Anda di halaman 1dari 18

Bismillahirrahmanirrahim,

Dengan menyebut nama Allah swt. Yang maha pengasih dan


juga maha penyayang. Atas berkat rahmat-Nya, akhirnya saya
bisa juga memiliki sebuah buku kumpulan puisi milik pribadi
walaupun hanya berekstensi PDF. Buku ini juga merupakan
sebuah alat untuk mengarsipkan puisi-puisi saya yang telah
berserakan dimana-dimana, tidak jelas tempatnya.
Adanya buku kumpulan ini, saya berharap bisa memacu diri
saya pribadi untuk tetap menyukai puisi. Jujur, saya merasa
sejak selesai kuliah, sepertinya selesai juga imajinasi kata-kata
yang dulu pernah saya miliki. Rutinitas kerja itulah salah satu
yang membuat saya merasa tak punya waktu lagi hanya sekedar
untuk menulis dan berpikir satu bait saja. Walaupun alasan
seperti itu dianggap klasik bahkan dianggap alasan yang tipis
tapi itulah kenyataannya. Saya masih belum mampu membagi
waktu antara kerja dengan menulis kata-kata puitis.
Huruf A, adalah nama dari kumpulan puisi ini. Kata itu tidak
memiliki makna khusus bahkan dalam kumpulan puisi sendiri
kata itu tidak ada menjadi judul puisi. A sendiri dianggap sebagai
awal dari abjad dan berharap buku kumpulan puisi ini menjadi
awal bagi saya untuk kembali menulis puisi.
Akhir kata, saya mencoba kembali untuk berimajinasi lewat
kata-kata.

Kandangan, 17 Desember 2010

ISNAINI SHALEH
AMANDIT TIKUS

Sungai amandit
Indonesia adalah rumah
Meliuk seperti ular
Pintunya terbuka
Berwarna kopi susu
Kret…kret..kret
Melewati hijau daun
Terlihat lantai hijau laksana daun
Membentur batu terjal
Bersulam emas padi
Membelah jantung kota Kandangan
Di atasnya kursi dan meja
Membawa bangkai hutan
Bertumpuk kertas
Bertebaran abu rokok
Asapnya bagai kebakaran hutan
Lalu berjalan ke dapur
Terlihat perabotan mewah
Sendok emas, panci perak, piring perunggu
Kulihat kiri kanan
Tak ada orangnya
Hanya sekelompok tikus
Menggragoti rumah
Menghancurkan dari dalam
HUTAN TERBALIK

Rambutku dulu hijau Atas jadi bawah


Sekarang jadi coklat Bawah jadi atas
Terbakar merah menyala Baik jadi buruk
Mengeluarkan asap hitam Buruk jadi baik
Napasku tinggal setengah Penjahat ingin jadi pejabat
Tubuhku tersisa tulang Pejabat malah jadi penjahat
Mereka memang kanibal Binatang ingin jadi manusia
Memakanku dengan rakus Manusia malah jadi binatang
Seakan aku miliknya Karena nurani jadi nafsu
Memotongku, menarikku dengan paksa
Membuangku dengan tertawa
Membiarkanku mengalir sepi
Hanya berteman arwana
SUBUH NIAT

Embun bercampur air Bulan ampunan telah tiba


Angin menyusuri jalan Berbondong meminta belas-Nya
Kabut berselimut asap Putih hitam sama rata
Burung bernyanyi bersahutan Bersujud dan menangis di hadapan-Nya
Mentari belum di singgasananya Raga begitu sama
Sunyi, sepi, bersahaja Tertutup tak terlihat dosa
Terdengar alunan ayat cinta Hanya hati tak tertebak
Menyanjung sang pencipta Kesungguhan atau kepuraan
Azan telah bergema Bulan bahagia datang menyapa
Menembus tirai mimpi Berbondong merayakan kemenangan
Menggetar jiwa yang suci Putih hitam masih sama
Untuk bersujud dan berdoa Bersujud dan menangis di hadapan-Nya
Memohon ampun pada-Nya Raga tak lagi sama
Ada tertutup tak terlihat dosa
Ada tertutup tapi telanjang
Hati telah tertebak
Kesungguhan bagi jiwa suci
Kepuraan bagi insan munafik
TIK goresan pena pada kertasku
namun tak pernah ada goresan
apa karena kau belum makan
Menit berganti jam
lapar jadi tak mau
1 jam
tik… tik… tik
2 jam
tik… tik… tik
3 jam
tik…tik…tik
dan terus… tik… tik…

ku duduk di depanmu
melihat asap nikotin melayang
menunggu goresan pena
pada kertas yang ku berikan
tapi kau selalu berkata
ada uang makan
aku bingung tak mengerti
apa kau lapar belum makan
ku lihat perutmu buncit
badanmu kalahkan sapi
aku bingung tak mengerti
ku tunggu terus ku tunggu
SENDIRI LAGI Aku takkan menangis
Takkan bersedih
Duduk Kau selalu kukenang
Termenung Kau teman terbaik
Mengkhayal Yang pernah kumiliki
Sendirian Semoga kau bahagia
Temanku telah pergi
Menjauh entah kenapa
Apa lacur dan dosaku
Hingga tak ada lagi cerita darimu
Untukku
Hatiku
Dan hidupku
Orang ketiga
Melihatmu
Mengenalmu
Dan merebutmu
Dariku
Dan ceritaku
Tapi tak apa
Asal kau Bahagia
Aku pun bahagia
Pergilah yang jauh
TIDUR MODEL JALANAN

Mata terpejam
Berlenggang lenggok
Senyum mengembang
Di atas trotoar
Tidurmu begitu tenang
Bergaya bak model
Tak ada ngorok tak ada ngigau
Memamerkan baju
Hanya menelentang
Setiap mobil lewat
Berselimut kain putih
Selalu ada kata ‘Hallo’
Bibir tersungging paksa
Demi uang dan anak
Rela memberi makan
Pada serigala berbulu domba
Tak ada yang peduli
Tangismu sedihmu
Serigala hanya tahu makan
Makan daging tak mau tulang
SEPERTI AKU Bakar puntungnya
Asapnya bisa di ekspor

Indonesia akan hancur Indonesia akan hancur

Karena orang-orang Karena orang-orang

Seperti aku Seperti aku

Yang selalu makan


Dan lapar
Walaupun beras impor

Indonesia akan hancur


Karena orang-orang
Seperti aku
Yang selalu belanja
Walau bukan uang ku

Indonesia akan hancur


Karena orang-orang
Seperti aku
Kemana-mana bawa kartu kredit
Bayarnya nanti anak cicit

Indonesia akan hancur


Karena orang-orang
Seperti aku
Menghisap nikotin
KU DUDUK DI BELAKANG RUMAH AIR

Ku duduk di belakang rumah


Tetes air membasahi tubuh
Terlihat merah membakar hijau
Bergetar menggigil kedinginan
Hijau berubah menjadi hitam
Rasa membakar berubah beku
Hitam menghilang tersapu angin
Telinga ini masih terngiang
Ku duduk di belakang rumah
Kata-kata ramalan tadi pagi
Terlihat segitiga menjulang penuh lingkaran
Keluar dari kotak gerak dan warna
Lingkarannya terisi air putih, air coklat
“Pemirsa, cuaca hari ini cerah”
Ku duduk di belakang rumah Ternyata ramalan tetap ramalan
Terlihat ait berwarna coklat
Hujan terus membasahi bumi
Mengalai berteman lumpur dan bangkai hutan
Mengalirkan air lumpur
Ku duduk di belakang rumah Menerjang hutan gundul
Terdengar bunyi pentongan, sirene, dan lolongan Menghancurkan rumah bambu
Teriak mulut ini cobaan Tapi tidak rumah kaca
Kata hati inilah azab dan teguran

Ku duduk di belakang rumah


Terlintas di otak
“Cuek aja, mau rusak alam, mau kena musibah yang penting bukan
aku”
LAPANGAN LENYAP

Dunia ini penuh lapangan


Aku tak tahu
Ada lapangan bola, lapangan tenis, dsb
Apa yang harus kutulis hari ini
Semua itu sesak dengan peminatnya
Semuanya terasa hampa
Namun aku bukan salah satunya
Pikiranku hilang bersama debu
Aku hanya mencari satu lapangan
Tulisanpun luntur diserbu hujan
Lapangan pekerjaan
Personifikasi
Tapi itu sering lenyap dan hilang
Metafora
Ketika kutemukan lapangan itu untuk bermain
Hiperbola
Wasit tiba-tiba datang beri amplop
Semua majas itu lenyap
Dan bertanya, mana?
Ingin kuputar waktu
Aku bingung tak mengerti
Agar kata itu kembali satu
Akhirnya kartu merah keluar
Untuk memberi warna
Lapangan itupun diberikan pada yang lain
Untuk mengecap rasa
Ternyata susah cari lapangan
Namun aku tak mampu
Hanya modal kertas dengan tanda tangan
Tanpa amplop berisi nomina
PAHLAWAN YANG TAK DIKENANG CINTA

Mengayuh sepeda menaiki bukit Tergores pena asmara


Berlumuran keringat, napas hampir di tenggorokan Pada kertas putih
Namun kau tak lelah atau mengeluh Hingga terlukis warna-warni
Demi amanat dan kewajiban Tuliskan kata penuh diksi
Kau terus berusaha Merangkai penuh makna
Walau tak ada yang peduli Ungkapkan hati penuh rasa
Muridmu terkadang lupa denganmu Keluar dari nurani
Ketika dia jadi Bupati, Gubernur, Menteri bahkan Presiden Terucap sebuah kata
Mengebiri gajimu bahkan statusmu Aku cinta padamu
Kau adalah pahlawan yang tak dikenang
Bagi mereka yang pecundang
DOAKU ASA

Pagi masih ditemani kabut


Ya Allah Rajapun belum duduk disinggasananya
Aku tak tahu harus berkata apalagi Tapi aku telah berlari
Hidupku penuh khilaf dan dosa Berlari dan terus berlari
Berulang kali terucap kata tobat Mengejar asa dan cita-cita
Tapi terkadang tak ditepati Betapa dunia terasa indah
Setiap mendengar nama-Mu Bahkan anginpun menyapa dengan lembut
Bergetar hati ini Sambil ditemani tawa pepohonan
Terteteslah airmata Semoga rasa ini selalu hadir
Penyesalanpun datang melanda di setiap langkahku
Kenapa muda hanya untuk berhura menemani suka dan dukaku
Kini aku telah tua Semoga dan semoga
Tak mampu tengadahkan tangan untuk berdoa Hanya doa yang bisa aku panjatkan
Hanya bisa untuk bicara
Ampunilah dosaku
Terimalah tobatku
Berikanlah hidayah-Mu padaku
AKU Aku
Adalah aku
Bukan kau
Aku Juga bukan dia
Hilang diterjang badai Apalagi mereka
Tergerus ombak menerjang karang
Aku
Mati tertembak peluru
Hanyalah satu
Aku Dialah aku
Rapuh
Lenyap
Hilang
Tak berbekas bagi debu
Tertiup semilir angin

Aku
Tetaplah aku
Bukan kamu
Tak bisa berganti

Aku
Memiliki nasibku
Bukan takdirku
Nasibku milikku
Takdirku milik-Mu
ANTARA BANJARMASIN-KANDANGAN
MATI

Awan mendung mengitari hatiku


Angin tak lagi berbisik
Jejak langkah mulai terhapus hujan
Bulanpun tak tersenyum lagi
Kini aku akan pergi bersama mimpi
Keramaian berubah jadi kematian
Meninggalkan tanah kelahiranku
Sunyi
Menuju tempat aku dibesarkan
Sepi
Sendiri
Kutinggal separuh jiwaku disana
Tak ada yang menemani
Kuberikan separuh hidupku disini
Kecuali nurani yang hampir mati
Semoga aku bisa jaga keduanya
karena aku tak ingin kehilangan salah satunya
Banjarmasin-Kandangan
I Like You
GARIS DEPAN HITAM

Tak banyak kata bisa kutuliskan Air mata ini belum kering
Kalian halaman di sebuah rumah Senyum belum mengembang
Terliat pertama sebelum ke dalam Tapi kenapa harus bersedih lagi
Penghias gerbang penuh kehijauan Airmata menetes kembali
Entah kenapa Tak pernah terpikir ini akan terjadi
Tuan rumah lupa pada kalian Nyawa ini seharga ego
Mereka sibuk mengurus perabotan Hingga kau tega mencabutnya
Hingga lupa pada keindahan luar Aku tak mengerti alasanmu
Rumput tetangga mulai menyenangkan Seakan Tuhan merestui langkahmu
Tak akan aku salahkan kalian meliriknya

Bahkan berpikir untuk menjadi bagiannya

Bukan tak menghargai yang menanam

Tapi mereka membiarkan kita mati

Lebih baik melihat kenyataan

Daripada hidup dalan harapan

Yang berselimut perkataan tanpa perbuatan


KERTAS Warnailah ia sesuai hatimu

Padukan imajinasi agar terlihat indah

Hidup bagai kertas

Bisa terisi tulisan, gambar atau titik

Putih, warna pertama yang tercoret

Selanjutnya crayon kehidupan ikut mewarnai

Ada hitam, hijau, biru atau merah

Banyak warna yang dicoretkan

Tergantung si pemilik kertas

Ketika salah mencoret

Maka kertas dirobek

Diinjak atau diremas

Ketika coretan benar

Kertas bisa jadi lukisan

Jadi puisi

Jadi buku

Bahkan jadi uang

Hidup bagai kertas


TERAKHIR MERINDU (RENUNGAN KESUNYIAN)

Senyum indah itu memang bukan yang pertama kudapatkan Hitam dan gelap mewarnai malam

Pandangan inipun bukan yang pertama kulakukan Bulan menatap bumi disertai bintang

Cinta pun bukan cinta pertama yang kurasakan Menggetarkan jiwa yang sunyi

Orang sering berkata cinta pertama begitu menggoda Menghadirkan cahaya dalam gelapnya hati

Bahkan tak bisa terlupa hingga akhir hayat Menerobos mimpi

Cinta pertama adalah hal yang membingungkan Menghujat tidur

Sulit membeda antara hati, akal dan nafsu Sunyi dan sepi

Karena semua bergabung menjadi satu Hanya berteman bayangan

Hingga membentuk mimpi yang indah Dengan iringin musik jangkrik

Sampai terasa dunia hanya milik berdua Melamun

Padahal itu terkadang hanyalah semu Merenung

Walau bukan yang pertama Menatap sebuah foto

Tapi kau kuharap, Insya Allah yang terAkhir Berharap ia jadi nyata

Menjadi ujung sebuah petualangan hati Bukan sekedar harapan semu

Persinggahan yang akan ditempati hingga mati

Semoga. Amin
MALAIKAT HITAM PAGI

Kau datang dengan segala janji Mentari telah menyapa lewat sinarnya
Menabur berbagai harapan Disambut oleh nyanyian burung dan ayam
Memberi segala yang diperlukan Diiringi gemercik air
Berjalan dengan penuh kejujuran Serta tawa dan canda anak sungai
Namun ternyata cuma luarnya Dipadu lembutnya suara angin
Hanya ragamu berbalut jubah putih Indahnya pagi
Tidak jiwamu Subhanallah
Pemberianmu penuh pamrih Terima kasih telah memberi nikmat pagi
Berharap bisa terpilih

Malaikat hitam

Kini tertawa riang

sambil ongkangan di kursi empuk

menikmati hasil jualan janji

yang sulit ditepati