keluarga dan teman-teman
saya yang telah memberikan dukungan baik melalui
doa ataupun secara material.
Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam era
globalisasi ini kehidupan sehari-hari kita telah
berubah menjadi kehidupan yang modern dan jauh
lebih kompleks.
Kita sendiri sebagai orang-orang Kristen, sebagai
para pengikut Kristus secara langsung ataupun tidak
langsung telah menjadi bagian dari kehidupan
modern itu sendiri.
Tujuan makalah ini sendiri adalah membahas
cara pandang iman Kristen terhadap gaya hidup
modern yang semakin mendunia sekarang ini.

Semoga dengan dibuatnya makalah ini dapat


membantu Anda yang membutuhkannya.

Jakarta, 29 November 2009

Michelle Faith
Penulis
DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................i

BAB 1 :
Pendahuluan..........................................1-2

BAB 2 :
Pembahasan..........................................3-9

BAB 3:
Kesimpulan..........................................10

Daftar Pustaka.....................................11
BAB I : Pendahuluan
Apakah definisi iman? Ibr 11:1 menjelaskan bahwa:

• Iman adalah dasar (fondasi) dari segala sesuatu yang kita


harapkan.
• Iman adalah bukti dari segala sesuatu yang tidak
kelihatan.
• Iman adalah salah satu segi buah roh (Gal 5:22,23 - Faith).
• Iman adalah produk kerja sama antara kita dan Roh Kudus;
merupakan respon terhadap uluran tangan Allah.

Iman merupakan istilah yang umum. Setiap agama mempunyai iman


dengan ciri-cirinya tersendiri. Lalu apa bedanya dengan iman Kristen?

Mengasihi Musuh
Salah satu yang unik dari iman Kristen adalah mengasihi musuh. Kalau
Yesus meminta kita untuk mengasihi musuh, maka sebenarnya yang
Yesus inginkan : usahakanlah jangan menjadi musuh bagi orang lain
dan jangan menganggap orang lain sebagai musuh.

Rela Berkorban
Rela berkorban berarti memberikan diri untuk kepentingan orang lain;
dan hanya Yesus yang dapat memenuhi panggilan itu dengan
sempurna. Pengorbanan sampai mati yang Ia jalani bukan
pengorbanan yang biasa-biasa saja, melainkan pengorbanan yang
dijalani melalui penghukuman mati di kayu salib.

Setia
Kesetiaan seseorang akan tampak di dalam proses menuntaskan
upayanya, dari awal hingga akhir. Demikianlah Tuhan Yesus setia
untuk menyelamatkan manusia.

Takut Akan Tuhan


Ini berarti takut akan Tuhan itu tidak hanya pada perasaan takut,
tetapi takut yang disertai dengan ketaatan dalam perilaku melakukan
perintah Tuhan.
1
Monogami
Yang menjadi dasar perkawinan keluarga Kristen adalah kasih,
sekaligus sebagai perwujudan dari hubungan Kristus dan jemaat.
Karena itu, hubungan pasangan suami istri itu kudus dan tidak boleh
dinodai. Sebagaimana Kristus adalah satu-satunya mempelai Gereja,
demikianlah pula dalam keluarga Kristen seorang suami hanya
memiliki pasangan seorang istri (monogami), atau sebaliknya
(monoandri). Alkitab mengajarkan bahwa tujuan pernikahan adalah
bukan semata-mata kenikmatan, melainkan sebagai ketetapan Allah
untuk meneruskan keturunan dan sebagai wadah mendidik dan
membina kesetiaan serta persekutuan orang percaya.

Tanpa Pamrih
Tindakan yang tanpa pamrih adalah tindakan atau perbuatan baik
yang dilakukan oleh seseorang demi kepentingan orang lain tanpa
mengharapkan imbalan. Tindakan seperti ini tidak akan dilakukuan
oleh seseorang jika tidak didasarkan atas kasih Tuhan.

Tidak Khawatir
Salah satu ciri orang yang memiliki iman adalah tidak khawatir, artinya
orang yang beriman itu hidup dalam pengharapan.

Apakah gaya hidup modern itu?


Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Kamus Bahasa Indonesia
Kontemporer, “gaya hidup” diartikan sebagai “pola tingkah laku
sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat”. Kata “modern”
sebagai kata benda artinya, sikap, perilaku, perbuatan atau tingkah
laku yang sesuai dengan tuntutan zaman. Sedangkan kata “modern”
sebagai kata sifat artinya : terbaru, mutakhir. Dengan demikian, gaya
hidup modern dapat diartikan sebagai pola terbaru tingkah laku sehari-
hari segolongan manusia yang sesuai dengan tuntutan zaman.
2

Bab II : Pembahasan
Apa yang dimaksud dengan “Pernikahan Agung”?

Definisi Pernikahan:
Pernikahan dapat dirumuskan sebagai :"Ikatan cinta kasih yang resmi
dan tetap antara seorang pria dan wanita yang saling menyerahkan
diri guna membangun suatu keluarga".
Ikatan cinta kasih berarti bahwa perkawinan tidak dapat dipaksakan,
cinta kasih akan mengutamakan kepentingan pasangan dan tidak
disamakan dengan pemuasan hawa nafsu, sebagai lambang ikatan,
suami istri sering mengenakan cincin lambang mata rantai yang
melambangkan orang sudah tidak bebas lagi.

Pernikahan sebagai sakramen:


Jodoh memang di tangan Tuhan, tetapi itu tidak berarti bahwa manusia
tidak boleh berinisiatif untuk mencari teman hidup. Manusia harus
berusaha mencari penolong yang sepadan dengan dia. Tetapi serentak
juga, pendamping itu boleh dianggap sebagai anugerah, pemberian
Tuhan. Karena teman hidup adalah anugerah dari Allah, manusia
berkewajiban menghargai dan menghormati pemberian itu. Allah
mencintai manusia melalui suami atau istrinya.
"Hai suami, kasihilah istrimu sebagaimana Kristus telah mengasihi
jemaat dan telah menyerahkan dirinya baginya. (Ef 5:25). Kita tahu
bahwa Kristus mengorbankan diri demi penyelamatan Gereja, maka
suami dan istri diminta berkorban demi kebahagiaan pasangannya.

Mengapa masuk gaya hidup modern?

Dewasa ini cara pandang orang terhadap pernikahan telah berubah.


Perceraian telah menjadi sesuatu yang lazim kita temui di kehidupan
sehari-hari.
Setiap kali kita melihat televisi, ada saja acara gossip yang
memeberitakan perceraian antar pasangan selebritis luar maupun
dalam negeri.
Tidak hanya selebritis, dalam kehidupan masyarakat awam pun
perceraian sering sekali kita temui.
Komitmen bukanlah sesuatu yang dianggap penting, berbeda dengan
ajaran Kristen yang menyatakan bahwa pernikahan adalah sesuatu
yang didasarkan oleh kasih.
Selain perceraian penyimpangan-penyimpangan lainnya yang akan
dibahas adalah poligami dan perkawinan sesama jenis.

3
Penyimpangan-penyimpangan ini telah menjadi gaya hidup modern,
menjadi satu dengan budaya. Hal ini dikarenakan masyarakat
menganggap perceraian adalah sesuatu yang biasa, tinggal seatap
dengan orang yang bukan pasangan hidup kita adalah biasa dan
pernikahan sesame jenis itu diperbolehkan dan wajar.

Walaupun ada sebagian dari masyarakat yang menentang, seiring


dengan berjalannya waktu, larangan-larangan ini pun mulai luntur dan
akhirnya penyimpangan-penyimpangan ini diterima oleh masyarakat
itu sendiri.

Mengapa tidak sesuai dengan pandangan Kristen?

Perkawinan bukan suatu eksperimen :

Karena apa yang sudah dipersatukan TUHAN, tak ada orang yang bisa
memisahkannya, dengan alasan apapun, karena di mata TUHAN,
keduanya tetap merupakan satu tubuh, walaupun mereka sudah
berpisah atau bercerai.

Orang mengikat diri seumur hidup. Yesus berkata : "apa yang telah
dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia." (Mat 19:6).
Persatuan tetap itu perlu untuk menjamin perkembangan yang sehat
dari anak-anak. Dalam dongeng, ayah atau ibu tiri menjadi sumber
penderitaan untuk anak-anak. Jika hidup berumah tangga sudah tidak
dapat dipertahankan lagi, suami istri dapat hidup berpisah, namun
mereka tetap terikat dan tidak bebas untuk menikah lagi.

"Lalu kata-Nya kepada mereka: "Barangsiapa menceraikan isterinya


lalu kawin dengan perempuan lain, ia hidup dalam perzinahan
terhadap isterinya itu.Dan jika si isteri menceraikan suaminya dan
kawin dengan laki-laki lain, ia berbuat zinah.."
Markus 10:11-12

"Setiap orang yang menceraikan isterinya, lalu kawin dengan


perempuan lain, ia berbuat zinah; dan barangsiapa kawin dengan
perempuan yang diceraikan suaminya, ia berbuat zinah." Lukas 16:18
"Tetapi Aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya,
kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat
zinah."
Matius 19:9

Beberapa Gereja Protestan dan sekte-sekte tertentu beralasan bahwa


kata di atas, menyatakan bahwa pernikahan dapat dipisahkan hanya
setelah perzinahan dan tetap memberikan kemungkinan untuk
menikah kembali. Hukum Gereja memberikan ijin untuk berpisah,
tetapi karena fakta bahwa mereka tetap satu daging menurut Hukum,
menikah kembali tetap tak dapat diijinkan.
4

Monogami, kehendak Kristus sejak semula :

Kristus mengajarkan bahwa Allah sejak semula menginginkan sebuah


hubungan monogami, satu suami satu isteri. Namun, karena kebebalan
hati umat Israel pada saat itu yang ingin kawin cerai, akhirnya Musa
menuruti kemauan mereka untuk membuat surat cerai. Sejak itulah,
dalam sejarah, para nabi termasuk raja-raja merasa lumrah untuk
memiliki isteri lebih dari satu. Kenyataan ini bisa kita baca dalam
Alkitab dimana Raja Daud, raja yang diurapi Allah dan Salomo, raja
paling bijaksana di muka bumi memiliki isteri lebih dari satu. Poligami
kemudian menjadi suatu hal yang biasa di kalangan rakyat jelata.
Bahkan semakin menjadi-jadi dengan menjadikan perempuan sebagai
budak belian dan pemuas nafsu laki-laki.

Namun, apa jawaban Kristus tentang hubungan suami isteri ini setelah
praktek poligami sudah menjadi hal yang lumrah bahkan membudaya
di jaman-Nya? Apakah ia menyetujui poligami? Jawabannya bisa dibaca
dalam Kitab Matius 19:3-12. Dalam ayat-ayat ini, Kristus dengan
jelas menyatakan bahwa monogami menjadi kehendak Allah
sejak semula. Mari kita baca dan bahas bersama-sama. Untuk
terjemahan Indonesia, saya menggunakan kitab terjemahan LAI
(Lembaga Alkitab Indonesia) dan terjemahan Inggris (melengkapi
pemahaman kita karena adanya keterbatasan dari terjemahan bahasa
Indonesia), saya menggunakan New Living Translation SE.

Matius 19:3-12

3 Maka datanglah orang-orang Farisi kepada-Nya untuk mencobai Dia.


Mereka bertanya: “Apakah diperbolehkan orang menceraikan isterinya
dengan alasan apa saja?”
3 Some Pharisees came and tried to trap him with this question:
“Should a man be allowed to divorce his wife for just any reason?”

Pada jaman Yesus, orang Farisi dikenal sebagai orang ‘penting’ yang
menjunjung tinggi Hukum Taurat. Yesus sendiri sering mengecam
mereka dengan menyebut mereka orang yang munafik dan
mengibaratkan mereka seperti kuburan yang luarnya putih namun
busuk di dalamnya. Orang Farisi tidak menyukai Yesus karena ajaran-
ajaran-Nya yang dianggap ‘berbeda’ dan sering menghabiskan waktu
dengan orang-orang berdosa. Dalam suatu kesempatan, orang-orang
Farisi ingin menjebak Yesus dengan membuat sebuah pertanyaan
tentang bolehkah seorang suami menceraikan isterinya dengan alasan
apa saja?

4 Jawab Yesus: “Tidakkah kamu baca, bahwa Ia yang menciptakan


manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuan?
4 “Haven’t you read the Scriptures?” Jesus replied. They record that
from the beginning ‘God made them male and female.”

Yesus yang sering mengajar dengan membuat perumpamaan, tidak


menjawab dengan boleh atau tidak boleh. Ia menjawab, Tuhan sejak
semula menciptakan laki-laki dan perempuan. Lewat ayat ini
ditemukan satu kebenaran, bahwa Tuhan menciptakan laki-laki dan
perempuan BUKAN laki-laki dan perempuan-perempuan. Artinya, satu
laki-laki satu perempuan. Ayat ini juga menegaskan bahwa hubungan
suami isteri yang Tuhan maksud adalah hubungan antara laki-laki dan
perempuan. Jadi, pernikahan sesama jenis, homo dan lesbian, jelas
bertentangan dengan kehendak Allah. Apapun justifikasi (pembenaran
diri) yang dibuat, Tuhan sejak semula menjadikan manusia, laki-laki
dan perempuan.

5 Dan Firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan


ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi
satu daging. 6 Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu.
Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan
manusia.”
5 And he said, ‘This explains why a man leaves his father and mother
and is joined to his wife, and the two are united into one.’ 6 Since they
are no longer two but one, let no one split apart what God has joined
together.”
Ayat ini benar-benar meneguhkan kita bahwa Tuhan menginginkan
pernikahan yang sifatnya monogami. Di situ tertulis, "Mereka bukan
lagi dua, melainkan satu (no longer two but one)." Bukan tiga jadi satu
atau empat jadi satu, seperti dalam poligami. Dalam ayat ini juga
dinyatakan bahwa perceraian tidak pernah ada dalam kamus Allah.
Apa yang dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.

7 Kata mereka kepada-Nya: “Jika demikian, apakah sebabnya Musa


memerintahkan untuk memberikan surat cerai jika orang menceraikan
isterinya?”
7 “Then why did Moses say in the law that a man could give his wife
written notice of divorce and send her away?” they asked.

Orang Farisi kelihatannya tidak puas dan tidak bisa menerima dengan
jawaban Yesus ini. Mereka kemudian mempertanyakan mengapa Musa
mengijinkan perceraian dengan memberikan surat cerai. Apa jawaban
Yesus tentang hal ini? Ini menarik.

8 Kata Yesus kepada mereka: “Karena ketegaran hatimu, Musa


mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah
demikian.
8 Jesus replied, “Moses permitted divorce only as a concession to your
hard hearts, but it was not what God had originally intended.

6
Yesus menjawab, karena ketegaran hatimu. Rupanya di jaman Musa,
umat Israel berkeras hati ingin kawin cerai. Musa akhirnya dengan
berat hati, menuruti kemauan umat yang bebal ini. Padahal, sejak
semula, manusia kawin cerai bukanlah kehendak Allah. Dalam
terjemahan NLT, but it was not what God had originally intended.

9 Tetapi aku berkata kepadamu: Barangsiapa menceraikan isterinya,


kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat
zinah.”
9 And I tell you this, whoever divorces his wife and marries someone
else commits adultery - unless his wife has been unfaithful.”

Yesus kemudian melanjutkan bahwa barangsiapa menceraikan


isterinya lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah. Jadi,
meskipun seseorang sudah menceraikan isterinya sah demi hukum
dan memenuhi ‘persyaratan-persyaratan’ sosial dalam pengadilan
agama: istri cacat badan, tidak dapat menjalankan kewajibannya
sebagai isteri, dan tidak dapat melahirkan keturunan, Kristus dengan
tegas menyatakan bahwa orang itu berbuat zinah. Apalagi mereka
yang kawin lagi tanpa bercerai alias poligami. Tinggal tambahkan kata
‘banget’, berzinah banget.

Kristus menyatakan bahwa seseorang boleh menceraikan isterinya,


kalau isterinya itu berzinah dengan orang lain. Di luar itu, tidak ada
persyaratan-persyaratan apapun yang membolehkan seseorang
menceraikan isterinya, meski isterinya cacat badan, tidak dapat
menjalankan kewajibannya sebagai isteri, dan tidak dapat melahirkan
keturunan. Kristus menyatakan bahwa suami isteri adalah dua menjadi
satu. Satu dalam suka dan duka. Jadi ketika suami atau isteri ditimpa
duka, itu adalah duka bersama. Bukan malah menceraikan isteri atau
suami karena mendapati salah satu di antara mereka cacat, ‘gagal’
menjadi isteri, dan sebagainya.

10 Murid-murid itu berkata kepada-Nya: “Jika demikian halnya


hubungan antara suami dan isteri, lebih baik jangan kawin.” 11 Akan
tetapi Ia berkata kepada mereka: Tidak semua orang dapat mengerti
perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja.
10 Jesus disciples then said to him, “If this is the case, it is better not
to marry!” 11 Not everyone can accept this statement," Jesus said.
"Only those whom God helps.

Mendengar jawaban Yesus itu, murid-muridnya menjadi skeptis. Kalau


memang begitu keadaannya, lebih baik tidak usah kawin. Apa jawaban
Yesus?

12 Ada orang yang tidak dapat kawin karena memang lahir demikian
dari rahim ibunya, dan ada orang yang dijadikan demikian oleh orang
lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena Kerajaan
Sorga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti.”
12 “Not everyone can accept this statement,” Jesus said. “Only those
whom God helps. Some are born as eunuchs, some have been made
eunuchs by others, and some choose not to marry for the sake of the
Kingdom of Heaven. Let anyone accept this who can.”

Yesus menjawab bahwa ada orang yang tidak dapat kawin karena
terlahir demikian (cacat), ada pula orang dijadikan demikian oleh
orang lain (kemaluannya dikebiri), dan ada orang yang secara sadar
memilih tidak kawin karena Kerajaan Sorga (Rasul Paulus). Jadi, biarlah
kita bisa mengerti bahwa ada tiga jenis orang yang membuat orang itu
tidak kawin.

Perkawinan sesama jenis


Alkitab cukup banyak menyebut-nyebut masalah ini. Dimulai dengan
Kejadian 19:1-11, yang bercerita tentang dari mana sebutan lain untuk
homoseksualitas - "sodomi" - itu berasal. Tapi yang jauh lebih banyak
disebut-sebut adalah, kutukan terhadap praktik homoseksual yang
berhubungan dengan ibadah kafir, yang lazim disebut sebagai
"pelacuran kudus" (Ulangan 23:17-18; 1 Raja-Raja 14:24; 15:12; 22:46;
2 Raja-raja 23:7).

Di situ, dalam "ibadah" ini, orang menyatukan diri dengan dewa-dewi


mereka, dengan cara menyetubuhi para "imam" -- yang fungsinya tak
lebih dari pada pelacur -- baik laki-laki maupun perempuan.

Kutukan terhadap praktik homoseksual kita dapati dalam Imamat


18:22. Bunyinya, "Janganlah engkau tidur dengan laki-laki secara
orang bersetubuh dengan perempuan, karena itu suatu kekejian".
Yang melakukannya diancam dengan hukuman mati (Imamat 20:13).
Jadi, tak pelak lagi, homoseksualitas memang dianggap sebagai
pelanggaran yang sangat serius.

Dalam Perjanjian Baru, Roma 1:26-27, Rasul Paulus mengingatkan,


bahwa praktik homoseksual adalah sebagian dari bentuk kebejatan
moral dunia kafir, dari mana orang-orang kristen sebenarnya telah
dibebaskan dan disucikan oleh Kristus (1 Korintus 6:9). Karena itu,
sebagai konsekuensinya, tak layak dipraktikkan lagi.

8
Presentase

Berikut adalah grafik yang menyatakan meningkatnya perceraian


selama 50 tahun terakhir.
Perceraian mengalami peningkatan yang drastis sejak tahun 1970an
dan mencapai puncaknya pada tahun 1980.

Disini dapat kita lihat bahwa perceraian biasa terjadi antara tahun
ketiga dan keempat setelah menjalankan pernikahan.

Bab III : Penutup


Kesimpulan
Dari sejumlah uraian diatas kita dapat menarik kesimpulan bahwa :

1. Gaya hidup modern telah mempengaruhi kehidupan sebagian


besar manusia. Banyak diantara gaya hidup modern yang
bertentangan dengan pandangan iman Kristen.

2. Pernikahan adalah sakramen yang menyatukan pria dan wanita


Kristen sebagai suami dan istri. Suatu kontrak seumur hidup
yang sakral, dimana dua manusia yang sudah dibaptis, laki-laki
dan perempuan, mengambil keputusan untuk hidup bersama-
sama dalam suka maupun duka sampai maut memisahkan
mereka.

3. Kristus dengan tegas menyatakan MONOGAMI adalah kehendak


Allah, sejak semula, sebelum dunia dijadikan.

4. Pernikahan sesama jenis, homo dan lesbian, jelas bertentangan


dengan kehendak Allah. Apapun justifikasi (pembenaran diri)
yang dibuat, Tuhan sejak semula menjadikan manusia, laki-laki
dan perempuan.

10

Daftar Pustaka
http://www.ladangtuhan.com/komunitas/index.php?
topic=3652.0;wap2. Kamis, 27 November 2008.

http://arsiplama.revival.or.id/seminar/kpp/bab11.html. Kamis, 27
November 2008.
http://www.kabar-baik.net/forum/viewtopic.php?t=496. Kamis, 27
November 2008.

http://www.bsos.umd.edu/socy/vanneman/socy441/trends/divorce.html
. Kamis, 27 November 2008.

http://divorceinfo.com/statistics.htm. Kamis, 27 November 2008.

Hulu, Yuprieli dkk. 2007. Suluh Siswa 2 : Berbuah Dalam Kristus.


Jakarta : Gunung Mulia.

11